Bahasa Jawa dan Pengajaran Bahasa
oleh Dwi Puspitorini1
1. PENGANTAR
Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah dengan jumlah penutur yang paling banyak. Menurut catatan, jumlah penutur bahasa 80 juta orang, kira-kira 40% dari jumlah penduduk Indonesia (Oglobin, 2005). Namun demikian, sebagaimana bahasa daerah lainnya bahasa Jawa (BJ) menghadapi penurunan pemakaian, terutama di kalangan muda. Mereka memilih untuk tidak menggunakan BJ dengan alasan kepraktisan. Selain itu, maraknya penggunaan bahasa gaul yang dianggap lebih ”modern” membuat BJ semakin terpinggirkan, bahkan di lingkungan masyarakat Jawa sendiri.
Penurunan pemakaian bahasa daerah juga dipicu oleh adanya anggapan negatif masyarakat terhadap bahasa daerah. Louise Baird menyebutkan sejumlah anggapan negatif masyarakat terhadap bahasa daerah yaitu (1) bahasa daerah adalah sesuatu yang kuno, berasal dari masa lampau; (2) bahasa daerah tidak berguna di luar daerahnya; (3) bahasa daerah merupakan bahasa orang miskin dan tidak berpendidikan; (4) bahasa daerah menghalangi proses belajar dan menjadi orang pintar; (5) bahasa daerah menghalangi kemajuan; (6) bahasa daerah lambang keterbelakangan; (7) bahasa daerah tidak bergengsi. 2
Derasnya pengaruh arus globalisasi di segala sektor kehidupan juga dianggap menjadi pemicu menurunnya pemakaian bahasa Jawa di masyarakat Jawa. Kalangan muda tidak bisa berbahasa Jawa krama lagi, padahal sebagian besar orang percaya bahwa pemakaian tingkat tutur BJ mencerminkan sopan santun dan budi pekerti. Pengajaran BJ
1Pengajar di Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia 2Louis Baird (http://www.let.leidenuniv.nl/aapp)
dengan seluk beluk tingkat tuturnya tentu dapat menjadi media untuk menamkan kembali budi pekerti di kalangan kaum muda.
Secara umum orang mengenal 2 tingkat tutur BJ yaitu ngoko dan krama. Ada silang pendapat tentang bagaimana mengatur keduanya di dalam pengajaran BJ. Ada yang berpendapat bahwa pengajaran BJ ngoko harus diberikan terlebih dahulu, disusul oleh pengajaran BJ krama. Pendapat ini biasanya didasarkan pada anggapan bahwa secara tata bahasa, BJ ngoko dianggap sebagai dasar. Anggapan semacam ini biasanya dianut oleh mereka yang terbiasa dengan pengajaran bahasa dengan pendekatan struktural.
Pendapat lain mengatakan bahwa BJ krama selayaknya diajarkan terlebih dahulu. Pendapat ini didasarkan pada anggapan bahwa siapa pun yang bertutur dengan bahasa apa pun, apabila ia yang memulai, harus menunjukkan ketakziman kepada yang diajak bertutur atau terhadap yang dibicarakan agar tujuan komunikasi tercapai. Di dalam BJ, ketakziman ditunjukkan antara lain dengan penguasaan ragam krama. (Kridalaksana dkk, 2001).
Kedua pandangan di atas sama-sama memperlakukan tingkat tutur BJ sebagai sesuatu yang dapat dipotong-potong atau dapat dipisah-pisahkan. Tulisan ini akan memberikan gambaran bagaimana pengajaran BJ tidak dapat dilakukan dengan melihat tingkat tutur secara terkotak-kotak seperti itu. Secara sederhana dapat dicontohkan di sini bahwa satu kalimat bahasa Indonesia, misalnya Kapan datang?, memiliki lebih dari satu kemungkinan terjemahan BJ.
(1) Kowe tekane kapan?
(2) Sampeyan dugine kala napa?
(3) Panjenengan rawuhipun kala punapa?
