• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Permainan Judi Dadu Guling (Samkwan) (Studi Putusan No. 141 Pid.B 2013 Pn.Kbj)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Permainan Judi Dadu Guling (Samkwan) (Studi Putusan No. 141 Pid.B 2013 Pn.Kbj)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KETENTUAN TINDAK PIDANA JUDI BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU DI INDONESIA

Penegakan hukum pidana dalam menanggulangi perjudian memiliki

perjalanan yang panjang. Hal ini dikarenakan perjudian telah dianggap sebagai hal

yang biasa dan wajar walaupun di dalam masyarakat itu sendiri ada yang

merasakan dampak negatif serta memberikan ancaman terhadap keamanan

mereka. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa perjudian membentuk karakter

manusia yang pemalas, yang menggantungkan hidupnya pada harapan-harapan

yang belum pasti. Oleh karena itu hukum pidana yang salah satu fungsinya

merupakan kontrol sosial harus mampu memberikan kontrol terhadap anggota

masyarakat untuk patuh terhadap norma-norma hukum yang berlaku.

Sejarah mencatat ternyata perjudian khususnya di Indonesia tidak mudah

diberantas. Bahkan beberapa hasil perjudian didapat oleh pemerintah untuk

melakukan kegiatan-kegiatan yang pada saat itu membutuhkan biaya yang sangat

besar. Contohnya saja yaitu Judi Porkas yang digunakan untuk pembangunan

sarana olahraga pada masa Orde Baru. Akan tetapi, terlepas dari pada itu, akibat

negatif dari perjudian lebih banyak daripada hal-hal positif yang ditimbulkannya

sehingga pemerintah harus mengambil tindakan tegas agar masyarakat menjauhi

dan berhenti melakukan perjudian.

Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka dalam rangka

menanggulangi masalah perjudian diperlukan adanya kebijakan hukum pidana

(2)

ada saat ini dan kebijakan untuk memperbaharui hukum pidana khususnya dalam

rangka mengatasi perjudian di masa yang akan datang.

A. Ketentuan Tindak Pidana Judi Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Hukum Pidana merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di

suatu Negara. Berbicara tentang hukum pidana tidak lepas kaitannya dengan

subjek dari hukum pidana itu sendiri. Subjek dari hukum pidana adalah manusia

selaku anggota masyarakat. Manusia sebagai subjek hukum pidana dalam

melakukan aktivitasnya dalam bermasyarakat seringkali melakukan

penyimpangan. Hal ini tidak hanya bisa membahayakan dirinya akan tetapi juga

dapat merugikan orang lain. Agar terciptanya suatu tatanan masyarakat yang aman

dan tertib maka dibutuhkan norma-norma serta ketentuan-ketentuan yang

bertujuan untuk mengatur bagaimana anggota masyarakat melaksanakan

aktivitasnya tanpa mengganggu kepentingan anggota masyarakat lainnya.

Ketentuan-ketentuan tersebut haruslah memiliki sanksi yang bersifat memaksa.

Artinya, ketika seseorang melanggar ketentuan yang telah dibuat maka pelanggar

akan diberikan hukuman. Berat ringannya hukuman tergantung dari jenis

pelanggaran yang dilakukannya.

Hukum Pidana dalam usahanya untuk mencapai tujuannya tidaklah

semata-mata hanya dengan menjatuhkan sanksi pidana akan tetapi juga dengan

melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Oleh sebab itu hukum pidana

merupakan bagian dari politik kriminal yaitu usaha-usaha rasional dalam

mencegah terjadinya kejahatan. Demikian juga terhadap perjudian yang

(3)

No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, ancaman pidana bagi pelaku

perjudian diperberat dengan rincian sebagai berikut:

1. Ancaman pidana dalam Pasal 303 (1) KUHP diperberat menjadi pidana

penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-banyaknya dua

puluh lima juta rupiah.

2. Pasal 542 KUHP diangkat menjadi suatu kejahatan dan diganti sebutan

menjadi Pasal 303 bis KUHP, sedangkan ancaman pidananya diperberat yaitu

ayat (1) menjadi pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau denda

sebanyak-banyaknya sepuluh juta rupiah. Ayat (2) menjadi pidana penjara

selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta

rupiah.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa larangan perjudian dalam KUHP

sekarang ini adalah dalam Pasal 303 dan 303 bis.

Pasal 303

“(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barangsiapa tanpa mendapat izin: a. dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk

permainan judi dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan sengaja turut serta dalam suatu kegiatan usaha itu;

b. dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam kegiatan usaha itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara;

c. menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencaharian.

(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian itu.

(4)

Objek hukum pidana dalam hal ini adalah permainan judi (hazardspel). Tidak semua permainan dikategorikan judi. Permainan yang dikategorikan judi

(hazard) adalah segala permainan yang kalah menangnya bukanlah karena kemampuan dari pemainnya akan tetapi hanya bergantung kepada nasib pemain.

Dapat dikatakan bahwa seseorang yang kemungkinan menang dalam hazardspel

hanyalah semata karena keberuntungan atau kebetulan semata walaupun

kemungkinan untuk menang itu dapat bertambah besar dengan latihan dan

kepandaian pemain.

