BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendidikan Kesehatan 1. Definisi
Pendidikan kesehatan adalah usaha yang sengaja (terencana, terkontrol, dengan sadar dan dengan tara yang sistematis) diberikan pada
anak didik oleh pendidik agar individunya yang potensial itu lebih berkembang terarah untuk hidup sehat (Notoatmodjo, 2007). Proses
pendidikan tersebut berlangsung didalam suatu lingkungan pendidikan atau tempat dimana pendidikan itu berlangsung, biasanya dibedakan menjadi tiga yaitu tri pusat pendidikan yaitu didalam keluarga (pendidikan
informal), didalam sekolah (pendidikan formal), dan didalam masyarakat. Proses pendidikan kesehatan juga mengikuti proses tersebut, dan
unsur-unsurnya pun sama, yang bertindak selaku pendidik kesehatan disini adalah semua petugas kesehatan dan siapa saja yang berusaha untuk mempengaruhi individu atau masyarakat guna meningkatkan kesehatan
mereka. Karena itu individu, kelompok ataupun masyarakat, disamping dianggap sebagai sasaran (obyek) pendidikan, juga dapat berlaku sebagai
yang sakit maupun yang tidak/belum sakit, baik anak-anak maupun orang dewasa (Nasution, 2004).
2. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan pendidikan kesehatan ialah untuk mengubah perilaku
masyarakat yang tidak sehat menjadi sehat. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan anggapan (Widodo, 2007):
a. Bahwa manusia selalu dapat belajar atau berubah, karena manusia
selama hidupnya selalu berubah untuk menyusuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, dan
b. Bahwa perubahan dapat diinduksikan
Kesadaran atau realisasi inilah yang kemudian menimbulkan keinginan ataupun dorongan untuk berubah, yakni mengubah keadaannya
yang jelek menjadi baik, keadaan inilah yang menunjukkan motif pada diri seseorang telah terbentuk. Atas dasar motif inilah akan terjadi perubahan
perilaku. Pendidikan kesehatan ini sangat penting dan diperlukan oleh semua kegiatan dasar kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan lingkungan.
Misalnya, tidak cukup kiranya kalau hanya dibangun penyediaan air bersih, tetapinya harus yakin bahwa dengan demikian masyarakat akan
terlindung dari penyakit bawaan air. Hal ini tidak terjadi secara otomatis, masyarakat harus berubah sesuai dengan teknologi yang kita perkenalkan pada masyarakat. Misalnya, apabila tadinya masyarakat mengambil air dari
bahwa mereka akan menggunakan air PAM. Hal ini hanya dapat terjadi apabila dilakukan penyuluhan tentang kegunaan dan manfaat air bersih.
Selain itu penyakit bawaan air hanya dapat menurun jumlahnya, apabila masyarakat mau hidup lebih hiegenis. Inipun perlu dipelajari dengan
demikian usaha kesehatan lingkunganpun perlu didukung oleh usaha pendidikan kesehatan.
3. Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (audio visual). Disebut media pendidikan karena alat-alat
tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau ”klien”. Berdasarkan
fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) : Cetak, elektronik, media papan (Widodo, 2007).
a. Media cetak
1) Booklet : untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik
tulisan maupun gambar.
2) Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan atau keduanya
3) Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan. 4) Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam bentuk
(halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut
5) Rubrik/tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan
dengan kesehatan.
6) Poster ialah bentuk media cetak berisi pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di
tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum
7) Foto, yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan
b. Media elektronik
1) Televisi ; dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab, pidato/ceramah, TV, Spot, quiz, atau cerdas
cermat, dan lain-lain.
2) Radio ; bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio,
ceramah, radio spot, dan lain-lain. 3) Video Compact Disc (VCD)
4) Slide : slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan/informasi kesehatan.
