• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Grand Theory : Teori Motivasi

Pemilihan metode atau sistem akuntansi yang digunakan oleh pembayar pajak akan selalu dipengaruhi oleh motivasi pelaku bisnis dalam melakukan kegiatan usahanya. Motivasi secara umum timbul ketika pelaku kegiatan mengetahui kebutuhan dan kekurangannya, kemudian mencari cara untuk memuaskan kebutuhannya itu. Pencapaian kegiatan tersebut perilaku kegiatan diarahkan pada tujuan yang diharapkan. Hal tersebut akan berpangaruh pada kinerjanya. Kemudian ia akan menilai kembali kebutuhannya setelah melihat hasil atau dampak yang diperoleh dari kinerja yang dilakukan. Sejauh mana dampak positif atau negatif yang dia peroleh terhadap tindakan yang dia lakukan terhadap pemenuhan kebutuhan dan kekurangan yang dihadapinya.

Secara garis besar teori Motivasi digolongkan dalam dua kategori Teori isi dan Teori Proses. Teori isi merupakan teori motivasi yang memfokuskan pada faktor – faktor pada individu yang mendorong, mengarahkan, menjaga, dan menghentikan perilaku. Teori Proses merupakan teori motivasi yang menjelaskan dan menganalisis bagaimana perilaku didorong, diarahkan, dijaga dan dihentikan oleh faktor eksternal kepada seseorang.

Salah satu teori isi adalah teori penguatan ( Reinforcement Theory). Teori penguatan ini menyatakan bahwa perilaku dipengaruhi konsekuensinya ( Gibson, 2003 ). Berdasarkan perspektif manajerial teori penguatan akan sangat

(2)

berpengaruh ketika ia menyadari manfaat atau konsekuensi positif dari pelaporan pajak dengan menggunakan e- spt dibandingkan dengan menggunkan metode lainnya. Demikian juga motivasi seorang wajib pajak untuk memilih metode pelaporan pajak yang dilakukannnya akan dipengaruhi oleh seberapa besar manfaat dari sistem yang disajikan. Semakin tinggi manfaat penggunaan informasi akuntansi maka akan memotivasi wajib pajak untuk menggunakan sistem tertentu yang paling menguntungkan baginya. Pengggunaan dari e-learning akan semakin meningkat seiring dengan semakin ia dapat mengenali kebutuhan dalam dirinya, dengan mengenali karakteristik pribadinya yaitu faktor – faktor yang mungkin akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.

Dalam motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang

(3)

senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri.

Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh itu seseorang itu belajar,karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan akan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya,atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik,atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.

B. Gambaran Umum Perpajakan 1. Pengertian Pajak

Pengertian pajak menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan tata Cara Perpajakan nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP), sebagaimana telah di ubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) adalah : Kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang

(4)

bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Definisi pajak menurut Mardiasmo (2009 : 1) dijelaskan bahwa :

Iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipasakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Pajak dipungut berdasarkan Undang-Undang serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.

b. Sifatnya dapat dipaksakan

c. Dalam pembayaran pajak tidak mendapat prestasi langsung dari pemerintah kepada individual

d. Pajak dipungut oleh Negara, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah

e. Pajak digunakan pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara.

2. Fungsi Pajak

(5)

a. Fungsi penerimaan (Revenue budgetary)

Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah baik yang bersifat rutin maupun untuk membiayai pembangunan negara demi kesejahteraan bangsa. Sebagai contoh yaitu dimaksukannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri.

b. Fungsi mengatur (regulatory)

Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomis. Sebagai contoh yaitu dikenakannya pungutan pajak yang lebih tinggi terhadap minuman keras, dapat ditekan. Demikian pula terhadap barang mewah.

3. Wajib Pajak

Berdasarkan pasal 1 ayat 2 Nomor 28 Tahun 2007 dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pengertian wajib pajak adalah sebagai berikut :

Orang pribadi atau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan.

Sama halnya dengan kependudukan, seorang Wajib Pajak harus memiliki identitas yang menunjukan bahwa dirinya adalah seorang Wajib Pajak. Jika dalam kependudukan Warganegara ditunjukan dengan kepemilikan Kartu Tanda

(6)

Penduduk (KTP) maka identitas yang wajib dimiliki seorang Wajib Pajak adalah Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) .

4. E-SPT

Aplikasi Pajak adalah suatu sarana yang dapat menunjang pelayanan yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memudahkan wajib pajak dalam menyelesaikan segala proses perpajakan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi internet. Aplikasi Pajak yang disediakan tersebut meliputi e-registration, e-filingdan e-SPT. Dalam hal ini, wajib pajak dapat mengakses seluruh aplikasi pajak tersebut melalui website resmi Dirjen Pajak (www.pajak.go.id)

Salah satu aplikasi pajak yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang dapat digunakan oleh wajib pajak baik wajib pajak pribadi maupun wajib pajak badan adalah elektronik SPT (e-SPT). E-SPT adalah aplikasi yang disediakan oleh Dirjen Pajak yang dapat digunakan oleh wajib pajak untuk memudahkan penyampaikan dan pelaporan SPT. Penerapan E-SPT diawali dengan dikeluarkannya Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-88/PJ./2004 tanggal 14 Mei 2004 (BN No.7069 hal. 4B) tentang Penyampaian Surat Pemberitahuan (e-SPT) secara elektronik. Dalam hal penggunaan, E-SPT mengharuskan wajib pajak untuk mendownload softwarenya dari website Direktorat Jendreal Pajak lalu menginstallnya di komputer yang digunakan untuk menghitung pajak. Dengan sistem ini, penyampaian SPT dapat dilakukan dengan menggunakan bentuk media CD atau disket serta dapat disimpan pada hardisk komputer, sehingga lebih ringkas dan mudah dalam penyimpanan.

(7)

5. User E-Filing

Pengguna e-filing adalah Wajib Pajak, sebagaimana dijelaskan dalam Undang No. 28/2007 yang merupakan perubahan ketiga atas Undang-Undang No. 6/1983 tentang “Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan”. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Wajib Pajak dibedakan menjadi tiga (Muldjono, 2008:25) yaitu :

1. Wajib Pajak Pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan di atas pendapatan tidak kena pajak. Di Indonesia, setiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kecuali ditentukan dalam Undang-Undang.