Ketiga tuturan tersebut sebaiknya diberikan secara bersamaan karena yang membedakan ketiganya adalah kaidah pragmatiknya yaitu bagaimana hubungan pembicara (O1) dengan lawan bicaranya (O2), dan dengan subyek yang dibicarakan (O3).3 Jika berbicara dengan
3
teman sebaya yang akrab, yang dipilih adalah tuturan (1). Tuturan (2) dipilih jika yang dihadapi adalah orang yang lebih tua tetapi status sosialnya lebih rendah. Dengan orang yang lebih tua dan dihormati, yang digunakan adalah tuturan (3).
Penjelasan dan contoh tersebut menunjukkan bahwa pengajaran BJ tidak bisa dilakukan dengan memisah-misahkan tingkat tutur. Bahasa Jawa, sebagaimana halnya bahasa daerah lain di Nusantara, memang sangat kaya dengan hal-hal yang berkenaan dengan pragmatik (Kaswanti Purwo, 1990). Oleh karena variasi tingkat tutur berkaitan erat dengan kaidah pragmatik, pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatiklah yang dianggap paling sesuai untuk mengajarkan BJ.
2. PENGAJARAN BAHASA
Pengajaran bahasa Jawa tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengajaran bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Untuk masyarakat Indonesia yang beretnis Jawa, BJ bisa merupakan bahasa ibu, bahasa kedua, bahkan bahasa asing. Untuk masyarakat Indonesia non-Jawa, sudah tentu BJ merupakan bahasa asing. Kenyataan tersebut dihadapi oleh pengajaran BJ baik di tingkat SD-SMA di Jawa-Tengah, Jawa-Timur, Yogyakarta, maupun di perguruan tinggi di Universitas Indonesia. Dua tabel profil mahasiswa PS Jawa FIB UI angkatan 2005-2007 di bawah ini bisa memberikan gambaran mengenai hal tersebut.
TABEL 1. Asal suku bangsa orang tua
0 10 20 30 40 50 Jaw a Cam puran NonJaw a
TABEL 2. Bahasa yang digunakan di rumah
Dengan melihat perkembangan pendekatan pengajaran asing dari masa ke masa, kita dapat mempertentangkan antara pengajaran bahasa dengan pendekatan struktural dan pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik atau komunikatif. Berikut di bawah ini adalah penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut sebagaimana diuraikan oleh Kaswanti Purwo (1990).
Dalam pendekatan struktural, bahasa dianggap memiliki struktur yang tertata rapi, dan terdiri dari komponen-komponen bahasa, yaitu komponen bunyi bahasa, kosakata, tata bahasa. Komponen-komponen itu tersusun secara berjenjang menurut suatu struktur tertentu. Bentuk-bentuk bahasa menjadi sorotan utama dalam pendekatan struktural. Bahan ajar yang disusun dengan pendekatan struktural biasanya dijabarkan dalam daftar butir-butir tata bahasa dan butir-butir leksikal. Pengurutan bahan ajar didasarkan atas pertimbangan kosakata (frekuensi pemakaian dan kemunculannya) dan tata bahasa (sederhana-sulit, produktif-kurang produktif). Tidak ada penjelasan bagaimana penggunaan bahasa di dalam konteks yang sesungguhnya.
Dengan pendekatan strutural, belajar bahasa adalah kegiatan mengenali bentuk-bentuk bahasa beserta strukturnya. Pendekatan ini mementingkan ”kebenaran” kalimat ditinjau dari tata bahasa dan pilihan katanya. Dengan pendekatan ini bisa dikatakan bahwa belajar bahasa adalah kegiatan belajar pengetahuan bahasa dan bukan kegiatan belajar berbahasa. Pembelajar akan menguasai banyak
0 10 20 30 40 50 60 Jaw a Indonesia BD lain
pengetahuan tentang bahasa tetapi kurang dapat mengaitkan pengetahuan bahasanya dengan pemakaiannya. Mereka sangat fasih dalam mengenali bentuk bahasa tertentu, misalnya akhiran –a dan –en di dalam BJ adalah pembentuk verba imperatif. Mereka juga hafal luar kepala nama-nama yang diberikan kepada satu bentuk bahasa tertentu. Di dalam khazanah tata bahasa Jawa dikenal apa yang disebut rimbaging tembung. Pendekatan struktural akan menghasilkan pembelajar yang fasih menyebutkan segala jenis rimbaging tembung. Namun demikian, mereka akan kesulitan untuk menerapkan pengetahuannya tersebut di dalam percakapan sehari-hari.
