BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Ponorogo berada di provinsi Jawa Timur yang terletak sebelah

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kabupaten Ponorogo berada di provinsi Jawa Timur yang terletak sebelah barat dari Provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah atau lebih tepatnya Kabupaten Ponorogo berjarak sekitar 200 km dari Surabaya atau apabila ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 6-7 jam perjalanan. Kabupaten yang dikenal dengan julukan “Kota Reog” atau “Bumi Reog” karena daerah ini merupakan daerah asal seni budaya tari “Reog Ponorogo”. Pada setiap bulan Muharram (Suro), ada acara yang disebut “Grebeg Suro” yang menampilkan berbagai macam seni dan tradisi, diantaranya Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Dibalik keanekaragaman budaya yang ada di Kabupaten Ponorogo, terdapat perkampungan yang sebagian warganya berada di bawah garis kemiskinan dan mengalami retardasi mental, kampung tersebut biasa dijuluki dengan “kampung idiot” atau “desa idiot”. Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang.

(2)

2

Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental1.

Tabel 1. Perbandingan jumlah orang dengan retardasi mental di 4 Desa di Kabupaten Ponorogo No Desa Jumlah Penduduk Jumlah Orang dengan Kecacatan Prosentase 1 Sidoarjo 6.263 301 4,806% 2 Krebet 8.119 105 1,293% 3 Pandak 4.009 50 1,247% 4 Karangpatihan 6.020 69 1,146%

Sumber: diolah dari Profil Desa Sidoarjo, Krebet, Karangpatihan, dan Pandak Tahun 2013

Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon terdapat 301 orang yang menderita retardasi mental di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong terdapat 69 orang yang menderita retardasi mental dan di Desa Pandak, Kecamatan Balong terdapat 50 orang. Daerah yang memiliki banyak warga retardasi mental bisa dikatakan satu tipikal, yaitu sama-sama berada di lereng gunung, tanah berkapur yang sulit ditanami, tiwul (makanan olahan dari singkong) sebagai menu makan utama, miskin, berpendidikan rendah, pekerjaan mayoritas buruh tani. Dikarenakan berada di lereng pegunungan dan terpencil, akses transportasi untuk menuju ke wilayah tersebut tidak mudah, dibutuhkan minimal satu hingga dua jam perjalanan dari pusat Kabupaten Ponorogo dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Desa Karangpatihan, daerah tersebut cukup sulit diakses oleh pendatang, hanya ada satu jalan utama setelah melewati sawah-sawah dan hutan dengan akses jalan yang sempit dengan tanjakan, turunan dan belokan yang membingungkan

(3)

3

khas daerah pedesaan di pegunungan. Selain itu kondisi jalanan yang sepi, banyak pohon menjulang tinggi dan minim penerangan jalan melengkapi suasana “mengerikan” menuju Desa Karangpatihan. Tidak hanya itu, di saat hujan turun sudah dipastikan akses jalan lumpuh, karena akses jalan menuju perbukitan masih berupa tanah liat.

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilaksanakan di Desa Karang Patihan terdapatkan 102 warga yang mengalami retardasi mental dan 87 menjadi tanggung jawab aparat desa karena keluarganya tidak mampu dalam keadaan miskin. Masyarakat di Karang Patihan memiliki anggapan kelompok penderita Retardasi Mental dapat membebani masyarakat. Penyandang retardasi mental beraktifitas secara bebas di dalam desa tanpa arah bahkan sampai keluar dari desa. Penyandang retardasi mental memiliki sikap apatis pada lingkungan sehingga mendapatkan perlakuan yang tidak layak.

