BAB III
TINJAUAN KHUSUS RSUP H. Adam Malik
3.1 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes Nomor 335/Menkes/SK/VII/1990 yang berlokasi di Jl. Bunga Lau No. 17 Medan Tuntungan Kota Medan Propinsi Sumatera Utara. RSUP H. Adam Malik ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes Nomor 502/Menkes/SK/IX/1991. RSUP H. Adam Malik juga sebagai Pusat Rujukan wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau.
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik mulai berfungsi sejak tanggal 17 Juni 1991 dengan pelayanan Rawat Jalan sedangkan untuk pelayanan Rawat Inap baru dimulai tanggal 2 Mei 1992. Pada tanggal 11 Januari 1993 secara resmi Pusat Pendidikan Fakultas Kedokteran USU Medan dipindahkan ke RSUP H. Adam Malik sebagai tanda dimulainya Soft Opening. Kemudian diresmikan oleh Bapak Presiden RI pada tanggal 21 Juli 1993.
3.1.1 Visi dan Misi RSUP H. Adam Malik
Visi RSUP H. Adam Malik Medan adalah menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan, pendidikan dan penelitian yang unggul dan mandiri di Sumatera pada tahun 2015.
Misi RSUP. H. Adam Malik adalah
b. melaksanakan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan yang profesional, menghasilkan sumber daya manusia yang profesional di bidang kesehatan.
c. melaksanakan kegiatan pelayanan dengan prinsip efektif, efisien, akuntabel dan mandiri
3.1.2 Tugas dan Fungsi RSUP H. Adam Malik
Berdasarkan Permenkes RI No. 244/Menkes/PER/III/2008 pasal 2 dan 3, RSUP H Adam Malik Medan mempunyai tugas menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan secara paripurna, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya peningkatan kesehatan lainnya serta melaksanakan upaya rujukan.
Dalam melaksanakan tugasnya, RSUP H. Adam Malik Medan memiliki fungsi antara lain:
a. menyelenggarakan pelayanan medis
b. menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan c. menyelenggarakan penunjang medis dan non medis d. menyelenggarakan pengelolaan sumber daya manusia
e. menyelenggarakan pendidikan kedokteran dan kedokteran berkelanjutan serta penelitian secara terpadu
f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan lainnya g. menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
h. menyelenggarakan pelayanan rujukan
3.1.3 Falsafah dan Motto RSUP H. Adam Malik
Falsafah RSUP H. Adam Malik Medan adalah memberikan pelayanan
kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat secara profesional, efisien dan efektif sesuai standar pelayanan yang bermutu, dan motto RSUP H. Adam Malik Medan adalah mengutamakan keselamatan pasien dengan pelayanan
P : Pelayanan cepat A : Akurat
T : Terjangkau E : Efisien N : Nyaman.
3.1.4 Struktur Organisasi RSUP H. Adam Malik
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 244/MENKES/PER/III/2008 pasal 4 tentang organisasi dan tata kerja RSUP H. Adam Malik Medan, susunan Organisasi RSUP H. Adam Malik Medan terdiri dari:
a. Direktur Utama
b. Direktorat Medik dan Keperawatan
c. Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan d. Direktorat Keuangan
e. Direktorat Umum dan Operasional f. Unit-Unit Non Struktural
1. Direktur Utama
Direktur utama Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan, membina pelaksanaan, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Direktorat Medik dan Keperawatan
Direktorat medik dan keperawatan dipimpin oleh seorang direktur yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada direktur utama. Direktorat medik dan keperawatan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang. Pelayanan keperawatan dilakukan pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap terpadu (Rindu) A, instalasi rindu B, instalasi gawat darurat (IGD), instalasi perawatan intensif, dan instalasi bedah pusat.
Guna menyelenggarakan tugas tersebut, direktorat medik dan keperawatan menyelenggarakan fungsi
1. Penyusunan rencana pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang 2. Koordinasi pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang.
3. Pengendalian, pengawasan dan evaluasi pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang
3 Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan
Direktorat sumber daya manusia dan pendidikan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaansumber daya manusia serta pendidikan dan penelitian, dengan cara menyelenggarakan fungsi:
b. Koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia
c. Koordinasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan
d. Pengendalian, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan
4. Direktorat Keuangan
Direktorat keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan anggaran, pengelolaan pembendaharaan, mobilisasi dana, akuntansi, dan verifikasi, untuk melaksanakan tugas tersebut direktorat keuangan menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan rencana program dan anggaran
b. Koordinasi dan pelaksanaan urusan perbendaharaan dan mobilisasi dana, serta akuntansi dan verifikasi
c. Pengendalian, pengawasan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan program dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana, serta akuntansi dan verifikasi
5. Direktorat Umum dan Operasional
Direktorat umum dan operasional mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan data dan informasi, hukum, organisasi dan hubungan masyarakat serta administrasi umum. Fungsi dari direktorat umum dan operasional adalah:
a. Menyelenggarakan pengelolaan data dan informasi
c. Menyelenggarakan pelaksanaan urusan administrasi umum Direktorat umum dan operasional terdiri dari:
1. Bagian data dan informasi
2. Bagian hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat 3. Bagian umum
4. Instalasi
5. Kelompok jabatan fungsional
Instalasi sebagai pelayanan non struktural dibentuk di lingkungan direktorat umum dan operasional yang terdiri dari instalasi farmasi, instalasi gizi, instalasi rekam medik, instalasi laundry, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit (IPSRS), instalasi sterilisasi pusat, instalasi kesehatan lingkungan, instalasi bank darah, instalasi gas medik, instalasi sistem informasi rumah sakit (SIRS), dan instalasi kedokteran forensik dan pemulasaran jenazah.
6. Unit-unit Non Struktural
Unit-unit non struktural RSUP H. Adam Malik terdiri dari dewan pengawas, komite, satuan pemeriksaan intern, dan instalasi.
a. Dewan Pengawas
Pembentukan tugas, fungsi, tata kerja dan keanggotaan dewan pengawas ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b. Komite
dalam hal menyusun standar pelayanan medis, pengawasan dan pengendalian mutu pengawasan medis, hak klinis khusus kepada staf medis fungsional (SMF), program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
Komite etik dan hukum mempunyai tugas memberikan pertimbangan kepada direktur utama dalam hal menyusun dan merumuskan medicoetikolegal dan etik pelayanan rumah sakit, penyelesaian masalah etik kedokteran, etik rumah sakit serta penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik pelayanan rumah sakit, pemeliharaan etika penyelenggaraan fungsi rumah sakit, kebijakan yang terkait dengan
hospital bylaws serta medical staff bylaws, gugus tugas bantuan hukum
dalam penanganan masalah hukum di rumah sakit. c. Satuan Pemeriksaan Intern (SPI)
SPI adalah satuan kerja fungsional yang bertugas melaksanakan pemeriksaan intern rumah sakit. Satuan Pemeriksaan intern berada di bawah dan bertanggung jawab kepada direktur utama.
d. Instalasi
3.2 Panitia Farmasi dan Terapi
Panitia farmasi dan Terapi di RSUP.H. Adam Malik Medan dipimpin oleh dokter dan apoteker. Angggota-anggotanya terdiri dari dokter-dokter spesialis dan apoteker.
3.2.1 Tugas dan Fungsi Panitia Farmasi dan Terapi
Tugas Pantia Farmasi dan terapi didalam pengendalian resistensi antibiotik adalah :
1. Menyusun pedoman penggunaan antibiotic yang dibuat berdasarkan
Evidence Base Medicine (EBM), hasil pola mikroba dan kesepakatan
bersama dari semua pihak yang terlibat dalam menderita penyakit infeksi. 2. Melaksanakan perawatan pasien bersama diruang perawatan antara klinisi,
spesialis mikrobiologi klinik, spasialis patologi klinik, farmasis dan perawat yang berhubungan dengan penggunaan antibiotik dan berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi klinik
3. Melaksanakan pemantauan penggunaan bersama dengan Tim Pengendalian Resistensi Antibiotik melakukan kegiatan drug use study dan audit penggunaan antibiotika.
4. Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan dalam rangka menyebarluaskan dan meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang prinsip- prinsip pengendalian resistensi antimikroba.
3.3 Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik
struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan peracikan, penyimpanan, penyediaan dan penyaluran obat-obatan dan bahan kimia, penyimpanan dan penyaluran alat kedokteran, alat perawatan dan alat kesehatan serta pelaksanaan sterilisasi.
3.3.1 Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik
Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik dipimpin oleh seorang apoteker yang berada dan bertanggungjawab langsung kepada direktur umum dan operasional. Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan perbekalan farmasi yang berupa pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai dimana harus dilakukan dengan sistem satu pintu. Instalasi farmasi adalah regulator bagi semua unit di lingkungan rumah sakit untuk pelayanan rawat jalan maupun rawat inap. Falsafah pelayanan farmasi menurut SK Menkes Nomor 1333/MenKes/SK/XII/1999 adalah pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan mempunyai fungsi:
a. Melaksanakan kegiatan tata usaha untuk menunjang kegiatan Instalasi Farmasi dan melaporkan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian.
c. Melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi di gudang Instalasi Farmasi dan memproduksi obat-obat sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.
d. Mendistribusikan perbekalan farmasi ke seluruh satuan kerja/Instalasi di lingkungan RSUP H. Adam Malik Medan untuk kebutuhan pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan instalasi-instalasi penunjang lainnya. e. Melaksanakan fungsi pelayanan farmasi klinis
f. Melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan di bidang farmasi. 3.3.2 Strukrur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik
Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik Medan dipimpin oleh seorang apoteker yang bertanggung jawab langsung kepada direktur umum dan operasional. Instalasi Farmasi RSUP H.Adam Malik mempunyai tugas membantu direktur umum dan operasional untuk menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di RSUP H. Adam Malik Medan.
A.Kepala Instalasi Farmasi
Kepala instalasi farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di RSUP H. Adam Malik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Wakil Kepala Instalasi Farmasi
Wakil kepala instalasi farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas membantu kepala instalasi farmasi untuk menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan
Ka. Pokja Farmasi Klinis Ka. Pokja
Apotek II Ka. Pokja
Apotek I Ka. Pokja
perbekalan Ka. Pokja
Perencanaan dan Evaluasi
Ka. Depo Farmasi Rindu A
Ka. Depo Farmasi Rindu B
Ka. Depo Farmasi IATI
Ka. Depo Farmasi IGD
Ka. Depo Farmasi IBP Ka. Instalasi Farmasi
Wa.Ka Instalasi Farmasi
Ka. tata usaha Direktur Umum dan Operasional
kefarmasian di RSUP H. Adam Malik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menggantikan tugas kepala instalasi farmasi apabila kepala instalasi farmasi berhalangan hadir.
C. Tata Usaha Farmasi
Tata usaha farmasi bertanggung jawab langsung kepada kepala instalasi farmasi yang mempunyai tugas membantu kepala instalasi farmasi dalam hal mengkoordinasikan kegiatan ketatausahaan, pelaporan, kerumahtanggaan, mengarsipkan surat masuk dan keluar, serta urusan kepegawaian kepala instalasi farmasi.
D. Kelompok Kerja
1. Pokja Perencanaan dan Evaluasi
Pokja perencanaan dan evaluasi sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta melaksanakan melaksanakan perencanaan bertugas membantu Kepala Instalasi Farmasi dan pengadaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan Rumah Sakit, melakukan evaluasi laporan kegiatan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik dan melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi.
2. Pokja Perbekalan
3. Pokja Apotek I
Pokja apotek I sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi Farmasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan terhadap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian stok perbekalan farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi pasien Askes dan pasien umum serta melaksanakan SIMRS instalasi farmasi. 4. Pokja Apotek II
Pokja apotek II sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan terhadap perencanaan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian stok perbekalan farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi untuk pasien Jamkesmas rawat jalan, pasien Askes rawat inap dan pasien umum serta melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi.
5. Pokja Farmasi Klinis
Pokja farmasi klinis sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi Farmasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan pelayanan Farmasi Klinis secara profesional.
6. Pokja IGD
SIMRS Instalasi Farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi untuk pasien IGD.
7. Depo Farmasi Rindu A
Depo farmasi Rindu A sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan terhadap perencanaan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian stok perbekalan farmasi serta melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap terpadu A.
8. Depo Farmasi Rindu B
Depo farmasi Rindu B sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan terhadap perencanaan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian stok perbekalan farmasi serta melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap terpadu B.
9. Depo Farmasi Anestesi dan Terapi Intensif
10. Depo Farmasi Instalasi Bedah Pusat
Depo farmasi Instalasi Bedah Pusat sebagai salah satu unsur pelaksana utama Kepala Instalasi Farmasi, bertugas membantu Kepala Instalasi untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan terhadap perencanaan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengendalian stok perbekalan farmasi serta melaksanakan SIMRS Instalasi Farmasi terhadap kebutuhan perbekalan farmasi untuk pasien Bedah Pusat.
3.3.3 Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Pengelolaan Perbekalan Farmasi adalah suatu siklus kegiatan yang dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
3.3.3.1 Perencanaan
Perencanaan perbekalan farmasi di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan obat. Perencanaan ini menggunakan metode kombinasi konsumsi dan epidemiologi serta menetapkan prioritas dengan mempertimbangkan sisa persediaan, data pemakaian periode sebelumnya serta siklus penyakit dan rencana pengembangan.
3.3.3.2 Pengadaan
pembelian secara langsung untuk perbekalan farmasi sampai dengan nilai 200 juta dari distributor/PBF/rekanan yang bersifat distributor utama serta melakukan negosiasi atas dasar kualitas, jaminan ketersediaan, pelayanan purna jual dan harga yang wajar/murah, sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
3.3.3.3 Produksi
Produksi perbekalan farmasi dilaksanakan oleh kelompok kerja perbekalan. Produksi obat-obatan yang dilaksanakan adalah :
1. Sediaan farmasi yang mempunyai konsentrasi khusus dan tidak tersedia di pasaran.
2. Sediaan farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan. 3. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil.
Sarana dan fasilitas produksi harus menjamin mutu produksi yang dihasilkan. Fasilits pengemas yang menjamin mutu dan keamanan pengguna antara lain : wadah, pembungkus, etiket dan label.
3.3.3.4 Penerimaan
Penerimaan perbekalan farmasi dilaksanakan oleh panitia penerima, bendaharawan barang, kepala instalasi farmasi, kepala pokja/depo farmasi dan kepala instalasi user (SMF).Didalam panitia penerima harus terlibat tenaga apoteker.
farmasi yang berbahaya bagi kesehatan harus melampirkan lembar data pengamanan (LDP) atau MSDS (material safety data sheet).
Setelah penerimaan barang kontrak/SPK selesai dibuat berita acara penerimaan oleh panitia penerima. Penerimaan oleh Pokja atau depo farmasi di instalasi farmasi dan Instalasi User (SMF) harus sesuai dengan bukti permintaan dan bukti penyerahan perbekalan farmasi. Setiap penerimaan perbekalan farmasi harus di entry ke komputer SIRS.
