SEJARAH DAN TOKOH
B. Tokoh Kwee Tek Hoay
1. Sebagai sastrawan dan seniman
Kwee Tek Hoay juga ternyata seorang pecinta musik ia juga mempunyai seperangkat alat musik tradisional seperti kecapi, gambang, suling, dan piano. Dalam waktu senggangnya ia mengarang lagu yang mengaransir lagu tersebut dengan piano yang terdapat di rumahnya di Cicurug. Kegemarannya menyanyi membuat banyak teman datang berkumpul. Tidak sedikit lagu yang dikarangnya, salah satu diantaranya yang sekarang masih dinyanyikan oleh umat Buddha Tridharma setiap kebaktian adalah lagu Tridharma Gita.
Pada masa mudanya Kwee Tek Hoay juga gemar bermain sandiwara. Pada tahun 1926 hingga 1930 ia memimpin kelompok sandiwara Miss Intan yang cukup terkenal pada masa itu. Perkumpulan sandiwara ini sering berkeliling di kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kebanyakan judul diambil dari novel Kwee Tek Hoay seperti Drama Gunung Merapi, Drama Dari Krakatau, Drama Di Boven Digoel Dan Boenga Roos Dari Tjikembang. Novel-novel tersebut juga sering dimainkan oleh Opera Dardanella Mr. Pedro dengan artis/aktor seperti Miss Dja, Tan Tjeng Bok dan Andjas Asmara.
Disamping itu Kwee Tek Hoay juga produktif dalam membuat syair-syair dan puisi. Banyak dimuat dalam majalah Panorama. Pernah pula Kwee Tek Hoay
37
menerbitkan buku kumpulan syair Melayu yang disuntingnya sendiri yang berjudul Bouquet Panorama. Di dalamnya terdapat syair para pengarang ternama yang ia terjemahkan dalam bahasa Melayu.
Selama lebih dari 20 tahun, hasil karya sendiri maupun terjemahan atau saduran yang dihasilkan mencapai lebih 100 judul yang berbeda tema mulai dari agama (Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, Hinduisme, Brahmaisme, Kristen, Islam dan Theosofie), Filsafat (Omar Khayam, Rabidranat Tagore, Bhagawat Gita), Drama, Hikayat Kuno( Yunani, India, Cina), Ilmu Gaib dan mistik, Puisi, Sajak, Syair, Novel, Roman Cerita Jenaka, Musik, Sosial Budaya. Hingga tak heran bila Kwee Tek Hoay dijuluki Pengarang Serba Bisa (All Round Writer).
Artikelnya dalam Moestika Romans diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Prof. Lea S. William, Chairman Dept. Of Asian History, Brown University, Rhode Island yang diterbitkan sebagai buku dengan judul The Origins Of The Modem Chinese Movement In Indonesia oleh Cornell University, South East Asia Program, Modern Indonesia Project Translation Series, Ithaka New York.
Pada tanggal 7 November 2011, sesuai dengan KEPPRES R.I. NO. 115 /TK/TAHUN 2011 Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi tinggi kepada Kwee Tek Hoay dengan memberikan Piagam Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma atau Pahlawan Sastrawan Melayu atas karya-karyanya yang sangat berguna untuk bangsa Indonesia. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden SBY kepada salah satu keturunan Kwee Tek Hoay di Istana Negara dalam rangka menyambut Hari Pahlawan (10 November)54
54“Pengharagaan Budaya tertinggi,” Kompas, 8 November 2011, h. 1
38
Dalam usia senja, Kwee Tek Hoay mengidap penyakit diabetes melitus (gula), ia mencoba mengatasinya dengan banyak berolahraga jalan kaki setiap pagi dan sering memakan tumbuh-tumbuhan obat yang ditanam di halaman rumahnya.
