▸ Baca selengkapnya: contoh laporan tahunan sekolah dasar
(2)LAPORAN TAHUNAN
TA 2018
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pertanian
2019
LAPORAN TAHUNAN
TA 2018
Tim Penyusun
Penanggung Jawab : Abdul Basit
Ketua
: Sumedi
Sekretaris
: Julia F Sinuraya
Anggota
: Erma Suryani
Ikarianto Haryadi
Eni Widjajati
M. Suryadi
Sunarsih
Frans B.M Dabukke
Ina Purwantini
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pertanian
2019
KATA PENGANTAR
Laporan Tahunan ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) sebagai institusi pemerintahan/negara dalam melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang diembannya. Tupoksi PSEKP sebagai bagian dari Kementerian Pertanian adalah memberikan opsi, pertimbangan, dan informasi bagi pimpinan agar dapat membuat dan melaksanakan program fasilitasi, kebijakan, dan perturan terbaik untuk sebesar-besarnya kesejahteraan petani.
Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, laporan ini berisi tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh PSEKP selama tahun anggaran 2018 yang meliputi : struktur organisasi PSEKP, sumber daya manusia, sarana dan prasarana penelitian, program, pendayagunaan hasil dan kerja sama penelitian, serta monitoring dan evaluasi. Selain itu, laporan ini juga memuat sinopsis hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan PSEKP pada tahun 2018.
Kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung mulai dari persiapan sampai penyelesaian laporan ini disampaikan terima kasih. Semoga laporan ini memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak yang membutuhkan serta dapat dijadikan sebagai acuan dalam perbaikan kinerja PSEKP ke depan.
Bogor, Februari 2019 Kepala Pusat,
Dr. Ir. Abdul Basit, M.S. NIP 196109291986031003
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Visi dan Misi ... 2
1.2. Tupoksi, Sasaran, dan Struktur Organisasi ... 3
1.3. Sasaran Kelompok Pengguna Hasil Penelitian ... 4
II. SUMBER DAYA MANUSIA ... 6
III. SARANA DAN PRASARANA... 17
IV. PROGRAM ... 25
4.1. Tujuan dan Luaran Kegiatan ... 25
4.2. Perencanaan Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2018 .... 25
V. SINOPSIS PENELITIAN PSEKP TAHUN 2018 ... 32
5.1. Panel Petani Nasional (PATANAS): Dinamika Indikator Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di Wilayah Agroekosistem Lahan Kering Berbasis Komoditas Perkebunan ... 32
5.2. Kaji Ulang Kebijakan Perbenihan dan Subsidi Benih Padi dan Jagung ... 35
5.3. Desain dan Alternatif Kebijakan Mewujudkan Swasembada Kedelai ... 36
5.4. Desain, Implementasi, dan Respons Stakeholder TTI dalam Pengendalian Harga Pangan Pokok dan Penting……….. 38
5.5. Peningkatan Manfaat Infrastruktur Air untuk Pertanian Lahan Kering dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Pendapatan Petani ... 40
5.6. Strategi Pemanfaatan Sumber Kapital Desa dalam Peningkatan Produksi Pertanian dan Pendapatan Petani ... 42
5.7. Strategi Antisipatif Pengelolaan Surplus Produksi Padi dan Jagung ... 45
5.8. Pengoptimalan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) Mendukung Swasembada Pangan... 49
5.9. Pengembangan Model Proyeksi Permintaan dan Penawaran Komoditas Pangan Menuju 2045 ... 51
5.10. Kajian Dampak dan Kebijakan Sektor Pertanian dalam Kerjasama MEA ... 53
5.11. Kajian Potensi Dampak Perubahan Lingkungan Strategis Global terhadap Kinerja Perdagangan Komoditas
Pertanian... 55
5.12. Review Kinerja Program Pembangunan Pertanian 2015-2019 ... 57
VI. PENDAYAGUNAAN HASIL DAN KERJA SAMA PENELITIAN ... 60
6.1. Publikasi Hasil-Hasil Penelitian ... 60
6.1.1. Jenis-Jenis Publikasi ... 60
6.1.2. Pendistribusian Hasil Publikasi ... 66
6.1.3. Dewan Redaksi... 67
6.2. Komunikasi dan Dokumentasi Hasil Penelitian ... 69
6.2.1. Seminar ... 70
6.2.2. Pengelolaan Website dan Media Sosial ... 71
6.3. Perpustakaan ... 75
6.3.1. Pengadaan Bahan Pustaka ... 76
6.3.2. Pengolahan Bahan Pustaka ... 76
6.3.3. Pelayanan Perpustakaan ... 77
6.3.4. Perpustakaan Digital ... 78
6.3.5. Kegiatan Administrasi ... 80
6.4. Kerja Sama Penelitian ... 81
6.4.1. Kegiatan Penelitian Kerja Sama antara PSEKP dan ACIAR ... 83
6.4.2. Kegiatan Penelitian Kerja Sama antara PSEKP dan FAO: “Analysis and Mapping of Impacts under Climate Change for Adaptation and Food Security through South-South Cooperation (AMICAF-SSC)-Component 2” ... 84
6.4.3. Rencana Kerja Sama PSEKP dengan ACIAR/IFPRI (Tahap Persiapan): Inclusive Agricultural Value Chain Financing (IndoFINANCE)……….. 84
6.4.4. Kegiatan Lainnya ... 84
VII. EVALUASI DAN PELAPORAN ... 86
7.1. Kegiatan Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan ... 86
7.2. Ruang Lingkup Monitoring dan Evaluasi ... 87
7.3. Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi TA. 2018... 88
7.3.1. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Penelitian ... 90
7.3.2. Monitoring dan Evaluasi Manajemen Penelitian ... 99
7.3.3. Pelayanan Perpustakaan ... 103
7.3.4. Evaluasi Pelayanan Publikasi ... 104
DAFTAR TABEL
Tabel Uraian Halaman
1. Jumlah pegawai PSEKP berdasarkan umur dan tingkat
pendidikan per Desember 2018 (orang) ... 6
2. Jumlah pegawai PSEKP berdasarkan golongan dan ruang, 2018 ... 8
3. Jumlah SDM PSEKP berdasarkan jabatan, 2018 ... 9
4. Jumlah peneliti menurut bidang kepakaran, 2018 ... 10
5. Bezzeting dan kebutuhan jabatan fungsional peneliti (sesuai beban kerja), 2018 ... 11
6. Kenaikan pangkat (KP) pegawai PSEKP periode April dan Oktober 2018 ... 12
7. Daftar kondisi barang inventaris Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 ... 18
8. Perkembangan pelaksanaan keuangan kegiatan utama dan kegiatan penunjang Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 ... 22
9. Realisasi anggaran per jenis Pengeluaran Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 ... 22
10. Realisasi anggaran per kegiatan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 ... 23
11. Rekapitulasi PNBP Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. 2018 ... 24
12. Judul penelitian/kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian PSEKP TA 2018 ... 29
13. Judul proposal penelitian/kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian PSEKP TA 2019 ... 30
14. Judul dan penulis naskah JAE, 2018 ... 60
15. Judul dan penulis naskah FAE , 2018 ... 61
16. Judul dan penulis naskah AKP, 2018 ... 62
17. Judul dan penyusun buku tematik, 2018 ... 64
18. Daftar isi terbitan Agro-Socioeconomic Newsletter, 2018 .... 65
19. Daftar judul leaflet, 2018 ... 66
20. Distribusi publikasi ilmiah, 2018 ... 66
21. Susunan Dewan Redaksi dan Redaksi Pelaksana JAE, FAE, AKP, dan Agro-Socioeconomic Newsletter, 2018... 68
22. Judul makalah dan pembicara pada seminar rutin, 2018 .. 70
23. Jumlah pengunjung Website PSEKP, 2018 ... 71
24. Kata/frasa yang digunakan dalam pencarian, 2018 ... 72
