• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG 2021"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

i

PROPOSAL PENELITIAN DASAR

FAKULTAS HUKUM

DESAIN HUKUM PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PENINGKATAN PEMBANGUNAN DAERAH YANG

RESPONSIF GENDER

TIM PENGUSUL

Martha Riananda, S.H., M.H. NIDN 0010038004 SINTA ID 6189128 Dr. Yusdiyanto, S.H., M.H. NIDN 0002018001 SINTA ID 6721143 Malicia Evendia, S.H., M.H. NIDN 0030099101 SINTA ID 6674437

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

ii HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN DASAR FAKULTAS HUKUM

Judul Penelitian : Desain Hukum Pengarusutamaan Gender dalam Peningkatan Pembangunan Daerah yang Responsif Gender

Manfaat sosial ekonomi : Regulasi/produk kebijakan hukum Jenis penelitian : Penelitian Dasar

Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Martha Riananda, S.H., M.H.

b. NIDN : 0010038004

c. SINTA ID : 6189128

d. Jabatan Fungsional : Lektor e. Program Studi : Ilmu Hukum

f. Nomor HP : 08117220310

g. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)

a. Nama Lengkap : Dr. Yusdiyanto, S.H., M.H.

b. NIDN : 0002018001

c. SINTA ID : 6721143

d. Program Studi : Ilmu Hukum Anggota Peneliti (2)

a. Nama Lengkap : Malicia Evendia, S.H., M.H.

b. NIDN : 0030099101

c. SINTA ID : 6674437

d. Program Studi : Ilmu Hukum

Jumlah mahasiswa yang terlibat : 1 (satu) orang Jumlah alumni yang terlibat : 1 (satu) orang Jumlah staf yang terlibat : 1 (satu) orang Lokasi kegiatan : Provinsi Lampung Lama kegiatan : 4 (empat) bulan Biaya Penelitian : Rp. 15.000.000,-

Sumber dana : DIPA FH Unila Tahun 2021

(3)

iii Bandar Lampung, April 2021 Mengetahui,

Dekan Fakultas Hukum Ketua Peneliti Universitas Lampung

Dr. M. Fakih, S.H., M.S. Martha Riananda, S.H., M.H.

NIP 196412181988031002 NIP 198003102006042001

Menyetujui,

Ketua LPPM Universitas Lampung

Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A NIP 196505101993032008

(4)

iv DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Sampul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Daftar Isi ... iv

Ringkasan ... v

Bab 1. Pendahuluan ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 2

C. Tujuan Khusus ... 3

D. Urgensi Penelitian ... 3

E. Output/Temuan ... 3

F. Kontribusi Terhadap Ilmu Pengetahuan ... 3

Bab 2. Tinjauan Pustaka ... 4

Bab 3. Metode Penelitian ... 10

A. Jenis Penelitian ... 10

B. Data dan Sumber data ... 10

C. Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum/Data ... 11

D. Analisis Bahan Hukum/Data ... 11

E. Tahap-Tahap Penelitian ... 11

Bab 4. Biaya dan Jadwal Penelitian ... 13

A. Anggaran Biaya ... 13

B. Jadwal Penelitian ... 14

Referensi ... 15

(5)

v RINGKASAN

Keterlibatan perempuan dalam pembangunan dewasa ini harus mendapatkan perhatian lebih. Perempuan yang seringkali berada di posisi lemah memerlukan upaya dan dukungan dari pemerintah dalam mengoptimalkan pengarusutamaan gender. Pemberdayaan perempuan dilakukan agar perempuan dapat mengaktualisasikan potensinya secara optimal untuk berperan serta dalam pembangunan sesuai dengan kapasitasnya.

UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengamanatkan bahwa urusan pemberdayaan perempuan merupakan urusan wajib yang menjadi lingkup kewenangan daerah. Di era otonomi daerah ini, pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah memberikan pengaruh yang sangat besar. Pengarusutamaan Gender di daerah merupakan strategi tepat yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah. Namun, kondisi keterlibatan perempuan dalam pembangunan di Provinsi Lampung selama ini belum optimal.

