• Tidak ada hasil yang ditemukan

The effect of mastication on memory loss Pengaruh mastikasi terhadap penurunan daya ingat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "The effect of mastication on memory loss Pengaruh mastikasi terhadap penurunan daya ingat"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

The effect of mastication on memory loss

Pengaruh mastikasi terhadap penurunan daya ingat

1Irsal Wahyudi Sam, 2Bahruddin Thalib

1Residen Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia

2Bagian Prostodonsia

Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

Corresponding author: Irsal Wahyudi Sam, e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Mastication has a long-term effect on the central nervous system and helps prevent degradation of brain function.Mastication isacomplicatedmovementthatresultsfromagroupofnervesinthebrainstemandnervetissue thatinvolves severalregions in the brain.Recent research suggests that there is a relationship between mastication, age, and decreased cognitive function in humans.Reducedmasticatoryactivity,ariskfactorfordevelopingmemorylossinhumans,weakensspatialmemoryand causes neurons in the hippocampus to deteriorate morphologically and functionally. This often occurs in people with advanced age, where usuallyat an advancedage there will be changes in the oral cavity,such as tooth loss which can reducethe functionof mastication in elderly people, causing them to experience decreased brain function. The purpose of this literary review is to evaluate the effect of mastication on alzheimer's.

Key words: alzheimer, mastications, brain function, tooth loss

ABSTRAK

Mastikasimemilikiefekjangkapanjang terhadap sistem saraf pusat danmembantumencegahdegradasifungsiotak.Mastikasi merupakan gerakan rumit yang dihasilkan dari sekumpulan saraf di batang otak dan jaringan saraf yang melibatkan beberapa areadiotak.Penelitian baru-baruini menyebutkan bahwa terdapathubungan antara mastikasi,usia,danpenurunanfungsi kog- nitifpadamanusia.Berkurangnyaaktivitaspengunyahan,merupakansuatufaktorrisiko berkembangnya penurunandayaingat pada manusia, melemahkan ingatan spasial dan menyebabkanmorfologidanfungsineuron padahipokampusmemburuk.Hal ini sering terjadipadaindividuberusialanjut,karenabiasanyaakanterjadiperubahan-perubahandalamronggamulut,misalnya toothlossyangdapat mengurangi fungsi mastikasi sehingga menyebabkan mereka mengalami penurunan fungsi otak. Kajian pustaka ini dimaksudkan untuk mengevaluasi pengaruh mastikasi terhadap penderita alzheimer

Kata kunci: alzheimer, mastikasi, fungsi otak, tooth loss

Received: 1 November 2020 Accepted:1 January 2020 Published: 1 April 2021

PENDAHULUAN

Mastikasimemilikiefekjangkapanjangterhadap sistem sarafpusat(SSP)danmembantumencegahde-

gradasifungsiotak.Selainitu,beberapastudiepidemi- ologi melaporkan bahwa kehilangan gigi merupakan salahsatufaktorrisikoyangsignifikanuntukdemensia ataualzheimer,danbahwakehilangangigilebihriskan padamanulayangmengalamidemensia.Eksperimen padahewancobaberhasilmengidentifikasikehilangan gigi sebagai gangguan pembelajaran spasial dan me- mori karena jumlah sel-sel piramida di alam hippo- campusdangyrusdentatusberkurangpascakehilangan gigi.Jadi,beberapabuktimenunjukkanbahwadisfung-

simastikasikronisdapat mempengaruhi neurobiologi otak.Dilaporkanbahwamastikasimerupakansalahsa-

tucarauntukmemperbaikifungsikongnitifdenganme-

ningkatkan aktivitas korteks serebral dan meningkat- kan aliran darah kortikal.1

PenyakitAlzheimeryangprogresifdandegenera-

tif menyerang SSP dan menyebabkan gangguan kog- nitif,seperti kehilangan ingatan,gangguankomunika- si, kehilangan orientasi waktu dan tempat, dan tidak dapatmelakukanpembelajaranbaru.Dilaporkanbah-

wa mastikasi merupakan salah satu cara untuk mem- perbaikifungsikongnitifdenganmeningkatkanaktivi-

taskorteksserebraldanmeningkatkanalirandarahkor-

tikal.1

Kerusakanotakyang disebabkan oleh alzheimer jugaberpotensimengurangisensasibaudanpengecap-

an,memengaruhialiransaliva,nafsumakan,dan fung- simotorik,sehinggamengganggumastikasi.Gangguan fungsimastikasijugadapatmembatasipolamakandan kehidupan sosial,yang berpengaruh negatifpada kua- litas hidup terkait-kesehatan mulut.1

Prevalensipenyakitalzheimercukuptinggidine-

garaAsiaPasifik,termasukIndonesia.Padatahun2005 penderitaAlzheimerdi kawasan Asia Pasifik berjum- lah13,7jutaorang;diIndonesia606.100orang.Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan usia harapan hidup.2

Kajian pustaka ini dimaksudkan untuk mengeva- luasipengaruhmastikasiterhadap penderita alzheimer.

