BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, banyak perusahaan dalam rangka mengembangkan usahanya melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan modal, diantaranya adalah dengan cara utang atau menambah jumlah kepemilikan saham dengan menerbitkan saham baru. Untuk menambah jumlah kepemilikan saham perusahaan dapat dilakukan dengan menjual kepada pemegang saham yang sudah ada, menambah saham yang tidak dapat dibagi, menjual langsung kepada pemilik tunggal atau dengan melakukan penawaran saham kepada masyarakat umum.
Proses penawaran sebagian saham kepada masyarakat melalui bursa efek disebut dengan istilah go public. Istilah go public yaitu proses sebuah perusahaan menjadi perusahaan terbuka (sahamnya bisa dimiliki oleh publik) beserta produk derivatifnya. Selain itu akan dibahas juga mengenai kewajiban (utang) jangka panjang. Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua.
B. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penerbitan Sekuritas Ekuitas (Saham, Right, Warrant) 1. Initial Public Offering (IPO)
a. Pengertian Initial Public Offering
Initial public offering (IPO) adalah penjualan pertama saham umum sebuah perusahaan kepada investor umum. Menurut UU No. 8 Tahun 1995, penawaran umum (emisi/go public/initial public offering) adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tatacara yang diatur dalam undang-undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua. Biasanya perusahaan tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk menjamin penawaran tersebut dan seorang pengacara korporat untuk membantu menulis prospektus. Penjualan saham diatur oleh pihak berwajib dalam pengaturan finansial dan jika relevan, sebuah bursa saham. Biasanya menjadi sebuah persyaratan untuk mengungkapkan kondisi keuangan dan prospek sebuah perusahaan kepada para investor.
b. Manfaat Penawaran Umum
Dengan menjadi perusahaan publik, banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh perusahaan, di antaranya :
Memperoleh Sumber Pendanaan Baru
Dana untuk pengembangan, baik untuk penarnbahan modal kerja rnaupun untuk ekspansi usaha, adalah faktor yang sering menjadi kendala banyak perusahaan. Dengan menjadi perusahaan publik kendala pendanaan tersebut akan lebih mudah diselesaikan melalui hasil penjualan saham kepada publik. Dengan cara ini, perusahaan dapat memperoleh dana dalam jumlah yang besar dan diterima sekaligus dengan costoffund yang relatif lebih kecil dibandingkan perolehan dana melalui perbankan. Selain itu di masa mendatang, dengan telah menjadi perusahaan publik, perusahaan juga dapat melakukan secondary offering tanpa batas.
Memberikan Competitive Advantage untuk Pengembangan Usaha
datang melalui penjualan saham kepada publik perusahaan berkesernpatan untuk mengajak para partner kerjanya seperti pemasok (supplier) dan pernbeli (buyer) untuk turut rnenjadi pemegang saham perusahaan. Dengan demikian, hubungan yang akan terjadi tidak hanya sebatas hubungan bisnis tetapi berkembang menjadi hubungan yang lebih tinggi tingkat kualitas dan loyalitasnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka sebagai salah satu pemegang saham akan memberikan komitmen yang lebih tinggi untuk turut serta membantu pengembangan perusahaan di masa depan.
Melakukan merger atau akuisisi perusahaan lain
Pengembangan usaha melalui merger atau akuisisi merupakan salah satu cara yang cukup banyak diminati untuk mempercepat pengernbangan skala usaha perusahaan. Saham perusahaan publik yang diperdagangkan di bursa rnemiliki nilai pasar tertentu. Dengan demikian, bagi perusahaan publik yang saharnnya diperdagangkan di bursa, pembiayaan untuk merger atau akuisisi dapat lebih rnudah dilakukan yaitu melalui penerbitan saham baru sebagai alat pembiayaan merger atau akuisisi tersbut.
Peningkatan Kemarnpuan Going Concern
Kemampuan going concern bagi perusahaan adalah kernampuan untuk tetap dapat bertahan dalam kondisi apapun terrnasuk dalam kondisi yang dapat mengakibatkan bangkrutnya perusahaan, seperti terjadinya kegagalan pembayaran hutang kepada pihak ketiga, perpecahan di antara para pernegang saham pendiri, atau bahkan karena adanya perubahan dinamika pasar yang dapat rnempengaruhi kemampuan perusahaan untuk tetap dapat bertahan di bidang usahanya. Dengan menjadi perusahaan publik, kemampuan perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan perusahaan tertutup. Meningkatkan Citra Perusahaan
mereka menjadi setara dengan banyak perusahaan besar yang telah memiliki skala bisnis yang besar dan pengalaman historis yang lama.
