RANCANGAN AKTUALISASI
NILAI-NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PEMANFAATAN AGEN HAYATI TRICODERMA SEBAGAI UPAYA
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN RAKIT KULIM
INDRAGIRI HULU
PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
GOLONGAN II ANGKATAN VIII KELAS H GELOMBANG III DILINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU
OLEH:
HIDAYATI ROHIMAH NIP.199404062020122012
PEMERINTAH PROVINSI RIAU
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA JALAN RONGGOWARSITO NO.14 PEKANBARU
TAHUN 2021
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL
Nama : Hidayati Rohimah
NIP : 199404062020122012
Pangkat/golongan : Pelaksana Pemula/IIa
Jabatan : Pemula – Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan(POPT) Instansi : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan
Hortikultura Provinsi Riau
Isu : Belum Adanya Sosialisasi Pemanfaatan Agen Hayati Sebagai Upaya Pengendalian Hama Terpadu
Disahkan Pada:
Pekanbaru,
Penguji Coach Mentor
Drs.ahmad Fauzi, Msi Ir.Mahfayeri Usnadi SH.MM
NIP.196110031993031002 NIP.195710171985031004 NIP.196810181997031001
iii
BIODATA PENULIS
Nama : Hidayati Rohimah
Nip : 199404062020122012
Jabatan : Pelaksana Pemula – Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan
Instansi : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau
Pangkat/Golongan : Pelaksana Pemula/IIa Tempat, Tanggal Lahir : Bengkalis, 06 April 1994
Agama : Islam
Alamat : Desa Beringin Indah, RT/RW 02/05,
Kec. Pangkalan Kuras, Kab. Pelalawan, Riau
Email : [email protected]
No. Hp : 0812-1777-6067
Riwayat Pendidikan : SDN 015 Beringin Indah SMPN 02 Sialang Indah SMKN 01 Pangkalan Kuras
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil dengan judul “Pemanfaatan Agen Hayati Tricoderma Sebagai Upaya Pengendalian hama Terpadu di Kec.Rakit Kulim, Indragiri Hulu”. Rancangan aktualisasi ini disusun oleh penulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan CPNS menjadi PNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau melalui kegiatan Pelatihan Dasar yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan sumber Daya Manusia Provinsi Riau.
Dalam proses pelaksanaan dan penyusunan rancangan aktualisasi ini, penulis mendapat banyak bimbingan, dukungan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Riau
2. Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau 3. Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau 4. Bapak Ir.Mahfayeri selaku Coach
5. Bapak Usnadi SH.MM selaku Mentor 6. Seluruh Widyaiswara
7. Kedua Orang Tua, Keluarga dan Rekan-rekan peserta Pelatihan Dasar Calon pegawai Negeri Sipil Golongan II Angkatan VII Gelombang III Tahun 2021 Provinsi Riau dan semua pihak yang membantu.
Dalam rancangan aktualisasi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diharapkan untuk menyempurnakan rancangan aktualisasi ini.
Pekanbaru, 2021
Hidayati rohimah
NIP.199404062020122012
v DARTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
BIODATA PENULIS ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan ... 3
C. Gambaran Umum Instansi ... 4
1. Struktur Organisasi ... 4
2. Visi Misi Organisasi ... 5
3. Nilai-Nilai Organisasi ... 6
4. Sasaran Kinerja Pegawai ... 7
BAB II RANCANGAN AKTUALISASI NILAI NILAI DASAR ASN A. Konsep Aktualisasi ... 9
B. Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI ... 15
C. Isu Aktual ... 19
D. Gagasan Pemecahan Isu ... 25
E. Jadwal Kegiatan ... 40
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 41
B. Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. UPT Perlindungan Tanaman Provinsi Riau ... 4 Gambar 2. Struktur Organisasi ... 5 Gambar 3. Fishbone Diagram ... 23
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Analisis Isu Aktual Menggunakan metode APKL ... 21
Gambar 2.2 Analisis Isu Aktual Menggunakan Metode USG ... 22
Tabel 2.3 Kegiatan I ... 26
Tabel 2.4 Kegiatan II... 29
Tabel 2.5 Kegiatan III ... 32
Tabel 2.6 Kegiatan IV ... 36
Tabel 2.7 Jadwal kegiatan Pelaksanaan rancangan Aktualisasi ... 40
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri dan digaji berdasarkan peraturan peraturan perundang undangan yang berlaku. PNS memiliki fungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan perekat serta pemersatu bangsa. Dari fungsi tersebut maka diperlukan sosok-sosok PNS yang akuntabel, nasionalis, beretika publik, berkomitmen mutu dan anti korupsi sehingga mampu secara profesional melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif, efisien dan kompeten.
Oleh karena itu, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara mengamanatkan Instansi Pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan (Diklat) terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu tahun masa percobaan Selama masa percobaan satu tahum, CPNS diwajibkan mengikuti Pendidikan Latihan Dasar (Latsar) seperti yang telah diatur dalam PERLAN Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil. Kegiatan Latsar terdiri dari materi on campus (materi didalam kelas syncronous dan asyncronous) dan of campus (habituasi di instansi masing masing). Materi dan kurikulum Pelatihan Dasar meliputi:
1. Agenda I sikap perilaku bela negara dan wawasan kebangsaan dan analisis isu kontemporer.
2. Agenda II nilai nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi).
3. Agenda III kedudukan dan peran PNS dalam NKRI.
4. Agenda IV habituasi, yaitu aktualisasi pembiasaan diri terhadap kompetensi yang telah diperoleh melalui mata pelatihan yang telah dipelajari.
Kegiatan habituasi dilakukan setelah materi on campus selesai dengan tujuan agar peserta pelatihan dapat mengaktualisasikan kegiatan yang telah dirancang. Dalam pelaksanaan agenda habituasi CPNS diharapkan mampu
2
membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai nilai dasar ASN yang telah disampaikan dalam Pelatihan Dasar sehingga terbentuk karakter ASN yang memiliki jiwa Akuntabel, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA) yang diwujudkan dalam melaksanakan tugas pokok.
Sebagai CPNS dalam jabatan fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), tugas pokok POPT sangat berkaitan erat dengan perlindungan tanaman. Berdasarkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, pasal 1 ayat 7 disebutkan bahwa perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh Organisme Pengganggu Tumbuhan.
Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) merupakan pegawai yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian untuk melakukan kegiatan perlindungan tanaman. Dalam PP nomor 6 tahun 1995 menyebutkan bahwa perlindungan tanaman adalah segala upaya unutk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan. Organisme pengganggu tumbuhan yang dimaksud adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan. Pada hakekatnya kegiatan perlindungan tanaman adalah suatu rangkaian kegiatan untuk mencegah atau mengurangi organisme pengganggu tumbuhan melalui upaya pencegahan, pengendalian, dan eradikasi organisme pengganggu tumbuhan. Kegiatan perlindungan tanaman berazaskan evektivitas, efisiensi, dan keamanan terhadap manusia, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, sehingga diharapkan dapat mempertahankan dan memantapkan produksi pada tahap optimal dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan melalui pelestarian kemampuan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dapat tercapai.
