A. Pendidikan Kesehatan 1. Pengertian
Pendidikan secara umum menurut Notoadmodjo (2007) adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Pengertian tersebut mengandung tiga unsur pendidikan yang meliputi input (sasaran & pelaku pendidikan), proses (upaya yang direncanakan), output (perilaku yang diharapkan).
Kesehatan menurut Maulana (2007) merupakan totalitas dari faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pelayanan kesehatan diberikan oleh tenaga kesehatan, pelayanan tersebut berpusat dirumah sakit baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus.
2. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan pendidikan kesehatan menurut UU No. 23 Tahun 1992adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik secara fisik, mental, dan sosialnya, sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial, pendidikan kesehatan di semua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi, lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya. Adapun menurut Notoadmodjo (2003) adalah mengembangkan dan meningkatkan tiga domain perilaku yaitu kognitif (cognitif domain), afektif (affective domain), dan psikomotor (psychomotor domain).
Pendidikan kesehatan tentang penyakit scabiesdiberikan kepada santrwati adalah untuk mengetahui apa itu penyakit scabies, tanda serta gejala yang umum dari penyakit tersebut sehingga diharapkan nantinya para santriwati dapat melakukan pengobatan dini juga pencegahan penyebaran scabies itu sendiri. Selain itu diharapkan para santriwati memperoleh peningkatan dalam kebersihan diri (personal hygiene) untuk kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan fisik, mental, dan sosial.
3. Metode Pendidikan Kesehatan
tepat pada sasaranya. Adapun beberapa metode pendidikan kesehatan yaitu:
a. Metode Pendidikan Individu
Pendidikan kesehatan metode ini bersifat individual, metode ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Bentuk pendekatannya antara lain:
1) Bimbingan dan penyuluhan (Guidance and counseling)
Bentuk pendekatan ini lebih intensif, karena ada kontak langsung antara klien dengan petugas, oleh karena itu masalah yang dihadapi individu dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya.
2) Interview (wawancara)
Bentuk pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat.
b. Metode Pendidikan Kelompok
Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pada besarnya sasaran pendidikan. Bentuk pendekatannya antara lain:
a) Kelompok besar, penyuluhan lebih dari 15 orang, dengan metode antara lain:
2) Seminar, seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli tentang suatu topik yang dianggap penting.
b) Kelompok kecil, apabila kelompok peserta kegiatan kurang dari 15 orang. Metode-metode yang cocok yaitu diskusi kelompok, curah pendapat (brain strorming), dan permainan simulasi (simulation game)
c. Metode Pendidikan masa
Pada umumnya bentuk pendekatan masa ini tidak langsung, biasanya menggunakan atau melalu media masa. Beberapa contoh metodenya antara lain: ceramah umum (public speaking), pidato-pidato atau diskusi mengenai kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, simulasi, tulisan-tulisan dimajalah atau koran.
4. Alat Bantu dan media pendidikan kesehatan
Menurut Sagala (2011) metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang suatu proses satu benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta secara nyata atau tiruan. Metode demonstrasi memiliki kekurangan dan kelebihan antara lain:
a. Kelebihan metode demonstrasi
b. Kekurangan metode demonstrasi
1) Fasilitas, seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
2) Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
disamping memerlukan waktu yang cukup panjang.
3) Metode ini memerlukan keterampilan oncerver secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif.
