• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BERKUMUR SEDUHAN DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI DAN PERKEMBANGAN COLONY FORMING UNIT (CFU) Streptococcus mutans DI RONGGA MULUT Effect of Daun Sirih Hijau steeping rinse (Piper betle L.) on the formation and deve

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH BERKUMUR SEDUHAN DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI DAN PERKEMBANGAN COLONY FORMING UNIT (CFU) Streptococcus mutans DI RONGGA MULUT Effect of Daun Sirih Hijau steeping rinse (Piper betle L.) on the formation and deve"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Streptococcus mutans

DI RONGGA MULUT

Effect of Daun Sirih Hijau steeping rinse (Piper betle

L.

) on the formation and

development of dental plaque colony forming units (CFU) of Streptococcus

mutans in the oral cavity

Vinna K. Sugiaman, Rosnaeni

Bagian Oral Biologi, Program Studi Pendidikan Dokter Gigi dan Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Umum

Universitas Kristen Maranatha,

Jl. Prof, drg. Soeria Soemantri, MPH. No. 65 Bandung 40164

.

ABSTRAK

Plak gigi merupakan deposit lunak pembentuk biofilm yang melekat pada permukaan gigi dan mengand -ung Streptococcus mutans. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya berbagai penyakit gigi dan mulut, terutama karies gigi. Oleh karena itu pembentukan plak gigi harus dicegah, salah satunya dengan berkumur menggu-nakan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai efek berkumur seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap pembentukan plak gigi dan perkembangan Colony Forming Unit (CFU) Streptococcus mutans pada saliva.Desain penelitian ini adalah eksperimental sungguhan dengan post test only control group. Naracoba pada penelitian ini berjumlah 20 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan (n=10). Kelompok I berkumur dengan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) dan kelompok II berkumur dengan aquadest steril. Data yang diukur adalah indeks plak gigi dan jumlah CFU/ml Streptococcus mutans pada saliva. Analisis data dengan uji T tidak berpasangan, α=0,05. Hasil penelitian rerata indeks plak gigi pada kelompok I setelah berkumur dengan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) (31,94 %), berbeda sa ngat bermakna (p<0,01) dibandingkan dengan kelompok II setelah berkumur dengan aquadest steril sebesar (73,60 %). Colony Forming Unit/ml pada saliva setelah berkumur dengan seduhan air sirih hijau (Piper betle L.) (6,28), lebih sedikit dibandingkan dengan setelah berkumur aquadest steril (7,94), dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01). Berkumur dengan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) dapat menurunkan indeks plak gigi dan menurunkan jumlah Colony Forming Unit bakteri Streptococcus mutans di rongga mulut.

(2)

ABSTRACT

Dental plaque is a soft deposit forming biofilms attached to the tooth surface and containing Streptococcus mu -tans. This can lead to a variety of dental and oral diseases especially dental caries. Therefore, the formation of dental plaque should be prevented, one with rinse using steeping green betel leaf (Piper betle L.). The purpose of this study was to assess the effect of rinsing steeping green betel leaf against dental plaque formation and de-velopment of the Colony Forming Units (CFU) of Streptococcus mutans in saliva.The design of this research is the experimental post-test control group. The research subject in this study were 20 people who divided into 2 treat -ment groups (n = 10). Group I gargle with steeping green betel leaf and group II rinsing with sterile distilled wa -ter. The measured data is dental plaque index and the number of CFU/ml of Streptococcus mutans in saliva. Data was analysed by unpaired t test, α = 0,05.The results of the study showed that mean plaque index in group I after rinsing with steeping green betel leaf was 31,94 %, highly significantly different (p < 0,01) compared to group II after rinsing with sterile distilled water for 73,60 %. Colony Forming Units/ml in saliva after rinsing with steeping green betel leaves was 6.28, andit is less than after rinsing sterile distilled water (7,94), with a highly significant difference (p < 0,01).The conclusions of this study is rinsing with steeping green betel leaf may reduce dental plaque index and lower the number of Colony Forming Units bacterium Streptococcus mutans in the oral cavity.

Keywords: Colony Forming Units (CFU), Dental plaque, green betel, Streptococcus mutans.