Meningkatkan Nilai Perusahaan
Dengan menjadi perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Bursa, setiap saat dapat diperoleh evaluasi terhadap nilai perusahaan. Setiap peningkatan kinerja operasional dan kinerja keuangan umumnya akan mempunyai dampak terhadap harga saham di Bursa, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.
c. Tujuan Penawaran Umum
Tujuan dari Penawaran Umum yang dilakukan oleh perusahaan adalah : Perluasan usaha
Memperbaiki atau mengoptimalkan struktur keuangan dan permodalan Menimbulkan rasa kepemilikan (sense of belonging) dari stakeholder Menjaga kelangsungan usaha dari kemungkinan perpecahan antar founders Meningkatkan produktivitas karyawan
Meningkatkan profesionalisme manajemen
Meningkatkan company image dan company value d. Konsekuensi Penawaran Umum
Berbagi Kepemilikan
Hal ini dapat diartikan bahwa prosentase kepemilikan akan berkurang. Banyak perusahaan yang hendak go public/merasa enggan karena khawatir akan kehilangan kontrol/kendali perusahaan. Sebenarnya hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena jumlah minimum saham yang dipersyaratkan untuk dijual kepada publik rnelalui proses Penawaran Umum (Initia Public Offering/IPO) tidak akan mengurangi kemampuan pemegang saham pendiri untuk tetap dapat mempertahankan kendali perusahaan.
Mematuhi Peraturan Pasar Modal yang Berlaku
Pasar modal memang menerbitkan berbagai peraturan, namun semua ketentuan tersebut pada dasarnya justru akan mernbantu perusahaan untuk dapat berkembang dengan cara yang baik di masa mendatang. Para pemegang saham, pendiri dan manajemen perusahaan tidak perlu khawatir dengan berbagai pemenuhan peraturan tersebut karena cukup banyak pihak profesional yang dapat dimanfaatkan jasanya untuk membantu.
e. Proses Penawaran Umum
Pasar saham bisa dibedakan menjadi Pasar Perdana dan Pasar Sekunder. Pada saat IPO yang terjadi adalah Pasar Perdana seperti terlihat pada skema di bawah ini.
Tahap sebelum emisi
Yang harus dilakukan oleh internal perusahaan :
printer. Tim yang terbentuk kemudian berkomunikasi dengan BAPEPAM untuk persiapan pernyataan pendaftaran
Mempersiapkan kelengkapan dokumen emisi untuk menyiapkan pendaftaran ke BAPEPAM
Memilih dan menentukan penjamin emisi efek dan agen penjualan
Tahap pengalihan kepemilikan aktiva. Semua aktiva yang masih atas nama pemilik dialihnamakan menjadi atas nama perusahaan
Tahap restrukturisasi permodalan
Kontrak pendahuluan dengan bursa efek untuk pencatatan saham
Penandatanganan perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak terkait
Publik Expose dan Road Show
Tahapan di BAPEPAM :
Emiten bersama penjamin emisi (underwriter) menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM
Expose terbatas di BAPEPAM
BAPEPAM memberi tanggapan atas kelengkapan dokumen, kecukupan dan kejelasan informasi, serta keterbukaan aspek hukum, akuntansi, keuangan dan manajemen
Komentar tertulis dari BAPEPAM dalam jangka waktu 45 hari
Pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif
Tahapan Saat Emisi
Tahapan emisi di Pasar Perdana :
Penawaran umum minimal dilaksanakan dalam 3 hari kerja dan harus selesai selama 60 hari kerja sejak pernyataan efektif
Penjatahan kepada pemodal oleh penjamin emisi dan emiten jika terjadi kelebihan permintaan dan maksimal selesai dalam jangka waktu 3 hari kerja setelah masa penawaran berakhir
Bukti kepemilikan efek harus tersedia kepada pembeli efek dalam penawaran umum, diserahkan maksimal 2 hari kerja setelah tanggal penjatahan dan untuk efek yang tidak dicatatkan maksimal 5 hari kerja Tahapan emisi di Pasar Sekunder :
Emiten mencatatkan efek di Bursa, dilakukan maksimal 5 hari kerja setelah tanggal penjatahan
Perdagangan efek di Bursa
Tahapan setelah emisi
Menyerahkan laporan hasil Penawaran Umum ke BAPEPAM maksimal 5 hari kerja setelah tanggal penjatahan Jangka waktu efektifnya pernyataan pendaftaran sampai dengan disampaikannya laporan hasil Penawaran Umum kepada BAPEPAM maksimal 15 hari kerja
Menyampaikan laporan berkala, misalnya laporan tahunan dan laporan tengah tahunan
Menyampaikan laporan kejadian penting dan relevan, misalnya akuisisi dan pergantian direksi.
