• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRIDHARMA INDONESIA: PANDANGAN D.S. MARGA SINGGIH (KETUA PENGURUS PUSAT MAJELIS TRIDHARMA )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TRIDHARMA INDONESIA: PANDANGAN D.S. MARGA SINGGIH (KETUA PENGURUS PUSAT MAJELIS TRIDHARMA )"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

TRIDHARMA INDONESIA:

PANDANGAN D.S. MARGA SINGGIH

(KETUA PENGURUS PUSAT MAJELIS TRIDHARMA 1999-2014)

Skripsi

Diajukan Untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

Oleh:

Syamsul Bahri 109032100017

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1435 H./2014 M.

(2)
(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

Syamsul Bahri “TRIDHARMA INDONESI: PANDANGAN D.S. MARGA SINGGIH (KETUA PENGURUS PUSAT MAJELIS TRIDHARMA 1999-2014)” Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kurangnya pengertian tentang suatu agama membuat buram dan memiliki persepsi miring akan agama tersebut. Sama halnya dengan Tridharma yang akan buramnya pengertian masyarakat. Tridharma seringkali dikatakan sebagai suatu agama campuran antara Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Tridharma adalah agama yang penghayatannya menyatu dalam ajaran Buddha, Khong Hu Cu dan Lo Cu. Ketiga ajaran tersebut tidak dicampur adukkan hingga menghasilkan sesuatu yang baru akan tetapi masing-masing tetap bersumber pada kitab sucinya tersendiri begitu pula pada umat bahwa ajaran Tridharma sama sekali tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan saling mendukung dengan keselarasan, keserasian, serta keseimbangan. Tridharma adalah sebuah organisasi keagamaan yang lahir sebelum Republik Indonesia ada. Tridharma mula-mula bernama Sam Kaw Hwee yang berdiri pada tahun 1934 di Jakarta dengan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay ia sekaligus sebagai tokoh sentral dalam organisasi Tridharma. Gambaran Tridharma diambil dari bahasa Sangsekerta “tri” berarti “Tiga” dan “dharma” berarti “Kebenaran”. Secara harfiah bisa kita artikan sebagai “Tiga ajaran Kebenaran” yaitu Buddha, Khong Hu Cu an Tao. Umat Tridharma hampir 99% orang merupakan keturunan Tionghoa. Konsep penghayatan ini bukanlah suatu hal yang baru, bukan cuma ada di Indonesia tapi sudah ada jauh sebelum konsep keimanan Tridharma ini dibawa oleh para leluhur kaum Toinghoa, kaum Tionghoa perantau (Hoa Qiao) ke berbagai Negara lainya. Kwee Tek Hoay mengatakan bahwa ketiga agama itu akhirnya membawa orang pada keadaan kebahagiaan sempurna. Taoisme menunjukkan jalan kepada manusia untuk manunggal dengan sumber utama bernama Too (Tao atau Dao). Buddisme memberitakan bagaimana seseorang dapat manunggal dengan Wet (hukum) Kebenaran atau Dharma dan dengan demikian mencapai Nirwana. Konfusianisme menunjukkan bagaimana seseorang dapat hidup menurut watak asli dan dengan demikian mencapai Seng Djin (Manusia Sempurna). Kwee Tek Hoay akhirnya mengatakan bahwa walaupun metode yang berbeda akan tetapi tujuannya adalah sama.

D.S Marga Singgih sebagai sumber utama yang merupakan Cucu dari Anak pertama Bapak Triharma Indonesia Kwee Tek Hoay yaitu Kwee Yat Nio. Sebagai orang paling dekat dengan pencetus/pelopor Tridharma ini, sekaligus mengambil pendapatnya sebagai salah satu Ketua Pengurus Pusat Majelis Tridharma Indonesia yang mengabdi dalam 3 priode sampai saat ini (1999-2004, 2004-2009, 2009-2014).Tridharma mempunyai majelis tertinggi yaitu Majelis Tridharma Indonesia, Terdaftar pada : Direktorat Jendral Sosial Politik, Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, No. 61/D.1/V/2003 DEPDAGRI, Departemen Agama, Direktorat Jendral Bimas Buddha, No. 90/9/YAB/V/2003.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan sepercik cahaya dan secercah ilmu kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Shalawat dan salam penulis sanjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah mengubah peradaban dunia dari jahiliah kepada islamiah.

Kemudian dalam proses penulisan skripsi ini tentu banyak melibatkan banyak kalangan. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada Dekan Fakultas Ushuluddin Prof. Dr. Masri Mansoer, MA., Ketua Jurusan Perbandingan Agama Bapak Dr. Media Zainul Bahri, MA. dan Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama Ibu Dra. Halimah SM, M.Ag. Selain itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada bapak Saiful Azmi, MA., selaku pembimbing penulis yang sangat teliti dan sabar memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. Serta kepada para dosen Fakultas Ushuluddin yang memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) di Fakultas Ushuluddin Universitas Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian terima kasih juga kepada segenap akademia Fakultas Ushuluddin yang telah membantu kelancaran administrasi pada penulis. Selain itu terima kasih kepada pimpinan dan staf perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan perpustakaan Fakultas Ushuluddin yang telah menyediakan berbagai literatur berharga untuk penulisan skripsi ini.

Begitu pula terima kasih kepada bapak Mahyuddin dan keluarga yang telah penulis anggap seperti orang tua beserta bapak Agus Maulana. Berkat dukungan moril maupun materil dari bapak dan keluarga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Juga yang terhormat terima kasih kepada bapak Ahmad Baidawi yang telah memberikan banyak pelajaran berharga tidak dapat penulis bayar dengan apapun. Terimakasih kepada Yayasan Sukma

(7)

vii

Bangsa dan Metro TV beserta staf yang telah memberikan dukungan dan semangat tiada taranya kepada penulis sehingga penulis menyelesaikan skripsi ini.

Terimakasih serta penghormatan setinggi-tinggginya penulis ucapkan kepada keluarga besar bapak D.S Marga Singgih yang telah membantu dan memberikan dukungan serta kerjasama sepenuhnya atas penulisan skripsi ini yang penulis hanturkan beribu ribu terimakasih. Terima kasih pula kepada Tridharma Indonesia yang telah mengijinkan penulis untuk mengkaji lebih dalam tentang inti dari Tridharma di kalangan masyarakat Indonesia.

Kemudian ucapan terima kasih dan penghormatan kepada keluarga besar Bapak Prof.

Dr. Masri Mansoer dan keluarga serta bapak Nazri Adlani, ibu Aniarti dan ibu Mu’niati Aisah serta ibu Hadianti Adlani serta bapak Reza Pahlevi, yang telah memberikan dukungan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

Kemudian ucapan terima kasih dan penghormatan saya kepada ayahanda Tengku Selamat Aman Imen dan ibunda tercinta Tawiriah yang penuh keikhlasan dan kasih sayang

serta kesabaran yang tiada henti-hentinya memanjatkan do’a dan memberikan dorongan serta dukungan materil selama penulis menjalankan perkuliahan hingga selesai. Demikian pula kepada kakanda saya dan seluruh keponakan saya yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dalam waktu yang tepat.

Selanjutnya yang teristimewa kepada adinda tercinta Yuyun Wahyuni yang telah memberikan daya upaya, nasehat, masteril serta dukungan secara fokus kepada skripsi ini hingga selesai, banyak yang ingin penulis utarakan dalam lubuk hati yang terdalam kepada adinda yang tidak dapat terucap satu persatu. Terakhir paket istimewa yang akan terkenang dalam ingatan penulis dan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu

(8)

viii

saya dari PA Angkatan 2009, KKN GARUDA, organisasi IMAPA dan IMGL yang telah mendukung saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis

Syamsul Bahri

(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN ………... ii

LEMBAR PENGESAHAN ……….. iii

LEMBAR PERNYATAAN..………... iv

ABSTRAK ………. v

KATA PENGANTAR……… vi

DAFTAR ISI………... ix

BAB I PENDAHULUAN………...……… 1

A. Latar Belakang………. 1

B. Rumuan Masalah………... 4

C. Tujuan Penelitian………. 4

D. Metode Penelitian………. 4

E. Sistematika Pembahasan……….……….. 6

BAB II PENGERTIAN……… 7

A. Pengertian Tridharma……….………... 7

B. Pokok Ajaran Tridharma……….. 8

1. Buddha ……… 8

2. Kong Hu Cu ……….. 18

3. Tao ………. 21

C. Titik Temu Ajaran Tridharma ……….. 24

BAB III SEJARAH DAN TOKOH………...…... 29

A. Sejarah Tridharma Indonesia……….... 29

B. Tokoh Kwee Tek Hoay ……….…... 34

1. Sebagai sastrawan dan seniman……….. 36

2. Sebagai sosialis dan rohaniawan……….……… 40

(10)

x

BAB IV KONSEP DAN PENGAKUAN TRIDHARMA PANDANGAN D.S

MARGA SINGIH……… 47

A. D.S Marga Singgih………...………. …… 47

B. Tridharma Sebagai Organisasi………... 49

C. Tridharma Sebagai Agama………... 51

D. Undang-Undang Agama serta Pengakuan Tridharma di Indonesia……... 52

E. Umat Tridharma………..………... 56

BAB V PENUTUP………. 59

A. Kesimpulan ……… 59

B. Pandangan……….. 62

C. Saran……… 65

DAFTAR PUSTAKA ……….. 66 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Agama adalah prioritas hidup,1 sebab agama adalah kebutuhan. Seperti halnya air, udara, tanah, api, makanan yang makan, semua itu adalah kebutuhan pokok manusia.

