6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Hakikat Belajar 2.1.1. Pengertian Belajar
Menurut Slameto (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar menurut Slameto (2010:3-4) yaitu:
a. Perubahan terjadi secara sadar
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurangkurangnya ia merasakan telah terjadi suatu perubahan dalam dirinya.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
7
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.
Menurut Hamalik (2001:27-28) “ belajar “ Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar.
1) Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakukan. Dan belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan seterusnya. 2) Sejalan dengan perumusan diatas, ada pula tafisran lain tentang belajar
yang menyatakan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahaan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Didalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman-pengalam belajar.
Menurut Gagne (dalam Suprijono,2009:2-3), pengertian belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.
Belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggapnya properti sekolah. Kegiatan belajar selalu dikaitkan dengan tugas-tugas sekolah.
8
Sebagian besar masyarakat menganggap belajar disekolah adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan.
Belajar sebagai konsep mendapatkan pengetahuan dalam praktiknya banyak dianut guru bertindak sebagai pengajar yang berusaha memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan perserta didik giat mengumpulkan atau menerimanya. Proses belajar mengajar ini banyak didominasi aktivitas menghafal. Perserta didik sudah belajar jika mereka sudah hafal dengan hal-hal yang telah dipelajarinya. Perolehan pengetahuan maupun upaya salah satu bagian kecil dari kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
2.1.2. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2004:14) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan.
Sanjaya (2005:90) juga menjelaskan bahwa, belajar bukan hanya sebagai hasil, akan tetapi juga sebagai proses. Belajar mengembangkan dua sisi yang sama pentingnya yaitu sisi hasil dan proses. Oleh karena itu, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana proses penguasaan itu terjadi. Hal ini terutama diajukan untuk menentukan perubahan perilaku yang non kognitif.
Menurut Bloom (dalam Suprijono,2009:5-7) ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), menguraikan (analisys), mengorganisasikan (sintesis), dan penilaian (evaluation).
9 b. Ranah afektif
Berkenaan dengan sikap (receiving), memberikan respon (responding) dan nilai (valuing). Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuanya itu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan dan mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan mengajar atau belajar ”Dimyati dan Moedjiono (1992:40). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat yang diperoleh oleh setiap siswa setelah proses belajar.
Menurut Gagne (dalam Suprijono,2009:5-6), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan, dan hasil belajar tersebut berupa :
1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan mresepon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
10
2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dalam lambang. Kemampuan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kongnitif bersifat khas.
3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitif sendirinya.
4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menggelola objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.dan sikap berupa kemampuan menginternalisasi nilai-nilai.
2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto (2010:54-62), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada pada diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.
Didalam membicarakan faktor intern ini, akan dibahas menjadi tiga faktor, yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. 1. Faktor Jasmaniah
a) Faktor Kesehatan; sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagaiannya/bebas dari penyakit.Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Dan proses belajar seseorang akan terganggu.Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah.
b) Cacat Tubuh; cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Dan cacat itu berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan patah
11
lenggan, lumpuh dan lain-lain. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. 2. Faktor Psikologi
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergaolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah: inteligasi,perhatian, minat, bakat,motif, kematangan dan kelelahan. 3. Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah, lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani adalah dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Sedangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokan menjadi tiga faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
1. Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi kelurga.
2. Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode belajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dengan tugas rumah. 3. Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat.
12 2.2 Hakikat IPA SD
Menurut Samatowa (2010:2), IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah.Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berfikir ilmiah.Fokus program pengajaran IPA di SD hendaknya ditunjukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
Untuk mencapai tujuan dan memenuhi pendidikan IPA itu, pendekatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPA antara lain ialah:
a. Pendekatan lingkungan,
b. Pendekatan keterampilan proses, c. Pendekatan inquiry (penyelidikan), dan d. Pendekatan terpadu (terutama di SD).
Menurut Piaget (Samatowa, 2010:5) pembelajaran IPA Sekolah Dasar bahwa pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kongnitif anak. Pengalaman langsung anak yang terjadi secara spontan dari kecil (sejak lahir) sampai berumur 12 tahun. Efesiensi pengalaman langsung pada anak tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek yang dengan tingkat perkembangan kongnitif anak. Anak akan siap untuk mengembangkan konsep tertentu hanya bila ia telah memiliki struktur kongnitif (skemata) yang menjadi prsyaratannya yakni perkembangan kongnitif yang bersifat hirarkhis dan integratif.
