5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Efektifitas Kebijakan Penerapan Model Vessel Monitoring
System (VMS) bagi Kapal Penangkap Ikan
5.1.1 Analisis Peraturan Perundang-undangan di Bidang Perikanan Pendukung Kebijakan Penerapan VMS
Sampai saat ini cukup banyak peraturan perundangan yang berkaitan dengan pengelolaan perikanan di Indonesia, dan berdasarkan hasil wawancara dengan tim teknis VMS di bidang hukum, diperoleh keterangan bahwa dari sekian banyak peraturan perundangan yang mengatur tentang pengelolaan perikanan di Indonesia, baru ada satu produk hukum yang secara langsung dan rinci mengatur tentanga penyelenggaraan VMS, yaitu Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 29/MEN/2003 tentang penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, yang ditandatangani dan disahkan pada bulan Agustus 2003.
Untuk menguatkan pernyataan di atas, berdasarkan hasil wawancara kepada Professor Martin Tsamenyi, Director Centre For Maritime Policy, University of Wollongong pada tanggal 27 Juni 2003 ketika berkunjung ke Indonesia dalam acara konsultasi “Legal Framework VMS” di Departemen Kelautan dan Perikanan RI, serta komunikasi melalui e-mail [email protected] diperoleh kesimpulan bahwa walaupun terdapat banyak sekali peraturan yang mengatur tentang perikanan di Indonesia, tapi tidak satupun dari peraturan tersebut yang secara khusus/spesial mengatur tentang bagaimana operasional VMS. Menurutnya dasar hukum yang paling berhubungan dengan pelaksanaan VMS di Indonesia, antara lain adalah , wawancara cara ini dilakukan ketika produk hukum berupa Kepmen No 29 Tahun 2003 tentang penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan belum diterbitkan.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas, maka pada bagian awal bab ini dilakukan analisis terhadap beberapa produk peraturan perundangan di bidang pengelolaan perikanan di Indonesia yang berkaitan dengan penerapan kebijakan VMS, sehingga diperoleh informasi peraturan perundangan yang secara langsung
dan tidak langsung berkaitan erat dengan penerapan VMS. Tabel 22 menyajikan hasil analisis peraturan perundangan yang berhubungan dengan VMS.
Tabel 22 Analisis Isi Peraturan Perundangan di Bidang Pengelolaan Perikanan Yang Mendukung Penerapan Kebijakan VMS
No Jenis Peraturan Perundangan Tentang ( Ketentuan Yang Dapat Mendukung Hasil Analisa Penerapan VMS) 1 Peraturan Pemerintah No. 5/1983 Pengelolaan Sumberdaya Alam Hayati Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia
Tidak Mengatur VMS
Pengaturan tentang Perizinan (Bab IV) dan Ketentuan Pencabutan Izin (Bab V) dapat mendukung
Penerapan VMS. 2 Keputusan Pemerintah No. 15/1984 Pengelolaan Sumber Daya Perikanan di ZEE Indonesia. Tidak Mengatur VMS
Pasal 3, Pasal 5 dan pasal 9 tentang Pengaturan Izin penangkapan ikan oleh kapal asing dapat mendukung penerapan VMS
3 Keputusan
Menteri 475/1985 Izin untuk perusahaan swasta dan asing untuk menangkap ikan di ZEE Indonesia
Tidak Mengatur VMS
Pasal 1, pasal 2 dan pasal 7 tentang ketentuan izin bagi perusahaan asing/lokal , TAC yang dapat mendukung VMS
Pasal lain tentang identifikasi kapal, badan kapal, kewajiban, sanksi dan larangan juga dapat mendukung VMS
4 Keputusan
Menteri 476/1985 Penunjukan tempat (pelabuhan) di mana kapal nelayan asing harus melaporkan sebelum, selama dan setelah penangkapan ikan di ZEE.
Tidak Mengatur VMS
Pasal 1, ketentuan bagi kapal asing untuk masuk ke salah satu dari 9 pelabuhan yang ditunjuk
Pasal 5, kapal asing wajib menerima aparat pengawas jika diperlukan 5 Peraturan
Pemerintah 15/1990
Tentang Usaha
Penangkapan Ikan Tidak Mengatur VMS Pasal 1, pasal7, pasal 13 mengatur batasan dan jenis perizinan kapal asing di ZEEI ( IUP, PPKA, SPI)
sambungan…….. No Jenis Peraturan Perundangan Tentang ( Ketentuan Yang Dapat Mendukung Hasil Analisa
Penerapan VMS) 6 Keputusan Menteri 815/1990 Perizinan Usaha Perikanan Di ZEEI Tidak Mengatur VMS
Pasal 4, 6 dan 12 mengatur Izin bagi kapal asing di ZEEI, termasuk Perusahaan Indonesia yang berminat gunakan kapal asing , IUP untuk Izin dan PPKA untuk persetujuan 7 Keputusan
Menteri 816/1990 Penggunaan Carter Kapal Asing untuk di ZEEI
Tidak Mengatur VMS Pasal 1, 3,4 dan 8 mengatur
ketentuan tentang Perizinan (IUP dan PPKA untuk Indonesia dan SIPI untuk asing), Pelabuhan pangkalan, Ekspor melalui pelabuhan, batas jumlah kapal
8 Keputusan
Menteri 144/1993 Penetapan suatu pelabuhan sebagai pangkalan penangkap ikan untuk kapal nelayan asing yang dicarter yang menangkap ikan di ZEE
Tidak mengatur VMS
Penetapan 23 pelabuhan pangkal bagi kapal asing yang menangkap di ZEEI (pasal 1)
Pemeriksaan sebelum dan sesudah penangkapan (pasal 2)
Identifikasi badan kapal (pasal 3) 9 Keputusan
Menteri 57/1995 Keputusan ini menerangkan keputusan 144/1993
Tidak mengatur VMS menambahkan dua pelabuhan
sebagai pangkalan untuk kapal nelayan asing yang dicarter oleh perusahaan Indonesia.
10 Keputusan
Menteri 508/1996 Carter Kapal Asing dan Penghapusan sistem Carter secara bertahap
Tidak mengatur VMS
Pasal 1, membatasi kapal penangkap ikan dengan sistem carter
Pasal 3, Penghapusan sistem carter secara bertahap
Pasal 4, Mengatur izin import kapal 11 Keputusan
Menteri 770/1996 Tentang penggunaan fish-nets ( bottom trawl) di ZEE wilayah Samudra India, perairan Sumatera bagian barat dan perairan di sekitar daerah Aceh.
Tidak mengatur VMS
Mengizinkan alat tangkap Fish Net (Bottom Trawl) oleh kapal Asing di ZEEI (Samudera India)
Juga mengizinkan kapal Lokal dari kayu dengan ukuran kurang dari 80GT
sambungan…….. No Jenis Peraturan Perundangan Tentang ( Ketentuan Yang Dapat Mendukung Hasil Analisa
Penerapan VMS) 12 Keputusan
Menteri 392/1999 Tentang daerah penangkapan ikan. Tidak mengatur VMS Membagi wilayah penangkapan kedalam tiga daerah atau zona perairan penangkapan
Zona pertama, antara nol samapai 6 mil laut 9 pasal 3
Zona kedua, antara 6 sampai 12 mil laut ( pasal 4)
Zona ke tiga, antara 12 mil sampai batas ZEE, dan mengatur jenis kapal yang diizinkan di Zona tersebut ( pasal 5)
13 Keputusan
Menteri 995/1999 Potensi Sumber daya ikan dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) di wilayah perikanan Republik Indonesia.
Tidak mengatur VMS
Mengatur tentang total tangkapan ikan yang diperbolehkan di Perairan Indonesia ( pasal 2) dan di Perairan ZEEI ( pasal 2) 14 Keputusan Menteri 996/1999- Petunjuk implementasi mengenai pengawasan dalam aktivitas penangkapan ikan. Tidak mengatur VMS
Mengatur tugas aparat pengawasan dan pelaksanaan pengawasan terhadap tracking kapal, daerah penangkapan, wilayah yang dilindungi. (pasal 6, 9)
Diwajibkan menggunakan tanda identifikasi bagi kapal penangkap , kapal pengangkut dan pengumpul 15 Keputusan
Presiden 14/2000 Pemanfaatan kapal ikan yang ditangkap oleh pemerintah.
Kapal ikan yang melanggar hukum disita oleh Pemerintah beserta semua peralatannya
16 Keputusan
Menteri 45/2000 Tentang perizinan usaha perikanan. Mengatur mekanisme dan prosedur bagi pengusaha untuk memperoleh berbagai jenis Izin dalam kegiatan penangkapan ikan, baik lokal maupun asing
keputusan ini tidak mencakup perizinan SIPI untuk kapal asing karena kapal tersebut tidak diizinkan lagi untuk menangkap ikan di ZEE Indonesia.
sambungan…….. No Jenis Peraturan Perundangan Tentang ( Ketentuan Yang Dapat Mendukung Hasil Analisa
Penerapan VMS) 17 Peraturan
Pemerintah No. 142/2000
Menguraikan tentang tarif atas jenis penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Departemen Kelautan dan Perikanan
Tidak mengatur VMS
Pasal 2 mengatur kewajiban kapal penangkap ikan membayar PNBP Pasal 4, Tarif dihitung berdasarkan
ukuran kapal, jenis, banyaknya armada, dan jenis alat tangkap Pasal 7 , kewajiban hanya
diberlakukan kepada semua kapal penangkap ikan di atas 30 GT, atau kapal yang berukuran 18 meters dan beroperasi di luar 12 mil
18 Keputusan Menteri No 46/2001
Tentang Pendaftaran ulang perizinan usaha penangkapan ikan.