2. Secondary Public Offering (SPO)
Saham perusahaan yang dijual oleh emiten tersebut akan diuji apakah saham ini memiliki prospek atau kinerja bagus atau tidak. Suatu saham yang memiliki kinerja baik, maka harga sahamnya akan memiliki kecenderungan naik karena diminati oleh pemodal. Sebaliknya, saham kurang baik akan memiliki kecenderungan harga menurun. 3. Right
Right dapat didefinisikan sebagai efek yang memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan oleh emiten pada proporsi dan harga tertentu. Hak dalam right sering disebut sebagai preemptive right, yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang saham lama di suatu perusahaan sehubungan dengan pengeluaran saham baru. Biasanya right muncul ketika emiten melakukan penawaran saham kedua (second issue). Dampak jika pemegang saham tidak menggunakan preemptive right adalah :
a. Dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak menggunakan haknya).
b. Mengurangi ROI (Return on Investment) dengan bertambahnya saham beredar. c. Mengecilnya DPS (Dividend Per Share) karena harus dibagikan kepada
pemegang saham.
Harga saham yang ditentukan dalam right untuk membeli saham baru dengan proporsi sesuai ketentuan, harganya ditentukan sama dengan atau di atas nilai nominal saham tapi nilai nominal saham tetap di bawah harga pasar. Harga penebusan saham baru ini disebut dengan exercise price atau subscription price. Dalam kaitannya dengan right, ada istilah right issue, yang didefinisikan sebagai kegiatan penawaran umum terbatas kepada pemegang saham lama dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu. Untuk penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu dibutuhkan persetujuan dari pemegang saham mayoritas. Right issue ini pun harus mendapatkan persetujuan efektif dari Bapepam.
Rumus untuk menghitung harga teoritis rights :
Pr¿Ps−Pe
Pr = harga teoritis right
Ps = harga teoritis saham ex right
Dengan adanya right issue akan terjadi penambahan saham baru yang akan menyebabkan adanya dilusi kepemilikan saham. Untuk menghitung harga teoritis saham sesudah right issue digunakan rumus berikut :
Ps=RR . Pc+PE RR+1
Ps = harga teoritis saham ex right
Pc = harga penutupan saham pada cum-right RR = rasio rights issue
PE = exercise price (harga penebusan rights)
Periode perdagangan right tidak selamanya, melainkan hanya sementara saja. Biasanya antara 5 hingga 10 hari bursa. Dengan sifatnya yang berupa hak ada beberapa keistimewaan dan keuntungan yang bisa diperoleh investor dengan right. Investor yang menjadi pemegang saham lama memiliki hak istimewa untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditetapkan dengan menukarkan right yang dimilikinya. Hak istimewa tersebut memungkinkan investor untuk memperoleh keuntungan dengan membeli saham baru dengan harga yang lebih murah.
Contoh :
Emiten ABC melakukan right issue dengan harga Rp. 1.500 per lembar. Right dari saham itu dijual pada harga Rp. 200. Itu artinya bagi pemegang saham lama untuk dapat membeli saham baru emiten senilai Rp. 1.500, dia harus menebus right (yang menjadi hak untuk membeli saham) senilai Rp. 200 per saham. Dengan demikian modal yang dikeluarkan investor untuk membeli saham baru emiten itu adalah Rp. 1.700 per saham. Kalau pada saat pelaksanaan harga saham di pasar naik menjadi Rp. 2.000 per saham, berarti pemegang saham sudah menikmati keuntungan sebesar Rp. 300 per saham.
