• Tidak ada hasil yang ditemukan

REGULASI HUKUM ZAKAT DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "REGULASI HUKUM ZAKAT DI INDONESIA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

REGULASI HUKUM ZAKAT DI INDONESIA Dini Nur Utami

Ekonomi Syari’ah, Program Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon [email protected]

PENDAHULUAN

Zakat merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat

penting dan stategis.1 baik dari sisi ajaran Islam maupun dari pembangunan kesejahteraan

ummat. Dari sudut ajaran, zakat merupakan ibadah pokok yang masuk menjadi salah satu rukun Islam yang keberadaannya dianggap sebagai bagian mutlak dari keislaman

seseorang.2 Didalam al-Qur’an, ada 27 ayat yang mensejajarkan kewajiban Zakat dengan

kewajiban shalat.3

Dari sudut pembangunan kesejahteraan umat, zakat merupakan sumber keuangan yang cukup potensial jika dikelola dengan baik, mengingat jumlah penduduk Indonesia mayoritas Muslim. Namun dalam faktanya, pelaksanaan zakat belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan umat Islam. Persoalannya karena regulasi dan pengelolaannya yang belum baik. Zakat masih banyak dikelola secara parsial oleh lembaga-lembaga masyarakat, bahkan oleh perseorangan. Karena itu pada masa pemerintahan BJ Habibie telah dikeluarkan regulasi pengelolaan zakat berupa Undang-undang yang diikuti peraturan Menteri Agama dan Peraturan-peraturan pelaksana lainnya sebagai penjabaran dari Undang-undang tersebut. Harapan dari dikeluarkannya regulasi tersebut agar pelaksanaan Zakat dapat berhasil guna dan berdaya guna serta dapat dipertanggungjawabkan guna mewujudkan kesejahteraan

masyarakat.4

PEMBAHASAN

Pelaksanaan Zakat di Indonesia diatur oleh Undang-undang no 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Undang-undang terdiri dari 10 bab, 25 pasal yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang zakat, asas dan tujuan, organisasi pengelolaan, pengumpulan, pendayagunaan dan ketentuan-ketentuan lain. Pelaksanaan dari Undang-undang ini diatur oleh Keputusan Menteri Agama no. 581 tahun 1999 dan dirinci lagi oleh Keputusan Dirjen Bimas Islam no. D-291 tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat. Selanjutnya,

1Yusuf al-Qardawi, Al-Ibadah fil Islam (Beirut: Muassasah Risalah, 1993), 235.

2Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial (Bandung, 1994), 231.

3Yusuf al-Qardawi, Fiqhus Zakat (Beirut: Muassasah, 1991), 41

(2)

pada tahun 2003, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan no. 373 untuk menyempurnakan keputusan sebelumnya.

Seiring dengan perkembangan kelembagaan Zakat, peraturan-peraturan yang ada tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Undang-undang no. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat sebagai penyempurnaan dari peraturan-peraturan sebelumnya. Undang-undang ini terdiri dari XI bab, 47 pasal, berisi ketentuan-ketuan umum zakat, BAZNAS, Pengumpulan, Pendistribusian, Pendayagunaan dan Pelaporan, Pembiayaan, Pembinaan dan Pengawasan, peran serta masyarakat, sanksi administratif, larangan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan dan penutup. Pelaksanaan dari Undang-undang ini, diatur oleh Peraturan Pemerintah no. 14 tahun 2014 .

1. Undang-Undang no. 38 tahun 1999

Undang-undang ini, merupakan undang-undang pertama yang secara khusus mengatur tentang pengelolaan Zakat. Disahkan di Jakarta tanggal 23 Desember 1999 dan disimpan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 no. 164. Dasar pemikiran lahirnya UU ini adalah bahwa zakat merupakan sumber daya umat Islam yang sangat potensial untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Zakat juga sebagai pranata sosial yang merupakan bentuk kepedulian umat Islam yang berkemampuan terhadap sesamanya yang kurang mampu secara ekonomi. Zakat pada dasarnya sudah dikelola masyarakat, semenjak umat Islam ada. Namun mengingat pengelolaan zakat yang berkembang belum terkoordinasi dengan baik, maka diperlukan lembaga pengelola yang dipayungi perundang-undangan yang jelas.