Tidak mengatur VMS
mewajibkan semua kapal penangkap ikan (asing maupun lokal) untuk melakukan pendaftaran ulang izin mereka, pasal 2
Menguraikan tentang sanksi, terhadap kapal yang melanggar ketentuan tersebut termasuk pencabutan izin, pasal 5. 19 Keputusan
Menteri 47/2001 Tentang format izin usaha penangkapan ikan.
menguraikan tentang format izin usaha penangkapan ikan yang baru dan dinyatakan pula secara jelas bahwa semua kapal penangkap ikan perlu dipasang VMS/alat transmitter untuk mendapatkan izin usaha penangkapan.
Sumber : Hasil Analisis
Tabel 22 menunjukkan sejumlah peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan bidang perikanan, namun tidak satupun dari peraturan perundangan tersebut yang secara langsung berisi ketentuan tentang pemantauan kapal penangkap ikan dengan sistem VMS. Hasil analisis isi terhadap peraturan perundangan tersebut dapat disimpulkan pula bahwa ketentuan ketentuan yang mengatur pengelolaan perikanan pada berbagai peraturan tersebut sangat mendukung adanya penerapan sistem pemantauan kapal penangkap ikan dengan teknologi VMS. Sistem pemantauan kapal penangkap ikan dengan teknologi VMS dapat memberikan informasi kepada penegak hukum tentang adanya indikasi pelanggaran terhadap ketentuan ketentuan yang telah diatur dalam peraturan tersebut di atas.
Peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan perikanan yang pertama kali memuat tentang VMS adalah peraturan perundangan yang diterbitkan tahun 2001 berupa Keputusan Menteri No. 47 tentang Format Izin Usaha Penangkapan Ikan, dinyatakan dalam peraturan tersebut bahwa semua kapal perikanan diwajibkan memasang VMS untuk mendapatkan izin. Tabel 23 merupakan hasil identifikasi dan analisis terhadap peraturan perundangan yang berkaitan langsung dengan VMS.
Tabel 23 Peraturan Perundangan di Bidang Pengelolaan Perikanan Yang Berkaitan Langsung Dengan Penerapan Kebijakan VMS
No Perundangan Peraturan Tentang Hasil Analisa 1 Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan No. 47 tahun 2001
Format Izin Usaha
Penangkapan Ikan Memuat tentang VMS Ketentuan VMS tidak diatur secara rinci, hanya mewajibkan bagi semua kapal penangkap ikan untuk
memasang VMS dalam memperoleh Izin Penangkapan ikan
2 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 60 tahun 2001 Penataan Penggunaan Kapal Perikanan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Memuat tentang VMS
Namun tidak diatur secara rinci, Menyebutkan kapal perikanan yang
diperoleh dengan cara usaha patungan, beli angsur atau lisensi, wajib memasang transmitter untuk kepentingan system pemantauan kapal Vessel Monitoring System (VMS); Pasal 32, ayat (1) 3 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2003 Tentang perizinan Usaha Penangkapan Ikan Memuat tentang VMS
menetapkan bahwa setiap kapal perikanan wajib memasang transmitter untuk pemasangan system pemantauan kapal (Vessel Monitoring System); (bab XI pasal 65) 4 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.29/MEN/2003 Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, yang ditandatangani dan disahkan pada bulan Agustus 2003.
Memuat ketentuan-ketentuan yang khusus tentang Penyelenggaraan VMS
Seluruh Bab (13 Bab) dan Pasal (29 Pasal) memuat ketentuan tentang penyelenggaraan VMS di Indonesia, mulai dari kelembagaan,
mekanisme, kewajiban dan sanksi
sambungan…….. No Perundangan Peraturan Tentang Hasil Analisa
5 Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 2004
Tentang Perikanan Memuat tentang VMS
Hanya Pasal 7, ayat (1) huruf j saja yang menyatakan tentang VMS, yaitu :Dalam rangka mendukung kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan, Menteri menetapkan “ Sistem Pemantauan Kapal Perikanan Dalam Penjelasan UU 31 diuraikan,
yang dimaksud dengan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan adalah salah satu bentuk system
pengawasan dibidang penangkapan ikan yang menggunakan peralatan pemantauan kapal perikanan yang telah ditentukan , contoh VMS Sumber : Hasil Analisis
Lima buah peraturan perundang-undangan yang diuraikan pada Tabel 23 seluruhnya memuat pernyataan yang berkaitan dengan VMS, namun sebagian besar hanya memuat pernyataan tentang diperlukannya setiap kapal penangkap ikan menggunakan VMS, tetapi tidak secara rinci mengatur mekanisme penyelenggaran VMS dilakukan terhadap kapal-kapal penangkap ikan di Indonesia. Hanya satu saja peraturan perundangan yang benar-benar secara rinci mengatur penyelenggaraan VMS di Indonesia, yaitu Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 29/MEN/2003 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, yang ditandatangani dan disahkan pada bulan Agustus 2003.
Organisasi pengelola VMS sesuai ketentuan yang dimuat dalam Kepmen tersebut adalah PSDKP, akan tetapi dalam implementasi Kepmen tersebut menjumpai beberapa kendala, antara lain:
(1) Walaupun pada Bab III, Pasal 4 telah ditetapkan badan pengelola sistem adalah PSDKP dan lembaga pendukung adalah Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap/DJPT (dalam memberikan data, menetapkan tahapan dan pemasangan transmitter dan penyiapan ID transmitter) dan Badan Riset Kelautan Perikanan /BRKP (untuk mendukung menetapkan spesifikasi teknis VMS, termasuk sistem integrasinya). Namun kenyataan di lapangan, koordinasi antar lembaga tersebut sulit dilakukan, sehingga banyak ditemukan permasalahan-permasalahan seperti : (a) Tidak ada jadwal
pendaratan kapal yang pasti di pelabuhan pangkalan (ketidaktaatan dalam mendarat di pelabuhan pangkalan berkaitan dengan), (b) Tidak mampu mendeteksi jumlah pengeluaran izin sesuai prioritas pemasangan, (c) Sulitnya memilih target kapal yang akan dipasang alat transmitter
(2) Bab IV telah diatur kewajiban dan pentahapan pemasangan transmitter, dan di pasal 9 disebutkan bahwa “setiap kapal perikanan Indonesia dan/atau kapal perikanan asing yang memperoleh Surat Penangkapan Ikan (SPI) dan atau Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) dari Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, wajib dilengkapi transmitter sebagai bagian dari sistem pemantauan kapal perikanan”. Kenyataan di lapangan banyak kapal perikanan yang menolak untuk dipasang transmitter, dan terdapat pula kasus kapal perikanan yang mematikan alat transmitter dan bahkan melepas alat transmitter yang sudah dipasang.
(3) Direktur Jenderal Perikanan Tangkap menetapkan pelabuhan perikanan dan pelabuhan umum tertentu sebagai lokasi pemasangan transmitter dengan mempertimbangkan aspek teknis dan geografis yang paling menguntungkan bagi penyelenggara dan perusahaan perikanan untuk melakukan pemasangan transmitter (sesuai Bab VI, pasal 13). Pada pelaksanaannya lembaga pengelola sistem (PSDKP) selalu mengalami kesulitan untuk memasang transmitter.
(4) Kepmen tersebut juga memuat kewajiban pengguna transmitter, (Bab VII, pasal 15) namun dalam pelaksanaannya PSDKP kesulitan melakukan tindakan atau sanksi terhadap kapal perikanan yang melakukan pelanggaran. (5) Pelaksanaan sistem pemantauan kapal perikanan, pengguna transmitter dikenakan pungutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Bab IX, pasal 23). Kenyataannya sampai saat ini belum ada ketentuan yang mengatur secara rinci tentang pungutan tersebut. Sehingga membuat ketidakpastian baik bagi penyelenggara maupun para pengusaha.
(6) Masih besarnya resistensi dari pengusaha atau pemilik kapal dengan berbagai alasan seperti : kekhawatiran diketahuinya posisi atau tracking kapal yang semula tidak dapat diawasi, kehawatiran akan adanya dana
tambahan atas penggunaan alat transmitter, tidak mau memahami manfaat VMS bagi manajemen sumberdaya ikan yang terkait dengan efektivitas perizinan dan kelestarian sumberdaya ikan, cukup menimbulkan kesulitan lembaga pengelola dan aparat pengawas PSDKP untuk memberikan sanksi terhadap pengusaha yang tidak mematuhi peraturan tersebut.
Keberadaan Peraturan di atas dan Kepmen Nomor 29 tersebut belum seutuhnya mampu mendorong pelaksanaan VMS di Indonesia, banyak terdapat permasalahan dan kendala dalam pelaksanaannya, dan salah satu penyebabnya adalah belum adanya peraturan yang lengkap dan rinci yang mengatur pelaksanaan VMS. Sehingga DKP membutuhkan peraturan yang lebih rinci untuk dapat menerapkan VMS secara efektif, termasuk kebijakan-kebijakan di bidang financial atau pungutan yang menyangkut pembiayaan transmitter dan air time, kebijakan tentang dimungkinkannya lembaga penglola VMS oleh pihak swasta seperti di beberapa negara dalam bentuk operator, karena kelemahan lembaga pengelola dari pihak pemerintah adalah berkaitan dengan pembiayaan VMS. Ke depan keberlangsungan kegiatan VMS sangat tergantung dari biaya operasioanal rutin yang tidak dimungkinkan menggunakan anggaran dari APBN yang tidak fleksibel, sehingga diperlukan peraturan yang memungkinkan pihak ketiga menjadi pengelola VMS, dimana pihak ketiga dapat menciptakan penerimaan pendapatan dari penyelenggaraan VMS.
Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan, walaupun tidak secara rinci memuat ketentuan tentang penerapan VMS, namun sebagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan perikanan merupakan kebijakan pemerintah yang memiliki kekuatan hukum dan kelengkapan dalam mendukung sistem pengawasan kapal ikan. Berbeda dengan undang-undang tentang perikanan yang lama (UU No. 9 tahun 1985 tentang Perikanan), UU 31 tahun 2004 tentang Perikanan telah meletakkan masalah pengawasan menjadi sangat penting. Dalam UU No. 9 tahun 1985, masalah pengawasan hanya diatur dalam satu pasal saja, yaitu pada pasal 23 yang mengamanatkan pembentukan peraturan pemerintah tentang pengawasan dan pengendalian saja, yang hingga saat ini peraturan pemerintah tersebut belum ada.
Undang-undang No. 31 tahun 2004 ini, mengatur masalah pengawasan dalam 8 pasal yaitu pasal 43, 44,45, 66, 68 dan 69. Pasal-pasal tersebut tampak jelas bahwa pengawas perikanan diberikan peranan dan tugas yang cukup signifikan untuk mendukung terwujudnya pemanfaatan dan pengelolaan perikanan yang bertanggung-jawab. Hal ini terlihat dalam pasal 66 ayat 2 yang menyatakan pengawas perikanan bertugas untuk mengawasi tertib pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. Artinya yang berhak mengawasi pelaksanaan dari UU No. 31 tahun 2004 dan ketentuan pelaksanaannya adalah pengawas perikanan.
Ketentuan lain dari UU. No 31 tahun 2004 yang sangat strategis dan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melaksanaan penegakan hukum terhadap pelanggaran di bidang perikanan adalah dilengkapinya pengawas perikanan dengan senjata api dan/atau alat pengaman lainnya (Pasal 69 ayat 1). Disebutkan pula dalam pasal tersebut bahwa kapal pengawas perikanan mempunyai tugas pengawasan dan penegakan hukum, dan kapal pengawas perikanan dapat dilengkapi dengan senjata api dan mempunyai wewenang untuk menghentikan, memeriksa dan menahan kapal yang diduga melakukan tindakan pidana. Ketentuan tentang kelengkapan senjata api dan kewenangan kapal pengawas perikanan sangat mendukung kebijakan penerapan VMS di Indonesia. Hasil analisis berupa adanya indikasi pelanggaran oleh kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh Puskodal VMS DKP dapat segera ditindaklanjuti oleh pengawas perikanan dan kapal pengawas perikanan untuk melakukan tindakan hukum di lapangan sesuai ketentuan UU 31 tahun 2004.
Dukungan lain yang sangat penting dari UU 31 tahun 2004 terhadap kebijakan penerapan VMS adalah adanya pedoman bagi pengawas perikanan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan di laut tapi juga dilakukan di darat/pelabuhan melalui mekanisme penerapan Log Book Perikanan (LBP) dan Surat Laik Operasional (SLO). Pasal 43 sampai 45 menyatakan bahwa setiap kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan wajib memiliki SLO dari pengawas perikanan dan SLO ini diterbitkan apabila kapal perikanan yang bersangkutan memenuhi syarat administrasi dan kelayakan teknis sebagaimana
Kapal Illegal Statistik Catch Report Dugaan Pelanggaran Zona / Alat Tangkap TAC / JTB Fishing Power
Data Izin Kapal (Zona & Fishing Power)
Data Produksi Data
Potensi
ditentukan dalam pasal 44 ayat (2). SLO merupakan dasar bagi syahbandar menerbitkan Surat Izin Berlayar.
Konsekuensi dari ketentuan atau amanat UU 31 tahun 2004 khususnya yang berkaitan dengan LBP dan SLO tersebut di atas adalah perlunya dirancang pelabuhan perikanan di beberapa daerah menjadi lembaga ”integrator” di daerah yang berfungsi menangani dan mengintegrasikan fungsi-fungsi pengawasan masing-masing unsur MCS perikanan (VMS, Log Book Perikanan, Surat Laik Opersional) sehingga pelabuhan tidak lagi hanya berfungsi melayani kepentingan Direktorat Perikanan Tangkap (DJPT), tapi juga sebagai ujung tombak pelaksanaan pengawasan aparat pengawas dalam mendukung penerapan VMS. Gambar 34 berikut ini merupakan konfigurasi sistem yang mengintegrasikan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan (VMS) dengan Sistem Log Book Perikanan, Sistem Perizinan dan Surat Laik Operasional di pelabuhan.
Gambar 34 Sistem Integrasi VMS Dengan Perizinan, Log Book Perikanan dan Surat Laik Opersional di Pelabuhan.
Apabila seluruh pelabuhan perikanan difungsikan sebagai lembaga integrator di daerah (seperti pada Gambar 34) yang memiliki data-data lengkap VMS seluruh kapal sesuai pelabuhan pangkalannya, maka pelaksanaan pengawasan akan lebih efektif. Pengintegrasian teknologi VMS dengan Sistem Perizinan (dokumen izin), Sistem Log Book dan SLO di pelabuhan merupakan sistem yang sangat efektif dalam melakukan pengendalian dan pengawasan SDI termasuk pengendalian illegal fishing.
Efektifitas peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan VMS secara langsung seperti Kepmen Nomor 29 tahun 2003 dan UU Nomor 31 tahun 2004 sangat ditentukan bagaimana implementasi di lapangan. Tantangan yang paling berat adalah dalam hal menyiapkan aspek sumberdaya manusia, khususnya aparat pengawas dan penegak hukum (baik kualitas dan kuantitasnya) dan sarana/prasarana pendukung (infrastruktur) serta mekanisme dan tata hubungan kerja diantara lembaga pengelola, instansi pendukung, pelabuhan perikanan dan aparat penegak hukum.
5.1.2 Analisis Efektivitas Kebijakan Penerapan VMS
Berkaitan dengan impelementasi kebijakan, menurut Samodra (1994 : 15) kebijakan publik selalu mengandung setidak-tidaknya tiga komponen dasar, yakni tujuan yang jelas, sasaran yang spesifik, dan cara mencapai sasaran tersebut. Komponen ketiga ini, biasa disebut sebagai implementasi, merupakan komponen yang berfungsi mewujudkan komponen kesatu dan kedua, yaitu tujuan dan sasaran khusus. Berdasarkan tinjauan pustaka ini, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sistem pengawasan kapal ikan sudah memiliki isi yang lengkap namun belum didukung oleh cara mencapai sasaran kebijakan tersebut. Sehingga diperlukan keseriusan pemerintah dalam melengkapi kebijakan yang telah ada dengan petunjuk pelaksanaan dari kebijakan yang telah dikeluarkan.
Menurut Dunn (1994), kriteria-kriteria evaluasi kebijakan publik dapat dirumuskan indikator pertanyaannya sesuai tipe kriteria kebijakan yang digunakan, dan beberapa kriteria yang digunakan sebagai indikator dalam melakukan evaluasi kebijakan antara lain adalah efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan. Analisis efektivitas kebijakan penerapan
VMS akan dilakukan berdasarkan beberapa kriteria evaluasi kebijakan tersebut, dan hasil analisis disajikan dalam Tabel 24.
Tabel 24 Analisis Efektivitas Kebijakan Penerapan VMS
No Kriteria Ukuran Keberhasilan
1 Efektivitas Apakah hasil yang
diinginkan tercapai? 1. Target 1.500 kapal untuk dipasang transmitter tidak tercapai, tercapai 1323 kapal
2. Dari 1.323 kapal yang berfungsi hanya 528 ( 39,9%)
3. Target yang aktif ikut VMS tidak sesuai rencana skenario yang mengutamakan kapal pukat ikan dan udang
2 Efisiensi Seberapa besar usaha
telah dilakukan? 1. Dari segi biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui DKP sudah cukup besar baik dari APBN maupun softloan
2. Dan dari segi waktu, kegiatan VMS telah dimulai sejak tahun 2003. 3. Hasil yang dicapai belum sesuai
dengan yang diharapkan. 3 Kecukupan Seberapa jauh dapat
memecahkan masalah? 1. Teknologi VMS sudah mampu memantau adanya indikasi pelanggaran izin dan penangkapan namun belum secara online , sehingga butuh waktu yang lama melakukan analisis