Pada tahun 2018, dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung hanya ada 6 daerah yang memperoleh penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari Presiden RI. Sehingga, menjadi tugas bersama agar kabupaten/kota tersebut dapat mempertahankan penghargaan APE dan kebupaten lainnya dapa segerat memperoleh penghargaan APE. Upaya yang dapat dilakukan yaitu melalui pembentukan peraturan daerah mengenai pengarusutamaan gender.

Peraturan daerah amat dibutuhkan sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pembangunan daerah sebagai sarana jaminan kepastian hukum. Kebutuhan akan payung hukum di tingkat daerah dalam peningkatan pembangunan daerah yang berbasis gender menjadi alasan peneliti sehingga peneliti menganggap penting untuk mengkaji dan menghasilkan desain hukum pengarusutamaan gender dalam peningkatan pembangunan daerah yang responsif gender. Desain hukum ini nantinya yang diharapkan dapat diadaptasi kedalam peraturan daerah.

Penelitian ini bertujuan khusus untuk menemukan desain hukum yang ideal dalam pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. Hal ini yang kemudian akan menjadi instrumen hukum dalam mendorong dan meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan socio legal approach, yaitu mengkaji peraturan perundang-undangan dan fenomena hukum terkait hak perempuan dan kondisi kesetaraan dan keadilan gender di Provinsi Lampung. Hasil yang diharapkan melalui penelitian ini adalah terbentuknya desain hukum pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah yang responsif gender.

Kata kunci: gender, pengarusutamaan, pembangunan daerah.

(6)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perempuan sebagai aset bangsa yang berperan dalam proses penerusan dan penciptaan generasi yang berkualitas perlu mendapat jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya dan perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi dalam rangka membangun masyarakat, bangsa dan negara. Perempuan seringkali berada di posisi yang lemah, sehingga pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan harkat dan martabat perempuan, salah satunya melalui pengarusutamaan gender.

Pengarusutamaan gender (PUG) merupakan salah satu strategi untuk menciptakan kondisi yang setara dan seimbang bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh peluang/kesempatan, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan, sehingga akan tercipta suatu kondisi keadilan dan kesetaraan gender. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah pusat dalam mewujudkan kondisi tersebut, salah satunya melalui Intruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011.

Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender diperlukan agar sumber daya manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban serta peran dan tanggungjawab yang sama sebagai bagian integral dari potensi pembangunan daerah sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender yang mencakup semua urusan pemerintahan, perlu diintegrasikan secara operasional ke dalam kebijakan/program kegiatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dalam aspek-aspek perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi maupun kelembagaan pembangunan daerah.

Namun, peraturan perundang-undangan di tingkat nasional yang mendukung pengarusutamaan gender semestinya dilanjutkan dengan dibentuknya

(7)

2 peraturan daerah. Hal ini merupakan konsekuensi dari adanya otonomi daerah yang telah memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengurus dan mengelola daerahnya sendiri. UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, telah memberikan ketegasan bahwa urusan bidang pemberdayaan perempuan dan anak merupakan urusan pemerintahan wajib sebagaimana diatur dalam Pasal 12. Pelaksanaan PUG dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum dan pedoman kepada Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat yang berperspektif gender.

Permasalahannya adalah fakta bahwa hingga saat ini political will yang besar tersebut, belum diimbangi dengan perangkat hukum daerah yang dapat menjamin agar upaya-upaya dari pemerintah dapat berjalan sistematis, kondusif dan integral. Berdasarkan data, tahun 2018 dari 14 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung, hanya 6 kabupaten/kota yang memperoleh penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari Presiden RI. Provinsi Lampung pada tahun 2018 juga memperoleh penghargaan APE tingkat utama. Dimana pada tahun sebelumnya yakni pada tahun 2012 mendapat peringkat madya, tahun 2013 dan 2014 mendapatkan peringkat utama. Sehingga, penelitian ini diperlukan dalam upaya menemukan desain hukum pengarusutamaan gender dalam meningkatkan pembangunan daerah yang responsif gender.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, permasalahan yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah:

1. Mengapa diperlukan pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah?

2. Bagaimanakan desain hukum pengarusutamaan gender dalam peningkatan pembangunan daerah yang responsif gender?

(8)

3 C. Tujuan Khusus Penelitian

Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menghasilkan desain hukum pengarusutamaan gender dalam peningkatan pembangunan daerah yang responsif gender.

