• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

10

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

Penelitian pada novel Pulang karya Leila S. Chudori sudah banyak dilakukan. Penelitian-penelitian itu bisa dimanfaatkan sebagai studi pustaka dalam penelitian ini. Adapun studi terdahulu dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Tesis Uky Mareta Yudistyanto berjudul Pendekatan Sosiologi Sastra, Resepsi

Sastra, dan Nilai Pendidikan dalam Novel Pulang Karya Leila S.Chudori tahun 2013

dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Novel Pulang karya Leila S. Chudori merupakan salah satu novel inspiratif dan representatif yang mengandung kompleksitas masalah sosial dan kental dengan perspektif sosio-historis serta kearifan lokal dalam tiga peristiwa besar yang terjadi lintas benua, lintas negara, lintas personal, dan lintas idealisme dalam memaknai kehidupan. Adapun tiga peristiwa besar tersebut yaitu peristiwa pemberontakan yang terjadi di Indonesia serta keganasannya tatkala mengalami pecah-kudeta hingga pembersihan akar komunisme September 1965 atau sering disebut dengan istilah “Bersih Lingkungan” hingga beberapa tahun sesudahnya, peristiwa revolusi Prancis oleh ribuan mahasiswa dan kaum proletar buruh pada tahun 1968, serta peristiwa tumbangnya pemerintahan rezim Soeharto setelah 32 tahun menjabat sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia dalam kurun tujuh kali pelantikan presiden yang diakhiri oleh revolusi orde

(2)

baru yang digaungkan oleh para mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air pada tahun 1998. Novel yang syarat dengan potret politik dan perkembangannya ini begitu menguak banyak fakta yang mungkin tidak lagi terbaca dan tersadari oleh para generasi penerus bangsa karena suburnya ladang apatisme yang kian mengikuti peradaban. Novel yang didasari penuturan dan kisah nyata dari sang tokoh utama ini merupakan bekal nilai pendidikan yang dapat ditarik benang merahnya, karena memiliki keterkaitan yang demikian kuat dengan sisi sosiologi sastra dari berbagai perspektif. Penelitian di atas menggunakan beberapa informan untuk diwawancarai berkaitan dengan peristiwa tahun 1965 mengenai novel Pulang. Selain melakukan wawancara, peneliti mengaitkan novel tersebut dengan nilai pendidikan dan latar sosiologis novel. Penelitian yang akan dilakukan lebih menitikberatkan pada pencarian makna setelah melakukan pembacaan. Setelah diketahui repertoire sebagai

background dan foreground melalui strategi seleksi, selanjutnya peneliti melakukan

strategi kombinasi yang digunakan untuk melakukan pemaknaan terhadap novel

Pulang.

Tesis Wawan Hermawan berjudul Analisis Stilistika dan Nilai Pendidikan

Karakter dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori tahun 2014 dari Universitas

Sebelas Maret Surakarta. Novel Pulang karya Leila S. Chudori memberikan sumbangan besar bagi sejarah Indonesia dan Prancis, mengingat novel Pulang banyak memberikan informasi mengenai peristiwa bersejarah dua negara Indonesia dan Prancis yang belum terungkap selama ini. Meskipun novel Pulang mengisahkan mengenai sejarah tetapi tidak mengurangi sisi estetis novel tersebut, karena keberagaman diksi yang digunakan pengarang dalam mengisahkan peristiwa sejarah

(3)

menimbulkan kekhasan novel Pulang karya Leila S. Chudori. Penelitian di atas lebih memfokuskan pada diksi dan bahasa figuratif yang digunakan pengarang, serta mengaitkan dengan pendidikan karakter. Penelitian yang akan dilakukan lebih menitikberatkan pada makna yang terkandung di dalam teks novel Pulang melalui strategi seleksi dan kombinasi, tidak hanya terfokus pada penggunaan gaya bahasa, wacana, dan citraan yang dituliskan pengarang.

Tesis Puji Lestari Budiningrum berjudul Kepribadian Tokoh dan Nilai

Pendidikan Novel Pulang Karya Leila S. Chudori (Suatu Tinjauan Psikologi Sastra)