5) Film strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan
kesehatan.
c. Media papan (bill board)
Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat
Media papan di sini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum (bus/taksi).
d. Unsur Pendidikan Kesehatan
Didalam pengertian pendidikan tersebut harus terdapat
unsur-unsur sebagai berikut (Effendy, 1998):
1). Adanya bentuk pendidikan itu (apakah berbentuk usaha, pertolongan, bantuan, bimbingan, pelayanan atau pembinaan);
2). adanya pelaku pendidikan (orang dewasa, pendidik, orang tua, pemuka agama, pemuka masyarakat, ataupun pimpinan organisasi);
3). adanya sasaran pendidikan (orang yang belum dewasa, anak didik, peserta didik);
4). adanya sifat pelaksanaan pendidikan (dengan sadar, dengan
sengaja, dengan sistematis, dengan atau secara terencana); adanya tujuan yang ingin dicapai (manusia susila, kedewasaan, manusia
yang patriot atau warga negara yang bertanggung jawab).
B. Pengetahuan Pencegahan DBD 1. Pengetahuan
a. Definisi
Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang yang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo, 2007).
Dalam pengertian lain pengetahuan adalah sebagai yang ditemui dan diperoleh melalui suatu pengamatan. Pengetahuan muncul
ketika seseorang menggunakan indera atau akal pikirannya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Menurut Notoatmodjo (2007), bahwa seseorang
mengambil perilaku yang baru dalam dirinya, orang tersebut melakukan beberapa proses tertentu yaitu:
a) Kesadaran (Awareness)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi.
b) Merasa tertarik (Interest)
Seseorang tersebut merasa tertarik terhadap benda atau obyek yang
dilihatnya.
c) Menimbang-nimbang (Evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik buruknya objek atau benda
tersebut bagi dirinya. d) Mencoba (Trial)
e) Beradaptasi
Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran terhadap benda atau obyek yang ia terima.
Berdasarkan beberapa definisi diatur bisa diambil kesimpulan
bahwa pengetahuan yang luas dapat diperoleh dari aktifitas manusia berupa pengalaman mendengar dan membaca.
b. Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) tingkatan pengetahuan dibagi menjadi 6 (enam) yaitu:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat
know adalah mengingat (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Oleh karnea itu “tahu” adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjalankan materi obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja. Dapat menggunakan (membuat
bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
5) Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formula baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyesuaikan dan sebagainya
terhadap suatu teori-teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. 6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian terhadap suatu evaluasi didasari suatu kinerja yang ditentukan sendiri atau
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara
lain sebagai berikut (Soekanto, 2002): 1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang
maka semakin mudah pula mereka menerima informasi. Pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.
Sebaliknya jika seseorang memiliki tingkat pendidikan rendah maka akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai yang baru diperkenalkan.
2) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3) Usia
Dengan bertambahnya usia seseorang, maka akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara
aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.
C. Demam Berdarah Dengue (DBD) 1. Pengertian DBD
Pengertian penyakit demam berdarah yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Dikenal bermacam-macam jenis virus penyebab
penyakit demam berdarah, tetapi di Indonesia hanya terdapat 2 jenis virus penyebab demam berdarah yaitu virus dengue dan virus chikungunya.
Diantara kedua jenis virus yang terdapat di negeri kita, virus dengue merupakan penyebab terpenting dari demam berdarah. Oleh karena itu, penyakit demam berdarah yang kita kenal tepatnya bernama demam
berdarah dengue, sesuai dengan nama virus penyebab (Darmowandono, 2004).
Penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk jenis ini yang menularkan penyakit adalah betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau
binatang untuk hidup dan berkembang biak. Apabila di sekitar tempat bersarang nyamuk tersebut dijumpai seseorang yang sedang sakit demam
berdarah dengue dapat tertular penyakit dengan intensitas rendah apabila daya tahan tubuh baik. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh rendah seperti pada anak-anak, penyakit infeksi dengue ini dapat menjadi berat bahkan
2. Virus Dengue
Virus dengue sebagai penyebab penyakit demam berdarah
dengue, merupakan mikroorganisme yang sangat kecil hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Virus hanya dapat hidup di dalam
sel hidup sehingga virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati terutama untuk kebutuhan protein. Apabila daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah dapat
menyebabkan kerusakan sel jaringan. Jika kondisi ini tidak segera diatasi maka virus tersebut berkembang biak. Sebaliknya apabila segera
dilakukan upaya pencegahan sehingga virus melemah maka fungsi organ tubuh tersebut makin membaik dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuhnya.