PENDAHULUAN

Plak gigi adalah deposit lunak tidak bermineral, berwarna kuning-keabuan, dan melekat pada jaringan gigi ataupun protesa. Komposisi utama dari plak adalah mikroorganisme berupa bakteri, selain itu plak juga terdiri dari mikoplasma, jamur, protozoa, dan virus. Kandungan lain dalam plak adalah matriks ekstraseluler yang terbagi atas materi organik dan anorganik (Samaranayake,2006; CarranzadanGlickman, 2006). Bakteri yang berkoloni pada plak gigi diantaranya yaitu

Streptococcus mutans yang dapat menghasilkan enzim glucosyltransferase. Enzim inimemiliki dua fungsi utama, yaitu mensintesis glukan (1-3)

α dan (1-6)α yang dapat diubah oleh dekstranase

menjadi glukosa untuk proses glikolisis dan membentuk perlekatan yang erat dengan gigi(Nalinadan Rahim, 2007; Fejerskovand Kidd, 2003).

Streptococcus mutans memiliki perlekatan yang erat dengan permukaan gigi karena adanya sintesis glucan-binding-protein ekstraseluler sehingga bakteri berperan dalam pembentukan biofilm plak gigi (Lamont, 2006). Di dalam rongga mulut, Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling kariogenik, dimana peningkatan jumlahnya memiliki hubungan yang erat dengan jumlah plak gigi (Vagstranddan Dowen, 2007; Doreliaand Francu, 2001; Carranza andGlickman, 2006). Bakteri yang berakumulasi pada plak gigi dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit gigi dan mulut, terutama karies dan penyakit periodontal (Nalinadan Rahim, 2007; Fejerskovand Kidd, 2003).

(3)

merupakan larutan yang mengandung zat berkhasiat antibakteri untuk mengurangi jumlah mikroorganisme dalam mulut, digunakan sebagai pembilas rongga mulut, mudah digunakan, dan dapat mencapai area permukaan di dalam rongga mulut yang sulit dicapai oleh sikat gigi. Zat berkhasiat yang terdapat didalam obat kumur dapat dihasilkan dari hasil sintetis ataupun berasal dari bahan alami. Secara tradisional banyak bahan-bahan alam, yang secara empiris dapat digunakan untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut, diantaranya daun sirih, bunga cengkeh, daun teh, dan lain-lain(Guha, 2006; Kustcher et al., 1982).

Sirih merupakan salah satu jenis tanaman obat di Indonesia yang telah lama dikenal dan banyak digunakan, karena tanaman ini mudah ditemukan di berbagai tempat (Jenie, 2001). Seluruh bagian dari tanaman sirih dapat digunakan sebagai obat, mulai dari buah, daun, dan akarnya. Namun, yang paling banyak dan sering digunakan adalah bagian daun yang memiliki berbagai khasiat (Darwis, 1991). Pada beberapa literatur dikatakan bahwa daun sirih memiliki khasiat sebagai antiseptik yang efektif karena adanya kandungan minyak atsiri yang disebut juga sebagai minyak terbang karena sifatnya yang mudah menguap. Dengan adanya minyak atsiri maka daun sirih dapat digunakan secara luas, sebagai antiseptik, antibakteri, antimikroba, antijamur, dan sebagai pewangi(Sastroamidjojo, 1997).

Komponen minyak atsiri dibedakan berdasarkan gugus fungsionalnya menjadi hi-drokarbon, alkohol, aldehid, fenol, ester, keton, fenolik, eter, dan oksida(Sastroamidjojo, 1997).

Komponen fenolik yang terkandung di dalam minyak atsiri dapat menghambat penyebaranmi-kroorganisme. Komponen tersebut diantaranya: (Heyne, 1987; Jenie, 2001)

1. Seskuiterpen

Seskuiterpen merupakan salah satu minyak esensial yang umum terdapat dalam tanaman dan memiliki aktivitas farmakologi sebagai antibakteria, antifungi, dan antimalaria.

2. Karvakrol

Karvakrol merupakan senyawa organik dengan sifat padat, mudah menyublim, tidak larut dalam air, namun larut dalam alkohol atau eter. Karvakrol digunakan untuk desinfektan dan sintesis senyawa organik.

3. Kavikol

Kavikol merupakan senyawa organik derivat fenol dengan sifat cair, larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan metil eter. Aktivitas farmakologi kavikol adalah antibakteri (bakterisid), dapat mematikan bakteri 5 kali lebih kuat dibandingkan senyawa fenol biasa.

4. Sineol

Sineol merupakan senyawa organik dengan sifat cair, tak berwarna, berbau seperti kapur barus, memiliki rasa pedas, tak larut dalam air, larut dalam minyak, atau pelarut organik seperti alkohol, kloroform, eter, dan asam asetat glasial. Sineol digunakan sebagai ekspektoran inhalasi, pewangi, dan antiseptik pada mulut dan hidung. 5. Estragol

Estragol adalah senyawa organik dengan sifat cair, larut dalam alkohol, dan kloroform.

