• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kaidah yang ditentukan berdasarkan wahyu Allah SWT. yang terangkum dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kaidah yang ditentukan berdasarkan wahyu Allah SWT. yang terangkum dalam"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Perkembangan Fikih

Hukum Islam atau bisa juga disebut sebagai syariat Islam merupakan kaidah yang ditentukan berdasarkan wahyu Allah SWT. yang terangkum dalam Alquran melalui pengajaran dan penjelasan Rasulullah Saw. Pengajaran dan penjelasan Rasulullah Saw. berupa perkataan dan perbuatan yang diterima, dipelajari, ditulis, dan diajarkan dari generasi ke generasi yang dikenal dengan istilah al Hadis. Alquran dan hadis merupakan sumber rujukan dan pedoman dalam menentukan hukum dalam Islam.

Pada generasi pertama yaitu generasi para sahabat, mereka menerima ajaran tersebut secara langsung dari Rasulullah Saw. Jika para sahabat menghadapi suatu permasalahan mereka bisa bertanya langsung kepada Rasulullah Saw. untuk mendapatkan solusi atau hukum yang jelas, sehinga pada generasi sahabat tidak menemukan masalah yang terlalu rumit. Demikian juga generasi kedua yaitu generasi thabi’in. Meskipun para thabi’in hidup sepeninggalan Rasulullah Saw., namun mereka menerima ajaran yang diturunkan melalui para sahabat yang masa hidupnya masih dekat dengan Nabi. Seiring berjalan waktu dan jarak antar generasi setelah sepeninggalan Rasulullah Saw., maka muncul berbagai permasalahan baru yang belum ada semasa hidup Rasulullah Saw.

(2)

15

Para sahabat pada masa sepeninggalan Rasulullah Saw., jika mereka menemukan masalah baru yang membutuhkan hukum syar’i, mereka berusaha merumuskan hukum tentang masalah tersebut melalui cara melihat apa yang terkandung dalam Alquran dan apa yang sudah diajarkan Rasulullah Saw. Usaha mencari hukum terhadap permasalahan yang belum ada pada zaman Rasulullah Saw., dengan menguraikan isi kandungan Alquran dan hadis disebut ijtihad.

Para ulama mujtahid merumuskan kaidah dalam metode menentukan hukum syariat atau ijtihad sehingga menghasilkan berbagai pendapat dari hasil ijtihad masing – masing, yang kemudian disebut dengan fikih. Para mujtahid dalam ijtihadnya menentukan hukum syar’i, sampai menghasilkan pendapatnya melalui tahapan kaidah – kaidah yang tidak lepas dari logika dan analisa pemahaman masing – masing terhadap sumber hukum Alquran dan hadis. Hal ini yang menyebabkan perbedaan pendapat meskipun sumber hukumnya sama.

Perbedaan pendapat atau pandangan atas permasalahan hukum fikih disebut dengan ikhtilaf.

Fikih merupakan hasil ijtihad para mujtahid merupakan sumbangan ilmu yang sangat besar manfaatnya bagi umat Islam dalam menetapkan hukum suatu masalah. Pengajaran fikih hasil ijtihad ini menyebar dari murid ke murid, daerah ke daerah, hingga ke segala penjuru dunia. Masing – masing daerah menjadi dominan mengikuti hasil ijtihad yang berbeda, menyebar antara daerah satu dan daerah lainnya bahkan negara satu dan negara lainnya.

Para murid dan pengikut ulama mujtahid mengikuti jalan yang cenderung dipilih masing – masing dari pengajaran hasil ijtihad ulama fikih, yang disebut

(3)

16

dengan istilah mazhab. Seiring perkembangan waktu, banyak mazhab yang tidak berkembang, hingga saat ini tinggal 4 mazhab fikih yang masih diikuti umat Islam, mazhab tersebut adalah mazhab Hanafi (fikih ijtihad Imam Abu Hanifah), mazhab Maliki (fikih ijtihad Imam Malik), mazhab Syafi’i (fikih ijtihad Imam Syafi’i), dan mazhab Hambali (fikih ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal).

Sehubungan dengan cara umat Islam menemukan hukum suatu permasalahan, terutama yang tidak tercantum dalam Alquran dan hadis, maka umat Islam sekarang harus menyadari pentingnya belajar fikih, dan fikih tidak terlepas dari pemahaman mazhab. Berbicara mengenai cara mengikuti mazhab ada dua istilah metode yang digunakan yaitu taklid dan talfiq.

Taklid adalah menerima dan mengikuti satu mazhab tertentu tanpa perlu memahami metodologi yang digunakan ulama mujtahid dalam mengambil hukum. Talfiq adalah memilih salah satu dari pilihan mazhab yang ada, dengan membandingkan mazhab satu dan yang lainnya, dengan tujuan mendapatkan pendapat yang lebih kuat mendekati kebenaran dan kesesuaian. Sehingga bisa bisa disimpulkan bahwa yang dinamakan taklid mazhab adalah metode yang terikat satu mazhab saja, dan talfiq merupakan metode yang tidak harus terikat satu mazhab saja.

Pengaruh pemahaman mazhab menimbulkan berbagai pandangan dalam menyikapi hukum. Untuk itu memahami fikih ikhtilaf atau perbedaan mazhab seharusnya diajarkan sedini mungkin untuk melahirkan toleransi antar perbedaan satu dan lainnya. Dalam pembelajaran peran buku teks materi ajar sangat penting sebagai pedoman dan acuan materi yang diajarkan.

(4)

17

Dari pemaparan di atas maka penyusunan buku materi ajar harus mengacu pada toleransi ikhtilaf dan tidak memihak pada salah satu mazhab saja. Dengan penyusunan yang demikian diharapkan pemaparan materi bisa meminimalisir perbedaan pendapat sehinga implikasi pada pemahaman peserta didik bisa meluas mencangkup seluruh pemahaman empat mazhab.

B. Perkembangan di Usia Tingkat SMP/MTs

Tingkat pemahaman peserta didik menjadi acuan dalam penyajian materi ajar dengan menyesuaikan tingkat kesulitannya, agar tujuan pembelajaran bisa tercapai optimal. Seiring bertambahnya usia, berkembang pula tingkat pemahaman seseorang. Tingkat kesulitan dan kompleksnya materi ajar maka disesuaikan menurut tingkat perkembangan usia peserta didik.

Dalam tingkat perkembangan siswa, para ahli menjelaskanya sebagai berikut. Menurut al-Taftazani fase tamyiz dan baligh adalah fase dimana individu mampu bertindak menjalankan hukum, baik yang terkait dengan perintah maupun larangan. Seluruh perilaku mukallaf harus dipertanggungjawabkan, karena hal itu akan berimbas pada pahala dan dosa.

Fase tamyiz, yaitu fase saat anak-anak mulai mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Fase ini dimulai pada usia tujuh tahun sampai 12 atau 13 tahun. Fase baligh, yaitu fase saat usia anak telah sampai dewasa. dimana anak telah memiliki kesadaran penuh akan pribadinya, sehingga ia diberi beban tanggung jawab (taklif), terutama tanggung jawab agama dan sosial. Rentang usia pada fase ini adalah antara 14 tahun sampai 39 tahun. Fase ini

(5)

18

merupakan fase yang terpenting dalam perkembangan manusia, karena fase ini merupakan awal aktualisasi diri dalam memenuhi perjanjian yang pernah diucapkan di alam pra-kehidupan dunia. Al-Ghazali menyebut fase ini dengan fase aqil, di mana tingkat perkembangan intelektual seseorang dalam kondisi puncaknya, sehingga ia mampu membedakan perilaku yang benar dan salah, baik atau buruk. Kondisi aqil menjadi salah satu syarat wajib bagi seseorang untuk menerima suatu beban syariat agama12.

Perkembangan anak menurut Pieget disebut tahap perkembangan Operasi Formal yang merupakan operasi mental tingkat tinggi pada usia 11 tahun sampai dewasa. Disebut juga usia remaja, mampu berhubungan dengan objek – objek konkret, dan juga peristiwa – peristiwa hipotesis atau abstrak. Remaja sudah dapat berpikir abstrak dan memecahkan masalah melalui pengujian semua alternatif yang ada13.