Namun, KUHP tidak memuat tentang bentuk-bentuk permainan judi

tersebut secara rinci. Sebagaimana dijelaskan oleh R. Soesilo, tidak semua

permainan dapat dikategorikan judi, tetapi hanya permainan-permainan yang

mempertaruhkan segala sesuatu yang bernilai dan kemenangannya atau

keuntungannya didasarkan pada kebetulan nasib, peruntungan yang tidak dapat

direncanakan dan diperhitungkan, seperti dalam permainan dadu, selikuran,

roulette, bakarat, kocok, tombola, termasuk juga totalisator pada pacuan kuda, pertandingan sepak bola dan sebagainya.55

Menurut Adam Chazawi dalam rumusan kejahatan Pasal 303 KUHP

tersebut di atas, ada lima macam kejahatan mengenai hal perjudian (hazardspel), dimuat dalam ayat (1):56

Sedangkan ayat (2) memuat tentang dasar pemberatan pidana, dan ayat (3)

menerangkan tentang pengertian permainan judi yang dimaksudkan oleh ayat (1). 1. butir 1 ada dua macam kejahatan;

2. butir 2 ada dua macam kejahatan; dan 3. butir 3 ada satu macam kejahatan.

55

R. Soesilo, Op.cit, Hal. 222.

56

(5)

158-Lima macam kejahatan mengenai perjudian tersebut mengandung unsur

tanpa izin. Dalam unsur tanpa izin inilah melekat sifat melawan hukum dari

semua perbuatan dalam lima kejahatan mengenai perjudian itu. Artinya tiadanya

unsur tanpa izin, atau jika ada izin dari pejabat atau instansi yang berhak memberi

izin, semua perbuatan dalam rumusan tersebut tidak lagi atau hapus sifat melawan

hukumnya sehingga tidak dipidana. Dimasukkannya unsur tanpa izin ini oleh

pembentuk undang-undang terkandung suatu maksud yaitu agar pemerintah atau

pejabat pemerintah tertentu dapat melakukan pengawasan dan pengaturan tentang

permainan judi.

1. Kejahatan Pertama

Kejahatan bentuk pertama dimuat dalam butir 1 yaitu kejahatan yang

melarang orang yang tanpa izin yang dengan sengaja menawarkan atau

memberikan kesempatan untuk permainan judi dan menjadikannya sebagai mata

pencaharian. Dengan demikian jenis kejahatan ini, terdiri dari unsur-unsur sebagai

berikut:

Unsur-unsur objektif:

a. perbuatannya menawarkan atau memberikan kesempatan;

b. objeknya adalah untuk bermain judi tanpa izin;

c. dijadikannya sebagai mata pencaharian.

Unsur subjektif:

d. dengan sengaja.

Dalam bentuk kejahatan yang pertama ini, si pembuat tidak melakukan

permainan judi. Di sini tidak ada larangan main judi, tetapi perbuatan yang

(6)

kesempatan bermain judi. Sementara itu, orang yang bermain judi dapat dipidana

berdasarkan kejahatan yang dirumuskan pada Pasal 303 bis.

Arti “menawarkan kesempatan” bermain judi ialah si pelaku melakukan

perbuatan dengan cara apapun untuk mengundang atau mengajak orang-orang

untuk bermain judi dengan menyediakan tempat dan waktu tertentu. Perbuatan ini

mengandung pengertian belum ada orang yang bermain judi, hanya sekedar

permulaan pelaksanaan dari perbuatan memberi kesempatan untuk bermain judi.

Perbuatan “memberi kesempatan” bermain judi yang merupakan perbuatan

kedua, ialah pembuat menyediakan peluang yang sebaik-baiknya dengan

menyediakan tempat tertentu untuk bermain judi. Jadi di sini telah ada orang yang

bermain judi. Misalnya menyediakan sebuah kamar atau bahkan rumah untuk

orang-orang yang bermain judi.

Perbuatan menawarkan kesempatan bermain judi haruslah dijadikannya

sebagai pencaharian. Artinya perbuatan itu dilakukan tidak seketika melainkan

berlangsung lama dan dari perbuatan si pelaku tersebut dia mendapatkan uang

yang dijadikannya sebagai pendapatan untuk kehidupannya. Perbuatan itu baru

bersifat melawan hukum apabila tidak mendapatkan izin terlebih dahulu dari

instansi atau pejabat pemerintah yang berwenang.

Dalam kejahatan bentuk pertama terdapat unsur kesengajaan. Artinya si

pelaku memang menghendaki untuk melakukan perbuatan menawarkan

kesempatan dan memberikan kesempatan untuk bermain judi. Si pelaku sadar

bahwa yang ditawarkan atau yang diberi kesempatan itu adalah orang-orang yang

(7)

pencaharian, artinya dia sadar bahwa dari perbuatannya itu dia mendapatkan uang

untuk biaya hidupnya.

