• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DAN PENGAKUAN TRIDHARMA PANDANGAN D.S MARGA SINGGIH

E. Umat Tridharma

Umat Tridharma Indonesia yang hampir 99 % merupakan keturunan Toinghoa adalah masyarakat patrinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geografis dan teritorial yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku di Indonesia70. Keturunan masyarakat Tionghoa kebanyakan masih membawa tradisi mereka kemanapun mereka pergi baik itu kepercayaan-kepercayaan terhadap ideologi maupun yang lain termasuk kepada roh leluhur mereka.

Umumnya orang-orang Tionghoa bermigrasi ke Indonesia membawa adat istiadat mereka serta membawa pula kebiasaan kebiasaan yang pernah mereka lalui sebelumnya.

Salah satu hal yang mereka harus taati dimanapun mereka berada adalah keluarga yang satu marga (shee) dilarang menikah, karena mereka dianggap masih satu keturunan atau satu darah atau yang masih mempunyai hubungan keluaga. Contohnya marga Lauw dilarang

70 D.S. Marga Singgih “Perkawinan dan Keluarga Tridharma” (Jakarta: Yayasan BAKTI 2011), hal. 1

57

menikah dengan marga Lauw dari keluaga lain, sekalipun tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga juga sangat diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ketangan orang lain.

Konsep Tridharma/SamKauw/Sanjiao/Tiga Agama bukan hanya ada di Indonesia, tetapi sudah berakar mulai abad ke-12 di Tiongkok71. Ditambah dengan sifat bangsa Tionghoa yang suka mencampur adukkan ajaran agama (sinkretisme) yang ada. Banyak bagian kebudayaan Tionghoa yang sudah tercampur-baur dengan unsur dari ketiga agama ini.

Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme ketiga filsafat yang mempengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu. Karena agama resmi yang dibina oleh pemerintah Indonesia hanya enam, maka umat Tridharma di Indonesia dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha, namun hal ini sebenarnya keliru.

Tridharma sendiri sudah sangat mendarah daging bagi kaum Tionghoa. Hasilnya, tiga agama terbaur menjadi satu. Meski agama Tao (pemuja dewa-dewi) lebih mendominasi, tapi banyak juga yang sudah tercampur ke dalam pemahaman Budhisme, seperti kitab suci, keng (nyanyian), dsb. Padahal, sangatlah tidak etis jika harus mencampur ke tiga ajaran yang mulia tersebut. Hasilnya, banyak anak muda sekarang yang terluntang-lantung tidak mengetahui apa agama mereka yang sebenarnya. Misalnya jika ditanyai teman sebaya mereka, kebanyakan tidak tahu harus menjawab apa, karena jika di jawab “saya beragama Buddha”

sedangkan mereka menyembah dewa/i (kelenteng).

Pada umumnya generasi muda sekarang ini sudah sangat terdokrinisasi dengan ajaran Tridharma ini. Mereka menganggap bahwa Tridharma memang benar adalah suatu agama.

Dalam perkembangannya, Tridharma sendiri lebih banyak eksis di kelenteng, tetapi sudah

71 Bahkan ada kajian ilmiah terbaru dewasa ini yang menyimpulkan bahwa pola keagamaan masyarakat Tionghoa di negeri leluhur sebenarnya sudah ada dan berkembang sejak 7000 tahun yang lalu. Lihat Dalam Majalah HikmahTridharma edisi 06/XXXIV/November-Desember 2010 “Tridharma dalam Koridor Budaya dan Agama ditulis oleh Pdt. Ut Budiyono Tantrayoga dalam pengantanya. Hal. 10

58

agak keluar lintasan, seperti adanya pengajaran membaca “dhamapada” atau kitab suci umat Buddha Theravada. Sebaiknya jika ingin memang benar-benar ingin belajar agama Buddha, pergilah ke Vihara. Disana anda akan lebih mendalami ajarannya. Paling tidak fungsi kelenteng adalah sebagai pengarah saja, dengan memberi gambaran umum seputar tiga agama dan tetap berpegang pada prinsip Tao, yakni menyembah dewa/i.