Dari teori perkembangan kognitif tersebut, diketahui bahwa anak pada usia 11 tahun sudah mulai memiliki kemampuan untuk memahami dan menvisualisasikan pemikiran mereka dengan baik.

Peneliti memilih tingkat MTs yang siswanya telah berusia di atas 11 tahun yaitu rentang usia 13 sampai 14 tahun. Peneliti berasumsi bahwa pada tingkat SMP/MTs, proses pembelajaran PAI sudah dapat dilaksanakan secara maksimal, dalam artian pembelajaran PAI yang mendalam dan terperinci.

12 Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: 2006), 396 – 407.

13 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (cet. 13;

Bandung, 2012), 6.

(6)

19 C. Buku Materi Ajar Fikih MTs Kelas VII 1. Identitas Buku

Buku materi ajar Fikih MTs kelas VII terbitan Kemenag tahun 2020, merupakan buku teks wajib bagi siswa khususnya jenjang pendidikan Madrasah.

Penyusunan buku ini beracuan pada kurikulum 2013 yaitu kompetensi inti dan Kompetensi dasar yang disusun Kementrian Agama RI.

Buku ini disusun dengan isi beserta sampulnya sebanyak 279 halaman berukuran A4 (21 cm x 29.7 cm) dengan menggunakan jenis huruf Times new roman ukuran 12pt, Sakkal Majalla ukuran 16pt, dan Helvetica Lt Std ukuran 24pt. Cover buku bergambar foto seorang pria membasuh muka dalam berwudhu pada bagian bawah buku, yang dibatasi mozaik biru bagian atasnya berwarna putih. Pada pojok kiri atas terdapat logo Kemenag beserta nama penerbit buku yaitu Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Islam, dan Kementrian Agama Republik Indonesia, serta tahun buku diterbitkan yaitu 2020.

Dibawahya bertuliskan FIKIH berwarna biru tua yang merupakan judul buku.

Bagian pojok kiri paling bawah terdapat tulisan Kelas VII Madrasah Tsanawiyah yang menunjukkan buku ini ditujukan khusus untuk pembelajaran di jenjang MTs Kelas VII. Gambaran umum identitas buku tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Judul Buku : Fikih

Jenjang / Kelas : Madrasah Tsanawiyah (MTs) / Kelas VII

Penyusun : Mashuri

(7)

20

Penerbit : - Direktorat KSKK Madrasah

- Direktorat Jendral Pendidikan Islam

- Kementrian Agama Republik Indonesia Tahun Terbit : 2020 (Cetakan Ke 1)

Kota Terbit : Jakarta

Berikut adalah gambar halaman sampul depan buku.

Gambar 2. 1 - Sampul depan buku Fikih MTs VII Kemenag

(8)

21

Gambar 2. 2 - Halaman identitas buku Fikih MTs VII Kemenag 2. Materi Ajar Bab VI Salat Jumat

a. Kompetensi Inti

KI-1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

KI-2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleran, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

KI-3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait fenomena dan kejadian tampak nyata.

KI-4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah kongkrit (menggunakan, mengurai, merangkai, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan

(9)

22

yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut/teori.14

b. Kompetensi Dasar

1.6 Mengamalkan salat Jumat sebagai bukti ketaatan kepada ajaran Islam.

2.6 Menjalankan sikap bertanggung jawab sebagai implementasi dari pengetahuan tentang salat Jumat.

3.6 Menganalisis ketentuan salat Jumat

4.6 Mengkomunikasikan hasil analisis tentang tata cara salat Jumat.15

c. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran melalui, peserta didik dapat:

1) Menunjukkan keimanan terhadap Allah SWT. sebagai Al-Hafidz (Dzat Yang Maha Menjaga) dan Al-Wakil (Dzat yang Maha Memelihara) bagi umat manusia melalui pelaksanaan salat Jumat.

2) Membuktikan keimanan terhadap Allah SWT. sebagai Al-Hafidz (Dzat Yang Maha Menjaga) dan Al-Wakil (Dzat yang Maha Meleihara) dalam kehidupan sehari-sehari sebagai perwujudan rasa bertanggung jawab kepada Allah melalui pembiasaan salat Jumat.

3) Meyakini prinsip i’tidal sebagai ajaran Islam yang membentuk kepribadian yang bertanggung jawab melalui pengamalan salat Jumat.

4) Menjelaskan tentang pengertian salat Jumat.

14 Kemenag, Fikih Mts Kelas VII, (Jakarta: 2020), 155

15 ibid.

(10)

23

5) Membuat kesimpulan berdasarkan ayat-ayat Alquran dan Hadis tentang hukum pelaksanaan salat Jumat.

6) Membedakan syarat sah dan syarat wajib dalam pelaksanaan salat Jumat.

7) Mendeskripsikan tata cara pelaksanaan salat Jumat berdasarkan ketentuan urutannya.

8) Mensimulasikan dengan gerakan terlatih pelaksanaan dua khutbah sesuai dengan rukunrukunnya.

9) Mendemonstrasikan tata cara pelaksanaan salat Jumat, baik tata cara yang diwajibkan, disunahkan, dan sangat kuat dianjurkan untuk dipenuhi.16

d. Peta Konsep

16 ibid, 156

Melatih Disiplin dengan Shalat Jumat Pengertian Shalat

Jumat

Syarat Sah dan Wajib Shalat Jumat

Hadis

Islam Wasathiyyah Dua Khutbah Jumat

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Jumat

Prinsip I’tidal Alquran

Dasar Hukum Shalat Jumat

Dasar Hukum Shalat Shalat Jumat

Melatih Bertanggung Jawab

dengan Shalat Jumat

(11)

24

Gambar 2. 3 - Peta Konsep Bab. Salat Jumat e. Konten Materi ajar salat Jumat

Pada halaman awal buku teks dibuka dengan mukadimah bahwa salat Jumat merupakan salah satu bentuk ibadah yang mengandung hikmah untuk membentuk pribadi yang disiplin dan tanggungjawab. Dengan disertai hadis:

َ تنيل

ََّيه

َ ماوقأ

ََ ع َ َ

َ وَ د َْنَ

َ لجاَمه َِع

َ م

َِتاع

َوأَ،

َْخَِت َ لي

ََّنَ م

َ قَىلعَالله

َِِبول م

“Demi Allah, berhentilah para lelaki yang sering meninggalkan salat Jumat atau Allah akan mengunci hati mereka dan menjadikannya orang-orang yang lalai” (HR: An-Nasa’i dan Abu Dawud)ز

Hadis tersebut memberi pengertian bahwa muslim yang meninggalkan salat Jumat mempunyai kepribadian yang tidak disiplin, tidak bertanggungjawab, dan terkunci mata hatinya.

(12)

25 Gambar 2. 4 - Muadzin/bilal sedang adzan Jumat Sumber: http://majlas.yn.lt

Gambar 2. 5 - Khatib sedang berkhutbah Sumber:

https://melawinews.com

Gambar 2. 6 - Adzan Jumat setelah khatib naik mimbar Sumber:

https://aswajanucenterjatim.com

Gambar 2. 7 - Pelaksanaan salat Jumat Sumber:

https://www.smpIslamicqon.sch.id

Gambar 2. 8 - Pelaksanaan Salat Jumat Sumber: https://Islami.co

Gambar 2. 9 - Muadzin/Bilal memberi peringatan kepada jamaah

sesaat sebelum Khatib naik mimbar Sumber: http://tribratanews

1) Pengertian Salat Jumat

Dalam buku ajar dijelaskan bahwa salat Jumat adalah salat yang dilaksanakan di hari Jumat sebanyak dua rakaat diwaktu Zuhur yaitu

(13)

26

tergelincirnya matahari sampai panjang bayangan sama dengan bendanya, dilaksanakan secara berjamaah, dan dengan ketentuan – ketentuan seperti syarat sah, syarat wajib, rukun khutbah, syarat khatib, sunah dalam pelaksanaan, dan lain – lain. Hukumnya fardhu ‘ain bagi laki – laki yang sudah mencapai usia baligh.