D. Urgensi Penelitian

Penelitian ini memiliki urgensi, yaitu dalam rangka menemukan desain hukum daerah yang ideal dalam pengarusutamaan gender ke depannya. Praktik ketidakadilan gender yang masih terjadi hingga saat ini memerlukan upaya hukum dalam mengatasi persoalan tersebut. Hal ini nantinya akan berpengaruh terhadap pembangunan daerah agar responsif gender.

E. Output/Temuan

Penelitian ini akan menghasilkan temuan, yaitu desain hukum pengarusutamaan gender dalam peningkatan pembangunan daerah yang responsif gender.

F. Kontribusi Terhadap Ilmu Pengetahuan

Kontribusi penelitian ini bermanfaat bagi peningkatan daya saing bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan hukum di bidang perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan yang demikian, maka penelitian ini juga akan memperkaya publikasi ilmiah di bidang hukum. Luaran wajib penelitian ini yaitu jurnal nasional terindeks minimal SINTA 4.

(9)

4 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Kata gender berasal dari kata bahasa Latin genus yang berarti tipe atau jenis. Jika makna itu dikaitkan dengan eksistensi manusia, maka ada dua jenis manusia berdasarkan jenis kelamin yang dimiliki yaitu, laki-laki dan perempuan.

Dua jenis manusia laki-laki dan perempuan memang berbeda. Perbedaan itu ada yang bersifat alamiah atau biologis (nature), dan ada yang bersifat sosial-budaya (culture). Perbedaan laki-laki dan perempuan yang merupakan konstruksi sosial- budaya, yang bisa berubah dari suatu tempat ke tempat lain dan dari suatu waktu ke waktu lainnya disebut gender.

Gender adalah konstruksi sosial tentang peran lelaki dan perempuan sebagaimana dituntut oleh masyarakat dan diperankan oleh masing-masing mereka.1 Keterlibatan perempuan pada posisi sentral/pengambilan keputusan dalam pemerintahan sudah menunjukkan perkembangan dalam upaya pemberdayaan perempuan sehingga memicu kesadaran untuk dapat berkompetisi dengan laki-laki, sejatinya strategi pengarusutamaan gender idealnya lebih menekankan pada peningkatan kualitas perempuan untuk berpartisipasi di ruang publik karena pada awalnya perempuan sudah kalah start dari laki-laki jadi upaya menyetarakan secara kualitas itu yang nantinya akan menjamin keadilan karena kompetisi dilihat dari segi kualitas namun keberhasilan itu dapat dilihat dari meningkatnya partisipasi perempuan secara kuantitas yang tentunya menjadi modal awal dalam terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender.2

Secara alamiah atau biologis laki-laki dan perempuan memang memiliki tugas dan peran alamiah yang berbeda karena kelengkapan biologis yang dimiliki.

Perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki disebut sebagai perbedaan yang sifatnya kodrati karena: (1) Tidak dapat berubah dari waktu ke waktu:

perempuan dari jaman dahulu hingga sekarang mempunyai fungsi reproduksi biologis yang sama yaitu menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui dengan

1 Hafidz, Wardah (1995). Daftar Istilah Gender. Jakarta: Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita.

2 Heri Afriady Firman, Rahmiati, Pengarusutamaan Gender Dalam Pemerintahan Daerah, Iyasatuna, Volume 2 Nomor 1 Januari 2020.

(10)

5 ASI. Fungsi reproduksi biologis ini bersifat “given”, terberi oleh Tuhan dan tidak seorangpun di dunia ini yang mampu mengubahnya. (2) Tidak dapat ditukar:

sehebat apapun perkembangan teknologi kita, fungsi reproduksi biologis perempuan dan laki-laki tidak bisa saling dipertukarkan. Hanya perempuan yang bisa mengandung karena perempuan mempunyai sel telur dan rahim, dan hanya laki-laki yang memproduksi sperma. (3) Berlaku sepanjang jaman: fungsi reproduksi biologis berlaku sepanjang masa dari jaman dahulu hingga sekarang.

