• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN ekonomi TEKANAN PERTUMBUHAN PENDUDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERMASALAHAN ekonomi TEKANAN PERTUMBUHAN PENDUDU"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN TEKANAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DI

NEGARA ASEAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA

Di kawasan ASEAN dimana negara-negara berkembang relatif memusat, masalah pertambahan penduduk yang cepat dan ketidakseimbangan pembangunan ekonomi selalu membayangi negara-negara di kawasan itu dan menghambat langkah pengintegrasian ASEAN. Wakil Kepala Balai Asia Selatan dan Asia Tenggara Institut Hubungan Internasional Kontemporer Tiongkok Zhang Xuegang menyatakan bahwa masalah kependudukan di kawasan Asia Tenggara ditandai tiga cirri, yaitu pertama, pertambahan jumlah penduduk di Asia Tenggara relatif serius, terutama di beberapa Negara, jumlah penduduk cukup besar dan tumbuh cepat. Kedua, penyebaran penduduk tidak merata, sejumlah besar penduduk terpusat di daerah pantai, sedang daerah pegunungan di pedalaman sedikit penduduknya sehingga mengganggu keseimbangan perkembangan ekonomi; dan ketiga, persentasi penduduk laki-laki dan wanita tidak seimbang.

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat memberikan tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup, juga tantangan bagi pembangunan dan kestabilan negara-negara ASEAN. Kita ambil Indonesia sebagai contoh, dengan jumlah total penduduk yang mencapai 238 miliar jiwa, Indonesia merupakan negara berpenduduk terpadat nomor 4 di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika Seriakt, tingkat pertambahan penduduk Indonesia mencapai 1,4% per tahun. Di satu pihak, dengan lebih separoh penduduk yang berumur 30 tahun ke bawah, Indonesia akan terus menikmati keuntungan demografi dan potensi perkembangan ekonomi sangat besar; di pihak lain, perkembangan ekonomi tidak bisa mengejar pertambahan jumlah penduduk, sementara jumlah penduduk yang sangat besar membawa banyak masalah sosial antara lain bahan pangan, energi, layanan kesehatan dan pendidikan.

Dalam kerangka yang begitu besar, pergerakan manusia akan menjadi suatu problem yang tidak bisa dihindari. Dan masalah kependudukan akan menghambat pembangunan dan perkembangan masyarakat tesebut, sebagaimana disampaikan Zhang Xuegang bahwa masalah kependudukan merupakan salah satu sebab penting yang menyebabkan melebarnya kesenjangan di antara anggota-anggota ASEAN, misalnya produk domestik bruto (PDB) per kapita Singapura kini mencapai 20.000 dolar AS, sedangkan Laos dan Myanmar yang paling kurang maju masih berkisar antara ratusan

(2)

dolar Amerika. Mempersempit kesenjangan pembangunan dan pada akhirnya mencapai keseimbangan relatif antara satu sama lain merupakan jalan yang harus ditempuh untuk merealisasi Masyarakat ASEAN di bidang politik, ekonomi dan keamanan. Perlu disadari bahwa manusia harus dengan lebih baik menghadapi tantangan dan menangkap peluang agar perkembangna dirinya seiring dengan pembangunan yang dicapai dalam rangka realisasi perkembangan harmonis dan berkelanjutan antara manusia dan lingkungan. Bagi negara-negara ASEAN, kebangkitan dan perkembangan menyeluruh yang sejati dapat dicapai hanya apabila peluang dan tantangan dalam masalah kependudukan dapat ditangani dengan baik.

Dua contoh berikut mengilustrasikan cara-cara yang dilakukan pemerintah Negara Asean untuk mengatasi permasalahan kependudukan:

A. Indonesia

Permasalahan kependudukan di Indonesia terutama jumlah penduduk yang besar dengan ketidakmerataaan persebaran jumlah penduduk yang menyebabkan beberapa kesenjangan dalam hal aksesibilitas sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Berikut adalah upaya-upaya pemerintah dalam mengatasi masalah kependudukan dan dampak ikutannnya. Untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan jumlah penduduk dilakukan dengan program Keluarga Berencana (KB), sedangkan permasalahan persebaran dan kepadatan penduduk diatasi dengan program transmigrasi dan pembangunan lebih intensif di Kawasan Indonesia Timur.

Besarnya jumlah penduduk juga menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat, yang diatasi dengan pembangunan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), juga pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin. Tingkat pendidikan yang rendah diatasi dengan cara, pertama penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia. Kedua Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Ketiga Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah. Keempat penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja. Kelima mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga lembaga pemerintah.

(3)

Persebaran penduduk yang tidak merata, juga berpengaruh pada tingkat pendidikan dan kemampuan sumber daya manusia dalam memperoleh kesempatan kerja dan usaha, untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya antara lain dengan menyusun perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembangnya usaha/investasi, baik PMDN ataupun PMA. Hal lainnya, perlu optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja. Penyederhanaan birokrasi dan pembangunan atau penyediaan fasilitas umum untuk mendorong kegiatan ekonomi juga perlu ditingkatkan.

