DETERMINAN PROFITABILITAS
PERBANKAN NASIONAL
DI INDONESIA
DETERMINANTS OF PROFITABILITY OF NATIONAL BANKING IN INDONESIA
Nur Hayati dan Musdholifah
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya Jl. Ketintang, Surabaya, 60231
Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan(NPL), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Interest Margin (NIM) terhadap Profitabilitas perbankan yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA) bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2010. Sampel yang digunakan adalah 14 bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dengan kriteria tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan uji hipotesis yaitu uji t dan uji F. Sebelum menggunakan analisis regresi berganda, dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah secara simultan CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM berpengaruh terhadap profitabilitas sebesar 44%. Sedangkan secara parsial CAR, BOPO, dan NIM berpengaruh terhadap profitabilitas, NPL dan LDR tidak berpengaruh terhadap profitabilitas.
Kata kunci : ROA, CAR, NPL, BOPO, LDR, NIM. Abstract
This research aims to analyze the effect of Capital Adequacy Ratio (CAR), Non-Performing Loans (NPL), Operating Expenses to Operating Income (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Interest Margin (NIM) on the profitability proxy with return on assets (ROA) at commercial banks listed on the Indonesia Stock Exchange from 2005 to 2010. The samples used are 14 commercial banks listed on the Indonesia Stock Exchange. The samples are taken using purposive sampling method with certain criteria. The method used in this study is to use multiple regression analysis to test the hypothesis that the t test and the f test. Before using a multiple regression analysis, performed the classic assumption test first.
The results obtain in this study are simultaneously CAR, NPL, BOPO, LDR, and NIM effect on profitability by 44%. While partially CAR, BOPO, and NIM effect on profitability and LDR NPL does not affect profitability.
Keywords : ROA, CAR, NPL, BOPO, LDR, NIM
PENDAHULUAN
Profitabilitas merupakan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba yang dinyatakan dalam persentase. Lebih lanjut karena pengertian
Vol. 1 No. 1 Edisi Maret 2014:77 – 96 ISSN 2338-4409 Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
profitabilitas sering dipergunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal di dalam perusahaan perbankan, maka profitabilitas sering pula dimaksudkan sebagai kemampuan perusahaan perbankan dengan seluruh modal yang di dalamnya bertujuan menghasilkan laba (Dendawijaya, 2005:20).
Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan perbankan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan perbankan yang akan diterapkan. Tingkat kinerja profitabilitas suatu perusahaan perbankan dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan dengan cara menganalisis dan menghitung rasio-rasio dalam kinerja profitabilitas. Perusahaan perbankan melakukan analisis rasio-rasio keuagan agar dapat mengetahui keadaan serta perkembangan keuangan perusahaan perbankan dengan hasil yang telah dicapai di waktu lampau dan di waktu yang sedang berjalan, informasi keuangan yang rinci dan rumit mudah dibaca dan ditafsirkan, sehingga laporan suatu perusahaan perbankan mudah dibandingkan dengan laporan keuangan perusahaan perbankan lain, serta lebih cepat melihat perkembangan dan kinerja perusahaan perbankan secara periodik (Bastian dan Suhardjono, 2006:62).
Pada penelitian ini faktor yang dilihat adalah faktor kuantitatif yaitu melalui rasio keuangan bank. Untuk menilai kinerja perusahaan perbankan umumnya digunakan enam aspek penilaian, yaitu: Capital, Assets, Management, Earnings, Liquidity, Sensitivity to
Market Risk yang biasa disebut CAMELS. Penilaian CAMELS ini dimaksudkan untuk
mengukur apakah manajemen bank telah melaksanakan sistem perbankan dengan asas-asas yang sehat. Rasio keuangan tertentu berperan penting dalam evaluasi kinerja keuangan dan pertumbuhan laba serta dapat digunakan untuk memprediksi kelangsungan usaha baik yang sehat maupun yang tidak sehat (Triandaru dan Totok, 2006:17).
Tingkat profitabilitas pada penelitian ini akan diukur dengan menggunakan rasio keuangan Return On Asset (ROA) karena ROA lebih memfokuskan pada kemampuan perusahaan perbankan untuk memperoleh profit dalam operasi perusahaan perbankan secara keseluruhan. Selain itu juga, dalam penentuan tingkat kesehatan suatu bank, Bank Indonesia lebih mementingkan penilaian ROA daripada ROE karena Bank Indonesia lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan aset yang dananya sebagian besar berasal dari dana simpanan masyarakat sehingga ROA lebih mewakili dalam mengukur tingkat profitabilitas perbankan sedangkan Return on Equity (ROE)
hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan perbankan dalam bisnis tersebut (Dendawijaya, 2005:29).
Tabel 1.
Rata-rata Nilai Rasio ROA, CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM Bank Umum Tahun 2005 – 2010
Sumber : Statistik Bank Indonesia (laporan keuangan yang diolah).
