Statistik Daerah
Kota Samarinda
2015
No. Publikasi
: 64725.15.08
Katalog BPS
: 110100.6472
Ukuran Buku
: 17,6 cm x 25 cm
Jumlah Halaman : vi + 29 halaman
Naskah:
Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Gambar Kulit:
Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Diterbitkan Oleh:
Badan Pusat Statistik Kota Samarinda
Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya
Segala puji bagi Allah SWT atas terbitnya Statistik Daerah Kota
Sa-marinda Tahun 2015. Statistik Daerah merupakan publikasi rutin
ta-hunan BPS Kota Samarinda sebagai pelengkap ragam statistik dalam
memo-tret kondisi wilayah Kota Samarinda.
Publikasi ini menyajikan beberapa indikator terpilih terkait dengan
kondisi sosial dan ekonomi Kota Samarinda. Publikasi Statistik Daerah Kota
Samarinda juga dilengkapi dengan analisis sederhana untuk membantu
pengguna data dalam memahami perkembangan pembangunan serta potensi
yang ada di kota ini. Informasi yang disajikan diharapkan dapat bermanfaat
bagi para pengguna data, terutama dalam proses perencanaan, monitor dan
evaluasi pembangunan wilayah Kota Samarinda.
Seiring dengan peningkatan kebutuhan akan informasi, publikasi
Statistik Daerah Kota Samarinda akan terus mengalami penyempurnaan,
baik pada aspek penyajian maupun pada aspek substansinya. Untuk itu,
san-gat diharapkan masukan dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak
un-tuk penyempurnaan penerbitan di masa akan datang, dan semoga publikasi
ini mampu memenuhi kebutuhan pengguna data akan informasi statistik
oleh semua kalangan dan lapisan
masyarakat.
Samarinda, Oktober 2015
Kepala Badan Pusat Statistik
Kota Samarinda
Ir. Srie Sis Sugianto, M.Si
Kata Pengantar
D a f t a r I s i
Kata Pengantar
iDaftar Isi
iii
Bab 1.
Geografi dan Iklim
1
Bab 2.
Pemerintahan
2
Bab 3.
Penduduk
4
Bab 4.
Pendidikan
6
Bab 5.
Ketenagakerjaan
8
Bab 6.
Kesehatan
10
Bab 7.
Perumahan
12
Bab 8.
Pembangunan Manusia
14
Bab 9.
Pertanian
16
Bab 10.
Pertambangan dan Energi
18
Bab 11.
Industri Pengolahan
20
Bab 12.
Transportasi dan Komunikasi
21
Bab 13.
Perdagangan
22
Bab 14.
Perbankan dan Investasi
23
Bab 15.
Harga-harga
24
Bab 16.
Pengeluaran Penduduk
25
Bab 17.
Pendapatan Regional
26
Bab 18.
Perbandingan Regional
28
Kota Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur, yang wila-yahnya dikelilingi oleh dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1987, Kota Samarinda memiliki wilayah seluas 718 km². Kota ini dilalui oleh Sungai Mahakam, yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur.
Secara astronomis Kota Samarinda be-rada diantara 117°03'00" sampai dengan 117°18'14" Bujur Timur dan 00° 19'02" sampai dengan 00°42'34" Lintang Selatan. Topografi Samarinda meliputi tanah datar dan berbukit di ketinggian antara 10 s.d. 200 m di atas permukaan laut. Fisiografi wilayah Kota Samarinda merupakan daerah bukan pesisir. Ham-pir separuh wilayah Kota Samarinda atau sekitar 41,12 persen, merupakan daerah patahan. Wilayah yang paling kecil, atau sekitar 0,30 persen, merupa-kan daerah rawa.
Kota Samarinda memiliki iklim Tropica Humida, mengalami musim penghujan dan musim kemarau secara bergantian. Stasiun Meteorologi di Kota Samarinda mencatat bahwa suhu udara Kota Samarinda berkisar antara 24,5 sampai 32,7°C dengan kelembaban udara rata-rata 81,4 persen. Selain itu, rata-rata-rata-rata curah hujan tercatat sebesar 199,0 mm per tahun, curah hujan tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebe-lumnya, yaitu 201,7 mm. Curah hujan tertinggi terjadi di bulan Desember 2014 mencapai 448,6 mm. Bulan yang sama juga merupakan bulan dengan hari hujan terbanyak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, yaitu mencapai 25 hari.
Kota Samarinda terletak di wilayah khatulistiwa dan memiliki iklim
tropica humida
1
1
GEOGRAFI DAN IKLIM
1
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Kota Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur, yang secara yuridis terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 27 Ta-hun 1959.
Kota Samarinda memiliki visi “Terwujudnya Kota Samarinda sebagai Kota metropolitan berbasis industri, perdagangan dan jasa yang maju, berwawasan lingkungan, serta mempu-nyai keunggulan daya saing untuk meningkatkan kesejahteraan masyara-kat”.
Hingga tahun 2014, kota Samarinda memiliki 10 (sepuluh) kecamatan, yaitu: Samarinda Ulu, Samarinda Utara, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Palaran, Sungai Kunjang, Sambutan, Samarinda Kota, Loa Janan Ilir, dan Sungai Pinang. Samarinda Utara merupakan kecamatan terluas, meliputi 32 persen dari total luas wilayah Kota Samarinda. Jumlah kelurahan di Kota Samarinda juga masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu 53 kelurahan. Namun demikian, jumlah ini akan ber-tambah pada tahun 2015 menjadi 59 desa.
Saat ini Walikota Samarinda dijabat oleh H. Syaharie Ja’ang, SH. M.Si. berpasangan dengan Wakil Walikota Ir. H. Nusyirwan Ismail, M.Si. Pasangan ini terpilih berdasarkan hasil Pilkada Samarinda pada tanggal 12 Oktober 2010 yang kemudian dilantik oleh Gu-bernur Kalimantan Timur pada tanggal 23 November 2010, dengan masa jab-atan 2010-2015.
Pada tahun 2014 terdapat sejumlah 1.301 orang Pegawai
Tidak Tetap/Bulanan (PTTB) di kota Samarinda
2
PEMERINTAHAN
2
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Pada tahun 2014 terdapat sejumlah 1.301 orang Pegawai Tidak
Tetap/Bulanan (PTTB) di kota Samarinda
2
PEMERINTAHAN
Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Samarinda pada tahun 2014 sebanyak 9.832 pegawai. Dalam hal ini jumlah pegawai perempuan (5.170) lebih banyak dibandingkan dengan pegawai laki-laki (4.662). Berdasarkan golongan, hampir 50 persen PNS meru-pakan pegawai golongan III, yaitu sebanyak 4.592 pegawai, dan 54,32 persen tingkat pendidikan pegawai Pemerintah Kota Samarinda adalah Sar-jana Strata I keatas.
Perkembangan pembiayaan pem-bangunan dan pengelolaan keuangan publik Kota Samarinda dapat dilihat me-lalui perkembangan dan struktur data APBD. Selama periode 2012-2014, ter-dapat peningkatan besaran nilai ang-garan APBD, dari 2.312 milyar rupiah pada tahun 2012 menjadi 3.022 milyar pada tahun 2014, atau meningkat rata-rata 14,3 persen per tahun. Namun demikian, realisasi anggaran tersebut mengalami penurunan dari 117,3 persen pada tahun 2012 menjadi 76,5 persen pada tahun 2014.
Selama periode yang sama, nilai PAD, sebagai bagian dari komponen erimaan daerah, terus mengalami pen-ingkatan, sedangkan nilai Dana Perim-bangan mengalami penurunan. Rata-rata peningkatan PAD sebesar 15,9 per-sen per tahun, sedangkan Dana Perim-bangan mengalami penurunan rata-rata minus 9,7 persen per tahun. Selain itu, terdapat penurunan kontribusi Dana Perimbangan seiring dengan pening-katan peranan PAD dalam Pendapatan Daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan kemandirian keu-angan daerah Kota Samarinda.