3.3.3.5 Penyimpanan
Pokja perbekalan bertanggung jawab atas penyimpanan perbekalan farmasi di gudang dan melaksanakan pengendalian serta menentukan buffer stock perbekalan farmasi. Pokja instalasi farmasi, Depo Farmasi dan instalasi user (SMF) bertanggung jawab atas penyimpanan perbekalan farmasi di unit kerja masing-masing dan melaksanakan pengendalian serta menentukan buffer stock perbekalan farmasi.
Penyimpanan perbekalan farmasi dipisahkan berdasarkan penyedia : Askes, Jamkesmas, Umum dan Floor Stock. Ruang penyimpanan di gudang farmasi harus memenuhi syarat penyimpanan perbekalan farmasi. Penyimpanan perbekalan farmasi disusun sesuai dengan suhu dan kestabilannya. Penyimpanan untuk obat/bahan berbahaya termasuk high alert diberi label atau penandaan khusus bahan berbahaya, terpisah dari obat/perbekalan farmasi lainnya.
3.3.3.6 Pendistribusian
Pendistribusian perbekalan farmasi dilaksanakan instalasi farmasi dengan menggunakan sistem :
a. Floor Stock
b. Resep perseorangan/Kartu Obat Pasien
c. One Day Dose Dispensing (ODDD)/ One Unit Dose Dispensing (OUDD).
3.4Pelayanan Kefarmasian
Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan langsung yang diberikan apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcame terapi dan meminalkan resiko terjadinya efek samping obat.
Pelayanan kefarmasian di RSUP H. Adam Malik meliputi: 3.4.1 Pengkajian pelayanan resep
Kegiatan pengkajian resep meliputi seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasi dan persyaratan klinis. Persyaratan administrasi telah dilengkapi, tetapi untuk persyaratan farmasi seperti bentuk dan kekuatan sediaan masih belum semuanya dituliskan dengan benar oleh dokter
3.4.2 Visite
3.4.2.1 Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat dapat dilakukan dengan mengumpulkan informasi terapi obat pasien dari rekam medik pasien
3.4.2.2 Pelayanan informasi obat/konseling/edukasi
Rumah Sakit Umum H. Adam Malik memiliki suatu unit Pusat Informasi Obat yang memberikan informasi obat yang benar bagi pasien dan keluarga pasien dalam menggunakan obat yang benar. Informasi tentang penggunaan obat tersebut diberikan oleh apoteker yang bertugas di Pusat Informasi Obat setiap hari, sehingga pasien dan keluarga pasien dapat memahami penggunaan obat yang benar dan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani proses penyembuhan penyakit.
Kegiatan yang dilakukan didalam pelayanan informasi obat adalah : 1. Menjawab pertanya
2. Menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter
3. Menyediakan informasi bagi Komite/Sub Komite Framasi dan Terapi sehubungan dengan penyusunan Formularium Rumah Sakit.
4. Bersama dengan PKMRS melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap
5. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.
6. Melakukan penelitian
Konseling yang dilakukan adalah:
2. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah penggunaan obat
3. Mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui Three Prime Questions
4. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberikan kesempatan kepada pasien untuk meneksplorasi masalah penggunaan obat.
5. Dokumentasi .
Pasien yang harus dikonseling adalah :
• Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi dan ginjal, ibu hamil dan menyusui
• Pasien dengan terapi jangka panjang/ penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dll).
• Pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus (penggunaan kortisteroid dengan tapping down loff )
• Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, phenytoin).
• Pasien yang menggunakan banyak obat (polifarmasi). • Pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah. 3.4.2.3 Monitoring Efek Samping Obat
Kegiatan pencatatan dan pelaporan MESO sudah dilakukan di Pokja farmasi klinis. Formulir MESO telah disediakan oleh Pokja farmasi klinis dan pelaporan dilakukan dengan sukarela.
apabila sudah jelas merupakan efek samping obat maka harus dicatat di formulir MESO yang kemudian dikoordinasi oleh Komite Farmasi dan Terapi untuk di kirimkan ke pusat pelaporan dengan alamat yang sudah tertera pada formulir tersebut.
3.4.2.4 Evaluasi Penggunaan Obat
Evaluasi penggunaan obat dilakukan secara kualitatif menggunakan algoritma Gyssen yang merupakan reckup penggunaan obat.
3.4.2.5 Pemantauan Terapi Obat dan Medication Erorr
Pemantauan terapi obat dapat dilakukan dengan menelusuri latar belakang pasien melalui wawancara dengan pasien itu sendiri ataupun keluarganya serta data dari rekam medis. Setiap terdapat kejadian medication error maka didokumentasikan didalam lembaran medication error.
3.4.3 Dispensing sediaan khusus (cytotoxic)
1. Dokter menulis resep dan diserahkan ke perawat diruang perawatan 2. Perawat mengantarkan resep ke depo
3. Depo menyiapkan obat dan diserahkan kepada perawat diruang perawatan 4. Perawat di ruang perawatan mengantar obat ke perawat di ruang
kemoterapi terpadu lantai 3 dicek ketepatan obat & dosisnya.
5. Perawat diruang kemoterapi terpadu lantai 3 menyerahkan obat ke ruang pencampuran dan kemudian dicek protokol dan obat yang diberikan
6. Rekonstruksi dilakukan di ruangan pencampuran oleh apoteker
7. Obat yang selesai di rekonstruksi dikemas dalam wadah plastik sesuai nama pasien
8. Wadah plastik yang sudah berisi obat di antar ke ruang kemoterapi terpadu lantai 3 untuk diberikan ke pasien
3.5Instalasi Central Sterilized Suplay Departement (CSSD)
Gambar 3. Struktur Organisasi Instalasi CSSD RSUP H. Adam Malik
Kepala instalasi mempunyai tugas menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan dalam perencanaan dan pemenuhan kebutuhan CSSD, menyelenggarakan sterilisasi dan pelayanan kepada unit-unit lain yang membutuhkan perlengkapan steril, menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dalam bidang sterilisasi.
Wakil kepala instalasi membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan serta mengawasi seluruh kegiatan di Instalasi CSSD.
Tata Usaha bertugas membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh ketatausahaan dan kerumahtanggaan di CSSD.Dalam menunjang tugas dan fungsi CSSD, dibentuk 3 pokja yaitu:
a. Pokja Penyediaan
Pokja penyediaan bertugas untuk membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan penyediaan dan penerimaan kebutuhan steril di CSSD.
Ka. Instalasi CSSD Wa. Ka. Instalasi CSSD
Tata Usaha
b. Pokja Pencucian dan Sterilisasi
Pokja pencucian dan sterilisasi bertugas untuk membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan pencucian dan sterilisasi kebutuhan di CSSD mulai dari pembilasan atau pencucian, pengeringan, pengemasan paket, sterilisasi dan penyimpanan.
c. Pokja Distribusi
Pokja distribusi bertugas untuk membantu kepala instalasi dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan pendistribusian kebutuhan steril untuk unit IGD, IBP, IPI, Poliklinik, Rindu A dan Rindu B.
Tujuan dari instalasi CSSD adalah :
1. Membantu unit lain di rumah sakit yang membutuhkan kondisi steril untuk mencegah terjadinya infeksi.
2. Menurunkan angka kejadian infeksi dan membantu mencegah serta menanggulangi infeksi nosokomial.
3. Efisiensi tenaga medis/paramedis untuk kegiatan yang berorientasi pada pelayanan terhadap pasien.
4. Menyediakan dan menjamin kualitas hasil sterilisasi terhadap produk yang dihasilkan.
Prosedur sterilisasi di central sterilize supply departement meliputi instrumen, linen, dan AKHP.