Sementara itu, unsur kesengajaan ini tidak harus ditujukan terhadap unsur

tanpa izin. Artinya dalam hal si pelaku melakukan dua perbuatan yang dilarang itu

tidak menjadikan syarat tentang bagaimana sikap batinnya terhadap tanpa izin.

Tidak disyaratkan bahwa dia harus menawarkan kesempatan dan memberikan

kesempatan bermain judi tanpa mendapatkan izin dari instansi atau pejabat yang

berwenang. Hal ini dikarenakan letak unsur tanpa izin berada sebelum unsur

kesengajaan tersebut dalam rumusan kejahatan.

2. Kejahatan Kedua

Kejahatan kedua yang juga dimuat dalam butir 1, ialah melarang orang

yang tanpa izin dengan sengaja turut serta dalam suatu kegiatan atau usaha

permainan judi. Dengan demikian terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:

Unsur-unsur objektif:

a. perbuatannya: turut serta;

b. objek: dalam suatu kegiatan usaha permainan judi tanpa izin.

Unsur subjektif:

c. dengan sengaja.

Pada kejahatan jenis kedua ini, perbuatan adalah turut serta (deelnemen). Artinya ikut terlibat bersama orang lain dalam usaha permainan judi yang

disebutkan pada bentuk pertama. Apabila dihubungkan dengan bentuk-bentuk

penyertaan yang ditentukan menurut Pasal 55 dan 56 KUHP, pengertian turut

serta menurut pasal ini lebih luas daripada sekedar turut serta sebagai orang yang

(8)

menyertai di sini selain orang yang melakukan perbuatan seperti yang dilakukan

oleh orang yang turut serta melakukan (medepleger) menurut Pasal 55 KUHP, juga termasuk orang yang membantu melakukan (medeplictige) dalam Pasal 56 KUHP. Bentuk orang yang menyuruh (doen pleger) dan penganjur (uit lokker) tidak dikategorikan dalam hal ini dikarenakan kedua bentuk ini tidak terlibat

secara fisik dengan orang lain yang melakukan perbuatan yang dilarang.

Keterlibatan secara fisik orang yang turut serta dalam kegiatan usaha

permainan judi tanpa izin, yang dimaksudkan pada bentuk pertama, terdiri dari

perbuatan menawarkan kesempatan dan memberikan kesempatan kepada orang

untuk bermain judi sehingga orang tersebut mendapatkan uang atau penghasilan

sebagai pencaharian. Jadi yang dimaksud dengan kegiatan usaha permainan judi

adalah setiap kegiatan yang menyediakan tempat dan waktu (memberikan

fasilitas) kepada orang-orang untuk bermain judi, yang dari kegiatan usaha

tersebut ia mendapatkan uang atau penghasilan. Dalam kejahatan jenis kedua ini

juga terdapat unsur kesengajaan. Kesengajaan di sini harus ditujukan pada unsur

perbuatan turut serta dan disadarinya bahwa keturutsertaannya itu adalah dalam

kegiatan permainan judi.

3. Kejahatan Ketiga

Kejahatan bentuk ketiga ialah “melarang orang yang tanpa izin dengan

sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk

bermain judi”. Dengan demikian terdapat unsur-unsur:

Unsur-unsur objektif:

a. perbuatan: menawarkan dan memberi kesempatan;

(9)

c. untuk bermain judi tanpa izin.

Unsur subjektif:

d. dengan sengaja.

Kejahatan bentuk ketiga ini, memiliki persamaan dengan kejahatan bentuk

pertama. Persamaannya adalah pada unsur tingkah laku, yakni pada perbuatan

menawarkan kesempatan dan perbuatan memberikan kesempatan. Perbedaaannya

adalah sebagai berikut:

a. Pada bentuk pertama, perbuatan menawarkan kesempatan dan perbuatan

memberikan kesempatan tidak disebutkan kepada siapa, oleh karena itu

bisa termasuk seseorang atau beberapa orang tertentu. Sedangkan pada

bentuk ketiga, tidak ditujukan kepada satu orang tertentu saja melainkan

secara umum.

b. Pada bentuk pertama secara tegas disebutkan bahwa kedua perbuatan itu

dijadikan sebagai mata pencaharian. Sedangkan pada bentuk ketiga, tidak

disebutkan unsur dijadikan sebagai mata pencaharian.

Khalayak umum artinya kepada siapapun, tidak ditujukan pada orang

perorangan atau orang tertentu. Siapapun juga dapat menggunakan kesempatan

untuk bermain judi. Pada bentuk ketiga terdapat pula unsur kesengajaan, yang

harus ditujukan pada: (a) melakukan perbuatan menawarkan kesempatan dan/atau

perbuatan memberi kesempatan; (b) khalayak umum, dan (c) bermain judi.

Artinya, si pelaku melakukan kedua perbuatan itu di depan khalayak umum untuk

bermain judi.

Akan tetapi kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan pada unsur tanpa

(10)

letaknya sebelum unsur kesengajaan. Artinya si pelaku tidak perlu menyadari

bahwa dalam melakukan kedua perbuatan tersebut ia tidak mendapatkan izin dari

instansi yang berwenang.