25. Materi Website PSEKP yang diunduh (download), 2018 ... 72
26. Materi Website PSEKP yang diunggah (upload), 2018 ... 74
27. Perkembangan koleksi pustaka di Perpustakaan PSEKP Tahun 2016-2018 ... 77
28. Pengunjung Perpustakaan PSEKP, 2018 ... 78
29. Kegiatan untuk peningkatan profesi kepustakaan, 2018.... 80
30. Ringkasan kegiatan kerja sama penelitian PSEKP TA 2018 82
DAFTAR GAMBAR
Gambar Uraian Halaman 1. Struktur organisasi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian ... 52. Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan kelompok umur, 2018 ... 7
3. Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan tingkat pendidikan, 2018 ... 8
4. Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan golongan, 2018 ... 8
5. Persentase jumlah peneliti PSEKP berdasarkan jenjang jabatan fungsional, 2018 ... 10
6. Mekanisme perencanaan kegiatan penelitian internal PSEKP ... 28
7. Bagan keterkaitan Tim Teknis, Tim Monev, dan Tim Editor di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian ... 90
I. PENDAHULUAN
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) merupakan sebuah lembaga penelitian setingkat eselon II yang bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Berdirinya lembaga ini berawal dari adanya Proyek Survei Agro Ekonomi (SAE) yang dibentuk pada tahun 1974. Seiring dengan dinamika permasalahan pembangunan pertanian, beberapa kali lembaga ini mengalami perubahan nama. Pada tahun 1976, SAE berubah menjadi Pusat Penelitian Agro Ekonomi (PAE), kemudian Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (P/SE) pada tahun 1990, dan selanjutnya menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian (Puslitbangsosek Pertanian). Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 299/Kpts/OT.140/7/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian, nama lembaga ini ditetapkan menjadi Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP). Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian ditetapkan menjadi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP). Dengan nama yang sama sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT/010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, PSEKP adalah unsur pendukung Kementerian Pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Namun demikian melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 232/Kpts/OT.010/4/2016 Pembinaan teknis penelitian, pembinaan teknis pejabat fungsional peneliti PSEKP tetap berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang meliputi: penilaian angka kredit, pendidikan, pelatihan serta peningkatan kapasitas dan kompetensi. Pada tahun 2018 semua anggaran yang digunakan oleh PSEKP untuk membiayai belanja baik pegawai, modal, operasional maupun non operasional dialokasikan dari Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian.
Dalam kurun waktu lebih dari empat dasawarsa dari sejak berdirinya (1976-2018), PSEKP telah dipimpin oleh delapan Kepala Pusat, yaitu Prof. Dr. Syarifudin Baharsyah (1976-1983), Dr. Faisal Kasryno (1983-1989), Prof. Dr. Effendi Pasandaran (1989-1995), Prof. Dr. Achmad Suryana (1995-1998), Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto (1998-2002), Prof. Dr. Pantjar Simatupang (2002-2005), Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto (2005-2010), Dr. Handewi P. Saliem (2010-2016), dan Dr. Ir. Abdul Basit, M.S. (2016-sekarang).
Sebagai institusi lingkup Kementerian Pertanian yang diberi mandat melaksanakan penelitian sosial ekonomi secara nasional, PSEKP diharapkan menjadi lembaga yang mampu mengintegrasikan berbagai kegiatan, yaitu penelitian dan pengembangan sosial ekonomi pertanian (sebagai lembaga ilmiah), analisis kebijakan pembangunan pertanian (sebagai lembaga pemerintahan), penyuluhan (sebagai elemen penunjang sistem agribisnis), dan advokasi pembangunan pertanian (sebagai lembaga kemasyarakatan) guna mewujudkan tujuan pembangunan dengan pelayanan berkelanjutan. Progam analisis sosial ekonomi dan kebijakan PSEKP dirancang untuk meningkatkan peran dan kemampuan institusi PSEKP dalam merumuskan alternatif dan advokasi kebijakan pembangunan pertanian ke depan. Hal ini secara rinci telah dituangkan dalam Renstra yang memayungi program tersebut serta menetapkan strategi dan kebijakan umum untuk merealisasikannya. Program tersebut disusun berlandaskan visi dan misi yang futuristik sesuai dengan dinamika lingkungan strategis dan paradigma pembangunan pertanian masa datang.
Inovasi kebijakan yang dihasilkan PSEKP harus berkualitas, cepat, dan akurat serta difokuskan pada masalah-masalah aktual pembangunan sektor pertanian yang berkaitan dengan: (1) perdagangan multilateral perjanjian regional dan bilateral; (2) informasi dan data yang berkaitan dengan dinamika sosial ekonomi perdesaan secara berkala; (3) informasi dan data mengenai penyebab penurunan produktivitas produk pertanian (supply constraint); (4) peningkatan daya saing, nilai tambah, dan pengembangan produk pertanian (agroindustri); (5) ketahanan pangan dan kemiskinan terkait SDG’s; dan (6) penurunan kualitas infrastruktur dan sumber daya pertanian.
1.1. Visi dan Misi Visi
“Menjadi pusat pengkajian yang handal dan terpercaya dalam menghasilkan invensi dan inovasi di bidang sosial ekonomi dan kebijakan pertanian untuk kesejahteraan petani dalam rangka mewujudkan pemerintah yang baik dan bersih“.
Misi
Visi tersebut dirumuskan berdasarkan kesadaran bahwa PSEKP adalah lembaga pemerintah, sehingga harus berorientasi pada pelayanan masyarakat melalui partisipasi secara aktif dalam memberikan alternatif rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian. Untuk mewujudkan visi di atas, misi yang akan dijadikan sebagai arahan kegiatan PSEKP adalah:
1. Melakukan penelitian dan pengkajian guna menghasilkan informasi, inovasi dan ilmu pengetahuan sosial ekonomi pertanian;
2. Melakukan analisis kebijakan, pengkajian untuk mengolah informasi dan ilmu pengetahuan hasil analisis, serta mengembangkan hasil inovasi menjadi rumusan alternatif kebijakan pembangunan pertanian;
3. Melakukan advokasi pembangunan pertanian, berupa kampanye publik untuk memobilisir partisipasi lembaga terkait dan masyarakat luas dalam mendukung pembangunan sistem pertanian bioindusri yang mandiri, berdaulat dan berkelanjutan; dan
4. Mengembangkan kemampuan institusi PSEKP sehingga mampu mewujudkan visi dan misinya secara berkelanjutan.
1.2. Tupoksi, Sasaran, dan Struktur Organisasi
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/ OT.010/8/2015 Pasal 1225 dan Pasal 1226, tugas pokok dan fungsi PSEKP sebagai bagian dari institusi Kementerian Pertanian adalah memberikan opsi, pertimbangan, dan informasi bagi pimpinan agar dapat membuat dan melaksanakan program fasilitasi, kebijakan, dan peraturan terbaik untuk sebesar-besarnya kesejahteraan petani.