dia melakukannya, maka dia harus membayar Rp. 1.700 (Rp. 1.500 harga pelaksanaan + Rp. 200 harga right). Sebagai konsekuensi tidak dilakukannya penukaran saham tersebut akan terjadi dilusi pada kepemilikan saham investor. Dilusi atau berkurangnya kepemilikan saham investor itu akan terjadi secara proporsional. Misalnya emiten yang melakukan right issue itu sebelumnya memiliki saham sebanyak 200 juta. Ketika emiten itu mengeluarkan right issue dengan perbandingan (rasio) 1:1 artinya setelah right issue saham emiten itu akan bertambah jumlahnya menjadi 400 juta lembar saham. Dengan kata lain tiap satu pemegang saham lama akan diberi hak untuk membeli 1 saham baru. Kalau kemudian right tidak ditebus oleh pemegang saham lama (yang mendapatkan hak untuk membeli terlebih dulu), dengan sendirinya jumlah kepemilikan sahamnya akan terpangkas (dilusi) sebesar 50 persen. Artinya jika sebelum right issue seorang investor memiliki 1 juta saham, maka setelah right issue jumlah sahamnya tinggal 500 ribu lembar saja.
4. Warrant
Waran adalah hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan pada waktu yang telah ditetapkan pula. Waran biasanya melekat sebagai daya tarik (swetener) pada penawaran umum saham perdana (IPO) ataupun obligasi. Biasanya harga pelaksanaan lebih rendah dari pada harga pasar saham. Setelah saham ataupun obligasi tersebut tercatat di bursa, waran dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode perdagangan waran sekitar 3 - 5 tahun. Waran merupakan suatu pilihan (option), di mana pemilik waran mepunyai pilihan untuk menukarkan atau tidak warannya pada saat jatuh tempo. Pemilik waran dapat menukarkan waran yang dimilikinya 6 bulan setelah waran tersebut diterbitkan oleh emiten. Harga waran itu sendiri berfluktuasi selama periode perdagangan di pasar sekunder. Untuk menghitung harga suatu waran digunakan rumus berikut :
Pw=Ps−Pe
Pw = harga/nilai fundamental suatu waran
Ps = harga pasar yang berlaku pada saham biasa yang terkait dengan waran. Pe = exersice price waran untuk penebusan saham.
Yang menjadi keistimewaan waran ini antara lain :
melebihi harga pelaksanaan. Misalnya seorang investor membeli waran pada harga Rp. 200,- per lembar dengan harga pelaksanaan Rp. 1.500,-. Kalau pada saat tanggal pelaksanaan (penukaran waran menjadi saham), harga saham perusahaan meningkat menjadi Rp. 1.800,- per saham, maka investor dapat dikatakan hanya membeli saham perusahaan tersebut dengan harga hanya Rp. 1.700 (Rp. 1.500,- + Rp. 200,-). Jelas hal itu sangat menguntungkan membeli saham secara langsung di pasar sekunder yang harganya Rp. 1.800,- per saham. b. Karena sifatnya yang bisa diperdagangkan itu waran ini juga memberikan
keuntungan berupa capital gain. Karakteristik yang demikian itu sekaligus juga menjadi faktor yang merugikan bagi investor apabila harga waran jatuh dari harga belinya. Begitu pula apabila harga saham pada periode pelaksanaan jatuh dan menjadi lebih rendah dari harga pelaksanaan, maka investor akan mengalami kerugian atas harga beli waran.
Misalnya investor membeli waran seharga Rp. 200,- dengan harga pelaksanaan Rp. 1.500,-. Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham turun menjadi Rp. 1.200,- per saham. Investor tersebut tentunya tidak akan menukarkan waran yang dimilikinya, karena jika ia melakukannya, maka ia harus membayar Rp. 1.700,- (Rp. 1.500,- harga pelaksanaan + Rp. 200,- harga waran). Oleh karena itu investor akan mengalami kerugian sebesar harga pembelian waran Rp. 200,-. Sesuai dengan peraturan Bapepam, jumlah waran yang diterbitkan dan waran yang telah beredar tidak melebihi 15% dari modal disetor pada saat waran diterbitkan.
