• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA STUDI PADA LURIK PRASOJO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA STUDI PADA LURIK PRASOJO"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)

Fakultas Ekonomi Universitas Semarang

Disusun oleh:

Cischa Widya Putri (B. 131.15.0502)

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEMARANG

2019

(2)

Sujito, S.E., M.Si.

MS: 0655700050401

Semarang, 2 Agustus 2019 Dosen Pembimbing : Cischa Widya Putri

B.131.15.0502

: Ekonomi / Manajeraen

: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDIPADA LURIK PRASOJO)

: Sujito, SB., M.Si.

Nama Penyusun

Nomor Induk Mahasiswa Fakultas / Jurusan

Judul Skripsi

Dosen Pembimbing

(3)

iii

Sujito, SE., M.Si.

MS: 0655700050401

Semarang, 2 Agustus 2019 Dosen Pembimbing : Cischa Widya Putri

B.131.15.0502

; Ekonomi / Manajemen

: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDIPADA LURIK PRASOJO)

: Sujito, S.E., M.Si.

Narna Penyusun

Nomor Induk Mahasiswa

Fakultas / Jurusan Judul Skripsi

Dosen Pembimbing

(4)

Telah dinyatakan lulus ujian pada Tanggal 9 Agustus 2019

3. TeguhAriefiantoro,S.E.,M.M.

2. Sugeng Rianto, S.E., M.M.

1. Sujito, SJ., M.Si.

Tim Penguji

: Ekonomi / Manajemen

: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDIPADA LURIK PRASOJO)

Fakultas/Jurasan Judul Skripsi

Nama Penyusun: Cischa Widya Putri

Nomor Induk Mahasiswa : B. 131.15.0502

(5)

IV 3. Teguh Ariefiantoro, S.E., M.M.

Tim Penguji

1.Sujito, S.E., M.Si.

2.Sugeng Rianto, S.E., M.M.

Telah dinyatakan lulus ujian pada Tanggal 9 Agustus 2019

B.131.15.0502

Ekonomi / Manajemen

: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDIPADA LURIK PRASOJO)

Nomor Induk Mahasiswa Fakultas / Jurusan

Judul Skripsi

(6)

VI

Cischa Widya Putri NIMB.131.15.0502

dengan judul ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDI PADA LURIK PRASOJO) adalah hasil tulisan saya sendiri. Dengan ini menyatakan sesungguhnya

bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau symbol yang menyatakan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-

olah tulisan saya sendiri, dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan dari

penulis aslinya.

Apabila saya melakukan yang bertentangan dengan hal tersebut diatas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin

atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan

ijazah yang diberikan oleh Universitas batal saya terima.

Semarang, 2 Agustus 2019

Yang membuat pernyataan,

(7)

vii

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDI PADA LURIK PRASOJO)

Oleh:

Cischa Widya Putri B.131.15.0502

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan di Lurik Prasojo. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa (1) Faktor apa saja yang terkait dalam keberhasilan menjalankan usaha pada Lurik Prasojo, (2) Bagaimana usaha Lurik Prasojo untuk mempertahankan keberlangsungan usaha atau eksistensinya sampai saat ini.

Metode penelitian ini adalah metode penelitian jenis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menentukan dan mendeskripsikan peristiwa maupun fenomena yang terjadi dilapangan.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti menggunakan teknik triangulasi untuk mengecek keabsahan data penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga komponen yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Faktor terkait keberhasilan menjalankan usaha yaitu kualitas, inovasi produk, dan faktor sumber daya manusia. (2) Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha yaitu pengelolaan manajemen, inovasi produk, kualitas produk, pemasaran, harga, dan pelayanan.

Kata Kunci: Keberhasilan usaha, inovasi, eksistensi.

(8)

viii

ANALYSIS OF THE FACTORS OF BUSINESS SUCCESS (STUDIES ON LURIK PRASOJO)

By:

Cischa Widya Putri B.131.15.0502

ABSTRACT

The study was conducted in Lurik Prasojo. The purpose of this study was to analyze (1) Explain any factors related to Lurik Prasojo’s successful bussiness, (2) How does Lurik Prasojo maintain his business persistence up to present.

The method of this research is descriptife research with a qualitative approach.

Qualitative descriptife research is a research that aims to determine and describe events and phenomena that occur in the field and present data in a systematic, factual, and accurate manner regarding facts or actual phenomena that occurs in the field. Data collection is done by observation, interview, and documentation techniques. The researcher used the triangulation technique to check the validity of the research data. Data analysis in this study uses three components consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing.

The result of the study proves that (1) There are some factors related to a successful business covering factors of quality, product innovations, and human resource; (2) There are some attempts to maintain the business persistence including business management, product innovations, product quality, marketing, pricing, and service.

Keywords: successful business, innovations,existence.

(9)

ix

MOTO DAN PERSEMBAHAN

• Jawaban sebuah keberhasilan adalah terus belajar dan tak kenal putus asa.

• Tidak ada kata terlambat mencari ilmu.

• Hidup yang penuh kebahagiaan tidak akan terjadi begitu saja, dibutuhkan banyak doa, kerendahan hati, pengorbanan dan cinta.

• Antara mimpi dan kenyataan, ada yang namanya kerja keras.

• Taka ada rahasi untuk menggapai sukses, sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras, dan mau belajar dari kegagalan.

• Tidak ada rasa bangga tanpa usaha, tidak ada rasa puas tanpa kerja keras, karena sukses kamu tergantung dari usaha kamu.

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

• Ibu dan Bapak tercinta, terima kasih atas doa yang tak pernah putus serta pengorbanan dan perjuanganmu yang selalu menjadi menginspirasiku.

• Kakak, adik, pendamping hidupku yang selalu ada disaat susah maupun senang dan yang selalu memberi dukungan dan motivasinya.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, karunia dan anugerah Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA (STUDI PADA LURIK PRASOJO) dengan lancar dan baik.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Semarang. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, penulis dengan ketulusan dan kerendahan hati ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah dengan ikhlas memberikan masukan dan kontribusi berarti dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, antara lain:

1. Andy Kridasusila, S.E., M.M., selaku Rektor Universitas Semarang.

2. Yohanes Suhardjo, S.E., M.Si., AK, CA., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Semarang.

3. Teguh Ariefiantoro, S.E., M.M. selaku Ketua Jurusan Fakultas Ekonomi Universitas Semarang.

4. Dr. Indarto, S.E., M.Si. selaku Dosen Wali.

5. Sujito, S.E., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi, terima kasih atas kesempatan waktu yang diluangkan, bimbingan, masukan-masukan, dan semangat yang diberikan untuk menyelesaikan skripsi ini.

(11)

6. Seluruh dosen Jurusan Manajemen dan staf Tata Usaha Fakultas Ekonomi Universitas Semarang yang telah membantu selama perkualiahan.

7. Ibu dan bapak tercinta, Ibu Siti Wurini dan Bapak Sunardi yang sangat saya hormati, terima kasih atas doa yang dipanjatkan, memberi dukungan, semangat, motivasi, dan yang selalu menjadi inspirasi terima kasih banyak yang tak terhingga atas perjuangan dan pengorbananmu.

8. Kakak tercinta Medha Rindhika dan adek tercinta Tian Ardi Pamungkas dan Jazlyn Xaviera yang selalu memberikan semangat dan dukungan.

9. Drajat Agus Murdowo, sebagai imamku, orang yang dengan sabar, ikhlas dan selalu setia mendampingiku selama ini, yang selalu memberi dukungan dan motivasinya, terima kasih banyak atas pengorbananmu selama ini.

10. Sahabatkku yang selalu memberikan semangat, dukungan dan motivasinya Nia Anggita, Nia Okta, Tanti, Ulfa, Kurnia, Khoirul, Jihan, Shofa, Ari, Andy, Bayu terima kasih selama beberapa tahun ini, semoga selalu kompak dan solid.

11. Serta semua pihak terkait yang membantu dalam penelitian ini dari awal hingga akhir yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Namun demikian, merupakan harapan besar bagi penulis bila skripsi ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan menjadi satu karya yang bermanfaat.