4. Bentuk Keempat

Kejahatan perjudian bentuk keempat dalam Pasal 303 ayat (1), adalah

larangan dengan sengaja turut serta dalam menjalankan kegiatan usaha perjudian

tanpa izin. Unsur-unsurnya adalah:

Unsur objektif:

a. perbuatannya: turut serta;

b. objek: dalam kegiatan usaha permainan judi tanpa izin.

Unsur subjektif:

c. dengan sengaja.

Kejahatan bentuk keempat ini hampir sama dengan kejahatan perjudian

bentuk kedua. Perbedaannya hanyalah pada kegiatan usaha perjudian yang

dijadikan sebagai mata pencaharian. Pada bentuk keempat ini, keturutsertaan si

pelaku ditujukan pada kegiatan usaha perjudian yang bukan sebagai mata

pencaharian. Demikian juga unsur kesengajaan turut sertanya ditujukan pada

kegiatan dalam melakukan perbuatan menawarkan kesempatan dan perbuatan

memberikan kesempatan bermain judi kepada khalayak umum.

5. Bentuk Kelima

Bentuk kelima kejahatan mengenai perjudian ialah “melarang orang yang

melakukan perbuatan turut serta dalam permainan judi tanpa izin yang

dijadikannya sebagai mata pencaharian”. Dengan demikian, dalam kejahatan

(11)

a. perbuatannya: turut serta;

b. objek: dalam permainan judi tanpa izin;

c. sebagai mata pencaharian.

Perbuatan materiil turut serta (deelnemen) terdapat pada kejahatan bentuk kedua, keempat dan kelima. Pada bentuk kelima, unsur dalam “menjalankan

kegiatan usaha” tidak dimuat lagi. Artinya si pelaku di sini tidak ikut serta dalam

menjalankan usaha permainan judi. Menjalankan usaha adalah berupa perbuatan

menawarkan kesempatan dan memberikan kesempatan bermain judi. Pada bentuk

kelima ini, si pelaku ikut terlibat bersama dengan orang lain yang bermain judi,

dan bukan kepada orang yang melakukan usaha perjudian. Si pelaku dalam

bermain judi tanpa izin haruslah dijadikannya sebagai mata pencaharian, artinya

dari permainan judi tersebut dia mendapatkan penghasilan untuk keperluan

hidupnya. Jadi tidak dipidana apabila ia bermain judi hanya sebagai hiburan

belaka.

Pasal 303 bis

“(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sepuluh juta rupiah:

a. barangsiapa menggunakan kesempatan main judi, yang diadakan dengan melanggar Pasal 303;

b. barangsiapa ikut serta main judi di jalan umum atau di pinggiran jalan umum ataupun di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali jika ada izin dari penguasa yang berwenang yang telah memberi izin untuk mengadakan perjudian itu.

(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat dua tahun sejak ada pemidanaan yang menjadi tetap karena salah satu pelanggaran ini, dapat dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak lima belas juta rupiah.”

Tindak pidana yang dimaksudkan dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 1

KUHP tersebut terdiri dari unsur-unsur objektif sebagai berikut:

(12)

2. menggunakan kesempatan untuk bermain judi

3. yang sifatnya melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 303 KUHP.

Unsur objektif kedua yakni “menggunakan kesempatan untuk bermain judi” merupakan perbuatan yang dilarang dalam ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 1 KUHP. Pengertian dari menggunakan

kesempatan untuk bermain judi tersebut bukan pemakaian kesempatan yang

terbuka karena ada orang yang memberikan kesempatan untuk bermain judi,

misalnya berjualan di tempat dimana kesempatan untuk bermain judi itu telah

diberikan oleh seseorang, melainkan hanya pemakaian kesempatan untuk bermain judi saja.

Unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang dimaksudkan dalam

ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 1 KUHP adalah

yang sifatnya melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 303 KUHP”. Yang dimaksudkan dengan yang sifatnya melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal

303 KUHP adalah bukan bertindak sebagai orang yang memberikan kesempatan

untuk berjudi melainkan sebagai orang yang memakai kesempatan untuk melakukan permainan judi.

Tindak pidana yang dimaksudkan dalam ketentuan pidana yang diatur

dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 2 KUHP terdiri dari unsur-unsur objektif

sebagai berikut:

1. Barangsiapa

2. ikut serta bermain judi

3. di jalan umum atau di pinggiran jalan umum atau di suatu tempat yang

(13)

Unsur objektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam ketentuan

pidana dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 2 di atas adalah “ikut serta bermain judi”. Kata-kata “ikut serta” atau “deelnemen” jangan diartikan sebagai “keikutsertaan” atau “deelneming” seperti yang dimaksudkan dalam ketentuan-ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 55 dan 56 KUHP melainkan harus

diartikan dalam pengertiannya secara umum menurut bahasa sehari-hari. Artinya,

orang tersebut secara in concreto berjudi sehingga dapat disebut ikut serta dalam permainan judi.

Unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang diatur dalam ketentuan

pidana dalam Pasal 303 bis ayat (1) angka 2 adalah “di jalan umum atau di pinggiran jalan umum atau di suatu tempat yang terbuka untuk dikunjungi oleh umum”. Yang dimaksudkan dengan jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan sebagai lalu lintas umum. Untuk dapat disebut sebagai “jalan umum”, tidaklah perlu suatu jalan tersebut harus dibuat oleh atau atas nama pemerintah, bahkan

tidak perlu dibuat atas biaya dari pemerintah, akan tetapi juga dapat merupakan

jalan milik seseorang atau yang terdapat di atas tanah seseorang, yang oleh

pemiliknya telah memperuntukkan jalan tersebut untuk dilalui secara umum.

Dari rumusan di atas jelaslah bahwa ada niat yang serius dari pemerintah

untuk menanggulangi perjudian dengan memberikan pemberatan terhadap bandar

judi dan juga pemain yang ikut dalam perjudian pasca keluarnya Undang-undang

(14)

B. Ketentuan Tindak Pidana Judi menurut Perundang-undangan Lainnya 1. Ketentuan Tindak Pidana Judi menurut Undang-Undang Nomor 7

Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian

Dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang

Penertiban Perjudian, maka perlu terlebih dahulu kita menelaah

pertimbangan-pertimbangan dikeluarkannya undang-undang tersebut, yang pada pokoknya

adalah sebagai berikut:

a. Bahwa perjudian pada pokoknya bertentangan dengan agama, kesusilaan,

dan moral Pancasila serta membahayakan penghidupan dan kehidupan

masyarakat, berbangsa dan bernegara.

b. Bahwa oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk menertibkan

perjudian, membatasinya sampai kepada lingkungan yang

sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju penghapusannya sama sekali dari seluruh

wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

c. Bahwa ketentuan-ketentuan dalam Ordonansi tertanggal 7 Maret tahun

1912 (Stb. 1912 Nomor 230), sebagaimana telah beberapa kali diubah dan

ditambah, terakhir dengan Ordonansi tanggal 31 Oktober tahun 1935 (Stb.

1935 Nomor 526), telah disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

d. Bahwa ancaman hukuman dalam pasal-pasal KUHP mengenai perjudian

dianggap tidak sesuai lagi, sehingga perlu diusahakan ada perubahan untuk

memperberatnya.

e. Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas perlu

disusun Undang-undang tentang Penertiban Perjudian.

Judi ataupun perjudian dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 7 Tahun

(15)

identik dengan kejahatan, tetapi pengertian dari tindak pidana perjudian pada

dasarnya tidak disebutkan secara jelas dan terinci baik dalam KUHP maupun

dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian. 57

a. dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk

permainan judi dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan

sengaja turut serta dalam suatu kegiatan usaha itu;

Lahirnya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban

Perjudian merupakan ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang

menetapkan dan merubah beberapa ketentuan yang ada dalam KUHP. Adapun

perumusan dan penetapan ketentuan sanksi pidana oleh pembentuk

undang-undang diatur dalam Pasal 303 dan 303 bis, yang kedua pasal tersebut adalah

kejahatan.

Kejahatan yang dimaksudkan di atas dirumuskan dalam Pasal 303 KUHP

yang selengkapnya adalah sebagai berikut:

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda

paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barangsiapa tanpa mendapat izin:

b. dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak

umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam kegiatan

usaha itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan

adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya suatu tata cara;

c. menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencaharian.

57

(16)

(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan

pencahariannya, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian

itu.

(3) Yang disebut dengan permainan judi adalah tiap-tiap permainan, dimana pada

umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada keberuntungan

belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ

termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan

lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau

bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Perbuatan yang dianggap sebagai bentuk tindak pidana kesusilaan dalam

hal perjudian adalah menggunakan kesempatan main judi yang diadakan dengan

melanggar Pasal 303 bis yang rumusannya sebagai berikut:

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda

paling banyak sepuluh juta rupiah;

a. barang siapa menggunakan kesempatan main judi, yang diadakan dengan

melanggar ketentuan Pasal 303;

b. barang siapa ikut serta main judi di jalan umum atau dipinggir jalan umum

atau di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali jika ada izin dari

penguasa yang berwenang yang telah memberi izin untuk mengadakan

perjudian itu.

(2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum lewat dua tahun sejak ada

(17)

dikenakan pidana penjara paling lama enam tahum atau pidana denda paling

banyak lima belas juta rupiah.58

a. Perjudian yang bukan merupakan tindak pidana kejahatan apabila

pelaksanaannya telah mendapat izin terlebih dahulu dari pejabat yang

berwenang. Hal ini beberapa kali terjadi di Indonesia antara lain:

Dalam penjelasan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang

Penertiban Perjudian disebutkan adanya pengklasifikasian terhadap segala macam

bentuk tindak pidana perjudian sebagai kejahatan, dan memberatkan ancaman

hukumannya. Ancaman hukuman yang berlaku sekarang ternyata sudah tidak

sesuai lagi dan tidak membuat pelaku perjudian merasa jera.

Salah satu ketentuan yang merumuskan ancaman terhadap tindak pidana

perjudian adalah dalam Pasal 303 dan Pasal 303 bis KUHP yang telah dirubah

dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.