Rencana pendapatan Kota Samarinda Tahun 2014
men-capai 3,0 triliun rupiah
1
2
PEMERINTAHAN
3
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Rencana pendapatan Kota Samarinda Tahun 2014 mencapai 3,0
triliun rupiah
1
2
PEMERINTAHAN
Dibandingkan wilayah perkotaan lainnya, Kota Samarinda memiliki jumlah penduduk tertinggi, bahkan merupakan tertinggi dibandingkan wilayah kabupaten/kota lainnya di Ka-limantan Timur. Pada tahun 2014 jumlah penduduk kota Samarinda sebanyak 830.676 jiwa. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 jumlah penduduk kota Samarinda adalah sebanyak 781.184 jiwa dan pada ta-hun 2013 sebanyak 805.683 jiwa, atau dengan kata lain, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir pertumbuhan penduduk samarinda rata-rata adalah 3,12 per-sen per tahun.
Gambar piramida penduduk menun-jukkan bahwa komposisi penduduk Kota Samarinda didominasi oleh penduduk muda/dewasa. Persentase penduduk tertinggi berada pada ke-lompok umur 20-24 tahun, yaitu sebe-sar 10,18 persen. Persentase penduduk terkecil adalah manula dengan umur 75 tahun keatas, yaitu sebesar 0,65 persen. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki di Kota Samarinda lebih banyak dibandingkan perempuan. Pada tahun 2014, setiap 100 penduduk perempuan terdapat sekitar 107 penduduk laki-laki.
Laju pertumbuhan penduduk di tahun 2014 sebesar 3,10 persen. Besaran pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi tersebut dipengaruhi oleh laju migrasi yang masuk ke Kota Samarin-da. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah migran di Ko-ta Samarinda merupakan yang terbesar di Provinsi Kalimantan Timur.
Uraian 2012 2013 2014
Jumlah Penduduk 781.184 805.688 830.676 Pertumbuhan Penduduk
(%) 3,38 3,42 3,10
Kepadatan (jiwa/km2) 1.088 1.122 1.157
Rasio Jenis Kelamin 107,24 107,27 107,26 Rumahtangga(RT) 193.860 206.396 205.690 Rata-Rata ART 4,03 3,90 4,04 % Penduduk menurut Kelompok Umur 0-14 thn 28,4 27,29 27,30 14-64 thn 69,4 70,28 70,26
65+ 2,2 2,43 2,44
Rasio Ketergantungan 44,04 42,28 42,32
Penyebaran penduduk Kota Samarinda terpusat di wilayah
Kecama-tan Samarinda Ulu
3
PENDUDUK
Piramida Penduduk Tahun 2014
Statistik Kependudukan
Sumber: BPS, angka proyeksi penduduk
Sumber: BPS, angka proyeksi penduduk
4
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Pada tahun 2014, penduduk Kota Samarinda terkonsentrasi di Kecamatan Samarinda Ulu, yakni sebanyak 6.276 jiwa per km2 dan di Kecamatan Sa-marinda Seberang, sebesar 5.260 jiwa per km2. Sementara kepadatan terendah berada di Kecamatan Palaran, sebesar 253 jiwa per km2. Terdapat sekitar
205.690 rumah tangga yang tinggal di wilayah Kota Samarinda, dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga men-capai 4 jiwa.
Rasio ketergantungan menunjukkan beban ekonomi yang ditanggung oleh penduduk usia produktif dalam menghidupi usia non produktif, yaitu penduduk usia anak-anak dan manula. Besaran rasio yang semakin meningkat menunjukkan peningkatan beban ekonomi penduduk usia produktif. Hal ini dapat berimplikasi pada kebijakan publik berupa peningkatan pengeluaran sosial, seperti alokasi anggaran untuk panti wredha atau pengeluaran pendidikan usia dini. Dibandingkan tahun sebe-lumnya, rasio ketergantungan pada ta-hun 2014 meningkat, namun tidak signif-ikan, yaitu menjadi 42,32. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang yang masih produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 43 orang yang belum dan tidak produktif.
Berdasarkan status perkawinan, 57,46 persen penduduk Kota Samarinda yang berumur 10 tahun keatas berstatus kawin, sedangkan yang berstatus belum kawin adalah sebesar 35,96 persen. Pada kelompok umur yang sama, penduduk yang berstatus cerai hidup dan mati masing-masing sebesar 1,52 persen dan 5,06 persen.
Mayoritas penduduk Kota Samarinda merupakan suku Jawa, Bugis
dan Banjar
1
3
PENDUDUK
5
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Jumlah Penduduk
Menurut Kecamatan Tahun 2014
Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Status Perkawinan Tahun 2014
Jumlah penduduk laki-laki di Kota Samarinda lebih banyak dibanding perempuan
Capaian pembangunan manusia di bidang pendidikan di Kota Samarinda dapat dilihat dari angka melek huruf. Angka melek huruf mencerminkan potensi perkembangan sumber daya manusia sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Selain itu, angka melek huruf juga menunjukkan kemam-puan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media serta berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Secara umum, pada tahun 2014 terjadi peningkatan terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis. Sementara itu, data rata-rata lamanya sekolah penduduk di Kota Samarinda adalah 10,26 tahun, yang berarti bahwa secara rata-rata penduduk yang berumur 15 tahun menghabiskan 10,26 tahun duduk di bangku sekolah atau bisa dikatakan rata-rata penduduk yang berumur 15 tahun bersekolah sampai dengan kelas satu SLTA. Sehingga bisa disimpulkan bahwa program wajib belajar 9 tahun di Kota Samarinda dapat dikatakan berhasil.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) meng-gambarkan seberapa besar penduduk usia tertentu yang masih bersekolah. APS usia 7-12 pada tahun 2014 sebesar 98,51 persen, ini berarti masih ada seki-tar 1,49 persen penduduk berusia 7 sampai dengan 12 tahun yang tidak sekolah. Angka tersebut semakin menurun untuk kelompok umur yang semakin tinggi. APS kelompok usia 13-15 tahun sebesar 97,23 persen, se-dangkan APS kelompok usia 16-18 ta-hun sebesar 81,83 persen. Nilai APS terendah adalah pada kelompok usia 19 -24 tahun sebesar 40,96 persen.
Angka partisipasi sekolah tinggi untuk kelompok usia 7-12 tahun dan
13-15 tahun, menunjukkan keberhasilan Program Wajib Belajar 9
tahun di Kota Samarinda
4
PENDIDIKAN
6
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Pada tahun 2014, terdapat penurunan pada jumlah sekolah, namun
peningkatan pada jumlah guru dan jumlah murid
1
4
PENDIDIKAN
7
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Pada tahun ajaran 2013/2014 tercatatjumlah sekolah sebanyak 467 unit, se-dangkan tahun 2014/2015 mengalami penurunan sebanyak 13 unit menjadi 454 unit. Lain halnya dengan jumlah guru dan murid, pada tahun ajaran 2014/2015 mengalami kenaikan, yaitu masing-masing menjadi 10.155 guru dan 168.403 murid. Tercatat rata-rata terdapat 370 jumlah murid dalam setiap satu sekolah. Dan rata-rata dalam satu sekolah terdapat 23 guru.
Rasio murid guru merupakan ukuran yang dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pendidikan. Se-makin kecil rasio berarti keadaan fasili-tas pendidikan yang tersedia semakin baik. Disamping itu rasio murid guru ju-ga mengju-gambarkan beban tuju-gas yang dijalankan seorang guru. Seperti halnya pada rasio murid terhadap sekolah, ra-sio murid guru terbesar terjadi pada ting-kat pendidikan SD yakni rata-rata 20,85. Sedangkan rasio murid dan guru tingkat SLTP dan SLTA sebesar 14,25 dan 11,24.
Tingkat pendidikan yang ditamatkan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan, hal ini dapat dilihat dari akses pendidikan tersebut yang mengarah kepada pekerjaan yang baik. Pada tahun 2014 dari penduduk yang berumur 10 tahun ke atas terdapat 10,24 persen yang berpendidikan tinggi (akademi/universitas); 59,41 persen ber-pendidikan menengah (SLTP dan SLTA); 18,38 persen berpendidikan da-sar (SD). Sementara yang tidak memiliki ijazah sekitar 11,97 persen.