Semarang, 1 Agustus 2019

xi

Penulis

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Persetujuan Laporan Skripsi ... ii

Pengesahan Laporan Skripsi ... iii

Pengesahan Revisi Ujian ... iv

Pengesahan Kelulusan Ujian ... v

Pernyataan Orisinalitas Skripsi ... vi

Abstrak ... vii

Motto dan Persembahan ... ix

Kata Pengantar ... x

Daftar Isi ... xii

Daftar Tabel ... xiv

Daftar Gambar ... xv

Daftar Bagan ... xvi

BAB I Pendahuluan ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 10

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 10

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 10

1.3.2 Kegunaan Penelitian ... 10

BAB II Tinjauan Pustaka ... 12

2.1 Telaah Literatur ... 12

2.1.1 Pengertian Lurik ... 12

2.1.2 Pengertian Produk Unggulan Daerah ... 14

2.1.3 Pengertian Bisnis Keluarga ... 17

2.1.4 Pengertian Keberlanjutan Bisnis Keluarga ... 19

2.1.5 Pengertian Keberhasilan Usaha ... 22

2.1.6 Harapan Pelanggan (Customer Expectations) ... 26

2.1.7 Difusi Inovasi ... 31

(13)

xiii

2.1.8 Resource Based View (RBV)... 34

2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya ... 35

2.3 Alur Penelitian ... 38

BAB III Metode Penelitian ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Jenis Data Penelitian ... 41

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian... 43

3.4 Subyek dan Obyek Penelitian ... 44

3.5 Metode Pengumpulan Data ... 46

3.6 Teknik Analisis Data ... 49

3.6.1 Data Reduksi... 51

3.6.2 Penyajian Data ... 51

3.6.3 Conclusion Data ... 51

BAB IV Hasil dan Pembahasan ... 53

4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 53

4.1.1 Keadaan Geografis ... 53

4.1.2 Sejarah Berdirinya ... 55

4.2 Analisis Data... 57

4.2.1 Ringkasan Temuan Deskripsi Hasil Penelitian ... 68

4.2.2 Pengklasifikasian Pola Persoalan ... 90

4.3 Pembahasan ... 91

BAB V Penutup ... 113

5.1 Kesimpulan ... 113

5.2 Saran ... 114

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 115

5.4 Agenda Penelitian Selanjutnya ... 115

Daftar Pustaka ... 116

Lampiran-lampiran ... 118

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 ... 7

Tabel 2.1 ... 21

Tabel 2.2 ... 35

Tabel 3.1 ... 46

Tabel 3.2 ... 48

Tabel 4.1 ... 68

Tabel 4.2 ... 90

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 ... 9

Gambar 1.2 ... 9

Gambar 3.1 ... 43

Gambar 3.2 ... 44

Gambar 3.3 ... 44

Gambar 4.1 ... 54

Gambar 4.2 ... 103

Gambar 4.3 ... 104

Gambar 4.4 ... 104

(16)

xvi

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 ... 8 Bagan 2.1 ... 38

(17)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis-garis yang merupakan lambang kesederhanaan, sederhana dalam penampilan maupun perbuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain sebagai penutup dan melindungi tubuh, lurik juga berfungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Lurik menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang.

Kain Tenun Lurik merupakan salah satu kain tradisional yang menjadi ciri khas Kabupaten Klaten sebagai warisan budaya yang harus selalu dilestarikan keberadaannya.

Kain Tenun Lurik di Indonesia saat ini sedang menjadi trend di masyarakat berbagai kalangan terutama dikalangan menengah ke atas. Pada tahun 2014 nilai produksi industri lurik yang terdapat di Kabupaten Klaten berada diurutan nomer dua sebesar Rp2.437.701.000,00 produk unggulan pertama yaitu logam sebesar Rp2.465.284.400,00 dan urutan ketiga dengan konveksi sebesar Rp2.042.366.400,00. Usaha tenun lurik berjaya pada tahun 1950 di Kecamatan Pedan, akan tetapi karena rendahnya perhatian dari pemerintah dan kurang minatnya masyarakat terhadap tenun lurik membuat banyaknya perajin alat tenun bukan mesin (ATBM) gulung tikar.

Pengembangan produk unggulan daerah merupakan gambaran kemampuan suatu daerah untuk menghasilkan produk, menciptakan nilai, memanfaatkan sumber daya

(18)

daerah, memberi kesempatan kerja, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah, untuk meningkatkan produktivitas dan investasi, dan merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan daya saing dengan mengembangkan produk lokal atau kearifan lokal. Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestik maupun menembus pasar ekspor (Sudarsono, 2001). Produk Unggulan Daerah (PUD) merupakan produk yang berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh usaha kecil dan menengah, koperasi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki daerah setempat baik berupa sumber daya alam (bahan baku), sumber daya manusia (kemampuan masyarakat, penguasaan teknologi, dukungan infrastruktur, dan kondisi sosial budaya), budaya lokal. Produk Unggulan Daerah diharapkan menjadi kekuatan ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat sebagai produk unggulan yang memiliki daya tarik, daya tahan, daya jual dan daya saing ekonomi sehingga mampu memasuki pasar Internasional. Persaingan era globalisasi sangat ditentukan keunggulan yang dimiliki atau keunggulan produk atau bisa disebut dengan keunggulan kompetitif. Proses ini dilakukan dengan mengidentifikasi produk unggulan terutama yang berasal dari sektor informal dan usaha menengah dengan sifatnya padat karya sebagai proses pengembangan sumber daya lokal dan juga optimalisasi atas potensi ekonomi daerah (Asmara, 2004). Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2014 tentang pedoman pengembangan produk unggulan daerah, potensi ekonomi daerah perlu dikembangkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah melalui perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi yang dilakukan Pemerintah.

(19)

Kabupaten Klaten merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki 1.163.228 jiwa penduduk, dimana letaknya strategis diantara Kota Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat berpotensi memiliki peluang untuk meningkatkan produk unggulan daerah dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Klaten selama tahun 2014 dilihat dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRD) atas dasar harga konstanta 2000 yaitu sebesar 5,79%, tiga sektor yang paling tinggi pertumbuhannya yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 30,70%, sektor industry pengolahan naik sebesar 20,34% dan jasa-jasa sebesar 15,76%. Pemerintah Kabupaten Klaten menetapkan tujuh produk unggulan daerah yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Klaten bernomor 050/84 Tahun 2016 meliputi (batik yang berada di Bayat, Kalikotes, dan Kemalang), (lurik berada di Bayat, Cawas, Pedan), (Konveksi berada di Wedi, Pedan), (tembakau asepan dan rajangan berada di Trucuk dan Wedi), (mebeul di Trucuk dan Cawas), (keramik berada di Wedi dan Bayat), serta (logam yang di nilai paling unggul berada di Ceper). Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Klaten tahun 2015, industri perabot rumah tangga dari kayu (meubel) yaitu 1,755 unit menyerap tenaga kerja 7,464 orang, usaha batu bata merah sebesar 1,100 dengan tenaga kerja 3,998 orang, dan ketiga industri tenun (ATM/ATBM) merupakan industri terbesar ketiga karena memiliki jumlah unit usaha sebesar 1.078 dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 2.186 orang.