Manusia tentu tidak akan bisa hidup bila air, tanah, api, udara, tidak ada apalagi tidak adanya makanan. Agamapun juga demikian, agama adalah kebutuhan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa agama, karena agama adalah ruhani mereka sendiri, agama adalah hati sanubari manusia sendiri.

Namun jika penulis bertanya pada kebanyakan orang akan hal agama2 , penulis yakin tidak banyak orang tahu. Kebanyakan orang mengartikan tentang arti prioritas hidup atau tentang hal apa yang paling penting untuk dicari dalam hidup, maka pasti mereka akan menjawab pada hal- hal materi , seperti uang, jabatan,wanita, atau apa yang menurut mereka adalah kesuksesan dalam dunia materi.

Jawaban ini bukan masalah benar atau salah , tapi yang terjadi sebenarnya adalah negasi terhadap kebutuhan manusia. Hal-hal yang sifatnya materi bukanlah merupakan kebutuhan ruhani kita. Ruhani kita membutuhkan hal-hal yang sifatnya immateri (bukan

1Agama harus menjawab semua pertanyaan tentang bagaimana kita seharusnya hidup dan nalar membuat jawaban itu taat asas (konsisten) dan terjalin rapi (koheren). Di sisi lain manusia sesungguhnya sangat membutuhkan ontologis yang kokoh yang dapat memberikan keamanan bagi perjalanan sejarahnya ini dapat dicapai dengan perjuangan pada agama, dalam pengertian dan cakupan yang yang universal dan sumber-sumber dari realitas yang mutlak.Karena itu bersumber dari realitas yang mutlak maka agama itu sendiri adalah problem of ultimate concern suatu problem mengenai kepentingan mutlak. Lihat Endang Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama.Surabaya: Bina Ilmu. 1987. Hal. 117 (M. Ridwan Lubis Agama dalam Perbincangan Sosiologi. (Bandung: Citapustaka. 2010), hal. 2-6)

2Secara mendasar dan umum agama dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib khususnya tuhan hubungan sesama manusia dan hubungan dengan lingkungan. Komponen pada intinya adalah perintah tuhan yang menuju kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup yang dilandasi oleh taat yaitu terbebas dari ketergantungan terhadap materi, hanya semata mata karena tuhan oleh karena itu agama tidak mengacu kepada penderita akan tetapi pada upaya membangun sikap optimis terhadap masa depan untuk pendekatkan diri kepada-Nya karena hanya dengan dekat dengan tuhan maka seseorang dapat merasakan makna yang sesungguhnya dari perjalanan hidupnya.

(12)

2

materi ) seperti kesabaran, nilai hidup, jiwa, makna, kebahagiaan, serta pemahaman atas kondisi ruhani itu sendiri.

Jadi beragama merupakan kebutuhan yang tak mungkin bisa kita ingkari, bahkan ini adalah kebutuhan prioritas utama kita. Kita tentu tidak akan bisa hidup bahagia dengan bergelimang harta, tahta dan wanita tanpa pemahaman atas kondisi jiwa kita. Sebaliknya , ketika jiwa kita stabil dan merasa bahagia maka apapun yang menjadi variable ( yang mempengaruhi ) kebahagiaan bahkan nyaris tidak kita butuhkan. Itu artinya kebutuhan materi adalah kebutuhan sekunder, namun yang menjadi kebutuhan primer kita adalah agama. Agama adalah kebutuhan kemanusiaan sepanjang zaman. Tanpa agama tidak ada lagi manusia dan tidak akan ada lagi kehidupan.

Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Disamping itu, Indonesia juga dikenal sebagai Negara kepulauan, karena memiliki ± 17.508 pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke.3 Indonesia adalah Negara yang majemuk maka terjadi kebhinekaan yang cukup beragam baik secara ras, suku bangsa dan agama.

Ada enam agama yang dibina di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu4. Maka banyak akulturasi di berbagai daerah yang menyingkirkan agama-agama lokal atau agama-agama minor. Sehingga terjadi diskriminasi dan ekspansi antar satu agama dengan agama lainnya.

3Lihat dalam Wanhamkamnas, “Konsep Benua Maritim Indonesia Untuk Mengaktualissassikan Wawasan Nusantara” Sekjen Wanhamkamnas dan BPPT, Lokakarya PMI 1996yang dikutip dari Dr RI.

Wahono MA dalam tulianya yang berjudul “ Integrasi Nasional Memantapkan Pembangunan Dunia Maritim Indonesia” Majalah Bina Widia Edisi XXVIII, Desember 1997 Hlm. 1 Bandingkan Dengan Terling Seagrave , Lord Of The Rim : The Invisible Empire Of The Overseas Chinnese (London: Corgi Books, 1996) Hlm. 189 Jumlah pulau yang disebutkan oleh Seagrave dalam bukunya ini jauh berbeda dengan apa yang disebutkan oleh Wanhamkamnas diatas. Menurut Seagrave jumlah keseluruhan adalah 13.667 pulau dan luasnya 780.000 mil persegi. 12.000 dari pulau-pulau tersebut tidak berpenghuni dn juga tidak dikontrol. (Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia (Jakarta: Pelita Kebajikan 2005), hal. XII)

4Seusai Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mendapatkan kembali pengakuan atas identitas mereka sejak UU No 1/Pn.Ps/1965 yang menyatakan bahwa agama-agama yang banyak pemeluknya di Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Penyebutan kata Kristen/Protestan dan Katolik ada dalam TAP PRES RI No. 7 Tahun 1966.

(13)

3

Di Indonesia persoalan yang masih dianggap rawan adalah masalah SARA ( Suku, Ras, Agama, dan Antargolongan). Namun masalah yang paling banyak menonjol baru-baru ini adalah masalah Agama.5

Kurangnya pengertian kita tentang suatu agama yang membuat kita buram akan agama itu sendiri dan bias memiliki persepsi yang berbeda atas agama tersebut. Dalam kata bijak dikatakan bahwa “Bila engkau berenang jangan hanya berenang di atas permukaan saja tetapi rasakanlah dasar yang lebih dalam hingga kau dapat merasakan makna berenang yang sesungguhnya”. Sama halnya dengan Tridharma yang akan buramnya pengertian masyarakat.

Tridharma seringkali dikatakan sebagai suatu agama campuran antara Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Tridharma adalah agama yang penghayatannya menyatu dalam ajaran Buddha, Khong Hu Cu dan Lo Cu.6

Ketiga ajaran tersebut tidak dicampur adukkan hingga menghasilkan sesuatu yang baru akan tetapi masing-masing tetap bersumber pada kitab sucinya tersendiri begitu pula pada umat bahwa ajaran Tridharma sama sekali tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan saling mendukung dengan keselarasan, keserasian, serta keseimbangan.

Maka dari itu penulis memunculkan beberapa pertanyaan yang menyangkut tentang pengertian serta pokok ajaran Tridharma, sejarah, tokoh, dan keselarasan Tridharma (Buddha, Khong Hu Cu dan Tao).

Maka dari pertanyaan di atas maka penulis mengambil satu tokoh untuk berusaha mengungkap semua pertanyaan-pertanyaan itu sehingga muncullah judul Skripsi

5Biasanya disebut dengan agama samawi itu adalah agama yang termasuk dalam rumpun agama Ibrahim. Sementara pada agama ardi maka pengertian pembawa agama itu lebih tepat disebut dengan pembuatan agama atau kelompok agama. Agama itu adalah dari tuhan akan tetapi karena terjadi keterputusan generasi pelanjut agama, maka penganjur yang datang kemudian hanya melihat bahwa ajaran itu adalah buatan dari orang yang dipandang suci atau primus interpares.

