Ali, Matius, Filsafat Timur, Karang Mulya:Sanggar LUXOR, 2013.
Ali, Mukhti.H.A, Agama-agama di Dunia.Yogyakarta:IAIN Sunan Kalijaga Press.1988.
---,Asal Usul Agama. Yogyakarta: Nida, 1969.
Armstrong, Karen, Compassion, Jakarta: Mizan, 2013.
Chau, Chen Ming, Mengenal beberapa aspek filsafat Konfusianisme Taoisme dan Buddhisme, Jakarta: Akademi Buddhis Nalanda , 1986.
Djuntak, HT. (Alih Bahasa), Kitab-kitab Suci Tri Dharma, Semarang: Litbang Matrisia Jateng, 2010.
Hadikusuma, Hilman, Antropologi Agama. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1993.
Ikeda, Daisaku,Buddhisme:Falsafah Hidup. Jakarta: PT Indira. 1988.
Lubis, M. Ridwan Agama dalam Perbincangan Sosiologi. Bandung: Citapustaka. 2010.
Mahatera,Narada. Buddha dan Ajaranya (terjemahan).Kuala Lumpur: Misionary society ed.
Ke-3. 1977.
--- Sang Buddha dan Ajaranya.Jakarta: Yayasan Dharmadipa Arama 1994 . Majalah Hikmah Tridharma, Yayasan BAKTI Jakarta 2003-2005.
Paramitha, Yasa Singgih, Saatnya Yang Muda di Depan,Jakarta:Yayasan Sutra Bakti, 2011.
Singgih, D.S. Marga “ Tridharma Selayang Pandang” cet: ketujuh, Jakarta: Yayasan BAKTI 2011 .
--- “Tridharma The way Of life” Jakarta: Yayasan BAKTI 2010.
--- “Perkawinan dan Keluarga Tridharma” Jakarta:Yayasan BAKTI 2011.
--- “Kematian Bukan Akir Kehidupan” Jakarta: Yayasan BAKTI 2009.
--- dkk. “Kisah Para Suci” cet: Kedua, Jakarta: Yayasan BAKTI 2011.
--- “Avalokitesvara (Kuan Im)” Jakarta: Yayasan BAKTI 1988.
--- “Tridharma Suatu Pengantar” Jakarta: Yayasan BAKTI 1999.
--- “25 Tahun Perkawinan” Jakarta: April 2010.
Satyadharma, Sasanaputera, Genta Tridharma, Jakarta:Yayasan BAKTI 1999.
67
Satyadharma, Sasanaputera M.P, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, Jakarta: Yayasan Yasodhara Puteri 2004
Subalaratano, Bhikkhu, Pengantar Vinaya.Jakarta:Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda.
1998.
Tanggok, Ikhsan. Mengenal Lebih Dekat Agama Konghuchu Di Indonesia. Jakarta: Pelita Kebajikan. 2005.
Tek Hoay, Kwee “Agama Tionghoa” Tjitjoeroeg: Moestika . 1937.
Vesma, Dhamma Djajadi Ruslim “ Hari-Hari Suci Tridharma” Jakarta: Yayasan BAKTI 2005.
Lampiran-Lampiran Foto
Bersama Bapak Marga Singgih Di Klenteng Hok Tek Tjen Sin Kebayoran Lama
Di Depan Klenteng Hok Tek Tjen Sin Di Klenteng Hok Tek Tjen Sin
Piagam Penghargaan Dari SBY kepada Kwee Tek Hoay
Karya Kwee tek Hoay Memplopori Tridharma Indonesia (Sam Kauw Gwat Po)
Kelenteng Kuan Im ( Wihara Sobhita ), Cisauk, Serpong, Tangerang.
Karya Sastra Kwee Tek Hoay
Penjelasan Langsung Dari Bapak Jo Tentang Tridharma Indonesia
Tanda Tangan Buku ditulis Langsung Bapak Jo sebagai Kenang-kenangan di Bogor
Bapak Tridharma Indonesia Kwee Tek Hoay
Transkrip Wawancara Dengan Bapak D.S Marga Singgih
Pertanyaan Jawaban
Pak Apa yang Dimaksud dengan Tridharma , dan sejarah Tridharma?