2.2.1. Pengertian Pembelajaran IPA
Ilmu pengethuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, science artinya ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science
13
itu pengertiannya dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi dialam.
IPA membahasa tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini dikemukakan oleh Powler ( dalam Samatowa,2010:3) bahwa IPA merupakan ilmu yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen/ sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umum artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.
Menurut Trianto (2010:136), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan atau Sains yang semula berasal dari bahasa inggris ‘science’. Kata ‘science’ itu sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Latin ‘scientia’ yang berarti saya tahu.‘Science’ terdiri dari social science (ilmu pengetahuan social) dan natural science (ilmu pengetahuan alam).
Menurut Slameto dkk (2010:1), IPA merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang fenomena-fenomena alam yang disusun melalui tahapan-tahapan metode ilmiah yang bersifat khas-khusus, penarikan kesimpulan, dan seterusnya. Fenomena-fenomena alam yang diungkap biasanya dapat dirumuskan dalam besaran-besaran fisika.
Menurut Sulistyorini (2007:13-20), menuliskan bahwa mata pelajaran IPA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
14
2) Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling memengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4) Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7) Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Karakteristik kajian Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya.
Proses pembelajaran IPA selain mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa juga penemuan sesuatu yang bermakna. Pembelajaran IPA lebih menekankan eksperimen dan pengamatan untuk menemukan hal-hal yang baru bagi siswa. Kegiatan tersebut akan menunjang siswa untuk aktif dalam pembelajaran, karena siswa terlibat penuh dalam proses pembelajaran. IPA merupakan Ilmu Pengetahuan yang sangat memungkinkan untuk melakukan eksperimen dan pengamatan, serta dalam proses pembelajaran juga mudah dilakukan variasi-variasi yang menarik bagi siswa supaya perhatian siswa terfokus dalam pembelajaran.
2.2.2.Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Tujuan pembelajaran IPA di SD menurut Kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006:1) secara terperinci adalah:
15
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaann-Nya, 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat,
4. Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan,
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan
6. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan ketrampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP atau MTs.
2.2.3. Pembelajaran IPA di SD
Ilmu Pengetahuan Alam di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA di SD bertujuan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
Setiap guru harus paham akan alasan mengapa IPA diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasukkan kedalam kurikulum suatu sekolah. Alasan mengapa IPA diajarkan di SD menurut Samatowa (2010:5) adalah:
1. Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa. Kesejahteraan materiil suatu bangsa banyak sekali bergantung pada kemampuan bangsa dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi. Sedangkan teknologi sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Suatu teknologi
16
tidak akan berkembang pesat bila tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah IPA.
2. Bila diajarkan menurut cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan untuk berfikir kritis. Misalnya IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Dengan metode ini anak dihadapkan pada suatu masalah. Anak diminta untuk menyelidiki masalah tersebut. Dari berbagai saran dikemukakan anak mereka dituntun merancang percobaan. Akibatnya anak mengamati percobaan sampai memperoleh suatu kesimpulan.
3. Pelajaran IPA modern lebih mementingkan kemampuan berfikir dari pada menghafal. Disamping itu dipentingkan juga kemampuan mengadakan pengamatan secara teliti, menggunakan prinsip memecahkan percobaan sederhana, menyusun data, mengemukakan dugaan dan lain-lainnya.
4. Mata pelajaran ini memiliki nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyau potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting. Samatowa (2010:5), Ilmu Pengetahuan Alam untuk anak-anak didefinisikan oleh Plato dan Marten yang terdapat dalam Carin (1993:5) yaitu: (1) mengamati apa yang terjadi, (2) mencoba memahami apa yang diamati, (3) mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang akan terjadi, (4) Menguji ramalan-ramalan dibawah kondisi untuk melihat apakah ramalan tersebut benar.
2.3 Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Stahl (dalam Isjoni,2009:35-36) mengemukakan, melalui model pembelajaran kooperatif siswa dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berfikir dan menentukan serta berbuat dan berpartisipasi sosial. Selanjutnya menurut Zaltman et.al (dalam Isjoni,2009:36) mengemukakan pula, siswa yang sama-sama bekerja dalam
17
kelompok akan menimbulkan persahabatan yang akrab, yang terbentuk dikalangan siswa, ternyata sangat berpengaruh pada tingkah laku atau kegiatan masing-masing secara individual.
