10 A.Kajian Teori
1. Hakikat Pendidikan
Pendidikan adalah proses yang tidak terputus selama manusia
beraktivitas dan merupakan pengalaman yang berlangsung dalam
lingkungannya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
individu. Pendidikan dilakukan seumur hidup, pendidikan tidaklah selesai
setelah berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang
berlangsung sepanjang hidup. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai
pendidikan orang dewasa, tetapi pendidikan seumur hidup mencakup dan
memadukan semua tahap pendidikan. Pendidikan seumur hidup mencakup
pola-pola pendidikan formal, non formal, informal dan lingkungan sosial
masyarakat. Pendidikan seumur hidup ditandai adanya ketentuan dan
keberagaman isi bahan ajar, alat-alat, dan teknik belajar serta waktu belajar.
Tujuan akhir pendidikan seumur hidup adalah mempertahankan dan
meningkatkan mutu hidup. (Mudyahardjo, 2003: 169-171).
Pendidikan berlaku bagi semua individu seperti tertuang pada pasal 31
ayat 1 UUD 1945. Semua individu berhak mengikuti pendidikan dengan tidak
kemampuan ekonomi. Pendidikan itu dapat ditempuh melalui tri pusat
lingkungan pendidikan yaitu; 1) lingkungan Informal; 2) lingkungan formal dan
non formal; 3) lingkungan sosial masyarakat.
Secara mahaluas pendidikan adalah hidup, pendidikan adalah
pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang
hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan individu. Tujuan pendidikan adalah untuk memuat nilai-nilai yang
baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. (Elfachmi, 2016)
UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada
pasal 13. Dikatakan jalur pendidikan formal merupakan pendidikan yang
diselenggarakan di sekolah secara berjenjang dan berkesinambungan,
sedangkan jalur pendidikan non formal dan informal merupakan pendidikan
yang diselenggarakan diluar sekolah yang tidak berjenjang dan
berkesinambungan. Sebagai konsekuensi dari peraturan ini, maka yang berhak
masuk jalur pendidikan formal hanyalah mereka yang dalam batas umur masa
belajar studi. Sementara itu yang berhak masuk ke jalur pendidikan non formal
dan in formal tidak dibatasi umurnya. Orang boleh masuk ke lembaga ini kapan
saja dalam waktu yang tak terbatas.
Pendidikan tidak hanya diselenggarakan disekolah ataupun pada
lingkungan formal maupun non formal serta informal. Pendidikan juga
menjadi komunitas pendidikan yang khas mengambil peran penting guna
mencerdaskan generasi muda.
Komunitas pendidikan juga dikenal sebagai pendidikan berbasis
masyarakat atau pembelajaran dan pengembangan berbasis komunitas.
Lingkungan masyarakat juga turut andil dalam pembentukan sikap, cara
pandang dan perilaku individu, melalui proses transformasi kebiasaan dan
budaya yang berkembang pada masyarakat. Lingkungan masyarakat sebagai
praktik kolaboratif perolehan pendidikan akademik dan profesi. Dan pada
lingkungan masyarakat pula akan muncul konsep-konsep pengetahuan yang
baru maupun yang mengalami perkembangan sesuai akibat kolaboratif yang
dibawa oleh setiap individu dalam masyarakat.
2. Hakikat Pembelajaran IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu bahan kajian terpadu yang
merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang
diorganisasikan dari konsep-konsep keterampilan, Sejarah, Geografi, Sosiologi,
Antropologi dan Ekonomi. (Puskur, 2001:9).
Adanya mata pelajaran di jenjang SMP para siswa diharapkan dapat
memiliki pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial,
memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya,
serta memiliki kemampuan mengkaji dan memecahkan masalah-masalah sosial
daripada transfer konsep karena dalam pembelajaran IPS siswa diharapkan
memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta
melatih sikap, nilai, moral dan ketrampilannya berdasarkan konsep yang sudah
dimiliknya.
Pembelajaran IPS juga membahas hubungan antara manusia dengan
lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud yaitu lingkungan masyarakat
dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat dan
dihadapkan pada berbagai permasalahan di lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
IPS sebagai proses belajar yang mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari
berbagai ilmu-ilmu sosial dan membuat siswa lebih berbudaya. Pembelajaran
IPS pada penelitian ini dilakukan melalui model Number Head Together
(NHT).
B.Midle Teori
1. Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) a. Pengertian
Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa
dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber
Menurut Kagan (2007) model pembelajaran Numbered Head Together
(NHT) ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi
informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh
perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran.
Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah sebuah model pembelajaran yang lebih fokus pada keaktifan siswa baik itu memberikan
pendapat dan menerima kritikan dari orang lain.
b. Kelebihan Model Numbered Head Together (NHT)
1. Terjadinya interaksi antar siswa melalui diskusi dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapi.
2. Siswa termotivasi untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok agar dapat
menjawab dengan baik ketika nomornya dipanggil.
c. Kekurangan Model Numbered Head Together (NHT)
1. Siswa yang pandai akan mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap
minder pada siswa yang lemah atau kurang pengetahuannya.
2. Ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan temannya tanpa memiliki
pemahaman yang memadai pada saat diskusi.
d. Langkah-Langkah Model Pembelajaran NHT Numbered Head Together (NHT)
Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dapat dilakukan
dalam menerapkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah sebagai berikut:
1. Siswa dibagi dalam kelompok yang beranggotakan empat sampai lima
orang dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan
tiap anggota dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil
melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari kelompok yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
yang lain.
6. Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan jawaban akhir yang benar
dari setiap pertanyaan yang terkait dengan materi yang telah dibahas.
2. Hasil Belajar
Menurut Rusmono (2012:10) hasil belajar adalah perubahan perilaku
individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.Perubahan
perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan program
pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan
lingkungan belajar. Menurut Rifa’i dan Anni (2009:85) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan
yang dipelajari oleh peserta didik, oleh karena itu apabila peserta didik
mempelajari tentang konsep maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah
berupa penguasaan konsep. Dan menurut Suprijono (2009:7) hasil belajar
adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
potensi kemanusiaan saja.
Sedangkan menurut Bloom (dalam Rusmono 2012:8) hasil belajar
adalah perubahan perilaku yang meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif,
dan psikomotorik. Ranah kognitif meliputi tujuan-tujuan belajar yang
berhubungan dengan pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual
dan ketrampilan.Ranah afektif meliputi tujuan-tujuan belajar yang menjelaskan
perubahan perilaku sikap, minat, nilai-nilai, dan pengembangan apresiasi serta
penyesuaian. Ranah psikomotorik mencakup perubahan perilaku yang
menunjukkan bahwa siswa telah mempelajari ketrampilan-ketrampilan fisik
tertentu.
Tiga ranah di atas menurut Bloom (dalam Suprijono 2009:6-7) domain
kognitif meliputi knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan),
analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain
afektif meliputi receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon),
valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakteristik).
ranah tersebut merupakan rumusan tujuan instruksional dan tujuan kurikuler
dalam sistem pendidikan nasional.
Menurut Baharuddin dan Wahyuni (2012; 19-26) hasil belajar secara
umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam pembelajaran
sehingga menentukan kualitas hasil belajar.Faktor internal adalah faktor-faktor
yang berasal dari diri individu yang meliputi faktor fisiologis dan faktor
Psikologis.Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu. Menurut Syah ( dalam Baharuddin dan Wahyuni, 2012: 26)
faktor eksteranal yang mempengaruhi hasil belajar meliputi faktor lingkungan
sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
Menurut Gagne (dalam Suprijono 2009:5-6) hasil belajar berupa :
a. Informasi verbal, yaitu kemampuan mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b. Ketrampilan intelektual, yaitu kemampuan memaparkan konsep dan
lambang.
c. Strategi kognitif, yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri.
d. Ketrampilan motorik, yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
e. Sikap, yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, hasil belajar merupakan
perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal individu
secara menyeluruh sesuai dengan apa yang dipelajari yang meliputi perubahan
ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan perilaku yang menyeluruh
tersebut antara lain adalah informasi verbal, ketrampilan intelektual, strategi
kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.
1) Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi ranah kognitif, afektif dan
psikomotorik. Ranah afektif terdapat pada lembar observasi karakter siswa
dan ranah psikomotorik terdapat pada aktivitas siswa yang diamati melalui
lembar pengamatan aktivitas siswa dengan indikator yang telah ditetapkan.
Sedangkan ranah kognitif diperoleh dari pengumpulan data hasil tes yang
diberikan siswa tiap akhir pembelajaran. Menurut Anggara (2017)
indikatornya sebagai berikut : 1.Menyebutkan contoh-contoh interaksi soial.
2).Menjelaskan proses terjadinya interaksi sosial. 3).Menyebutkan
bentuk-bentuk interaksi sosial. 4).Menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap
pembentukan lembaga sosial. 5).Menjelaskan pengertian lembaga sosial.
6).Menyebutkan proses pembentukan lembaga sosial. 7).Menjelaskan fungsi
lembaga sosial 8).Menyebutkan tujuan lembaga sosial 9). Menyebutkan
macam-macam lembaga sosial. Data yang diperoleh diklasifikasikan
(Baik), 60 ≤ N < 70 kriteria C (cukup), 50 ≤ N < 60 D (kurang), dan Skor N ≤ 50 kriteria D (kurang sekali).
C.Penelitian Terdahulu
Dasar atau acuan yang berupa teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil
berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat
dijadikan sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung yang menurut
peneliti perlu dijadikan bagian tersendiri adalah penelitian terdahulu yang relevan
dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini,
fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan masalah
“Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran IPS di SMP
Dwi Putra Ciputat”. Oleh karena itu, peneliti melakukan langkah kajian terhadap
beberapa hasil penelitian berupa jurnal-jurnal melalui internet. Untuk
memudahkan pemahaman terhadap bagian ini, dapat dilihat pada tabel 2.1 sebagai
berikut.
Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
No Peneliti Sumber Judul Hasil
1 Yudiastuti, Wiarta dan Ardana
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan
Pengaruh Model
Pembelajaran tipe
Numbered Head
Together (NHT)
Berbantuan Benda Konkret Terhadap
Hasil Belajar
Model Pembelajaran
Numbered Head Together (NHT) berbantuan benda
konkret berpengaruh
No Peneliti Sumber Judul Hasil
PGSD (Vol:
2 No: 1
Tahun 2014)
Matematika Siswa Kelas V Gugus 1 Dalung Kecamatan Kuta Utara
Kuta Utara tahun pelajaran 2013/2014
2 Santiana, Sudana dan Garminah e-Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol:
2 No: 1
Tahun 2014)
Pengaruh Model
Pembelajaran
kooperatif tipe
Number Head
Together (NHT)
Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Kelas V Gugus 1 Sekolah Dasar di Desa Alasangker
Menunjukan bahwa Model Pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) berpengaruh positif terhadap hasil belajar
matematika siswa
dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
3 Jayanti, Ardana dan Putra Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol:
2 No: 1
Tahun 2014)
Pengaruh Model
Pembelajaran
kooperatif tipe
Number Head
Together (NHT)
Terhadap Hasil
Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Gugus LT.
Wisnu Denpasar
Utara
Terdapat pengaruh
penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Gugus LT. Wisnu Denpasar Utara
4 I Gede Budi Astrawan
Jurnal kreatif Taduloko online Vol.
3 No. 4
ISSN 2354-614X
Penerapan model
kooperatif tipe (NHT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN 3Tonggolobibi
Penerapan model kooperatif
tipe (NHT) dapat
meningkatkan hasil belajar siswa di kelas V SDN 3Tonggolobibi
5 Alvyta Layla Arbayta Skripsi (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan
Pengaruh Model
Pembelajaran
kooperatif tipe
Number Head
Together (NHT)
Terhadap Hasil
Belajar PKn Siswa kelas V SD Negeri
Model pembelajaran
kooperatif tipe NHT
No Peneliti Sumber Judul Hasil
Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta)
Klegung 1 Tempel.
6 Margana Skripsi
(Program Studi Pendidikan Matematika Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, Tahun 2010 Eksperimentasi Metode pembelajaran
Kooperatif Tipe
Number Head
Together Terhadap
Hasil Belajar
Matematika Ditinjau
Dari Kemampuan
Awal Siswa Kelas X
SMA Negeri Di
Surakarta Tahun
Pelajaran 2009-2010
Metode pembelajaran
kooperatif tipe NHT
menghasilkan hasil belajar matematika siswa yang lebih baik daripada metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas X untuk materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat.
D.Kerangka Pemikiran
Desain kerangka pemikiran penelitian ini dirancang untuk menyelidiki
upaya penerapan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Dengan kata lain peneliti menduga ada
Fenomena
1. Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS sebanyak 80% dibawah KKM sebesar 70.
2. Proses pembelajaran terdapat siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, siswa tidak berani mengungkapkan pendapat ketika diberi pertanyaan oleh guru dan siswa kurang berinteraksi dengan siswa lain dalam menyelesaikan suatu masalah.
3. ketika guru mengajar masih menggunakan metode ceramah yang tidak bervariasi, dan belum menerapkan model-model pembelajaran yang aktif dan inovatif.
Populasi
Siswa Kelas VII 63 orang siswa
InstrumenPenelitian
1. Tes (Soal Pretest) 2. Tes (Soal Posttest)
Uji Keterbakuan Instrumen
1. Uji Validitas 2. Uji Reabilitas
3. Uji Analisis butir soal (Tingkat Kesukaran dan Daya Beda)
Sampel
Kelas VII B Model Numbered Heads
Together (NHT)
Data
Nilai Pretest dan Nilai Posttest
Uji Prasyarat
1. Uji Normalitas
Uji Hipotesis
1. One Sampel T test 2. Peired Sampel T test
Hasil
1. Rata-rata hasil belajar kognitif sebelum diajar dengan model NHT tidak sama dengan 60
2. Rata-rata hasil belajar kognitif setelah diajar dengan model NHT tidak sama dengan 70 3. Terdapat perbedaan hasil belajar kognitif setelah dan sesudah diajar dengan model
NHT
1. Bagaimana tinggi rata-rata hasil belajar kognitif sebelum diajar dengan model Numbered Heads Together (NHT)?
2. Bagaimana tinggi rata-rata hasil belajar kognitif setelah diajar dengan model Numbered Heads Together (NHT) ?
3. Bagaimana perbedaan hasil belajar kognitif sebelum dan setelah diajar dengan model Numbered Heads Togetheri (NHT) ?