Kain lurik merupakan salah satu kain tradisional yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Klaten sebagai warisan budaya yang harus selalu dilestarikan. Pada tahun 2014 nilai produksi industri lurik diurutan nomer dua sebesar Rp2.437.701.000,00 produk

(20)

unggulan pertama yaitu logam sebesar Rp2.465.284.400,00 dan urutan ketiga dengan konveksi sebesar Rp2.042.366.400,00. Usaha tenun lurik berjaya pada tahun 1966 di Kecamatan Pedan akan tetapi karena rendahnya perhatian dari pemerintah dan kurang minatnya masyarakat terhadap tenun lurik membuat banyaknya perajin alat tenun bukan mesin (ATBM) gulung tikar. Tenggelamnya kain lurik dikarenakan munculnya industri tekstil pasca modernisasi dengan modal yang besar maka, Pemerintah melakukan berbagai usaha dan upaya guna melestarikan kain Batik yang sempat diklaim oleh negara tetangga yaitu Malaysia maka Pemerintah mengeluarkan SK Gubernur Nomor 2 tahun 2010 tentang mewajibkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) berseragam batik setiap hari Kamis dan Jumat. Maka dari itu Pemerintah Kabupaten Klaten dengan sigap menanggapi Surat Keputusan Gubernur tersebut dengan mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 025/575/08 tertanggal 25 Juni 2008 tentang uji coba penggunaan pakaian dinas tenun tradisional atau batik khas daerah setempat, hal tersebut diupayakan Pemerintah Kabupaten Klaten untuk melestarikan kain lurik sebagai kain khas atau warisan budaya turun temurun masyarakat di Kabupaten Klaten yang keberadaannya kian hari semakin tenggelam. Kebijakan ini diharapkan agar mengubah lurik yang semula sebagai warisan budaya (culture heritage) menjadi ikon masyarakat Klaten dan menjadi salah satu produk unggulan daerah di Kabupaten Klaten sehingga mampu meningkatkan kegiatan perekonomian dan mampu memdorong daya saing daerah.

Dengan memanfaatkan peluang yang ada maka banyaknya pengrajin lurik yang mulai bangkit dan bermunculan di tengah masyarakat dengan adanya harapan-harapan baru bagi pengembangan usahanya seperti di Kecamatan Bayat, Cawas dan berada di Kecamatan Pedan yaitu salah satunya PT Kusumatex.

(21)

PT Kusumatex merupakan sebuah bisnis keluarga yang bergerak dibidang perindustrian dan perdagangan umum dengan kegiatan usaha dibidang tekstil yang memproduksi kain lurik. Bisnis keluarga memiliki keunikan yang menciptakan kemampuan untuk dapat terus berlangsung dalam kurun waktu lama dan memberikan kontribusi secara ekonomi hampir tidak terhingga contoh pada PT Kusumatex dapat bertahan selama 69 tahun dari tahun 1950 hingga sekarang tahun 2019. Tidak mudah untuk menjaga kelangsungan bisnis keluarga akantetapi PT Kusumatex telah membuktikannya hingga dapat bertahan 69 tahun lamanya, PT Kusumatex sebuah usaha yang didirikan oleh Bapak Hadi Sumarto sebagai generasi pertama, kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua dengan Bapak Wahyu Suseno dan dilanjutkan oleh generasi ketiganya yaitu Maharani Setyawan sang desainer alumni AAYKPN Yogyakarta Fakultas Ekonomi Manajemen sebagai menantu, istri dari Bapak Hanggo Wahyu Amerto anak ari bapak Wahyu Suseno yang dipercayai untuk mengelola dan menjalankan bisnis tersebut. PT Kusumatex terletak di Desa Pencil RT 005 RW 002, Kelurahan Bendo, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten ini merupakan sebuah usaha yang bergerak dibidang perindustrian dan perdagangan umum dengan kegiatan usaha dibidang tekstil yang memproduksi kain lurik dengan label atau brand “PRASOJO”. Prasojo memiliki arti

“apa adanya” atau “sederhana, terus terang” yang diambil dari bahasa Jawa. Pada awalnya lurik PRASOJO sudah berdiri sejak tahun 1950 dengan memproduksi kain tenun lurik yang bermula dengan mesin manual atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), kebanyakan industri-industri kain tenun lurik Pedan saat ini masih mempertahankan memakai ATMB (Alat Tenun Bukan Mesin) dalam proses produksinya karena kebanyakan para pemilik industri lebih mementingkan kualitas kain lurik yang dihasilkan daripada banyaknya

(22)

jumlah produksi demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman yang serba modern dan perkembangan teknologi yang semakin maju dan memanfaatkan peluang yang ada maka banyaknya industri tenun lurik yang bermunculan dengan persaingan yang semakin ketat maka lurik Prasojo menggunakan Alat Tenun Mesin berupaya untuk menyusun strategi untuk mengembangkan produksi luriknya baik dengan diversifikasi produksi lurik agar menjadi incaran para konsumen akan tetapi tetap menomorsatukan kualitas konsumen untuk mampu bersaing dipasar global serta mampu mendorong daya saing daerah. Berikut merupakan sebagian contoh dari beberapa koleksi dari tenun lurik Prasojo diantaranya lurik batik, lurik garis, lurik gerimis (dom tlusup), jarik dan masih banyak lagi. Adapula yang sudah diolah menjadi barang jadi alias baju dipadukan dengan lurik dan hiasan lainnya. Contoh dari lurik klasik sebagai berikut

Lurik Klasik

1. Lurik Alamanda 11. Lurik Asoka

2. Lurik Aconite 12. Lurik Aster

3. Lurik Adenium 13. Lurik Begonia

4. Lurik Agapanthus 14. Lurik Dahlia

5. Lurik Ageratum 15. Lurik Camelia

6. Lurik Alyssum 16. Lurik Eidelweis 7. Lurik Amaranth 17. Lurik Putri Malu 8. Lurik Amarilis 18. Lurik Dandelion 9. Lurik Aglaonema

10. Lurik Sakura

(23)

Dari beberapa contoh koleksi lurik Prasojo diatas merupakan sebagian kecil contoh dari koleksi lurik Prasojo, dengan kreatifitas dan ide-ide yang segar serta semangat yang besar pula semua berbuah manis dengan perlahan tapi pasti lurik Prasojo berkembang dan dikenal masyarakat luas baik masyarakat Kota Klaten maupun luar daerah Klaten. Dapat dikatakan berkembang dan di kenal di tengah masyarakat membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dengan ide dan kreatifitas sang pemiliklah, lurik Prasojo berkembang pesat dapat dilihat dengan banyaknya permintaan dipasaran baik masyarakat Kota Klaten maupun luar daerah Klaten.

Berikut merupakan data penjualan lurik Prasojo tahun 2018--2019

Sumber: Penjualan Lurik Prasojo

No Bulan Jumlah item

1 Januari--Maret 2018 66.879

2. April--Juni 2018 69.921

3. Juli--September 2018 84.742

4. Oktober--Desember 2018 118.536

5. Januari--Maret 2019 168.350

(24)

Sumber: Penjualan Lurik Prasojo

Dilihat dari data penjualan produk lurik Prasojo diatas terlihat dari tabel dan grafik memperlihatkan bahwa jumlah penjualan terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2018 periode Januari--Desember 2018 dan tahun 2019 periode Januari--Maret 2019 karena banyaknya permintaan yang selalu meningkat di pangsa pasar karena brand Prasojo sudah melekat dihati para masyarakat sehingga mampu mempertahankan keberlangsungan usaha dan eksistensinya hingga saat ini.

Berikut dokumentasi lurik prasojo hasil survei 19 April 2019 pukul 13.08

0 10 20 30 40 50 60 70

Jan-Maret 2018 April-Juni 2018 Juli-Sept 2018 Okt-Des 2018 Jan-Maret 2019

Chart Title

Series 1 Series 2 Series 3

(25)

Gambar1.1

Simbol dari lurik Prasojo

Gambar 1.2 Pengunjung lurik Prasojo

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah dalam penelitian tersebut adalah keberhasilan Lurik Prasojo dalam mempertahankan eksistensinya ditengah persaingan usaha yang sejenis di masyarakat, maka pertanyaan penelitiannya adalah:

(26)

1. Faktor apa saja yang terkait dengan keberhasilan menjalankan usaha pada lurik Prasojo?

2. Bagaimana usaha lurik Prasojo untuk mempertahankan keberlangsungan usaha atau eksistensinya sampai saat ini?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk mendalami dan menganalisa faktor apa saja yang terkait dalam keberhasilan menjalankan usaha lurik Prasojo.

