NILAI BUDAYA DALAM LEKSIKON ERPANGIR KU LAU TRADISI SUKU KARO (KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK)

Teks penuh

(1)

Telangkai Bahasa dan Sastra, April 2014, 95-107 Tahun Ke-8 No.1 Copyright ©2014, Program Studi Linguistik FIB USU, ISSN 1978-8266

NILAI BUDAYA DALAM LEKSIKON ERPANGIR KU LAU

TRADISI SUKU KARO

(KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK)

Ernawati Br Surbakti

Politeknik Negeri Lhokseumawe surbakti80@gmail.com

ABSRACT

This study analized about lexicon and cultural value that contained in erpangir ku lau lexicon. The theory used antrophology linguistics theory . To analyze the lexicon and cultural value in erpangir ku lau tradition the writer used descriptive qualitative method.The technique of collecting data using interviews and observations. The data analysis technique refers to the Huberman and Miles (1984.1994). The description of erpangir ku lau lexicon grouped into two parts (1) materials and tools, (2) the process and erpangir ku lau activity. The cultural value in erpangir ku lau lexicon of karoness tradition contain cultural values, namely (1) the value of harmony and peace, (2) the value of well-being, (3) religious value, (4) the value of nature oriented (environment), and (5) social values.

Key words : cultural value, lexicon, erpangir ku lau

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Erpangir ku lau salah satu warisan budaya karo sarat makna dan nilai budaya. Namun, pada waktu-waktu belakangan ini erpangir ku lau sudah jarang dilaksanakan oleh suku Karo khususnya suku Karo wilayah Kabupaten Langkat. Erpangir ’berlangir’ dengan menggunakan bahan-bahan dan ramuan tradisional. Tapin atau bagian sungai, pancur dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan tradisi erpangir ku lau oleh suku Karo. Erpangir ku lau adalah tradisi yang bernilai tinggi dan layak untuk dipertahankan oleh suku Karo karena tradisi ini memiliki fungsi bagi komunitas suku Karo. Dalam pelaksanaan tradisi erpangir kulau dibutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi.

Sibarani (2004: 59) mengatakan bahwa ” bahasa digunakan sebagai sarana ekspresi nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya yang dapat disampaikan oleh bahasa sebagai jalur penerus kebudayaan terbagi atas tiga bagian kebudayaan yang saling berkaitan, yaitu kebudayaan ekspresi, kebudayaan tradisi, dan kebudayaan fisik. Kebudayaan ekspresi mencakup perasaan, keyakinan, intuisi, ide, dan imajinasi kolektif, kebudayaan tradisi mencakup nilai-nilai religi, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan; dan kebudayaan fisik mencakup hasil-hasil karya asli yang dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari”. Dari uraian tersebut penulis akan mengkaji kebudayaan tradisi yang mencakup nilai-nilai religi, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan suku Karo dalam menjalankan sebuah tradisi erpangir kulau. Dengan demikian, penelitian ini akan mengkaji deskripsi leksikon pada proses erpangir ku lau tradisi suku Karo dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam erpangir kulau’ tradisi suku Karo.

(2)

Rumusan Masalah

Sekaitan dengan uraian latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah deskripsi leksikon dalam tradisi erpangir ku lau suku Karo? dan (2) bagaimanakah nilai budaya yang terkandung dalam tradisi erpangir ku lau suku Karo?

Tujuan Penelitian

Sekaitan dengan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan leksikon dari proses erpangir ku lau suku Karo? dan (2) mendeskripsikan nilai budaya yang terkandung pada tradisi ’erpangir ku lau’ suku Karo?.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini terbagi atas dua yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis dalam penelitian leksikon erpangir ku lau diharapkan sebagai salah satu bahan informasi dalam hal penelitian tentang nilai-nilai budaya dengan menggunakan kajian antropolinguistik. Penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan bagi penelitian yang relevan khususnya dalam hal leksikon dan nilai-nilai budaya kajian antropolinguistik. Manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai bahan masukan bagi komunitas suku Karo agar tetap menggunakan bahasa Karo dan melestarikan tradisi suku Karo, khususnya tradisi erpangir ku lau karena erpangir ku lau adalah salah satu warisan budaya suku Karo yang memiliki nilai-nilai budaya yang baik untuk kelangsungan hidup bermasyarakat bagi komunitas suku Karo.

TINJAUAN PUSTAKA Leksikon

Leksikon adalah koleksi leksem pada suatu bahasa. Kajian terhadap leksikon mencakup apa yang dimaksud dengan kata, strukturisasi kosakata, penggunaan dan penyimpanan kata, pembelajaran kata, sejarah dan evolusi kata (etimologi), hubungan antarkata, serta proses pembentukan kata pada suatu bahasa. Dalam penggunaan sehari-hari, leksikon dianggap sebagai sinonim kamus atau kosakata. Sibarani (1997:4) sedikit membedakan leksikon dari perbendaharaan kata, yaitu ”Leksikon mencakup komponen yang mengandung segala informasi tentang kata dalam suatu bahasa seperti perilaku semantis, sintaksis, morfologis, dan fonologisnya, sedangkan perbendaharaan kata lebih ditekankan pada kekayaan kata yang dimiliki seseorang atau sesuatu bahasa.”

Chaer (2007: 5) mengatakan bahwa istilah leksikon berasal dari kata Yunani kuno yang berarti ’kata’, ’ucapan’, atau ’cara berbicara’. Kata leksikon seperti ini sekerabat dengan leksem, leksikografi, leksikograf, leksikal, dan sebagainya. Sebaliknya, istilah kosa kata adalah istilah terbaru yang muncul ketika kita sedang giat-giatnya mencari kata atau istilah tidak berbau barat.