Pada masa-masa setelah Perang Dunia II, keadaan dan situasi masih kacau sehingga tidak cukup aman bagi kebanyakan orang. Kwee Tek Hoay tetap ingin tinggal di Cicurug karena mengkhawatirkan buku-buku hasil karyanya, percetakan dan perpustakaan akan dihancurkan oleh perampok/perusuh.
Namun ia membiarkan istrinya Oey Hiang Nio hijrah ke Jakarta sebagai tempat yang lebih aman pada saat itu. Jepang sudah kalah namun masih terjadi pemberontakan fisik dimana-mana. Para pemberontak bergerilya masuk ke hutan dan menteror penduduk setempat dengan merampok. Kejadian ini juga menimpa rumah tinggal Kwee Tek Hoay di Cicurug. Ia yang tinggal bersama seorang pembantu laki-laki dan seorang pembantu wanita sebagai tukang masak, ikut dalam ronda kampung bersama dengan penduduk setempat. Kerapkali ia tidak beristirahat dan mengabaikan kesehatannya.
Pada suatu pagi ketika orang-orang desa seperti biasanya mengambil air dari sungai dan melewati rumah Kwee Tek Hoay, seseorang menemukan Kwee Tek Hoay sedang tergeletak di halaman rumah. Pada saat itu ia masih hidup namun seluruh tubuhnya dingin. Diusahakan mencari dokter di Cicurug namun tidak berhasil, akhirnya datang seorang dokter dari Bogor namun nyawa Kwee Tek Hoay tidak tertolong lagi. Kwee Tek Hoay meninggal pada tanggal 4 Juli 1952. Tiada pesan terakhir yang sempat diucapkannya, yang ada hanya sepucuk surat berisi pesan terakhir untuk putri sulung-nya Kwee Yat Nio. Sebagian besar buku-buku yang ditinggalkannya dapat diselamatkan dan dibawa ke Jakarta.
39
Kwee Tek Hoay diremasi secara tradisional dengan menggunakan kayu bakar di Krematorium Pluit / Muara Karang, Jakarta, krematorium yang didirikan berdasarkan gagasannya sendiri dengan mendirikan Yayasan Sham San Bumi. Hari itu tanggal 6 Juli 1952 bertepatan dengan hari raya Asadha (Buddhisme), abu jenazahnya dibuang ke laut pada keesokan harinya.
Pandangan Kwee Tek Hoay tentang Tridharma sebagai aktivis / umat Tridharma, sudah sepatutnya mengetahui buat pemikiran dan cita-cita Kwee Tek Hoay tentang Tridharma. Dalam karya-karyanya, Kwee Tek Hoay begitu banyak berbicara tentang Tridharma / Sam Kauw. Berikut beberapa kutipan dari Kwee Tek Hoay tentang Sam Kauw.
Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Februari 1939) :
"Itoe Sam Kauw akan mendjadi satoe philosofie agama jang paling lengkep dan memberi faedah besar bagi manoesia, teroetama bagi orang Tionghoea jang leloehornja soedah kenal itoetiga peladjaran sadari riboen taon laloe"
Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Agustus 1936) :
Apatah betoel Sam Kauw Hwe satoe pakoempoelan "Gado gado"?
"Bahoea sabagian besar dari orang jang masih pegang tetep Agama Tionghoa dalam praktijk ada memelok Sam Kauw, kerna ini Tiga Agama sadari banjak abad yang laloe soedah tergaboeng mendjadi satoe dalembatin dan panghidoepan orang Tionghoa.
Kita sendiri anggep tidak djelek kalo satoe Hoed Kauw Hwe meloeloe perhatiken agama Buddha dan satoe Khong Kauw Hwe tida bitjaraken laen dari agama Khong Tjoe...begitu juga satoe To Kauw Hwe perhatiken agama Too saja....