Media promosi kesehatan berfungsi untuk membantu dalam proses pendidikan atau pengajaran sehingga pesan kesehatan dapat disampaikan lebih jelas, dan masyarakat atau sasaran dapat menerima pesan tersebut dengan tepat dan jelas (Nursalam & Efendi, 2008). Media promosi menggunakan leaflet. Pada garis besarnya hanya ada tiga macam alat bantu pendidikan (alat peraga), antara lain:
a. Alat bantu melihat (visual) yang berguna dalam membantu menstimulasi indra mata (penglihatan)
b. Alat-alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip, dan sebagainya.
c. Alat-alat yang tidak diproyeksikan: 1) Dua dimensi, gambar peta, bagan,
3) Alat-alat bantu dengar, yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasikan indra pendengaran pada waktu proses penyampaian materi. misalnya, piring hitam, radio, dan sebagainya. 4) Alat bantu lihat dengar, seperti TV dan video Cassete. Alat bantu
pendidikan ini lebih dikenal dengan (AVA) Audio Visual Aids. (Notoadmodjo, 2003).
B. Pengetahuan 1. Pengertian
Pengetahuan menurut Notoatmodjo(2012) merupakan hasil “tahu” pengindraan terhadap suatu obyek tertentu setelah terjadinyapengindraan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian terhadap obyek, yang sebagian besar pengetahuan manusia dipengaruhi oleh mata dan telinga. Pengetahuan erat hubunganya dengan pendidikan, diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang akan semakin luas pengetahuanya, tetapi bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah.
Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu: 1) Tahu (know)
mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh materi yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Kata kerja yang mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi menyatakan dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginerprestasikan dengan benar. Seseorang yang telah paham suatu obyek atau materi akan dapat menjelaskan, menyebutkan, atau menyimpulkan obyek yang telah dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan suatu kemampuan melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas dan dapat menyesuaikan.
6) Evaluasi (evaluation)
Yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. Penilaian ini dapat diukur melalui angket atau kuisioner jadi apabila perilaku seseorang didasari pada pengetahuan dan kesadaran akan berlangsung lama. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan (Wawan dan Dewi, 2010).
1) Faktor Internal
a) Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah upaya untuk memberikan tingkat pengetahuan sehingga terjadi perilaku positif yang meningkat.
b) Pekerjaan
c) Umur
Menurut Elisabeth (2003) dalam Wawan dan Dewi (2010) usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Menurut Huclok (1998) dalam Wawan dan Dewi, (2010) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
2) Faktor Eksternal a) Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan semua kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
b) Faktor Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap menerima informasi.
C. Scabies
1. Pengertian
Scabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infestasi
dan sensitasi Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Penyakit ini disebut juga the itch, seven year itch, Norwegian itch, gudikan, gatal agogo, budukan atau penyakit ampera (Harahap,2008).
2. Penyebab
Scabies disebabkan oleh kutu/tungau Sarcoptes scabiei.Sarcoptes
cell medium 25%, serum kambing 50% ekstrak epidermis 25%,
streptomisin 200 mg/ml dan fungizone 10mg/ml (Tarigan, 1999 dalam Wardhana, 2006).
Secara morfologik Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata, tunggau ini transient, berwarna putih dan tidak bermata. Tungau betina panjangnya 330-450 mikron, sedangkan tungau jantan lebih kecil kurang lebih setengahnya yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki dan bergerak dengan kecepatan 2,5 cm permenit di permukaan kulit (Asra, 2010).
Sarcoptes scabiei betina setelah dibuahi mencari lokasi yang tepat
patogenesis penyakit. Biasanya hanya hidup dipermukaan kulit dan akan mati setelah membuahi tungau betina (Asra, 2010).
3. Patogenesis
Kelainan kulit ini tidak hanya disebabkan oleh tungau scabies saja, tetapi juga oleh penderita sendiri kibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. (Djuanda, 1993)
4. Gejala
4 tanda kardinal menurut Djuanda (1993) adalah:
1) Gatal-gatal terutama pada malam hari (pruritus nokturna). Ini terjadi karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas, dan pada saat hospes dalam keadaan tenang atau tidak beraktivitas sehingga dapat mengganggu ketenangan ketika tidur (Cahyaningsih, 2012).
2) Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok.
3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang
berwarna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus/ berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul/ vesikel.
4) Menemukan tungau.
