SKRIPSI
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR STRESSOR PADA MAHASISWA YANG MELAKSANAKAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DI RSUP HAJI ADAM MALIK,
MEDAN TAHUN 2016
Oleh :
RATHIGKA A/P PALANI 130100475
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
SKRIPSI
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR STRESSOR PADA MAHASISWA YANG MELAKSANAKAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DI RSUP HAJI ADAM MALIK,
MEDAN TAHUN 2016
Hasil skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh :
RATHIGKA A/P PALANI 130100475
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
ABSTRAK
Program pendidikan profesi dokter bersifat sangat menuntut dan memiliki lingkungan yang sangat sarat dengan stres. Terlebih lagi saat menjalani program pendidikan profesi dokter di rumah sakit pendidikan, mahasiswa kedokteran akan menghadapi berbagai faktor yang dapat menimbulkan stressor. Faktor-faktor stressor ini akan dihadapi oleh setiap mahasiswa kedokteran dan masing-masing memiliki potensi dan dampak yang berbeda-beda terhadap tingkat stres.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter FK USU di RSUP HAM, Medan tahun 2016.
Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif dengan rancangan Cross Sectional, yang dilaksanakan di RSUP HAM, Medan mulai bulan September 2016 – November 2016. Sampel penelitian berjumlah 81 orang yang diambil secara simple random sampling. Data hasil penelitian berupa data primer yang diperoleh dari kuesioner yang dibagikan kepada responden. Data kemudian dianalisa dalam bentuk tabel frekuensi dan presentase.
Dari 81 orang responden, tingkat stres yang dialami oleh mahasiswa kedokteran rata-rata merupakan stres sedang, kecuali pada faktor stressor akademik dan stressor motivasi mengalami tingkat stres berat. Sebahagian besar mahasiswa kedokteran dengan frekuensi di mana 50 mahasiswa (61.7%) mengalami stressor akademik. Sebahagian yang lain dengan frekuensi di mana mana 45 mahasiswa (55.6%) mengalami stressor intrapersonal dan interpersonal, 39 mahasiswa (48.1%) mengalami stressor proses belajar mangajar dan 38 mahasiswa (46.9) mengalami stressor sosial. Mahasiswa yang lainnya mengalami stressor motivasi dengan frekuensi di mana 39 mahasiswa (48.1%) dan mengalami stressor kegiatan kelompok dengan frekuensi di mana 43 mahasiswa (53.1%).
Mahasiswa kedokteran paling banyak mengalami stres berat pada faktor stressor akademik dan pada faktor stressor motivasi.
Kata kunci : stres, faktor-faktor stressor, mahasiswa kedokteran, rumah sakit umum pendidikan
ABSTRACT
Medical education courses are very demanding and have a very distressing environment. Moreover, while undergoing medical profession educational programs at teaching hospitals, medical students will face a variety of factors that can cause stress. These stressors will be faced by each medical student and each has different potential and impact on stress levels.
This research was conducted to identify stressors on USU medical school student who is undergoing medical profession educational programs at general hospital centre of HAM, Medan.
A descriptive study with cross sectional approach conducted at the general hospital center of HAM Medan in September to November 2016. The total sample carried out was 81 people who were taken using a simple random sampling method. Data was collected using questionnaires distributed to respondents. The data is then analyzed in the form of frequency tables and percentages.
From the above 81 respondents, the average level of stress experienced by the medical students is a moderate stress, except in academic stressor and in drive and desire stressor experiencing high stress. Large number of medical students in which 50 students (61.7%) experienced academic related stressor. In a proportion of the other which 45 students (55.6%) experienced intrapersonal and interpersonal related stressor, 39 students (48.1%) experiencing teaching and learning related stressor and 38 students (46.9) experiencing social related stressor. Other medical students 39 students (48.1%) experiencing drive and desire related stressor and 43 students (53.1%) experiencing group activities related stressor.
Academic stressors and drive and desire stressor being the major stressor perceived by medical students which experiencing high stress.
Keywords: stress, stressors, medical students, general hospital center of Haji Adam Malik Medan
KATA PENGANTAR
Terima kasih, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, atas berkat dan rahmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini dengan judul “Gambaran Faktor-Faktor Stressor Pada Mahasiswa Yang Melaksanakan Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, Tahun 2016” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelaran sarjana kedokteran di FK USU.
Dalam penyusunan skripsi ini, tentu saja penulis menemukan kesulitan dan hambatan, namun atas bantuan dan dukungan berbagai pihak akhirnya penulisan skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K), selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dosen Pembimbing 1 dan dr. Teuku Bob Haykal, M.Ked (Cardio), Sp.JP selaku Dosen Pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan bimbingan,pengarahan serta saran kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
3. dr. Rusdiana, M.Kes selaku Dosen Penguji 1 dan DR. dr. Devira Zahara, M.Ked(ORL-HNS) Sp THT-KL(K) selaku Dosen Penguji 2, yang telah banyak memberikan komentar yang bermanfaat, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan lebih lengkap.
4. Semua kakak dan abang-abang senior yang sedang melaksanakan program pendidikan profesi dokter FK USU di RSUP HAM, Medan yang sudi bersedia untuk mengisi kuesioner dan memberikan kerjasama sepanjang penelitian dijalankan.
5. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada peneliti selama masa pendidikan.
6. Keluarga tercinta yang senantiasa memberikan dukungan doa, moral dan material serta memberikan semangat dan kata-kata harapan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian ini,teruntuk yang tercinta Ayahanda Palani A/L Pallanisamy dan Ibunda Sheela Devi Muniandy.
7. Sahabat-sahabat (Nandini, Abirami, Aiswarya, Hanithra, Khaavenaa) yang telah memberikan masukan, saran, serta bantuan mulai dari awal penentuan judul, pengumpulan data, analisis, hingga terselesaikannya penelitian ini.
8. Johannes Kevin S selaku teman satu dosen pembimbing yang membantu dan bersama-sama di setiap proses penyelesaian skripsi ini.
9. Semua pihak baik langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan bantuan dalam penulisan skripsi ini.
Kepada semua pihak tersebut, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan selalu membalas semua kebaikan yang selama ini diberikan kepada penulis dan melimpahkan rahmat-Nya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk membuat hasil skripsi ini kedepannya lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi mahasiswa, Fakultas Kedokteran dan masyarakat.
