• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR ELABORATION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR ELABORATION"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR ELABORATION

PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA SMA NEGERI 22 MAKASSAR

SKRIPSI

JUMRIANI 10539136615

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

2020

(2)

i

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF PESERTA

DIDIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA SMA NEGERI 22 MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

JUMRIANI 10539136615

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

2020

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

(6)

v

(7)

vi

MOTTO DAN PERSEMBA

HAN

Dream it, Wish it, Do it.

Bermimpi, Berdo’a, Lakukan.

Kupersembahkan karya ini buat :

Kedua orang tuaku, saudara, dan sahabatku,

atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis

mewujudkan satu harapan menjadi suatu hal yang nyata

(8)

vii ABSTRAK

Jumriani. 2020. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Berpikir Elaboration Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika SMA Negeri 22 Makassar. Skripsi. Prodi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I:

Abd. Haris dan Pembimbing II: Dewi Hikmah Marisda.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu rendahnya keterampilan berpikir elaboration peserta didik kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah pra eksperimen dengan desain tipe “one group pretest-postest”. Sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling yaitu dengan cara mengundi kelas yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian.

Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal pilihan ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir elaboration peserta didik sebelum diterapkan pembelajaran inkuiri terbimbing diperoleh skor rata-rata sebesar 12,2 dengan standar deviasi 3,75 dan keterampilan berfikir elaboration peserta didik setelah diterapkan pembelajaran inkuiri terbimbing diperoleh skor rata-rata sebesar 24,5 dengan standar deviasi 5,90. Peningkatan keterampilan berpikir elaboration peserta didik kelas X MIPA 6 di SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing diperoleh N-Gain sebesar 0,52 (berada kategori sedang).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan berfikir elaboration peserta didik kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing mengalami peningkatan.

Kata kunci: pembelajaran inkuiri terbimbing, berfikir elaboration.

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-NYA. Jiwa ini takkan henti bertauhid atas berbagai anugerah pada setiap detik waktu, denyut jantung ,gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Demikian juga dalam tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam penampungan

tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua

orang tuaku tercinta papa SAMAD dan mama CUNI yang telah berjuang, berdoa,

mengasuh, membesarkan, mendidik, mendukung serta membiayai penulis dalam

proses pencarian ilmu. Penulis juga mengucapkan para saudara-saudara dan

keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi.

(10)

ix

Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada: Dr. H. Abd.

Rahman Rahim, MM, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, S.Pd, M.Pd, Ph.D Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Drs. Abd. Haris, M.Si sebagai pembimbing I, Dewi Hikmah Marisda, S.Pd, M.Pd sebagai pembimbing II, serta Dr. Nurlina, S.Si., M.Pd selaku ketua jurusan Pendidikan Fisika, serta seluruh dosen dan staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Imu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

Dan tidak lupa pula ucapan terimah kasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu menemani dalam suka dan duka, sahabat-sahabat terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika atas segala kebersamaan, motivasi, saran dan bantuannya.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, yang bersifat membangun.

Semoga skripsi (Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Berpikir Elaboration Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika SMA Negeri 22 Makassar) ini dapat memberikan manfaat. Aamiin Yarabbal Alamin.

Billahi fii sabilil haq fastabiqul khaerat wassalamu’alaikum warahmatullahi

wabarakatuh

Makassar , Januari 2020

Penulis

(11)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR ... 6

A. Tinjauan Pustaka ... 6

1. Pembelajaran Berbasis Inkuiri ... 6

2. Berpikir Elaboration ... 15

B. Kerangka Pikir ... 18

BAB III METODE PENELITIAN... 21

A. Rancangan Penelitian ... 21

B. Populasi dan Sampel ... 22

(12)

xi

C. Prosedur Penelitian ... 22

D. Definisi Operasional Variabel ... 24

E. Instrumen Penelitian ... 24

F. Teknik Pengumpulan Data ... 29

G. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN ... 34

A. Hasil Penelitian ... 34

1. Analisis Validasi Perangkat Pembelajaran... 34

2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 35

3. Hasil Analisis Statistik Inferensial ... 41

B. Pembahasan ... 41

BAB V PENUTUP ... 45

A. Kesimpilan ... 45

B. Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 47 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(13)

xii

DAFTAR TABEL Tabel Halaman

2.1 Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing ... 14

3.1 Tabulasi silang 2x2 ... 26

3.2 Kategori Tingkat N-Gain ... 33

4.1 Hasil Validasi Prangkat Pembelajaran ... 34

4.2 Statistik Skor Hasil Tes Keterampilan Berpikir Elaboration ... 35

4.3 Distribusi Interval Skor Pretest Keterampilan Berpikir Elaboration ... 36

4.4 Distribusi Interval Skor Postest Keterampilan Berpikir Elaboration ... 38

4.5 Distribusi Interval Skor Pretest Postest Keterampilan Berpikir Elaboration 39

4. 6 Distribusi Perolehan N-Gain Ternormalisasi Peserta Didik ... 41

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman

2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian ... 20

4.1 Diagram Distribusi Frekuensi Pre-test ... 36

4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Post-test ... 38

4.3 Diagram Kategorisasi Keterampilan Berpikir Elaboration ... 40

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A

A.1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 50

A.2. Lembar Kerja Peserta Didik ... 67

A.3. Materi Ajar ... 79

A.4. Tes Keterampilan Berpikir Elaboration ... 92

A.5. Uji Gregory ... 105

LAMPIRAN B B.1. Uji validitas instrumen penelitian ... 111

B.2 Uji reliabilitas instrumen penelitian ... 114

LAMPIRAN C Absen Kehadiran ... 117

LAMPIRAN D D.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 120

D.2. Analisis Statistik Inferensial ... 124

LAMPIRAN E Dokumentasi ... 131 Daftar Tabel

Lembar Observasi

Persuratan

(16)

1

Belajar merupakan suatu proses atau upaya yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari.

