• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI MEMPAWAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BUPATI MEMPAWAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI MEMPAWAH

PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERATURAN BUPATI MEMPAWAH NOMOR

I,

TAHUN 2020

TENTANG

PERU BAHAN ATAS PERATURAN BUPATI PONTIANAK NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN DAN TATA

CARA PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MEMPAWAH,

Menimbang : a~ bahwa untuk mendorong Wajib Pajak Wajib Pajak atau masyarakat dalam mengurus peralihan hak atas tanah dan bangunan perlu kiranya memberikan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan;

b. bahwa ketentuan dalam Peraturan Bupati Pontianak Nomor 4-5 Tahun 2013 tentang Pemberian dan Tata Cara Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, maka Peraturan Bupati Pontianak Nomor 45 Tahun 2013 tentang Pemberian dan Tata Cara Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan perlu dilakukan penyesuaian;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Pontianak Nomor 45 Tahun 2013 tentang Pemberian Pengurangan dan Tata Cara Pemberian Pengurangan Bea Perolehan

Hak atas Tanah dan Bangunan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Perpanjangan Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan tLembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 352) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);

(2)

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2013);

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984);

4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Daerah dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987);

5. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4189);

6. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

8. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

(3)

10. Undang-Undang Nomor 12 Tabun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234), sebagaimana telab diubab dengan Undang-Undang Nomor 15 Tabun 2019 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2019 Nomor 183, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6398);

11. Undang-Undang Nomor 23 Tabun 2014 tentang Pemerintahan Dae:;ah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telab diubab beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tabun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2014 tentang Perubahan Nama Kabupaten Pontianak Menjadi Kabupaten Mempawab Di Provinsi Kalimantan Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2014 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5556);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerab (Lembaran Negara Republik Indonesia Tabun 2005 Nomor 42, Tambaban Lembarm Negara Republik Indonesia Nomor 6322);

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tabun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tabun 2011 (Berita Negara Republik Indonesia Tabun :2011 Nomor 310);

15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerab (Berita Negara Republik Indonesia Tabun 2015 Nomor 2036 sebagaimana telab diubab dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 120 Tabun 2018 (Berita Negara Republik Indonesia Tabun 2018 Nomor 157);

16. Peraturan Daerab Kabupaten Mempawab Nomor 5 Tabun 2016 tenta~1.g Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerab Kabupaten Mempawab (Lembaran Daerah Kabupaten Mempawab Tabun 2016 Nomor 5, sebagaimana telab diubah dengan Peraturan Daerab Kabupaten MempBwab Nomor 6 Tabun 2017 (Lembaran Daerah Kabupaten Mempawab Tabun 2017 Nomor 6);

(4)

17. Peraturan Daerah Kabupaten Pontianak Nomor 1 Tahun 2011 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Daerah Kabupaten Pontianak Tahun 2011 Nomor 1).

MEMUTUSKAN :

Menetapkan PERATURAN BUPATI TENTANG PERUBAHAN PERATURAN BUPATI PONTIANAK NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN DAN TATA CARA PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bupati Pontianak Nomor 45 Tahun 2013 tentang Pemberian Pengurangan dan Tata Cara Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, diubah sebagai berikut :

1. Ketentuan Pasal 1 angka 1, angka 2, angka 3, angka 4, angka 5, angka 6 dan angka 7 diubah dan dihapus, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kabupaten Mempawah.

2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Bupati adalah Bupati Mempawah.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mempawah.

5. Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut BPPRD adalah Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten Mempawah.

6. Kepala BPPRD adalah Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah.

7. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang selanjutnya disebut pajak adalah pajak atas perolehan Hak Atas Tanah danlatau bangunan.

(5)

8. Badan adalah sekumpulan orang danl atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosiai politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

9. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.