Indikator Pendidikan Dasar
Rasio Murid Guru
Penduduk 10+ Menurut Ijazah Tertinggi
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Samarinda
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Samarinda
Sumber: BPS, Sakernas Uraian 2012/ 2013 2013/ 2014 2014/ 2015 Jumlah Sekolah 457 467 454 Jumlah Guru 10.093 10.128 10.155 Jumlah Murid 159.723 158.739 168.403
http://samarindakota.bps.go.id
Penduduk 15 tahun ke atas yang dikenal sebagai penduduk usia kerja, pada tahun 2014 mencapai 603 ribu orang. Dari jumlah tersebut yang termasuk angkatan kerja sebanyak 357 ribu orang. Sehingga tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang termasuk angkatan kerja di tahun 2014 ini sebesar 59,19 persen. TPAK Kota Samarinda relatif rendah jika dibandingkan dengan kabupaten/ kota lain yang ada di Kalimantan Timur. Rendahnya TPAK tersebut selain mengindikasikan penyerapan tenaga kerja yang belum maksimal, juga dapat mengindikasikan fenomena positif di bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar 9 tahun. Artinya, dari segi pendidikan disinyalir penduduk usia tersebut lebih memilih bersekolah, dibandingkan bekerja.
Menurut jam kerja, terlihat bahwa setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar 12 sampai 13 orang yang berstatus setengah pengangguran (memiliki produk-tivitas rendah, pendapatan rendah dan tidak memiliki jaminan sosial atas pekerja), atau yang bekerja dengan jam kerja di bawah 35 jam seminggu tapi tidak termasuk yang sementara tidak bekerja.
Sektor ekonomi yang paling dominan dalam perekonomian Kota Samarinda dan merupakan penyerap tenaga kerja terbesar yakni sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi serta sektor jasa-jasa, yakni sebesar 32 persen dan 22 persen.
5
KETENAGAKERJAAN
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 59,19 persen.
Sebagian besar pekerja (54 persen) bekerja di sektor Perdagangan
dan Jasa-jasa
8
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Uraian 2012 2013 2014 Penduduk 15+ 558.604 585.841 603.897 Angkatan Kerja 359.434 356.235 357.461 Bukan Angkatan Kerja 199.170 229.606 246.436 TPAK (%) 64,35 60,81 59,19 TPT (%) 9,71 8,57 7,56 Setengah Pengangguran (%) 12,42 16,28 12,54 Sumber: Sakernas 2014
Statistik Ketenagakerjaan
Persentase Pekerja Menurut Lapangan Usaha,
2014
Sumber: Sakernas 2014
Penduduk 15 tahun keatas yang bekerja menurut status pekerjaan menunjukkan bahwa status sebagai buruh/karyawan/ pegawai adalah status yang paling dominan antara tahun 2012 sampai 2014, dengan persentase antara 58 sampai dengan 64 persen. Proporsi terbesar kedua setelah buruh/karyawan/ pegawai adalah pekerja dengan status berusaha sendiri yang secara total men-capai 22,41 persen
Indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah salah satu indi-kator yang paling banyak digunakan untuk mengukur keberhasilan ketenagakerjaan. Pengangguran adalah semua penduduk usia kerja yang ter-golong angkatan kerja tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin bekerja atau sudah punya pekerjaan tapi belum memulainya. TPT Kota Samarinda pada tahun 2014 menurun dibanding tahun sebelumnya, dari yang semula 8,57 per-sen di tahun 2013 menurun menjadi 7,56 persen di tahun 2014.
Isu yang sedang populer terkait pengangguran adalah tentang pengangguran terdidik. Ternyata hal ini juga terjadi di Kota Samarinda. Terlihat dari persentase pengangguran yang terbesar berasal dari latar pendidikan SLTA yakni sebesar 55 persen. Sebesar 17 persen berpendidikan Diploma/ Sarjana. Terbatasnya lapangan pekerjaan sesuai kualifikasi pendidikan merupakan salah satu penyebab makin banyaknya pengangguran terdidik.
5
KETENAGAKERJAAN
Terdapat penurunan tingkat pengangguran (TPT), namun demikian
masih terdapat isu pengangguran terdidik di Kota Samarinda
9
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Status PekerjaanUtama 2012 2013 2014
Berusaha sendiri 16,54 22.42 22.41
Berusaha dibantu buruh tidak tetap/ tidak dibayar 5,72 3.2 3.81 Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar 5,70 5.01 2.92 Buruh/Karyawan/ Pegawai 64,30 58.5 64.19 Pekerja Bebas 3,31 7.24 3.89 Pekerja tidak dibayar/keluarga 4,43 3.62 2.78 Sumber: Sakernas 2014 Sumber: Sakernas 2014
Persentase Penduduk Bekerja menurut Status
Persentase Penduduk 15+ yang termasuk
Pengangguran Terbuka menurut Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan, 2014
Penyediaan fasilitas kesehatan merupa-kan hal penting untuk meningkatmerupa-kan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, sebagai contoh adalah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Pada tahun 2014, jumlah puskesmas mengalami peningkatan menjadi 24 unit, sedangkan puskesmas pembantu men-galami penurunan menjadi 41 unit. Se-dangkan jumlah dokter praktek mening-kat menjadi sebanyak 562 orang. Se-mentara, penduduk yang mengalami keluhan kesehatan memanfaatkan puskesmas sebagai tempat berobat sebesar 30,58 persen. Sedangkan, praktek dokter/poliklinik juga menjadi rujukan penduduk berobat sebesar 34,40 persen.
Derajat kesehatan masyarakat Kota Samarinda secara umum dapat dilihat dari Angka Harapan Hidup. Pada tahun 2014 Angka Harapan Hidup masyarakat Kota Samarinda sebesar 73,63 tahun, meningkat dibandingkan tahun sebe-lumnya. Sedangkan Angka Kesakitan yang menunjukkan persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan menggangu aktivitas sehari-hari meningkat menjadi 18,84 persen. Ini berarti kualitas kesehatan masyarakat kota Samarinda pada tahun 2014 cenderung menurun.
Pada tahun 2014, keluhan kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat Kota Samarinda sebesar 29 persen menge-luhkan pilek, dan sebesar 28 persen mengeluhkan batuk. Sedangkan sisanya mengeluhkan panas, sakit kepala beru-lang, asma, diare, sakit gigi, dan lainnya.
Jumlah dokter praktek semakin meningkat, seiring dengan
mening-katnya persentase rumahtangga yang berobat ke praktek dokter.
6
KESEHATAN
10
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Uraian 2012 2013 2014 Sarana Kesehatan Balai Pengobatan 41 41 42 Puskesmas 21 23 24 Puskesmas Pembantu 43 43 41 Rumah Sakit 13 16 9 Dokter Praktek 535 546 562
Tempat Berobat Jalan (%)
Rumah Sakit 18,12 16,96 14,90 Praktek Dokter/ Poliklinik 40,83 33,22 34,40 Puskesmas 28,95 34,63 30,58 Tenaga Kesehatan 8,97 11,31 15,90 Lainnya 3,12 3,89 4,37
Angka Harapan Hidup
(tahun) 71,62 71,92 73,63
Angka Kesakitan 15,71 7,94 18,84
Statistik Kesehatan
Penduduk yang mempunyai Keluhan
Kesehatan menurut Jenis Keluhan, 2014
Sumber: Susenas 2014
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Samarinda
Penyebab kematian ibu yang tertinggi di Indonesia adalah pada waktu persali-nan. Oleh karena itu peningkatan pela-yanan pertolongan persalinan oleh tena-ga terlatih/terdidik dapat menurunkan resiko kematian ibu pada waktu me-lahirkan. Sebagian besar persalinan ba-yi yang terjadi di Kota Samarinda dito-long oleh bidan/paramedis sebesar 68,15 persen, setelah itu oleh dokter 27,59 persen dan dukun bayi/Lainnya sebesar 3,19 persen. Banyaknya per-salinan ditolong oleh bidan dan dokter merupakan gambaran kemajuan di bi-dang kesehatan dimana hal ini juga menunjang berkurangnya angka ke-matian ibu pada saat persalinan. Besarnya persentase kelahiran yang ditolong oleh tenaga medis antara lain disebabkan karena sekarang lebih mu-dah akses ke tenaga medis tersebut, di samping itu biaya lebih terjangkau dengan banyaknya program pemerintah yang mendukung kesehatan masyarakat menengah kebawah, selain itu kesela-matan yang lebih terjamin dibandingkan bila menggunakan .
