SEJARAH DAN TOKOH
A. Sejarah Tridharma Indonesia
Untuk lebih mudah mengenai sejarah sebaiknya kita telusuri melalui 1 abad terakhir.
Pada tahun 1900 berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia dengan tokohnya antara lain Lie Kim Hok, Phoa Keng Hek (presiden pertama) dan Yoe Tjai Siang (redaktur mingguan Konfusianis - Li Po)47. THHK mengajarkan Bahasa Tionghoa dan Agama Khong Hu Cu sebagai respons atas gencarnya misionaris Kristen. THHK mengkhususkan diri pada aktivitas pendidikan.
Pada tahun 1900 berdiri pula Perhimpunan Theosofi. Banyak tokoh-tokoh Agama Buddha yang belajar atau mengenal Ajaran Buddha dari Theosofi antara lain M.S.
Mangunkawatja, The Boan An, Drs. Khoe Soe Kiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, dan lain-lain.
Dan pada tahun 1918 Berdirinya Khong Kauw Hwee (KKH) di Solo.
Pada tahun 1923 – 1926 berdirinya Khong Kauw Tjong Hwee sebagai badan pusat yang kemudian perjuangannya diteruskan sebagai badan federasi kedua antara tahun 1923 - 1926.
Pada tahun 1931 Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 - 4 Juli 1952) mendirikan percetakan dan penerbitan Moestika di Batavia - yang kemudian dipindahkan ke Cicurug, Bogor - serta menjabat sebagai direktur dan redaktur kepala Majalah Mingguan Moestika Dharma (1932 - 1934). Setelah itu menyusul diterbitkannya Majalah Sam Kauw Gwat Po.48
47 Tanggal 3 juni 1900 tepatnya, Gubernur General Hindia Belanda menyetujui berdirinya THHK di Jakarta dan pada tanggal 8 juni terjadi pemberontakan juga di Cina. Pertama kali didirikanya THHK di Batavia kemudian muncullah juga di beberapa daerah lainya di beberapa kota di Indonesia. Lihat dalam buku Prof. Dr.
M. Ikhsan Tanggok “ Mengenal Lebih Dekat Agama Konghucu di Indonesia” (Jakarta: Pelita Kebajikan 2005), h. 89-91.
48M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 3
30
Akhir abad ke 19 berdirinya Java Buddhist Association di bawah kepemimpinan E.
Power dan Josias Van Dienst. Organisasi ini merupakan anggota International Buddhist Mission yang berpusat di Thaton Burma (beraliran Buddha Theravada). International Buddhist Mission Java Section berdiri di Batavia tahun 1932 dengan Deputy Director Generalnya adalah Josias van Dienst.
Pada tanggal 4 Maret 1934, Bhikkhu Narada Mahathera (1899 - 2 Oktober 1983) dari Ceylon (Srilangka) datang ke Indonesia atas undangan Kwee Tek Hoay, Ir. Mengelaar Meertens (Ketua Perhimpunan Theosofie cabang Indonesia) dan Pandita Yosias van Dienst (Deputy Director General International Buddhist Mission Java Section).49 Beliau menanam pohon Bodhi di pelataran Candi Borobudur dan kemudian memberikan ceramah-ceramah di klenteng-klenteng antara lain Kwan Im Tong Jakarta. Sebagai catatan, Bhikkhu Narada juga menyebarkan dharma ke Inggris dan Amerika.
Pada bulan Maret 1934 Berdirinya Batavia Buddhist Association (BBA) dengan ketua kehormatannya adalah Lim Feng Fei dan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay. BBA lebih banyak mengembangkan Ajaran Buddha Mahayana.
Pada bulan Mei 1934 berdirinya Sam Kauw Hwee (disingkat SKH) di Jakarta dengan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay. Publikasi utamanya melalui majalah Sam Kauw Gwat Po (1934 - 1947). Cabang-cabang SKH antara lain di Kediri, Teluk Betung, Palembang, Samarinda, Makasar, Manado, Gresik, Tempeh, Bogor, dan lain lain.
