EKOLOGI PERKOTAAN
Tidak Berfungsinya Ruang Terbuka
Hijau Akibat Adanya Shelter Busway
Disusun sebagai syarat untuk mengikuti
Ujian Akhir Semester (UAS) matakuliah Ekologi Perkotaan
DISUSUN OLEH :
PUTI LARASATI / 052001300054
DOSEN:
IR. NUZULIAR RAHMAH, MT
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERRENCANAAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT berkat anugerah yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Tidak Berfungsinya Ruang Terbuka Hijau Akibat Adanya Shelter Busway” ini.
Serta ucapan terima kasih tak lupa saya sampaikan kepada :
1. Ir. Nuzuliar Rahmah, MT selaku dosen mata kuliah Ekologi Perkotaan yang telah memberikan arahan pada pembuatan makalah ini.
2. Serta tak lupa saya haturkan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam proses pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu tetapi tidak mengurangi rasa hormat saya.
Makalah ini membahas tentang dampak pengalihan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Kota Tua Jakarta di seberang Stasiun Kota yang tadinya Taman Stasiun Kota menjadi wilayah Halte TransJakarta (Busway) dan Taman Penyebrangan Orang (TPO) sebagai penguhubung halte busway dengan stasiun kota dan bangunan bersejarah disekitarnya.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada dalam diri penulis yang menyebabkan makalah ini kurang sempurna. Maka dari itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun agar makalah ini bisa lebih baik lagi.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf, penulis berharap agar makalah ini dapat menjadi sumber referensi dan bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Jakarta, 6 Febuari 2015
DAFTAR ISI
2.2 Kebijakan Open Space Kota... 11
2.3 Dasar pemikiran pengembangan RTH di Perkotaan... 11
2.4 Konsep RTH...12
3.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Tua Jakarta... 15
3.1.1 Posisi Makro Kota Tua Terhadap DKI Jakarta... 15
3.1.2 Batas Wilayah Kota Tua... 15
3.1.3 Tata Guna Lahan Kota Tua... 16
5.1 Kesimpulan... 26 5.2 Saran... 26
DAFTAR PUSTAKA... 29
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kota Jakarta sebagai ibukota negara dan kota metropolitan terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Sebagai negara berkembang Jakarta selalu melakukan perbaikan di segala sektor untuk membuat Indonesia lebih baik. Tetapi kebutuhan masyarakat yang brgitu banyak tidak seimbang demgan ketersediaan lahan yang ada, oleh sebab itu banyak sekali pelanggar peraturan demi mendapatkan keuntungan semata. Seperti banyaknya kontraktor dan investor yang membangun bagunan maupun fasilitas umum di tempat yang bukan seharusnya atau tidak sesuai dengan peraturan yang ada contohnya pembangunan PIK di Jakarta utara, pemukiman Di bantaran sungai, pembangunan di lahan terbuka hijau Dan daerah resapan. Semua itu semata-mata mencari keuntungan atau karna keterbatasan ekonomi tanpa pemikiran keseimbangan alam. Tidak aneh jika bencana seperti banjir sudah menjadi langganan kota Jakarta yang sudah berantakan penataan kotanya.
Hal ini terjadi merata hampir diseluruh daerah Jakarta begitu pun di daerah wisata seperti Kota Tua. Kota yg di kenal sebagai Oud Batavia ini merupakan salah satu sejarah penting terbentuknya kota jakarta. Sebagai tempat wisata, kemudahan aksesibilitas wisatawan dalem berkunjung merupakan suatu keharusan.
upaya pengembalian fungsi RTH di Kota Tua tanpa mengurangi maksimalnya kesinambungan angkutan kota di daerah kota tua.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuat karya tulis ini adalah untuk : 1. Memenuhi tugas mata kuliah Ekologi Perkotaan. 2. Memberikan informasi tentang teori elemen perkotaan.
3. Memberikan informasi tentang Ruang terbuka Hijau (RTH) di kota, khususnya di Kota Tua.
4. Memberikan informasi pengalihan fungsi RTH di Kota Tua akibat adanya shelter Busway.
5. Memberikan saran dan solusi untuk menormlisasikan kembali fungsi RTH di Kota Tua.
1.3 Perumusan Masalah
1.