(4) berlaku di mana saja: ciri-ciri biologis perempuan dan laki-laki berikut fungsi reproduksi biologisnya berlaku dimana saja seperti di Indonesia, Amerika, Australia, Eropa, dll. (5) Ciptaan Tuhan: ciri biologis beserta fungsi reproduksi ini merupakan ciptaan Tuhan dan karena itu tidak seorangpun di dunia ini yang berkemampuan untuk mengubahnya. (6) Bersifat Kodrat: ciri biologis beserta fungsi reproduksi ini merupakan sesuatu yang given, atau terberi pada setiap manusia sejak lahir sehingga bersifat kodrat.

Namun, sejumlah kebudayaan memberikan stereotype kepada laki-laki dan perempuan. Laki-laki dipandang kuat, rasional, mampu melindungi dan lainnya. Sedangkan perempuan dipandang lemah lembut, emosional, sabar, butuh perlindungan dan lainnya. Karena itu kemudian laki-laki diberi tugas sebagai kepala keluarga, mencari nafkah ke sektor publik. Sedangkan perempuan diberi tugas di sektor domestik, mendidik anak di rumah, mengurus rumah, dan melayani suami. Kebudayaan tertentu lebih spesifik menyebutkan tugas perempuan berada di sekitaran sumur, dapur, dan kasur. Stereotype dan tugas laki- laki dan perempuan seperti ini merupakan konstruksi sosial-budaya yang dapat berubah menurut tempat dan waktu, tidak dapat disebut sebagai kodrat. Stereotype tugas laki-laki dan perempuan bentukan sosial- budaya ini, di tempat dan waktu yang berbeda bisa saja digugat karena dipandang tidak setara dan tidak adil.

Pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah merupakan strategi efektif dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada indikator pencapaian keberhasilan pembangunan kualitas hidup manusia, digunakan konsep gender di dalamnya.

Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measurement (GEM) merupakan ukuran kualitas hidup manusia berdasarkan Kesetaraan

(11)

6 Gender. Praktik ketidakadilan gender menjadi hambatan dalam pencapaian keberhasilan pembangunan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender.

Seharusnya, perempuan dan laki-laki memiliki akses dan partisipasi yang sama terhadap pembangunan.

Pada dasarnya pengarusutamaan gender merupakan proses dimana permasalahan gender diintegarasikan dalam empat fungsi utama institusi pemerintah, yaitu perencanaan yang menghasilkan mandat dan tujuan yang jelas untuk perempuan dan laki-laki; pelaksanaan yang memastikan bahwa pelaksanaan strategi menghasilkan pengaruh yang baik kepada perempuan dan laki-laki;

pemantauan yang mengukur kemajuan pelaksanaan program dari sudut pandang partisipasi dan manfaat untuk perempuan dan laki laki; evaluasi yang memastikan bahwa status perempuan dan laki-laki telah meningkat sebagai dampak dari pelaksanaan program tertentu.3

Sebagai suatu strategi unggulan, pengarusutamaan gender ini merupakan pematangan dari strategi Gender and Development.4 Strategi Gender and Development ini merupakan respon atas kegagalan Women in Development yan dianggap sebagai jawaban atas kritik terhadap pembangunan (developmentalism) tetapi dianggap telah gagal menjalankan tugasnya, karena program ini hanya mampu menjawab persoalan dan kebutuhan praktis jangka pendek kaum perempuan. 5

3 Khofifah Indah Parawansa, Mengukur Paradigma Menembus Tradisi, Lp3es , Jakarta, 2006, Hlm 41. Dalam Muhammad Busyrol Fuad, Reformulasi Norma Hak Dan Kewajiban Suami Istri Dalam Hukum Keluarga Di Indonesia (Sebuah Upaya Pengarusutamaan Gender dalam Pembaharuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan)