Masyarakat yang tinggal di wilayah “kampung idiot” keadaannya tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Fenomena banyaknya penderita retardasi mental di ketiga desa tersebut sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu dan mereka hidup dalam satu komunitas dengan masyarakat normal. Pola interaksi yang terjadi juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia normal, hanya saja penderita retardasi mental yang bisa bekerja diarahkan untuk membantu orang tua (apabila masih hidup) dan penderita retardasi mental yang tidak bisa bekerja dibiarkan begitu saja berkeliaran di perkampungan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan, terdapat beberapa penyebab adanya fenomena Kampung Idiot di Desa Karangpatihan. Pertama, adanya perkawinan

(4)

4

sedarah yang kemudian menyebabkan keturunan mereka menderita retardasi mental. Pernikahan sedarah yang dimaksud disini adalah antar sepupu, satu marga atau yang garis keluarganya dekat, tapi bukan saudara kandung. Kedua, pada tahun 1960-an Desa Karangpatihan mengalami masa paceklik yang ekstrim dimana hama merajalela. Pada waktu itu masyarakat tidak dapat mengakses makan dengan gizi yang cukup, sehingga mereka yang lahir dan dibesarkan pada era itu dipastikan akan mengalami kekurangan gizi sehingga pertumbuhan tubuh dan kecerdasannya lamban.

Dikarenakan banyak warganya yang menderita retardasi mental, maka tingkat perekonomian di desa tersebut jelas tidak bisa dibanggakan. Pada awalnya masyarakat berpersepsi bahwa kemiskinan yang ada di Desa Karngpatihan tidak bisa diselesaikan. Persepsi tersebut mengarah pada anggapan bahwa kemiskinan disebabkan oleh nasib, takdir atau sesuatu diluar kemampuan manusia2. Berdasarkan informasi dari salah satu Kepala Desa, warganya hanya bisa menikmati nasi saat ada pembagian beras untuk keluarga miskin (raskin). Beras jatah pemerintah itu hanya bisa dikonsumsi beberapa hari saja, karena rata-rata warga desa dari ketiga desa tersebut mempunyai anak lebih dari dua. Setelah jatah beras raskin habis, maka mereka kembali mengkonsumsi tiwul tanpa lauk.

Sekitar tahun 2010, tidak sedikit media yang meliput berita di desa yang warganya banyak menderita retardasi mental sehingga pada saat itu ramai masyarakat yang datang ke desa tersebut untuk mengetahui kebenaran “kampung idiot” dan ada sebagian masyarakat yang memberikan bantuan baik berupa uang

2 Baiquni, 1999, Refleksi Kritis Terhadap Program JPS(Jaring Pengaman Sosial) Studi Kasus

(5)

5

atau bahan pokok. Akibat dari banyaknya bantuan dari masyarakat yang datang ke desa tersebut, masyarakat miskin dan penderita retardasi mental merasa “ketagihan” meminta uang atau imbalan kepada masyarakat yang datang ke desa tersebut. Uang dan bantuan pokok dari masyarakat yang datang ke desa tersebut membuat masyarakat miskin dan penderita retardasi mental di desa tersebut semakin malas dan seolah terbiasa meminta barang kepada masyarakat yang datang ke desa tersebut. Alih-alih memberdayakan diri dengan memanfaatkan bantuan, mereka lebih memilih menggantungkan diri pada “pendapatan” dari masyarakat yang datang ke desa tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang salah apabila masyarakat yang datang ke “kampung idiot” memberikan bantuan ke warga penderita retardasi mental, karena orang penderita retardasi mental merupakan masyarakat yang mendererita keterbelakangan mental yang tidak bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Warga “kampung idiot” yang menderita retardasi mental tersebut memiliki permasalahan, diantaranya yaitu sebagian besar dari mereka tidak mampu bekerja, dan hidup di bawah garis kemiskinan atau sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan tidak mampu berbicara (berkomunikasi dengan masyarakat normal). Karena keterbatasan masyarakat penderita retardasi mental, maka dibutuhkan bantuan yang nantinya dapat mengurangi beban hidupnya.

(6)