Selanjutnya Jarolimek dan Parker (dalam Isjoni,2009:36-38) mengatakan keunggulan yang diperoleh dalam pembelajaran ini adalah; 1) Saling ketergantungan yang positif,
2) Adanya pengakuan dalam merespon individu,
3) Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, 4) Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan,
5) Terjalin hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru, 6) Dan memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman
emosi yang menyenangkan.
Sedangkan kelemahan model pembelajaran kooperatif bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern. Faktor dari dalam yaitu:
1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu,
2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai,
3) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung,ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan,
4) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
Mengacu pada pendapat tersebut maka dengan pembelajaran kooperatif, para siswa dapat membuat kemajuan besar ke arah pengembangan sikap, nilai, dan tingkah laku yang memungkinkan mereka dapat berpartisipasi dalam komunitas mereka dengan cara-cara yang sesuai dengan tujuan pendidikan sejarah, karena tujuan utama pembelajaran kooperatif, adalah untuk memperoleh pengetahuan dari sesama temannya. Jadi, tidak lagi pengetahuan dari gurunya, dengan belajar kelompok seorang
18
teman haruslah memberikan kesempatan kepada teman yang lain untuk mengemukakan pendapatnya dengan cara menghargai pendapat orang lain, saling mengoreksi kesalahan, dan saling membetulkan satu dengan yang lainnya.
2.4 Model Pembelajaran Picture And Picture
Menurut Agus Suprijono (dalam Miftahul Huda,2009: 236) model picture and picture adalah metode belajar yang menggunakan gambar dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis. Dalam hal ini guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, menyampaikan materi sebagai pengantar.
Picture and picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Dimana gambar yang diberikan pada siswa harus dipasangkan atau diurutkan secara logis. Gambar-gambar ini menjadi perangkat utama dalam proses pembelajaran. Untuk itulah, sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk certa berukuran besar. Dan gambar-gambar tersebut dapat juga ditampilkan melalui bantuan power point atau software – software lain.
Menurut Fathurrahman (dalam Trianto:2010) model secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, model diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam kaitannya dengan pembelajaran, model di definisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajaran pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan .Dengan demikian salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga pencapaian pengajaran diperoleh secara optimal.
Menurut Siti Fatimah (2008) model pembelajaran picture and picture adalah model pembelajaran yang dilakukan pendidik dengan cara
19
memberdayakan potensi gambar-gambar yang berkorelasi dan berkaitan dengan materi/kompetensi yang ingin dicapai. Dengan penerapan model pembelajaran picture and picture siswa dapat memperdalam konsep secara leluasa, terkondisi untuk mengembangkan daya nalarnya, dan memperkaya penglamannya di sekolah.Dengan picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan (Sahrudin dan Iriani,2010: 2).
Model pembelajaran picture and picture mengupayakan siswa belajar secara aktif, berangkat dari pengalaman siswa, mengajak siswa berpikir kritis, dan merupakan pembelajaran kontekstual.
Model ini dapat melatih siswa untuk berani menerima tugas yang diberikan guru dengan maju kedepan untuk memasangkan gambar melatih siswa untuk mendengarkan tugas yang diberikan oleh guru secara lisan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya proses pembentukan tanah dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif serta menciptakan kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah. Model ini juga merupakan model pembelajaran yang mengetumakan keberanian siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.4.1 Ciri -Ciri Model Picture And Picture
1. Untuk menuntaskan materi belajarnya siswa harus memperhatikan penjelasan guru melalui gambar.
2. Masing- masing siswa diberi tugas untuk memasangkan gambar dengan peryataan yang ada.
3. Jika dalam kelas terdapat siswa yang tidak berani untuk memasangkan gambar maka guru harus memberikan motivasi secara langsung saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
4. Melatih siswa untuk melaksanakan tugas dari guru secara lisan. 5. Melatih siswa untuk berpikir logis dan sistematis.
20 2.4.2 Prinsip Dasar Picture And Picture
Prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
2.4.3 Langkah-Langkah Model Picture and Picture
Menurut Miftahul Huda (dalam Suprijono, 2009:236-238) adapun langkah-langkah dari pelaksanaan picture and picture ini adalah sebagai berikut :
a. Penyajian materi; pada tahap ini guru diharapkan menyampaikan kompetensi dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian, siswa dapat mengukur sampai sejauh mana kompetensi yang harus mereka kuasai. Dan disamping itu juga guru menyampaikan indikator-indikator pencapaian kompetensi tersebut untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam mencapainya.
b. Presentasi materi; pada tahap penyajian materi, guru telah menciptakan momentum awal pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Pada tahap inilah guru harus berhasil memberi motivasi pada beberapa siswa yang kemungkinan masih belum siap.