Seperti halnya virus yang lain (misalnya influenza, campak) sebagian besar penderita anak sembuh dengan sendirinya, baik diobati
maupun tidak diobati oleh karena penyakit virus bersifat self limiting disease. Jadi, penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus mempunyai keunikan yaitu datang mendadak, penyakit akan berjalan terus
walaupun diobati, dan akhirnya akan sembuh dengan sendirinya tergantung dari ketahanan tubuh orang yang terkena. Sebenarnya yang
diobati adalah gejala yang timbul sebagai ‘akibat ulah’ virus yang berakhir timbul gejala demam, syok, maupun perdarahan, oleh karena sampai sekarang belum ada obat yang dapat membunuh virus dengue,
saat ini masih dalam taraf penelitian dan belum beredar (Darmowandono, 2004).
D. Pemberantasan Sarang Nyamuk
1. Pengertian Pemberantasan Sarang Nyamuk
Pengertian pemberantasan sarang nyamuk dalam kontek
pendidikan kesehatan adalah menciptakan atau membentuk pola hidup sehat bagi peserta didik. Pola hidup sehat ini diikuti oleh setiap individu guna meningkatkan status kesehatannya. Yang dimaksud
dengan pola hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan
menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Hidup sehat memerlukan situasi, kondisi, dan lingkungan yang sehat. Oleh karena itu, kondisi lingkungan perlu benar-benar diperhatikan
agar tidak merusak kesehatan. Kesehatan lingkungan harus dipelihara agar mendukung kesehatan setiap orang yang hidup di sekitarnya.
Memelihara berarti menjaga kebersihannya. Lingkungan kotor dapat menjadi sumber penyakit (Effendy, 1998).
2. Bionomik Nyamuk
Bionomik nyamuk merupakan kesenangan bersarang atau tempat perindukannya (breeding habit), kesenangan menggigit
a) Tempat perindukan
Jenis nyamuk ini mempunyai tempat perindukan pada
genangan air yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti:
(1). Tempat penampungan air yaitu tempat-tempat untuk menampung air guna keperluan sehari-hari seperti tempayan, bak mandi, bak WC, ember dan lain-lain.
(2). Bahan tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan, ban bekas dan lain-lain.
(3). Tempat penampungan air alami seperti lubang pohon, tempurung kelapa, kulit kerang, ruas bambu, dan pangkal pohon pisang
b) Kebiasaan menggigit
Nyamuk A. aegypti dewasa yang betina siap untuk
menghisap darah manusia sehari atau dua hari setelah keluar dari stadium pupa dan 24 jam setelah bertelur. Waktu menggigit lebih banyak pada pagi hari dari pada malam hari,
antara jam 08.00-12.00 dan 15.00-17.00, serta lebih banyak menggigit di dalam rumah dari pada di luar rumah. A. aegypti
dapat menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (multiple bitter). Keadaan ini sangat membantu dalam memindahkan virus dengue ke beberapa orang sekaligus
c) Kebiasaan bertelur
Nyamuk A. aegypti mempunyai kebiasaan bertelur pada
tempat-tempat penampungan air yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti ember, kaleng bekas, serta botol-botol bekas.
Nyamuk A. aegypti akan bertelur setelah menghisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya bervariasi antara 2-4 hari, setelah pematangan telur selesai nyamuk betina akan meletakkan telurnya
pada dinding bejana, sedikit di atas permukaan air.
