Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional
Anak Usia Taman Kanak-kanak
Oleh: Anna Shihatul Maghfiroh
Nim: 18201501060007
Kelas : PIAUD “A”
No Hp: 085230795587
Abstrak
Masa usia dini merupkan masa yang sangat fundamental bagi perkembangan seorang anak, dimana pada masa ini proses perkembangan berjalan dengan pesat. Pada masa ini merupakan periode sensitif (sensitive priode), karena selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam artikel ini yaitu yang pertama, pengertian dari sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak, yang kedua, bagaimana karakteristik sosial emosional anak taman kanak-kanak, dan yang ketiga, Metode-metode pengembangan sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak. Sedangkan yang menjadi tujuannya yaitu pertama, untuk mengetahui makna atau pengertian dari sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak, kedua, untuk mengetahui bagaimana karakteristik sosial emosional anak usia taman kanak-kanak, dan ketiga, untuk mengetahui apa saja metode pengembangan sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak. Makna sosial yaitu perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif hingga yang bersifat negatif. Kelompok bermain anak usia dini ini cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena itu kelompok ini cepat berganti. Sedangkan metode-metode yang digunakan dalam meningkatkan sosial emosional anak yaitu dengan menggunakan metode bercerita, bermain peran, dan permainan boneka tangan.
Kata Kunci
Karakteristik, pengembangan sosial, dan pengembangan emosi.
Perkembangan sosial emosional yaitu perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat tempat anak berada.Untuk itu kebutuhan berinteraksi dengan orang lain sangat diperlukan anak, terutama anggota keluarga dan teman-teman di sekolah. Anak mulai mampu melakukan sikap tolong menolong, bekerjasama, mentaati aturan, dan perilaku sosial lain, seperti marah dan kasih sayang. Bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti anak semakin membutuhkan orang lain. Dalam hal ini guru memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan sosial emosional anak khususnya sikap saling tolong menolong, bekerjasam, mentaati aturan dengan melakukan interaksi sosial dengan lingkungan terdekat anak seperti lingkungan kelas.
Anak-anak kita merupakan sumber aset bangsa, di tangan mereka kelak roda negarakita dijalankan. Oleh karena itu sebagai generasi penerus bangsa, mereka memerlukanpembinaan dan pengembangan yang optimal yang harus dilakukan sejak usia dini. Sumberdaya manusia yang berkualitas tidaklah datang begitu saja, semua membutuhkan persiapanyang matang. Sehingga tidak salah ungkapan bahwa sumber daya manusia yang berkualitasharus dipersiapkan sejak usia dini.
Adanya sumber daya manusia yang berkualitas dapat menjadi aset bangsa yang menguntungkan. Persiapan yang harus dilakukan dalam rangka mengembangkan sumber daya manusiaini di awali dengan pemahaman tentang proses tumbuh dan berkembangnya seorang manusia,mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang tadi, dan bagaimanacara mengembangkan aspek-aspek itu agar seluruh potensinya dapat berkembang secaraoptimal.Anak merupakan makhluk individu yang sejak lahir telah membawa berbagai potensi(fisik, Psikososial, bahasa, inteligensi). Seluruh potensi yang dimiliki anak tersebut yang baruakan berkembang apabila mendapat pengaruh dari lingkungan di mana anak tersebut berada.Ditinjau dari sudut religi anak merupakan mahluk Allah yang perlu ditumbuh kembangkanatau dididik sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai makhluk Allah yang memilikikeimanan, ketaqwaan pada-Nya dalam melakukan berbagai kegiatan sebagai Khalifah dimuka bumi.