59 BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan

Tridharma berasal dari bahasa Sangsekerta, dari kata Tri dan Dharma. Tri berarti tiga , Dharma berarti ajaran kebenaran. Secara istilah Tridharma berarti tiga ajaran kebenaran. Yang dimaksud di sini adalah tiga ajaran kebenaran ialah ajaran Sakyamuni Buddha, ajaran nabi Khong Hu Cu dan ajaran nabi lo Cu. Tridharma merupakan agama yang penghayatanya menyatu dalam ajaran Buddha, Khong Hu Cu dan Lo Cu. Secara historis sebutan awal adalah Sam Kauw yaitu tiga ajaran, Three Teaching, tiga Agama, Three Religions of China, yang merupakan satu dasar atau satu doktrin (Sam Kauw It Li).

Campur aduk ini bukanlah lantaran orang Tionghoa tidak fanatic terhadap agama, hanya karena pelajaran dari tiga agama terebut tidak terlalu bertentangan satu sama lain. Pada ajaran agama Buddha dan Tao tidak melarang memuja abu leluhur, pemuka agama Khong Hu Cu pun tidak ada pantangan orang yang memuja machiok-majiok suci dalam klenteng-klenteng.

Kwee Tek Hoay mencoba menyatupadukan ketiga agama. Kwee Tek Hoay mencoba mencari aspek-aspek yang sama dari ketiga agama ini untuk membuktikan bahwa tujuan ketiga agama itu adalah serupa misalnya ia mengatakan bahwa ketiga agama itu akhirnya membawa orang pada keadaan kebahagiaan sempurna. Taoime menunjukkan jalan kepada manusia untuk manunggal dengan sumber utama bernama Too (Tao atau Dao). Buddisme memberitakan bagaimana seseorang dapat manunggal dengan Wet (hukum) Kebenaran atau Dharmad dengan Delapan Jalan Tengah dan dengan demikian mencapai Nirwana. Konfusianisme menunjukkan bagaimana seseorang dapat hidup menurut watak asli dan dengan demikian mencapai Seng Djin

60

(Manusia Sempurna). Kwee Tek Hoay akhirnya mengatakan bahwa walaupun metode yang berbeda akan tetapi tujuannya adalah sama.

Marga Singgih mengibarat seperti kita minum secangkir kopi susu. Bahannya adalah air, gula, susu, dan kopi. Ketika diaduk seluruhnya dalam satu cangkir maka jadilah kopi susu. Kalau kita kaitkan dengan Tridharma, air ibaratkan umat karena universal, gula sebagai Khong Hu Cu, susu sebagai Buddha, dan kopi sebagai Tao.

Kalau dicampur bersamaan tidak kelihatan mana itu gula, susu dan kopi karena telah melebur jadi satu tapi ketika dirasakan kita mengetahui ada rasa gula, susu dan kopi.

Itu yang dimaksud penghayatan Tridharma. Itu juga karena ketiga bahan itu bisa dicampur. Kalau dengan agama lain itu tidak bisa.

Pada tahun 1931 Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 - 4 Juli 1952) mendirikan percetakan dan penerbitan Moestika di Batavia - yang kemudian dipindahkan ke Cicurug, Bogor - serta menjabat sebagai direktur dan redaktur kepala Majalah Mingguan Moestika Dharma (1932 - 1934). Setelah itu menyusul diterbitkannya Majalah Sam Kauw Gwat Po. Pada bulan Maret 1934 Berdirinya Batavia Buddhist Association (BBA) dengan ketua kehormatannya adalah Lim Feng Fei dan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay. BBA lebih banyak mengembangkan Ajaran Buddha Mahayana. Pada bulan Mei 1934 berdirinya Sam Kauw Hwee (disingkat SKH) di Jakarta dengan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay. Publikasi utamanya melalui majalah Sam Kauw Gwat Po (1934 - 1947). Cabang-cabang SKH antara lain di Kediri, Teluk Betung, Palembang, Samarinda, Makasar, Manado, Gresik, Tempeh, Bogor, dan lain lain. Dan tanggal 20 Pebruari 1953 berdirilah Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) di Jakarta. Ditetapkan sebagai badan hukum dengan Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953, dan termuat dalam Tambahan Berita Negara RI No. 33 tanggal 24 April 1953 urutan no. 3. Selanjutnya tahun 1961 - 1963

61

berdirinya Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Nama GTI dikukuhkan/ditetapkan dalam Rapat Umum Anggota yang diadakan tanggal 16 - 18 April 1976 di Cisarua, Akte Perobahan No. 1 tanggal 1 Juni 1976 dan ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat - Selatan dengan Surat Keputusan Perkara Perdata No. 298/1976 tanggal 9 Juni 1976. Tanggal 14 Mei 1967 berdirinya PTITD (Perhimpunan Tempat Ibadat Tri Dharma) se-Jawa Timur di Lawang dengan ketuanya adalah Ong Kie Tjay.