2. Wajib Pajak Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

3. Wajib Pajak Bendaharawan adalah Bendaharawan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga pemerintah, Lembaga Negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Luar Negeri, yang membayar gaji, upah, tunjangan, honorarium dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan.

Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

(8)

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) menurut Soemarso (2010:30) adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Bisa dikatakan NPWP merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak. Oleh karena itu, setiap wajib pajak dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan diharuskan mencantumkan NPWP pada saat penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT).

Surat Pemberitahuan (SPT) menurut Soemarso (2010:43) adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. SPT dibedakan menjadi dua, yang pertama SPT Masa dan SPT Tahunan. SPT Masa yaitu surat pemberitahuan yang digunakan untuk melakukan pelaporan atas pembayaran pajak bulanan. Ada beberapa jenis pelaporan SPT Masa yaitu PPh pasal 21, PPh pasal 22, PPh pasal 23, PPh pasal 25, PPh pasal 26, PPh pasal 4 (2), PPh pasal 15, PPN dan PPnBM. Sementara SPT Tahunan yaitu Surat Pemberitahuan yang digunakan untuk pelaporan tahunan. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah pelaporan SPT Masa yang dilakukan oleh Wajib Pajak Badan.

Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan batas waktu penyampaian dan pelaporan SPT Masa :

(9)

Tabel 2.1

Batas Waktu Pembayaran dan Pelaporan SPT Masa Wajib Pajak

No Jenis Pajak Batas Waktu Pembayaran Batas Waktu Pelaporan 1 PPh pasal 4 ayat (2) Tanggal 10 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikut 2 PPh pasal 15 Tanggal 10 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikut 3 PPh pasal 21/26 Tanggal 10 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikut 4 PPh pasal 23/26 Tanggal 10 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikut 5 PPh pasal 25

(angsuran Pajak) Wajib Pajak orang pribadi dan badan

Tanggal 15 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikut

6 PPh pasal 25 (angsuran Pajak) Wajib Pajak 16 kriteria tertentu yang diperbolehan

melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa

Akhir masa pajak terakhir Tanggal 20 bulan berikut

7 PPh pasal 22, PPN & PPn BM oleh Bea Cukai

1 hari setelah dipungut Tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir

8 PPh pasal 22

Bendahara Pemerintah

Pada hari yang sama saat penyerahan barang

Hari kerja terakhir minggu berikutnya (melapor secara mingguan) 9 PPh Pasal 22

Pertamina

Sebelum delivery order dibayar

Tanggal 14 bulan berikut 10 PPh pasal 22

pemungut tertentu

Tanggal 10 bulan berikutnya Tanggal 20 bulan berikutnya 11 PPN dan PPn BM Akhir bulan berikutnya

setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPn Disampaikan

Akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak

12 PPn dan PPn BM Bendaharawan

Tanggal 7 bulan berikut Tanggal 14 bulan berikut 13 PPN & PPnBM

Pemungut Non Bendahara

Tanggal 15 bulan berikut Tanggal 20 bulan berikut

14 PPh pasal 4 ayat (2), pasal 15, 21, 23, PPN dan PPnBM Wajib Pajak Kriteria Tertentu

Sesuai batas waktu per SPT Masa

Tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak Terakhir

(10)

6. E-Filing

E-Filing adalah suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) baik

SPT Masa, maupun SPT Tahunan atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan oleh Orang Pribadi maupun Badan ke Direktorat Jenderal Pajak yang dilakukan secara online dan realtime melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider (ASP). Online berarti bahwa wajib pajak dapat melaporkan pajak melalui internet dimana saja dan kapan saja, sedangkan kata

realtime berarti bahwa konfirmasi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat

diperoleh saat itu juga apabila data-data Surat Pemberitahuan (SPT) yang diisi dengan lengkap dan benar telah sampai dikirim secara elektronik.

Pada awalnya terjadi kesimapangsiuran mengenai angka-angka penerimaan pajak yang disampaikan antara satu pejabat dengan pejabat lain termasuk Departemen Keuangan. Hal ini rupanya disebabkan sistem Modul Penerimaan Negara (MPN) yang merupakan sistem informasi di Departemen Keuangan yang mengintegrasikan penerimaan DJP, Direktorat Jenderal Bea Cukai, serta pengeluaran Direktorat Jenderal Anggaran belum solid (Wiyono,2008). Oleh karena itu Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mensosialisasikan fasilitas baru untuk pelaporan pajak yaitu e-filing, dalam rangka untuk meminimalisasi ketidakakuratan sistem yang terjadi oleh MPN. Secara garis besar e-filing juga sangat menguntungkan Wajib Pajak antara lain memberikan kemudahan Wajib Pajak dalam melaporkan SPT dengan biaya cenderung lebih murah dibanding secara manual dan dengan proses yang lebih cepat karena wajib pajak merekam sendiri Surat Pemberitahuannya sehingga bisa lebih akurat, efektif

(11)

dan efisien. Serta dengan adanya data silang pajak akan menciptakan keadilan pajak dan transparansi sehingga dapat meminimalisasi segala kecurangan, kebocoran dan penyimpangan dalam penerimaan pajak. Berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor 47/PJ/2008 tentang “Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Dan Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan Surat Pemberitahuan Tahunan Secara Elektronik (efiling) Melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP)” sebelumnya ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai alat kelengkapan e-filing yaitu meliputi :

1. Application Service Provider (ASP) adalah perusahaan yang telah ditunjuk

dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak sebagai perusahaan yang dapat menyalurkan penyampaian SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik ke DJP. Perlu diketahui bahwa tidak semua Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) diperkenankan untuk bertindak sebagai mediator, melainkan hanya ASP yang telah memenuhi syarat dan ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak saja. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi adalah sebagai berikut:

a. Berbentuk badan

b. Memiliki izin usaha penyedia jasa aplikasi

c. Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

d. Menandatangani perjanjian dengan Direktorat Jenderal Pajak.

Menurut Novarina (2005) terdapat 17 Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang telah ditunjuk oleh DJP, namun baru 8 ASP yang sudah aktif melalui websitenya masing-masing, yaitu :

(12)

b. http://pajakmandiri.com c. http://mitrapajak.com d. http://www.spt.co.id e. http://www.pajakku.com f. http://laporpajak.com g. http://setorpajak.com h. http://www.ic-rekayasa.co.id/espt/default.html

2. Electronic Filing Identification Number (e-FIN) adalah nomor identitas yang

diberikan oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar kepada Wajib Pajak yang mengajukan permohonan untuk melaksanakan e-Filing.