TINJAUAN PUSTAKA

Mastikasimerupakanprosespenghancuranmakan-

andanpersiapanuntukprosespenelanan.Mastikasiju-

(2)

gamerupakantahapawaldaripencernaan;makanandi-

hancurkanmenjadipartikel-partikelkecilsehinggame-

mudahkan penelanan. Gerakan mengunyah meliputi kegiatan kegiatanototdansarafyangsangatkompleks danterkoordinasi,yangselainmelibatkangerakanman-

dibulajuga melibatkan geligi dengankekuatanmeng- gigit yang tepat.Gerakanmandibulapadapengunyah- an merupakan kontraksi serangkaian otot yang mele- kat pada mandibula, dan sifatnya terkoordinasi. Otot- ototwajah,lidahdanbibirjugaberperanpentingdalam mempertahankan bolus makanandiantarageligi.3

Prosesmastikasimerupakanprosesgabungange-

rak antar dua rahang yang terpisah, termasuk proses biofisikdanbiokimiadaripenggunaanbibir,gigi, pipi, lidah,palatum,serta seluruh struktur pembentukoral, untukmengunyahmakanandengantujuanmenyiapkan makananagardapatditelan.Lidahberfungsimencegah tergelincirnya makanan,mendorong makananke per- mukaan kunyah,membantumencampurmakanan de- ngan saliva,memilih makanan yang halus untuk dite- lan,membersihkansisamakanan,membantuprosesbi-

cara dan menelan.Pada waktu mengunyah kecepatan sekresisaliva1,0-1,5L/hari,pH6-7,4.Saliva berfungsi mencerna polisakarida,melumatkan makanan,mene- tralkan asamdarimakanan,melarutkan makanan,me- lembabkan mulut dan antibakteri.3

Padaprosesmastikasiterjadibeberapastadiuman-

taralainstadiumvolunter,yaitumakanandiletakkandi ataslidahkemudiandidorongkeatasdanbelakangpada palatumlalumasukkepharynx,yangdipengaruhioleh kemauan.Selanjutnya pada stadiumpharyngealbolus padamulut masuk ke pharynx danmerangsangresep- tor sehingga timbul refleks-refleks, antara lain terjadi gelombang peristaltik dari otot-otot konstriktor pha- rynxsehingga napas berhenti sejenak.Proses ini seki- tar1-2detikdantidakdipengaruhiolehkemauan. Pada stadiumesophangealterjadigelombangperistaltikpri-

meryangmerupakanlanjutandarigelombangperistal- tik pharynx dan gelombang peristaltik sekunder yang berasaldaridindingesophagussendiri.Prosesiniseki- tar 5-10 detik dan tidak dipengaruhi oleh kemauan.

Setelahmelaluiprosesinimakanansiapuntukditelan.3

Al-zheimer

Alzheimeradalahsuatupenyakitneurodegeneratif yang ditandai oleh penurunan memori dan kognitif, gangguandalammelakukanaktivitassehari-hari,serta gangguanperilaku dan neuropsikiatri.Keadaanini di- tandaidenganmenurunnyafungsiintelektualdanemosi secaraprogresifdanperlahansehinggamengangguke-

giatan sosial sehari-hari.2

Penyakit alzheimer merupakan kelainan demen- sia yang paling banyak terjadi di berbagai negara.Ba- nyak penelitianmenunjukkanlajuinsidenpenyakitini

meningkat seiring denganbertambahnya usia dengan persentase 20-40% yang berusia 85 tahun atau lebih.2 Alzheimer menyebabkan angka kecacatan yang cukup tinggi, karena seiring dengan berkembangnya penyakit,pasienalzheimerakanmengalamidisabilitas berat; kemampuan pasien menjadi terbatas dan tidak mampumenguruskebutuhandasarmereka atau untuk mengenali anggota keluarganya sehingga mereka sa- ngat bergantung pada orang lain.Penderita alzheimer sering mengalami disoriantasi sehingga mudah jatuh,

yang mengakibatkan fraktur tulang.2

Masalah penyakit alzheimer saat ini adalah tera- pinya.Terapialzheimerberupaobatpenghambatkoli- nesterase,esteogen,antioksidandananti-inflamasima-

sihmemilikiketerbatasandanmasihadaefeksamping-

nya. Saat ini memang obat penghambat kolinesterase masihmenjadi pilihanterapiuntukpasien,namunobat inimasihmemilikiketerbatasanberupahargayangcu- kup mahal dan toksisitas yang cukup banyak, seperti nausea, diare, muntah, insomnia, fatigue, keram, tok- sisitas hepar dan gejala gastrointestinal.2

PenyebabAlzheimeryangpastibelumdiketahui.