اَذِإَو ۖ ْمُكَل ُ َّاللَّ ِحَسْفَي اىُحَسْفاَف ِسِلاَجَمْلا يِف اىُحَّسَفَت ْمُكَل َليِق اَذِإ اىُىَمآ َهيِذَّلا اَهُّيَأ اَي َليِق

َمِب ُ َّاللََّو ۚ ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اىُتوُأ َهيِذَّلاَو ْمُكْىِم اىُىَمآ َهيِذَّلا ُ َّاللَّ ِعَفْزَي اوُزُشْواَف اوُزُشْوا َنىُلَمْعَت ا

زيِبَخ

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S Al-Mujadilah : 11)

Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan bahwasanya belajar merupakan

suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan suatu perubahan

tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya

sendiri dan berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam belajar juga terdapat

proses berpikir, dimana proses berpikir menekankan kepada proses mencari

(17)

2

dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antar individu dengan lingkungan. Seorang peserta didik memiliki kewajiban untuk selalu belajar baik di sekolah maupun di rumah dan akan Allah meninggikan derajatnya seseorang yang giat dalam belajar dan menuntut ilmu. Pembelajaran disekolah mencakup semua bidang studi yang diajarkan, termasuk bidang studi sains fisika yang sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bidang studi sains fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan objek mata pelajaran yang menarik dan memerlukan pemahaman dasar yang kuat. Pelajaran fisika lebih memfokuskan pada kemampuan peserta didik dalam menganalisis pengetahuan yang dimiliki dengan peristiwa atau gejala alam yang ia alami dalam kehidupan sehari-hari.

IPA kemudian menyampaikan kepada peserta didik secara benar dan menyenangkan dengan mempertimbangkan pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran ( Dewi,2018).

Fisika merupakan bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga fisika bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Kajian fisika menuntut peserta didik mampu berpikir logis, berargumentasi

secara benar, serta berpikir kreatif.

(18)

Keterampilan berpikir kreatif adalah kemampuan peserta didik menggunakan fikiran untuk menghasilkan ide-ide baru, kemungkinan- kemungkinan baru, dan penemuan baru berdasarkan orisinalitas dalam produksinya. Produk yang di hasilkan dapat berupa ide nyata maupun abstrak.

Kemampuan berpikir kreatif mempunyai empat aspek, yaitu: mampu menyampaikan banyak ide(fluency), mampu memodifikasi bahan dan prosedur eksperimen (flexibility), mampu mencetuskan ide asli (originality) dan mampu berpikir terperinci(elaboration) (Eko, 2017).

Tanda seseorang mampu berpikir kreatif diantaranya mampu berpikir terperinci (elaboration), Indikator peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir elaboration diantaranya mampu mengembangkan ide atau produk dan mampu memerinci suatu objek atau gagasan secara detail sehingga lebih menarik (Nawasasi, 2017).

Hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 22 Makassar diperoleh data sebanyak 25% peserta didik mampu berpikir lancar, 15%

peserta didik mampu berpikir luwes, 19% peserta didik mampu berpikir asli dan 5% peserta didik mampu berpikir terperinci. Jika ditinjau dari segi kwalitas, jawaban yang dihasilkan peserta didik sama sekali tidak terperinci dan bukan dari hasil pemahamannya sendiri karena peserta didik hanya membaca teks di buku.

Hal tersebut tidak memenuhi indikator dari aspek elaboration yaitu

peserta didik mampu memerinci suatu gagasan secara terperinci agar menjadi

(19)

4

lebih menarik, dengan demikian dapat dilihat bahwa hal yang paling penting pada penelitian ini adalah rendahnya kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam aspek berpikir elaboration.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat kebutuhan untuk menerapkan model inkuiri terbimbing dalam metode pembelajaran di sekolah terhadap kemampuan berpikir elaboration peserta didik, oleh karena itu penulis mengambil judul “pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar”. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi suatu model pembelajaran yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir elaboration peserta didik tanpa menyampingkan kepentingan konsep.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang diselidiki dalam penelitian ini adalah:

1. Seberapa besar keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar sebelum diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing?

2. Seberapa besar keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing?

3. Apakah terdapat peningkatan yang berarti keterampilan berpikir

elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22

Makassar setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing?

(20)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah

1. Untuk mendeskripsikan keterampilan berpikir Elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar sebelum diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

2. Untuk mendeskripsikan keterampilan berpikir Elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

3. Untuk mendeskripsikan apakah terdapat peningkatan yang berarti keterampilan berpikir Elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik

Manfaat penelitian ini bagi peserta didik adalah dapat meningkatkan keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika.

2. Bagi guru

Manfaat penelitian ini bagi guru adalah sebagai variasi model

pembelajaran dalam upaya untuk meningkatkan keterampilan berpikir

elaboration peserta didik.

(21)

6

3. Bagi sekolah

Manfaat penelitian ini bagi sekolah yaitu diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan sumber pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas hasil belajar melalui keterampilan berpikir elaboration khususnya kualitas hasil belajar fisika di SMAN 22 Makassar.

4. Pengembangan ilmu pendidikan

Manfaat penelitian ini bagi ilmu pendidikan yaitu memberikan masukan tentang sejauh mana penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas.

5. Peneliti

Manfaat penelitian ini bagi peneliti yaitu dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuannya dalam hal mengidentifikasi masalah- masalah pembelajaran fisika.

(22)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Pembelajaran Berbasis Inkuiri

Tinjauan pustaka mengenai variabel independent pada penelitian ini adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) yang akan dijabarkan dalam beberapa penjelasan sebagai berikut:

a. Model Pembelajaran

Model pembelajaran pada penelitian ini adalah pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) yang akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai model pembelajaran yang merupakan strategi dalam proses pembelajaran.

