• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

12

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori dan Literatur 2.1.1 Pengertian Badan

Untuk menunjang stabilitas perekonomian di negara, diperlukan aktivitas ekonomi atau kegiatan ekonomi yang baik. Kegiatan ekonomi suatu negara pastilah akan terkait dengan proses bisnis yang terjadi di dalam negara tersebut, baik kegiatan ekonomi di dalam negeri maupun dengan negara lain. Proses bisnis yang terjadi tidak luput dari peranan berbagai badan usaha baik skala kecil, menengah maupun besar.

Badan usaha adalah kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Badan Usaha seringkali disamakan dengan perusahaan, walaupun pada kenyataannya berbeda. Perbedaan utamanya, Badan Usaha adalah lembaga, sementara perusahaan adalah tempat dimana Badan Usaha itu mengelola faktor-faktor produksi.

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Kententuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pengertian badan itu sendiri adalah

“Sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya,

(2)

13

lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap”.

2.1.1.1 Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, definisi BUMN adalah :

“Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan”.

Dalam Pasal 33 ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bumi , air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Pengklasifikasian akan BUMN terdiri tiga macam yaitu Perjan, Perum dan Persero.

1. Perjan

Perjan adalah bentuk badan usaha milik negara berorientasi kepada pelayanan masyarakat dengan keseluruhan struktur kepemilikan modalnya adalah milik oleh pemerintah. Karena badan usaha ini selalu merugi, sekarang sudah tidak ada perusahaan BUMN yang menggunakan model perjan ini.

Ciri-ciri Perjan antara lain sebagai berikut:

• Memberikan pelayanan kepada masyarakat

(3)

14

• Dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada

menteri atau dirjen departemen yang bersangkutan

• Status karyawannya adalan pegawai negeri

2. Perum

Perum adalah perubahan dari perjan yang memiliki tujuan berorientasi pada profit. Perum, adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Akan tetapi perusahaan masih merugi, sehingga pemerintah terpaksa menjual sebagian kepemilikan Perum tersebut kepada publik (go public) dan statusnya diubah menjadi persero.

Ciri-ciri Perusahaan Umum (Perum):

• Melayani kepentingan masyarakat umum.

• Dipimpin oleh direksi/direktur.

• Mempunyai kekayaan sendiri dan bergerak di perusahaan swasta.

3. Persero

Persero adalah salah satu Badan Usaha yang pengelolaannya dikelola oleh Negara. Struktur modal dalam persero berasal sebagian atau seluruhnya dari kekayaan negara yang dipisahkan berupa saham-saham.

Badan usaha ditulis PT < nama perusahaan > (Persero)

Contohnya PT Tambang Bukit Asam (Persero)

Persero juga tidak memperoleh fasilitas negara. Perseroan terbatas, modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51% (lima puluh satu

(4)

15

persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, yang mana bersumber dari:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);

b. Kapitalisasi cadangan;

c. Sumber lainnya.

Ciri-ciri Persero adalah sebagai berikut:

• Pendirian persero diusulkan oleh Menteri kepada Presiden

• Pelaksanaan pendirian dilakukan oleh Menteri dengan memperhatikan

Perundang-undangan yang berlaku

• Statusnya berupa Perseroan Terbatas yang diatur berdasarkan

undang-undang

• Modalnya berbentuk saham

• Sebagian atau seluruh modalnya adalah milik negara dari kekayaan

negara yang dipisahkan

• Organ persero adalah RUPS, Direksi dan Komisaris

• Menteri yang ditunjuk memiliki kuasa sebagai pemegang saham milik

pemerintah

• RUPS bertindak sebagai kekuasaan tertinggi perusahaan

• Dipimpin oleh Direksi

• Laporan tahunan diserahkan ke RUPS untuk disahkan

• Tidak mendapat fasilitas negara

• Tujuan utama memperoleh keuntungan

• Hubungan-hubungan usaha diatur dalam Hukum Perdata

(5)

16

Dalam bahasa asingnya BUMN atau perusahaan negara adalah public

/ state owned enterprisee, yang artinya BUMN berisikan dua elemen esensial

yaitu unsur pemerintah (public) dan unsur bisnis (enterprise). Menurut Franklin D. Roosevelt keistiwewaan karateristik BUMN yang tidak dimiliki badan usaha lain, dirumuskan sebagai “a corporation clothed with the power

of government but possessed the flexibility an initiative of a private enterprises”.