Prosedur sterilisasi di CSSD:
a. Peralatan direndam beberapa menit dalam larutan tablet germisep untuk menetralkan mikroba yang ada pada peralatan.
c. Peralatan kemudian dicuci secara enzimatis sebanyak 10 mL selama 10 menit.
d. Peralatan kemudian dibersihkan dengan air mengalir. e. Peralatan dikeringkan.
f. Peralatan diset dan dibungkus dengan kain linen dan ditambahkan surgey milk concentrat untuk menghindari karat didalamnya.
g. Peralatan dibungkus sekali lagi dengan kain yang berlapis dua, untuk menghindari kontaminasi.
h. Peralatan kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 132˚C selama 15 menit dan dikontrol menggunakan indikator 3 M.
i. Peralatan yang telah disterilisasi kemudian disimpan dalam ruang steril sebelum didistribusikan ke ruangan yang membutuhkan.
j. Peralatan kemudian didistribusikan ke ruangan CMU melalui lift abu-abu.
3.6Pokja Perbekalan
3.6.1 Tugas dan Fungsi Pokja Perbekalan
3.6.2 Sumber Daya Manusia
Pokja perbekalan dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik. Kepala pokja perbekalan dibantu oleh dua belas orang tenaga kerja yang diberi tanggung jawab untuk setiap ruangan, yaitu ruang administrasi, ruangan produksi, gudang askes, gudang umum, gudang floorstock, gudang floorstock
cathlab jantung/bedah jantung, gudang bahan berbahaya dan mudah terbakar, dan
ruang pengklaiman
3.6.3 Sarana dan Prasarana
Pokja perbekalan memiliki 9 ruangan yang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan perbekalan farmasi, yaitu:
1. Ruang produksi
3. Gudang jamkesmas
Gudang perbekalan jamkesmas terdapat satu orang petugas yang membantu Kepala Pokja Perbekalan untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta bertanggung jawab terhadap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi jamkesmas dan menyelenggarakan administrasi dengan baik. Didalam gudang jamkesmas terdapat lemari pendingin I, lemari pendingin II, lemari psikotropika, lemari narkotika, rak I yang berisi tablet dan kapsul, rak II berisi tablet, tetes mata, salep kulit, sirp dan suppositora, rak III berisi injeksi, rak IV berisi larutan cair/infus, rak V terdapat high alert, rak VI terdapat obat sitostatika. Suhu dalam ruangan 22 C.
4. Gudang askes
Gudang perbekalan askes terdapat dua orang petugas yang membantu Kepala Pokja Perbekalan untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta bertanggung jawab terhadap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi Askes dan menyelenggarakan administrasi dengan baik. Didalam gudang askes terdapat lemari pendingin 3 buah, lemari psikotropika, lemari narkotika, rak dan laci yang berisi tablet, rak obat tetes, rak krim, lemari injeksi. Suhu dalam ruangan 22,4 C.
5. Gudang umum
6. Gudang floorstock
Gudang perbekalan floorstock terdapat tiga orang petugas administrasi floorstock rutin yang membantu Kepala Pokja Perbekalan untuk melaksanakan penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian perbekalan farmasi floorstock rutin.. Didalam gudang floorstock terdapat besi rak cairan repacking dan rak-rak berisi alat kesehatan, lemari pendingin, lemari psikotropika, dan lemari narkotika. Suhu dalam ruangan 21,7 C.
7. Gudang floorstock Cathlab jantung/bedah jantung
Gudang floorstock cathlab jantung/bedah jantung terdapat petugas membantu Kepala Pokja Perbekalan untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta bertanggung jawab terhadap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk operasi jantung & catheterisasi dan menyelenggarakan administrasi dengan baik.
Di dalam gudang terdapat floorstock Cathlab jantung/bedah jantung terdapat alat-alat untuk bedah jantung, terdapat juga obat-obatan bantuan Dinas Kesehatan untuk penyakit TBC dan HIV. Suhu dalam ruangan 22 C
8. Ruang administrasi
Ruangan adminstrasi ini terdapat petugas administrasi bertugas membantu Kepala Pokja Perbekalan untuk menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta bertanggung jawab terhadap administrasi berkas penagihan dari suplayer.
9. Ruang pengklaiman
gudang. Penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan dengan menggunakan prinsip
First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO).
3.6.4 Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Menurut Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004, fungsi pelayanan farmasi rumah sakit sebagai pengelola perbekalan farmasi dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, produksi, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, administrasi dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
3.6.4.1 Perencanaan
Menurut Kepmenkes RI No.1121/Menkes/SK/XII/2008, dalam
merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan perhitungan secara tepat.
Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode
konsumsi dan atau metode morbiditas.
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data
konsumsi obat tahun sebelumnya. Metode morbiditas adalah perhitungan
kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
adalah perkembangan pola penyakit, waktu tunggu, dan stok pengaman.
Pedoman perencanaan berdasarkan DOEN, formularium rumah sakit, standar terapi rumah sakit, ketentuan setempat yang berlaku, data catatan medik, anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaan,data pemakaian periode yang lalu, dan rencana pengembangan.
3.6.4.2 Pengadaan
Pengadaan perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik merupakan
serta dilaksanakan pada jam kerja. di pokja apotek I yaitu dengan melakukan
pengamprahan ke bagian perbekalan di Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik.
1. Melaksanakan pembelian secara langsung untuk perbakalan farmasi
sampai dengan nilai Rp 200.000.000 dari distributor atau pedagang besar
farmasi/rekanan yang bersifat keagenan (distributor utama)
2. Melakukan negosiasi atas dasar kualitas, jaminan ketersediaan, pelayanan
purna jual dan harga yang wajar/murah, sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan.
3. Membuat KSO yang spesifik sesuai hasil negosiasi untuk alat medis habis
pakai
4. Memeriksa ulang surat pesanan yang dibuat dengan memastikan
kesesuaian antara surat pesanan, spesifikasi barang dan dokumen
pendukung yang menyertai.
5. Membantu pelaksanaaan pembayaran sesuai waktu yang telah disepakati
6. Memonitor dan mengevaluasi pemasok/suplier dan memilih yang
terpercaya
3.6.4.3 Produksi
Produksi perbekalan farmasi dilaksanakan oleh kelompok kerja
perbekalan.
Produksi obat-abatan yang dilaksanakan adalah :
a. Sediaan farmasi yang mempunyai konsentrasi khusus yang tidak tersedia di
pasaran
b. Sediaan farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan
Sarana dan fasilitas produksi harus menjamin mutu produksi yang
dihasilkan misalnya : formula standar rumah sakit, timbangan ditara, pemanas,
wadah.
1. Fasilitas pengemas yang menjamin mutu dan keamanan penggunaan antara
lain :
a. Wadah
Botol berwarna putih untuk sediaan cair yang stabil terhadap cahaya.
Botol berwarna cokelat untuk sediaan cair yang tidak stabil terhadap
cahaya
Pot plastik yang tertutup rapat untuk sediaan, zat dan lain-lain
b. Pembungkus
Kertas perkamen bersih dan kering
c. Etiket
Berwarna putih untuk obat dalam
Berwarna biru untu obat luar
d. Label
Kocokdahulu untuk sediaan cair
3.6.4.4 Penerimaan
Penerimaan perbekalan farmasi dilaksanakan oleh Panitia penerima,
bendaharawan barang, Kepala instalasi farmasi, Kepala Pokja/Depo farmasi,
Kepala instalasi User/SMF. Didalam panitia penerima harus terlibat tenaga
apoteker.
Penerimaan perbekalan farmasi harus sesuai dengan : SPK/kontrak, surat
farmasi/reagensia harus melampirkan sertifikat analisis dengan expire date
minimal dua tahun. Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai
sertifikat of origin. Penerimaan perbekalan farmasi yang berbahaya bagi
kesehatan harus melampirkan lembar data pengamanan (LDP) atau MSDS
(material safety data sheet).