1. Tridharma (Sam Kauw / San Jiao) sebagai agama/ajaran yang di imani oleh kebanyakan orang Tionghoa sudah ada sejak lebih dari 1.000 tahun lalu di Zhong Guo(Tiongkok).
Yang mana agama Buddha masuk ke Zhong Guo (Tiongkok) sejak thn 67 Masehi lalu berakulturasi & ber adaptasi sehingga menjadi Buddhisme dng ciri khas Zhong Guo/Tiongkok (Mahayana Zhong Guo/Tiongkok) yang memang banyak terpengaruh dengan ajaran Kong Zi / Khong Hu Cu & Lao Zi.
2. Tridharma (Sam Kauw / San Jiao) itu sendiri juga memberikan kontribusi yang besar terhadap keberadaan Agama Tionghoa (Hua Kauw / Hoa Jiao) yang memang sudah ada & merupakan Agama Rakyat yang ber akar pada kepercayaan/keimanan dari Agama Tionghoa itu sendiri + Kong Zi / Khong Hu Cu + Lao Zi / Tao + Mahayana Buddhis Zhong Guo/Tiongkok. Di Indonesia jarang sekali ada kelengteng yang unsur nya hanya Kong Zi / Khong Hu Cu saja atau Tao saja atau Buddha saja. Pasti ketiga unsur tsb masuk dan bahkan ada pula Dewa Lokal sebagai Keaifan Lokal
yang di akomodasi di kelenteng tsb.
4. Jadi memang kelenteng tidak bisa di klaim hanya sebagai tempat ibadah agama Kong Zi / Khong Hu Cu saja atau agama Tao saja atau agama Buddha saja. Tapi kalo di bilang bahwa kelenteng adalah Tempat Ibadah Agama Tionghoa (Hua kauw / Hoa Jiao) atau Agama Tridharma maka itu adalah hal yang paling pas/sesuai.
5. Sam Kauw / Tridharma sebagai Organisasi sudah mulai di pelopori pada tahun 1920 an oleh Kwee Tek Hoay dan kemudian KTH mendirikan Sam kauw Hwee pada mei 1934 yang mana juga kemudian KTH mempelopori terbit nya Majalah Sam kauw Gwat Po (bukti dokumentasi / arsip ada lengkap). Jadi jauh sebelon Negara Indonesia merdeka & berdiri maka Organisasi Sam Kauw Hwee itu sdh ada.
6. Sam kauw Hwee pula yang pertama kali mengundang Bhikku Narada dari Srilangka utk datang ke Pulau jawa pada thn 1934 trus melakukan Penanaman Pohon Bodhi di Candi Borobudur, Jawa Tengah.
7. Setelah Indonesia merdeka pada thn 1945 maka Sam kauw Hwee juga sdh bernaung di bawah Dirjen Hindu Bali, Depag sampai kemudian berganti nama menjadi Gabungan Sam kauw Indonesia trus menjadi Gabungan Tridharma Indonesia.
8. Setelah peristiwa G 30 S PKI thn 1965 maka
Presiden Suharto / Rejim Orde Baru pada tahun 1967 terbit lah Inpres No. 14 yang menyatakan melarang segala bentuk adat istiadat dan Agama Cina. Trus yg di larang itu adalah Agama Cina / Agama Tionghoa / Hua Kauw / Hoa Jiao. Sedangkan Agama Khong Hu Cu itu tidak dilarang dan tetap ada walau pun perkembangannya tidak pesat karena berada dalam pengawasan Orde Baru
Jelas bhw yang dilarang itu bukan lah Agama Khong Hu Cu karena pada kenyataan nya selama Rezim Orde Baru / Suharto berkuasa bahwa Kegiatan Agama Khong Hu Cu itu tidak dilarang...bahwa Matakin (Majelis Tinggi Agama Khong Hu Cu Indonesia) / Makin (Majelis Agama Khong Hu Cu Indonesia) tetap ada...dan Litang (Tempat Ibadah Umat Khong Hu Cu) juga tetep ada... Selama masa Rezim Orde aru itu nama tempat ibadah agama Khong Hu Cu oleh organisasi Matakin selalu di sebut Litang dan bukan Kelenteng.