Dari Tabel 1. di atas menunjukkan adanya fenomena gap yang terlihat dari dinamika rasio ROA, CAR, BOPO, NPL, LDR, dan NIM Bank Umum yang tidak menentu (seharusnya pengaruh CAR, NIM, dan LDR berbanding lurus terhadap ROA serta pengaruh BOPO, dan NPL berbanding terbalik terhadap ROA). Sebagai contoh tahun 2005 ke 2006 ketika ROA naik, NPL dan BOPO yang seharusnya berbanding terbalik terhadap ROA juga mengalami kenaikan, NIM yang seharusnya berbanding lurus justru mengalami penurunan. Di tahun 2006 ke 2007 ketika ROA naik CAR yang seharusnya berbanding lurus mengalami penurunan. Di tahun 2007 ke 2008 ketika ROA mengalami penurunan NPL yang seharusnya berbanding terbalik juga mengalami penurunan tetapi LDR yang seharusnya berbanding lurus mengalami kenaikan. Di tahun 2008 ke 2009 ketika ROA kembali naik, BOPO yang seharunya berbanding terbalik juga mengalami kenaikan tetapi LDR dan NIM yang seharusnya berbanding lurus mengalami penurunan. Di tahun 2009 ke 2010 ketika ROA naik BOPO yang seharusnya berbanding terbalik juga mengalami kenaikan.
Dilihat selama periode enam tahun tersebut, maka perlu diajukan penelitian untuk menganalisis pengaruh CAR, BOPO, NPL, LDR, dan NIM terhadap kinerja perbankan yang diproksikan dengan ROA pada bank-bank yang terdaftar di BEI periode 2005–2010.
Hal tersebut diperkuat dengan adanya beberapa riset gap antara peneliti satu dengan peneliti yang lain, beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengukuran kinerja perbankan dengan menggunakan rasio keuangan untuk menilai profitabilitas perbankan antara lain: Penelitian yang dilakukan oleh Werdaningtyas (2002), Kosmidou (2008),
No Rasio 2005 (%) 2006 (%) 2007 (%) 2008 (%) 2009 (%) 2010 (%) 1. ROA 1.59 1.61 1.98 1.62 2.60 3.00 2. CAR 17.36 19.82 19.43 16.80 17.42 18.06 3. NPL 5.39 6.09 4.49 3.99 3.31 2.98 4. BOPO 86.38 88.29 77.86 86.27 86.63 90.47 5. LDR 68.53 68.81 73.18 82.13 72.88 75.31 6. NIM 5.41 5.39 5.85 5.82 5.56 6.26
Tanna, et al (2006), Mawardi (2005), Yuliani (2007), Vong and Chan (2008), Sarifudin (2005), Mamatzakis dan Remoundos (2003).
Penulis tertarik untuk meneliti Bank Umum dikarenakan Bank Umum sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan Bank Persero lebih banyak dipercaya oleh nasabah atau investor karena besarnya bunga yang diberikan serta lalu lintas pembayaran instan yang mendukungnya, sehingga nasabah dan investor merasa aman serta nyaman dalam berinvestasi di kedua jenis bank ini (Hasibuan, 2005:36).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian tentang Determinan Profitabilitas Perbankan Nasional Di Indonesia (Studi pada Bank Umum yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2010) dirasa penting untuk dilakukan. Rasio yang digunakan dalam analisis ini adalah ROA, CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM.
Penelitian ini sendiri bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh ROA, CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM terhadap profitabilitas perbankan nasional di Indonesia periode 2005-2010.
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Bank
Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sedangkan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa tiga fungsi utama bank dalam pembangunan ekonomi yaitu: 1) menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan, 2) menyalurkan dana ke dana masyarakat dalam bentuk kredit dan 3) melancarkan transaksi perdagangan serta peredaran uang (Kuncoro dan Suhardjono, 2002:10).
Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha yang secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dalam berbagai buku perbankan, suatu bank didefenisikan sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah menghimpun dana dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dalam bentuk kredit serta
memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang (Hasibuan, 2005;36).
Laporan Keuangan
Sumber utama variabel yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan perbankan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan tersebut dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang dapat dijadikan dasar kinerja keuangan perbankan.
Laporan keuangan perbankan merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan perbankan pada suatu periode tertentu. Laba atau profit merupakan salah satu indikator kinerja suatu perusahaan dan dijadikan tolak ukur dalam mengukur kinerja perusahaan perbankan.
Secara umum laba dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan para investor dan kreditor dalam penanaman modalnya walaupun hal tersebut bukan satu-satunya faktor yang mendasari mereka dalam berinvestasi. Selain itu laba atau profit juga merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan bank, yaitu penilaian dari segi profitabilitasnya (Bastian dan Suhardjono, 2006:62).
Rasio-Rasio Keuangan Bank
Penelitian suatu bank tentunya tidak terlepas dari rasio-rasio perhitungan yang digunakan dan telah ditetapkan sebelumnya oleh Bank Indonesia sebagai pembina serta pengawasan perbankan di Indonesia. memberikan nilai pada bank di mata masyarakat dan profitabilitas diharapkan mampu tercapai (Triandaru dan Totok, 2006:15).