pandai menempatkan diri diantara teman sebaya, guru dan orang dewasa di sekitarnya. Tidak setiap anak berhasil melewati tugas perkembangan sosial emosional pada usia dini, sehingga berbagai kendala dapat saja terjadi. Sebagai pendidik sepatutnyalah untuk memahami perkembangan sosial emosional anak sebagai bekal dalam memberikan bimbingan terhadap anak agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sosial dan emosinya dengan baik. Perlu kita ketahui bahwa proses pembelajaran sosial emosional pada anak selain mendengarkan dan melakukan nasihat guru, juga dengan mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya pada diri guru. Mereka juga melihat bagaimana guru mengelola emosi, menangani problem, mengkomunikasikan harapan, dan sebagainya. Mengingat anak dapat belajar denga memperhatikan cara orang dewasa bertindak dan berperilaku maka orang tua atau guru dapat mengajarkan sesuatu dengan memberik contoh keteladanan. Cara ini jauh lebih efektif daripada hanya sekedar memberi tahu anak apa yang harus dilakukan karena anak adalah para peniru ulung atas perilaku yang berhasil diamatinya.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada tiap makhluk. Pada manusia, terutama anak-anak, proses tumbuh kembang ini terjadi dengan sangat cepat, terutama pada periode tertentu. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi sejak dalam kandungan. Setiap organ dan fungsinya mempunyai kecepatan tumbuh tumbuh yang berbeda-beda. Pertumbuhan dan perkembangan sitiap anak berlangsung menurut prinsip-prinsip yang umum, namun demikian setiap anak memiliki ciri khas tersendiri.
Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi, baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Perkembangan yang dialami anak merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya yang berlaku secara umum, misalnya anak berdiri dengan satu kaki, berjinjit, berjalan menaiki tangga, dan berlari. Hal ini akan dialami oleh setiap individu yang normal dan masing-masing mempunyai ciri khas dan setiap fase perkembangannya.1
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam artikel ini yaitu yang pertama, pengertian dari sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak, yang kedua, bagaimana karakteristik sosial emosional anak taman kanak-kanak, dan yang ketiga, Metode-metode pengembangan sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak.
Sedangkan yang menjadi tujuannya yaitu pertama, untuk mengetahui makna atau pengertian dari sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak, kedua, untuk mengetahui bagaimana karakteristik sosial emosional anak usia taman kanak-kanak, dan ketiga, untuk mengetahui apa saja metode pengembangan sosial emosional untuk anak taman kanak-kanak.
Metode
Jenis penelelitian ini adalah studi pustaka (Library Research). Study pustaka yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan di perpustakaan dan menggali sumber data bukan dari manusia. Sehingga dalam melakukan penelitian ini didasarkan atas pembacaan terhadap beberapa sumber yang memiliki informasi dan memiliki relevansi dengan topik penelitian. Metode pengumpulan data menggunakan berbagai sumber yang berkaitan dengan penelitian ini. Adapun sumber data dalam penelitian ini berupa jurnal, laporan hasil penelitian, dan buku.
Pembahasan
Pengertian Sosial Emosional
Makna sosial dipahami sebagai upaya pengenalan (sosialisasi) anak terhadap orang lain yang ada di luar dirinya dan lingkungannya, serta pengaruh timbal balik dari berbagai segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan lainnya, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Dalam kajian sosiologis Soekanto memberikan definisi sosial ini yang disebut dengan proses sosial yaitu: cara-cara berhubungan yang dilihat apabila perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan ini, atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada.
Proses sosial yang dimaksudkan Soekanto ini memiliki ruang lingkup yang sangat luas, yakni menyangkut berbagai segi kehidupan bersama, misalnya, memengaruhi antara sosial dan politik, politik dan ekonomi, serta ekonomi dan hukum. Namun dalam bahasa ini, proses sosial yang dimaksud lebih ditujukan pada hubungan sosial anak dengan sesamanya atau orang-orang yang ada di dalam lingkungannya. Bagaimana anak bersosialisasi dengan orang lain, seperti dengan orang tua, anggota keluarga, guru, dan orang lain yang ada di sekitar lingkungan dimana anak berada, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Sedangkan makna emosi banyak dikaji oleh para psikolog, dan banyak mendapatkan tempat dari pengkajian mereka, karena dianggap sebagai bagian yang penting dan menarik dalam kehidupan manusia ini. Sukmadinata misalnya, ia memberikan definisi emosi sebagai perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif hingga yang bersifat negatif.2
Sementara Crow& Crow dalam Sunarto & Hartono, memberikan pengertian emosi sebagai pengalaman afektif yang disertai penyesuaian diri dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik, dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Dengan demikian,
dapat dipahami bahwa emosi adalah perasaan batin seseorang, baik berupa pergolakan pikiran, nafsu, keadaan mental dan fisik yang dapat muncul atau termanifestasi ke dalam bentuk-bentuk atau gejala-gejala seperti takut, cemas, marah, murung, kesal, iri, cemburu, senang, kasih sayang, dan ingin tahu.3
Dalam kaitannya dengan proses sosial, emosi dapat muncul sebagai akibat adanya hubungan atau interaksi sosial antara individu, kelompok, dan masyarakat. Emosi dapat muncul sebagai reaksi fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang tampak. Emosi pada anak usia dini lebih kompleks dan real, karena anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.