Semantik Leksikal

Kata merupakan tumpuan dalam pembahasan semantik leksikal. Sweet dalam Palmer (1976: 37) membagi kata atas kata penuh (full words), kata tugas dan partikel (form words). Kata penuh mengandung makna tersendiri. Kata ini bebas konteks kalimat sehingga mudah dianalisis. Misalnya, nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Kata tugas merupakan bentuk bebas yang terikat konteks kalimat. Kata ini mengandung makna apabila berada dalam kalimat. Contohnya, pronomina, numeralia, interogatif, demonstratif, artikula, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Partikel merupakan bentuk terikat yang melekat pada kata dasar dan terikat pada konteks kalimat.

(3)

Nilai Budaya Perspektif Antropolinguistik

Kebudayaan merupakan seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh seluruh anggota masyarakat tersebut (Haviland, 1999: 333). Dengan demikian, kebudayaan terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat raya yang berada di balik, dan yang tercermin dalam perilaku manusia (Mahsun, 2001: 2). Nilai budaya merupakan suatu gejala abstrak, ideal dan tidak inderawi atau kasat mata. Nilai budaya hanya bisa diketahui melalui pemahaman dan penafsiran tindakan, perbuatan, dan tuturan manusia (Saryono, 1997:31). Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah sesuatu yang menjadi pusat dan sumber daya hidup dan kehidupan manusia secara individual, sosial, dan religius-transendental untuk dapat terjaganya pandangan hidup masyarakat.

Nilai budaya juga dapat terungkap melalui galur-galur ungkapan yang mapan, sistem gramatika dan leksikon yang tersedia dalam bahasa ibu, seorang anak manusia yang menjadi anggota masyarakat telah dibentuk cara pandang, nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat bahasa dan budaya setempat. Sebagai contoh, melalui proses pemerolehan unsur-unsur kebahasaan yang berupa unsur leksikon dan atau kaidah gramatika tentang sistem pembentukan konsep waktu dalam bahasa Samawa, secara simultan pula telah tertanam cara pandang pada diri anggota komunitas sukubangsa Samawa tentang konsep keberadaan dirinya dalam dimensi waktu yang berorientasi pada masa kini yang lebih dekat dengan masa lampau dan masa mendatang (lihat Mahsun, 2001:3). Hal ini sejalan dengan pendapat Sapir (1921, 1949) dalam Simanjuntak (2009: 168) ia mengatakan bahwa tiap-tiap bahasa sesuatu masyarakat telah mendirikan sebuah dunia tersendiri untuk penutur bahasa itu. Sebanyak bahasa masyarakat-masyarakat dunia, sebanyak itulah dunia dibentuk oleh bahasa-bahasa itu untuk penutur-penuturnya.

Wierzbicka (1997: 4) mengemukakan bahwa kata mencerminkan dan menceritakan karakteristik cara hidup dan cara berpikir penuturnya dan dapat memberikan petunjuk yang sangat bernilai dalam upaya memahami budaya penuturnya. Demikian juga dengan kata atau leksikon yang terkandung pada tradisi erpangir ku lau Suku Karo, leksikon tersebut dapat memberikan dan mencerminkan gambaran tentang pandangan orang Karo terhadap lingkungan dan pola berpikirnya. Penelitian yang berhubungan dengan topik ini masih sangat jarang dilakukan secara mendalam. Adapun tulisan yang berhubungan dengan topik ini adalah “Leksikon Waktu Harian dalam Bahasa Sunda: Kajian Linguistik Antropologis”. Penelitian ini ditulis oleh Fasya (2011) dalam kajiannya, leksikon waktu harian dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Sunda, tidak hanya dapat dilakukan secara terbatas di dalam konteks linguistik semata, tetapi juga dapat dilakukan dalam konteks sosial budaya yang lebih luas. Mampu menjangkau fungsinya dalam menopang praktik kebudayaan. Simpulan penelitian bahasa Sunda dapat mengungkap pandangan hidup orang Sunda yang selalu berusaha untuk menjaga harmoni antara (1) manusia dan manusia, (2) manusia dan alam, serta (3) manusia dan Tuhannya.

Erpangir kulau adalah salah satu jenis kearifan lokal. Jenis karifan lokal menurut Sibarani , (2012:133) mengandung nilai-nilai budaya antara lain: (1) “kesejahteraan” , (2) kerja keras, (3) disiplin, (4) pendidikan, (5) kesehatan, (6) gotong-royong, (7) pengelolaan gender, (8) pelestarian dan kreativitas budaya, (9) peduli lingkungan, (10) “kedamaian”, (11) kesopansantunan, (12) kejujuran, (13) kesetiakawanan sosial, (14) kerukunan dan penyelesaian konflik, (15) komitmen, (16) pikiran positif, dan (rasa syukur).

Sistem nilai

budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga

masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup

(Koentjaraningrat, 2004:25). Nilai-nilai budaya merupakan nilai-nilai yang disepakati

dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat,

(4)

yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan

karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku

dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Sehubungan dengan ini Prosser (1978:303) mengatakan bahwa nilai adalah

aspek budaya yang paling dalam tertanam dalam suatu masyarakat. Lebih lanjut

Prosser mengelompokkan nilai menjadi lima bagian, yaitu (1) nilai yang berhubungan

dengan Tuhan, (2) nilai yang berhubungan dengan dan berorientasi dengan alam, (3)

nilai yang berhubungan dengan dan berorientasi pada waktu, (4) nilai yang

berhubungan dan berorientasi pada kegiatan, dan (5) nilai yang berhubungan dan

berorientasi pada hubungan antarmanusia. Kluckhon dalam Pelly (1994)

mengemukakan nilai budaya merupakan sebuah konsep beruang lingkup luas yang

hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang

paling berharga dalam hidup.