21
c. Penyajian gambar; pada tahap ini, guru menyajiakan gambar dan mengajak siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan dengan gambar, pengajaran akan hemat energi, dan siswa juga akan lebih mudah memahami materi yang akan diajarkan. Dalam perkembangan selanjutnya, guru dapat memodifikasi gambar atau menggantinya dengan video atau demontrasi kegiatan tertentu.
d. Pemasangan gambar; pada tahap ini, guru menujuk / memanggil siswa secara bergantian untuk memasangkan gambar-gambar secara berurutan dan logis. Guru juga bisa melakukan inovasi, karena penujukan secara langsung kadang kurang efektif sebab siswa cenderung merasa tertekan. Salah satu caranya adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus benar-benar siap untuk menjalankan tugas yang diberikan.
e. Penjajakan; pada tahap penjajakan ini mengharuskan guru untuk menanyakan kepada siswa tentang alasan / dasar pemikiran dibalik urutan gambar yang disusunnya.
f. Penyajian kompetensi; berdasarkan komentar atau penjelasan atas urutan gambar-gambar, guru bisa memulai menjelaskan lebih lanjut sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
g. Penutu; diakhir pembelajaran, guru dan siswa saling berefleksi mengenai apa yang telah dicapai dan dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat materi dan kompetensi dalam ingatan siswa.
2.4.4 Penerapan Pembelajaran Picture And Picture dalam PBM IPA Berdasarkan Standar Proses Standar Proses Pendidikan
Dapat diartikan sebagai suatu bentuk teknis yang merupakan acuan atau kriteria yang dibuat secara terencana atau didesain dalam pelaksanaan pembelajaran (UU No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah). Masih mengacu pada UU tersebut (UU No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar
22
dan Menengah), hal-hal yang diatur dalam standar proses terdiri dari perencanaan proses pembelajaran yang meliputi menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompentensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran materi pembelajaran, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan sumber belajar; pelaksanaan proses pembelajaran dimana hal-hal yang harus diperhatikan antara lain rombongan (peserta) belajar maksimal, beban kerja minimal guru, buku pelajaran, dan pengelolaan kelas; penilaian hasil pembelajaran tujuannya digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, digunakan untuk menyusun laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik dan terprogram dengan menggunakan tes dalam bentuk tes tertulis maupun tes lisan, Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran; serta pengawasan proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara pemantauan, supervisi, evaluasi dan pelaporan.
Berdasarkan pada hal yang telah dipaparkan, maka dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Picture And Picture pada mata pelajaran IPA pada siswa SD kelas 5, tandar kompentensi dan kompentensi dasar (SK/KD), adalah SK/KD mata pelajaran IPA kelas 5 pada semester II pada materi proses pembentukan tanah karena pelapukan, indikator pencapaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan penilaian yang dilakukan, serta bentuk penilaian yang dilakukan antara lain dijabarkan dalam RPP berkarakter berdasarkan berdasarkan kerangka berfikir model pembelajaran Picture And Picture.
23
2.4.5 Kelebihan dan Kekurangan Model Picture and Picture
Menurut Miftahul Huda dalam Suprijono, (2009:239) model pembelajaran ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Adapun kelebihan dari model pembelajaran picture and picture ini adalah :
a. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. b. Siswa dilatih berfikir logis dan sistematis
c. Siswa dibantu belajar berfikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam pratik berfikir. d. Motivasi siswa untuk belajar semakin dikembangkan
e. Dan siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolan kelas.
Sedangkan kekurangannya Menurut Miftahul Huda (dalam Suprijono, 2009:239) dari model pembelajaran ini adalah :
a. Memakan banyak waktu
b. Membuat sebagian siswa pasif .
c. Munculnya kekhawatiran akan terjadinya kekacauan dikelas.
d. Adanya beberapa siswa tertentu yang terkadang tidak senang jika disuruh bekerja sama dengan yang lain,
e. Kebutuhan akan dukungan fasilitas alat, dan biaya yang cukup memadai.
