• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TENTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TENTA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

"PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN"

NAMA

: RAEHA NOPIANI

NIM

: E1Q013042

PRODI

: PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MATARAM

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, petunjuk serta karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan dalam bentuk makalah yang berjudul Perkembangan Peserta Didik : Perkembangan Kepribadian. Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD).

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang dapat dijadikan perbaikan untuk tulisan-tulisan yang akan datang.

Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami telah banyak mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD) yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya serta untuk menambah pembendaharaan pengetahuan dalam memahami perkembangan pada peserta didik.

Semoga bantuan, dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada kami dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin.

Mataram, 31 Desember 2014

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I

PENDAHULUAN………..4

1.1 Latar Belakang………4

1.2 Rumusan Masalah………...4

1.3 Tujuan Penulisan……….4

BAB II PEMBAHASAN ………...5

1. Pengertian ...5

2. Psikologi Perkembangan Kepribadian ...7

3. Aspek-Aspek Kepribadian ...12

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kepribadian ...13

5. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Otoriter dengan Perkembangan Kepribadian Siswa ...16

6. Macam-Macam Karakteristik Kepribadian ...17

7. Perkembangan kepribadian (posted underuncategorized) ...19

BAB III PENUTUP ……….…….…...23

1. Kesimpulan ...23

2. Saran ...23

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu pendidikan semakin berkembang dengan teknologi yang begitu canggih menjadikan semua aspek di dalam hidup kita semakin berkembang dan menjadikan pelajar lebih mengerti akan hakekat pendidikan untuk manusia indonesia seutuhnya. Tak banyak orang yang menjadi pintar tapi hilang dari hakikat manusia karna itulah pendidikan formal sangatlah wajib bagi di ikuti karna selain ilmu pendidikan formal mengajarkan bagaimana kita untuk bersikap sesuai dengan akhlak yang seharusnya dimiliki seorang manusia dengan ilmu pengantar pendidikan kita akan mengetahui bagaimana cara untuk menjadi seorang guru yang mengetahui bagaimana sosok guru yang sebenarnya sesuai dengan fungsinya untuk mengetahui dasar dasar ilmu ini kita harus mengetahui bagaimana hakikat manusia dan sosok manusia indonesia seutuhnya

Berdasarkan itu kami membuat makalah ini untuk menggali setitik ilmu mengenai sosok manusia indonesia seutuhnya.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan menfokuskan pada beberapa masalah di bawah ini:

a. Apa pengertian perkembangan kepribadian? b. Bagaimana psikologi perkembangan kepribadian? c. Apa saja aspek-aspek kepribadian?

d. Bagaimana hubungan antara pola asuh orang tua otoriter dengan perkembangan kepribadian siswa?

e. Apa saja macam-macam karakteristik kepribadian? f. Bagaimana perkembangan kepribadian peserta didik?

1.3 Tujuan Penulisan

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

I. PENGERTIAN

1. Perkembangan

Berarti masalah perkembangan sering kali tidak dapat dilepaskan dari masalah pertumbuhan. Keduanya memang memiliki kesamaan dan ada hubungannya. Suatu pertumbuhan pada akhirnya akan “selesai” semua organisme mencapai fisik murni, namun perkembangan berlangsung terus menerus sepanjang hayat.

Dengan demikian, maka perkembangan adalah merupakan suatu proses terjadinya perubahan-perubahan psikologis (sifat-sifat khas) secara terus menerus menuju ke suatu arah yaitu organisasi atau struktur tingkah laku pada tingkat integrasi yang lebih tinggi melalui proses belajar.

2. Kepribadian

Mendefinisikan kepribadian sebenarnya bukan hal yang mudah karena kepribadian merupakan sesuatu yang abstrak. Disini penulis akan mencoba untuk mengemukakan beberapa pengertian kepribadian sebagai berikut :

a. G.W. Allport berpendapat “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophycal sistem, that determines his unique adjusment to his environment”. Artinya : personaliti itu adalah suatu organisasi psichophysis yang dinamis dari pada seseorang yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

b. May berpendapat bahwa “kepribadian adalah suatu aktualisasi dari proses hidup dalam seorang individu yang bebas, terintegrasi dalam masyarakat dan memiliki satu perasaan cemas dalam batin, yang berhubungan dengan religiusitas.

(6)

seseorang tetapi lebih merupakan hasil dari pada suatu pertumbuhan yang lama suatu kulturil.

d. Kepribadian adalah dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.