Tugas Pokok:
Melaksanakan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian (Pasal 1225 Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015).
Fungsi:
1. Perumusan program analisis sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
2. Pelaksanaan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan di bidang pertanian.
3. Pelaksanaan telaah ulang program dan kebijakan di bidang pertanian.
4. Pemberian pelayanan teknik di bidang analisis sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
5. Pelaksanaan kerja sama dan mendayagunakan hasil analisis dan pengkajian serta konsultasi publik di bidang sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
6. Evaluasi dan pelaporan hasil analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
7. Pengelolaan urusan tata usaha dan rumah tangga Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (Pasal 1226 Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/ 8/2015).
1.3. Sasaran Kelompok Pengguna Hasil Penelitian
1. Pejabat pembuat dan pengelola kebijakan pembangunan pertanian lingkup Kementerian Pertanian;
2. Pejabat pembuat kebijakan lembaga negara di luar Kementerian Pertanian;
3. Praktisi agribisnis;
4. Politisi, ilmuwan, dan masyarakat peminat pembangunan pertanian; dan
5. Peneliti.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/ OT.010/8/2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, PSEKP dipimpin oleh seorang Kepala Pusat setingkat Eselon IIA, dibantu oleh 3 unit struktural setingkat Eselon IIIA, yaitu Bagian Umum, Bidang Kerja sama dan Pendayagunaan Hasil, dan Bidang Program dan Evaluasi serta dilengkapi dengan Kelompok Jabatan Fungsional. Sementara masing-masing eselon III dibantu oleh 2 unit struktural dibawahnya setingkat eselon IVA, dengan struktur organisasi seperti disajikan pada Gambar 1. Pada tahun 2018 terjadi perubahan struktur organisasi PSEKP. Adapun perubahan struktur yang dimaksud yaitu pergantian dan pengangkatan pejabat eselon IIIA yaitu Kepala Bidang Program dan Evaluasi dari Dr. Ketut Kariyasa kepada Dr. Sumedi, pergantian dan pengangkatan pejabat eselon IVA yaitu Kepala Subbidang Pendayagunaan Hasil dari Dr. Syahyuti kepada Ir. Sunarsih, M.Si, Kepala Subbidang Kerja Sama Penelitian dari Dr. Ening Ariningsih kepada Frans B.M Dabukke, S.P., M.Si, dan Kepala Subbidang Evaluasi dan Pelaporan dari Ir. Sri Hastuti, M.Si kepada Dr. Julia F Sinuraya, S.P., M.Si dengan SK 675/Kpts/KP.230/10/2018 tanggal 15 Oktober 2018.
Gambar 1. Struktur organisasi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
II. SUMBER DAYA MANUSIA
Data kepegawaian pada akhir tahun 2018, tercatat bahwa sumber daya manusia yang ada di PSEKP jumlahnya terus menurun dari 135 pegawai pada tahun 2017 dan menjadi 129 pegawai pada tahun 2018. Penurunan jumlah tersebut karena adanya karyawan yang telah memasuki masa pensiun (Tabel 1). Struktur pegawai PSEKP berdasarkan umur pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebagian besar 31% berada pada kelompok umur 51-55 tahun dan 22% pada kelompok umur 50-60 tahun. Sedangkan sisanya masing-masing 16% berada pada kelompok umur 46-50 tahun, 12% pada kelompok umur >60 tahun, 11% pada kelompok umur 41-45 tahun, 5% pada kelompok umur 31-35 tahun, 2% pada kelompok umur 36 – 40 tahun, dan 1% pada kelompok umur 21-25 tahun. Tampak bahwa jumlah SDM yang berada pada kelompok umur > 45 tahun adalah yang paling tinggi (Gambar 2). Kondisi ini menunjukkan jika tidak diikuti adanya kenaikan jumlah fungsional baik fungsional peneliti maupun fungsional lainnya, maka akan terjadi pensiun PNS secara bergelombang dengan jumlah pegawai yang cukup besar.
Tabel 1. Jumlah pegawai PSEKP berdasarkan umur dan tingkat pendidikan per Desember 2018 (orang) No (Thn) Usia S3 S2 S1 D3 D2 D1 SLTA SLTP JML 1 21-25 0 0 1 0 0 0 0 0 1 2 26-30 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31-35 0 0 5 1 0 0 0 0 6 4 36-40 0 1 2 0 0 0 0 0 3 5 41-45 2 5 3 0 0 0 4 0 14 6 46-50 2 7 1 2 1 0 8 0 21 7 51-55 9 3 8 1 1 1 16 1 40 8 56-60 9 5 3 3 2 0 6 0 28 9 >60 11 5 0 0 0 0 0 0 16 Jumlah 33 26 23 7 4 1 34 1 129
21-25 tahun; 0,78% 31-35 tahun; 4,65% 36-40 tahun; 2,33% 41-45 tahun; 10,85% 46-50 tahun; 16,28% 51-55 tahun; 31,01% 56-60 tahun; 21,71% >60 tahun; 12,40%
Gambar 2. Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan kelompok umur, 2018
Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2018 menunjukkan bahwa yang berpendidikan S3 dan SLTA masing-masing 26%, berpendidikan S2 sebesar 20%, S1 sebesar 18%, D3 sebesar 5%, D2 sebesar 3% dan D1 serta SLTP masing-masing sebesar 1% (Gambar 3). Konfigurasi pendidikan pegawai PSEKP berdasarkan tugas pokok dan fungsi, memperlihatkan kecenderungan bahwa sebagian besar peneliti telah mengikuti program pendidikan pasca sarjana S2 dan utamanya S3.
Jika dilihat dari Tabel 1, jumlah SDM berdasarkan umur dan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa peluang peningkatan kapasitas SDM PSEKP dari peningkatan tingkat pendidikan dari S2 ke S3 dan S1 ke S2 dengan status tugas belajar sangat terbatas. Dinamika penjenjangan dan peningkatan pendidikan sebagian karyawan lainnya belum berjalan secara optimal, khususnya untuk mendukung kinerja sebagai tenaga penunjang. Tingkat pendidikan yang paling rendah di PSEKP adalah SLTP yang berusia antara 51-55 tahun.