Penilaian Kesehatan Bank dengan Metode CAMELS
Ukuran untuk penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh Bank Indonesia. Seperti yang tertera dalam Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang isinya adalah:
1. Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia.
2. Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan
memperhatikan aspek permodalan, kualitas aset, kualitas manajemen, profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.
3. Bank wajib memelihara kesehatan bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang tentang perbankan
tersebut, Bank Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yang mengatur tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan bank. Dalam melakukan penilaian terhadap tingkat kesehatan bank, Bank Sentral biasanya menggunakan kriteria CAMELS yaitu Capital Adequacy, Assets Quality, Manajemen Quality, Earnings, Liquidity, Sensitivity to Market Risk. CAMELS pada dasarnya merupakan metode penilaian kesehatan bank yang meliputi enam aspek (Triandaru dan Totok, 2006:17), yaitu:
a. Capital, untuk rasio kecukupan modal. b. Assets, untuk rasio kualitas aktiva.
c. Management, untuk menilai kualitas manajemen.
d. Earning, untuk rasio-rasio rentabilitas bank. e. Liquidity, untuk rasio-rasio likuiditas bank.
f. Sensitivity, untuk rasio-rasio sensitivitas bank terhadap risiko pasar.
Faktor-faktor yang Menjadi Penilaian Kinerja Perbankan Aspek Permodalan
Aspek ini yang di nilai adalah permodalan yang ada didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital
Adequaty Ratio) yang telah ditetapkan BI. CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur
kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang. aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko (Dendawijaya, 2005:122). Rumus CAR yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah sebagai berikut :
100% X rasio menurut tertimbang Aktiva Modal CAR=
Aspek Kualitas Aset
Rasio NPL menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Rumus NPL yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah sebagai berikut :
100% X kredit Total bermasalah Kredit NPL=
Aspek Pendapatan (Earning)
Menurut Dendawijaya (2005:129) Aspek ini merupakan ukuran kemampuan bank dalam meningkatkan laba atau untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Rumus ROA, BOPO, dan NIM yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah sebagai berikut:
100% X aktiva Total bersih Laba ROA= 100% X l operasiona Pendapatan l operasiona Biaya BOPO= 100% X produktif aktiva Total bersih bunga Pendapatan NIM= Aspek Likuiditas
LDR yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan bank dengan dana pihak ketiga bank. Rumus LDR yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah sebagai berikut :
100% X ketiga pihak dana Total diberikan yang kredit Jumlah = LDR HIPOTESIS
Berdasarkan pembahasan di atas maka diajukan sejumlah hipotesis sebagai berikut :
H1 : Diduga CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM berpengaruh secara simultan terhadap
profitabilitas perbankan nasional di Indonesia periode 2005-2010.
H2a : Diduga CAR berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perbankan
nasional di Indonesia periode 2005-2010.
H2b : Diduga NPL berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perbankan
nasional di Indonesia periode 2005-2010.
H2c : Diduga BOPO berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perbankan
nasional di Indonesia periode 2005-2010.
H2d : Diduga NIM berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perbankan
H2e : Diduga LDR berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perbankan
nasional di Indonesia periode 2005-2010.
METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perbankan nasional di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai dengan 2010. Sampel penelitian ini adalah perbankan nasional di Indonesia meliputi bank umum swasta nasional devisa, bank umum swasta nasional non-devisa, dan bank persero. Pada penelitian ini BPR dan BPD tidak dimasukkan sebagai sampel walaupun termasuk dalam katagori perbankan nasional di Indonesia karena keduanya tidak melakukan lalu lintas pembayaran antar bank dan tidak memiliki hak untuk mengedarkan uang. Sampel dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria bank yang dijadikan sampel dalam penelitian ini seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 2.
Prosedur Pengambilan Sampel
No. Keterangan Jumlah
1 Bank Umum yang terdaftar di BEI periode 2005-2010 26
2 Bank Umum yang terdaftar di BEI periode 2005-2010 tetapi tidak
memiliki laporan keuangan lengkap periode 2005-2010 12
3 Bank Umum yang terdaftar di BEI periode 2005-2010 dan memiliki
laporan keuangan lengkap periode 2005-2010 14
Sumber : BEI (diolah penulis).
Dari kriteria tersebut, diperoleh 14 Bank Umum yang memenuhi syarat, yang masing-masing mempunyai laporan keuangan lengkap, sehingga jumlah observasi adalah 84. Adapun bank-bank umum tersebut dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Sampel Bank Umum
No. Kode Nama Perusahaan
1 INPC PT. Bank Arta Graha Internasional, Tbk 2 BBCA PT. Bank Central Asia, Tbk
3 MEGA PT. Bank Mega, Tbk
4 BBNP PT. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk 5 BSWD PT. Bank Swadesi, Tbk
7 PNBN PT. Bank Pan Indonesia, Tbk
8 BVIC PT. Bank Victoria International, Tbk 9 BDMN PT. Bank Danamon, Tbk
10 BNGA PT. Bank CIMB Niaga, Tbk
11 BABP PT. Bank Bumi Putera Indonesia, Tbk 12 BEKS PT. Bank Eksekutif Internasional, Tbk 13 NISP PT. OCBC NISP, Tbk
14 BBRI PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk
Sumber : Data diolah penulis.