Dengan adanya ketentuan dalam KUHP tersebut maka permainan perjudian dapat

digolongkan menjadi dua macam yaitu:

• Casino dan petak sembilan di Jakarta dan Sari Empat di Jalan

Kelenteng Bandung.

• Toto (totalisator) Grey Hound di Jakarta (ditutup 1 Oktober 1978 oleh

Pemerintah DKI).

• Undian harapan yang sudah berubah menjadi undian sosial berhadiah,

(18)

Sampul Borobudur di Solo, Sampul Danau Toba di Medan, Sampul

Sumber Harapan di Jakarta, semuanya berhadiah 80 juta rupiah.59

Dari jenis perjudian tersebut bukan merupakan kejahatan karena sudah

mendapat izin dari Pemerintah Daerah dengan berlandaskan

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1954 tentang Undian. Pasal 1 ayat (1) dan 2

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1954 tentang Undian menyatakan

sebagai berikut:

Pasal 1 ayat (1):

“Barangsiapa mengadakan undian harus lebih dahulu mendapat izin dari yang berwajib berdasarkan peraturan-peraturan dalam pasal-pasal berikut, kecuali yang ditetapkan dalam Pasal 2.”

Pasal 2:

“Undang-undang ini tidak berlaku untuk undian yang diadakan: a. Oleh negara

b. Oleh suatu perkumpulan yang diakui sebagai badan hukum, atau oleh suatu perkumpulan yang telah berdiri sedikitnya satu tahun, di dalam lingkungan yang terbatas pada para anggota, untuk keperluan sosial, sedang jumlah harga nominal dari undian tidak lebih dari Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah). Undian ini harus diberitahukan kepada instansi Pemerintah yang berwajib, dalam hal ini Kepala Daerah.”

Artinya undian yang dapat diadakan itu ialah oleh:

1) Negara

2) Oleh suatu perkumpulan yang diakui sebagai badan hukum, atau oleh

suatu perkumpulan yang terbatas pada para anggota untuk keperluan

sosial, sedang jumlah harga nominal dan undian tidak lebih dari Rp.

(19)

Undian ini harus diberitahukan kepada Instansi Pemerintah yang berwajib,

dalam hal ini izin dari Kepala Daerah untuk mengadakan undian yang

hanya dapat diberikan untuk keperluan sosial yang bersifat umum.

b. Perjudian yang merupakan tindak pidana kejahatan, apabila

pelaksanaannya tanpa mendapat izin terlebih dahulu dari pejabat yang

berwenang, contohnya bermain dadu. Bentuk permainan ini sifatnya hanya

untung-untungan saja, karena hanya menggantungkan pada nasib baik atau

buruk.

Dalam Pasal 303 bis KUHP menyebutkan unsur-unsurnya sebagai berikut:

a. Menggunakan kesempatan untuk main judi

b. Dengan melanggar ketentuan Pasal 303 KUHP

Perlu diketahui rumusan Pasal 303 bis KUHP tersebut sama dengan Pasal

542 KUHP yang semula merupakan pelanggaran dengan ancaman pidana pada

ayat (1)nya maksimal satu bulan pidana kurungan atau pidana denda paling

banyak tiga ratus rupiah.

2. Ketentuan Tindak Pidana Judi Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Sebelum dikeluarkannya Undang-undang No. 7 Tahun 1974 tentang

Penertiban Perjudian, tindak pidana perjudian diatur dalam Pasal 303 dan Pasal

542 KUHP. Dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban

Perjudian seperti telah dibahas menyebutkan adanya pengklasifikasian terhadap

segala bentuk tindak pidana perjudian sebagai kejahatan, serta memperberat

ancaman hukuman bagi pelaku yang dianggap sudah tidak sesuai lagi pada saat itu

(20)

Undang-undang No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, maka perjudian

di dalam KUHP diatur di dalam Pasal 303 dan 303 bis.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi di dunia

memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan kejahatan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak diimbangi dengan

perkembangan hukum positif yang ada di Indoensia. Perkembangan teknologi

informasi berdampak pada revolusi bentuk kejahatan yang sudah biasa menjadi

lebih modern. Salah satu perkembangan teknologi di bidang informasi adalah

internet. Internet merupakan media dimana orang-orang melakukan kegiatan di

dunia maya. Dengan internet, maka pelaku kejahatan dapat melakukan kejahatan

dengan resiko yang lebih kecil karena susah diusut, diproses serta diadili

dikarenakan belum adanya aturan-aturan yang mengatur tentang kejahatan yang

terjadi di dunia maya. Salah satu kejahatan yang sering dilakukan di dunia maya

adalah perjudian yang dilakukan melalui internet (internet gambling), yang dapat dilakukan melalui kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal ini

melalui penyalahgunaan internet.