tahun 2014 dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Novel Pulang karya Leila S. Chudori merupakan novel yang menarik untuk membahas tokoh utama yang ada di dalamnya. Pergolakan yang terjadi dalam hati, pikiran, hingga kondisi sosial tokoh utama dalam novel tersebut bercampur menjadi satu kesatuan yang kompleks. Perwatakan yang digambarkan adalah sifat dasar yang mempengaruhi tokoh utama. Norma-norma dan nilai-nilai ideal tidak dapat menekankan keinginan memuaskan hasrat mereka. Sifat dasar yang dikenal dengan id begitu dominan dan memaksa ego untuk melaksanakannya. Sedangkan peran super ego sebagai pengontrol tidak berjalan dengan baik. Novel Pulang mengangkat tentang masalah kehidupan orang-orang ekstapol yang tidak pernah terungkap di muka umum. Jadi, dengan adanya novel ini, dapat memberikan pengetahuan lain tentang sejarah Indonesia yang sampai saat ini belum terungkap kebenarannya. Penelitian di atas meneliti tentang kejiwaan tokoh-tokoh yang terdapat di dalam novel. Peneliti beranggapan bahwa pengalaman kejiwaan pengarang yang semula mengendap dalam jiwa pengarang beralih menjadi suatu karya sastra yang terproyeksi lewat ciri-ciri kejiwaan para tokoh imajinernya.

(4)

Penelitian yang akan dilakukan tidak menitikberatkan pada kejiwaan tokoh, tetapi lebih menitikberatkan pada teks sebagai penuntun untuk mencari makna yang terkandung di dalam novel Pulang.

Skripsi Fajar Briyanta Hari Nugraha berjudul Nilai Moral dalam Novel

Pulang Karya Leila S. Chudori tahun 2014 dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Novel terbaru Leila S. Chudori ini memaparkan derita korban tragedi 1965 dari sudut pandang generasi pertama dan kedua. Tidak sekadar mengajak kita menengok sejarah kelam yang penyelesaiannya belum juga tuntas hingga saat ini. Pulang juga mengajak kita berpikir ulang mengenai paham-paham yang selama ini dicekoki pemerintah Orde Baru, terutama mengenai komunisme dan marxisme. Berpikir ulang menuju pembebasan dari segala hal yang melekat pada diri seseorang. Pembebasan yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi meningkatnya militansi kelompok tertentu yang secara konsisten memaksakan paham mereka terhadap kelompok lain, yang menafikan keberadaan paham yang dianut kelompok minoritas. Pemaksaan yang pada akhirnya menimbulkan diskriminasi dan kekerasan. Fenomena moral dalam novel Pulang berkaitan erat dengan dengan masalah hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan diri sendiri, dan hubungan antara manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial. Jenis dan wujud pesan moral yang terdapat dalam karya sastra akan bergantung pada keyakinan, keinginan, dan ketertarikan pengarang yang bersangkutan. Jenis dan ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah yang bisa dikatakan bersifat tidak terbatas. Cakupannya meliputi seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Penelitian di atas terfokus kepada wujud nilai dan ajaran moral, unsur cerita yang

(5)

digunakan sebagai sarana dalam penyampaian nilai-nilai moral, dan teknik penyampaian nilai dan ajaran moral tersebut. Penelitian yang akan dilakukan terfokus kepada teks novel yang menjadi acuan dalam mengungkapkan repertoire sebagai

background dan foreground menggunakan strategi seleksi. Selanjutnya melakukan

strategi kombinasi untuk melakukan pemaknaan terhadap novel Pulang.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di atas, terdapat perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Perbedaan tersebut yakni pada teori yang digunakan dan permasalahan yang diangkat. Novel Pulang, sepengetahuan peneliti belum pernah diteliti menggunakan teori respons estetik. Persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian terdahulu adalah adanya persamaan sumber data berupa teks yang digunakan untuk menemukan gambaran repertoire yang terdapat di dalam novel. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini dapat mengungkapkan gambaran repertoire dalam novel Pulang. Repertoire dapat digunakan untuk membantu peneliti dalam mengungkapkan konteks orisinil dan

foreground sebagai elemen-elemen terseleksi. Meskipun teori respons estetik

memiliki persamaan dengan teori resepsi sastra, namun teori respons estetik lebih menekankan kepada respons pembaca dengan menemukan sinyal-sinyal pengundang respons di dalam teks, sehingga dapat ditemukan makna novel Pulang.

B. Landasan Teori

Penelitian ini merupakan kajian respons estetik terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori khususnya berkaitan dengan repertoire. Teori yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan masalah dan tujuan yang akan dicapai. Teori

(6)

yang relevan sebagai alat analisis ialah teori respons estetik Wolfgang Iser yang terdapat dalam buku The Act of Reading Theory of Aesthetic Response (1987).