4 Lahirnya Pendekatan Gender And Development (Gad) Merupakan Respon Dari Kegagalan Pelaksanaan Strategi Women In Development Yang Memfokuskan Gerakannya Pada Perempuan Sebagai Realitas Biologis. Gad Memfokuskan Gerakannya Pada Hubungan Gender Dalam` Kehidupan Sosial. Secara Historis, Pendekatan Gad Muncul Pada Dekade 1980-An Sebagai Salah Satu Impelementasi Dari Wid. Gad Muncul Dari Teori Bahwa Sector Produksi Dan Reproduksi Merupakan Kausalitas Penindasan Terhadap Kaum Perempuan. Pandangan Bahwa Perempuan Cenderung Diartikan Pada Peran Domestic Dan Bukan Pada Sektor Publik Merupakan Ditempatkannya Perempuan Pada Posisi Yang Subordinat. Secara Implementatif Pendekatan Gad Cenderung Mengarah Pada Adanya Komitmen Pada Perubahan Struktural. Oleh Sebab Itulah Pelaksanaan Gad Memerlukan Dukungan Sosial Budaya Masyarakat Dalam Politik Nasional Yang Menempatkan Perempuan Sejajar Dengan Laki-Laki. Gad Tidak Mungkin Terlaksana Bila Dalam Politik Suatu Negara Masih Menempatkan Perempuan Dalam Posisi Yang Inferior Dan Subordinatif. Lihat Trisakti Handayani & Sugiarti, Konsep Dan Teknik Penelitian Gender, Umm Press, Malang. Hlm. 40-42.

5 Mansoer Faqih, Analisis Gender & Transformasi Sosial, Op.Cit, H. 27

(12)

7 Pemikiran tentang pengarusutamaan gender ini berkembang dalam World Conference UN Mid Decade of Women, Kopenhagen pada tahun 1980 yang menghasilkan UN Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) - konvensi peniadaan seluruh bentuk diskriminasi terhadap perempuan, yang kemudian Indonesia meratifikasinya dalam bentuk Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang CEDAW. Kemudian dilanjutkan dengan adanya Konferensi Perempuan keempat, Beijing, 1995 menyepakati 12 isu kritis yang sesegera harus ditangani. Indonesia telah menandatangani Beijing Platform for Action mengenai agenda kesepakatan internasioanl untuk memberdayakan perempuan.

Pemikiran mengenai pengarusutamaan gender di Indonesia sendiri telah berkembang sejak Kongres Perempuan Indonesia, Yogyakarta, 22 Desember 1928 yang kemudian diperingati sebagai Hari Ibu. Sebenarnya isu kesetaraan sudah mulai mengemuka dengan adanya Kementerian Perempuan pada tahun 1978 di Kabinet Pembangunan II. Kemudian pemikiran pengarusutamaan gender ini berlanjut pada Deklarasi Komitmen Bersama Negara & Masyarakat untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang diadakan di Jakarta pada tanggal 24 Nopember 1999. Pada tahun 1999 dalam TAP MPR Nomor IV/MPR/1999, “kesetaraan dan keadilan gender” telah dituangkan dalam GBHN 1999. Pada tahun 2004, dalam Rencana Kerja Pemerintah program-program yang mengandung pengarusutamaan gender telah lebih mendapat perhatian yang cukup besar yang terlihat dari berbagai program pembangunan di 9 (sembilan) sektor pembangunan yang sudah memuat berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming}.6

Razavi dan Miller (2006) mendefinisikan PUG sebagai proses teknis dan politis yang membutuhkan perubahan pada kultur atau watak organisasi, tujuan, struktur, dan pengalokasian sumber daya.7 Sedangkan, menurut Ketentuan Umum Permendagri No. 15 Tahun 2008 yang dimaksud PUG di daerah adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari

6 Sadiawati, 2004: 2

7 Razavi, S And C. Miller. 2006. From Wid To Gad: Conceptual Shifts In The Woman And Development Discourse, Dalam Sinta R Dewi: Feminisme, Gender, Dan Transformasi Institusi, Dalam Jurnal Perempuan: Pengarusutamaan Gender. Yayasan Jurnal Perempuan, 50: 13.