Apakah yang di maksud Ruang Terbuka Hijau (RTH)?2.
Apa fungsi dan manfaat RTH?3.
Bagaimana pola open space di Kota Tua?4.
Mengapa fungsi RTH di Kota Tua menjadi tidak maksimal?5.
Apa solusi pengembalian fungsi RTH di Kota Tua?1.4 Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini isu tentang tidak berfungsinya Ruang Terbuka Hijau (RTH) akibat adanya shelter busway berlokasi di Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Barat, Kawasan Kota Tua dan hanya membahas shelter busway koridor Stasiun Kota terhadap RTH di sekitarnya saja.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penelitian saya menggunakan penelitian analisis sintetis, yaitu menganalisa data dan hasil penelitian yang kemudian diperoleh kesimpulan. Adapun dalam penelitian ini kami menggunakan metode literature. Pemilihan ini didasari pada jarak yang tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian langsung dan waktu yang terbatas.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1
Teori Elemen Perkotaan
2.1.1 Hamid Shirvani
Menurut Hamid Shirvani terdapat 8 elemen fisik perancangan kota, yaitu: 1. Tata Guna Lahan (Land Use)
Prinsip Land Use adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga kawasan tersebut berfungsi dengan seharusnya.
Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan lahan sebuah kota. Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-tempat sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Sebagai contoh, di dalam sebuah kawasan industri akan terdapat berbagai macam bangunan industri atau di dalam kawasan perekonomian akan terdapat berbagai macam pertokoan atau pula di dalam kawasan pemerintahan akan memiliki bangunan perkantoran pemerintah. Kebijaksanaan tata guna lahan juga membentuk hubungan antara sirkulasi/parkir dan kepadatan aktivitas/penggunaan individual.
Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang kota, termasuk di dalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang ada, dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya, pengertian land use (tata guna lahan) adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi.
2. Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing)
Bentuk dan massa bangunan ditentukan oleh tinggi dan besarnya bangunan, KDB, KLB, sempadan, skala, material, warna, dan sebagainya.Prinsip-prinsip dan teknik Urban Design yang berkaitan dengan bentuk dan massa bangunan meliputi:
Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, dan dimensi bangunan sekitar.
Urban Space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas, dan tipe-tipe ruang.
Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang yang dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam skala besar dan kecil.
suatu kota serta bagaimana hubungan antar-massa (banyak bangunan) yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk antar-bangunan, fasad antar-bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis langit – horizon (skyline) yang dinamis serta menghindari adanya lost space (ruang tidak terpakai).
Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu : ketinggian bangunan, kepejalan bangunan, KLB, KDB, garis sempadan bangunan, langgam, skala, material, tekstur, warna.
3. Sirkulasi dan Perparkiran
Sirkulasi kota meliputi prasarana jalan yang tersedia, bentuk struktur kota, fasilitas pelayanan umum, dan jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat. Semakin meningkatnya transportasi maka area parkir sangat dibutuhkan terutama di pusat-pusat kegiatan kota (CBD).
Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian way, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain sebagainya.
Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota.
4. Ruang Terbuka (Open Space)
Open space selalu berhubungan dengan lansekap. Lansekap terdiri dari elemen keras dan elemen lunak. Open space biasanya berupa lapangan, jalan, sempadan, sungai, taman, makam, dan sebagainya.
dalam Yoshinobu Ashihara, ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dengan alam dengan memberi “frame”, jadi bukan alam itu sendiri (yang dapat meluas tak terhingga).
5. Pedestrian
Sistem pejalan kaki yang baik adalah:
Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota.
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia.
Lebih mengekspresikan aktifitas PKL dan mampu menyajikan kualitas udara.
Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota dan pola-pola aktivitas sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di masa mendatang.
Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :
− Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial. − Street furniture
6. Perpapanan (Signages)
Perpapanan digunakan untuk petunjuk jalan, arah ke suatu kawasan tertentu pada jalan tol atau di jalan kawasan kota. Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter pada fasade bangunan dan menghidupkan street space dan memberikan informasi bisnis.Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan pendukungnya. Aktivitas pendukung tidak hanya menyediakan jalan pedestrian atau plasa tetapi juga mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan aktivitas.
7. Pendukung Kegiatan
Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang public suatu kawasan kota. Bentuk activity support antara lain taman kota, taman rekreasi, pusat perbelanjaan, taman budaya, perpustakaan, pusat perkantoran, kawasan PKL dan pedestrian, dan sebagainya.
Penandaan yang dimaksud adalah petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, media iklan, dan berbagai bentuk penandaan lain. Keberadaan penandaan akan sangat mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda. Sebagai contoh, jika banyak terdapat penandaan dan tidak diatur perletakannya, maka akan dapat menutupi fasad bangunan di belakangnya. Dengan begitu, visual bangunan tersebut akan terganggu. Namun, jika dilakukan penataan dengan baik, ada kemungkinan penandaan tersebut dapat menambah keindahan visual bangunan di belakangnya.
8. Preservasi
Preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada dan urban space, hal ini untuk mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain).
Preservasi dalam perancangan kota adalah perlindungan terhadap lingkungan tempat tinggal (permukiman) dan urban places (alun-alun, plasa, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai ciri khas, seperti halnya perlindungan terhadap bangunan bersejarah. Manfaat dari adanya preservasi antara lain :
Peningkatan nilai lahan.
Peningkatan nilai lingkungan.
Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek komersial.
Menjaga identitas kawasan perkotaan.
Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi
2.1.2 Kevin Lynch
Pentingnya elemen initerletak pada kenyataan, bahwa orang-orang selalu berfikir tentang bentuk kota atasdasar kelima elemen pokok ini. Dan atas dasar ini pulalah terletaknya kepribadian danciri khas dari sebuah kota.
Menurut Lynch (1982) : Image Of The City, 46. elemen-elemen pembentuk citra kota terdiri dari :
1. Tetenger (Landmark)
Merupakan titik referensi seperti elemen simpul tetapi tidak masuk kedalamnya karena bisa dilihat dari luar letaknya. Tetenger adalah elemen eksternal yang merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota misalnya gunung, bukit, gedung tinggi, menara, tanah tinggi, tempat ibadah, pohon tinggi dan lain-lain. Beberapa tetenger letaknya dekat sedangkan yang lain jauh sampai diluar kota. Tetenger adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang untuk mengenali suatu daerah.
2. Jalur (Path)
Merupakan elemen paling penting dalam citra kota. Kevin Lynch menemukan dalam risetnya bahwa jika identitas elemen ini tidak jelas, maka kebanyakan orang meragukan citra kotanya secara keseluruhan. Jalur merupakan alur pergerakan yang secara umum digunakan oleh manusia seperti jalan, gang-gang utama, jalan transit, lintasan kereta api, saluran dan sebagainya. Jalur mempunyai identitas yang lebih baik jika memiliki tujuan yang besar (misalnya ke stasiun, tugu, alun-alun) serta ada penampakan yang kuat (misalnya pohon) atau ada belokan yang jelas.
3. Kawasan (District)
Merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi. Sebuah kawasan memiliki ciri khas mirip (bentuk, pola dan wujudnya) dan khas pula dalam batasnya, dimana orang merasa harus mengakhiri atau memulainya. Kawasan dalam kota dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Kawasan menpunyai identitas yang lebih baik jika batasnya dibentuk dengan jelas berdiri sendiri atau dikaitkan dengan yang lain.
4. Simpul (Nodes)
Merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah arah atau aktivitasnya misalnya persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, dan jembatan. Kota secara keseluruhan dalam skala makro misalnya pasar, taman, square dan lain sebagainya. Simpul adalah suatu tempat dimana orang mempunyai perasaan masuk dan keluar dalam tempat yang sama.
5. Batas atau tepian (Edge)
lainnya. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas membagi atau menyatukan.