6Pengantar cetakan pertama buku D.S Marga Singgih, Tridharma Selayang Pandang, pada tahun 1987

(14)

4

“Tridharma Indonesia Pandangan D.S. Marga Singgih (Ketua Pengurus Pusat Majelis Tridharma 1999-2014)”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka dirumuskan permasalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengertian Tridharma secara bahasa, istilah serta pokok ajaran penyatuan Buddha, Khong Hu Cu dan Tao?

2. Bagaimana Sejarah dan perkembangan Tridharma pada saat ini?

3. Bagaimana peran Tokoh Kwee Tek Hoay (Bapak Tridharma Indonesia) dan pengaruhnya bagi masyarakat Tionghoa?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah yang ada di atas dan pertanyaan yang diajukan maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui lebih jelas pengertian Tridharma baik secara bahasa maupun istilah serta pokok ajaran penyatuan Buddha, Khong Hu Cu dan Tao.

2. Untuk mengetahui lebih jelas sejarah dan perkembangan Tridharma pada saat ini.

3. Untuk mengetahui lebih dalam peran Tokoh Kwee Tek Hoay (Bapak Tridharma Indonesia) dan pengaruhnya bagi masyarakat Tionghoa.

D. Metode Penelitian

Kita menyadari bahwa agama sangat penting, begitu juga dengan para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu yang telah berusaha melakukan penelitian study mereka terhadap agama. W. Richard Comstock7 dalam bukunya The Study Religion And Primitive Religions mengemukakan ada beberapa cara atau metode yang di gunakan untuk mengenal serta

7 Lihat Carmody and Carmody. Ways To The Central And Introduction Of Religion, Belmont.

California: Wadsworth Publishing Company. Second Edition. 1984. Hal. 8-10 ( M. Ridwan lubis. Agama dalam Perbincangan Sosiologi. (Bandung; Citapustaka 2010), hal. 7-11)

(15)

5

menjelaskan tentang agama menurut para ahli. Dalam hal ini penulis mengambil pendekatan Fenomenologis.

Metode Fenomenologis adalah metode yang menunjukkan apa yang nampak dalam kesadaran kita dengan membiarkannya termanifestasi apa adanya tanpa memasukkan kategori pikiran kita padanya atau menurut ungkapan Husserl: zuruck zu den sachen selbt (kembalilah kepada realitas itu sendiri).8

Pendekatan Fenomenologis adalah disiplin ilmu yang berkembang pada 1880-an.

Pengaruh besar dan penting dalam mendirikan fenomenologi agama suatu disiplin ilmu adalah karya dengan tokoh utamanya Geradus van der Leeuw (1890-1950), khususnya buku Religion In Essence And Manifestation (1938).

Melengkapi tokoh dalam metode fenomenologi ini selain Wach dan Leeuw tokoh lain yang dikenal adalah Rudolff Otto, W Brede Kristensen Freidrich Heiller , C Jouco Bleeker dan Mercia Eliade. Yang menarik di selidiki oleh study fenomenologis adalah pengalaman- pengalaman keberagamaan.

Dalam hal Tridharma ini penulis memilih kepada metode Fenomenologis sebagai metode yang lebih diunggulkan bagi penulis untuk menjawab semua rumusan masalah maka dari itu penulis menemui hingga berusaha membaca semua buku yang pernah ditulis oleh D.S Marga Singgih sebagi sumber pertama.

Kajian metodologi penelitian keagamaan masih memerlukan pemikiran serius untuk dapat eksis sebagai metodologi baku, utamannya dengan tawaran pendekatan kualitatif.

Penelitian kualitatif yang sudah dilakukan oleh para ahli dalam bidang keagamaan di antarannya: (1) Geertz (1960), dalam Religion of Java; (2) Dhofier (1982) tentang pandangan hidup Kyai; (3) Van Bruinesen (1983) tentang pendidikan pondok pesantren dan tarekat Naqsyabandiyah; (4) Horikoshi (1985) tentang perubahan sosial keagamaan.

8 M. Ridwan lubis. Agama dalam Perbincangan Sosiologi. hal. 8

(16)

6

Dari itu maka penulis menggunakan penelitian lebih kepada metode Kualitatif. Dengan instrument observasi dan pertanyaan langsung kepada sumber pertama serta buku yang ditulisnya langsung hingga mengetahui isi semua apa tujuan dan rumusan masalah yang penulis inginkan untuk bisa diteliti dan lebih lanjutnya sebagai ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk berguna bagi semua umat manusia.

E. Sistematika Pembahasan

Penulisan ini terdiri dari lima bab secara keseluruhan. Pada BAB I memaparkan Latar Belakang, Rumuan Masalah, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan. Pada BAB II memuat tentang pengertian Tridharma, Pokok Ajaran Tridharma serta titik temu Tridharma.

Pada pemaparan BAB III menjelaskan Sejarah Tridharma Indonesia, Tokoh Kwee Tek Hoay. Kemudian BAB IV membahas D.S Marga Singgih serta Pandanganya terhadap Tridharma meliputi Tridharma Sebagai Organisasi, Tridharma Sebagai Agama, serta Undang-undang Agama serta Pengakuan Tridharma di Indonesia dan Umat Tridharma. Pada BAB V merupakan kesimpulan, Saran dan Pandangan penulis.

(17)

7 BAB II

PENGERTIAN DAN POKOK AJARAN

A. Pengertian Tridharma

Tridharma berasal dari bahasa Sangsekerta, dari kata Tri dan Dharma. Tri berarti tiga , Dharma berarti ajaran kebenaran9. Secara istilah Tridharma berarti tiga ajaran kebenaran.

Yang dimaksud di sini adalah tiga ajaran kebenaran ialah ajaran Sakyamuni Buddha, ajaran nabi Khong Hu Cu dan ajaran nabi Lo Cu. Tridharma merupakan agama yang penghayatanya menyatu dalam ajaran Buddha, Khong Hu Cu dan Lo Cu.10 Secara historis sebutan awal adalah Sam Kauw yaitu tiga ajaran, Three Teaching, tiga Agama, Three Religions of China, yang merupakan satu dasar atau satu doktrin (Sam Kauw It Li).11

Tridharma adalah sebuah kepercayaan yang sebenanya tidak bisa digolongkan ke dalam agama apapun. Tridharma disebut Sam Kauw dalam dialek Hokkian, berarti harfiah tiga ajaran. Tiga ajaran yang dimaksud adalah Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme.

Dalam bukunya Kwee Tek Hoay dia menamakan agama Tridharma sebagai sebutan

“agama Tionghoa” tiga agama yang di aku sah pada jaman Tjhingtiauw sebagai agama negeri oleh pemerintah Tiongkok yaitu Khong Kauw (Konfusianisme), Hoed Kauw (Buddhisme), dan Tao Kauw (Taoisme).12

Sebetulnya kepercayaan orang Tionghoa kebanyakan adalah racikan atau gabungan dari tiga macam agama itu hingga tidak bisa terlepas dari Khong Hu Cu, Buddha atau Tao.

Dalam penjabaran Kwee Tek Hoay campur aduk ini bukanlah lantaran orang Tionghoa tidak fanatik terhadap agama, hanya karena pelajaran dari tiga agama terebut tidak

9 Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” cet: ketujuh,( Jakarta: Yayasan BAKTI 2011), hal.2

10 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, (Jakarta:

Yayasan Yasodhara Puteri 2004), hal. 17

11 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 17

12 Istilah ini ada dalam buku yang dilindungi oleh Auteurscrech menurut artikel 11 dari buku Wet. Stbl.

1912 No. 600. Lihat hasil cetakan petama buku Kwee Tek Hoay “Agama Tionghoa” (Tjitjoeroeg: Moestika . 1937), hal. 1

(18)

8

terlalu bertentangan satu sama lain.13 Pada ajaran agama Buddha dan Tao tidak melarang memuja abu leluhur, pemuka agama Khong Hu Cu pun tidak ada pantangan orang yang memuja machiok-majiok suci dalam klenteng-klenteng.

Konsep penghayatan ini bukanlah suatu hal yang baru, bukan cuma ada di Indonesia tapi sudah ada jauh sebelum konsep keimanan Tridharma ini dibawa oleh para leluhur kaum Toinghoa, kaum Tionghoa perantau (Hoa Qiao) ke berbagai Negara lainya14.