2. Masalah pelanggaran terhadap izin, alat tangkap dan wilayah penangkapan tetap terjadi.
4 Perataan Apakah Penerapan dan pemasangan alat VMS merata?
1. Penerapan VMS belum merata keseluruh kapal perikanan, karena keterbataan transmitter dan biaya 2. Pemasangan alat transmitter tidak
memenuhi target prioritas jenis kapal dan alat tangkap yang telah ditetapkan
5 Responsivitas Apakah target sasaran
menerima dan puas? 1. Sebagian besar pengusaha masih belum dapat menerima penerapan VMS dengan berbagai alasan 2. Pengusaha takut dikenakan beban
biaya
3. Pengusaha tidak merasakan manfaat, dan merasa dirugikan
sambungan………
No Kriteria Ukuran Keberhasilan
6 Ketepatan Apakah hasil yang
diinginkan berguna? 1. Bagi pemerintah, kebijakan ini sangat berguna karena sangat mendukung tugas pengawasan dan penegakkan hukum di bidang perikanan, namun sampai saat ini kemampuan teknologi VMS yang ada masih terbatas, perlu dukungan komponen lain dalam pengawasan sumberdaya ikan seperti sistem perizinan, sistem log Book, LLO, kapal patroli dan penegakka hukum. 2. Bagi pengusaha, ada yang
merasakan berguna karena dapat ikut memantau armada kapalnya, dan banyak yang merasa dirugikan Sumber : Hasil Analisis
Melalui beberapa indikator evaluasi terhadap kebijakan penerapan VMS seperti pada Tabel 24 dapat disimpulkan bahwa dari seluruh indikator yang digunakan untuk melakukan evaluasi dan menganalisis efektivitas kebijakan penerapan VMS, semuanya menunjukkan gambaran bahwa penerapan VMS di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil atau belum efektif. Hal ini terbukti dengan banyaknya rencana yang tidak tercapai, banyak persoalan-persoalan, keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki oleh lembaga pengelola VMS dalam mengimplementasikan kebijakan VMS, yaitu antara lain :
(1) Salah satu ukuran keberhasilan penerapan kebijakan teknologi VMS di Indonesia adalah terpenuhinya target sebanyak 1.500 kapal ikan yang ikut program VMS pada tahun 2004. Ternyata hasilnya agak jauh dari harapan, karena pada akhir tahun 2004 baru terdapat 987 kapal ikan (lokal dan asing) yang ikut program VMS, dan dari jumlah itu hanya sekitar 549 atau sekitar 55,6% yang aktif berfungsi dan dapat dipantau. Kemajuan di tahun 2005 juga belum menunjukkan hasil yang optimal, dimana sampai sekarang (per Juni 2005) seluruh kapal yang terlibat dalam program VMS baru berjumlah 1.289 kapal (kapal lokal sebanyak 714 dan kapal asing 575 kapal). 714 kapal lokal tersebut yang berfungsi alat VMS-nya hanya 41,0% atau sekitar 293 kapal ikan, sedangkan untuk kapal asing yang berfungsi alat VMS-nya hanya sekitar 48,7% atau sekitar 280 kapal ikan asing.
(2) Jika dilihat dari target atau sasaran program VMS yang mengutamakan jenis kapal ikan dengan alat tangkap Pukat Ikan dan Pukat Udang, maka dari sekitar 465 kapal ikan yang terdaftar dan jenis alat tangkapnya pukat ikan baru sekitar 68 kapal ikan saja yang ikut VMS dan dari sekitat 302 kapal Pukat Udang yang ikut program VMS hanya 109 kapal saja.
(3) Segi kelembagaan, lembaga pengelola VMS (PMO VMS) dinilai tidak dapat menjalankan fungsinya dengan optimal. Hal ini disebabkan karena lembaga PMO VMS yang berada di bawah Dirjen PSDKP tidak mampu mengintegrasikan kepentingan masing-masing lembaga terkait, baik internal DKP maupun eksternal dalam pelaksanaan VMS. Dari sisi organisasi Pusdal (Pusat Pengendalian VMS), keterlibatan Dit. PSDI dalam analisis data VMS juga belum ada. Sehingga informasi yang dihasilkan Pusdal baru sebatas pelanggaran transmitter, dan pelanggaran wilayah.
(4) Disamping itu personil yang menjabat dan duduk sebagai anggota PMO masih dibebani tugas fungsional sehari-hari dan pimpinan PMO VMS yang berada di Eselon III mengalami kesulitan mengundang pejabat-pejabat Eselon II dan Eselon I dalam rapat koordinasi untuk pengambilan keputusan. Kondisi ini mengakibatkan mekanisme kerjasama antar unit terkait tidak berfungsi, sehingga tindak lanjut informasi yang dihasilkan oleh Pusdal sulit dilaksanakan.
(5) Segi kemampuan monitoring, pusat pengendalian (Pusdal) VMS di DKP sudah mampu mendeteksi secara otomatis kapal-kapal yang mematikan transmitter (Tx) tetapi belum mampu secara online melarang kapal-kapal yang mematikan Tx untuk keluar dari pelabuhan. Terhadap kapal-kapal yang melakukan pelanggaran jalur penangkapan DKP juga belum mampu secara langsung mengetahui nomor izin kapal yang bersangkutan untuk dilakukan penindakan secara tegas. Pusdal VMS belum mampu mendeteksi secara langsung dan rinci identitas kapal ikan yang terindikasi melakukan pelanggaran. Sehingga informasi yang dihasilkan Pusdal baru sebatas pelanggaran transmitter. Pusdal VMS DKP hanya mampu mengidentifikasi kapal-kapal yang melanggar wilayah melalui gerak kapal atau jalur lintasan penangkapan ikan (tracking) dan ID transmitter-nya, untuk mengetahui data
kapal penting lainnya seperti nama jenis alat tangkap, asal perusahaan, nomor izin dan wilayah tangkap, perlu dilakukan integrasi data dengan program lain, sehingga membutuhkan waktu yang agak lama.
(6) Kemampuan analisis indikasi pelanggaran wilayah operasi penangkapan belum ada sehingga harus ditingkatkan dengan cara menyempurnakan software sistem pemantauan yang memiliki peta zonasi di 9 daerah penangkapan. Standarisasi wilayah perizinan dibuat dengan koordinat yang jelas. Sehingga jika terjadi pelanggaran wilayah penangkapan (keluar dari koordinat yang telah ditetapkan dalam izin) oleh kapal penangkap ikan maka secara otomatis sistem mengeluarkan peringatan sebagai tanda adanya pelanggaran wilayah penangkapan. Fungsi pengawasan yang dilakukan Puskodal dapat lebih efektif jika zonasi penangkapan diterapkan secara konsisten dan terintegrasi anatara sistem perizinan dengan VMS.
(7) Sisi penegakan hukum terhadap kapal-kapal ikan yang melakukan pelanggaran masih dinilai belum dilakukan secara tegas, karena masih banyak kapal yang melanggar peraturan (karena sengaja tidak memasang transmitter) tapi tetap tidak dikenakan sanksi.
Sebagai perbandingan, dapat dilihat efektivitas penerapan VMS di beberapa negara lain, khususnya di beberapa negara berkembang berikut ini (Smith, 1999). Penerapan VMS di Afrika telah menghasilkan keuntungan (pendapatan) yang diperoleh dari pemberian izin terhadap kapal asing, denda yang diterapkan terhadap pelanggaran, sehingga dapat membiayai operasional VMS. Kegiatan VMS dipusatkan pada proyek yang disebut “MCS of Industrial Fishing” dan lembaga donornya adalah Grand Duchy of Luxembourg dan lembaga atau agen pelaksananya adalah FAO dan Lux-Development. Negara-negara lain yang
ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini antara lain: Cape Verde, The Gambia, Guinea, Guine-Bissau, Mauntania, Senegal and Sierra Leone. Negara-negara tersebut tergabung dalam “Sub Regional Fisheries Commission (CRSP)”.
Pelaksanaan VMS di Namibia diterapkan dengan cara yang sangat keras berdasarkan monitoring terhadap semua pendaratan ikan, selain itu mereka menempatkan pengamat (observers) pada kapal-kapal utama dan menyebarkan
kapal-kapal patroli ikan serta pesawat bersayap dan helikopter untuk melakukan pengamatan lapangan. Efektivitas kegiatan dapat dilihat dari adanya penangkapan kapal ikan yang melanggar dan tindakan hukum dilakukan oleh pengadilan Namibia.
Pelaksanaan VMS di Peru juga dapat dijadikan sebagai perbandingan, di negara tersebut penyelenggaraan VMS telah dimulai pada tahun 1992 dan sebagai pilot project pertama adalah untuk kapal ikan asing. Tahun 1998 Peru memilih Argos-CLS sebagai provider VMS untuk kapal perikanan nasional dan pada phase pertama dipasang VMS terhadap 200 kapal, selanjutnya pada phase II, III, IV, dan ke V masing masing sebanyak 200, 200, 180 dan 160. Jumlah keseluruhan kapal yang telah dipasang VMS sampai dengan Agustus 2004 sebanyak 940 kapal. Artinya Peru membutuhkan waktu selama 6 tahun untuk melaksanakan kebijakan VMS, dimulai pada tahun 1992 dan baru tahun 1998 phase pertama kebijakan VMS benar benar diterapkan dan efektifitas pelaksanaan VMS di negara tersebut baru bisa dirasakan setelah 6 tahun berjalan.
Kapal ikan yang dipasang transmitter adalah kapal skala industri (ukuran 15 m atau 20 GT keatas). Kegiatan kapal ikan hanya di atas 5 mil, dan perairan 5 mil dari pantai hanya diperuntukkan bagi kapal ikan tradisional (artisanal fisheries). Jenis dan junlah kapal ikan yang telah dipasang VMS adalah : (1) Purse Seine sebanyak 1.000 kapal, terpasang 800 kapal, (2) Pukat Ikan sebanyak 70, terpasang 70 kapal, (3) Long Line sebanyak 115 kapal, dan terpasang 50 kapal, dan terakhir (4) Multi Propose sebanyak 80 kapal, terpasang 20 kapal..
Kapal ikan nasional dikenakan pungutan sebesar $ 200 per bulan untuk keperluan biaya : lisensi, transmitter, air time dan biaya pemeliharaan. Bagi kapal asing dikenakan beberapa pungutan, antara lain: biaya pelayanan sebesar 4,5 juta/bulan, biaya pemasangan dan pelepasan transmitter sebesar 5,7 juta/bulan dan biaya garansi transmitter sebesar 36 juta, yang akan dikembalikan bila habis masa operasinya.
Terdapat beberapa perbedaan pengelolaan perikanan antara Peru dengan Indonesia, dimana perbedaan tersebut sangat mendukung kelancaran proses pelaksanaan VMS di Negara Peru, perbedaan tersebut antara lain :
(1) Garis pantai di Peru lebih pendek, yaitu 2.414 km, luas lautnya pun lebih kecil 878.696 km2.