Maraknya perjudian dengan sarana internet di era globalisasi saat ini

didukung oleh teknologi informasi dan komunikasi yang telah menjadi bagian

dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam dunia kita saat ini, komputer

bukan hanya sekedar alat hitung, tetapi media yang juga dapat menyebarkan

informasi dan memberikan layanan multi guna. Telepon genggam yang memiliki

berbagai fitur layanan bukan hanya sekedar alat telekomunikasi, tetapi juga sarana

untuk mengekspresikan diri dan mencari informasi.60

60

(21)

Untuk mengatasi kejahatan-kejahatan yang berada di dunia maya,

Pemerintah membuat aturan-aturan baru agar pelaku kejahatan dapat dihukum

akibat perbuatannya di dunia maya tetapi memberikan efek merugikan bagi orang

lain di dunia nyata. Oleh karena itu Pemerintah menerbitkan Undang-undang No.

11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang selanjutnya

disebut UU ITE yang di dalamnya diatur mengenai berbagai kegiatan di dunia

maya termasuk hal-hal yang dilarang karena melanggar hukum dan mengandung

unsur pidana. Walaupun tindak pidana judi di dunia maya tidak diatur secara

khusus dalam suatu peraturan tetapi di dalam UU ITE tindak pidana judi melalui

internet telah diatur dalam Pasal 27 ayat (2) sebagai perbuatan yang dilarang,

yaitu:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.

Pengaturan pasal 27 UU ITE juga mengacu pada KUHP yaitu pasal 303

dan 303 bis KUHP. Setidaknya ada beberapa materi yang terdapat di dalam pasal

303 dan 303 bis KUHP yang tercakup di dalam pasal 27 ayat (2) UU ITE.

Berdasarkan pasal 27 ayat (2) UU ITE, dapat kita temukan unsur-unsur esensial

perjudian dengan sarana internet, yaitu unsur subjektif dan objektif.

a. Unsur Subjektif

1) Setiap orang

Yang dimaksud dengan orang adalah orang perseorangan, baik Warga

Negara Indonesia, Warga Negara Asing, maupun badan hukum. Dalam

penerapannya menegaskan bahwa UU ITE berlaku untuk setiap orang

(22)

ini baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar

wilayah hukum Indonesia yang memiliki akibat hukum di wilayah

Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan

kepentingan Indonesia.

2) Dengan sengaja dan tanpa hak

Unsur sengaja mengandung makna “mengetahui” dan “menghendaki”

dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang oleh UU ITE, atau

mengetahui dan menghendaki terjadinya suatu akibat yang dilarang

oleh UU ITE. Pemahaman kesengajaan dalam UU ITE mengacu pada

teori-teori kesengajaan yang berlaku di Indonesia, yaitu:

a) Kesengajaan sebagai maksud

b) Kesengajaan sebagai kepastian

c) Kesengajaan sebagai kemungkinan61

b. Unsur Objektif

1) Mendistribusikan

Yang dimaksud dengan mendistribusikan adalah mengirimkan

informasi atau dokumen elektronik kepada seorang atau beberapa pihak

atau tempat melalui atau dengan sistem elektronik. Tindakan ini dapat

dilakukan dengan mengirimkan surat elektronik (email), SMS, MMS kepada banyak penerima.

(23)

Yang dimaksud dengan mentransmisikan adalah mengirimkan atau

meneruskan informasi atau dokumen elektronik dari satu pihak atau

dari satu tempat kepada pihak atau tempat yang lain.

3) Membuat dapat diaksesnya

Yang dimaksud dengan membuat dapat diaksesnya memiliki makna

membuat inforasi atau dokumen elektronik dapat diakses oleh orang

lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat

dilakukan dengan memberikan suatu tautan atau referensi (link) yang dapat digunakan oleh pengguna internet untuk mengakses lokasi atau

dokumen, memberikan kode akses (password) sehingga para pelaku perjudian online dapat mudah menemukan tautan-tautan yang berkaitan

dengan perjudian secara online dengan mudah dan cepat.

4) Informasi atau dokumen elektronik

Pasal 1 UU ITE memberikan defenisi Informasi Elektronik sebagai

berikut:

“Satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”

Sedangkan pengertian dokumen elektronik menurut Pasal 1 UU ITE

adalah:

(24)

memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”

Esensi perbedaannya antara informasi dan dokumen elektronik adalah

bahwa informasi elektronik pada dasarnya adalah konten, sedangkan

dokumen elektronik merupakan media dari konten itu sendiri sesuai

dengan bentuk di atas yaitu analog, digital, elektromagnetik, atau

optical.

5) Muatan perjudian

Unsur yg terakhir adalah adanya muatan perjudian. Secara sederhana,

yang dimaksud dengan adanya muatan perjudian adalah di dalam

website perjudian terdapat bursa taruhan yang dibangun oleh seseorang. Akan tetapi, jika mengacu pada unsur perjudian maka yang dimaksud

dengan muatan perjudian tidak hanya sekedar website dan bursa taruhan yang ada di dalam website, akan tetapi harus ada bagian penting lainnya yaitu harus adanya yang memasang taruhan dan adanya hasil dari

taruhan tersebut, baik menang atau kalah.

3. Ketentuan Tindak Pidana Judi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian

Maraknya praktek perjudian di masa lalu telah menyadarkan pemerintah

bahwa perlu adanya suatu peraturan-peraturan yang jelas dan upaya

penanggulangan kejahatan perjudian tidak hanya cukup dituangkan di dalam

undang-undang saja melainkan juga harus diikuti dengan adanya

peraturan-peraturan lainnya yang mendukung pemberantasan tindak pidana perjudian.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan

(25)

pemerintah dengan pertimbangan bahwa dalam pelaksanaan Undang-undang

Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, dirasa perlu untuk melarang

pemberian izin penyelenggaran perjudian. Hal ini dapat dilakukan dengan

penghapusan segala jenis dan bentuk perjudian yang pada prakteknya terjadi di

seluruh wilayah Indonesia.

Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan

Penertiban Perjudian berbunyi sebagai berikut:

a. Pemberian izin penyelenggaraan segala bentuk dan jenis perjudian dilarang, baik yang diselenggarakan di kasino, di tempat-tempat keramaian, maupun yang dikaitkan dengan alasan-alasan yang lain.

b. Izin penyelenggaran perjudian yang sudah diberikan, dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Maret 1981.

Dalam Pasal 1 di atas dinyatakan dengan jelas bahwa segala izin terhadap

penyelenggaran perjudian semenjak peraturan pemerintah tersebut dikeluarkan

telah dilarang walau dengan alasan apapun. Pada ayat (2) juga ditegaskan bahwa

setiap izin yang telah dikeluarkan sebelumnya atas penyelenggaraan perjudian

dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama

pemberantasan perjudian hingga dihapuskan sama sekali dari wilayah Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Peraturan Pemerintah ini, selain mengatur tentang tidak berlakunya

lagi izin yang telah diberikan atas penyelenggaran perjudian serta dilarangnya

pemberian izin terhadap pelaksanaan perjudian dengan alasan apapun, juga

menegaskan bahwa segala jenis peraturan yang bertentangan dengan peraturan

pemerintah ini dinyatakan tidak berlaku sebagaimana tertuang dalam Pasal 2

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban

(26)

Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang

Pelaksanaan Penertiban Perjudian disebutkan bahwa pelarangan adanya izin

terhadap pelaksanaan perjudian adalah terhadap segala jenis dan bentuk perjudian.

Jenis dan bentuk yang dimaksud di dalam pasal tersebut terdapat dalam penjelasan

peraturan pemerintah tersebut, diterangkan bahwa bentuk dan jenis perjudian yang

dimaksud di dalam Pasal 1 tersebut adalah sebagai berikut62

a. Perjudian di kasino, antara lain: Roulette, Blackjack, Baccarat, Creps, Keno, Tombola, Super ping-pong, Lotto fair, Satan, Paykyu, Slot machine (Jackpot), Ji Sie Kie, Big Six Wheel, Chuc a Luck, Lempar paser/bulu ayam pada paser atau sasaran yang berputar, Pachinko, Poker, Twenty one, Hwa-hwe, dan kiu-kiu.

:

b. Perjudian di tempat-tempat keramaian, antara lain terdiri atas: Lempar paser/bulu ayam pada sasaran yang tidak bergerak, lempar gelang, lempar koin, kim, pancingan, menembak sasaran yang tidak berputar, lempar bola, adu ayam, adu sapi, adu kerbau, adu domba/kambing, pacu kuda, karapan sapi, pacu anjing, hailai, mayong/macak dan erek-erek.

c. Perjudian yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain misalnya kebiasaan antara lain: adu ayam, adu sapi, adu kerbau, karapan sapi, pacu kuda, adu domba/kambing.

Namun, dalam Peraturan Pemerintah ini juga masih terdapat adanya

sedikit celah yaitu jika jenis perjudian yang dijelaskan pada bagian (c) di atas

merupakan kebiasaan dalam upacara keagamaan maka jenis-jenis kegiatan di atas

dapat dilakukan. Akan tetapi di dalam Peraturan Pemerintah ini juga telah

dicantumkan suatu langkah preventif yakni bahwa peraturan ini tetap akan berlaku

terhadap setiap jenis dan bentuk perjudian yang mungkin akan muncul di masa

mendatang sehingga akan mencegah berkembangnya jenis dan bentuk permainan

baru yang bisa saja mencari celah untuk melaksanakan permainan judi.

62

Referensi

Dokumen terkait

Pada sistem peradilan pidana di tahapan penegakan hukum, para penegak hukum dalam konteks ini yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili suatu perkara

Sementara seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya telah ada undang- undang yang lebih khusus mengatur mengenai tindak pidana perjudian online ini, yakni yang telah diatur

Sehingga menurut penulis perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa adalah perbuatan yang salah dan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga

Sementara seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya telah ada undang- undang yang lebih khusus mengatur mengenai tindak pidana perjudian online ini, yakni yang telah diatur

Bentuk pertama suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi menurut hukum nasional (Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah

Tindak pidana perdagangan orang yang dilakukan oleh korporasi, yaitu dalam Undang-undang No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, penentuan

Tindak pidana perdagangan orang yang dilakukan oleh korporasi, yaitu dalam Undang-undang No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, penentuan

belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) 7 Perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang.. dan diancam pidana, asal