Secara umum emosi mempunyai fungsi untuk mencapai suatu pemuasan, pemenuhan, atau perlindungan diri, atau bahkan kesejahteraan pribadi pada saat keadaan tidak nyaman dengan lingkungan atau objek tertentu.4
Dapat dijelaskan perilaku sosial dan perilaku emosional. Perilaku sosial adalah kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, kegiatan yang berkaitan dengan pihak lain yang memerlukan sosialisasi dalam hal bertingkah laku yang dapat diterima oleh orang lain, belajar memainkan peran sosial yang dapat diterima oleh orang lain, serta upaya mengembangkan sikap sosial yang layak diterima oleh orang lain. Perilaku sosial pada anak usia dini ini diarahkan untuk pengembangan sosial yang baik, seperti kerjasama, tolong menolong, berbagi, simpati, empati, dan saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, sasaran pengembangan perilaku sosial pada anak usia dini ini ialah untuk keterampilan berkomunikasi, keterampilan memiliki rasa senang dan periang, menjalin persahabatan, memiliki etika dan tata karma yang baik. Dengan demikian, materi pembelajaran pengembangan sosial yang diterapkan di taman kanak-kanak, meliputi: disiplin, kerjasama, tolong-menolong, empati, dan tanggung jawab.
Perilaku sosial diartikan sebagai perilaku yang dilakukan secara sukarela (voluntary), yang dapat menguntungkan atau menyenangkan orang lain tanpa antisipasi reward eksternal. Perilaku sosial ini dilakukan dengan tujuan yang baik, seperti menolong, membantu, berbagi, dan menyumbang atau menderma. Adapun menurut Stang dan Wrightsman dalam Raven dan Rubin mengartikan perilaku sosial sebagai suatu perilaku yang secara sukarela dilakukan dengan tujuan agar dapat bermanfaat untuk orang lain.
Dengan demikian, jelas bahwa perilaku sosial adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa memperdulikan motif-motif penolong. Jadi, aspek kesukarelaan dan maksud dalam melakukan suatu tindakan tertentu dalam melakukan sesuatu itu merupakan hal utama dalam perilaku sosial.
Bentuk perilaku sosial yang paling penting diterapkan pada anak usia dini pada tahun pertama yakni untuk penyesuaian sosial yang memungkinkan anak dapat bergaul dengan teman-temannya. Karena pada periode ini merupakan tahapan perkembangan yang kritis,
3Muhammad Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media: 2012), hlm. 181
dimana sikap sosial dan pola perilaku sosial dibentuk. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Waldroop dan Halverson bahwa anak pada usia 2,5 tahun telah bersikap ramah dan aktif secara sosial akan terus bersikap seperti itu sampai usia 7,5 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa perilaku sosial pada usia 7,5 tahun diprediksi sebagai hasil konstribusi perilaku sosial pada usia 2,5 tahun.
Begitu selanjutnya, bahwa perilaku sosial yang berkembang pada awal masa kanak-kanak merupakan perilaku yang terbentuk berdasarkan landasan yang diletakkan pada masa bayi. Sebagian lagi merupakan bentuk perilaku sosial yang baru dan mempunyai landasan baru. Banyak diantara landasan baru ini dibina oleh hubungan sosial dengan teman sebaya di luar rumah dan hal-hal yang ditonton dari televisi atau buku-buku cerita. Sehingga awal masa kanak-kanak perlu diarahkan kepada bentuk perilaku sosial agar dapat menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan anak dan kepentingan selanjutnya.