Bab pertama UU ini berisi ketentuan umum tentang pengelolaan zakat. Pengelolaan Zakat dimaknai sebagai kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat. Zakat dalam ketentuan ini diartikan sebagai harta yang wajib disisihkan oleh muzakki, baik dari perseorangan maupun badan milik muslim yang berkemampuan, untuk diberikan kepada mustahik.

Menurut Undang-undang ini, pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada semua unsur yang terkait dengan

zakat, baik muzakki, mustahik maupun ‘amil.5 Perlindungan yang dimaksud adalah

memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelaksanaan zakat. Setiap aspek yang berkait dengan pelaksanaan zakat, baik penerimaan, pengelolaan dan pendistribusian zakat diatur dan dijamin oleh peraturan. Sehingga muzakki merasa aman dan memiliki kepastian bahwa zakat yang diserahkannnya sudah berdasarkan ketentuan syari’at dan terdistribusi tepat sasaran. Dari sisi mustahik, peraturan ini memberikan kepastian kepada mereka yang berhak menerima, dapat menerima zakat sesuai ketentuan. Demikian pula ‘amil sebagai pengelola memiliki pedoman yang jelas dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Pada bab kedua dijelaskan tentang asas dan tujuan pengelolaan zakat. Pengelolaan zakat beasaskan keimanan dan ketaqwaan, keterbukaan dan kepastian hukum sesuai dengan pancasila dan UUD 1945. Adapun tujuan dari pengelolaan zakat adalah meningkatnya pelayanan masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan agama, meninggkatnya funsi dan peranan pranata agana dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarkat dan keadilan sosial serta meningkatnya daya

guna dan hasil guna zakat.6

5Pasal 3 UU no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan zakat

(3)

Permbahasan bab ketiga mengatur tentang Organisasi Pengelola Zakat. Dalam pengelolaan zakat pemerintah membentuk Badan Amil Zakat (BAZ). BAZ dibentuk dari mulai tingkat nasional sampai tingkat kecamatan. Pembentukan BAZ tingkat nasional oleh presiden atas usul menteri agama. BAZ tingkat provinsi dibentuk gubernur atas usul Kakanwil depag provinsi, tingkat kabupaten dibentuk bupati atas usulan kandepag kabupaten dan tingkat kecamatan dibentuk camat atas usulan kepala KUA. Para pengurus BAZ di berbagai tingkatan diambil dari unsur masyarakat dan

pemerintah yang terdiri dari unsur pelaksana pertimbangan dan pengawas.7

Menurut Keputusan Menteri Agama RI no. 581 tahun 1999 tentang pelaksanaan UU no. 38 tahun 1999, bahwa agar pengelolaan zakat dapat dilaksanakan dengan baik, maka dibentuk 3 organisasi, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ), Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Unit Pengumpulan Zakat (UPZ). BAZ adalah organisasi pengelola zakat bentukan pemerintah yang bertugas untuk mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai ketentuan syara’. LAZ merupakan institusi pengelolaan zakat yang dibentuk dan diprakarsai oleh masyarakat yang bergerak dibidang dakwah, pendidikan, sosial dan kemaslahan umat Islam. Sedangkan UPZ merupakan satuan organisasi yang dibentuk BAZ disemua tingkatan

yang bertugas mengumpulkan zakat dan melayani muzakki.8

2. Badan Amil Zakat

BAZ dibentuk mengikuti satuan wilayah pemerintahan dan masing-masing berkedudukan diwilayah kerja sesuai tingkatannya. Tingkat nasional dinamakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). BAZ ditingkat provinsi dinamakan Badan Amil Zakat Daerah Provinsi (Bazda). Tingkat kabupaten dinamakan Badan Amil Zakat Daerah Kabupaten/Kota (Bazkab) dan tingkat Kecamatan dinamakan Badan Amil Zakat Kecamatan (Bazcam).