Dan pada tanggal 21 Desember 1934 berdirilah Sam Kauw Hwee di Kediri oleh Tan Koen Swie yang juga menerbitkan Majalah Soeara Sam Kauw Hwee. Dilanjutkan pada tahun 1935 berdirinya Sam Kauw Hwee di Manado oleh Kapten Oey Pek Yong.
20 Februari 1952 berdirinya GSKI (Gabungan Sam Kauw Indonesia). Sebagai hasil pengorganisiran kembali Sam Kauw Hwee dengan bergabungnya Cin Tik Hwui
49M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 9
31
(Muntilan,Jawa Tengah), Sin Ming Hwee bagian kebatinan (Candra Naya, Jakarta), Thian Li Hwee, Buddhis Tengger (Jawa Timur) dan lain-lain, dengan ketua umumnya adalah The Boan An.
Dan tanggal 20 Pebruari 1953 pukul 12.00 WIB berdirilah Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) di Jakarta. Ditetapkan sebagai badan hukum dengan Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953, dan termuat dalam Tambahan Berita Negara RI No. 33 tanggal 24 April 1953 urutan no. 3. Ketua umum pertama : The Boan An.
GSKI melengkapi organisasinya dengan komisaris ceramah yang mengatur tugas para penceramah yang terdiri dari :
1. Sam Kauw Hwee 2. Khong Kauw Hwee 3. Thian Lie Hwee, dan
4. Tokoh-tokoh Theosofi dan kebatinan.
Komisaris ini kemudian berubah menjadi Seksi Penceramah50. Kemudian 22 Mei 1953 diadakannya Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2497 untuk pertama kalinya di Candi Borobudur.
Dilanjutkan pada tanggal 23 Januari 1954 ditahbiskannya The Boan An (ketua umum pertama GSKI) menjadi bhikkhu di Burma dengan nama ASHIN JINARAKKHITA oleh Ven. Mahasi Sayadaw. GSKI (atau pribadi-pribadi pimpinan GSKI) mengutus/menyokong The Boan An untuk belajar agama Buddha di Burma antara tahun 1953 - 1954.
Selanjutnya tahun 1961 - 1963 berdirinya Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Nama GTI dikukuhkan/ditetapkan dalam Rapat Umum Anggota yang diadakan tanggal 16 - 18
50 Sejak tahun 1976, Seksi Penceramah ini dilepaskan oleh GTI menjadi badan otonomi dengan nama Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia dan tanggal 18 April 1976 ditetapkan sebagai hari jadinya Majelis Tridharma Jakarta setelah perubahan Anggaran Dasar GTI yang diputuskan di Rapat Umum Anggota tanggal 17 April 1976 di Cisarua.
32
April 1976 di Cisarua, Akte Perobahan No. 1 tanggal 1 Juni 1976 dan ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat - Selatan dengan Surat Keputusan Perkara Perdata No.
298/1976 tanggal 9 Juni 1976. Ketua umum kedua : Drs. Sasanasurya (Khoe Soe Khiam)., Majalah bulanan Tri Budaya (terbit hingga 145 nomor, Pebruari 1966) Ketua umum ketiga : Drs. Aggie Tjetje, SH., SS.,Ketua umum keempat : Bhagyadewa Sidharta., Ketua umum kelima : Drs. Aggie Tjetje, SH., SS., Ketua umum sekarang : Dr. Danny Wiradharma, SH.
Tanggal 14 Mei 1967 berdirinya PTITD (Perhimpunan Tempat Ibadat Tri Dharma) se-Jawa Timur di Lawang dengan ketuanya adalah Ong Kie Tjay. Kemudian tahun 1969 berdirinya PTITD se-Indonesia dengan ketua pertamanya adalah Ong Kie Tjay sedangkan ketuanya yang sekarang adalah Ongkoprawiro. GTI membentuk Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia di Jakarta dengan ketuanya adalah Sasanaputera Satyadharma. PTITD membentuk Majelis Rohaniawan Tri Dharma se-Indonesia51 di Surabaya dengan ketuanya adalah Ong Kie Tjay.