Salat Jumat bukanlah salat Zuhur dan bukan juga pengganti salat Zuhur, melainkan salat berbeda yang berdiri sendiri. Akan tetapi bagi yang telah melaksanakan salat Jumat tidak diwajibkan untuk melaksanakan salat Zuhur. Perbedaan antara salat Jumat dan salat Zuhur baik dari segi syarat wajib dan tata cara salat dijelaskan dalam bentuk tabel berikut:

Salat Jumat Salat Zuhur

Fardhu ‘ain bagi setiap laki-laki yang sudah baligh

Fardhu ‘ain bagi laki laki dan perempuan yang sudah baligh

Wajib dilakukan secara berjama’ah Wajib dilakukan secara berjama’ah namun sah dikerjakan sendiri (munfarid)

Dilaksanakan setelah tergelincirnya matahari hingga memasuki waktu salat Ashar.

Dilaksanakan setelah tergelincirnya matahari hingga memasuki waktu salat Ashar.

Memiliki dua rakaat Memiliki empat rakaat Terdapat dua khutbah sebelum

pelaksanaan salat

Tidak terdapat dua khutbah sebelum pelaksanaan salat

Termasuk salat yang dikeraskan bacaannya

Dua rakaat awal keras (jahar) dua rakaat terakhir pelan (sir)

Tabel 2. 1 Perbedaan salat Jumat dan salat Zuhur

2) Dasar Hukum Salat Jumat

(14)

27 a) Dalil Alquran

Firman Allah SWT.:

َ يََ أ

َ هُّ ي

ََّلاَا

َ نيَ َِذ

َ مآَ ن

َِإَاو

َ نَا َ ذ

َ يَ َِدو

ََّص َِلل

َ لا

َِة

َْنَ َِمَ

َ يَْوَِم

َ ْلجَ م اَ

َ عَِةَ

َْسَ ع َ فا

َْوَِإَا

َ لَ

َِذََ

َْك

َِ للا َِرَ

َ ذو َ

َ ر اَْلَ بَْي َاو

َ عَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”17

Ayat tersebut menjelaskan untuk meninggalkan pekerjaan apapun, ketika salat Jumat hendak dilaksanakan

b) Dalil Hadis

(1) Hadis Nabi Saw menjelaskan kedudukan hari Jumat sebagai hari terbaik dibanding hari - hari lainnya:

َِإََّن

َ يََْو

َ ماَ

َ مَ ع َ لج

َ سَِ ي َِةَ

َ دَ

َ لأا

َِمَّي

َ وَ،

َ أَْع

َ مَ ه َ ظ

َِعَا

َْنَ د

َِ للا َ

َ وَ،

َ هَ و

َْعَ ََ أ

َ مَ ظ

َِعَْن

َِ للا َ دَ

َْنَ ََِم

َ يَْوَِم

َ لأا َ

َ ح َْض

َى

َ وَ ي

َِمو

َْلَِف َاَ

َْط

َِر

َ

Artinya:

17QS. Al.Jumu’ah [62]: 9

(15)

28

“Hari Jumat adalah tuannya semua hari, dan bagi Allah merupakan hari paling agung. Di mata Allah, hari Jumat lebih agung dari hari Idul Fitri dan Idul Adha”18

(2) Wajib melaksanakan salat Jumat bagi laki-laki yang sudah memasuki usia baligh tanpa terkecuali. Nabi Saw bersabda:

َ حاور

َ لجا َ

َِةعم

َِجاوَ

َ ب

َِ لكَىلع َ

َ مَ ت َ لَ م

َ

Artinya:

”Pergi menunaikan salat Jumat wajib bagi semua laki-laki yang sudah memasuki usia baligh”19

(3) Rasulullah memperingatkan laki-laki yang meninggalkan salat Jumat dengan sengaja akan berkarakter tidak disiplin. Rasulullah Saw bersabda:

َ وا َ ت

َ ِبًَنً

َ طَا

َ بَ ع

َ للا َ

ََ عَ ل

َ قَى

َْلَِبَِه

َ ج

َ مَْن َ ع

ََ تَ ر

َ كَ

َ لا َ ث

َ ث

َ

Artinya:

“Siapapun yang meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut dengan perasaan remeh, Allah akan jadikan kebiasaan itu berada dalam hatinya”20

(4) Salat Subuh, Isya’, dan Ashar sangat dianjurkan untuk dilakukan dengan berjama’ah. Rasulullah Saw bersabda:

18HR. Ibnu Majjah

19HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud

20HR. Lima Imam Hadis

(16)

29

َ لَ ق

َ ه َْد

َْم

َ ت

َْن ََ أ

َ مآَ ر َ

ََ ر

َ ج

ََ ي ًَلا

َ صَِ ل

َِبَي

َِساَّنل

َّ ث ََ

َ حَِ ر َ أَ

ََ عَ ل َ ق

َِرَى

َ ج

َ يَ لا

َ تَ خ

َ فَّل

ََ ع َ نو

َِن

َ ْلج اَ

َ مَ ع

َِةَ

َ بَ ي

َ تو

َْم

َ

Artinya:

“Aku berniat menyuruh laki-laki untuk salat berjama’ah,lalu aku akan membakar rumah-rumah orang yang meninggalkan salat Jumat”21

3) Syarat Sah dan Syarat Wajib Salat Jumat

Syarat sah dan syarat wajib pada buku materi ajar dipaparkan melalui perpaduan 2 kitab fikih yaitu Kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

Kitab Safinatun Najah Kitab Matan Taqrib 1. Dilaksanakan pada waktu salat

Zuhur.

2. Dilaksanakan di pemukiman 3. Dilaksanakan secara berjama’ah

dengan jumlah jama’ah minimal 40

orang.

4. Laki-lak yang merdeka dan telah memasuki usia baligh yang Menetap.

5. Tidak terdapat dua salat Jumat dalam satu tempat yang sama.

6. Didahului oleh pelaksanaan dua khutbah Jumat.

Syarat wajibnya salat diantaranya:

1. Islam 2. Merdeka

3. Memasuki usia baligh 4. Berakal

5. Laki-laki 6. Sehat 7. Menetap

Syarat sahnya salat meliputi:

1. Perkampungan atau pemukiman 2. Jumlah jama’ah minimal 40

orang.

3. Dilaksanakan pada waktu salat Zuhur.

21 HR. Muslim dan Ahmad

(17)

30

Tabel 2. 2. Syarat sah dan syarat wajib salat Jumat pada Kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

Unsur - unsur Pendapat

Pertama

Pendapat Kedua Syarat Wajib Salat Jumat

1. Islam -

2. Merdeka

3. Memasuki usia baligh

4. Berakal -

5. Laki-laki

6. Sehat -

7. Menetap

Syarat Sahnya Salat Jumat

1. Perkampungan atau pemukiman

2. Dilakukan secara berjama’ah dengan jumlah

minimal 40 orang

3. Dilaksanakan pada waktu salat Zuhur. 4. Tidak terdapat dua salat Jumat dalam satu

tempat yang sama. -

5. Didahului oleh pelaksanaan dua khutbah

Jumat. -

Tabel 2. 3. Perpaduan syarat sah dan syarat wajib salat Jumat pada Kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

Perpaduan 2 pendapat tersebut menghasilkan 7 syarat wajib salat Jumat dan 4 syarat sah salat Jumat yang dipaparkan berikut:

a) Syarat wajib salat Jumat:

(18)

31

(1) Islam, Tidak sah salat Jumatnya orang kafir.

(2) Merdeka, Tidak sah salat Jumat bagi hamba sahaya atau budak.

(3) Memasuki usia baligh, Namun bagi anak kecil yang sudah mumayyiz (mampu membedakan benar dan salah) salatnya tetap sah, karena belum diwajibkan melaksanakan salat Jumat. Tetapi sangat dianjurkan ikut serta sebagai pembelajaran.