Dari uraian tentang pengertian kepribadian di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian yaitu suatu organisasi yang unik (khas) pada diri setiap individu yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan, sehingga menjadi penentu atau pengaruh tingkah laku.

Perkembangan kepribadian seseorang mengalami suatu tahapan-tahapan yang diawali dari struktur fisik yang tumbuh dan berkembang. Bersamaan dengan itu berkembang pula tingkat kecerdasan atau kebodohan psikis individu menentukan penyesuaian diri di lingkungan kepemilikan bakat akan mempengaruhi tendensi bertingkah laku.

Hal yang bisa mempengaruhi proses perkembangan kepribadian adalah dari adanya emosi kepribadian yang berhubungan dengan kejiwaaan seseorang. Di samping itu adanya lingkungan sebagai pembentuk pola tingkah laku, juga pengaruh rumah serta pengalaman di sekolah. Adapun kepribadian adalah tingkah laku yang berarti moral alam diri seseorang yang dapat mencerminkan baik suatu individu. Dapat dikatakan bahwa kepribadian individu itu berakar pada kemampuan fisik dan psikisnya karena faktor-faktor biologis itu berinteraksi dengan pengaruh sosial atau lingkungan, kemudian terjadi pola kepribadian dengan tingkah laku diatur atau ditentukan oleh adanya kekuatan ciri-ciri tertentu.

Proses diartikan sebagai runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud proses dalam perkembangan anak adalah tahapan-tahapan perubahan yang dialami seorang anak baik jasmaniah maupun rohaniah.

(7)

a. Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku sebagai pribadi yang sudah dan benar atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dan hal yang penting adalah keteladanan itu sendiri. b. Identifikasi yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau

tingkah laku seseorang yang menjadi idolanya.

c. Proses coba-coba (trial and error) yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral semacam coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.

d. Dalam proses pembentukan kepribadian seorang remaja, hal yang paling mempengaruhi adalah sekolah. Pentingnya sekolah dalam memainkan peranan di diri siswa dapat dilihat dari realita sekolah sebagai tempat yang harus dihadiri setiap hari. Sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini seiring dengan masa perkembangan konsep diri, anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah dari pada di rumah. Di samping itu sekolah memberi kesempatan siswa untuk meraih sukses serta memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.

Adapun proses perkembangan kepribadian sebagai runtutan atau tahapan awal dalam pencapaian sempurnanya jiwa yang dilakukan dengan menilai dari pembentukan akhlak terlebih dahulu yang mewujudkan ketaqwaan terhadap Tuhan.

II. Psikologi Perkembangan Kepribadian

Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.

(8)

1. Struktur kepribadian

Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai super ego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia di lihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan. Persepsi tentang sifat manusia menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.

2. Dibawah ini beberapa contoh dan masalah tentang perkembangan kepribadian mulai dari anak sampai lanjut usia:

1) Anak dan Balita

(9)

anaknya masih kecil, pemogokkan ini tentu bikin pusing karena menimbulkan kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya dibuat-buat.

b. Apakah anak saya bermasalah? Pertanyaan itu sering sekali terdengar diucapkan oleh para orang tua, terutama para Ibu. Umumnya mereka khawatir karena anak-anak mereka dinilai “berbeda” dengan rekan-rekan mereka. Entah dari prestasinya, sikap dan perilakunya, sifatnya,sampai dengan fisiknya. Jeli sekali pengamatan para orang tua, jika sudah menyangkut perbedaan pada anak-anaknya. Selanjutnya, orang tua cenderung berpikir “anak saya membutuhkan terapi” makalah ini,tidak untuk mengenal ciri-ciri anak bermasalah,namun mengajak untuk memahami, dari mana munculnya keresahan tersebut.

c. Tidak semua perbedaan yang kita lihat pada anak merupakan hal yang negatif,dan tidak semua juga positif. Orang tua seringkali lupa, bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perbedaan setiap anak :

1 Faktor biologis dan genetika (keturunan) 2 Faktor pola asuh

3 Faktor lingkungan 4 Faktor pendidikan

5 Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari) d. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama,

bahkan kakak beradik atau anak kembar sekali pun, mengalami kondisi yang berbeda ketika mereka tumbuh dan dibesarkan. Intinya, tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.

2) Remaja

a. Banyak orang tua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orang tua dan remaja itu sendiri. Banyak orang tua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orang tua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa.Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jati diri yang mandiri dari pengaruh orangtua.