Beberapa penyebab alternatif yang telah dihipotesis adalah intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksivirus,polusiudara/industri,trauma,neurotrans-

miter, defisit formasi sel-sel filamen, presdiposisi he- rediter. Dasar kelainan patologinya terdiri atas dege- nerasi neuron,kematian daerah spesifik jaringan otak yangmengakibatkangangguanfungsikognitifdengan penurunan daya ingat secara progresif.4

Adanyadefisiensifaktorpertumbuhanatau asam aminodapatberperandalam kematianselektifneuron.

Kemungkinansel-seltersebut karenadegenerasiyang diakibatkan oleh peningkatan kalsium intrasel, kega- galan metabolisme energi,adanya formasiradikal be- bas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik.4

PenyakitAlzheimeradalahpenyakitturunan;te- tapibeberapapenelitiantelahmembuktikanperanfak- torgenetika,tetapibeberapapenelitiantelah membuk- tikan bahwa peran faktornon-genetikaataulingkung- an juga ikut terlibat, meski faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.4

Sejumlah patogenesis penyakit Alzheimer,yaitu faktorgenetik,faktorinfeksi,faktorlingkungan,faktor imunologis,faktortraumadanfaktorneurotransmitter.

Beberapapenelitimengungkapkan50%prevalensi kasusalzheimeriniditurunkanmelaluigen autosomal dominant.Individuketurunangarispertamapadakelu-

argapenderitaalzheimermemilikirisikomenderitade-

mensia6kalilebihbesardibandingkankelompokkon- trolnormal.PemeriksaangenetikaDNApadapenderita alzheimerdenganfamilialearly onset terdapat kelain- anlokuspadakromosom21diregioproximallog arm,

(3)

sedangkan padafamilial late onsetdidapatkan kelain- anlokuspada kromosom 19. Begitu pula pada pende- ritadown syndromememilikikelainangen kromosom 21,setelahberusia40tahun terdapat neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan penurunan marker kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambar- kan kelainan histopatologi pada penderita alzheimer.

Penyakitalzheimerterhadap anak kembar menunjuk- kan 40-50% adalah monozygote dan 50% adalah di- zygote.Keadaaninimendukungbahwa faktor genetik berperandalampenyakitalzheimer.Padasporadicnon familial(50-70%),beberapapenderitanya mengalami kelainan lokus kromosom 6. Keadaan ini menunjuk- kanbahwakemungkinanfaktor lingkungan menentu- kan ekspresi genetika pada alzheimer.4

Adahipotesis menunjukkan penyebabinfeksi vi- ruspadakeluargapenderitaalzheimer yangdilakukan secaraanalisisimmunoblot,ternyataditemukan anti- bodireaktif.Infeksivirustersebutmenyebabkaninfek-

si pada SSP yang bersifat lambat, kronik dan remisi.4 Beberapa penyakit infeksi, seperti Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru,diduga berhubungandengan penya- kit Alzheimer. Hipotesis tersebut memiliki beberapa persamaan, antara lain manifestasi klinik yang sama, tidak adanya respon imun yang spesifik, adanya plak amyloid pada SSP, timbulnya gejala mioklonus, dan gambaran spongioform.4

Ekmann, mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan dalam patogenesis penyakit Al- zheimer.Faktorlingkungan,antaralainaluminium,si-

likon,merkuri,zinc.Aluminiummerupakan neurotok- sik potensial pada SSP yang ditemukan NFT dan se- nileplaque(SPINALIS);belumjelassecarapasti,apa- kahkeberadaanaluminumadalahpenyebabdegenerasi neurosalprimeratausesuatuhal yang tumpang tindih.

Pada penderita alzheimer, juga ditemukan ketidakse- imbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesisyangbelumjelas.Adadugaanbahwaasam aminoglutamatakanmenyebabkandepolarisasimela-

luireseptorN-methyD-aspartatsehinggakalsiumakan masuk ke intrasel (cairan-influks) dan menyebabkan kerusakanmetabolismaenergisel,mengakibatkan ke- rusakan dan kematian neuron.4

BehandanFelmanmelaporkan60%penderitaal- zheimer meiliki kelainan serum protein seperti penu- runan albumin dan peningkatan alpha protein, anti- trypsinalphamarcoglobulidanhaptoglobuli.Heyman,

melaporkan bahwa terdapat hubungan bermakna dan meningkat dari penderita alzheimerdengan penderita tiroid.TiroidHashimotomerupakanpenyakitinflama-

si kronik yang sering terjadipadawanitamuda karena peranan faktor immunitas.4

Beberapapenelitianmenunjukkanada hubungan penyakit alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini di-

hubungkan dengan petinju yang menderita demensia pugilistik; pada otopsinya ditemukan banyak NFT.4