Gambar 3. Persentase jumlah pegawai PSEKP berdasarkan tingkat pendidikan, 2018
Jumlah pegawai PSEKP berdasarkan golongan dan ruang menunjukkan bahwa yang 51% golongan III, 40% golongan IV dan 9% golongan II. Pegawai PSEKP tidak ada lagi yang berada pada golongan I (Gambar 4). Kondisi ini diharapkan selain dapat meningkatkan kinerja dalam tugas keseharian di masing-masing bidang, juga berdampak pada peningkatan produktivitas kegiatan institusi secara keseluruhan, sehingga ouput yang dihasilkan PSEKP dapat sesuai dengan target yang diharapkan.
Tabel 2. Jumlah pegawai PSEKP berdasarkan golongan dan ruang, 2018
No Golongan Ruang Jumlah
A B C D E 1 I 0 0 0 0 0 2 II 3 0 3 5 11 3 III 12 28 12 14 66 4 IV 18 6 7 5 16 52 Jumlah 33 34 22 24 16 129 II; 9% III; 51% IV; 40%
Jumlah SDM PSEKP berdasarkan jabatan adalah sebanyak 7,75% merupakan jabatan struktural, 44,19%, fungsional peneliti 7,75% fungsional lainnya, dan 40,31% fungsional umum. Fungsional tertentu terdiri dari beberapa jenis fungsional (Tabel 4).
Tabel 3. Jumlah SDM PSEKP berdasarkan jabatan, 2018
No Jabatan Jumlah %
1 Struktural 10 7,75
2 Fungsional Peneliti : 57 44,19
Peneliti Ahli Utama 20 15,50
Peneliti Ahli Madya 16 12,40
Peneliti Ahli Muda 6 4,65
Peneliti Ahli Pertama 6 4,65
Calon Peneliti Ahli Pertama 2 1,55 Peneliti yang dibebaskan karena
diperbantukan/tugas belajar 7 9,30
3 Fungsional Tertentu lainnya : 10 7,75
Analis Kebijakan Madya 1 0,78
Pustakawan Pertama 2 1,55
Arsiparis Ahli Muda 1 0,78
Arsiparis Ahli Pertama 1 0,78
Pranata Humas Pertama 1 0,78
Pranata Humas Pelaksana 1 0,78
Analis Kepegawaian Mahir 1 0,78
Analis Kepegawaian Terampil 1 0,78
Calon Perencana Ahli Pertama 1 0,78
4 Fungsional Umum 52 40,31
Jumlah 129 100,00
Jumlah fungsional peneliti terbagi dalam beberapa jenjang yaitu 32% peneliti ahli utama, 20% peneliti ahli madya, 16% peneliti ahli muda, 29% peneliti ahli pertama, dan 3% calon peneliti ahli pertama (Gambar 5).
Peningkatan jenjang jabatan peneliti sesuai dengan aturan yang baru nantinya akan ditentukan dari ketersediaan kuota jabatan pada jenjang tersebut. Apabila tidak ada kuota maka peneliti belum dapat naik ke jenjang berikutnya.
Gambar 5. Persentase jumlah peneliti PSEKP berdasarkan jenjang jabatan fungsional, 2018
Peneliti PSEKP sebanyak 62 orang terbagi atas beberapa bidang kepakaran. Berdasarkan bidang kepakaran, menunjukkan bahwa sebagian besar peneliti PSEKP mempunyai keahlian dalam bidang kepakaran Ekonomi SDA dan Lingkungan (48 orang) sisanya terbagi atas bidang kepakaran Sistem Usaha Pertanian, Sosiologi Ekonomi, Sosiologi Perdesaan, Sosiologi Pembangunan, Sosiologi Pertanian, dan Sosiologi Umum (Tabel 4). Selain kepakaran tersebut, sampai dengan tahun 2018, PSEKP tercatat telah memiliki 5 orang tenaga ahli dalam Bidang Riset dengan jenjang penghargaan kepangkatan tertinggi sebagai Profesor Riset. Dalam waktu yang akan datang jumlah Profesor Riset dan Peneliti Utama PSEKP diharapkan akan terus bertambah sejalan dengan tuntutan profesionalisme kegiatan di bidang penelitian. Tabel 4. Jumlah peneliti menurut bidang kepakaran, 2018
No Bidang Kepakaran Calon Peneliti Ahli Pertama Peneliti Ahli Pertama Peneliti Ahli Muda Peneliti Ahli Madya Peneliti Ahli Utama Jumlah 1 Ekonomi SDA dan Lingkungan 1 12 8 11 17 48
2 Sistem Usaha Pertanian 1 1
3 Sosiologi Ekonomi 2 1 1 1 5 4 Sosiologi Perdesaan 2 2 5 Sosiologi Pembangunan 2 1 3 6 Sosiologi Pertanian 1 1 7 Sosiologi Umum 1 1 Total 2 18 10 12 20 62
PSEKP telah melakukan perhitungan kebutuhan peneliti sampai tahun 2022. Tabel 5 menunjukkan bezetting tahun 2017 untuk setiap jenjang jabatan peneliti yaitu 19 orang peneliti ahli utama, 23 orang peneliti ahli madya, 8 orang peneliti ahli muda, dan 14 orang peneliti ahli pertama. Sesuai dengan kebutuhan tahunan yang telah ditetapkan maka pada tahun 2022 dibutuhkan 25 orang peneliti ahli utama, 8 orang peneliti ahli madya, 9 orang peneliti ahli muda, dan 8 orang peneliti ahli pertama.
Tabel 5. Bezetting dan kebutuhan jabatan fungsional peneliti (sesuai beban kerja), 2018
No Jenjang Jabatan
Bezetting Kebutuhan Tahun
2017 2018 2019 2020 2021 2022
1 Peneliti ahli utama 19 25 24 24 23 25
2 Peneliti ahli madya 23 16 13 12 10 8
3 Peneliti ahli muda 8 8 7 9 9 9
4 Peneliti ahli pertama 14 11 10 8 8 8
Total 64 60 54 53 50 50
Proses kenaikan pangkat (KP) pegawai PSEKP tahun 2018 terdiri dari 2 periode yaitu April dan Oktober. Pegawai yang naik pangkat pada bulan April dan Oktober sebagai berikut:
1. KP Periode April 2018
Kenaikan pangkat PNS PSEKP pada periode April 2018 diusulkan sebanyak 10 orang, realisasi 9 berhasil dan 1 orang batal karena pegawai tersebut sebagai pejabat struktural yang tidak dapat kenaikan pangkat dari jabatan fungsional.
2. KP Periode Oktober 2018
Kenaikan Pangkat PNS PSEKP pada periode Oktober 2018 diusulkan sebanyak empat orang. Kenaikan pangkat pegawai tersebut berdasarkan jenisnya terdiri dari tiga orang fungsional dan satu orang struktural.