6. Eugenol

(4)

yang harum dan tajam, memiliki rasa pedas, tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, kloroform, eter, dan memiliki sifat mudah menguap.

7. Pirokatekol

Pirokatekol merupakan senyawa organik dengan sifat padat, larut dalam air, alkohol, benzena, kloroform, dan eter. Selain itu, pirokatekol juga mudah larut dalam piridin dan pelarut basa. Pirokatekol dapat menyebabkan dermatitis eksomatous. Piroketakol dapat juga digunakan sebagai antiseptik topikal.

Dari seluruh kandungan kimia daun sirih tersebut, yang memiliki efek terhadap kesehatan rongga mulut adalah seskuiterpen, kavikol, eugenol, dan sineol. Jumlah kandungan kavikol pada daun sirih sebagai antibakteri jauh lebih dominan dibandingkan jumlah kandungan seskuiterpen, eugenol dan sineol. Daun sirih mengandung kavikol sebanyak sepertiga dari keseluruhan kandungan minyak atsiri dan memberikan aroma yang khas, sehingga kavikol mempunyai daya bakterisid yang kekuatannya 5 kali lebih besar daripada kekuatan fenol biasa.

Oleh karena itu, maka daun sirih memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri yang

berada di dalam mulut seperti Streptococcus

mutans yang banyak terdapat pada saliva ataupun pada plak gigi. Bakteri ini merupakan flora normal yang terdapat pada rongga mulut, namun apabila lingkungan menguntungkan dan terjadi peningkatan populasi bakteri, maka bakteri ini akan berubah menjadi patogen (Broadbent et al., 2011).

Seduhan daun sirih dapat menunjukkan efek antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Selain kavikol yang terkandung dalam minyak

atsiri, daun sirih juga mengandung senyawa polifenol yaitu katekin yang dapat menghambat aktivitas enzim glucosyltransferase (GTF) yang

dihasilkan oleh Streptococcus mutans yang

berperan dalam mengubah sukrosa menjadi glukan sehingga perlekatan bakteri ke pelikel terhambat dan pembentukan plak gigi juga terhambat (Heyne, 1987; Dhika, 2007).

Masyarakat Indonesia telah menggunakan daun sirih sebagai obat kumur untuk membantu menjaga kesehatan rongga mulut karena daun sirih mengandung minyak atsiri yang mempunyai daya antibakteri yang dapat mengubah sifat protein sel bakteri. (Nalina& Rahim, 2007; Guha, 2006).

METODE PENELITIAN Bahan

Akuades steril, alkohol 70%, cotton roll,

daun sirih (Piper betle Linn.) segar, disclosing solution, dan agar Tryptone Yeast Cystein Sucrose Bacitracin (TYCSB).

Alat

Sikat dan pasta gigi, gelas beker 200ml, pinset, kaca mulut, cermin, sonde, kompor, saringan, piring kecil, panci, sendok teh, slubber, handscoon, masker, pipet ukur (1ml), pipet ukur 2ml, cawan petri diameter 10 cm, pembakar bunsen, hand counter, inkubator, autoclave, labu

erlenmeyer, dan termometer. Sampel

(5)

seperti DM dan jantung, oral hygiene buruk, menggunakan alat ortodontik cekat atau lepasan, menggunakan protesa gigi cekat atau lepasan, menjalani ibadah puasa selama penelitian, mengkonsumsi antibiotik, merokok, masalah lambung, penyakit imunodefisiensi, peminum alkohol, menggunakan obat kumur selain yang digunakan dalam penelitian, menderita gingivitis atau periodontitis.

Cara kerja

Persiapan seduhan daun sirih

Air sebanyak 200 ml direbus di dalam panci hingga mendidih atau mencapai suhu 100°C, kemudian api dimatikan dan didiamkan hingga suhu air 70-80°C. Daun sirih segar disiapkan disiapkan sebanyak 4 lembar, yang diambil dari urutan ke-4 dari ujung tunas tanaman sirih yang berukuran panjang ±8 cm dan lebar ±5 cm, kemudian diremas dan dimasukkan dalam gelas. Air yang telah direbus dituang sebanyak 120ml kedalam gelas berisi daun sirih yang telah diremas, kemudian diaduk, lalu gelas ditutup dengan piring kecil atau penutup gelas. Suhu air ditunggu hingga mendekati suhu ruangan (25-30°C) agar dapat digunakan untuk berkumur, lalu air dalam gelas disaring agar mendapatkan air seduhannya saja.