2.2 Kebijakan
Open Space
Kota
- PERMENDAGRI NO. 1 TAHUN 2007
- Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan;
- Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
- Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
2.3
Dasar Pemikiran Pengembangan RTH di Perkotaan
(1)
Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas. Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, ter-masuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis.Di lain pihak, kemajuan alat dan pertambahan jalur transportasi dan sistem utilitas, sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan pencemar dan telah menimbulkan berbagai ketidak nyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai suatu teknik bioengineering dan bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat, dan menyamankan.
(2)
Tata ruang kota penting dalam usaha untuk efisiensi sumber daya kota dan jugaefektifitas penggunaannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya lainnya. Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan ini mempunyai berbagai pendekatan dalam perencanaan dan pembangunannya. Tata guna lahan, sistem transportasi, dan sistem jaringan utilitas merupakan tiga faktor utama dalam menata ruang kota. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain dikaitkan dengan permasalahan utama perkotaan yang akan dicari solusinya juga dikaitkan dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu penataan ruang yaitu untuk kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.
Untuk mendapatkan RTH yang fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-inginan warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota merupakan determinan utama dalam menentukan besaran RTH fungsional ini.
(4)
Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan.(5)
Kelestarian RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan ketersediaan dan seleksi tanaman yang sesuai dengan arah rencana dan rancangannya.2.4
Konsep RTH
tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasi menjadi (a) bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan (b) bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olah raga, pemakaman, berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya diklasi-fikasi menjadi (a) bentuk RTH kawasan (areal, non linear), dan (b) bentuk RTH jalur (koridor, linear), berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya diklasifikasi menjadi (a) RTH kawasan perdagangan, (b) RTH kawasan perindustrian, (c) RTH kawasan permukiman, (d) RTH kawasan per-tanian, dan (e) RTH kawasan-kawasan khusus, seperti pemakaman, hankam, olah raga, alamiah.
Status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi (a) RTH publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan publik atau lahan yang dimiliki oleh peme-rintah (pusat, daerah), dan (b) RTH privat atau non publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan milik privat.
2.3.2 Fungsi dan Manfaat
RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk per-lindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk ke-indahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.
Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible) seperti mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu, daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), hubungan fungsional (ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pemben-tuknya. Pola RTH terdiri dari (a) RTH struktural, dan (b) RTH non struktural.
RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsi-onal antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki plano-logis yang bersifat antroposentris. RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk perkotaan seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman ke-camatan, taman kota, taman regional, dst).
RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pem-bentuknya yang umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.
2.3.4 Elemen Pengisi RTH
RTH dibangun dari kumpulan tumbuhan dan tanaman atau vegetasi yang telah diseleksi dan disesuaikan dengan lokasi serta rencana dan rancangan peruntukkannya. Lokasi yang berbeda (seperti pesisir, pusat kota, kawasan industri, sempadan badan-badan air, dll) akan memiliki permasalahan yang juga berbeda yang selanjutnya berkonsekuensi pada rencana dan rancangan RTH yang berbeda.
Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri serta kriteria (a) arsitektural dan (b) hortikultural tanaman dan vegetasi penyusun RTH harus menjadi bahan pertimbangan dalam men-seleksi jenis-jenis yang akan ditanam.
Persyaratan umum tanaman untuk ditanam di wilayah perkotaan: (a) Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota
(b) Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang tercemar)
(c) Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme) (d) Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang
(e) Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural (f) Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota
(g) Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh masyarakat
(h) Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal (i) Keanekaragaman hayati
Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam wilayah kota tersebut menjadi bahan tanaman utama penciri RTH kota tersebut, yang selanjutnya akan dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga nasional.
2.3.5 Teknis Perencanaan
Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah perkotaan, ada 4 (empat) hal utama yang harus diperhatikan yaitu
(a) Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan di-tentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu:
1) Kapasitas atau daya dukung alami wilayah
2) Kebutuhan per kapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pela-yanan lainnya)
3) Arah dan tujuan pembangunan kota
merupakan RTH pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota.
(b) Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH
(c) Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan distribusi)
(d) Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kota.