Tabel 6. Kenaikan pangkat (KP) pegawai PSEKP periode April dan Oktober 2018 No Nama Jabatan Kenaikan pangkat Jenis KP Dari Ke Periode April 2018 1 Dr. Ir. Bambang
Sayaka, MSc Peneliti Ahli Utama IV c IV d Fungsional 2 Dr. Ir. Nyak Ilham Peneliti Ahli Utama IV c IV d Fungsional 3 Dr.Ir.Ketut Kariyasa Kabid PE - - Fungsional 4 Valeriana, SE, MM Peneliti Ahli Madya IV b IV c Fungsional 5 Ikarianto Haryadi, SE Kabag Umum IV a IV b Struktural 6 Adi Setyanto,SP, MSi Peneliti Ahli Muda/
Petubel III d IV a Petugas Belajar 7 Miftahul Aziz, SE Peneliti Ahli
Pertama/Petubel S2 III b III c Petugas Belajar 8 Ahmad Makky
Ar-Rozi, S Sos Peneliti Ahli Pertama/Petubel S2 III b III c Petugas Belajar 9 Sapari Mulyana Penatausaha
Dokumen III a III b Reguler 10 Tedy Purnama Pengadministrasi
Keuangan II d III a Reguler Periode Oktober 2018
1 Dr. Ir. Adang Agustian,
MP Peneliti Ahli Madya IV b IV c Fungsional 2 Dr. Ir. Ening
Ariningsih, MSi Kasubbid Kerja sama III d IV a Struktural 3 Cut Rabiatul Adawiyah,
SP Peneliti Ahli Pertama III b III c Fungsional 4 Rangga Ditya Yofa, SP Peneliti Ahli
Pertama/ Petubel S2
III a III b Fungsional
Usulan dan Penerimaan Penghargaan Satya Lancana Karya Satya X, XX,XXX tahun 2018
Dalam rangka melaksanakan Peraturan Pemerintah nomor 25 Tahun 1994 tentang Tanda Kehormatan Karya Satya, PSEKP mengusulkan nama pegawai sebagai calon penerima penghargaan tahun 2018 sebanyak 43 orang. Realisasi penerimaan penghargaan SLKS sebagai berikut : 1) Penerima penghargaan XXX tahun sebanyak 14 orang; 2) Penerima peghargaan XX tahun sebanyak 18 orang dan 3) Penerima penghargaan X tahun sebanyak 11 orang.
Kegiatan Pengelolaan dan Penatausahaan Kearsipan
Pengelolaan dan penatausahaan kearsipan di PSEKP terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:
a. Audit Kearsipan Internal terhadap PSEKP di Lingkungan Kementerian Pertanian pada tanggal 9-11 April 2018 yang dilakukan oleh Tim Pengawasan Kearsipan Kementerian
Pertanian berdasarkan Surat Perintah Kepala Biro Umum dan Pengadaan Nomor 3185/TU.040/A.5.1/04/2018 tentang Audit Kearsipan Internal. Adapun maksud dan tujuan audit tersebut untuk menguji ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun dasar hukum pengawasan adalah:
1) Undang Undang No. 43 tahun 2009 tentang kearsipan;
2) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2012 tantang pelaksanaan UU No. 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan; 3) Peraturan kepala ANRI No. 38 Tahun 2015 tentang Pedoman
Pengawasan Kearsipan;
4) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 190/Kpts/OT.050/ 2/2018 tentang Pengawasan Kearsipan Internal Kementerian Pertanian Tahun 2018.
Berdasarkan hasil audit internal terhadap pengawasan internal dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan kearsipan di PSEKP secara keseluruhan memperoleh penilaian 80,38 (delapan puluh kuma tiga puluh delapan) dengan predikat Baik.
b. Pemusnahan Arsip Inaktif
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 277/Kpts/ TU.140/4/2018 tentang Pemusnahan berkas arsip sebanyak 200.726 pada Pusat Arsip Kementerian Pertanian dan Surat Persetujuan Kepala ANRI Nomor KN.00.03/6S- 12018 tanggal 13 April 2018 tentang persetujuan pemusnahan arsip telah dilaksanakan pemusnahan in aktif PSEKP sebanyak 573 berkas di kantor PSEKP pada tanggal 30 April 2018 disaksikan oleh Tim Pembina Kearsipan Biro Umum dan Pengadaan Kementan (Berita Acara terlampir). Dokumen arsip yang dimusnahkan merupakan arsip inaktif yang tercipta dari tahun 1995-2005 dan telah habis masa retensinya. Pelaksana pekerjaan penghancuran arsip sebanyak 573 berkas yaitu PT Giga Tama (Jl. A Yani Nomor 23 Bogor.
c. In House Training Pengelolaan Arsip Lingkup Sekretariat Jenderal
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2018. Peserta dari PSEKP: Sri Yuliati, Entin Kustini, Yani Mulyaningsih, Yani Riani, Eni Darwati, tempat Ruang Rapat 322 Lt.3 Gedung A Kementerian Pertanian, Jakarta. In House Training ini dilaksanakan dalam rangka Program Kerja Pengawasan Kearsipan tahunan (PKPKT) Kementerian Pertanian 2018 guna meningkatkan
pengelolaan Arsip pada Unit Kerja Sekretariat Jenderal agar mampu mengelola arsip secara efektif dan efisien. Adapun obyek pengawasan pada PKPKT 2018 adalah seluruh unit kerja dalam lingkup Sekretariat Jenderal. Untuk setiap unit kerja (PSEKP) dibawah Sekjen merupakan obyek pengawasan maka yang perlu disiapkan adalah bagaimana menata arsip dinamis pada setiap pengolah dokumen atau pencipta arsip. Tanggung jawab pencipta arsip adalah:
1) Membuat tata naskah dinas, klasifikasi, JRA serta sistem klasifikasi keamanan dan akses arsip.
2) Menjaga keabsahan, keutuhan, keamanan dan keselamatan arsip yang dikelola.
3) Mengatur dan mendokumentasikan proses pembuatan dan penerimaan arsip.
4) Menyediakan arsip dinamis bagi kepentingan pengguna yang berhak.
5) Membuat daftar arsip dinamis yaitu arsip terjaga dan arsip umum.
6) Menjaga keutuhan, keamanan dan keselamatan arsip dinamis terjaga.
7) Menjaga kerahasiaan arsip tertutup.
8) Menentukan prosedur layanan berdasarkan standar. 9) Melaksanakan penyusutan arsip berdasarkan JRA.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka diperlukan penyelenggaraan kearsipan yang sesuai dengan prinsip, kaidah dan standar kearsipan untuk menjamin bahwa pencipta arsip pada lingkup Sekjen penyelenggaraan kearsipan sesuai dengan peraturan perundang undangan perlu pelaksanaan pengawasan kearsipan secara internal.
d. Pelaksanaan Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001; 2008 menjadi ISO 9001; 2015.