Dalam sebuah pandangan, Tridharma adalah agama Buddha Mahayana yang selain Buddha juga mempelajari Konfusianisme dan Taoime karena hanya Buddha Mahayana yang lebih mentolerir mempelajari ajaran Khong Hu Cu dan nabi Lo Cu15.

Buddha Dharma menurut alam pikiran India bercorak suatu pandangan hidup yang sewaktu-waktu tampak seperti manusia luhur. Sebaliknya Konfusianisme dapat disimpulan lebih mengutamakan akal , toleransi, dan manusiawi. Tao lebih jauh lagi bebasnya dengan meminjam kutipan dari Alan Watt dalam bukunya The Way Of End dikatakan sebagai berikut

“ let well enough alone “ atau “ biarkanlah menjadi dirinya sendiri”.

B. Pokok Ajaran Tridharma.

Dalam pokok ajaran Tridharma dalam hal ini hanya penulis cakup dalam hal ketuhanan dan kitab suci sebagai sumber utama ajaran agama.

1. Buddha a. Ketuhanan

Yang Maha Esa dalam bahasa pali dikatakan sebagai atthi ajatam abhutam akatam asamkhatam yang artinya suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak

13 Kwee Tek Hoay “Agama Tionghoa” hal. 1

14 Lihat Dalam Majalah HikmahTridharma edisi 06/XXXIV/November-Desember 2010 “Tridharma dalam Koridor Budaya dan Agama ditulis oleh Pdt. Ut Budiyono Tantrayoga dalam pengantanya. Hal. 6

15 Dalam majalah Hikmah Tridharma edisi 02/XXXVI/Juli-Agustus 2011 “Profil: Mengenal Lebih dekat M.P. Sasanputra Satyadharma” hal. 17

(19)

9

diciptakan dan yang mutlak.16 Yang Maha Esa di dalam agama Buddha adalah tampa aku atau anatman atau istilah lain anatta. Sesuatu yang tidak berpribadi, sesuatu yang tidak dapat dipersonalisasikan, dan suatu yang tidak dapat dipaparkan serta digambarkan dalam berbagai bentuk apapun.

Pemikiran secara theistik di dalam filsafat Buddhis lebih diperjelas Maha Pari Nirvana Sang Buddha Gautama, beberapa ratus tahun kemudian hal ini dapat kita lihat pada konsep Trikaya dan Sunyata.

Trikaya berarti tiga tubuh Buddha atau kebuddhaan yaitu pertama Dharmakaya yaitu kebetulan yang absolut, tubuh halus Buddha dan asal kebuddhaan. Secara filosofi berarti sunyata sesuatu yang absolut. Dharmakaya identik dengan nirwana yang dicapai setelah dimilikinya pengertian yang menembus terhadap Pratitya Samupada atau hukum sebab musabab yang saling bergantungan serta hukum relativitas Buddhis dan yang mengerti tentang Tathata berarti yang itu/what is as is it. Dharmakaya tidak terbentuk dan merupakan suatu kesatuan yang mutlak. Setelah mencapai Samyak Sambodhi maka Sang Buddha Gautama telah bersatu serta memiliki Darmakaya. Di dalamnya juga Sang Buddha Gautama telah merealisasikan kesamaan yang absolut atau Dharmakaya atau Sunyata dan persamaan kesatuan atau Samata dengan semua insan.

Kedua Sambhogakaya yaitu pengertian terhadap yang absolut, tubuh sinar, cahaya, dan kekuatan Buddha/kebuddhaan. Sambokaya kaya adalah suatu hasil realisasi terhadap kebenaran absolut atau Sunyata yang terwujud sebagai kekuatan atau cahaya usahakan atau diupayakan oleh bodhisatwa atau calon Buddha yang di dalam usahanya tersebut mencapai pembebasan dengan mengembangkan karunia atau belas kasih dan upaya usaha yang benar. Sambogakaya dikatakan pula sebagai tubuh berkah atau sinar.

16 D.S. Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” cet: ketujuh, ( Jakarta: Yayasan BAKTI 2011), hal. 5

(20)

10

Ketiga Nirmanakaya adalah manifestasi dari kebenaran yang absolut, tubuh perwujudan yang terbentuk dalam tubuh Sakyamuni Buddha dan Sang Buddha Gautama. Di dalam Nirmanakaya tertampak dalam tubuh Sakyamuni Buddha, menjadi tubuh perwujudan dari Buddha yang dapat dilihat oleh manusia pada tubuh Sang Buddha Gautama. kemudian dengan tubuh ini ia menggambarkan dan menerangkan Dharma serta menyelamatkan insan.

Sunyata adalah suatu yang absolut kebenaran, yang absolut adalah kebenaran yang terbebas dari keadaan yang mendua kebenaran adalah kebenaran yang terbaik dari keadaan kontradiktif dan paradoksial ini pemikiran.

b. Kitab suci

Sumber utama ajaran Buddha ialah kitab Tripitaka17 (tri=tiga, Pitaka=keranjang). Sesungguhnya kitab ini berisi kumpulan ceramah keterangan perumpamaan dan percakapan Buddha dengan muridnya dan pengikutnya.18 Jadi kitab ini bukan saja memuat perkataan sang Buddha akan tetapi juga pendapat daripada muridnya. Oleh para muridnya ajaran-ajaran keagamaan itu kemudian dipilah menjadi 3 kelompok utama yang disebut dengan „Vinaya Pitaka‟, Sutra Pitaka „, Abidharma Pitaka‟,yang masing-masing terbagi lagi dalam beberapa buah kitab.19

b.1. Kitab Vinaya Pitaka

Vinayana berarti Peraturan, Disiplin atau Tatatertib.20 Kata Vinaya sendiri berarti melenyapkan, manghapuskan, memusnahkan, menghilangkan dalam hal ini

17 Hilman Hadikusuma. Antropologi Agama (Bandung PT Citra Aditya Bakti 1993) hal.214

18 Herkulanus Entangai dkk. Pendidikan Agama Katolik( dewasa dalam komunikasi iman) (Jakarta Gramedia Widia Sarana Indonesia 2004) hal. 24

19 Hilman hadikusuma. Antropologi Agama. Hal 214

20 Bhikkhu Subalaratano. Pengantar Vinaya (Jakarta: Sekolah Tinggi Agama Budha Nalanda 1988) hal. 1

(21)

11

segala tingkahlaku yang halangi kemajuan dalam jalan pelaksanaan. Dharma : atau sesuatu yang membimbing keluar (dari Dukkha).

Dharma dan Vinaya ( gabungan kedua nya disebut dengan Budhasasana) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Dhamma tampa Vinayana akan merupakan ajaran yang tidak menunjukan awal atau permulaan untuk dilaksanakan.

Sebaliknya Vinayana tampa Dhamma akan merupakan formalisme kosong, suatu disiplin yang hanya menghasilkan sedikit buah atau kemajuan. Ada dua Jenis Vinayana. Pertama Vinaya tidak hanya diartikan sebagai peraturan yang berhubungan dengan kebikhuan saja memang Vinaya Pitaka berisikkan peraturan latihan, larangan, yang diperbolehkan dan ketentuan yang mengatur kehidupan Bhikkhu, namun dikenal juga Vinaya untuk umat beragama atau dikenal sebagai upasaka-upasika. Kedua Vinayana untuk umat berkeluarga adalah Pancasila21 dan pengertian lebih luas sigalovada sutta disebut pula “gihi vinaya “(vinaya untuk umat berkeluarga).

Terdapat perbedaan antara sila umat berkeluarga dengan bhikkhu. Sila untuk umat berkeluarga bersifat moral semata-mata dan digolongkan dengan patisila. Bagi para bhikkhu selain sila bersifat sila moral juga ada sila khusus untuk cara hidupnya dan sila ini digolongkan kedalam sila Pannati-sila. Para bhikkhu dan umat berkeluarga harus menaati Vinaya atau sila secara murni dan tidak terjatuh dalam pelanggaran.

Isi Kitab Vinayana a. PitakaSuttavibangga

21 Uraian dari Pancasila

a. Saya berjanji melatih diri untuk tidak menghilangkan nyawa makhluk kidup b. Saya berjanji melatih diri untuk tidak mengambil sesuatu yang tidak diberi c. Saya berjanji melatih diri untuk tidak berzina

d. Saya berjanji untuk tidak berbicara salah

e. Saja berjanji untuk tidak minum minuman yang disuling atau diragi yang menyebabkan menurunya kesadaran.

