S
Rancang Bangun Rectenna Pada Produk Portable Wireless Charging
For Mobile Phone
Muhammad Aidil.1, Efa Maydhona Saputra, S.T., M.T.2, Rheyuni arto Sahlendar Asthan, S.T., M.T.3
1,2,3Program Studi Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Informatika Dan Sistem Fisis Institut Teknologi Sumatera
Abstract— Teknologi nirkabel adalah perkembangan teknologi yang sangat diperlukan saat ini mengingat kemajuan teknologi pada perangkat elektronik yang sangat pesat. setiap alat elektronik membutuhkan tenaga listrik dan kabel sebagai penghantar. Dengan adanya teknologi nirkabel ini bertujuan agar mempermudah penggunaan alat elektronik tersebut. Pengisian secara nirkabel mempunyai beberapa keunggulan dibanding pengisian dengan menggunakan kabel, yaitu meningkatkan kenyamanan dan mengurangi jumlah sampah elektronik. Metode yang digunakan dalam jurnal ini menggunakan metode magnetic coupling. Alat realisasi bekerja dengan baik dengan pengaturan komponen yang sesuai. Namun pengaruh jarak antar kumparan sangat mempengaruhi jumlah yang mampu ditransferkan.
Receiver yang telah dirancang memiliki 3 subsistem yaitu antenna penerima, rangkaian rectifier dan beban pada mobile phone. Hasil receiver masih menerima daya sampai jarak 12mm dari transmitter.
Kata kunci - Magnetic coupling, Receiver, Rangkaian rectifier, Antena, mobile phone
I. PENDAHULUAN
aat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah tersebar luas serta sudah semakin canggih. Perkembangan teknologi tersebut memberikan kemudahan dan manfaat bagi kehidupan sehari- hari. Telah diketahui bahwa dengan perkembangan teknologi membuat masyarakat Indonesia maupun masyarakat luar negeri rata-rata telah mempunyai perangkat komunikasi genggam seperti mobile phone[1]. Mobile phone dapat digunakan sebagai media informasi dan komunikasi yang dapat digunakan dimana saja dan kapan saja akan tetapi jika daya baterai pada perangkat mobile phone habis maka perangkat tersebut harus dihubungkan ke sumber daya perangkat mobile phone dengan sumber listrik dengan kabel penghantar. Pengisian menggunakan kabel menjadi tidak efektif jika apabila kabel tersebut dalam keadaan rusak sehingga pengisian daya tidak dapat dilakukan. Untuk mengatasi hal tersebut maka diciptakan suatu produk yang dapat mentransfer daya tanpa menggunakan kabel sebagai penghantar lalu juga produk tersebut bisa digunakan kapan saja dan dimana saja dengan sistem nirkabel.
Sistem nirkabel adalah teknologi tanpa kabel yang sering disebut wireless. Teknologi wireless merupakan suatu perkembangan yang dibutuhkan karena dapat menciptakan kenyaman bagi pengguna. Dengan adanya perkembangan teknologi wireless ini kita dapat melakukan transfer daya tanpa menggunakan kabel, tentu dengan adanya teknologi ini dapat melakukan tansfer daya dengan mudah.
Produk portable wireless charging for mobile phone menggunakan sistem magnetic coupling dianggap tepat pada teknologi ini karena proses pengiriman daya tidak menggunakan kontak fisik akan tetapi menggunakan induksi magnetik yang saling terintegrasi untuk mentransfer daya listrik[2].
Pentransferan daya listrik ini memerlukan transmitter sebagai pemancar dan receiver sebagai penerima.
Dalam produk ini terdapat transmitter dan receiver, namun jurnal ini hanya fokus membahas dibagian receiver untuk bagian transmitter akan dibahas pada jurnal[3]. Pada perangkat pemancar berfungsi untuk merubah energi DC menjadi energi AC untuk mengirimkan medan magnetik melalui frekuensi dan kemudian menginduksi lilitan penerima[4]. Mentransmisikan energi listrik tanpa menggunakan kabel biasanya sering disebut sebagai wireless power transfer (WPT). Teknologi daya nirkabel terbagi dalam dua kategori yaitu non-radiatif dan radiatif[5].