(13)

8 perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah. Dengan demikian, PUG merupakan sebuah strategi untuk mewujudkan KG, bukan suatu tujuan.8

Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, juga memerlukan teori hukum pembangunan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja. Fungsi hukum menurut teori hukum pembangunan, selain untuk mencapai ketertiban dan keadilan, juga berfungsi sebagai sarana pembaharuan dalam masyarakat. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa, perubahan maupun ketertiban (atau keteraturan) merupakan tujuan kembar dari masyarakat yang sedang membangun, hukum menjadi suatu sarana yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.9

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian tahun lalu, yang menghasilkan temuan bahwa hak perempuan dalam berkontribusi terhadap pembangunan, berperan dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender sehingga perlu memperoleh perlindungan hukum. Adapun penelitian ini, merupakan respon terhadap temuan awal peneliti bahwa realitas masih adanya diskriminatif masyarakat terhadap perempuan yang mengakibatkan adanya ketidaksetaraan gender. Hal ini yang kemudian berdampak pada pembangunan daerah yang responsif gender.

Hasil penelitian ini nantinya akan menghasilkan temuan berupa desain hukum yang peneliti tawarkan pengarusutamaan gender dalam peningkatan pembangunan daerah yang responsif gender. Penelitian ini juga merupakan tuntutan untuk menjawab permasalahan yang ada mengenai ketimpangan gender di daerah. Dengan demikian, penelitian ini layak dilakukan. Peta jalan penelitian digambarkan pada ragaan berikut.

8 Saptaningrum, Indriaswaty Dyah. 2008. Parlemen Yang Responsif Gender: Panduan Pengarusutamaan Gender Dalam Fungsi Legislatif. Jakarta: Sekretariat Jenderal Dpr Ri Dan Proper Undp: 5.

9 Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan, cet-4, (Bandung: Alumni, 2013), hlm. 89.

(14)

9 Ragaan 1. Peta Jalan (roadmap) Penelitian.

Peran dan Perlindungan Hak Perempuan dalam Pembangunan (2020)

Desain Hukum Pengarusutamaan Gender dalam Peningkatan

Pembangunan Daerah yang Responsif Gender (2021)

Model Regulasi Daerah dalam Peningkatan Pembangunan Daerah Berbasis Pengarusutamaan Gender

(2022)

(15)

10 BAB 3

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan Masalah

Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (doctrinal research) yang hanya menggunakan data sekunder. Model penelitian hukumnya adalah kajian komprehensif dan analitis terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Mengingat penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif, maka pendekatannya menggunakan pendekatan perundang- undangan (statute approach), pendekatan analitis (analytical approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conseptual approach).10 Selanjutnya digunakan pendekatan socio-legal,11 yang mengkaji realita keadilan gender.

B. Data dan Sumber Data

Karena penelitian ini tergolong penelitian hukum normatif, maka data yang digunakan hanya data sekunder. Data sekunder yang diperlukan itu adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer yang digunakan adalah peraturan perundang-undangan yang relevan dengan rumusan masalah yang akan dibahas, sedangkan bahan hukum sekunder berupa buku dan jurnal yang sesuai dengan fokus penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini juga diperoleh dari hasil studi pustaka dan penelusuran di jaringan internet. Data lapangan berupa hasil wawancara dipakai sebagai penunjang untuk melengkapi analisis bahan hukum, yang bersumber dari instansi yang berwenang dan stakeholder yang terkait.

10 Peter MahmudMarzuki, 2005. Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta.

11TerryHutchinson,2002. Researching and Writing in Law, Lawbook’s Co., Sydney.

Dalam penelitian socio-legal research ada dua aspek penelitian, yang pertama legal research yaitu aspek obyek penelitian tetap ada berupa bahan dalam arti norm, peraturan perundang- undangan dan kedua socio research yaitu digunakan metode dan toeri-teori ilmu sosial tentang hukum untuk membantu peneliti dalam melakukan analisis.