(22)

12

Kitab ini berisi peraturan-peraturan mencakup delapan jenis pelanggaran diantaranta ada empat hal pelanggaran yang menyebabkan bhikkhu dan bhikkhuni dikelurkan dari Sangha.22 Pelanggaran ini meliputi pelanggaran seks, pencurian, pembunuhan, dan pembujukan untuk bunuh diri, kesombongan palsu akan kemampuan ghaib diri sendiri. Aturan-aturan ini berjumlah 227.23 Seluruhnya sama dengan pati mokkha yang di bacakan pada pertemuan Uphosata dari Sangha.

Bagian ini dilanjutkan dengan Bhikkhuni-suttavibangga, suatu rangkaian aturan untuk para bhikhuni.

b. Khandaka-khandaka yang disusun dalam dua seri24

Kitab ini berisi berisi peraturan dan uraian tentang upacara panahbisan bhikkhu dan bhikkhuni antara lain penerimaan bhikkhu dan pelanggaranya.Pembagian seri tersebut adalah sebagai berikut:

a. Mahavangga

1. Aturan untuk memasuki Sangha

2. Pertemuan Uposatha dan pengucapan pattimokkha 3. Tempat tinggal selama musim hujan(vassa)

4. Upacara penutupan musim hujan(pavarana)

5. Aturan untuk menggunakan pakaian dan perabot hidup 6. Obat-obatan dan makanan

7. Upacara khathina, pembagian jubah tahunan

8. Bahan jubah, aturan tidur atau aturan bikhu yang sedang sakit 9. Cara menjalankan keputusan oleh Sangha.

10. Cara menyelesaikan perselisihan dalam Sangha b. Cullavangga25

1. Aturan aturan-aturan untuk menangani pelangaran-pelangaran yang dihadapkan pada Sangha (bagian I)

22 Hilman Hadikusuma. Antropologi Agama. hal 214

23 Bhikkhu Subalaratano. Pengantar Vinaya, hal. 3

24 Bhikkhu Subalaratano, Pengantar Vinaya, hal. 3

25 Bhikkhu Subalaratano . Pengantar Vinaya, hal. 4

(23)

13

2. Aturan aturan-aturan untuk menangani pelangaran-pelangaran yang dihadapkan pada Sangha (bagian II)

3. Penerimaan kembali seorang bhikkhu

4. Aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul.

5. Berbagai aturan untuk mandi, berpakaian, dan hal yang sama dengan hal tersebut

6. Tempat tinggal, perabot, penginapan 7. Perpecahan

8. Perlakuan terhadap berbagai golongan bhikkhu dan kewajiban terhadap guru samanera

9. Pengucilan dari patti mokkha

10. Pentahbisan dan petunjuk bagi para bhikkhuni 11. Sejarah Sidang Agung pertama di Rajagaha.

12. Sejarah Sidang Agung kedua di Vesali

c. Parivara

Kitab ini berisi ringkasan dan pengelompokan peratuaran Vinaya yang disusun dalam Tanya jawab untuk dipakai dalam pengajaran dan pelaksanaan ujian.26 Aturan dalam suttavibangga dan khandakha-khandakha disertai cerita-cerita mengenai terjadinya aturan itu.

Beberapa diantaranya benar-benar formal, yang semata-mata menunjukan bahwa sekelompok bhikkhu telah melakukan pelanggaran atau mengikuti kebiasaan tertentu yang karenanya Sang Buddha menetapkan suatu keputusan.

Aturan-aturan penerimaan dalam Sangha didahului oleh cerita mengenai kejadian setelah mencapai penerangan, awal pembabaran Dhamma dan penerimaan siswa-siswa pertama. Cerita mengenai Rahula diberikan sehubungan dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk penerimaan, dan aturan-aturan mengenai perpecahan adalah cerita komplotan Devedatta.

b.2 Kitab Sutra Pitaka

26 Hilman Hadikusumo, Antropologi Agama, hal 214-215

(24)

14

Kitab ini memuat uraian-uraian tentang cara hidup yang berguna,baik untuk para bhikkhu, bhikkhuni maupun umat Buddha lainya. Ia sendiri terdiri dari 5 kumpulan kitab yaitu: Dighanikaya,Majjhimanikaya, Angutaranikaya, Samyutanukaya dan Khuddakanikaya.27

a. Dighanikaya

Kitab ini terdiri dari 34 sutra yang panjang uraianya yang memuat sebagi berikut:

1. Ada 62 pandangan yang salah yang harus dihindari 2. Kehidupan seorang petapa

3. Pedoman-pedoman penting bagi umat Buddha untuk kehidupan sehari-hari 4. Tuntunan lengkap untuk meditasi

5. Kisah tentang hari-hari terakhir sang Buddha.

b. Majjhimanikaya

Kitab ini berisi tentang khotbah-khotbah Buddha yang terurai dalam 152 sutra.

c. Angutaranukaya

Kitab ini terdiri dari 9557 sutra.

d. Samyuttanikaya

Kitab ini terdiri dari 7762 sutra.

e. Khuddanikaya

Kitab ini terdiri dari 15 kitab, yang tidak hanya memuat perkataan Buddha melainkan juga ucapan dari para Thera.28 Diantara kitab ini adalah kitab dhamma yang menguraikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Buddha. Buku ini ada 423 Syair yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beberapa Syair berisi riwayat hidup para Thera atas pembebasan yang telah mereka capai.

b.3 Abidharma Pitaka

Kitab ini adalah bagian ketiga dari Tripitaka yang memuat tentang filsafat Buddha Dharma yang disusun secara analitis yang mencakup beberapa bidang ilmu seperti ilmu jiwa, logika, etika, dan meta fisik.

Kitab ini terdiri dari tujuh kitab yaitu

27 Hilman hadi kudsumo Antropologi Agama, hal 25-215

28 Hilman hadikusumo, Antropologi Agama, hal 215

(25)

15

a. Dhama Shangani (menguraikan mengenai etika dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa)

b. Vibangga (menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini dapat dibagi lagi dalam delapan bab dan masing-masing bab memiliki tiga bagian yaitu Suttantabhajaniya, Abhidhammabhajaniya dan Pannapucchaka atau daftar pertanyaan- pertanyaan.)

c. Dathukata (menguraikan mengenai unsur-unsur batin yang terbagi atas empat belas bagian.)

d. Punggalapanatti ( menguraikan berbagai watak manusia yang terkelompok dalam sepuluh urutan kelompok.)

e. Kathapathu ( terdiri dari dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan dan sanggahan terhadap pandangan salah yang dikemukan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.)

f. Yamaka ( terdiri dari sepuluh bab yaitu Mula, Khanda, Ayatana, Dhatu, Sacca, Sankhara, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya. )

g. Pattana (menerangkan mengenai sebab-sebab yang berkenaan dengan dua puluh empat hubungan antara batin dan jasmani.)

Tidak seperti kitab Vinaya Pitaka dan Sutta Pitaka gaya bahasa dalam kitab Abhidharma Pitaka sifatnya sangat teknis dan analitis,tidak mudah dimengerti.

Dalam kutipan dari sebuah ajaran Buddha harus mengenal Buddha dan Dharma. Buddha yang diartikan yang menemukan Kesunyataan, memiliki kesucian, cahaya, dan kedamaian dalam batinnya. Sedangkan Dharma sebagai aspek batin tentang kesucian, cahaya, dan kedamaian yang bangkit dari kebijakanaan luhur. Maka dalam hal ini kita mengenal istilah Catur Arya Satyani sebagai jalan mencapai ke-Buddhaan.

Catur Arya Satyani dalam bahasa sangsekerta catur berarti empat, arya berarti kesunyatan, dan satyani adalah mulia. Jadi makna dari Catur Arya Satyani adalah empat kesunyatan manusia yang mulia.

(26)

16 Empat Kesunyatan Mulia

a. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha (dukkha ariya satya)

Hidup dalam bentuk dan kondisi apapun adalah Dukkha (penderitaan), - Lahir, sakit, tua dan mati adalah Dukkha

- Berhubungan dengan yang tidak kita sukai adalah Dukkha - Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi adalah Dukkha - Tidak mendapatkan yang kita inginkan juga merupakan Dukkha - Masih memiliki Lima khanda adalah Dukkha.

Dalam catur arya satyani dukkha ada tiga macam yaitu29

- Dukkha sebagai dukkha-dukkha yaitu penderitaan biasa yang di alami misalnya perisiwa lahir, usia tua, berpisah dengan sesuatu yang diintai dan sebagainya.

- Dukkha sebagai vivarmamadukkha yaitu akibat terjadinya perubahan- perubahan(fisik, mental dan lain-lan).