Persiapan subjek penelitian

Pertama dilakukan pengukuran indeks

plak dengan metode O’Leary pada naracoba

sebelum diberikan perlakuan. Sebelumnya naracoba telah diberi disclosing solution pada gigi untuk mempermudah dalam mengidentifikasi plak. Setelah indeks plak diperiksa, naracoba dipersilakan untuk menyikat gigi didepan cermin hingga bersih atau indeks plak sama dengan 0.

Selanjutnya, 20 orang naracoba dibagi kedalam

dua kelompok yang berbeda secara simple

random sampling.

Kelompok pertama terdiri atas 10 sampel, menerima perlakuan 1 yaitu berkumur dengan 30 ml seduhan daun sirih selama 1 menit sebanyak 4 kali dalam waktu 24 jam. Kelompok kedua terdiri atas 10 sampel, menerima perlakuan 2 yaitu berkumur dengan akuadest steril yang telah disediakan selama 1 menit sebanyak 4 kali dalam waktu 24 jam. Selama 24 jam naracoba hanya diperbolehkan makan makanan yang telah ditentukan dan disiapkan sebanyak 3 kali sehari, serta naracoba hanya diperbolehkan untuk meminum air putih.Selama 24 jam naracoba tidak diperbolehkan membersihkan gigi baik secara mekanis ataupun kimiawi.

Pemeriksaan sampel

Setelah 24 jam, dilakukan pemeriksaan indeks plak gigi pada naracoba dengan

menggunakan metode O’Leary. Pemeriksaan

plak diawali dengan penggunaan disclosing

solution di seluruh permukaan gigi naracoba untuk mempermudah dalam mengidentifikasi plak. Pemeriksaan plak gigi dilanjutkan dengan penghitungan persentase plak gigi.

Perhitungan Jumlah CFU Streptococcus mutans

Subjek penelitian diminta untuk mengumpulkan saliva sebanyak 1 ml dengan menggunakan spitting method, dengan cara:

• Subjek penelitian diminta berkumur dengan

menggunakan akuades untuk membersihkan rongga mulut.

• Subjek penelitian duduk dengan kepala

(6)

mengunyah, menghisap, dan bersiul.

• Subjek penelitian diminta untuk

mengum-pulkan saliva di dasar rongga mulut dan ke-mudian diludahkan pada gelas yang telah disediakan setiap 60 detik. Saliva yang ter-kumpul pada 2 menit pertama dibuang. Pen-gumpulan saliva dilakukan selama 5 menit.

• Saliva yang telah terkumpul dalam gelas di-ambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan pipet ukur dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang kemudian akan dilakukan pen-genceran berseri.

Pengenceran berseri dapat dilakukan dengan memasukkan 1 ml saliva ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaCl fisiologis sebagai pengenceran 10-1 kemudian diambil 1 ml dari tabung pengenceran 10-1 dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaCl fisiologis sebagai pengenceran 10-2 selanjutnya dilakukan hal yang sama.

Pembiakan Streptococcus mutans

dilaku-kan pada agar TYCSB dengan metode Pour Plate

pada pengenceran 10-5 untuk saliva dengan pem-berian daun sirih dan 10-6 untuk saliva dengan

perlakuan akuades steril sebanyak 3 kali (triplet) dengan cara mengambil 1 ml larutan dari tiap pengenceran tersebut kemudian ditanam pada 3 agar TYCSB secara pour plate. Tutup cawan petri kemudian diputar membentuk angka 8. Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C pada inkubator.

Cara penghitungan

Setelah 24 jam, koloni yang terbentuk pada agar TYCSB dihitung secara manual menggunakan hand counter.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian pengaruh berkumur seduhan

daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap

pembentukan plak gigi dan perkembangan

colony forming unit (cfu) Streptococcus mutans

di rongga mulut, dilakukan terhadap 20 orang naracoba, yang dibagi ke dalam 2 kelompok perlakuan (n=10), masing-masing diberi perlakuan berkumur dengan seduhan daun sirih hijau dan akuades steril sebagai kontrol. Hasil penelitian rerata indeks plak gigi ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil penelitian rerata indeks plak gigi pada kelompok I setelah berkumur dengan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) (31,94%), berbeda sangat bermakna (p<0,01) dibandingkan dengan kelompok II

setelah berkumur dengan aquadest steril sebesar (73,60%).