Teori estetika resepsi pada awal kemunculannya dipelopori oleh dua ahli dari Jerman yakni H.R. Jauss dan Wolfgang Iser. Hal inilah yang kemudian secara garis besar membedakan teori estetika resepsi menjadi dua golongan, yaitu pertama, resepsi yang mempelajari penerimaan pembaca sejak kemunculan karya sastra hingga kini. Teori ini memprioritaskan tanggapan pembaca dari waktu ke waktu sehingga bersifat resepsi historis atau kesejarahan (Teori Resepsi Jauss); kedua, teori resepsi yang memfokuskan pada tanggapan pembaca secara umum terhadap teks serta hubungan teks dengan pembaca dalam konteks individual. Lebih menekankan pada efek atau kesan, bagaimana pembaca dalam memahami atau mengkonkretkan teks kesusastraan. Konkretisasi teks ini didukung oleh ketersediaan memori pembaca serta harapan pembaca terhadap teks yang dibacanya (Teori Resepsi Iser).

Kajian respons estetik pada dasarnya berpusat pada pernyataan mendasar yang menyangkut proses pemaknaan teks yang dihasilkan melalui komunikasi antar teks dan pembacanya, yakni bagaimana dan dalam kondisi apa sehingga sebuah teks menjadi bermakna bagi pembacanya. Menurut pendapat Iser tentang proses pemaknaan sebagai berikut.

Pernyataan menyangkut proses pemaknaan teks adalah (1) cara atau tindakan pembacaan; (2) interaksi antarteks dan pembaca. Tindakan pembacaan merujuk pada bagaimana teks mengarahkan cara pembacaan dan bagaimana pengalaman pembaca mengatur pembacaannya. Keterkaitan dengan pemaknaan, pembaca seharusnya melakukan reaksi terhadap teks, bukan sekedar menerima apa yang disampaikan pengarang dalam teks (1987; x).

(7)

Selanjutnya, menurut Iser mengenai struktur-struktur yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi-kondisi dasar interaksi harus dilakukan secara menyeluruh, karena kendati terkandung di dalam teks, namun struktur-struktur ini tidak dapat memenuhi fungsinya sebelum mampu memberi pengaruh terhadap pembaca. Struktur-struktur dalam fiksi tersebut, memiliki dua aspek yaitu aspek verbal dan aspek afektif (1987: 20-21). Aspek verbal (ungkapan) menuntun reaksi dan mencegah terjadinya reaksi yang sembarangan (arbitrer). Aspek afektif (pengaruh) adalah pemenuhan dari apa yang telah terstruktur oleh bahasa teks. Deskripsi apapun tentang interaksi antara keduanya, harus menyatukan baik struktur efek-efek teks maupun struktur respons (Iser, 1987: 20-21).

Kegiatan interpretasi adalah menjelaskan atau menguraikan makna-makna potensial suatu teks dan bukan membatasi hanya pada satu makna. Makna dipahami sebagai sebuah ekspresi atau bahkan representasi dari nilai-nilai yang diakui secara kolektif (Iser, 1987: 22). Menurut Iser, teori yang berorientasi pada pembaca sebagai berikut.

Teori yang berorientasi pada pembaca sejak awal membuka kritik terhadap bentuk subjektivisme yang terkontrol. Seperti yang disampaikan oleh Hobsbaum (dalam Iser) bahwa terdapat adanya perbedaan dalam teori ini. Teori-teori seni berbeda menurut derajat subjektivitas yang mereka kaitkan dengan tanggapan penerima atau apa yang datang sebagai sesuatu yang sama, berbeda menurut tingkat objektivitas yang mereka kaitkan dengan karya seni. Salah satu keberatan yang utama terhadap teori tanggapan estetis bahwa teori ini mengorbankan teks pada kesewenangan pemahaman yang subjektif dan menguji dalam refleksi aktualisasinya dan oleh sebab itu menolak identitasnya sendiri (1987: 23).

Iser kemudian menjelaskan bahwa suatu teks kesusastraan berisi perintah variabel intersubjektif untuk produksi makna, namun makna yang diproduksi dapat

(8)

kemudian membawa kepada beragam pengalaman-pengalaman yang berbeda dan karenanya pertimbangan-pertimbangan bersifat subjektif (1987: 25). Iser menambahkan bahwa teks-teks kesusastraan melahirkan “performance” makna.

Performance dan partisipasi pembaca ini yang akan membuat teks sastra bersifat

estetis. Dengan melepas konsep subjektivisme atau objektivisme, dapat menetapkan satu kerangka referensi intersubjektif yang akan dinilai subjektivitas inevitable (subjektivitas yang tak terelakkan) daripada pertimbangan-pertimbangan nilai (1987: 27).

Mengenai strategi pembacaan, Iser menyarankan bahwa dalam teori respons estetik adalah konsep pembaca implisit (implied reader). Konsep implied reader mewujudkan semua kecenderungan-kecenderungan yang diperlukan agar suatu karya kesusastraan dapat memberi efeknya. Kecenderungan yang ditetapkan, bukan oleh realitas luar empiris, melainkan oleh teks itu sendiri (1987: 34). Konsep implied

reader menurut Iser menunjukkan suatu jaringan struktur-struktur pengundang

respons, yang mendorong pembaca untuk memahami teks. Pembaca riil diberi peran tertentu untuk memerankan dan peran ini yang mengatur implied reader.