Kinerja yang dapat diraih oleh BUMN yang satu dengan yang lainnya pasti akan berbeda. Akan tetapi secara keseluruhan kinerja BUMN perlu ditingkatkan dan memberi wewenang dalam penggunaan berbagai alat reformasi seperti restrukturisasi, penggabungan usaha (merger), pelaksanaan kerja sama operasi (joint venture) dan bentuk-bentuk lainnya dari partisipasi swasta termasuk penawaran saham kepada masyarakat dan penempatan langsung (direct placement) atau trade sales.

(6)

17 2.1.1.2 Tujuan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Pasal 2, disebutkan bahwa maksud dan tujuan pendirian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah:

a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada

umumnya dan penerimaan negara pada khususnya;

b. Mengejar keuntungan;

c. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau

jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak;

d. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan

oleh sektor swasta dan koperasi;

e. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan

ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud dan tujuannya serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan/atau kesusilaan.

2.1.1.3 Perkembangan BUMN Di Indonesia

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementrian BUMN dan Bursa Efek Indonesia, total BUMN berupa Persero TBK yang ada di Indonesia sampai dengan tahun 2012 berjumlah 19.

(7)

18 Tabel 2.1

Perkembangan Jumlah BUMN Jumlah BUMN

2008 2009 2010 2011 2012

Persero Tbk 14 14 17 18 19

Total BUMN 141 141 142 141 142

Berdasarkan tabel yang telah dilampirkan di atas, maka dapat diketahui bahwa bentuk BUMN yang ada di Indonesia persero yang telah listed di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data tersebut, persero yang telah listed pada tahun 2012 berjumlah 19, yang terdiri dari;

1. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, listed tahun 1997

2. PT Timah (Persero) Tbk, listed tahun 1995

3. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, listed tahun 1991

4. PT Jasa Marga (Persero) Tbk, listed tahun 2007

5. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, listed tahun 2011

6. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, listed tahun 1995

7. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, listed tahun 2003

8. PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero)Tbk, listed tahun 2002

9. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, listed tahun 1996

10.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, listed tahun 2003

11.PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, listed tahun 2009

12.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, listed tahun 2003

13.PT Kimia Farma (Persero) Tbk, listed tahun 2001

(8)

19

15.PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, listed tahun 2010

16.PT Adhi Karya (Persero) Tbk, listed tahun 2004

17.PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, listed tahun 2010

18.PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, listed tahun 2007

19.PT Waskita Karya (Persero) Tbk, listed tahun 2012

2.1.2 Privatisasi

Privatisasi adalah pemindahan kepemilikan aset-aset milik negara kepada swasta dan asing (Mansour: 2003). Menurut Munggaran (2007), privatisasi adalah pemindahan permanen aktivitas produksi barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan negara ke perusahaan swasta atau dalam bentuk organisasi non-publik secara keseluruhan.

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero): “Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.”

Menurut Savas (1987), privatisasi berarti mengurangi peran pemerintah, dan meningkatkan peran sektor swasta, dalam kegiatan atau pemilikan aset. Namun konsep sektor publik dan swasta tidak ‘mutually exclusive’ atau statis. Pertama, beberapa aspek pemerintahan bertumbuh sementara lainnya tidak berubah, bahkan berkurang. Misalnya privatisasi penjara mengakibatkan perlunya dibuatregulasi baru untuk memastikan dihormatinya hak narapidana. Kedua, pertumbuhan produktifitas sektor

(9)

20

swasta bergantung signifikan pada investasi sektor publik seperti jalan, pelabuhan. Ketiga, sektor swasta terbagi dalam banyak dimensi. Sektor swasta termasuk sektor informal dan sektor swasta nirlaba, asosiasi profesi, dan sektor ekonomi rumah tangga (Gayle, 1990).

Perdebatan tentang campur tangan pemerintah dalam perekonomian telah berlangsung sejak kira-kira tiga ratus tahun lalu. Adam Smith dan mazhab Neoklasik percaya akan ‘invisible hand’ dari pasar, berbeda dengan mazhab merkantilisme yang percaya pada ‘visible hand ’ pemerintah.