Variabel Penelitian
Variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Adapun kriteria penilaian berdasarkan kinerja profitabilitas bank pada bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Rumus yang digunakan dalam perhitungan profitabilitas sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan ROA.
Sedangkan variabel bebas (independent) dalam penelitian ini seperti tersebut di bawah ini :
1. Capital Adequacy Ratio (CAR).
Capital Adequacy Ratio (CAR) yaitu rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. Rumus yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan CAR.
2. Non Performing Loan (NPL).
Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Rumus yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan NPL.
3. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio Beban Operasional (BOPO) yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. Beban operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional lainnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya.Rumus yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan BOPO.
4. Loan to Deposit Ratio (LDR).
Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan bank dengan dana pihak ketiga bank. Dana pihak ketiga terdiri dari tabungan, deposito dan giro. Rumus yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan LDR.
5. Net Interest Margin (NIM).
Net Interest Margin (NIM) yaitu rasio antara pendapatan bunga bersih dengan aktiva
produktif suatu bank. Rumus yang digunakan dalam perhitungan sesuai SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yaitu diukur dengan menggunakan NIM.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu data diperoleh dari beberapa literatur yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Penelusuran ini dilakukan dengan cara penelusuran dengan menggunakan komputer untuk data dalam format elektronik.
Data yang disajikan dalam format elektronik ini antara lain berupa data sekunder berupa laporan keuangan yang dipakai sebagai dasar pertimbangan dan pengolahan data dalam analisis.
Teknik Analisis Data
Data di dalam penelitian ini akan dianalisis dengan regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 11.5. Persamaan regresi dirumuskan sebagai berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5+ e
Dengan Y sebagai variabel dependent (ROA), α adalah konstanta, βi merupakan koefisien
regresi (dengan i = 1, 2, …, 5). Variabel independent CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM dinotasikan dengan X1, X2, …, X5 dan e sebagai standard error.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Hasil analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini telah lolos uji asumsi klasik yakni uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Setelah lolos dari uji asumsi klasik maka dilakukan uji hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan dalam dua tahap yakni uji F (uji serentak) dan uji t (uji parsial). Uji F
dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil uji F dalam tabel 4 diperoleh nilai F hitung sebesar 12,273 dengan probabilitas 0,000. Karena probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi profitabilitas bank atau dapat dikatakan bahwa CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas bank.
Tabel 4.
Uji Simultan (F test) ANOVA
F-value Sig.
12,273 0,000
Sumber: Output SPSS (diolah penulis).
Tabel 5 menunjukkan hasil analisis regresi berganda untuk mengetahui hasil uji t (uji parsial), diperoleh hasil bahwa variabel CAR, BOPO dan NIM secara signifikan berpengaruh terhadap profitabilitas bank yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi α kurang dari 5%. Sedangkan NPL dan LDR tidak berpengaruh terhadap profitabilitas bank karena memiliki nilai signifikansi α lebih besar dari 5%.
Tabel 5.
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Model
Unstandardized
Coefficients t Sig. Keterangan
B 1 (Constant) 0,088 4,935 0,000 CAR 0,157 2,793 0,007 Signifikan NPL -0,061 -1,931 0,054 Tidak Signifikan BOPO -0,068 -4,571 0,000 Signifikan LDR 0,022 1,919 0,055 Tidak Signifikan NIM 0,221 3,509 0,001 Signifikan
a. Dependent Variabel : ROA.
Sumber: Output SPSS (diolah penulis).
PEMBAHASAN
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM secara bersama-sama berpengaruh terhadap profitabilitas bank umum yang terdaftar di BEI periode 2005-2010. CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM merupakan bagian dari aspek keuangan yang diperoleh dari informasi-informasi yang terdapat dalam laporan
keuangan. Apabila aspek keuangan bank umum menunjukkan kondisi yang baik maka bank umum tersebut akan mendapatkan profitabilitas yang baik pula.
Pengaruh CAR terhadap Profitabilitas
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kecukupan modal (CAR) terbukti mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profitabilitas perbankan (ROA). Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh bank. Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi maka bank tersebut mampu membiayai kegiatan operasional dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi profitabilitas.
CAR menurut Dendawijaya (2000:122) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana–dana dari sumber–sumber di luar bank, seperti dana dari masyarakat, pinjaman, dan lain–lain. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian–kerugian bank yang di sebabkan oleh aktiva yang berisiko.