2. Untuk mendalami dan menganalisa usaha lurik prasojo untuk mempertahankan keberlangsungan usaha atau eksistensinya sampai saat ini.

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut a. Bagi Peneliti

1. Untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang faktor apa saja yang terkait dalam keberhasilan menjalankan usaha lurik Prasojo.

2. Untuk mendapatkan pengetahuan dan bahan perbandingan antara teori yang telah diperoleh dibangku kuliah dengan kenyataan yang sebenarnya dalam dunia usaha untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana mengelola sebuah usaha.

b. Bagi Instansi Terkait Penelitian

(27)

Dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi dalam menjalankan bisnis dan mampu mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan di dunia usaha yang sejenis.

c. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat menambah pengetahuan dan pengembangan ilmu tentang dunia bisnis dalam manajemen dan berguna sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian yang selanjutnya.

d. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dapat menjadi referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya khususnya penelitian yang berkaitan dengan faktor yang terkait dalam keberhasilan dan mempertahankan keberlangsungan usaha atau eksistensi dalam menjalankan sebuah bisnis.

(28)

12

2.1 Telaah Literatur 2.1.1 Pengertian Lurik

Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis-garis yang merupakan lambang kesederhanaan, sederhana dalam penampilan maupun perbuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Selain sebagai penutup dan melindungi tubuh, lurik juga berfungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya. Lurik menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Kata Lurik berasal dari akar kata rik berarti garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalur-jalur sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa (Mangunsuwito:2002) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia. Menurut Nian S. Djoemena dalam bukunya yang berjudul Lurik, Garis-garis dan Bertuah dalam bukunya dijelaskan mengenai proses

(29)

pembuatan kain lurik berserta alat yang digunakan. Selain itu juga diuraikan pula mengenai macam-macam motif lurik, makna, waktu pemakaian, dan fungsinya secara garis besar terutama dalam acara ritual keagamaan dan dalam upacara perkawinan.

Dari berbagai definisi diatas disebutkan disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi selembar kain tenun. Proses diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucukan, penyetelan dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasi.

2.1.1.1 Makna pada lurik

Kata Lurik berasal dari akar kata rik berarti garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Melalui kain lurik terdapat filosofi dan makna lurik yang tercermin pada motif dan warnanya. Ada corak yang dianggap sakral dan memberi petuah, nasehat, petuah, harapan, berbagai unsur seperti warna, motif terutama kepercayaan yang menyertai kain lurik, membuat nilai lurik menjadi tinggi. Keberadaan kain ini tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara perkawinan dan ritual adat.

2.1.1.2 Macam corak lurik

Corak tradisional lurik ditenun menurut aturan tertentu, baik dalam hal pewarnaan atau perpaduan warna maupun tata susunannya. Corak kain lurik diberi nama yang erat

(30)

kaitannya dengan daur, falsafah atau pandangan kehidupan keprcayaan si pemakai. Corak lurik secara garis besar dapat dibagi dalam corak dasar yaitu:

1. Corak lajuran, corak dimana lajur atau garis-garisnya membujur searah benang lungsi.

2. Corak pakan malang, corak dimana lajur atau garis-garisnya melintang searah benang pakan.

3. Corak cacahan atau kotak-kotak., corak yang terjadi dari persilangan antara corak lajuran dan corak pakan malang. Menurut Bian S. Djoemena (2000) mengenai nama- nama corak lurik yang terkenal antara lain:

1. Corak Klenthing Kuning 10. Melati Secontong

2. Sodo Sakler 11. Kembang Bayam

3. Lasem 12. Ketan Ireng

4. Tuluh Watu 13. Dom Dlesep

5. Lompong Keli 14. Loro-pat

6. Kinanthi 15. Jaran Dawuk

7. Kembang Telo 16. Kijing Miring

8. Ketan Ireng 17. Kunang Sekebon

9. Ketan Salak 18. Kembang Mindi

2.1.2 Pengertian Produk Unggulan Daerah

Produk Unggulan Daerah (PUD) merupakan produk yang berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh usaha kecil dan menengah, koperasi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki daerah setempat baik berupa sumber daya alam (bahan baku), sumber daya manusia (kemampuan masyarakat, penguasaan teknologi, dukungan

(31)

infrastruktur, dan kondisi sosial budaya setempat), budaya lokal yang berkembang dilokasi tertentu.

Produk Unggulan Daerah (PUD) menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2014 merupakan produk baik berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh koperasi, usaha skala kecil dan menengah yang potensial untuk dikembangkan dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki oleh daerah baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya lokal serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah yang diharapkan menjadi kekuatan ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat sebagai produk yang potensial yang memiliki daya saing, daya jual, dan daya dorong menuju dan mampu memasuki pasar global. Sedangkan yang disebut pengembangan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan produk unggulan daerah melalui perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan.

2.1.2.1 Model pengembangan Produk Unggulan Daerah

Model pengembangan Produk Unggulan Daerah jangka menengah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan antara lain melalui:

1. Peningkatan kualitas daya tarik PUD 2. Peningkatan kualitas infrastruktur 3. Peningkatan promosi dan investasi PUD 4. Peningkatan kerjasama

5. Peningkatan peran serta masyarakat 6. Peningkatan perlindungan terhadap PUD

(32)

Produk unggulan adalah produk yang potensial dikembangkan pada suatu wilayah dengan memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya manusia lokal yang berorientasi pasar dan ramah lingkungan. Sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan siap menghadapi persaingan global.

2.1.2.2 Kriteria produk atau komoditi unggulan

Kriteria produk atau komoditi unggulan itu merupakan hasil usaha masyarakat pedesaan menurut prof. Dr. Ir. Soemarno, M.S.,

1. Mempunyai daya saing tinggi di pasaran (keunikan, kualitas bagus, harga murah) 2. Memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang potensial dapat di kembangkan 3. Mempunyai nilai tambah tinggi bagi massyarakat pedesaan

4. Secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat meningkatkan perekonomian 5. Layak didukung oleh modal bantuan atau kredit.

Kriteria produk unggul menurut Unkris Satya Wacana Salatiga adalah komoditi yang memenuhi persyaratan kecukupan sumber daya lokal, keterkaitan komoditas, posisi bersaing dan potensi bersaing yaitu komoditas potensial, komoditas andalan, komoditas unggulan. Dari kriteria memunculkan pengelompokkan komoditas berikut:

1. Komoditas potensial adalah komoditas daerah yang memiliki potensi untuk berkembang karena keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif terjadi misal karena kecukupan ketersediaan sumberdaya lokal, teknologi produksi lokal serta sarana dan prasarana lokal lainnya.

2. Komoditas andalan adalah komoditas potensial yang dapat dipandang dapat dipersandingkan dengan produk sejenis di daerah lain karena disamping memiliki keunggulan komparatif juga memiliki efisiensi usaha yang tinggi

(33)

3. Komoditas unggulan adalah komoditas yang memiliki keunggulan kompetitif, karena telah memenangkan persaingan dengan produk sejenis didaerah lain.

Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestik dan ataumenembus pasar ekspor (Sudarsono, 2001).

2.1.3 Pengertian Bisnis Keluarga

Bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis. Menurut penelitian yang dilakukan Andreas dalam Susanto (2007) mengklasifikasikan bisnis keluarga sebagai perusahaan yang sahamnya minimal 25% dimiliki oleh keluarga tertentu atau jika kurang 25% terdapat anggota keluarga yang mempunyai jabatan pada dewan direksi atau dewan komisaris perusahaan. Menurut John L. Ward dan Craig E. Arnoff, suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Menurut Pozza (2007) definisi dari bisnis keluarga (family businness) bisa dilihat dari:

1. Kontrol ownership dari dua anggota keluarga atau lebih , dari keluarga atau partnership dari keluarga.

2. Strategi dalam manajemen perusahaan dipengaruhi oleh anggota keluarga baik sebagai advisor dalam anggota dewan atau menjadi pemegang saham.