Dalam rancangan aktualisasi ini penulis mengangkat isu tentang “Belum Adanya Sosialisasi Pemanfaatan Agen Hayati Sebagai Pengendalian Hama Terpadu di Kec. Rakit Kulim”. Selama penulis bertugas dan mengenali wilayah desa-desa yang ada di kec. Rakit Kulim banyak dijumpai petani petani
3
yang memang belum mengetahui tentang agen hayati itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dilapangan bahwa ketika penulis melakukan tanya jawab secara langsung pada petani mengenai pengendalian hama penyakit pada tanaman, ternyata petani masih selalu menggunakan pestisida sebagai solusi untuk pengendalian hama. Seperti di Desa Keloyang ada beberapa petani yang menanam padi sawah dan menanam tanaman hortikultura di sekiatan sawah mereka
B. Maksud danTujuan
Tujuan dari pelaksanaan aktualisasi ini adalah:
1. Untuk Individu, Sebagai Aparatur Sipil Negara dapat melaksanakan tugasnya dan kinerjanya dengan didasari nilai nilai dasar ASN yaitu nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi, dan kegiatan tersebut dapat dilakukan seterusnya.
2. Untuk internal, Dengan adanya penerapan pemanfaatan agen hayati tricoderma serta pengamatan dan pelaporan hasil pengamatan secara rutin maka dapat meningkatkan pelayanan mutu dan berkualitas.
Untuk eksternal, Dengan adanya sosialisasi pemanfaatan tricoderma ini diharapkan petani menjadi mampu dan terus melakukan pengendalian hama terpadu, serta kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai mutu kinerja ASN dalam pandangan masyarakat
4 C. Gambaran Umum Instansi
Gambar 1. UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau
1. Struktur Organisasi
1. Struktur organisasi
UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau merupakan organisasi unit pelaksana teknis yang berada dibawah Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau. UPT dipimpin oleh seorang
5
pejabat sruktural eselon III dengan nama jabatan Kepala UPT. Kepala UPT dibantu oleh 3 orang pejabat strukturaleselon IV yaitu masing masing 1 orang Kepala Sub Bagian (Kasubbag) dan 2 orang Kepala Seksi (Kasi). Sruktur organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan Provinsi Riau dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 2. Struktur Organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura
2. Visi Misi Organisasi
Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 42 Tahun 2020 Visi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau yaitu
Kepala DPTPH Provinsi Riau
Seksi Pengujian Pupuk,Pestisida dan
Identifikasi OPT Seksi Perlindungan
Tanaman
Kepala UPT PTPH
Sub Bagian Tata Usaha
Kelompok Jabatan Fungsional POPT
6
“Terwujudnya Kemandirian Masyarakat Petani Dalam Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Sistem Pembangunan Pertanian Berkelanjutan, Berwawasan Lingkungan, Berbasis Pedesaan dan Berorientasi Agribisnis, Serta Misi UPT Perlindungan adalah:
1) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan petani tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
2) Menciptakan kondisi yang kondusif untuk terbinanya kemandirian petani dalam pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
3) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dari hasil usaha taninya
4) Melindungi petani dan konsumennya hasil pertanian dari akibat samping penggunaan sarana perlindungan tanaman
5) Mengurangi pencemaran lingkungan dan mempertahankan keaneka ragaman hayati di ekosistem pertanian
6) Melindungi hak dan kewajiban petani
3. Nilai-nilai Organisasi
Berdasarakan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37 Tahun 2020 tentang Pengembangan Nilai Budaya Lingkup Kementerian Pertanian yaitu:
a. Komitmen
Indikator nilai komiten, sebagai berikut:
• Mentaati peraturan/Kesepakatan
• Melakukan internalisasi tujuan dan sasaran organisasi
• Menyamakan persepsi dalam langkah kerja
• Konsisten dan loyal terhadap pelaksanaan tugas, dan
• Menepati janji
b. Keteladanan
Indikator keteladanan, sebagai berikut:
• Berperan aktif meningkatkan kinerja
7
• Membangin keterbukaan dan komunikasi
• Menghargai pendapat orang alain
• Bersikap tegas dan berani
• Bersikap peduli c. Profesionalisme
Indikator profesionalisme , sebagai berikut:
• Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang tugas
• Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi
• Menyelesaikan pekerjaan sesuai target kinerja
• Melaksanakan pelayanan prima
d. Integritas
Indikator dari integritas, sebagai berikut:
• Bertanggung jawab
• Bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku
• Melaporkan penyimpangan, dan
• Menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar
e. Disiplin
Indikator dari didiplin, sebagai berikut:
• Mentaati ketentuan jam kerja
• Pemakaian seragam dan atribut kerja sesuai peraturan
• Mengikuti upacara
• Menggunakan fasilitas kantor sesuai peraturan
4. Uraian Tugas Jabatan Peserta (SKP)
Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) merupakan unsur yang berhubungan dengan penilaiaan Prestasi Kerja Pegawai. Sesuai dengan tugas yang diberikan
8
pada setiap CPNS/PNS golongan II Tahun 2021, berikut uraian kegiatan yang terdalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP):
1. Mengumpulkan data dasar dalam rangka menyiapkan bahan penyusunan rencana kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
2. Mengolah data dasar ke dalam bentuk tabel secara manual/komputer yang siap dianalisis sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
3. Menganalisis data dasar dalam rangka menyiapkan bahan penyusunan rencana kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
4. Menyiapkan tempat, alat dan bahan pengamatan, dan/atau pengendalian OPT tingkat lapangan sesuai dengan Standard Operational Process (SOP) yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
5. Menyiapkan tempat, alat dan bahan pengamatan, dan/atau pengendalian OPT tingkat laboratorium sesuai dengan Standard Operational Process (SOP) yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan
6. Melaksanakan Tugas kedinasan lain yang diberikan atasan baik lisan maupun tertulis
9 BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI NILAI DASAR PNS
A. Konsep Aktualisasi
Aktualisasi berasal dari kata ‘aktual’ yang berarti nyata / benar-benar terjadi / seseungguhnya ada. Berdasarkan pengertian tersebut aktualisasi dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menjadikan pengetahuan dan pemahaman yang telah dimiliki dapat menjadi aktual / nyata/ terjadi. Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan salah satu sumber daya pemerintahan. ASN berperan sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan publik, dan perekat serta pemersatu bangsa. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang ASN haruslah bersikap profesional dalam menjalankan perannya sebagai pelayan publik. Oleh karena itu, seorang ASN haruslah memahami mengenai wawasan kebangsaan dan nilai-nilai bela negara serta menanamkan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi atau yang diakronimkan menjadi ANEKA dan peran dan kedudukan ASN.
1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara a) Wawasan Kebangsaan
Wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa indonesia dalam rangka mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi oleh jati diri bangsa dan kesadaran terhadap sistem nasional yang bersumber dari pancasila, UUD 1945, NKRI, dan bhinneka Tunggal Ika, guna memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan negara demi mencapai masyarakat yang aman, adil, makmur, dan sejahtera.