Usaha perbankan sangat membutuhkan kecukupan modal minimum, yaitu pada kisaran 8%. Rasio ini untuk melindungi berbagai bentuk resiko usaha. Kemampuan bank dalam mengantisipasi segala bentuk resiko usaha membawa dampak kepada kepercayaan masyarakat. Peningkatan kepercayaan nasabah terhadap bank yang mempunyai rasio kecukupan modal yang memadai mampu meningkatkan profitabilitas perbankan Werdaningtyas (2002).
Hasil pembuktian ini diperkuat dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Werdaningtyas (2002),Yuliani (2007), Mamatzaki dan Remoundous (2003), Tanna et al (2006) dan Mawardi (2005). Hal ini terjadi karena kondisi bank umum yang beroperasi di Indonesia mulai membaik akibat krisis ekonomi yang terjadi. Kecukupan modal bank yang digunakan untuk aktivitas operasionalnya mampu menghasilkan laba yang tinggi.
Bagi manajer industri perbankan perlu memperhatikan CAR karena dengan manajemen permodalan yang baik dengan memanfaatkan secara optimal modal sendiri mampu meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan yang tercermin dalam ROA. CAR yang tinggi menunjukkan bank mempunyai kecukupan modal yang tinggi, dengan
permodalan yang tinggi bank dapat leluasa untuk menempatkan dananya kedalam investasi yang menguntungkan, hal tersebut mampu meningkatkan kepercayaan nasabah karena kemungkinan bank memperoleh laba sangat tinggi dan kemungkinan bank tersebut terlikuidasi juga kecil. Sehingga CAR berpengaruh positif terhadap ROA, artinya semakin tinggi kecukupan modal bank maka semakin tinggi laba bank sehingga ROA juga meningkat. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Usman (2003) yang menunjukkan pengaruh negatif antara CAR terhadap pertumbuhan laba.
CAR berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Makin menurunnya CAR semakin rendah profitabilitas yang diperoleh. Hal tersebut disebabkan terkikisnya modal akibat negatif spread dan peningkatan aset yang tidak diikuti dengan peningkatan modal menyebabkan rasio kecukupan modal yang rendah. Rendahnya CAR menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat yang pada akhirnya dapat menurunkan profitabilitas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat ini tingkat CAR Perusahaan perbankan selalu menjaga agar besarnya CAR berada di atas 8% yang dapat dibuktikan dengan melihat ROA Bank BCA, ketika CAR naik dari 22% pada tahun 2005 menjadi 24% pada tahun 2006, hal tersebut menyebabkan naiknya ROA dari 6% pada tahun 2005 menjadi 7% pada tahun 2006. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa pada penelitian ini CAR berpengaruh signifikan terhadap ROA.
Pengaruh NPL terhadap Profitabilitas
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa NPL terbukti tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perbankan (ROA). Hasil pengujian hipotesis yang menunjukkan bahwa peningkatan NPLtidak ada pengaruh dalam meningkatkan profitabilitas bank.
Asset digunakan sebagai rasio kualitas aktiva produktif. Aktiva produktif adalah semua harta yang ditanamkan bank dengan maksud untuk mencapai atau memperoleh penghasilan seperti kredit yang diberikan, penanaman pada bank dalam bentuk tabungan, deposito dan giro, penanaman dalam surat berharga, penyertaan pada perusahaan, dan lain-lain. Menurut Kuncoro dan Suhardjono (2002:25), aktiva yang produktif merupakan penempatan dana oleh bank dalam asset yang menghasilkan pendapatan untuk menutup biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank. Dari aktiva inilah bank mengharapkan adanya selisih keuntungan dari kegiatan pengumpulan dan penyaluran dana. Dari pengertian aktiva produktif tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktiva yang berkualitas adalah aktiva yang dapat menghasilkan pendapatan dan dapat menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Usman (2003) dan Kosmidou (2008) yang menyebutkan bahwa NPL tidak berpengaruh terhadap perubahan laba bank, mengindikasikan bahwa resiko usaha bank yang tercermin dalam NPL tidak berpengaruh terhadap ROA. Perubahan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perbankan (ROA) Bank Umum dapat dilihat dari banyaknya NPL bank yang rendah, hal ini dimungkinkan karena proporsi kredit bermasalah pada bank umum di Indonesia tidak begitu besar sehingga tidak mempengaruhi ROA. Jika suatu bank terjadi peningkatan NPL yang tidak diikuti dengan peningkatan perolehan pendapatan bunga pinjaman maka menyebabkan laba juga berkurang, sebaliknya jika naik atau turunnya NPL diikuti dengan naik turunnya pendapatan bunga pinjaman maka NPL tidak berpengaruh terhadap laba.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat ini tingkat NPL perusahaan perbankan masih tergolong rendah, yaitu di bawah 5%. Perusahaan perbankan selalu menjaga agar besarnya NPL berada di bawah 5%. Sehingga rata-rata NPL berada di bawah 5%, namun terdapat beberapa perusahaan dalam penelitian ini yang menunjukkan besarnya data NPL di atas 5%, misalnya PT. Bank Artha Graha Internasional Tbk. yang menunjukkan besarnya NPL sebesar 12%. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat ROA Bank INPC, ketika NPL pada tahun 2007 sebesar 6% mengalami penurunan pada tahun 2008 menjadi 4% hal tersebut tidak menyebabkan naiknya ROA di tahun 2007 dan 2008 yaitu pada tahun 2007 sebesar 4% pada tahun 2008 ROA Bank INPC tidak mengalami perubahan meskipun NPL Bank INPC di tahun tersebut berfluktuasi. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa pada penelitian ini NPL tidak berpengaruh terhadap ROA.