(10)

bila tujuan kita tercapai (senang, gembira). Bila ditelaah lebih lanjut emosi akan menjadi semakin jelas peranannya bila kita dapat mengingat beberapa hal berikut:

1 Hampir seluruh suka dan duka dalam hidup ini berhubungan dengan emosi.

2 Seringkali perilaku manusia dihasilkan oleh kekuatan emosional (meskipun beberapa pandangan menyatakan banyak perilaku berdasarkan alasan logis dan objektif).

3 Seringkali pertentangan antar pribadi dihasilkan karena penonjolan emosi (sombong, marah, cemburu, frustrasi dll).

4 Pertemuan antar pribadi seringkali disebabkan emosi seperti belas kasih, sayang, perasaan tertarik dll.

3) Dewasa

a. Depresi dan Reformasi Diri. Banyak hal dalam hidup orang dewasa yang bisa menjadi "kambing hitam" atau alasan seseorang menjadi depresi, depresi bisa melanda siapa saja tanpa pandang bulu,namun depresi pun bisa diatasi oleh siapa saja dengan kondisi-kondisi tertentu. Kalau dipikir-pikir, mengatasi depresi bisa dibilang sebuah pilihan sikap.

b. Kecanduan cinta. Istilah kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum terdengar. Istilah yang sudah umum beredar seperti kecanduan minum, alkohol, narkoba, rokok, kerja, dan lain sebagainya. Meskipun “barang” nya cinta, bukan berarti aman-aman saja bagi pecandunya dan tidak membawa dampak apapun juga.Justru, dampak dari kecanduan cinta ini sama buruknya untuk kesehatan jiwa seseorang. Buktinya, sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan yang terjadi akibat kecanduan cinta meski korban maupun pelaku sama-sama tidak menyadarinya.

4) Usia Lanjut

(11)

memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia. Adapun beberapa tipe kepribadian lansia adalah sebagai berikut:

1 Tipe kepribadian Konstruktif. Model kepribadian tipe ini sejak muda umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan dan pola kehidupannya. Sejak muda perilakunya positif dan konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik dirumah, di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis, sehingga setelah selesai mengikuti studi ia mendapatkan pekerjaan juga dengan mudah dan dalam bekerjapun tidak bermasalah.

2 Tipe kepribadian mandiri. model kepribadian tipe ini sejak masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering menolak pertolongan atau bantuan orang lain.Tipe kepribadian ini seolah-olah pada dirinya memiliki prinsip “jangan menyusahkan orang lain” tetapi menolong orang lain itu penting.

3 Tipe kepribadian tergantung. Tipe kepribadian ini ditandai dengan perilaku yang pasif dan tidak berambisi sejak anak-anak, remaja dan masa muda. Kegiatan yang dilakukannya cenderung di dasari oleh ikut-ikutan karena diajak oleh temannya atau orang lain.Karena pasif dan tergantung, maka jika tidak ada teman yang mengajak, timbul pikiran yang optimistik, namun sukar melaksanakan kehendaknya, karena kurang memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menghadapi hal-hal yang nyata.

4 Tipe Kepribadian bermusuhan, adalah model kepribadian yang tidak disenangi orang, karena perilakunya cenderung sewenang-wenang, galak, kejam, agresif, semauanya sendiri dan sebagainya.

(12)

menggambarkan bahwa mereka tidak puas dengan keberadaan dirinya. Sejak menjadi siswa mereka tidak memiliki ambisi namun kritik terhadap dirinya banyak dilontarkan.

III. Aspek-Aspek Kepribadian

Para pakar ilmu jiwa mengatakan bahwa aspek kepribadian manusia ada tiga yaitu kejasmanian, aspek kejiwaan dan aspek keharmonisan yang luhur.

1. Aspek Kejasmanian

Meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar : a. Yang dikerjakan oleh lesan, seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu yang

bermanfaat dan mengerjakannya.

b. Yang dikerjakan oleh anggota tubuh lain, seperti berbakti kepada orang tua, memnuhi kebutuhan, sholat, puasa, menetapkan suatu berdasarkan musyawarah, memenuhi peraturan, menghormati orang lain dan sebaginya.

2. Aspek kejiwaan

Meliputi aspek-aspek yang tidak dapat dilihat dan tidak ketahuan dari luar. Seperti : mencintai Allah SWT dan Rosul, mencintai dan memberi karena Allah SWT, ikhlas dalam beramal, sabar tidak sombong, pemaaf, tidak mendendam, tawadhu’ dan lain-lain.