2. Ketentuan Pasal 2 h uruf a angka 4 dan h uruf b angka 2, angka 9 dan angka 10 diu bah, sehingga keseluruhan Pasal 2 berbunyi sebagai berikut :

Pasal2

Atas permohonan Wajib Pajak, dapat diberikan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dalam hal:

a. Kondisi tertentu Wajib Pajak yang hubungannya dengan Objek Pajak yaitu;

1. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoleh hak baru melaiui program Pemerintah di bidang pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan secara ekonomis;

2. Wajib Pajak Badan yang memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah danl atau bangunan lebih dari 20 (dua puluh) tahun yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Kabupaten Mempawah;

3. Wajib Pajak orang pribadi yang memperoieh Hak Atas Tanah danl atau bangunan Rumah Sederhana (RS) dan Rumah Susun Sederhana serta Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diperoleh langsung dari pihak pengembangan dan dibayar secara angsuran; dan

4. Wajib Pajak orang pribadi yang menerima warisl hibah wasiat hibah dari orang pribadi yang mempunyai hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus atau satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah yang hidup dalllit'11 kondisi kurang mampu yang dibuktikan dengan surat pernyataan Wajib Pajak dan keterangan dari Pejabat Pemerintah Kabupaten Mempawah.

b. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu yaitu:

(6)

1. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah melalui pembelian dari hasil ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya di bawah Nilai jual Objek Pajak, dan pembelian tersebut dilakukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak pembayaran ganti rugi;

2. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah sebagai pengganti atas tanah yang dibebaskan oleh pemerintah untuk kepentingan umum;

3. Wajib Pajak Badan yang terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga Wajib Pajak harus melakukan restrukturisasi usaha dan/ atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah;

4. Wajib Pajak yang lebih dari 50% sahamnya dimiliki dan atau dikuasai oleh Pemerintah/Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat/Pemerintah Kabupaten Mempawah yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari Bank lain dalam rangka proses penggabungan usaha (merger);

5. Wajib Pajak yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan yang tidak berfungsi lagi seperti semula disebabkan bencana alam atau sebab-sebab lainnya seperti kebakaran, banjir, tanah Iongsor, gempa bumi, gunung meletus dan huru­

hara yang teIjadi dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak penandatanganan akta;

6. Wajib Pajak orang pribadi Veteran, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI) , Polisi Republik Indonesia (POLRI), Pensiunan PNS, Purnawirawan TNI, Purnawirawan POLRI atau janda/duda-nya yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan rumah dinas Pemerintah;

7. Wajib Pajak Badan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang memperoleh hak atas tanah dan/ atau bangunan dalam rangka pengadaan perumahan bagi anggota KORPRI/PNS;

8. Wajib Pajak Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan yang berasal dari perusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai kelanjutan dari pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi;

9. Wajib pajak yang domisilinya termasuk dalam wilayah program rehabilitasi dan rekonstruksi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan melalui program Pemerintah di bidang pertanahan;

10. Wajib Pajak yang termasuk dalam golongan Masyarakat Miskin dan Kurang mampu, yang dibuktikan oleh pejabat pemerintahan di Kabupaten Mempawah.

(7)

c. Tanah dan/ atau bangunan digunakan untuk kepentingan sosial atau pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan antara lain untuk panti asuhan, panti jompo, rumah yatim piatu, sekolah yang tidak ditujukan mencari keuntungan dan rumah sakit swasta milik institusi pelayanan sosial masyarakat.

3. Ketentuan Pasal 3 huruf a dan huruf c diu bah, sehingga keseluruhan Pasal 3 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 3

Besarnya pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebagai berikut:

a. sebesar 25% (dua puluh lima persen) dan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a angka 3 dan huruf b angka 10;

b. sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a angka 2 dan angka 4, huruf b angka 1, angka 2, angka 4, angka 5, dan angka 8, serta huruf c; dan

c. sebesar 750/0 (tujuh puluh lima persen) dan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a angka 1, dan huruf b angka 6, angka 7 dan angka 9.

4. Ketentuan Pasal 5 ayat (I) huruf c dan huruf f dan ayat (6) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 5 berbunyi sebagai berikut :

Pasal5

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagairnana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, huruf b angka 1, angka 2, angka 5, angka 6, angka 7 dan angka 10 serta huruf c kepada Bupati secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yangjelas dengan melampirkan:

a. fotocopy Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) Bea Peroiehan Hak Atas Tanah dan Bangunan;

b. otocopy Akta/Risalah Lelang/Keputusan Pemberian Hak Baru/Putusan Hakim;

c. fotocpy KTP/SIM/Paspor/Kartu Keluarga/Identitas lain; dan d. surat keterangan Lurah/Kepaia Desa.