9. Inpres No. 14 / 1967 tersebut ternyata juga ber imbas kepada semua Kelenteng di seluruh Indonesia yang mana efek nya di tiap daerah berbeda beda tergantung seberapa jauh / besar peranan & kedekatan pengurus kelenteng / tokoh Tionghoa kepada Pemda & Penguasa setempat. Ada yang mendapat tekanan amat sangat keras... Ada juga yang agak keras... Ada juga yang tidak terlalu keras...
Di Jakarta, Jawa Barat, Banten karena dekat
dengan kekuasaan maka mendapat tekanan amat sangat keras sehingga Intervensi Pemerintah (Militer) juga sangat dalam sampe sampe mengatur pula ttg Penempatan Rupang (Patung) Buddha di depan altar utama Dewa/Dewi/Kongco/Makco/Sin Beng yang memang seharusnya tidak begitu tapi karena faktor paksaan ya mau tdk mau pengurus ikut termasuk mengganti nama Dewa Dewi dengan Style sansekerta... Kondisi Sosial Politik &
Keamanan pada saat itu memang begitu.
Pada thn 1968 an, GTI (Gabungan Tridharma Indonesia) membentuk Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia utk membina Cabang Cabang Tridharma yang mendirikan Wihara Tridharma baru dengan wujud bangunan baru (bukan fisik kelenteng) utk pembinaan kebaktian umat secara rutin.
Namun Sebagian besar kelenteng di Jakarta, Jawa Barat, Banten memilih utk berdiri sendiri2 dan tidak ber naung di bawah Bendera Tridharma.
10. Di jawa Tengah, jawa Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera kondisi nya juga berbeda beda dan atas jasa Bpk Ong Kie Tjay dari Surabaya maka pada thn 1967 beliau berhasil memberikan penjelasan kepada Penguasa Militer & Sipil agar kelenteng2 tsb ber ganti naa menjadi TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) dan kemudian membentuk induk nya dengan nama PTITD Se Indonesia
(Perhimpunan Tempat Ibadat Tri Dharma se Indonesia). Dan Bpk Ong Kie Tjay juga membentuk MARTRISIA (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia) utk membina kerohanian umat.
11. Setelah Suharto/Rezim Orde Baru tumbang dan Agama Khong Hu Cu mendapatkan kembali hak hak sipil nya. Kemudian Matakin / Makin menyatakan bahwa Tempat Ibadah nya adalah Kelenteng atau kalo yg baru berdiri adalah Kong Miao / Kongcu Bio. Padahal semasa Rezim Orde baru / Suharto yang disebut / di klaim sebagai Tempat Ibadah Agama Khong Hu Cu adalah Litang dan bukan Kelenteng.
Padahal kelenteng2 yang ada di Indonesia itu pasti ber nuansa Agama Tionghoa + Kong Zi / Khong Hu Cu + Lao Zi / Tao + Mahayana Buddhisme.
12. Setiap kelenteng mau ber naung berada di bawah PTITD se Indonesia (Perhimpunan Tempat Ibadah tri Dharma se Indonesia)kah, di Matakin (Majelis Tinggi Agama Khong Hu Cu Indonesia) kah atau di WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) kan atau di Majelis lain nya kah?
Sebenernya ya tergantung pengurus dan umat setempat masing2.
Tidak mau bernaung dimana mana juga adalah HAK dan tidak menjadi masalah, karena bisa
langsung berada di bawah Kementerian Agama.
Bagaimana dengan Legislasi Tridharma Indonesia?
Rekan Syamsul Bahri...
LAMPIRAN INPRES NO 1 tahun 1967
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 1967