Pemerintah melakukan privatisasi karena berdasarkan kekecewaannya terhadap kinerja BUMN, (Megginson, Nash & Van Randenborgh, 1994;403). BUMN sebagai salah satu lembaga perekonomian yang berperan penting dalam system ekonomi Indonesia, merupakan perwujudan fungsi Negara dalam memajukan kesejahteraan umum. Berkaitan dengan hal tersebut, BUMN harus memiliki kinerja yang sehat agar mampu melaksanakan fungsi gandanya.

Peningkatan kinerja BUMN dapat dilakukan melalui privatisasi dalam berbagai bentuk. Kebijakan privatisasi meliputi kebijakan dalam bentuk menjual asset dan memasukkan manajemen swasta. Bagi BUMN yang masih dianggap penting dimiliki (seluruh atau sebagian) oleh Negara. Bentuk yang dapat diterapkan adalah pemindahan pengelolaan (manajemen) swasta ke dalamBUMN. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan luas secara terbuka bagi para manajer untuk bekerja pada BUMN berdasarkan kompetisi yang sehat. Bagi BUMN yang dianggap tidak mengemban misi tertentu maka bentuk privatisasi yang dapat diterapkan adalah dengan cara menjual asset BUMN tersebut ke masyarakat dengan

(10)

21

berbagai cara seperti, initial public offering (IPO), strategic partner dan tender offer.

Untuk meningkatkan kinerja BUMN, dalam arti mampu menjalankan fungsinya sebagai badan usaha yang menghasilkan laba dan sekaligus menyumbang pada peningkatan kesejahteraan umum, berbagai langkah telah ditempuh antara lain melakukan profitisasi, restrukturisasi, privatisasi, rekapitalisasi, merger, likuidasi dan penataan manajemen.

Program privatisasi sendiri secara tidak langsung sudah mulai dijalankan di Indonesia di akhir tahun 1980-an. Pemerintah mulai memberi kesempatan kepada pihak swasta untuk ikut berinvestasi dan mengoperasikan berbagai proyek yang sebelumnya tertutup untuk mereka. Mekanismenya yang digunakan saat itu adalah BOT (Build Operate & Transfer), sebuah mekanisme dimana swasta yang mengeluarkan biaya untuk membangun, mengoperasikan dalam jangka waktu tertentu, biasanya dengan sistem bagi hasil, dan jika jangka waktu tersebut telah habis wajib mengembalikan proyek bersama yang telah dibangun kepada pemerintah. BOT ini dilakukan pemerintah, karena pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun proyek. BOT sebenarnya adalah alternatif yang terbaik untuk melaksanakan program privatisasi.

Privatisasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengalihkan sebagian atau keseluruhan aset yang dimiliki dan pengelolaan perusahaan dari negara kepada pihak swasta untuk mengurangi inefisiensi, informasi yang asimetri, biaya sosial, dan intervensi pemerintah yang mengakibatkan kegagalan pasar (Mardjana dalam Dwidjowijoto dan Wrihatnolo, 2008).

(11)

22

Mar’ie (1996) menyatakan bahwa privatisasi tidak sekedar menjual aset BUMN pada swasta. Pengertian lainnya adalah (i) memberikan kesempatan swasta menjadi pemain utamadalam bidang bisnis; (ii) menjadikan BUMN bertingkahlaku sebagai suatu ‘entrepreneur’; (iii) BUMN bisa bertingkahlaku sebagai swasta.

Definisi dan pengertian privatisasi akan sangat beragam tetapi secara umum tetap dapat dirangkum sebagai berikut:

a. Perubahan bentuk usaha dari “perusahaan negara” menjadi

perusahaan berbentuk perseroan terbatas;

b. Pelepasan sebagian (besar/kecil) atau seluruh saham dari suatu

perusahaan yang dimiliki negara kepada swasta, baik melalui private

placement maupun public offering

c. Pelepasan hak atau aset milik negara atau perusahaan yang

saham-sahamnya dimiliki negara pada swasta, baik pelepasan untuk selamanya (antara lain melalui jual beli, hibah atau tukar guling) maupun pelepasan untuk sementara waktu (termasuk dengan cara

Build Operate Transfer)

d. Pemberian kesempatan pada swasta untuk menggeluti bidangusaha

tertentu yang sebelumnya merupakan monopoli pemerintah

e. Membuat usaha patungan atau kerjasama dalam bentuk lain dengan

memanfaatkan aset pemerintah

f. Membuka dan meningkatkan adanya persaingan sehat dalam dunia

(12)

23

Menurut Kolderie (1990) dalam penelitian Oswar Mungkasa mengajukan beberapa isu mengenai konsep privatisasi. Dimulai dengan pemahaman bahwa pemerintah melakukan dua kegiata nyang berbeda, yaitu penyediaan (provide) pelayanan dan produksi (produce) pelayanan.