Terdapat 4 (empat) konsesus dasar berbangsa dan bernegara, yaitu:
• Pancasila
Pancasila disampaikan pertama kali secara sistematik oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 pada sidang BPUPKI. Pancasila dinyatakan oleh Bung Karni merupakan Philosofische grondslag, suatu fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, merupakan landasan atau dasar bagi negara merdeka
10
yang akan didirikan. Selain berfungsi sebagai landasan bagi kokoh tegaknya negara dan bangsa, Pancasila juga berfungsi sebagai bintang pemandu atau Leitstar, sebagai idiologi nasional, sebagai pandangan hidup bangsa, sebagai perekat atau pemersatu bangsa dan sebagai wawasan pokok bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita nasional.
• Undang-undang Dasar 1945
Undang-undang mempunyai fungsi yaitu membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa, sehingga penyelenggaraankekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan demikian hak-hak warga Negara terlindungi.
• Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda-beda tetapi pada hakekatnya satu. Meskipun secara keseluruhannya memiliki perbedaan tetapi pada hakekaktnya satu, satu bangsa dan negara Republik Indonesia.
• Negara Kesatuan Republik Indonesia
Tujuan NKRI tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV, yaitu:
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpuh darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
b) Analisis Isu Kontemporer
Isu merupakan suatu fenomena/kejadian yang diartikan sebagai masalah, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia isu adalah masalah yang dikedepankan untuk ditanggapi; kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya; kabar angin; desas desus. Isu kritikal dipandang dipandang sebagai topik yang berhubungan dengan masalah-masalah sumber daya yang memerlukan pemecahan disertai dengan adanya lesadaran publik akan isu tersebut.
Isu kritikal secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok berbeda berdasarkan tingkat urgensinya, yaitu isu saat ini, isu berkembang, dan isu potensial. Isu saat merupakan kelompok isu yang mendapatkan perhatian dan
11
sorotan publik secara luas dan memerlukan penanganan sesegera mungkin dari pengambilan keputusan. Isu berkembang merupakan isu yang perlahan-lahan masuk dan menyebar di ruang publik, dan publik mulai menyadari adanya isu tersebut. Sedangkan isu potensial adalah kelompok isu yang belum nampak di ruang publik, namun dapat terindikasi dari beberapa instrumen (sosial, penelitian ilmiah, analisis intelejen, dsb) yang mengidentifikasi adanya kemungkinan merebak isu dimaksud di masa depan.
c) Kesiapsiagaan Bela Negara
Kesiapsiagaan bela negara merupakan suatu keadaan siap siaga yang dimiliki ileh seseorang baik secara fisik, mental, maupun sosial dalam menghadapi situasi kerja yang beragam yang dilakukan berdasarkan kebulatan sikpa dan tekad secara ikhlas dan sadar disertai kerelaan berkorban sepenuh jiwa raga yang dilandasi oleh kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan pancasila dan UUD NKRI 1945 untuk menjaga, merawat, dan menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Pada pasal 27 ayat 3 dan pasal 30 ayat 1 menyatakan bahwa semua warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Untuk melakukan bela negara, diperlukan suatu kesadaran bela negara.
Kesadaran bela negara adalah kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berbakti pada negara dan kesedian berkorban membela negara. Kegiatan bela negara dapat dilakukan dengan menanamkan jiwa kedisiplinan, mencintai tanah air (dengan menjaga kelestarian hayati), menjaga aset bangsa, menggunakan produksi dalam negeri, dan beberapa kegiatan fisik dalam rangka menunjang kesiapsiagaan dan meningkatkan kebugaran fisik.
2. Nilai - Nilai Dasar ASN a) Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai atau yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang PNS memiliki amanah yaitu menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik tersebut antara lain:
12
1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan;
2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
3. Memperlakukan warga negar secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;
4. Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintah ;
5. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel seorang ASN haruslah memiliki beberapa nilai-nilai dasar seperti: Kepemimpinan, transparansi, integritas, tanggung jawab, keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan dan konsistensi.
b) Nasionalisme
Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri dan tidak menghargai bangsa lain. Sedangkan nasionalisme dalam arti luas, yaitu pandanagan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara serta menghormati bangsa lain. Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah air yang didasarkan pada nilai-nilai pancasila.
Prinsip nasionalisme dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa menempatkan persatuan-kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kpentingan golongan, menunjukkan sikap rela berkorban demi kpentingan bangsa dan negaranya, bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiaban anatar sesama manusia dan sesama bangsa, menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia, dan mengembangkan sikap tenggang rasa.
ASN sebagai pelaksana kebijakan publik sangatlah penting untuk memiliki jiwa nasionalisme. Jiwa nasionalisme harus menjadi dasar setiap gerak langkah dan semangat bekerja untuk bangsa negara. Untuk itu, setiap
13
ASN harus senantiasa taat menjalankan nilai-nilai pancasila dan mengaktualisasikannya dengan semnagat nasionalisme yang kuat dalam menjalankan tugasnya sebagai pelaksanan kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat dan pemersatu bangsa.
c) Etika Publik
Etika merupakan refleksi atas baik/buruk, benar/salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu, mencakup cara-cara dalam pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai nilai-nilai yang dianut.
Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis. Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-undang ASN, sebagai berikut:
1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara pancasila
2. Setia dan mempertahankan Undang-undang dasar negara kesatuan republik Indonesia 1945
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak 4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian
5. Menciptakan lingkungan kerja yang nin diskriminatif Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur
6. Mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik
7. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah
8. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun
14
9. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi 10. Mengahargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama
11. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai 12. Mendorong kesetaraan dalam bekerja
13. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir.
d) Komitmen Mutu
Mutu menurut Edward Deming adalah apapapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi pada kualitas hasil. Adapun nilai-nilai komitmen mutu antara lain:
1. Efektif, yaitu tercapainya target yang telah direncanakan, baik dilihat dari capaian jumlah maupun mutu hasil kerja, sehingga mampu memberikan kepuasan
2. Efisien, yaitu berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil tanpa menimbulkan pemborosan
3. Inovasi, yaitu penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan 4. Berorientasi mutu, yaitu ukuran baik buruk yang di persepsi individu
terhadap produk atau jasa
e) Anti Korupsi
Kata korupsi dalam bahasa Yunani Corruptio adalah perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama, meterial, mental dan umum.
Kelompok tindak pidana korupsi Menurut UU No. 31/1999 jo UU nomor 20 tahun 2001, terdapat 7 : (1) Kerugian keuangan negara, (2)Suap- menyuap, (3) Pemerasan, (4) Perbuatan Curang, (5)Penggelapan dalam Jabatan, (6) Benturan Kepentingan dalam Pengadaan, (7) Gratifikasi.
Nilai-nilai dasar anti korupsi sebagai berikut :
15
1. Jujur, yaitu berkata dan bertindak sesuai dengan kebenaran
2. Peduli, yaitu ikut merasakan dan menolong apa yang dirasakan orang lain 3. Mandiri, yaitu tidak bergantung terlalu banyak kepada orang lain sehingga
membentuk karakter yang kuat.