Pada tahun 2014, di Kota Samarinda penduduk wanita yang berstatus kawin dan masih aktif menjadi peserta Keluar-ga Berencana atau KB tercatat sebesar 58,58 persen atau sebanyak 106.135 jiwa. Sedangkan sisanya yakni sebanyak hampir 48,9 ribu atau 26,99 persen perempuan usia subur dan kawin dalam kondisi tidak lagi mengunakan alat/cara KB (Drop-Out KB). Dan sebesar 14,43 persen per-empuan usia subur tidak pernah menggunakan alat KB.
68,15 persen persalinan bayi ditolong oleh bidan/paramedis dan
27,59 persen ditangani oleh dokter .
1
6
KESEHATAN
11
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Persentase Penolong Kelahiran Balita
Pertama, 2014
Sumber: Susenas 2014
Sumber: Susenas 2014
Jumlah Wanita Peserta KB
2014
Kualitas perumahan di suatu wilayah merupakan salahsatu indikator kese-jahteraan masyarakat. Kualitas pe-rumahan yang semakin baik menunjuk-kan kemampuan sosial ekonomi yang semakin meningkat. Sebanyak 59,7 per-sen penduduk di Kota Samarinda sudah menempati rumah dengan status kepemilikan adalah milik sendiri, 29,12 persen rumah berstatus kontrak/sewa, sedangkan sisanya merupakan rumah dengan status bebas sewa milik orang lain atau orangtua/saudara dan rumah dinas.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI, terdapat 7 (tujuh) kriteria rumah sehat, yaitu memiliki atap dengan pla-fon, dinding permanen, jenis lantai bukan tanah, terdapat jendela, ventilasi yang cukup, pencahayaan alami dan tidak padat huni (minimal 8 m2 per orang). Secara umum, kualitas pe-rumahan di Kota Samarinda semakin baik di tahun 2014. Walaupun masih terdapat rumah dengan jenis lantai tanah (0,38 persen), namun nilainya relatif sangat kecil. Disamping itu, Di samping itu, terdapat peningkatan pro-porsi perumahan dengan luasan lebih dari 32 m2 per rumah tangga atau 8 m2
perkapita (lebih dari 80 persen). Se-dangkan untuk jenis dinding rumah ter-luas adalah dinding yang terbuat dari kayu (51,17 persen), sedangkan jenis lainnya yang cukup besar adalah tem-bok (48,38 persen). Jenis atap terluas rumah di Samarinda sebagian besar adalah jenis atap yang terbuat dari seng (76,24 persen). Jenis atap lain yang ju-ga cukup banyak digunakan adalah 10,94 persen.
Secara umum, dinding rumah di Kota Samarinda sebagian berjenis
kayu dan sebagian lagi tembok, sementara atap terluasnya berupa
seng.
7
PERUMAHAN
12
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Kualitas Perumahan 2012 2013 2014 Dinding Terluas (%) Tembok 50,5 48,31 48,38 Kayu 49,11 51,41 51,17 Lainnya 0,39 0,28 0,44 Atap Terluas (%) Beton 3,76 2,13 1,84 Genteng 17,21 10,33 10,94 Seng 69,56 76,24 77,55 Ijuk/Rumbia 0,3 0,45 0.00 Lainnya 9,17 10,85 9,67 Sumber: Susenas 2014
http://samarindakota.bps.go.id
Pada tahun 2014, kondisi fasilitas perumahan di Kota Samarinda pada semakin baik. Tersisa hanya 0,19 per-sen rumahtangga yang memanfaatkan sumber air minum dari sumur tak ter-lindung, mata air tak terter-lindung, air hujan dan air sungai. Sedangkan 99,81 persen rumahtangga di Kota Samarinda sudah menggunakan fasili-tas air bersih. Peningkatan fasilifasili-tas ini dikarenakan akses masyarakat untuk memperoleh air bersih semakin mu-dah.
Berdasarkan cara memperoleh air mi-num, sekitar 72 persen rumahtangga di Kota Samarinda lebih memilih un-tuk memperoleh air minum dengan cara pembelian, yaitu dengan cara membeli air isi ulang, air kemasan, dll. Sedangkan 32 persen penduduk Kota Samarinda memperoleh air minum dengan cara langganan secara peri-odik seperti air dari PDAM, dan 6 per-sen sisanya memperoleh air minum tanpa melakukan pembelian atau
pembayaran atau memperoleh
dengan usaha sendiri.
Terdapat peningkatan penggunaan gas/elpiji sepanjang periode 2012 hingga 2014. Hal ini merupakan hasil
dari program pemerintah untuk
melakukan konversi minyak tanah ke gas/elpiji. Walaupun masih terdapat rumahtangga yang menggunakan min-yak tanah sebagai alternatif (3,9 per-sen), namun sebagian besar masyara-kat lebih memilih menggunakan gas/ elpiji sebagai bahan bakar untuk me-masak (92 persen).
Kondisi fasilitas perumahan semakin baik. Ditunjukkan oleh tingginya
persentase rumahtangga yang dapat mengakses fasilitas seperti listrik,
air minum bersih dan jamban dengan tanki septik.
1
7
PERUMAHAN
13
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) digunakan untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kuali-tas hidup dalam suatu wilayah. IPM mengukur pencapaian rata-rata 3 (tiga) dimensi dasar pembangunan manusia dalam suatu wilayah, yaitu (1) hidup sehat dan panjang umur, yang diukur dengan angka harapan hidup; (2) pengetahuan yang dimiliki SDM, yang diukur dengan rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah, serta (3) standar kehidupan yang layak, yang diukur dengan Produk Nasional Bruto (PNB), yang di-proxy dengan penge-luaran masyarakat.
Sepanjang periode 2011-2014, IPM Ko-ta Samarinda memiliki tren positif. Pada tahun 2011, IPM Kota Samarinda ber-nilai 77,05. Nilai tersebut terus mening-kat hingga pada tahun 2014, IPM Kota Samarinda bernilai 78,39. Dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir tersebut, IPM Kota Samarinda selalu berada diat-as nilai IPM Provinsi Kalimantan Timur. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum pembangunan manusia di wila-yah Kota Samarinda relatif lebih baik dibandingkan wilayah lain di Provinsi Kalimantan Timur.
Pada tahun 2014, IPM Kota Samarinda mengalami pertumbuhan sebesar 0,70 persen. Nilai tersebut sedikit lebih ren-dah jika dibandingkan dengan pertum-buhan IPM Provinsi Kalimantan Timur, yang bernilai 0,83 persen. Namun, jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan lainnya, yaitu Balikpapan dan Bontang, nilai besaran pertumbuhan IPM Kota Samarinda lebih tinggi. Dimana pertum-buhan IPM Balikpapan dan Bontang masing-masing adalah 0,52 dan 0,30.
Selama periode 2011-2014, IPM Kota Samarinda berada diatas
rata-rata Provinsi.
8
PEMBANGUNAN MANUSIA
14
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Indeks Pembangunan Manusia
Pertumbuhan IPM Kabupaten/Kota,
Tahun 2014 (%)
Sumber: Susenas, BPS Menurut BPS, kemiskinan adalah
ketid-akmampuan memenuhi standar mini-mum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Kemiskinan oleh BPS diukur melalui pengukuran konsumsi dengan menggunakan data Susenas. Berdasar-kan pengolahan Susenas, dihitung be-saran garis kemiskinan sebagai ukuran dalam menentukan kategori miskin. Seseorang dikategorikan miskin jika memiliki pengeluaran kurang dari atau dibawah garis kemiskinan tersebut. Selama periode 2011-2013, garis kem-iskinan mengalami peningkatan. Pada tahun 2011, garis kemiskinan bernilai Rp. 381.614 meningkat menjadi sebesar Rp. 460.975 di tahun 2013. Peningkatan tersebut salahsatunya disebabkan oleh inflasi yang cukup tinggi pada tahun 2013, yang mencapai 10,37 persen. Pergeseran garis kemiskinan juga ber-pengaruh terhadap jumlah dan persen-tase penduduk miskin di Kota Samarin-da. Walaupun sempat menurun di tahun 2012, terdapat peningkatan jumah miskin dari sebanyak 32.900 jiwa pada tahun 2011, menjadi sebanyak 36.610 jiwa pada tahun 2014. Kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh persentase penduduk miskin di Kota Samarinda. Pada tahun 2011, persentase penduduk miskin adalah 4,31 persen, kemudian meningkat di tahun 2013 menjadi 4,63 persen.