Adapun yang dimaksud perilaku emosional ialah reaksi yang terorganisasi dan muncul terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan, tujuan, ketertarikan, dan minat individu. Perilaku emosional ini tampak sebagai akibat dari emosi seseorang. Emosi oleh Juntika, didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya perilaku. Lebih lengkap Daniel Goleman, menambahkan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya suatu keadaan biologis dan psokologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Dengan demikian, emosi terlihat dari reaksi fisiologis, perasaan dan perubahan perilaku yang tampak. Aspek emosional dari suatu perilaku pada umumnya selalu melibatkan tiga aspek ini. Dimana dari ketiga aspek emosional (reaksi fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang tampak), tidak mungkin dapat diubah atau dipengaruhi atau diperbaiki oleh aspek fisiologis, karena proses fisiologis yang terjadi pada organism secara mekanis. Emosi pada tahap anak usia dini lebih terperinci dan terdiferensiasi dan anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.
Karakteristik emosi pada anak usia dini ditandai dengan berbagai ciri, misalnya emosi anak bersifat sementara dan lekas berubah. Jika anak bertengkar dan saling mencaci maki pada pagi atau pada siang hari, maka pada sore hari terhalang beberapa jam mereka sudah baikan dan main bersama lagi. Berbeda dengan orang dewasa, sekali berseteru akan melekat lama bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sampai meninggal dunia belum berubah masih tetap masih tetap bersi tegang.
masih banyak ciri emosional lainnya yang merupakan karakteristik anak usia dini, misalnya reaksi emosinya masih bersifat individual, egois, berubah-ubah pendiriannya, tergantung pada situasi dan kondisi, bahkan dapat dipengaruhi oleh teman, saudara, atau keluarga dan guru.
Perkembangan emosi pada anak usia dini mengikuti pola tertentu sesuai pola yang berkembang dalam kelompok sosial dan kehidupannya. Pola perilaku emosional anak masa ini, meliputi marah, takut, gembira, sedih, cemburu, dan kasih sayang.5
Karakteristik Sosial Emosional Anak Taman Kanak-kanak
Karakteristik emosi anak usia dini yang sering terlihat seperti emosi anak berlangsung singkat lalu tiba-tiba berhenti. Emosi anak usia dini sifatnya mendalam, tetapi mudah berganti, dan selain sifatnya terbuka juga lebih sering terjadi. Sebagai contoh, anak kalau sedang marah dia akan menangis keras atau berteriak-teriak, tetapi kalau kemauannya dituruti atau terpenuhi, maka tiba-tiba tangisannya berhenti dan biasanya langsung tertawa.
Perkembangan emosi diwarnai oleh kematangan dan lingkungan sekitar seperti kemampuan berpikir. Kecemasan anak akibat dari perceraian orang tuanya akan sama reaksinya pada semua anak usia dini, sama seperti saat anak-anak seusia tersebut ditinggalkan ibunya saat awal masuk sekolah.
Emosi dapat memberikan dampak terhadap perilaku anak usia dini seperti yang dikemukakan Willis yaitu: pertama, emosi menambah kesenangan hidup anak, semua emosi dapat merangsang dan membangkitkan gairah anak. Kedua, emosi dapat terlihat pada ekspresi anak seperti emosi yang menyenangkan akan membuat anak bahagia atau sebaliknya. Ketiga, emosi dapat mengganggu kualitas intelektual anak, dimana emosi yang kuat menyebabkan anak sulit belajar dan sulit mengingat. Ke empat, emosi dapat menurunkan keterampilan anak, misalnya anak yang emosinya kuat akan menjadi gugup dan grogi saat berbicara. Ke lima, emosi akan mencerminkan keadaan perasaan anak dari air mukanya, perubahan gerak tubuh. Ke enam, warna emosi akan tampak dalam kehidupan anak, hal ini dapat terlihat saat emosi sedang hadir, menandakan kehidupan anak di keluarganya baik, dan sebaliknya warna emosi tidak menyenangkan merupakan petanda kehidupan di keluarganya tidak bahagia. Ke tujuh, emosi dapat merangsang dan membangkitkan gairah anak, misalnya menimbulkan kesenangan, cemburu, marah, takut, dan benci. Ke delapan, kehidupan keluarga memengaruhi gejolak emosi anak, dimana keluarga yang bahagia akan memberikan pengaruh pada kehidupan dan perilaku anak.6
Perkembangan merupakan proses yang teratur yang berkaitan dengan reorganisasi perilaku dan perubahan kualitatif pada diri seseorang. Perkembangan anak usia dini merupakan bagian dari perkembangan manusia secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini mencakup perkembangan fisik motorik kognitif, bahasa, dan sosial emosional. Perkembangan anak di peroleh melalui kematangan dan belajar. Perkembangan karena faktor belajar dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan di mana terjadi interaksi anak dengan 5Ibid, hlm. 137-142.
manusia lain dan lingkungan alam sekitar. Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku yang bersifat permanen sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan. Memahami perkembangan anak, maka perlu memahami karakteristik masing-masing perkembangan.
