BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia adalah mahluk Zoon Politicon artinya manusia

17 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya manusia adalah mahluk Zoon Politicon artinya manusia selalu bersama manusia lainnya dalam pergaulan hidup dan kemudian bermasyarakat. Hidup bersama dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang biasa bagi manusia dan hanya manusia yang memiliki kelainan saja yang ingin hidup mengasingkan diri dari orang lain. Salah satu bentuk hidup bersama yang terkecil adalah keluarga. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang terbentuk karena perkawinan. Kata perkawinan atau pernikahan bukan suatu kata yang asing karena sejak dahulu manusia sudah melakukan perkawinan.

Perkawinan merupakan salah satu dimensi kehidupan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang merupakan suatu ikatan yang sangat dalam dan kuat sebagai penghubung antara seorang pria dengan seorang wanita dalam membentuk suatu keluarga atau rumah tangga. Begitu pentingnya perkawinan, sehingga tidak mengherankan jika agama-agama, tradisi atau adat masyarakat dan juga institusi negara tidak ketinggalan mengatur perkawinan yang berlaku di kalangan masyarakatnya

Sebuah perkawinan bagi masyarakat adalah suatu pilihan hidup yang memang harus dijalani agar dapat melanjutkan keturunan dalam keluarganya. Untuk melaksanakan perkawinan sepasang pria dan wanita bukan sekedar bertemu lalu menikah, tetapi ada perjalanan sehingga sampailah kepada

(2)

kesepakatan mengikatkan hubungan mereka dalam perkawinan. Begitu banyak peristiwa perkawinan yang terjadi dimasyarakat sebagian besar didasari atas rasa saling mencintai.

Seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita kemudian menjalani masa pendekatan, memperkenalkan keluarga masing-masing dan merasa cocok karena memiliki tujuan hidup yang sama maka mereka menyatukan cintanya dalam sebuah ikatan perkawinan. Berjanji sehidup semati serta saling mencintai satu sama lain. Ada juga sepasang sejoli yang saling mencintai dan hubungan mereka tidak disetujui keluarga namun mereka tetap bersikukuh melaksanakan perkawinan tanpa persetujuan atas dasar saling mencintai. Namun ada juga sepasang insan yang dipertemukan oleh keluarga masing-masing tanpa perkenalan yang mendalam atau sering disebut perjodohan kemudian melakukan perkawinan.

Rasa saling mencintai bukan satu-satunya alasan sepasang sejoli melakukan perkawinan. Apalagi pada zaman sekarang dimana kebutuhan semakin tinggi dan biaya hidup yang mahal maka banyak juga pasangan yang melakukan perkawinan atas dasar ekonomi. Seperti seoranng wanita yang menikah dengan laki-laki yang lebih tua jauh dari umurnya dengan alasan dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dimasyarakat mengenai latar belakang terjadinya perkawinan yang terus berkembang dan sekarang sudah semakin cenderung mengarah pada materi. Baik adat maupun agama menjelaskan bahwa perkawinan merupakan suatu hal yang sakral dan berlangsung untuk selama-lamanya. Setiap agama yang berlaku di Indonesia menganggap bahwa

(3)

perkawinan itu pada dasarnya mempunyai makna penting, suci dan bertujuan untuk menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan kehidupan berkeluarga. Jadi perkawinan bukan soal main-main seperti membeli baju, kalau tidak cocok langsung diganti dengan yang baru, tetapi soal serius dalam mengejar kebaikan bagi keluarga, agama dan bangsa.

Mengenai perihal perkawinan negara Indonesia telah mempunyai undang-undang perkawinan nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan masyarakat tersebut.1 Adapun hukum perkawinan yang berlaku secara otentik dan menyeluruh di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan2yang selanjutnya disebut UUP.

Sesuai dengan rumusan yang tertuang di dalam UUP, maka dalam perkawinan berarti adanya ikatan lahir batin antara seorang suami dengan seorang isteri. Dalam agama Islam, perkawinan tidaklah semata-mata sebagai hubungan atau kontrak keperdataan biasa seperti yang tercantum dalam pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, akan tetapi ia mempunyai nilai ibadah yang bersifat sakral.