Tanggal 17 Desember 1977 Berdirinya Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia (Majelis Tridharma Federasi) di Lawang, Jawa Timur, yang merupakan federasi dari 2 (dua) Majelis Tridharma dari Jakarta dan Surabaya. Utusan Jakarta diwakili oleh Sasanaputera Satyadharma (ketua delegasi) dan 2 orang anggota yaitu Kittinanda dan Toto Muryanto.
Sedangkan utusan Surabaya diwakili oleh S.W. Tenggara (ketua delegasi) dan 10 orang anggota. Ketua umumnya adalah Ong Kie Tjay (1977 - 1979). Organisasi ini kemudian dibubarkan pada tanggal 5 Agustus 1979.
Tanggal 31 Desember 1978 disahkannya Anggaran Dasar Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia (Martrisia) di Lawang dan ditandatangani oleh :
S.W. Tenggara (Surabaya) S. Wibisana (Surabaya)
51M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 11
33 Sasanaputera Satyadharma (Jakarta) Prajnadhassa Supardjo (Jakarta)
Tanggal 22 September 1979 berdirinya MARTRISIA (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia) di Lawang, Jawa Timur,52 yang merupakan peleburan (fusi) 2 (dua) Majelis Tridharma dari Jakarta dan Surabaya untuk menyesuaikan diri dengan terbentuknya WALUBI sebagai Wadah Tunggal. Ketua umum pertamanya adalah Ong Kie Tjay (1979 - 1980) dan ketua umum keduanya adalah Ongko Prawiro (1980 - sekarang)
Tahun 1983 Hari Raya Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasonal (Tahun Buddhis 2527) dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 3/1983.
Tanggal 31 Juli 1997 Martrisia Komda DKI dan Jawa Barat memisahkan diri dari Martrisia Pusat.
Tanggal 3 Januari 1999 berdirinya Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia di Cipanas dengan susunan pengurus (periode 1999 - 2004) :
- Ketua Dewan Pandita adalah Maha Pandita Sasanaputera Satyadharma.
- Ketua Dewan Pertimbangan adalah Maha Pandita Kittinanda.
- Pengurus Pusat Ketua umum adalah Maha Pandita Bhagyadewa Sidharta dan Sekretaris jenderal adalah Pandita Utama Gunananda Djajaputera, BA.
Tahun 1999 berdirinya Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) di Jakarta dengan Sekjen Bhiksu Prajnavira. KASI merupakan badan federasi Sangha-Sangha dan beranggotakan : Sangha Agung Indonesia (SAGIN), Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia.
52M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 13
34
Tahun 2000 Pencabutan atas Inpres yang membatasi Adat Istiadat, Tradisi dan Kebudayaan Cina. Dilanjutkan tahun 2001 Imlek ditetapkan sebagai hari libur fakultatif.
Dan tahun 2002 Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Tridharma sebagai satu organ kesatuan hanya ada di Indonesia. Tridharma tidak pernah mempunyai hubungan ke negara lain. Tridharma lahir karena dahsyatnya misi-misi Agama Nasrani yang berorientasi menyedot Umat Buddha keturunan Tionghoa pada akhir abad 19.
Kwee Tek Hoay mendirikan Sam Kauw Hwee setelah Tiong Hoa Hwee Koan gagal memelihara dan mengembangkan ajaran Khong Hu Cu dan Beliau menganggap Khong Kauw Hwee yang didirikan di Solo pada tahun 1918 dan di kota-kota lain kurang memasyarakat atau kurang memberikan harapan.
Ong Kie Tjay membentuk Tempat Ibadat Tri Dharma karena klenteng-klenteng di Jawa Timur terancam punah sebagai akibat dari persepsi yang kurang lengkap dari Penguasa Perang Daerah terhadap klenteng yang dianggapnya sebagai Lembaga Kecinaan yang non agama pasca G30S/PKI tahun 1965.