Pada bulan Mei 2018 telah dilaksanakan Surveilance kedua dan sekaligus Transisi ISO 9001;2008 menjadi ISO 9001; 2015. Dengan telah dilakukan transisi maka PSEKP berhak menggunakan logo dan atribut terkait ISO 9001; 2015 dengan ketentuan bahwa user/instansi pengguna dapat menjaga mutu dalam melaksanakan tugasnya dan punya kewajiban melakukan audit internal serta melaksanakan tata tertib dalam penataan manajemen mutu.
e. Pengukuran Indeks Penerapan Nilai-Nilai Budaya Kerja (IPNBK) PSEKP Tahun 2018
Pengukuran IPNBK merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32/Permentan/OT.070/6/2015 tentang Pedoman Pengukuran Indeks Penerapan Nilai Budaya Kerja di Lingkungan Kementerian Pertanian. Variabel pokok dalam monitoring dan evaluasi IPNBK yaitu: Nilai budaya kerja terdiri atas 5 (lima) komponen terdiri dari 25 indikator dan 29 pertanyaan. Lima komponen nilai-nilai (values) dan makna bekerja bagi pegawai Kementan diyakini dapat menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab terhadap peningkatan produktivitas kerja (KKPID). Tujuan monitoring dan evaluasi untuk mengevaluasi penerapan nilai-nilai dan makna bekerja di lingkungan Kementerian Pertanian, khususnya pada Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Obyek pengukuran Indeks Penerapan Nilai Budaya Kerja (IPNBK) Tahun 2018 lingkup PSEKP adalah tingkat kualitas penerapan nilai budaya kerja pada PSEKP yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif atas persepsi seluruh pegawai terhadap budaya kerja di PSEKP. Responden pengukuran Indeks Penerapan Nilai Budaya Kerja (IPNBK) Tahun 2018 lingkup PSEKP berjumlah 115 orang dari 129 orang pegawai, yang terdiri dari :
a. Pejabat Struktural
b. Pejabat Fungsional Peneliti
c. Pejabat Fungsional tertentu lainnya d. Pejabat Fungsional Umum
Dalam melakukan pengolahan data sesuai dengan pedoman pengukuran IPNBK lingkungan kementerian pertanian, klasifikasi kualitas budaya kerja yang diperoleh dari pengolahan data IPNBK tersebut menunjukkan bahwa klasifikasi kualitas budaya kerja PSEKP adalah A (sangat baik) dengan nilai IPNBK sebesar 3,68 dengan nilai konversi IPNBK sebesar 92,09. Analisa data yang diperoleh dari hasil pengolahan data budaya kerja di PSEKP terhadap 115 responden pegawai, maka dapat dijelaskan hasil indikator Nilai Komponen Budaya Kerja, sebagai berikut. Permasalahan yang menonjol dalam pelaksanaan kegiatan di Subbagian Kepegawaian dan Rumah Tangga tahun 2018 Peraturan-peraturan yang mengatur tentang kepegawaian
banyak mengalami perubahan antara lain penerapan pelaksanaan Peraturan Pemerintah No, 11 Tahun 2017 dan peraturan turunannnya. Misalnya masalah peraturan impasing, cuti dan lainnya. Perlu memahami dan mengikuti aturan yang berlaku.
Upaya yang telah dilakukan dengan cara sosialisasi, mempelajari peraturan yang baru diberlakukan serta koordinasi secara intensif dengan pihak yang terkait dengan masalah tersebut. Kegiatan Rumah Tangga PSEKP
1. Pemeliharaan Gedung dan Taman
Pada tahun 2018 telah dilakukan renovasi interior dan fasilitas dan sarana penunjang untuk gedung auditorium Dr. Ismunaji dan dilakukan perawatan gedung A dan B serta pengecatannya. 2. Pemeliharaan Gardu Listrik, Genset serta Pemeliharaan AC
Perawatan gardu listrik dan panel listrik telah dilakukan sekali pada tahun 2018, disamping itu dilakukan perawatan terhadap perangkat pemadam kebakaran (APAR). Untuk pemeliharaan genset secara periodik telah dilaksanakan per tahun (Oktober 2018). Pemeliharaan dan perawatan terhadap 103 unit (jenis AC Split, AC Standing, Carsette dan Ceiling) dilakukan secara menyeluruh dan service terhadap beberapa AC yang rusak dengan penggantian komponen yang rusak.
3. Pemeliharaan Jaringan Telepon dan Internet
Jaringan telepon dan internet di PSEKP menggunakan fasilitas Fiber Optic sehingga jaringan telpon dan fax terpadu dalam system PABX dilakukan tiga kali pada tahun 2018, demikian juga dengan pemeliharaan jaringan internet yang dilakukan secara berkala. Sarana internet dengan menggunakan acess point (WIFI) dengan kuota Internet 130 mbps (decicated) yang disediakan oleh PT Telkom melalui layanan Astinet lite.
III. SARANA DAN PRASARANA
Pelaksanaan kegiatan penelitian sebagai kegiatan utama PSEKP didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan, yaitu terdiri dari barang-barang tidak bergerak dan barang-barang yang bergerak. Barang-barang yang tidak bergerak terdiri dari: (1) Tanah bangunan rumah negara golongan II; (2) Bangunan gedung kantor permanen; (3) Gedung pertemuan Dr. Ir. Ismunadji; (4) Bangunan groundtank/rumah panel; serta (5) Rumah negara golongan II type C dan D Permanen. Sementara barang-barang bergerak secara umum meliputi alat angkutan (kendaraan roda 4 dan roda 2), furniture, elektronik, serta aset tetap lainnya.
Pengelolaan Inventaris Kekayaan Milik Negara (IKMN) walaupun merupakan tanggung jawab Bagian Umum, tetapi secara moral adalah tanggung jawab seluruh pegawai yang menggunakan. Namun demikian, hal tersebut belum sepenuhnya disadari oleh berbagai pihak yang ditunjukkan oleh kepedulian terhadap rasa memiliki masih rendah. Secara rinci pada Tabel 7 disajikan daftar kondisi barang yang dimiliki PSEKP sampai pada periode 31 Desember 2018.
Barang Tidak Bergerak (Tanah dan Bangunan)
Barang-barang tidak bergerak yang dimiliki PSEKP meliputi tanah dan bangunan. Keseluruhan tanah yang dimiliki PSEKP terdiri dari (1) tanah bangunan rumah negara golongan II seluas 1.558 m2
terletak di Ciapus, (2). kantor yang terdiri atas dua unit bangunan di Jl. Tentara Pelajar 3B dengan total luas 3.469 m2; satu unit bangunan
gedung pertemuan seluas 700 m2, satu unit bangunan
groundtank/rumah panel seluas 50 m2 dan empat buah rumah dinas
seluas 240 m2, secara keseluruhan dalam kondisi baik. Rincian barang
tidak bergerak disajikan pada Tabel 7. Barang-Barang Bergerak
Pada periode 2018, jumlah barang-barang bergerak yang dimiliki oleh PSEKP sebanyak 1.933 unit, dimana 1.929 unit barang di antaranya dalam kondisi baik, tiga unit dalam kondisi rusak, dan satu unit lainnya dalam kondisi rusak sekali. Barang-barang bergerak tersebut meliputi sarana transportasi/kendaraan dinas, mesin dan peralatan kantor, sarana komunikasi, dan barang bergerak penunjang kegiatan kantor lainnya. Fasilitas penunjang kerja yang menonjol adalah komputer 150 unit, note book 55 unit, scanner 19 unit, dan printer 122 unit.
a. Barang Inventaris Alat Angkutan
Pada tahun 2018, kendaraan roda empat yang dimiliki PSEKP terdiri atas satu unit Jeep Terrano Kingsround, 12 unit minibus (kapasitas penumpang < 14 orang) dimana sebanyak 11 unit dalam kondisi baik dan 1 unit dalam keadaan rusak. Sepeda motor roda tiga sebanyak satu unit dalam kondisi baik. Selain itu, ada 11 unit sepeda motor roda dua dimana sebanyak 10 unit dalam keadaan baik dan 1 unit dalam keadaan rusak sekali.
b. Barang Inventaris Peralatan Kantor
Pada tahun anggaran 2018 keadaan barang inventaris peralatan kantor adalah sebanyak 1.900 unit, yang terdiri dari 1.898 unit dengan kondisi baik dan sebanyak dua unit barang yang rusak. Sumber dana pengadaan barang inventaris tersebut berasal dari akumulasi pengadaan pada tahun-tahun sebelumnya, tidak ada penganggaran untuk pengadaan barang inventaris peralatan kantor pada anggaran tahun 2018.