3. Lebih peduli pada hubungan keluarga.

Menurut Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Fanily Business” suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan. Maka definisi

(34)

bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang melibatkan sebagian anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis.

2.1.3.1 Jenis-jenis bisnis keluarga

Menurut Susanto (2007) ada dua bisnis keluarga antara lain yaitu 1. Family Owned Enterprises (FOE)

Perusahaan dimiliki keluarga akan tetapi dikelola oleh eksekutif profesional dari luar lingkungan keluarga. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi dilapangan dan tidak ikut mengendalikan perusahaan agar supaya pengelolaan perusahaan berjalan secara profesional. Dengan pembagian peran anggota keluarga dapat mengoptimalkan diri dalam fungsi pengawasan saja.

2. Family Business Enterprises(FBE)

Pada Family Business Enterprises perusahaan yang dimiliki dan dikelola keluarga pendirinya. Keluarga berperan baik pengelolaan dan kepemilikan dipegang oleh orang yang sama, posisi penting dalam perusahaan dipegang oleh anggota keluarga.

2.1.3.2 Keuntungan Dan Kendala Bisnis Keluarga a. Keuntungan Bisnis Keluarga

1. Sangat membantu mengenai kepercayaan dan cara yang bagus untuk mengajak semua anggota keluarga demi keamanan generasi selanjutnya.

2. Keluarga memiliki kecenderungan untuk tetap bersatu dalam masa-masa sulit Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan bisnis keluarga yaitu

a. Mencampuradukan bisnis dengan urusan pribadi bisa berdampak buruk pada hubungan keluarga, maka pastikan membuat batasan-batasan yang jelas tentang bisnis.

(35)

b. Pastikan bahwa komunikasi antar keluarga tidak menjadi halangan.

c. Perlakukan bisnis keluarga sebagaimana mestinya.

d. Pastikan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas dalan bisnis.

e. Setiap anggota keluarga diperlakukan secara adil.

f. Berusaha untuk mengembangkan rencana menjalankan bisnis secara bergantian.

g. Sebelum terjun menjalankan usaha seiap anggota keluarga wajib mendapatkan pengalaman sebelum mereka bergabung.

b. Kendala menjalankan bisnis keluarga

1. Kurangnya profesionalisme dalam anggota keluarga akhirnya muncul mitos “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan”.

2. Sering terjadinya konflik dalam bisnis keluarga, suksesi, kompetensi dan budaya dalam perusahaan keluarga.

3. Ketergantungan terhadap anggota keluarga

2.1.4 Keberlanjutan Bisnis Keluarga (Family Business Sustainability)

2.1.4.1 Pengertian Keberlanjutan Bisnis Keluarga (Family Business Sustainability) Menurut Marpa (2012:97) sukses pada perusahaan keluarga didefinisikan sebagai penyerahan tongkat kepemimpinan dari pemilik-pendiri atau pemilik pengelola (incumbent) kepada seseorang suksesor, baik merupakan anggota keluarga maupun bukan anggota keluarga yaitu seorang pengelola profesional. Transisi dalam perusahaan keluarga menyangkut tentang pengalihan kepemilikan, pengalihan manajemen, dan pengalihan aturan-aturan (governance). Karakteristik yang menentukan kinerja bisnis keluarga adalah pemilik otoriter, masalah komunikasi dengan saudara, motivasi

(36)

keberhasilan, perbedaan pendapat, kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan suksesi pada generasi kedua dan ketiga.

Keberlanjutan bisnis keluarga merupakan suatu permasalahan yang paling serius, untuk keberlanjutan maka hal yang penting diperhatikan adalah suksesi kepemimpinan dari satu generasi kepemilikan kedepan. Menurut penelitian sekitar 30% mentransfer ke generasi kedua, 10-15% dari generasi kedua ke generasi ketiga (Poza, 2009; Ward, 1987), dan hanya 4% ke generasi keempat (Poza, 2009), dan melalui survei 77% bisnis keluarga gagal dan dinyatakan bangkrut setelah kematian pendirinya.

2.1.4.2 Suksesi

Masalah terpenting dalam keberlanjutan usaha keluarga adalah masalah suksesi, suksesi merupakan bukan satu-satunya penentu kelanggengan bisnis keluarga. Terdapat tujuh langkah dalam melakukan suksesi bisnis keluarga (Susanto. 2007):

1. Mengevaluasi struktur kepemilikan

2. Mengembangkan gambaran struktur yang diharapkan setelah suksesi 3. Mengevaluasi keinginan keluarga

4. Mengembangkan proses pemilihan

5. Melatih dan memonitoring penerus masa depan

6. Melakukan aktivitas team building dari keluarga, menciptakan dewan direksi yang efektif

7. Memasukkan penerus pada saat yang tepat.

Perencanaan suksesi terdiri dari tiga pola yaitu menurut (Susanto. 2007):

1. Planned Succession yang merupakan perencanaan suksesi yang sifatnya terfokus.

(37)

2. Informal Planned Succession yaitu perencanaan suksesi yang lebih mengarah pada pemberian pengalaman.

3. Unplanned Succession dimana pemberian kekuasaan pada generasi selanjutnya berdasarkan pada keputusan dari pemilik yang bersifat sepihak.

2.1.4.3 Kinerja Bisnis

Salah satu faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis keluarga adalah kinerja bisnis keluarga. Temuan ini disampaikan oleh Tan et al. (2002) yang mengemukakan bahwa semakin konsisten kinerja perusahaan untuk jangka waktu tertentu, maka semakin bessar pula peluang keberlanjutannya. Temuan serupa disampaikan oleh Kausari (2014), dimana perusahaan yang selalu memantau kinerja akan memiliki posisi unggul dipasar dan mampu mewujudkan keberlanjutan yang baik.

Tabel 2.1 Keterlibatan anggota keluarga

pada perusahaan keluarga:

1. Jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam perusahaan 2. Posisi anggota keluarga dalam

perusahaan keterlibatan anggota keluarga dalam hal keuangan

Kinerja Bisnis

1. Financial Measure (Pendekatan tradisional untuk mengukur keberhasilan organisasi)

2. Market/Customer Permormance (Mempresentasikan hubungan organisasi dengan pelanggan)

3. Process Performance (Mencerminkan efisiensi organisasi dan melihat perbaikan)

(38)

4. People Development Performance (Mengakui peran pentik stakeholder) 5. Future Performance (Mengukkur

kesiapan masa depan organisasi).

Sumber: Cruz, Christina, Justo, Rachida, De Castro, Julio o (2012); Kim Y, Gao F.Y (2013); Shinnar, Rachel S., Cho Seonghee., Rogof, Edward G. (2013); Matlz (2003).

2.1.5 Keberhasilan Usaha

2.1.5.1 Pengertian Keberhasilan Usaha

Pengertian keberhasilan usaha menurut Suyanto (2010: 179), keberhasilan usaha industri kecil dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kinerja usaha industri kecil dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan dalam pencapaian maksud atau tujuan yang diharapkan, sebagai ukuran keberhasilan usaha suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kinerja keuangan dan image perusahaan dan laba usaha yang berhasil dicapai oleh pengusaha dalam kurun waktu tertentu (Waridah, 1992). Berhasil atau tidaknya suatu usaha dapat diketahui dari membesarnya skala usaha yng dimilikinya (Dedi haryadi, 1998).

Keberhasilan usaha identik dengan perkembangan perusahaan, istilah itu diartikan sebagai suatu proses peningkatan kuantitas dari dimensi perusahaan. Perkembangan perusahaan adalah prooses dalam pertambahan jumlah karyawan, peningkatan omset penjualan dan lain- lain (Bienayme dalam Novari, 2002). Menurut Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, kewirausahaan adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat dan

(39)

menciptakan lapangan kerja dan hasilnya berguna untuk orang lain. Dalam berwirausaha tentu saja untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis dibutuhkan karakteristik wirausaha dan faktor pendukung keberhasilan wirausaha lainnya.