1.1.2.1 Tujuan dan Manfaat Privatisasi

Tujuan Kementerian Negara BUMN mengadakan privatisasi adalah guna mendorong BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan guna menjadi champion dalam industrinya serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan sahamnya dengan memperhatikan prinsip- prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggung-jawaban, dan kewajaran.. Dengan adanya kepemilikan masyarakat atas Persero, meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat, menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif, menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global, dan menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar.

(13)

24

Manfaat privatisasi pada skala makro ekonomi menurut Dwidjowijoto dan Wrihatnolo (2008) adalah:

1. Membantu pemerintah memperoleh dana pembangunan.

Menciptakan pendapatan yang akan digunakan untuk membayar hutang negara, memenuhi target anggaran negara, untuk mengurangi pengeluaran pemerintah, dan mengurangi tingkat pajak negara.

2. Mendorong pasar modal dalam negeri.

Melalui perluasan jumlah pemegang saham setelah BUMN listing di pasar modal.

Manfaat privatisasi pada skala mikro ekonomi adalah meningkatkan kinerja perusahaan melalui:

1. Restrukturisasi modal.

Privatisasi ditujukan untuk membentuk struktur modal yang lebih baik bagi perusahaan dengan mengurangi ketergantungan pada utang melalui penerbitan saham baru selain terjadi perubahan porsi kepemilikan saham.

2. Keterbukaan dalam pengelolaan perusahaan.

Keterlibatan pihak swasta menuntut manajemen agar lebih transparan sebab pemegang saham sebagai salah satu pemangku kepentingan memiliki hak untuk mengetahui pengelolaan perusahaan dan kinerja perusahaan.

3. Peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Pengelolaan perusahaan yang baik mendorong efisiensi dan produkivitas.

4. Perubahan budaya perusahaan.

(14)

25

Sedangkan menurut kementrian BUMN manfaat dari diadakannya privatisasi BUMN mencakup tiga kelompok yang terdiri dari perusahaan, negara dan masyarakat. Berikut adalah bagan dari manfaat diadakannya privatisasi:

Dengan adanya program privatisasi maka terbuka peluang bagi investor untuk mengembangkan usahanya. Berbagai sektor usaha yang selama ini dikerjakan oleh BUMN dengan sendirinya akan terbuka bagi sektor swasta.

Menurut Mahmuddin Yasin, privatisasi di berbagai negara, baik negara maju maupun berkembang, investor yang membeli saham BUMN pada penawaran perdana memperoleh capital gain yang jauh di atas rata-rata pasar, melebihi yang diperoleh dari saham perdana perusahaan swasta. Untuk jangka panjang, investor juga mendapatkan return yang positif. Sementara itu investor yang membeli saham BUMN melalui program strategic sales memperoleh keuntungan dari berbagai aspek lain disamping aspek financial. Aspek pasar misalnya, mereka dapat memperluas jaringan pemasaran tanpa

(15)

26

harus memulai dari awal yaitu dengan mengefektifkan jaringan pasar yang telah dimiliki oleh BUMN.

2.1.2.2 Metode Privatisasi

Menurut Bastian (2002) ada beberapa metode privatisasi diantaranya adalah penawaran umum, penempatan langsung, management by out,

likuidasi, privatisasi lelang dan menjual aset.

Megginson dan D’Souza (1999) dan Sun et al (2002) mengemukakan dua jenis privatisasi yaitu:

a. Privatisasi kontrol (control privatization)

Privatisasi yang dilakukan terhadap saham milik pemerintah sebesar minimal 51%

b. Privatisasi pendapatan (revenue privatization)

Privatisasi yang dilakukan terhadap saham milik pemerintah yaitu sebesar maksimal 49% sehingga pemerintah masih mempertahankan sebagian besar hak suaranya

Metode privatisasi menurut pendapat Oswar Mungkasa terdiri dari:

a. Transfer kepemilikan terdiri dari:

1. Penjualan total pada swasta langsung dan melalui pasar modal.

2. Penjualansebagian pada publik, karyawan, atau joint venture

kepemilikan yang dapat dilakukan melalui lelang, nego-tiated sale (harga dan syarat transaksidisetujui bersama dalam negosiasi langsung), tender.