2.5 Kajian Yang Relevan
Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebagai berikut :
Wantoyib. 2012, “Penerapan Model Pembelajaran Picture and picture Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlak Pada Siswa Kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Bandar II Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2011/ 2012 ”. Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak dengan model pembelajaran picture and picture. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan sebanyak dua siklus yang masing- masing siklus terdiri dari empat tahapan. Dari hasil analisis
24
didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari kondisi awal, siklus I, serta siklus II yaitu kondisi awal dengan rata- rata 69 dan jumlah siswa yang tuntas 63 %, siklus I rata- rata 73 dan jumlah siswa yang tuntas 89 %, sedangkan siklus II rata- rata 80 dan jumlah siswa yang tuntas 100 %. Pengolahan data pada penelitian memakai statistik deskriptif sederhana. Dalam pelaksanaan analisis kegiatan utamanya adalah mengolah angka-angka (skor) menjadi nilai. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIM Bandar II semester I tahun pelajaran 2011/ 2012. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar kerja siswa, soal tes untuk siklus 1 dan 2 dan lembar pengamatan, sedangkan teknik analisa datanya menggunakan teknik deskriptif kuantitatif.
Penelitian oleh Dewi Diansari (2011) dengan judul “ Penerapan Model Kooperatif Tipe Picture And Picture untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Mangunsari 05” menyimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran Picture And Picture dapat meningkatkan pembelajran aktivitas dan hasil belajar siswa. Pada siklus I diperoleh rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 54,65 meningkat menjadi 75,8. Pada siklus II pembelajaran dengan menggunakan model Picture And Picture juga meningkat hasil belajar siswa. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata evaluasi siswa 69,1 meningkat menjadi 85,8 pada siklus II.
Mustika Arif Jayanti yang berjudul “Penerapan model pembelajaran picture and picture untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa” menunjukkan bahwa model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan ketuntasan belajar dan keaktifan siswa. Hasil observasi didapatkan telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari kondisi awal sebelum ada tindakan sebesar 61,71 % menjadi 91,18 % pada akhir tindakan.
Marlina, 2012 dalam penelitinnya “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Dengan Menerapkan Model Picture And Picture Pada Siswa Kelas IV”. Menyimpulkan bahwa penerapan metode picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar ilmu pemgetahuan
25
sosial pada siswa kelas IV. Berdasarkan hasil penelitian yang terbukti bahwa penggunaan media realia dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari beberapa penelitian di atas di ketahui bahwa penggunaan pendekatan picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa Namun demikian, berbeda dengan penelitian sebelumnya, pada penelitian ini mata pelajaran yang digunakan adalah IPA tentang Proses pembentukan tanah karena pelapukan. Penelitian ini dilakukan secara penelitian tindakan kelas (PTK) pada siswa kelas IV SDN Sidorejo Lor 05 Salatiga.
2.6 Kerangka Berfikir
Pada KKM diatas dikelas 5 SDN Mangunsari 05 dalam mengajarkan materi pokok bahasaan Proses Pembentukan Tanah guru menggunkakan model yang konvensional dan kurang melibatkan siswa sehingga hasil belajar IPA rendah.
Penelitian yang akan dilakukan dengan cara kolaborasi antara guru kelas,dan peneliti. Peneliti sebagai pemberi ide dan meminta bantuan guru kelas 5 sebagai obsever saat guru kelas melakukan KKM. Peneliti dilakukan dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture sehingga diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka dalam pelajaran IPA khususnya pokok bahasan proses Pembentukan tanah.Penerapan pembelajaran ini pada penelitian berdasarkan skema Kerangka Berfikir adapun skema itu adalah sebagai berikut:
26 2.7 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian pada kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Mangunsari 05, Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.
Pembelajaran IPA menggunkakan model pembelajaran picture and picture
Tindakan
Menggunakan model Picture And Picture pada kegiatan inti.
Kondisi Akhir
Siklus I menggunakan model Picture And Picture
(pemebelajaran) pada pembelajaran awal.
Diduga penggunaan Model Picture And Picture dapat meninggatkan hasil belajar siswa kelas 5 Pada SD Negeri Mangunsari 05 pada mata pelajaran IPA materi proses pembentukan tanah.
Kondisi awal Strategi pembelajaran yang konvensional.
Hasil belajar pada pokok bahasan IPA pada proses pembentukan tanah.