• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI GURU IPA SMP TERHADAP KOMPETENS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERSEPSI GURU IPA SMP TERHADAP KOMPETENS"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI GURU IPA SMP TERHADAP KOMPETENSI

PROFESIONALNYA DI KABUPATEN ACEH BESAR

Oleh:

Nurulwati dan Elisa Kasli e-mail:[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kompetensi profesional yang sudah dan belum dikuasai oleh guru dalam menguasai kompetensi dasar pada kelas VII, VII dan IX yang mengacu pada kurikulum KTSP dan kurikulum 2013; (2) mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi guru, baik yang bersumber dari faktor internal (bersumber dari guru itu sendiri) maupun faktor luar (eksternal) termasuk daya dukung lingkungan. Subjek dalam penelitian adalah guru IPA SMP sebanyak 14 orang guru yang bertugas dalam wilayah kerja Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Instrumen penelitian yang digunakan angket dan daftar wawancara. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari guru IPA yang ditetapkan secara purposif yang menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Guru IPA SMP tidak mampu menguasai seluruhnya kompetensi dasar karena background pendidikannya bukan dari IPA melainkan dari Fisika, Biologi dan Kimia, untuk mengajar materi IPA terpadu biasanya guru bertukar jam dengan teman yang bidangnya sesuai dengan topik yang diajarkan (2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi profesional guru mata pelajaran IPA di SMP: (1) kurangnya dukungan maksimal dari kepala sekolah dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah; (2) mempersiapkan administrasi guru yang begitu banyak, terutama untuk penilaian keterampilan dan penilaian sikap peserta didik; (3) siswa sangat kurang memiliki minat dan motivasinya untuk belajar dan sangat susah memotivasinya; (4) dukungan dari orang tua murid terhadap peningkatan motivasi belajar anak juga relatif rendah; (5) Alat peraga pendukung belajar tidak difasilitasi oleh sekolah; (6) pelaksanaan praktikum IPA relatif tidak berjalan, kegiatan praktikum dan persiapan kegiatan praktikum tidak dipertimbangkan untuk beban kerja tambahan untuk pengajaran, sehingga guru malas untuk melaksanakan praktikum.

(2)

PENDAHULUAN

Tugas pokok dan fungsi guru di sekolah antara lain sebagai pendidik profesional, pengajar, dan pengelola pembelajaran. Sebagai pendidik profesional, guru seharusnya selalu berupaya untuk mengembangkan potensi dan kepribadian peserta didik lewat keterampilan kerja yang dimilikinya. Ucapan, tingkah laku, dan teladan guru selalu diimbaskan kepada siswa-siswanya (Sulastri dkk, 2015:4). Peran dan tugas sebagai pengajar adalah merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Sebagai pelatih dan pembimbing, guru berperan dalam hal memotivasi, mendorong, dan melibatkan peserta didik dalam aktivitas belajarnya sehingga dapat menghasilkan perilaku positif dengan beragam keterampilan pada peserta didik.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan yang sangat pesat, guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang dapat membawa anak didiknya menjadi lulusan yang berkualitas tinggi. Peningkatan kemampuan profesionalitas guru perlu dilakukan secara kontinu (Salamiah T.I 2004:1).

Dari sejumlah mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan pada satuan pendidikan di Indonesia. Pencapaian kompetensi IPA SMP adalah hal yang menarik untuk dicermati. Penguasaan materi IPA SMP menentukan untuk kesuksesan pembelajaran mata pelajaran kimia, fisika dan biologi siswa pada jenjang yang lebih tinggi di Sekolah Menengah Atas bahkan di perguruan tinggi. Kemajuan suatu negara dapat di tandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa sedini mungkin perlu diperkenalkan dengan sain, agar siswa-siswa melek sains. Guru-guru perlu mengajarkan dan membelajarkan siswa dengan pengetahuan sains yang dapat memacu kemampuan berpikir kritis pada anak. Untuk itu tentu saja diperlukan guru-guru yang menguasai bidang ilmu sains yang memadai, terampil mengajarkan sains dengan ilmu didaktif metodik yang handal. Kunci sukses siswa dalam menguasai sains terletak pada kemampuan guru sains.