Proses penebusan waran akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham yang diterbitkan, sehingga akan terjadi dilusi persentase kepemilikan saham. Harga teoritis saham setelah redemption waran dapat dihitung sebagai berikut :
Ps=Ss . Pc+WR . PE S+WR
Ps = harga teoritis saham yang baru sesudah redemption waran Ss = jumlah saham sebelum terjadinya redemption waran
Pc = harga penutupan yang tersedia pada saat terjadinya redemption waran PE = exercise price waran
B. Kewajiban Jangka Panjang
Salah satu sumber modal jangka panjang adalah obligasi. Obligasi diterbitkan oleh perusahaan, disebarluaskan, ditawarkan kepada publik dan dibeli oleh beragam investor. Dengan membeli obligasi artinya antara perusahaan dan investor yang membeli obligasi terdapat perjanjian bahwa perusahaan akan melakukan pembayaran atas pokok pinjaman beserta bunganya (bisa berbentuk fixed rate atau floated rate), pada tanggal tertentu kepada pemegang obligasi. Perjanjian inilah yang disebut indenture, yang didalamnya memuat hak dan kewajiban baik pemegang saham atau perusahaan. Tebal indenture bisa beratus halaman, memuat berbagai hal seperti mengatur kemungkinan pelunasan obligasi sebelum jatuh tempo, tingkat rasio kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dalam tiap tahunnya (Times Interest Earned/TIE ratio) yang harus dipertahankan jika perusahaan menjual obligasi tambahan, dan pembatasan pembayaran deviden jika laba tidak mencapai jumlah tertentu.
Terdapat banyak dimensi lain dari kewajiban (utang) jangka panjang, termasuk hal-hal seperti jaminan, karakteristik penebusan kembali (call), dana pelunasan (sinking fund), peringkat, dan perjanjian perlindungan (protective covenant). Karakterisik-karakterisitik tersebut dirinci di dalam perjanjian obligasi (indenture).
Biasanya, suatu pengawas keuangan (trustee) misalnya sebuah bank, ditunjuk oleh perusahaan untuk mewakili para pemegang obligasi. Perusahaan pengawas harus :
a. Memastikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian telah dipatuhi. b. Mengelola dana pelunasan
c. Mewakili pemegang obligasi dalam kegagalan pembayaran yakni jika perusahaan gagal bayar.
Indenture obligasi adalah dokumen legal yang biasanya memuat persyaratan-persyaratan berikut :
a. Persyaratan dasar obligasi b. Jumlah total emisi obligasi
c. Uraian tentang harta yang digunakan sebagai jaminan d. Kesepakatan pelunasan
1. Protective Covenant (Akad-akad obligasi)
Protective covenant adalah bagian dari indenture atau perjanjian pinjaman yang membatasi tindakan-tindakan tertentu yang mungkin akan diambil oleh perusahaan selama jangka waktu pinjaman. Protective covenant dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Positif covenant
Positif covenant adalah jenis janji “Anda dilarang”. Janji ini membatasi atau melarang tindakan-tindakan yang mungkin diambil oleh perusahaan. Berikut adalah contoh umum di antaranya :
Perusahaan harus membatasi jumlah dividen yang dibayarkan menurut suatu
rumus tertentu.
Perusahaan tidak dapat menjaminkan asetnya kepada pemberi pinjaman lain. Perusahaan tidak dapat bergabung dengan perusahaan lain.
Perusahaan tidak dapat menjual atau menyewakan semua asset utama tanpa persetujuan dari pemberi pinjaman.
Perusahaan tidak dapat menerbitkan utang jangka panjang tambahan. b. Negatif covenant
Negatif covenant adalah jenis perjanjian “Anda harus”. Janji ini menyebutkan satu tindakan yang oleh perusahaan disetujui untuk diambil atau suatu persyaratan yang harus dipatuhi oleh perusahaan. Berikut beberapa contohnya :
Perusahaan harus menjaga modal kerjanya pada atau di atas suatu tingkat minimum yang telah ditentukan.
Perusahaan harus memberikan laporan keuangan yang telah diaudit kepada pemberi pinjaman secara berkala.
Perusahaan harus menjaga semua agunan atau jaminan dalam kondisi yang baik.
Beberapa contoh di atas hanya sebagian daftar covenant. Suatu indenture tertentu mungkin memiliki banyak janji yang berbeda.
2. Sinking Fund (Dana Pelunasan)
melainkan menerima dana pengembalian sesuai dengan suku bunga yang disepakati, sehingga dalam banyak kasus, debitur akan membuat suatu alokasi dana pribadi yang dapat dicicilnya setiap interval waktu tertentu dengan harapan pada ujung periode hutangnya, dana pelunasan telah tersedia.