3. Aspek kerohanian yang luhur

Meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan, meliputi sistem nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang mengarah dan memberi corak sebuah kehidupan individu. Bagi yang beragama aspek inilah yang menentukan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.Yoesoef Noessyirwan (1978) menganalisis kepribadian ke dalam empat daerah bagian atau aspek, yaitu :

a. Vitalitas sebagai konstanta dari semangat hidup pribadi.

b. Temperamen sebagai konstanta dari warna dan corak pengalaman pribadi serta cara bereaksi dan bergerak.

(13)

d. Kecerdasan, bakat, daya nalar sebagai konstanta kemampuan pribadi.

IV. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kepribadian

Andi Mappiare mengatakan bahwa kepribadoian terbentuk dari tiga faktor yaitu pembawaan (hereditas), lingkungan dan citra diri (self concept).

1. Pembawaan (hereditas)

Pembawaan ialah segala sesuatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat keturunan. Anak merupakan warisan dari sifat-sifat pembawaan orang tuanya yang merupakan potensi tertentu.Beberapa ahli ilmu pengetahuan menekankan pentingnya faktor keturunan ini bagi pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan.

a. Pertumbuhan Fisik

Seorang anak yang kuat dan sehat lebih beruntung dibanding dengan anak yang kecil dan ringkih, ia lebih banyak mengikuti aktivitas-aktivitas sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pengalaman baginya yang merupakan modal dasar bagi perkembangannya. Sedangkan seorang anak yang struktur tubuhnya lebih atau kurang dari temannya, misalnya terlalu gemuk, terlalu tinggi, terlalu pendek, terlalu kurus akan menjadi objek gangguan dan cemoohan tema-teman, hal tersebut dapat mempengaruhi pembentukan sikap dan kepribadiannya.

b. Kemampuan mental dan bakat khusus

Seorang anak yang pandai pada umur yang muda sudah dapat mengenal hubungan antara dirinya dan benda-benda lingkungannya. Sesuai dengan cara bagaimana seorang anak sejak kecil dianjurkan untuk mengadakan penyesuaian yang pantas, maka ia juga akan cepat mengerti bentuk penyesuaian yang tepat yang seimbang dengan masa kematangan dan tuntutan yang dihadapinya.

2. Lingkungan

(14)

lingkungan sosial ialah lingkungan yang terdiri dari sekelompok individu (group) interaksi antara individu tersebut menimbulkan proses sosial dan proses ini mempunyai pengaruh yang penting dalam perkembangan pribadi seseorang dengan pendidikan lingkungan sosial yang disebut pergaulan erat dengan seseorang berupa tingkah laku, sikap, mode pakaian atau cara berpakaian dan sebagainya.

Lingkungan fisik (alam) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadi seseorang. Yang dimaksud lingkungan alam disini adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak selain individu dan benda-benda kebudayaan antara lain keadaan geografis dan klimatologis. Anak yang dibesarkan di daerah pantai akan lain dengan anak yang dibesarkan di daerah pegunungan.Meskipun kebudayaan mempunyai pengaruh terhadap kepribadian seseorang, namun kadar pengaruhnya berbeda menurut umur dan fase pertumbuhan.Faktor lingkungan yang paling berperan dalam perkembangan kepribadian adalah rumah, sekolah dan teman sebaya.

a. Rumah

Rumah adalah lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan kepribadian. Bebrapa sifat lingkungan rumah yang memungkinkan anak membentuk sifat-sifat kepribadian adalah kesediaan orang tua menerima anak sebagai anggota keluarga, adanya sikap demokratis, keadaaan ekonomis yang serasi, penyesuaian yang baik antara ayah dan ibu dalam pernikahan dan penerimaan sosial para tetangga terhadap keluarga.

Keadaan rumah yang sederhana, bersih, rapi, dimana anak mendapat makanan yang sehat dan anggota keluarga bersikap sedemikian rupa, sehingga memberi rasa aman kepada anak, inilah yang akan membantu perkembangan kepribadian anak ke arah terbentuknya kepribadian yang harmonis dan wajar.

b. Sekolah

(15)

c. Teman sebaya

Baik di sekolah maupun di luar sekolah kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh teman sebayanya. Dalam lingkungan sekolah anak belajar bermain dengan anak lain, belajar bekerjasama dengan anak lain. Anak dan remaja berusaha mencapai realisasi diri melalui keberhasilan, ia harus melebihi hasilnya sendiri untuk dapat maju dan harus dapat menyayangi orang lain juga. Cara-cara yang memberikan keberhasilan dalam persaingan dalam hubungan dengan teman sekolah, akan dipakainya dalam kompetisi selanjutnya. Kebiasaan ini akan berlangsung terus dalam integrasi kepribadian pada masa dewasa.