METODE PENELITIAN

Penelitian tentang nilai budaya pada tradisi erpangir ku lau secara umum masih terbatas. Dengan demikian, semua leksikon yang ditemukan dianalisis. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptip kualitatif. Moleong (2006: 6) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong, 2006: 9). Metode ini sangat tepat dan alami untuk menemukan data, menganalisis, serta melihat fenomena yang sedang terjadi.

Sesuai dengan judul penelitian dan masalah penelitian, lokasi penelitian ini adalah satu Kecamatan Sei Bingei. Kecamatan Sei Bingei terdiri atas enam belas kelurahan/desa, yaitu (1) Kelurahan/Desa Belinteng, (2) Kelurahan/Desa Durian Lingga, (3) Kelurahan/Desa Gunung Ambat, (4) Kelurahan/Desa Kwala Mencirim, (5) Kelurahan/Desa Mekar Jaya, (6) Kelurahan/Desa Namo Ukur Selatan, (7) Kelurahan/Desa Namo Ukur Utara, (8) Kelurahan/Desa Pasar IV Namo Terasi, (9) Kelurahan/Desa Pasar VI Kwala Mencirim, (10) Kelurahan/Desa Pasar VIII Namo Terasi, (11) Kelurahan/Desa Pekan Sawah, (12) Kelurahan/Desa Purwobinangun, (13) Kelurahan/Desa Rumah Galuh, (14) Kelurahan/Desa Simpang Kuta Buluh, (15) Kelurahan/Desa Tanjung Gunung, dan (16) Kelurahan/Desa Telaga. (Sumber: BPS Kecamatan Sei Bingei dalam Angka 2012).

Penentuan sumber data penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primernya adalah kata-kata yang didapat dari informan komunitas suku Karo Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat. Data sekunder adalah dokumen tertulis seperti kamus bahasa Karo dan dokumen buku-buku yang berhubungan dengan tradisi suku Karo. Jumlah data merujuk kepada Chaer (2007:39) yang menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, jumlah data yang dikumpulkan tidak tergantung pada jumlah tertentu, melainkan tergantung pada taraf dirasakan telah memadai.

(5)

Pengumpulan data dalam penelitian ini terkait dengan leksikon erpangir ku lau. Data yang diperoleh dari dokumen tertulis, wawancara mendalam, dan observasi partisipan. Wawancara adalah bentuk perbincangan, seni bertanya dan mendengar. Wawancara bukanlah perangkat netral dalam memproduksi realitas. Dalam konteks ini, berbagai jawaban diutarakan. Jadi, wawancara merupakan perangkat untuk memproduksi pemahaman situasional (situated understandings) yang bersumber dari episode-episode interaksional khusus (Denzin dan Lincoln, 2009: 495). Fontana dan Frey mengutip catatan Lapangan Malinowski (dalam Denzin dan Lincoln, 2009: 508) mengatakan wawancara terdiri atas tiga macam yaitu terstruktur (structured), semi-terstruktur (semi-structured), atau tak terstruktur (unstructured). Wawancara terstruktur mengacu pada situasi ketika seorang peneliti melontarkan sederet pertanyaan temporal pada tiap-tiap responden berdasarkan kategori-kategori jawaban tertentu/terbatas sedangkan wawancara tak terstruktur memberikan ruang yang lebih luas dibandingkan dengan tipe-tipe wawancara yang lain.

Wawancara terstruktur bertujuan untuk meraih keakuratan data dari karakteristik yang dapat dikodekan untuk menjelaskan prilaku dalam berbagai kategori yang telah ditetapkan sebelumnya (preestablished categories). Wawancara tak terstruktur digunakan untuk memahami kompleksitas perilaku anggota masyarakat tanpa adanya kategori a priori yang dapat membatasi kekayaan data yang dapat kita peroleh.

Penelitian ini penulis menggunakan wawancara terstruktur dan takterstruktur. Untuk mendapatkan kekayaan data yang alami tentang deskripsi leksikon pada prosesi erpangir kulau dan nilai budaya yang terkandung pada tradisi tersebut. Proses analisis data dimulai sejak pengumpulan data dilakukan dan sesudah meninggalkan lapangan. Proses analisis data ditelaah dari seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar, dan foto. Untuk menjawab rumusan masalah pertama dan kedua, analisis data penelitian ini mengacu kepada pendapat Huberman dan Miles (1984,1994) dalam Denzin dan Lincoln (2009: 592) Analisis data (data analysis) terdiri atas tiga subproses yang saling terkait yaitu reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan/verifikasi.