Indeks kedalaman kemiskinan (P1)
menunjukkan bahwa rata-rata penge-luaran penduduk miskin mengalami pen-ingkatan di tahun 2013, namun Indeks keparahan kemiskinan (P2) juga
menun-jukkan bahwa kesenjangan diantara penduduk miskin juga mengalami pen-ingkatan. Uraian 2011 2012 2013 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan) 381,614 419,353 460,975 Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) 32.90 32.80 36.61 Penduduk Miskin (%) 4.31 4.18 4.63 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) (%) 0.55 0.41 0.56 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (%) 0.11 0.08 0.10
Terdapat peningkatan garis kemiskinan yang berdampak pada
peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin
Kota Samarinda.
1
8
PEMBANGUNAN MANUSIA
15
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Statistik Kemiskinan
Ilustrasi Kemiskinan
Secara fisiografis, sebagian besar tanah di wilayah Kota Samarinda berjenis pod-solik. Jenis tanah tersebut dapat di-manfaatkan untuk kegiatan pertanian. Namun demikian, produktivitas lahan dengan jenis tanah tersebut cukup baik hanya pada masa-masa awal kegiatan aktivitas pertanian, dimana unsur-unsur hara di permukaan masih tersedia cukup bagi tanaman.
Pada tahun 2014, produksi padi sawah di Kota Samarinda mengalami pening-katan sebesar 13,3 persen, dari produksi sebesar 15.149 ton pada tahun 2013, menjadi sebesar 17.165 ton pada tahun 2014. Sebaliknya, produksi padi ladang pada tahun yang sama mengala-mi penurunan sebesar 39 persen, atau dari 413 ton produksi pada tahun 2013 menjadi 252 ton pada tahun 2014. Peningkatan yang signifikan terjadi pada aktivitas pertanian tanaman jagung hing-ga produksi mencapai 5 kali lipat dibandingkan tahun 2013. Pada tahun 2013, produksi jagung sebesar 12 ton, meningkat menjadi 62 ton di tahun 2014. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh adanya peningkatan luas tanam yang besar di tahun 2014. Sedangkan komoditi pertanian lainnya, seperti ketela pohon dan ketela rambat, men-galami penurunan.
Secara umum, terdapat peningkatan produksi komoditi perkebunan, kecuali karet dan coklat. Peningkatan produksi yang signifikan terdapat pada aktivitas perkebunan lada dan kelapa sawit, yang mencapai hampir 100 persen dibanding-kan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan produktivitas hing-ga mencapai sekitar 50-90 persen. Sumber: Dinas Pertanian, Perkebunan dan
Kehutanan Kota Samarinda
Uraian 2012 2013 2014
Padi Sawah
Luas Tanam (ha) 2,173 3,503 3,878
Produksi (ton) 11,901 15,149 17,165
Padi Ladang
Luas Tanam (ha) 50 190 104
Produksi (ton) - 413 252
Jagung
Luas Tanam (ha) 142 6 204
Produksi (ton) 40 12 62
Ketela Pohon
Luas Tanam (ha) 68 169 96
Produksi (ton) 1,477 2,671 1,478
Ketela Rambat
Luas Tanam (ha) 9 23 15
Produksi (ton) 123 255 222
Kacang Tanah
Luas Tanam (ha) 12 12 12
Produksi (ton) 11 14 18
Kedelai
Luas Tanam (ha) 2 1 3
Produksi (ton) 3 1 1
Kacang Hijau
Luas Tanam (ha) 2 1 -
Produksi (ton) 2 1 -
Peningkatan signifikan pada produksi tanaman jagung hingga 5 kali
lipat, disebabkan oleh adanya peningkatan luas tanam.
9
PERTANIAN
16
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Statistik Tanaman Pangan
Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat,
2014
Sumber: Dinas Peternakan Kota Samarinda
Sumber: Dinas Perikanan Kota Samarinda Selama periode 2012-2014, populasi
hewan ternak di Kota Samarinda didominasi oleh ternak kambing dengan proporsi lebih dari 40 persen lebih. Pada tahun 2014, jumlah hewan ternak kamb-ing mengalami penurunan, dari 10.353 ekor pada tahun 2013 menjadi sebanyak 9.760 ekor pada tahun 2014, atau menurun sebesar 5,7 persen. Jumlah hewan ternak yang meningkat adalah sapi dan babi, masing-masing mengalami peningkatan sebesar 16,5 persen dan 3,5 persen.
Pada tahun 2014, dari total hewan unggas yang diternakkan di Kota Sa-marinda, 93,5 persen merupakan ayam ras pedaging atau berjumlah lebih dari 9 juta ekor. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, atau mengalami peningkatan sebesar 6,7 persen. Jenis unggas lainnya yang diter-nakkan adalah ayam kampung, yang juga mengalami peningkatan sebesar 4,2 persen dibandingkan tahun sebe-lumnya. Selain itu, terdapat jenis unggas lainnya, yaitu ayam ras petelur dan itik. Pada tahun 2014, jumlah dari kedua jenis unggas ternak tersebut mengalami penurunan masing-masing sebesar 9,2 persen dan 25,5 persen.
Pada sektor perikanan, produksi sub sektor perikanan laut paling berperan dibandingkan dua sub sektor lainnya. Besaran peranan produksi sub sektor ini mencapai 52,4 persen pada tahun 2014. Kontribusi produksi terkecil berasal dari sub sektor budidaya ikan yaitu hanya sebesar 3,4 persen. Sepanjang periode 2011-2014, terdapat kecenderungan penurunan peranan perikanan laut, se-baliknya terdapat kecenderungan pen-ingkatan peranan perikanan darat.
Uraian 2012 2013 2014 Sapi 3,671 3,772 4,394 Kerbau 78 68 62 Kambing 13,440 10,353 9,760 Domba 298 88 51 Babi 7,498 7,942 8,220 Ayam Kampung 405,390 415,240 432,502 Ayam Ras Pedaging 8,640,860 8,881,633 9,479,800 Ayam Ras Petelur 210,700 225,036 204,361 Itik 45,415 32,800 24,423
Sektor peternakan di Kota Samarinda sebagian besar menghasilkan
kambing dan ayam ras pedaging.
1
9
PERTANIAN
17
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Statistik Peternakan dan Unggas
Produksi Perikanan
Sektor pertambangan merupakan sektor yang mempunyai peranan penting di Kalimantan Timur, namun demikian sektor tersebut bukan merupakan sektor dominan di wilayah Kota Samarinda. Terdapat tiga komoditi sektor per-tambangan yang dihasilkan di wilayah Kota Samarinda, yaitu minyak bumi, gas bumi dan batubara. Luasan wilayah ek-sploitasi yang terbatas dan sifat sumber daya yang tidak terbarukan, menyebab-kan penurunan peranan sektor tersebut bagi perekonomian Kota Samarinda dari waktu ke waktu.
Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi Kota Samarinda, terdapat penurunan produksi pada dua komoditi pertambangan sepanjang periode 2011-2013. Persentase penurunan yang cukup besar dialami oleh produksi batu-bara yang pada tahun 2013 menurun hingga 36,01 persen, yang mengakibat-kan produksi batubara turun dari 13,8 juta MT di tahun 2012 menjadi sebesar 8,8 juta MT di tahun 2013. Produksi min-yak bumi mengalami penurunan sebe-sar 18,70 persen, yaitu dari 177,250 ribu barrel di tahun 2012 menjadi 144,103 ribu barrel di tahun 2013. Sebaliknya, terdapat kenaikan pada komoditi per-tambangan gas bumi, namun besaran peningkatan kurang signifikan yaitu sebesar 0,02 persen.