BAB III
PENGAMATAN
3.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Tua
3.1.1 Posisi Makro Kota Tua terhadap DKI Jakart
Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawahpermukaan laut yang terletak antara 6°12’ LS and 106°48’ BT. Propinsi DKI Jakartaterdiri dari 5 kawasan administratif dan 1 kepulauan, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.
Kota Jakarta kini adalah berawal dari
kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang berkembang menjadi kota dan pada masa kolonial berubah nama menjadi Batavia. Kota Batavia kini dikenal dengan sebutan Kota Tua yang terletak di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat..Dilihat dari lokasi dan jalur lintasan dari timur-barat
dan utara-selatan, Kota Tua memiliki posisi
yang sangat strategis terhadap kota Jakarta. Pada masa lalu Kota Tua,
yang dikenal dengan Oud Batavia ini, merupakan gerbang utama untuk masukke Jakarta melalui jalur laut.
Hal ini menjadikan Oud Batavia (Kota Tua) sebagaisalah satu jalur distribusi barang yang sangat penting dengan pusat di sekitar kawasanPelabuhan Sunda Kelapa. Selain itu, selain Pelabuhan Tanjung Priuk. Kota Tuamemiliki akses darat yang cukup baik, yaitu adanya jalan tol lingkar luar Jakarta, jalan arteri serta jalur kereta api yang juga melayani antar kota. Kota Tua jugadikelilingi oleh sentra-sentra primer baru yang berkembang di Jakarta dengan lokasicukup dekat dengan Kota Tua. Perkembangan sentra-sentra primer baru ini sebagai implikasi dari pesatnya perkembangan perekonomian Jakarta yang memicu terjadinyapersaingan pembangunan sentra-sentra bisnis baru
3.1.2 Batas Wilayah Kota Tua
Berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 34 Tahun 2006 tentang Penguasaan Perencanaan dalam Rangka penataan kawasan Kota Tua dinyatakan luas kawasan Kota Tua Jakarta yaitu ±846 ha.
serta Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Tambora yangtermasuk wilayah Kotamadya Jakarta Barat. Tetapi ttidak semua wilayah kecamatan-kecamatan tersebut masuk dalam batas Kawasan Kota Tua Jakarta karena delineasi wilayah perencanaan tidak didasarkan pada batas wilayah administrasi
Tabel 1 Wilayah Administratif Kota Tua Jakarta
Gambar 1 Batas Administratif Kawasan Kota Tua Jakarta
3.1.3 Tata Guna Lahan Kota Tua
Selaras dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi DKI Jakarta 2010, maka dihasilkantata guna lahan yang diperbolehkan dan dianjurkan pada kawasan Kota Tua Jakarta.
Tata guna lahan yang diperbolehkan di Kota Tua adalah sebagai : • fasilitas umum
• fasilitas pemerintahan
• komersial (karya bangunan umum dengan fasilitasnya)
• campuran hunian dan komersial (wisma dengan bangunan umum dan fasilitasnya)
• 43 hunian (wisma dengan fasilitasnya)
• ruang terbuka hijau aktif (karya taman danfasilitasnya) dan/ penyempurna hijau binaan) dan ruang terbuka hijau pasif (penyempurna hutan lindung dan fasilitasnya)
Gambar 3 Tata Guna Lahan Kota Tua Jakarta (Sumber : Dinas Tata Kota DKI Jakarta, 2007)
3.1.4 Open Space di Kota Tua
Ruang terbuka (open space) pada kawasan terbentuk dari Square (taman
Fatahillah), Street (Jl Kali Besar Barat, Jl Kali Besar Timur, Jl rel kereta api, serta ruang antar gedung lainnya). berfungsi sebagai gerbang
kawasan Kota Tua dari selatan (keberadaan stasiun kereta api, stasiun Busway dan aksis jalur utama kota)
b) Taman Fatahillah, berupa plaza dengan pengembangan sebagai pusat kegiatan kawasan
c) Kali Besar, berupa koridor sungai.