Setelah penerimaan barang kontrak/SPK selesai dibuat berita acara
penerimaan oleh panitia penerima. Penerimaan oleh kelompok kerja, depo farmasi
di instalasi farmasi dan instalasi user/SMF harus sesuai dengan bukti permintaan
dan bukti penyerahan perbekalan farmasi. Setiap penerimaan perbekalan farmasi
harus di entry ke komputer SIRS/SIMAK-BMN.
3.6.4.5 Penyimpanan
Pokja perbekalan bertanggung jawab atas penyimpanan perbekalan
farmasi di gudang dan melaksanakan pengendalian serta menentukan buffer stock
perbekalan farmasi. Pokja di instalasi farmasi, depo farmasi dan instalasi
user/SMF, bertanggung jawab atas penyimpanan perbekalan farmasi di unit kerja
masing-masing dan melaksanakan pengendalian serta menentukan buffer stock
perbekalan farmasi.
Penyimpanan perbekalan farmasi dipisahkan berdasarkan penyedia yaitu
askes, jamkesmas, umum dan floor stock. Berdasarkan bentuk sediaan yaitu:
injeksi, infus, tablet, salep, sirup, suppositoria, nebule, cairan, serbuk. Jenis
perbekalan farmasi seperti: obat, bahan baku, AMHP, reagensia, radiofarmasi
farmasi disusun berdasarkan abjad serta sistem first in first out dan first expired
Ruang penyimpanan di gudang farmasi harus memenuhi syarat
penyimpanan perbekalan farmasi seperti : adanya AC, fentilasi, lemari pendingin,
lemari khusus. Adanya genset yang otomatis beroperasi pada saat mati listrik yang
dapat mengantisipasi suhu kulkas dan ruangan gudang/depo farmasi agar
temperatur/suhu ruang tetap terkontrol. Pada hari libur pencatatan temperatur
kulkas dan ruangan penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan oleh pelaksana
farmasi dengan securiti yang bertugas.
Penyimpanan perbekalan farmasi disusun sesuai dengan suhu dan
kestabilannya. Penyimpanan untuk obat/bahan berbahaya termasuk high allert
diberi label atau penandaan-penandaan khusus bahan berbahaya, terpisah dari
obat/perbekalan farmasi lainnya. Penyimpanan untuk larutan nutrisi dilakukan
pada suhu dibawah 250C dan terpisah dari obat yang lain. Untuk penyimpanan
obat look alike sound alike (LASA) diberi jarak antara satu dengan yang lainnya
dan diberi tanda/label LASA.
Melakukan stok opname secara berkala yaitu :
a) Setiap bulan untuk pokja dan depo farmasi.
b) Setiap tiga bulan untuk gudang farmasi dengan auditor internal yaitu:
satuan pemeriksa intern (SPI) dan akuntansi.
c) Setiap akhir tahun dengan auditor luar dan accounting untuk gudang
farmasi.
Perbekalan farmasi yang akan atau sudah expire date/rusak dipisahkan
3.6.4.6 Pendistribusian
Distribusi perbekalan farmasi dilaksanakan di instalasi farmasi dengan
menggunakan sistem :
a. Floorstock
b. Resep perorangan/kartu obat pasien.
c. One day dose dispensing (ODDD) atau one unit dose dispensing (OUDD)
Distribusi perbekalan farmasi yang masuk kedalam paket
pelayanan/tindakan yang dilaksanakan di instalasi-instalasi dilakukan dengan
sistem floor stok. Distribusi perbekalan farmasi untuk kebutuhan pasien rawat
inap dilakukan dengan sistem one day dose dispensing. Distribusi perbekalan
farmasi untuk kebutuhan pasien rawat jalan dilakukan dengan sistem resep
perseorangan. Distribusi perbekalan farmasi untuk pasien di IGD dilakukan
dengan sistem floorstock, resep perseorangan, dan one unit dose dispensing.
Distribusi perbekalan farmasi untuk ruang OK dilakukan dengan sistem floorstock
(paket) dan one unit dose dispensing. Distribusi perbekalan farmasi pada hari libur
panjang (lebih dari tiga hari) dari pokja perbekalan ke pokja/depo farmasi
dilaksanakan dengan sistim on call.
Pemberian obat kepada pasien berpedoman kepada formularium rumah
sakit, DPHO untuk pasien ASKES, formularium program jaminan kesehatan
masyarakat untuk pasien jamkesmas.
Penulisan resep/kartu obat dengan nama generik dan ditulis pada blanko
resep RSUP H. Adam Malik sesuai dengan ketentuan penulisan resep yang
lengkap. Penulisan/permintaan obat bermerek untuk pasien askes dan jamkesmas
sama dan kadar yang sama kalau obat tidak tersedia di instalasi farmasi tanpa
persetujuan dokter
Pada pelayanan obat pasien rawat jalan, resep yang dapat dilayani adalah
resep yang sudah memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Pemberian obat
maksimal untuk tiga hari kecuali antibiotik, obat antifungi dapat diberikan sesuai
dengan yang ditentukan lima hari dan kasus-kasus tertentu/penyakit kronis dapat
diberikan maksimal untuk pemakaian satu bulan. Jumlah/jenis obat setiap lembar
resep maksimal tiga macam.
Pelayanan obat pasien obat rawat inap dilakukan dengan sistem ODDD
dan pemberian obat pasien pulang diberi maksimum tiga hari.
Pada pelayanan obat emergensi, obat-obat emergensi disediakan oleh
instalasi farmasi di setiap ruangan rawat inap, instalasi gawat darurat dan kamar
operasi sesuai dengan jumlah dan obat yang ditentukan/disepakati, diperiksa stok
obat , dan expire date setiap bulannya. Petugas farmasi memeriksa/melengkapi
stok obat dalam trolley emergensi setiap pemakaian/bulan bersama dengan
perawat penanggung jawab trolley emergensi masing-masing unit pelayanan.
Pemakaian obat-obatan yang dibawa pasien dari luar rumah sakit tidak
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan pada saat pendiriannya sudah langsung ditetapkan sebagai rumah sakit umum kelas A dengan dikeluarkannya SK Menkes No 355/Menkes/SK/VII/1990. Berdasarkan UU RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Permenkes RI Nomor 340/Menkes/Per/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit, Rumah Sakit Umum kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 5 (lima) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 12 (duabelas) Pelayanan Medik Spesialis lain, 13 (tigabelas) Pelayanan Medik Sub Spesialis dan jumlah tempat tidur 400 (empat ratus).
4.2 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit menyatakan bahwa:
a. Ketua Panitia Farmasi dan Terapi dipilih dari dokter yang ada didalam kepanitiaan dan jika rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai ketua adalah dokter spesialis farmakologi, namun di RSUP H. Adam Malik sebagai ketua panitia farmasi dan terapi adalah dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal dan hipertensi.
b. Panitia Farmasi dan Terapi harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya dua bulan sekali dan untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat Panitia Farmasi dan Terapi dapat mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat membeikan masukan bagi pengelolaan Panitia Farmasi dan Terapi di RSUP H. Adam Malik belum diadakan sebulan sekali.
Berdasarkan Permenkes RI No. 085/Menkes/Per/I/1989 menyatakan bahwa rumah sakit umum kelas A diharuskan memiliki formularium yang harus selalu dimutakhirkan dan direvisi secara periodik dan ini merupakan tugas Panitia Farmasi dan Terapi. Revisi seharusnya dilakukan paling sedikit dua tahun sekali atau lebih jika diperlukan. Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik telah menerbitkan formularium pada tahun 2003, 2009, 2011. Revisi formulariumtahun 2003 ke 2009 terlalu lama. Evaluasi formularium tidak berjalan baik.