Kondisi perolehan hasil TIMMS IPA SMP, menunjukkan kemampuan sains siswa-siswa Indonesia dibandingkan dengan penguasan sains siswa-siswa-siswa-siswa di beberapa negara lainnya dapat dilihat pada gambar 1. Lebih dari 95% siswa sekolah menengah pertama Indonesia hanya mampu menguasai materi IPA pada level menengah, sementara hampir 40% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Data ini menggambarkan bahwa yang dipelajari dalam materi IPA oleh siswa-siswa SMP di Indonesia berada pada level yang rendah. Maknanya adalah ada masalah dalam pembelajaran IPA di SMP (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014: Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) .

(3)

Berdasarkan publikasi hasil laporan program kegiatan SEDIA di wilayah Provinsi Aceh pada tahun 2013, sebagai mana dipublikasikan oleh Pemerintah Aceh. Aceh saat ini memiliki jumlah guru IPA SMP yang mencukupi dari segi kuantitas, bahkan pada beberapa daerah, guru IPA SMP sudah berada di atas rasio rata-rata guru IPA secara nasional (tkppa.acehprov.go.id/.../SEDIA_PTD_Piloting_and_D...). Tetapi dari segi kualitas belum memperoleh hasil yang menggembirakan. Ini bisa dilihat dari perolehan hasil nilai UN siswa. Posisi Aceh secara nasional masih berada pada peringkat yang tidak menggembirakan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas menunjukkan perlu adanya kajian untuk mengetahui persepsi guru IPA SMP kompetensi profesional di Kabupaten Aceh Besar. Untuk penelitian ini dilakukan secara reperesentatif pada guru IPA SMP di Kabupaten Aceh Besar.

Beranjak dari uraian di atas maka permasalahan utama pada penelitian ini adalah:

”Bagaimanakah persepsi guru IPA SMP terhadap kompetensi profesionalnya di Kabupaten Aceh Besar serta faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kompetensi mereka?”

Hasil yang ditargetkan dihasilkan dari kajian ini adalah untuk : (1) mengetahui kompetensi profesional yang sudah dan belum dikuasai oleh guru. Kompetensi profesional yang akan diungkapkan adalah bagaimana kemampuan profesional guru IPA SMP dalam menguasai kompetensi dasar pada kelas VII, VII dan IX yang mengacu pada kurikulum KTSP dan kurikulum 2013; (2) display data kualitatif tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi guru, baik yang bersumber dari faktor internal (bersumber dari guru itu sendiri) maupun faktor luar (eksternal) termasuk daya dukung lingkungan.

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain:

1. Menyumbangkan dokumen terkini tentang kondisi kemampuan guru IPA SMP Kabupaten Aceh Besar dalam menguasai kompetensi profesional pada mata pelajaran IPA.

2. Memberi bahan masukan dalam pembuatan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas guru IPA SMP di Kabupaten Aceh Besar agar lebih tepat sasaran.

METODE PENELITIAN

Berdasarkan metode penelitian yang digunakan, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Secara konseptual, penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara cermat karakteristik dari suatu gejala atau masalah yang dikaji. Penelitian deskriptif bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian (tidak berhipotesis) dan menguji hipotesis (berhipotesis) (Silalahi, 2010). Dalam penelitian ini akan mendeskripsikan persepsi guru IPA SMP terhadap kompetensi profesionalnya dan secara kualitatif akan akan dipelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi guru saat ini. Diharapkan kajian ini dapat mengungkapkan faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi guru dan mengungkapkan masalah yang menjadi kendala guru untuk menjadi guru yang profesional.

(4)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Untuk mengetahui materi sulit yang dihadapi guru IPA SMP di Kabupaten Aceh Besar. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan Instrument Self Assessment dengan 5 kategori skala Likert. Instrument ini dipersiapkan khusus untuk mendapatkan informasi dari guru. Instrument berbentuk penilaian diri guru. Setelah dikembangkan instrument ini, dilakukan uji keterbacaan yang melibatkan empat pakar dalam bidang IPA (dari bidang kimia, fisika dan biologi). Setelah melalui beberapa kali revisi, akhirnya instrument self assessment diedarkan kepada guru. Sebanyak 14 orang guru IPA SMP di kabupaten Aceh Besar dipilih untuk menjadi responden. Pemilihan sampel ini ditetapkan bertujuan untuk memperoleh data dari guru IPa SMP Se-Kabupaten Aceh Besar yang memiliki kriteria keterwakilan guru-guru IPA. Guru-guru yang dipilih mewakili guru IPA dari unsur guru: (1) mewakili gender laki-laki dan perempuan; (2) mewakili golongan III dan IV; (3) mewakili dari segi usia (rentang usia guru berusia lebih dari 25 tahun dan di bawah 50 tahun, berdasarkan range usia guru yang terdapat dalam data hasil UKG tahun 2015); (4) mewakili kategori kelulusan sertifikasi; (5) mewakili kualifiaksi akademik guru yang berasal dari pendidikan S1 dari prodi: biologi, fisika, kimia, non-pendidikan dan selain alumni pendidikan/non pendidikan kimia, fisika dan biologi; dan (6) mewakili masa kerja dari nol tahun sampai di atas 20 tahun.

Tabel 1. Skala Likert dari Kategori Jawaban Angket Penilaian Diri untuk Penguasaan materi ajar

Skala Tanggapan

Tingkat Penguasaan

1 Tidak mengerti

2 Mengerti tetapi tidak dapat menjelaskan dengan rinci

3 Memahami dan mampu

menjelaskan dengan rinci pada Siswa

4 Memahami, mampu

menjelaskan dan

menghubungkan dengan materi lainnya

5 Sangat menguasai dan mampu menjelaskan kepada guru lainnya

Keseluruhan dari Kompetensi Dasar yang ada di IPA SMP yang menurut pengakuan guru masih belum dimengerti kalua diurutkan dari kelas VII sampai dengan kelas IX berdasarkan jumlah persentase terbesar ke yang terkecil dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 2: Urutan materi tersulit (yang belum dimengerti) oleh guru dari kelas VII sampai dengan kelas IX.

No Standar

Kompetensi

Kelas Bidang % jumla h guru

1 1 Mengidentifi-kasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan

VIII Bio 29

2 2 Mendeskrip-sikan proses perolehan nutrisi dan transformasi energi pada

(5)

tumbuhan hijau

7 3 Mendeskripsikan prinsip kerja

(6)
(7)

pernapasan pada

21 3 Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan

23 1 Mengidentifikasi kelangsungan

24 2 Mendeskripsikan konsep

pewarisan sifat pada makhluk hidup

IX Bio 21

25 3 Mendeskripsikan proses pewarisan

(8)
(9)

keaneka-39 3 Mendeskripsikan sistem gerak

41 4 Mendeskripsikan alat-alat optik

(10)

gejala-gejala

51 2 Menerapkan hukum Newton

dan energi”serta penerapannya

(11)

tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 55 1 Mendeskripsikan

konsep getaran dan gelombang serta parameter-parameter nya

VIII Fis 7

56 2 Mendeskripsikan konsep bunyi dalam kehidupan sehari-hari

VIII Fis 7

57 1 Mendeskripsikan muatan listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis serta kaitannya dalam kehidupan sehari-hari

IX Fis 7

58 2 Mendeskripsikan matahari sebagai bintang dan bumi sebagai salah satu planet.

IX Fis 7

Hasil wawancara dengan responden juga menunjukkan bahwa guru-guru IPA di Aceh Besar tidak memahami materi IPA secara keseluruhan. Contohnya guru yang berijazah sarjana pendidikan biologi tidak menguasai materi fisika dan kimia, sedangkan guru yang berijazah Fisika tidak menguasai biologi dan kimia. Dengan kata lain ilmu yang mereka kuasai masih sepotong-potong dan belum lengkap sebagai guru IPA. Namun demikian mereka sedang berusaha untuk belajar lebih giat lagi untuk mempelajari IPA secara keseluruhan. Dampak dari penguasan materi IPA ini juga terlihat dari hasil tes UKG yang diikutinya yang hasilnya kurang memuaskan.