(2) Jumlah kapal ikan di Peru berkisar hanya 1500 kapal.
(3) Dalam surat izin penangkapan tidak ada pembagian wilayah tangkap. Yang ada hanya pelarangan menangkap ikan bagi kapal skala industri di perairan 5mil dari pantai.
(4) Pola penangkapan mengunakan pola “one day fishing”, setiap hari kapal ikan diwajibkan kembali ke pelabuhan.
(5) Prosedur pemanfaatan pungutan biaya VMS dapat dilakukan langsung oleh instansi terkait.
(6) Pungutan iuranVMS melekat pada izin.
(7) Kelebihan hasil tangkapan ikan dari yang diizinkan akan dikenakan sanksi (pembayaran).
(8) Ada observer on board di beberapa kapal dan di pelabuhan untuk sampling hasil tangkapan dalam membantu badan riset kelautan Peru (IMARPE). (9) Pada waktu tertentu ada penutupan penangkapan ikan (close season) bila
dinilai jumlah ikan mulai banyak tertangkap (over fishing).
Salah satu aspek yang dapat dilihat sebagai hasil dari efektivitas pelaksanaan kebijakan VMS adalah adanya sejumlah kapal penangkap ikan yang di beri sanksi berupa pencabutan izin operasi penangkapan karena melakukan pelangaran dalam melakukan kegiatan penangakapan ikan. Data yang diperoleh pada bulan Agustus 2005 diketahui bahwa terdapat 39 kapal penangkap ikan atau terdiri dari 15 perusahaan yang direkomendasikan oleh lembaga pengelola VMS untuk dilakukan tindakan pencabutan izin (SIPI/SIKPI). Berdasarkan data tahun 2005 akhir diperoleh informasi bahwa pencabutan izin telah dilakukan terhadap kapal penangkap ikan yang melanggar sejumlah 62 kapal.
Berdasarkan berbagai kendala diatas, ada satu alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk menindaklanjuti program VMS di Indonesia, VMS hanya diperuntukkan terhadap kapal kapal yang tidak pernah ke pelabuhan pangkalan, sedangkan kapal kapal yang disiplin dan terjadwal kepelabuhan belum diwajibkan program VMS, namun perlu dilakukan pengecekan di pelabuhan melalui System
Logger (untuk cek tracking) dan LPB untuk cek hasil tangkapan. Informasi ini disampaikan ke Puskodal. Sistem Monitoring dan SDM yang melakukan collecting dan analisa data dipersiapkan oleh setiap pelabuhan.
5.2 Perumusan Penentuan Prioritas Strategi Penerapan Vessel
Monitoring System (VMS)
Berdasarkan hasil analisa efektivitas penerapan kebijakan VMS di atas, dipaparkan bahwa masih banyak kendala dalam proses pemasangan perangkat transmiter VMS, disamping masih lemahnya peraturan pemerintah yang mendukung operasional pemasangan, kurangnya integrasi antar lembaga serta perilaku para pengusaha yang menolak pemasangan perangkat VMS tersebut. Beragam permasalahan ini mendorong perlu perumusan strategi dalam menerapkan kebijakan penerapan VMS kepada kapal penangkap ikan berukuran 100 GT ke atas.
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) kepada lima orang pakar dan praktisi dalam bidang kelautan dan perikanan, ditetapkan enam aspek yang menjadi pertimbangan dalam implementasi VMS. Keenam aspek tersebut adalah ekonomi, sosial budaya, biologi, teknologi VMS, kelembagaan dan aspek hukum serta kebijakan (baik eksternal dan internal DKP). Keenam aspek tersebut merupakan sebuah dasar yang perlu dikaji sebagai pertimbangan penerapan sistem pemantauan kapal ikan dengan menggunakan model VMS.
Keenam aspek tersebut diidentifikasi untuk mendapatkan peluang dan ancaman untuk aspek ekonomi, sosial budaya, biologi dan hukum dan kebijakan eksternal serta identifikasi kekuatan dan kelemahan untuk aspek teknologi VMS, kelembagaan dan aspek hukum dan kebijakan internal.
5.2.1 Identifikasi Peluang dan Ancaman 5.2.1.1 Aspek Hukum/Kebijakan Eksternal
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, beberapa peraturan/kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sistem pemantauan kapal penangkap ikan yang menjadi faktor peluang untuk penerapan sistem VMS, seperti yang disampaikan berikut ini:
(1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
(2) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 29/MEN/2003 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan.
(3) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2003 tentang Perizinan Usaha Penangkapan Ikan.
(4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Beberapa kebijakan di atas merupakan sebuah dukungan yang memberikan peluang dalam merumuskan model penerapan pemantauan kapal penangkap ikan dengan metode VMS.
5.2.1.2 Aspek Ekonomi
Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah perairan laut sebesar dua per tiga bagian dari wilayah seluruhnya. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut secara optimal akan memberikan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tinjauan secara ekonomi atas sumber daya laut seperti yang dijelaskan sebagai berikut:
(1) Perkembangan Produksi Perikanan Laut
Data Departemen Kelautan dan Perikanan yang disampaikan ke Komisi IV DPR (Business News, 26 Februari 2005) disebutkan bahwa rata-rata produksi perikanan tangkap tahun 2004 naik 2.79%. Seiring dengan meningkatnya produksi perikanan tersebut, penyediaan ikan untuk konsumsi di dalam negeri pada tahun 2003-2004 juga naik 2.78%. Dalam periode yang sama konsumsi per kapita naik 1.5%, kondisi ini mengindikasikan rendahnya konsumsi per kapita, maka pola konsumsi ikan masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan.
(2) Komoditi Ekspor Perikanan Laut
Potensi pasar dunia untuk industri perikanan sangat menjanjikan, seperti yang dituliskan pada Kompas 18 Mei 2005, tentang ”Mereka yang Berjaya di Industri Perikanan Dunia” menyatakan bahwa tidak ada industri pangan di dunia ini yang begitu mengglobal seperti perikanan. Lebih dari 75% hasil tangkapan ikan dunia dewasa ini (sekitar 80 juta ton lebih per tahun) diperdagangkan di pasar internasional. Dengan 38 juta manusia yang
menggantungkan hidup di sektor itu, sektor perikanan memainkan peran penting dalam upaya pengentasan dari kemiskinan dan kebutuhan protein hewani. Data FAO menunjukan nilai ekspor ikan dunia tahun 2001 mencapai 58,2 milyar dolar AS, angka ini naik 5% dibandingkan tahun 2000. Produksi perikanan menyumbang 15-16% dari asupan protein hewani global. Komoditas perikanan merupakan komoditas ekspor yang selalu meningkat, kebutuhan ikan masyarakat internasional sebesar 5% per tahun dan mencapai 140 juta ton pada tahun 2004. Namun pemanfaatan potensi perikanan bagi Indonesia masih rendah, ditunjukan pada tahun 2002, dimana potensi lestari sebesar 6,2 juta ton per tahun dan baru termanfaatkan sebesar 64% (Business News, 17 Maret 2005).
Ekspor hasil perikanan Indonesia meningkat secara signifikan dari sisi mutu maupun hasilnya, dalam periode 2003-2004 volume ekspor perikanan Indonesia naik 7,37%, dan nilainya naik lebih tinggi mencapai 30,33% (Business News, 21 Februari 2005).
Tabel 25 Pertumbuhan Produksi Perikanan Tangkap di Dunia
Sumber: Kompas, 28 Mei 2005
Bila dilihat kapasitas ekspor produksi ikan Indonesia tingkat dunia dapat diperlihatkan pada Tabel 25. Seperti yang diperlihatkan pada tabel tersebut, posisi Indonesia sebagai negara pengekspor ikan masuk ke dalam peringkat ketiga produksi ikan dan memiliki pertumbuhan tertinggi dari empat negara yang memiliki kapasitas produksi ikan tertinggi di dunia. Untuk ekspor pada tahun 2002, Thailand tercatat sebagai eksportir terbesar setelah China dengan nilai sebesar 3,7 milyar dollar AS (Kompas 28 Mei
Negara Tahun 2000 (ribu ton) Tahun 2002 (ribu ton) Pertumbuhan per Rata-rata tahun (%)
China 24.580,7 27.767,3 6,3
India 1.942,2 2.191,7 6,2
Indonesia 788,5 915,1 7,7
2005), sedangkan nilai ekspor Indonesia berada pada peringkat kelima dengan nilai sebesar 2,004 milyar dollar AS dengan volume ekspor sebesar 696.290 ton pada tahun 2003 (Suara Pembaruan, 5 Januari 2005).
(3) Kontribusi Sektor Perikanan dalam PDB
Kontribusi sektor perikanan dalam PDB naik 26,04% lebih tinggi dari kenaikan PDB nasional sebesar 12,14 %. Produksi perikanan pada periode 2000-2004 juga meningkat dengan rata-rata sebesar 5,21% per tahun, dari 5,107 juta ton pada tahun 2000 menjadi 5,948 juta ton pada tahun 2003. Produksi perikanan nasional tersebut masih didominasi oleh usaha penangkapan dengan kontribusi sebesar 79,49% pada tahun 2003. (Suara Pembaruan, 5 Januari 2005).