4. Disiplin berkegiatan dalam aturan bekerja sesuia dengan undang-undang yang mengatur
5. Tanggung jawab, yaitu berani dalam menanggung resiko atas apa yang kita kerjakan dalam bentuk apapun
6. Kerja keras merupakan hal yang penting dalam rangka tercapainya target dari suatu pekerjaan
7. Sederhana, yaitu dapat menerima dengan tulus dan ikhlas terhadap apa yang telah ada dan diberikan oleh tuhan kepada kita
8. Berani dalam mengatakan atau melapor ke atasana atau pihak yang berwenang jika mengetahui ada pegawai yang melakukan kesalahan
9. Adil, yaitu memandang kebenaran sebagai suatu tindakan dalam perkataan maupun perbuatan saat memutuskan peristiwa yang terjadi.
B. Peran dan Kedudukan ASN Dalam NKRI 1. Manajemen ASN
Sebagai salah satu sumber daya dalam pemerintahan, Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunyai peran yang amat penting dalam rangka menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi dalam menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat secara adil dan merata, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar Tahun 1945.
Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.
Dalam penyelenggaraan kebijakan dan manajemn ASN, dikenal adanya asas proposionalitas yang mengutamanakan keseimbangan antara hak dan
16
kewajiaban ASN. Untuk mendapatkan profil pegawai yang produktif, efektif dan efisien diperlukan sebuah sistem pengelolaan SDM yang mampu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi individu yang bekerja di dalamnya. Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Tahapan pelaksanaan sistem merit dalam beberapa komponen pengelolaan ASN diantaranya perencanaan kebutuhan pegawai, penilaian kinerja, pengembangan kompetensi, promosi, mutasi, penghargaan yang terdapat dalam UU ASN.
Dengan terlaksananya manajemen ASN yang terkelola dengan baik, maka akan terciptanya pegawai ASN yang unggul dam memiliki nilai kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan bidang yang ditekuni sehingga dalam penerapan di tempat kerja diperoleh ASN yang unggul dalam bidangnya.
b) Pelayanan Publik
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Tiga unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu pertama, organisasi penyelenggara pelayanan publik, kedua, penerima layanan (pelanggan) yaitu orang, masyarakat atau organisasi yang berkepentingan, dan ketiga, kepuasan yang diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan (pelanggan).
Prinsip - prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah:
1. Partisipatif
Dalam penyelenggaraan pelayanan public yang dibutuhkan masyarakat pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan
17 dan mengevaluasi hasilnya.
2. Transparan
Dalam penyelenggaraan pelayanan public, pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan public harus menyediakan akses bagi warga negara untuk mengetahui segala hal terkait dengan pelayanan public yang diselenggarakan tersebut. Seperti persyaratan prosedur, biaya dan sejenisnya.
Masyarakat juga harus diberi akses yang sebesar besarnya untuk bertanya dan menyampaikan pengaduan jika masyarakat merasa tidak puas dengan pelayanan public yang diselenggarakan oleh pemerintah.
3. Responsif
Dalam penyelenggaraan pelayanan public pemerintah wajib mendengarkan dan memenuhi tuntutan kebutuhan warganegaranya.
4. Tidak Diskriminatif
Pelayanan public yang diselenggarakan pemerintah tidak boleh membeda bedakan warganya dangan warga negara yang lain atas dasar perbedaan identitas seperti status social, pandangan politik, agama, profesi, jenis kelamin difabel dan sejenisnya.
5. Mudah Dan Murah
Penyelenggaraan pelayanan pblik dimana masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan dan membayar bonus untuk memperoleh layanan yang mereka butuhkan harus diterapkanprinsip mudah dan murah. Hal ini dimaksudkan untuk tidak mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi mandate konstitusi.
6. Efektif Dan Efesien
Efektif dan Efisien penyelenggaraan pelayanan public harus mampu mewujudkan tujuan tujuan yang hendak dicapainya dan cara mewujudkan tujuan tersebut dilakukan dengan prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
7. Aksesibel
Pelayanan public yang diselenggarakan pemerintah harus dapat dijangkau oleh warna negara yang membutuhkan dalam arti fisik dan dapat dijangkau
18
dalam arti non-fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
8. Akuntabel
Semua bentuk penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka pada masyarakat. Pertanggungjawaban disini tidak hanya secara formal kepada atasan akan tetapi yang lebih penting harus dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat laua melalui media public.
9. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanan public harus dapat dijadikan sebagai alat melindungi kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan bagi kelompok lemah ketika berhadapan dengan kelompok yang kuat.
c) Whole of Government (WoG)
Whole of Government (WOG) adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. WoG penting karena diperlukan sebuah upaya untuk memahami pentingnya kebersamaan dari seluruh sektor guna mencapai tujuan bersama.
Beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WoG menjadi penting dan tumbuh sebagai penekatan yang mendapatkan perhaian dari pemerintah:
1. Adanya faktor eksternal seperti dorongan publik daam mewujudkan intrsi kebijakan, program pembangunan dan pelayaan agar terciptanya pelayaan yang lebih baik.
2. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetens antar sektor dalam pembangunan.
3. Keberaaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, seta bentuk latar belakang lannya mendorong adanya potensi disintegrasi bangsa.
19 C. Isu Aktual
1. Isu Aktual
Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) sebagai ASN yang merupakan ujung tombak di jajaran perlindungan tanaman ditugaskan secara penuh untuk melaksanakan pengendalian OPT secara profesional. Berdasarkan pengalaman penulis menjadi POPT di kecamatan Rakit Kulim, ditemukan beberapa isu yang ditemukan dalam menjalankan tugas dimana isu tersebut berkaitan dengan tugas perlindungan tanaman, diantaranya sebagai berikut:
1) Minimnya pengetahuan tentang pengendalian hama terpadu di kecamatan Rakit Kulim
Pendekatan PHT mengintegrasikan langkah-langkah prefentif dan korektif untuk menjaga hama agar tidak menyebabkan masalah, dengan bahaya yang minimal bagi manusia dan komponen lingkungan. Empat prinsip dasar dalam Pengendalian Hama Terpadu yaitu budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin atau pemantauan dan petani sebagai ahli PHT
Namun pada kenyataannya masih banyak petani yang belum memahami dan menerapkan PHT di lahan mereka. Dalam rangka meningkatkan produksi pertanian banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan oleh petani agar produksi mereka meningkat. Namun dalam upaya peningkatan produksi tersebut petani sering kali tidak memperhatikan dampak yang timbul akibat penggunaan pestisida secara berlebihan.
2) Belum adanya sosialisasi pemanfaatan agen hayati sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan di Kec.Rakit Kulim
Pengendali hayati merupakan suatu pemanfaatan mikroorganisme yang bertujuan untuk mengendalikanOrganisme Pengganngu Tumbuhan(OPT). Adapun kegiatan atau aktivitaas dalam pengendalian hayati yaitu pemberian mikroorganisme antagonis dengan perlakuan tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah diantaranya dengan memberikan bahan organik sehingga mikroorganisme antagonis menjadi tinggi aktifitasnya di
20
dalam tanah.Contohnya seperti Tricoderma yang dapat diaplikasikan pada lahan atau tanah yang berperan dalam merangsang pertumbuhan mikroorganisme antagonis serta untuk meningkatkan aktivitas penghambat terhadap pathogen.