1) pengertian model pembelajaran

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar Peserta didik di dalam kelas. Salah satunya adalah model pembelajaran yang telah banyak dicetuskan oleh para ahli. Menurut Joyce (Nurul Kindy, 2015):

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola

yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan

pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk

menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di

dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.

(23)

8

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancangan pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Soekamto, dkk dalam Nurul Kindy (2015, h.6)

2) Ciri-ciri model pembelajaran

Melihat dari penjelasan di atas dapat diperoleh bahwa model pembelajaran merupakan suatu stategi untuk menggambarkan proses belajar mengajar di dalam sehingga dapat memudahkan Peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran memiliki ciri- ciri sebagai berikut:

a) Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.

Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.

b) Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.

c) Dapat dijadikan pedoman untuk perbagian kegiatan belajar mengajar di

kelas, misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki

kreativitas dalam pelajaran mengarang. Memiliki bagian-bagian model

yang dinamakan : (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax); (2)

(24)

adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial; dan (4) sistem pendukung, keempat bagian tersebut merukana pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.

d) Memiliki dampak sebagain akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi; (1) Dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur; (2) Dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.

e) Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya (Rusman, 2013).

b. Model Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri pada penelitian ini merupakan model pembelajaran pada proses pembelajaran yang memberikan bimbingan dan informasi-informasi kepada peserta didik dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pengertian model pembelajaran Inkuiri

Secara bahasa, inkuiri berasal dari kata inquiry yang merupakan

kata dalam bahasa inggris yang berarti; penyelidikan/meminta

keterangan; terjemahan bebas untuk konsep ini adalah “peserta didik

diminta untuk mencari dan menemukan sendiri” (Anam, 2017). Hal ini

selaras dengan maksud dan pengertian dasar dari pembelajaran berbasis

inkuiri seperti yang diungkapkan oleh W. Gulo (Anam, 2017)

mengatakan bahwa: “Pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian

kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan

siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis,

(25)

10

analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri”.

Menarik kesimpulan dari pernyataan di atas bahwa, ciri pada pembelajaran inkuiri yaitu menekankan kepada aktifitas Peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan informasi, aktifitas yang dilakukan oleh seluruh Peserta didik diarahkan mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang di pertanyakan sehingga menimbulkan percaya diri terhadap diri Peserta didik, dan pembelajaran inquiri ini mengembangkan kemampuan Peserta didik untuk berpikir secara sistematis, logis dan kreatif.

“ model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep dalam pembelajaran“

2) Kelebihan pembelajaran inkuiri

Menurut Bruner (Anam, 2017) seorang psikolog dari Harvard University di Amerika Serikat menegaskan bahwa pembelajaran inkuiri memiliki kelebihan sebagai berikut:

a) Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

b) Mmbantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi- situasi proses belajar yang baru.

c) Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

d) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.

(26)

e) Memberikan kepuasan yang bersifat intristik.

f) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.

3) Tingkatan inkuiri

Menurut tingkat penurunan keterlibatan guru, inkuiri dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu:

a) Inkuiri terkontrol. Inkuiri terkontrol merupakan tahap dimana pendidik memiliki kontrol penuh dalam proses pembelajaran dimana masalah atau topik pembelajaran berasal dari pendidik ataupun berasal dari buku yang ditentukan oleh pendidik.

b) Inkuiri terbimbing. Inkuiri terbimbing merupakan tahapan inkuiri yang mana peserta didik tidak hanya duduk, mendengarka lalu menulis, tetapi peserta didik diarahkan untuk menemukan jawaban terhadap masalah atau topik dibawah bimbingan pendidik.

c) Inkuiri terencana. Dalam inkuiri terencana peserta didik difasilitasi untuk mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan.

Pendidik berperan mengarahkan peserta didik untuk membuat kesimpulan kuantitatif yang menjadikan kegiatan belajar lebih menyerupai kegiatan penelitian seperti yang biasa dilakukan para ahli.

d) Inkuiri bebas. Tahap terakhir adalah inkuiri bebas, dimana peserta

didik bebas untuk menentukan masalah dan memecahkan masalah

tersebut. Pendidik disini berperan pasif sehingga siswa didorong

untuk belajar secara mandiri dan tidak lagi mengandalkan intruksi

(27)

12

dari pendidik.

c. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

Pembelajaran inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) pada penelitian ini merupakan model pembelajaran pada proses pembelajaran yang memberikan bimbingan/petunjuk dan informasi-informasi kepada peserta didik dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pengertian Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) adalah model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya guru memberikan atau menyediakan petunjuk/bimbingan yang luas terhadap Peserta didik pada model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) ini guru telah memberukan petunjuk petunjuk mengenai materi yang akan diajarkan kepada Peserta didik seperlunya. Petunjuk tersebut dapat berupa pertanyaan agar Peserta didik mampu menemukan atau mencari informasi sendiri mengenai pertanyaan tersebut ataupun tindakan- tindakan yang diberikan guru yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan. Pengerjaan ini dapat dilakukan secra sendiri maupun kelompok. Menurut Tangkas (2012) lebih lanjut mengatakan bahwa:

Tujuan umum dari model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided

inquiry) adalah membantu Peserta didik mengembangkan keterampilan

intelektual dan keterampilan keterampilan lainnya, seperti mengajukan

pertanyaan dan menemukan (mencari) jawaban yang berasal dari

keingintahuan mereka. Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided

(28)

inquiry) memiliki 6 karakteristik yaitu: (1) Peserta didik belajar dengan aktif dan memikirkan sesuatu berdasarkan pengalaman, (2) Peserta didik belajar dengan aktif membangun apa yang telah diketahuinya, (3) Peserta didik mengembangkan daya pikir yang lebih tinggi melalui pentunjuk atau bimbingan pada proses belajar, (4) perkembangan Peserta didik terjadi pada serangkaian tahap, (5) Peserta didik memiliki cara belajar yang berbeda satu sama lainnya dan (6) Peserta didik belajar melalui interaksi sosial dengan lainnya.

Pada model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided Inquiry) ini, guru memberikan petunjuk-petunjuk kepada peserta didik seperlunya.

Petunjuk tersebut dapat berupa bertanyaan-pertanyaan yang membimbing agar peserta didik mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Pengerjaannya dapat dilakukan sendiri atau dapat diatur secara kelompok.

“Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran dengan disertai oleh bimbingan dari tenaga pendidik”.

2) Peranan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

Pelaksanaan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing

(Guided Inquiry) mempunyai peranan penting baik bagi guru maupun

para peserta didik antara lain sebagai berikut:

(29)

14

a) Menekankan kepada proses perolehan informasi oleh peserta didik b) Membuat konsep dari peserta didik bertambah dengan penemuan-

penemuan yang di perolehnya Memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan memperluas penguasaan keterampilan dalam proses memperoleh kognitif para peserta didik

c) Penemuan-penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjamin kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya

d) Tidak menjaminkan pendidik sebagai satu-satunya sumber belajar 3) Karakteristik Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)

Pelaksanaan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) mempunyai karakteristik dalam proses pembelajaran pada peserta didik. Menurut Orlich (Dessy, 2010) menyatakan ada beberapa karakteristik dari inkuiri yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

a) Peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat infersi atau generalisasi

b) Sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau objek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai

c) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas

d) Tiap-tiap peserta didik berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalm kelas

e) Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboraturium pembelajaran

(30)

f) Biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari peserta didik

g) Guru memotivasi semua peserta didik untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta didik di dalam kelas.

4) Ciri utama pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Pelaksanaan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) mempunyai ciri utama dalam menjalankan proses pembelajaran pada peserta didik antara lain sebagai berikut:

a) Strategi inkuiri menekankan kepada aktiitas peserta didik secara maksimal mencari dan menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar

b) Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik, peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiridari suatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat membunuh sikap percaya diri.

c) Tujuan dan penggunan model pembelajata Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry), adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi peserta didik dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

5) Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided

Inquiry)

(31)

16

Menurut Nuryani (Dessy,2014:30) lebih lanjut mengatakan bahwa pada inkuiri terbimbing guru membimbing peserta didik melakukan kegiatan dengan memberi pertanyan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Kemudian pendidik mengemukakan masalah, memberi pengarahan mengenai pemecahan, dan membimbing peserta didik dalam mencatat data. Adapun tahapan/sintaks dari pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) sebagai berikut:

Tabel 2.1: Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Fase ke-

Indikator Kegiatan guru

1. Perumusan masalah

Guru membimbing Peserta didik mengidentifikasi masalah dan dituliskan dipapan tulis

Guru membagi Peserta didik dalam beberapa kelompok

2 Membuat

Hipotesis

Guru meminta Peserta didik untuk mengajukan jawaban semntara tentang masalah itu.

Guru membimbing Peserta didik dalam

menentukan hipotesis.

(32)

3 Merancang percobaan

Guru memberikan kesempatan pada Peserta didik untuk menentukan langkah- langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan.

Guru membimbing Peserta didik dalam menentukan langkah langkah percobaan.

4 Melakukan percoban untuk

memperoleh data

Guru membimbing Peserta didik mendapatkan data melalui percobaan dan pegamatan langsung.

5 Mengumpulkan

data dan

menganalisis data

Guru memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk menuliskan percobaan ke dalam seuah media pembelajaran dan menyampaikan hasil pengelolaan data yang terkumpul.

6 Membuat

kesimpulan

Guru membimbing Peserta didikdalam membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah diperoleh.

Sumber: (Tangkas , 2012:13)

(33)

18

2. Berpikir Elaboration

Berpikir adalah meletakkan hubungan antara bagian – bagian pengetahuan kita. Bagian – bagian pengetahuan kita yaitu segala sesuatu yang telah kita miliki, yang berupa pengertian – pengertian dan dalam batas tertentu juga tanggapan – tanggapan. Glass dan Holyoak (Suharnan 2005:

280) mengatakan bahwa berpikir dapat didefinisikan sebagai proses menghasilkan representasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara komplek antara atribut – atribut mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi dan pemecahan masalah.

Sedangkan Santrock (2010: 357) menyebutkan bahwa berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori.Ini seringkali dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif dan memecahkan masalah.

Berpikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut

proses atau jalannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryabrata (2008: 53)

yang menyebutkan bahwa proses atau jalannya berpikir itu pada intinya ada

tiga langkah yaitu pembentukan pengertian, pembentukan pendapat dan

penarikan kesimpulan. Krulik dan Rudnick (Arnyana, 2006: 498)

menyebutkan bahwa keterampilan berpikir manusia terdiri atas empat tingkat,

yaitu: (1) menghafal (recall thinking) yang merupakan tingkat berpikir paling

rendah. Keterampilan ini sifatnya hampir otomatis atau reflektif dimiliki oleh

setiap orang; (2) dasar (basic thinking) yang meliputi pemahaman konsep –

(34)

konsep; (3) kritis (critical thinking) yakni kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh seseorang.

Agar mampu memecahkan masalah dengan baik dituntut kemampuan analisis, sintesis, evaluasi, generalisasi, membandingkan, mendeduksi, mengklasifikasi informasi, menyimpulkan dan mengambil keputusan; (4) kreatif (creative thinking) adalah penggunaan dasar proses berpikir untuk mengembangkan atau menemukan ide atau hasil yang asli (orisinil), estetis, konstruktif yang berhubungan dengan pandangan, konsep, yang penekanannya ada pada aspek berpikir intuitif dan rasional khususnya dalam menggunakan informasi dan bahan untuk memunculkan atau menjelaskannya dengan perspektif asli pemikir. Selain itu, Kusuma (2010: xxii) juga mendefinisikan bahwa kreativitas merupakan sebuah proses bermain – main dengan ide dengan menggunakan imajinasi dan kemungkinan – kemungkinan yang mengarah kepada suatu hasil atau hubungan baru yang bermakna ketika berinteraksi dengan suatu ide, orang dan lingkungan.

Menurut Torrance kemampuan berpikir kreatif terbagi menjadi tiga hal, yaitu: (1) fluency (kelancaran); (2) originality (keaslian); (3) elaboration (penguraian), yaitu kemampuan memecahkan masalah secara detail.

Sedangkan Suharnan (2005: 379) menyebutkan bahwa untuk menghasilkan gagasan – gagasan kreatif (baru dan berguna) akan melibatkan kelancaran berpikir, keluwesan, originalitas dan elaborasi.

Kata mengelaborasi berasal dari kata elaborasi (elaborate / elaboration)

yang dalam kamus oxpord bermakna worked out with much care and in

(35)

20

great detail sehingga makna elaborasi diterjemahkan sebagai pemerincian atau penguraian semata ( Selvianita, 2017).

Berpikir elaboration adalah kemampuan peserta didik mengembangkan suatu gagasan atau ide secara detail. Apabila peserta didik memiliki kemampuan berpikir elaboration maka akan membuat peserta didik mampu menyimpan pengetahuan ke dalam memori jangka panjang dengan cara mengetahui hubungan antar ide yang dimiliki. Indikator peserta didik agar dapat disebut memiliki kemampuan berpikir elaboration diantaranya mampu mengembangkan ide, produk dan gagasan sehingga mampu memerinci suatu objek atau gagasan secara detail sehingga menjadi lebih menarik. (Yudi Rianto, 2017).

B. Kerangka Pikir

Pada umumnya pendidik di sekolah berorientasi pada kognitif biasa.

Sehingga peserta didik lebih cenderung menghafal konsep daripada

memahami konsep pembelajaran. Hal tersebut tentunya sangat jauh dari cita-

cita pendidikan yang selama ini diupayakan. Faktor-faktor inilah yang

membuat peserta didik mengalami penurunan minat belajar, penurunan

motivasi belajar, kurangnya pemahaman atas materi, dan aktivitas peserta

didik kebanyakan mencatat. Pembelajaran seyogyanya merupakan bekal bagi

peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya sehingga pendidik

memiliki peranan penting dalam mendidik dan menfasilitasi peserta didik

dalam memahami pembelajaran dengan baik.

(36)

Berdasarkan realitas tersebut, pendidik sangat perlu untuk terus melakukan inovasi-inovasi model pembelajaran. Pembelajaran fisika merupakan salah satu pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk turut aktif dalam meningkatkan keterampilan berpikir elaboration, hanya saja sistem orientasi kognitif biasa yang digunakan pendidik kurang sesuai.

Tinggi rendahnya pencapaian hasil belajar peserta didik pada pelajaran fisika, akan mencerminkan tingkat keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik dapat menggunakan model pengajaran yang sesuai dengan materi yang akan diberikan kepada peserta didik. Penerapan model pembelajaran ikuiri terbimbing merupakan salah satu model pengajaran yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam memberikan materi pelajaran, khususnya pada pelajaran Fisika agar peserta didik memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran dimana siswa mampu menemukan konsep-konsep dalam pembelajaran dibawah bimbingan pendidik. Penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing akan membiasakan peserta didik untuk mengembangkan konsep yang mereka pelajari bukan hanya sebatas materi yang di catat saja kemudian dihafal.

Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran

yang menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar, yang berarti setiap

peserta didik didorong terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga

memicu keterampilan berpikir elaboration setiap peserta didik.

(37)

22

Kurangnya keaktifan peserta didik dalam

pembelajaran

Variasi pembelajaran peserta didik

Rendahnya Keterampilan Berpikir Elaboration peserta didik

Penerapan model Pembelajaran inkuiri

Meningkatnya Keterampilan berpikir Elaboration peserta didik Proses belajar mengajar di

SMA NEGERI 22 MAKASSAR

(38)

Gambar. 2.1. Bagan Kerangka Pikir Penelitian

Rekomendasi

Temuan

(39)

24

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Pada desain ini sebelum diberi perlakuan, maka terlebih dahulu sampel diberikan tes awal (pretest) dan di akhir pembelajaran sampel di beri tes akhir (posttest). Penggunaan desain ini sesuai dengan tujuan pada penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir Elaboration pada pembelajaran fisika peserta didik setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pembelajaran fisika. Berikut adalah desain penelitian One-Group Pretest-

Posttest Design :

O

1

X O

2

Keterangan :

= Tes awal (pretest) dilakukan sebelum peserta didik diberikan perlakuan dengan model inkuiri terbimbing.

= Perlakuan (treatment) dengan menerapkan model inkuiri terbimbing

= Tes akhir (posttest) dilakukan setelah peserta didik peserta didik diberikan perlakuan dengan model inkuiri terbimbing.

(Emzir, 2017: 97) 3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yaitu SMA Negeri 22 Makassar, Kota Makasar Sulawesi

Selatan

(40)

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 22 Makassar tahun ajaran 2019/2020 yang terdiri dari enam kelas dengan jumlah peserta didik sebanyak 176.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar yang berjumlah 32 peserta didik, diambil melalui simple random sampling dengan asumsi bahwa seluruh kelas X MIPA 6 adalah homogen.

C. Prosedur penelitian

Penelitian ini dilakukan tiga tahap, yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan penelitian, dan (3) tahap akhir.

1. Tahap perencanaan penelitian

a. Studi literatur untuk memperoleh konsep dan teori yang sesuai dengan permasalahan yang akan dikaji.

b. Studi pendahuluan untuk memperoleh gambaran awal tentang proses pembelajaran di kelas, respon peserta didik terhadap pembelajaran fisika, cara peserta didik belajar, prestasi peserta didik dan minat peserta didik terhadap mata pelajaran fisika.

c. Telaan Kurikulum 2013 untuk menentukan kompetensi dasar yang hendak dicapai.

d. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan skenario

pembelajaran.