Kwee Tek Hoay (Sam Kauw Gwat Po Edisi Februari 1939) :
Tapi ia orang tida haroes mentjelah pada Sam Kauw Hwe tjoemah lantaran ini perkoempoelan soedah perhatiken sari dari Tiga Agama jang soedah tergabung dalem batin dan panghidoepan Tionghoa. Sam Kauw Hwe ada pandang seperti soedara dan ingin bekerdja sama sama dengan sasoeatoe pakoempoelan atawa pergerakan jang perhatikan sadja sotoe satoe dari itu Tiga Agama sendirian.
Djoega kita tidak ingin bermoesoehan pada laen laen agama jang bukan Sam Kauw kaloe di laen fihak tida ada disiarken apa apa jang bersifat menjerang atawa merendahkan pada Khong Kauw, Hoed Kauw dan Too Kauw, Dunia ada tjoekoep lebar aken masing masing agama bekerdja dalem kalangannja sendiri"
40 2. Sebagai Sosialis dan rohaniawan
Di bidang sosial, Kwee Tek Hoay aktif menjadi Ketua dan pengurus beberapa perkumpulan sosial, seperti Perkumpulan Penolong Kematian yang kemudian merintis pendirian krematorium di Pluit / Muara Karang, Jakarta. Ia juga merupakan salah seorang pendiri dari organisasi Tiong Hoa Hwee Koan – Bogor pada tahun 1912.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa jasa Kwee Tek Hoay dalam kebangkitan agama Buddha di Indonesia setelah mengalami masa tenggelamnya sangatlah besar.
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, agama Buddha di bumi nusantara ini bisa dikatakan sunyi senyap. Kwee Tek Hoay lah orang Indonesia pertama yang menjadi pelopor kebangkitan Agama Buddha yang pertama di Indonesia, khususnya Tridharma (Buddhisme, Confucianisme dan Taoisme). Terbukti dari karya-karya buku dan majalah yang diterbitkan Kwee Tek Hoay sejak tahun 1920, serta mendirikan organisasi Sam Kauw Hwee di tahun 1930an. Maka dari itu selain dikenal sebagai pelopor kebangkitan Agama Buddha yang pertama di Indonesia, beliau juga dikenal sebagai Bapak Tridharma Indonesia.
Pada tanggal 24 Maret 1934, Kwee Tek Hoay bersama Yosias Van Dienst (Director General International Buddhist Mission Bagian Java) mengundang Bikkhu Narada dari Sri Langka. Bikkhu Narada memberikan ceramah-ceramah di berbagai tempat di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan dikoordinir oleh Sam Kauw Hwee di masing-masing daerah yang bersangkutan.
Itu semua tidak lepas dari jasa Kwee Tek Hoay yang mempelopori dan memotori Sam Kauw Hwee di Indonesia. Bahkan organisasi Sam Kauw Hwee pun menjadi tempat berlabuh The Boan An (Sukong Asinjinarakita) untuk berkarya sebelum ditahbiskan menjadi Biksu. The Boan An sempat menjadi Ketua Gabungan Sam
41
Kauw Indonesia. Maka dari itu peran Sam Kauw Hwee dan Kwee Tek Hoay tidak bisa dilupakan dari kebangkitan Agama Buddha di Indonesia.
Pada tanggal 5 Agustus 2012 Kwee Tek Hoay mendapatkan piagam penghargaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Buddha sebagai Pelopor / Pengembang Agama Buddha di Indonesia dan sebagai Bapak Tridharma Indonesia.
Atas jasa yang sangat besar di bidang sastra, sosial dan agama, pada tanggal 16 September 2012, nama Kwee Tek Hoay diresmikan menjadi nama salah satu kawasan terkenal di Jakarta yaitu kawasan Pecinan / Glodok dan sekitarnya. Sekarang nama kawasan tersebut telah resmi menjadi kawasan China Town Kwee Tek Hoay yang diresmikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu yaitu Fauzi Bowo.