Sebagaimana diketahui bahwa perkawinan selalu dibayang-bayangi dengan kata perceraian dalam arti bahwa perkawinan tidah terlepas dari perceraian. Setiap pasangan suami isteri tentunya tidak menginginkan dan bahkan tidak merencanakan untuk melakukan perceraian. Saat prosesi pernikahan

1K.Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1976, hal 3 2Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Rineka Cipta, Jakarta, 2005, hal 6

(4)

dilangsungkan tak satu pasanganpun yang merencanakan perceraian. Bersatu sampai till dead do us part ‘hingga maut memisahkan’ adalah impian setiap pasangan. Bunga-bunga cinta diharapkan akan terus bersemi. Kenyataannya dalam perjalanan ujian dan cobaan badai kehidupan perkawinan menciptakan jurang perbedaan yang tidak terjembatani. Perbedaan yang semakin terlihat memperburuk keadaan sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.

Mengambil contoh yang sangat gamblang terlihat adalah kehidupan selebriti di Indonesia dimana tingginya angka perceraian memperlihatkan telah runtuhnya norma tabu dalam masyarakat. Contohnya Dewi Persik yang bercerai dengan Saiful Jamil dimana perceraian mereka disebabkan karena tidak ada kecocokan merupakan sebab yang sebenarnya kurang kuat untuk dapat diajukan sebagai alasan hancurnya rumah tangga, namun Pengadilan mengakui lewat putusan bahwa mereka resmi bercerai. Setelah bercerai Dewi Persik melangsungkan perkawinan dengan Aldi Taher tetapi kemudian bercerai lagi dalam keadaan usia perkawinan yang cukup singkat. Contoh ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak lagi memandang perceraian sebagai hal yang dapat memporak-porandakan citra dan harga dirinya. Sakralitas nilai lembaga keluarga perlahan luntur. Grafik melonjaknya angka perceraian seperti bukan lagi hal yang patut diresahkan. Bahkan berbagai media memasukkan perceraian dalam acara yang bertajuk infotainment. Pemberitaan hancurnya ikatan perkawinan bukan lagi menjadi berita yang menerbitkan keprihatinan, sebaliknya menjadi info ringan yang disebut hiburan.

(5)

Pemaparan Sekretaris Badilag Farid Ismail dalam Focus Group Discussion di Kantor Kedeputian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Wapres RI bahwa meningkatnya angka perceraian di Indonesia beberapa tahun terakhir memang merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Meski demikian, ditinjau dari segi sejarah, angka perceraian di negara ini sesungguhnya bersifat fluktuatif. Hal itu dapat dibaca dari hasil penelitian Mark Cammack, guru besar dari Southwestern School of Law-Los Angeles, USA. Berdasarkan temuan Mark Cammack, pada tahun 1950-an angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong yang paling tinggi di dunia. Pada dekade itu, dari 100 perkawinan, 50 di antaranya berakhir dengan perceraian. Tetapi pada tahun 1970-an hingga 1990-an, tingkat perceraian di Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara menurun drastis, padahal di belahan dunia lainnya justru meningkat. Angka perceraian di Indonesia meningkat kembali secara signifikan sejak tahun 2001 hingga 2009.3

Menurut data persentase Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama terhadap perkara yang diputus oleh Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia tahun 2009 menunjukkan bahwa perkara gugat cerai mencapai 57,89% dibanding dengan perkara cerai talak sebesar 28,76% dan 13,35% merupakan perkara lain.4

Data presentase ini menunjukkan adanya pergeseran bentuk perceraian yang sedang menjadi tren dimana isteri yang mengajukan gugatan cerai. Berbagai alasan mengemuka sebagai sebab perceraian diantaranya, domestic violence

3

Hermansyah, Melonjaknya Angka Perceraian Menjadi Sorotan Lagi,

http://www.badilag.net/index.php?option=com_content&task=view&id=5167&Itemid=1, diakses tanggal 19 Desember 2010 pukul 10.49

4 Hirpan Hilmi, Informasi Keperkaraan Peradilan Agama Tahun 2009, http://www.badilag.net/data/ditbinadpa/TABEL%20DATA%20PERSENTASE%20PERKARA%2 0CT%20CG%20PERK%20LAIN%20DIPUTUS%20TAHUN%202009.pdf, diakses tanggal 19 Desember 2010 pukul 11.17

(6)

(kekeransan dalam rumah tangga) yang dilakukan suami kepada pihak isteri baik secara fisik, ekonomi, maupun psikologis, adanya infidelity (perselingkuhan) oleh isteri yang angkanya naik drastis, cerai karena pilkada dan politik, kawin di bawah umur, bahkan kasus cacat karena kecelakaan sepeda motor juga menjadi salah satu dari banyak faktor terjadinya perceraian. Kemandirian finansial isteri sepertinya tidak bisa dipungkiri sebagai faktor utama kepercayaan diri dan keberanian isteri berinisiatif terlebih dulu mengajukan gugatan cerai kepada suami. Stabilitas ekonomi secara signifikan self esteem (meningkatkan kepercayaan diri) dan otonomi perempuan untuk dapat melanjutkan hidup tanpa tunjangan suami setelah putusnya ikatan perkawinan.