(16)

27

b. Transfer kendali manajemen berupa:

1. Transfer sebagian, terdiri dari pe-misahan manajemen dengan

kepemi-likan, joint venture, perubahan manajemen total.

2. Sub kontrak manajemen, pemerintah menyewa swasta untuk

mengelola BUMN.

3. Leasing, swasta menyewa hak pengelolaan daripemerintah.

4. Build-Own-Operate-and-Transfer (BOO dan BOT). Biaya

pembangunan dari swasta, kemudian diberi hak pengelolaan untuk jangka waktu panjang, dan setelah akhir kon-trak aset dikembalikan pada Negara.

c. Kebebasan pasar.

Manajemen BUMN dibebaskan dari kendali pemerintahdengan pemberian otonomi lebih besar, kebebasan menentukan harga,kebijakan investasi, pembiayaan, danrekrutmen tenaga kerja.

Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero), privatisasi dilakukan dengan cara :

a. Penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar modal

b. Penjualan saham secara langsung kepada investor

c. Penjualan saham kepada manajemen dan/atau karyawan Persero yang

(17)

28 2.1.2.3 Hambatan Privatisasi

Berg (1987) mengemukakan masalah yang dihadapi khususnya di negara berkembang yaitu tujuan utama privatisasi di negara berkembang berbeda dengannegara maju yaitu mengurangi jumlah BUMN yang merugi. Kondisi ini menyulitkanuntuk menjual pada swasta. Kedua adalah tidak terdapat perusahaan swasta nasional yangmempunyai modal yang memadai untuk membeli BUMN, sementara perusahaan asingdengan modal yang cukup masih mendapat hambatan membeli BUMN. Ketiga adalah kondisi peraturan yang kurang mendukung. Misal proteksi industri, akses kredit. Dan yang keempat adalah parlemen kurang memberi dukungan karena dianggap sebagai menjual aset nasional. Termasuk juga banyaknya penolakan dari militer yang banyak bergantung pada BUMN.

(18)

29 2.1.3 Laporan Keuangan

Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia adalah sebuah laporan keuangan yang didalamnya lengkap terdapat lima komponen yaitu laporan laba rugi, laporan kepemilikan modal, laporan arus kas, neraca serta catatan atas laporan keuangan.

Berikut penjelasan dari lima kompenen yang telah disebutkan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia:

a. Laporan Laba Rugi

Laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan terkait dengan pendapatan yang diterima dan pengeluaran beban perusahaan selama periode tertentu. Dari laporan ini dapat diketahui jumlah keuntungan yang diperoleh atau jumlah kerugian yang alami oleh perusahaan.

b. Laporan Kepemilikan Modal

Dalam laporan kepemilikan modal informasi yang tercantum adalah mengenai perubahan ekuitas atau modal kepemilikan selama periode tertentu.

c. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas menunjukkan penerimaan dan pembayaran kas selama periode tertentu. Dalam laporan ini aktivitas dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

1. Operasi : aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan

operasional

perusahaan.

2. Inevtasi : aktivitas yang berhubungan dengan pembiayaan atau

(19)

30

3. Pendanaan : aktivitas yang berhubungan dengan investasi pemilik,

peminjaman dana, pengambilan uang oleh pemilik.

d. Neraca

Di dalam neraca berisikan informasi mengenai daftar aset, kewajiban, kepemilikan modal yang dimiliki oleh perusahaan pada saat tertentu.

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan berisikan informasi tambahan mengenai laporan keuangan dan informasi lainnya terkait laporan keuangan.

Laporan keuangan memberikan gambaran akan kondisi fiskal perusahaan, yang mana merupakan cerminan komunikasi keuangan pada perusahaan dengan pihak lain yang berkepentingan pada laporan keuangan tersebut. Pihak yang berkepentingan pada laporan keuangan tersebut akan menggunakan laporan untuk memprediksi, memperkirakan dan menilai dampak keuangan yang akan timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.

Berdasarkan PSAK Nomor 1 (revisi 2009) karakteristik sebuah laporan keuangan harusnya:

a. Dapat dipahami

Laporan keuangan harus dapat mudah dipahami oleh pengguna, agar pengguna laporan keuangan dapat mengetahui informasi apa yang dapat diambil dari laporan keuangan tersebut.