Kwee Tek Hoay yang hidup dalam masyarakat peranakan Tionghoa sejak kecil telah dipengaruhi oleh kebudayaan campuran yaitu kebudayaan Pribumi, Tionghoa dan Barat. Pada awalnya karena pasangnya pergerakan Tionghoa di Hindia Belanda, Kwee Tek Hoay rupanya lebih terpengaruh oleh Khong Hu Cu tidaklah mengherankan ketika orang ramai memperdebatkan baik buruknya ajaran Khong Hu Cu yang disalahartikan. Yang diutamakan hanya konsep dari Hauw55 padahal menurut Kwee Tek Hoay itu bukanlah inti ajaran Khong Hu Cu. Kwee Tek Hoay berpendapat bahwa para pemimpin Khong Kauw Hwee56 kurang memiliki pengetahuan tentang Khong Hu Cu dan cara Khong Kauw Hwee menyebarkan ajaran Khong Hu Cu juga sudah ketinggalan jaman.
Akan tetapi lama kelamaan Kwee Tek Hoay yang banyak membaca dan menulis, mulai lebih memperluas horisonnya. Kwee Tek Hoay tertarik pada Buddhisme dan Taoisme. Bahkan Hinduisme pun telah meninggalkan jejak dalam pikiran Kwee Tek
55 Hauw adalah konsep bakti kepada orang tua
56 Pada masa itu sebutan ini adalah sebutan untuk perkumpulan agama Khong Hu Cu
42
Hoay. Dalam karya sastranya seperti novelnya yang terkenal Kembang Rooss Dari Tjikembang (yang ditulis pada tahun 1927) dan novelnya yang terbaik Drama Dari Boven Digoel (yang ditulis sejak 1928 dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada 1930an), unsur kebatinan dan reinkarnasi sangat menonjol.
Karena pengaruh kebudayaan yang beragam, ditambah dengan kegagalan Khong Kauw Hwee akhirnya Kwee Tek Hoay mencoba menyebarkan Sam Kauw atau tiga agama dengan sekaligus yaitu Khong Hu Cu, Buddhisme dan Taoisme menurut Kwee Tek Hoay ketiga agama itu adalah agama Tionghoa57 tidaklah mungkin jikalau orang hanya menganut satu saja karena dalam kepercayaan orang Tionghoa telah termasuk unsur-unsur dari ketiga agama itu.
Dari kata Kwee Tek Hoay sendiri:58
Sebetulnya kepercayaan orang Tionghua kebanyakan adalah racikan atau gabungan dari tiga agama itu hingga tiada banyak terdapat konfusianisme taoisme dan buddhisme yang cuma pegang 1 agama saja.
Kwee Tek Hoay juga mencoba menjelaskan asal usus pencampuran ini.59
Ini sifat campur aduk bukan lantaran Tionghua tidak fanatik hanya karena pelajaran dari 3 agama itu tidak terlalu bertentangan satu sama lain sedangkan pendiri Buddha atau Tao tidak melarang penganutnya memuja abu leluhur dan pemuka Khong Hu Cu tidak ada pantangan untuk memuja makhluk makhluk suci dalam kelenteng kelenteng
Campuran tiga agama ini barangkali dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan latar belakang budaya orang orang Tionghoa di Asia Tenggara. Para leluhur mereka datang dari Tiongkok Selatan dimana ketiga agama itu diterima sebagai satu. Dr. C.K Yang, berargumentasi bahwa hal ini disebabkan oleh sifat kepercayaan keagamaan Tionghoa yang politeistik dan eklektik.