- Dukkha sebagai sankharadukkha yaitu akibat kebergantungan yang satu dan yang lain.

b. Asal Mula Dukkha (dukkha samudaya ariya satya)

Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya.Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya. Dikenal tiga macam tanhä, yaitu

1. Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan : a. bentuk-bentuk (indah)

b. suara-suara merdu c. wangi-wangian d. rasa-rasa

e. sentuhan-sentuhan

29 Hilman Hadikusmo. Antropologi Agama, hal 229-230

(27)

17 f. bentuk-bentuk pikiran

2. Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah"

(attavada)

3. Vibhavatanhä: kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).

c. Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha gamini patipada)

Jalan-nya adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga) Disebut „Mulia‟ karena bila dilaksanakan, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia; Disebut „Berunsur Delapan‟, karena terdiri dari Delapan Unsur, Disebut „Jalan‟, karena seperti jalan pada umumnya, akan menuntun seseorang dari satu tempat ke tempat lain, dengan hal ini dari Samsara ke Nibbana. Delapan Jalan Utama (Jalan Mulia Berunsur Delapan)30 yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu : Wisdom (Paññā)

1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) Right view 2. Pikiran Benar (sammä-sankappa) Right intention Sila

3. Ucapan Benar (sammä-väcä) Right speech

4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta) Right action 5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva) Right livelihood Samädhi

6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) Right effort 7. Perhatian Benar (sammä-sati) Right mindfulness

8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi) Right concentration

d. Lenyapnya Dukkha (dukkha nirodha ariya satya)

Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, Sang Buddha dengan jelas dan tegas mengajar kita, bahwa kita

30 Narada Mahatera. Buddha dan Ajarannya (terjemahan)(Kuala Lumpur Misionary society ed. Ke-3 1977)hal. 342

(28)

18

dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nibbana. Istilah Nibbana secara harfiah berarti „padam‟, serta mengacu ke pemadaman api keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin.

2. Khong Hu Cu 1. Ketuhanan

Tuhan Yang Maha Esa dalam dikenal dengan sebutan Thian.31 Dalam kitab suci Tiong Yong/ Cung Yung (Tengah Sempurna), Bab Utama, pasal 1 terdapat konsep iman terhadap Tuhan Yang Maha Esa yaitu “ Thian Beng Ci Wi Seng, Sut Seng Ci Wi Too, Siu Too Ci Wi Kauw.” yang artinya “Firman Thian itulah yang dimaksud dan dinamakan dengan Watak Sejati, Berbuat mengikuti Watak Sejati itu dinamakan Jalan Suci, Bimbingan untuk menempuh Jalan Suci itu dinamakan Agama.”

Di antara syair-syair Si Keng (Kitab Sanjak) terdapat pemujaan serta definisi yang jelas mengenai hal Ketuhanan Yang Maha Esa dan hal itu cukup membuktikan bahwa Konfusianisme adalah Filsafat agama yang Theistik.

Beberapa istilah Thian, Tuhan Yang Maha Esa dari Kitab Hikayat dan Kitab Sanjak disebut berulang kali di dalam kedua kitab tersebut istilah Thian yang dijumpai 85 kali dan istilah Shang Ti dapat dijumpai 336 kali.

Berikut ini dia dapat dilihat dari ucapan nabi Khong Hu Cu dalam Lun Gi pasal 8 (Kitab Sabda Suci) “Seseorang yang budiman yang berwatak luhur memuliakan tiga hal yaitu Firman Thian, memuliakan orang-orang besar yang berbudi luhur dan memuliakan kata-kata yang diucapan orang-orang berbudi luhur”

Istilah Thian dijumpai dalam kitab suci. Ada dua istilah yang sering dijumpai yaitu istilah Thian Li dan Thian Ming.32 Pertama Tian Li adalah sesuatu yang absolut, yang mutlak yang tidak jadikan makan segala sesuatu yang berada di dalam semesta

31 Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok “ Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia” Hal. 43

32 Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok “ Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia” Hal. 48

(29)

19

ini berjalan menurut hukum-hukumNya. Pengaturan hukum tersebut disebut dengan Thian Li atau kebenaran yang berasal dari Thian. Setiap manusia harus berusaha untuk mengolah batinnya dan memperbaiki sifat-sifat buruknya agar berjalan selaras dengan Thian Li.

Kedua Thian Ming dapat diartikan sebagai suatu yang telah dijadikan ada sesuatu yang telah terjadi. Alam semesta bergerak hukumnya hukum hukumnya dan tian yang absolut sebagai sumber. Demikianlah manusia di dalam kehidupannya menghadapi penderitaan, kematian, kesenangan, kekayaan dan kemiskinan yang semuanya itu datang dari Yang Maha Esa atau Tuhan.

Ini bukan berati bahwa manusia harus menerimanya sebagai sesuatu hal yang fatal atau memarahi Yang Maha Esa tapi sebaliknya setiap manusia harus berusaha untuk mengolah batin nya dan berusaha untuk melaksanakan tugas tugasnya yaitu seperti setiap manusia harus mengolah batin nya memperbaiki sifat buruk-buruk nya serta berusaha menjadi diri menuju sifat budi luhur dan berakhlak baik yang disebut dengan seorang Kong Cu atau Cu Ce yaitu manusia budiman yang berbudi luhur,

Kemudian harus meningkatkan kesejahteraan hidupnya dengan cara belajar agar dapat menguasai suatu ilmu atau kepandaian guna meningkatkan taraf hidupnya sehingga pendidikan dan reputasi di tengah-tengah masyarakat memainkan peranan yang penting dalam kehidupan seseorang serta setiap manusia juga harus menyadari tugas dan tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakat biasa hidup dengan keharmonisan hukum alam.

2. Kitab suci

(30)

20

Kitab-kitab suci konfusianisme adalah Su Si Ngo Keng (Se Shu Wu Cing/

Empat Buku dan Lima Kitab) yang terdiri atas Su Si ( Se Shu/ Empat Buku), yaitu33 :

- Ta Sie ( Ta Hak/ The Great Learning/ Buku Tentang Pelajaran Besar)

- Cung Yung ( Tiong Yong/ The Doctrine Of The Mean/ Buku Tentang Jalan Tengah)

- Luen Yu ( Lun Gi/ Confusion Analects/ Ujar-Ujar Kong Hu Cu Dan Siswa- Siswanya)

- Meng Che (Beng Cu/ The World Of Mencius / Pokok Pokok Pelajaran Beng Cu) Dan Wu Cing ( Ngo Keng / Lima Kitab) yang meliputi:

- She Cing ( The Book Of Odes/ Kitab Tentang Puisi).

Terdiri dari 305 syair dan diantaranya ada yang terbentuk sebelum kelahiran Kong Hu Cu. Isi syair-syair tersebut merupakan pujian kepada Yang Maha Esa serta tradisi dan kehidupan rakyat.

- Su Cing ( The Book Of History/ Kitab Tentang Sejarah Moral).

Kitab ini juga disebut Sang Su; berisikan peraturan kebijaksanaan dan sendi- sendi dasar yang berhubungan dengan Theisme ( Ketuhanan Yang Maha Esa )).

- I Cing / Ya Keng ( The Book Of Change/ Kitab Tentang Filsafat)

Ini adalah sebuah kitab tentang filsafat yang amat sulit dipahami kitab ini tersusun sebelum guru Konghucu lahir.

- Li Ci /Le Ki ( The Book Of Rites/ Kitab Tentang Upacara Dan Tata Krama) Kitab ini mencatat tata cara upacara dan tata krama yang berlaku di istana dan pada masyarakat pada masa sebelum guru Konghucu sampai pada masa beliau hidup.

33 Chen Chau Ming, Mengenal beberapa aspek filsafat Konfusianisme Taoisme dan Buddhisme, Jakarta: Akademi Buddhis Nalanda , 1986. Hal 5-6

(31)

21

- Ch'uen Ch'iu ( Spring And Autumn Annals/ Kitab Catatan Sejarah)

Kitab ini mencatat kejadian kejadian dalam sejarah negara lu dimana guru konghucu berdiam serta berhubungan dengan negara lain di provinsi Shantung Tiongkok Timur.

3. Tao

1. Ketuhanan

Tao disini diartikan sebagai sesuatu yang absolut, yang tidak dijadikan dan mempunyai nilai-nilai theistik sebagai kata-kata untuk Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Taoisme.34

Lao tze/ Lo Cu dalam kitab Tao Te Cing/ To Tek Keng pasal 1 mengatakan,

"Tao yang dapat dikatakan sebagai Tao, bukan lagi Tao. Dapat dikatakan nama, bukan lagi nama." Kemudian di dalam Tao te cing pasal XXXII Lao Tze bersabda " Tao yang sebenarnya tidak mempunyai nama."