3. Digital Certificate (DC) adalah sertifikat yang bersifat elektronik yang

memuat Tanda Tangan Elektronik dan identitas yang menunjukan status subjek hukum para pihak dalam transaksi elektronik yang dikeluarkan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik. Sertifikat ini digunakan untuk proteksi data SPT dalam bentuk encryption (pengacakan) yaitu hanya bisa dibaca oleh sistem tertentu (dalam hal ini sistem penerimaan SPT ASP dan DJP) dan dengan nama serta NPWP tertentu pula. Sehingga terjamin kerahasiaannya.

4. e-SPT adalah data SPT Wajib Pajak dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

(13)

Berikut ini adalah tahapan-tahapan tata cara dalam penggunaan e-filing menurut Waluyo (2007:16) :

a) Pengajuan permohonan untuk mendapatkan e-FIN (Electronic Filing

Identification Number) :

1) Wajib Pajak mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk mendapatkan Electronic Filing Identification Number (e-FIN), dengan mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak terdaftar sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak, dengan melampirkan Fotocopy Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak atau Surat Keterangan Terdaftar (SKT). Namun jika Wajib Pajak adalah Pengusaha Kena Pajak maka disertai dengan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

2) Permohonan sebagaimana dimaksud diatas disetujui apabila alamat yang tercantum pada permohonan adalah sama dengan alamat yang tercantum dalam masterfile (database) Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan.

3) Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan harus memberikan keputusan atas permohonan yang diajukan oleh Wajib Pajak untuk memperoleh Electronic Filing Identification Number

(e-FIN) paling lama 2 (dua) hari kerja setelah permohonan diterima

secara lengkap.

4) Jika e-FIN hilang, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pencetakan ulang dengan syarat menunjukkan kartu NPWP atau

(14)

Surat Keterangan Terdaftar yang asli. Dan dalam hal Pengusaha Kena Pajak harus menunjukkan Surat Pengusaha Kena Pajak yang asli.

b) Pendaftaran

1) Wajib Pajak yang sudah mendapatkan e-FIN dapat mendaftar melalui ASP yang telah ditunjuk resmi oleh DJP

2) Setelah Wajib Pajak mendaftarkan diri, ASP akan memberikan : a. User ID dan Password

b. Aplikasi e-SPT disertai dengan petunjuk penggunaan dan informasi lainnya

c. Sertifikat (digital certificate) yang diperoleh dari DJP berdasarkan e-FIN yang didaftarkan oleh Wajib Pajak pada ASP. Digital Certificate ini akan berfungsi sebagai pengaman data Wajib Pajak dalam setiap proses e-filing c) Penyampaian e-SPT secara e-filing

1) Dengan menyampaikan aplikasi e-SPT yang telah di dapat maka Surat Pemberitahuan (SPT) dapat diisi secara offline oleh Wajib Pajak

2) Setelah pengisian SPT lengkap maka Wajib Pajak dapat mengirimkan secara online ke Direktorat Jenderal Pajak melalui ASP.

3) Kemudian Wajib Pajak berhak menerima tanda bukti elektronik yang diberikan oleh DJP melalui Kantor Pelayanan Pajak meliputi

(15)

nama, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tanggal transaksi, jam transaksi, Nomor Tanda Terima Elektronik (NTTE), Nomor Transaksi Pengiriman ASP (NTPA), serta nama Perusahaan Penyedia Aplikasi (ASP) yang tertera pada hasil cetakan SPT Induk dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan.

7. Penerimaan e-filing oleh Wajib Pajak

Reformasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak terus dilaksanakan secara berkesinambungan (Dewi, 2009). Reformasi tersebut tidak hanya terhadap peraturan (kebijakan) perpajakan semata, melainkan juga meliputi seluruh sistem, institusi, pelayanan kepada masyarakat Wajib Pajak, pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan, demikian juga atas moral, etika dan integritas aparat pajak. Menurut Novarina (2005), Teknologi Informasi berkenaan dengan internet (cyberspace) telah digunakan dalam banyak sektor kehidupan, mulai dari perdagangan/bisnis (

e-Commerce), pendidikan (e-Education), kesehatan (Telemedicine) bahkan

sampai di bidang pemerintahan (e-Government). Oleh karena itu maka berbagai usaha yang terkait dengan aplikasi Teknologi Informatika dalam kegiatan perpajakan Indonesia pun, terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan tujuan untuk memudahkan dan meningkatkan serta mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat sebagai Wajib Pajak.

Penggunaan sarana elektronik melalui internet (e-System) ini tidak lain adalah sebagai bagian dari reformasi perpajakan (tax reform), khususnya di bidang administrasi perpajakan (Dewi, 2005). Hal ini dilakukan mulai dari

(16)

pendaftaran sebagai Wajib Pajak (e-Registration), pembayaran pajak (

e-Transaction and e-Payment) dan pelaporan pajak dengan SPT (e-filing) dan

layanan On-line Research and Solution Finding, e-Consulting serta SMS info.

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-88/PJ./2004 tanggal 14 Mei 2004 jo KEP-05/PJ./2005 tanggal 12 Januari 2005 tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Secara Elektronik (e-filing) melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP), e-filing atau e-SPT adalah Surat Pemberitahuan Masa atau Tahunan yang berbentuk formulir elektronik dalam media komputer, dimana penyampaiannya dilakukan secara elektronik dalam bentuk data digital yang ditransfer atau disampaikan ke Direktorat Jenderal Pajak melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi atau

Application Service Provider (ASP) yang telah ditunjuk oleh Direktur

Jenderal Pajak dengan proses yang terintegrasi dan real time(Novarina, 2005). Dapat disimpulkan bahwa dalam implementasinya, proses penyampaian SPT secara on-line lewat internet akan melibatkan tiga pihak yaitu :

1. Wajib Pajak itu sendiri;

2. Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP); dan

3. Direktorat Jenderal Pajak lewat Kantor Pelayanan Pajak.

Wajib Pajak yang berniat melaksanakan penyampaian SPT secara online, terlebih dahulu harus menyampaikan surat permohonan kepada

(17)

Direktorat Jenderal Pajak yaitu kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempatnya terdaftar guna memperoleh e-FIN (Electronic Filing Identification

Number) sebagai nomor identitas Wajib Pajak. Electronic Filing Identification

System (e-FIN) adalah nomor identitas Wajib Pajak yang di terbitkan oleh

Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar berdasarkan permohonan Wajib Pajak (www.spt.co.id).