Anak-anak usia dini ini biasanya mudah bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Umumnya anak usia ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini mudah berganti. Mereka umumnya mudah dan cepat menyesuaikan diri secara sosial. Sahabat yang dipilih biasanya yang memiliki jenis kelamin yang sama, kemudian berkembang ke jenis kelamin yang berbeda. Kelompok bermain anak usia dini ini cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena itu kelompok ini cepat berganti. Paten, mengamati tingkah laku sosial anak usia dini ketika mereka sedang bermain bebas sebagai berikut : a). Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya, ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tampa melakukan kegiatan apapun. b). Bermain soliter. Anak bermain sendiri denga menggunakan alat perminan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara. c). Tingkah laku onlooker. Anak menghabiskan waktu dengan mengamati, kadang memberi komentar tentang apa yang dimainkan anak lain, tetapu tidak berusaha untuk bermain bersama. d). Bermain parallel. Anak bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain besama dengan anak yang lain. mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tapi dengan cara yang tidak saling bergantung. e). Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri. f). Bermain kooperatif. Anak bermain dalam kelompok dimana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain.
menghidar, bersembunyi, dan menangis. 3). Cemburu. Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih mudadapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkan dengan kembali berperilaku seperti anak kecil seperti mengompol, pura-pura sakit atau menjadi nakal yang berlebihan. Perilaku ini semuanya bertujuan untuk menarik perhatian orang tuanya. 4). Ingin tahu. Anak mempunyai rasa ingin tahu. Terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuhorang lain. reaksi pertama ialah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, anak bereaksi dengan bertanya. 5). Iri hati. Anak-anak sering iri hati mengenai kemampun atau barang yang dimiliki orang lain. Iri hati ini di ungkapkan dalam bermacam-macam cara,yang paling umum ialah dengan mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memiliki barang seperti yang dimiliki orang lain. 6). Gembira. Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi ysng tiba-tiba atau yang tidak di harapka, bencana yang ringan, membohongi orang lain, dan berhasil melakukan tugas yang di anggap sulit. Anakm mengungkapkan kegembiraan denga tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membuat bahagia. 7). Sedih. Anak-anak merasa sedih karena kehilangan sesuatu yang di cintai atau yang di anggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan. 8). Kasih sayang. Anak-anak belajar mancintai orang lain, binatang, atau benda yang menyenngkannya. Anak mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar tetapi ketika masih kecil anak meyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.7
Kajian tentang perkembangan emosi anak usia dini dalam bidang psikologi masih relatif baru. Penelitian di bidang ini baru dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu. Pada awal tahun 1980-an, Caroll Izard dan kawan-kawannya mempublikasikan penelitian tentang ekspresi emosi pada bayi. Peneliti kemudian mencoba melakukan berbagai pendekatan di bidang psikologi dari berbagai perspektif, termasuk konstruksi sosial, teori emosi diferensial, dan teori sosial belajar. Masing-masing pendekatan ini mengeksplorasi cara anak usia dini berkembang secara emosional. Lalu apa yang dimaksud emosi? Kita sering menyamakan emosi dengan rasa marah dan orang yang pemarah sering kita kenal dengan orang yang emosional.
takut, cemas, malu, kecewa, dan benci. Pada saat emosi, sering terjadi perubahan-perubahan pada fisik seseorang antara lain: a). Reaksi elestis pada kulit meningkat bila terpesona. b). Peredaran darah bertambah cepat bila marah. c). Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut. d). Bernapas panjang kalau kecewa. e). Pupil mata membesar bila marah. f). Air liur mengering bila takut atau tegang. g). Bulu roma berdiri jika takut. h). Pencernaan menjadi sakit kalau tegang.