(20)

31

b. Relevan

Laporan keuangan dapat membantu pengguna untuk mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan yang mempengaruhi pengambilan keputusan mereka.

c. Handal

Informasi pada laporan keuangan tidak memberikan pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan penyajiannya disajikan secara wajar.

d. Dapat dibandingkan

Laporan keuangan harus dapat dibandingkan baik secara antar periode maupun antar perusahaan guna mengetahui trend akan posisi dan kinerja keuangan.

Menurut pendapat Kieso, Weygandt dan Warfield (2011) tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang:

1. Berguna untuk keputusan investasi dan pemberian kredit

2. Berguna untuk menilai prospek arus kas

3. Meliputi sumber daya perusahaan, klaim atas sumber daya, dan

perubahan atas sumber daya tersebut.

2.1.4 Kinerja Keuangan

Menurut Mulyadi dalam penelitian Munggaran (2007), kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba, sedangkan tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang

(21)

32

bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomis. Kinerja merupakan implikasi yang dihasilkan oleh perilaku perusahaan.

Informasi tentang kinerja perusahaan (analisis fundamental) dapat diperoleh investor melalui analisis terhadap laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan. Baik atau buruknya kinerja perusahaan dapat dijadikan sebagai tolok ukur bagi investor dalam menentukan pembelian saham perusahaan.

2.1.5 Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah suatu proses penguraian pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil sehingga dapat dipahami dengan tujuan mengetahui kondisi keuangan dalam proses pengambilan keputusan (Syafri H,2002).

Cara untuk menanalisis mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis rasio keuangan perusahaan dalam suatu periode. Menurut Gitman (2011) Analisis rasio adalah

“relatives is the key word here, because the analysis of financial statements is based on the use of ratios or relatives values. Ratio analysis involves methods of calculating and interpreting financial ratios to analyze and monitor the firm's performance. The basic inputs to ratio analysis are the firm's income statement and balance sheet”

Analisis rasio keuangan dilakukan terhadap data keuangan historis untuk memperoleh gambaran atau indikasi mengenai kinerja perusahaan di masa

(22)

33

datang. Menurut Riyanto (2001), analisis keuangan dengan menggunakan analisis rasio keuangan dapat dilakukan dengan cara:

1. Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio dari

waktu-waktu yang lalu (histories ratio) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama.

2. Membandingkan rasio dari suatu perusahaan (company ratio) dengan rasio

senacam dari perusahaan lain yang sejenis atau dari rasio industri (industries

ratio) untuk waktu yang sama.

2.1.5.1 Rasio Profitablitas

Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan, aset maupun modal sendiri.

1. Return on Asset (ROA)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada tingkat

aset tertentu, semakin tinggi semakin baik. Menurut Syamsudin (2004) mengatakan bahwa Return on Asset (ROA) merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam perusahaan, semakin tinggi rasio ini berarti semakin baik keadaan suatu perusahaan.

(23)

34

2. Return on Equity (ROE)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu, semakin tinggi semakin baik. Return on

Equity (ROE) menjadi pusat perhatian para pemegang saham (stakeholders),

karena berkaitan dengan modal saham yang diinvestasikan dan dikelola oleh pihak manajemen.

3. Net Profit Margin (NPM)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada tingkat penjualan tertentu, semakin tinggi semakin baik. Apabila rasionya tinggi hal ini menunjukkan kapabilitas perusahaan untuk menghasilkan dan memperoleh laba yang tinggi pada periode tertentu dan sebaliknya.

2.1.5.2 Rasio Leverage

Rasio leverage merupakan rasio yang mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh debitur dengan dana yang dipinjam dari kreditur. Rasio ini sering disebut dengan rasio leverage karena berhubungan dengan hutang.

Wetson dan Copeland (1995) dalam penelitian Respati (2004)

mengungkapkan rasio leverage merupakan rasio yang mengukur tingkat aktiva perusahaan yang telah dibiayai oleh penggunaan hutang. Rasio yang digunakan terkait dengan rasio leverage adalah

(24)

35

1. Debt to Asset Ratio

Rasio ini menunjukkan seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aset. Rasio hutang terhadap ekuitas yang tinggi maka menunjukkan tingginya resiko keuangan dan perusahaan mengalami kesulitan keuangan

2. Debt to Equity Ratio

Rasio ini menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh hutang-hutangnya. Semakin kecil rasio ini maka akan menunjukkan tanda yang baik.