4.3 Instalasi Farmasi Rumah Sakit RSUP H. Adam Malik 4.3.1 Struktur Organisasi IFRS
Menurut KepMenKes Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang standar pelayanan farmasi di RS, struktur organisasi IFRS minimal terdiri dari bagian administasi farmasi, pengelolaan perbekalan farmasi, pelayanan farmasi klinik dan manajemen mutu. Pada struktur IFRS RSUP H. Adam Malik tidak terdapat pokja khusus yang menangani mutu.
Mutu pelayanan farmasi sangat berkaitan erat dengan keselamatan pasien (patient safety). Keselamatan pasien rumah sakit diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Di dalam indikator mutu akreditasi mutu 2012, indikator mutu instalasi farmasi diantaranya yaitu obat tidak boleh kosong, pelabelan LASA dan
high alert dan ini merupakan peranan dari manajemen mutu IFRS untuk
memastikan mutu IFRS, sehingga didalam struktur organisasi IFRS perlu terlihat jelas manajemen mutu tersendiri. Di struktur organisasi IFRS RSUP H. Adam Malik manajemen mutu dicantumkan dalam Pokja Perencanaan dan Evaluasi. 4.3.2 Pengelolaan Perbekalan Farmasi
4.3.2.1 Perencanaan
4.3.2.2 Pengadaan
Pengadaan perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik dilakukan dengan sistem tender, langsung dan hibah. Pembelian langsung dilakukan oleh IFRS dengan mengeluarkan surat pesanan (SP) ke distributor, perbekalan farmasi yang masuk diantar ke IFRS, untuk diterima, diperiksa, dan diteliti keadaannya, disesuaikan dengan surat pengantar barang (SPB) dan SP oleh pokja perbekalan, kemudian di-entry data perbekalan farmasi yang masuk ke SIRS. Pada pembelian langsung belum berpedoman pada obat yang kosong sehingga masih ditemukan obat yang kosong.
4.3.2.3 Produksi
Pembuatan/produksi perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik masih pada tahap pengenceran dan re-packing antara lain: pengenceran alkohol 96% menjadi alkohol 70 %, repacking alkohol 96%, isodin, H2O2 dan pembuatan
kloralhidrat.
4.3.2.4 Penyimpanan
Perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik disimpan sesuai dengan sifatnya (obat termolabil di lemari es); bentuk sediaan (oral, injeksi, infus, salep); bahan baku obat (mudah menguap/terbakar); obat narkotika dan psikotropik dalam lemari khusus dan terkunci, dan disusun secara alfabetis dengan sistem first
in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO).
bahan berbahaya/mudah terbakar. Ruang penyimpanan masih belum sesuai dengan standar penyimpanan karena masih ada obat yang bersentuhan langsung dengan lantai.
4.3.2.5 Pendistribusian
Pendistribusian dari gudang IFRS dilakukan sesuai dengan permintaan atau pengamprahan dari masing-masing depo farmasi atau apotek yang ada, tetapi masih terlihat adanya perbekalan farmasi yang tidak diberikan karena stock obat di gudang IFRS tidak ada.
4.4 Pelayanan Kefarmasian
a. Pengkajian dan Pelayanan Resep
b. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat dilakukan pada saat visite oleh farmasi klinis, namun kegiatan ini belum dilakukan kepada seluruh pasien di RSUP H. Adam Malik. Hal ini karena kurangnya tenaga apoteker untuk melaksanakan kegiatan ini. Menurut KepMenKes Republik Indonesia Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004, idealnya perbandingan antara apoteker dan pasien adalah 1 apoteker melayani 30 pasien. Dan dari hasil praktik di lapangan, visite pasien dibutuhkan waktu ± 10 menit.
c. Pelayanan lnformasi obat (PIO)
Seluruh kegiatan PIO telah dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik. Untuk pasien rawat inap, PIO dilakukan oleh depo farmasi, sedangkan untuk pasien rawat jalan, dilakukan oleh apotek I dan apotek II, dan juga dilaksanakan oleh seluruh pokja yang ada di IFRS. Salah satu kegiatan PIO yang telah dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik yaitu melalui penyuluhan. Penyuluhan dilaksanakan oleh farmasi klinis yang bekerja sama dengan PKMRS sebanyak empat kali dalam satu bulan, yaitu dua kali untuk pasien rawat inap dan dua kali untuk pasien rawat jalan. Kemudian setiap bulan laporan PIO direkap oleh koordianator PIO yang ada di pokja farmasi klinis.
d. Konseling
penggunaan obat belum dilaksanakan secara kontinu sehingga belum diperoleh informasi perkembangan pasien setelah intervensi pengunaan obat.
e. Visite
Visite dilakukan oleh apoteker dengan melihat terapi pengobatan pasien dari Catatan Perkembangan Terintegrasi (RM 14) dan mengisi Formulir Edukasi Multisiplin (RM 23) RSUP H. Adam Malik pada kolom farmasi. Apoteker mampu menjelaskan kepada pasien nama obat dan kegunaannya, aturan pemakaian dan dosis obat yang diberikan, efek samping dan kontraindikasi obat.
Kegiatan visite belum dilaksanakan secara optimal pada pasien rawat inap meskipun obat didistribusikan dengan sistem unit dose dispensing. Akan tetapi ketika apoteker melakukan visite tidak bersamaan dengan pemberian obat kepada pasien karena obat diberikan oleh perawat, sehingga menyulitkan untuk memberikan informasi tentang obat kepada pasien. Karena kegiatan visite yang tidak berkesinambungan dan tidak terjadwal mengakibatkan pasien masih belum terlalu mengenal peranan apoteker dan tidak menunggu bahwa apoteker akan datang untuk memberi informasi tentang obat.
f. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
g. Monitoring Efek samping Obat (MESO)
MESO bertujuan untuk memantau efek samping obat yang jarang dan berbahaya. Kegiatan monitoring efek samping obat di RSUP. H. Adam Malik dilakukan oleh farmasi klinis bersamaan dengan kegiatan visite. Agar MESO di RSUP. H. Adam Malik dapat terjangkau seluruhnya, maka farmasi klinis melatih kepala ruangan untuk memantau ESO di ruangan masing-masing. Bila tenaga kesehatan menemukan efek samping obat yang tidak lazim, maka dilaporkan ke pokja farmasi klinis, kemudian farmasi klinis akan mendiskusikan dengan dokter yang menangani pasien tersebut dan jika kasus yang didapat ternyata memang efek samping obat yang jarang dan berbahaya, maka informasi tersebut akan dituangkan dalam formulir kuning dan selanjutnya dikirimkan ke Pusat Meso Nasional.
4.5 Instalasi Central Sterilize Supply Department (CSSD)
Berdasarkan pengamatan, CSSD telah melaksanakan kegiatan: pencucian, pengeringan, pengemasan/paket, pemberian label, pemberian indikator, sterilisasi, penyimpanan dan pendistribusian ke unit-unit yang membutuhkan perlengkapan steril. CSSD juga melakukan sterilisasi ruangan dengan cara pengasapan (fogging) dan penyinaran dengan sinar UV dan sterilisasi dengan etilen oksida untuk alat yang tidak tahan panas.
Perlengkapan yang disterilkan di central sterilize supply departement meliputi instrumen, linen, dan AKHP.