Proses ini dilakukan sebelum tahap pengumpulan data, persisnya pada saat menentukan rancangan dan perencanaan penelitian; sewaktu proses pengumpulan data sementara dan analisis awal; serta setelah tahap pengumpulan data akhir. Reduksi data (data reduction), berarti bahwa kesemestaan potensi yang dimiliki oleh data disederhanakan dalam sebuah mekanisme antisipatoris. Hal ini dilakukan ketika peneliti menentukan kerangka kerja konseptual (conceptual framework), pertanyaan penelitian, kasus, instrumen penelitian yang digunakan jika hasil catatan lapangan, wawancara, rekaman, dan data lain telah tersedia, tahap seleksi data berikutnya adalah perangkuman data (data summary), pengodean (coding), merumuskan tema-tema, pengelompokan (clustering), dan penyajian cerita secara tertulis (Huberman dan Miles 1984,1994 dalam Denzin dan Lincoln 2009: 592). Hal ini sejalan dengan pendapat Moleong (2006: 247) bahwa proses analisis dengan mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan melakukan abstraksi. Kemudian menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan ini kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dibuat sambil melakukan koding. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data (Moleong 2006, 247). Hal ini juga sejalan dengan pendapat Seiddel (1998) dalam Moleong (2006: 248), proses penganalisisan data berjalan sebagai berikut: (1) mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri, (2) mengumpulkan, memilah-milah mengklasifikasikan, mensintesiskan, dan membuat indeksnya, (3) berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari, dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum. Dari uraian pendapat tersebut maka penulis akan membuat temuan-temuan umum dan khususnya nilai-nilai yang terkandung dalam leksikon erpangir ku lau tradisi suku Karo.

(6)

Agar hasil penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya, perlu dilakukan pemeriksaan keabsahan data yang berdasarkan kriteria Moleong (2006: 344) yang telah disesuaikan dengan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) teknik perpanjangan keikutsertaan, peneliti memperpanjang waktu untuk bertanya dan berbaur dengan informan, (2) ketekunan pengamatan, peneliti melakukan pengamatan langsung ke lapangan, (3) kecukupan referensial. Validitas analisis harus didukung sepenuhnya dengan penyajian data yang cukup terfokus sehingga seluruh data dapat diamati di satu lokasi tertentu, dan secara sistematis disusun untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sedang dihadapi. Penyajian hasil analisis data menggunakan dua metode, yaitu metode yang bersifat informal dan metode yang bersifat formal. Metode ini dilakukan dengan kata-kata biasa (a natural language) (Sudaryanto, 1993: 145).

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Deskripsi Leksikon Erpangir ku Lau

Deskripsi leksikon erpangir ku lau dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu (1) bahan dan alat (2) kegiatan pada saat proses erpangir ku lau. Lihat tabel 1 berikut ini!

Tabel 1 Deskripsi Leksikon Erpangir ku Lau Alat dan Bahan Arti Kegiatan Proses Erpangir ku Lau Makna Belo: Belo cawir Belo baja Belo minak

Sirih Belo telu sedalanen Ercibal {-er}

Sirih tiga sejalan adalah alat yang digunakan untuk persembahan ke nenek moyang/leluhur Bulung simalem-malem: Besi-besi Sangke-sempilet Tabar-tabar Lak-lak galuh si tabar Daun penyembuh

Seperangkat daun ini tidak dapat dipisahkan satu per satu, dia adalah bagian satu dengan yang lain. Jika dikatakan daun simalem-malem maka komunitas Karo memahaminya empat macam tersebut adalah bagiannya

Batu penggilingen Batu penggilingen Ngilingi{n-i} Ngiling{n-}

Tempat menggiling jera dan kuning gersing, batu berasal dari sungai Cimpa: Pustak Rambe-rambe lepat Sejenis kue yang terbuat dari tepung

Nimpa {n} Kue khusus yang ditumbuk dan dimasak oleh anak beru sebagai makanan khas acara erpangir ku lau

Dagangen Kapan Dagangen ingan

ercibal

Tempat untuk menyembah pada tradisi erpangir ku lau harus menggunakan kain putih/kapan Guru si baso Seseorang yang

memiliki kemampuan supranatural Lit pemetehna {pe-na} Ngampeken jinujung {ng-ken} dan {in}

Memiliki kemampuan Meletakkan kemampuan supranatural

(7)

Jera Kuning gersing

Jintan Kunyit

Ramuan pelengkap yang digunakan dalam air kemasan pangir Manuk: Manuk mbiring Manuk mentar Ayam Ayam hitam Ayam putih Tawar penggel;pengeruang Pajuh-pajuhen {-en}

Ayam hitam dipersiapkan sebagai persembahan sebagai obat

Ayamputih dipersiapkan sebagai persembahan kepada leluhur yang suci

Mumbang Kelapa muda Lau penguras {pe-}

Air kelapa muda yang digunakan sebagai air untuk mensucikan (air suci)

Mangkuk Mangkok putih Ingan lau penguras Tempat air suci atau air yang digunakan untuk mensucikan diri

Pangir Langir Erpangir {er-}

Mangiri {-i} Pangiri {-i}

Berlangir

Melangiri orang lain (benefaktif)

Rimo: rimo mukur, rimo peraga, rimo malem, rimo gawang, rimo kayu, rimo kejaren, rimo macan, rimo manis, rimo nipis, rimo kersik, rimo bali

Jeruk Bahan utama dalam membuat

pangir, terutama rimo mukur tanpa rimo mukur maka pangir tidak sah

Sumpit Wadah tempat

cimpa dan beras piher

Dari contoh pengelompokan leksikon erpangir ku lau di atas, dapat kita lihat perbedaan contoh leksikon jika di bentuk ke dalam kalimat.

Pangir ‘langir’

Guru si baso mangiri Br Surbakti. (S-P-O) ‘Guru si baso melangiri Br Surbakti.’ Br Surbakti pangiri Br Ginting! (S-P-O) ‘Br Surbakti langiri Br Ginting!’