Keeksklusifan menyembah yang ditekankan disini adalah sifat antar iman politeisme di Tiongkok yang cenderung mengaburkan batas tiap agama. Akan tetapi
57 Kwee Tek Hoay “Agama Tionghoa” (TjiTjoeroeg: Mustika 1937), hal. 1
58 Kwee Tek Hoay “Agama Tionghoa” hal.1
59 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “ (Jakarta: Yayasan Bakti. 2010) hal. 34
43
tetap cara doktrin ketiga agama yang ini sukar dipadukan. Oleh karena itu ketika ia mendirikan Sam Kau Hwee, dalam majalah yang berjudul Sam Kauw Gwat Po, ia menulis bahwa mereka tidak bermaksud menggambungkan tiga agama menjadi satu tetapi setiap agamanya akan mempertahankan identitasnya masing masing60. Walaupun demikian karena mayoritas orang Tionghua di indonesia menganggap ketiga agama itu telah tercampur jadilah logis kalau ketiga agama itu di jadikan satu.
Sam Kauw dirikan oleh Kwee Tek Hoay bersama kawan kawannya pada tahun 1934 bersamaan dengan terbitnya sebuah majalah bulanan Tiga Agama yang bernama Sam Kauw Gwat Po. Ia menjadi pendiri sekaligus merangkap ketua Batavia Buddissme Asociation.
Walaupun demikian Sam Kauw yang dianjurkan oleh Kelompok Kwee Tek Hoay akhirnya mencoba menyatupadukan ketiga agama. Kwee Tek Hoay mencoba mencari aspek-aspek yang sama dari ketiga agama ini untuk membuktikan bahwa tujuan ketiga agama itu adalah serupa “Misalnya ia mengatakan bahwa ketiga agama itu akhirnya membawa orang pada keadaan kebahagiaan sempurna. Taoime menunjukkan jalan kepada manusia untuk manunggal dengan sumber utama bernama Too (Tao atau Dao). Buddisme memberitakan bagaimana seseorang dapat manunggal dengan Wet (hukum) Kebenaran atau Dharma dan dengan demikian mencapai Nirwana. Konfusianisme menunjukkan bagaimana seseorang dapat hidup menurut watak asli dan dengan demikian mencapai Seng Djin (Manusia Sempurna). Kwee Tek Hoay akhirnya mengatakan bahwa walaupun metode yang berbeda akan tetapi tujuannya adalah sama.61
Untuk menarik lebih banyak pengikut Kwee Tek Hoay mencoba menggabungkan adat istiadat orang Tionghua di Indonesia ke dalam Sam Kauw itu. Menurut Kwee
60 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 35
61 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 35
44
Tek Hoay, Sam Kauw adalah agama Tionghoa mempunyai banyak titik persamaan dengan agama lain. Kwee Tek Hoay berpendapat bahwa Sam Kauw mengakui adanya Tuhan yang sering disebut dengan Thian atau Thie Kong. Menurut Kwee Tek Hoay seorang Tionghua setiap bulan 7 tanggal 9 senantiasa melakukan sembahyang kepada Tuhan. Yang disembahnya adalah langit yang besar dan luas tidak terbatas. “Karena cuma langit sendiri yang bisa melukiskan atau wakilkan kebesaran Tuhan”.
Kwee Tek Hoay mengatakan yang dipuja orang Thionghoa adalah Thian yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Dan Thian ini merupakan hukum alam, sama dengan Dharma dalam Buddhisme, Wet kebenaran dalam Tao dan Thian Too dalam Khong Hu Cu. Sedangkan pemujaan pada tepekong atau dewa-dewi menurutnya tidak bertentangan dengan pemujaan terhadap Tuhan yang Maha Besar. Ini disebabkan taopekong atau dewa-dewi adalah pembantu Tuhan yang berkuasa pada bidangnya masing-masing. Mereka itu adalah makhluk suci yang mengabdi juga kepada Tuhan.