Jadi, dapat dikatakan emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik manusia. Lalu, bagaimana dengan perkembangan emosi pada anak usia dini? Seperti apakah perkembangan emosi yang ditunjukkan oleh anak usia dini?
Kekayaan ekspresi emosi manusia berkembang sesuai dengan tahap usia dan pengalaman seseorang. Bayi yang baru lahir pada umumnya menangis. Pada usia 6-10 minggu, senyum sosial muncul, diikuti dengan tindakan yang menunjukkan kesenangan lain seperti menggumam dan mengunyah. Senyum sosial ini muncul sebagai tanggapan dari senyum dan interaksi dengan orang dewasa.
Bayi mulai dapat tertawa pada usia 3-6 bulan. Biasanya pada masa ini bayi tertawa seperti karena dicium perutnya, permainan petak umpat, dan lainnya. Tertawa juga meningkatkan perkembangan sosial karena memancing interaksi sosial timbal balik.
Saat bayi lebih besar (7-12 bulan), mereka mulai mengekspresikan rasa takut, jijik, dan marah karena kematangan kognitif yang dimilki. Kemarahan merupakan emosi yang ditunjukkan bayi dengan menangis. Emosi kemarahan memiliki fungsi adaptif yang menunjukkan hal yang tidak disukai bayi sehingga orang lain dapat mengetahui ada sesuatu yang harus diubah. Beberapa bayi menunjukkan ekspresi kesedihan pada keadaan yang tidak menyenangkan, tetapi kemarahan lebih sering. Ketakutan juga muncul selama tahap ini jika melihat sesuatu yang tidak mereka ketahui. Wajah takut terhadap orang dewasa asing dapat muncul pada usia 7 bulan. Orang tua menjadi sumber utama sosialisasi bayi untuk mengomunikasikan pengalaman emosinya dalam budaya yang spesifik, melalui proses peniruan (modeling), dan pengajaran langsung. Selain itu, dalam tahap ini bayi juga mulai memiliki referensi sosial. Bayi mulai mengenali emosi orang lain dan menggunakan informasinya untuk bereaksi pada situasi dan orang baru.
memahami posisi dan perspektif orang lain. Anak akan menggunakan bahasa yang menyenangkan dan kontak fisik dengan ibunya.
Pada usia 3-6 tahun, kemampuan anak untuk mengatur prilaku emosinya meningkat. Orang tua membantu anak pada usia ini untuk menghadapi emosi negatif dengan mengajarkan dan mencontohkan dengan menggunakan penalaran dan penjelasan verbal. Anak yang mengalami kesulitan untuk mempelajari keterampilan sering menunjukkan perilaku yang berlebihan (acting out) atau sebaliknya menarik diri ketika berhadapan dengan situasi yang mengundang rasa takut dan cemas. Anak pada usia 3 tahun juga belajar bahwa kemarahan dan agresivitas harus dikontrol di depan orang dewasa. Di usia 4 tahun, anak mulai menguasai kemampuan untuk meningkatkan emosinya yang disesuaikan dengan aturan sosial yang ada. Keterampilan ini disebut aturan tampilan emosi (emotional display rules), aturan khusus sesuai budaya setempat yang menunjukkan kesesuaian mengekspresikan emosi pada situasi tertentu. Mulai 5-6 tahun, anak dapat mengembangkan pengertian yang lebih dalam terhadap emosi orang lain sejalan dengan kemampuan kognitifnya. Melalui pengalaman yang berulang-ualng, anak mengembangkan konsep akibat dari emosi.
Ekpresi emosi pada anak udah berubah dengan cepat dari satu bentuk ekspresi ke bentu ekspresi emosi yang lain. Anak dalam keadaan gembira secara tiba-tiba dapat langsung berubah menjadi marah karena ada sesuatu yang di rasakan tidak menyenangkan. Sebaliknya, apabila anak dalam keadaan marah, melalui bujukan dengan sesuatu yang menyenangkan bisa berubah menjadi riang. Ekspresi emosi pada anak ini di pengaruhi oleh interaksinya dengan orang lain.