Berdasarkan pola kalimat, kedua kalimat tersebut sama-sama kalimat tunggal dengan pola S-P-O sedangkan berdasarkan maksud dan tujuan memiliki kalimat yang berbeda. Kalimat pertama menyatakan kalimat berita atau informasi bahwa guru si baso telah mangiri br surbakti. Sedangkan kalimat kedua adalah kalimat perintah. Kalimat pertama terdapat kata mangiri yang terbentuk dari morfem dasar pangir dan sufiks –i. Kalimat kedua terdapat kata pangiri yang terbentuk dari kata pangir dan sufiks –i. Perbedaan tersebut mewariskan kekayaan bahasa dan nilai budaya penuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Boas (1966:

(8)

59) dalam Palmer (1999: 11) mengatakan bahwa bahasa merupakan manifestasi terpenting dari kehidupan mental penuturnya.

Leksikon yang terdapat dari bahan dan alat yang memperlihatkan nilai budaya komunitas Karo adalah belo. Belo yang digunakan pada acara tersebut adalah belo telu sedalanen atau sirih yang digunan dalam satu perangkat yang tidak terpisahkan, yaitu belo cawir (belo dan buah mayang), belo baja, dan belo minak. Yang digunakan oleh guru sebagai persembahan atau ercibal man nini tudung (leluhur) ras begu jabu. Leksikon selanjutnya adalah Bulung simalem-malem. Bulung simalem-malem terdiri atas besi-besi, sangke-sempilet, tabar-tabar, dan lak-lak galuh si tabar. Jika komunitas suku Karo mengatakan pulungenna atau kuhna atau ramuannya adalah bulung simalem-malem ‘daun penyembuh/ketenangan artinya ke empat jenis tersebut merupakan satu kesatuan. Uniknya suku karo memiliki nama yang detail dari setiap ramuan. jenis daun besi-besi dan sangke sempilet berasal dari jenis yang sama hanya perbedaan batang di daun sedikit saja. Besi-besi batang di daunnya berwarna hitam sedangkan sangke sempilet berwarna hijau, sedangkan bagian lain memiliki jenis daun batang dan lainnya sama namun mereka di kelompokkan dalam kelas bulung simalem-malem. Ini membuktikan bahwa pola pikir komunitas karo suka mengelompokkan jenis-jenis tumbuhan yang dikaitkan dengan kekerabatan dan tradisi pengobatan tradisional. Memiliki kelompok sosial yang saling membutuhkan tidak dapat dipisahkan.

Leksikon tapin dan batu penggilingen memperlihatkan bahwa komunitas suku Karo suka memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk melakukan tradisi-tradisi suku Karo. Tapin adalah bagian kecil sungai sebagai tempat melakukan aktivitas mandi, mencuci, dan tradisi erpangir ku lau. Mengapa harus sungai atau lau? Seperti nama tradisi ini erpangir ku lau. Artinya lau adalah tempat sakral yang digunakan untuk mensucikan diri. Lau dalam bahasa Karo adalah air. Namun jika pergi ke sungai juga dikatakan dengan ku lau. Jika ke pancuran juga dikatakan ku lau. Jika ke danau pun suku Karo akan menyebutnya dengan kata ku lau. Lau dalam bahasa Karo memiliki arti yang luas sesuai dengan konteks yang digunakan.

Dari tabel 1 di atas terdapat leksikon kegiatan proses erpangir ku lau yang mengandung prefiks er-, ng-, pe-, er- terdapat pada leksikon ercibal ‘mempersembahkan’, ngilling ‘menggiling’, nimpa ‘membuat cimpa’, penguras ‘air yang digunakan untuk mensucikan’, dan erpangir ‘berlangir’.

er + cibal ‘sembah’  ercibal ‘mempersembahkan’

ng + giling ‘giling’  ngilling ‘menggiling ramuan jera dan kunyit’

pe + nguras ‘menguras penyakit’  penguras ‘air suci untuk menguras penyakit’ er + pangir ‘langir’  erpangir ‘berlangir’

Leksikon kegiatan proses erpangir ku lau juga mengandung sufiks -en, dan -i terdapat pada leksikon pajuh-pajuhen ‘yang dipuja’, mangiri ‘melangiri orang lain’, pangiri ‘melangiri orang lain’

pajuh-pajuh ‘puja-puja’+ en  pajuh-pajuhen ‘pemujaan’ panggir ‘langir’ + i  pangiri ‘melangiri orang lain’ panggir ‘langir’ + i  mangiri ‘melangiri orang lain’

Leksikon kegiatan proses erpangir ku lau juga mengandung infiks –in- terdapat pada leksikon jinujung ‘ilmu atau pengetahuan magis yang di miliki’ dan konfiks pe-na, ng-ken, n-i pada leksikon pemetehna “kemampuan magisnya’, ngampeken ‘meletakkan’ dan ngilingi ‘menggilingi’

pe + meteh ‘tahu’ + na  pemetehna ‘kemampuan atau pengetahuan’

ng + ampe ‘letak; + ken  ngampeken ‘ meletakkan pengetahuan magis dari leluhur’ ng + giling ‘giling’+I  ngilingi ‘menggiling ramuan’

(9)

Jenis-jenis Erpangir ku Lau (menurut Tarigan, Sarjani (2009))

a. Erpangir namsamken pinakit: i lakoken sekalak si usur sakit. (erpangir menghilangkan penyakit; dikerjakan oleh keluarga/seorang yang sering sakit)

b. Erpangir erkiteken nipi gulut: i lakoken sekalak jelma erpangir gelah ula reh sinanggel. (erpangir dikarenakan mimpi yang tidak bagus; dilakukan seorang atau sekeluarga erpangir agar tidak datang musibah)

c. Erpangir mindo rezeki: ialoken sekalak jelma erpangir gelah jumpa rejeki. (erpangir minta rejeki; dilakukan seorang atau sekeluarga erpangir biar jumpa rejeki)

d. Erpangir jumpa rejeki (ncidahken keriahen ukur): ialoken erkiteken enggo seh sura-surana.(erpangir jumpa rejeki (memperlihatkan kebahagiaan hati); dilakukan dikarenakan sudah sampai cita-cita atau keinginan)

e. Erpangir ngampeken jinujung: i lakoken erpangir gelah jenujung e enggo tampe ibas ia, gelah banci ula ngege ku jabu.(erpangir menang ngampeken)

f. Erpangir buang kengalen : ilakoken sekalak singuda-nguda/ anak perana erkite-kiteken lenga lalap erjabu.(dilakukan oleh seorang anak gadis dan anak lajang dikarenakan belum berumah tangga).