Berikut ini merupakan prosedur penggunaan e-filing:

1. Wajib Pajak menyampaikan Surat Permohonan memperoleh e-FIN atau melaksanakan e-filing kepada Direktorat Jenderal Pajak yaitu kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

2. Direktorat Jenderal Pajak via Kantor Pelayanan Pajak memberikan e-FIN

3. Wajib Pajak mendaftar ke Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) dan meminta Digital Certificate ke Direktorat Jenderal Pajak melalui Penyedia Jasa Aplikasi (ASP)

4. Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak memberikan Digital Certificate melalui Penyedia Jasa Aplikasi (ASP)

5. Wajib Pajak melakukan e-filing ke Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang diteruskan ke Kantor Pelayanan Pajak

6. Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak memberikan bukti penerimaan e-SPT yang mengandung informasi berupa : NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), tanggal transaksi, jam transaksi, Nomor

(18)

Transaksi Penyampaian SPT (NTPS), Nomor Transaksi Pengiriman ASP (NTPA), nama ASP.

7. Wajib Pajak menyampaikan print out dari Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) berupa induk SPT yang sudah diberi bukti penerimaan elektronik, ditandatangani dan dilampiri sesuai ketentuan Kantor Pelayanan Pajak

Pada dasarnya, tujuan dari penyediaan fasilitas ini adalah untuk memberikan alternatif pilihan layanan kepada masyarakat Wajib Pajak dalam hal penyampaian SPT-nya selain dengan cara manual yang seperti pada umumnya telah dilakukan sebelumnya, yaitu dengan pemanfaatan teknologi melalui internet yang secara keseluruhan cenderung lebih akurat dan dengan proses yang lebih cepat sehingga bisa lebih efektif dan efisien (Dewi, 2009). Namun demikian, menurut Novarina (2005), di dalam hal pembuktian, bagi Wajib Pajak yang telah menggunakan jasa elektronik ini, penyampaian Surat Pemberitahuannya masih dilakukan dengan cara menyampaikan kembali bukti penerimaan SPT elektronik (print out) Induk SPT Wajib Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak, dimana Wajib Pajak terdaftar. Hal ini menjadikan sistem ini yang seharusnya efisien menjadi tidak efisien, karena Wajib Pajak harus kerja dua kali.

Menurut Novarina (2005:45), dalam penyampaian SPT secara elektronik (e-SPT) ini, digunakan metode yang bersifat tanpa kertas (paperless

method) sebagai alternatif terhadap metode kertas (paper based method) dalam

(19)

akan menghadapi rintangan/hambatan dari hukum di Negara Indonesia. Hambatan tersebut disebabkan karena selama ratusan tahun produk hukum telah terbiasa dengan penggunaan dokumen kertas dimana melekat syarat-syarat tertulis, ditandatangani dan asli (written, signed and original).

8. Penggunaan Teknologi Informasi oleh Wajib Pajak

Menurut Firmawan (2009:23), Sistem Informasi (SI) adalah sebuah rangkaian prosedur formal mengenai pengumpulan data yang kemudian diproses menjadi informasi dan distribusikan kepada para pemakai. Sistem Informasi Akuntansi (SIA) didefinisikan sebagai kumpulan manusia dan sumber-sumber modal di dalam suatu organisasi yang bertanggungjawab untuk menyiapkan informasi keuangan dan juga informasi yang diperoleh dari pengumpulan dan pengolahan data transaksi. Perkembangan sistem informasi tidak terlepas dari investasi teknologi informasi (TI). Informasi akuntansi juga sangat diperlukan agar dapat mendaya gunakan manfaat-manfaat dari TI tersebut secara maksimal (O’Toole, 1996 dalam maskur, 2005)

Goodhue (1995) mendefinisikan teknologi sebagai alat yang digunakan oleh individu uuntuk membantu menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dalam penelitian sistem informasi, teknologi merujuk pada sistem komputer yang terdiri dari perangkat lunak dan data serta dukungan layanan yang disediakan untuk membantu para pemakai dalam menyelesaikan tugasnya. Sedangkan menurut Wilkinson (1998) TI adalah suatu teknologi yang menitik beratkan pada penggunaan komputer dan teknologi yang berhubungan dengan

(20)

pengaturan sumber informasi. Menurut Richardus (2000) TI adalah teknologi yang berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data informasi tersebut dalam batas-batas ruang dan waktu. TI memiliki fungsi yang sangat komplek yang dapat digunakan individu dalam menyelesaikan tugasnya.

Dillon (2001) mendefinisikan penerimaan pengguna (user acceptance) sebagai keinginan yang ditunjukkan dalam suatu grup pengguna untuk menggunakan TI. Penerimaan Teknologi didefinisikan sebagai keluasaan sebaran dari suatu teknologi pada proses organisasional atau masyarakat menjadi bagian utuh dari tugas-tugas yang berhubungan dengan proses tersebut (Firmawan, 2009). Pengguna dalam hal ini adalah Wajib Pajak dan teknologi informasi yang dimaksud adalah e-filing sehingga pengertian yang dimaksud disini adalah keinginan yang ditunjukkan oleh Wajib Pajak untuk menggunakan e-filing serta keluasaan penggunaan e-filing yang diserap oleh Wajib Pajak untuk melakukan suatu proses organisasional yang dalam hal ini adalah pelaporan pajak.

9. Teori Keperilakuan dalam Pengembangan dan penerapan Teknologi Informasi

Perilaku pengguna dan personil sistem diperlukan dalam pengembangan sistem, dan hal ini berkaitan dengan pemahaman dan cara pandang pengguna-pengguna sistem tersebut (Pratama, 2009). Menurut Pratama (2009), penerapan suatu sistem dan teknologi informasi tidak

(21)

terlepasdari aspek perilaku karena pengembangan sistem terkait dengan masalah individudan organisasional sebagai pengguna sistem tersebut, sehingga sistem yang dikembangkan harus berorientasi pada penggunanya. Novarina (2005) menyatakan bahwa keberhasilan penerimaan sistem informasi tidak hanya ditentukan oleh bagaimana sistem tersebut bias memproses suatu informasi dengan baik, tapi juga ditentukan oleh tingkat penerimaan individu terhadap penerapan sistem informasi tersebut.