Diagnosa dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal. 5. Penularan
Penularan scabies pada manusia sama seperti cara penularan scabies pada hewan, yaitu secara kontak langsung dengan penderita.
6. Faktor resiko scabies
Faktor resiko scabies adalah: 1) Sistem imun tubuh
Semakin rendah imuntas seseorang, maka akan semakin besar kemungkinan orang tersebut untuk terjangkit atau tertular penyakit scabies. Namun diperkirakan terjadi kekebalan setelah terinfeksi.
Orang yang pernah terinfeksi akan lebih tahan terhadap infeksi ulang walaupun masih tetap bisa terkena infeksi dibandingkan mereka (orang-orang) yang sebelumnya belum pernah terinfeksi scabies. 2) Lingkungan dengan hygiene sanitasi yang kurang
Lingkungan yang dimungkinkan sangat mudah terjangkit scabies adalah lingkungan yang lembab, terlalu padat, dan dengan
sanitasi buruk.
3) Semua kelompok umur
Semua kelompok umur, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit scabies.
4) Kemiskinan
5) Seksual promiskuitas (berganti-ganti pasangan) 6) Diagnosis yang salah
7) Demografi 8) Ekologi
7. Pengobatan
Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan scabies menurut Harahap (2008) dan Handoko (2008) yaitu:
1) Permetrin
Merupakan obat pilihan untuk saat ini, tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit.
2) Malation
Malation 0,5 % dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian
3) Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %)
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Efek sampingnya sering terjadi iritasi dan kadang semakin gatal setelah digunakan.
4) Sulfur
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam.
5) Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selam 2 – 3hari.
6) Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan)
iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian. 7) Krotamiton
Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai anti scabies dan anti gatal.
8. Pencegahan
D. Perilaku Personal Hygiene 1. Perilaku
a. Pengertian
Perilaku atau tindakan yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan. Dalam arti preventif diartikan sebagai perbuatan seseorang atau sekelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit (http://kbbi.web.id/).
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berprilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing.
rangsangan yang masuk menjadi perbuatan atau tindakan, perpindahan ini dilakukan oleh susunan saraf pusat dengan unit-unit dasarnya, neuron. Neuron memindahkan energi-energi dalam impuls-impuls
saraf. Impuls-impuls saraf indra pendengaran, penglihatan, pembauan, pencicipan, dan perabaan disalurkan dari tempat terjadinya rangsangan melalui impuls-impuls saraf ke susunan saraf pusat.
Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalu persepsi. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda, meskipun mengamati terhadap objek yang sama. motivasi yang diartikan sebagai suatu dorongan untuk bertindak mencapai suatu tujuan juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku. perilaku juga dapat timbul karena emosi. Aspek Psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, yang pada hakikatnya merupakan faktor turunan (bawaan). Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek tersebut diatas akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan.
rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun nonfisik seperti: iklim, manusia, sosial-ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya.
Jadi perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Skinner (1938) dalam artikel sehat online, seorang akhli psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua,yaitu :
1. Perilaku tertutup (covert behavior): Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup, misalnya ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan.
2. Perilaku terbuka (overt behavior): Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata, misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya
2. Personal Hygiene
a. Pengertian
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. (Tarwoto, Wartonah, 2006)
Hygiene adalah istilah dari bahasa Inggris yaitu ”hygiene” yang berarti : usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kesehatan individu, maupun usaha kesehatan pribadi manusia (http://www.indonesian-publichealth.com/).
Di dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 1996, Hygiene di nyatakan sebagai kesehatan masyarakat yang meliputi semua usaha untuk memelihara, melindungi, dan mempertinggi derajat kesehatan badan, jiwa, baik untuk umum maupun perorangan yang bertujuan memberikan dasar-dasar kelanjutan hidup yang sehat, serta mempertinggi kesehatan dalam perikemanusiaan.