(16)

11 C. Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum/Data

Pengumpulan data dilakukan melalui Studi Kepustakaan (library research) dengan cara membaca, mengutip, mencatat, dan memahami berbagai literatur yang terkait dengan objek penelitian baik berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

Langkah selanjutnya, bahan data dikumpulkan melalui prosedur identifikasi, inventarisasi, klasifikasi dan sistematisasi bahan data sesuai permasalahan penelitian.Sedangkan data lapangan (untuk penelitian socio- legal), dikumpulkan dengan cara wawancara langsung dengan beberapa informan yang mewakili pemerintah daerah. Bahan dan data yang terkumpul diperiksa kembali kelengkapannya (editing), lalu diklasifikasi dan sistematisasi secara tematik (sesuai pokok permasalahan), untuk selanjutnya dianalisis.

D. Analisis Data

Analisis terhadap data dilakukan secara kualitatif dengan cara preskriptif-analitik, yaitu menelaah konsep hukum dan norma hukum yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Dari aspek ilmu hukum dogmatik, analisis bahan hukum dilakukan dengan cara pemaparan dan analisis tentang isi (struktur) hukum yang berlaku, sistematisasi gejala hukum yang dipaparkan dan dianalisis, interpretasi, dan penilaian hukum yang berlaku. Metode penalaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deduktif.

E. Tahap-Tahap Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini meliputi beberapa tahapan dengan output dan indikator keberhasilan digambarkan dalam bagan alir berikut ini.

(17)

12 Bagan 1. Tahap-Tahap Penelitian

Indikator Capaian Hasil

Kegiatan

Tahap I

Inventarisasi dan identifikasi peraturan perundang-undangan nasional dalam penyelenggaraan pengarusutamaan gender

Terinventarisasinya peraturan perundang- undangan nasional dalam pengarusutamaan gender

Tahap II

Analisis dan mengkaji teori, filosofi dan dinamika pengaturan pengarusutamaan gender di Indonesia

Ditemukan substansi teori, filosofi dan dinamika pengaturan

pengarusutamaan gender di Indonesia

 Hakikat pengarusutamaan gender

 Dinamika penyelnggaraan pengarusutamaan gender

 Serta konsep dan teori lainnya

Tahap IV Perumusan dan penyusunan desain hukum pengarusutamaan gender

Daftar Peraturan Perundang-undangan nasional dalam

pengarusutamaan gender serta lingkup

pengaturannya.

Hasil akhir:

Desain Hukum

Pengarusutamaan Gender dalam Peningkatan Pembangunan Daerah yang Responsif Gender

 Materi muatan

pengarusutamaan gender

 Arah kebijakan pembangunan daerah yang responsif gender Tahap III

Identifikasi dan analisis kendala

pengarusutamaan gender terhadap pembangunan daerah

Ditemukan kendala penyelenggaraan pengarusutamaan gender terhadap pembangunan daerah

Daftar permasalahan penyelenggaraan pengarusutamaan gender terhadap pembangunan daerah

(18)

13 BAB 4

RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

A. Rencana Anggaran Biaya

Biaya penelitian ini diperkirakan sebesar Rp.15.000.000,- (Lima Belas Juta Rupiah) dengan rincian:

Tabel 1. RAB Penelitian

No Kegiatan Justifikasi

Vol Satuan Biaya (Rp)

Jumlah (Rp) I

Pengadaan Alat dan

Bahan

1

Bahan Pustaka/

Literatur Penunjang Penelitian

Nota dan kwitansi

25 buah 100.000 2.500.000

2

Fotocopy Bahan Hukum dan Data Penelusuran Lapangan

Nota dan kwitansi

4 paket 500.000 2.000.000

3 Flashdisk

Nota dan

kwitansi 3 Buah 200.000 600.000

Sub-Total 5.100.000

II Travel Expenditure

1

Transport Lokal ke Pemda Kota Bandar Lampung

(4 org x 1 kali PP)

Nota dan kwitansi

1 Kali 500.000 500.000

2.