Perubahanneurotransmiterpadajaringanotakpen-

deritaalzheimermemilikiperananyangsangatpenting seperti1)Asetilkolin;suatupenelitianterhadapaktivi- tas spesifik neurotransmiter dengan cara biopsi stero- taktik dan otopsi jaringan otak pada penderita alzhei- mer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil trans- ferase,asetikolinesterase dan transport kolin serta pe- nurunan biosintesis asetilkolin. Adanya defisit presi- naptikdanpostsinaptikkolinergik ini bersifat simetris padakorteksfrontalis,temporalissuperior,nukleusba-

salis,hipokampus.Kelainanneurotransmiterasetilko- linemerupakankelainanyangselaluadadibandingkan jenisneurotransmiterlainnyapadapenyakitalzheimer,

danpadajaringanotakbiopsinya selaludidapatkanke-

hilangan cholinergic marker. Pemberian scopolamin padaorangnormalakan menyebabkanberkurangatau hilangnyadayaingat.Halinisangatmendukunghipote-

siskolinergiksebagaipatogenesispenyakitalzheimer.4 2) Noradrenalin;kadarmetabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada jaringanotakpen- deritaalzheimer.Hilangnyaneuronbagiandorsallokus seruleus yang merupakan tempat utama noradrenalin padakorteksserebri,berkorelasidengandefisitkortikal noradrenergik. Dilaporkan hasil biopsi dan otopsi ja- ringanotakpenderitaalzheimer menunjukkan adanya defisitnoradrenalinpadapresinaptikneokorteks.Sela-

initujugadilaporkankadarnoradrenalin menurun baik padapostdanantemortempenderitaalzheimer.43)Do-

pamin;dilakukanpengukuranterhadapaktivitasneuro-

transmiterregiohipotalamus,yaitutidakadagangguan perubahanaktivitasdopaminpadapenderitaalzheimer.

Hasilinimasihkontroversi,mungkinkarena potongan histopatologiregio hipotalamus setiap penelitian ber- beda-beda.44)Serotonin;didapatkanpenurunankadar serotonindanhasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acid pada biopsi korteks serebri penderita alzheimer.

Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari meynert.Penurunanserotoninpadasubregiohipotala- mus sangat bervariasi, pengurangan maksimal pada anteriorhipotalamussedangkanpadaposteriorpraven-

trikuler hipotalamus berkurang sangatminimal.Peru- bahan kortikal serotonergik ini berhubungan dengan hilangnya neuron-neuron dan diisi oleh formasi NFT pada nukleus rephe dorsalis.45)Monoamineoksidase (MAO);enzimmitokondria MAOakanmengoksidasi transmitermonoamine.AktivitasnormalMAOterbagi 2kelompokyaituMAO A untuk deaminasi serotonin, norepineprin dan sebagian kecil dopamin, sedangkan MAOBuntukdeaminasiterutamadopamin.Padaal- zheimer,meningkatMAO A di hipotalamus dan fron- talis sedangkan MAO B meningkat pada daerah tem- poraldanmenurunpadanukleusbasalisdari meynert.4

(4)

PEMBAHASAN

Pengaruh mastikasi terhadap fungsi otak

Mastikasimerupakansuatuprosespenghancuran makanandanpersiapanuntukprosespenelanan.3 Mas-

tikasijuga merupakan tahap awal pencernaanmakan- andihancurkanmenjadipartikel-partikelkecilsehing- gamemudahkanpenelanan.Mastikasi merupakan ge- rakan rumit yang dihasilkan dari sekumpulan saraf di batangotak dan jaringan saraf yang melibatkan bebe- rapa daerah di otak.5

Beberapapenelitianmenyebutkanbahwaadahu- bungan antara mastikasi, usia, dan penurunan fungsi kognitifpadamanusia.Penelitianpadahewan dan ma- nusiatelahmenunjukkanbahwamastikasidapatmem-

pertahankan fungsikognitifdihipokampus,yaitu area otak yang penting pada proses belajar dan daya ingat.