II. DASAR TEORI A. Teknologi wireless
Teknologi wireless adalah teknologi yang ditemukan pada abad ke-19 oleh ilmuwan Nicola Tesla. Nicola Tesla telah mempelajari dan meneliti tentang system pemancar dan system penerima daya listrik tanpa menggunakan kabel penghantar.
Dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik pada kumparan Tesla, Ilmuwan Nicola Tesla akhirnya membangun sebuah Menara dengan nama Wardenclyffe. Dengan membangun Menara tersebut Nicola Tesla mempunyai tujuan sebagai pembangkit dan pemancar daya listrik serta pemancar informasi untuk seluruh dunia. Akan tetapi tujuan mulia itu hilang dikarenakan menara Wardenclyffe dihancurkan sebelum beroperasi dikarenakan berhentinya sumber pendanaan. Dari penemuan Nicola Tesla tersebut dapat diipelajari bahwa induksi elektromagnetik juga bisa digunakan untuk transfer daya atau lebih dikenal sebagai teknologi wireless.
Teknologi wireless charging adalah istilah yang sering dipakai untuk mendeskripsikan pengisian daya baterai tanpa menggunakan kabel atau sering disebut sistem nirkabel. Secara teknis, teknoologi wireless charging diartikan sebagai transmisi arus listrik dari sumber listrik ke perangkat penerima tanpa menggunakan kabel penghantar secara langsung. Sebagian wireless charging diartikan sebagai pengisian induksi yang memanfaatkan elektromagnetik untuk memindahkan energi diantara dua perangkat. Proses pengisian daya dimulai saat alat dinyalakan, kemudian arus listrik akan menciptakan medan magnet dan mendistribusikannya keperangkat penerima
B. Induksi Elektromagnetik
Prinsip kerja induksi elektromagnetik dibuktikan oleh ilmuan Michael Faraday, beliau tertarik setelah melihat percobaan dari ilmuan H.C Oersted yang menjelaskan bahwasannya arus listrik dapat menghasilkan medan magnet[6]. Pada tahun 1831 Michael Faraday melakukan percobaan untuk membuktikan prinsip induksi elektromagneik yang cukup sederhana yaitu dengan menggunakan 2 buah kabel yang digulung pada kedua sisi cincin besi lalu satu sisi lainnya dialiri dengan arus listrik dan kabel pada sisi lainnya dihubungkan dengan galvometer
Melalui percobaan ini Michael Faraday menyimpulkan bahwa medan magnet pada kabel yang dialiri arus listrik dapat menhantarkan arus kepada kabel yang lain akan tetapi masih berada pada jangkauan medan magnet kabel tersebut.
Prinsip kerja induksi elektromagnetik adalah dengan bertambahnya garis gaya magnet akan menimbulkan GGL induksi pada ujung kawat dan akan terjadi beda potensial yang diakibatkan oleh arus yang mengalir akibat gaya magnet. Arah arus induksi yang mengalir dalam kawat bisa ditentukan dengan cara melihat arah medan magnet yang ditimbulkan. Hal ini menyebabkan terjadinya beda potensial pada ujung-ujung kawat lilitan. Pada saat medan magnet keluar dari lilitan kawat, beda potensial yang terjadi akan berkurang hingga nanti hilang karena menghilangnya medan magnet pada lilitan kawat.
C. Magnetic Coppling
Resonansi magnetic coppling salah satu motode yang digunakan untuk melakukan wireless transfer power(WTP), dengan menyelaraskan frekuensi pada kumparan pengirim dengan kumparan penerima. Pada proses ini memanfaatkan prinsip induksi magnetik dan resonansi sebagai media untuk mengirim dan menerima. Prinsip dasar dari WTP dengan resonansi magnetic coppling ini berhubungan dengan fenomena resonansi. Suatu Sebuah antena penerima yang dibuat dari coil dapat menangkap energi dari sebuah medan magnet, bila dipancarkan dengan frekuensi yang sama dari antena pengirim.