Menurut Ina Primiana (2009:49) mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah permodalan sudah terpenuhi, penyaluran yang produktif, dan tercapainya tujuan organisasi. Menurut Dwi Riyanti (2003:29) keberhasilan usaha yaitu usaha kecil berhasil karena wirausaha memiliki otak yang cerdas yaitu kreatif, mengikuti perkembangan teknologi dan dapat menerapkan secara proaktif sehingga definisi keberhasilan usaha adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tuannya dimana keberhasilan tersebut didapatkan dari wirausaha dan hal tersebut terlihat dari efisiensi proses produksi yang dikelompokkan berdasarkan efisiensi secara teknis dan ekonomis, target perusahaan yang ditentukan oleh manajer pemilik usaha, peermodalan, skala usaha, hasil atau laba, jenis usaha atau pengelolaan, kinerja keuangan, serta image perusahaan.

2.1.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha

Keberhasilan usaha dapat diketahui dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor internal antara lain kualitas sumber daya manusia, struktur organisasi, sistem manajemen yang digunakan, budaya bisnis, jaringan bisnis dengan pihak luar, kekuatan modal, tingkat enterpreunership, penguasaan tentang pengelolaan bisnis.

2. Faktor eksternal dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor pemerintah dan non pemerintah, faktor pemerintah antara lain yaitu kebijakan pemerintah, otonomi daerah, tingkat demokrasi, untuk faktor non pemerintah contohnya natara lain

(40)

sistem perekonomian, kultur budaya masyarakat setempat, kondisi infrastruktur, tingkat pendidikan masyarakat, perburuhan, dan lingkungan global.

Menurut penelitian Luk dalam Suyatno (2010:179) berkaitan dengan faktor penentu keberhasilan usaha dari hasil penelitiannya menemukan bahwa keberhasilan usaha kecil ditandai oleh inovasi produk, perilaku mengambil resiko. Menurut Murphy menemukan bahwa keberhasilan usaha disumbangkan oleh kerja keras, dedikasi, dan komitmen terhadap pelayanan dan kualitas. Penentu keberhasilan usaha hasil identifikasi penelitian Luk pada dasarnya adalah cerminan dari kemampuan usaha (pengetahuan, sikap, dan keterampilan), pengalaman yang relevan, motivasi kerja dan tingkat pendidikan seorang pengusaha.

2.1.5.3. Dimensi Keberhasilan Usaha

Menurut Samir (2005:33) mengemukakan bahwa indicator dalam mengukur keberhasilan usaha atau kinerja organisasi yaitu

1. Produktivitas yang diukur melalui perubahan output kepada perubahan di semua factor (modal dan tenega kerja)

2. Perubahan di tingkat kepegawaian (output, teknologi, modal, mekanisme penyesuaian dan pengaruh terhadap perubahan status).

3. Rasio finansial (mengurangi biaya pegawai dan meningkatkan nilai tambah pegawai.

Beberapa indikator dalam menentukan keberhasilan usaha menurut Henry Faizal Noor (2007:397) sebagai berikut

(41)

1. Laba atau profitabilitas

Merupakan tujuan dari suatu bisnis, laba usaha merupakan selisih Antara pendapatan dengan biaya.

2. Produktifitas dan efisiensi

Produktifitas suatu usaha akan menentukan besar kecilnya suatu produksi, hal ini berpengaruh terhadap penjualan dan menentukan tentang bessar kecilnya pendapatan, sehingga berpengaruh terhadap besar kecilnya laba yang diperoleh.

3. Daya saing

Suatu kemampuan bersaing dalam menjalankan suatu usaha dalam bersaing merebut perhatian konsumen dan loyalitas konsumen. Di dalam suatu bisnis bias dikatakan berhasil apabila dapat mengalahkan para pesaingnya dan dapat mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi pesaing.

4. Kompetensi dan etika usaha

Kompetensi merupakan akumulasi dari suatu pengetahuan, hasil penelitian dan pengalaman dalam suatu bidangnya sehingga dapat berinovasi dan menunjukan kereatifitas sesuai dengan tuntutan zaman.

5. Citra baik

Citra baik perusahaan terbagi menjadi dua yaitu trust internal dan trust external.

Trust internal adalah amanah atau trust dari orang yang ada di dalam perusahaan.

Trust external adalah timbulnya rasa amanah atau rasa percaya dari segenap stakeholder perusahaan, baik itu konsumen, pemasok, pemerintah maupun masyarakat luas dan para pesaing.

(42)

Indikator dari keberhasilan usaha menurut Dwi Riyanti (2003:28) kriteria untuk mennetukan keberhasilan usaha:

1. Jumlah produksi 2. Jumlah pelanggan 3. Perluasan usaha

4. Perluasan daerah pemasaran 5. Perbaikan sarana fisik 6. Pendapat usaha

Indikator keberhasilan usaha menurut Suryana (2003:85) terdiri dari 1. Modal

2. Pendapatan 3. Volume penjualan 4. Output produksi 5. Tenaga kerja

Dilihat dari beberapa pendapat dan pandangan mengenai dimensi keberhasilan usaha maka yang digunakan dalam penelitian ini menurut pendapat Dwi Riyanti (2003:28) bahwa dimensi keberhasilan usaha adalah peningkatan dalam akumulasi modal atau peningkatan modal, jumlah produksi, jumlah pelanggan, perluasan usaha, perluasan daerah pemasaran, perbaikan sarana fisik, dan pendapat usaha.

2.1.6 Harapan Pelanggan (Customer Expectations)

2.1.6.1 Pengertian Harapan Pelanggan (Customer Expectations)

Harapan pelanggan diyakini mempunyai peranan yang besar dalam evaluasi kualitas produk (barang dan jasa) dan kepuasan pelanggan. Harapan pelanggan pada dasarnya ada

(43)

hubungan yang erat antara penentuan kualitas dan kepuasan pelanggan (Tjiptono, 1997:28).

Harapan pelanggan selalu ada karena empat hal menurut Kertajaya, 2004:223. Terdiri dari:

1. Individual Need (kebutuhan perseorangan menjadi faktor yang penting)

2. Word of mouth (pelanggan biasa punya harapan tertentu karena cerita orang lain, cerita orang bias dianggap referensi).

3. Past experience atau pengalaman masa lalu

Jika orang sudah mempunyai pengalan baik di masa lalu maka akan dapat menerima pelayanan minimal sama dengan yang dulu.

4. External communication (berjanji sesuatu kepada pelanggan dalam rangka menarik pelanggan).

2.1.6.2 Tingkat Harapan Pelanggan

Zeithaml, L Berry dan Parasuraman mengemukakan pendapat terdapat sepuluh faktor yang mempengaruhi tingat harapan pelanggan. Menurut David, L, H (2005) mengemukakan cara untuk mempengaruhi harapan pelanggan terdapat 7 yaitu

1. Menetapkan kebenaran: kepercayaan harus diperoleh dan dipengaruhi oleh orang lain yang mereka percaya..

2. Mendidik, semakin banyak pelanggan mengetahui semakin baik pula mereka memahami kompleksitas usaha.

3. Jelaskan (menunjukan pada pengalaman)

4. Lakukan secara pribadi, pelanggan tidak akan mengubah pikiran mereka atau mengakui kurangnya pengetahuan yang dimiliki didepan umum.

(44)

5. Tunjukan pada mereka, biarkan pelanggan nmengalami manfaat dari ide dan saran sebelum mencoba untuk menjual ide dan saran tersebut.

6. Keseimbangan memberi dan menerima.

7. Harapan semakin lama semakim menguat jika dibiarkan saja, perhatian sedini mungkin.

2.1.6.3 Faktor-faktor yang menentukan harapan pelanggan

Menurut Zeithaml (1993) melakukan sebuah penelitian khusus dalam sector jasa dan menemukan bahwa harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk oleh beberapa factor yaitu:

1. Enduring Service Intensifiers

Merupakan faktor yang memiliki sifat stabil serta mendorong pelanggan untuk meningkatkan sensitivitasnya terhadap suatu jasa. Pelanggan akan berharap bahwa dirinya pantas untuk dilayai dengan baik jika pelanggan yang lain dilayani dengan baik oleh pemberi jasa yang bersangkutan.