Nilai Budaya dalam Leksikon Tradisi Erpangir Kulau

Berdasarkan besar kecilnya pesta Erpangir ku Lau dapat terlihat bahwa tradisi ini mengandung nilai sosial, tradisi ini tidak harus dari keluarga yang turun temurun memiliki uang banyak atau kaya raya. Erpangir ku lau memiliki bagian-bagian berdasarkan kesanggupan ekonomi penyelenggaranya antara lain:

a. Kerja singuda (pesta terkecil); erpangir ku lau dengan biaya yang paling kecil. Penyelenggara cukup mengumpulkan bahan utama pangir yang di dapat dari hutan atau ladang penyelenggara. Jika bahan pangir tidak ada di ladang penyelenggara. Penyelenggara dapat meminta ke tetangga atau saudara yang memiliki bahan tersebut tanpa bayaran. Mengapa tidak berbayar karena jiwa sosial komunitas Karo terhadap acara tradisi yang sakral seperti erpangir kulau bertujuan untuk menyelesaikan masalah atau obat terhadap salah satu penyakit. Pada awalnya ramuan tradisonal tersebut hanya dapat diminta dan tidak dapat dibeli (pantang), namun belakangan ini seiring tergerusnya tradisi-tradisi suku karo dan keperluan ekonomi sehingga masyarakat suku Karo tidak menanam ramuan dan tumbuhan keperluan pangir di ladang mereka. Padahal sebagian bahan pangir dapat ditanam di batas-batas ladang masyarakat tanpa mengurangi lahan-lahan pertanian. Dari hasil wawancara, bukan karena keperluan ekonomi bahan tersebut tidak ditanam lagi, namun pada umumnya mereka menganggap tidak terlalu penting untuk ditanam karena tradisi erpangir sudah jarang dilaksanakan. Padahal sebagai penguat galungi ’galengan’ ladang-ladang masyarakat sangat cocok ditanam dan tidak mengganggu tanaman budidaya. Selain bahan pangir penyelenggara mempersiapkan manuk sebagai tambul yang dipersiapkan istri sang penyelenggara atau istri yang punya hajatan. Guru di persiapkan atau dihubungi untuk mangiri yang punya hajatan atau yang akan di pangiri. Syarat saudara yang berkumpul adalah sangkep si telu saja. Sangkep si telu adalah ”tiga yang utuh” ini terdiri dari unsur kelompok anakberu-senina-kalimbubu yang berfungsi sebagai media pemersatu dalam pertalian kekerabatan suku Karo.

(10)

b.

Kerja sintengah (pesta tengah maksudnya dari segi besarnya pesta ini adalah kategori tengah); erpangir ku lau tapi la ergendang. Maksudnya di kategori kedua ini pesta erpangir ini tidak menggunakan gendang. Yang datang pada acara ini lebih ramai dari acara erpangir yang paling kecil. Yang datang pada acara ini sangkep ngelluh (senina.anak beru, kalimbubu) dan ditambah dengan tutur si waluh

(puang

kalimbubu, kalimbubu, senina, sembuyak, senina sipemeren, senina

sepengalon/sedalanen, anak beru, anak beru menteri).

Artinya acara sintengah ini lebih ramai karena keberdaan tutur siwaluh disini di undang untuk bersilaturahim dalam acara erpangir ku lau. Tentu saja biaya yang dikeluarkan lebih banyak dari kerja yang paling kecil.

c.

Kerja sintua (pesta yang paling besar); erpangir janah erkata gendang, pesta tradisi ini menggunakan gendang yaitu alat musik karo yang khas. Gendang disini bukanlah acara hiburan seperti kerboard muda-mudi. Gendang ini digunakan untuk penggiring guru sibaso menari dengan khas memanggil roh nenek moyang. Yang mengatur acara ini adalah anak beru. Yang mangiri adalah guru sibaso atau yang memiliki kemampuan supranatural dan pengalaman dalam acara erpangir ku lau dan sudah dikenal oleh komunitas Karo serta teruji kemahirannya. Yang erpangir bukanlah satu keluarga inti saja. Tempat melaksanakan erpangir yaitu di sungai besar yaitu di tapin yang ditentukan oleh guru si baso. Saat menuju ke sungai diikuti atau di arak oleh guru pesalang dalan. Guru pesalang dalan (guru yang menjaga amannya jalan). Selain keluarga inti kalimbubu dari keluarga inti yang punya hajatan juga di pangiri oleh guru. Pada saat erpangir selalu akan diakhiri dengan meludahi sampah rempah yang tertinggal sebanyak empat kali. setelah acara erpangir selesai. Semua yang erpangir pulang harus bersih rose. Setelah itu pulang ke rumah. Pulang ke rumah tetap diarakkan oleh para guru dan sangkep geluh. Sesampai di rumah anak beru yang bertugas memasak telah mempersiapkan masakan untuk dimakan.tentu saja yang dimuliakan adalah yang memiliki acara dan kalimbubu.Kemudian anak beru menghaturkan acara demi acara salah satunya menari bersama namun dengan nada musik dan aturan yang sangat sopan. Setelah tahapan-tahapan acara selesai maka yang laki merokok. Karena rokok di suku Karo adalah simbol kebersamaan laki-laki sedangkan perempuan menyirih. Setelah acara selesai, di aturlah kepulangan kalimbubu yaitu dengan membawa oleh-oleh di sumpit biasanya berisi cimpa. Karena sudah salang sai meriah ukur (berbahagia).

Dari uraian besar kecilnya kerja dan proses erpangir kulau maka nilai-nilai budaya yang terkandung pada erpangir kulau tradisi suku Karo terdiri atas:

1. Nilai Keharmonisan dan Kedamaian

Tradisi adalah suatu hal yang tertanam dalam alam pikiran guyub tutur Karo.

Tradisi memiliki nilai budaya yang dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai

salah satu upaya penyambung silaturahim dan menciptakan keharmonisan. erpangir ku

lau (n) ‘tradisi berlangir’ erpangir (v) ‘berlangir’ ipangiri, pangiri, magiri. Erpangir ku lau

adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh suku Karo dalam menjaga keharmonisan

keluarga. Di dalam keluarga sering kali terjadi perpecahan, beda pendapat, dan

bahkan perkelahian antarsaudara. Tradisi erpangir ku lau adalah salah satu wadah

yang dapat digunakan untuk mencegah dan menyelesaikan permasalahan jika dalam

keluarga sudah terjadi permasalahan. Hal ini dilakukan oleh komunitas karo pada

jenis erpangir ku lau yaitu Erpangir erkiteken nipi gulut: i lakoken sekalak jelma erpangir

gelah ula reh sinanggel ’erpangir dikarenakan mimpi yang tidak bagus; dilakukan seorang atau sekeluarga erpangir agar tidak datang musibah’. Datang musibah di sini maksudnya

bermacam-macam, pada satu keluarga jika ada anak tiga bersaudara bertengkar besar

(11)

karena suatu hal, jika tidak dapat didamaikan lagi maka sanak saudara akan

melakukan tradisi erpangir. Pada jenis erpangir inilah dapat digali nilai keharmonisan

keluarga dan komunitas suku Karo.

2. Nilai Kesejahteraan

Erpangir ku lau juga memiliki fungsi dan jenis yaitu erpangir mindo rezeki:

ialoken sekalak jelma erpangir gelah jumpa rejeki ’erpangir minta rejeki; dilakukan

seorang atau sekeluarga erpangir biar jumpa rejeki’ tentu saja di sini kegiatan ini

hanya sebagai penyemangat dan harus tetap bekerja keras. Erpangir ku lau juga

dilakukan untuk memperlihatkan kebahagiaan yaitu erpangir jumpa rejeki (ncidahken

keriahen ukur): ialoken erkiteken enggo seh sura-surana. erpangir jumpa rejeki

(memperlihatkan kebahagiaan hati); dilakukan dikarenakan sudah sampai cita-cita

atau keinginan’ kegiatan ini adalah sebuah bentuk ucapan terima kasih. Dari kegiatan

ini terlihat bahwa komunitas suku Karo tidak lupa berterima kasih di karenakan sudah

diberi kesejahteraan.

3. Nilai Religius

Erpangir juga sering dilakukan untuk meletakkan ilmu pengetahuan

(pengetahuan magis, tentunya yang di letakkan adalah yang baik dan positif) kepada

orang yang akan menyandang pengetahuan magis yang diberikan oleh leluhurnya.

Dalam hal ini erpangir ku lau ini disebut ngampeken jinujung dilakukan agar tampe

pada keturunan leluhur tersebut agar tidak ngege atau mengganggu ku keluarga atau

jabu. Di sini terlihat bahwa sebagian masyarakat Karo masih memiliki kepercayaan

kepada nenek moyangnya atau leluhurnya. Karena dianggap segala permasalahan

dapat diselesaikan jika kita mengadu dan berserah kepada Dibata Si Mada Kuasa ras

begu jabu ’Tuhan yang Mahakuasa dan begu jabu (kekuatan ghaib nenek

moyang/keluarga)’. Agar begu jabu ras nini tudung kerina ngarak-ngarak ’agar begu

jabu dan nenek moyang menjaga’.

4. Nilai yang berorientasi dengan alam (lingkungan)

Dari bahan-bahan pangir yang digunakan yaitu (1) rimo, biasanya digunakan atau pada awalnya menggunakan 11 jenis yaitu rimo mukur, rimo peraga, rimo malem, rimo gawang, rimo kayu, rimo kejaren, rimo kuku arimo, rimo manis, rimo nipis, rimo kersik, rimo bali. Dikarenakan saat ini sebagian besar rimo sudah sulit untuk di dapat maka 5 jenis saja pun sudah sah. Asalkan jeruk yang harus ada adalah rimo mukur. Ini dikarenakan rimo mukur adalah rimo yang paling sakral bagi komunitas suku Karo. Dari jenis 11 berubah menjadi 5, ini menandakan sudah banyak jenis rimo yang tidak dibudidayakan lagi saat ini. Ini artinya tradisi erpangir ku lau sangat mendukung kelangsungan hidup jenis-jenis jeruk. (2) Bulung si malem-malem, besi-besi, sangke sempilet, tabar-tabar, lak-lak galuh sitabar. (3) Belo:belo bujur, belo cawir (belo+buah mayang), ras belo baja minak.(4) Galuh si mas dilengkapi dengan cimpa: pustak, rambe-rambe, lepat. Galuh si mas pada acara ini biasanya akan ditanam kembali, artinya tradisi ini adalah salah satu warisan budaya suku Karo yang mendukung pelestarian lingkungan. (5) Mumbang: untuk lau penguras. Mumbang adalah buah kelapa muda yang digunakan sebagai air untuk penguras (mensucikan) diri. Artinya kelapa harus di budidayakan karena dibutuhkan oleh komunitas Karo dalam menjalankan tradisinya. Yang terakhir adalah tapin. Tapin adalah salah satu tempat atau bagian sungai yang digunakan untuk menjalankan ritual tradisi erpangir kulau. Artinya tapin adalah salah satu bagian sungai yang harus di lestarikan dikarenakan sungai adalah salah satu tempat untuk