Kemudian tahun 1969 berdirinya PTITD se-Indonesia. Tanggal 22 September 1979 berdirinya MARTRISIA (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia) di Lawang. Hingga Akhirnya pada tanggal 1-3 Januari 1999 berubah nama dari Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia menjadi Majelis Tridharma.

Bapak Tridharma Indonesia adalah Kwee Tek Hoay (KTH) yang lahir pada tanggal 31 juli 1886 dan meninggal pada tanggal 4 juli 1952 dalam usia 66 tahun di Desa Warung Ceuri, Cicurug, Priangan, Jawa Barat. Tridharma yang dihadirkan oleh Kwee Tek Hoay adalah sebagai pelindung bagi orang-orang Tionghoa untuk tetap dalam garis leluhur mereka. Organisasi ini berfungsi untuk mencegah kristenisasi dan penyempitan umat bagi Tridharma sendiri. Tridharma tidak akan bangkit dan meluas seperti sekarang dengan menerbitkan Moestika Dharmanya, Sam Kau Gwat Po-nya, dan berpuluh-puluh judul buku karya beliau yang memiliki andil besar sebagai perintis Tridharma sejak tahun 1930-an. Pada tanggal 7 November 2011, sesuai dengan KEPPRES R.I. NO. 115 /TK/TAHUN 2011 Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi tinggi kepada Kwee Tek Hoay dengan memberikan Piagam Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma atau Pahlawan Sastrawan Melayu atas karya-karyanya yang sangat berguna untuk bangsa Indonesia. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden SBY kepada salah satu

62

keturunan Kwee Tek Hoay di Istana Negara dalam rangka menyambut Hari Pahlawan (10 November).

Secara organisasi Tridharma Terdaftar pada : Direktorat Jendral Sosial Politik, Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, No. 61/D.1/V/2003 DEPDAGRI, Departemen Agama, Direktorat Jendral Bimas Buddha, No.

90/9/YAB/V/2003. Walaupun demikian pembentukan Tridharma sudah dimulai sejak 1920-an dan pada tahun 1934 sudah didirikan.

2. Pandangan

Hidup manusia harus memiliki tujuan tanpa tujuan maka manusia tersebut tidak dapat menentukan arah dan langkah yang akan dijalankan. Tujuan penulis dalam skripsi ini adalah membagikan pengetahuan dan wawasan kepada pembaca dan masyarakat akademia tentang ajaran tridharma baik dari segi organisasi sampai kepada keimanan.

Menurut pandangan penulis bahwa agama Tridharma ini telah hadir sebelum Indonesia ada, maka jelas bahwa agama ini merupakan agama yang patut dan perlu lirik sebagai sebuah ilmu pengetahuan dan sebagai sejarah. Menurut hemat penulis Indonesia harus bangga dengan apa yang dimilikinya bukan apa yang tidak dimiliki.

Bangga dengan apa yang ada dan dibawa oleh nenek moyangnya tidak menghujat yang lain. Masyarakat Indonesia kalau kita lihat sejak awal, kita memiliki agama atau kepercayaan sebelumnya adalah animisme dan dinamisme, dan itu adalah kepercayaan kepada leluhur kita kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dan berkembang-berkembang menjadi sekarang lebih theistik.

Sebagai anak bangsa yang mempunyai kebhinekaan seharusnya tidak ada kata diskriminasi dalam masyarakat kita begitu juga terhadap Tridharma Indonesia.

63

Dalam beberapa buku penulis melihat ada paparan bahwa seorang anak bangga dengan apa yang dimilikinya, seorang anak bangga dengan agamanya, seorang anak bangga dengan apa yang dipercayainya. Dalam hal ini penulis mengutip buku dari Yasa Paramita Singgih bahwa beliau bangga menjadi Tridharma Indonesia “ menjadi Tridharma adalah kebanggaan tersendiri bagi saya dan kita semua”.72 Itu adalah suatu kutipan yang menjadi pemikiran penulis bahwa apapun agama kita, apapun profesi kita, apapun yakinkan kita, apapun yang kita percayai kita harus bangga dengan itu semua, seharusnya begitu dan seharusnya begitu. Orang Islam bangga dengan keislamannya, orang Kristen bangga dengan kekristenannya, orang Buddha, Hindu, dan Konghucu bangga dengan apa yang dimilikinya tanpa harus mendiskriminasikan yang lain.