(4) Berakal, Tidak wajib salat Jumat bagi orang yang hilang ingatan, karena sakit gila, ayan, pingsan dan mabuk secara terus menerus.

(5) Laki – laki, Tidak wajib salat Jumat bagi laki-laki yang belum baligh dan perempuan baik yang sudah baligh atau belum.

(6) Sehat, Bagi orang sakit dikecualikan dari kewajiban melaksanakan salat Jumat.

(7) Menetap, Tidak wajib bagi orang yang bepergian ke suatu tempat yang tidak memiliki niat untuk menetap selama minimal 4 hari. Waktu bepergian juga tidak pada hari Jumat setelah salat subuh. Jika memiliki niat menetap dan bepergian setelah selesai salat subuh maka tetap wajib melaksanakan salat Jumat.

b) Syarat sah salat Jumat:

(1) Pemukiman, Salat Jumat dilaksanakan di masjid desa atau perbatasan suatu kampung atau pemukiman dalam wilayah administratif desa tertentu.

(19)

32

(2) Berjama’ah dengan 40 orang Jama’ah, Tidak sah salat Jumat jika jumlah jama’ah salatnya kurang dari 40 orang termasuk Imam.

(3) Dilaksanakan pada waktu salat Zuhur, Yaitu mulai tergelincirnya mata hari hingga memasuki waktu salat Ashar. lebih diutamakan menyegerakan pelaksanaan salat Jumat dengan tidak mengulur-ulur waktu.

(4) Tidak terdapat dua salat Jumat Dalam Waktu Bersamaan, Salat Jumat jika terdapat dua atau lebih masjid yang menyelenggarakan salat Jumat maka yang dipandang sah adalah yang mendahului. Kecuali:

- Jika daerah yang sangat luas dan sulit untuk mengumpulkan jamaah dalam satu masjid.

- Antar kampung saling bermusuhan atau berperang

- Jarak yang jauh satu desa dengan desa lainnya, sehingga penduduk tidak dapat mendengar adzan Jumat.

4) Khutbah Jumat

Khutbah Jumat dibaca dua kali oleh khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat dengan posisi khatib harus berdiri. Diantara khutbah pertama dan kedua dibatasi dengan duduk sejenak

Jika dalam pokok bahasan salat dikenal dengan istilah syarat sah dan syarat wajib, maka dalam dua khutbah dikenal dengan syarat khutbah dan rukun khutbah. Syarat khatib merupakan perkara – perkara yang harus dipenuhi oleh seorang khatib dan menentukan sah atau tidaknya khutbah.

(20)

33

Syarat ini di luar materi khutbah yang disampaikan. Rukun merupakan perkara – perkara yang harus dipenuhi dalam materi khutbah yang disampaikan dan menentukan sah atau tidaknya khutbah.

a) Syarat khutbah Jumat

Kitab Safinatun Najah Kitab Matan Taqrib (1) Suci dari hadats kecil dan

hadats besar.

(2) Suci dari najis, baik badan, pakaian maupun tempatnya.

(3) Menutup aurat.

(4) Berdiri bagi yang mampu.

(5) Duduk diantara dua dua khtubah dengan batas minimal sama dengan lamanya thuma’ninah dalam salat.

(6) Berurutan antara khutbah pertama dengan khutbah kedua.

(7) Berurutan dengan pelaksanaan salat Jumat.

(8) Menggunakan Bahasa Arab.

(9) Jama’ah yang mendengarkan minimal berjumlah 40 orang.

(10) Dilaksanakan pada waktu

yang sama dengan

pelaksanaan salat Zuhur.

(1) Suci dari najis dan hadats, baik badan, pakaian dan tempat khutbah. Begitu pula menutup aurat dan dianjurkan dengan pakaian yang masih baru.

(2) Mendahulukan dua khutbah daripada salat Jumat.

(3) Dilaksanakan pada waktu yang sama dengan pelaksanaan salat Zuhur.

(4) Khutbah dilaksanakan dengan berdiri.

(5) Duduk sejenak diantara dua

khutbah dan wajib

thuma’ninah.

(6) Mengeraskan suara yang sekiranya 40 jama’ah dapat mendengarnya

(21)

34

Tabel 2. 4. Syarat khutbah Jumat pada Kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

Unsur-unsur Dalam Syarat Dua Khutbah Pendapat Pertama

Pendapat Kedua (1) Suci dari hadats besar dan kecil. (2) Suci dari najis baik badan, pakaian dan

tempat khutbah.

(3) Menutup aurat.

(4) Berdiri bagi yang mampu

(5) Duduk diantara dua khutbah disertai

tuma’ninah.

(6) Berurutan antara dua khutbah

(7) Berurutan antara dua khutbah dengan

salat Jumat

(8) Menggunakan Bahasa Arab.

(9) Jama’ah yang mendengarkan minimal

40 orang.

(10) Waktu pelaksanaan masih dalam

lingkup waktu salat Zuhur.

(11) Mengeraskan suara yang sekiranya

40 jama’ah dapat mendengarnya.

Tabel 2. 5. Perbedaan syarat khutbah Jumat pada Kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

b) Rukun-Rukun Khutbah Jumat Berdasarkan Kitab Safinatun Najah

Berdasarkan Kitab Matan Taqrib

(1) Memuji Allah SWT. dalam dua (1) Khatib harus mengucapkan

(22)

35

khutbah tahmid (puji-pujian kepada

Allah SWT.)

(2) Khatib harus mengucapkan dua kalimah syahadat.

Rasulullah Saw. bersabda :

َ يِه فَ دُّه ش تَ ا هيِفَ سي لَ ة بْط خَ ُّل ك

َِءا مْذ لجاَِد يْلا ك

َ:دوادَوبأَهاور

( ٤٢٠١

َ

)

“Setiap khutbah yang tidak ada syahadat di dalamnya, bagaikan tangan yang terpotong” [HR Abu Dawud, 4201)

(2) Membaca shalawat kepada Rasulullah Saw.

(3) Khatib harus mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad Saw.

َنًديسَىلعَ ْكِرب وَْمِ ل سَوَ ِ ل صََّم ه للا

َ يِعِباَّتلاوَ ِهِباحْص أوَ هِلاَ ىلعوَ د مم نيَِ دلاَمويَلإَِناسْحِبِ

Artinya:

“Wahai Tuhanku, semoga Engkau limpahkan rahmat dan kedamaian kepada tuanku Nabi Muhammad Saw, keluarganya, sahabat sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dalam kebaikan sampai hari kiamat”.

(3) Berwasiat agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT.

(4) Khatib berwasiat untuk jama’ah agar selalu bertakwa

(23)

36

kepada Allah SWT. Contohnya dengan mengucapkan:

اهُّيا ي ف

،نا وْخ ِلِا

َْم كْي صوأ يِسْف ن و

ى وْق تِب

َِهِت عا ط وَِالله

َْم كَّل ع ل

َْنو حِلْف ت

Artinya:

“Wahai saudaraku! Aku berwasiat kepada kalian dan kepada pribadiku agar selalu bertakwa kepada Allah dan mentaatinya agar kalian (termasuk diriku) menjadi beruntung”.

(4) Membaca ayat Alquran pada salah satu dari dua khutbah.

(5) Khatib membaca ayat Alquran pada salah satu khutbah

(5) Membaca doa yang ditujukan kepada orang-orang muslim lakilaki dan perempuan pada khutbah kedua.

(6) Khatib berdo’a yang ditunjukkan kepada muslimin dan muslimat yang berisi permohonan ampun atas segala dosa.

Tabel 2. 6. Rukun khutbah pada kitab Safinatun Najah dan kitab Matan Taqrib

5) Tata Cara Pelaksanaan Salat Jumat

No. Tahapan Pelaksanaan Salat

Kategori Unsur Wajib Sunah (1) Mandi sunah dengan niat untuk melaksanakan salat Jumat 

(2) Memaki wewangian sehingga bau badan tidak sedap hilang 

(3) Memakai pakaian yang paling bagus dan lebih dianjurkan 

(24)

37 berwarna putih.