A. aegypti meletakkan telurnya secara tersebar. Kontak
yang nyata dengan air adalah rangsangan pertama untuk meletakkan telurnya. Umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada suhu 20-30°C, kelembaban udara praktis
mempengaruhi kebiasaan peletakan telur dari nyamuk A. aegypti. Hal ini mengingat bahwa aktivitas nyamuk ditentukan oleh
keadaan kelembaban udara sekitarnya (FKUI, 2002). d) Kebiasaan beristirahat
Kebiasaan beristirahat setelah menggigit dan selama
menunggu waktu pematangan telur, nyamuk A. aegypti beristirahat di tempat-tempat gelap, lembab dan sedikit angin.
e) Jarak terbang
Penyebaran populasi jentik tidak jauh dari tempat
perindukannya, tempat mencari mangsa dan tempat istirahatnya, sehingga populasi sebagai kluster dan tidak membentuk populasi
homogen. Bentuk minimum kluster A. aegypti dengan diameter 100 m memiliki kemampuan jarak terbang hanya 50 meter sehingga populasi nyamuk tidak hanya terlokalisir tetapi juga
terbagi-bagi.
Adapun pengertian PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
merupakan upaya untuk mengurangi jumlah nyamuk dengan melakukan pemberantasan jentiknya. Karena fogging yang selama ini dilakukan tidak bisa membunuh semua nyamuk dewasa yang
ada sedangkan satu nyamuk bisa bertelur sebanyak 100 buah. Bisa dibayangkan jika kita tidak melakukan pemberantasan sarang
nyamuk, maka populasi nyamuk jumlahnya bisa semakin bertambah banyak (Depkes RI, 2010).
Tempat perindukannya/sarang nyamuk aedes aegypti
adalah genangan air jernih yang tidak kena tanah (bersinggungan tanah) dimana jumlah sarang nyamuk ini meningkat pada saat
musim hujan. Perkembangan hidup nyamuk dari telur menjadi nyamuk dewasa sekitar 10-12 hari, karena itu maka kegiatan PSN harus dilakukan minimal seminggu sekali. Di Indonesia biasanya
puncaknya januari sampai Maret. Masing-masing kota/wilayah/ daerah mempunyai pola penularannya masing-masing (FKUI,
2002).
E. Pencegahan DBD
Pencegahan Demam Berdasarh Dengue yang populer dilakukan
dikenal dengan istilah 3M PLUS yaitu (Pratiwi, 2006):
a. Menguras dan menyikat dinding tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, drum, penampungan air AC, Kulkas dan lain-lain
seminggu sekali.
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti gentong
air/tempayan, tempat air suci/tirta, dan lain-lain.
c. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, ban bekas, botol bekas,
dan lain-lain.
Selain ketiga cara di atas sebagai konsep 3M PLUS maka cara
lainnya dalam pencegahan DBD atau berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti adalah (Pratiwi, 2006):
2. Mengganti air vas bunga dan tempat minum burung minimal
seminggu sekali.
3. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
5. Membubuhkan bubuk pembunuh jentik nyamuk (Abate) di tempat-tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air
6. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan cupang dan ikan nila
7. Memasang kawat kasa dan tidur menggunakan kelambu
8. Pencahayaan dan ventilasi di dalam ruangan harus memadai karena nyamuk ini senang hinggap di kamar yang gelap
9. Jangan biasakan menggantung pakaian karena nyamuk aedes aegypti senang hinggap di benda-benda yang tergantung di dalam rumah
seperti gordyn, baju/pakaian dan lain-lain.
10. Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk (bakar, oles, elektrik dan lain-lain) untuk mencegah gigitan nyamuk.
Aktifitas menggigit nyamuk aedes aegypty biasanya dari pagi sampai petang dengan puncak aktifitas antara jam 08.00-12.00 dan
15.00-17.00. Karena itu jika anda bepergian terutama ke tempat yang tinggi kasus DBD sebaiknya memakai celana dan baju lengan panjang dan memakai lotion anti nyamuk.
F. Pengaruh Pendidikan PSN terhadap Pencegahan DBD
Salah satu faktor untuk mendapatkan perilaku hidup sehat adalah melalui pendidikan kesehatan. Ini berarti pendidikan PSN dengan
1. Pendidikan kesehatan di dalam keluarga yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab para orangtua, dengan menitikberatkan pada
penanaman kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, dan sikap hidup sehat. 2. Pendidikan kesehatan didalam sekolah adalah tanggung jawab para
guru sekolah. Hal ini terwujud dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Tujuan pendidikan kesehatan disekolah, disamping melanjutkan penanaman kebiasaan dan norma-norma hidup sehat
kepada murid, juga memberikan pengetahuan kesehatan
3. Pendidikan kesehatan di masyarakat, yang dapat dilakukan melalui
berbagai lembaga dan organisasi masyarakat. Jadi, pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang kesehatan, maka pendidikan kesehatan dapat didefenisikan sebagai
usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (perilakunya), untuk
mencapai kesehatan secara optimal
Hasil dari pendidikan kesehatan tersebut, yaitu dalam bentuk perilaku yang menguntungkan kesehatan. Baik dalam bentuk pengetahuan
dan pemahaman tentang kesehatan, yang diikuti dengan adanya kesadaran yaitu sikap yang positif terhadap kesehatan, yang akhirnya diterapkan
Besar kecilnya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan DBD tergantung pada materi pendidikan
kesehatannya itu sendiri. Materi pendidikan tersebut disesuaikan dengan sasaran dalam proses pendidikan. Materi pendidikan kesehatan dalam
pencegahan DBD terutama ditujukan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan. Adapun materi pendidikan kesehatan dalam penelitian ini meliputi (Pratiwi, 2006):
1). Tersedianya air bersih
2). Pembuangan sampah dan air limbah
3). Menjaga kebersihan dan kesehatan kamar mandi, jamban atau WC
G. Kerangka Teori
Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan di atas, bahwa tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan
mengenai kesehatan sehingga mampu bersikap positif dan berperilaku hidup sehat. Berdasarkan penelitian terdahulu pencegahan terhadap DBD
Menurut Kelly (2000) konseptual karakteristik dapat dijelaskan dengan
pendekatan perilaku. Tindakan seseorang merupakan implementasi dari perilaku yang didasari oleh pendidikan (education), sikap (attitude) dan perilaku (action). Pengetahuan sesorang tentang DBD dengan benar akan
mendorong sikap yang baik guna mengatasi DBD. Pada akirnya sikap tersebut akan dibuktikan dengan perilaku atau tindakan untuk melakukan pencegahan.
Namun demikian Kelly menjelaskan tidak menutup kemungkinan bahwa pencegahan tersebut baru sebatas paradigma (semacam persepsi dan pengetahuan) untuk melakukan pencegahan. Dengan kata lain bahwa konsep
tindakan pencegahan dapat dijelaskan dua tahap, yaitu tahap pengetahuan dan berikutnya adalah tahap tindakan nyata.
H. Kerangka Konsep Faktor internal (Pendidikan)
- Pengetahuan
Faktor eksternal - Lingkungan - Keluarga - Layanan medis
Pencegahan DBD
Upaya Ibu-Ibu Dasawisma
Umur Pekerjaan Tingkat
Berdasarkan kerangka teori di atas bahwa pencegahan DBD dapat dilakukan dengan jalan pendidikan kesehatan yang diharapkan mampu
meningkatkan pengetahuan, dapat disusun kerangka konsep sebagai berikut :
Bagan 2.2.
Kerangka Konsep Pengaruh Pendidikan Kesehatan PSN terhadap Pengetahuan
Pencegahan DBD
I. Hipotesis
Ho : Tidak terdapat pengaruh pendidikan kesehatan pemberantasan
sarang nyamuk terhadap pengetahuan pencegahan demam berdarah dengue pada ibu-ibu dasawisma di desa Sokaraja Kulon dan di
perumahan Kalikidang Sokaraja.
Ha : Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan pemberantasan sarang nyamuk terhadap pengetahuan pencegahan demam berdarah
dengue pada ibu-ibu dasawisma di desa Sokaraja Kulon dan di perumahan Kalikidang Sokaraja.
Pengetahuan Pencegahan DBD
(Post Test) Pengetahuan
pencegahan DBD (Pre test)
Pendidikan Kesehatan
PSN