(2) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b angka 3, dan angka 4, serta angka 8 kepada Bupati secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yangjelas dan melampirkan:

a. Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan untuk dilegalisir;

(8)

b. Surat Keterangan yang menerangkan bahwa 50% lebih saham bank dimaksud dikuasai oleh Pemerintah dan/ atau Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan/ atau Pemerintah Kabupaten Mempawah; dan

c. Keputusan Menteri Keuangan tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

(3) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pembayaran kecuali terjadi keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak.

(4) Bupati setelah menerima permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan Wajib Pajak memberikan tanda terima.

(5) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan sebelum akta perolehan Hak Atas Tanah dan/ atau bangunan ditandatangani oleh Notaris/PPAT.

(6) Surat Permohonan pengurangan Bea Peroiehan Hak Atas Tanah dan Bangunan bagi kepentingan Wajib Pajak ditujukan kepada Bupati melalui Kepala SKPKD.

(7) Atas permononan pengurangan Bea Peroiehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dan Wajib Pajak, Bupati melakukan pemeriksaan sederhana yang hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan.

(8) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak dianggap sebagai surat permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, sehingga tidak dapat dipertimbangkan dan Bupati memberitahukan kepada Wajib Pajak yang bersangkutan.

5. Ketentuan Pasal 6 ayat (6) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi sebagai berikut :

Pasal6

(1) Bupati berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, dan huruf b angka 1, angka 2, angka 5, angka 6, angka 7, angka 8 dan angka 10, serta huruf c dalam hal pajak yang terutang lebih dari Rp 2.500.000,00 (duajuta lima ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

(2) Bupati berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 2 huruf b angka 3, dalam hal pajak yang terutang lebih dan Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) sampai dengan Rp 5,000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

(9)

(3) Bupati berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b angka 4, dalam hal pajak yang terutang lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(4) Bupati setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mempawah, berwenang memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, huruf b dan huruf c dalam hal pajak yang terutang Iebih dari Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

(5) Atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mempawah, maka Bupati Mempawah menerbitkan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, dan dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mempawah menolak, maka Bupati menyampaikan pemberitahuan penolakan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan kepada Wajib Pajak.

(6) Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dengan pajak terutang dibawah ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), merupakan kewenangan Kepala BPPRD.

6. Ketentuan Pasal 7 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 7 berbunyi sebagai berikut :

Pasal 7

(1) Wajib Pajak mengajukan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan kepada Bupati dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b angka 3 dan angka 4, setelah mendapat pertimbangan dan Tim Penyelesaian Keberatan dan Banding Perpajakan Daerah berdasarkan hasil pemeriksaan dan penelitian.

(2) Dalam hal kewenangan memberikan Keputusan Pemberian Pengurangan Bea Perolehan Hak Alas Tanah dan Bangunan berada pada Bupati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4), Kepala BPPRD meneruskan permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan kepada Bupati dan tembusannya disampaikan kepada DPRD dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya surat permohonan.

(3) Permohonan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak saat terutang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

(4) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.

(10)

Pasal II

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Mempawah.

Ditetapkan di Mempawah pada tanggal l~'

b -

2020

j1

BUPAT EMPAWAH

Oiundangkan di M 'nlpawah pada tang gal •• ••••••••••••

SEKRETARIS H KA8UPATEN MfMPAWAH

RAH KABUPATEN MEMPAWAli TAHU •••••••••• NOMOR ...

Referensi

Dokumen terkait

arah potong gaya dorong gaya momen potong FC10 Struktur Bridge EPR. X+ X+

(2-6) (2-7) Persamaan ini mengambil asumsi sebagai berikut: amblesan terjadi lokal dan tidak terjadi perubahan topografi yang signifikan di sekitarnya (koreksi medan/

Proses pembelajaran keterampilan menulis naskah drama dengan metode picture and picture yaitu antara lain: intensifnya proses inter- nalisasi penumbuhan minat-minat peserta

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Fakultas Hukum Internasional UGM Heribertus Jaka Triyana, ikut mengomentari kasus yang saat ini tengah hangat dibicarakan di media sosial terkait

Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, maka Peraturan Bupati Hulu Sungai Selatan Nomor 44 Tahun 2013 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Tugas

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Bupati Nomor 45 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Bantuan

Adapun kesimpulan atas kedua permasalahan yang dibahas yakni, untuk kesimpulan pada rumusan masalah pertama yakni kriteria-kriteria yang digunakan Dispenda Kabupaten

Lampiran Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 3 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Berita Daerah Kabupaten Sidoarjo