Pengaruh agensia hayati pada tanaman yaitu kemampuan melindungi tanaman atau mendukung pertumbuhan tanmana melalui salah stu mekanismenya yaitu mendukung pertumbuhan tanaman itu sendiri. Sedangkan pengaruh agensia hayati terhadap pathogen adalah menekan daya tahan dan pertumbuhan patogen yang mengganggu tanaman.
3) Tingginya penggunaan dan peredaran pestisida kimia di Kec. Rakit Kulim
Pestisida kimia adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai macam hama. Peredaran pestisida juga beredar sangat mudah di wilayah kec.Rakit Kulim, dapat dilihat bahwa di desa-desa sudah banyak toko pupuk dan pestisida. Namun penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat meninggalkan residu berbahaya yang dapat merusak ekosistem di lingkungan pertanaman. Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian menjadi masalah yang dilematis. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif seperti: Terjadinya resistensi, Resurgensi (Peledakan hama setelah aplikasi), Kematian musuh alami, Terbentuknya biotipe baru, Kematian organisme non target, Kerusakan agroekosistem, Dampak terhadap kesehatan manusia.
4) Meningkatnya populasi hama
Timbulnya katahanan hama terhadap pestisida membuat hama masih dapat meneruskan kehidupannya dan berkembang biak dengan cepat/bermutasi.
Populasi hama ini juga akan berkembang pesat melebihi populasi semula, hal ini juga disebabkan oleh penggunaan pestisida secara rutin sehingga musuh alami bagi hama pengganggu tumbuhan pun ikut mati. Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh serangan hama ini adalah berkurangnya hasil produksi dan menurunnya kualitas hasil panen yang tentunya menurunkan nilai ekonomis pada hasil panennya yang akan merugikan petani.
21 2. Seleksi Isu
a. Menggunakan Teknik Tapisan APKL
Keempat isu diatas diidentifikasi dengan menggunakan metode APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, Kelayakan), Teknik ini digunakan untuk menetapkan tiga isu yang berkualitas dengan menatapkan rentan penilaiaan 1-5 pada kriteria yang dijelaskan sebagai berikut:
• Aktual artinya isu tersebut benar benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan masyarakat.
• Problematik artinya isu tersebut memiliki dimensi maslah yang kompleks sehingga perlu dicarikan solusinya secara komprehensif.
• Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut hidup orang banyak.
• Kelayakan artinya isu tersebut masuk akal realistis, relevan, dan dapat dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
Dalam penulisan rancangan aktualisasi ini, isu yang telah diidentifikasi selanjutnya akan dianalisis kelayakannya menggunakan metode APKL.
Tabel analia dapat dilihat pada table 2.1
Tabel 2.1 Analisis Isu Aktual Menggunakan metode APKL
No Identifikasi Isu A P K L Kesimpulan
1 Minimnya pengetahuan tentang pengendalian hama terpadu di kecamatan Rakit Kulim
˅ ˅ ˅ ˅ Memenuhi
Syarat 2 Belum adanya sosialisasi
pemanfaatan agen hayati sebagai pengendalian hama terpadu di Kec.Rakit Kulim
˅ ˅ ˅ ˅ Memenuhi
Syarat
3 Tingginya penggunaan dan Peredaran pestisida kimia di Kec.Rakit Kulim
˅ ˅ ˅ ˅ Memenuhi
Syarat
22 4 Meningkatnya populasi hama
˅ ˅ ˅ -
Tidak Memenuhi
Syarat
b. Menggunakan Teknik Tapisan USG
Ketiga isu yang telah memenuhi syarat diatas diidentifikasi lagi dengan menggunakan teknik tapisan USG ( Urgensi, Seriousness, Growth) yang umumnya digunakan untuk mencari isu yang menjadi prioritas untuk diselesasikan. Metode USG menilai suatu isu berdasarkan 3 parameter yaitu:
• Urgency merupakan parameter penilaian seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas, dianalisis dan ditindak lanjuti dikaitkan dengan waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah penyebab isu.
• Seriousness merupakan parameter seberapa serius isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang membuat isu tersebut menimbulkan masalah masalah lain jika isu tersebut tidak terpecahkan.
• Growth menilai seberapa kemungkinan kemungkinan isu yang ada menjadi berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu jika dibiarkan.
Parametaer penilaiaan metode USG yaitu skor 1 sebagai dampak terendah hingga skor 5 sebagai dampak tertinggi atau terparah, kemudian ketiga parameter tersebut dijumlahkan dan diambil isu yang memiliki nilai total tertinggi atau terparah sebagai core issue. Analisis isu dengan mengguanakan metode USG dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini;
Gambar 2.2 Analisis Isu Aktual Menggunakan Metode USG
No Identifikasi Isu U S G Total
1
Minimnya pengetahuan tentang pengendalian hama terpadu di kecamatan Rakit Kulim
5 4 4 13
23 2
Belum adanya sosialisasi pemanfaatan agen hayati sebagai pengendalian hama terpaadu
5 5 5 15
3
Tingginya penggunaan dan peredaran
pestisida kimia di Kec.Rakit Kulim 4 5 5 14
Keterangan:
Urgency Seriousness Growth
1: Sangat Tidak Mendesak 1: Sangat Tidak Berpengaruh 1: Sangat Tidak Berdampak 2: Tidak Mendesak 2: tidak Berpengaruh 2: Tidak Berdampak
3: Cukup mendesak 3: Cukup Berpengaruh 3: CukupBerdampak
4: Mendesak 4: Berpengaruh 4: Berdampak
5: Sangat Mendesak 5: Sangat Berpengaruh 5: Sangat Berdampak
3. Penyebab Isu
Untuk menemukan penyebab penyebab terjadinya isu, penulis menggunakan teknik analisis fishbone diagram. Fishbone diagram dapat dilihat pada gambar 2.3
Gambar 3 Analisis Penyebab Isu Menggunakan Fishbone Diagr
Belum optimalnya sosialisasi tentang pengendalian hama
penyakit
Belum tersedianya klinik PHT di kecamatan Rakit Kulim
Pestisida kimia yang mudah didapatkan dan dibeli langsung
di tempat terdekat tanpa rekomendasi
Belum tersedianya wadah untuk
berkumpul melaksanakan kegiatan pelatihan pelatihan PHT
Minimnya pengetahuan dan penggunaan
agen hayati sebagai pengendali
organisme pengganggu
tumbuhan
24 Keterangan:
• Belum optimalnya sosialisasi tentang pengendalian hama penyakit menggunakan agen hayati tricoderma. Hal ini terjadi disebabkan juga oleh minimnya petugas POPT ahli yang ditugaskan di kabupaten Indragiri Hulu, sehingga petani dan masyarakat di Kec. Rakit kulim kurang mendapatkan sosialisasi dan informasi terkait Perlindungan tanaman.
• Belum tersedianya klinik PHT di Kecamatan rakit Kulim, Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan salah satu kelembagaan petani di tingkat kecamatan yang berfungsi memproduksi Agen Pengendali Hayati di tingkat petani dan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan proses budidaya tanaman di lahan mereka. Keberadaan klinik ini diharapkan dapat membantu petani dalam dalam pengelolaan hama penyakit agar tanaman yang petani tanam terhindar dari hama penyakit.