Sebaliknya, dalam pendekatan pragmatik bahasa dikaitkan dengan pemakaiannya, yang melibatkan baik unsur kebahasaan maupun unsur-unsur di luar bahasa yang terkait dengan penggunaan bahasa. Bahasa beserta konteksnya, yaitu penggunaannya dalam peristiwa komunikasi, menjadi sorotan utama dalam pengajaran bahasa dengan pendekatan ini. Sebuah kalimat akan ditelusuri penggunaannya di dalam komunikasi, kapan kalimat itu diujarkan, dalam situasi bagaimana kalimat itu diucapkan, serta siapa berbicara kepada siapa.
Pendekatan pragmatik di dalam pengajaran bahasa mementing-kan ”kecocomementing-kan” atau ”kesesuaian” (appropriateness) kalimat dengan tindak komunikasi tertentu (Kaswanti Purwo, 1990). Pembicara perlu mengetahui kalimat mana yang benar-benar cocok dengan konteks yang dihadapinya. Hal-hal semacam itulah yang diperhatikan di dalam pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik.
Di dalam bahasa Jawa, kalimat tanya kowe kok durung adus? dapat digunakan untuk menyuruh meskipun secara struktural berupa konstruksi interogatif. Kalimat yang beragam ngoko tersebut hanya cocok apabila diujarkan di antara dua orang yang sebaya dan akrab, atau diujarkan oleh orang tua kepada orang yang lebih muda. Kalimat tersebut tidak akan cocok apabila digunakan oleh orang muda kepada orang yang lebih tua.
Dengan demikian jelaslah bahwa memperlakukan bahasa secara pragmatik berarti memperlakukan setiap tuturan dengan mempertim-bangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi.
3. PENGAJARAN BAHASA JAWA DENGAN PENDEKATAN PRAGMATIK
Pemilihan pemakaian tingkat tutur atau unggah ungguhing basa/ undha usuking basa yang tepat mencerminkan sopan santun dan budi pekerti. Pemilihan tuturan didasarkan pada hubungan pembicara dengan lawan bicaranya dan hubungan orang yang berbicara dengan orang yang dibicarakan. Kesalahan dalam memilih tuturan mencerminkan ketidaksopanan orang yang berbicara. Oleh karena itu, penutur BJ akan sangat berhati-hati dalam memilih kata dan kalimat dalam bertutur.Rumit dan banyaknya variasi tingkat tutur di dalam bahasa Jawa berakibat pada lebih rumitnya mengajarkan BJ dibandingkan bahasa lain. Sebagaimana dijelaskan pada butir 2, pendekatan pengajaran BJ yang paling tepat adalah pendekatan pragmatik. Setiap butir pengajaran bahasa memiliki konteks tertentu. Pada tahap pengenalan kosakata dasar pun, misalnya angka, pengajaran BJ sudah berhadapan dengan variasi kosakata akibat tingkat tutur. Untuk mengenal kosakata angka 1 sampai 10, pembelajar harus mengingat 20 kosakata, 10 kosakata ngoko dan 10 kosakata krama.
siji loro telu papat lima
setunggal kalih tiga sekawan gangsal
enem pitu wolu sanga sepuluh
enem pitu wolu sanga sedasa
Variasi kosakata tersebut bukan sekedar daftar kata bersinonim. Orang yang belajar bahasa Jawa tidak sekedar diberi daftar tersebut untuk dihapalkan. Setiap kata memiliki konteks. Pemakaian kosakata
ngoko dan krama ditentukan dengan kaidah pragmatik yang cukup rumit. Mengajarkan kata siji, loro dst harus disertai konteks pemakaiannya.
NGOKO
Ponirah lagi omong-omongan karo Rahayu, kancane.
Ponirah : Mbakyune Beja kae pira ta? Rahayu : Loro.