Personal hygiene menurut Tarwoto (2004) adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Sehingga diperolehnya kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Kebutuhan personal hygiene ini diperlukan baik pada orang sehat maupun pada orang sakit.
b. Tujuan Perilaku personal hygiene
a) Meningkatkan derajat kesehatan seseorang b) Memelihara kebersihan diri seseorang c) Memperbaiki personal hygiene yang kurang d) Pencegahan penyakit
f) Menciptakan keindahan (Potter & Perry, 2006).
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Sikap seseorang melakukan personal hygiene menurut Tarwoto (2004) dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain :
a) Citra tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh (Body Image) individu, dan akan mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
b) Praktik sosial
Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersediaan air panas atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan personal hygiene.
c) Status sosio-ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun,
pasta gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
d) Pengetahuan
demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang harus memiliki motivasi untuk memelihara perawatan diri. Seringkali pembelajaran tentang penyakit atau kondisi yang mendorong individu untuk meningkatkan personal hygiene.
e) Budaya
Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi personal hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda
mengikuti praktik perawatan diri yang berbeda. Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan/ terkena air.
f) Kebiasaan seseorang
Setiap individu mempunyai pilihan kapan untuk mandi, bercukur dan melakukan perawatan rambut. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan shampo, dan lain-lain.
g) Kondisi fisik
Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
d. Dampak yang Timbul pada Masalah Personal Hygiene
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene (Tarwoto & Wartonah, 2004) meliputi:
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpelihara kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan
dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan gangguan interaksi sosial.
E. Pondok Pesantren 1. Pengertian
Pesantren adalah tempat belajar Agama Islam. Suatu lembaga pendidikan Islam dikatakan pesantren apabila terdiri dari unsur-unsur Kyai/Syekh/Ustadz yang mendidik dan mengajar, ada santri yang belajar, ada mushola/masjid, dan ada pondok/asrama tempat santri bertempat tinggal. Asrama adalah rumah pemondokan yang ditempati oleh para santri, pegawai, dan sebagainya yang digunakan sebagai tempat berlindung, beristirahat, dan bergaul dengan sesama teman (Dariansyah, 2006).
(komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajaran atau madrasah sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang Kyai dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independent dalam segala hal (Qomar, 2005).
Pesantren merupakan “bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia
didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan jaman. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, bila di runut kembali sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da‟i. (Hasbullah, 1999)
2. Jenis-jenis Pesantren
Menurut Departemen Agama (2003), bahwa jenis-jenis pesantren yang ada di Indonesia, yaitu:
1) Pondok pesantren salaf (tradisional)
model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat fardhu.
2) Pesantren khalaf (modern)
Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti; RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK dan bahkan PT dalam lingkungannya. Dengan demikian pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbaharui atau dimodernkan pada segi-segi tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah.
3. Santri/ santriwati
Santri merupakan unsur yang penting sekali dalam perkembangan sebuah pesantren karena langkah pertama dalam tahap-tahap membangun pesantren adalah bahwa harus ada murid yang datang untuk belajar dari seorang alim, dan santriwati merupakan sebutan untuk santri putri.
F. Kerangka Teori
Santriwati PonPes Al-Falah
Skabies Kebersihan Personal Hygiene
Faktor Internal
Pendidikan (Pendidikan Kesehatan tentang
Scabies dan Personal
Hygiene)
Faktor Ekternal Lingkungan Sosial budaya
Faktor lain yang berpengaruh Dukungan Pesantren Kelembaban
Iklim Ventilasi
Pengetahuan scabies dan Perilaku Personal Hygiene
G. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan dasar pemikiran yang memberikan penjelasan tentang dugaan yang tercantum dalam hipotesa (Saryono, 2010).
Perlakuan
Gambar 2.2
Kerangka Konsep Perbedaan Pengetahuan Dan Perilaku Personal Hygiene Santriwati Sebelum Dan Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan Scabies Di
Pondok Pesantren Salafi Al-Falah Jatilawang
H. Hipotesis