2.1.5.3 Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kewajiban jangka pendek itu sendiri adalah kewajiban yang harus segera dipenuhi terhitung satu tahun sejak tanggal neraca dibuat menggunakan aset jangka pendek atau aset lancar, jika rasio yang dihasilkan semakin tinggi maka semakin baik. Rasio likuiditas yang dipakai dalam penelitian ini antara lain:

(25)

36

Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek melalui aset lancar yaitu aset yang berjangka waktu kurang dari satu tahun. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendeknya.

2. Cash Ratio

Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendek melalui aset lancar yang paling mudah dikonversi menjadi kas. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan dibank (yang dapat ditarik setiap saat).

Akan tetapi, dalam pembahasan peneltian cash ratio tidak digunakan untuk mwgukur rasio likuiditas karena adanya keterbatasan data.

2.1.5.4 Efisiensi

Untuk mengukur suatu perusahaan telah efisien atau tidak diperlukan aktivitas untuk melakukan pengujian. Pengujian yang dilakukan adalah dengan memperhatikan penggunaan aset yang dimiliki perusahaan guna mendukung aktivitas penjualan yang dilakukan perusahaan tersebut. Oleh

(26)

37

karena itu, dalam mengukur efisensi perusahaan digunakan rasio Total Asset

Turnover.

Total Asset Turnover ini digunakan untuk mengukur perputaran

semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aset.

2.2 Pengembangan Hipotesis

Hipotesis bisa didefenisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang diterapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian. Dengan menguji hipotesis dan menegaskan perkiraan hubungan, diharapkan bahwa solusi dapat ditemukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Uma Sekaran : 2006 : 135). Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

a. Rasio profitabilitas

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Vivin Melisya Anggeraini (2008) menunjukkan adanya tingkat kenaikan profitabilitas setelah diadakan privatisasi. Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H01 : Tidak ada perbedaan dalam rasio profitabilitas sebelum dan setelah

privatiasi. *)dengan p>0,05

Ha1 : Ada perbedaan dalam rasio profitabilitas sebelum dan setelah

(27)

38

b. Rasio leverage

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Penelitian D’Souza dan Megginson (1999) menunjukkan terjadi penurunan rasio leverage yang diukur dari rasio total hutang terhadap total asset pada perusahaan yang telah melakukan privatisasi. Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H02 : Tidak ada perbedaan dalam rasio leverage sebelum dan setelah

privatiasi. *)dengan p>0,05

Ha2: Ada perbedaan dalam rasio leverage sebelum dan setelah privatiasi.

*) dengan p<0,05

c. Rasio likuiditas

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Macquieira dan Zurita (1996), tingkat likuiditas mengalami kenaikan setelah dilakukan privatisasi. Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah H04 : Tidak ada perbedaan dalam rasio likuiditas sebelum dan setelah

privatiasi. *)dengan p>0,05

Ha4: Ada perbedaan dalam rasio likuiditas sebelum dan setelah privatiasi.

*) dengan p< 0,05

d. Rasio efisiensi

Dalam penelitian yang dilakukan oleh D’Souza dan Megginson (1999)

menyatakan bahwa dengan adanya program privatisasi dapat

(28)

39

oleh efisiensi. Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H05 : Tidak ada perbedaan dalam efisiensi sebelum dan setelah privatiasi.

*)dengan p>0,05

Ha5: Ada perbedaan dalam efisiensi sebelum dan setelah privatiasi. *) dengan p<0,05

2.2.1 Kerangka Hipotesis

Melihat dari adanya privatisasi akan unit bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, maka penulisan penelitian ini untuk menguji kembali apakah privatisasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah atas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meningkatkan kinerja keuangan atau kinerja keuangan tersebut tidak mengalami peningkatan atau bahkan mengalami penurunan. Kerangka pengujian hipotesis dari penelitian yang dibuat penulis dapat digambarkan sebagai berikut:

Pengukuran akan kinerja keuangan sebelum dan sesudah diadakan privatisasi dilihat berdasarkan rasio profitabilitas, rasio leverage, rasio

Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum Privatisasi

a. Profitabilitas 1. Return On Asset 2. Return On Equity 3. Net Profit Margin b. Leverage

1. Debt To Asset Ratio 2. Debt To Equity Ratio c. Likuiditas

1. Current Ratio d. Efisiensi

1. Total Asset Turnover

P R I V A T I S A S I

Kinerja Keuangan Perusahaan Setelah Privatisasi

a. Profitabilitas 1. Return On Asset 2. Return On Equity 3. Net Profit Margin b. Leverage

1. Debt To Asset Ratio 2. Debt To Equity Ratio c. Likuiditas

1. Current Ratio d. Efisiensi

(29)

40

likuiditas dan efesiensi. Rasio-rasio tersebut diuraikan dalam sub bab selanjutnya.