Tercatat bahwa sepanjang tahun 2011 hingga 2014 terdapat penurunan peran-an sektor pertambperan-angperan-an terhadap pem-bentukan PDRB. Pada tahun 2011, peranan sektor pertambangan terhadap total PDRB adalah sebesar 29,32 per-sen, besaran persentase tersebut menurun hingga menjadi sebesar 15,56 persen di tahun 2014. Dengan kata lain terdapat penurunan kontribusi rata-rata sebesar minus 19,04 persen per tahun.
Uraian 2011 2012 2013 Minyak Bumi (Ribu Barrel) 193,610 177,250 144,103 Gas Bumi (Ribu MMBTU) 3.768,00 2.700,00 2.700,67 Batubara (MT) 16.362.968 13.803.480 8.833.366
Kota Samarinda ternyata juga
memiliki potensi migas berupa
minyak mentah dan gas bumi.
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Pada tahun 2014 terdapat sejumlah 1.301 orang Pegawai
Tidak Tetap/Bulanan (PTTB) di kota Samarinda
10
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
18
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Produksi batubara dan minyak bumi mengalami penurunan pada
tahun 2014.
10
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Statistik Pertambangan
Kontribusi Sektor Pertambangan
Terhadap Total PDRB (%)
Listrik dan air merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Selain itu, ketersediaan listrik dan air menjadi pent-ing dalam mendukung aktivitas perekonomian wilayah. Dukungan ketersediaan listrik dan air yang baik dapat membantu mendorong daya saing sektor-sektor produksi di suatu wilayah. Selama periode 2011-2014, terdapat tren peningkatan produksi listrik. Pada tahun 2011, produksi listrik di Kota Sa-marinda sebesar 1.049,2 juta Kwh dan terus meningkat hingga di tahun 2014, produksi listrik mencapai 1.363,5 Kwh. Secara rata-rata terdapat peningkatan listrik sebesar 29,96 persen per tahun. Hampir 90 persen dari produksi listrik tersebut dijual untuk digunakan masyarakat di Kota Samarinda. Seiring dengan peningkatan produksi listrik, ter-jadi pula peningkatan dari jumah listrik yang terjual. Pada tahun 2011, listrik yang terjual sebesar 933,7 juta Kwh, dan di tahun 2014 meningkat menjadi 1.223,9 Kwh. Dengan kata lain, penjualan listrik mengalami peningkatan rata-rata 31,08 persen per tahun. Status perusahaan air minum di Kota Samarinda berstatus sebagai perus-ahaan milik pemerintah daerah atau PDAM. Selama tahun 2012-2014, jumlah air minum yang disalurkan terus meningkat. Pada tahun 2013, jumlah air minum yang disalurkan sebesar 40,97 juta m3. Pada tahun 2014, jumlah air
yang disalurkan meningkat sebesar 2,68 persen, menjadi sebesar 42,07 juta m3.
Rencana pendapatan Kota Samarinda Tahun 2014
men-capai 3,0 triliun rupiah
10
1
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
19
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Tren peningkatan produksi dan permintaan atas listrik dan air
sepanjang periode 2012-2014.
10
1
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Banyaknya Produksi dan Listrik Terjual
PLN
Banyaknya Air Minum yang Disalurkan
(Juta M
3)
Berdasarkan data PDRB, selama peri-ode 2011-2014 peranan sektor industri terhadap total perekonomian Kota Sa-marinda adalah sekitar 7 hingga 8 per-sen. Menurut Disperindag Kota Sa-marinda, terdapat tiga sub sektor indus-tri yaitu agro indusindus-tri dan aneka, indusindus-tri logam dan elektronika, serta sub sektor industri hasil hutan dan kimia. Seama periode tersebut, sebagian besar indus-tri, atau sekitar 40 persen, bergerak di subsector industri hasil hutan, kimia, pulp dan kertas.
Secara umum, terdapat peningkatan jumlah industri di Kota Samarinda sela-ma tahun 2011-2014. Selasela-ma periode tersebut, pertumbuhan jumah industri rata-rata meningkat sebesar 4,7 persen per tahun. Pada tahun 2014, pertum-buhan jumlah unit usaha industri yang paling cepat dialami oleh sub sektor in-dustri logam mesin yaitu sebesar 8,9 persen.
Peningkatan aktivitas pada sektor indus-tri berdampak kepada peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor terse-but. Selama periode 2011-2014, jumlah tenaga kerja meningkat rata-rata 7,1 persen per tahun. Besaran tersebut lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas sektor industri dapat berpotensi dalam mengurangi ma-salah pengangguran.
Pada tahun 2014, terjadi percepatan penyerapan tenaga kerja atau penyera-pan tenaga kerja meningkat lebih cepat dibandingkan tahun 2013. Dengan per-tumbuhan tenaga kerja sebesar 8,6 persen, sehingga jumlah tenaga kerja pada tahun 2014 menjadi sebanyak 11.689 orang.
Sumber: Dinas Perindagkop Kota Samarinda
Sumber: Dinas Perindagkop Kota Samarinda
Aktivitas Sektor Industri meningkat, dan diiikuti dengan
pening-katan penyerapan tenaga kerja pada Sektor tersebut.
11
INDUSTRI PENGOLAHAN
20
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Jumlah Unit Usaha Industri
Tahun 2011-2014
Perkembangan Jumlah Unit Usaha dan
Tenaga Kerja Industri
Tahun 2011-2014
Sumber: Dinas Perhubungan Kota Samarinda
Sumber: Bandara Temindung dan PT. Pos
Secara umum, kondisi sarana dan prasa-rana jalan di Kota Samarinda cukup baik. Hal ini berpengaruh terhadap intensitas penggunaan kendaraan bermotor di wila-yah Kota Samarinda. Pada tahun 2014, terdapat peningkatan jumlah kendaraan bermotor wajib uji sebesar 5,6 persen, atau tercatat sebanyak 52.251 unit ken-daraan bermotor di Kota Samarinda. Dari jumlah total kendaraan bermotor ter-sebut, sebesar 92,8 persen merupakan jenis kendaraan mobil barang. Proporsi kendaraan mobil penumpang dari tota kendaraan bermotor wajib uji adalah sebesar 3,9 persen, sedangkan jenis mo-bil bus sebesar 3,1 persen. Proporsi terkecil adalah jenis kendaraan truk gan-deng sebesar 0,2 persen.
Pada tahun 2014, lalu lintas transportasi udara yang ditunjukkan oleh frekuensi penerbangan pesawat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebe-lumnya, yaitu sebesar 25,8 persen. Ter-catat masing-masing terdapat 2.778 ked-atangan dan keberangkatan pesawat di Bandara Temindung. Penurunan frekuen-si kedatangan dan keberangkatan penumpang memberikan pengaruh ter-hadap arus lalu lintas penumpang di Ban-dara Temindung. Pada tahun 2014, ter-dapat penurunan jumlah kedatangan penumpang, yaitu sebesar 1,1 persen, sedangkan keberangkatan penumpang menurun sebesar 1,5 persen.
Kondisi sektor komunikasi di Kota Sa-marinda ditunjukkan oleh arus pengiriman dan penerimaan surat serta wese. Data tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengiriman surat, namun ter-dapat penurunan pada penerimaan surat. Sementara itu, jumlah nilai rupiah pengi-riman wesel pos mengalami penurunan, sedangkan penerimaan wesel mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Uraian 2012 2013 2014
Pesawat (Bandara Temindung)
Datang 3,107 3,746 2,778
Berangkat 3,106 3,746 2,778
Penumpang Pesawat di Bandara Temindung
Datang (orang) 49,225 66,040 65,327
Berangkat (orang) 45,826 55,582 54,763
Pos
Surat kirim (buah) 495,281 125,075 266,366
Surat terima (buah) 1,893,786 2,158,178 1,372,668
Wesel kirim (Milyar Rp) 432.7 410.0 358.6
Wesel terima (Milyar Rp) 159.7 13.4 121.1
Pada tahun 2014, aktivitas transportasi darat mengalami
pening-katan, sedangkan transportasi udara mengalami penurunan.