2. Personal Needs

Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang yang mendasar bagi kesejahteraannya akan sangat menentukan dalam penciptaan harapannya. Kebutuhan tersebut mencakup kebutuhan fisik, kebutuhan social dan kebutuhan psikologis.

3. Transitory Service Intensifiers

Adalah factor individual yang memiliki sifat sementara (jangka pendek) yang bias meningkatkan sensitivitas pelanggan atas suatu jasa. Faktor ini mencakup sebagai berikut:

(45)

a. Situasi darurat disaat pelanggan sangat membutuhkan jasa serta menginginkan perusahaan untuk bias membnatunya, misalnya jasa asuransi yang menangani kecelakaan lalu lintas.

b. Jasa terakhir yang dipakai oleh pelanggan dan dijadikan sebagai acuan pelanggan untuk menentukan baik atau tidaknya jasa tersebut.

4. Perceived Service Alternativies

Persepsi yang dimiliki pelanggan atas derajat atau tingkat pelayanan perusahaan lain yang sejenis. Apabila pelanggan mempunyai beberapa alternative pilihan, maka harapannya terhadap suatu jasa akan semakin besar pula.

5. Self Perceived Service Roles

Meruoakan persepsi pelanggan mengenai derajat atau tingkat keterlibatannya dalam mempengaruhi jasa yang diterimanya. Apabila pelanggan terlibat dalam proses pemberian jasa, lalu jasa yang diterima tidak baik maka pelanggan tidak bisa sepenuhnya memberikan kesalahan pada sang pemberi jasa.

6. Situtational Factors

Segala kemungkinanyang dapat mempengaruh kinerja jasa dan berada diluar kendali penyedia jasa itu sendiri.

7. Explicit Service Promises

Pernyataan secara personal ataupun non personal oleh perusahaan mengena jasanya kepada pelanggan. Pernyataan tersebut bisa berupa perjanjian, iklan ataupun komunikasi dengan karyawan perusahaan.

(46)

8. Implicit Service Promises

Faktor ini mengenai petunjuk yang berhubungan dengan jasa, yang memberikan kesimpulan bagi pelanggan mengenai jasa yang akan diberikan bagi pelanggan mengenai jasa yang akan diberikan dan seharusnya diberikan.

9. Word of Mouth (Rekomendasi dari orang lain)

Pernyataan secara personal maupun non personal yang disampaikan oleh orang lain selain perusahaan kepada pelanggan.

10. Past Experience

Mencakup hal-hal yang diketahui pelanggan dari yang pernah diterimanya dimasa lalu.

Harapan pelanggan dari waktu ke waktu selalu berkembang seiring dengan banyaknya informasi yang diterima pelanggan dan juga semakin bertambahnya pengalaman pelanggan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelanggan.

Lovelock (2007) mengatakan setiap konsumen pasti memiliki harapan dalam membuat suatu keputusan pembelian, harapan inilah yang memiliki peran besar sebagai standar perbandingan dalam mengevaluasi kualitas produk tersebut maupun kepuasan konsumen.

Ketika konsumen mendapatkan suatu produk sesuai dengan harapan atau terpenuhinya harapan pelanggan maka konsumen akan mempertahankan produk yang didapat sehingga tinggi pula tingkat untuk mewujudkannya. Maka disimpulkan bila semakin besar harapan pelanggan terpenuhi maka semakin tinggi untuk mewujudkannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Parasuraman, A; Berry, leonard L; Zeithaml, Valarie A (1991) dengan metode kualitatif harapan pelanggan tentang layanan dikategorikan menjadi lima diantaranya yaitu:

(47)

1. Reliability (keandalan) merupakan kemampuan untuk melakukan layanan sesuai yang dijanjikann andal dan akurat.

2. Tangibles (nyata) merupakan penampilan fasilitas fisik, peralatan kantor, personel dan materi komunikasi yang digunakan.

3. Responsiveness (tanggap) merupakan kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan yang cepat.

4. Assurance (jaminan) merupakan pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan.

5. Empaty (empati) merupupakan rasa peduli, perhatian individual yang diberikan kepada pelanggan.

Teori harapan pelanggan (Customer Expectations) digunakan dalam penelitian ini untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan harapan pelanggan, semakin besar harapan pelanggan Lurik Prasojo terpenuhi maka akan semakin tinggi pula tingkat untuk mewujudkannya dan pada akhirnya dapat menciptakan suatu kerjasama antara pengusaha dan pelanggan untuk tetap saling besinergi demi membangun perekonomian baik lingkungan sekitar maupun nasional dan lurik Prasojo dapat mempertahankan dan menjaga eksistensi dalam usahanya.

2.1.7 Difusi Inovasi

Teori difusi inovasi muncul pada tahun 1903 oleh Sosiolog Perancis bernama Gabriel Tarde yang memperkenalkan kpada public Kurva Difusi bentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini menjelaskan bahwa suatu inovasi dilakukam oleh seseorang diperhatikan melalui dimensi waktu. Dalam kurva tersebut terdapat dua sumbu yakni sumbu yang menjelaskan tingkat adopsi dan sumbu yang menjelaskan dimensi waktu.

(48)

Difusi menurut Rogers dalam buku Diffusion of Innovations (1983:10) dijelaskan bahwa:

“Diffution as he process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system”. Rogers mendefinisikan difusi inovasi sebagai proses sosial yang mengkomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi perlahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi social. Teori difusi inovasi pada esensinya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan dan ide baru dikomunikasikan pada sebuah kultur atau kebudayaan.

Bahwa teori ini berfokus pada bagaimana sebuah gagasan atau ide baru dapat dan dimungkinkan diadopsi oleh suatu kelompok. Unsur-unsur difusi terdiri dari empat macam yaitu (1) inovasi, (2) saluran komunikasi, (3) jangka waktu tertentu, (4) anggota sistem social (Abdillah hanafi, 1981:24). Sesuatu bisa dikatakan inovasi karena mempunyai karakteristik yaitu (1) keuntungan relative (relative advantages), (2) kompabilitas (compatibility), (3) kompleksitas (complexity), (4) triabilitas (triability), (5) observalitas (observability).

Teori difusi inovasi membuktikan bahwa anggota sistem sosial dapat terkena pengaruh untuk menerima suatu inovasi melalui suatu perantara atau opinion leader.

Apabila terjadi penyampaian informasi inovasi melalui suatu individu-individu tertentu terlebih dahulu sebagai opinion leader, maka terlihat adanya model two step flow of communication (komunikasi dua tahap). Opinion leader berperan sebagai dalam mengkomunikasikan inovasi yang didapat kepada khalayak atau individu lain, model komunikasi dua tahap ini melibatkan komunikasi interpersonal dan media massa (Onong, 1986:76). Teori ini pada prinsipnya dikenal dengan pemuka pendapat atau disebut dengan agen perubahan. Penyampaian suatu inovasi kepada anggota system sosial tidak hanya

(49)

lewat satu perantara saja melainkan seseorang dapat terkena efek disebarkannya inovasi secara langsung dari agen perubahan. Model penyampaian dapat melalui dua yaitu model multi tahap (multi step) dan (multi step of communication) dengan komunikasi dua tahap (two step flow of communication). Menurut Everett Rogers dan Floyd G. Shoemaker (1973) merumuskan teori ini dengan memberikan asumsi bahwa ada empat tahapan dalam suatu proses difusi inovasi yaitu

1. Pengetahuan : Kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi.

2. Persuasi : Individu membentuk atau memiliki sikap yang menyetejui atau menolak inovasi tersebut.

3. Keputusan : Individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi.

4. Konfirmasi : Individu akan mencari pendapat yang menguatkan keputusan tang telah diambil, namun dia dapat berubah dari keputusan yang diambil sebelumnya jika pessan-pessan mengenai inovasi yang diterimanya berlawanan satu dengan yang lainnya.