(4) Memotong atau memendekkan kuku kedua tangan 

(5) Salat sunah tahiyyat masjid 

(6) Adzan Pertama. Adzan pertama dibaca panjang oleh mua’dzin seperti yang dilakukan dalam pelaksanaan salat fardlu lima waktu.



(7) Salat Sunah Qabliyah. Salat sunah yang mengiringi salat Jumat dua rakaat dengan tidak memanjangkan bacaan dan memperlama gerakan-gerakannya



(8) Persiapan Adzan Kedua. Mu’adzin, bilal atau petugas yang ditunjuk berdiri dengan membawa tongkat dan menghadap jama’ah dengan membaca:

َ يِض رَ ة رْ ي ر هَ ِبى أَْن عَ يِو رَ،ِاللهَ م ك ِحم رَ يِنِمْؤ مْلاَ ة رْم ز وَ، يِمِلْس مْلا رِشا ع م

َ تْل قَ ا ذِإَ مَّل س وَ ِهْي ل عَ اللهَىَّل صَِاللهَ لو س رَ لا قَ، لا قَ هَّن أَ هْن عَ الله

َ صِل

َاو تِصْن أ(َ تْو غ لَ ْد ق فَ ب طْ يََ ما مِلِْا وَ،ْتِصْن أَِة ع م ْلجاَ مْو يَ كِبِحا

َ ِاللهَ م ك ِحم رَ او عيِط أ وَ او ع ْسْا و ٢

َْم كَّل ع لَ او عيِط أ وَ او ع ْسْا وَ او تِصْن أ َ )×

َ نو حمْر ت ١

َ

Khatib berjalan menuju mimbar khutbah dan bilal menyerahkan tongkat kepada khatib, kemudian bilal membaca shalawat kepada Nabi Saw:

َ دَّم مَ نًِد ِي سَى ل عَ ِل صََّم ه َّللا ٢

َا نِبيِب ح وَ نًِد ِي سَى ل عَ ِل صََّم ه َّللاَ، َ×

َ ْن عَ لا ع ت وَ ك را ب تَ اللهَ يِض ر وَ ْم ِل س وَ دَّم مَ نً لَْو م وَا نِعيِف ش و

َا نِت دا س

َ يِع ْج أَِاللهَ ِلو س رَ ِبا حْص أ

Khatib mengucapkan salam, kemudian bilal mengajak jama’ah berdoa:

ا

َِ و قَ م ه لل

َ وَ يِنِمْؤ مْلاَ وَ, ِتا مِلْس مْلاَ وَا نْ يِمِلْس مْلاَ نِمَ, مَ لاْسلِأ

َ, ِتاوملأْاوَمهنمَِءا يْحَ ْلأ اَ ِتا نِمْؤ مْلا

َ ِ ب ر يَ. نيِ دِنا ع لمْاَىل عَم هْر صْنا و

َ يِِحماَّرلاَ م حرايَ كِت ْحم رِبَ نْيَِرِصاَّنلاَ يْ خ ي وَ, ْيْ ْلِْبَ كْنِما ن لَْمِتْخا



(25)

38

(9) Adzan Kedua. Bacaan dalam adzan kedua sama dengan yang pertama. Hanya saja suaranya lebih dipendekkan.



(10) Khutbah Jumat. Dua khutbah Jum’ah wajib hukumnya dengan tata cara pelaksanaan khutbah sebagai berikut:

a) Khatib duduk di atas mimbar sebelum memulai khutbah.

b) Menghadapkan wajahnya keara jam’ah tanpa menoleh ke kanan dan kekiri.

c) Pada saat berdiri, khatib bersandar dengan tangan kirinya pada sebuah tongkat, pedang atau busur.

d) Memendekkan kedua khutbah dan khutbah kedua lebih pendek daripada khutbah pertama.

e) Khatib membaca dua khutbah berdasarkan ketentuan- ketentuan yang telah dijelaskan di atas.

f) Pada saat khatib duduk diantara dua khutbah, jama’ah termasuk khatib dianjurkan untuk berdoa sesuai dengan maksud masing- masing. Karena waktu tersebut merupakan waktu yang mustajab.

g) Setelah selesai dua khutbah, bilal mengumandangkan iqamah

h) Imam turun dari mimbar dan menuju mihrab. Khatib meninggalkan mihrab dengan cara turun dari atas mimbar menuju mihrab bersamaan dengan selesainya muadzin dari mengumandangkan iqamah. Tujuannya agar sedapat mungkin mengurutkan antara dua khutbah dengan salat Jumat.















(11) Berdzikir setelah salat dan dianjurkan membaca:

a) Al-Ikhlas x3 b) Al-Falaq x3 c) An-Nas x3

d) Doa penutup sebagaimana yang dibaca setelah salat fardlu lima waktu.



Tabel 2. 7. Tata Cara Pelaksanaan Salat Jumat dan hukumnya

(26)

39 6) Hikmah Salat Jumat

a) Melatih Kedisiplinan

Banyak hikmah pelaksanaan salat Jumat yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya bagi orang yang sungguh – sungguh melakukannya.

(1) Orang yang melaksanakan salat satu Jumat ke Jumat berikutnya, maka hari - harinya diantara dua Jumat tersebut akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT., sesuai sabda Rasulullah Saw.:

ََّص لا

َ لَ و

َ تا

َ لْ اَ

َ س َْم اوَ ،

َ مَ ع َ لج

َ ةَ

َ لإ

َ لج اَ

َ مَ ع

َ روَ ، َِة

َ م

َ ض

َ نا

َ ضمرَ لإ َ

َ مَ ، َِنا

َِفَ را َ ك

َ،َّن ه ني بامَ َ ت

َ ب ن تْجاا ذِإ

َ رِئا ب كلا

Artinya: “Salat lima waktu, dari salat Jumat ke Jumat berikutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dapat mengampuni dosa-dosa diantara keduanya, selagi menjauhi dosa-dosa besar” (HR. Muslim) (2) Memperkuat kandungan hadis sebelumnya tentang orang yang

melaksanakan salat satu Jumat ke Jumat berikutnya. Ia akan mendapatkan ampunan pada hari-hari diantara dua Jumat tersebut, ditambah tiga hari sesudahnya. Rasulullah Saw. bersabda:

م

َْغَ ت اَن

َ لَ َ س

ََّ ث

َ تأَ

َ لج اَى

َ مَ ع

َ ةَ

َ ص َ ف مَىَّل

َ قَا

َِ دَ ر

ََ لَ ه أََّثَ،َ

َ ص َْن

َ ت

َ ح َ

َ يَ َّتَّ

َْفَ رَ غ

َْنَ ََِم

َ خ

َْطَ بَِت

ََّثَ،َ َِه

َ يَ ص

َ مَي َِ ل

َ عَ هَ

َ غَ،

َِفَ رَ

َ لَ هَ

َ بَام

َ نْ يَ ه اَ ْيبوَ

َ لجَ م

َ عَِةَ

َ لأا

َ رْخ

َ وَى

َ لْض َ ف

ََ ث

َ ثلا

َ مَّيأ َِةَ

Artinya: “Siapa yang mandi kemudian pergi menunaikan salat Jumat hingga Imam selesai dari khutbahnya, kemudian ia ikut salat bersamanya maka akan diampuni dosadosanya yang dilakukan

(27)

40

diantara hari itu dan hari Jumat yang akan datang serta akan ditambah tiga hari” (HR. Muslim, Ahmad, Bazzar, Thabrani dan Abu Dawud).

(3) Hari Jumat termasuk waktu yang terkabulkannya doa hamba Allah.