12
1
TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
21
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Banyaknya Kendaraan Bermotor Wajib Uji
Tahun 2014
Statistik Transportasi dan Komunikasi
Data PDRB Kota Samarinda menunjuk-kan bahwa pada tahun 2014, sektor perdagangan memberikan kontribusi sebesar 13,01 persen terhadap total perekonomian wilayah. Peranan sektor tersebut cukup signifikan tersebut menunjukkan kekhasan wilayah perkotaan, dimana pada umumnya perekonomian wilayah perkotaan lebih didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa. Perkembangan sektor perdagangan di Kota Samarinda tersebut juga sejalan dengan visi Kota Samarinda, yang salah-satunya adalah mewujudkan kota yang berbasis perdagangan.
Ditinjau dari aktivitas eksor dan impor, secara umum selama periode 2010-2014 mengalami peningkatan. Ekspor men-galami peningkatan rata-rata 9,9 persen per tahun, sementara impor meningkat rata-rata 13,9 persen per tahun. Pada tahun 2014, ekspor meningkat 1,2 persen sedangkan impor meningkat 13,6 persen. Peningkatan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor, mengindikasikan terdapat ketergantungan dan keterkaitan wilayah Kota Samarinda yang cukup ting-gi dengan wilayah lain.
Perkembangan usaha perdagangan di wilayah Kota Samarinda juga ditunjukkan oleh banyaknya penerbitan SIUP. Pada tahun 2013, terdapat penurunan jumlah ijin usaha perdagangan yang diterbitkan. Secara keseluruhan, terjadi penurunan penerbitan izin sebesar 18,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dilihat menurut klasifikasi usaha, sebagi-an besar atau 60,4 persen usaha perdagangan di Kota Samarinda terma-suk perdagangan skala kecil. Perdagangan skala menengah adalah sebesar 31,6 persen, sisanya (8,1 per-sen) adalah perdagangan skala besar.
Sumber: BPS Kota Samarinda
Sumber: Disperindagkop Kota Samarinda
Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap total PDRB sebesar 13,01
persen. Jenis usaha perdagangan di Kota Samarinda sebagian besar,
atau sekitar 60 persen, merupakan perdagangan skala kecil.
13
PERDAGANGAN
22
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Statistik Ekspor dan Impor Kota Samarinda
Jumlah SIUP yang Diterbitkan (Buah)
Selama periode 2011-2014, terdapat pen-ingkatan jumlah bank dan kantor bank di Kota Samarinda. Hingga tahun 2014, Bank Indonesia Cabang Samarinda mencatat terdapat peningkatan jumlah bank sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebe-lumnya, sehingga pada tahun 2014 ter-dapat sejumlah 44 bank. Sementara jumlah kantor bank meningkat sebesar 11,1 persen, menjadi sejumlah 211 kantor bank, dari semula 190 kantor bank pada tahun 2013.
Perkembangan pada jumlah bank tersebut secara umum diikuti oleh perkembangan jumlah dana simpanan. Rata-rata pening-katan per tahun dana simpanan menurut jenis simpanan berkisar 4-7 persen. Pada tahun 2014, kecuali simpanan tabungan yang mengalami penurunan, simpanan dalam bentuk giro dan deposito mengala-mi peningkatan, masing-masing sebesar 3,1 persen dan 5,5 persen. Pada tahun 2014, jumlah simpanan yang terhimpun dalam bentuk giro sebesar 6,2 trilyun rupi-ah, dalam bentuk deposito sebesar 10,3 trilyun rupiah dan dalam bentuk tabungan sebesar 13,2 trilyun rupiah.
Pada tahun 2014, penyaluran pinjaman dari Bank Umum dan BPR di Kota Sa-marinda adalah sebesar 306,8 triliun rupi-ah, naik 6,4 persen dari tahun sebe-lumnya. Dana pinjaman tersebut sebagian besar digunakan untuk kegiatan bersifat produktif, yaitu untuk modal kerja sebesar 104 triliun rupiah (37 persen) dan untuk investasi sebesar 109,6 triliun rupiah (36 persen). Penggunaan dana pinjaman un-tuk konsumsi adalah sebesar 83,9 triliun atau sekitar 27 persen.
Peningkatan jumlah bank dan kantor bank diikuti oleh peningkatan
dana simpanan dan penyaluran pinjaman.
14
1
PERBANKAN DAN INVESTASI
23
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Selama 2013-2014, terdapat pening-katan indeks harga konsumen juga pro-dusen. Perubahan indeks tersebut, yang disebut sebagai inflasi, menunjukkan kecepatan peningkatan harga barang-barang di wilayah Kota Samarinda. Pa-da tahun 2014, inflasi konsumen menunjukkan angka yang moderat yaitu 6,74 persen. Dibandingkan tahun sebe-lumnya, besaran inflasi tersebut lebih rendah, dimana pada tahun 2013 nilai inflasi mencapai 10,37 persen.
Di tingkat produsen, perubahan harga relatif lebih rendah dibandingkan peru-bahan harga di tingkat konsumen, yaitu 1,53 persen pada tahun 2014. Sama halnya dengan inflasi konsumen, be-saran inflasi produsen di tahun 2014 tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perubahan harga di tingkat produsen yang disebab-kan faktor-faktor penyebab infasi.seperti penyediaan barang dan jalur distribusi, relatif lebih inelastis dibandingkan di tingkat konsumen di wilayah Kota Sa-marinda.
Kenaikan harga konsumen sebesar 6,74 persen pada tahun 2014 terutama di-pengaruhi oleh adanya kenaikan harga yang cukup tinggi pada komoditi ma-kanan, perumahan dan transportasi dan komunikasi. Lebih lanjut, jika dilihat secara rinci infasi bulanan, terdapat perbedaan jenis komoditi yang mem-berikan andil secara signifikan terhadap inflasi wilayah Kota Samarinda. Pada bulan Desember tahun 2014, inflasi ter-catat sebesar 2,52 persen. Komoditi yang cukup signifikan dalam mem-berikan andil adalah makanan jadi dan transportasi, akibat peningkatan per-mintaan atas komoditi tersebut berte-patan dengan adanya liburan hari Raya dan Tahun Baru.
Sumber: BPS Kota Samarinda
Catatan: Indeks harga konsumen menggunakan tahun dasar 2007, sedangkan indeks harga pro-dusen menggunakan tahun dasar 2000
Uraian 2013 2014
Indeks Harga Konsumen (IHK) 112.6 120.19 Indeks Harga Produsen (implisit) 118.2 120.01 Inflasi konsumen (%) 10.37 6.74 Inflasi produsen (%) 2.35 1.53
Inflasi moderat, yaitu 6,74 persen, pada tahun 2014.
15
HARGA-HARGA
24
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Statistik Harga
Konsumsi atau pengeluaran penduduk merupakan salah satu indikator kesejah-teraan masyarakat. Pengeluaran penduduk Kota Samarinda mengalami peningkatan pada tahun 2013, namun di tahun 2014 mengalami penurunan sebe-sar 5,8 persen. Penurunan yang lebih besar terjadi pada komoditi non ma-kanan, yaitu sebesar 8,9 persen. Se-dangkan komoditi makanan hanya men-galami penurunan sebesar 1,5 persen. Secara rinci, proporsi pengeluaran penduduk terbesar pada komoditi ma-kanan adalah untuk mama-kanan jadi, yang mencapai 29 persen pada tahun 2014. Sedangkan pada komoditi non makana, proporsi pengeluaran terbesar adalah untuk perumahan dengan besaran per-sentase mencapai 50 persen.
Menurut golongan pengeluaran, hampir sebagian besar penduduk Kota Samarinda (94 persen) melakukan pengeluaran konsumsi lebih dari 500 ribu rupiah setiap bulannya. Sementara 4 persen mengeluarkan sekitar 400 sampai 499 ribu rupiah setiap bulannya dan 2 persen penduduk melakukan penge-luaran konsumsi sekitar 300 sampai 399 ribu rupiah setiap bulan. Sementara un-tuk golongan pengeluaran di bawah 250 ribu rupiah sudah tidak ada lagi.
Ketimpangan pendapatan yang terjadi pada masyarakat dapat diukur oleh indi-kator distribusi pendapatan, yaitu Indeks Gini. Dalam 2 tahun terakhir, terlihat tidak terdapat perubahan pada distribusi pen-dapatan masyarakat di Kota Samarinda. Hal ini terlihat dari pola penyebaran pen-dapatan masyarakat yang relatif sama di tahun 2013 dan 2014. Kondisi distribusi pendapatan yang relatif sama tersebut juga ditunjukkan oleh nilai indeks Koefisien Gini di tahun 2014 yang ber-nilai sama dengan tahun 2013.