Terdapat dua aspek dasar yang saling berhubungan pada konsep ini yaitu peran pembaca sebagai struktur tekstual dan peran pembaca sebagai aksi terstruktur. Aspek struktur teks dapat diasumsikan bahwa setiap teks kesusastraan, merepresentasikan suatu pandangan perspektif dunia yang dihimpun (kendati tidak mesti tipikal) oleh penulis. Karya tidak semata-mata meniru dunia tertentu, tetapi juga dengan sendirinya, terdiri dari perspektif-perspektif yang menguraikan pandangan penulis dan juga memberikan akses tentang apa yang harus divisualisasikan oleh pembaca (1987: 34-37).

(9)

Iser berpendapat mengenai novel sebagai berikut.

Novel merupakan satu sistem perspektif yang dirancang untuk mengirim individualitas pandangan pengarang. Pada umumnya ada empat perspektif : perspektif narator, perspektif lakon, perspektif plot, dan perspektif pembaca fiktif. Harus dibedakan antara pembaca fiktif (fictition reader) dan peran pembaca (dalam konsep implied reader), karena kendati pembaca fiktif hadir di dalam teks melalui beragam sinyal-sinyal yang berbeda, tidak terlepas dari perspektif-perspektif teks, seperti narator, para lakon, dan plot-line. Pembaca fiktif sesungguhnya hanya salah satu dari perspektif, yang kesemuanya saling terkait dan berinteraksi. Adapun peran pembaca muncul dari interplay (saling mempengaruhi) perspektif-perspektif ini, karena pembaca dikehendaki untuk menghubungkan (menjadi perantara) antara perspektif-perspektif teks (1987: 33).

“Peran pembaca berbeda dengan pembaca fiktif yang dipotretkan di dalam teks. Pembaca fiktif hanya merupakan satu bagian dari peran pembaca, ketika penulis memperlihatkan kecenderungan pembaca untuk berinteraksi dengan perspektif-perspektif lain, guna membuat modifikasi-modifikasi “(Iser, 1987: 36).

Pembaca hanya akan mulai mencari makna jika ia tidak mengetahuinya, dan ada faktor-faktor yang tidak diketahui di dalam teks yang menggerakkan pencarian pembaca bersangkutan. Respons terhadap teks akan bersifat subjektif, namun tidak berarti teks akan lenyap menjadi milik pembaca. Namun, proses subjektif masih dapat dimasuki oleh pihak ketiga, yaitu tersedianya analisis intersubjektif (Iser, 1987: 43). “Proses menghimpun makna teks bukan merupakan suatu proses privat, karena kendati makna teks benar-benar menggerakkan subjektivitas pembaca, namun hal itu tidak membawa pada khayalan (day-dreaming) pembaca, melainkan disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang telah terstruktur dalam teks” (Iser, 1987: 49-50).

(10)

Iser menegaskan mengenai hakikat karya sastra adalah sebagai sarana komunikasi sebagai berikut.

Fiksi tidak dipertentangkan dengan realitas. Dalam konsep sastra sebagai sarana komunikasi, yang penting bagi pembaca, kritik, dan pengarang adalah apa fungsi karya sastra dan bukan hanya apa maksud karya sastra. Jika fiksi dan realitas dihubungkan, itu bukanlah istilah oposisi, melainkan komunikasi, karena satu sama lain tidak berlawanan. Fiksi adalah sebuah sarana untuk mengatakan suatu realitas. Dalam hubungan ini tentu saja harus diberikan perhatian pada penerimaan pesan, yakni pembaca. Pembaca dan teks menjadi pasangan dalam proses komunikasi. Oleh karena itu, yang menjadi perhatian utama bukan lagi makna teks melainkan efek teks tersebut. Di sinilah letak fungsi kesusastraan dan letak justifikasi untuk mengadakan pendekatan pada kesusastraan dari sudut pandang fungsional (1987: 54).

Mengenai sifat pragmatis bahasa yang terdapat di dalam buku The Act of

Reading Theory of Aesthetic Response yang ditulis oleh Iser ditunjukkan bahwa teori

tindak tutur (speech act) tidak hanya mengatur tanda-tanda, tetapi juga kondisi ketika tanda-tanda tersebut diterima. Tindak tutur tidak hanya berupa kalimat, namun berupa ungkapan linguistik dalam situasi atau konteks tertentu, dan melalui konteks inilah mereka mengambil maknanya (1987: 55).

Iser berpendapat mengenai fiksi yang memiliki banyak tindakan ilokusioner sebagai berikut.

Fiksi memiliki banyak tindakan ilokusioner, berhubungan dengan konvensi-konvensi yang dibawanya serta dan menghendaki aturan-aturan yang berupa strategi-strategi (cara-cara) untuk membantu pembaca menuju satu pemahaman mengenai proses-proses seleksi yang mendasari teks. Strategi memiliki sifat performance, yang akan mendorong pembaca untuk merealisasikan kode yang mengatur seleksi ini sebagai makna aktual teks, karena strategi-strategi ini mengorganisir konvensi-konvensi yang berbeda secara horizontal dan karena telah melewati pencapaian harapan yang telah mapan, maka strategi ini dapat dikatakan memiliki satu kekuatan ilokusioner (illocutionary force). Efektivitas kekuatan potensial strategi ini tidak hanya

(11)

menyebabkan munculnya atensi, tetapi juga menentukan pendekatan pembaca pada teks dan mendatangkan respons-respons terhadapnya (1987: 56-57). Telah diketahui bahwa, bahasa fiksi memiliki sifat dasar aksi ilokusioner. Bahasa fiksi berhubungan dengan konvensi-konvensi yang dibawanya serta dan menghendaki aturan berupa strategi-strategi teks. Iser menyatakan bahwa mengenai strategi-strategi teks akan membantu menuntun pembaca menuju satu pemahaman terhadap berbagai repertoire yang menjadi referensi teks. Hal ini penting, sebab strategi teks adalah melihat bagaimana teks mengorganisir repertoire yang berbeda secara horizontal, serta menunjukkan bahwa teks yang bersifat konotasi kemudian dapat didenotasikan oleh pembaca. Di sinilah menuntut adanya pendekatan pembaca terhadap teks kemudian melakukan respons-respons terhadapnya (1987: 61).

Menurut Ingarden (dalam Iser, 1987: 64), “bahasa fiksi menggambarkan suatu susunan simbol, bahasa fiksi tidak berhubungan dengan realitas dan dalam istilah Austin bahasa fiksi tidak memiliki konteks situasi. Dalam istilah sederhana dapat dikatakan bahwa fiksi memberikan petunjuk-petunjuk untuk pengkonstruksian situasi agar dapat terbentuk satu objek imajiner”. Berkaitan dengan objek imajiner, Iser menyatakan sebagai berikut.

Melalui transformasi-transformasi yang dituntun oleh sinyal-sinyal teks, pembaca terdorong untuk mengkonstruksi objek imajiner. Ini berarti bahwa keterlibatan pembaca adalah esensial bagi pemenuhan teks, karena dari segi material ini bertahan hanya sebagai satu realitas potensial – teks menghendaki suatu “subjek” yaitu pembaca untuk mengaktualisasikan realitas potensial tersebut. Oleh karena itu, teks kesusastraan, bertahan terutama sebagai alat

(12)

komunikasi, sementara proses pembacaan pada dasarnya merupakan satu jenis interaksi diadik (interaksi khusus atau antarpribadi) (Iser, 1987: 67).

Selanjutnya mengenai realisasi makna menurut Iser akan bergantung pada teks dan pembaca melalui satu situasi. ”Jika komunikasi sastra ingin sukses, maka teks dan pembaca harus membawa semua komponen yang diperlukan untuk membangun situasi, karena tidak memiliki eksistensi di luar karya sastra. Seperti yang dijelaskan Austin (dalam Iser), tiga kondisi utama (syarat utama) untuk keberhasilan ucapan performatif: konvensi-konvensi yang berlaku pada penutur dan penerima, prosedur yang diterima oleh kedua pihak, dan kesediaan kedua pihak berpartisipasi dalam speech act” (1987: 68-69).

Mengenai konvensi-konvensi yang diperlukan untuk pengkonstruksian suatu situasi, Iser menyatakan bahwa konvensi tersebut disebut dengan repertoire teks. ”Prosedur-prosedur yang diterima akan disebut strategi-strategi dan partisipasi pembaca untuk selanjutnya akan disebut sebagai realisasi. Repertoire terdiri dari semua batas wilayah yang familiar dengan teks dapat berbentuk referensi terhadap karya-karya terdahulu atau terhadap norma-norma historis atau terhadap seluruh kultur dari mana teks tersebut muncul” (1987: 69). “Cara konvensi-konvensi, norma-norma, dan tradisi-tradisi mengambil tempat dalam repertoire sastra adalah bervariasi secara substansial. Namun demikian, konvensi, norma, dan tradisi selalu ada dalam bentuk yang termodifikasi, karena telah ditarik konteks dan fungsi orisinalnya. Meski terkadang muncul dengan wujud yang baru, namun sesungguhnya konteks orisinilnya harus tetap cukup implisit, sehingga dapat menjadi background untuk mengimbangi signifikasi barunya” (Iser, 1987: 69).

(13)

Iser mengatakan bahwa pengertian-pengertian baru dari norma-norma tidak dapat didefinisikan oleh teks, karena definisi apapun tetap harus dalam hubungannya dengan norma-norma yang ada. “Repertoire merepresentasikan norma-norma yang ada dalam suatu keadaan yang mengambang – karenanya mengubah teks menjadi jenis “half house” (titik temu) antara masa lampau dan masa mendatang. Di sinilah letak hubungan unik antara teks kesusastraan dalam realitas, bentuk sistem-sistem pemikiran atau model-model realitas” (1987: 73). “Bahwa teks tidak menjiplak sistem-sistem pemikiran realitas dan juga tidak menyimpang darinya. Sebaliknya, teks sastra merepresentasikan satu reaksi terhadap sistem-sistem pemikiran yang telah dipilih dan dimasukkan dalam repertoire itu sendiri” (Iser, 1987: 73).

Mengenai repertoire novel, Iser berpendapat sebagai berikut.

Repertoire novel bisa dikatakan sebagai satu organisasi horizontal dalam

pengertian bahwa repertoire menggabungkan dan menyamaratakan kumpulan norma sistem-sistem yang berbeda dalam kehidupan riil senantiasa terpisah antara satu sama lain. Melalui penggabungan seleksi norma-norma ini,

repertoire menyajikan informasi tentang sistem-sistem tempat gambaran sifat

manusia akan dikonstruksi (1987: 76).

“Teks kesusastraan memungkinkan pembaca untuk melampaui batas-batas situasi kehidupan riilnya sendiri, yang merupakan suatu eksistensi atau perluasan realitas pembaca itu sendiri. Sebagai karya dan sebagai seni, teks sastra merepresentasikan realitas dan karenanya secara tidak dapat dibagi dan secara bersamaan membentuk realitas” (Iser, 1987: 79). Mengenai nilai estetik, Iser menyatakan bahwa nilai estetik tidak diformulasikan oleh teks dan tidak disajikan dalam keseluruhan repertoire. Keberadaannya dibuktikan oleh efeknya (pengaruh).

(14)

Efek tersebut terdiri dari dua faktor yang tampak mengarah ke tujuan-tujuan yang berbeda, namun sesungguhnya bertemu. Nilai estetik mengkondisikan seleksi

repertoire dan mengubah bentuk sifat yang akan diseleksi untuk merumuskan sistem

kesamaan pokok dalam teks 1987: 82).

Repertoire yang dikatakan oleh Iser merupakan kerangka komunikasi. Repertoire sebagai pengirim dan pembaca penerima. Berkaitan dengan fungsi

komunikasi repertoire, Iser menyatakan sebagai berikut.

Fungsi komunikasi repertoire bergerak memasuki fokus dan dengan sendirinya berkembang menjadi satu tema: pertama, ketiadaan referensi penghubung apapun menimbulkan gap (ruang kosong) antara elemen-elemen yang berbeda, dan gap (ruang kosong) ini hanya dapat diisi oleh imajinasi pembaca; kedua, hubungan-hubungan yang berbeda yang ditunjukkan oleh gaya yang berubah-ubah masing-masing gap mencetuskan satu perubahan kontinu dalam arah imajinasi-imajinasi dan semua individualitas isi, perubahan konsep-konsep ini tetap merupakan suatu struktur komunikasi intrasubjektif (1987: 84).

“Lebih lanjut dijelaskan mengenai fungsi strategi (prosedur-prosedur yang diterima) yaitu mengorganisir aktualisasi elemen-elemen repertoire dan memberikan satu titik pertemuan (meeting point) antara repertoire dan pembaca. Fungsi-fungsi strategi yang terpenting adalah mendefamiliarisasikan hal-hal yang familiar” (Iser, 1987: 86-87).

Iser menegaskan bahwa norma-norma sosial mungkin diseleksi dan dipadatkan dalam teks.

Secara otomatis akan membentuk sebuah kerangka referensi dalam bentuk sistem pemikiran atau sistem sosial di mana norma-norma sosial diseleksi. Proses seleksi ini, menciptakan sebuah hubungan antara latar belakang (background) dan latar depan (foreground), dengan elemen yang dipilih

(15)

berada di latar depan dan konteks aslinya di latar belakang. Tanpa hubungan semacam itu elemen yang dipilih tidak akan mempunyai arti. Melalui aplikasi hubungan foreground-background ini, prinsip seleksi mengeksploitasi suatu kondisi dasar untuk semua bentuk pemahaman dan pengalaman, karena makna yang tidak diketahui akan dapat dipahami lantaran familiaritas

background yang tersaji. Background teks kesusastraan tidak memiliki sifat

melebih-lebihkan, karena tidak secara aktual diformulasikan oleh teks itu sendiri, melainkan kuantitas dan kualitasnya tergantung pada pembaca (1987: 93).

“Latar depan dan latar belakang juga merupakan struktur dasar yang melaluinya. Strategi-strategi teks menciptakan suatu tegangan yang membawa serangkaian tindakan dan interaksi yang berbeda dan pada akhirnya diputuskan dengan kemunculan objek-objek estetis (yakni makna teks)” (Iser, 1987: 95). Selanjutnya berkaitan dengan seleksi yang disampaikan oleh Iser, seleksi menghasilkan background-foreground dan ini memungkinkan akses ke dunia teks. Kombinasi mengorganisir elemen-elemen terseleksi sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pemahaman teks. Seleksi menyajikan hubungan luar, sementara kombinasi menghadirkan hubungan dalam. Apa yang dikombinasikan di dalam teks adalah satu situasi perspektif yang utuh, karena karya sastra tidak hanya merupakan pandangan penulis tentang dunia, tetapi juga merupakan kumpulan perspektif yang berbeda-beda dan dengan kombinasi ini realitas objek estetik dapat dibentuk (1987: 96).

Berkaitan dengan strukrut tema dan horizon, Iser menyatakan bahwa struktur tema dan horizon dapat mengorganisir sikap pembaca dan sekaligus mengkonstruksi sistem perspektif teks. Struktur tema dan horizon mendasari kombinasi semua perspektif dan memungkinkan teks kesusastraan untuk memenuhi fungsi

(16)

komunikasinya, yaitu memastikan bahwa reaksi teks terhadap dunia akan mencetuskan suatu respons yang sesuai atau cocok dari pembaca. Salah satu aspek penting pada proses komunikasi ini adalah pengalokasian norma-norma terseleksi ke perspektif-perspektif teks individu (1987: 97).

Iser menyatakan bahwa pembaca harus mengkonstruksi sendiri objek estetik (pencarian objek yang dimaknai).

Struktur-struktur teks dan aksi-aksi terstruktur pemahaman menghasilkan dua kutub komunikasi. Keberhasilan komunikasi terletak pada sejauh mana teks menetapkan dirinya sebagai suatu hubungan dalam kesadaran pembaca. Hal ini berarti bahwa teks memberi tuntunan mengenai apa yang mesti diproduksi, karena teks sendiri tidak dapat menjadi produk. Keberhasilan transfer teks ke pembaca tergantung pada keberhasilan teks mengaktivasi kapasitas persepsi dan pengolahan pembaca individual. Kendati teks bisa juga menggabung-gabungkan norma-norma dan nilai-nilai sosial para pembaca potensialnya, namun fungsi teks adalah bukan semata-mata mempresentasikan data-data semacam itu, melainkan sesungguhnya menggunakan data-data semacam itu guna menjamin adanya komprehensi teks itu sendiri (1987: 107).

Mengenai pengarang dan pembaca yang akan terlibat dalam permainan imajinasi, Iser menyatakan bahwa sesungguhnya permainan ini akan bekerja jika teks ini sendiri menyajikan diri lebih dari sekumpulan aturan pengatur. Kesenangan pembaca dimulai bila pembaca itu sendiri menjadi produktif yakni bila teks memungkinkan untuk mengerahkan semua kapasitas yang dimilikinya. Sudah barang tentu ada limit-limit pada kesediaan pembaca untuk berpartisipasi dan limit-limit ini akan terlampaui jika teks membuat segala sesuatu terlalu jelas atau terlalu kabur (1987: 108).

Kalimat dapat mencapai tujuannya hanya dengan mengarah ke sesuatu di luar kalimat itu sendiri. Hal ini berlaku juga pada sebuah kalimat dalam teks kesusastraan, maka korelat-korelat (gabungan yang terpisahkan) secara

(17)

konstan berinteraksi (saling bertitik temu) yang pada akhirnya membawa kepada pemenuhan semantik yang telah menjadi sasaran-sasaran korelat tersebut. Tetapi, pemenuhan ini terjadi bukan di dalam teks, melainkan pada diri pembaca yang harus mengaktifkan interplay (pengaruh) korelat-korelat yang terstruktur oleh rangkaian-rangkaian kalimat. Singkatnya, kalimat-kalimaat menggerakkan suatu proses yang akan membawa kepada pembentukan objek estetik sebagai suatu hubungan dalam pikiran pembaca (Iser, 1987: 110).

Mengenai proses pembacaan, Iser berpendapat sebagai berikut.