Berkurangnyaaktivitasmastikasi, merupakansebuah faktor risikoberkembangnyademensiapadamanusia, melemahkaningatanspasialdanmenyebabkanneuron pada hipokampus memburuk secara morfologis dan fungsi.5,6

Mastikasi yang aktif dapat lebih meningkatkan aktivitashipokampusdankorteksprefrontal,yang me-

rupakan daerah yang paling penting dalam proses pe- ngolahan kognitif. Studi terbaru yang menggunakan functional magnetic resonance imaging (FMRI) dan positronemissiontopography(PET)mengungkapkan bahwamastikasidapatmeningkatkanalirandarahkor-

tikal,talamus,dan serebelum.Melakukanproses mas- tikasi sebelum mengerjakan tugas kognitif dapat me- ningkatkanoksigendarahdidaerah prefrontal korteks danhipokampus.6,7Penelitianinimenunjukkanbahwa mastikasi merupakan terapi sederhana untuk mence- gah demensia yangseringdikaitkandengangangguan kognitif atau memorisepertigangguaningatanspasial danamnesia.Kenyataanbahwastimulasipengunyahan dapatmempertahankanfungsikognitifjugadijelaskan melaluistudiepidemiologi;bahwameningkatnyajum-

lahkehilangan gigidanmenurunnyakekuatangigitter-

kait dengan berkembangnya demensia.8

OnozukadanFujitamengatakanbahwakehilang-

angigidapatmenyebabkanpenurunankognitif.Halini disebabkanpasienyangkehilangan gigi proses masti- kasinya semakin berkurang sehingga berkurang sen- sorik pengunyahan yang diinduksikan ke otak. Kehi- langan gigi terkait gangguan kognitif yang terkait de- nganjalurnutrisiyaitukurangnyamastikasi,membuat kurangnyaasupangizisertamenyebabkanpenurunan piramidaseldan asetilkolin pada hipokampus.9

PadapenelitianyangdilakukanBergdahldkk,di- ketahuibahwaadabeberapafaktorsepertineurobiolo- gi,psikologi,danfaktorsosial yang dapat mempenga- ruhi fungsi kognitif;disimpulkanbahwaedentulusda-

pat memperburuk skor tes fungsi kognitif. 10

Kehilangangigi banyak dialami oleh manula se- iringdengan bertambahnya usia sehingga menyebab- kan gangguan mastikasi. Manula cenderung memilih makanan yanglunakatau mudah untukdikunyah. Hal iniakanberdampakpadaberkurangnyapemenuhannu-

trisi.11 Kehilangan gigi dilaporkan pula berhubungan denganpenyakitAlzheimerdandemensia.Penyakitde-

mensia umumnya erat karena faktor penuaan dan be- lum banyak penelitian yang mengaitkan dengan jum- lahgigiyang tersisa.PenelitianolehOkamotoet al pa- da manula melaporkan bahwa terdapat hubungan an- tara kehilangan gigi dengan fungsi kognitif.12

Fungsi dan status kesehatan rongga mulut serta fungsikognisinyaberhubunganeratdengankesehatan fisik, mental dan sosial. Kesehatan fisik dan mental berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Begitu puladenganpenurunan fungsi kognisi yang berkaitan dengankemampuanlearningdanmemory(belajardan mengingat) akan memengaruhi interaksi sosial yang padaakhirnyaakanberdampakpadakualitashidupma-

nula. Melalui penelitian yang dilakukan pada hewan coba, aktivitas mengunyah makanan padat atau keras danmakananlunak atau bubur berdampak pada peru- bahanstrukturjaringanhipokampus di otak. Kepadat- anneuronatauperubahanstruktur jaringan pada hipo- kampushewancobamencerminkanadanyaperubahan waktutempuhtikusataumencitdenganmenggunakan uji renang morris water maze (MWM).Perubahan ini mewakiliperubahandalamkapasitasmemori.Manula erathubungannyadenganpenurunansemuafungsi or- gan.Penurunan ini dapat terjadi secara fisiologik nor- malataupunpatologikkarenakelainanyangterjadipa-

da organ, termasuk penurunan fungsiotak.13,14 Kurangnya stimulasi pengunyahan dapat meng- gangguproses pembelajaran dan ingatan di hipokam- pussertadapatmenyebabkandemensia.Kehilangangi-

gi,misalnyamolar,akibat ekstraksi atau pengurangan mahkota,serta soft-diet jangka panjang dapat menye- babkanberkurangnya kemampuan belajar dan meng- ingat.Toothlossmenggangguproses mengunyah,me-

nelan, berbicara, defisiensi nutrisi, dan depresi. Pada kasuspenyakitperiodontalyangberat,molekulinflama-

si dapat menyebabkan inflamasi sistemik dan dapat menjadiakseskeotakmelaluisirkulasisistemik.Mole-

kul inflamasi dapat berasal dari jaringan periodontal yangdapatmenstimulasiserabutn.trigeminus dan da- pat menyebabkan meningkatnya sejumlah sitokin di otak. Sitokin ini dapat mengaktifkan sel-sel glia yang menyebabkan suatu reaksi dan mungkin berlanjut padapenyakitAlzheimer.Sitokindapatmemproduksi proteinbetaamyloidyangditemukanpadaplaksenilis.