Para guru mengakui malu dengan hasil UKG yang mereka dapatkan. Sebelum mereka mengetahui hasil UKG mereka sudah memperkirakan hasil UKG nya tidak memuaskan. Mereka berharap kalau akan dilakukan kembali UKG pada tahun yang akan datang, harap mempertimbangkan waktu, jangan berdekatan dengan waktu ujian siswa. Karena para guru harus mengkoreksi hasil ujian siswa pada waktu yang bersamaan juga mereka harus mempersiapkan diri untuk mengikuti UKG.

(12)

datang ke seokalh, tapi peran pengawas belum maksimal, menurut guru, pengawas ya mengawasi bukan mendampingi mereka untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi guru

di lapangan. Kesannya pengawas hanya “mengawasi” sudah benar atau tidak guru itu

bekerja, sehingga posisi pengawas lebih superior dan posisi guru “inferior” adanya gap ini

membuat mereka menjadi terbatas untuk terbuka mengungkapkan masalah mereka kepada pengawas. Harapan sebagian besar guru adalah mereka memiliki dosen pendamping yang bisa bersama mereka terlibat menyelesaikan masalah-masalah/kendala-kendala yang dihadapi mereka di lapangan. Jadi ke depan menurut guru mereka lebih menginginkan adanya pendampingan ke sekolah secara rutin. pendampingan dapat membantu banyak guru di lapangan, jadi bentuk-bentuk pelatihan yang hanya bisa menampung peserta dalam jumlah yang terbatas lebih baik dikurangi.

Pengakuan bahwa guru malu dengan hasil yang mereka peroleh, tentu akan berusaha untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Ini juga sesuai dengan apa yang diperoleh pada FGD, mereka sekarang berjanji pada diri sendiri untuk masa-masa yang akan datang akan berusaha untuk lebih serius meningkatkan kompetensi diri secara individu. Masih menurut pengakuan guru, mereke jarang membeli buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan diri baik pengembangan profesional maupun pengembangan paedagogik. Ketika ditanyakan berapa bulan sekali membeli buku, hampir semuanya menyatatakan jarang sekali membeli buku dan jarang juga mengakses informasi baru yang up to date melalui internet. Hanya seperempat dari guru yang bisa menggunakan komputer dan memanfaatkan layanan internet, itupun guru-guru muda yang berusia di bawah 35 tahun.

Harapan dan saran mereka: adanya pelatihan untuk materi IPA secara keseluruhan secara kontinu bukan hanya sekali pelatihan atau sebulan saja. Ada 14,3% dari 14 orang responden yang merasa puas dengan hasil UKG yang mereka peroleh. Sedangkan 85,7% tidak puas dengan apa yang mereka peroleh dari hasil tes UKG.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data melalui angket dan FGD diikuti wawancara dengan guru-guru, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan seperti berikut:

(1) Guru IPA SMP tidak mampu menguasai seluruhnya kompetensi dasar karena background pendidikannya bukan dari IPA melainkan dari Fisika, Biologi dan Kimia, untuk mengajar materi IPA terpadu biasanya guru bertukar jam dengan teman yang bidangnya sesuai dengan topik yang diajarkan.

(2) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi profesional guru mata pelajaran IPA di SMP: (1) kurangnya dukungan maksimal dari kepala sekolah dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah; (2) mempersiapkan administrasi guru yang begitu banyak, terutama untuk penilaian keterampilan dan penilaian sikap peserta didik; (3) siswa sangat kurang memiliki minat dan motivasinya untuk belajar dan sangat susah memotivasinya; (4) dukungan dari orang tua murid terhadap peningkatan motivasi belajar anak juga relatif rendah; (5) Alat peraga pendukung belajar tidak difasilitasi oleh sekolah; (6) pelaksanaan praktikum IPA relatif tidak berjalan, kegiatan praktikum dan persiapan kegiatan praktikum tidak dipertimbangkan untuk beban kerja tambahan untuk pengajaran, sehingga guru malas untuk melaksanakan praktikum.