Kwee Tek Hoay mengungkap mengumpamakan taopekong-taopekong di kelenteng itu sebagai ambtenar-ambtenar raja. Menghormati para ambtenaar tidak berarti bahwa rakyat tidak menghormati raja. Menurut Kwee Tek Hoay, taopekong-taopekong atau malaikat-malaikat itu adalah wakil tuhan yang Maha Besar. 62
Selanjutnya Kwee Tek Hoay ingin memberikan arti yang rasional bagi berbagai kebiasaan orang Tionghoa di Indonesia. Ia berpendapat bahwa dengan penyebaran ajaran Sam Kauw orang Tionghoa di Indonesia akan memperoleh kemajuan batin ketentraman hidup. Akan tetapi yang juga penting bagi Kwee Tek Hoay adalah supaya orang Tionghoa bisa mengenal lebih baik pada agama dari leluhur sendiri.
Dengan kata lain Kwee Tek Hoay ingin peranakan Tionghoa mempertahankan identitas Tionghoa di Hindia Belanda.
62Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 35
45
Pada saat itu Sam Kauw Hwee bukan saja menerbitkan majalah dan buku untuk menyebarkan ajarannya, tetapi ia juga mengadakan ceramah-ceramah dan perayaan.
Ceramah-ceramah itu diadakan pada waktu tertentu setiap bulannya. Tempatnya ialah di kelenteng Kwan Im di Mangga Besar, Jakarta. Sedangkan perayaan-perayaan tahunan yang diadakan adalah Waisak atau Asadha. Kedua perayaan itu sebetulnya adalah perayaan Agama Buddha.
Para pengikut Sam Kauw umumnya adalah para peranakan Tionghoa banyak artis peranakan pada jaman sebelum Perang Dunia II juga turut aktif dalam perkumpulan tersebut. Sam Kauw terus berkembang mula-mula di Jawa kemudian ke luar Jawa.
Sam Kauw Hwee berkembang dan maju mengalahkan Kong Kauw Hwee. Pada tahun 1955, ada lebih dari 30 Sam Kauw Hwee di seluruh Indonesia tujuan organisasi ini adalah mempersatukan, menyebarkan dan mempraktikan Tridharma.
Meskipun demikian ajaran keagamaan yang diajarkan di berbagai ceramah, Sam Kauw tidak dapat dikatakan membentuk satu iman atau pandangan keagamaan tunggal. Dr. D.E. Willmott berargumen bahwa “ajaran reinkarnasi tidak diselaraskan dengan pemujaan leluhur dan cara-cara hidup yang agak berbeda yang disiratkan dalam Kesalehan Khong Hu Cu, Peninggalan Keduniawian Buddhisme dan Kepasifan Taoisme, dianjurkan secara terpisah atau bersama. Banyak anggota dari penceramah terutama merupakan penganut salah satu dari ketiga agama itu sambil meminjam gagasan yang sesuai dari dua agama lainnya.
Kwee Tek Hoay sebagai pelopor Sam Kauw itu telah aktif sampai akhir hayatnya ia tidak pernah absen dalam pertemuan-pertemuan Sam Kauw. Juga pada waktu tidak aman Kwee Tek Hoay yang tinggal di Cicurug dan berusia lanjut tetap menghadiri pertemuan-pertemuan tersebut di Jakarta. Ketika perayaan Waisak pada 1951 yaitu beberapa waktu sebelum Kwee Tek Hoay meninggal, ia masih hadir dan
46
menerjemahan pidato E. Power dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan untuk perayaan hari Ashada ia juga sudah mempersiapkan ceramahnya akan tetapi nasib Kwee Tek Hoay kurang baik rumahnya di Cicurug digarong berkali-kali dan akhirnya dia sendiri juga ditemukan meninggal di halaman rumahnya. Itu terjadi pada tanggal 15 juli 1951. Jenasahnya kemudian dibakar menurut keinginannya sendiri. Konon penganjur Tridharma ini adalah orang Tionghoa yang mempelopori pembakaran jenazah di Jakarta.63
Meskipun Kwee Tek Hoay sudah tiada lagi tetapi perkumpulan Sam Kauw yang kemudian di Indonesia menjadi Tridharma pada tahun 1960an tetap bertahan sampai masa kini.
63 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 38
47 BAB IV