Terutama waktu setelah hamba Allah melaksanakan salat Jumat kemudian. Rasulullah Saw bersabda:

َ سَهيف

َ عا

َ يَلَ َ ةَ

َ وَِفا

َ عَاهق

َ مَ دْب

َ قَوهوَ، م َِلس

َ يَ م َِئا

َ صَِ ل

َ أسيَي

َ شَ للا َ لَ

أََّلَإَ،اًئْ ي

َ طْع

َ هاَ

َهَّيإ

َ شأو

َ راَ

َِب

َِدي

َ يَ قَِ ل َِهَ

َ لَ ه

َا

َ

Artinya:

“Di dalamnya terdapat waktu yang sangat baik bagi hamba muslim, sementara ia sedang melaksanakan salat. Jika ia meminta sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan kepadanya. Nabi Saw memberi isyarat dengan tangannya bahwa hal itu sangat mudah bagi- Nya” (HR. Muttafaq alaih).

b) Melatih Tanggung Jawab

Perintah untuk bersiap – siap dan menuju masjid untuk menunaikan salat Jumat dalam QS Al-Jumu’ah [62]: 9, memberikan hikmah kepada umat Islam untuk bersikap disiplin, jika melaksanakannya dengan konsisten akan mencapai sikap tanggungjawab. Peserta didik akan disiplin dan bertanggungjawab dalam pengerjaan tugas – tugas sekolah.

(28)

41

Sikap disiplin dan tanggungjawab diperlukan dalam integritas sosial dan menjadikannya prinsip akan membuat diri dapat dipercaya, dalam perkataan, perbuatan dan pekerjaan.

D. Salat Jumat dalam buku Fikih Salat Empat Mazhab 1. Hal-Hal Yang Dianjurkan Pada Hari Jumat

Padahari Jumat dianjurkan melakukan beberapa hal berikut ini:

a. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi pada siang dan malamnya.

b. Membaca surat al-Kahfi pada siang dan malamnya.

c. Mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian yang terbaik.

d. Selain Imam disunahkan takbir ketika menuju ke tempat shalat Jumat.

2. Hal – Hal Yang Di Makruhkan Pada Salat Jumat a. Meninggalkan sunah-sunah Jumat dengan Sengaja.

b. Menyibak shaf untuk mendapatkan shaf depan.

c. Khatib membelakangi jama’ah dalam khutbah.

d. Khatib mengangkat tangan ketika berdo'a dalam khutbah.

3. Dalil Wajibnya Shalat Jumat

Salat Jumat terdiri dari dua raka’at, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari Umar bin Khathab ra., dia berkata: “salat Jumat adalah dua raka’at

(29)

42

sempurna tanpa bisa dikurangi berdasarkan ucapan Nabi kalian” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Shalat Jum at adalah fardhu ‘ain (kewajiban individual) yang berdiri sendiri dan bukan merupakan ganti dari shalat zhuhur, kecuali jika kewajiban shalat Jumat tersebut telah gugur dari seseorang, maka dia bisa menggantinya dengan shalat zhuhur empat raka’at. Dalil yang menerangkan wajibnya shalat Jumat tertera dalam Alquran, Sunah, dan Ijma' para ulama. Adapun dalil Alquran adalah:

َِمَِة لاَّصلِلَ يِدو نَا ذِإَاو ن مآَ نيِذَّلاَا هُّ ي أَ ي

َ ْيْ خَْم كِل ذََۚ عْي بْلاَاو ر ذ وََِّللاَِرْكِذَ لِإَاْو عْسا فَِة ع م ْلجاَ ِمْو يَْن

َ نو م لْع تَْم تْ ن كَْنِإَْم ك ل

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk mengerjakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”22

Dalil yang berasal dari Sunah antara lain adalah hadis dari Umar tersebut di atas Dalam riwayat lain juga disebutkan,dari Ibnu Mas’ud RA., dia berkata bahwa Nabi Saw. pernah berkata kepada kaum yang meninggalkan shalat Jumat:

“Sesungguhnya aku telah memerintahkan dengan tegas kepada seorang laki-laki agar menyuruh manusia untuk shalat (Jumat) dan membakar rumah laki-laki yang meninggalkannya. ” (HR. Ahmad dan Muslim).

Dari Abu Hurairah ra, dan Ibnu Umar RA., bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah Saw bersabda (di atas mimbarnya): “Allah pasti akan mematikan atau menutup hati kaum yang meninggalkan shalat Jumat kemudian mereka pasti menjadi orang orang yang lupa.” (HR. Muslim).

22 QS. Al-Jumu'ah [62]: 9

(30)

43

Dari Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas ra., serta dari Abul Ja’d Adh-Dhamari bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Imam yang lima).

4. Syarat Wajibnya Shalat Jumat

Shalat Jumat wajib bagi seorang muslim laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muqim (domisili tetap), sanggup berjalan menuju tempat berlangsungnya shalat Jumat, dan tidak ada halangan yang membuatnya boleh meninggalkannya Sebagian halangan tersebut telah kami sebutkan pada Bab penyebab gugurnya kewajiban syarat berjama’ah dalam shalat yang memiliki syarat sahnya dengan berjama’ah. Sebagian diantaranya di sebutkan berikut ini:

a. Perempuan tidak diwajibkan shalat Jumat, akan tetapi jika mereka mengerjakannya, maka shalatnya tetap sah.

b. Anak – anak tidak diwajibkan shalat Jumat, akan tetapi jika mereka mengerjakannya, maka shalatnya tetap sah.

c. Sakit yang membuatnya tidak mampu menghadiri tempat dilangsungkannya shalat Jumat, atau khawatir penyakitnya menjadi parah atau proses penyembuhannya menjadi lama.

Dari Thariq bin Syihab bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim, kecuali karena empat hal, yaitu bagi seorang sahaya, wanita, anak kecil, dan orang sakit.” {HR Abu Dawud. Imam Mawawi berhata bahwa hadis Ini shahih dari jalur Muslim)

(31)

44

d. Musafir, meskipun dia menemui waktu didirikannya shalat Jumat. Dari Abdullahbin Umar ra., dia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda ‘Tidak ada shalat Jumat bagi orang yang sedang musafir’.” (HR. Thabarani)

Rasulullah Saw juga pernah bepergian, ketika itu beliau tidak mengerjakan shalat Jumat. Ketika peristiwa haji wada’ di ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jumat, maka shalat zhuhur dan ashar dikerjakan dengan jama’

taqdim dan tidak mengerjakan shalat Jumat. Begitu pula yang dilakukan oleh para Khulafa’urrasyidin dan para shahabat lainnya.

e. Orang berhutang yang belum mampu membayar dan khawatir dia akan dipenjarakan.

f. Bersembunyi dari penguasa yang zhalim.

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi Saw. bersabda: “’Siapa yang mendengar seruan adzan kemudian tidak memenuhinya, maka shalatnya tidak sah kecuali karena ada udzur’ Para shahabat bertanya: ‘Apakah ‘udzur itu?.’ Beliau menjawab: ‘Takut dan sakit.’” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih) Bagi semua orang yang mengalami enam udzur di atas diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shalat Jumat dan menggantinya dengan shalat zhuhur.

Bagi mereka yang tetap mengerjakan shalat Jumat, maka tetap sah dan gugur pula kewajiban shalat zhuhur baginya. Pada masa Rasulullah Saw. ada juga kaum wanita yang menghadiri shalat Jumat di masjid.