6

Pada saat itu, bantuan yang diberikan tergolong instan. Bentuk bantuan tersebut berupa hibah, bantuan sosial dan sedekah3. Pemberian bantuan ini pada jangka panjang cenderung akan merusak mental masyarakat. Warga menerima dan menikmati bantuan, lalu bantuan habis dan mereka menanti bantuan lagi. Salah satu desa yang banyak mendapatkan bantuan yaitu Desa Karangpatihan. Desa Karangpatihan juga merasakan “berkah” tersendiri memiliki warga yang menderita retardasi mental, karena dengan banyaknya warga yang menderita retardasi mental, maka desa tersebut mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, antara lain Gubernur Jatim Pak Soekarwo, mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen Suwarno, Bank Indonesia Kediri, Babinsa dan lain-lain. Salah satu bantuan yang sampai saat ini (ketika melakukan penelitian) dapat dirasakan yaitu akses jalan yang terdapat di Desa Karangpatihan kurang lebih sepanjang 15 kilometer yang dulunya makadam dan tanah sekarang telah berubah menjadi aspal.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa dan data dari Kantor Desa Karangpatihan, Desa Karangpatihan telah memperoleh berbagai bantuan dari pemerintah maupun non pemerintah (swasta dan perorangan). Bantuan yang paling banyak diterima di Desa Karangpatihan yaitu kebutuhan dasar meliputi makanan pokok dalam bentuk sembako, air untuk MCK, pakaian pria/wanita fasilitas kesehatan dan pembenahan rumah. Namun dari berbagai macam bantuan tersebut, ada beberapa bantuan yang efektif dan kurang efektif untuk warga miskin dan penderita retardasi mental. Bantuan yang efektif diantaranya yaitu

3 Baiquni, 1999, Refleksi Kritis Terhadap Program JPS(Jaring Pengaman Sosial) Studi Kasus

(7)

7

sembako, uang, pembenahan rumah, tikar/kasur, tanaman, dan bak/timba. Sedangkan bantuan yang kurang efektif adalah pakaian.

Masalah penting yang dapat ditangkap secara kasat mata dari Desa Karangpatihan adalah masalah sosial ekonomi. Kondisi alam yang kurang menguntungkan dimana tanah sebagai media penyambung hidup merupakan tanah kapur dan tandus. Nasib hidup mereka bergantung dengan alam, jika musim kemarau tiba mereka tidak dapat menanami tanahnya otomatis mereka yang menjadi buruh tani akan menjadi pengangguran. Sumber daya alam yang kurang memadai, mayoritas sebagian besar penduduk memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta masalah retardasi mental akan memberikan dampak langsung terhadap sektor perekonomian masyarakat Desa Karangpatihan.

Untuk menanggulangi menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan kerja keras dari perangkat terdekat (dalam hal ini Kepala Desa) serta dukungan lebih dari masyarakat. Kepala Desa sebagai pejabat pemerintah terdekat di masyarakat harus dapat memetakan sumber daya yang berpotensi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sumber-sumber daya yang berpotensi dalam mengembangkan perekonomian rakyat diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya sosial4. Sumber daya yang tersedia disekitar lingkungan masyarakat akan dapat memberikan manfaat dalam peningkatan taraf ekonomi masyarakat apabila masyarakat mampu mengolahnya dengan baik.

4

(8)

8

Masyarakat tidak bisa secara terus menerus bergantung kepada bantuan instan yang datang dari luar. Dibutuhkan pengelolaan yang baik menyangkut efektivitas bantuan tersebut dalam jangka panjang. Bantuan sosial yang datang pada dasarnya hanya bersifat membantu pada akhirnya masyarakat harus dapat hidup secara mandiri dalam kondisi keterbatasan yang ada. Pengembangan masyarakat atau community development sangat penting sekali sebagai cara mensejahterakan kehidupan masyarakat. Pada intinya community development

mengandung dua konsep penting, yakni community yang bermakna kualitas hubungan sosial dan development yang bermakna perubahan kearah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual5. Permasalahan inilah yang kemudian dicoba untuk diselesaikan oleh Kepala Desa Karangaptihan.

Saat ini Desa Karangpatihan dipimpin oleh Kepala Desa yang bernama Eko Mulyadi. Eko Mulyadi memimpin Desa Karangpatihan dari Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2019. Selama dua tahun memimpin Desa Karangpatihan Eko Mulyadi telah membuat beberapa gebrakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental di Desa Karangpatihan. Gebrakan tersebut tertuang dalam kebijakan-kebijakan dalam bidang ekonomi, kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan pendidikan.

Kepemimpinan seseorang sangat besar perananya dalam setiap pengambulilan keputusuan. Disinilah kemudian muncul hubungan antara kebijakan dan kepemimpinan. Sorang pemipin dituntut untuk mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi permasalahan. Tindakan pemimpin untuk

5 Fredian Tony Nasdian, 2014, Pengembangan Masyarakat, Yayasan Pustaka Obor Indonesia,

(9)

9

mengatasi permsalahan merupakan sebuah kebijakan. Definisi yang diungkapkan oleh Dye dalam Howlett dan Ramesh (2005:2) yang mengungkapakan bahwa kebijaan adalah semua yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa mereka melakukan dan perbedaan yang dihasilkannya (what government did, why they do it and what differences it makes). Definisi tersebut menegaskan bahwa kebijakan merupakan diam atau bergeraknya pemerintah, memutuskan atau tidak memutuskan ketika dihadapkan pada permasalahan. Upaya yang dilaksanakan oleh Kepala Desa Karangpatihan adalah kebijakan. Kepala Desa Karangatihan dihadapkan pada permasalahan tentang kemiskinan yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakatnya. Anderson dalam Subarsono (2005:2) mengungkapkan bawa kebijakan merupakan kebijakan yang ditetpakan oleh badan-badan dan aparat pemerintah. Dalam hal ini Kepala Desa Karangpatihan adalah seornag aparat pemerintah. Mengacu pada definisi tersebut apapun yang dilaksanakan oleh Kepala Desa Karangpatihan ketika dihadapkan pada suatau permsalahan adalah kebijakan.

Kepemimpinan Eko Mulyadi merupakan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang sebelumnya belum dapat dapat diselesaikan oleh Kepemimpinan Kepala Desa periode sebelumnya. Pada periode sebelumnya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental belum menjadi prioritas. Hal tersebut menyebabkan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Kepala Desa periode sebelumnya tidak memiliki dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental di Desa Karangpatihan.

(10)

10

Tabel 2 Jumlah KK Desa Karangpatihan Berdasarkan Kriteria Kemiskinan

No Kriteria Jumlah Persentase

(%) 1 KK Miskin 261 14,89 2 KK Miskin Idiot 42 2,39 3 KK Rentan Miskin 558 31,81 4 KK Rata-rata 893 50,91 Jumlah 1754 100

Sumber: Desa Karangpatihan, 2014

Tabel 1 menunjukkan bahwa hampir sebagaian masyarakat Desa Karangpatihan hidup dibawah garis kemiskinan. Hal tersebut menunjukkan bahwa permasalahan kemiskinan menjadi permasalahan prioritas yang harus segera diselesaikan oleh Kepala Desa Karangpatihan. Secara umum terdapat tiga kategori kemiskinan yang ada di Desa Karangpatihan. Kategori pertama adalah kategori rentan miskin, jumlahnya mendominasi sebagian besar dari penduduk msikin di Desa Karangpatihan, kategori ini dapat berubah statusnya menjadi miskin apabila Desa Karangpatihan mengalami ondisi tertentu misalnya musim paceklik. Kategori kedua adalah keluarga miskin, jumlahnya sebanyak 261 kepala keluarga. Kategori ketiga adalah miskin idiot. Kemikinan dan disabilitas (Retardasi mental merupakan salah satu jenis dari disabilitas) adalah suatu hal yang identik. Hal tersebut disebabkan karena penyandang disabilitas sering disebut sebagai kelompok yang lemah yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Anggapan tersebut kemudian berdampak pada masyarakat umum yang cenderung mengucilkannya dan tidak memberikan hak yang sama untuk mengakses berbagai

(11)

11

pelayanan publik. Anggapan tersebut kemudian membuat penyandang disabilitas seringkali hidup dibawah garis kemiskinan.

Permasalahan kemiskinan kemudian diatasi oleh Eko Mulyadi melalui kebijakan-kebijakan yang inovatif. Kebijakan yang inovatif tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3 Kebijakan Kepala Desa Karangpatihan untuk meyelesaiakan permasalahan kemiskinan

No Kebijakan Kegiatan

1 Ekonomi Ternak lele, ternak ayam kampung, ternak kambing, adanya pelatihan keterampilan dari BLK dan adanya BUMDes

2 Pendidikan Beasiswa bagi masyarakat miskin dan PAUD Karangpatihan Smart

3 Infrastruktur Optimaliasi PPIP dan PNPM melalui kegiatan kerja bakti 4 Kesehatan Susu bagi balita, posyandu dan bidan masuk desa.

Sumber: Diolah Peneliti dari berbagai sumber, 2015

Kebijakan diatas selain inovatif juga tepat sasaran. Pembuatan kebijakan tidak hanya didasarkan pada kemenarikan program namun juga pemikiran mendalam bahwa setiap program tersebut merupaka jawaban atas permasalahan-permasalahan di Desa Karangpatihan. Kebijakan diatas dianggap tepat mengatasi permasalahan kemiskinan di Desa Karangpatihan.

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka judul penelitian ini adalah “KEPEMIMPINAN KEPALA DESA DALAM

MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA DI DESA

KARANGPATIHAN (Studi Kasus Pada Masyarakat Miskin dan Penderita Retardasi Mental di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo)”. Penelitian ini akan memfokuskan pada kepemimpinan Eko Mulyadi sebagai Kepala Desa yang telah berusaha untuk meningkatkan sumber daya

(12)

12

manusia di Desa Karangpatihan. Peningkatan sumber daya manusia ini dilakukan supaya taraf hidup orang miskin dan penderita retardasi mental yang ada di Desa Karangpatihan dapat berubah menjadi lebih baik.

1.2 Rumusan Masalah

Studi pendahuluan yang diksanakan oleh peneliti menghasilkan beberapa temuan permasalahan. Pertama adalah kemiskinan yang menjadi permasalahan utama. Kemiskinan tersebut disebabkan karena desa ini terisolir dan sumberdaya alam di desa ini tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Kedua adalah persepsi tentang retardasi mental. Kebanyakan orang menganggap retardasi mental adalah penyakit yang kemudian tidak bisa ditangani. Kebanyakan orang berpersepsi bahwa orang dengan retardasi mental adalah orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketiga, keterampilan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental. Keterampilan menjadi permsalahan yang menjadi akibat dari tidak terjangkaunya akses pendidikan bagi mereka. Ketidakterjangkauan tersebut kemudian menyebabkan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental tidak memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk mendapatkan pekerjaan.

Permasalahan-permasalahan tersebut diatas kemudian menjadi permasalahan yang mendapatkan prioritas Kepala Desa Karangpatihan untuk segera diselesaikan. Permasalahn tersebut dilaksanakan dengan dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Desa Karangpatihan. Peningkatan sumberdaya manusia tersebut dilaksanakan melalui serangkaian kebijakan, pemberdayaan masyarakat dan merubah image Desa Idiot menjadi Desa Mandiri.

(13)

13

Kepemimpinan Kepala Desa Karangpatihan dilaksanakan melalui kepemimpinan dalam membuat kebijakan. Membuat kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang ada di desanya merupakan salah satu tugas dari Kepala Desa. Kebijakan merupakan Kebijakan atau policy berkaitan dengan perencanaan, pengambilan dan perumusan keputusan, pelaksanaan keputusan, danevaluasi terhadap dampak dari pelaksanaan keputusan tersebut terhadap orang-orang banyak yang menjadi sasaran kebijakan (kelompok target) (Tilar dan Nugroho 2008:189). Penelitian ini akan mengkahi tentang kebijakan-kebijakan apasaja yang menjadi instrumen dari Kepaka Desa Karangpatihan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental.

Langkah yang dilakukan oleh Kepada Desa Karangpatihan selain membuat kebijakan adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki. Adapun pemberdayaan masyarakat senantiasa menyangkut dua kelompok yang saling terkait, yaitu masyarakat sebagai pihak yang diberdayakan dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak yang memberdayakan (Sumodiningrat, 1999). Pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan di Desa Karangpatihan merupakan seranglaian kegiatan untuk memandirikan masyarakat. Ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap bantuan yang diberikan kepadanya membuat Kepala Desa Karangpatihan harus merumuskan langkah-langkah untuk membeaskan masyarakat dari ketergantungan bantuan tersebut.

(14)

14

Selain itu Kepala Desa Karangpatihan juga melaksanakan kegiatan untuk merubah citra Desa Karangpatihan yang semula dijuluki dengan sebutan Desa Idiot menjadi Desa Mandiri. Perubahan image/citra tersbut menjadi prioritas Kepala Desa selain membuat kebijakan dan pemberdayaan masyarakat. Citra Desa Idiot memang mampu menarik simpati dan empati orang-orang untuk kemudian datang di Desa Karangpatihan dan memberikan bantuan. Namun, citra tersebut haruslah segera diubah seiring dengan kebangkitan Desa Karangpatihan menuju Desa Mandiri.

Permasalahan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental di Desa Karangpatihan menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Salah satu faktor yang menjadi penyebab adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut adalah kepemimpinan Kepala Desa Karangpatihan. Pada periode sebelum Eko Mulyadi, peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan karena peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental bukanlah menjadi prioritas.

Sedikit menengok kebelakang meilihat Kepemimpinan beberapa Kepala Desa sebelumnya kegiatan untuk meningkatakn kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental bukan menjadi prioritas. Hal tersebut disebabkan karena persepsi tentang kemiskinan dan retardasi mental. Persepsi tersebut adalah persepsi yang menunjukkan bahwa kemiskinan dan retardasi mental adalah nasib yang tidak bisa diubah melalui kegiatan apapun. Persepsi

(15)

15

tersebut menunjukkan kurangnya kepekaan sosial. Persepsi tersebut kemudian berdampak pada kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak berdampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental di Desa Karangpatihan.

Kepemimpinan Kepala Desa Karangpatihan diwujudkan dengan mempengaruhi masyarakat dan aktor-aktor lain untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Karangpatihan. Thoha (2010:9) kepemimpinan adalah kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain,atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Kegiatan Kepala Desa Karangpatihan diwujudkan melalui langkah-langkah menyadarkan masyarakat tentang arti penting untuk memberikan hak yang sama bagi masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental di Desa Karangpatihan. Hal tersebut adalah hak-hak dari masyarakat miskin dan orang dengan retardasi mental yang selama ini diabaikan. Sebagaimana langkah-langkah baik lainnya. Langkah yang ditempuh oleh Kepala Desa Karangpatihan untuk meningkatkan sumberdaya manusianya menemukan dukungan maupun hambatan. Dukungan dan hambatan tersebut dapat dijadikan pelajaran berharga untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan selanjutnya.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kepeminpinan Kepala Desa dalam meningkatkan sumberdaya manusia di Desa Karangpatihan?

(16)

16

2. Apa saja faktor penghambat dan pendukung yang dialami oleh Kepala Desa dalam upaya peningkatan sumber daya manusia di Desa Karangpatihan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis cara yang dilakukan Kepala Desa

dalam meningkatkan sumber daya manusia di Desa Karangpatihan

2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor penghambat dan pendukung Kepala Desa dalam upaya peningkatan sumber daya manusia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian: 1. Kontribusi Akademis:

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: a. Secara Teoritis

Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan akan memberi kontribusi pemikiran serta pemahaman mengenai kepemimpinan Kepala Desa dalam meningkatkan sumber daya manusia di Desa Karangpatihan.

b. Secara Praktis

Pembahasan terhadap masalah ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pembaca, khususnya masalah sosial dan ekonomi yang berhubungan dengan Kepemimpinan Kepala Desa (institusi) kepada masyarakat, terutama masyarakat miskin dan penderita retardasi mental.

Figur

Tabel 1. Perbandingan jumlah orang dengan retardasi mental di 4 Desa di  Kabupaten Ponorogo No  Desa  Jumlah  Penduduk  Jumlah  Orang dengan Kecacatan  Prosentase  1  Sidoarjo  6.263  301  4,806%  2  Krebet  8.119  105  1,293%  3  Pandak  4.009  50  1,247%

Tabel 1.

Perbandingan jumlah orang dengan retardasi mental di 4 Desa di Kabupaten Ponorogo No Desa Jumlah Penduduk Jumlah Orang dengan Kecacatan Prosentase 1 Sidoarjo 6.263 301 4,806% 2 Krebet 8.119 105 1,293% 3 Pandak 4.009 50 1,247% p.2
Tabel 2 Jumlah KK Desa Karangpatihan Berdasarkan Kriteria Kemiskinan

Tabel 2

Jumlah KK Desa Karangpatihan Berdasarkan Kriteria Kemiskinan p.10

Referensi

Memperbarui...