SARAN-SARAN

(13)

sekolah. Nara sumber pelatihan harus dapat menguasai materi dengan baik (profesional) sesuai dengan kebutuhan peserta.

- Para guru, mengharapkan untuk pembinaan dalam bentuk mentoring (pendampingan langsung) oleh LPTK atau widyaiswara langsung di sekolah atau melalui KKG. Agar permasalahan guru dapat dicarikan solusinya sesuai dengan kondisi lapangan.

- Semua guru harus mahir menggunakan/ memanfaatkan ICT/Komputer, perlu dipikrikan ada

regulasi dari kemetrian menyangkut kompetensi memanfaatkan ICT untuk “tool” bagi guru

untuk mempermudah pelaksanaan tugas, pengembangan diri mengakses informasi, mempersiapkan perangkat pembelajaran. Kemeterian perlu membuat target misalnya pemberantasan buta komputer untuk guru, mungkin dengan pengecualian untuk guru-guru yang dalam dua tahun lagi akan pensiun.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Di Abad-21. Jakarta:BSNP

Friedman, T.L., (2005). The Worl is Flat-Sejarah Ringkas Abad 21. Bandung: Dian Rakyat.

Salamiah T.I (2004). Kemampuan Penerapan Hasil Pelatihan Oleh Guru-guru Fisika Pada SLTP Negeri Kota Banda Aceh, (Tesis). Banda Aceh: Program PascaSarjana Manajemen Pendidikan Unsyiah).

Silalahi, U., (2010). Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Refika Aditama.

Sulastri dkk, 2015:4) Pemetaan Kompetensi Guru IPA dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Berdasarkan Hasil UKG tahun 2015 (studi kasus di Kabupaten Aceh Besar). Banda Aceh: FKIP Unsyiah.

Suparwoto, Zuhdan K. P., Mundilarto, Sukardjo, dan A K Projosantoso, (2011). Evaluasi Kinerja Guru IPA Pascasertifikasi, Jurnal Kependidikan, Volume 41, Nomor 1, Halaman 54 - 68 Susilawati, E., Sistem Pembinaan Profesional Guru IPA, Diakses pada:

www.p4tkipa.org/banner/artikel/eneng.pdf, 6 desember 2015.

Laporan Kerja SEDIA-AusAID (2013). PTD Piloting and District Strategi, Pemerintah Daerah Aceh.

Referensi

Dokumen terkait

Dari data dan grafik tentang perbandingan daya motor terhadap pembebanan pada motor menggunakan bensin murni dan ( Duel Fuel ) bensin dan LPG bahan bakar bensin murni

Ketakutan Akan Sukses Ditinjau Dari Orientasi Terhadap Egalitarian Sex Role, Status Kerja Ibu dan Jenis Fakultas Pada Mahasiswa Unika Soegijapranata.. Yogyakarta: Fakultas

Abstrak: Peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam menggunakan media konkrit kelas V Sekolah Dasar Negeri 19 Periji. Penelitian ini bertujuan untuk

Guru yang mengajar mengevaluasi apakah kegiatan simulasi pelaksanaannya sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan, bagaimana keberhasilannnya apakah..

Bandung : Humaniora Mulyasa E, (2008), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, suatu panduan praktis.. Bandung :

Dan metode yang kedua dengan Likert hasilnya juga menunjukkan bahwa rata-rata responden merasa PUAS artinya konsumen Kedai Minuman Quickly Tebet merasakan puas terhadap ketiga

Dari hasil analisis GCMS (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa bio-oil yang dihasilkan dari serbuk kayu, kulit kayu mahoni dan sludge kertas pada suhu 550 C menggunakan proses

 SK Tim Pengembang Kurikulum ( Tim pengembang kurikulum satuan pendidikan terdiri atas tenaga pendidik, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Dapat