Interleukin-1(IL 1) dan sitokin–sitokin lain yang ber- hubungan dengan penyakit periodontal berhubungan dengan patogenesis terjadinya Alzheimer.6

(5)

Grabedkkmelakukanpenelitianterhadapsubjek yang berusia 60-79tahundiJermanuntukmengetahui bahwatooth lossyangdisebabkanolehpenyakitperio-

dontitiskronikberhubungandenganperburukanfungsi kognitif,digunakanMMSEuntukmengetahuihubung-

an tersebut dan disimpulkan bahwa kehilangan gigi berhubungan penurunan fungsi kognitif pada wanita tetapi tidak pada pria.15

Penelitian pada subjek laki-laki usia lanjut, tooth loss danpenyakitperiodontalyangberlangsungsecarapro-

gresifselamadewasadapatmeramalkanhasiltesfung-

si kognitif. Terbentuknya karies akan meningkatkan risiko buruknya hasil tes. Pada penelitian ini jumlah tooth loss per dekade dapat mengindikasikan 9-12%

menurunnya hasil tes fungsi kognitif. Diperkirakan, jika 12 gigi yang hilang per dekade maka akan mele- mahkanfungsikognitifmendekati100%.Disimpulkan risikopenurunanfungsikognitifpadalaki-lakiusialan-

jut akan meningkatsesuaidenganjumlahgigiyanghi- lang; terjadi gangguan pda proses mastikasinya.15

Berdasarkan penelitian Jianfeng dkk di Sanghai pasien yang mengalami kehilangan gigi lebih dari 16 gigi, ditemukan telah positif demensia. Hal ini dise- babkanolehbakteri-bakterigramnegatifpenyebabin- flamasidi dalam rongga mulut menyebar ke otak me- lalui n.trigeminalis sehingga asupan gizi rendah yang dapatmenyebabkangangguankognitif.MenurutOko-

moto dkk dan Waijenberg berdasarkan hasil peneliti- annyamengatakanbahwapasienyangkehilangan gigi akan lebih rentan mengalami gangguan kognitif.12,15

Beberapa sitokin yang mempengaruhi fungsi otakialahacethylcholin(ACh),tirosinkinaseB (trkB) dan brain derived neutropic factor (BDNF),dan glial fibrous acidic protein (GFAP).

Peranan ACh

Dalam SSP,AChmemilikiberbagaiefeksebagai neuromodulatorpadaplastisitasdanarousal.AChber-

peranpentinguntukpeningkatanpersepsisensoriksaat bangun dan sadar. Kerusakan pada sistem kolinergik diotaktelah terbukti dikaitkan dengan defisit memori danberhubungandenganpenyakitAlzheimer.AChter-

libat dengan plastisitas sinaptik,khususnyadalam be- lajar dan memori jangka pendek, dan diketahui baik untukmeningkatkanamplitudopotensisinaptikberikut potensiasijangkapanjang di banyak daerah,termasuk girus dentatus, CA1 (Cornu Ammonis 1), korteks dan neokorteks. Efek ini paling mungkin terjadi baik me- lalui peningkatan arus reseptor N-methylD-aspartate (NMDA) atau tidak langsung dengan menekan adap- tasi yang ditunjukkan dalam irisan otak daerah CA1, cingulatekorteks,dan piriform korteks, serta somato- sensoridankorteksmotorikdengan menurunkan kon- duktansi ion Ca2+, dan K+. Pada hewan coba, terbukti

bahwatoothlossberhubungandenganbelajar dan me- mori yang mekanisme dari sistem kolinergik sentral.6

Peranan TrkB dan BDNF

ReseptorTrkBjugadikenalsebagaitirosinkinase TrkBatauBDNF/NT-3atauneurotropiktirosinkinase reseptortipe2adalahproteinyangpada manusia diko- dekanolehgen NTRK2. Fungsi TrkB adalah reseptor yangmemilikiafinitas tinggi untuk beberapakatalitik neurotrophinsdanmerupakanfaktorpertumbuhanpro-

teinyangmenyebabkankelangsunganhidup dan dife- rensiasi pada sel. Neurotrophin yang mengaktifkan TrkBadalahBDNF,neurotrophin-4 (NT-4), dan neu- rotrophin-3(NT-3).DengandemikianTrkBmemedia-

si beberapa efek dari faktor-faktor neurotropik, yang mencakupdiferensiasi neuronal dankelangsunganhi-