Perceraian adalah bagian dari putusnya perkawinan yang tercantum dalam Pasal 30 UUP atau dalam KUH Perdata disebut pembubaran perkawinan sesuai dengan Pasal 199. Salah satu prinsip dalam Hukum Perkawinan Nasional yang seirama dengan ajaran agama adalah mempersulit terjadinya perceraian karena berarti gagalnya tujuan perkawinan untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera. Oleh karena itu perceraian hanyalah merupakan pengecualian sehingga perceraian tidak dapat dilakukan kecuali telah ada alasan-alasan yang dibenarkan oleh ketentuan UUP. Alasan-alasan perceraian yang telah diatur dalam UUP telah menjadi suatu syarat yang harus dipenuhi ketika seorang suami atau isteri ingin mengajukan perceraian.

Perubahan nilai-nilai sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat Indonesia membuat tingkat perceraian semakin tinggi. Akibat dari perkembangan zaman inilah maka telah terjadi pergeseran alasan-alasan perceraian yang

(7)

seyogyanya telah ditentukan dalam UUP namun ketika sampai pada prakteknya di pengadilan, hakim mengabulkan perkara perceraiannya dengan alasan-alasan yang telah mengalami pergeseran nilai dari ketentuan Undang-Undang Perkawinan Nasional. UUP yang menganut asas monogami dan prinsip mempersulit percerain pun pada kenyataannya hanya seperti formalitas untuk pemenuhan syarat-syarat mengajukan gugatan perceraian di pengadilan. Penjabaran di atas menjadi fokus pembahasan dalam skripsi ini. Alasan-alasan perceraian yang pada masa sekarang ini telah mengalami pergeseran karena telah terjadi perubahan nilai-nilai budaya masyarakat akibat perkembangan zaman. Pergeseran alasan-alasan perceraian ini tentunya sudah pasti juga akan membawa dampak dan pengaruh baik terhadap manusianya maupun terhadap hukum perkawinan di Indonesia. Oleh karena itu maka Penulis tertarik untuk meninjau lebih jauh melalui penulisan skripsi dengan judul “PERGESERAN ALASAN PERCERAIAN MENURUT HUKUM DI INDONESIA”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan mengemukakan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan suami dan isteri dalam pengajuan gugatan perceraian? 2. Bagaimana perkembangann alasan perceraian dalam perkawinan di Indonesia? C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat untuk mendapat gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas

(8)

Sumatera Utara. Berdasarkan permesalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah :

1. Untuk mengetahui kedudukan suami dan istri dalam pengajuan gugatan perceraian.

2. Untuk mengetahui perkembangan alasan perceraian dalam perkawinan di Indonesia.

Manfaat dari penulisan yang dapat dikutip dari skripsi ini antara lain : 1. Secara teoretis, penulisan ini dapat dijadikan bahan kajian untuk menambah

pengetahuan bagi perkembangan hukum perdata dalam masalah perkawinan khususnya alasan-alasan perceraian yang telah bergeser dan mengalami perkembangan.

2. Secara praktis, adalah untuk memberikan suatu sumbangan pemikiran yang yuridis tentang alasan-alasan perceraian menurut hukum yang berlaku di Indonesia yang telah bergeser dalam prakteknya di masyarakat kepada almamater Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sebagai bahan masukan bagi rekan-rekan mahasiswa.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan informasi yang ada dan penelusuran kepustakaan, khususnya di lingkungan Universitas Sumatera Utara belum pernah ada penulisan skripsi yang menyangkut pergeseran alasan perceraian yang terjadi di masyarakat, sehingga penulisan skripsi ini adalah asli.

PERGESERAN ALASAN PERCERAIAN MENURUT HUKUM DI INDONESIA yang diangkat menjadi judul skripsi ini merupakan hasil karya yang

(9)

ditulis secara objektif ilmiah, melalui pemikiran referensi, dari buku-buku, bantuan dan para narasumber dari pihak-pihak lain. Skripsi ini juga bukan merupakan jiplakan atau merupakan judul skripsi yang sudah pernah diangkat sebelumnya oleh orang lain.