Indeks Plak Gigi Sesudah Berkumur Dengan

No. Seduhan Sirih Hijau Akuades steril

Gigi Plak

PermukaanGigi

% Indeks Plak No. Gigi Plak Permukaan Gigi

% Indeks Plak

1 27 22 108 20,37 1 28 58 112 51,79

2 28 20 112 17,86 2 28 71 112 63,39

3 28 20 112 17,86 3 28 54 112 48,21

4 30 47 120 39,17 4 28 83 112 74,11

(7)

6 27 20 108 18,52 6 28 58 112 51,79 Indeks Plak Gigi

31,94 73,60

Tabel 2. Hasil penelitian Colony Forming Unit/ml pada saliva setelah berkumur dengan seduhan air

sirih hijau.

SP No. CFU sesudah ditransformasi Log 10 Seduhan sirih

Rerata 6,28 7,94

Hasil penelitian Colony Forming Unit/ml pada saliva setelah berkumur dengan seduhan air sirih hijau (Piper betle L.) (6,28) lebih sedikit dibandingkan dengan setelah berkumur akuades steril (7,94), dengan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,01).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa berkumur seduhan daun sirih terbukti dalam menurunkan rerata

indeks plak gigi dan jumlah Colony Forming

Unit bakteri S. mutans. Hal ini dapat terjadi karena adanya komponen minyak atsiri pada daun sirih hijau yang terdiri dari kavikol,

karvakol, eugenol, estragol, pirokatekol, dan

sineol dapat menghambat pertumbuhan S.

mutans dengan menghambat aktifitas enzim

glucosyltransferase. Enzim ini akan mengubah sukrosa menjadi glukan yang berperan sebagai tempat melekatnya bakteri baru di permukaan gigi. Pencegahan pembentukan glukan akan menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk pertumbuhan bakteri S. mutans (Lamont, 2006; Prahasanti, 2005; Samaranayake, 2006).

Komponen minyak atsiri pada daun sirih juga mempunyai daya antibakteri, yaitu kandungan fenol dan turunannya yang dapat mengubah sifat protein sel bakteri. Salah satu turunan fenol adalah kavikol yang memiliki daya antibakteri lima kali lebih kuat daripada fenol (Pratiwi, 2002). Kandungan kavikol ini dapat mendenaturasi protein sel bakteri sehingga aktivitas biologis bakteri menjadi rusak dan protein tidak dapat melakukan fungsinya. Kavikol memiliki mekanisme kerja yang sama dengan fenol, namun dengan efek antibakteri 5 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan fenol, sehingga jumlah bakteri (S. mutans) pada pelikel yang berkurang dan pembentukan plak gigi juga ikut berkurang (Dhika, 2007; Samaranayake, 2006; Guha, 2006).

(8)

dimensi protein terganggu dan terbukamenjadi struktur acak tanpa adanya kerusakan pada struktur kerangka kovalen, sehingga mengakibatkan protein berubah sifat. Deret asam amino protein tersebut tetap utuh setelah berubah sifat, namun aktivitas biologisnya menjadi rusak sehingga protein tidak dapat melakukan fungsinya dan mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi sel, sel akan lisis, dan kemudian akan mati. Kandungan kecil eugenol pada daun sirih dapat menembus dan mengganggu rantai asam lemak pada lapisan membran bakteri sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membran sel kemudian membran sel rusak dan sel akan mati (Pratiwi, 2002).

Minyak atsiri yang terkandung dalam daun sirih, dapat juga mengurangi perlekatan bakteri

S. mutans terhadap pelikel di permukaan gigi. Aktivitas antibakteri dari daun sirih ditunjukkan dengan adanya penurunan pertumbuhan koloni bakteri, berkurangnya kemampuan adhesi bakteri baru, dan penurunan aktivitas enzim

glucosyltransferase (GTF) yang dihasilkan oleh bakteri. Dengan demikian pertumbuhan bakteri akan terhambat, sehingga pembentukan plak gigi juga berkurang (Samaranayake, 2006; Guha, 2006; Rahim, 2007).

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah berkumur dengan seduhan daun sirih hijau (Piper betle L.) dapat menurunkan indeks plak gigi dan menurunkan jumlah Colony Forming Unit bakteri

Streptococcus mutans di rongga mulut.

DAFTAR PUSTAKA

Broadbent JM., Thomson WM., Boyens JV., Poul-ton R. 2011. Dental plaque and oral health during the first 32 years of life.The Journal of The American Dental Association,142(4): 415-426.