Dari kedua faktor di atas, faktor lingkungan dan keturunan sangat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian anak. Faktor keturunan pada umumnya lebih kuat pengaruhnya pada tingkat bayi, sedang faktor lingkungan lebih besar pengaruhnya apabila insan telah meningkat dewasa.

3. Citra diri (self concept)

Faktor yang tidak kalah penting dalam memahami perkembangan kepribadian anak ialah self concept (citra diri) yaitu kehidupan kejiwaan yang terdiri atas perasaan, sikap pandang, penilaian, dan anggapan yang semuanya akan terpengaruh dalam keputusan tindakan sehari-hari.

Seseorang dengan citra dirinya menilai dirinya sendiri dan menilai lingkungan sosial. Moral sebagian standart yang muncul dari agama dan lingkungan sosial, memberi konsep-konsep yang baik dan buruk, patut dan tidak patut secara mutlak, akan tetapi seseorang tidak begitu saja menerima melainkan dipertentangkan dengan citra diri yang dimilikinya.

(16)

Terbentuknya kepribadian seseorang membutuhkan waktu yang panjang, berangsur-angsur dan kontinue dari bayi hingga mati. Pembentukan sekaligus pembinaan kepribadian individu haruslah terus menerus dibentuk dan dibina secara baik dan wajar menuju kepribadian yang ideal. Untuk mencapai kepribadian yang ideal diperlukan lingkungan yang kondusif dan menuntut adanya kesediaaan, keterbukaan individu terhadap gagasan pengalaman-pengalaman baru.

V. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Otoriter dengan Perkembangan Kepribadian Siswa

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hirschi dan Selvin (1967) sebagaimana dikutip oleh Dadang Hawari menujukkan bahwa kepribadian orang tua sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. bila salah seorang atau kedua oang tua mempunyai kelainan kepribadian orang tua mempunyai kelainan kepribadian, maka presentase kenakalan anak akan jauh lebih tinggi daripada kalau kedua orang tua tidak mempunyai kelainan kepribadian.

Pola tingkah laku pikiran dan sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anak-anak. Oleh karena itu, tradisi, kebiasan sehari-hari, sikap hidup, cara berfikir dan filsafat hidup keluarga itu sangat besar sekali pengaruhnya dalam proses pembentuk tingkah laku dan sikap anggota keluarga terutama anak-anak. sebab tingkah laku orang tua itu mudah sekali menular kepada anak-anak, khususnya mudah dioper oleh anak-anak puber dan adolensens yang jiwanya belum stabil dan tengah mengalami banyak gejolak batin.

(17)

kejam, didikan dengan pukulan yang keras atau sekedar penghinaan dan ejekan, maka yang akan timbul ialah reaksi negatif yang tampak pada perilaku dan akhlak anak. Mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer yang keras, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras.

Perkembangan kepribadian anak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang berasal dari dalam misalnya: faktor-faktor yang berhubungan dengan konstitusi tubuh, struktur tubuh dan keadaan fisik, koordinasi motorik, kemampuan mental dan bakat khusus dan emosionalitas. Sedangkan faktor dari luar adalah lingkungan seperti ; rumah, sekolah dan teman sebaya.

Berdasarkan pemikiran di atas jelaslah bahwa pola asuh orang tua otoriter mempunyai hubungan dan berpengaruh kuat terhadap perkembangan kepribadian siswa.

VI. Macam-Macam Karakteristik Kepribadian

Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dengan maksimal.

Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Kepribadian Ekstrovert: Dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.

2. Kepribadian Introvert: Dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.

3. Neurosis: Dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.

(18)

Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai masa puber.

a. Karakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)

Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.

b. Karakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)

Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.

c. Karakteristik perkembangan masa puber (11/12 – 14/15 tahun)

(19)

terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lain-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.

VII. Perkembangan kepribadian (posted underuncategorized)

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.

(20)

maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia. Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan.

Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.

(21)

1. Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.

2. Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun 1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Erikson berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaituepi yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang berlangsung, dangenetic yang berarti “emergence” atau kemunculan. Gambaran dari perkembangan cermin mengenai ide dalam setiap tahap lingkaran kehidupan sangat berkaitan dengan waktu, yang mana hal ini sangat dominan dan karena itu muncul , dan akan selalu terjadi pada setiap tahap perkembangan hingga berakhir pada tahap dewasa, secara keseluruhan akan adanya fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap itu sendiri. Selanjutnya, Erikson berpendapat bahwa tiap tahap psikososial juga disertai oleh krisis. Perbedaan dalam setiap komponen kepribadian yang ada didalam tiap-tiap krisis adalah sebuah masalah yang harus dipecahkan/diselesaikan. Konflik adalah sesuatu yang sangat vital dan bagian yang utuh dari teori Erikson, karena pertumbuhan dan perkembangan antar personal dalam sebuah lingkungan tentang suatu peningkatan dalam sebuah sikap yang mudah sekali terkena serangan berdasarkan fungsi dari ego pada setiap tahap.

(22)

adanya hal-hal yang bermuatan positif dan negatif untuk setiap tahap secara berturut-turut. Periode untuk tiap-tiap krisis, Erikson melukiskan mengenai kondisi yang relatif berkaitan dengan kesehatan psikososial dan cocok dengan sakit yang terjadi dalam kesehatan manusia itu sendiri. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa dengan berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Melalui teori yang dikembangkannya yang biasa dikenal dengan sebutan Theory of Psychosocial Development (Teori Perkembangan Psikososial), Erikson tidak berniat agar teori psikososialnya menggantikan baik teori psikoseksual Freud maupun teori perkembangan kognitif Piaget. Ia mengakui bahwa teori-teori ini berbicara mengenai aspek-aspek lain dalam perkembangan.

(23)

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Perkembangan psikologis manusia diawali dari sejak lahir hingga umur dewasa, yang membentuk sifat-sifat yang bersifat menetap. Faktor-faktor di atas itu yang mempengaruhi setiap individu hingga memiliki karakteristik atau kepribadian yang berbeda-beda. Secara tidak langsung lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian itu tersebut yang dimulai dari usia balita, remaja, dewasa bahkan pada usia lanjut.

Peserta didik merupakan subjek utama dalam penyelenggaran pembelajaran. Tugas utama peserta didik adalah belajar, yaitu kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan perilaku dari segala aspek, mulai dari apektif, kognitif sampai psikomotorik.

Selama proses belajar berlangsung, pengembangan kepribadian peserta didik pun ikut berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan kepada anaknya, pengalaman awal dalam lingkungan keluarga ketika anak masih kecil pengalaman kehidupan selanjutnya dapat memperkuat konsep diri dan dasar kepribadian yang sudah ada. Begitu banyak tipe dan karakteristik dari kepribadian dan tiap individu.

2. Saran

(24)

Daftar Pustaka

Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Karangan Drs. H.Burhanuddin,Mm.Penerbit Rineka Cipta Isbn : 979-518-761-9

Abin ,Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung. Pt. Remaja Rosda Karya.. .

Prayitno Dan Erman Anti. 1995. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konselin. Jakarta : P2LPTK Depdikbud.

Prayitno. 2003. Panduan Bimbingan Dan Konselin. Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Zakiah Daradjad. Kepribadian Guru. Bulan Bintang, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Faktor fundamental yang terdiri Current Ratio (CR), Debt Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS) dan firm size secara simultan dan

Dalam Pasal 1150 KUHPerdata pengertian dari gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang kreditur atas suatu barang bergerak yang bertubuh maupun tidak bertubuh

dilakukan penelitian yang berjudul: “Hubungan Kemampuan Mencatat Dengan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas Pada Materi Sistem. Peredaran Darah Pada

Selama rentang waktu PPL 2, mahasiswa praktikan melakukan proses belajar mengajar secara nyata kepada siswa sesuai dengan kelas yang dipercayakan oleh guru

ANALISA SENSITIVITAS RESPON KONSUMEN DARI EKSTENSIFIKASI MEREK (BRAND EXTENSION) PADA SABUN MANDI CAIR MEREK CITRA (Studi pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah

Jadi, menurut Pasal 1892, perbuatan hukum yang dapat dibatalkan karena adanya cacat yang tidak berakibat batal demi hukum, masih dapat disahkan melalui penetapan ataupun

[r]

Clooney (dalam Burns, 1993) dengan teori looking glass self menyatakan konsep diri mempengaruhi perilaku yang merupakan hasil dari penilaian atau evaluasi terhadap diri