Transport Lokal ke Pemda Provinsi Lampung

(4 org x 1 kali PP)

Nota dan kwitansi

1 Kali 500.000 500.000

Sub-Total 1.000.000

III ATK/BHP 1 Alat Tulis Kantor

Nota dan kwitansi 4

Paket/

bulan 750.000 3.000.000 2

Pulsa dan data internet (4 orang)

Nota dan kwitansi 4

Paket/

bulan 600.000 2.400.000

Sub-Total 5.400.000

IV

Laporan/Diseminasi/

Publikasi

1 Penyusunan Laporan

Nota dan

kwitansi 1 paket 2.000.000 2.000.000 2 Publikasi Jurnal Kwitansi 1 kali 1.500.000 1.500.000

(19)

14

Sub-Total 3.500.000

Total Biaya 15.000.000

Terbilang: Lima Belas Juta Rupiah

Jadi total biaya yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah Lima Belas Juta Rupiah.

B. Jadwal Penelitian

Penelitian ini diperkirakan akan selesai dalam waktu 4 bulan dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 2. Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Bulan ke

1 2 3 4

1. Pembuatan Proposal

2. Koordinasi Tim

3. Persiapan/penyusunan instrumen/administrasi

4. Pengumpulan data

5. Inventarisir Peraturan Perundang- undangan

6. Identifikasi dan analisis Kepustakaan

7. Pengolahan dan analisis bahan data dan hukum

8. Diskusi dan pengujian hasil penelitian

9. Penyusunan laporan penelitian

10. Pembuatan draft artikel jurnal/publikasi

11. Penyusunan laporan keuangan

12. Publikasi

(20)

15 REFERENSI

Hafidz, Wardah (1995). Daftar Istilah Gender. Jakarta: Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita.

Heri Afriady Firman, Rahmiati, Pengarusutamaan Gender Dalam Pemerintahan Daerah, Iyasatuna, Volume 2 Nomor 1 Januari 2020.

Khofifah Indah Parawansa, Mengukur Paradigma Menembus Tradisi, Lp3es , Jakarta, 2006.

Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan, cet-4, (Bandung: Alumni, 2013).

Muhammad Busyrol Fuad, Reformulasi Norma Hak Dan Kewajiban Suami Istri Dalam Hukum Keluarga Di Indonesia (Sebuah Upaya Pengarusutamaan Gender dalam Pembaharuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan)

Peter MahmudMarzuki, 2005. Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta.

Razavi, S And C. Miller. 2006. From Wid To Gad: Conceptual Shifts In The Woman And Development Discourse.

Saptaningrum, Indriaswaty Dyah. 2008. Parlemen Yang Responsif Gender:

Panduan Pengarusutamaan Gender Dalam Fungsi Legislatif. Jakarta:

Sekretariat Jenderal Dpr Ri Dan Proper Undp: 5.

Sinta R Dewi: Feminisme, Gender, Dan Transformasi Institusi, Dalam Jurnal Perempuan: Pengarusutamaan Gender. Yayasan Jurnal Perempuan.

TerryHutchinson,2002. Researching and Writing in Law, Lawbook’s Co., Sydney.

Trisakti Handayani & Sugiarti, Konsep Dan Teknik Penelitian Gender, Umm Press, Malang.

(21)

Gambar

Tabel 1. RAB Penelitian
Tabel 2. Jadwal Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

pengertian konstitusi dalam arti luas menurut Wheare adalah suatu sistem pemerintahan negara dan himpunan norma yang mendasari dan mengatur suatu pemerintahan;

(2) Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dikategorikan mencampuradukkan Wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b apabila Keputusan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penyembelihan dan pengelolahan ayam di rumah potong ayam pasar sentral memiliki tahapan yaitu: pengambilan ayam dari

Jimly menegaskan bahwa ketentuan Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B UUD 1945 telah mengubah format bentuk negara kesatuan yang kaku kepada bentuk.. 26 negara kesatuan

Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat pemuda yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial di

24 Ibid.. akses kesehatan publik, ketentuan-ketentuan tersebut memungkinkan beberapa mekanisme TRIPs yang dapat dipergunakan untuk menanggulangi ancaman paten terhadap

Penelitian ini bertujuan khusus untuk mencari dan menemukan Model Kebijakan Percepatan Penetapan Hutan Adat Oleh Pemerintah Daerah Berbasis Hukum Progresif, sehingga

2. Menyusun laporan analisa yang diperlukan yang berisi penguraian dan kesimpulan serta perjanjian alternatif sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan oleh pimpinan dari