Ponirah : O ... Beja anak nomer telu ta? Rahayu : Dudu. Dheweke anak nomer papat. Ponirah : Yagene?
Rahayu : Dheweke duwe kangmas siji.
Bahasa Jawa ngoko digunakan oleh dua orang yang sebaya atau dua orang yang hubungannya akrab. Percakapan di atas dilakukan oleh dua orang yang berteman akrab. Kosakata ngoko digunakan dalam percakapan tersebut.
Dua orang yang belum saling kenal sebelumnya dianggap memiliki hubungan yang tidak akrab. Biasanya penutur Jawa akan menggunakan BJ krama di dalam konteks yang seperti itu. Kosakata krama digunakan di dalam bahasa Jawa krama.
KRAMA
Wage lagi omong-omongan karo wong sing lungguh ing jejere ing bis.
Wage : Panjenengan gadhah putra pinten?
Beja : Anak kula gangsal. Kakung setunggal, estri sekawan. Wage : Ingkang mbarep sampun kelas pinten?
Beja : Samenika kelas tiga SMA.
Ada yang berpendapat bahwa tingkat tutur BJ sangat banyak jumlahnya sehingga sulit untuk dipelajari. Antunsuhono (1953) menyebutkan ada 3 tingkat tutur BJ dengan 12 variannya
Poedjosoedarmo dkk (1979) mengatakan ada 3 tingkat tutur yang dibagi menjadi 9 bentuk.
Berapa pun jumlah tingkat tutur yang ada di dalam BJ, pada dasarnya perbedaan antara satu tingkat tutur dengan tingkat tutur lainnya menyangkut 3 hal yaitu aspek leksikal, gramatikal, dan pragmatik. Sasangka (2004) menjelaskan bahwa secara leksikal ada 6 jenis leksikon yaitu ngoko, madya, krama, krama inggil, krama andhap dan kosakata yang netral; secara gramatikal ada 2 jenis tingkat tutur yaitu ngoko dan krama; secara pragmatik, pemilihan bentuk unggah-ungguh BJ didasarkan pada faktor situasi (resmi dan tidak resmi, formal atau tidak formal) dan faktor sosial, misalnya tingkat keakraban, kesamaan atau perbedaan status sosial peserta tutur yang menimbulkan hubungan simetris-asimetris, akrab-tidak akrab, dan campuran keduanya.
Berikut di bawah ini adalah jenis tingkat tutur beserta ciri-cirinya sebagaimana dirangkum dari Sasangka (2004).
Tingkat
Tutur Leksikal Aspek Gramatikal Aspek Pragmatik Aspek Contoh
NGOKO 1. Ngoko Lugu 2. Ngoko Alus berintikan leksikon Ngoko semua kosakatanya ngoko dan netral kosakata ngoko dan netral diselipi leksikon krama, krama inggil, krama andhap.
berintikan afiks
Ngoko (di-, -e – ake) dan klitik dak, ku, kok, -mu. sda sda Peserta tutur berstatus sosial sejajar (simetris, atau hubungannya akrab) sda Peserta tutur berstatus sosial sejajar (simetris, atau hubungannya akrab), tapi O1 menghormati O2, atau O1 dan O2 menghormati O3. Dhuwite mau wis diasta durung, Mas? Kae bapakmu gek maos ning kamar. KRAMA 1. Krama Lugu berintikan leksikon Krama Berintikan leksikon krama, madya, netral, dan diselipi leksikon krama andhap dan krama inggil. berintikan afiks Krama (dipun, -ipun –aken). sda Peserta tutur berstatus sosial lebih rendah daripada lawan bicara (asimetris) atau hubungannya tidak/belum akrab. Peserta tutur berstatus sosial asimetris, hubungannya akrab/ tidak akrab/belum akrab.
Sing dipilih Sigit niku jurusan jurnalistik utawi perhotelan? Penjenengan napa empun nate tindak teng Rembang?
2. Krama Alus Berintikan leksikon krama yang diselipi leksikon krama inggil dan krama andhap.
sda Peserta tutur berstatus sosial lebih rendah daripada lawan bicara (asimetris) atau hubungannya tidak/belum akrab. Kula rencangipun mbak Wida. Menawi saged, kula badhe pinanggih.