B. Singapura

Seperti negara-negara yang mengalami masalah kependudukan lainnya, Singapura juga menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja dan beban penduduk usia lanjut. Demografi Singapura mengalami perubahan struktur penduduk tenaga kerja. Cara yang diambil Singapura untuk memacu pertumbuhan penduduk tidak berhasil, sehingga pemerintah Singapura mengambil cara imigrasi selektif. Profensor Tan Kong Yam mengatakan, basis populasi Singapura tidak besar, sehingga setiap tahun hanya memerlukan 3 sampai 4 ribu imigran teknis. Dengan demikian, Singapura masih bisa memperpanjang periode keberuntungan demografi.

Profesor Tan Kong Yam berpendapat bahwa terdapat dua cara untuk menyelesaikan masalah pekerja asing. Pertama adalah pekerja sementara, misalnya buruh konstruksi atau pembantu rumah tangga dengan kontrak selama 2-3 tahun, biasanya tidak menetap lama di Singapura. Yang kedua adalah imigran teknis, dengan pendidikan relatif tinggi atau memiliki keterampilan spesial. Kategori pekerja ini dapat menetap permanen, dan akan menjadi jalur utama untuk menyelesaikan masalah ketenagakerjaan dan penuaan demografi.

Kebijakan imigrasi selektif sangat efektif. Kebijakan ini berhasil menyelesaikan masalah kekurangan tenaga kerja di Singapura. Sementara itu, imigran teknis usia muda telah membangkitkan pertumbuhan Singapura. Masalah tenaga kerja telah mendorong pertumbuhan ekonomi Singapura, sedangkan pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan daya saing nasional. Apalagi Singapura menggunakan bahasa Inggris, sehingga Singapura menarik banyak tenaga terampil dari seluruh dunia.

Profesor Tan Kong Yam mengatakan bahwa Pertumbuhan penduduk Singapura terlalu lamban, pemerintah perlu menyelesaikan masalah kekurangan tenaga kerja

(4)

sejumlah 30-60 ribu setiap tahun, namun kebanjiran imigran mengakibatkan kenaikan harga rumah dan kemacetan lalu lintas. Warga biasa menganggap dirinya orang Singapura, namun Singapura seolah-olah bukan tanah air mereka lagi.

Sementara itu, untuk stabilitas politik dan sosial, Singapura menganjurkan para perempuan kembali bekerja setelah anaknya dewasa. Pemerintah juga mendorong orang lanjut usia untuk menunda waktu pensiun. Perusahaan juga diimbau untuk tidak memutuskan hubungan kerja dengan pekerja yang berusia 40-50 tahun yang kurang berpendidikan. Pemerintah juga menyediakan tunjangan pelatihan demi mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing.

Perubahan kebijakan itu untuk sementara mengatasi keluhan warga Singapura karena persaingan tenaga kerja asing. Profesor Tan Kong Yam mengatakan, tidak ada satu pun cara yang selalu mujarab, sehingga mereka perlu menemukan keseimbangan dalam kestabilan sosial dan politik seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Solusi lainnya adalah melambatkan laju pertumbuhan ekonomi, mengurangi impor tenaga kerja, dan mengalihkan bisnis ke luar negeri

Sumber:

1. Pengintegrasian ASEAN Hadapi Tekanan Pertumbuhan Penduduk (http://indonesian.cri.cn/201/2011/10/31/1s122414.htm)

2. Upaya-upaya mengatasi permasalahan kependudukan.

(http://bumiindonesiapertiwi.blogspot.co.id/2013/07/upaya-upaya-mengatasi-permasalahan_3.html).

3. Masalah Kependudukan Jadi Perhatian Serius Singapura. (http://indonesian.cri.cn/201/2012/03/26/1s126375.htm)

Referensi

Dokumen terkait

Melalui kegiatan praktikum menguji kepekaan indra pembau ini siswa diharapkan menemukan konsep mengenai sistem indra pembau dan siswa bisa mendapatkan konsep

[r]

perencanaan pembangunan infrastruktur. b) KLHS dijadikan sebagai alat kajian lingkungan dalam RPIJM adalah karena RPIJM bidang Cipta Karya berada pada tataran

2. Tarik garis pada lembar formulir Denver II sesuai dengan usia yang telah ditentukan. Lakukan penilaian pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada mulai

Respon eksplan terhadap media juga bervariasi, pada media yang sama untuk kultivar yang berbeda dapat membentuk kalus, umbi mikro maupun tunas berakar.. Respon yang

Perbedaan antara peneliti Aliyah Rasyid Baswedan, dkk dengan peneliti yang sekarang adalah jika penelitian Aliyah Rasyid Baswedan, dkk terfokus pada

Sehingga ketika anak sudah mencapai usia wajib shalat, anak tidak akan bingung melakukan gerakan shalat karena sejak usia dini (RA) anak sudah

Pada kenyataan yang sebenarnya, variabel pointer berisi alamat dari suatu obyek lain (yaitu obyek yang dikatakan ditunjuk oleh pointer).. Sebagai contoh, px adalah variabel