Pengurus BAZ disetiap tingkatannya diambil dari unsur ulama, kaum

cendekia, tokoh masyarakat, tenaga profesional dan wakil dari pemerintah.9

Kepengurusannya terdiri dari Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana.

Dewan pertimbangan adalah badan yang memberikan pertimbangan, fatwa, saran dan rekomendasi tentang pengembangan hukum dan pengelolaan zakat. Tugas Badan ini adalah:

a. Menetapkan garis-garis kebijakan umum BAZ bersama Komisi Pengawas dan Badan

Pelaksana.

b. Mengeluarkan fatwa syari’ah berkenaan dengan hukum zakat yang wajib diikuti

pengurus BAZ, baik diminta ataupun tidak

c. Memberikan pertimbangan, saran dan rekomendasi kepada Badan Pelaksana dan

Komisi Pengawas.

d. Menampung, mengelola, dan menyampaikan pendapat umat tentang pengelolaan

zakat.10

7UU no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan zakat pasal 6

8Pasal 1 Keputusan Menteri Agama no 581 tahun 1999.

9Pasal 2 Keputusan Menteri Agama no 581 tahun 1999.

(4)

Komisi Pengawas adalah badan yang melaksanakan pengawasan internal atas operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan Pelaksana. Tugas badan ini adalah sebagai berikut:

a. Mengawasi pelaksanaan rencana kerja yang telah dilaksanakan

b. Mengawasi pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan.

c. Mengawasi operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan Pelaksana meliputi

pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

d. Melakukan pemeriksaan operasional, pemeriksaan syari’ah dan peraturan

perundang-undangan.

e. Menunjuk akuntan publik unuk melakukan audit.11

Badan Pelaksana merupakan badan yang melaksanakan kebijakan BAZ dalam

pengumpulan, penyaluran dan pendayagunaan zakat.12 Tugas Badan ini, menurut KMA

no. 581 tahun 1999, adalah sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan tugas administratif dan teknis pengumpulan, pendistribusian dan

pendayagunaan zakat.

b. Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan untuk penyusunan rencana

pengelolaan zakat.

c. Menyelenggarakan bimbingan dibidang pengelolaan, pengumpulan, pendistribusian

dan pendayagunaan zakat

d. Menyelenggarakan tugas penelitian dan pengembangan, komunikasi, informasi dan

edukasi pengelolaan zakat.

Tugas Badan Pelaksana poin c, dalam Keputusan Menag RI no. 373 tahun 2003 ditiadakan dan diganti dengan membentuk dan mengukuhkan UPZ sesuai tingkatan dan

wilayah operasionalnya.13

Kepengurusan BAZ ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan tingkatannya. Susunan pengurus BAZ tingkat nasional ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas usulan menteri Agama. Pengurus tingkat provinsi berdasarkan Keputusan Gubernur atas usulan dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi. Pengurus tingkat kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan Bupati/Wali Kota atas usul dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kab./Kota dan pengurus tingkat kecamatan ditetapkan dengan Keputusan Camat atas usulan dari Kepala KUA.

Calon pengurus terlebih dahulu diseleksi oleh tim yang ditetapkan dan diusulkan oleh pemerintah yang membidangi agama sesuai tingkatannya dengan kriteria memiliki

sifat amanah, mempunyai visi dan misi, berdedikasi, profesional dan integritas tinggi.14

Mereka berasal dari unsur ulama, cendekia, tenaga profesional, praktisi pengelola zakat, LSM yang terkait dan unsur pemerintah.

11Keputusan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam no. D-291 tahun 2000 pasal 6

12 Al-Qurtubi, al-jami’ Li Ahkam Al-qur’an, (Beirut Libanon: Daar el-Kutub ‘Ilmiyyah. 1413 H/1993M Jilid

VII-VIII), 112-113

13Keputusan menag RI no. 373 tahun 2003 tentang pelaksanaan UU no. 38 tahun 1999 pasal 9 ayat 1d.