Tao tak dapat didengar tak dapat dilihat atau dipegang. Tao tidak berbentuk tetapi berada dimana-mana. Semua yang ada di dunia ini tergantung kepada Tao untuk hidup. Tao lebih kecil dari yang terkecil dan lebih besar dari yang terbesar.

Menurut Taoisme, Tao adalah pangkal dari segala sesuatu di dalam dunia ini.

Tao melahirkan satu (hukum dasar / Li), satu melahirkan dua (daya negative dan daya positive/ Ying dan Yang), Dua melahirkan tiga (langit, bumi, makhluk, te, jin), Tiga melahirkan semua bentuk kehidupan (ban but).

Demikianlah sabda Lao Tze dalam Tao Te Cing pasal XIII.35

34 D.S. Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” cet: ketujuh, Jakarta: Yayasan BAKTI 2011 hal. 29

35D.S. Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” cet: ketujuh, Jakarta: Yayasan BAKTI 2011 hal. 29

(32)

22

Kita belum dapat mengetahui Tao jika kita belum menghayati arti kehidupan.

Mereka yang tahu tidak berbicara, yang berbicara adalah tidak tahu demikian lah tulisannya Lao Tze.Taoisme beranggapan bahwa individu jangan bergulat melawan Tao melainkan harus tunduk, menghambakan diri dan selaras dengan Tao.

Untuk seorang pribadi manusia kesederhanaan dan kewajaran adalah hal utama. Kekerasan harus dijauhi seperti pergulatan untuk uang dan prestise. Orang tidak boleh bernafsu merubah dunia tetapi harus menghormatinya.

Filsafatnya di kenal dengan Wu Wei. Secara harfiah kita kenal dengan Wu Wei. Wu berarti tidak atau non. Wei berarti melakukan atau action. Jadi Wu Wei berarti tidak melakukan atau no action. Banyak orang salah mengerti mengenai filsafat ini sehingga mereka menganggapnya filsafat yang pasif atau tidak aktif.

Wu Wei tidak memaksa atau mendesak hanya menurut wataknya sendiri menurut kodrat alam seperti juga seluruh alam yang berkembang tanpa bertindak, tanpa mendorong dan tanpa menoleh apapun ini tidak bersifat aktif dan juga tidak bersifat pasif. Hidup selaras dengan Tao berarti hidup selaras dengan alam agar terjadi keharmonisan hidup.

Bagaimana pandangan Taoisme terhadap kehidupan ini lebih-lebih pada jaman sekarang dan modern serta materialistic? menurut pandangan Taoisme manusia hendaknya memperhatikan keadaan dirinya sendiri sambil menjaga dirinya sendiri agar tidak terjadi keselarasan dengan alam semesta tidak menjauhi alam dari kehidupan tetapi mereka juga tidak mendapatkan bahwa alam ini harus dilawan atau dimusuhi, semuanya berjalan secara alamiah dan harmonis.

(33)

23

Setelah dapat mengerti dan menghayati kebenaran Tao, makan sampai kita pada keadaan demikian: “Dia yang mengetahui tidak berbicara dia yang berbicara tidak tahu." Tao Te Cing pasal LVI.36

Tao adalah sesuatu yang absolut, namun mempunyai sifat yang lembut, memiliki sifat kebenaran Tao selamanya memiliki kelembutan, keramahan, keindahan dan rasa tidak sombong. Kelembutan di dalam sifat kebenaran bukan merupakan sifat kelemahan, justru merupakan kekuatan. Adakalanya sifat-sifat tersebut diumpamakan sebagai air. “Bagai sungai dan lautan dapat menjadi tempat berkumpulnya air karena mereka berada di tempat yang rendah oleh karena itu bila ingin menjadi seorang pemimpin di antara orang banyak, seseorang harus berbicara merendah, tidak sombong. Bila ingin menjadi terkenal di antara orang banyak maka seseorang harus berjalan di belakang orang banyak.” Tao Te Cing pasal LXVI.37

2. Kitab

Ajaran Lao Tze bersumber pada kitab Tao Te Cing / To Tek Keng yang berarti jalan ketuhanan. Ini ditulis dan terdiri dari 81 bab dan 5000 huruf kanji dalam bentuk puisi.38 Tao te cing merupakan kitab kecil yang padat isinya penuh kenyataan. Tao te cing ditulis dalam gaya bahasa khas yang luar biasa dan mampu menyuguhkan berbagai rupa penafsiran ide sentralnya berkaitan dengan masalah To/ Tao.

Tao Te Cing itu merupakan suatu kesaksian dari keserasian manusia dengan alam semesta. Ini dapat dibaca selesai dalam waktu setengah jam ataupun sepanjang hidup kita. Dan sampai hari ini Tao Te Cing merupakan teks dasar bagi keseluruhan pemikiran To/ Tao.

36 D.S. Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” hal. 32

37 D.S. Marga Singgih “ Tridharma Selayang Pandang” hal. 33

38 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 15

(34)

24

Dalam prawacana kitab Tao Te Cing dijelaskan bahwa Tao Te Cing merupakan salah satu karya besar filsafat China. Asalnya buku ini ditulis untuk kalangan elit bahkan sangat elit yakni raja-raja dan bangsawan, karena jaman dulu hanya mereka yang dapat akses baca dan tulis. Ini kemajuan jaman telah membuka peluang untuk dibaca oleh nyaris semua orang awam tidak harus elite atau pakar, asal mau.39

C. Titik Temu Ajaran Tridharma

Dalam penjelasan D.S Marga Singgih titik temu ajaran Tridharma adalah pada akhirnya menjai manusia yang sempurna. Menurut Kwee Tek Hoay yang mencoba mencari aspek-aspek yang sama dari ketiga agama ini untuk membuktikan bahwa tujuan ketiga agama itu adalah serupa Misalnya ia mengatakan bahwa ketiga agama itu akhirnya membawa orang pada keadaan kebahagiaan sempurna. Taoime menunjukkan jalan kepada manusia untuk manunggal dengan sumber utama bernama Too (Tao atau Dao). Buddisme memberitakan bagaimana seseorang dapat manunggal dengan Wet (hukum) Kebenaran atau Dharma dan dengan demikian mencapai Nirwana. Konfusianisme menunjukkan bagaimana seseorang dapat hidup menurut watak asli dan dengan demikian mencapai Seng Djin (Manusia Sempurna). Kwee Tek Hoay akhirnya mengatakan bahwa walaupun metode yang berbeda akan tetapi tujuannya adalah sama.40

Selain itu berikut cara atau langkah mencapai kebahagiaan sejati, yaitu:

a. Dalam Agama Buddha

Untuk mencapai tingkat tertinggi dalam hal ini kita sebut Nirwana. Ada beberapa langkah yang harus diterapkan yaitu dengan menjalankan Delapan

39 HT. Djuntak (Alih Bahasa), Kitab-kitab Suci Tri Dharma, Semarang: Litbang Matrisia Jateng, 2010.

Hal. 1

40 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 35

(35)

25

Jalan Utama (Jalan Mulia Berunsur Delapan)41 yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :

Wisdom (Paññā)

1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) Right view 2. Pikiran Benar (sammä-sankappa) Right intention Sila

3. Ucapan Benar (sammä-väcä) Right speech

4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta) Right action 5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva) Right livelihood Samädhi

6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma) Right effort 7. Perhatian Benar (sammä-sati) Right mindfulness

8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi) Right concentration

b. Dalam Agama Kong Hu Cu

Dalam pembahasan mengenai Kitab Pelajaran Agung ( Tay Hak) adalah sebagai pelajaran untuk manusia menjadi manusia agung dan ada 3 utas tali yang diperlukan42 untuk itu yakni:

1. Mengembangkan atau menggemilangkan kebajikan yang bercahaya.

Kebajikan yang bercahaya tidak mengenal perbedaan yang hanya berdasarkan bentuk bentuk dalam dunia ini. Kebajikan yang bercahaya adalah satu dengan langit, bumi dan manusia. Manusia agung merupakan kebajikan yang bercahaya dalam dirinya selalu bersinar dan manunggal dengan Thian-Te -Jin (Langit-Bumi-Manusia).