Medan, 06 Desember 2016 Penulis,
(RATHIGKA A/P PALANI) NIM: 130100475
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR SINGKATAN ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
I.1 Latar Belakang ... 1
I.2 Rumusan Masalah ... 3
I.3 Tujuan Penelitian ... 3
I.3.1 Tujuan Umum ... 3
I.3.2 Tujuan Khusus ... 3
I.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Stres ... 5
2.1.1. Definisi ... 5
2.1.2. Jenis-Jenis... 6
2.1.3. Patofisiologi ... 7
2.1.4. Gejala Klinis ... 8
2.2. Stressor ... 9
2.2.1. Definisi ... 9
2.2.2 Sumber ... 9
2.2.3 Faktor- Faktor ... 10
2.3. Stres Pada Mahasiswa Kedokteran ... 11
2.3.1. Prevalensi Stres Pada Mahasiswa ... 11
2.3.2. Penyebab Stres Pada Mahasiswa... 12
BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KONSEP PENELITIAN ... 14
3.1. Kerangka Teori Penelitian... 14
3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 15
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 16
4.1. Rancangan Penelitian ... 16
4.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian... 16
4.2.1. Lokasi Penelitian ... 16
4.2.2. Waktu Penelitian ... 16
4.3. Populasi Dan Sampel ... 16
4.3.1. Populasi Penelitian ... 16
4.3.2. Sampel Penelitian ... 16
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 17
4.4.1 Definisi Operasional ... 17
4.5. Uji Validitas Dan Reliabilitas ... 21
4.6. Pengolahan Dan Analisis Data ... 21
4.6.1 Pengolahan Data ... 21
4.6.2 Analisis Data ... 22
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
5.1. Hasil Penelitian ... 22
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 22
5.1.2. Deskripsi Karekteristik Responden ... 22
5.1.3 Gambaran Faktor-Faktor Stressor ... 23
5.2 Pembahasan ... 26
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 31
6.1 Kesimpulan ... 31
6.2 Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 2.1 Efek Positif Dari Stres ... 8 Tabel 2.1
Tabel 4.1 Table 5.1 Table 5.2
Tabel 5.3
Table 5.4
Table 5.5
Table 5.6
Table 5.7
Efek Negatif Dari Stres ...
Definisi Operasional ...
Distribusi Karekteristik Responden ...
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan Oleh Academic Related Stressor (ARS) / Stressor Akademik..
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh
Interpersonal and Intrapersonal Related Stressor (IRS) / Stressor Interpersonal dan Intrapersonal...
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh
Teaching and Learning Related Stressor(TLRS) /Stressor Proses Belajar Mengajar...
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Social Related Stressor (SRS) /Stressor social...
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Drive
& Desire Related Stressor (DRS) / Stressor Motivasi...
Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Group Activities Related Stressor (GARS) / Stressor Kegiatan Kelompok...
9 17 23
24
24
24
25
25
25
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 3.1 Kerangka teori faktor-faktor stressor ... 14 Gambar 3.2 Kerangka konsep faktor-faktor stressor ... 15
DAFTAR SINGKATAN
Singkatan Penerangan
USU
RSUP HAM FK
WHO
Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Fakultas Kedokteran
World Health Organisation
SPSS Statistical Package for the Social Sciences
ARS Academic Related Stressor
IRS Interpersonal & Intrapersonal Related Stressor TLRS Teaching and Learning Related Stressor
SRS Social Related Stressor
DRS Drive & Desire Related Stressor GARS Group Activities Related Stressor MSSQ
UKM UPM
Medical Student Stressor Questionnaire University Kebangsaan Malaysia
University Putra Malaysia
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2 Lembar Penjelasan Kepada Calon Subyek Penelitian Lampiran 3 Lembar Pernyataan Persetujuan Mengikuti Penelitian (Informed Consent)
Lampiran 4 Kuesioner Medical student stressor questionnare (MSSQ) yang sudah diterjemahkan
Lampiran 5 Kuesioner Medical student stressor questionnare (MSSQ) yang asal Lampiran 6 Validitas Kuesionar (MSSQ) Asal
Lampiran 7 Surat Survei Awal Penelitian
Lampiran 8 Surat Permohonan Ethical Clearance Lampiran 9 Formulir Isian Oleh Peneliti
Lampiran 10 Ethical Clearance Lampiran 11 Surat Izin Penelitian Lampiran 12 Master tabel Lampiran 13 Tabel Frekuensi
Lampiran 14 Log Book Bimbingan Hasil
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.1 Sebuah stressor adalah setiap peristiwa nyata yang dirasakan fisik, sosial, psikologis atau stimulus yang menyebabkan tubuh kita bereaksi atau merespon.2
Mengikuti pendidikan kedokteran tidak terlepas sebagai salah satu stressor yang biasa dialami seseorang. Terdapat beberapa penelitian yang telah menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi selama mengikuti pendidikan kedokteran dapat menyebabkan tekanan mental yang berpengaruh negatif pada fungsi kognitif dan pembelajaran mahasiswa di fakultas kedokteran. Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan tekanan mental dan memiliki dampak negatif pada fungsi kognitif dan pembelajaran mahasiswa di fakultas kedokteran . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental memburuk setelah mahasiswa mulai sekolah kedokteran dan tetap miskin selama pelatihan.3 Jadi, fakultas kedokteran bertanggung jawab untuk memastikan lulusan lulusannya memiliki wawasan/pengetahuan luas, kemahiran/ketrampilan dan sikap profesional. Untuk dapat mencapai sasaran ini, fakultas kedokteran umumnya menggunakan kurikulum perkuliahan yang bersifat mendidik, peragaan-peragaan, praktek yang diawasi, mentoring dan pengalaman langsung untuk menambah hasil belajar individu.4
Sekolah kedokteran diakui sebagai lingkungan stres yang sering menimbulkan dampak negatif terhadap prestasi akademik , kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologis. Sebuah penelitian antara mahasiswa kedokteran di Amerika menemukan bahwa 57 % adalah di bawah tekanan psikologis.5 Baru- baru ini stres selama praktek kedokteran semakin banyak dilaporkan dalam
literatur-literatur yang dipublikasikan. Penelitian juga menunjukkan cukup tingginya tingkat stres, yang mengakibatkan gejala depresi dan bahkan pikiran untuk bunuh diri pada mahasiswa kedokteran. Selain stres, keadaan sosial, emosional, fisik dan juga permasalahan keluarga dari mahasiswa juga dapat mempengaruhi kemampuan belajar. Stres yang berlebihan dapat mengakibatkan masalah mental dan fisik dan dapat mengurangi rasa harga diri mahasiswa serta mempengaruhi prestasi akademiknya.6
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh negara berkembang seperti Thailand, India, Malaysia dan Pakistan, didapatkan data bahwa stres yang dialami oleh mahasiswa kedokteran merupakan dampak dari aspek akademik sebagai stressor yang mendominasi.6 Penelitian tentang stres pada mahasiswa kedokteran juga sudah pernah dilakukan pada salah satu universitas di Indonesia.
Penelitian dilakukan dengan sampel 90 mahasiswa kedokteran dan didapatkan gambaran tingkat stres pada mahasiswa kedokteran sebesar 71%. Secara keseluruhan, prevalensi stres pada mahasiswa fakultas kedokteran masih cukup tinggi, yaitu berkisar 30 - 70%.7 Penelitian terdahulu mengemukakan bahwa kesulitan dalam menghadapi stres di fakultas kedokteran adalah karena mahasiswa biasanya tidak mencari bantuan dan dukungan untuk masalah yang mereka hadapi.8
Seperti yang telah diungkapkan diatas, program pendidikan profesi dokter tidak terlepas dari tuntutan-tuntutan yang menimbulkan stressor pada mahasiswa.
Terlebih lagi saat menjalani program pendidikan profesi dokter di rumah sakit pendidikan, para mahasiswa akan menghadapi berbagai hal yang dapat menimbulkan stres. Oleh karena itu saya sebagai peneliti ingin mengetahui gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, tahun 2016.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Bagaimana gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter fakultas kedokteran USU di RSUP H. Adam Malik Medan,tahun 2016?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor- faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter fakultas kedokteran USU di RSUP H. Adam Malik Medan,tahun 2016.
1.1.2. Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini:-
1. Untuk mengetahui gambaran skala stressor akademik pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik
2. Untuk mengetahui gambaran skala stressor intrapersonal dan interpersonal pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik
3. Untuk mengetahui gambaran skala stressor proses belajar mengajar pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik
4. Untuk mengetahui gambaran skala stressor sosial pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik 5. Untuk mengetahui gambaran skala stressor motivasi pada mahasiswa yang
melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik 6. Untuk mengetahui gambaran skala stressor aktivitas/kegiatan kelompok
pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat memahami tentang faktor-faktor stressor.
1.4.2 Bagi Fakultas Kedokteran
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan evaluasi bagi penyelengaraan program pendidikan profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
1.4.3 Bagi Peneliti
1. Dapat mengembangkan kemampuan di bidang penelitian serta mengasah kemampuan analisis peneliti.
2. Dapat meningkatkan pengetahuan tentang stres dan mendapatkan gambaran faktor- faktor stressor pada mahasiswa kedokteran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stres
2.1.1 Definisi Stres
Menurut American Institute of Stress9, tidak ada definisi yang pasti untuk stres karena setiap individu akan memiliki reaksi yang berbeda terhadap stres yang sama. Stres bagi seorang individu belum tentu stres bagi individu yang lain.
Arumwardhani dalam penelitian terdahulu menyatakan stres adalah tekanan yang dialami individu dalam usaha pencapaian target terhadap standar pemenuhan kebutuhan hidup manusia.10 Seseorang hanya merasa sedikit stres jika dia memiliki waktu dan sumber daya yang cukup untuk menangani sebuah situasi.
Namun, jika seseorang menganggap dirinya tidak mampu menangani tuntutan- tuntutan yang dibebankan kepadanya, stres yang dirasakannya akan lebih besar.11 Dalam tinjauan psikologi, stres diartikan sebagai suatu keadaan psikologis dimana seseorang merasa tertekan karena persoalan yang dihadapi. Persoalan yang berkepanjangan tanpa ada suatu penyelesaian yang jelas dapat menjadi tekanan psikologis dan tekanan ini dapat mengganggu fungsi psikologis seseorang secara umum. Menurut Taylor10, mendefinisikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres. Stres adalah kumpulan hasil, respons, jalan, dan pengalaman yang berkaitan, yang disebabkan oleh berbagai stressor.11 Fieldman dalam penelitian sebelumnya mendefinisikan stres adalah suatu proses yang menilai peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peritiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif, dan perilaku.10
Kondisi stres di satu sisi dapat membantu seseorang untuk bertahan di bawah tekanan dan memberikan motivasi untuk melakukan yang terbaik. Tapi ketika seseorang terus-menerus mengalaminya,pikirannya tersebut akan
terganggu. Beberapa orang tidak menyadari ketika dirinya sedang mengalami stress. Individu hanya merasa pusing, cepat lelah, dan staminanya menurun. Hal ini justru berbahaya, karena jika tidak segera dilakukan mekanisme penyesuaian diri yang tepat untuk menyelesaikan stressor maka stres yang berkepanjangan dapat menjadi ‘bom waktu’ yang suatu saat dapat membuat individu mengalami gangguan mental yang lebih berat.10
2.1.2 Jenis -Jenis Stres
Stres terbentuk dari berbagai hal yang bisa berasal dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Stres terjadi apabila stressor tersebut dirasakan dan dipersepsikan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang merupakan awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis yang berupa perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi, dan perilaku.12
Stres dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe sebagai berikut.2 1. Stres positif (eustress).
Stres yang bersifat positif dapat memberikan manfaat dalam hal pertumbuhan dari kepuasan peribadi sehingga dapat meningkatkan kesehatan. Seseorang tentu akan termotivasi melakukan yang terbaik ketika diperhadapkan dengan situasi yang menantang dirinya oleh karena berada di suasana stres ringan.
a. menikah b. memiliki anak
c. mendapatkan promosi di tempat kerja d. memperoleh kemenangan
2. Stres negatif (distress)
Stres yang bersifat negatif dapat disebabkan oleh kejadian yang menyebabkan ketegangan pada individu yang bersangkutan seperti masalah keuangan, kematian orang yang dicintai, kesulitan akademis, dan pecahnya hubungan. Ada 2 jenis stres negatif, yaitu13:
a. Stres akut, yang biasanya intens, berlangsung dengan cepat dan menghilang dengan cepat.
1) Emosional stres- kemarahan, kecemasan dan depresi 2) Masalah ketegangan otot- sakit kepala, nyeri rahang
3) Masalah perut- sakit maag,asam lambung, perut kembung, diare b. Stres kronis, yang merupakan kebalikan dari stres akut, dimana
berlangsung terus-menerus tanpa batasan waktu.
1) Masalah keuangan
2) Kematian orang yang dicintai
3) Masalah dalam hubungan jangka panjang
4) Memiliki pekerjaan yang menuntut atau jadwal kerja . 5) Permasalahan keluarga
2.1.3 Patofisiologi Terjadi Stres
Dalam jangka pendek, stres menghasilkan perubahan adaptif yang membantu seseorang untuk merespons stressornya (misalnya mobilisasi sumber energi). Dalam jangka panjang, stres akan menghasilkan perubahan-perubahan yang maladaptif (misalnya, kelenjar adrenal yang membesar). Respon stres bersifat kompleks dan bervariasi. Respon seseorang terhadap stres bergantung pada jenis stressornya, kapan waktunya, bagaimana sifat orang yang mengalami stres, dan bagaimana orang yang mengalami stres bereaksi terhadap stressornya.14 Terdapat tiga fase dalam proses terjadinya stres15:
1. Fase pertama, yaitu reaksi alarm. Sistem saraf otonom akan teraktivasi oleh stres. Jika stressor terlalu kuat,akan terjadi gangguan pada saluran pencernaan, kelenjar adrenalin akan membesar, dan timus menjadi lemah.
2. Fase kedua, yaitu resistensi. Individu beradaptasi dengan stres melalui berbagai mekanisme. Jika stressor menetap, individu tersebut tidak mampu merespons secara elektif.
3. Fase ketiga, yaitu suatu tahap kelelahan yang amat sangat. Stressor yang terus terjadi akan mengakibatkan penyakit dan kerusakan fisiologis dan dapat menyebabkan kematian.
Terjadinya stres dapat dijelaskan melalui teori biologis dan teori psikologis. Menurut teori biologis, stres terjadi akibat lemahnya organ tertentu.
Contohnya, sistem pernafasan yang lemah sejak lahir dapat memicu seseorang menderita asma dan menjadi stres karenanya. Teori biologis yang lebih mutakhir menjelaskan bahwa stres terjadi akibat ketidakseimbangan hormon-hormon di dalam tubuh. Tubuh yang mendapatkan stressor akan mengalami peningkatan jumlah kortisol dan mengalami penurunan sistem imun sehingga mudah terserang penyakit. Menurut teori psikologis, ancaman fisik akan menciptakan stres. Pada kenyataannya, manusia menerima lebih dari sekadar ancaman fisik. Semua persepsi tersebut dapat merangsang aktivitas sistem saraf simpatik dan sekresi hormon-hormon stres. Emosi-emosi negatif, seperti kekecewaan, penyesalan, dan kekhawatiran, tidak dapat dilawan atau diabaikan dan juga tidak mudah untuk dihilangkan seperti halnya ancaman eksternal. Emosi negatif membuat sistem biologis tubuh menjadi tegang dan tubuh selalu berada dalam kondisi darurat.
2.1.4 Gejala Klinis Stres
Stres dapat menyebabkan banyak perubahan pada tubuh. Perubahan yang terjadi meliputi perubahan fungsi tubuh, perasaan, dan tingkah laku. Efek yang ditimbulkan stres misalnya sakit kepala, mual, muntah, sulit tidur, sesak nafas, sulit berkonsentrasi, mudah marah, sering buang air kecil, dan lain-lain).13,16 Kelelahan akibat stres sering menyebabkan gejala yang disebut sebagai burnout (kelelahan secara fisik, mental, dan emosional).11 Efek yang ditimbulkan stres dapat berupa efek positif dan efek negatif. Efek positif dari stres dapat dilihat pada Tabel 2.1 sedangkan efek negatif dari stres dapat dilihat pada Tabel 2.217:-
Tabel 2.1 Efek Positif dari Stres
Mental Emosional Fisik
Kreativitas meningkat Kemampuan mengontrol diri meningkat
Tingkat energi Meningkat Kemampuan berpikir
meningkat
Responsif terhadap lingkungan sekitar
Stamina meningkat Memiliki orientasi
kesuksesan yang lebih tinggi
Relasi interpersonal meningkat
Fleksibilitas otot dan sendi meningkat Motivasi meningkat Moral meningkat Terbebas dari penyakit
yang berhubungan dengan stres
Tabel 2.2 Efek Negatif dari Stres
2.2 Stressor
2.2.1 Definisi Stressor
Stressor adalah suatu kejadian, keadaan atau pun sebuah pikiran yang mengganggu kesimbangan atau penyebab timbulnya stres. Stressor dapat berasal dari luar (kerugian, kematian, kesakitan dan sebagainya) atau dari dalam individu itu sendiri.18 Menurut WHO stressor adalah stimulus yang membangkitkan respon stres.19 Sebuah stressor adalah setiap peristiwa nyata yang berkaitan dengan fisik, sosial, atau psikologis atau stimulus yang menyebabkan tubuh kita bereaksi atau merespon.2
2.2.2 Sumber Stres
Sumber stres atau stressor dapat berasal dari dalam diri sendiri (internal) maupun dari lingkungan (eksternal).20
1. Stressor yang berasal dari dalam (internal) contohnya adalah kondisi fisik yang kurang baik seperti demam, kehamilan atau menopause, maupun kondisi psikis seperti rasa bersalah, pesimis, atau kritik terhadap diri sendiri yang berlebihan.
2. Stressor yang berasal dari lingkungan (eksternal) dapat berupa perubahan fisik lingkungan seperti perubahan suhu, lokasi kerja, maupun tekanan psikis seperti seperti perilaku diskriminasi, tindakan kekerasan, beban kerja yang berat, atau kematian.
Fisik Pikiran Sikap
Sakit kepala Cemas Makan berlebihan
Sakit punggung Iritabilitas meningkat Tidak mau makan Sakit dada Tidak dapat beristirahat Mudah marah
Palpitasi jantung Depresi Mengkonsumsi alkohol Tekanan darah
meningkat
Sedih Frekuensi merokok
Meningkat
Imunitas menurun Marah Kurang bersosialisasi Sakit abdomen Sulit untuk fokus Sulit melafalkan kata-kata Gangguan tidur Daya ingat menurun Masalah dengan orang-orang
sekitar bertambah
2.2.3 Faktor-faktor Stressor
Stressor mahasiswa kedokteran dapat dikelompokkan menjadi8 : 1. Academic Related Stressor (ARS) / Stressor Akademik
Academic related stressors mengacu pada berbagai kejadian di sekolah, universitas, atau edukasi yang menyebabkan stres pada mahasiswa. Ini termasuk sistem ujian, metode penilaian, metode pemberian nilai, jadwal akademik, aktivitas mahasiswa yang berhubungan dengan akademik seperti mendapat nilai jelek di ujian, ekspektasi yang tinggi untuk mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, besarnya jumlah mata kuliah yang harus dikuasai, kesulitan untuk mengerti pelajaran, kurangnya waktu revisi, besarnya rasa persaingan, dan adanya kesusahan untuk menjawab soal dari dosen.
2. Interpersonal and Intrapersonal Related Stressor (IRS) / Stressor Interpersonal dan Intrapersonal
Interpersonal and intrapersonal related stressors merujuk pada berbagai bentuk hubungan antara dan di dalam individu yang menyebabkan stres.
Stressor intrapersonal umumnya berhubungan dengan hubungan di dalam diri sendiri, termasuk rendahnya motivasi belajar dan konflik pribadi.
Stressor interpersonal umumnya berhubungan dengan hubungan antar individu termasuk penyeksaan secara verbal, fisik, dan emosional yang disebabkan oleh orang lain, konflik dengan personal, dosen, rekan dan pegawai.
3. Teaching and Learning Related Sressor (TLRS) / Stressor Proses Belajar Mengajar
Stressor belajar mengajar mengacu pada berbagai kejadian yang berhubungan dengan pengajaran atau pembelajaran yang menyebabkan stres. Umumnya berhubungan dengan kelayakan tugas yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa, kompetensi dosen untuk mengawasi dan mengajar mahasiswa, kualitas umpan balik yang diberikan dosen ke mahasiswa, dan kejelasan tujuan pembelajaran yang diberikan.
4. Social Related Stressor (SRS) / Stressor Sosial
Stressor ini umumnya berhubungan dengan waktu luang bersama keluarga dan teman, bekerja dengan masyarakat umum, waktu untuk pribadi, interupsi kerja oleh orang lain, serta ketika menghadapi masalah pasien.
5. Drive & Desire Related Stressor (DRS) / Stressor Motivasi
Yang termasuk ke dalam jenis stressor ini adalah berbagai bentuk desakan internal atau eksternal yang memengaruhi sikap, emosi, pikiran, dan perilaku seseorang, yang nantinya akan menyebabkan stres. Umumnya berhubungan dengan tidak adanya keinginan untuk kuliah kedokteran karena berbagai sebab, misalnya bukan fakultas pilihan sendiri, kehilangan motivasi setelah mengetahui realitas dunia kedokteran, mengikuti keinginan orang tua, serta mengikuti pilihan teman.
6. Group Activities Related Stressor (GARS) / Stressor Kegiatan Kelompok Yang termasuk ke dalam jenis stressor ini adalah berbagai kejadian dan interaksi kelompok/grup yang dapat menyebabkan stres. Umumnya berhubungan dengan partisipasi dalam diskusi kelompok, presentasi, dan pengharapan orang lain untuk mengerjakan sesuatu dengan baik.
2.3 Stres pada Mahasiswa Kedokteran
2.3.1 Prevalensi Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Stres pada mahasiswa kedokteran merupakan suatu fenomena yang dapat ditemui di berbagai dunia. Prevalensi stres di dunia cukup tinggi. Di Amerika, sekitar 75% orang dewasa mengalami stress berat dan jumlahnya cenderung meningkat. Sementara itu di Indonesia sekitar 1,33 juta penduduk diperkirakan mengalami gangguan kesehatan mental atau stres. Sebuah penelitian terdahulu menyebutkan bahwa kejadian stres pada mahasiswa kedokteran adalah 30-50%.24 Sementara itu, tiga penelitian yang dilakukan di Asia menunjukkan hasil sebagai berikut: Di Pakistan, dengan 161 partisipan, prevalensi stres mahasiswa fakultas kedokteran adalah 30,84% 6,25 , di Thailand, dengan 686 partisipan, prevalensi stres mahasiswa fakultas kedokteran adalah 61,4%21 dan di Malaysia, dengan 396 partisipan, prevalensi stres mahasiswa fakultas kedokteran adalah 41,9%.22
Penelitian lainnya di Iran menyebutkan bahwa tingkat stres pada tahun pertama mencapai 33%, tingkat kedua mencapai 26%,tingkat ketiga mencapai 16%.23
2.3.2 Penyebab Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Sumber stres pada mahasiswa paling banyak berasal dari masalah kualitas makanan di asrama, tuntutan prestasi dari orang tua, kelas kuliah yang tidak nyaman, frekuensi ujian, dan kurangnya waktu rekreasi.25 Stres pada mahasiswa dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu tuntutan institusi, masalah keuangan, tuntutan sosial, tuntutan yang berasal dari diri sendiri, tuntutan keluarga, manajemen waktu, konflik budaya, masalah agama, dan tuntutan fakultas.26 Terdapat empat kategori masalah yang dihadapi oleh mahasiswa kedokteran yaitu10 :
1. Masalah akademik
Merupakan hambatan atau kesulitan yang dihadapi oleh para mahasiswa dalam merencanakan, melaksanakan dan mengoptimalkan perkembangan belajarnya. Masalah akademik meliputi kebutuhan identifikasi dan membantu mahasiswa dalam kesulitan akademik, kurang motivasi atau semangat belajar, kebutuhan timbul-balik dan saran setelah ujian, kesulitan dalam menyusun kartu rencana studi (KRS), kesulitan dalam ketrampilan belajar hingga kesulitan dalam mengerjakan skripsi.
2. Masalah karir
Meliputi kebutuhan bimbingan mengenai penentuan karir mahasiswa setelah lulus, kebutuhan petunjuk cara menyusun curriculum vitae (CV), teknik wawancara ketika melamar pekerjaan.
3. Masalah professional
Meliputi masalah yang berhubungan dengan sikap dan tingkah laku professional sebagai seorang dokter, dimana ada beberapa mahasiswa yang merasa kesulitan sekali dalam menerapkan perilaku professional ini sehingga membutuhkan bimbingan dan konseling.
4. Masalah personal
Meliputi masalah kesulitan keuangan, kesulitan karena masalah-masalah keluarga, kesulitan karena masalah frustasi dan konflik pribadi, kesulitan akomodasi dan penyesuaian dengan lingkungan tempat tinggal bagi mahasiswa hingga masalah kepribadian.
BAB III
KERANGKA TEORI PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1 Kerangka Teori
Gambar 3.1 Kerangka Teori Faktor- Faktor Stressor Faktor-Faktor
• Stressor Akademik
• Stressor Interpersonal dan Intrapersonal
• Stressor Proses Belajar Mengajar
• Stressor Sosial
• Stressor Motivasi
• Stressor Kegiatan Kelompok Stressor
Stres
3.2 Kerangka Konsep
Kerangka konsep ini adalah bertujuan mengetahui gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.
VARIABEL PENELITIAN
Gambar 3.2 Kerangka Konsep Faktor- Faktor Stressor
• Stressor Akademik
• Stressor Interpersonal dan Intrapersonal
• Stressor Proses Belajar Mengajar
• Stressor Sosial
• Stressor Motivasi
• Stressor Kegiatan Kelompok Faktor-Faktor Stressor pada mahasiswa yang melaksanakan
program pendidikan profesi dokter di RSUP HAM:
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif dengan rancangan Cross Sectional, untuk meneliti gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun, 2016.
4.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan September 2016 – November 2016.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian
Semua mahasiswa yang melaksanakan program profesi dokter FK USU tahun masuk 2011 di RSUP H. Adam Malik tahun, 2016 pada bulan September 2016 – November 2016 dengan jumlah populasi sekitar 418 orang mahasiswa.
4.3.2 Sampel Penelitian
Semua mahasiswa tahun masuk 2011 yang melaksanakan program profesi dokter FK USU di RSUP H. Adam Malik dan berada di lokasi pada saat berlangsung penelitian serta bersedia menjadi responden penelitian. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini secara simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak pada mahasiswa tahun masuk 2011.
Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin sebagai berikut:
n = N
1+N(e)2 = 418
1+418(0.1)2 =81 n = Jumlah sampel
N= Jumlah populasi
4.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Pernyataan kuesioner ini ditujukan untuk mengetahui faktor-faktor stressor pada mahasiswa FK USU yang melaksanakan program profesi dokter di RSUP H. Adam Malik tahun, 2016. Sumber penelitian diperoleh dari data primer, dengan menggunakan daftar pertanyaan dari kuesioner untuk menilai faktor-faktor stressor. Dengan itu, digunakan MSSQ (Medical Student Stressor Questionnare) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berupa daftar stressor yang mungkin dialami mahasiswa kedokteran.
Tabel 4.1 Definisi Operasional Faktor-faktor
stressor Definisi operasional Alat
ukur Cara ukur Hasil ukur Academic
related stressor(ARS)
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk tes-tes/ujian- ujian, sistem kuota pada ujian, harus melakukan yang terbaik (harapan peribadi), beban yang terlalu berat, ketinggalan dalam membaca jadwal, kurang praktek kedokteran, suasana belajar yang penuh persaingan, kesulitan memahami isi pelajaran, memperoleh nilai buruk, kurang mengulang kembali apa yang sudah dipelajari, tidak mampu menjawab pertanyaan para dosen, banyak sekali yang harus dipelajari, proses penilaian yang tidak dibenarkan yang dialami oleh mahasiswa program pendidikan profesi dokter.
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00
= tidak stres sama sekali 1.01- 2.00 = stres sedang 2.01- 3.00 = stres berat 3.01- 4.00 = stres sangat berat
Tabel 4.1 (Lanjutan 1) Faktor-faktor
stressor Definisi operasional Alat
ukur Cara ukur Hasil ukur Intrapersonal
and
interpersonal related stressor(IRS)
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk
bertengkar dengan mahasiswa lain, Perlakuan tidak senonoh secara verbal dan fisik oleh mahasiswa lain, konflik dengan (para) karyawan, kurang mutivasi belajar, perlakuan (para) dosen yang tidak senonoh secara verbal dan fisik, konflik dengan (para) dosen, perlakuan (para) pegawai yang tidak senonoh secara verbal dan fisik yang dialami oleh mahasiswa program pendidikan profesi dokter.
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00 = tidak stres sama sekali 1.01- 2.00 = stres sedang 2.01- 3.00 = stres berat 3.01- 4.00 = stres sangat berat Teaching and
learning related stressor
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk materi pelajaran kurang, kurang bimbingan dari (para) dosen, tidak mempunyai harapan yang pasti, dosen kurang berbobot dalam mengajar, tugas-tugas yang kurang sesuai, tidak cukup umpan balik dari (para) dosen, hasil kerja yang tidak dihargai,
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00 = tidak stres sama sekali
(TLRS) 1.01-
2.00 = stres sedang
2.01-
3.00 = stres berat
3.01-
4.00 = stres sangat berat
Tabel 4.1 (Lanjutan 2) Faktor-faktor
stressor Definisi operasional Alat
ukur Cara ukur Hasil ukur Social related
stressor(SRS)
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk berbicara kepada pasien tentang masalah-masalah peribadi, kurang waktu untuk keluarga dan teman-teman, tidak mampu menjawab pertanyaan pasien, menghadapi sakit atau kematian pasien, pekerjaan yang sering diganggu orang lain, bekerja dengan
menggunakan komputer yang dialami oleh mahasiswa program pendidikan profesi dokter.
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00 = tidak stres sama sekali 1.01- 2.00 = stres sedang 2.01- 3.00 = stres berat 3.01- 4.00 = stres sangat berat Drive and
Desire related stressor(DRS)
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk kemauan orang tua agar anda
mengambil jurusan
Kedokteran, tidak berminat belajar ilmu kedokteran, tanggung jawab keluarga yang dialami oleh mahasiswa program pendidikan profesi dokter.
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00 = tidak stres sama sekali 1.01- 2.00 = stres sedang 2.01- 3.00 = stres berat 3.01- 4.00 = stres sangat berat
Tabel 4.1 (Lanjutan 3) Faktor-faktor
stressor Definisi operasional Alat
ukur Cara ukur Hasil ukur Group
activities related stressor
berbagai kejadian di rumah sakit yang termasuk ambil bagian dalam diskusi kelas, ambil bagian dalam penyajian kelas, merasa kurang
kompeten, harus mengerjakan sesuatu dengan baik (dipaksa orang lain) yang dialami oleh mahasiswa program
pendidikan profesi dokter.
MSSQ Responden menjawab pertanyaan yang ada dalam MSSQ (Medical Students Stressor Questionnare) dan diberikan skala rata-rata pada setiap jawapan.
0-1.00 = tidak stres sama sekali
(GARS) 1.01-
2.00 = stres sedang
2.01-
3.00 = stres berat
3.01-
4.00 = stres sangat berat
4.5 Uji Validitas Dan Reliabilitas
Uji validitas merupakan indeks yang menunjukkan alat ukur yang digunakan benar-benar dapat mengukur apa yang diukur. Reliabilitas merupakan indeks yang dipakai untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercayai. Alat ukur yaitu MSSQ tidak perlu diuji validitas atau reliabilitas karena pernah digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian yang terdahulu yang telah dilakukan uji validitas.
4.6 Pengolahan Dan Analisis Data 4.6.1 Pengolahan Data
Setelah data setiap responden dari kuesioner diperoleh, pengolahan dan analisis data dilakukan dengan memasukkan data tersebut ke dalam computer.
Tahap- tahap pengolahan data adalah seperti berikut:
1. Editing, mamastikan nama, identitas maupun data terisi dalam daftar pertanyaan.
2. Coding, yaitu memberi kode atau angka tertentu pada variable penelitian untuk mempermudah saat membuat tabulasi dan analisis data.
3. Entry, yaitu memasukkan data dari kuesioner ke dalam program computer dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences).
4. Cleaning, yaitu memeriksa kembali data yang telah dimasukkan untuk melihat kemungkinan ada atau tidaknya kesalahan pada kode atau ketidaklengkapan data.
4.6.2 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan analisis data univariat dengan penyajian data dalam frekuensi dan persentasi. Langkah ini bertujuan untuk menyusun dan menginterpretasikan data (kuantitatif) yang sudah diperoleh dan penelitian deskriptif yang mengarah dari lingkup sampel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan karekteristik responden umur, jenis kelamin, warganegara dan 6 stressor meliputi stressor akademik, stressor interpersonal dan intrapersonal, stressor proses belajar mengajar, stressor sosial, stressor motivasi dan stressor kegiatan kelompok. Analisis ini mengambarkan masing-masing variabel penelitian. Data yang diperoleh akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang dikelola pemerintah pusat dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini terletak di lahan yang luas di pinggiran kota Medan. RSUP Haji Adam Malik Medan berdiri sebagai rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No.
335/Menkes/SK/VII/1990. Sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991, RSUP Haji Adam Malik Medan juga sebagai Pusat Rujukan Wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau. Pada tahun 1993, Pusat Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan secara resmi dipindahkan ke rumah sakit ini. RSUP Haji Adam Malik menjadi pilihan masyarakat Medan karena lengkap dengan fasilitas penunjang untuk pasien-pasien yang berkunjung. Antara fasilitas yang tersedia adalah laboratorium, radiologi, transfusi darah, kamar operasi, rehabilitasi medik dan farmasi.
Selain merupakan rumah sakit kelas A dalam kalangan masyarakat, RSUP Haji Adam Malik juga sebagai tempat pendidikan calon dokter umum dan dokter spesialis. Khusus untuk calon dokter umum sendiri, diperkirakan sebanyak 418 mahasiswa kedokteran dari FK USU yang melakukan penelitian atau pembelajaran di RSUP HAM, Medan setiap tahun.
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Responden yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa FK USU tahun masuk 2011 yang sedang mengikuti pendidikan program profesi dokter di RSUP HAM, Medan sebanyak 81 orang.
Gambaran karakteristiknya yaitu umur, jenis kelamin dan kewarganegaraan.
Karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut:
Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Karekteristik Frekuensi (n) Presentase (%)
Umur:
< 21
>21
1 80
1.2 98.8 Jenis kelamin:
Perempuan Laki-laki
55 26
67.9 32.1 Warganegara
Malaysia Indonesia
32 49
39.5 60.5
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran FK USU di RSUP HAM (98.8%) berumur diatas 21 tahun. Sedangkan sisanya (1.2%) berumur kurang dan sama dengan 21 tahun.
Dari Tabel 5.1 dapat juga dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran FK USU di RSUP HAM berjenis kelamin perempuan (67.9%), sedangkan sisanya (32.1%) berjenis kelamin laki-laki.
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran FK USU di RSUP HAM berwarganegara Indonesia (60.5%), sedangkan sisanya (39.5%) berwarganegara Malaysia.
5.1.2 Gambaran Faktor-Faktor Stressor
1. Academic Related Stressor (ARS) / Stressor Akademik
2. Interpersonal and Intrapersonal Related Stressor (IRS) / Stressor Interpersonal dan Intrapersonal
3. Teaching and Learning Related Stressor (TLRS) / Stressor Proses Belajar dan Mengajar
4. Social Related Stressor (SRS) / Stressor Sosial
5. Drive & Desire Related Stressor (DRS) / Stressor Motivasi
6. Group Activities Related Stressor (GARS) / Stressor Kegiatan Kelompok Tabel 5.2 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan Oleh Academic Related Stressor (ARS) / Stressor Akademik
Tingkat Stres Frekuensi (n) Presentase (%)
Ringan 3 3.7
Sedang 25 30.9
Berat 50 61.7
Sangat Berat 3 3.7
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.2 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor akademik mengalami tingkat stres berat sebanyak 50 orang (61.7%) dan yang mengalami tingkat stres ringan dan stres sangat berat masing-masing 3 orang (3.7%).
Tabel 5.3 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Interpersonal and Intrapersonal Related Stressor (IRS) / Stressor Interpersonal dan Intrapersonal
Tingkat Stres Frekuensi (n) Presentase (%)
Ringan 3 3.7
Sedang 45 55.6
Berat 33 40.7
Total 81 100.0
Dari Table 5.3 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor Interpersonal dan Intrapersonal mengalami tingkat stres sedang sebanyak 45 orang (55.6%) dan yang mengalami tingkat stres ringan 3 orang (3.7%).
Tabel 5.4 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Teaching and Learning Related Stressor(TLRS) /Stressor Proses Belajar Mengajar
Tingkat stress Frekuensi (n) Presentase (%)
Ringan 6 7.4
Sedang 39 48.1
Berat 33 40.7
Sangat Berat 3 3.7
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.4 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor proses belajar mengajar mengalami tingkat stres sedang sebanyak 39 orang (48.1%) dan yang mengalami tingkat stres sangat berat 3 orang (3.7%).
Tabel 5.5 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Social Related Stressor (SRS) /Stressor sosial
Tingkat stres Frekuensi (n) Presentase (%)
Ringan 1 1.2
Sedang 38 46.9
Berat 37 45.7
Sangat Berat 5 6.2
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.5 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor sosial mengalami tingkat stres sedang sebanyak 38 orang (46.9%) dan yang mengalami tingkat stres ringan 1 orang (1.2%).
Tabel 5.6 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Drive & Desire Related Stressor (DRS) / Stressor Motivasi
Tingkat stres Frekuensi (n) Presentase(%)
Ringan 4 4.9
Sedang 33 40.7
Berat 39 48.1
Sangat Berat 5 6.2
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.6 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor motivasi mengalami tingkat stres berat sebanyak 39 orang (48.1%) dan yang mengalami tingkat stres ringan 4 orang (4.9%).
Tabel 5.7 Distribusi Faktor Stressor yang Disebabkan oleh Group Activities Related Stressor (GARS) / Stressor Kegiatan Kelompok
Tingkat Stres Frekuensi (n) Presentase (%)
Ringan 3 3.7
Sedang 43 53.1
Berat 32 39.5
Sangat Berat 3 3.7
Total 81 100.0
Dari Tabel 5.7 menunjukkan bahwa mahasiswa FK USU di RSUP HAM, Medan pada faktor stressor kegiatan kelompok mengalami tingkat stres sedang
sebanyak 43 orang (53.1%) dan yang mengalami tingkat stres ringan dan stres sangat berat masing-masing 3 orang (3.7%).
5.2 Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, gambaran distribusi faktor- faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2016 didasarkan pada enam kategori stressor.
Faktor stressor akademik (Tabel 5.2) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres berat dengan frekuensi sebanyak 50 mahasiswa (61.7%). Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di India, yang mencatat bahwa 71%
mahasiswa kedokteran mengalami stres sedang dan 13% mahasiswa kedokteran mengalami stres berat sedangkan 16% mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.24 Hasil penelitian yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) mengatakan bahwa 84% mahasiswa kedokteran mengalami stres sangat berat pada stressor akademik.28 Terdapat juga suatu penelitian yang dilakukan di Karnataka, 2.26% mahasiswa kedokteran mengalami stres berat. Pada penelitian tersebut di Karnataka, penyebab stres berat pada mahasiswa kedokteran kemungkinan terjadi kerana faktor infrastruktural seperti tempat tinggal yang tidak aman dan kekurangan fasilitas di perpustakaan. Jika dilihat dari faktor akademiknya sendiri mahasiswa memperolehi banyak tekanan pada saat tes/ujian.5
Faktor stressor Interpersonal dan Intrapersonal (Tabel 5.3) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres sedang dengan frekuensi sebanyak 45 mahasiswa (55.6%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengatakan bahwa (56%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sangat berat pada stressor intrapersonal dan interpersonal.28 Terdapat juga suatu penelitian yang dilakukan di Karnataka, (2.03) mahasiswa kedokteran mengalami stres berat. Pada penelitian tersebut di Karnataka, penyebab stres berat pada mahasiswa kedokteran terjadi karena mahasiswa kedokteran banyak mengalami sikap kompetisasi yang tinggi antara mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang lain.5 Terdapat juga penyebab kemungkinan lain yang ditunjukkan pada penelitian di (UKM) yang terjadi seperti sepanjang melanjutkan pelajaran di sesuatu universitas, mahasiswa kedokteran juga akan berkenalan dengan mahasiswa yang berbeda sikap, tingkah laku, berumur lebih tua atau yang dari kelainan budaya. Mahasiswa harus berhadapan dengan perubahan sistem pembelajaran, cara hidup dan lingkungan sosial.28
Terdapat penelitian di Australia juga mengatakan bahwa mahasiswa internasional mengalami diskriminasi dari perasaan rendah diri, perlakuan tidak senonoh secara verbal dan fisik secara langsung oleh mahasiswa lain.29
Faktor stressor proses belajar mengajar (Tabel 5.4) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres sedang dengan frekuensi sebanyak 39 mahasiswa (48.1%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Karnataka, (1.55) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.5 Terdapat juga penelitian lain yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengatakan bahwa (38%) mahasiswa kedokteran mengalami stres berat pada stressor proses belajar mengajar.28 Terdapat penelitian yang menunjukkan penyebab stressor proses belajar mengajar yang terjadi kemungkinan karena mahasiswa yang menghadapi tantangan atau kurang bimbingan dari para dosen. Hal in mendukung suatu penelitian yang menunjukkan permasalahan antara mahasiswa kedokteran dan dosen dalam hal kemampuan berbahasa. Tingkat kemahiran penguasaan bahasa yang rendah akan menghasilkan kesan negatif dari dosen.30
Faktor stressor yang disebabkan oleh stressor sosial (Tabel 5.5) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres sedang dengan frekuensi sebanyak 38 mahasiswa (46.9%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengatakan bahwa (49%) mahasiswa kedokteran mengalami stres berat pada stressor sosial.28 Terdapat juga suatu penelitian yang dilakukan di Karnataka, (1.82) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.5 Terdapat penelitian di Pakistan yang menunjukkan penyebab stressor sosial yang terjadi kemungkinan dikarenakan mahasiswa kedokteran yang menjalani program pendidikan profesi dokter mengalami stres karena tidak mampu menjawab pertanyaan pasien, mendiagnosis sesuatu penyakit dan menghadapi sakit atau kematian pasien.31
Faktor stressor motivasi (Tabel 5.6) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres berat dengan frekuensi sebanyak 39 mahasiswa (48.1%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Karnataka, (1.43) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.5 Terdapat juga penelitian yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengatakan bahwa (33%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan pada stressor motivasi.28 Penelitian di Pakistan ada menunjukkan penyebab faktor stressor motivasi yang kemungkinan terjadi karena mahasiswa kedokteran tidak berminat dalam mempelajari ilmu kedokteran dan hanya mengikuti kemauan orang tua dengan mengambil jurusan kedokteran. Terdapat suatu penelitian di Pakistan tentang sikap-sikap dokter yang berpusat mengatakan bahwa mahasiswa kedokteran yang
mengambil jurusan kedokteran dengan tidak berminat mempelajarinya, tidak mempedulikan hak pasien dan kurang beretika dalam ilmu kedokteran.
Tanggungjawab keluarga juga menjadi salah satu hal yang sangat berpengaruh yang dapat menyebabkan stres berat pada mahasiswa kedokteran. Penelitian di Pakistan menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran mengalami kesulitan dalam hal kombinasi tuntutan profesi kedokteran dan dukungan keluarga dari segi keuangan dan emosional.32
Faktor stressor kegiatan kelompok (Tabel 5.7) di RSUP HAM, Medan menunjukkan stres sedang dengan frekuensi sebanyak 43 orang (53.1%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Karnataka, (1.87) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.5 Terdapat juga penelitian yang dilakukan di University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengatakan bahwa (57%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sangat berat pada stressor kegiatan kelompok.28 Terdapat penelitian yang menunjukkan faktor kemungkinan yang terjadi kerana mahasiswa kedokteran mengalami kesulitan dalam hal menampilkan diri dalam diskusi kelas seperti rasa malu terhadap kesalahan bahasa yang digunakan semasa komunikasi dan merasa kurang kompetan. Terdapat juga mahasiswa kedokteran yang mengalami tekanan selama berkelompok, dalam hal berkepemimpinan dan konflik interpersonal.33
Menurut penelitian sebelumnya, terdapat banyak kemungkinan faktor permasalahan yang menyebabkan faktor-faktor stressor pada mahasiswa kedokteran. Berdasarkan sebuah penelitian tentang stres pada mahasiswa kedokteran di Thailand menunjukkan beberapa faktor yang menjadi permasalahan stres pada mahasiswa kedokteran. Antara faktor ini adalah akomodasi, keuangan, kurangnya disiplin diri dan kurangnya kemampuan mengatur diri sendiri. 21 Terdapat juga penelitian lain tentang stres pada mahasiswa kedokteran di University Putra Malaysia (UPM) yang menunjukkan bahwa terjadi dampak negatif terhadap keterlibatan mahasiswa kedokteran dalam hal-hal yang berkaitan dengan akademik dan terjadi penurunan prestasi akademik.27,28
Secara keseluruhannya, pada penelitian yang dilaksanakan di RSUP HAM, Medan mahasiswa kedokteran umumnya mengalami stres berat pada stressor akademik dan stressor motivasi. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian di Karnataka, hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran yang melanjutkan program profesi dokter banyak mengalami stres berat dengan presentase tertinggi pada stressor akademik dan stres ringan pada stressor motivasi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara di RSUP Haji Adam Malik Medan, tahun 2016 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada stressor akademik, didapatkan sebanyak (61.7%) mahasiswa kedokteran mengalami stres berat. Sebagian yang lain masing-masing (3.7%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan dan stres sangat berat.
2. Pada stressor interpersonal dan intrapersonal, didapatkan sebanyak (55.6%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sedang. Sebagian yang lain (3.7%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.
3. Pada stressor proses belajar dan mengajar, didapatkan sebanyak (48.1%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sedang. Sebagian yang lain (3.7%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sangat berat.
4. Pada stressor sosial, didapatkan sebanyak (46.9%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sedang. Sebagian yang lain (1.2%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.
5. Pada stressor motivasi, didapatkan sebanyak (48.1%) mahasiswa kedokteran mengalami stres berat. Sebagian yang lain (4.9%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan.
6. Pada stressor kegiatan kelompok, didapatkan sebanyak (53.1%) mahasiswa kedokteran mengalami stres sedang. Sebagian yang lain masing-masing (3.7%) mahasiswa kedokteran mengalami stres ringan dan stres sangat berat.
6.2 Saran
Dari hasil penelitian gambaran faktor-faktor stressor pada mahasiswa yang melaksanakan program pendidikan profesi dokter FK USU di RSUP HAM Medan, tahun 2016, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah:
6.2.1 Bagi Mahasiswa
Mahasiswa program pendidikan profesi dokter FK USU di RSUP HAM, Medan agar dapat lebih memahami tentang faktor-faktor stressor yang akan mereka hadapi sehingga mereka dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi dan mengurangi rasa stres yang dicetuskan oleh faktor-faktor stressor tersebut.
6.2.2 Bagi Fakultas Kedokteran
Fakultas dapat menumpukan perhatian terhadap mahasiswa program pendidikan profesi dokter FK USU di RSUP HAM, Medan dengan lebih memahami faktor-faktor stressor dan berusaha untuk menanggulanginya agar dapat menjadi salah satu bahan evaluasi bagi penyelengaraan program pendidikan profesi dokter di FK USU.
6.2.3 Bagi Peneliti
Bagi peneliti sendiri, diharapkan agar dapat mengembangkan kemampuan di bidang penelitian serta mengasah kemampuan analisis peneliti dengan meningkatkan pengetahuan tentang stres. Peneliti juga merasa untuk mengkaji lebih lanjut akan faktor-faktor stressor yang menyebabkan stres berat dalam kalangan mahasiswa program pendidikan profesi dokter serta efek stres pada mahasiswa-mahasiswa ini pada penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Legiran, M. Z. Faktor Risiko Stres Dan Perbedaannya Pada Mahasiswa Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 2, No. 2, April 2015.p.197-202.
2. K. Glanz, M. Schwartz, “Stress, Coping And Health Behavior,” In Health Behavior And Health Education: Theory, Research And Practice, 4th Edition.,Eds. K. Glanz, B. Rimer, and K. Viswanath (San Francisco: Jossey Bass, 2008.p.210–236.
3. Abdulghani HM, Alkanhal AA, Mahmoud Es, Ponnamperuma GG, Alfaris EA. Stress and Its Effects On Medical Students: A Cross‑Sectional Study At A College Of Medicine In Saudi Arabia. Journal Health Population and Nutrion 2011.p. 516‑522.
4. Dyrbye LN, Thomas Mr, Shanafelt TD. Systematic Review of Depression, Anxiety, and Other Indicators Of Psychological Distress Among U.S. And Canadian Medical Students. Academic Medicine : Journal Of The Association Of American Medical Colleges. Apr 2006.(4).p.354-373.
5. Manjunath SM, N. R. Levels of Stress Among Second Year Medical Students.
National Journal Of Medical Research-Volume (4)2014. p.314-317.
6. Shah, M., Hasan, S., Malik, S., Sreeramareddy, C.T. Perceived Stress, Sources and Severity of Stress Among Medical Undergraduates In A Pakistani Medical School. BMC Med Educ 2010. 10(2).p.1-8.
7. Carolin. Gambaran Tingkat Stres Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara [Skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.2010.
8. Yusoff Msb, Rahim Afa, Yaacob MJ. The Development and Validity of The Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ). Asean Journal of Psychiatry.
2010; Jan-Jun; 11(1): [Online]
Http://www.Aseanjournalofpsychiatry.Org/Oe11105.Htm(diakses 16 Mei 2016)
9. American Institute of Stress. Defination of Stress. USA: American Institute of Stress.2010. Http://www.Stress.Org/Topic-Effects.Htm. (Diakses 12 Mei 2016)
10. Fajar Kawuryan, R. D. Identifikasi Stressor Mahasiswa Universitas Muria Kudus. Seminar Nasional Educational Wellbeing, 2015.p. 174-190.
11. Manktelow, James. Mengendalikan Stres. Jakarta : Erlangga, 2009