(4) Beberapa indikasi lainya yang menyebabkan kerugian negara akibat penangkapan ikan secara ilegal yang menjadikan ancaman bila tidak dilakukannya sistem pengawasan perikanan laut (DKP:2004) adalah :
1) Penangkapan ikan di wilayah ZEEI dan ekspor tidak termonitor (± 4.900 kapal) dengan jumlah kerugian sekitar US$ 1,2 Milyar;
2) Kapal ilegal yang melanggar daerah penangkapan (± 1.275 kapal) dengan jumlah kerugian sekitar US$ 573,75 Juta;
3) Kapal eks impor dengan penetapan pengadilan (± 475 kapal) dengan jumlah kerugian sekitar US$ 142,50 Juta;
4) Kapal eks impor dengan ABK asing (± 6.500 ABK) dengan jumlah kerugian sekitar US$ 7,80 Juta;
Total kerugian US$ 1.924.050.000, dan menurut FAO (2001) ikan yang ditangkap secara ilegal 1,5 juta ton per tahun, sehingga menambah jumlah kerugian menjadi US$ 4 Milyar.
Berdasarkan identifikasi di atas, secara ekonomi sumberdaya perikanan Indonesia telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan negara sehingga pemanfaatan model VMS sebagai sistem pengawasan pemantauan kapal penangkap ikan diupayakan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan negara pada sektor perikanan laut. Namun kondisi tersebut juga masih memprihatinkan karena masih tingginya tingkat pencurian ikan. Sebuah artikel berjudul “Fishermen Leery of Federal Fishing Rule Changes“ (Bauman, 2005)
menyatakan bahwa negara/pemerintah perlu melakukan evaluasi apakah VMS diperlukan dalam semua aspek perikanan, bila diperlukan maka negara atau pemerintah pusat yang membiayai atas pemakaian VMS. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab negara dalam membiyai kegiatan VMS menjadi pertimbangan khusus.
5.2.1.3 Aspek Sosial Budaya
Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1998 yang berlanjut kepada krisis multidimensi dan multikomplek di Indonesia, struktur sosial budaya masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dari sikap kritis masyarakat jika melihat suatu kebijakan pemerintah yang dinilainya bertentangan dengan pandangan atau norma-norma yang ada di masyarakat.
Kondisi ini juga terlihat pada penerapan kebijakan pemantauan kapal penangkap ikan dengan model VMS sebagai sistem pengawasan kapal ikan. Beberapa sikap para pengusaha kapal ikan di antara lain adalah (1) Sikap tidak bersedia untuk di awasi; (2) Adanya penolakan pada saat pemasangan alat VMS di kapal; dan (3) Ketidakdisiplinan dalam memakai alat VMS dengan mematikan alat tersebut agar tidak berfungsi.
Perilaku pengusaha kapal ikan yang tidak tunduk mematuhi aturan pemerintah dalam pemasangan alat VMS merupakan kendala dan ancaman dalam penerapan kebijakan VMS sebagai sistem pemantauan kapal ikan di Indonesia.
Penolakan pengusaha kapal ikan dalam penerapan kebijakan model VMS lebih banyak disebabkan oleh keterbatasan informasi yang mereka dapatkan atas manfaat yang dirasakan dari teknologi ini. Seperti yang dituliskan oleh Kompas 15 Juli 2004, ditinjau dari aspek sosial model VMS akan memberikan manfaat sebagai berikut (1) nelayan tradisional akan mendapatkan jaminan usaha yang pasti; (2) terkikisnya potensi konflik sosial, khususnya antara perusahaan perikanan besar dengan menengah; dan (3) adanya peningkatan kesejahteraan yang disebabkan adanya peningkatan produksi. Dengan demikian, jika ditinjau dari tiga manfaat tersebut penerapan VMS merupakan peluang yang secara sosial
ekonomi dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat nelayan. Manfaat lain yang juga merupakan daya tarik dari program VMS adalah tersedianya fasilitas layanan website VMS secara gratis, melalui sistem website VMS ini memungkinkan perusahaan perikanan untuk memantau kapal perikanan yang mereka miliki tanpa memandang letak geografisnya, dan diharapkan melalui penyediaan fasilitas pelayanan ini dapat merupakan insentif atau rangsangan bagi pengusaha perikanan untuk tertarik mengikuti program VMS.
5.2.1.4 Aspek Biologi
Tinjauan terhadap aspek biologi adalah berkaitan dengan sumber daya ikan, seperti yang dituliskan oleh Kompas 15 Juli 2004 yang mengupas ”Menekan Kerugian Negara”, potensi sumber daya ikan diperkirakan mencapai 6,2 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan 3,7 juta ton per tahun. Sumber daya perikanan ini umumnya bersifat common property artinya kepemilikannya bersifat umum serta open access, yang berarti pula akses terhadapnya bersifat terbuka. Sumber daya perikanan juga bersifat renewable (mampu pulih), namun keberadaannya bukan tidak terbatas. Hal tersebut menjadi latar belakang perlunya sumberdaya perikanan dikelola dengan baik guna mencegah upaya penangkapan yang melewati ambang kemampuan regenerasinya (over fishing).
Berkaitan dengan kegiatan over fishing, seperti yang diberitakan oleh Kompas, 19 November 2003, dituliskan bahwa Indonesia mengalami kerugian sebesar 1-4 milyar dollar AS per tahun akibat kegiatan pencurian ikan, namun kerugian terbesar adalah kerugian atas hilangnya sumber daya ikan itu sendiri. Kondisi ini memperlihatkan, betapa Indonesia belum mampu dalam mengawasi sumber daya ikan akibat pencurian dan penangkapan yang tidak terkendali.
Menurut ketentuan Code of Conduct for Responsible Fisheries (FAO, 1995) menetapkan bahwa negara bertanggung jawab menyusun serta mengimplementasikan sistem MCS terhadap pengelolaan penangkapan ikan. Konvensi hukum laut PBB 1982 (United Nations Convention Law of the Sea) menyebutkan pula bahwa pengelolaan sumber daya ikan mempunyai tiga tujuan utama. Pertama, pemanfaatan sumber daya ikan secara rasional. Kedua, pelestarian sumber daya ikan. Ketiga, keserasian usaha pemanfaatan. Bertitik
tolak dari kenyataan tersebut, dapat ditarik suatu benang merah, bahwa setiap negara mempunyai kewajiban melakukan pengelolaan sumber daya ikan secara lestari dan bertanggung jawab. Dalam konteks inilah VMS sebagai bagian dari MCS (Monitoring, Control, and Surveillance) menjadi sangat penting dan relevan.
Ketentuan FAO tersebut akan menjadi sebuah ancaman yang cukup serius bagi Indonesia yang menuntut Indonesia melakukan pengawasan terhadap pemanfaatan sumberdaya ikan melalui pengembangan sistem pengawasan .
5.2.2 Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan 5.2.2.1 Peraturan Hukum dan Kebijakan Internal
Keberadaan peraturan pendukung secara internal seperti Kepmen Nomor 29, belum seutuhnya mampu mendorong pelaksanaan VMS di Indonesia. Sehingga DKP membutuhkan peraturan yang lebih rinci untuk dapat menetapkan VMS secara efektif, termasuk kebijakan-kebijakan di bidang financial yang menyangkut pembiayaan transmitter dan air time.
Indikasi masih lemahnya kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mengatur operasional implementasi VMS adalah masih bermasalahnya operasional pemasangan perangkat transmitter sehingga berakibat tidak tercapainya target pemasangan perangkat tersebut.
5.2.2.2 Kelembagaan
Lembaga pengelola VMS yang ada saat ini berada di bawah Dirjen PSDKP yang dioperasionalkan oleh PMO VMS di bawah Direktur Sarana dan Prasarana PSDKP. Sumber daya manusia yang ada di lembaga PMO VMS adalah pejabat atau personil yang masih bertugas menjalankan tanggung jawab fungsional di direktorat masing-masing. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya tumpang tindih antara tugas fungsional dengan tugas pengembangan penerapan VMS. Pimpinan PMO yang masih merangkap pada jabatan Eselon III seringkali mengalami kesulitan dalam berkordinasi dengan pejabat Eselon II pada internal DKP maupun pada instansi lain. Akibatnya koordinasi dalam pengambilan keputusan sulit dilakukan karena kurang terlibatnya para pejabat yang memiliki
kewenangan dalam pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan lembaga integrator sebagai pengelola sistem VMS yang berada di bawah menteri dan mampu mengkoordinasikan semua lembaga internal (PSDKP, BRKP dan DJPT) mapun eksternal (TNI AL, POLAIRUT, dan Kejaksaan) yang terkait dengan sistem VMS.
Identifikasi lainnya seperti yang diungkapkan di Kompas 13 Juli 2004, “Bisnis Industri Perikanan Masih Terapung-apung“ dituliskan bahwa secara lembaga TNI AL masih memiliki keterbatasan anggaran, peralatan dan personel. Kebutuhan standar dalam mengamankan laut yuridis nasional tidak kurang dari 239 KRI dan 114 pesawat udara patroli maritim, sedangkan kebutuhan minimal adalah 160 KRI dan 64 pesawat udara, namun kemampuan yang ada saat ini hanya 114 KRI dan 53 pesawat yang masih terbatas.
Selain itu data yang diperoleh melalui DKP (2004) posisi kapal pengawas yang ada saat ini seperti yang tercantum pada Tabel 26. Daftar penempatan kapal pengawas lengkap dengan informasi pangkalan dan daerah operasi disajikan pada Lampiran 5.