Carranza JR.&Glickman FA. 2006. Clinical Peri-odontology, Seventh Edition. W.B. Sounder-sCompany Philadelphia.Toronto. London. P136-149, 740-744.

Darwis. 1991. Pemakaian Sirih dalam Ramuan

Obat Tradisional. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta. Hal 9-11.

Dhika, TS. 2007.Perbandingan Efek Antibakte -rial Berbagai Konsentrasi Daun Sirih (Piper betle Linn.) Terhadap Streptococcus Mutans. Universitas Diponegoro. Semarang.

Dorelia LC.&Francu LL.2000.Monitoring of Mu-tans Streptococci in Dental Plaque and Saliva After Restaurative Treatment. JADA

131:1-3.

Fejerskov O.,& Kidd E. 2003.Dental Caries:The Disease and its Clinical Management.

BlackwellMunksgaard. Australia. 30-1,38,168,171,186.

Guha, P. 2006. Betel Leaf:The Neglected Green Gold of India. Journal of Human Ecolo -gy19(2):87-93.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Badan Litbang Kehutanan.Yayasan Sarana Wanajaya. Jakarta. Hal 622-627.

Jenie BSL., Andarwulan N., Neinaber P.,& Nuraida L. 2001.Antimicrobial Activity of Piper betle

Linn. Extract Towards Foodborne Pathogens

(9)

Requa. 1982. Pharmacology for dental Hy-gienist. 2nd ed.Lea & Febiger Philadelphia. P98.

Lamont RJ., Burne,Lantz MS., and LeBlanc DJ. 2006.Oral Microbiology and Immunology. ASM Press.Washington DC . P 223-250. NalinaT.& Rahim ZHA. 2011.The Crude Aqueous

Extract of Piper betle L. And its Antibacte-rial Effect Towards Streptococcus mutans. American Journal of Biotechnology and Bio-chemistry,3(1): 10-15.

NalinaT. & Rahim ZHA. 2011. The Crude Aqueous Extract of Piper betle L. And its Antibacterial

Effect Towards Streptococcus mutans. Amer

-ican Journal of Biotechnology and Biochem-istry, 3(1):10-15.

Prahasanti, C. 2005. Pengaruh Pasta Gigi yang Mengandung Ekstrak Daun Sirih terhadap Pertumbuhan Plak Gigi. Majalah Kedokter-an Gigi Dent.J FKG UNAIR,33:127-176. Pratiwi, R. 2002.Perbedaan daya hambat

ter-hadap Streptococcus mutans dari beberapa pasta gigi yang mengandung herbal.

Jour-nal UNAIR, Hal 64-67.

Samaranayake, L. 2006. Essential Microbiology

for Dentistry. 3rd ed. Churchill Livingstone Elsevier.Philadelphia. P 15-6,261,268,272. Sastroamidjojo, S. 1997. Obat Asli Indonesia.

Gambar

Tabel 1. Hasil penelitian rerata indeks plak gigi pada kelompok I setelah berkumur dengan seduhan daun
Tabel 2. Hasil penelitian Colony Forming Unitpada saliva setelah berkumur dengan seduhan air /ml sirih hijau

Referensi

Dokumen terkait

Sirih hijau (Piper betle Linn) dan sirih merah (Piper betle Linn) masih dalam satu varietas sehingga diharapkan mempunyai kandungan kimia yang sama dan mempunyai aktivitas yang

Perlu dilakukan penelitian mengenai efek samping penggunaan Infusa Daun Sirih (Piper betle L.) sebagai larvisida.. Perlu dilakukan uji toksisitas Infusa Daun Sirih (Piper

seduhan daun sirih (Piper betle Linn.) dengan metode semprot untuk. mencegah kontaminasi silang dengan pasien pada proses

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul : “Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun sirih Merah (Piper crocatum) dan Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle

Universitas Kristen Maranatha Apakah terdapat penurunan skor indeks plak pada subjek penelitian yang berkumur menggunakan rebusan daun sirih merah (Piper crocatum

“P erbedaan rebusan daun sirih (piper betle linn) dengan sodium hipoklorit sebagai bahan irigasi saluran akar dalam menghambat pertumbuhan streptococcus virid ans.”

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif dan kuantitatif minyak atsiri pada daun sirih hijau (Piper betle L.) dan daun sirih merah (Piper

Pada penelitian ini penulis menggunakan infusa daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz &amp; Pav) dan daun sirih hijau (Piper betle L) digunakan untuk antiseptik