Menurut Dewi (2009), berdasarkan teori keperilakuan, diajukan teori yang mengatakan bahwa teknologi informasi mampu mengubah dari pengambilan keputusan pada organisasi dengan cara menekan biaya yang diperlukan oleh informasi dan memperluas distribusi informasi. Terkait dengan e-filing, dengan diciptakannya e-filing dalam Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat merampingkan posisi-posisi dalam organisasi tersebut. Teknologi informasi mampu membawa informasi langsung dari unit-unit operasi ke atasan, dengan demikian mengurangi pekerja data yang terkait. Teknologi informasi juga dapat mendistribusikan informasi secara langsung kepada para pekerja di level yang lebih rendah.

Berdasarkan beberapa uraian teoritis dan hasil penelitian empiris yang telah diuraikan diatas, dapat dipahami bahwa aspek perilaku dalam penerapan TI merupakan salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan karena berhubungan langsung dengan pengguna, disebabkan oleh interaksi antara pengguna dan perangkat komputer yang digunakan sangat dipengaruhi oleh

(22)

persepsi, sikap, afeksi sebagai alat keperilakuan yang melekat pada diri manusia sebagai user (Firmawan, 2009)

10. Technology Acceptance Model (TAM)

TAM mendeskripsikan terdapat dua faktor yang secara dominan mempengaruhi integrasi teknologi. Faktor pertama adalah persepsi pengguna terhadap manfaat teknologi. Sedangkan faktor kedua adalah persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan teknologi (ease of use). Kedua faktor tersebut mempengaruhi kemauan untuk memanfaatkan teknologi

(usefulness). Selanjutnya kemauan untuk memanfaatkan teknologi akan

mempengaruhi penggunanan teknologi yang sesungguhnya.

Gambar 2.1

Technology Acceptance Model (TAM) Pengguna terhadap kemudahan dalam menggunakan teknologi Pengguna terhadap manfaat teknologi Kemauan untuk memanfaatkan teknologi baru Pemanfaatan teknologi baru yang sesungguhnya Tekanan dari lingkungan,pen galaman, dll

(23)

Persepsi pengguna terhadap manfaat teknologi dapat diukur dari beberapa faktor sebagai berikut:

a. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan produktivitas pengguna b. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan kinerja pengguna

c. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan efisiensi proses yang dilakukan pengguna.

Faktor faktor diatas akan mempengaruhi persepsi pengguna terhadap manfaat teknologi. Pada umumnya penguna teknologi akan memiliki persepsi positive terhadap teknologi yang disediakan. Persepsi negative akan muncul sebagai dampak dari penggunaan teknologi tersebut. Artinya persepsi negative berkembang setelah pengguna pernah mencoba teknologi tersebut atau pengguna berpengalaman buruk terhadap penggunaan teknologi tersebut.

Pengalaman buruk ini dapat berupa pengalaman menggunakan teknologi yang sejenis ataupun pengalaman setelah menggunakan teknologi yang disediakan. Faktor penyebab ini sebenarnya berkaitan erat dengan faktor kedua dari TAM yaitu persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam menggunakan teknologi.

Persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam menggunakan teknologi dipengaruhi beberapa faktor. Faktor pertama berfokus pada teknologi itu sendiri misalnya pengalaman pengguna terhadap penggunana teknologi yang sejenis. Pengalaman baik pengguna akan teknologi sejenis akan mempengaruhi persepsi pengguna terhadap teknologi baru yang disediakan, begitu pula sebaliknya.

(24)

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Wajib Pajak Terhadap e-filing Dalam penelitian sebelumnya, faktor-faktor seperti Kegunaan, Kerumitan, Kesiapan Teknologi Informasi telah diteliti sebagai faktor- faktor yang mempengaruhi penggunaan fasilitas e-filing terhadap wajib pajak secara

Online dan Realtime oleh karenanya peneliti akan mengambil Ekspektasi

Kinerja, Kualitas Data, Kualitas Sistem sebagai faktor penguji yang mempengaruhi Wajib Pajak untuk menggunakan e-filing.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai faktor- faktor dalam penelitian ini :

1. Ekspektasi Kinerja (Performance Expectancy)

Ekspektasi kinerja diyakini bahwa seorang individu akan menggunakan SI apabila sistem tersebut dapat membantunya untuk meningkatkan kinerja (Handayani, 2007). Sementara itu Venkatesh et. al.(2003) mendefinisikan ekspektasi kinerja sebagai seberapa tinggi seseorang percaya bahwa menggunakan suatu sistem akan membantu dirinya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan kinerja dalam pekerjaannya. Pemaparan Hamzah (2009) menjelaskan bahwa konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang berkaitan dengan perceived usefullness, motivasi ekstrinsik, kesesuaian kerja dan keuntungan relatif. Dalam kaitannya dengan sistem e-filing, ekspektasi kinerja penggunaan e-filing dapat dikatakan bahwa tingkat kepercayaan seseorang bahwa sistem e-filing itu bermanfaat atau membantu dalam pekerjaannya. Jika Wajib pajak beranggapan bahwa dengan menggunakan e-filing akan memberikan manfaat bagi dirinya maka mereka akan menggunakan e-filing.

(25)

2. Kualitas Sistem (System Quality)

Kualitas sistem biasanya berfokus pada karakteristik kinerja sistem. Menurut DeLone dan McLean dalam Livari (2005) kualitas sistem merupakan, sistem ciri karakteristik kualitas yang diinginkan dari sistem informasi itu sendiri, dan kualitas informasi yang diinginkan informasi karakteristik produk. Kualitas sistem ini juga berarti kombinasi hardwaredan software dalam sistem informasi (DeLone dan McLean, 1992). Kualitas sistem dalam sistem informasi di Direktorat Jenderal Pajak menyangkut keterkaitan fitur dalam sistem termasuk performa sistem dan user interface. Menurut Shannon dan Weaver dalam DeLone dan McLean (2003), Kualitas suatu sistem informasi mengukur kesuksesan secara teknik. Level teknikal komuniikasi diartikan sebagai keakuratan dan keefisienan sistem komunikasi yang menghasilkan informasi.

Kualitas sistem memerlukan indikator untuk dapat mengukur seberapa besar kualitas dari sistem e-filing tersebut. Indikator diperlukan karena kualitas sistem merupakan variabel laten yang tidak dapat diukur secara langsung. Indikator kualitas sistem diwujudkan dalam seperangkat pertanyaan kualitas sistem yang dapat diukur melalui beberapa indicator sebagai berikut.

1. Ease of use (Kemudahan Penggunaan)

Suatu sistem informasi dapat dikatakan berkualitas jika system tersebut dirancang untuk memenuhi kepuasan pengguna melalui kemudahan dalam menggunakan sistem informasi tersebut. Davis (1989) mengungkapkan kemudahan yang dipersepsikan adalah tingkatan dimana

(26)

seseorang percaya bahwa pengunaan suatu sistem tertentu dapat menjadikan orang tesebut bebas dari usaha (free of effort). Bebas dari usaha yang dimaksudkan adalah bahwa saat seseorang menggunakan sistem, ia hanya memerlukan sedikit waktu untuk mempelajari sistem tersebut karena sistem tersebut sederhana, tidak rumit, dan mudah dipahami, sudah dikenal (familiar). Kemudahan penggunaan dalam konteks ini bukan saja kemudahan untuk mempelajari dan menggunakan suatu sistem tetapi juga mengacu pada kemudahan dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas dimana pemakaian suatu sistem akan semakin memudahkan seseorang dalam bekerja dibanding mengerjakan secara manual (Pratama, 2008). Pengguna sistem informasi mempercayai bahwa sistem informasi yang lebih fleksibel, mudah dipahami dan mudah pengoperasiannya sebagai karakteristik kemudahan penggunaan.

2. Response Time (Kecepatan Akses)

Kecepatan akses merupakan salah satu indikator kualitas system informasi. Jika akses sistem informasi memiliki kecepatan yang optimal maka layak dikatakan bahwa sistem informasi yang diterapkan memiliki kualitas yang baik. Kecepatan akses akan meningkatkan kepuasan pengguna dalam menggunakan sistem informasi. Response timeini juga dapat dilihat dari kecepatan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengkonfirmasi atas data-data yang telah dikirimkan oleh Wajib Pajak dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT).

(27)

3. Reliability (Keandalan Sistem)

Sistem informasi yang berkualitas adalah sistem informasi yang dapat diandalkan. Jika sistem tersebut dapat diandalkan maka sistem informasi tersebut layak digunakan. Keandalan sistem informasi dalam konteks ini adalah ketahanan sistem informasi dari kerusakan dan kesalahan. Keandalan sistem informasi ini juga dapat dilihat dari sistem informasi yang melayani kebutuhan pengguna tanpa adanya masalah yang dapat mengganggu kenyamanan pengguna dalam menggunakan sistem informasi, kaitannya dengan sistem e-filing.

4. Flexibility (Fleksibilitas)

Fleksibilitas suatu sistem informasi menunjukkan bahwa system informasi yang diterapkan tersebut memiliki kualitas yang baik. Fleksibilitas yang dimaksud adalah kemampuan sistem informasi dalam melakukan perubahan-perubahan kaitannya dengan memenuhi kebutuhan pengguna. Pengguna akan merasa lebih puas menggunakan suatu sistem informasi jika sistem tersebut fleksibel dalam memenuhi kebutuhan pengguna.

5. Security (keamanan)

Suatu sistem informasi dapat dikatakan baik jika keamanan system tersebut dapat diandalkan. Keamanan sistem ini dapat dilihat melalui data pengguna yang aman disimpan oleh suatu sistem informasi. Data pengguna ini harus terjaga kerahasiaannya dengan cara data disimpan oleh

(28)

system informasi sehingga pihak lain tidak dapat mengaksesdata pengguna secara bebas (Ratih, 2009). Jika data pengguna dapat disimpan secara aman maka akan memperkecil kesempatan pihak lain untuk menyalah gunakan data pengguna sistem informasi. Dalam sistem e-filing ini aspek keamanan juga dapat dilihat dari tersedianya usernamedan password bagi Wajib Pajak yang telah mendaftarkan diri untuk dapat melakukan pelaporan Surat pemberitahuan (SPT) secara online. Digital certificate juga dapat digunakan sebagai proteksi data Surat Pemberitahuan (SPT) dalam bentuk encryption (pengacakan) sehingga hanya dapat dibaca oleh sistem tertentu.

3. Kepuasan Pengguna

Menurut Seddon dan Kiew (1994), kepuasan pengguna adalah keseluruhan evaluasi dari pengalaman pengguna dalam menggunakan sistem informasi dan dampak potensial dari sistem informasi. User satisfaction dapat dihubungkan dengan persepsi manfaat (usefulness) dan sikap pengguna terhadap sistem informasi yang dipengaruhi oleh karakteristik personal. Kepuasan pengguna akan mempengaruhi niat untuk menggunakan sistem informasi dan penggunaan aktual.

Menurut Seddon dan Kiew (1994), kepuasan pengguna merupakan perasaan bersih dari senang atau tidak senang dalam menerima sistem informasi dari keseluruhan manfaat yang diharapkan seseorang dimana perasaan tersebut dihasilkan dari interaksi dengan sistem informasi. Tiap pengguna mempunyai seperangkat manfaat yang diharapkan atau aspirasi untuk sistem informasi. Hal

(29)

tersebut dapat ditunjukkan dengan perluasan dimana sistem dapat memenuhi atau gagal memenuhi aspirasi, pengguna mungkin lebih atau kurang puas.

Menurut Livari (2005), sebuah sistem informasi yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna akan meningkatkan kepuasan pengguna. Hal ini diwujudkan dengan kecenderungan peningkatan penggunaan sistem informasi tersebut. Sebaliknya, jika sistem informasi tidak dapat memenuhi kebutuhan pengguna maka kepuasan pengguna tidak akan meningkat dan penggunaan lebih lanjut akan dihindari. Kepuasan pengguna ini berhubungan dengan kesuksesan kualitas sistem informasi dan kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi. Keduanya diasumsikan dapat mempengaruhi kepuasan pengguna sistem informasi. Semakin baik kualitas sistem dan kualitas informasi yang dihasilkan maka kepuasan pengguna atas sistem informasi tersebut juga akan semakin meningkat. Sistem informasi dapat diandalkan apabila memiliki kualitas sistem dan kualitas informasi yang baik dan mampu memberikan kepuasan pada pemakainya. Kegagalan suatu sistem informasi mungkin karena ketidakmampuan suatu memenuhi harapan pemakai (Meiranto dalam Pratama, 2008).

Kepuasan sering dipakai sebagai proksi akan kesuksesan sebuah sistem informasi (Pratama, 2008). Kesuksesan sebuah sisem informasi yang dapat mempengaruhi kepuasan pengguna dapat dilihat pada tingkat yang berbeda yaitu tingkat teknikal, semantik, dan keefektivan sistem.Tingkat teknikal dari komunikasi sebagai keakuratan dan keefisienan sistem komunikasi yang menghasilkan suatu informasi. Tingkat semantik merupakan kesuksesan informasi dalam menyampaikan maksud atau arti yang diharapkan. Tingkat keefektivan

(30)

merupakan efek informasi pada penerima. Dalam model kesuksesan DeLone dan McLean, kualitas sistem mengukur kesuksesan teknikal, kualitas informasi mengukur kesuksesan semantik, dan pengunaan sistem, kepuasan pengguna, individual impact dan organizational impact mengukur kesuksesan keefektivan.

Sistem informasi memerlukan beberapa indikator untuk mengukur kepuasan pengguna kaitannya dengan sistem e-filing yang diterapkan oleh direktorat Jenderal Pajak. Indikator kepuasan pengguna diukur melalui seperangkat pertanyaan mengenai kepuasan pengguna e-filing dalam bentuk kuesioner. Indikator-indikator yang digunakan dalam variabel kepuasan pengguna adalah sebagai berikut:

1. Efficiency (efisiensi)

Kepuasan pengguna dapat tercapai jika sistem informasi membantu pekerjaan pengguna secara efisien. Keefisienan ini dapat dilihat dari system informasi yang dapat memberikan solusi terhadap pekerjaan pengguna kaitannya dengan aktivitas pelaporan pajak secara efisien. Suatu system informasi dapat dikatakan efisien jika suatu tujuanyang dimiliki pengguna dapat tercapai dengan melakukan hal yang tepat. Halyang tepat ini kaitannya dengan penggunaan e-filing sebagai solusi atas aktivitas Wajib Pajak dalam melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) sehingga WajibPajak dapat dengan mudah melaporkan pajak dengan memperkecil beban administrasi pemrosesan pelaporan pajak.

(31)

Keefektivan sistem informasi dalam memenuhi kebutuhan pengguna dapat meningkatkan kepuasan pengguna terhadap sistem informasi tersebut. Keefektivan sistem informasi ini dapat dilihat darikebutuhan atau tujuan yang dimiliki pengguna dapat tercapai sesuai harapan atau target yang diinginkan. Dalam sistem e-filing ini, pengguna atau Wajib Pajak tetap dapat melaporkan pajak secara online dan realtime.

3. Satisfaction (kepuasan)

Kepuasan pengguna dapat diukur melalui rasa puas yang dirasakan pengguna dalam menggunakan sistem e-filing. Rasa puas pengguna dapat ditimbulkan dari fitur-fitur yang disediakan sistem e-filing seperti kualitas dari sistem e-filing dan kualitas informasi yang dihasilkan oleh system

e-filing. Rasa puas yang dirasakan pengguna mengindikasikanbahwa sistem

informasi atau sistem e-filing berhasil memenuhi aspirasi atau kebutuhan pengguna kaitannya dengan Wajib Pajak.

4. Proudness (Kebanggaan Menggunakan Sistem)

Kepuasan pengguna dalam sistem informasi dapat ditunjukkan dengan perilaku pengguna yang merasa bangga menggunakan sistem informasi tersebut. Semakin besar rasa bangga pengguna dalam menggunakan system informasi mengindikasikan kepuasan pengguna terhadap sistem informasi yang semakin tinggi. Kebanggaan menggunakan sistem informasi juga perlu dipertimbangkan dalam mengukur kepuasan pengguna dalam menggunakan sistem informasi. Hal ini dapat ditunjukkan

(32)

dengan Wajib Pajak yang merasa bangga menggunakan e-filing diindikasikan merasakan kepuasan dalam menggunakan sistem e-filing tersebut.

D. Penelitian Terdahulu

Winna (2011) melakukan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi minat wajib pajak menggunakan e-filing bahwa ekspektasi kerja, pengalaman, keamanan dan kerahasiaan berpengaruh positif terhadap minat penggunaan

e-filing sedangkan ekspektasi usaha, kompleksitas, kesukarelaan berpengaruh

negatif terhadap minat penggunaan e-filing .

Studi yang dilakukan Wiyono (2008) terhadap para Wajib Pajak yang telah mencoba atau menggunakan e-filing di Indonesia menunjukkan hasil bahwa sikap penggunaan e-filing berpengaruh signifikan terhadap minat perilaku penggunaan e-filing. Kerumitan berpengaruh signifikan terhadap penggunaan senyatanya, sedangkan kerumitan tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi kegunaan. Pengalaman tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi kegunaan maupun minat perilaku. Jenis kelamin tidak terlalu berpengaruh signifikan pada persepsi kemudahan. Persepsi kemudahan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan persepsi kegunaan. Sedangkan persepsi kegunaan terhadap penggunaan aktual tidak signifikan pada 8 tingkat kepercayaan. Persepsi kegunaan berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 90% terhadap sikap Wajib Pajak. Persepsi kegunaan berpengaruh signifikan terhadap minat perilaku Wajib Pajak. Sedangkan minat perilaku, persepsi kegunaan, dan kesukarelaan tidak berpengaruh signifikan terhadap penggunaan e-filing.

(33)

Penelitian yang dilakukan Dewi (2009) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan Wajib Pajak dalam menggunakan e-filing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat pengguna e-filing dipengaruhi oleh perceived usefulness, complexity, voluntaries. Sedangkan experience, attitude, security and privacy, design and content, speed berpengaruh negatif terhadap minat pengguna e-filing.

Penelitian yang Dilakukan Gita (2010) tentang analis perilaku penerimaan wajib pajak terhadap penggunaan e-filing menunjukkan bahwa Information quality mempunyai pengaruh positif terhadap user satisfaction. Kualitas informasi yang dihasilkan sistem e-filing dapat mempengaruhi kepuasan pengguna. Jika kualitas informasi yang dihasilkan sistem e-filing lengkap, relevan, akurat, tepat waktu dan informasi disajikan secara jelas maka pengguna sistem e-filing akan merasa puas. Information Quality berpengaruh positif terhadap use. Informasi yang baik akan membuat pengguna merasa nyaman dalam menggunakan sistem

e-filing sehingga pengguna akan mengulangi penggunaan sistem e-filing di masa

yang akan datang. information quality memiliki dampak yang signifikan terhadap use. Sistem quality berpengaruh positif terhadap use. Kualitas sistem e-filing yang baik akan mempengaruhi penggunaan sistem. Jika kualitas sistem e-filing handal maka pengguna akan mengulangi penggunaan sistem e-filing.

Dari hasil penelitian-penelitian tersebut di atas yang dilakukan oleh Wiyono (2008), Dewi (2009), Gita (2010), Winna (2011), serta Esy (2012) tentang keberhasilan penggunaan e-filing secara ringkas dapat dilihat dalam rangkuman. hasil penelitian dalam tabel 2.2 berikut ini.

(34)

Tabel 2.2

RANGKUMAN HASIL PENELITIAN TERDAHULU No

.

Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Winna

Sugihanti (2011)

Variabel terikat :

Minat perilaku penggunaan

e-filing

Variabel bebas (5 var) :

Ekspektasi pengalaman , kemanan dan kerahasiaan, ekspektasi usaha,

kompleksitas, kesukarelaan

a. Meneliti pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi minat wajib pajak untuk menggunakan e-filing di Kota Semarang.

b. Ada 2 variabel bebas yang

berpengaruh terhadap minat

penggunaan e-filing yaitu : ekspektasi pengelaman, keamanan dan kerahasiaan. Sedangkan 3 Variabel bebas sisanya tidak berpengaruh yaitu : ekspektasi usaha, kompleksitas , dan kesukarelaan.

2. Gita Gowinda (2010)

Variabel terikat :

Kualitas sistem dan kualitas informasi

Varibel bebas (3 var) :

Kepuasan penggunaan sistem

e-filing, individual impact, dan organizational impact.

a. Meneliti analisi perilaku penerimaan wajib pajak terhadap penggunaan e-filing di Kota Solo.

b. Semua variabel bebas berpengaruh positif terhadap variabel terikat yaitu : kualitas sistem berpengaruh positif terhadap kepuasan penggunaan e-filing, kualitas sistem berpengaruh positif terhadap individual impact dan organizational impact. Kualitas informasi berpengaruh positif terhadap kepuasan penggunaan

3. Esy

Desmayanti (2012)

Variabel dependen :

Intensitas perilaku dalam menggunakan e-filing Varibel independen : Persepsi kegunaan, kemudahan, kerumitan, keamanan dan kerahasiaan.

a. Meneliti analisis faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas perilaku dalam menggunakan e-filing di Kota Semarang.

b. Semua variabel bebas berpengaruh positif terhadap variabel independen yaitu : persepsi kegunaan, kemudahan, kemanan dan kerahasiaan berpengaruh positif terhadap intensitas perilaku dalam penggunaan e-filing. Sedangkan persepsi kerumitan berpengaruh negatif terhadap intensitas perilaku dalam penggunaan e-filing.

(35)

4. Wiyono (2008)

Variabel Independen :

Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, sikap penggunaan e-filing, kompleksitas, kesukarelaan, pengalaman, jenis kelamin

Variabel dependen (1 var):

Pengunaan senyatanya.

a. Meneliti Studi pengaruh minat Wajib Pajak terhadap wajib pajak yang mencoba menggunakan e-filing di

Kota Surabaya.

b. Keseluruhan variabel yang diujikan

berpengaruh signifikan terhadap

penggunaan senyatanya, kecuali jenis kelamin yang tidak berpengaruh signifikan terhadap penggunaan senyatanya.

5. Dewi (2009)

Variabel Terikat :

Minat penggunaan e-filing.

Variabel Bebas (9 var.): Perceived,usefulness, complexity, voluntaries, experience, attitude, security and privacy, desaign and content, speed

a. Meneliti faktor-faktor yang

mempengaruhi penerimaan wajib pajak dalam menggunakan e-filing di Kota Bandung .

b. ada 4 variabel bebas yang

berpengaruh positif terhadap minat penggunaan e-filing, yaitu: perceived, usefulness, complexity, dan

voluntaries. Variabel sisanya berpengaruh negatif yaitu : experience, attitude, security and privacy, design and content, speed.

E. Kerangka Pemikiran

Peneliti mempunyai pemikiran bahwa wajib pajak berpengaruh pada penggunaan sistem e-filing baik itu secara parsial maupun secara simultan yang menjadi tolak ukur penggunaan e-filing. Dimana secara parsial (individual) Ekspektasi kinerja berpengaruh secara parsial terhadap Wajib Pajak Badan pengguna sistem e-filing (H1), Kualitas sistem berpengaruh secara parsial terhadap Wajib Pajak Badan pengguna sistem e-filing (H2), Kepuasan pengguna berpengaruh secara parsial terhadap Wajib Pajak Badan pengguna sistem e-filing (H3), dan juga Ekspektasi kinerja, Kualitas Sistem, dan Kepuasan pengguna berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap wajib pajak badan

(36)

pengguna sistem e-filing (H4). Dengan demikian kerangka pemikiran teoritis diatas dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Wajib Pajak Badan Untuk Menggunakan Sistem e-filing

H1 H2 H3 H4 Ekspektasi Kinerja ( X1) Kualias Sistem ( X2 )

Wajib Pajak Badan pengguna sistem e-filing

( Y ) Kepuasan Pengguna

Referensi

Dokumen terkait

SPT Tahunan merupakan laporan pajak yang penyampaiannya dalam satu tahun sekali (tahunan) baik oleh wajib pajak badan maupun wajib pajak pribadi, yang berhubungan

Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan

Merujuk Undang-Undang No. 27 Tahun 2007, “pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan merupakan laporan pajak yang disampaikan satu tahun sekali (tahunan) baik oleh Wajib Pajak Badan maupun Wajib Pajak Pribadi,

Pajak penghasilan pasal 23 merupakan pajak yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri (orang pribadi maupun badan), dan bentuk usaha

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang - undang dengan tidak mendapatkan

• Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang telah memiliki NPWP sebelum tahun 2008, yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan tahun-tahun pajak

Faktor yang menyebabkan belum semua Wajib Pajak baik orang pribadi maupun badan menggunakan e-Filing karena kurangnya sosialisasi dari Direktorat Jenderal