Pengaruh BOPO terhadap Profitabilitas
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa BOPOterbukti mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap profitabilitas perbankan (ROA). Hasil pengujian hipotesis yang menunjukkan bahwa penurunan BOPOdapat meningkatkan profitabilitas bank.
BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas perbankan (ROA) bank umum. Hal ini menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktifitas usahanya sehingga laba yang dihasilkan naik. Bagaimanapun juga jika kita berbicara mengenai kinerja suatu perusahaan perbankan pastilah juga berhubungan dengan efisiensi operasi perusahaan perbankan tersebut. Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan
biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.
Penelitian yang dilakukan oleh Mawardi (2005) menyimpulkan bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap kinerja bank yang diproksikan dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar perbandingan total biaya operasional dengan pendapatan operasional akan berakibat turunnya ROA. Hasil pembuktian ini diperkuat dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Mawardi (2005), Usman (2003) dan Yuliani (2007) melakukan penelitian tentang faktor yang mempengaruhi profitabilitas bank yang menunjukkan bahwa variabel BOPO signifikan negatif terhadap profitabilitas. Hal ini menunjukkan hasil semakin kecil BOPO menunjukkan laba periode berikutnya semakin besar dikarenakan BOPO yang rendah menunjukkan biaya operasi yang lebih kecil dari pendapatan operasinya. Nilai negatif yang ditunjukkan BOPO sesuai dengan teori yang mendasarinya bahwa semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktifitas usahanya.
Semakin tinggi efisiensi operasional yang dicapai bank, berarti semakin efisien aktivitas bank dalam menghasilkan keuntungan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar rasio BOPO, maka kemungkinan bank dalam kondisi bermasalah juga semakin besar sehingga profitabilitas bank menurun.
Menurut Kosmidou (2008), jika hubungan antara pendapatan dan pengeluaran berbanding lurus masih mencerminkan profit yang rendah karena beban yang begitu tinggi. Begitupun dengan Tanna, et al (2006), secara umum beban yang tinggi berarti profitabilitas yang diperoleh akan makin rendah.
Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat ROA Bank INPC, ketika BOPO turun dari 95% pada tahun 2005 menjadi 97% pada tahun 2006, hal tersebut menyebabkan naiknya ROA dari 6% pada tahun 2005 menjadi 7% pada tahun 2006. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa pada penelitian ini BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA.
Pengaruh LDR terhadap Profitabilitas
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa LDR terbukti tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perbankan (ROA). Hasil pengujian hipotesis yang menunjukkan bahwa peningkatan LDRtidak ada pengaruh dalam meningkatkan profitabilitas bank.
Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber
likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2005:118). Semakin tinggi LDR suatu bank tidak menjadi tolok ukur keberhasilan manajemen bank untuk memperoleh keuntungan tinggi. LDR yang tinggi tidak berpengaruh terhadap ROA, hal ini dapat dikarenakan besarnya pemberian kredit tidak didukung dengan kualitas kredit (kategori kredit kurang lancar dan kredit diragukan).
Kualitas kredit yang buruk akan meningkatkan risiko terutama bila pemberian kredit dilakukan dengan tidak menggunakan prinsip kehati-hatian dan ekspansi dalam pemberian kredit yang kurang terkendali sehingga bank akan menanggung risiko yang lebih besar pula. Selain itu, LDR tidak signifikan karena adanya pergerakan data atau rasio LDR yang fluktuatif pada masing-masing perusahaan perbankan di setiap tahunnya.
Ada perusahan perbankan yang mempunyai nilai LDR rendah dan ada perusahaan perbankan yang mempunyai nilai LDR tinggi sehingga terjadi kesenjangan yang cukup tinggi antar perusahaan perbankan tiap tahunnya. Hasil pembuktian ini diperkuat dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Mawardi (2005) dan Kosmidou (2008). Perubahan LDR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas pada bank, Hal ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi bank tidak berjalan dengan baik sehingga dana tidak dapat disalurkan kepada masyarakat.