(5)

3. Lembaga Amil Zakat (LAZ)

LAZ diprakarsai dan dibentuk oleh masyarakat, selanjutnya dikukuhkan dan dibina oleh Pemerintah sesuai dengan tingkatannya. LAZ tingkat pusat dikukuhkan menteri Agama. Tingkat Provinsi pengukuhannya oleh Gubernur atas usul dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi, tingkat Kabupaten/Kota dikukuhkan Bupati/Wali Kota atas usul dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan tingkat Kecamatan dikukuhkan Camat atas usulan Kepala KUA.

Untuk mendapatkan pengukuhan, LAZ mengajukan pengukuhan kepada Pemerintah sesuai dengan tingkatan ormas yang mengusulkan dengan menlampirkan syarat-syarat sebagai berikut:

a. Akte pendirian (berbadan hukum)

b. Data muzakki dan mustahik

c. Daftar rencana pengurus

d. Rencana program jangka pendek, menengah dan panjang.

e. Neraca dan posisi keuangan

c. Memilik bukti wilayah operasional minimal 10 provinsi untuk tingkat nasional dan

menguasai 40 % dari jumlah kabupaten/kota dalam 1 provinsi untuk LAZ tingkat provinsi.

d. Telah mampu mengumpulkan dana Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) untuk

LAZ tingkat nasional dan Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) untuk LAZ tingkat provinsi.

e. Melampirkan surat pernyataan siap disurvey oleh tim yang dibentuk oleh kementerian

Agama

LAZ yang telah memenuhi syarat dan mendapatkan pengukuhan dari pemerintah, meiliki kewajiban sebagai berikut:

a. Melakukan kegiatan sesuai program kerja yang dibuat.

b. Menyusun laporan, termasuk laporan keuangan.

c. Mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit melalui media massa.

d. Menyerahkan laporan kepada pemerintah

4. Unit Pengumpulan Zakat (UPZ)

UPZ merupakan satuan organisasi yang dibentuk BAZ disemua tingkatan untuk melayani muzakki yang menyerahkan zakatnya. BAZ Nasional dapat membentuk UPZ pada instansi negara, lembaga pemerintah pusat, BUMN, perusahaan swasta yang berkedudukan di ibukota negara dan pada kantor perwakilan RI di luar negeri. BAZ Daerah Provinsi, BUMN, BUMD dan perusahaan swasta yang berkedudukan di provinsi.

(6)

BAZ Daerah Kabupaten/Kota berwenang membentuk UPZ pada instansi/lembaga pemerintah daerah, BUMN, BUMD dan perusahaan swasta yang berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kota. Sedangkan BAZ Daerah Kecamatan berwenang membentuk UPZ pada instansi/lembaga pemerintah daerah, BUMN, BUMD dan perusahaan swasta yang berkedudukan di wilayah kecamatan dan membentuk UPZ di tiap-tiap desa/kelurahan.

UPZ kelembagaan dan kepengurusannya ditetapkan oleh Surat keputusan dari Badan Pelaksana BAZ sesuai dengan tingkatannya. Badan Pelaksana BAZ disetiap tingkatan dapat membentuk UPZ setelah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengadakan pendataan terhadap berbagai instansi dan lembaga pada masing-masing

tingkatan.

b. Mengadakan kesepakatan dengan pimpinan instansi dan lembaga untuk membentuk

UPZ.16

Bab keempat UU RI no. 38 tahun 1999 mengatur tentang Pengumpulan Zakat. Zakat yang dikumpulkan oleh BAZ ada 2 jenis, yaitu zakat maal dan zakat fitrah. Selain itu dapat pula menerima infaq, shadaqah, wasiat waris dan kafarat. Adapun harta yang wajib dizakati meliputi : emas, perak, uang; perdagangan dan perusahaan; hasil pertanian, perkebunan dan perikanan; hasil pertambangan; hasil peternakan; hasil pendapatan dan jasa; dan rikaz. Perhitungan zakat mal berdasarkan nisab menurut ketentuan agama, baik kadarnya maupun waktunya. Perhitungan dapat dilakukan oleh muzakki sendiri atau meminta bantuan petugas BAZ. Zakat-zakat yang dikeluarkan muzakki melalui BAZ dapat menjadi pengurang kewajiban pajak.

Lingkup kewenangan BAZ dalam pengumpulan zakat dan penerimaan lainnya yaitu infaq, shadaqah, wasiat waris dan kafarat, diatur KMA 581 tahun 1999 pasal 25 sebagai berikut:

1. BAZNAS mengumpulkan zakat dari muzakki yang berasal dati instansi/lembaga

pemerintah pusat, swasta nasional dan luar negeri.

2. BAZDA Provinsi berwenang mengumpulkan zakat yang berasal dari muzakki pada

instansi/lembaga pemerintah dan swasta, perusahaan-perusahaan dan dinas daerah provinsi.

3. BAZDA Kabupaten/Kota berhak mengumpulkan zakat yang berasal dari muzakki

pada instansi/lembaga pemerintah dan swasta, perusahaan-perusahaan dan dinas daerah kabupaten/kota.

4. BAZDA Kecamatan berhak mengumpulkan zakat dari muzakki yang berasal dari

instansi /lembaga pemerintah danswasta, perusahaan-perusahaan kecil dan pedagang serta pengusaha di pasar pada wilayah yang menjadi kewenangannya.

5. UPZ di desa/kelurahan mengumpulkan zakat termasuk zakat fitrah dari muzakki.17

BAZ dan LAZ yang menerima zakat, wajib menerbitkan bukti setoran sebagai

(7)

angka dan huruf serta dicantumkan tahun haul, 5) Tanda tangan, nama, jabatan petugas amil, tanggal penerimaan dan stempel BAZ/LAZ.zakat

Untuk meningkatkan akuntabilitas, BAZ dan LAZ dalam pengumpulan zakat dapat bekerjasama dengan Bank diwilayahnya masing-masing, baik bank swasta maupun pemerintah. Kerjasama tersebut diawali dengan pembuatan MoU dan disosialisasikan kepada masyarakat luas melalui media masa. Para muzakki dapat membayar melalui rekening yang telah ditetapkan atasnama BAZ atau LAZ.

Selanjutnya pada bab kelima diatur mengenai pendayagunaan zakat. Salahsatu tujuan pengaturan pengelolaan zakat adalah meningkatnya fungsi dan peranan pranata agama dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial serta meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat. Selain itu pendayagunaan zakat juga

ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan menghilangkan kesenjangan sosial.18

Pendayagunaan harta yang dikumpulkan dari zakat untuk mustahik harus dilakukan sesuai dengan ketentuan syari’at agama. Pelaksanaannya melihat skala prioritas berdasarkan kondisi mustahik pada wilayah masing-masing pengelola zakat dan bersifat

produktif.19

Prosedur pendayagunaan menurut KMA no. 581 tahun 1999, diatur sebagai berikut:

1. BAZ / LAZ memiliki data yang kongkrit dan valid mengenai 8 asnaf mustahik.

2. Melakukan urutan prioritas mustahik dengan mendahulukan orang-orang yang tidak

berdaya dalam memenuhi kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan bantuan.

3. Mendahulukan mustahik yang berada diwilayah kerjasanya masing-masing.

4. Harta zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dapat dilakukan apabila:

a. Mustahik sebagaimana disebutkan pada poin 2 sudah terpenuhi dan terdapat

kelebihan.

b. Ada usaha yang berpeluang menguntungkan

c. Mendapatkan persetujuan dari Dewan pertimbangan BAZ.

5. Prosedur pendayagunaan harta zakat untuk usaha produktif sebagai berikut:

a. Melakukan studi kelayakan.

Bab selanjutnya, bab keenam mengatur tentang Pengawasan. Pengawasan

pelaksanaan tugas-tugas Badan Pelaksana BAZ dilakukan secara internal oleh Komisi Pengawas BAZ dan secara internal oleh pemerintah dan masyarakat. Komisi ini berkedudukan disemua tingkatan BAZ dari mulai tingkat nasional sampai tingkat kecamatan.

18UU RI no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

(8)

Pengawasan yang dilakukan Komisi Pengawas meliputi pengawasan terhadap keuangan, kinerja BAZ dan pelaksanaan perundang-undangan serta prinsip-prinsip syariah. Dalam menjalankan tugasnya, komisi ini dapat meminta bantuan atau bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang berkompeten. Dalam hal pemeriksaan keuangan misalnya, komisi ini dapat meminta bantuan akuntan publik. Pengawasan terhadap kinerja BAZ dilakukan dengan melihat rancangan program kerja dan pelaksanaannya pada tahun berjalan dan setelah tahun buku berakhir.

Seluruh hasil pengawasan disampaikan kepada Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan untuk ditindak lanjuti dan sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan program atau sebagai bahan penjatuhan sanksi bila ditemukan pelanggaran atau penyimpangan.

Badan Pelaksana BAZ sendiri membuat pelaporan tahunan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Pemerintah dan DPR/DPRD sesuai tingkatannya. Laporan ini memuat seluruh kegiatan yang sudah dilakukan, seperti berbagai berbagai kebijakan yang diputuskan dan dilaksanakan, laporan pengumpulan dan pendayagunaan dana

zakat.20

Untuk menjamin kepastian dan tegaknya hukum, maka pada bab ketujuh diatur mengenai Sanksi. Pelanggaran pengelola zakat yang mendapatkan sanksi dalam UU no. 38 tahun 1999 terdapat 2 macam, yaitu tindak pidana pelanggaran dan tindak pidana kejahatan.

Tindak pidana pelanggaran adalah berupa kelalaian para pengelola zakat seperti tidak mencatat atau mencatat dengan tidak benar harta zakat, infaq, shadaqah, hibah, waris dan kafarat. Bagi pelangarnya akan dikenakan sanksi kurungan penjara selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah). Adapun tindak pidana kejahatan adalah penggunaan dana zakat untuk pribadinya secara tidak sah. Kejahatan ini dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Undang-Undang RI no. 23 tahun 2011

Dinamika sosial yang terjadi selama 11 tahun di era global ini tentu akan mengalami berbagai perubahan dalam berbagai hal, termasuk pranata sosial. Demikian pula halnya dalam pengelolaan zakat yang merupakan bagian dari prananata sosial keagamaan, banyak mengalami perkembangan. Oleh sebab itu perundang-perundangan yang memayunginya pun harus ikut berubah, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Atas dasar pertimbangan itu maka ditetapkan UU RI no. 23 tahun 2011 sebagai pengganti UU no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dengan terbitnya UU yang baru ini, maka seluruh ketentuan yang ada dalam UU lama dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. Adapun peraturan-peraturan pelaksananya masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang

yang baru.21

20Keputusan Dirjen Bimas Islam... Pasal 18

(9)

Bila kedua Undang-undang tersebut dan peraturan pelaksananannya dibandingkan, maka ada beberapa poin perubahan yang ada pada perundang-undangan yang baru, yaitu:

1. Nama lembaga

Pada awalnya, lembaga pengelola zakat dinamakan BAZ dan diberi tambahan sesuai dengan tingkatan wilayah operasionalnya. Tingkat nasional dinamakan BAZNAS, tingkat provinsi dan kabupaten dinaman BAZDA dan tingkat kecamatan BAZCAM. Dalam UU yang baru lembaga ini dinamakan BAZNAS dan diberi penjelasan sesuai dengan tingkatan wilayah operasionalnya, yaitu BAZNAS, BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota, sedangkan tingkat Kecamatan tidak ada dalam ketetapan.

2. Objek zakat

Pada undang-undang baru terdapat pengembangan objek yang wajib dizakati yaitu: logam mulia lainnya (selain emas dan perak), surat berharga lainnya (selain uang), kehutanan dan perindustrian.

3. Susunan organisasi dan tata kerja

Pada peraturan lama susunan organisasi BAZ terdiri dari Badan Pelaksana, Dewan Pertimbangan dan Komisi Pengawas. Undang-undang yang baru, nampaknya melakukan efisiensi, hanya menetapkan Badan pengurus dengan jumlah personal

sebanyak 11 orang, 8 dari unsur masyarakat dan 3 dari unsur pemerintahan.22 Hanya

saja fungsi kepengurusannya meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan terhadap pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Pengawasan tidak lakukan oleh komisi tersendiri, tetapi langsung oleh pemerintah sesuai dengan wilayah kerjanya, yaitu menteri agama, gubernur dan bupati/wali kota.23

4. Persyaratan pengurus BAZNAS dan masa kerja kepungurusan

Ada beberapa kriteria spesifik dari calon pengurus yang tidak disebutkan dalam

peraturan perundang-undangan sebelumnya,24 yaitu : minimal berusia 40 tahun, sehat

jasmani rohani, tidak menjadi anggota Partai Politik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindakan pidana kejahatan yang diancam pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

Berkenaan dengan pengurus yang berasal dari unsur pemerintah, peraturan pemerintah no. 14 tahun 2014 sebagai aturan pelaksanaan dari UU np. 23 tahun 2011 menetapkan kriteria pejabat yang dapat menduduki pengurus BAZNAS, yaitu:

a. Dari unsur kementerian agama yaitu pejabat strukturan eselon 1 yang

berkaitan dengan Pengelolaan Zakat.

b. Pejabat dari unsur kementerian dalam negeri.

c. Pejabat dari unsur kementerian keuangan.

Masa kepengurusan BAZNAS ditetapkan selama 5 tahun dan dapat dipilih

kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.25 Sebelumnya, masa jabatan kepengurusan

BAZ selama 3 (tiga) tahun, namun tidak ada pembatasan jika terpilih lagi.26

22KMA no. 581 tahun 1999 Bab II pasal 2-6

23KMA no. 581 tahun 1999 Bab II pasal 34

24Keputusan Dirjen Bimas islam np. D-291 tahun 2000 pasal 1-4.

25Peraturan Pemerintah no. 14 tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU no. 23 tahun 2011 pasal 6 ayat 3

(10)

5. Pembiayaan

Ketentuan tentang pembiayaan merupakan pasal baru yang sebelumnya tidak diatur. Berdasarkan ketetapan undang-undang ini, seluruh tugas BAZNAS dibiayai APBN sesuai tingkatan wilayah operasionalnya dan hak amil yang diambil dari zakat. Biaya operarional yang dibebankan kepada APBN meliputi :

a. Hak keuangan pimpinan BAZNAS.

b. Biaya administrasi umum,

c. Biaya sosialisasi dan koordinasi BAZNAS dengan BAZNAS tingkatan lainnya

dan LAZ yang menjadi mitranya.

Biaya-biaya operasional lain selain yang tersebut diatas dibebankan kepada hak amil sesuai ketetpan syari’at agama dengan mempertimbangkan aspek produktivitas, efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan zakat. Seluruh penggunaan hak amil dicantumkan dalam rencana kerja dan anggaran tahunan BAZNAS Provinsi dan kabupaten yang disyahkan BAZNAS.

6. Pelanggaran dan Ketentuan Pidana

Undang-undang no. 23 tahun 2011 dan peraturan pelaksananya, mengatur secara lebih rinci mengenai opelanggaran dan sanksi bagi para pengelola yang tidak melaksanakan ketentuan perundang-undangan. Secara garis besar ada 2 jenis pelangaran yang dilakukan pengelola zakat, yaitu pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana. Pelanggaran administratif sebagaimana diatur dalam Bab VII pasal 36 yaitu mengenai pelaporan dan pembukuan. Jika pengelola tidak melakukan keduanya dengan baik, maka pengelola zakat diberikan sanksi berupa peringatan tertulis, penghentian sementara dari kegiatan dan/atau pencabutan izin operasional.

Penyimpangan yang dianggap tindakan pidana sebagaimana diatur dalam bab IX pasal 39 - 41, yaitu tindakan pelanggaran dan tindakan kejahatan.

a. Tindakan pelanggaran jika pengelola tidak mendistribusikan zakat sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan sebagai mana diatur dalam pasal 25. Pelanggaran ini dikenakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda maksimal Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

b. Dianggap tindakan kejahatan jika pengelola zakat melakukan hal-hal sebagai

berikut:

1) Melakukan penyelewengan terhadap dana zakat sebagaimana diatur dalam pasal

37, yaitu memiliki, menjaminkan, menghibahkan, menjual, dan/atau mengalihkan zakat, infak, sedekah, dan/atau dana sosial keagamaan lain yang dalam pengelolaannya. Tindakan tersebut diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda maksimal Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

2) Melakukan tindakan pengumpulan, pendistribusian atau pendayagunaan zakat

tanpa izin pejabat yang berwenang sebagaimana diatur dalam pasal 38. Tindakan tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda maksimal Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)

PENUTUP

(11)

Indonesia sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, telahpun memiliki peraturan-perundangan yang mengatur renik detail pengelolaan zakat. Perlu sosialisi lebih intens lagi kepada masyarakat mengenai berbagai ketentuan yang ada sehingga masyarakat memahami dan menjalankannya. Fakta dilapangan, banyak praktek pengelolaan yang tidak sesuai perundang-undangan bahkan secara nyata melanggar. Akibatnya potensi besar ini tidak dapat diwujudkan dengan baik. Karena itu menjadi kewajiban bagi semua unsur masyarakat untuk mensosialisasikan dan menegakkan aturan perundang-undangan ini demi terwujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang aman sejahtera adil dan makmur.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahnya, Departemen Agama.

Al-Qurtubi, al-jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Beirut Libanon. Daar el-Kutub ‘Ilmiyyah 1413 H/1993M

Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, Bandung. Mizan. 1994

Keputusan Dirjen Bimas Islam no. D-291 tah. 2000 tentang pedoman teknis Pengelolaan Zakat

Keputusan Menteri Agama no. 581 tahun 1999 tentang pelaksanaan Undang-undang RI no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat

Keputusan Menteri Agama no. 373 tahun 2003 tentang pelaksanaan Undang-undang no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat

Peraturan Pemerintah no. 14 tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-undang no. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat

Undang-undang RI no. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat Undang-undang RI no. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Yusuf al-Qrdawi, 1991. Fiqhus Zakat . Beirut: Muassasah

Referensi

Dokumen terkait

Badan Amil Zakat yang selanjutnya disingkat BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah yang kepengurusannya terdiri dari unsur

Sebuah organisasi pengelola zakat harus membuat laporan keuangan yang baik dan benar, karena dengan laporan keuangan itu akan menigkatkan kepercayaan muzakki pada

Badan Amil Zakat yang disingkat dengan BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah terdiri dari unsur masyarakat dan Pemerintah

Telah dilakukan penelitian mengenai analisis pola penggunaan obat pada pasien nefropati diabetik dan hipertensi yang bertujuan untuk mengetahui obat antidiabetes

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan faktor risiko penyakit asma bronkial pada pasien penderita asma bronkial dan pasien tanpa asma

Dengan adanya regulasi mengenai pengelolaan keuangan Organisasi Pengelola Zakat, maka pengelolaan zakat baik oleh Badan Amil Zakat (BAZ) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ),

Undang-Undang Pengelolaan Zakat mengatur bahwa pengelolaan zakat dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) yang merupakan tempat yang telah dibentuk sebagai wadah