Tabel 26 Kemampuan Armada Pengawas
No Kapal Pengawas Jumlah Penempatan
1 Baracuda 01 1 Ketapang (Kalbar)
2 Baracuda 02 1 Tanjung Pandan (Babel)
3 Hiu 001 1 PPS Bungus (Sumbar)
4 Hiu 002 1 Bitung (Sulut)
5 Hiu 003 1 PPS Jakarta
6 Hiu 004 1 Larantuka (NTT)
7 Hiu 005 1 Merauke (Papua)
8 Hiu 006, 007, 008* 3 Sorong, Belawan, Tarakan
9 Todak 01, 02* 2 Kendari, Gorontalo
10 Marlin 01-06* (Speedboat) 6 Bali, Mataram, Cilacap,
Kotabaru, Makasar * Pengadaan tahun 2003 (belum beroperasi)
Dilihat dari jumlah dan kemampuan armada pengawas yang dimiliki saat ini, seperti yang diperlihatkan pada Tabel 26, terlihat bahwa komposisi jumlah dan kemampuan armada pengawas yang ada saat ini masih jauh dari yang diharapkan dalam mengawasi wilayah laut Indonesia yang demikian luas. Sehingga kondisi menunjukan sangat memprihatinkan dan kemampuan yang dimiliki sangat lemah untuk mengoptimalkan sistem pengawasan perairan laut Indonesia. Apabila dibandingkan dengan Malaysia yang luas wilayah lautnya lebih kecil dengan Indonesia tetapi memiliki armada kapal pengawas yang lebih banyak. Sistem MCS di Malaysia didukung oleh kemampuan surveillance 85 unit kapal dari berbagai ukuran yang tersebar di 26 pangkalan di seluruh Malaysia, termasuk Sabah dan Sarawak
Demikian halnya untuk kondisi sumber daya manusia, saat ini jumlah pegawai PPNS sebanyak 554 pegawai sedangkan untuk WASDI sebanyak 124 pegawai. Jumlah sumber daya yang ada saat ini pun masih jauh dari apa yang diharapkan dalam sistem pengawasan kapal penangkap ikan. Namun demikian usaha dari DKP untuk menetapkan target jumlah dan kemampuan sumber daya tersebut untuk terus ditambah, dimana DKP mengharapkan tambahan 120 pegawai dalam setiap tahunnya. Kondisi tersebut merupakan kelemahan secara lembaga yang berpengaruh pada penerapan model VMS dalam sistem pengawasan kapal ikan.
5.2.2.3 Aspek Teknologi VMS
Secara teknologi, VMS merupakan salah satu teknologi monitoring yang memiliki kehandalan dalam melakukan fungsi pengawasan dan pemantauan kapal penangkap ikan, melalui sistem satelit, akan mudah mengetahui posisi kapal. Posisi kapal dapat dipantau dengan menggunakan jasa satelit navigasi (Global Positioning System/GPS) ataupun satelit lain yang berfungsi untuk menentukan lokasi dengan menempatkan penerima sinyal di kapal.
Sesuai dengan tujuannya, seperti yang tertuang di dalam Kepmen Nomor 29 Tahun 2003, tujuan dari penyelenggaraan sistem pemantauan kapal perikanan melalui teknologi VMS adalah:
(1) Meningkatkan pengelolaan sumber daya ikan melalui pengendalian dan pemantauan terhadap kapal perikanan.
(2) Meningkatkan pengelolaan usaha perikanan yang dilakukan oleh perusahaan perikanan.
(3) Meningkatkan ketaatan kapal perikanan yang melakukan kegiatan penangkapan dan/atau pengangkutan ikan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Memperoleh data dan informasi tentang kegiatan kapal perikanan dalam rangka pengelolaan sumber daya ikan secara lestari dan berkelanjutan.
Dilihat dari kemampuannya, teknologi VMS memiliki kemampuan sebagai berikut:
(1) Kemampuan dalam monitoring gerak kapal yang menyangkut sebagai berikut:
1) Posisi 2) Kecepatan
3) Jalur lintasan (tracking)
4) Waktu terjadinya pelanggaran, dalam hal terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh kapal ikan maka beberapa aspek yang dapat diindikasikan yaitu: penyalahgunaan alat tangkap, pelanggaran wilayah tangkap, kemungkinan transhipment, ketaatan dalam penggunaan Tx dan Keypad, ketaatan di titik lapor/pelabuhan.
5) Keamanan pelayaran
6) Membantu memberikan informasi posisi kapal dalam beberapa kasus kejahatan di laut seperti kehilangan kontak, pembajakan dan kecelakaan; 7) Manajemen sumber daya ikan
a) Mengetahui dengan lebih nyata di lapangan usaha penangkapan yang dilakukan di perairan mana saja, intensitasnya berapa, sehingga perkiraan sumber daya yang telah dimanfaatkan dapat diketahui; b) Dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pengambilan keputusan
c) Integrasi dengan sistem lain
Dengan sistem radar satelit alat deteksi lainnya untuk mengidentifikasi kapal yang tidak memiliki transmitter yang merupakan indikasi kapal ilegal.
Keuntungan atas penerapan teknologi VMS yang dapat diperoleh atau dirasakan diantaranya adalah:
(1) Bagi Pemerintah
1) Mengurangi kerugian negara dari kegiatan illegal fishing dan illegal export;
2) Dapat melakukan pengendalian dalam pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan;
3) Dapat memperoleh data dan informasi mengenai pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara cepat dan akurat.
(2) Bagi Perusahaan Perikanan
1) Adanya jaminan berusaha (situasi yang kondusif, aman dan kepastian usaha jangka panjang);
2) Akses data dan informasi mengenai potensi dan pasar yang cepat dan akurat;
3) Memudahkan pengawasan operasional armada; (3) Bagi Para Nelayan Tradisional
1) Adanya jaminan berusaha
2) Menghilangkan potensi konflik sosial khususnya dengan perusahaan perikanan menengah dan besar;
3) Adanya peningkatan kesejahteraan disebabkan adanya peningkatan efisiensi produksi.
Paparan di atas telah ditunjukkan kemampuan dari teknologi VMS yang mampu melakukan sistem pengawasan kapal ikan, namun demikian di sisi lain terdapat kelemahan bagi Indonesia yang belum memiliki kemampuan dalam mengembangkan teknologi VMS yang berakibat pada tingginya tingkat ketergantungan Indonesia kepada vendor luar negeri, dan kemampuan teknologi VMS yang ada saat ini masih terbatas, sehingga belum berperan secara optimal.
5.2.3 Analisis Strategi Penerapan VMS dengan Matriks SWOT
Berdasarkan hasil identifikasi peluang-ancaman dan kekuatan-kelemahan di atas maka dapat disarikan ke dalam matriks SWOT untuk mendapatkan formulasi prioritas strategi penerapan model VMS dalam sistem pemantauan kapal ikan di Indonesia. Aspek SWOT harus diambil dari keenam aspek ekonomi, sosial, biologi, teknologi, kelembagaan dan hukum/kebijakan. Untuk mendapatkan peluang dan ancaman ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, biologi dan hukum/kebijakan eksternal; sedangkan untuk mendapatkan kekuatan dan kelemahan ditinjau dari aspek kelembagaan (meliputi otoritas dan koordinasi antar lembaga, pendanaan, SDM dan kemampuan), aspek teknologi dan kebijakan internal yang pendukung penerapan VMS.
Tabel 27 Matriks SWOT Strategi Penerapan VMS
No STRENGTHS – S No WEAKNESSES – W
1 Aspek Lembaga
Sudah adanya lembaga yang berwenang untuk pengawasan sumberdaya ikan Adanya perencanaan pengadaan SDM guna mendukung implementasi VMS
1 Aspek Lembaga:
a. Lembaga PMO yang ada tidak dapat
menjalankan fungsinya secara optimal b. Belum adanyan integrasi secara intensif
dari masing-masing lembaga dalam sistem pengawasan kapal ikan c. Kurangnya fasilitas pendukung bagi
Lembaga yg memiliki kwenangan pengawasan kapal ikan
d. Dukungan SDM yang belum memiliki
kapabilitas dalam memanfaatkan dan mengembangkan teknologi VMS e. Keterbatasan dana dalam mendukung
sistem pengawasan kapal ikan
2 Aspek Teknologi VMS :
a. Sudah memiliki Pusat Koordiantor pengendalian VMS, dan 2 regional center di batam dan ambon
b. Sistem Pemantauan dengan VMS sudah dapat dioperasikan oleh DKP
2 Aspek Teknologi VMS :
a. Ketergantungan yang tinggi pada vedor perangkat VMS
b. kemampuan teknologi VMS masih terbatas,
tidak mampu menganalisis indikasi
pelanggaran secara ”on line”
3 Aspek Kebijakan:
- Sudah memiliki peraturan hokum yang mengatur VMS secara khusus (Kepmen 29)
3 Aspek Kebijakan Internal:
Kebijakan pendukung yang berkaitan dengan operasi pelaksanaan VMS masih belum lengkap
No OPPORTUNITIES – O (PELUANG) No SO STRATEGIES No WO STRATEGIES
1 Aspek Politik dan Kebijakan:
a. UU NO 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
sebagai landasan yang kuat dalam membangun sistem pengawasan
b. Akan adanya Inpres tentang ilegal fishing
1 Menyediakan kebijakan pendukung dalam
pengawasan VMS (O1;S3) Membentuk SDM yang memiliki kemampuan dalam pengawasan (O1;S1)
1 Menyediakan kebijakan pendukung dalam
pengawasan VMS (O1;W3,W5)
Membentuk lembaga yang memiliki otoritas penuh dalam pengawasan yang didukung dengan fasilitas pendukung (W3;O1)
2 Aspek Ekonomi:
Sektor Perikanan Laut memiliki pertumbuhan produksi yang terus meningkat, dan Indonesia sebagai negara produsen terbesar ketiga, dan perikanan tangkap memberikan kontribusi pada PDB
2 Pemanfaatan Teknologi VMS sebagai sistem