Hal yang paling menggelitik penulis dalam hal ini adalah expansi agama, expansi umat beragama yang memberikan suatu hal yang lebih menyudutkan agama minoritas. Awalnya tridharma muncul karena itu terjadi, karena banyaknya kristenisasi atau disebut dengan misionaris. Dalam hal ini seharusnya tidak seperti itu, pandangan penulis apa yang anda miliki tidak harus dimiliki orang lain, apa yang anda percayai tidak harus sama seperti apa yang dipercaya oleh orang lain, apa yang anda yakini adalah apa yang ada didiri anda sendiri karena yang sebenarnya ada dalam diri itu adalah bagaimana pribadi menuju ketuhanan dan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Agama bukan untuk dikompromikan tetapi agama adalah untuk meyakini pribadi sendiri.

Dalam hal ini Tridharma dalam pandangan penulis adalah sebuah agama yang bangga akan dirinya bangga akan keyakinannya untuk melindungi dan memberi wadah untuk semua umat Tridharma. Keimanan tridharma itu menyatu dalam

72 Yasa Paramitha Singgih, Saatnya Yang Muda di Depan,(Jakarta:Yayasan Sutra Bakti, 2011), hal. 7

64

Tridharma keimanan pada nabi Lao Tze, nabi Konghucu dan Sidharta Gautama.

Dalam hal ini dapat dilihat bahwa tujuannya sama berbelas kasih mencapai manusia yang sempurna.

Dalam hal ini penulis memberikan sedikit pengembangan untuk memberi belas kasih yang menulis kutipan dari buku Karen Armstrong (Compassion, 12 Langkah Menuju Hidup Belas Kasih), dijelaskan bahwa ada 12 cara atau 12 langkah bisa mencapai belas kasih, pertama adalah belajar tentang belas kasih bersifat mendidik. Dalam pengertian bahasa latin educere berarti “mengiringi keluar”.73 Dan program ini dirancang untuk mengeluarkan belas kasih yang seperti telah kita tinjau bersemayam dalam setiap manusia agar ia dapat menjadi kekuatan yang menyembuhkan untuk melatih kembali respon kita dan membentuk kebiasaan mental yang ramah, lembut dan tidak diwarnai ketakutan pada orang lain. Kedua lihatlah dunia kita sendiri , dalam langkah ini kita harus membawa diri kita secara mental ke puncak yang gunung yang lebih tinggi, ke tempat yang lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan, tempat kita bisa berdiri tegak dan melihat suatu perspektif yang berbeda.

Ketiga dan seterusnya dengan berbelas kasih pada diri sendiri kemudian melakukan empati dan perhatian penuh serta melakukan tindakan kemudian menyadari betapa sedikitnya yang kita ketahui dilanjutkan dengan bagaimana seharusnya kita berbicara kepada sesama sehingga muncul kepedulian untuk semua sebagai sebuah pengetahuan dan pengakuan diri hingga yang teerakhir kita bisa mencintai musuh kita sendiri.

73 Karen Armstrong, Compassion, (Jakarta: Mizan, 2013), hal. 33

65 3. Saran

Bagi penelitian Tridharma selanjutnya diharapkan agar lebih kepada keimanan dan lebih kepada tata cara peribadatan. Mungkin juga Tridharma berpengaruh kepada kehidupan sosial budaya masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Mungkin juga penelitian selanjutnya tentang konsep hari besar dan konsep eskatologi dan lain sebagainya. Selain memahami karakteristik orang Tridharma peneliti juga harus mengerti keadaan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda dan harus meletakkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara Dan kemudian UUD 1945 sebagai pondasi legislasi Indonesia.

Saran daripada penulis dalam menggunakan metodologi yaitu gunakanlah metodologi fenomenologis yang ada dalam penelitian Tridharma, maka biarkanlah mereka berkata sebagai umat beragama untuk menjelaskan apa yang mereka pahami menurut mereka sendiri dengan tidak melakukan interpelasi, koreksi dan justifikasi.

66

Dokumen terkait