Tabel 7. Daftar kondisi barang inventaris Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018
No Nama barang Jumlah Kondisi
B R RS
I Barang Tidak Bergerak A. Tanah :
1 Tanah Bangunan Rumah Negara Golongan II 1 (1,558 M2) 1 0 0
Jumlah 1 (1,558 M2) 1 0 0
B Gedung dan Bangunan:
1 Bangunan Gedung Kantor Permanen 2 (3,469 M2) 2 0 0 2 Gedung Pertemuan Dr. Ir. Ismunadji 1 (700 M2) 1 0 0 3 Bangunan Groundtank/Rumah Panel 1 (50 M2) 1 0 0 4 Rumah Negara Gol. II type C dan D 4 (240 M2) 4 0 0
Jumlah 8 (4,459 M2) 8 0 0
II Barang Bergerak
1 Jeep Terrano Kingsroud 1 1 0 0
2 Mini Bus (Penumpang 14 orang ke bawah) 12 11 1 0
3 Sepeda Motor Roda 3 1 1 0 0
4 Sepeda Motor Roda 2 11 10 0 1
5 Tripood 7 7 0 0
Tabel 7. Daftar kondisi barang inventaris Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 (lanjutan)
No Nama barang Jumlah B Kondisi R RS
7 Mesin Ketik Manual (18-27 inch) 3 3 0 0
8 Lemari Besi/Metal 37 37 0 0
9 Lemari Kayu 72 72 0 0
10 Rak Besi/Metal 12 12 0 0
11 Rak Kayu 2 2 0 0
12 Filling Kabinet Besi 63 63 0 0
13 Roll Opek 3 3 0 0
14 Brandkas 4 4 0 0
15 Meja Kerja Kayu 104 104 0 0
16 Meja Komputer 1 1 0 0
17 Meja Resepsionis 1 1 0 0
18 Workstation/Meja Kerja Staf 90 90 0 0
19 Kursi Besi/Metal 696 696 0 0 20 Sice/Sofa 28 28 0 0 21 Meja Rapat 73 73 0 0 22 Jam Elektronik 7 7 0 0 23 A.C Split 50 74 0 0 24 A.C Sentral 65 65 0 0
25 Alat Pemadam Kebakaran/Api 23 23 0 0
26 Televisi 6 6 0 0
27 Video Cassete 1 1 0 0
28 Tape recorder 4 4 0 0
29 Finger Print 5 5 0 0
30 Wireless Transmision System 2 2 0 0
31 Router 2 2 0 0 32 Papan Visual 1 1 0 0 33 Power Amplifier 1 1 0 0 34 Amplifier 2 2 0 0 35 Equalizer 1 1 0 0 36 Loudspeaker 10 10 0 0
37 Mic Confrence System 23 23 0 0
38 Audio Mixing 1 1 0 0
39 UPS 5 5 0 0
40 Tustel 2 2 0 0
Tabel 7. Daftar kondisi barang inventaris Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2018 (lanjutan)
No Nama barang Jumlah Kondisi
B R RS
42 Camera Film 2 2 0 0
43 Wireless Speaker TOA 7 7 0 0
44 Handycam 3 3 0 0
45 Blitzer 1 1 0 0
46 Lensa Kamera 3 3 0 0
47 Layar film OHP 7 7 0 0
48 Facsimile 2 2 0 0
49 P.C. Unit (Desktop) 150 150 0 0
50 Note Book/Lap Top 55 55 0 0
51 Printer Laser Jet/Deskjet/Dot Matrix 122 122 0 0
52 Scanner 19 19 0 0 53 Server 3 2 2 0 54 Mesin Jilid 2 2 0 0 55 LCD (Infocus) 7 7 0 0 56 PABX 4 4 0 0 57 Handy Talky (HT) 5 4 1 0
58 Pesawat Telpon Extension 39 39 0 0
59 External Hardisk 59 59 0 0
60 Mesin Potong Rumput 1 1 0 0
61 Megaphone 1 1 0 0
62 Alat Penghancur Kertas 1 1 0 0
63 Penangkal Petir 1 1 0 0 64 Vacuum Cleaner 1 1 0 0 65 Voice Recorder 11 11 0 0 66 CCTV 26 26 0 0 67 Lemari Es/Kulkas 1 1 0 0 68 Dispenser 1 1 0 0 69 Diagnostik Set 1 1 0 0 70 Monitor CCTV LED 32 4 4 0 0
71 Microphone Table Stand 2 2 0 0
72 Sound System 1 1 0 0
73 Touch Screen (Komputer Lainnya) 2 2 0 0
Total 1.933 1.929 3 1
Anggaran DIPA, PNBP, dan Kerja Sama Penelitian
Anggaran PSEKP tahun 2018 disusun berdasarkan variabel jenis pengeluaran dan variabel kegiatan. Variabel jenis pengeluaran dibedakan menurut belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Sedangkan variabel kegiatan dibedakan menurut jenis kegiatan, yakni: Kegiatan utama mencakup Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, serta kegiatan Penunjang. Total pagu anggaran PSEKP dalam DIPA TA 2018 adalah Rp31.827.659.400 yang terdiri dari (1) Belanja Pegawai Rp12.175.816.000; (2) Belanja Barang Rp16.868.993.400; dan (3) Belanja Modal Rp2.782.850.000. Perkembangan pelaksanaan keuangan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TA 2018 periode 31 Desember 2018 menunjukkan bahwa, realisasi capaian keuangan secara total mencapai Rp31.326.171.958 (98,42%), terdiri dari pengeluaran untuk belanja pegawai Rp11.875.822.667 (97,54%), sementara belanja barang yang sudah direalisasikan Rp16.668.183.791 (98,81%) dan belanja modal yang sudah direalisasikan Rp2.782.165.500 (99,98%). Dengan demikian sisa anggaran per 31 Desember 2018 adalah Rp501.487.442 (1,58%).