Prosedur sterilisasi di central sterilize supply departement adalah:
b. Setelah direndam di dalam larutan tablet germisep, peralatan ditransfer dari CMU ke ruang CSSD melalaui lift biru.
c. Peralatan kemudian dicuci secara enzimatis sebanyak 10 ml selama 10 menit.
d. Peralatan kemudian dibersihkan dengan air mengalir e. Peralatan dikeringkan
f. Peralatan diset dan dibungkus dengan kain linen dan ditambahkan surgey milk konsentrat untuk menghindari karat ke dalamnya.
g. Dibungkus sekali lagi dengan kain yang berlapis dua, untuk menghindari kontaminasi.
h. Peralatan kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 132oC selama 15 menit dan dikontrol menggunakan indikator 3 M.
i. Peralatan yang telah disterilisasi kemudian disimpan dalam ruang steril sebelum didistribusikan ke ruangan yang membutuhkan
j. Peralatan kemudian didistribusikan keruangan CMU melalui lift abu-abu. Proses sterilisasi pada instalasi CSSD RSUP H. Adam Malik belum terlaksana dengan baik, karena ruang CSSD masih memiliki sudut dan lift barang steril (bersih) dan barang tidak steril (kotor) letaknya masih berdampingan.
4.6 Pengelolaan Perbekalan Farmasi 4.6.1. Perencanaan
barang, hal ini akan menyebabkan tidak maksimalnya proses penyembuhan pada pasien.
4.6.2 Pengadaan
Pengadaan perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik dilakukan dengan sistem tender, langsung dan hibah. Pembelian langsung dilakukan oleh IFRS dengan mengeluarkan surat pesanan (SP) ke distributor, perbekalan farmasi yang masuk diantar ke IFRS, untuk diterima, diperiksa, dan diteliti keadaannya, disesuaikan dengan surat pengantar barang (SPB) dan SP oleh pokja perbekalan, kemudian di-entry data perbekalan farmasi yang masuk ke SIRS. Pada pembelian langsung belum berpedoman pada obat yang kosong sehingga masih ditemukan obat yang kosong.
4.6.3 Produksi
Pembuatan/produksi perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik masih pada tahap pengenceran dan re-packing antara lain: pengenceran alkohol 96% menjadi alkohol 70 %, repacking alkohol 96%, isodin, H2O2 dan pembuatan
kloralhidrat.
4.6.4 Penyimpanan
Perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik disimpan sesuai dengan sifatnya (obat termolabil di lemari es); bentuk sediaan (oral, injeksi, infus, salep); bahan baku obat (mudah menguap/terbakar); obat narkotika dan psikotropik dalam lemari khusus dan terkunci, dan disusun secara alfabetis dengan sistem first
in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO).
perbekalan farmasi umum, gudang perbekalan farmasi floor stock, gudang perbekalan farmasi Cathlab jantung/bedah jantung, gudang perbekalan farmasi bahan berbahaya/mudah terbakar. Ruang penyimpanan masih belum sesuai dengan standar penyimpanan karena masih ada obat yang bersentuhan langsung dengan lantai.
4.6.5 Pendistribusian
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan pengertian rumah sakit secara umum, RSUP H. Adam Malik sudah memenuhi kriteria Rumah Sakit kelas A, dimana RSUP H. Adam Malik telah memiliki 20 Staf Medik Fungsional (SMF) dan 18 Spesialisasi Kedokteran.
2. Struktur organisasi IFRS RSUP H. Adam Malik belum sesuai dengan struktur organisasi minimal IFRS menurut KepMenKes Republik Indonesia Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 yang mencantumkan adanya bagian manajemen mutu.
3. Penyimpanan perbekalan farmasi di RSUP H. Adam Malik masih belum sesuai standar karena masih adanya perbekalan farmasi yang diletakkan langsung diatas lantai.
4. Peranan apoteker pada pelayanan farmasi klinis belum terlaksana sepenuhnya misalnya, visite belum dilaksanakan secara menyeluruh di ruang rawat inap.
5. Masih adanya resep yang ditulis dokter tidak berpedoman pada formularium rumah sakit dan DPHO.
7. Ruangan CSSD yang ada di RSUP H. Adam Malik masih belum memadai dan sesuai dengan standar yang ditetapkan, dimana ruangan masih memiliki sudut serta lift kotor dan lift bersih masih diletakkan berdampingan.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan peninjauan kembali mengenai struktur organisasi IFRS di RSUP H. Adam Malik Medan.
2. Perlu dilakukannya peninjauan kembali dan perbaikan penyimpanan perbekalan farmasi yang ada di gudang penyimpanan perbekalan farmasi. 3. Apoteker di RSUP H. Adam Malik diharapkan berperan lebih aktif dalam
melaksanakan pelayanan farmasi klinis seperti visite farmasi dengan tujuan meningkatkan rasionalitas penggunaan obat dan sebaiknya visite dilakukan setiap hari bersama dengan staf kesehatan lainnya seperti dokter dan perawat.
4. Sebaiknya dilakukan sosialisasi berkelanjutan mengenai formularium rumah sakit, DPHO dan Pedoman Pelaksanaan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit, khususnya kepada dokter sebagai penulis resep.
5. Sebaiknya data pasien yang dikonseling dibuat dalam sistem komputerisasi sehingga dalam mencari data pasien berulang atau pasien dengan terapi jangka panjang tidak membutuhkan waktu yang lama.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (1990). SK MenKes No 355/MenKes/SK/VII/1990 tentang
Pembentukan Rumah Sakit Kelas A di Medan. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Depkes RI. (2004). Keputusan MenKes RI No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. (2008). Peraturan Menkes RI No. 244//PER/III/2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. (2009). UU RI No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. (2009). Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi (CSSD) di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. (2010). Peraturan Menkes RI No. 340/PER/III/2010 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. (2011). Peraturan Menkes RI No. 1691/PER/VIII/2011 tentang
Klasifikasi Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Koentjoro, T. (2007). Regulasi Kesehatan di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Hal. 7.
Siregar, C.P.J., dan Amalia, L. (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan
Penerapan. Jakarta: EGC. Hal. 7, 13-15, 17-19.
Surat Keputusan Direktur Utama RSUP H. Adam Malik No. OT/01.01/IV.2.1/10281/2011 tentang Revisi Struktur Organisasi dan
Tata Kerja Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan.
.
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
DI RSUP HAJI ADAM MALIK
STUDI KASUS CARCINOMA MAMMAE
Disusun Oleh: Chici Marliza, S.Farm.
NIM 113202082
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
RINGKASAN
Telah dilakukan studi kasus dalam kegiatan Praktek Kerja Profesi (PKP) Farmasi Rumah Sakit di Instalasi Rawat Inap Terpadu (Rindu) B3 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Studi kasus dilakukan dari tanggal 03 s/d 10 oktober 2012. Studi kasus ini mengenai Penyakit Carcinoma mammae . Kegiatan studi kasus meliputi, visite (kunjungan) terhadap pasien, memberikan pemahaman dan motivasi kepada pasien untuk tetap mematuhi terapi yang telah ditetapkan oleh dokter, memberikan informasi mengenai obat kepada pasien dan keluarga pasien, melihat rasionalitas penggunaan obat terhadap pasien.