5. Ketentuan Salat Jumat Perspektif Fikih Empat Mazhab a. Salat Jumat Perspektif Mazhab Hanafi

(32)

45 1) Syarat Sahnya Shalat Jumat Mahab Hanafi

a) Mengerjakannya pada waktu zhuhur yaitu mulai tergelincir matahari sampai panjang bayangan sebuah benda sama dengan benda aslinya

b) Dikerjakannya secara berjama’ah dengan jumlah minimal tiga orang selain Imam, karena tiga merupakan kriteria untuk disebut jama’ah

c) Dalam satu wilayah dilaksanakan dengan satu jama’ah. Kecuali jika ada udzur, maka yang sah adalah shalat Jumat yang lebih dulu dikerjakan

d) Dikerjakannya di wilayah perkotaan yang berpenduduk tetap atau di sekitamya. Imam shalat Jumatnya adalah petugas resmi atau wakilnya.

e) Ada dua khutbah

2) Syarat Khutbah Mahab Hanafi a) Dikerjakannya sebelum shalat b) Niat

c) Khutbah boleh dilaksanakan dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab meskipun sang khatib mampu berbahasa Arab, baik jamaahnya orang Arab atau bukan.

d) Khutbahnya dilakukan pada waktunya yaitu waktu Zuhur

e) Kedua khutbahnya diucapkan dengan suara keras sekira para jama’ah yang mengikuti shalat Jumat dapat mendengarnya

f) Antara khutbah pertama dan kedua dilakukan berturut-turut (tertib) begitu juga antara khutbah dan salat

g) Khatib bila jumlah minimal yang menjadi syarat shalat Jumatnya terpenuhi bila sang khatib sendiri masuk hitungan. Sedangkan jika jumlah minimal

(33)

46

sudah terpenuhi walaupun tanpa menghitung khatib, maka tidak ada syarat bahwa khatib harus orang yang berkewajiban shalat Jumat

3) Rukun-Rukun Khutbah Mahab Hanafi

Rukun khutbah hanya satu dan selainnya hanyalah sunah. Memuji Allah dengan kalimat “Al-hamdulillaah.” atau dzikir dalam segala bentuknya, bisa dalam bentuk tahmid, tasbih, atau tahlil. Hanya saja makruh hukumnya jika menyebutnya dengan sangat ringkas.

4) Sunah – Sunah Khutbah Mahab Hanafi a) Khatib suci dari hadats

b) Khutbahnya dilakukan di atas mimbar atau tempat yang tinggi c) Duduk sebelum khutbah serta menghadapkan wajah ke arah jama'ah d) Adzan di hadapan khatib.

e) Penyampaian kedua khutbah dengan berdiri jika sanggup. Bila tidak sanggup, maka sah disampaikan sambil duduk (sunah)

f) Tangan kirinya memegang pedang atau tongkat g) Membaca dua kalimah syahadah dalam khutbah.

h) Khatib Bershalawat kepada Nabi Saw. dalam dua khutbah i) Berwasiat dengan taqwa dalam khutbah

j) Membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan membacanya pada khutbah pertama lebih baik

k) Khatib duduk diantara dua khutbah

l) Mendo’akan kaum mukminin dan mukminat, khususnya pada khutbah kedua.

m) Khutbah pertama lebih panjang daripada khutbah kedua

(34)

47

n) Khutbah dengan bahasa yang mudah dimengerti.

5) Hukum Masbuq dalam Shalat Jumat Mahab Hanafi

Jika selama sempat mengikuti jamaah meskipun saat tasyahud, maka dianggap telah mengikuti shalat Jumat, namun setelahnya melakukan sujud sahwi.

6) Shalat Sunah Rawatib Jumat Mahab Hanafi

Sebelum shalat Jumat disunahkan mengerjakan shalat sunah empat raka’at, seperti halnya shalat sunah rawatib zhuhur nilainya adalah sunah mu’akkad

b. Salat Jumat Perspektif Mazhab Maliki 1) Syarat Sah Shalat Jumat Mazhab Maliki

a) Mengerjakannya pada waktu mulai tergelincir matahari sampai terbenam matahari.

b) Dikerjakannya secara berjama’ah, minimal 12 orang laki-laki selain Imam, berakal, merdeka.

c) Dalam satu wilayah dilaksanakan dengan satu jama’ah. Kecuali jika ada udzur. Jika tanpa ada udzur, maka shalat Jumat yang sah adalah yang dikerjakan bersama jama’ah yang lebih dahulu ada di wilayah tersebut.

d) daerah tersebut terdapat penduduk tetap e) Ada dua khutbah

2) Syarat Khutbah Mazhab Maliki a) Dikerjakannya sebelum shalat b) Niat

(35)

48

c) Dengan bahasa Arab adalah syarat mutlak meskipun orang-orang tidak mengetahui bahasa Arab. Jika tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab dengan baik, maka gugurlah kewajiban shalat Jumat bagi mereka

d) Khutbahnya dilakukan pada waktunya

e) Kedua khutbahnya diucapkan dengan suara keras sekira para jama’ah yang mengikuti shalat Jumat dapat mendengarnya

f) Antara khutbah pertama dan kedua dilakukan berturut-turut, begitu pula antara khutbah dan shalat

g) Penyampaian kedua khutbah tersebut dengan berdiri jika sanggup h) Duduk di antara dua khutbah sekira diam sejenak (thuma’ninah).

i) Khatib adalah orang yang berkewajiban shalat Jumat bila jumlah minimal yang menjadi syarat shalat Jumatnya terpenuhi bila sang khatib sendiri masuk hitungan. Sedangkan jika jumlah minimal sudah terpenuhi walaupun tanpa menghitung khatib, maka tidak ada syarat bahwa khatib harus orang yang berkewajiban shalat Jumat

3) Rukun-Rukun Khutbah Mazhab Maliki

Rukun khutbah hanya satu dan selainnya hanyalah sunah. Memuji Allah dengan kalimat bacaan hamdalah dan yang isinya mencakup kabar gembira (tabsyiir) atau peringatan (tahdziir).

4) Sunah – Sunah Khutbah Mazhab Maliki a) Khatib suci dari hadats.

b) Mengucapkan salam ketika baru naik mimbar c) Khutbahnya dilakukan di atas mimbar

(36)

49

d) Duduk sebelum khutbah dan menghadapkan wajah ke arah jama'ah e) Adzan di hadapan khatib

f) Tangan kirinya memegang pedang atau tongkat g) Membaca dua kalimah syahadah dalam khutbah h) Bershalawat kepada Nabi Saw. dalam dua khutbahnya i) Berwasiat dengan taqwa pada kedua khutbah

j) Membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah dan membacanya pada khutbah pertama lebih baik.

k) Mendo’akan kaum mukminin dan mukminat, khususnya pada khutbah kedua l) Khutbah pertama lebih panjang daripada khutbah kedua

m) Duduk diantara dua khutbah adalah sunah

5) Hukum Masbuq, Dalam Shalat Jumat Mazhab Maliki

Tertinggal satu rakaat dan terhitung masuk rakaat ke dua, kemudian dia menambah rakaat yang kurang, maka sah salat Jumatnya. Jika dia tertinggal dan tidak terhitung masuk rakaat kedua, maka dia harus menyempurnakannya dengan shalat zhuhur.

6) Shalat Sunah Rawatib Jumat Mazhab Maliki

Sebelum shalat Jumat disunahkan mengerjakan shalat sunah empat raka’at, seperti halnya shalat sunah rawatib zhuhur hukum shalat sunah sebelum dan sesudah shalat Jumat adalah mandubah (bukan sunah mu’akkad).

c. Salat Jumat Perspektif Mazhab Syafi’i 1) Syarat Sahnya Shalat Jumat Mazhab Syafi’i

(37)

50

a) Mengerjakannya pada waktu zhuhur, yaitu mulai tergelincir matahari sampai panjang bayang - bayang sebuah benda sama dengan benda aslinya.

b) Dikerjakannya secara berjama’ah

c) Jumlah jama’ahnya tidak kurang dari 40 orang termasuk Imam laki-laki berakal, merdeka, penghuni tetap.

d) Dalam satu wilayah dilaksanakan dengan satu jama’ah. Kecuali jika ada udzur,jika tanpa ada ‘udzur, maka yang sah adalah shalat Jumat yang lebih dulu dikerjakan

e) Daerah tersebut terdapat penduduk tetap f) Ada dua khutbah

2) Syarat - Syarat Khutbah Mazhab Syafi’i a) Dikerjakannya sebelum shalat b) Niat.

c) Dengan bahasa Arab. Jika tidak mampu dengan bahasa Arab, maka disyaratkan ketika membaca ayat saja yang menggunakan bahasa Arab

d) Khutbahnya dilakukan pada waktunya

e) Kedua khutbahnya diucapkan dengan suara keras sekira para jama’ah yang mengikuti shalat Jumat dapat mendengarnya

f) Antara khutbah pertama dan kedua dilakukan berturut-turut, begitu juga antara khutbah dan salat.