Berdasarkan penjelasan tentang tingkat tutur tersebut jelaslah bahwa adanya berbagai variasi tersebut terutama berkenaan tuturan lisan. Oleh karena itu, terutama di dalam pengajaran kemahiran berbicara dan mendengarkanlah kaidah pragmatik yang mengatur pemakaian tingkat tutur BJ difokuskan.
Pada pengajaran kemahiran berbicara dan mendengarkan biasanya pembelajar diberi bahan berupa dialog dengan tema yang bervariasi. Dialog-dialog tersebut merupakan sumber bahasa dan model percakapan dalam berbagai konteks.
Mengajarkan variasi tingkat tutur BJ akan membuat pembelajar terbiasa dengan penggunaan BJ secara wajar yang diatur berdasarkan kaidah pragmatik. Tidak perlu semua jenis unggah-ungguh BJ diajarkan. Menurut saya, tingkat tutur ngoko dan krama beserta variasi masing-masing yaitu ngoko lugu, ngoko alus dan krama lugu, krama alus saja yang diajarkan.
Pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik juga mementingkan pengajaran fungsi komunikatif tertentu. Pembicara memerlukan strategi komunikasi agar bisa memilih tuturan yang cocok dengan tindak komunikasi tertentu. Di dalam BJ, seringkali sebuah kalimat membawa satu atau lebih fungsi komunikatif tertentu. Sebaliknya, suatu fungsi komunikatif tertentu dapat disampaikan dengan berbagai cara. Untuk menyampaikan suruhan menutup pintu, misalnya, bisa digunakan kalimat perintah (4), kalimat tanya (5), kalimat pernyataan (6), atau bahkan kalimat larangan (7).
(4) Lawange tutupen!
(5) Apa lawange ora bisa ditutup? (6) Angine gedhe ya.
(7) Lawange aja dibukak!
Pendekatan fungsi komunikatif tersebut dirasa penting mengingat BJ kaya dengan cara pengungkapan yang tidak langsung. Hal ini erat kaitannya dengan kebudayaan Jawa. Untuk menyatakan penolakan, misalnya, orang Jawa cenderung menyampaikannya secara tidak langsung. Dengan pendekatan komunikatif, pembelajar BJ akan tahu tuturan mana yang paling sesuai untuk menyatakan penolakannya. Kepada tukang becak yang menawarkan jasanya secara memaksa, kita bisa mengatakan Nuwun sewu, boten!. Kata mboten secara tegas menyatakan makna ’tidak’. Akan tetapi, untuk menolak ajakan teman, penutur BJ mungkin akan mengatakan Nuwun sewu sesuk aku arep nyang Bogor. Jika yang mengajak adalah orang yang lebih tua dan dihormati, tuturan yang dipilih adalah Nyuwun pangapunten, mbenjing kula badhe dhateng Bogor.
Untuk mencapai kepentingan pragmatik diperlukan pengetahuan kebahasaan. Oleh sebab itu, sebenarnya pengajaran tata bahasa masih bisa mendapatkan tempat di dalam pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik. Namun demikian, pengajaran tata bahasa sebaiknya tidak berhenti pada aspek bentuk (form) saja, tetapi juga pemakaiannya (use). Dalam hal ini, yang terpenting adalah guru mengajarkan penggunaan bahasa (kompetensi komunikatif), tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan tata bahasa (kompetensi gramatikal). Yang selanjutnya harus dipikirkan adalah bagaimana mengajarkan tata bahasa, tidak sebagai bahan yang berupa sejumlah istilah tata bahasa yang menuntut hafalan semata-mata, melainkan sebagai suatu kegiatan berbahasa yang menantang berbuat aktif (Kaswanti Purwo, 1990).