Dengan teori difusi inovasi yang sudah diterapkan oleh lurik Prasojo dapat mengkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat atau pelanggan terkait penciptaan inovasi produk yang dihasilkan dengan berbagai keahlian dan kemampuan sang pengelola dalam hal mendesaign produk yang dihasilkan dari Lurik Prasojo dengan kreativitas yang tinggi yang hanya berbahan dasar lurik yang dikombinasikan menghasilkan berbagai macam barang-barang dengan kualitas tinggi dan mempunyai nilai jual yang tinggi misalnya lurik disulap menjadi barang kebutuhan sehari-hari seperti tas, koper, baju,

(50)

sarung bantal, topi dll dan bermacam-macam pernak-pernik dengan ide-ide yang kreatif sang penerus lurik Prasojo lah Mbak Maharani Setyawan membuat daya tarik pelanggan semakin meningkat dan mampu menjadi daya tarik para wisatawan baik masyarakat kota Klaten maupun dari luar Klaten untuk menyambangi pabrik Prasojo maupun melakukan pemesanan lewat media sosial, dengan mempertahankan dan menomorsatukan kualitas diharapkan lurik Prasojo dapat mempertahankan eksistensinya hingga generasi ke empat dan seterusnya.

2.1.8. Resource Based View

Teori Resource Based View (RBV) merupakan teori yang membahas mengenai sumber daya yang dimiliki perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Menurut Wernerfelt menjelaskan bahwa menurut pandangan RBV perusahaan akan unggul dalam persaingan usaha dan mendapatkan kinerja keuangan yang baik dengan cara memiliki, menguasai dan memanfaatkan sumber asset-aset strategis yang penting (asset berwujud dan tidak berwujud). Berdasarkan pendekatan RBV, sumber daya atau asset yang telah eksis adalah bundle dan sumber daya ini mempengaruhi kinerja dengan casual ambiguity. Karena itu adalah sukar untuk menengarai bagaimana sumber daya secara individual dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan usaha tanpa memperhitungkan interdepensi dengan asset lainnya.

Pandangan RBV bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan jauh lebih penting daripada struktur industry dalam memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Menurut pendekatan ini sumber daya merupakan kunci tertentu akan memberikan perusahaan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Kunci model RBV

(51)

didasarkan atas identifikasi sumber data dasar yang merupakan fondasi utama dalam menemukan dan mengembangkan kompetitif inti. Ciri-ciri sumber daya yang berharga dalam perusahaan antara lain

1. Sumber daya tersebut dapat menambah nilai perusahaan atau value.

2. Langka (rare) idealnya tidak ada pesaing yang memiliki sumber daya yang sama.

3. Sumber daya tersebut sebaiknya sukar ditiru (hard to imitate)

4. Sumber daya tidak harus bernilai, langka, dan sukar ditiru akantetapi perusahaan juga harus mempunyyai kemampuan dalam memanfaatkannya (ability to eksploit).

Relevansi teori RBV pada usaha lurik Prasojo, jika suatu perusahaan atau usaha itu memiliki kekuatan internal yang baik maka usaha tersebut memiliki kekuatan untuk bersaing dalam menghadapi para pesaing yang ada di pangsa pasar. Jika lurik Prasojo memiliki sumber daya (resource) yang baik dan kapabilitas (capabilities) yang baik pula maka lurik Prasojo mampu bersaing menghadapi para pesaing di pangsa pasar yang selalu tidak menentu akan permintaan yang selalu berubah-ubah di pangsa pasar.

2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian terdahulu dimaksudkan untuk menggali informasi tentang ruang penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.

Penelitian Terdahulu Tabel 2.2

Hasil Penelitian Terdahulu

Judul, Pengarang,Tahun Permasalahan Temuan

Menurut penelitian yang dilakukan Andreas dalam

Klasifikasi bisnis keluarga

sebagai perusahaan yang sahamnya minimal 25%

(52)

Susanto (2007)

dimiliki oleh keluarga tertentu atau jika kurang 25% terdapat anggota keluarga yang mempunyai jabatan pada dewan direksi atau dewan komisaris perusahaan.

penelitian Luk dalam Suyatno (2010:179)

faktor penentu keberhasilan usaha

menemukan bahwa

keberhasilan usaha kecil ditandai oleh inovasi produk, perilaku mengambil resiko Menurut Murphy Faktor penentu

keberhasilan usaha

menemukan bahwa

keberhasilan usaha disumbangkan oleh kerja keras, dedikasi, dan komitmen terhadap pelayanan dan kualitas.

Tan et al. (2002) faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis keluarga adalah kinerja bisnis

mengemukakan bahwa semakin konsisten kinerja perusahaan untuk jangka waktu tertentu, maka semakin besar pula peluang keberlanjutannya.

(53)

Temuan disampaikan oleh Kausari (2014)

faktor yang dianggap penting terhadap keberlanjutan bisnis

Temuannya adalah dimana perusahaan yang selalu memantau kinerja akan memiliki posisi unggul dipasar dan mampu mewujudkan keberlanjutan yang baik.

Hasil identifikasi penelitian Luk

Penentu keberhasilan usaha

cerminan dari kemampuan usaha (pengetahuan, sikap, dan keterampilan), pengalaman yang relevan, motivasi kerja dan tingkat pendidikan seorang pengusaha.

Penelitian yang dilakukan oleh Parasuraman, A;

Berry, leonard L;

Zeithaml, Valarie A (1991) dengan metode kualitatif

Harapan pelanggan tentang layanan dikategorikan menjadi lima

Maka disimpulkan bila semakin besar harapan pelanggan terpenuhi maka semakin tinggi pula tingkat loyalitas pelanggan.

Menurut Zeithaml (1993) melakukan sebuah penelitian khusus dalam sector jasa

Faktor-faktor yang menentukan harapan pelanggan

Menemukan bahwa harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk oleh sepuluh factor antara lain

(54)

Enduring Service Intensifiers, personal need, transitory service intensifiers, perceived service alternativies, self perceived service roles, situtational factors, explicit service promises, implicit service promises, word of mouth (rekomendasi dari orang lain), past experience 2.3 Alur Penelitian

Bagan 2.1

Alur pembahasan telaah literatur

Bagaimana usaha Lurik Prasojo dalam keberlangsungan usaha mempertahankan eksistensinya

Lurik Prasojo

Keberhasilan Lurik Prasojo dalam mempertahankan eksistensi di tengah persaingan usaha sejenis di masyarakat

Faktor Keberhasilan menjalankan usaha pada Lurik Prasojo

Mengungkap Faktor Keberhasilan Usaha pada Lurik Prasojo

Gambar

Gambar 1.2  Pengunjung lurik Prasojo
Tabel 2.1  Keterlibatan  anggota  keluarga
Gambar 3.1  Lokasi Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA (INTERVIEW) ANALISIS FAKTOR- FAKTOR KEBERHASILAN DALAM MENJALANKAN USAHA KELUARGA (STUDI KASUS PADA RUMAH MAKAN SOP SUMSUM LANGSA JALAN KL. YOS SUDARSO

Organisasi struktur rincian kerja atau work breakdown structure bisa menjadi alternatif pilihan apabila tugas dan tanggung jawab personal dalam struktur organisasi yang

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa lokasi usaha juga berpengaruh terhadap keberhasilan usaha rendang di Kota Payakumbuh. Hal ini merupakan faktor yang dapat

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor business plan , faktor peran yang jelas antara anggota keluarga, faktor kerja sama dan komitmen berperan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN USAHA KECIL KELUARGA (Studi Kasus Pada Rumah Makan Ayam Penyet Jakarta)..

Berdasarkan kondisi di atas, penilaian resiko kredit yang lebih besar pada usaha mikro menjadi salah satu faktor yang membuat usaha-usaha mikro tidak dapat untuk mengakses

Membeli usaha yang sudah berjalan, risiko gagal akan lebih kecil daripada.. memulai usaha

Penerapan sistem informasi dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh fitur organisasi itu sendiri, yaitu struktur organisasi, proses bisnis, politik organisasi, budaya