dup.Brainderivedneurotropic factor(BDNF),seperti neurotrophins lainnya, adalah faktor polypeptidic yang dianggap bertanggung jawab untuk neuron proliferasi, diferensiasi dan kelangsungan hidup, melalui transportasi retrograde dari terminal saraf ke sel tubuh. Brain derived neurotropic factor (BDNF) diproduksi oleh neuron, terutama di hipokampus dan korteks dan dapat diangkut ke dendrit dan juga dapat disintesis secara lokal di tulang belakang. Selain ber- perandalamkelangsunganhidupneurondanketahanan terhadapcedera,BDNFjugamemilikiperanyang kuat dalammemfasilitasikegiatan plastisitas,yangmenda- sari kapasitas untuk belajar dan memori. Daerah otak tempatplastisitassangatpentingadalahdihipokampus dan korteks, yang merupakan pusat untuk belajar dan memori.PenguranganBDNFterlihatpadahipokampus pada dua mekanisme;melemahkan kekuatan sinaptik dan membuat hipokampus neuron lebih rentan.6,8

Belumadadefinisiyangjelasmengenaihubungan transmisi sinaptik pada jalur signaling dari n.trigemi- nus melalui perantara reseptor padajaringan-jaringan yangberhubungan dengan mastikasi.Didugapening- katantrkBdanBDNFberhubungandenganpeningkat- ankapasitastransmisisaraf.Padapenelitianditemukan ekspresitrkB-mRNAefektifsebagaimarkeruntuk pe- ningkatan transmisi sinaptikpadajalursignalingyang berhubungandenganprosesbelajardanmemori.Gang-

guan memori pada tikus memiliki hubungan dengan penurunantrkBpadajalurn.trigeminalkehipokampus.6

Penurunanrespondihipokampusakanmenyebab-

kanpenurunanfrekuensi gerakan rahang yang menje- laskanmekanismebahwatoothlossmenurunkaninput sensoridansomatiksensorikorteks dari reseptor yang menghubungkankemastikasidanhubunganmastikasi kegerakanrahang.Hubunganantaraotot-ototmastika-

si, sendi temporomandibula dan ligamen periodontal dikenalmemilikiefekfasilitasipadatransmisisinaptik dikorteks serebri.Penelitian-penelitian terdahulu me-

(6)

nunjukkanbahwamengunyahdapatmeningkatkanalir-

an darah ke cortical region.(6)

Peranan GFAP

GFAP adalah filamen intermediat protein yang dianggap spesifik untuk astrosit dalam SSP. Ekspresi proteinGFAPdipengaruhiolehberbagaiproses,seperti perubahan sitokindanlevelhormon.Peningkataneks- presi protein ini terbukti pada sejumlah keadaan, dan umumnyadisebut"aktivasiastrocytic".Fungsiselular GFAP dinyatakan dalamsel astrosit padaSSP.Hal ini melibatkanbeberapafungsiselsepertistruktur, gerak- an dan komunikasi sel, dan fungsi sawar darah otak.6 ProteinGFAPtelahdiketahuimemilikiperanda- lam mitosis. Selama mitosis, ada peningkatan jumlah GFAP terfosforilasi, dan aktivitas protein ini menun- jukkan aktivitas pembelahan. Kurangnya filamen in- termediatdalam hipokampus dan di white matter me- nunjukkanproses degeneratif multipeltermasukmie- linasiyangabnormal,kerusakanstrukturwhite matter,

dan perubahan dalam sawar darah-otak. Data ini me- nunjukkan bahwa GFAPterlibat dalam pemeliharaan SSP dan integritas mielin. GFAP juga diketahui ber- perandalam interaksiastrosit-neuron.Adanyaganggu-

anyangdikaitkandengan regulasi GFAP dan luka da- pat menyebabkan sel glial bereaksi dengan cara yang merugikan. Glial jaringan parut adalah konsekuensi daribeberapakondisineurodegenerative,serta cedera

materi saraf yang berat. Bekas luka dibentuk oleh as- trositberinteraksidenganjaringanfibrosauntukmem- perbaikiselgliadisekitarpusatcederadansebagiandi- sebabkan oleh pengaruh GFAP.Bekas lukaitubertin-

daksebagaipenghalangfisikdankimia untuk pertum- buhan saraf,dan mencegah regenerasi saraf.Terdapat evaluasi mengenai mekanisme gangguan fungsi kog- nitif sebagai akibat dari menurunnya mastikasi, efek hilangnya gigi molar menunjukkan adanya ekspresi GFAPpada hipokampus. Pada analisis immunohisto- chemical menunjukkankeadaan hilangnyagigimolar meningkatkandensitasdan hipertrofi astrosit pada re- gio CA1 di hipokampus. Efek ini meningkat pada ke- adaan hilangnya gigi molar yang menetap.5,6

Disimpulkanbahwamastikasi efektif mengirim- kansejumlahbesarinformasisensorikkeotaksertada-

pat meningkatkan ingatan,sesuaifungsi hipokampus.