DAFTAR ISI
Halaman JUDUL
2.2.6 Methyl Prednisolone ... 16 2.2.7 Furosemide ... 17 2.2.8 Hidroklorothiazida ... 19
2.2.9 Infus Ringer Laktat ... 20 2.2.10 Anzatax ... 20
2.2.10 Epirubicin ... 20 BAB III PENATALAKSANAAN ... 21 3.1 Identitas Pasien ... 21 3.2 Riwayat Penyakit dan Pengobatan ... 21 3.3 Ringkasan Pada waktu pasien masuk RSUP.H. Adam Malik ... 21 3.4 Hasil Pemeriksaan ... 22 3.4.1 Pemeriksaan Fisik ... 22 3.4.2 Pemeriksaan Hispatologi ... 22
3.6.6.2 Perencanaan ... 34 3.6.7 Rekomendasi Untuk Perawat ... 34 3.6.8 Peayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 35 3.7 Pembahasan Tanggal 04 oktober 2012 ... 36
3.7.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 36 3.7.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 36 3.7.3 Pengkajian Tepat Obat ... 38 3.7.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 39 3.7.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 42 3.7.6 Rekomendasi Untuk Dokter ... 44 3.7.6.1 Pengkajian ... 44 3.7.6.2 Perencanaan ... 44 3.7.7 Rekomendasi Untuk Perawat ... 44 3.7.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 45 3.8 Pembahasan Tanggal 05 oktober 2012 ... 46
3.8.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 56 3.9 Pembahasan Tanggal 06 oktober 2012 ... 57
3.9.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 58 3.9.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 58 3.9.3 Pengkajian Tepat Obat ... 60 3.9.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 61 3.9.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 63 3.9.6 Rekomendasi Untuk Dokter ... 65 3.9.6.1 Pengkajian ... 65 3.9.6.2 Perencanaan ... 66 3.9.7 Rekomendasi Untuk Perawat ... 66 3.9.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 67 3.10 Pembahasan Tanggal 07 oktober 2012 ... 68
3.11.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 79 3.11.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 79 3.11.3 Pengkajian Tepat Obat ... 81 3.11.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 82 3.11.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 84 3.11.6 Rekomendasi Untuk Dokter ... 86 3.11.6.1 Pengkajian ... 86 3.11.6.2 Perencanaan ... 87 3.11.7 Rekomendasi Untuk Perawat ... 87 3.11.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 88 3.12 Pembahasan Tanggal 09 oktober 2012 ... 89
3.12.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 89 3.12.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 90 3.12.3 Pengkajian Tepat Obat ... 91 3.12.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 92 3.12.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 95 3.12.6 Rekomendasi Untuk Dokter ... 97 3.12.6.1 Pengkajian ... 97 3.12.6.2 Perencanaan ... 97 3.12.7 Rekomendasi Untuk Perawat ... 97 3.12.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi ... 98 3.13 Pembahasan Tanggal 10 oktober 2012 ... 99
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Pemeriksaan fisik yang dijalani pasien selama dirawat di
RSUP.H.Adam Malik ... 22 Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Radiologi ... 23 Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik ... 24 Tabel 4. Daftar Obat-Obat yang Digunakan Pasien dari
Tanggal 3-10 oktober 2012 ... 25 Tabel 5. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 03 oktober 2012 ... 26 Tabel 6. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 03 oktober 2012 ... 30
Tabel 7. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 03 oktober 2012 ... 32 Tabel 8. Rekomendasi Perawat Tanggal 03 oktober 2012 ... 34 Tabel 9. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tanggal 03 oktober 2012 ... 35 Tabel 10. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 04 oktober 2012 ... 36 Tabel 11. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 04 oktober 2012 ... 40 Tabel 12. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 04 oktober 2012 .. 42 Tabel 13. Rekomendasi Perawat Tanggal 04 oktober 2012 ... 44 Tabel 14. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tanggal 04 oktober 2012 ... 46 Tabel 15. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 05 oktober 2012 ... 47 Tabel 16. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 05 oktober 2012 ... 51 Tabel 17. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 05 oktober 2012 ... 52 Tabel 18. Rekomendasi Perawat Tanggal 05 oktober 2012 ... 53 Tabel 19. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tabel 20. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 06 oktober 2012 ... 58 Tabel 21. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 06 oktober 2012 ... 62
Tabel 22. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 06 oktober 2012 .... 64 Tabel 23. Rekomendasi Perawat Tanggal 06 oktober 2012 ... 66
Tabel 24. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tanggal 06 oktober 2012 ... 67 Tabel 25. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 07 oktober 2012 ... 68 Tabel 26. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 07 oktober 2012 ... 72 Tabel 27. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 07 oktober 2012 .... 74 Tabel 28. Rekomendasi Perawat Tanggal 07 oktober 2012 ... 77 Tabel 29. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tanggal 07 oktober 2012 ... 78 Tabel 30. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 08 oktober 2012 ... 79 Tabel 31. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 08 oktober 2012 ... 83 Tabel 32. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 08 oktober 2012 ... 85 Tabel 33. Rekomendasi Perawat Tanggal 08 oktober 2012 ... 87 Tabel 34. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tanggal 08 oktober 2012 ... 88 Tabel 35. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 09 oktober 2012 ... 89 Tabel 36. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 09 oktober 2012 ... 93 Tabel 37. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 09 oktober 2012 ... 95 Tabel 38. Rekomendasi Perawat Tanggal 09 oktober 2012 ... 98 Tabel 39. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
Tabel 40. Daftar Obat-Obat yang Digunakan pada
Tanggal 10 oktober 2012 ... 100 Tabel 41. Kajian Ketepatan Dosis pada Tanggal 10 oktober 2012 ... 103 Tabel 42. Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 10 oktober 2012 .... 106 Tabel 43. Rekomendasi Perawat Tanggal 10 oktober 2012 ... 107 Tabel 44. Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi pada
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Struktur Kimia Ceftriaksone ……… 12 Gambar 2. Struktur Kimia Ketorolak ……… 14 Gambar 3. Struktur Kimia Ranitidin ……… 15 Gambar 5. Struktur Kimia Deksametaso ……… 16 Gambar 6. Struktur Kimia Methyl Prednisolone ……… 17 Gambar 8. Struktur Kimia Furosemide ……… 19 Gambar 9. Struktur Kimia Hydroklorothiazida ……….. 19
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan (Siregar dan Amalia, 2003).
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit. Rumah sakit yang merupakan salah satu dari sarana kesehatan, merupakan rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien (Depkes RI, 2004).
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (Depkes RI, 2004).
Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama drug oriented (berorientasi produk) dengan filosofi pharmaceutical care (pelayanan kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan (Depkes RI, 2004).
Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit antara lain adalah visite pasien dan pengkajian penggunaan obat. Visite pasien merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri oleh apoteker maupun bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuannya adalah untuk pemilihan obat, menerapkan secara langsung pengetahuan farmakologi terapetik, menilai kemajuan pasien dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Pengkajian penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien (Depkes RI, 2004).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Carsinoma Mammae 2.1.1 Definisi
Carsinoma mammae (kanker payudara) adalah keganasan yang berasal dari sel kalenjar, saluran kalenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara.(Depkes RI,2009).
Menurut Craig-Handerson, Insidensi penyakit ini merupakan perkiraan kurang tepat untuk frekuensi masalah payudara yang dibawa berobat ke dokter dari semua bidang spesialisasi untuk setiap pasien yang didiagnosis terdapat 5 sampai 10 orang perempuan lain yang dibiopsi karena gejala yang mencurigakan, dan setiap pasien yang dibiopsi karena gejala yang mencurigakan,, terdapat beberapa lusin pasien yang datang berobat karena gejala atau kecemasan. (Isselbcher,1995).
2.1.2 Etiologi
Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui tetapi terdapat banyak factor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker paydara diantaranya :
1. Faktor reproduksi
diantara terjadinya pada haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initation perkembangan kanker payudara.
2. Penggunaan hormon
Hormon esterogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat resiko kanker payudara dan signifikan pada pengguna kontrsepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini dalam waktu lama mempunyai resiko tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause.
3. Obesitas.
Terdapat hubungan positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause.
4. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu factor resiko terjadinya kanker payudara. Williet dkk, melakukan studiprospektif selama 8 tahun konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan resiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.
5. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya resiko kanker payudara.
6. Riwayat keluarga dan faktor genetik