Dalam hal mengajarkan tata bahasa di dalam pengajaran BJ dengan pendekatan pragmatik, ada dua hal yang harus dipikirkan. Pertama, pengajar harus tahu aspek gramatikal apa saja yang menentukan jenis tingkat tutur. Berdasarkan penjelasan di butir 2, kita tahu bahwa secara gramatikal tingkat tutur ngoko ditandai dengan
afiks di-, -e –ake dan klitik dak-, -ku, kok-, -mu, sedangkan tingkat tutur krama ditandai dengan afiks dipun-, -ipun –aken. Ini berarti butir tata bahasa lainnya bersifat netral.
Kedua, pengajar harus bisa memperlihatkan konteks pemakaian setiap butir tata bahasa yang sedang diajarkan. Kedua kontsruksi di bawah ini secara gramatikal bermakna sama.
(8) Ing sisih kiwane pasar ana wit ringin gedhe banget. (9) Wit ringin sing gedhe dhewe ana ing sisih kiwane pasar. Perbedaan konteks pemakaian kedua kalimat di atas harus diajarkan. Kalimat (8) diujarkan sebagai jawaban atas pertanyaan (8a), sedangkan kalimat (9) diujarkan sebagai jawaban atas pertanyaan (9a).
(8a) Ing sisih kiwane pasar ana apa?
(9a) Wit ringin sing gedhe dhewe ana ing sisih ngendi?
Mengajarkan kalimat imperatif, misalnya, jangan berhenti pada penjelasan bentuknya saja.
Pola 1: Verba Aus + -a Verba N- + -a Pola 2: Verba Dasar + -en
Konteks penggunaan kalimat imperatif juga harus disertakan. Contoh: Bapak : Pit montore durung kokgawa menyang bengkel?
Tomo : Dereng, Pak. Bapak : Gawanen saiki!
Ibu : Kowe durung nyapu latar? Tati : Dereng, Bu.
Kalimat imperatif sebagaimana contoh di atas hanya digunakan dalam ragam Ngoko (hubungan simetris, akrab). Oleh sebab itu, berikutnya, kegiatan berbahasa yang menantang pembelajar untuk berbuat aktif dapat dilakukan dengan menyuruh pembelajar menjelaskan cara membuat sesuatu kepada teman akrabnya, atau menjelaskan arah menuju suatu tempat kepada saudara dekatnya.
4. PENUTUP
Bahasa Jawa memang mengalami penurunan pemakaian, terutama di kalangan muda. Keadaan ini memang memprihatinkan, terutama jika dikaitkan dengan makin menurunnya pemakaian unggah-ungguh BJ. Sebagian besar orang berpendapat bahwa pemakaian tingkat tutur BJ mencerminkan sopan santun dan budi pekerti. Oleh sebab itu, pengajaran BJ harus menyertakan seluruh aspek yang menentukan variasi tingkat tuturnya.
Pada prinsipnya, perbedaan satu tingkat tutur dengan tingkat tutur lainnya ditentukan oleh aspek leksikal, aspek gramatikal, dan aspek pragmatik. Aspek leksikal dan aspek gramatikal sudah menempati prioritas di dalam pengajaran bahasa selama berpuluh-puluh tahun. Pendekatan pragmatik yang menitikberatkan konteks pemakaian suatu tuturan belum mendapat tempat yang cukup di dalam pengajaran BJ. Melihat kenyataan bahwa tingkat tutur BJ diatur oleh kaidah pragmatik yang cukup rumit, pengajaran BJ dengan pendekatan pragmatik dirasa paling sesuai. Variasi tingkat tutur yang diajarkan sebaiknya ngoko dan krama beserta variannya yaitu ngoko lugu, ngoko alus dan krama lugu, krama alus.
Daftar Pustaka
Antunsuhono
1953 Reringkesaning Paramasastra Djawa. Yogyakarta: Hien Hoo Sing
Kaswanti Purwo, Bambang.
1990 Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Menyibak Kurikulum 1984. Jakarta: Kanisius.
Oglobin, Alexander K.
2005 “Javanese” dalam Alexander Adeelaar dan Nikolaus P. Himmelmann (ed.) The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. Routledge Language Family Series.
Kridalaksana, Harimurti dkk.
2001 Wiwara Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Jakarta: Gramedia.
Poedjasoedarma, Soepama.
1979 Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu