BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ada ungkapan menarik bahwa “bank adalah mesin risiko, mentransformasi, dan kemudian melekatkannya pada produk dan jasa yang diberikannya”. Jauh sebelum itu , Islam telah mendefinisikan konsep risiko dan usaha dengan sangat bagus sekali. Dalam suatu hadis disebutkan, “al ghunmu bil ghurmi” artinya
keuntungan melekat padanya risiko1. Penerapan manajemen risiko perbankan
yang berlaku bagi Bank Umum Syariah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. Dari konsideran menimbang, dapat diketahui latar belakang dikeluarkannya peraturan tersebut bahwa semakin meningkatnya risiko yang dihadapi oleh bank seiring semakin kompleksnya dan bervariasi produk dan aktivitas bank , bank perlu mengendalikan risiko secara memadai, sehingga kualitas penerapan manajemen
risiko di bank menjadi semakin meningkat.2Pengendalian risiko pembiayaan
bermasalah/macet dapat diperkecil dengan mengadakan analisa pembiayaan, yang tujuan utamanya adalah menilai seberapa besar kemampuan dan kesediaan debitur
1
Wahyudi, et al .2013,Manajemen Risiko Bank Islam, Salemba Empat, Jakarta, hlm. 81.
2
Rachmadi Usman, 2012, Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 307.
mengembalikan pembiayaan yang mereka pinjam dan membayar margin
keuntungan dan bagi hasil sesuai dengan isi perjanjian pembiayaan3.
Pendekatan analisis pembiayaan yang dapat diterapkan oleh para pengelola Bank Syariah satu diantaranya yakni pendekatan jaminan. Pendekatan jaminan artinya bank dalam memberikan pembiayaan selalu memperhatikan
kuantitas dan kualitas jaminan yang dimiliki oleh peminjam4. Lazimnya, jaminan
yang digunakan oleh perbankan adalah jaminan yang bersifat kebendaan.
Terkait jaminan kebendaan, di Indonesia dikenal beberapa macam jaminan kebendaan salah satunya yakni Hak Tanggungan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, (selanjutnya disebut UUHT). Dari beberapa macam lembaga jaminan kebendaan, lembaga jaminan Hak Tanggungan merupakan salah satu lembaga jaminan yang dianggap menguntungkan, karena benda yang menjadi objek jaminan adalah tanah yang jumlahnya bisa ditaksir sangat besar nilainya sebagai pemenuhan perjanjian oleh debitur dan selalu
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun5.Harga tanah dalam sekian dekade
lalu, hampir tidak ada lonjakan , seolah-olah fluktuasinya berirama klasik dan lembut, namun semenjak beberapa tahun terakhir ini , keadaan memberi warna lain, pertumbuhan, perubahan-perubahan dan perkembangan dalam masyarakat
3
Muhammad, 2005, Manajeman Pembiayaan Bank Syariah, Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, hlm. 59.
4
Ibid., hlm. 60.
5
Priyo Handoko,2006, Menakar Jaminan atas Tanah Sebagai Pengaman Kredit Bank , Center for Society Studies, Jember, hlm. 139.
bergerak sangat cepat sehingga memberikan jumlah harga tanah lebih tinggi dari
lazimnya6.
Hak Tanggungan adalah suatu bentuk jaminan pelunasan hutang, dengan hak mendahului dengan objek jaminannya berupa hak-hak atas tanah yang diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria, (selanjutnya disebut UUPA)7. Pemberian Hak tanggungan hanya
akan terjadi bilamana sebelumnya didahului adanya perjanjian pokok berupa perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum hutang piutang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan. Dalam Pasal 10 ayat (2) UUHT, Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan perjanjian tertulis, yang dituangkan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan,(selanjutnya disebut APHT).
Pasal 1 angka 5 UUHT menyebutkan APHT adalah akta PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) yang berisi pemberian Hak Tanggungan kepada kreditor tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan piutangnya. Jika mengacu pada Pasaltersebut, maka tidak seharusnya setiap akad pembiayaan syariah dapat dilekatkan dengan jaminan Hak Tanggungan, karena tidak semua akad pembiayaan dalam perbankan syariah melahirkan hubungan hutang piutang. Namun, selama ini yang terjadi dalam praktek Perbankan Syariah, pembiayaan yang diberikan oleh Bank Syariah kepada nasabah biasa dilekatkan suatu jaminan kebendaan khususnya Hak Tanggungan.
6
Jhon Salindeho, 1994, Manusia, Tanah, Hak dan Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 39.
7
Terkait penggunaan jaminan sebagai pengendalian risiko, para ulama telah berpendapat bahwa terdapat dua kaidah penting yang harus diperhatikan dalam menjalankan bisnis dalam setiap tranksaksi usaha , yaitu kaidah al-kharaj bidh dhaman (pendapatan adalah imbalan atas tanggungan yang diambil) dan al-ghunmu bil ghurmi (keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian). Konsekuensi logis dari kaidah tersebut yakni Islam melarang setiap jenis tranksaksi yang didalamnya terjadi ketidakseimbangan antara risiko dan keuntungan. Dengan kata lain, Islam melarang setiap jenis tranksaksi yang
menghasilkan keuntungan tanpa adanya kesediaan menanggung kerugian8.
Upaya bank dalam memitigasi risiko yang dilakukan dengan meminta jaminan berupa barang pada beberapa akad pembiayaan tertentu harus memperhatikan prinsip dari al-ghunmu bil ghurmi (keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian) karena transaksi yang didalamnya terjadi ketidakseimbangan antara risiko dan keuntungan akan berpotensi menimbulkan riba. Riba nasi’ah yakni riba yang timbul dari utang-piutang yang tidak memenuhi
kriteria untung muncul bersama risiko ( al ghunmu bil ghurmi)9, keuntungan
merupakan kompensasi yang pantas atas kesediaan seseorang menanggung potensi kerugian. Untuk itu perlu diketahui, fungsi jaminan khususnya jaminan berupa tanah dengan dokumen terkait APHTdiperuntukkan sebagai pengalihan (transfer) risiko ataukah pembagian risiko, agar tidak melanggar prinsip
8
Wahyudi, et al.,Op.Cit., hlm. 15.
9
Heri Sudarsono, 2003, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deksripsi dan Ilustrasi, Ekonisia, Yogyakarta, hlm. 15.
ghunmu bil ghurmi, karena hal ini sangat terkait dengan sah atau tidaknya keuntungan (profit) yang diterima oleh pihak bank.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kepatuhan Bank Syariah terhadap prinsip al-ghunmu bil ghurmi dalam penggunaan Akta Pemberian Hak Tanggungan pada akad pembiayaan mudharabah dan musyarakah?
2. Bagaimana kesesuaian Akta Pemberian Hak Tanggungan sebagai jaminan dalam akad pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Syariah? C. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian dan penulisan Tesis ini, penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu:
1. Tujuan Subyektif
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data serta mengkaji data tersebut sehingga dapat menghasilkan sebuah karya ilmiahyang baik berupa Tesis, agar dapat memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar magister ilmu hukum pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
2. Tujuan Objektif
1) Untukmengetahui, menjelaska dan menganalisismengenaikepatuhan Bank Syariah terhadap prinsip al-ghunmu bil ghurmi dalam penggunaan Akta Pemberian Hak Tanggungan pada akad pembiayaan mudharabah dan musyarakah
2) Untukmengetahui, menganalisis, danmenjelaskanmengenaikesesuaian Akta Pemberian Hak Tanggungan sebagai jaminan dalam akad pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Syariah
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum, khususnya hukum perdata yang berkaitan dengan pengaturan mengenai penggunaan jaminan dalam perbankan khususnya perbankan syariah.
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis yakni dapat memperkaya pemikiran dan memberikan masukan kepada regulator Perbankan Syariah dalam menetapkan peraturan terkait penggunaan jaminan dalam pembiayaan syariah khususnya mudharabah dan musyarakah agar tidak jatuh pada pelanggaran prinsip syariah.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran peneliti di Perpustakaan UGM dan PerpustakaanUIN Sunan Kalijaga, terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan judul yang penulis angkat, yaitu:
1. Tesis yang berjudulKedudukan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dalam Akad Jual Beli (Bai’ Al-Murabahah) pada Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Yogyakarta yang ditulis oleh Retno Hastuti Sandyakawuri mahasiswiProgram Magister Kenotariatan Universitas Gadjah
Mada pada tahun 2011.10Masalah yang diambil yakni bagaimana kekedudukan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dalam akad jual-beli (Bai’ Al-Murabahah) pada BTN Syariah Cabang Yogyakarta dan bagaimana penyelesaian pembiayaan jika terjadi kegagalan pada pelaksanaan akad jual beli (Bai’ Al-Murabahah). Hasil penelitian Kedudukan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dalam akad jual beli (Bai’ Al-Murabahah) pada BTN Syariah Cabang Yogyakarta adalah bersifat tambahan (accessoir), sedangkan Akad Pembiayaan KPR-BTN Syariah bersifat pokok (obligatoir) dan jika terjadi kegagalan pada pelaksanaan akad jual beli (Bai’ Al-Murabahah) pada BTN Syariah Cabang Yogyakarta dilakukan dengan tahapan : memberikan peringatan baik secara lisan maupun tulisan, melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) dan persyaratan kembali (reconditioning), melaksanakan
musyawarah kekeluargaan, melalui lembaga BASYARNAS dan
melaksanakan eksekusi terhadap barang jaminan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Tesis tersebut dengan penelitian yang akan penulis lakukan memiliki persamaan yakni objek penelitian adalah APHT namun perbedaan dalam tesis diatas lebih menitik beratkan kepada kedudukan APHT dalam akad murabahah, dan bagaimana penyelesaiannya, sedangkan dalam penelitian yang akan penulis lakukan bertujuan untuk
mengetahui kedudukan APHT dalam pembiayaan mudharabah
10
Retno Hastuti Sandyakawuri, 2011, “Kedudukan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dalam Akad Jual Beli (Bai’ Al-Murabahah) pada Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Yogyakarta”, Tesis, Pasca Sarjana Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.
danmusyarakah,tidak mengkaji tentang pelaksanaan penyelesaian masalah dilapangan karena itu lebih bersifat empiris.
2. Tesis yang berjudul Pembebanan Hak Tanggungan pada Perjanjian Pembiayaan dengan Akad Mudharabah dan Korelasinya dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang Dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah yang ditulis oleh Dewa Putu Dipta Dadia Nugraha mahasiswa Program
Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011.11Masalah
yang diangkat yakni apakah perjanjian pembiayaan mudharabah dapat dibebankan dengan hak tanggungan dan apakah APHT yang ada dapat dibuat berdasarkan perjanjian pembiayaan mudharabah. Hasil penelitian yakni pembebanan Hak Tanggungan pada perjanjian pembiayaan mudharabah menurut Undang-undang Hak Tanggungan Nomor 4 tahun 1996 adalah dibolehkan danAPHT sebagai akta untuk pembebanan Hak Tanggungan dapat digunakan pada perjanjian pembiayaan mudharabah. Tesis tersebut memiliki kesamaan yakni merupakan penelitian normatif dengan objek penelitian yakni APHT. Dalam tesis diatas dengan rumusan kedua hampir sama dengan rumusan masalah kedua dalam proposal ini, namun penulis lebih mengkaji lagi bahwa apakah dengan dibolehkannya penggunaan APHT dalam akad mudharabah sebagaimana yang disebutkan dalam tesis diatas tidak bertentangan dengan prinsip Al Ghunmu bil Ghurmi.
11
Dewa Putu Dipta Dadia Nugraha, 2011, “Pembebanan Hak Tanggungan pada Perjanjian Pembiayaan dengan Akad Mudharabah dan Korelasinya dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang Dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah”, Tesis, Pasca Sarjana Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.
3. Tesis yangberjudul Analisis Yuridis Kedudukan Jaminan Hak Tanggungan dalam Perspektif Bisnis Syariah yang tulis oleh Muhammad Ananda Salahuddin Al Ayyubi Basmalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2014.12Masalah yang
diangkatadalah bagaimana kedudukan jaminan Hak Tanggungan ditinjau dalam perspektif bisnis syariah dan bagaiman Prosedur Eksekusi terhadap Jaminan Hak Tanggungan tersebut dalam konsep hukum bisnis syariah dan penyelesaian masalah yang timbul dari proses eksekusi tersebut. Adapun hasil penelitian tersebut adalah konstruksi hubungan hukum rahn identik dengan konstruksi hubungan hukum Hak Tanggungan yaitu sebagai perjanjian ikutan (accesoir) terhadap perjanjian pokok yang pada umumnya berupa perjanjian utang piutang, Rahn dan Hak Tanggungan adalah sebuah hal yang berbeda dan prosedur pemecahan masalah ketika ada wanprestasi dalam rahn/rahn tasjily dan hak tanggungan juga tidak berbeda. Tesis tersebut memiliki persamaan objek penelitian dengan penulisan ini yakni APHT namun dalam tesis diatas lebih ingin mencari persamaan kedudukan APHT di dalam perspektif bisnis syariah, sehingga ingin mepersamakan APHT dengan Rahn, sedangkan dalam penulisan ini menitikberatkan kepada bagaimana kedudukan APHT akad pembiayaan pada Bank Syariah jika dikaitkan dengan prinsip Al Ghunmu Bil Ghurmi dantidak menyinggung mengenai lembaga jaminan lain selain lembaga jaminan Hak Tanggungan.
12
Muhammad Ananda Salahuddin Al Ayyubi Basmalah, 2014, “Analisis Yuridis Kedudukan Jaminan Hak Tanggungan dalam Perspektif Bisinis Syariah”,Tesis, Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.