E. Tinjauan Kepustakaan

UUP memberikan definisi tentang perkawinan yaitu pasal 1 angka 1 yang menyatakan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami dan isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Pasal 26 KUH Perdata dinyatakan Undang-Undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan perdata dan dalam Pasal 81 KUH Perdata dinyatakan bahwa tidak ada upacara keagamaan yang boleh diselenggarakan, sebelum kedua pihak membuktikan kepada pejabat agama mereka, bahwa perkawinan dihadapan pegawai pencatatan sipil telah berlangsung.5Sedangkan menurut hukum adat pada umumnya di Indonesia perkawinan bukan saja berarti sebagai perikatan perdata, tetapi juga merupakan perikatan adat dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan. Perkawinan dalam arti perikatan adat adalah perkawian yang mempunyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.6

Perkawinan dilihat dari segi keagamaan adalah suatu perikatan jasmani dan rohani yang membawa akibat hukum terhadap agama yang dianut kedua

5Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2007, hal 7

(10)

calon mempelai beserta keluarga kerabatnya. Hukum agama telah menetapkan kedudukan manusia dengan iman taqwanya, apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan (dilarang). Oleh karenanya pada dasarnya setiap agama tidak dapat membenarkan perkawinan yang berlangsung tidak seagama.7

Pengertian perkawinan menurut UUP bukan saja sebagai perbuatan hukum, akan tetapi juga merupakan perbuatan keagamaan, sehingga sah atau tidaknya suatu perkawinan harus berdasarkan hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.

UUP juga mengandung prinsip atau asas dan konsepsi mengenai perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang telah disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Adapun asas-asas yang tercantum dalam UUP adalah sebagai berikut :8 a. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan

kekal. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materil.

b. Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah sah, bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7

Ibid., hal 10

8Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Indonesia Legal Center Publishing, Jakarta, 2007, hal 2-3

(11)

c. Asas monogami. Asas ini ada kekecualian, apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan agama mengizinkan, seorang suami dapat beristeri lebih dari seorang. Namun demikian, perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri, meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan, hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh pengadilan.

d. Prinsip calon suami isteri harus telah masak jiwa dan raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat.

e. Karena tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera, maka undang-undang ini menganut prinsip mempersukar terjadinya perceraian.

f. Hak dan kedudukan suami dan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat, sehingga dengan demikian segala sesuatunya dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan oleh suami isteri. Mengenai perceraian baik dalam KUH Perdata dan UUP tidak ditentukan secara tegas tentang definisi perceraian, oleh karena itu sangatlah sukar untuk menentukan secara lengkap dan jelas tentang apa yang dimaksud dengan perceraian.

(12)

Menurut hukum adat pada umumnya aturan mengenai perceraian dipengaruhi oleh agama yang dianut masyarakat yang bersangkutan. Dari semua agama yang terdapat di Indonesia, hanya agama Islam yang banyak mengatur soal perceraian.9Menurut hukum Islam istilah perceraian disebut dalam bahasa arab yaitu Talak yang artinya melepas ikatan. Hukum asal dari Talak adalah makruh (tercela). Sebagaimana hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Umar yang mana Rasulullah SAW mengatakan sesuatu yang halal (boleh) yang sangat dibenci Allah ialah Talak.10

Secara umum dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perceraian adalah pemutusan hubungan perkawinan antara suami dengan isteri yang diakibatkan oleh sebab-sebab tertentu selain daripada kematian. Perceraian dapat terjadi karena beberapa alasan-alasan yang dalam hal ini alasan-alasan perceraian ada tercantum dalam KUH Perdata, Hukum Agama dan UUP. Semua penjabaran mengenai alasan perceraian memiliki satu kesamaan yaitu mempersulit terjadinya perceraian.

Indonesia juga mengenal praktek perkawinan campuran dimana istilah perkawinan campuran yang sering dinyatakan anggota masyarakat sehari-hari, ialah perkawinan campuran karena perbedaan adat/suku bangsa yang bhineka, atau karena perbedaan agama antara kedua insan yang akan melakukan perkawinan. Perbedaan adat misalnya antara pria/wanita Minangkabau dengan pria/wanita Jawa, dan sebagainya, sedangkan perkawinan Campuran antar agama, misalnya antara pria/wanita beragama Hindu dengan pria/wanita Budha.

9Hilman Hadikusuma, Op.cit., hal 152 10Ibid.

(13)

Perkawinan ini diatur dalam Pasal 57-62 UUP, yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan, salah satu pihak berkewarganegaraan asing dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. Dari ketentuan tersebut disimpulkan bahwa perkawinan campuran di Indonesia diartikan hanyalah perkawinan antara mereka yang mempunyai kewarganegaraan berbeda, sedangkan perkawinan antara mereka yang berbeda agama bukan termasuk dalam perkawinan campuran, jika dilakukan oleh warga negara Indonesia.