• Pestisida kimia yang mudah didapatkan dan dibeli langsung di tempat terdekat tanpa rekomendasi. Hal ini dapat kita lihat bersama bahwa sudah banyak distributor/sales/reseller pestisida yang berdiri disetiap desa maupun kecamatan sehingga petani mudah untuk membeli dan menggunakannya sebagai pengendali hama bagi tanamannya. Telah kita ketahui Bersama pada dasranya bahan kimia pestisida tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem di area pertanaman.
• Belum tersedianya wadah untuk berkumpul melaksanakan pelatihan pelatihan pengendalian hama terpadu. Dalam Pengendalian Hama Terpadu ada 4 prinsip didalamnya yaitu budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pemantauan atau pengamatan secara rutin dan petani sebagai ahli PHT.
25 4. Dampak Isu
• Masyarakat akan terus menerus menggunakan pestisida kimia berbahaya Jika petani tetap terus menggunakan pestisida kimia sebagai solusi untuk pengendalian hama penyakit maka residu berbahaya akan tertinggal di lahan pertanaman dan merusak organisme dan musuh alami yang berguna bagi tanaman.
• Merusak lingkungan hidup
Bahan bahan kimia dalam pestisida akan meninggalkan residu kimia berbahaya yang apabila digunakan terus menerus dapat mengakibatkan dampak buruk bagi manusia, hewan dan tumbuhan yang lain atau dapat merusak ekosistem di lingkungan budidaya tanaman.
• Populasi Organisme Pengganggu Tumbuhan meningkat
para pelaksana budidaya yang tidak memanfaatkan agen hayati sebagai solusi pengendalian hama penyakit pada tanamannya maka populasi hama akan meningkat. Hal ini disebabkan hama tersebut resisten terhadap pestisida kimia yang sering diapikasikan.
D. Gagasan Penyelesaian Isu
Berdasarkan uraian diatas penulis mengangkat isu mengenai “Belum adanya sosialisasi pemanfaatan agen hayati sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan” yang akan diangkat menjadi topik pembahasan dan judul dalam laporan aktualisasi. Berdasarkan isu yang telah terpilih maka penulis menemukan gagasan ide kreatif yaitu melakukan “pemanfaatan agen hayati tricoderma sebagai upaya pengendalian hama terpadu di kecamatan Rakit Kulim”
yang akan dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu:
1. Berkoordinasi dengan mentor, penyuluh pertanian dan pihak terkait di kec. Rakit Kulim
2. Menyiapkan alat dan bahan
3. Melakukan sosialisasi pemanfaatan agen hayati tricoderma 4. Monitoring dan Evaluasi
26
Unit Kerja : UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau
Identifikasi Isu : ~Minimnya pengetahuan tentang perlindungan tanaman di kecamatan Rakit Kulim
~Belum adanya sosialisasi pemanfaatan agen hayati sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan ~Tingginya penggunaan pestisida kimia sebagai pengendali OPT
Isu Yang Diangkat : Minimnya pengetahuan dan penggunaan agen hayati sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan Gagasan Pemecahan Isu : Pemanfaatan Agen Hayati Tricoderma Sebagai
Upaya Pengendalian Hama Terpadu
Tabel 2.3 Kegiatan I
1. Berkoordinasi dengan mentor penyuluh pertanian dan pihak terkait di kec. Rakit Kulim
1 Tahapan Kegiatan 1. Meminta saran, masukan dan persetujuan dari mentor
Dalam kegiatan meminta saran, masukan dan persetujuan dari mentor saya melakukannya dengan sikap sopan, jujur untuk mendapatkan kejelasan dan Kepercayaan judul rancangan aktualisasi (Etika publik, Akuntabilitas)
2. Berkoordinasi dengan staff Laboraturium Pengamatan Hama Penyakit
Dalam melakukan koordinasi dengan staff LPHP kami berbicara dan berdiskusi tentang perlakuan teknis biang induk agen hayati tricoderma dengan saling menghormati, sopan dan santun dan saya
27
meminta bantuan biang induk tricoderma dengan jujur dan penuh tanggung jawab (Anti Korupsi, Komitmen Mutu dan Etika Publik)
3. Berkoordinasi dengan penyuluh pertanian kec.Rakit Kulim
Penulis berkoordinasi dengan rasa penuh tanggung jawab untuk bekerjasama dalam menentukan lokasi pelaksanaan kegiatan, dan dalam melakukan kegiatan koordinasi ini kami terhadap tugas pokok masing di lapangan(Etika Publik, Nasionalisme, dan Whole Of Government)
2 Output/hasil 1. Dengan meminta saran dan masukan dari mentor maka penulis dapat menentukan judul dan tahapan kegiatan dalam rancangan aktualisasi
2. Setelah berkoordinasi dengan staff Laboraturium Pengamatan Hama Penyakit maka penulis dapat mengusulkan permintaan bahan induk/biang induk agen hayati tricoderma untuk melaksanakan sosialisasinya
3. Dengan Berkoordinasi dengan penyuluh pertanian kec.Rakit Kulim maka saya mendapatkan lokasi sasaran pelaksanaan kegiatan sosialisasi pemanfaatan agen hayati tricoderma
28 3 Keterkaitan
Substansi Mata Pelatihan
Akuntabilitas
Kegiatan koordinasi dengan mentor bertujuan untuk mendapat kejelasan dan kepercayaan untuk Menyusun rancangan aktualisasi
Nasionalisme
Dalam melaksanakan koordinasi dengan penyuluh pertanian di kec. Rakit Kulim, kami sebagai petugas lapangan saling menghargai terhadap tugas pokok masing masing
Etika Publik
Dalam meminta saran kepada mentor dan berkoordinasi dengan saff LPHP penulis selalu berbicara dengan sopan dan santun serta bertanggung jawab
Komitmen Mutu
Dalam melakukan koordinasi dengan staff LPHP kami berbicara dan berdiskusi tentang perlakuan teknis biang induk agen hayati tricoderma dengan saling menghormati
Anti Korupsi
Dalam meminta bantuan biang induk tricoderma penulis melakukannya dengan jujur dan penuh tanggung jawab (Anti Korupsi)
Whole Of Goverment
4 Keterkaitan Peran dan kedudukan ASN
Manajemen ASN
Dalam melakukan kegiatan koordinasi ini penulis menyampaikan usulan rancangan judul dan kegiatan aktualisasinya dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab.
➢ Pelayanan publik
29
Dalam menyampaikan rancangan kegiatan aktualisasi ini saya menggunakann bahasa yang sopan dan santun.
➢ Whole Of Goverment
Dalam membuat rancangan aktualisasi ini saya juga bekerjasama serta berkoordinasi langsung dengan penyuluh pertanian dan petani dikecamatan rakit kulim
5 Kontribusi
Terhadap Visi Misi Organisasi
Dengan terlaksananya koordinasi dengan mentor penyuluh pertanian dan pihak terkait maka hal ini telah membantu terwujudnya visi misi UPT Perlindungan Tanaman yaitu “menciptakan kondisi yang kondusif untuk terbinanya kemandirian petani dalam pengelolaan OPT”
6 Penguatan Nilai Nilai Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan koordinasi dengan mentor, penyuluh pertanian dan pihak terkait maka dapat memperkuat nilai Keteladan dan Integritas karena kegiatan ini membangun keterbukaan dan komunisasi dalam mewujudkan visi dan misi organisasi.