2.2.2 Perumusan Hipotesis 2.2.2.1 Rasio Profitabilitas

Hasil dari aktivitas yang dilakukan perusahaan tentunya akan berkaitan dengan laba. Laba ini sering disebut dengan istilah Profitabilitas. Kemampuan perusahaan untuk mencapai laba merupakan bagian dari kinerja perusahaan.

Profitabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba (profit) selama periode tertentu dengan menggunakan aktiva yang produktif atau modal, baik modal secara keseluruhan maupun modal sendiri (Van Horn dan Wachowiez, 1997).

Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H01 : Tidak ada perbedaan dalam rasio profitabilitas sebelum dan setelah

privatiasi.

Ha1 : Ada perbedaan dalam rasio profitabilitas sebelum dan setelah

privatiasi.

2.2.2.2 Rasio Leverage

Rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana aktiva perusahaan dibayar dengan utang. Dengan kata lain rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dilkuidasi.

(30)

41

Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H02 : Tidak ada perbedaan dalam rasio leverage sebelum dan setelah

privatiasi.

Ha2 : Ada perbedaan dalam rasio leverage sebelum dan setelah privatiasi.

2.2.2.3 Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya pada saat ditagih atau saat jatuh tempo. Perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar kewajiban finansial jangka pendeknya, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid.

Perumusan hipotesis yang ditarik dalam penelitian ini adalah

H04 : Tidak ada perbedaan dalam rasio likuiditas sebelum dan setelah

privatiasi

Ha4 : Ada perbedaan dalam rasio likuiditas sebelum dan setelah privatiasi.

2.2.2.5 Efisiensi

Tujuan dari privatisasi BUMN dalam UU Nomor 19 Tahun 2003 Pasal 74 adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas saham persero sehingga tanggung jawab BUMN semakin jelas, nyata dan tidak hanya kepada pemerintah namun juga stakeholder yang lain. Pada perusahaan swasta kebebasan lebih dapat dimiliki dalam menggunakan dan memberdayakan aset dan pada akhirnya mampu mendorong agar lebih efisien dalam menjalankan usaha seperti dalam teori efisiensi.

(31)

42

H05 : Tidak ada perbedaan dalam efisiensi sebelum dan setelah

privatiasi.

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan yang tidak boleh dilakukan dalam pekerjaan Mengoperasikan Alat Pengukur dan Pembatas (APP) 1 elektromekanik fasa satu pengukuran langsung dengan Sambungan

menjelaskan bahwa anak yang dimaksud adalah anak laki-laki, yaitu hadis Jabir bin Abdillah yang menyatakan bahwa istri Sa’ad bin Rabi’ datang menemui rasulullah

Di dalam tafsir Majmaʻ al- ay n f afs r al-Qur‟ n yang dikarang oleh Abu ʻAli Faḍl Ibn Hasan al-Ṭabarsi, bahwa diriwayatkan dari Imam Baqir dan Imam

Persamaan pembahasan jurnal ini dengan penulis adalah adanya persamaan subjek penelitian yaitu pekerja anak, khususnya bahasan mengenai penanganan pekerja anak yang

Sistem Informasi ini memiliki kemampuan untuk menyimpan file konfigurasi perangkat di setiap wilayah beserta link untuk menuju ke lokasi perangkatnya, menampilkan

Tabulasi silang Performance or volitional control dengan perilaku guru- guru jika siswa-siswi mendapat nilai bagus pada siswa-siswi yang kurang mampu meregulasi diri dalam

Praktik otonomi akademik PTNBH pada Universitas Airlangga (Unair) Ditetapkan menjadi Badan Hukum Milik Negara (PTNBH) berdasarkan PP No.30 Tahun 2006 merupakan

422 86 Drs Sugeng Purwono .M.MPd [email protected] UPTD Pendidikan kec Plandaan /Dinas Pendidikan Kab.Jombang / Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Belum Diisi SD