Penjelasan yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah karena selama jangka waktu penelitian dapat dikatakan fungsi intermediasi perbankan yang tercatat di BEI masih kurang. Penyebabnya adalah penyaluran kredit ke pihak kreditur yang masih kecil, yang disebabkan oleh kekhawatiran dari pihak bank jika kredit yang diberikan menjadi bermasalah. Hal ini dibuktikan dengan tingkat LDR hampir sebagian besar bank (Bank BCA, Bank Mega, Bank Nusantara Parahyangan, Bank Swadesi, Bank Kesawan, dan Bank Victoria Internasional) yang masih tergolong rendah yaitu di bawah 80%. Karena kondisi yang belum normal ini menyebabkan fungsi intermediasi yang diemban oleh bank menjadi tidak optimal, sehingga dana yang terhimpun tidak dapat disalurkan kepada masyarakat.
LDR tidak berpengaruh terhadap ROA dapat dibuktikan dengan melihat ROA Bank Bumi Putera, ketika LDR turun dari 92% pada tahun 2008 menjadi 87% pada tahun 2009, hal tersebut tidak mempengaruhi ROA karena nilai ROA pada tahun 2008-2009 tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 5%.
Pengaruh NIM terhadap Profitabilitas
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa NIMterbukti mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profitabilitas perbankan (ROA). Hasil pengujian hipotesis yang menunjukkan bahwa kenaikan NIM dapat meningkatkan profitabilitas bank.
Rasio NIM adalah ukuran perbedaan antara bunga pendapatan yang dihasilkan oleh bank atau lembaga keuangan lain dan nilai bunga yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman mereka – misalnya deposito –, relatif terhadap jumlah mereka (bunga produktif) aset. Hal ini mirip dengan margin kotor perusahaan non finansial.
Rasio NIM mirip dalam konsep untuk menyebarkan bunga bersih, namun penyebaran bunga bersih adalah selisih rata-rata nominal antara pinjaman dan suku bunga pinjaman, tanpa kompensasi untuk kenyataan bahwa aktiva produktif dan dana yang dipinjam dapat menjadi alat yang berbeda dan dalam volume berbeda, sehingga margin bunga bersih dapat lebih tinggi (kadang-kadang lebih rendah) daripada penyebaran bunga bersih.
Rasio NIM digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka akan meningkatkan pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil atau tingkat profitabilitasnya semakin besar.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa makin banyak kredit disalurkan pendapatan bunga akan meningkat dan laba sebelum pajak juga meningkat. Hasil temuan ini mendukung hasil penelitian dari Usman (2003) dan Mawardi (2005), yang menyatakan bahwa NIMberpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Hal iniberarti kemampuan manajemen bank dalam menghasilkan bunga bersihberpengaruh terhadap tingkat pendapatan bank akan total assetnya. Bunga bersih merupakan salah satu
komponen pembentuk laba(pendapatan), karena laba merupakan komponen pembentuk
ROA, maka secara tidak langsung jika pendapatan bunga bersih meningkat maka laba yang dihasilkan bank juga meningkat, sehingga akan meningkatkan kinerja keuangan bank tersebut.
NIM berpengaruh positif terhadap ROA dapat dibuktikan dengan melihat ROA Bank BRI, ketika NIM turun dari 12% pada tahun 2005 menjadi 11% pada tahun 2006, hal
tersebut juga menyebabkan turunnya ROA dari 12% pada tahun 2005 menjadi 11% pada tahun 2006.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik simpulan yakni CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM berpengaruh secara simultan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum yang terdaftar di BEI periode 2005-2010. Secara parsial, variabel yang terbukti berpengaruh terhadap profitabilitas (ROA) adalah CAR, di mana jika CAR tinggi menandakan bank mampumengantisipasi segala bentuk resiko usaha. Kemampuan bank dalam mengantisipasi segala bentuk resiko usaha membawa dampak kepada kepercayaan masyarakat. Peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap bank yang mempunyai rasio kecukupan modal yang memadai mampu meningkatkan profitabilitas perbankan. Variabel NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas. Perubahan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas bank. Hal ini menunjukkan banyaknya kredit bermasalah di bank sehingga laba yang diperoleh kecil. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa resiko usaha bank yang tercermin dalam NPL tidak berpengaruh terhadap ROA, di mana dapat dilihat dari banyaknya NPL bank yang rendah, hal ini dimungkinkan karena proporsi kredit bermasalah pada bank umum di Indonesia tidak begitu besar, naik atau turunnya NPL diikuti dengan naik turunnya pendapatan bunga pinjaman.
Variabel BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas bank. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.
Variabel LDR tidak berengaruh terhadap profitabilitas bank. Hal ini dapat dikarenakan besarnya pemberian kredit tidak didukung dengan kualitas kredit. Dapat dikatakan fungsi intermediasi perbankan yang tercatat di BEI masih kurang. Bisa dimugkinkan karena kecilnya penyaluran kredit ke pihak kreditur, yang disebabkan oleh kekhawatiran dari pihak bank jika kredit yang diberikan menjadi bermasalah.
Variabel NIM berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank karena makin banyak kredit disalurkan pendapatan bunga akan meningkat dan laba sebelum pajak juga meningkat. Peningkatan laba sebelum pajak akan meningkatkan return on assets atau profitabilitas bank.
Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan melalui hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi perbankan.
a. Bagi perbankan untuk memperbaiki atau dapat meningkatkan profitabilitas (ROA) yang baik, dari sisi keuangan sebaiknya menjaga beberapa aspek seperti CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM karena variabel-variabel tersebut secara bersama-sama dapat mempengaruhi profitabilitas (ROA), sehingga perusahaan dapat dipercaya oleh masyarakat dan dapat memperoleh hasil yang maksimal, dalam hal ini profitabilitas (ROA) yang lebih baik.
b. CAR, BOPO dan NIM perbankan dapat dijaga dengan mengontrol biaya-biaya. Nilai CAR dimungkinkan bisa meningkat dengan mengurangi risiko dari aktiva atau menambah modal. Perbankan harus dapat menurunkan BOPO agar lebih selektif dalam mengeluarkan biaya operasional dan berusaha meningkatkan NIM agar kepercayaan masyarakat meningkat yang dapat meningkatkan profitabilitas. 2. Bagi para investor yang berminat dalam investasi saham di bank umum sebaiknya
mempertimbangkan beberapa informasi aspek keuangan perbankan (emiten) di antaranya CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM.
3. Bagi peneliti selanjutnya bisa menambahkan variabel lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi profitabilitas bank umum selain CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM. Rekomendasi untuk penelitian berikutnya dapat menggunakan bank umum yang sudah dan belum terdaftar di Bursa Efek Indonesia karena dengan obyek penelitian yang lebih banyak diharapkan mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia. 2010. Statistik Perbankan Indonesia. Http://www.bi.go.id.web/ id/Statistik/Statistik Perbankan. Diakses 6 Maret 2011.
Bastian, Indra dan Suhardjono. 2006. Akuntansi Perbankan. Salemba Empat. Jakarta. Bursa Efek Indonesia. 2011. Product & Layanan. Http://www.idx.co.id. Diakses 27
Februari 2011.
Dendawijaya, Lukman. 2005. Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan Penerbit UNDIP. Semarang.
Hasibuan, Malayu. 2005. Dasar-Dasar Perbankan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Kosmidou, Kyriaki. 2008. The Determinants of Banks’ Profits in Greece during The Period of EU Financial Integration. Journal Managerial Finance, Vol. 34, No. 3.
Kuncoro, Mudrajad dan Suhardjono. 2002. Manajemen Perbankan. BPFE. Yogyakarta. Mamatzaki, E. C and Remoundos, P. C. 2003. Determinants of Greek Commercial Banks
Profitability 1989-2000. Journal Finance, Vol. 53, No. 1.
Http://www.sciencedirect.com. Diakses 27 Februari 2011.
Mawardi, Wisnu. 2005. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Bank Umum di Indonesia. Jurnal Bisnis Strategi, Vol 1. Http://journal.uii.ac.id. Diakses 14 Maret 2011.
P. I. Vong, Anna and Si Chan, Hoi. 2008. Determinants of Bank Profitability in Macao. Journal of Monetary Economics, Vol. 31, P. 47-67. Http://www.sciencedirect.com. Diakses 27 Februari 2011.
Sarifudin, Muhammad. 2005. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Laba pada Perusahaan Perbankan yang Listed di BEJ Periode 2000-2002. Tesis dipublikasikan. Program Pascasarjana, Magister Manajemen, Universitas Diponegoro, Semarang. Http://eprints.undip.ac.id/17127. Diakses 1 Maret 2011.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP. 2004. Rasio Keuangan Perbankan. Jakarta. Http://www.bi.go.id/biweb/utama/peraturan/se-6-23-dpnp.pdf. Diakses 5 Maret 2011.
Tanna, Sailesh dkk. 2006. Determinants of Profitability of Domestics UK Commercial Bank : Panel Evidence from Period 1995-2002. Journal Economics, Finance and Accountings, Vol. 53, No. 3. Http://www.sciencedirect.com. Diakses 27 Februari 2011.
Triandaru, Sigit dan Totok. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Salemba Empat. Jakarta.
Usman, Bahtiar. 2003. Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba pada Bank-Bank di Indonesia. Jurnal Riset & Manajemen, Vol. 3, No. 1. Http://eblog-jurnal.blogspot.com/.../analisis-rasio-perubahan-laba-bank-indonesia.html. Diakses 14 Maret 2011.
Werdaningtyas, Hesti. 2002. Faktor yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Take Over Pra-Merger di Indonesia. Jurnal Manajemen Indonesia, Vol. 1, No. 2. Http://eblog-jurnal.blogspot.com/.../faktor-mempengaruhi-profit-bank-take-over-indonesia.html. Diakses 14 Maret 2011.
Yuliani. 2007. Hubungan Efisiensi Operasional dengan Kinerja Profitabilitas pada Sektor Perbankan yang Go Public di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya, Vol 5, No. 10. Http://digilib.unsri.ac.id. Diakses 14 Maret 2011.