(41)

26

e. Menyusun instrument penelitian.

f. Melakukan uji coba instrument dengan membagikan instrument tes kepada peserta didik untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrument yang akan digunakan dalam penelitian.

g. Melakukan analisis uji coba instrument dan revisi instrument penelitian yang belum atau kurang sesuai.

2. Tahap pelaksanaan penelitian

a. Memberikan tes awal (pre-test) untuk mengetahui hasil belajar peserta didik sebelum diberi perlakuan (treatment).

b. Mengelola data hasil pre-test.

c. Menerapkan pengajaran berbasis masalah pada proses belajar mengajar di kelas.

d. Memberikan tes akhir (post-test) untuk mengetahui hasil belajar peserta didik setelah diberi perlakuan.

e. Mengelola data hasil post-test.

f. Melakukan analisis terhadap hasil pre-test dan post-test, kemudian membandingkan keduanya

3. Tahap Akhir Penelitian

a. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap persiapan, pelaksanaan, dan hasil penelitian.

b. Melakukan penulisan laporan penelitian.

(42)

D. Definisi Operasional Variabel 1. Model pembelajaran inkuiri

Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya tenaga pendidik memberikan atau menyediakan petunjuk/bimbingan kepada Peserta didik dengan beberapa langkah yaitu perumusan masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan percobaan untuk memperoleh data, mengumpulkan data dan menganalisis data, serta membuat kesimpulan.

2. Keterampilan berpikir Elaboration

Keterampilan berpikir Elaboration adalah salah satu bagian dari keterampilan berpikir kreatif dimana Elaboration yaitu kemampuan peserta didik mengembangkan suatu gagasan atau ide secara detail yang diukur melalui pemberian soal tes keterampilan berfikir elaboration.

E. Instrumen Penelitian

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Tahap pertama

Lembar Observasi Aktivitas Belajar Peserta didik. Lembar observasi penelitian tentang aktivitas belajar peserta didik ini dibuat dengan langkah- langkah sebagai berikut:

a. Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu untuk merekam

data berapa banyak peserta didik di suatu kelas aktif belajar, dan

bagaimana kualitas aktivitas belajar peserta didik tersebut.

(43)

28

b. Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri peserta didik yang sedang aktif belajar (Jika anda telah menulis proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal penelitian anda).

c. Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-ciri peserta didik yang sedang aktif belajar.

d. Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi (observation report).

e. Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian, dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan (petunjuk pengisian), butir- butir pernyataan atau pertanyaan terkait karakteristik atau ciri-ciri peserta didik yang aktif belajar (ini merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang identik dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan).

f. Menulis draft lembar observasi penelitian.

2. Tahap kedua

Semua item yang telah disusun dikonsultasikan ke dosen pembimbing

dan kemudian dilakukan validasi instrumen oleh tim validator yang

selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji gregory yang dimaksudkan

untuk melihat tes kemampuan pemecahan masalah fisika peserta didik dalam

bentuk essai layak atau tidak untuk digunakan, dalam artian apakah tes

(44)

tersebut valid dan dapat dipercaya. Persamaan dari uji Gregory menurut Robert.J.Grerory (Chonstantika, 2012:62) dapat diuraikan sebagai berikut:

Atau dengan bantuan table tabulasi silang 2x2 seperti di bawah ini:

Tabel 3.1 Tabel tabulasi 2X2

Validator 1

Kurang relevan skor 1-2

Sangat relevan skor 3-4

Validator 2

Kurang relevan skor 1-2

Sangat relevan skor 3-4

Retnawati (2016:97-98) dengan,

r = Validitas Isi

A = sel yang menunjukkan ketidaksetujuan antara kedua validator B = Sel yang menunjukkan persetujuan validator 1 setuju, validator 2

tidak setuju

C = Sel yang menunjukkan persetujuan validator 1 setuju, validator 2 tidak setuju

D = Sel yang menunjukkan persetujuan yang valid antara kedua penilai

Jika r 0,75, maka instrumen layak untuk digunakan.

(45)

30

q p S

M M

t t p pbi

 

 kriteria validitas isi :

0,8-1 = validitas sangat tinggi 0,6-0,79 = valitidas tinggi 0,4-0,59 = validitas sedang 0,2-0,39 = validitas rendah

0,00-0,19 = validitas sangat rendah a. Validitas

Validasi adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Uji validasi dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program Microsoft Excel. Untuk menganalisis validitas soal, peneliti menggunakan persamaan korelasi biserial dengan menggunakan r tabel one tailed (satu arah). Dari 40 butir soal yang diuji coba, diperoleh 25 butir soal valid yang akan digunakan sebagai soal pretest dan posttest disaat penelitian. Penetuan butir soal instrumen tes yang digunakan dalam penelitian didasarkan pada hasil uji validitas. Butir soal yang digunakan untuk penelitian adalah butir soal yang terbukti valid.

Analisis untuk mengetahui validitas dengan menggunakan korelasi biserial.

(Arikunto, 2012: 93)

(46)

siswa seluruh Jumlah

benar menjawab yang

siswa Banyaknya

 dengan:

pbi

= Koefisien korelasi biseral

M

p

= Rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya.