Tampak jelas bahwa sepanjang proses pembacaan, ada satu pengaruh berkelanjutan antara harapan-harapan termodifikasi dan memori-memori tertransformasi. Teks itu sendiri tidak memformulasikan harapan-harapan atau modifikasi harapan-harapan, juga tidak menetapkan bagaimana harus mengimplementasikan daya menghubungkan memori-memori. Hal tersebut menjadi bidang wewenang pembaca itu sendiri dan dapat diketahui satu wawasan pertama tentang bagaimana aktivitas yang dibuat pembaca memungkinkan teks untuk ditransfer ke pikiran pembaca itu sendiri. Proses ini juga merupakan struktur hermeneutika dasar pembaca (Iser, 1987: 111-112).

Berkaitan dengan setiap korelat, Iser menyatakan bahwa kalimat mengandung apa yang bisa disebut sebagai satu “seksi kosong” yang menantikan korelat selanjutnya dan satu “seksi retropaski” (kenangan), yang menjawab harapan-harapan kalimat terdahulu (background yang teringat). Oleh karena itu, setiap kegiatan pembacaan merupakan suatu dialektik potensi (menurun) dan retensi (ingat kembali), yang membawa satu horizon mendatang yang harus diisi, bersama dengan horizon lampau. Penggambaran sudut pandang bergerak melalui keduanya pada waktu yang sama dan membiarkan keduanya untuk melebur (1987: 112).

Mengenai makna dalam proses pembacaan, Iser mengungkapkan bahwa makna tidak dapat termanifestasi dalam kata-kata dan proses pembacaan, karenanya tidak dapat berstatus sebagai identifikasi semata-mata terhadap sinyal-sinyal bahasa individu. Tugas pembaca oleh karenanya membuat sinyal-sinyal ini menjadi

(18)

konsisten dan sebagaimana pembaca berbuat demikian, ada kemungkinan besar bahwa hubungan-hubungan yang ditetapkannya akan datang sendiri menjadi sinyal-sinyal untuk korelasi-korelasi lebih lanjut (Iser, 1987: 118).

C. Kerangka Pikir

Deskripsi penelitian ini dapat dituangkan dalam kerangka pikir, seperti berikut ini.

1. Tahap pertama, menggolongkan data-data tekstual yang diperoleh dari proses pembacaan ke dalam elemen-elemen repertoire yang berkaitan dengan norma sosial-budaya dan norma sejarah.

2. Setelah melakukan proses pembacaan, akan ditemukan gambaran realitas di dalam novel Pulang yang akan dihubungkan dengan fakta-fakta empiris.

3. Tahap berikutnya adalah melakukan seleksi. Proses ini menghasilkan hubungan background (konteks orisinil) dan foreground (elemen-elemen terseleksi). Hubungan antara background dan foreground merupakan cara untuk mengkonkretkan realitas teks.

4. Selanjutnya, dilakukan kombinasi yang digunakan untuk mengorganisir repertoire melalui struktur tema dan horizon di dalam teks.

5. Tahap terakhir, setelah melakukan kombinasi, akan ditemukan makna (objek estetik) novel Pulang.

(19)

Kerangka Pikir Penelitian

Makna Novel

Pulang

Novel

Pulang

Teori Respons Estetik

Elemen-elemen repertoire

Norma

Sosial-Budaya Norma Sejarah

Pembacaan

Seleksi

Background Foreground

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian terdahulu memuat hasil-hasil analisis sebelumnya terhadap novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan kajian proses kreatif. Adapun hasil-hasil penelitian terdahulu yang

Pembelajaran kontekstual akan membawa siswa untuk lebih memahami makna dari proses pembelajaran yang mereka alami, yaitu: Pemikiran Tentang Belajar, proses belajar anak dalam

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pola asuh adalah proses mempengaruhi seseorang, dimana orangtua menanamkan nilai-nilai yang dipercayai

Penjudi tingkat kedua disebut sebagai penjudi "bermasalah" atau problem gambler, yaitu perilaku berjudi yang dapat menyebabkan terganggunya kehidupan pribadi, keluarga

Sementara itu proses relasional identifikasi adalah proses yang menghubungkan antara partisipan yang satu dengan partisipan yang lain dengan cara memberikan nilai

Kajian mengenai modal sosial pada suporter sepakbola dimulai dari keberadaan tim Persiba yang mampu memberikan sinyal positif kepada masyarakat untuk mendukung klub

Menurut Hartono (2008) metode pembelajaran Question Students Have memiliki kelebihan yakni: (1) Pelaksanaan proses pembelajaran ditekankan pada keaktifan belajar peserta

Alasan tersebut adalah, (1) tidak mungkin suatu pesan teks yang ditulis seseorang dapat ditangkap secara menyeluruh oleh orang lain dan diungkapkan dalam BSa; (2)