pengawasan kapal ikan (O1, O2;W1) 2 Pemanfaatan Teknologi VMS sebagai sistem pengawasan kapal ikan (O1, O2;W1) Memberdayakan lembaga yang memiliki otoritas penuh dalam pengawasan kapal (O1;W1,3)
3 Aspek Biologi :
Perairan laut Indonesia yang sangat luas dengan potensi kekayaan ikan yang berlimpah
3 Membangun sistem pengawasan perikanan
yang terintegrasi (O4;W4) 3 Membangun sistem pengawasan perikanan yang terintegrasi (O4;W4)
No THREATS – T (ANCAMAN) No ST STRATEGIES No WT STRATEGIES
1 Aspek Politik dan Kebijakan Eksternal:
Tuntutan dunia internasional terhadap lemahnya pelestarian budidaya laut Indonesia
1 Menyediakan kebijakan pendukung dalam
pengawasan perairan laut Indonesia (S2;T1) 1 Menyediakan perangkat hukum dalam sistem pengawasan penagkapan ikan (T1;W3)
2 Aspek Ekonomi:
Hilangya pendapatan devisa pada sektor perikanan laut akibat tingginya tingkat pencurian ikan laut
2 Pemanfaatan Teknologi VMS sebagai sistem
pengawasan kapal pengakapan ikan (S2;T2) 2 Pemanfaatan Teknologi VMS sebagai sistem pengawasan kapal pengakapan ikan (T2;W1-5)
3 Aspek Sosial dan Budaya:
Perilaku pengusaha kapal ikan yang miliki kesadaran rendah, keraguan dalam mengikuti VMS dan menolak pemasangan alat VMS serta tidak disiplin dalam mengaktifkan alat
Keraguan pengusaha ikan terhadap pembiayaan VMS Tingkat keamanan alat VMS yang terpasang di Kapal tidak terjamin
3 Melakukan penegakkan hukum dalam
sistem pengawasan penangkapan ikan dan untuk menjaga keamanan perangkat hukum (S2;T3)
Menyusun metode pembebanan biaya VMS yang memiliki daya tarik bagi pengusaha penangkapan ikan (T3;S3)
3 Melakukan penegakkan hukum dan nyediakan
perangkat hukum yang dapat mewajibkan kepada semua pemilik kapal ikan (T3;W3) Menyusun metode pembebanan biaya VMS yang memiliki daya tarik bagi pengusaha ikan (T3;W3)
4 Aspek Biologi
Tingginya tingkat pencurian ikan oleh kapal lokal dan asing (1.5juta ton/tahun)
4 Menyediakan perangkat hukum dalam
sistem pengawasan penagkapan ikan (S2;T4) 4 Menyediakan perangkat hukum dalam sistem pengawasan penagkapan ikan (T4;W2)
Sumber : Hasil Analisis
Atas dasar matriks SWOT di atas, maka pilihan atau alternatif strategi di atas dikelompokan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:
(1) Strategi Sistem Pembebanan Biaya VMS yang dapat memberikan keringanan biaya bagi pengusaha kapal ikan. Strategi ini menjadi perlu untuk dilaksanakan karena adanya perilaku masyarakat (pengusaha) yang
kurang memahami manfaat teknologi VMS untuk jangka panjang sehingga merasa terbebani terhadap biaya pemasangan perangkat VMS. Pertimbangan atas munculnya strategi ini didasari kepada analisis SWOT di atas dengan pertimbangan pada poin Menyusun metode pembebanan biaya VMS yang memiliki daya tarik bagi pengusaha kapal ikan (T3,S3; T3,W3). (2) Strategi optimalisasi lembaga, strategi ini dimunculkan atas pertimbangan
dari strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT di atas, yaitu Memberdayakan lembaga yang memiliki otoritas penuh dalam pengawasan kapal (O1;W1,3).
(3) Strategi pengembangan sumber daya manusia, strategi ini dimunculkan atas pertimbangan dari strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT di atas, yaitu Membentuk SDM yang memiliki kemampuan dalam pengawasan yang didukung dengan fasilitas pendukung (O1,W1; O1,S1).
(4) Strategi penegakan hukum dalam sistem pemantauan kapal ikan, strategi ini dimuncukan atas pertimbangan dari beberapa strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT di atas, diantaranya adalah (1) Menyediakan kebijakan pendukung dalam pengawasan VMS (O1,S3; O1;W3; T1,S2;T1,W3), (2) Menyediakan perangkat hukum dalam sistem pengawasan penagkapan ikan (T3,S2;T4,S2), dan (3) Menyediakan perangkat hukum yang dapat mewajibkan kepada semua pemilik kapal ikan (T3;W3).
(5) Strategi optimalisasi sistem pengawasan kapal ikan, strategi ini dimuncukan atas pertimbangan dari beberapa strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT di atas, diantaranya adalah Pemanfaatan Teknologi VMS sebagai sistem pengawasan kapal ikan (O1-2,W1;).
Dari kelima strategi di atas perlu dikelompokkan menjadi tiga pilihan strategi yang dilakukan analisis AHP berdasarkan pertimbangan manfaat dan biaya untuk menetapkan model strategy yang diprioritaskan untuk dijalankan dalam menerapkan kebijakan VMS, yaitu sebagai berikut
(1) Strategi pembebanan biaya penerapan VMS yang dapat memberikan keringanan biaya bagi pengusaha kapal ikan. Strategi ini menjadi perlu untuk dilaksanakan karena adanya perilaku masyarakat (pengusaha ikan)
yang kurang memahami manfaat teknologi VMS untuk jangka panjang sehingga merasa terbebani terhadap biaya pemasangan perangkat VMS. (2) Strategi optimalisasi lembaga dan pengembangan sumber daya manusia,
strategi ini dimunculkan atas pertimbangan penggabungan antara strategi pemberdayakan lembaga dan SDM yang memiliki otoritas penuh dalam pengawasan yang didukung dengan fasilitas pendukung.
(3) Strategi penegakan perangkat hukum dan sistem pengawasan kapal ikan, strategi ini dimuncukan atas pertimbangan penggabungan antara penegakan perangkat hukum dengan pemanfaatan teknologi VMS sebagai sistem pengawasan kapal ikan (O1-2,W1).
(4) Ketiga strategi di atas selanjutnya dilakukan analisis manfaat dan biaya untuk dipilih menjadi strategi yang memiliki prioritas tertinggi.
Analisis keputusan dalam penerapan metode VMS dengan menggunakan piranti AHP secara hirarki ditunjukan pada bagian metodologi
5.3 Analisis Pemilihan Strategi Penerapan VMS dengan AHP
AHP (Analitic Hierarchy Proces) merupakan metode pengambilan keputusan, yang peralatan utamanya adalah sebuah hierarki. Hierarki suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur dipecah dalam kelompok-kelompoknya dan kemudian diatur menjadi suatu hierarki. Elemen yang mempunyai kesamaan dikelompokkan menjadi satu. Untuk menentukan penting tidaknya suatu elemen dibandingkan elemen lainnya, digunakan nilai atau skala terbatas (Saaty, 1992). Data utama AHP adalah persepsi manusia yang dianggap ahli. Kriteria ahli bukan berarti jenius, pintar dan bergelar doktor, tetapi lebih mengacu pada orang yang mengerti benar permasalahannya (Permadi, 2002).
5.3.1 Pemilihan Strategi Penerapan VMS Berdasarkan Manfaat untuk Masing-Masing Aspek (Analisis Manfaat)
Dalam menganalisis manfaat penggunaan metode VMS bagi pengawasan kapal penangkap ikan dilakukan melalui analisis AHP dengan menggunakan tinjauan terhadap manfaat dari penerapan metode VMS. Penilaian manfaat penerapan metode VMS ditinjau dari enam aspek yaitu: ekonomi, sosial, biologi,
teknologi, kelembagaan dan hukum atau peraturan. Diagram AHP untuk aspek manfaat disajikan pada bagian metodologi Bab 3 disertasi ini, sedangkan tinjauan secara manfaat atas penerapan metode VMS untuk sistem pengawasan kapal ikan yang ditinjau dari keenam aspek seperti yang diperlihatkan pada Tabel 28.
Tabel 28 Tingkat Kepentingan Manfaat Penerapan VMS dari Masing-Masing Aspek
Aspek Bobot Manfaat Bagi Pengusaha Bobot Manfaat Bagi Pemerintah
Ekonomi 0.3838 0.3219 Sosial 0.1778 0.1382 Biologi 0.1763 0.1103 Teknologi 0.0538 0.1663 Kelembagaan 0.0274 0.0165 Hukum 0.1810 0.2468 Total 1.0000 1.0000
Sumber: Hasil Penelitian dari 5 Responden Pakar dan Praktisi Perikanan Kelautan dengan pengumpulan mengunakan metode AHP, 2005
Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 28, terlihat bahwa manfaat ekonomi yang paling besar atas penerapan model VMS dapat dirasakan oleh pemerintah maupun pengusaha kapal ikan. Hasil ini mengindikasikan bahwa penerapan model VMS akan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengelolaan sumber daya ikan sehingga dapat memberikan peningkatan pendapatan nilai ekonomis. Seperti yang dipaparkan pada tinjauan aspek ekonomi pada sub bab sebelumnya Indonesia memiliki kekayaan sumber daya ikan (SDI) yang sangat melimpah, terbukti bahwa Indonesia merupakan negara produsen ikan terbesar ketiga di dunia. Kontribusi terhadap PDB pun sektor perikanan tangkap memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu sebesar 79,49% pada tahun 2003 (Suara Pembaruan, 5 Januari 2005). Produksi perikanan pada periode 2000-2004 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,21% per tahun, dari 5,107 juta ton pada tahun 2000 menjadi 5,948 juta ton pada tahun 2003. Apabila penerapan model VMS berhasil, dan usaha penangkapan ikan dapat dikendalikan dan kelestarian sumberdaya ikan lebih terjaga, maka peningkatan produksi