Pasar Modal kita umumnya menawarkan obligasi dengan tingkat bunga tertentu yang nilainya sedikit lebih besar dari tingkat bunga yang ditetapkan Bank Indonesia atau yang berlaku umum tergantung perjanjian perwaliamanatan. Adanya kecenderungan gagal bayar pada saat jatuh tempo oleh Emiten penerbit obligasi kepada pemegang obligasi, umumnya terjadi karena belum adanya ketentuan yang mewajibkan pembentukan dana cadangan dalam rangka memenuhi kewajiban pokok pinjaman dan pembayaran bunga yang dikelola tersendiri dalam akun khusus pada sisi aktiva. Pembentukan dana cadangan dalam upaya menanggulangi kesulitan likuiditas perusahaan saat jatuh tempo obligasi kita kenal sebagai sinking fund. Pencadangan dana tersebut dapat digunakan pada saat pelunasan pokok pinjaman dan bunga pada saat jatuh tempo obligasi maupun pada saat penarikan kembali obligasi yang beredar dengan cara membeli kembali obligasi yang beredar di Bursa. Sinking fund umumnya diawasi pengelolaannya oleh Wali Amanat.
Sinking fund digunakan untuk menentukan jumlah uang yang harus ditabung setiap periode untuk mencapai sejumlah uang yang diinginkan pada nilai periode yang akan datang. Jumlah uang pada nilai periode ini merupakan akumulasi pembayaran tetap setiap periode selama waktu yang diinginkan, misalnya 5 tahun atau 10 tahun. Dengan demikian kita dapat mengetahui jumlah uang yang ditabung di bank setiap tahunnya dengan tingkat bunga tertentu untuk mencapai jumlah yang diinginkan pada akhir tahun ke-5.
Terdapat berbagai jenis kesepakatan dana pelunasan di mana rinciannya akan diuraikan di dalam indenture. Contohnya :
a. Beberapa dana pelunasan dimulai sekitar 10 tahun setelah penerbitan awal. b. Beberapa dana pelunasan akan meminta pembayaran dengan jumlah yang sama
sepanjang umur obligasi.
c. Beberapa emisi obligasi berkualitas tinggi memiliki pembayaran kepada dana pelunasan yang tidak mencukupi untuk menebus keseluruhan emisi. Sebagai konsekuensinya, ada kemungkinan terdapat pembayaran yang besar saat jatuh tempo.
3. Call Provision (Opsi Tarik)
Salah satu hal yang termuat dalam perjanjian obligasi tersebut adalah ada tidaknya ketentuan penarikan (call provision/call feature), yaitu hak perusahaan sebagai penerbit untuk menebus obligasinya sebelum waktu jatuh temponya. Ketentuan penarikan tersebut biasanya menetapkan bahwa penerbit harus membayar kepada investor/pemegang obligasi suatu jumlah yang lebi besar dari pada nilai pari (nominal) obligasi jika obligasi tersebut ditarik. Jumlah tambahan tersebut disebut sebagai premi penarikan/call premium.
Contoh soal:
PT Hijau Rindang mengeluarkan obligasi 20 tahun yang memiliki nilai pari sebesar $100.000 bunga 10%. Obligasi tersebut dijual dengan harga 95%. Empat tahun setelah obligasi dikeluarkan, perusahaan menarik obligasi tersebut dengan call price sebesar $102.000 maka call premium obligasi tersebut adalah:
Call price = $102.000 Nilai pari = $100.000 Call premium = $ 2.000
Dengan kata lain, dalam kasus tersebut, call premium obligasi sebesar 2% (dari 102% - 100%) dari nilai nominal obligasi (2% x $100.000 = $2.000), dan call price = nilai pari + call premium.
4. Bond Refunding (Mengganti Obligasi Lama dengan Obligasi Baru)
Jika manajemen memprediksi bahwa tingkat suku bunga di pasar modal (market rate) obligasi sejenis di masa mendatang akan turun, maka perusahaan akan mempertimbangkan untuk membeli kembali obligasi (buy back) yang tingkat bunganya tinggi, dan menerbitkan obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dalam hal ini disebut bahwa obligasi didanai ulang (refunded). Jadi, kapan perusahaan perlu melakukan pendanaan ulang obligasinya tergantung dari ekspektasi tingkat suku bunga di masa mendatang.
Keputusan pendanaan ulang menyangkut dua pertanyaan yang berbeda, yaitu apakah menguntungkan untuk menarik obligasi yang sedang beredar pada periode berjalan dan menggantinya dengan obligasi baru? dan jika bond refunding saat ini menguntungkan, apakah tidak lebih baik/menguntungkan lagi jika pendanaan ulang ditangguhkan dulu untuk sementara? Untuk menjawab pertanyaan tersebut pada prinsipnya perusahaan menganalisis sama halnya pada saat mengkaji tentang penganggaran barang modal (capital budgeting). Dengan melakukan bond refunding artinya terdapat arus kas keluar. Biaya atas pendanaan ulang (sama halnya dengan pengeluaran investasi, karena perusahaan mengeluarkan dana untuk membeli kembali obligasi) terdiri atas:
c. Bunga (coupon rate) yang harus dibayar ketika kedua obligasi sedang sama-sama beredar (disebut sebagai overlap interest). Ada kalanya obligasi baru dijual lebih dahulu sebelum dilakukan penarikan obligasi lama, ini untuk memastikan ada/tersedia dana bagi membayar pokok pinjaman dari obligasi lama
Seluruh pengeluaran kas tersebut dibandingkan dengan arus kas masuk, yang dalam hal ini berupa penghematan biaya atas ditariknya obligasi lama. Penghematan dapat terjadi karena ada selisih beban bunga antara obligasi lama dan obligasi baru, serta amortisasi atas biaya-biaya terkait dengan kedua obligasi tersebut. Penghematan biaya diperhitungkan setelah pajak. Penghematan biaya yang terjadi setiap tahun (karena biaya bunga dibayarkan tiap tahun) kemudian dipresent value-kan dengan menggunakan tingkat bunga obligasi baru sebagai discount factor. Perusahaan lebih baik melakukan pendanaan ulang obligasi jika nilai sekarang (present value) dari penghematan melebihi biaya pendanaan ulang.
Contoh Soal :
PT Artha Finance, Tbk pada tahun 2000 mengeluarkan 1.000 lembar obligasi berumur 20 tahun dengan coupon rate 15% per tahun, nilai nominal Rp. 200.000/lembar dan laku dijual pada tingkat 98%. Pada saat emisi, perusahaan mengeluarkan biaya emisi Rp. 10.000.000 dan akan diamortisasi dengan dasar garis lurus selama umur obligasi. Pada tahun 2005, perusahaan mempertimbangkan untuk menarik obligasi tersebut karena dalam beberapa tahun mendatang diprediksikan obligasi sejenis memiliki market rate yang lebih rendah dibandingkan obligasi yang dikeluarkan PT Artha Finance, Tbk.
Obligasi lama ditarik dengan call premium 10% (atau sebesar 10% x Rp. 200.000 = Rp. 20.000) per lembar obligasi. Untuk mengganti obligasi lama, perusahaan akan mengeluarkan obligasi baru dengan nilai pari dan jumlah lembar yang dikeluarkan sama dengan obligasi lama. Akan tetapi, tingkat bunga (coupon rate) obligasi baru adalah 10% dengan umur 15 tahun (sisa umur obligasi lama). Biaya emisi atas penerbitan obligasi baru sebesar Rp. 12.000.000.
menganalisa apakah keputusan bond refunding menguntungkan bagi perusahaan atau tidak.
Jawab :
Obligasi lama dijual pada kurs 98%, jadi diskon yang ditanggung perusahaan adalah 2% atau sebesar 2% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 4.000.000. Biaya diskon ini harus diamortisasi atau disusutkan selama umur obligasi supaya dapat diakui sebagai biaya pada setiap tahunnya. Jadi pengakuan biaya diskon setiap tahun adalah Rp. 4.000.000/20 th = Rp. 200.000/th.
Dengan cara yang sama, biaya emisi obligasi lama juga harus diamortisasi agar setiap tahunnya dapat diperhitungkan besarnya biaya emisi yang dibebankan pada tahun tersebut.
Untuk obligasi baru:
Amortisasi biaya emisi adalah = Rp. 12.000.000/15 thn = Rp. 800.000/thn. Artinya setiap tahun (selama 15 tahun) perusahaan mengakui sebesar Rp. 800.000 sebagai biaya emisi. Dengan cara yang sama biaya diskon juga diamortisasi = diskon Rp. 250 per lembar x 1.000 lbr = Rp. 250.000, sehingga amortisasi per tahun adalah Rp 250.000/15 thn = Rp. 16.666.67. Jadi biaya diskon per tahun yang dibebankan setiap tahun adalah Rp. 16.666,67.
Berikut tahap perhitungan kelayakan bond refunding. a. Hitung arus kas keluar (Initial cash outlay)
Biaya penarikan obligasi lama
Nominal obligasi lama Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 200.000.000 Call premium 10% x Rp. 200.000.000 = Rp. 20.000.000
Call price = Rp. 220.000.000
Biaya penerbitan obligasi baru = Rp. 12.000.000
Interest Overlap
3/12 x 15% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 7.500.000
Arus kas keluar = Rp. 239.500.000
b. Hitung arus kas masuk/penghematan (Initial cash inflow) Penjualan obligasi baru
Call premium 10% x Rp. 200.000.000 = Rp. 20.000.000
Amortisasi diskon (obligasi lama) = Rp. 3.000.000
15/20 x 2% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr
Amortisasi biaya emisi (obligasi lama) = Rp. 7.500.000
15/20 x 2% x Rp. 10.000.000
Interest overlap (obligasi lama) = Rp. 7.500.000
3/12 x 15% x Rp 200.000 x 1.000 lbr - Total penghematan pajak = Rp. 38.000.000 Dikalikan tingkat pajak 30% x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 11.400.000
Arus kas masuk = Rp. 211.150.000
c. Hitung arus kas keluar bersih (Net Initial Cash Outlay)
Arus kas keluar = Rp. 239.500.000
Arus kas masuk = Rp. 211.150.000
Arus kas keluar bersih = Rp. 28.350.000
d. Hitung penghematan biaya per tahun Obligasi lama :
Biaya bunga 15% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 30.000.000 Dikurangi :
Biaya bunga = Rp. 30.000.000
Amortisasi diskon = Rp. 200.000
(2% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr)/20th
Amortisasi biaya emisi = Rp. 500.000
Rp. 10.000.000/20th -= Rp. 30.700.000 Dikalikan tingkat pajak 30% x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 9.210.000
Penghematan (karena ada biaya) setelah pajak per tahun adalah Rp. 20.790.000 Obligasi baru :
Biaya bunga 10% x Rp. 200.000 x 1.000 lbr = Rp. 20.000.000 Dikurangi :
Amortisasi diskon = Rp. 16.667
(Rp. 250 x 1.000 lbr)/15 th
Amortisasi biaya emisi = Rp. 800.000
Rp. 12.000.000/15 th -= Rp. 20.816.667 Dikalikan tingkat pajak 30% x 0,3
Penghematan pajak = Rp. 6.245.000
Penghematan (karena ada biaya) setelah pajak per tahun adalah Rp. 13.755.000 Penghematan biaya setelah pajak/tahun (dengan penarikan obligasi lama) :
Obligasi lama = Rp. 20.790.000
Obligasi baru = Rp. 13.755.000
Penghematan dengan obligasi baru = Rp. 7.035.000 e. Perhitungan NPV
Cost of debt setelah pajak = 10% (1-0,3) = 7%. Inilah yang digunakan sebagai discount factor untuk menghitung present value penghematan biaya dengan obligasi baru.
NPV = PV penghematan biaya (dengan obligasi baru) – arus kas keluar setelah pajak
= Rp. 7.035.000 x PVIFA 7%, 5th – Rp. 28.350.000 = Rp. 64.074.175,03 – Rp. 28.350.000
= Rp. 35.724.175,03
BAB III KESIMPULAN
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa hutang, pembiayaan bentuk lain atau dengan penerbitan surat-surat utang, maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity).
Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go publik. Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk.
Pada saat IPO, perusahaan bisa juga memberikan “pemanis” untuk lebih menarik minat investor dengan menambahkan produk derivatif yaitu warrant. Setelah perusahaan menjadi perusahaan terbuka, tidak jarang pula perusahaan melakukan penjualan saham lagi melalui mekanisme Second Public Offering atau dengan Right Issue. Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Perusahaan tersebut akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Pandji dan Pakarti, Piji. 2006. Pengantar Pasar Modal. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Nuzula, Nila Firdausi. Pendanaan Ulang Obligasi (Bond Refunding). Bahan ajar : Manajemen keuangan Bisnis II.
Ross, Stephen A.; Westerfield, Randolph W.; Jordan, Bradford D. Alih bahasa : Ali Akbar Yulianto, Rafika Yuniasih, dan Christine. 2009. Pengantar Keuangan Perusahaan. Buku 1. Edisi 8. Jakarta : Salemba Empat.
www.google.com
http://id.scribd.com/doc/183006461/Penerbitan-Sekuritas-Ekuitas-dan-Kewajiban-Jangka-Panjang-doc