(12)

menjalankan ritual tradisi erpangir kulau yang bermanfaat bagi komunitas suku Karo dalam menjalankan tradisi.

5. Nilai Sosial

Nilai sosial yang terkandung pada tradisi erpangir ku lau adalah pada sifat kebersamaan dalam mensukseskan acara erpangir ku lau yang dilaksanakan oleh perangkat sangkep ngelluh. Tanpa memandang kelas sosial. Berdasarkan besar kecilnya pesta Erpangir ku lau tradisi ini tidak harus dari keluarga yang turun temurun memiliki uang banyak atau kaya raya. Erpangir ku lau memiliki bagian-bagian berdasarkan kesanggupan ekonomi penyelenggaranya yaitu kerja singuda, sintengah, dan sintua.

SIMPULAN

Deskripsi leksikon erpangir ku lau dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu (1) bahan dan alat (2) kegiatan pada saat proses erpangir ku lau. Leksikon kegiatan proses erpangir ku lau mengandung a.prefiks er-, ng-, pe-, er- terdapat pada leksikon ercibal ‘mempersembahkan’, ngilling ‘menggiling’, nimpa ‘membuat cimpa’, penguras ‘air yang digunakan untuk mensucikan’, dan erpangir ‘berlangir’. b. sufiks -en, dan -i terdapat pada leksikon pajuh-pajuhen ‘yang dipuja’, mangiri ‘melangiri orang lain’, pangiri ‘melangiri orang lain’. c. infiks –in- terdapat pada leksikon jinujung ‘ilmu atau pengetahuan magis yang di miliki’ dan d. konfiks pe-na, ng-ken, n-i pada leksikon pemetehna “kemampuan magisnya’, ngampeken ‘meletakkan’ dan ngilingi ‘menggilingi’.

Nilai budaya dalam leksikon erpangir ku lau tradisi suku Karo mengandung nilai-nilai budaya yaitu (1) nilai-nilai keharmonisan dan kedamaian, (2) nilai-nilai kesejahteraan, (3) nilai-nilai religius, (4) nilai yang berorientasi dengan alam (lingkungan), dan (5) nilai sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat. 2012. Kabupaten Langkat Dalam Angka 2012. Stabat: BPS Kabupaten Langkat.

Chaer, Abdul. 2007. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Denzin dan Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Diterjemahkan oleh Dariyatno, Fata, Abi, dan Rinaldi).

Haviland, William A. 1999. Antropologi. Edisi Keempat, Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga. Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. [Edisi Revisi] Bandung: Rosdakarya.

Palmer, Gary B. 1999. Towards a Theory of Cultural Linguistics. Austin: University of Texas Press.

Palmer, F.R. 1976. Semantics a New Outline. Cambridge: Cambridge University.

Pelly, Usman, 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan. Prinst, Darwin. 2010. Kamus Karo – Indonesia. Medan: Bina Media Perintis.

(13)

Prinst, Darwin. 2004. Adat Karo. Medan: Bina Media Perintis.

Prosser, M. 1978. The Cultural Dialoque: An Introduction to Intercultural Communication. Boston: Houghton-Mifflin.

Sibarani, Robert. 2012. Kearifan Lokal. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: PODA.

Sibarani, Robert. 1997. Leksikografi. Medan: USU Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Simanjuntak, Mangantar. 2009. Pengantar Neuropsikolinguistik. Medan: Perpustakaan Nasional RI.

Tarigan, Sarjani. 2009. Lentera Kehidupan Orang Karo dalam Berbudaya. Medan:

BABKI Press.

Wierzbicka, Anna. 1997. Understanding Cultures Through Their Key Words: English, Russian, Polish German, and Japanese. Newyork: Oxford University Press.

Fasya, Mahmud. 2011. “Leksikon Waktu Harian dalam Bahasa Sunda: Kajian Linguistik Antropologi”. [Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 9: Tingkat Internasional]. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya.

Mahsun. 2001. ”Peran Bahasa Ibu dalam Membangun Kebudayaan Daerah”. [Makalah yang disajikan dalam Musyakarah Reaq Adat Tanaq Samawa]. Sumbawa.

Saryono, Dj. 1997. “Representasi Nilai Budaya Jawa dalam Prosa Fiksi Indonesia”. [Disertasi]. Malang: Universitas Negeri Malang.

Figur

Tabel 1 Deskripsi Leksikon Erpangir ku Lau Alat dan  Bahan Arti KegiatanProses  Erpangir ku Lau Makna Belo: Belo cawir Belo baja Belo minak

Tabel 1

Deskripsi Leksikon Erpangir ku Lau Alat dan Bahan Arti KegiatanProses Erpangir ku Lau Makna Belo: Belo cawir Belo baja Belo minak p.6