Tabel 2.4 Kegiatan II
2. Menyiapkan alat dan bahan
1 Tahapan Kegiatan 1. Pengumpulan bahan meteri terkait dan pembuatan bahan tayang untuk sosialisasi Mengumpulkan refrensi dengan penuh tanggung jawab, berintegritas dan jujur (akuntabilitas dan anti korupsi). Informasi yang didapat merupakan informasi yang jelas, inovatif dan
30
tidak menyesatkan (etika public dan komitmen mutu). Penulis bekerja keras dengan ikhlas dalam mencari materi agar dapat melakukan sosialisasi dengan baik (anti korupsi).
Dalam kegiatan ini saya mencari bahan materi dari internet buku dan file yang bersumber resmi dengan penuh tanggung jawab, jujur dan berintegritas (Akuntabilitas)
2. Membuat buku panduan terkait pemanfaatan agen hayati
Buku panduan yang akan saya tulis secara sistematis dan terstruktur dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik), didalamnya berisi tentang panduan/tahapan tahapan yang jelas (Akuntabilitas) apa saja yang diperlukan dalam penggunaan agen hayati
3. Mengambil agen hayati tricoderma di LPHP Provinsi Riau
Dalam kegiatan mengambil agen hayati tricoderma di LPHP Provinsi Riau, penulis melaksankannya dengan jujur dan penuh
tanggungjawab (Anti Korupsi) dan
(Akuntabilitas)
4. Membuat undangan
Kegiatan membuat undangan ini penulis dengan konsisten dan bertanggung jawab (Akuntabilitas), undangan ini dibuat agar para petani terwujudnya sikap saling menghargai
31
(Komitmen Mutu). waktu menetapkan jadwal untuk pelaksanaan kegiatan. Undangan dibuat secara tertulis dan disampaikan langsung oleh penulis (etika public dan anti korupsi).
2 Output/hasil 1. Dengan pengumpulan bahan materi maka penulis mendapatkan bahan materi terkait pemanfaatan tricoderma, dan mendapat bahan tayang
2. Dengan pembuatan buku panduan ini maka petani akan mendapatkan buku panduan perbanyakan tricoderma dan aplikasinya
3. Dalam kegiatan pengambilan tricoderma ini maka penulis mendapatkan biang tricoderma yang akan di perkembangbiakan secara mandiri dan dapat di aplikasikan pada tanaman 4. Dengan terlaksananya kegiatan membuat
undangan ini maka penulis dapat mencetak dan memberikan undangan pelaksanaan kegiatan sosialisasi pemanfaatan agen hayati tricoderma pada petani
3 Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
➢ Akuntabilitas
➢ Mengumpulkan refrensi dengan penuh tanggung jawab, berintegritas dan jujur (akuntabilitas dan anti korupsi)
Dalam penulisan buku panduan tentang tricoderma ini saya bertanggung jawab membuat dan menulisnya dengan bahan materi yang jelas sesuai sumber yang terpercaya.
➢ Etika Publik
➢ Informasi yang didapat merupakan informasi yang
32 jelas, inovatif.
Sopan santun dan hormat pada staff LPHP dalam rangka pengambilan agen hayati tricoderma.
➢ Anti korupsi
Kemudian ketika meminta bahan agen hayati tricoderma ini saya ajukan dengan jujur dan bertanggung jawab sesuai kebutuhan di lapangan
4 Keterkaitan Peran dan kedudukan ASN
➢ Managemen ASN
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, maka penulis menjalin kerjasama d e n g a n s t a f f l a b o r a t u r i a u m dan d a l a m kegiatan ini akan meningkatkan profesionalitas dan menerima masukan untuk pembuatan buku panduan tersebut.
➢ Pelayanan publik
Dalam menyiapkan alat dan bahan penulis menyadari dan bertanggung jawab bahwa kegiatan ini adalah tugas pokok saya sebagai pengndali organisme tumbuhan
➢ Whole Of Goverment
Dalam kegiatan membuat buku panduan ini penulis juga b e kerjasama tidak hanya sesama rekan kerja, tetapi juga adanya kerja sama dengan pihak percetakan untuk memperbanyak leafet tersebut.
5 Kontribusi
Terhadap Visi Misi Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan pembuatan buku panduan tentang pemanfaatan agen hayati tricoderma ini, maka saya ikut mewujudkan misi UPT Perlindungan Tanaman yaitu “meningkatkan pengetahuan petani, keterampilan dan kemampuan
33
petani dalam pengendalian OPT”.
6 Penguatan Nilai Nilai Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan persiapan alat dan bahan untuk pelaksanaan kegiatan ini maka penulis telah memperkuat nilai Profesionalisme dan Integritas. Hal ini karena pada pembuatan buku panduan dilakukan dengan menggunakan sumber yang terpecaya.
Tabel 2.5 Kegiatan III
1. Melakukan sosialisasi pemanfaatan agen hayati tricoderma 1 Tahapan Kegiatan 1. Pembukaan kegiatan
Kegiatan sosialisasi pemanfaatan tricoderma ini penulis hadir lebih dulu mempersiapkan tempat, alat dan bahan serta makanan untuk para peserta (disiplin, Anti korupsi) dan penulis dengan ramah sopan santun menyambut kedatangan peserta undangan (pelayanan public), Ketika peserta sudah memasuki ruangan penulis meminta peserta untuk mengisi daftar hadir dengan penuh rasa hormat ( etika public), Pembukaan acara juga diawali dengan doa agar acara dapat berjalan dengan lancar ( Nasionalisme sila ke 1)
2. Melakukan sosialisasi pemanfaatan agen hayati tricoderma
Saat melakukan presentasi materi terkait pemanfaatan agen hayati tricoderma ini penulis menjelaskan dengan penuh integritas (Akuntabilitas) dan tanggung jawab namun tetap dalam bahasa yang sederhana (Anti Korupsi)
34
sehingga mudah dipahami oleh peserta. Penulis juga bertanggung jawab (Etika Publik) dengan seluruh pengetahuannya untuk menyampaikan secara jelas, transparan, efektif dan efisien (Komitmen Mutu), kegiatan ini juga dilakukan secara kekeluargaan dan persamaan derajat sehingga acara berjalan efektif dan efisien (Nasionalisme dan Komitmen Mutu)
3. Demo perbanyakan dan pengaplikasian agen hayati tricoderma pada tanaman Dalam melaksanakan kegiatan demo ini penulis memberikan penjelasan (Akuntabilitas) terkait perbanyakan tricoderma. Penulis bertanggung jawab untuk mensosialisasikan kegiatan yang tidak memberatkan petani (akuntabilitas). Ketika melaksanakan sosialisasi ini penulis membuat sesi tanya jawab secara terbuka dan saling menghargai sehingga peserta/petani dapat memahami materi dan kegiatan pun mendapat hasil yang baik (etika public)
2 Output/hasil 1. Dengan terlaksananya kegiatan sosialisasi ini maka petani faham dan mampu menerapkan Pengendalian Hama Terpadu dengan
menggunakan tricoderma
2. Setelah melaksanakan kegiatan ini maka petani mendapatkan formula/resep
perbanyakan dan pemanfaatan tricoderma 3 Keterkaitan
Substansi Mata
➢ Akuntabilitas
Penulis bertanggung jawab dalam memberikan
35
Pelatihan penjelasan yang mudah difahami dan isi materi pada buku panduan pemanfaatan agen hayati tricoderma secara integritas dan jelas mudah difahami oleh petani
➢ Nasionalisme
Dalam melaksanaan kegiatan ini saya menciptakan suasana kekeluargaan dan persamaan derajat sehingga komunikasi menjadi lebih nyaman.