3.2 Hasil Pengamatan
Open Space
di Sekitar Shelter Busway Stasiun Kota
Gambar 4 Lokasi PengamatanLokasi : Halte Busway Koridor Stasiun Kota
Titik Pengamatan T
P Elemen Hasil Pengamatan
1 Fungsi Halte Busway Koridor Stasiun Kota
19 | P a g e Gambar 3 Jaringan Ruang Terbuka Kota Tua Jakarta (Sumber : Hasil olahan peta 2006)
Jalan Jl. Pintu Besar Utara Pedestria
n Path
Jalur pedestrian terpotong halte busway, banyak barang bekas pembangunan busway dan sampah yang menggangu kenyamanan pejalan kaki.
Vegetasi Vegetasi cukup rindang tetapi letaknya yg ditengah pedestrian path memperkecil keleluasaan pejalan kaki.
Street Furniture
Tidak ada
Kondisi sekitar
Merupakan lingkungan dengan kepadatan orang maupun kendaraan yang cukup tinggi, sehingga sering terjadi kemacetan di jam-jam sibuk terutama saat weekend (karna
merupakan daerah wisata).
2 Fungsi Jalan putaran balik kendaraan, Jalan
Vegetasi Hanya terdapat rerumputan di sekitar pedestrian path.
3 Fungsi Halte Busway Koridor Stasiun Kota Jalan Jl. Taman Stasiun Kota
Pedestria n
Kondisi sekitar
Aktifitas di sekitar daerah ini hanya seputar masuk dan keluar dan menunggu di halte busway yang cuckup ramai karena merupakan salah satu busway jalur utama dan tempat wisata.
4 Fungsi Terowongan Penyebrangan Orang (TPO), fasilitas umum (mushola, toilet, tempat duduk), sebagai open space.
Jalan (tempat puteran balik kendaraan) Pedestria
n
TPO disini merupakan akses pejalan kaki utama yang mengubungkan halte busway, stasiun kota dengan bangunan bersejarah disekitarnya.
Vegetasi Terdapat beberapa tanaman disekitar kolam air mancur tengah.
Street Furniture
Kondisi sekitar
Kondisi TPO ini tidak terawat dengan baik, banyak kerusakan, minim penerangan dan kebersihan sehingga terkesan jorok dan seram.
5 Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH), public open space
Jalan (lokasi di tengah taman) Pedestria
n
Terdapat bekas peninggalan
pedestrian path Taman Stasiun yang ada sebelum dibangunnya shelter busway ini.
Street Furniture
Jam, lampu taman, pagar pembatas, toren air dan tempat listrik.
Kondisi sekitar
Sebagian besar taman masih terawat tetapi cukup banyak juga sampah berserakan dan tempat yang tidak terurus. Dijadikan tempat istirahat supir dan kondektur busway.
3.3 Tempat Penyebrangan Orang (TPO) di Kota Tua Jakarta
Terowongan ini menghubungkan Stasiun Jakarta Kota dengan jalan di depan Museum Bank Mandiri. Pembangunan terowongan dimulai pada 2006. Namun, penggalian lahan yang akan dijadikan terowongan dilakukan pada 2005. Pembangunan terowongan penyeberangan orang itu menggunakan metode jacking. Metode serupa pernah digunakan saat membangun terowongan Dukuh Atas pada 1992. Panjang terowongan itu sekitar 24 meter, lebar dalam 8,10 meter, dan lebar luar 10,10 meter. Antara Stasiun Kota dan Museum Bank Mandiri terdapat taman. Pada bagian tengah taman, tanah digali sedalam 6,5 meter. Area itu merupakan tempat penyeberangan. Air mancur yang semula berada di sebelah selatan taman dipindah ke tengah area penyeberangan.
masyarakat dapat menyebrang jalan tanpa mengganggu lalu lintas yang ada, sehingga bbisa mnegurangi kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pengalihan fungsi Taman Stasiun menjadi wilayah halte Busway dan TPO memberikan dampak negatif maupun positif pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dampak positifnya tertampungnya kebutuhan masyarakat akan kebutuhan kesinambungan angkutan umum (stasiun kota, halte busway) dengan jalur pedestrian yang tidak mengganggu lalu lintas kendaraan sekitar. Dampak negatifnya, hilangnya RTH di daerah Kota Tua, terbengkalainya TPO yang ada, disalahgunakannya TPO, terjadinya kemacetan akibat keramaian kegiatan yang meningkat, naiknya suhu thermal dan polusi kota karna kemacetan yang tidak lagi di redam oleh pepohonan taman kota, banyak sampah dan menjadi tempat kotor yang terlihat kumuh dibeberapa sisi. Hal iini memperlihatkan bahwa mengorbankan open space sebagai sarana transportasi ini tidak terlalu menguntungkan. Kerugian ini lebih kepada kurangnya maintenance pada daerah kawasan Halte dan TPO sehingga tempat yang awalnya menunjang kegiatan malah berfungsi sebaliknya. Jika pengalokasian halte dan TPO sulit di lakukan, seharusnya RTH bisa dibuat lagi di tempat yang memungkinkan agar mengembalikan fungsi ruang-ruang hijau yang seharusnya menyejukkan dan membuat nyaman suasana Kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata.
5.2 Saran
Ruang publik yang ideal seyogianya memenuhi kriteria berikut:
a. Image and Identity
Berdasarkan sejarah, ruang terbuka adalah pusat dari aktivitas masyarakat dan secara tradisional membentuk identitas dari suatu kota. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan ukurannya yang paling menonjol dari bangunan yang ada berdekatan dengannya.
b. Attractions and Destinations
Ruang terbuka memiliki tempat-tempat yang kecil yang di dalamnya memiliki suatu daya tarik tertentu yang memikat orang banyak, misalkan kafetaria, air mancur,atau patung.
Ghirardelli Square, San Fransisco
c. Ketenangan (Amenities)
Ruang terbuka seharusnya memiliki bentuk ketenangan yang membuat orang merasa nyaman bagi yang menggunakannya. Penempatan ruang terbuka dapat menentukan bagaimana orang memilih untuk menggunakan suatu lokasi. Selain itu, ruang terbuka menjangkau seluruh umur dari anak-anak hingga orang dewasa.
Rockefeller Center, New York
d. Flexible Design
Ruang terbuka digunakan sepanjang hari, dari pagi, siang, dan malam. Untuk merespon kondisi ini ruang terbuka menyediakan panggung-panggung yang mudah untuk ditarik keluar-masuk, mudah dibongkar pasang, dan mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya.
e. Seasonal Strategy
Keberhasilan ruang terbuka bukan hanya fokus pada salah satu desain saja, atau pada stategi manajemennya. Tetapi dengan memberikan tampilan yang berubah-ubah yang berbeda dari satu musim ke musim lainnya.
Pasar Liburan di New York’s Union Square
f. Access
Ruang terbuka memiliki kedekatan dan kemantapan aksesibilitas, mudah dijangkau dengan jalan kaki, kedekatan dengan jalan besar, tidak dilalui kendaraan padat, atau kendaraan yang lewat dengan kecepatan lambat.
DAFTAR PUSTAKA
• Tesis EUIS PUSPITA DEWI -Program Studi Arsitektur Lanskap, Insttut Pertanian Bogor, 2009
• medha.lecture.ub.ac.id - Kajian Ruang Terbuka Kawasan Pelestarian Kota Tua Jakarta, 2012
• Lynch (1982) : Image Of The City, 46.
• Makalah Lokakarya - PENGEMBANGAN SISTEM RTH DI PERKOTAAN, RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) WILAYAH PERKOTAAN oleh : Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian – IPB
• Jurnal Online RUANG PUBLIK : ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Oleh: Ir. James Siahaan, MA
• http://www.penataanruang.com/ruang-terbuka-hijau.html
•
http://www.tempo.co/read/news/2009/11/20/083209520/Jakarta-Optmists-Terowongan-Kota-Selesai-Bulan-Depan
•
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/18/083586002/Terowongan-Kota-Tua-Rusak-Warga-Tak-Nyaman
• http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/29/1049507/Terowongan.Kota.Tua.yang.Tak.