Penelitianpadahewandanmanusiamenunjukkanmas- tikasi dapat mempertahankan fungsi kognitif di hipo- kampus,yaituareaotakyangpentingdalamproses be- lajardandayaingat.Berkurangnyaaktivitasmastikasi,

merupakanfaktorrisiko berkembangnya demensia pa-

damanusia.Kondisitoothlossyangterkait denganpe- nuaandapatmelemahkanfungsihipokampus.Ketidak- harmonisanoklusijugadapat berpengaruh pada penu- runan fungsi otak. Oleh karena itu, mempertahankan oklusiyangnormaldanfungsimastikasi mungkin da- pat berkontribusi pada kesehatan umum.

DAFTAR PUSTAKA

1. Campos HC, Giselle RR, Renata GRMC. Mastication and oral health-related quality of life in removable denture wearers with alzheimer disease. J Prosthet Dent 2013

2. Wijaya S,Arifin M.Inovasipengembangan terapi yang efektif pada penderita alzheimer: analisispotensiCurcuminkunyit sebagai agen neuroprotektor, anti inflamasi dan antioksidan. Jurnal Ilmiah Kedokteran Indonesia 2013.

3. Soboļeva U, Lauriņa L, Slaidiņa A. The masticatory system-an overview. Stomatologija, Baltic Dent Maxillofac J 2005;

7: 77-80.

4. Iskandar J. Penyakit alzheimer. Bagian Bedah, Fakultas Kedokteran Univesitas Sumatra Utara 2002 5. Kiwako S, Nakata H. Effect of mastication on Human Brain Activity. Review Article. 2010

6. Ono Y,Yamamoto T,Kubo K.Occlusionandbrainfunction:mastication as a prevention of cognitive dysfunction.JOral Rehabil 2010.

7. Onozuka M, Fujita M, Watanabe K. Age-related changes in brain regional activity during chewing: a functional magnetic resonance imaging study. J Dent Res 2003

8. Miura H,Yamasaki K,Kariyasu M,Miura K, Sumi Y. Relationship between cognitive function and mastication in elderly females. J Oral Rehabil 2003

9. Riadiani B,Sari DR, Nina A, Farisza G. Tooth loss and perceived masticatory ability in post–menopausal women. J Dent Indonesia 2014

10. Brenda BW. Cognitive function and oral health among community-welling olders aduls. J Geriodontol 2008

11. Kim JM, Stewart R, Prince M, Kim SW, Yang SJ, Shin IS, Yoon JS. Dental health, nutritional status and recent-onset dementia in a Korean community population. Int J Geriatr Psychiatr 2007.

12. Okamoto N, Morikawa M, Okamoto K, Habu N, Iwamoto J, Tomioka K, et al. Relationship of tooth loss to mild memory impairment and cognitive impairment: findings from The Fujiwara-Kyo Study. Behavioral and Brain Function. 2010 13. Tsutsui K, Kaku M, Motokawa M, Tohma Y, Kawata T, Fujita T, et al. Influences of reduced masticatory sensory input

from soft-diet feeding upon spatial memory/learning ability in mice. Biomed Res 2007; 28(1): 1-7.

14. Yeh CK,Katz MS,Saunders MJ.Geriatric dentistry: integral component to geriatric patient care. Taiwan Geriatr Gerontol 2008; 3(3): 182-92.

(7)

15. Luo JF, Wui B, Zhqu Q.Association between tooth loss and cognitive function among 3063 Chinese older adults: a com- munity-based study. J Pone 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Menganalisa posisi target dalam bim, lobe mengkompensasi nilai-nilai target strength, menganalisa data orientasi dan data jejak echo pada lapisan teratas.. 12 Mesin Cetak Berwarna

Sehubungan dengan hal-hal tersebut, adanya kajian terhadap keragaan penyu- luhan dalam program gki, serta analisa terhadap partisipasi masyarakat pada umum- nya,

Penilaian sebaiknya didasarkan pada sejumlah hasil produk yang relevan dengan kompetensi yang diukur, selain itu penilaian juga sebaiknya didasarkan pada seluruh aspek kompetensi

 Terhentinya pembukaan (dilatasi)  Terhentinnya penurunan bagian terendah >3 jam >2 jam > 1 jam Tidak ada penurunan pada fase deselerasi atau kala II >1 jam

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMPULKAN HASIL PERCOBAAN GAYA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN SAVI (SOMATIC, AUDITORY, VISUALITATION, INTELLECTUALLY) (Penelitian

Manfaat hasil penelitian bagi penulis yaitu untuk menambah wawasan ilmu dan bertambah luasnya pengalaman serta dapat membandingkan teori yang didapat di bangku