➢ Etika publik
Dalam sesi tanya jawab penulis bersikap saling menghargai, hormat dan penuh rasa tanggung jawab.
➢ Komitmen mutu
Efektif, efisien dalam melaksanakan kegiatan penggunaan tricoderma di lahan pertanaman. tepat guna agar manfaat yang didapat menjadi maksimal serta petani dapat memahami dan dapat memperbanyak tricoderma ini secara mandiri.
➢ Anti korupsi
Dalam pelaksanaannya penulis bersikap sederhana dan disiplin agar penggunaan agen hayati tricoderma ini dapat berjalan lancar serta dilakukan secara terus menerus oleh petani.
4 Keterkaitan Peran dan kedudukan ASN
➢ Managemen ASN
Penulis bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan ini dengan tujuan petani dapat memahami dan melakukan kegiatan ini secara terus menerus.
➢ Pelayanan publik
Dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakuakan
36
dengan memberikan arahan yang jelas terkait penggunaan agen hayati tricoderma.
➢ Whole Of Goverment
Dalam pelaksanaan kegiatan ini penulis bekerja sama dangan petani dalam mempersiapkan alat dan bahan pengaplikasian tricoderma pada tanaman
5 Kontribusi
Terhadap Visi Misi Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan sosialisasi dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu, penulis turut berkontribusi dalam mewujudnya Misi UPT Perlindungan Tanaman pada poin 1 yaitu
“Meningktakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan petani tentang PHT” dan juga ikut berkontribusi terhadap Visi UPT perlindungan tanaman yaitu” terwujudnya
kemandiriran masyarakat petani dalam
penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada sistem pembangunan pertanian
berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
berbasis pedesaan dan berorientasi
agribisnis” dan “Mengurangi pencemaran
lingkungan dan mempertahankan
keanekaragaman hayati di ekosistem
pertanian”.
6 Penguatan Nilai Nilai Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan sosialisai dan penerapan pengendalian hama terpadu maka hal ini telah memperkuat nilai Keteladanan (sikap, perilaku, dan kebiasaan yang ditampilkan akan
37
menjadi perhatian bagi peserta pelatihan), dan Profesional (melaksanakan tugas sesuai dengan profesi).
Tabel 2.6 Kegiatan IV 4.Monitoring dan evaluasi
1 Tahapan Kegiatan 1. Monitoring lokasi penerapan agen hayati tricoderma
Penulis bertanggung jawab untuk melakukan pengamatan secara berkala sebab ini telah menjadi keajiban dan tugas pokok penulis sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan yang hakikinya dikerjakan dengan tulus ihklas (Akuntabilitas, Etika Publik). Sebagai seorang POPT penulis dengan konsisten melakukan pengamatan dan monitoring untuk menunjukan integritas ASN, dan memberikan rasa percaya (Akuntabilitas, Anti Korupsi, Pelayanan Publik). Dan dalam melaksanakan kegiatan ini penulis Bersama PPl mengutamakan komunikasi dan kerja sama yang baik (Whole Of Government, Etika Publik)
2. Evaluasi kegiatan dan membuat laporan
Evaluasi ini dilakukan agar dapat mengetahui kegiatan ini berhasil atau tidak. Ini merupakan tanggung jawab penulis (Akuntabilitas dan Anti Korupsi), Penerapan PHT harus terlaksana agar tujuan dari kegiatan ini dapat tercapai dengan baik (Komitmen Mutu), Saat membuat
38
laporan hasil evaluasi penulis dengan jujur dan transparan serta profesional menunjukan integritas seorang ASN (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Anti Korupsi).
Penulis juga bekerja keras agar laporan dapat selesai dengan hasil mutu yang maksimal (Akuntabilitas, Komitmen Mutu)
2 Output/hasil 1. Dengan terlaksananya kegiatan monitoring dan evaluasi maka terwujudlah penerapan pengendalian hama terpadu dengan menggunakan agen hayati tricoderma
2. Tewujudnya hasil rancangan aktualisasi
3 Keterkaitan
Substansi Mata Pelatihan
➢ Akuntabilitas
➢ Kegiatan monitoring dan evaluasi dikerjakan dengan tulus ihklas, penulis dengan konsisten melakukan pengamatan dan monitoring, Evaluasi ini dilakukan agar dapat mengetahui kegiatan ini berhasil atau tidak. Ini merupakan tanggung jawab penulis, Saat membuat laporan hasil evaluasi penulis dengan jujur dan transparan
➢ Nasionalisme
➢ Penulis secara profesional menunjukan integritas seorang ASN
➢ Etika publik
➢ Tugas pokok penulis sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan yang hakikinya dikerjakan dengan tulus ihklas, Dan
39
dalam melaksanakan kegiatan ini penulis Bersama PPl mengutamakan komunikasi dan kerja sama yang baik, Bersikap jujur dan terbuka dalam membuat hasil evaluasi kegiatan aktualisasi.
Komitmen Mutu
Penerapan PHT harus terlaksana agar tujuan dari kegiatan ini dapat tercapai dengan baik, Penulis juga bekerja keras agar laporan dapat selesai dengan hasil mutu yang maksimal
4 Keterkaitan Peran dan kedudukan ASN
➢ Managemen ASN
Dalam pelaksanaan kegiatan ini penulis dengan penuh tanggung jawab dan cermat saat melakukan pengamatan dan monitoring secara berkala
➢ Pelayanan publik
Kegiatan ini dilaksanakan sesuai tugas pokok penulis sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, penulis dengan konsisten melakukan pengamatan dan monitoring untuk menunjukan integritas ASN, dan memberikan rasa percaya dan setelah selesainya kegiatan ini saya berharap pelayanan mutu yang jelas dan konsisten dalam pendampingan terhadap petani.
➢ Whole Of Goverment
Dalam kegiatan ini penulis juga mengajak penyuluh pertanian untuk bekerja sama dan berkoordinasi langsung agar kegiatan dapat berjalan lancar
5 Kontribusi
Terhadap Visi Misi
Dengan terlaksananya kegiatan ini maka membantu terwujudnya misi UPT Perlindungan
40
Organisasi Tanaman pada poin 4 dan 5 yaitu “Melindungi petani dan konsumen hasil pertanian dari
akibat samping penggunaan sarana
perlindungan tanaman, dan Mengurangi
pencemaran lingkungan dalam
mempertahankan keanekaragaman hayati di ekosistem pertanian”.
6 Penguatan Nilai Nilai Organisasi
Dengan terlaksananya kegiatan maka dapat memperkuat nilai organisasi profesionaliseme sebagai POPT karena dalam penerapannya akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ASN.