Agar impedansinya optimal, digunakan gulungan kabel pada kedua sisinya. Di sini, gulungan kabel juga berfungsi sama seperti gigi transmisi sepeda. Saat keadaan menanjak, gigi transmisi diturunkan bertujuan agar memanfaatkan energi secara lebih efisien. Sebaliknya, saat kondisi menurun digunakan gigi transimisi lebih tinggi[7].
Resonansi terjadi jika frekuensi resonansi dari kumparan tersebut bernilai sama dengan frekuensi arus bolak-balik. Saat rangkaian ekuivalen dari kumparan-kumparan tersebut memlikii frekuensi tinggi memiliki impedansi paling kecil.
Pada saat kondisi ini energi dapat dikirim dengan kuat melalui jalur resonansi.
D. Rectenna
Rectenna biasa disebut receiver adalah konsep kombinasi dari antenna penerima dan rangkaian penyearah. Penamaan rectenna pertama kali dikenalkan oleh W.C. Brown dari Raytheon Company pada awal 1960an. Sebuah low-pass filter akan meloloskan frekuensi rendah yang diingikan, setelah proses matching impedansi, bagian rectifier berupa diode penyearah mengubah energi wireless yang sudah diterima menjadi sinyal DC. Lalu sebuah filter memblokir harmonisa urutan tertinggi yang dihasilkan oleh diode untuk memperoleh efisiensi yang tinggi dari proses perubahan energi tersebut.
Terdapat dua kategori utama band kerja rectenna yaitu rectenna wide atau sering disebut band luas dan narrowband atau nama lainnya band sempit.[8]. Telah banyak rectenna narrowband yang dikembangkan akan tetapi untuk rectenna wideband masih sangat sedikit. Rectanna wideband mampu untuk menghasilkan energi dari wireless. Jenis wideband ini mampu mengumpulkan energi dari system operasi pada berbeda untuk memaksimalkan daya output pada lokasi tertentu.
III. PERANCANGAN SISTEM
Portable wireless charging for mobile adalah produk yang mempunyai dua bagian yaitu transmitter dan receiver.
Transmitter mempunyai tiga subsistem yaitu subsistem rangkaian baterai, subsistem rangkaian osilator dan subsistem antena pengirim sedangkan receiver mempunyai tiga subsistem juga yaitu subsistem antena penerima, subsistem rangkaian rectifier dan subsistem beban. Berikut adalah blok diagram dari produk portable wireless charging for mobile phone dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Blok diagram portable wireless charging for mobile phone Dalam makalah ini akan lebih fokus membahas bagian receiver (Penerima) yang didalamnya terdapat tiga subsistem. Untuk bagian Transmitter(Pengirim) dapat dilihat pada makalah[3].
A. Antena penerima
Antena merupakan komponen yang sangat penting dalam mendukung system komunikasi nirkabel karena antenna berfungsi sebagai sarana untuk memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik. Selain itu antenna juga merupakan media peralihan antara ruang bebas dengan saluran transmisi.
Antena penerima adalah suatu bagian dari receiver yang dapat menerima medan magnet dari transmitter. Fungsi utama antena penerima pada produk portable wireless charging for mobile phone adalah menerima daya dari antenna pengirim dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik. Agar induksi elektromagnetiknya maksimal maka penerapan resonansi magnetic coppling sangat dianjurkan untuk wireless transfer power(WTP). Diagram blok system level 2 antena penerima dapat dilihar pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Diagram blok sistem level 2 antena penerima
B. Rangkaian rectifier
Rectifier (Penyearah gelombang) adalah bagian dari power supply yang berfungsi untuk mengubah sinyal tegangan AC menjadi tegangan DC[9]. Terdapat beberapa jenis penyearah akan tetapi pada makalah ini menggunakan penyearah gelombang penuh dengan konfigurasi jembatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3. Rangkaian penyearah gelombang penuh 4 dioda
Rangkaian penyearah gelombang penuh mempunyai prinsip kerja yaitu pada saat rangkaian jembatan mendapatkan bagian positif dari siklus sinyal ac, maka D2 dan D4 mati, karena mendapat bias mundur jadi arus i1 mengalir melalui D1,RL dan D3.Untuk D1 dan D4 hidup, karena mendapat bias maju.
Sedangkan apabila jembatan memperoleh bagian siklus negative maka D1 dan D3 mati, karena mendapat bias mundur jadi arus i2 mengalir melalui D2,RL dan D4.Untuk D2 dan D4 hidup, karena mendapat bias maju.
Arah arus i1 dan i2 yang melewati RL sama. Dengan demikian iL adalah penjumlahan dari dua arus i1 dan i2 dengan paruh waktu masing-masing. Diagram blok system level 2 rangkaian rectifier dapat dilihar pada Gambar 3.4.
Gambar 3.4. Diagram blok sistem level 2 rangkaian rectifier
C. Beban
Beban adalah tujuan utama diciptakannya produk portable wireless charging for mobile phone ini, karena beban sebagai supply untuk mobile phone. Baterai pada mobile phone yang menjadi supply pada mobile phone harus terus terisi agar mobile phone dapat digunakan terus menerus, maka dari itu baterai harus tersupply jika mobile phone kehabisan baterai. Berikut adalah diagram blok system level 2 beban dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Gambar 3.5. Diagram blok system level 2 beban
D. Desain Perancangan Fisik
Desain alat yang dibuat untuk bagian receiver dapat dilihat pada sketsa 3D Gambar 3.6. dan Transmitter pada Gambar 3.7.
Gambar 3.6 Receiver portable wireless charging for mobile phone
Gambar 3.7 Transmitter portable wireless charging for mobile phone
IV. IMPLEMENTASI DAN HASIL PENGUJIAN A. Implementasi hardware
Hasil implementasi bagian receiver dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan hasil implementasi bagian transmitter dapat dilihat pada Gambar 4.2
Gambar 4.1 Hasil Implementasi receiver
Gambar 4.2 Hasil implementasi transmitter Dari gambar 4.1 diatas implementasi bagian reciver berbentuk persegi Panjang. Kemudian rencang bangun alat receiver ini diletakkan pada mobile phone, agar transmitter dan receriver dapat berinduksi. Hasil implementasi dapat dilihat pada Gambar 4.3
Gambar 4.3 Hasil implementasi transmitter dan receiver dihubungkan
B. Hasil Pengujian
Hasil pengujian yang dilakukan pada receiver terdiri dari tiga bagia subsistem . Adapun hasil pengujian setiap subsistem dapat dilihat sebagai berikut :
1. Pengujian Subsistem Antena penerima
Berikut merupakan hasil tampilan pengujian antenna penerima dapat dilihat pada Table 4.1
Tabel 4.1 Parameter keberhasilan dan Hasil pengujian antenna penerima
Parameter keberhasilan
pengujian
• Material kawat tembaga
• Koefisien refleksi (S11) ≤-10 dB
• Frekuensi berpedoman dengan standar Qi
Hasil pengujian • Material kawat tembaga Hasil pengujian kawat tembaga masih menjadi bahan yang paling cocok untuk mengalirkan listrik.
• Koefisien refleksi (S11) ≤-10 dB Frekuensi yang keluar masih dalam rentang S11
• Frekuensi standar Qi Setelah melakukan pengujian output frekuensi rangkaian osilator sebesar 111,1kHz.
Gambar 4.4 Output antenna penerima
Pada pengujian antena penerima dapat ditunjukan hasil keluaran antena penerima pada Gambar 4.4 dimana pada keluaran hasil tersebut sudah memenuhi spesifikasi yang diinginkan yaitu berupa keluaran sinyal sinusoidal dengan rentang frekuensi 110 kHz - 300 kHz sesuai dengan acuan frekuensi Qi standard dan tegangan Vrms senilai 5,20 VAC sehingga sehingga hal tersebut menandakan antena penerima berfungsi dengan baik, namun sama halnya pada antena pengirim untuk koefiensi refleksi tidak dapat dilakukan pengukuran karena kerterbatasan alat ukur untuk melakukan pengujian tersebut.
2. Pengujian Rangkaian Rectifier
Berikut merupakan hasil tampilan pengujian antenna penerima dapat dilihat pada Table 4.2
Tabel 4.2 Parameter keberhasilan dan Hasil pengujian rangkaian rectifier
Parameter keberhasilan
pengujian
• Portable wireless charging dapat melakukan transfer daya.
• Tegangan output 5V
Hasil pengujian • Setelah melakukan pengujian produk Portable wireless charging dapat melakukan transfer daya untuk mobile phone.
• Tegangan output 5V Setelah melakukan pengujian produk Portable wireless charging tegangan output yang dihasilkan rangkaian rectifier sebesar 5,3V.
Gambar 4.5. Output tegangan rangkaian rectifier Pada hasil pengujian rangkaian rectifier seperti ditunjukan pada Gambar 4.5. sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan yaitu keluaran tegangan rectifier 5,33V hal tersebut menunjukan rangakaian rectifier dapat dihubungkan ke beban(mobile phone).
3. Pengujian Beban
Berikut merupakan hasil tampilan pengujian antenna penerima dapat dilihat pada Table 4.3.
Tabel 4.3 Parameter keberhasilan dan Hasil pengujian beban feature mobile phone.
Parameter keberhasilan
pengujian
• Kapasitas baterai 800 - 4000mAh
• Arus < 1A
• Mobile phone mendapat transfer daya
Hasil pengujian • Output arus/tegangan AC Kapasitas baterai 800 mAh transfer daya dilakukan dengan hasil
• Vrms >5V
Setelah melakukan pengujian rangkaian osilator menghasilkan output tegangan sebesar 14,8V
• Frekuensi standar Qi
Setelah melakukan pengujian output frekuensi rangkaian osilator sebesar 112,4kHz.
Tabel 4.4 Hasil pengujian tegangan dan arus terhadap jarak
Jarak (mm)
Tegangan (V)
0 11,3
1 11
2 10,3
3 10
4 9,2
5 8,6
6 8,3
7 7
8 5,6
9 5,1
10 4,9
15 3,3
20 2,5
25 1,7
30 1,2
35 0,8
40 0,6
45 0,4
50 0
Gambar 4.6 Grafik tegangan terhadap jarak pengujian tanpa beban
Untuk hasil pengujian tegangan tanpa beban dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.6. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin dekat jarak antena pemancar dengan antena penerima maka semakin besar tegangan yang dihasilkan, pada jarak 0 mm, antena dengan diameter 6cm mampu menerima tegangan sebesar 11,3V sedangkan untuk jarak maksimal yang dapat diterima oleh antena penerima sejauh 50 mm.
Gambar 4.7 Hasil Transmitter dan Receiver berinduksi menghasilkan daya untuk beban feature mobile phone.
Tabel 4.5 Hasil pengujian tegangan dan arus terhadap jarak
Jarak (mm) Tegangan (V) Arus (mA)
0 5.5 151
1 4.8 147
2 4.43 124
3 4.27 97
4 4.26 73
5 4.2 56
6 4.1 47
7 4.1 22
8 4.1 13
9 4 11
10 4 7
11 3.8 2
12 3.6 0
Gambar 4.8 Grafik arus terhadap jarak
Untuk hasil pengujian arus dengan beban feature mobile phone dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.8. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin dekat jarak antena pemancar dengan antena penerima maka semakin besar arus yang dihasilkan, pada jarak 0 mm, antena dengan diameter 6cm mampu menerima arus sebesar 151mA sedangkan untuk jarak maksimal yang dapat diterima oleh antena penerima sejauh 12 mm.
0 50 100 150 200
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Arus (mA)
Jarak (mm)
Arus terhadap jarak
Gambar 4.9 Grafik tegangan terhadap jarak
Untuk hasil pengujian tegangan dengan beban feature mobile phone dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.9. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin dekat jarak antena pemancar dengan antena penerima maka semakin besar tegangan yang dihasilkan, pada jarak 0 mm, antena dengan diameter 6cm mampu menerima tegangan sebesar 5,5V sedangkan untuk jarak maksimal yang dapat diterima oleh antena penerima sejauh 12 mm.
Pada produk portable wireless charging ini juga di uji ke mobile phone tipe realme yang belum support wireless charging dan iPhone yang sudah support wireless charging, akan tetapi hanya sekedar ingin membutikan bahwa produk ini dapat digunakan difrekuensi standar Qi.
Gambar 4.10 beban yang diuji (a) android , (b) iPhone V. PEMBAHASAN
A. Subsistem Antena Penerima
Untuk dapat menjalankan produk portable wireless charging for mobile, produk ini harus mempunyai bagian transmitter dan receiver.
Transmitter merupakan bagian beberapa subsistem yang digabungkan menjadi satu rangkaian yang berfungsi sebagai pengirim energi listrik menuju reciver dengan sistem nirkabel. Receiver juga merupakan gabungan dari beberapa komponen elektronika yang digabung menjadi satu rangkaian yang berfungsi sebagai media penerima energi listrik yang ditranfer oleh transmitter. Antena penerima dirancang menggunakan kawat email yang bermaterial tembaga berdiameter 0.7mm, karena material tembaga sampai saat ini mesih menjadi salah satu material yang sangat cocok untuk menghantarkan energi listik. Kawat tembaga dibentuk menjadi
kumparan berbentuk lingkaran dengan diameter 6cm dengan jumlah lilitan sebanyak 5 lilitan. Untuk antena penerima jumlah kawat tembaga dirancang menggunakan dua kawat tembaga karena bertujuan untuk menaikan arus yang diterima oleh antenna penerima.
Dengan menggunakan alat bantu osiloskop pengujian antenna penerima dapat diketahui, dari hasil sinyal yang ditampilkan osiloskop bahwa antena penerima menerima tegangan sebesar 5,5V dan frekuensi sebesar 111.1kHz. Dengan menggunakan rumus menghitung lilitan pada trafo dapat dilihat pada Persamaan 1 berikut :
𝑁𝑝 𝑁𝑠=𝑉𝑝
𝑉𝑠 (1)
Dengan jumlah lilitan dari antena penerima dan antena pengirim yang sudah diketahui dan data tegangan output dari antenna penerima sebesar 14,8V[9] maka tegangan yang diterima oleh antenna dapat dihitung sebagai berikut :
𝑁𝑝 𝑁𝑠=𝑉𝑝
𝑉𝑠 ≫≫≫ ≫≫15
5 = 14.8 𝑉 𝑉𝑠 𝑉𝑠 =14.8 𝑥 5
15 Vs = 4,83 V
Dengan menggunakan rumus menghitung jumlah lilitan pada trafo didapat hasil tegangan di antena penerima sebesar 4,83 V sedangkan tegangan pada pengujian menggunakan osiloskop tegangan yang diterima oleh antena penerima sebesar 5,5 V terdapat perbedaan sebesar 0,7V. Hal ini disebabkan karena pada saat pengukuran antenna pengirim dan antena penerima tidak benar-benar tepat saling berhadapan. Dengan menggunakan analisis resonansi magnetic coppling
B. Rangkaian rectifier
Rectifier atau sering disebut penyearah gelombang adalah bagian subsistem yang berfungsi untuk mengubah atau mengkonversi sinyal tegangan bolak-balik AC(Alternating Current) menjadi tegangan searah DC(Direct Current).
Komponen utama pada rangkaian rectifier adalah dioda yang dikonfiguarsikan secara forward bias. Hasil uji dari rangkaian rectifier pada bagian receiver dihasilkan data tegangan 8-11 Volt DC dan jika menggunakan regulator maka hasil tegangan yang dihasilkan sebesar 5,3V. Dengan demikian output dari rangkaian rectifier dapat dihubungkan kebeban, karena beban pada mobile phone memerlukan input tegangan sebesar 5V.
C. Beban
Beban (mobile phone) menjadi tujuan diciptakannya produk portable wireless charging for mobile phone. Hasil uji untuk mobile phone tipe feature mobile phone, produk portable wireless charging mampu mentransfer daya dengan arus 151mA dan memerlukan waktu selama 90 menit untuk melakukan charging sampai baterai pada mobile phone terisi penuh. Pengujian juga dilakukan pada mobile phone tipe android (realme) yang belum support wireless charging dan mobile phone iPhone yang sudah support wireless chaging. Hasil dari pengujian bahwa transfer daya listrik bisa dilakukan akan tetapi pengujian ini hanya untuk membuktikan bahwa ketika produk portable wireless charging ini digunakan pada mobile phone yang sudah support wireless charging dengan frekuesnsi standr Qi maka produk portable wireless charging juga bisa digunakan. Dari hasil Tabel.4.5.
dapat dilihat semakin dekat jarak transmitter dan receiver maka semakin besar daya yang dipancarkann.
0 2 4 6
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Tegangan (V)
Jarak (mm)
Tegangan terhadap jarak
(a) (b)
VI. KESIMPULAN
Dari hasil pengujian produk portable wireless charging for mobile phone dapat disimpulkan bahwa :
1. Rancangan receiver dapat menerima transfer daya dari transmitter di frekuensi 100kHz – 300kHz.
2. Dalam implementasi produk portable wireless charging for mobile phone dapat mentransfer daya ke beban dengan sisstem nirkabel.
3. Dalam implementasi produk portable wireless cahrging for mobile phone dapat melakukan pengisian pada beban dimana saja dan kapan saja.
REFERENCES
[1] I.T. Daeng, N.N Mewengkang dan E. R. Kalesaran
“Pengguna Smartphone Dalam Menunjang Aktivitas Perkuliahan Oleh Mahasiswa Fispol Unsrat Manado,”
vol.6, hal 1-3, 2017.
[2] V. B. Saputra, C. Kumolo, N. F. F. Wibowo “ Analisa Luas Penampang dan Pengaruh Jarak Terhadap Transmisi Daya pada Wireless Charger Universal Smartphone,” vol. II , hal. 1-2, 2016.
[3] D.D. Prakoso, “Rancang Bangun Sistem Pemancar Pada Wireless Charging Berdaya Rendah Medium
Memanfaatkan induksi magnetic guna pengisian daya pada mobile phone”, Lampung. 2020
[4] K.S. Lwin, & H.M. Tun, “Design And Construction Of Wireless Charging System Using Inductive Coupling,”
International Journal of Technology Enhancements and Emerging Engineering Research 4(06), 282–287, 2015..
[5] P. Marks, ”Wireless charging for electric vehicles hits the road,” 2014. [Online]. Available:
https://www.newscientist.com/arti cle/mg22129534.900- wireless-charging-for-electric-vehicles-hitsthe-road/.
[Diunduh 28 Agustus 2018].
[6] D. C. Giancoli, Physics: Principles with Applications (Fifth ed.), New Jersey, United States: Pearson/Prentice Hall, 1998
[7] Ramdhani,Waluyo & Saodah,”Perancangan Dan Realisasi Listrik Wireless Menggunakan Resonant Coupling Magnetic”. Bandung, 2013
[8] R.Hidayat,”Sumber Daya Wireless Untuk Menghasilkan Energi Listrik Terbarukan”, Bandung. Hal 111-112 [9] D.R. Palupi,”Perancangan Dan Analisis Rangkaian
Rectifier pada Rectenna Menggunakan Antena Televisi”, Malang.