g) Penyampaian kedua khutbah tersebut dengan berdiri jika sanggup

h) Duduk di antara dua khutbah sekira diam sejenak (thuma’ninah). Meskipun khutbahnya disampaikan sambil duduk karena ada ‘udzur

(38)

51

i) Khatib suci dari hadats dan menutup aurat dalam kedua khutbahnya. dan dilanjutkan setelah dia memperbaharui wudhunya terlebih dahulu.

j) Khatib adalah orang yang berkewajiban shalat Jumat jika jumlah minimal yang menjadi syarat shalat Jumatnya terpenuhi bila sang khatib sendiri masuk hitungan jika jumlah minimal sudah terpenuhi maka tidak ada syarat bahwa khatib harus orang yang berkewajiban shalat Jumat

3) Rukun-Rukun Khutbah Mazhab Syafi’i

a) Memuji Allah. Memuji tersebut dengan kalimat “Al-hamdulillaah.”

b) Bershalawat kepada Nabi Saw. dalam dua khutbahnya c) Berwasiat dengan taqwa pada kedua khutbah

d) Membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan membacanya pada khutbah pertama lebih baik.

e) Mendo’akan kaum mukminin dan mukminat, khususnya pada khutbah kedua.

4) Sunah – Sunah Khutbah Mazhab Syafi’i

a) Mengucapkan salam ketika baru naik mimbar

b) Duduk di atas mimbar dan sejenisnya sebelum khutbah serta menghadapkan wajah ke arah jama'ah.

c) Khutbahnya dilakukan di atas mimbar atau tempat yang tinggi d) Tangan kirinya memegang pedang atau tongkat

e) Adzan di hadapan khatib

f) Membaca dua kalimah syahadah dalam khutbah

g) Khutbah pertama lebih panjang daripada khutbah kedua dan hendaknya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti

(39)

52

5) Hukum Masbuq, Dalam Shalat Jumat Mazhab Syafi’i

Orang yang tertinggal satu raka’at dan mengikuti rakaat ke dua kemudian dia menambah kekurangan rakaatnya, maka sah shalat Jumatnya. Jika dia ketinggalan rakaat ke dua, maka dia harus menyempurnakannya dengan shalat zhuhur.

6) Shalat Sunah Rawatib Jumat Mazhab Syafi’i

Sebelum shalat Jumat disunahkan mengerjakan shalat sunah empat raka’at, seperti halnya shalat sunah rawatib zhuhur. Hukumnya sunah mu’akkad.

e. Salat Jumat Perspektif Fikih Mazhab Hambali 1) Syarat Sahnya Shalat Jumat Mazhab Hambali

a) Mengerjakannya pada waktu dimulai sejak matahari mulai terangkat satu tombak sampai berakhirnya waktu zhuhur. Akan tetapi sebelum masuk waktu zhuhur hukunmya boleh (jaiz), sedangkan ketika sudah masuk waktu zhuhur hukumnya menjadi wajib dan mengerjakannya pada waktu ini lebih afdhal.

b) Dikerjakannya secara berjama’ah. Shalat Jumat tidak sah dikerjakan sendirian.

c) Jumlah jama’ahnya tidak kurang dari 40 orang termasuk Imam, berakal, merdeka, penghuni tetap, dan laki-laki

d) tidak ada syarat sahnya shalat Jumat harus dikerjakan menjadi satu jama’ah dalam satu wilayah, meskipun mengerjakan yang demikian itu lebih baik e) daerah tersebut terdapat penduduk tetap

f) Ada dua khutbah

2) Syarat - Syarat Khutbah Mazhab Hambali

(40)

53 a) Dikerjakannya sebelum shalat

b) Niat.

c) Dengan bahasa Arab. Jika tidak mampu dengan bahasa Arab, maka disyaratkan ketika membaca ayat saja yang menggunakan bahasa Arab

d) Khutbahnya dilakukan pada waktunya

e) Kedua khutbahnya diucapkan dengan suara keras sekira para jama’ah yang mengikuti shalat Jumat dapat mendengarnya

f) Antara khutbah pertama dan kedua dilakukan berturut-turut begitu jga antara khutbah dan salat

g) Khatib adalah orang yang berkewajiban shalat Jumat. Dengan demikian khatib tidak boleh seorang budak atau musafir, meskipun dia telah meniatkan untuk menghentikan masanya sebagai musafir

3) Rukun-Rukun Khutbah Mazhab Hambali

a) Memuji Allah. Memuji tersebut dengan kalimat “Al-hamdulillaah.”

b) Bershalawat kepada Nabi Saw

c) Berwasiat dengan taqwa pada kedua khutbah

d) Membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan membacanya pada khutbah pertama lebih baik.

4) Sunah – Sunah Khutbah Mazhab Hambali

a) Mengucapkan salam ketika baru naik mimbar

b) Penyampaian kedua khutbah tersebut dengan berdiri jika sanggup adalah sunah bukan fardhu

(41)

54 c) duduk diantara dua khutbah adalah sunah d) suci dari hadats adalah sunah bagi khatib

e) Duduk di atas mimbar dan sejenisnya sebelum khutbah serta menghadapkan wajah ke arah jama'ah

f) Khutbahnya dilakukan di atas mimbar atau tempat yang tinggi g) Tangan kirinya memegang pedang atau tongkat

h) Adzan di hadapan khatib

i) Membaca dua kalimah syahadah dalam khutbah

j) Khutbah pertama lebih panjang daripada khutbah kedua dan hendaknya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

5) Hukum Masbuq, Dalam Shalat Jumat Mazhab Hambali

Orang yang tertinggal satu raka’at bersama Imam dan hanya menemui satu raka’at terakhir kemudian dia menyempurnakannya, maka sah shalat Jumatnya.

Dan jika dia tidak menemui raka’at kedua dengan sempurna, maka dia harus menyempurnakannya dengan shalat zhuhur.

6) Shalat Sunah Rawatib Jumat Mazhab Hambali

Sebelum shalat Jumat disunahkan mengerjakan shalat sunah empat raka’at, seperti halnya shalat sunah rawatib zhuhur yang mu’akkad adalah dua raka’at sebelumnya saja (salat tahiyatul masjid).

Gambar

Gambar 2. 1 - Sampul depan buku Fikih MTs VII Kemenag
Gambar 2. 2 - Halaman identitas buku Fikih MTs VII Kemenag  2.  Materi Ajar Bab VI Salat Jumat
Gambar 2. 3 - Peta Konsep Bab. Salat Jumat  e.  Konten Materi ajar salat Jumat
Gambar 2. 5 - Khatib sedang  berkhutbah Sumber:
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dosa-dosa yang Allah segerakan azabnya di dunia di antaranya adalah berbuat dzalim dan durhaka terhadap kedua orang tua. Dengan demikian apabila seorang anak

Sedangkan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) adalah jembatan yang letaknya bersilangan dengan jalan raya atau jalur kereta api, letaknya berada di atas kedua

g) Pertama, konsumen mendapatkan informasi tentang berbagai merek dari suatu tingkatan produk. h) konsumen berusaha mencari manfaat tertentu dari solusi produk. i) Merek-merek

yang dilarang kawin oleh undang-undang, atau salah satu pihak atau kedua-duanya ada dalam ikatan perkawinan dengan orang lain. Anak ini disebut anak zina. Dari kedua

Sedangkan pada proses orde dua interacting, flow yang keluar dari tangki pertama akan berpengaruh pada tinggi level di tangki kedua (h 2 ).. Karena keadaan saling

Tubuh manusia dengan posisi berdiri dengan kedua tangan direntangkan terdiri dari dimensi antropometri rentangan tangan dan pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi berdiri

g) Profil bulat baja hollow memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap angin. h) Tidak mudah kotor seperti pada bagian sayap dari profil terbuka WF. i) Untuk beban dinamis,

dibebankan. g) Kemampuan mengelola pekerjaan tampa pengawasan orang lain. h) Kecenderungan untuk bekerja dalam metoda yang lebih baik. i) Inisiatif bertindak dan