Maka untuk saat ini ketentuan tentang kewarganegaraan dari suami/isteri yang melangsungkan perkawinan campuran akan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Sejalan dengan itu, Pasal 58 UUP merupakan kaidah petunjuk yang menentukan akibat-akibat dari perkawinan campuran terhadap kewarganegaraan para pihak yang menunjuk ke arah Hukum Indonesia.

F. Metode Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian, metode penelitian harus ditetapkan secara tepat karena dengan metode penelitian ini akan membantu dalam menetapkan arah dan tujuan penelitian sehingga akan mampu mengungkapkan penelitian secara sistematis. Maka penulis mempergunakan metode sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Penelitian terhadap permasalahan dalam skripsi ini dilakukan dengan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum

(14)

kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau hanya menggunakan data sekunder belaka.11

2. Bahan Hukum/Data

Dalam penyusunan skripsi ini, data dan sumber data yang digunakan adalah bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang terdiri dari peraturan perundang-undangan dibidang hukum perdata yang mengikat, antara lain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UUP Tentang Perkawinan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Bahan hukum sekunder yaitu, bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yakni hasil karya para ahli hukum berupa buku-buku, pendapat-pendapat pakar hukum, rancangan undang-undang, dan hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan pembahasan skripsi ini.

Bahan hukum tersier atau bahan penunjang, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan/atau bahan hukum sekunder yakni, kamus hukum dan kamus besar bahasa indonesia.

3. Metode Pengumpulan Data/Bahan Hukum

Dalam melakukan kegiatan penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah Penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu

11Tampil Anshari Siregar, Metode Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2005, hal 23

(15)

pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, tulisan-tulisan, peraturan perundang-undangan dan referensi lainnya yang mempunyai relevansi langsung dari masalah yang akan diteliti, yang disebut sebagai data sekunder.

4. Analisis Data/Bahan Hukum

Penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam skripsi ini termasuk ke dalam penelitian hukum normatif. Pengolahan data pada hakekatnya merupakan kegiatan untuk melakukan analisa terhadap pemasalahan yang akan dibahas.

Analisis data dilakukan dengan:

a. Mengumpulkan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan yang diteliti;

b. Memilih kaidah-kaidah hukum yang sesuai dengan penelitian;

c. Menjelaskan hubungan-hubungan antara berbagai konsep, pasal yang ada; d. Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif kwalitatif.

G. Sistematika Penulisan

Sistem penulisan skripsi ini terbagi ke dalam bab-bab yang menguraikan permasalahan secara tersendiri, di dalam suatu konteks yang saling berkaitan satu sama lain. Penulis membuat sistematika dengan membagi pembahasan keseluruhan ke dalam 5 (lima) bab, dimana setiap bab terdiri dari beberapa sub bab yang dimaksudkan untuk memperjelas dan mempermudah penguraian masalah agar dapat lebih dimengerti, sehingga akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan yang benar.

(16)

Adapun susunan ini skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN, yang terdiri dari beberapa sub bab, yakni : Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN UMUM PERKAWINAN DAN PERCERAIAN, yang terdiri atas beberapa sub bab, yakni : Sejarah Hukum Perkawinan, Perkawinan, Perceraian, Akibat Hukum Perkawinan Dan Perceraian, dan Peraturan Mengenai Perkawinan.

BAB III : KEDUDUKAN SUAMI ISTERI DALAM PENGAJUAN GUGATAN PERCERAIAN, yang terdiri atas beberapa sub bab, yakni : Sebelum Diundangkannya Undang-Undang Perkawian Nomor 1 Tahun 1974, Setelah Diundangkannya Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, dan Kedudukan Suami dan Isteri Dalam Hubungannya Dengan Perkawinan Campuran Berkaitan Dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan.

BAB IV : PERKEMBANGAN ALASAN PERCERAIAN DALAM

PERKAWINAN DI INDONESIA, yang terdiri dari beberapa sub bab, yakni : Sebab-Sebab Perceraian Yang Berkembang Dalam Masyarakat, Alasan Yang Menjadi Latar Belakang Perceraian, dan Pergeseran Alasan Perceraian Mempengaruhi Perkembangan Hukum Perkawinan Di Indonesia.

(17)

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN, yang dalam bab ini dirumuskan kesimpulan yang diambil dari pembahasan-pembahasan dalam skripsi ini dan diakhiri dengan beberapa sumbang saran untuk kemajuan pembangunan nasional. Sebagai pelengkap skripsi ini, pada bagian terakhir disertakan daftar kepustakaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :