1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Judul Karya
Legenda Satisa merupakan judul komposisi musik programa yang berangkat dari kesenian tradisional yaitu musik kromong berasal dari Daerah Mandiangin Tuo, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.
Komposisi ini mengadopsi cerita-cerita yang terangkai sebagai suatu bentuk prosa naratif – deskripif dari sosok Satisa yang merupakan seorang wanita yang memiliki latar kehidupan yang tidak biasanya seperti layaknya kehidupan manusia normal. Satisa juga diyakini oleh masyarakat setempat sebagai orang yang mengisahkan awal mula terciptanya tari kain kromong. Secara keseluruhan dari cerita sejarah oleh Satisa, pengkarya akan menjadikan kisah cerita legenda Satisa yang diwujudkan dalam bentuk musikal.
Dalam penggarapannya, pengkarya akan menggunakan kembali beberapa bentuk musikal yang ada pada musik kromong, seperti pola melodi kromong, warna bunyi (timbre), teknik instrumentasi, susunan nada (scale), dan karakteristik interval yang ada pada melodi kromong. Dari keseluruhan aspek musikal tersebut yang akan pengkarya gunakan sebagai dasar penciptaan dalam berkarya. Secara keseluruhan, karya ini menggunakan struktur bentuk 2 bagian (2nd Movement) dalam formasi kelompok orkestra.
2 1.2 Latar Belakang Penciptaan
1.2.1 Latar belakang penciptaan
Musik merupakan sarana ekspresi pikiran dan perasaan untuk menyampaikan suatu pesan atau kisah yang dituangkan melalui bunyi. Faktor utama dalam musik adalah melodi, harmoni, ritme, bentuk, tempo, dinamika, warna bunyi, dan nuansa1. Secara non musikal, delapan faktor tersebut dapat digunakan sebagai media dalam menyampaikan atau mengungkapkan makna yang terkandung dalam musik Programa.
Musik Programa adalah konsep musik yang dilandasi dari penerapan aspek programatik sebuah kesan atau pesan dari sebuah karya musik yang berhubungan dengan cerita, puisi, legenda dan lain sebagainya. Musik programa muncul dan berkembang pada abad ke-19 atau di kenal Era Romantik2. Pada era ini banyak karya yang sangat dikenal seperti karya Beethoven, Antonín Dvořák, dan Franz Schuber yang berangkat dari mitologi, puisi, legenda, cerita, lukisan, dan kisan-kisah dari peristiwa tertentu kedalam komposisi musik.
Musik programa merupakan komposisi musik yang diciptakan melalui imajinasi untuk menggambarkan suatu tokoh, suasana, ataupun karakter. dikarenakan bagian dari seluruh musik programa iyalah cerita3. Adapun seperti Salah satu komposer musik programa yang mengubah materi cerita rakyat ke dalam bentuk musik romantik abad ke-19 yaitu Antonín Dvořák yang sudah mendapatkan pengakuan dunia4. Antonín Dvořák memiliki karya berjudul Symphonic Poems (Mackerras) yang mana komposisi musik programa tersebut berdasarkan puisi cerita rakyat karangan Karel Jaromir Erben
1 John Redfield, musik: Science and Art (New York: tudor publishing. Co. 1928)
2 Kamien. Music: an Appreciation (New York: McGraw-Hill international Higer Education, 2008)
3 Dr. Rhoderick J Mcneill. Sejarah Musik (Jakarta: PT.TBK Gunung Mulia, 2000)
4 De Delphi pages. biografi, musik, dan fakta Antonin Dvorak
3
yang menggambarkan tokoh atau suasana dalam versi keindahan yang luar biasa dan literal yang sangat menyenangkan.
Sama halnya Pada komposisi musik yang berjudul “Legenda Satisa” ini menggunakan konsep programatik sebagai unsur ekstra-musikal yang berangkat dari cerita tentang kisah seorang wanita yang bernama Satisa. Secara keseluruhan bentuk prosa – narasi (unsur – programatik) yang dibangun dalam karya ini disusun secara sistematis terhadap rangkaian setiap cerita dan peristiwa dibalik sosok wanita yang bernama Satisa.
Satisa merupakan sosok wanita yang mengisahkan awal mula terciptanya tari kain kromong. Jika dipandang dari sisi mitologi (cerita sejarah), sebagian besar masyarakat setempat menyakini bahwasanya sosok wanita yang bernama Satisa berasal dari mahluk ghaib memiliki kehidupan di dua alam berbeda yaitu Tirau Gurah. Tirau gurah merupakan makhluk yang di tangkap oleh masyarakat karena seringkali muncul dan membuat masyarakat terganggu pada saat menambang kayu di hutan. Setelah makhluk tersebut di dapatkan oleh masyarakat, ternyata sosok mahluk yang seringkali muncul di hutan adalah seorang wanita yang memiliki paras wajah yang cantik.
Sehingganya makhluk tersebut tidak bisa kembali lagi ke alam ghaibnya dan hidup di tengah masyarakat seperti layaknya seperti manusia seperti biasanya. Semenjak kejadian itu masyarakat setempatpun memberikan nama pada wanita tersebut dengan nama Satisa. 5
Dalam kehidupan di tengah masyarakat Satisa mengisi waktu kesehariannya dengan membuat kain tenunan yang ia buat sendiri, sehingga setelah sekian lama Satisa menenun, hingga berhasil menyelesaikan kain tenunannya. Satisa mengungkapan
5 Wawancara, Sri Sudewi (Jambi, 2 November 2021)
4
ekspresi kebahagiaan dengan melakukan gerakan tarian menggunakan kain hasil tenunan tersebut. Secara bersamaan, ketika Satisa melakukan gerakan tari sambil memegang kain tersebut, ada seseorang wanita melihat Satisa sedang asyik menari-nari dengan kain tenunannya, kemudian wanita tersebut dengan mudah untuk mengingat gerakan tari kain oleh Satisa dan menirukannya secara langsung. Setelah kejadian itu, seseorang wanita yang melihat gerakan tarian oleh satisa memberitahu dan melatih gerakan tersebut kepada masyarakat, sehingga tarian itu masih dilakukan sampai saat ini dan menjadi tarian tradisional yang di namakan “tari kain kromong”. 6
Berdasarkan cerita dari legenda Satisa tersebut, sehingga tari kain kromong mengalami perkembangan dalam menggunakan beberapa aspek penggunaan instrument atau alat musik yang menjadi musik pengiring tari kain kromong yaitu Kromong, Gendang dua sisi (Gendang Panjang) dan Gung.
Alat musik kromong merupakan jenis alat musik Idiophone (menghasilkan bunyi dari getaran alat itu sendiri) dimainkan dengan cara dipukul (stik dari kayu), menggunakan kedua tangan. kromong memiliki susunan nada sebanyak 5 buah (pentatonic) 2 oktaf, dengan jumlah 10 buah kromong yang disusun diatas rak kayu.
Dalam pelaksanaannya alat musik kromong sering digunakan pada beberapa acara seperti pernikahan dan acara formal yang dilakukan pemerintah seperti pelantikan jabatan tertentu dan penyambutan Kepala Daerah, serta musik kromong juga ditampilkan sebagai hiburan khususnya daerah Mandiangin Tuo. 7
6 Wawancara, Sri Sudewi (Jambi, 2 November 2021)
7 Amsurillah, Ilmu Pengetahuan Sejarah, Seni, Hukum Adat, dan Pakaian Adat Mandiangin (mandiangin:
1999), Hal.12.
5
Berdasarkan penjelasan diatas, kisah cerita oleh satisa yang melatarbelakangi dan menjadi unsur programatik pada komposisi yang akan dirancang dengan menggunakan struktur bentuk 2 bagian (2nd Movement) dalam formasi Orchestra.
1.2.2 Ide Garapan
Komposisi Musik Programa yang berjudul “Legenda Satisa” terinspirasi dari cerita dibalik terciptanya musik kromong. Dalam hal ini pengkarya mencoba untuk berimajinasi dengan merespon terhadap objek yang dijadikan sebagai sumber dalam berkarya.
Proses berpikir secara kreatif dituntut untuk mengiterpretasikan kembali unsur ekstra musikal dan unsur musikal yang kemudian akan diolah ke dalam penggarapan komposisi. Secara keseluruhan ide garapan pada komposisi ini mentranformasikan kembali cerita yang dijadikan sebagai ide ekstra musikal dan mengadopsi beberapa unsur-unsur musikal yang terdapat pada kesenian tradisional musik kromong yang akan dijadikan sebagai ide musikal dalam penggarapan komposisi.
Berdasarkan sumber-sumber yang telah didapatkan, pengkarya dapat mmbentuk kedalam bentuk musikal dari cerita asal terciptanya tari kain kromong hingga sampai pada saat ini kedalam bentuk musik 2 bagian(2nd Movement).
Secara aspek musikal, penggarapan komposisi ini akan mengadopsi beberapa unsur musikal yang terdapat pada kesenian tradisional musik kromong, seperti: melodi, ritme, harmoni (interval) dan susunan nada (scale). Selanjutnya pengkarya menggunakan beberapa teknik-teknik komposisi, seperti: teknik kontrapung, canon dan beberapa teknik pengolahan lainnya seperti augmentasi, diminusi, retrograde, imitasi dan interlocking (tumpang tindih). Dari keseluruhan penggunaan teknik diatas akan
6
dijadikan sebagai ide musikal untuk penggarapan komposisi musik yang berjudul
“Legenda Satisa” untuk Orkestra.
1.2.3 Dasar Penciptaan
Dasar penciptaan adalah gagasan atau landasan baik itu secara konseptual maupun konsep musikal yang akan menjadi dasar di dalam penciptaan karya musik.
Untuk mendasari proses penciptaan karya ini maka pengkarya memahami gagasan mengenai interpretasi, transformasi, dan imajinasi. Interpretasi menurut Ricoeur adalah proses berfikir teratur (meningkatkan pemahaman) dalam menemukan makna yang tersembunyi pada makna yang muncul dalam sebuah lipatan taraf.8 Secara umum menurut Pradyta Febriana Rudianto, tujuan interpretasi adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran, apresiasi terhadap suatu hal, mengkomunikasikan pesan terhadap suatu hal, memberi dampak perubahan, meningkatkan pengertian dan dukungan terhadap tujuan dan kebijaksanaan, dan upaya menimalisir ketidak sesuaian suatu makna. Dalam beberapa aspek dasar tersebut pengkarya akan mengkombinasikan pola fikir di dalam penciptaan karya musik “Legenda Satisa” ini.
Secara aspek musikal, pengkarya mencoba mengidentifikasi dan menganalisis kembali dari pola melodi kromong yang telah ditranskrip kedalam bentuk notasi balok.
Berikut ini hasil transkripsi full score pola melodi kromong.
8 Josef Bleicher, hermeneutika konterporer, terjemahan Ahmad norma permata (Yogyakarta:2003)
7
KROMONG
Gambar 1. 1 Transkripsi pola melodi “kromong”
8
Gambar 1. 2 Transkripsi pola melodi “kromong”
9
Setelah melakukan upaya pengidentifikasian terhadap pola melodi kromong, pengkarya menemukan beberapa unsur-unsur musikal lainnya seperti susunan nada (scale), figure, motif, dan interval. Berikut ini merupakan bentuk score dari unsur-unsur musikal tersebut.
1) Susunan nada (Scale)
Secara keseluruhan, susunan nada (scale) yang terdapat pada pola melodi kromong dapat ditentukan sebagai berikut;
Gambar 1. 3 Susunan nada (Scale) pola melodi musik “Kromong”
2) Interval
Berdasarkan hasil analisis dan identifikasi terhadap pola melodi Kromong terdapat beberapa jenis interval yang digunakan pada musik kromong secara keseluruhan. Adapun jenis-jenis interval tersebut dapat dilihat pada lampiran dibawah ini.
10 a. Interval melodi (Horizontal)
Beberapa jenis interval yang terbentuk secara horizontal pada pola melodi kromong diidentifikasi berdasarkan dari satu nada ke nada yang lainnya yang dibunyikan secara bergantian. Berikut ini jenis-jenis interval melodi yang digunakan pada musik kromong.
Gambar 1. 4 Interval melodi (horizontal) musik “Kromong”
Setiap jenis karakter interval melodi yang digunakan pada musik kromong dapat dilihat keterangan pada tabel dibawah ini.
No Nama Interval Simbol
1 Prime P 1
2
Second
Mayor M 2
Minor m 2
3 Terst Mayor M 3
4 Kwart Murni P 4
5 Sext Minor m 6
6 Septime Mayor M 7
Tabel 1. 1 Interval Melodi musik “Kromong”
11 b. Interval Harmoni (Vertikal)
Beberapa jenis interval yang terbentuk secara vertikal pada pola melodi kromong diidentifikasi berdasarkan dari satu nada ke nada yang lainnya yang dibunyikan secara bersamaan. Berikut ini jenis-jenis interval melodi yang digunakan pada musik kromong.
Gambar 1. 5 Interval harmoni (vertikal) musik “Kromong”
Setiap jenis karakter interval harmoni yang digunakan pada musik kromong dapat dilihat keterangan pada tabel dibawah ini.
No Nama Interval Simbol
1. Prime P1
2. Second minor m2
3. Terts minor m3
4. Kwart P4
5. Kwint P5
6. Oktaf P8
Tabel 1. 2 Interval Harmoni musik “Kromong”
12 3) Ritme
Secara aspek musikal, keseluruhan unsur-unsur yang terdapat pada pola melodi musik kromong yaitu dengan menggabungkan beberapa penekanan atas penggunaan kecepatan (tempo) yang berkisar antara 100 sampai 120 (Allegro).
Selanjutnya penggunaan nada dengan nilai ketukan yang paling banyak yaitu pada penggabungan notasi per-empat (1 ketuk), per-delapan (setengah ketukan), dan bentuk triol kecil (1 ketukan dengan 3 nada).
Unsur-unsur musikal yang digunakan pada musik kromong tersebut kemudian dimainkan dengan teknik shyncopation yaitu nada-nada yang terangkai sebagai pola melodi kromong tersebut pada umumnya jatuh pada ketukan (hitungan) lemah, sehingga irama yang terbentuk dari pola melodi kromong menjadikan ciri tersendiri bagi bentuk musikal yang dihadirkan dengan penggunaan shyncopation. Berikut ini merupakan bentuk shyncopation yang dimainkan pada musik kromong.
Gambar 1. 6 Syncopation musik “Kromong”
4) Figur
Beberapa bentuk figure yang terdapat pada pola melodi kromong yaitu terrangkai sebagai satu kesatuan dalam kelompok figure dengan teknik pengolahan repetisi, baik itu mengulang secara asli maupun dengan perubahan (modifikasi).
13
Adapun kelompok figure yang digunakan pada musik kromong dapat dilihat pada contoh score dibawah ini.
Gambar 1. 7 Kelompok Figure melodi “Kromong”
5) Motif
Berdasakan hasil analisis yang telah ditemukan pada musik kromong, pengkarya melakukan identifikasi terhadap pola melodi kromong tersebut. Secara keseluruhan, motif yang terbentuk secara tematis sebagai satu kesatuan, sehingga menjadikannya lebih besar lagi pada tingkat frase (kalimat musik). Dengan kata lain, satu bentuk motif yang terdapat pada musik kromong diulang kembali pada bagian-bagian selanjutnya, baik itu mengulang secara sama (keseluruhan) maupun mengulang dengan beberapa perubahan (modifikasi) pada tingkat interval atau perluasan tingkat register nada. Berikut ini merupakan bentuk motif yang digunakan pada musik kromong dapat dilihat pada contoh score dibawah ini.
Gambar 1. 8 Bentuk Motif musik “Kromong”
14 6) Frase
Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap analisis dari pola melodi kromong, secara keseluruhan bentuk frase yang digunakan termasuk kedalam kategori frase – irregular, yaitu beberapa pengulangan bentuk frase baik itu mengulang secara sama maupun mengulang dengan terjadi perubahan pada jumlah birama disetiap pengulangan frase tidak sama (asimetris). Bentuk lainnya dari temuan terhadap frase tersebut juga bisa ditentukan sebagai bentuk frase tunggal. Berikut ini beberapa contoh dari bentuk frase yang digunakan pada musik kromong dapat dilihat dibawah ini.
Gambar 1. 9 Frase Irreguler musik “Kromong”
15 7) Struktur Bentuk (Form)
Secara keseluruhan, struktur bentuk yang digunakan pada musik kromong kecendrungan dengan bentuk 1 bagian, pada karya komposisi musik legenda satisa di bentuk 2 bagian dan penggunaan lainnya pada beberapa unit struktur dari bentuk sisipan (auxliarry member) seperti bagian pembuka (introduction). Penggunaan dalam pengolahan bentuk musikal lainnya pun beragam, salah satunya yaitu repetisi (pengulangan) pada tingkat interval maupun perluasan nada (augmentation) dan penyempitan (diminution). Adapun bentuk struktur musik kromong dan komposisi musik legenda satisa dapat dilihat pada skema dibawah ini.
Gambar 1.10 Skema Struktur Bentuk (Form) musik “Kromong”
Gambar 1.11 Skema Struktur Bentuk (Form) musik “Legenda Satisa”
KROMONG 1st Movement
INTRODUCTION Pembuka
PERIODE - A - Frase - A - Frase - B - Frase - C
PERIODE - B - Frase - A - Frase - B - Frase - C
LEGENDA SATISA 2nd Movement
MOVEMENT 1rd -PERIODE A
MOVEMENT 2nd -PERIODE A -PERIODE B -PERIODE C
16 1.3 Tujuan Penciptaan
Adapun tujuan penciptaan karya yang berjudul Komposisi Musik Programa
“Legenda Satisa” adalah sebagai berikut:
1. Untuk menyatukan bentuk kelompok Orkestra dengan menggabungkan alat musik tradisional kromong Mandiangin.
2. Untuk menyadarkan kembali dalam mempertahankan budaya lokal, khususnya masyarakat Mandiagin.
3. Untuk menjadikan referensi penciptaan karya seni musik di wilayah kampus dan umum agar generasi berikutnya menciptakan karya yang lebih baik.
1.4 Manfaat Penciptaan
Adapun manfaat penciptaan karya yang berjudul “Legenda Satisa” Musik Programa menggunakan formasi kelompok orchestra ini sebagai berikut:
1. Memperkuat hubungan secara emosinal bagi masyarakat setempat, khususnya Daerah Mandiangin agar berupaya mempertahankan kesenian tradisional yang dimiliki seperti kromong akan tetap konsisten dalam menunjukan eksistensinya sehingga dapat di pelajari oleh generasi berikutnya sebagai warisan seni budaya.
2. Menambah wawasan dan sebagai referensi serta apresiasi terhadap bentuk komposisi musik programa yang bersumber dari cerita-cerita rakyat dengan menmggunakan metode musik konvensional.
17 1.5. Kajian Pustaka
1.5.1 Sumber Ilmiah
“Music Composition 1 & 2” Karangan Jonathan E. Peter. Pada buku ini menjelaskan tentang pemahaman dalam membuat komposisi musik seperti cara pengembangan motif, ritmik, melodi dan pemahaman teknik pengembangan misalnya tentang progresi harmoni. Dalam hal ini pengkarya menggunakan metode dalam pengembangan dan pengolahan dari berbagai macam bentuk dan struktur untuk mendapatkan karakteristik pada penciptaan karya musik yang berjudul Komposisi Musik Programa “Legenda Satisa” untuk Orkestra.
Twentieth Century Harmony” karangan Vincent Persichetti, buku ini menjelakan tentang berbagai pengembangan unsur-unsur dalam musik seperti, Interval, tekstur, Scale, harmoni dan chord. Dalam hal ini pengkarya menggunakan metode yang di dapat untuk menciptakan komposisi musik dalam bereksperimen dan menemukan gagasan tema pada penciptaa karya musik yang berjudul Komposisi Musik Programa
“Legenda Satisa” untuk Orkestra.
“Struktur and style: The Study And analysis of Musik From”. Karangan leon stein terjemahan Andre Indrawan yang berjudul “struktur dan gaya”. Buku ini menjelaskan tentang figur dan motif digunakan seperti Sequence, Contrary, Retrograde dan beberapa pengolahan lainnya. Dalam buku ini pengkarya menggunakan teori penerapan dalam menganalisa untuk menentukan struktur bentuk dan gaya pada penciptaa karya musik yang berjudul Komposisi Musik Programa “Legenda Satisa”
untuk Orkestra.
Ilmu Pengetahuan Sejarah, Seni, Hukum Adat dan Pakaian adat Mandiangin.
Karangan Amsurillah. Buku ini berisi tentang sejarah, kesenian, hukum adat, dan
18
pakaian adat Mandiangin. Pada buku ini pengkarya mendapatkan materi asal-usul sejarah lahirnya dan perjalanan kesenian tari kain kromong di mandiangin tuo.
1.5.2 Sumber Audio Visual
Symphonic Poems (Mackerras). Karya Antonín Dvořák berdurasi 1 jam 20 menit yang mengubah materi rakyat ke dalam bentuk musik romantik abad ke-19 berdasarkan puisi legenda rakyat karangan Karel Jaromir Erben yang menggambarkan tokoh atau suasana dalam versi keindahan yang luar biasa dan literal yang sangat menyenangkan. https://youtu.be/v7-WrLcjhbw (channel: Micha Weinst)
Lumina Karya Brunuh Ville berdurasi 8 menit. Karya hebat ini menarik perhatian pengkarya untuk meghadirkan suasana yang memiliki kesan emosional dan ketenangan atapun ketegangan pada penggarapan komposisi musik ini.
https://youtu.be/wcBosWg1UfA (channel: BrunuhVille)
Video dokumentasi riset terhadap pelaku kesenian kromong daerah Mandiangin yaitu Mang Sam. Dalam cuplikan video tersebut berisi memainkan alat musik kromong.
Video ini diambil pada tanggal 2 November 2021. Video dokumentasi ini sangat penting bagi pengkarya terutama karakter yang akan menjadi dasar komposisi musik yang diberi judul Legenda Satisa.
Video dokumentasi riset terhadap pelaku kesenian tari kain kromong dan anggota Sanggar Kajang Kain Kecamatan Mandiangin yaitu Yuk Dewi. Dalam cuplikan video tersebut berisi tentang sejarah tari kain kromong dan musik kromong hingga saat ini. Video ini diambil Pada tanggal 2 november 2021. Video dokumentasi ini sangat penting bagi pengkarya terutama karakter yang akan menjadi dasar komposisi musik yang berjudul Legenda Satisa