2. Mencintai sesama mengembangkan kebajikan yang bercahaya adalah perwujudan dari penunggalan dengan langit, bumi dan manusia. Mencintai sesama adalah fungsi yang diperlukan dalam mengamalkan penunggalan

41 Narada Mahatera. Buddha dan Ajarannya (terjemahan)(Kuala Lumpur Misionary society ed. Ke-3 1977)hal. 342

42M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal.112-113

(36)

26

tersebut di mulai mencintai orang tua sendiri maka ia pun akan mencintai orang tua orang lain, ia akan mencintai semua makhluk. Hal ini berarti ia telah merealisasikan manunggal pada semua.

3. Berdiam dalam puncak kebaikan, yaitu membabarkan dari berkembangnya kebajikan yang bercahaya dan perwujudan dari mencintai sesamanya. Orang yang telah berada dalam puncak kebaikan, baginya yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ia yang mengikuti perubahan dan keadaan kewajaran seimbang (natural mean).

Ketiga utas tali tersebut pada singkatnya adalah Cay beng beng tek, Cay cin bin, dan Cay ci it ci sian. Serta tingkatan pencapaian manusia dalam konfusianisme ada dua. Pertama Kuncu yaitu manusia berakhlaq tinggi manusia bijaksana manusia susila dan manusia berbudi luhur. Kedua Seng Jin adalah Nabi.43

c. Dalam Agama Tao

Tek adalah sumber dari mana timbulnya atau adanya benda-benda. Apabila watak dasar benda-benda di kembangkan mereka berarti kembali kepada Tek.

apabila Tek menjadi sempurna dapatlah Tek disamakan dengan asal dari semua benda-benda.44

Bagaimana mengembangkan kebajikan (Tek) dalam mencapai kesadaran Tao?

dalam hal ini dijelaskan bahwa ada 3 cara untuk mengembangkan kebajikan (Tek) 1. Gejala hidup yang kehilangan watak sejati nya. Dalam Tao Te Ching pasal

12: “lima warna membuat mata buta, lima nada suara membuat telinga menjadi tuli, lima macam rasa membuat mulut buta rasa.” Pasal 18

43 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 113

44 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 186

(37)

27

“apabila kebenaran agung terbengkalai begitu kebijaksanaan luhur dikumandangkan tumbuhlah kepalsuan-kepalsuan; setelah keluarga- keluarga timbul keadaan tidak selaras tentu akan disusun dengan adanya anak bakti dan orang tua yang penuh kasih; Negara-negara morat marit akan dikenalah menteri-menteri yang jujur; apabila tidak ada kemerosotan watak kebajikan sejati tentu akan tidak diperlukan adanya atau munculnya itu dan ini.

2. Yang kedua adalah sikap dan langkah pasif atau statis. Dalam Tao Te Ching pasal 29 ada dua hal, pertama jauhkan sifat yang melampaui batas atau ekstrim dan yang kedua hindari watak atau sifat agung-agungan.

Dalam pasal 46 “tidak merasa puas selalu adalah lebih berbahaya daripada malapetaka. Keinginan-keinginan untuk memiliki bahayanya lebih besar daripada pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hidup. Dalam pasal 19 “kembangkan kesederhanaan dan berkokok sifat-sifat yang wajar ciutkan keakuan dan kurangnya keinginan-keinginan. Dalam Chuang Tze halaman 139 “hanya orang yang berbakti luhur bisa terjadi dalam dunia modern tanpa dirinya menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Beliau menerima jalan dan cara hidup manusia lainnya tanpa kehilangan dirinya.

3. Yang ketiga langkah-langkah atau usaha yang aktif. Dalam Tao Te Ching pasal 49 “terhadap orang baik bersifat baik, terhadap orang yang tidak baik akupun bersikap baik; demikianlah kebajikan dari kebaikan. Terhadap orang yang jujur bersikap jujur, terhadap orang yang tidak jujur akupun bersikap jujur; demikianlah adanya kebajikan dari kejujuran

Puncak kemanusiaan dalam agama Tao dalam Kitab Kemudian Dan Ketenangan Batin (Ceng-Ceng Keng) “Demikian murni tentang batinnya, perlahan-

(38)

28

lahan memasuki Tao sejati. Setelah masuk kedalam Tao sejati dapatlah dikatakan ia memperoleh Tao. Sebenarnya tiada sesuatu yang diperolehnya, hanya dengan maksud agar bermanfaat bagi semua manusia, maka digunakanlah kata-kata “memperoleh Tao (Tek Too). Bagi orang yang menyadari hal ini, ia boleh menyiarkan Tao para nabi.45

Pertemuan dari ketiga ajaran telah menghasilkan suatu pandangan hidup yang memupuk pikiran Tridharma yang toleran, penuh bakti,sederhana dan bebas dalam sikap hidupnya serta praktis cara berpikir.

Dalam kehidupan sehari-hari penulis melihat pemakaian atribut atau symbol agama seperti kelahiran mengadakan upacara kepada trinabi lebih pada nabi yang tertua yaitu Lo Cu, dalam upacara perkawinan lebih cenderung kepada Kong Hu Cu dan biasanya kematian telihat jelas dalam upacara cenderung kepada Buddha.46

Ritus kelahiran tradisional Cina bervariasi dalam bentuk dan ekspresi berdasarkan perbedaan. Namun demikian, sebagian besar orang akan merayakannya termasuk lima ritus utama untuk perayaan anak yaitu, saat lahir, ketika berusia tiga hari, seratus hari,satu bulan dan satu tahun. Rinciannya sebagian besar identik kecuali untuk beberapa perbedaan kecil sesuai dalam tradisi Tao.

Khong Hu Chu tidak mempersoalkan keagamaan dalam perkawinan, baik untuk Pria maupun wanitanya, meskipun beda kepercayaan atau keyakinannya diserahkan pada penganutnya masing-masing tapi lebih ke dalam tradisi Kong Hu Chu. Dalam tradisi Tionghoa memang tidak bisa dipisahkan dengan aliran agama Buddha Tridharma. Banyak keturunan Tionghoa sudah tidak mengerti apa makna yang tersirat dari upacara kematian dalam tradisi Tionghoa. Upacara kematian dalam Agama Buddha tentu saja tidak persis sama seperti upacara kematian dalam tradisi Tionghoa tetapi mereka lebih mengambil tradisi tersebut.

45M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 189

46 Lihat kematian Kwee Tek Hoay dihubungkan dengan hari Asada 6 juli 1952 dalam tradisi agama Buddha, D.S Marga Singih, Tridharma Selayang Pandang, hal. 41

(39)

29 BAB III

SEJARAH DAN TOKOH

A. Sejarah Tridharma Indonesia

Untuk lebih mudah mengenai sejarah sebaiknya kita telusuri melalui 1 abad terakhir.

Pada tahun 1900 berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia dengan tokohnya antara lain Lie Kim Hok, Phoa Keng Hek (presiden pertama) dan Yoe Tjai Siang (redaktur mingguan Konfusianis - Li Po)47. THHK mengajarkan Bahasa Tionghoa dan Agama Khong Hu Cu sebagai respons atas gencarnya misionaris Kristen. THHK mengkhususkan diri pada aktivitas pendidikan.

Pada tahun 1900 berdiri pula Perhimpunan Theosofi. Banyak tokoh-tokoh Agama Buddha yang belajar atau mengenal Ajaran Buddha dari Theosofi antara lain M.S.

Mangunkawatja, The Boan An, Drs. Khoe Soe Kiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, dan lain-lain.

Dan pada tahun 1918 Berdirinya Khong Kauw Hwee (KKH) di Solo.

Pada tahun 1923 – 1926 berdirinya Khong Kauw Tjong Hwee sebagai badan pusat yang kemudian perjuangannya diteruskan sebagai badan federasi kedua antara tahun 1923 - 1926.

Pada tahun 1931 Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 - 4 Juli 1952) mendirikan percetakan dan penerbitan Moestika di Batavia - yang kemudian dipindahkan ke Cicurug, Bogor - serta menjabat sebagai direktur dan redaktur kepala Majalah Mingguan Moestika Dharma (1932 - 1934). Setelah itu menyusul diterbitkannya Majalah Sam Kauw Gwat Po.48

47 Tanggal 3 juni 1900 tepatnya, Gubernur General Hindia Belanda menyetujui berdirinya THHK di Jakarta dan pada tanggal 8 juni terjadi pemberontakan juga di Cina. Pertama kali didirikanya THHK di Batavia kemudian muncullah juga di beberapa daerah lainya di beberapa kota di Indonesia. Lihat dalam buku Prof. Dr.

M. Ikhsan Tanggok “ Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia” (Jakarta: Pelita Kebajikan 2005), h. 89-91.

48M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 3

Referensi

Dokumen terkait