Sejak kecil, anak telah belajar cara berinteraksi sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. apa yang telah di pelajari anak dari lingkungan keluarga juga turut memengaruhi perkembangan sosialnya.8
Metode-metode Pengembangan Sosial Emosional Untuk Anak Taman Kanak-kanak
Metode Bercerita
Anak usia dini mempunyai karakteristik perkembangan yang cukup unik dan pesat. Perkembangan yang di alami anak sangat di pengaruhi bagaimana pertumbuhanya. Bila anak mempunyai pertumbuhan baik, secara umum perkembangannya pun akan berjalan dengan baik.
Metode cerita ialah metode yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian kepada peserta didik. Kejadian atau peristiwa tersebut di sampaikan kepada peserta didik melalui tutur kata, ungkapan dan mimik wajah yang unik. Pendapat lain menyebutkan metode cerita merupakan metode pembelajaran ang menggunakan teknik guru bercerita tentang suatu lagenda, dongeng, mitos, atau suatu kisah yang di dalamnya di selipkan pesan-pesan moral atau intelektual tertentu.
Begitu pentingnya cerita bagi anak usia dini, tidak salah bila metode bercerita ini sebisa mungkin diaplikasikan dalam pembelajaran. Selain untuk memudahkan anak dalam memahami materi yang diberikan, juga untuk memberikan daya imajinatif dan fantasi, serta menambahkan wawasannya terhadap nilai-nilai kebaikan. Diantara manfaat-manfaat cerita bagi anak usia dini adalah sebagai berikut: 1). Membangun kontak batin, antara anak dengan orang tuanya maupun anak dengan gurunya. 2). Media penyampai pesan terhadap anak. 3). Pendidikan imajinasi atau fantasi anak. 4). Dapat melatih emosi atau perasaan anak. 5). Membantu proses identifikasi diri (perbuatan). 6). Memperkaya pengalaman batin. 7). Dapat sebagai hiburan atau menarik perhatian anak. 8). Dapat membentuk karakter anak.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa metode bercerita merupakan salah satu metode pembelajaran anak usia dini yang dapat memberikan manfaat positif bagi perkembangan anak, terutama perkembangan moral, bahasa, dan sosial-emosional.9
Metode Bermain Peran
Permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokoh-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada disekitar anak. Melalui permainan ini daya imajinasi kreativitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, maka ia akan memerankan tokoh ibunya seperti yang biasa ia lihat.
Salah satu cara bagi anak untuk menelusuri dunianya, salah satunya adalah dengan meniru tindakan dan karakter dari orang-orang yang berada disekitarnya. Ini merupakan bagian paling awal dari bentuk drama, yang tidak dapat disamakan dengan drama atau ditafsirkan sebagai penampilan.
Metode Hand Puppet
Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia Taman Kanak-kanak. Melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan untuk melakukannya, walaupun masih ada beberapa anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan bola tangannya. Namun, sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itupun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-temannya. Dengan adanya manfaat yang cukup esar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan Hand Puppet ini untuk terapi. Dengan
permainan ini anak-anak yang mengalami permasalahan emosionalpun akan terbantu.
Kesimpulan
Makna sosial dipahami sebagai upaya pengenalan (sosialisasi) anak terhadap orang lain yang ada di luar dirinya dan lingkungannya, serta pengaruh timbal balik dari berbagai segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan lainnya, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Sedangkan makna sosial yaitu perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas yang relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif hingga yang bersifat negatif.
Anak-anak usia dini ini biasanya mudah bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Umumnya anak usia ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini mudah berganti. Mereka umumnya mudah dan cepat menyesuaikan diri secara sosial. Sahabat yang dipilih biasanya yang memiliki jenis kelamin yang sama, kemudian berkembang ke jenis kelamin yang berbeda. Kelompok bermain anak usia dini ini cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena itu kelompok ini cepat berganti.
Dalam pendidikan anak usia dini, cerita sangat diperlukan dan banyak membantu peserta didik dalam memahami materi. Hal ini disebabkan sebagian besar anak-anak menyukai cerita, kisah atau dongeng. Selain cerita metode bermain peran juga sangat diperlukan untuk pengembangan sosial emosional anak karena bermain peran dapat meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak. Permainan boneka tangan juga mempunyai peran penting dalam meningkatkan sosial emosional anak karena dengan permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Daftar Pustaka
Fadillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran PAUD. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Fadillah, Muhammad & Khorida, Lilif Mualifatu. 2013. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta. Prenada Media Group.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media