M

t

=Rerata skor total

S

t

=Standar deviasi dari skor total

p = Proporsi peserta ddik yang menjawab benar

q = Proporsi peserta didik yang menjawab salah (q = 1 - p)

Valid tidaknya item ke-i ditunjukkan dengan membandingkan nilai

p b i

(i) dengan nilai r

tabel

pada taraf signifikan  = 0,05 dengan kriteria sebagai berikut:

Jika: Nilai

p b i

(i) ≥ r

tabel

, item dinyatakan valid Nilai

p b i

(i) <r

tabel

, item dinyatakan invalid

b. Reliabilitas

Reabilitas adalah ketetapan atau ketelitian suatu alat ukur. Alat ukur dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya, konsisten atau stabil untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

Perhitungan reliabilitas tes yang akan digunakan untuk menguji hasil

belajar dengan menggunakan rumus Kuder Richardson – 20 (KR-20) karena

(47)

32

data yang digunakan dari pemberian skor 1 dan 0. Adapun rumus yang dignakan adalah sebagai berikut:





 



 

 

2 2

11 1 S

pq S

n r n

(Purwanto, 2008: 169)

dengan:

r

11

= Reliabilitas tes secara keseluruhan

p = Proporsi subyek yang menjawab item benar

q = Proporsi subyek yang menjawab item salah (q = 1 - p)

pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q n = Banyaknya item

S = Estándar deviasi dari tes (akarvariansi)

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu pemberian tes (pretest-postest) berupa instrument yang telah divalidasi. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum diberi perlakuan pretest dan postest dilakukan setelah diberi perlakuan, untuk mengukur keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika SMA Negeri 22 Makassar.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk

(48)

mendeskripsikan tes keterampilan berpikir elaboration peserta didik pada pembelajaran fisika dalam penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing.

Adapun analisis inferensial digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi data serta menguji hipotesis penelitian.

1. Analisis Deskriptif

Teknik analisis deskriptif yang digunakan adalah penyajian data berupa skor rata-rata dan standar deviasi.

a. Menentukan skor rata-rata peserta didik dengan menggunakan rumus:

Me =

(Sugiyono, 2016:49) Keterangan:

Me = skor rata-rata

∑ = Epsilon (baca jumlah) = Nilai x ke I sampai ke n n = jumlah responden

b. Menentukan standar deviasi menggunakan rumus:

(Sugiyono, 2015:58) Keterangan:

s = standar deviasi

xi = skor peserta didik

x = skor rata-rata

(49)

34

n = banyaknya subjek penelitian

Untuk mengetahui nilai yang diperoleh peserta didik, maka skor dikonversi dalam bentuk nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Sugiyono (2016:35) dengan:

N = Nilai peserta didik

SS = Skor hasil belajar peserta didik SI = Skor ideal

2. Analisis Inferensal a. Pengujian Hipotesis

Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut.

: Tidak terdapat peningkatan (ada kesamaan) keterampilan berpikir elaboration peserta didik setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

: Terdapat peningkatan keterampilan berpikir elaboration peserta didik setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri terbimbing.

Atau dapat ditulis dalam bentuk :

Untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta

didik maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji t, dengan

rumus :

(50)

̅ ̅

(

)(

)

Dimana :

t = Nilai t yang dihitung, selanjutnya disebut t hitung ̅ = Rata-rata sampel 1

̅ = Rata-rata sampel 2

= Simpangan baku sampel 1

= Simpangan baku sampel 2

= Varians sampel 1

= Varians sampel 2

= Korelasi antar dua sampel

(Sugiyono, 2016:122) 3. Uji Peningkatan

Uji N-gain

Peningkatan yang terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain ternomalisasi (N-Gain). Menurut Richard (dalam Nurhidayah, 2016: 25) rumus yang digunakan untuk uji Chi Square adalah sebagai berikut:

g =

dengan:

S

post

= Skor tes akhir

S

pre

= Skor tes awal

S

maks

= Skor maksimum yang mungkin dicapai

Kriteria tingkat N Gain menurut Richard terdapat pada tebel sebagai berikut:

Tabel 3.2 Kategori Tingkat N-Gain

Batasan Kategori

g > 0,7 Tinggi

(51)

36

0,30 g 0,70 Sedang

g < 0,3 Rendah

Nurhidayah (2016:25)

(52)

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini adalah hasil studi lapangan untuk memperoleh data melalui pemberian tes sebelum dan setelah dilakukan suatu perlakuan pada kelas penelitian. Pada bab ini akan dipaparkan hasil penelitian beserta pembahasannya tentang “Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Berpikir Elaboration Peserta Didik”.

1. Analisis Validasi Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), buku ajar peserta didik, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), Tes Keterampilan Berpikir Elaboration (Pre Test dan Post Test) dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Pembelajaran Fisika SMA Negeri 22 Makassar” telah divalidasi oleh dua orang pakar, yang kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Gregory.

Tabel 4.1 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran

No Perangkat Uji Gregory ( r ) Ket

1 RPP 1,00 Layak digunakan

2 LKPD 1,00 Layak digunakan

3 Buku Peserta Didik 1,00 Layak digunakan

4 Instrumen Keterampilan

Berpikir Elaboration 1,00 Layak digunakan

Sumber: Data hasil pengolahan (2019)

(53)

38

Dari tabel di atas berdasarkan uji Gregory dengan syarat r 0,75, maka semua perangkat layak di gunakan dalam penelitian. (Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran A).

2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Adapun gambaran tes keterampilan berpikir Elaboration peserta didik sebelum diajar dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan setelah diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu:

Tabel 4.2. Statistik Skor Hasil Tes Keterampilan Berpikir Elaboration pada Pembelajaran Fisika Sebelum dan Setelah Diajar Dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing pada Peserta didik Kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar

Statistik Skor Statistik

Pretest Posttest

Ukuran sampel 32 32

Skor tertinggi 21 33

Skor terendah 6 16

Skor ideal 35 35

Rentang skor 15 17

Skor rata-rata 12,2 24,5

Standar deviasi 3,75 5,90

Variansi 14,07 34,8

Sumber: Data hasil pengolahan (2019) a. Hasil Penelitian Data Pre-test

Dari Tabel 4.2 peserta didik yang menjadi sampel penelitian (Kelas X

MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar) memiliki jumlah peserta didik sebanyak 32

orang. Dilihat dari skor tertinggi dari hasil tes keterampilan berpikir elaboration

pada pre test dicapai sebesar 21 dan skor terendah yang dicapai peserta didik

sebesar 6 dari skor ideal 35,dan skor rata-rata peserta didik sebesar 12,2 dengan

standar deviasi 3,75.