Konsumsi masyarakat menurun di tahun 2014, terutama untuk
komoditi non makanan.
16
1
PENGELUARAN PENDUDUK
25
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Selama periode 2012-2014, perekonomi-an Kota Samarinda terus mengalami pen-ingkatan. Hal ini ditunjukkan oleh pening-katan besaran PDRB dari tahun ke tahun. PDRB Kota Samarinda atas dasar harga berlaku pada tahun 2014 sebesar 46,98 triliun rupiah. Pada tahun 2014, tercatat pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda sebesar 4,59 persen.
Terdapat tiga sektor ekonomi yang domi-nan dalam perekonomian Kota Samarin-da. Ketiga sektor tersebut adalah sektor konstruksi sebesar 21 persen, diikuti oleh sektor pertambangan dan perdagangan masing-masing 16 persen dan 13 persen. Peranan ketiga sektor yang cukup domi-nan tersebut menunjukkan karakteristik khas Samarinda sebagai wilayah perkotaan yang umumnya memiliki aktivi-tas perdagangan dan kegiatan pem-bangunan fisik yang cukup tinggi. Aktivi-tas pertambangan batubara di beberapa lokasi, seperti Kecamatan Palaran, juga memberikan kontribusi yang cukup signif-ikan terhadap perekonomian daerah Kota Samarinda.
Lebih lanjut, komposisi sektoral menun-jukkan bahwa tidak terdapat pergeseran struktur ekonomi di Kota Samarinda. Jika dibandingkan komposisi 6 (enam) sektor dengan proporsi terbesar di tahun 2013 dan 2014, terlihat bahwa keenam sektor tersebut adalah sama. Namun, terdapat perubahan dalam besaran persentase kontribusi sektoral terhadap total perekonomian, namun besaran peru-bahan tersebut tidak signikan. Secara khusus, dari data dua tahun tersebut ter-lihat bahwa terdapat kecenderungan pen-ingkatan peran sektor konstruksi ter-hadap total perekonomian Kota Samarin-da.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 sebesar 4,59 persen dan struktur
ekonomi relatif sama dengan tahun sebelumnya.
17
PENDAPATAN REGIONAL
26
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Pada tahun 2014, PDRB atas dasar harga berlaku Kota Samarinda sebesar 47 trilyun rupiah, angka tersebut lebih besar dibandingkan angka tahun 2013, yaitu sebesar 44,2 trilyun rupiah. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tahun 2014 sebesar 39,1 trilyun rupiah, lebih tinggi dibandingkan tahun 2013, yaitu sebesar 37,4 trilyun rupiah. Peningkatan besaran pada nilai PDRB tersebut disebabkan beberapa sektor mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, seperti Sektor Listrik (18,4%), Sektor Pendidikan (16,2%), Sektor Real Estate (13,4%) dan Sektor Kesehatan (12,5%).
Sejak tahun 2010, perekonomian Kota Samarinda mengalami pertumbuhan positif. Pada tahun 2012, perekonomian
Kota Samarinda mengalami
perlambatan akibat adanya penurunan produksi pada Sektor Pertambangan. Ekonomi Kota Samarinda juga sedikit melambat di tahun 2014, dimana besaran pertumbuhan menjadi lebih kecil (4,59%) dibandingkan besaran pertumbuhan di tahun sebelumnya (4,82 %). Hal ini disebabkan karena adanya perlambatan pada dua sektor yang dominan, yaitu Sektor Konstruksi dan Perdagangan, serta pertumbuhan negatif pada Sektor Pertambangan. Sepanjang periode 2012-2014, terjadi peningkatan pada nilai PDRB per kapita dan Pendapatan per kapita. Pada tahun 2014, besaran kedua indikator tersebut mengalami peningkatan sebesar 3,0 persen. Nilai PDRB per kapita adalah sebesar 56,6 juta rupiah, sedangkan nilai pendapatan per kapita adalah 54,3 juta rupiah.
Terjadi sedikit perlambatan ekonomi pada tahun 2014, namun
pen-dapatan per kapita masyarakat tetap meningkat.
17
1
PENDAPATAN REGIONAL
27
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Beberapa indikator digunakan untuk melihat posisi Kota Samarinda dibandingkan dengan beberapa wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur. Secara umum, Kota Samarinda memiliki posisi yang relatif cukup baik, jika dilihat pada aspek ekonomi maupun aspek sosial, yang ditunjukkan oleh indikator kemiskinan dan pengangguran.
Angka kemiskinan menunjukkan bahwa pada tahun 2013, terdapat lebih dari 36,6 ribu jiwa penduduk miskin di Kota Samarinda. Secara persentase, angka kemiskinan Kota Samarinda adalah 4,6 persen. Jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi yang direpresentasikan oleh persentase kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur, besaran tersebut lebih kecil dibandingkan angka kemiski-nan Provinsi. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja sosial Kota Samarinda lebih baik dibandingkan dengan wilayah lain.
Pada tahun 2014, tingkat pengangguran Kota Samarinda sebesar 7,56 persen. Jika dibandingkan dengan angka pengangguran Provinsi, besaran nilai tersebut sedikit lebih tinggi, dimana ting-kat pengangguran Provinsi adalah sebe-sar 7,38 persen. Jumlah penganggur di Kota Samarinda, merupakan 19,8 per-sen penganggur di wilayah Provinsi Kali-mantan Timur, dengan jumlah sebanyak 26,4 ribu jiwa.
Bila dibandingkan dengan nilai pengangguran perkotaan lainnya, ting-kat pengangguran Kota Samarinda sa-ma dengan Kota Balikpapan, namun masih lebih rendah dibandingkan Kota Bontang. Secara umum, jika dibanding-kan dengan kabupaten lainnya, nilai pengangguran tersebut cukup tinggi, mengindikasikan bahwa pengangguran masih merupakan masalah dalam pem-bangunan di Kota Samarinda.
PERBANDINGAN REGIONAL
Persentase penduduk miskin Kota Samarinda berada dibawah
rata-rata Provinsi Kalimantan Timur.
18
PERBANDINGAN REGIONAL
28
STATISTIK DAERAH KOTA SAMARINDA 2015
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Timur
Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Timur Jika dibandingkan dengan kota lainnya,
yaitu Balikpapan dan Bontang, besaran PDRB Kota Samarinda lebih rendah yai-tu sebesar 46,98 triliun rupiah pada ta-hun 2014. Hal ini disebabkan terdapat perbedaan karakteristik ekonomi di wila-yah Samarinda dengan kedua kota lainnya. Perekonomian Balikpapan dan Bontang didominasi oleh minyak dan gas dengan nilai tambah yang sangat tinggi, sedangkan perekonomian Kota Samarinda didominasi oleh perdagangan dan jasa.
Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda sedikit lebih rendah dari Balikpapan, yaitu sebesar 4,56 persen. Namun jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya, besaran per-tumbuhan tersebut masih lebih tinggi. Bahkan jika dibandingkan dengan Bon-tang yang mengalami pertumbuhan negatif, maka kinerja ekonomi Kota Sa-marinda dikatakan cukup baik.
Kinerja sosial wilayah Kota Samarinda lebih baik jika dibandingkan dengan be-berapa wilayah kabupaten atau kota lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh besaran indikator persentase kemiskinan dan indeks Gini Ratio, dimana besaran kedua indikator tersebut berada dibawah rata-rata Provinsi. Selain Kota Samarinda, wilayah lainnya yang juga memiliki kinerja sosial cukup baik adalah Kota Balikpapan dan Kabupaten Berau. Secara umum, ketiga wilayah tersebut memiliki nilai Persentase Kemiskinan dan Gini Ratio yang relatif rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa kemakmuran masyarakatnya didukung pula oleh pemerataan pendapatan. Sedangkan Kota Bontang memiliki nilai persentase kemiskinan cukup rendah, namun masih terdapat isu ketimpangan pendapatan di wilayahnya.