(54)

Jika skor hasil tes belajar fisika peserta didik kelas Kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar dianalisis menggunakan persentase pada distribusi frekuensi, maka dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Tes Keterampilan berpikir elaboration Fisika Peserta Didik Kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar Pada Pretest

Skor Frekuensi Persentase

6-8 5 16 %

9-11 10 31 %

12-14 10 31 %

15-17 4 13 %

18-20 2 6 %

21-23 1 3 %

Ʃ

32 100 %

Sumber: Data hasil pengolahan (2019)

Data distribusi frekuensi pretest pada Tabel 4.3 dapat disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:

Gambar 4.1 Diagram distribusi frekuensi kumulatif skor keterampilan berpikir elaboration fisika peserta didik kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar pada Pre-test

0 5 10 15

6-8. 9-11. 12-14. 15-17 18-20 21-23

Frekuensi

Skor Keterampilan Berpikir Elaboration Diagram Distribusi Frekuensi Pre-Test

(55)

40

Berdasarkan Gambar 4.1 mengenai skor pretest keterampilan berpikir elaboration peserta didik, terlihat bahwa hanya 1 orang peserta didik yang memiliki skor tinggi yaitu pada rentang 21-23 dan untuk rentang 9-10 serta 12-14 yaitu masing-masing 10 orang peserta didik memiliki skor yang rendah jadi dapat dilihat bahwa keterampilan berpikir elaboration peserta didik kelas X MIPA 6 Negeri 22 Makassar rendah.

b. Hasil Penelitian Data Post-test

Adapun data yang diperoleh dari tes keterampilan berpikir elaboration Fisika peserta didik kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar setelah diajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing selama 3 kali pertemuan dengan materi gerak lurus, maka dapat dilihat pada Tabel 4.4 skor tertinggi dari tes keterampilan berpikir elaboration fisika peserta didik yaitu 33 dan skor terendah yang dicapai yaitu 16 dari skor ideal 35. Adapun Jumlah sampel pada Posttest sebanyak 32 orang dan standar deviasi yang diperoleh sebesar 5,90 dengan skor rata-rata 24,5.

Berdasarkan data yang diperoleh dari tes keterampilan berpikir

Elaboration peserta didik setelah diajar dengan model pembelajaran inkuiri

terbimbing, maka dapat dilihat dari table 4.4 berikut:

(56)

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Tes Keterampilan berpikir elaboration Fisika Kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar pada saat Post test

Skor Frekuensi Persentase

16-18 8 25 %

19-21 4 12,5 %

22-24 4 12,5 %

25-27 4 12,5 %

28-30 4 12,5 %

31-33 8 25 %

Ʃ

32 100 %

Sumber: Data hasil pengolahan (2019) Data distribusi frekuensi post test pada Tabel 4.4 dapat disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:

Gambar 4.2 Diagram Distribusi Frekuensi Kumulatif Skor Keterampilan berpikir Elaboration Fisika Peserta Didik Kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar pada Post-test

0 2 4 6 8 10

16-18. 19-21. 22-24. 25-27. 28-30. 31-33.

Frekuensi

Skor Keterampilan Berpikir Elaboration Diagram Distribusi Frekuensi Post-Test

(57)

42

Berdasarkan Tabel 4.4 dan Gambar 4.2 di atas mengenai skor posttest keterampilan berpikir elaboration peserta didik, terlihat bahwa terdapat 8 orang peserta didik yang memiliki perolehan skor yang tinggi yaitu rentang 31-33 adapun untuk perolehan skor terendah pada rentang 16-18 yaitu 8 orang peserta didik. Dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir Elaboration peserta didik kelas X MIPA 6 SMA Negeri 22 Makassar meningkat yaitu terdapat perbedaan yang berarti tes keterampilan berpikir Elaboration sebelum dan setelah diberi perlakuan.

Jika distribusi interval skor keterampilan berpikir elaboration fisika peserta didik dikategorisasikan dalam skala lima yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi, maka akan diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Distribusi Interval Skor, Persentase dan Kategori Keterampilan Berpikir elaboration Peserta Didik Pada Pretest dan Posttest

Interval

Pre-test Post-test

Kategori Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

0 - 6 1 3% 0 0 % Sangat

Rendah

7 - 14 24 75 % 0 0 % Rendah

15 – 22 7 22 % 13 41 % Sedang

23 - 30 0 0 11 34 % Tinggi

31 - 38 0 0 8 25 % Sangat

Tinggi

Jumlah 32 100 % 32 100 %

Sumber: Data hasil pengolahan (2019)

Referensi

Dokumen terkait

diberikan oleh guru secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.. Upaya Meningkatkan

Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala nikmat, rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Penerapan Model

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) DENGAN MEDIA DIAGRAM VEE (V) UNTUK MENINGKATKAN SIKAP ILMIAH DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA

Hasil posttest pada indikator merumuskan masalah, setelah diterapkan pembelajaran inkuiri terbimbing,menunjukan bahwa tidak ada siswa pada indikator merumuskan masalah berada

Kesimpulan yang diperoleh pada penelitian adalah kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing mengalami

menerima materi dari guru, tetapi dengan penerapan model pembelajaran inkuiri siswa dituntut lebih aktif dalam memperoleh pengetahuan mulai dari merumuskan masalah, menganalisis dan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA PUSAKA 1 JAKARTA Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar

Studi mengenai respons guru dan peserta didik terhadap pembelajaran fisika menggunakan model inkui secara terbimbing dan organisasi maju di