Perkembangan pelaksanaan keuangan PSEKP TA 2018 periode 31 Desember 2018 secara rinci berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 8 hingga Tabel 11. Tabel 11 memperlihatkan capaian PNBP PSEKP Tahun 2018. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada PSEKP tahun 2018 senilai Rp38.293.961 yang diperoleh dari penerimaan umum, sedangkan PNBP dari penerimaan fungsional tidak ada (Tabel 11). Hal ini disebabkan keluaran kegiatan penelitian PSEKP tidak bersifat teknis, namun berupa rekomendasi kebijakan yang bersifat intangible dan ditujukan bagi stakeholder.
IV. PROGRAM 4.1. Tujuan dan Luaran Kegiatan
Tujuan umum kegiatan penyusunan program adalah untuk mendapatkan arah penelitian yang lebih terencana dan sistematis agar pelaksanaan kegiatan dan penelitian layak untuk dilaksanakan.
Secara rinci pelaksanaan kegiatan program bertujuan untuk: 1. Membuat perencanaan kegiatan dan penelitian PSEKP;
2. Memperoleh implikasi tindak lanjut pelaksanaan program yang akan datang berdasarkan evaluasi kegiatan sebelumnya.
Luaran yang diharapkan:
1. Rencana kegiatan dan penelitian PSEKP;
2. Saran tindak lanjut pelaksanaan program yang akan datang. 4.2. Perencanaan Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2018
Tujuan perencanaan kegiatan adalah agar seluruh kegiatan PSEKP dapat terlaksana secara optimal sesuai tahapan yang telah direncanakan. Sesuai dengan siklus perencanaan, penyusunan kegiatan PSEKP dilakukan pada satu tahun sebelum pelaksanaan anggaran. Artinya, rencanan kegiatan TA 2018 telah dilakukan pada TA 2017; perencanaan kegiatan TA 2019, telah dilakukan pada TA 2018; dan seterusnya. Usulan bentuk dan besaran anggaran untuk kegiatan rutin dikordinasikan oleh penanggung jawab kegiatan masing-masing bidang dan bagian berdasarkan kebutuhan riel kegiatan serta ketersediaan anggaran. Namun khusus kegiatan penelitian, dalam rangka memudahkan koordinasi dan meningkatkan kualitas kajian/penelitian yang akan dilakukan, Kepala PSEKP membentuk Tim Perencanaan Kegiatan dan Program Penelitian yang terdiri dari Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Ketua Kelti, peneliti senior PSEKP dan Staf Sub Bidang Program. Pada TA 2018, susunan Tim Teknis Perencanaan Kegiatan dan Program Penelitian sesuai Surat Penugasan Kepala PSEKP Nomor 25/HK.160/A.11/01/2018 tanggal 8 Januari 2018 adalah sebagai berikut:
Pengarah : Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Penanggung Jawab
: Kepala Bidang Program dan Evaluasi PSEKP (merangkap anggota)
Ketua : Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto (merangkap anggota)
Wakil Ketua : Dr. Bambang Irawan (merangkap anggota) Sekretaris : Kepala Sub Bidang Program PSEKP
(merangkap anggota )
Anggota : 1. Ketua Kelti Ekonomi Pertanian dan Manajemen Agribisnis
2. Ketua Kelti Makro Ekonomi dan Perdagangan Internasional
3. Ketua Kelti Sosial Budaya dan Perdesaan 4. Prof. Dr. Achmad Suryana
5. Prof. Dr. Pantjar Simatupang 6. Prof. Dr. Dewa K Sadra S 7. Dr. Erwidodo
8. Dr. Hermanto, M.S.
9. Dr. Handewi Purwati Saliem 10. Dr. Saptana
Staf Pelaksana : 1. Chaerudin, S.E. (Staf Sub Bidang Program) 2. Annisa Rika Rachmita, S.P. (Staf Sub Bidang
Program)
3. Drs. Agus Abdul Syukur (Staf Sub Bidang Program)
4. Eni Darwati (Staf Sub Bidang Program)
5. Nur Intan Syamsiah (Staf Sub Bidang Program)
Mekanisme Perencanaan Kegiatan Penelitian TA 2018 dan Pelaksanaan Tupoksi Subbidang Program
Tahapan perencanaan kegiatan penelitian PSEKP pada saat di bawah koordinasi Badan Litbang dibanding setelah dikoordinasikan di bawah Sekjen Kementan (merujuk Peraturan Menteri Pertanian No.43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian) pada prinsipnya tidak banyak berubah. Perubahan lebih terletak pada ruang lingkup kajian, dimana dengan dikoordinasi oleh Setjen, PSEKP diharapkan lebih mampu berperan besar dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan pertanian dalam lingkup yang lebih luas, tidak hanya terfokus pada kegiatan Badan Litbang.
Tahap pertama dari siklus proses perencanaan penelitian dimulai dengan penjaringan topik-topik penelitian PSEKP yang disinkronkan dengan Rencana Strategis (Renstra) PSEKP, Sekjen dan Badan Litbang, serta program-program utama Kementan. Tahap selanjutnya dari penjaringan isu penelitian adalah penentuan topik yang menjadi prioritas yang akan diteliti/dikaji. Pada tahap ini Tim Teknis menyusun matriks ringkas kajian yang memuat gambaran judul, justifikasi, dan ruang lingkup yang akan dilakukan. Proses selanjutnya adalah penentuan penanggung jawab dan mentoring penyusunan proposal. Setelah proposal tersusun, maka dilanjutkan evaluasi dan penajaman oleh tim teknis kembali.
Pada tahap penajaman proposal diberikan saran dan komentar untuk penyempurnaan proposal tersebut terhadap aspek-aspek: (a) Perumusan masalah, review hasil penelitian sebelumnya dan justifikasi penelitian; (b) Perumusan tujuan dan keluaran; (c) Kerangka pemikiran (landasan teoritis); (d) Perencanaan sampling (provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, responden); (e) Analisis data dan jenis data untuk menjawab setiap tujuan penelitian; dan (f) Perencanaan operasional (SDM, dana, dan lain-lain). Perbaikan-perbaikan tersebut disampaikan kembali kepada penyusun proposal sebagai bahan penyempurnaan proposal operasional yang akan dipresentasikan dalam kegiatan FGD dengan mengundang pihak-pihak terkait. Gambaran ringkas alur perencanaan kegiatan penelitian internal PSEKP dapat dilihat pada Gambar 6.
Seiring dengan tahap-tahap perencanaan kegiatan penelitian tersebut (TOR-RKAKL-Proposal) dimungkinkan terjadi perubahan-perubahan dalam hal redaksional judul penelitian, rencana kegiatan penelitian, penanggung jawab penelitian, lokasi penelitian maupun biaya/anggaran penelitian. Beberapa penyebab perubahan tersebut antara lain: (1) Adanya perubahan kebijakan tingkat Kementerian Pertanian terkait prioritas kegiatan; (2) Penghematan anggaran akibat kebijakan nasional; dan (3) Perubahan terkait administrasi kegiatan sehingga berdampak pada pelaksanaan rencana kegiatan.
Berdasarkan hasil pembahasan tim teknis PSEKP, peneliti senior PSEKP, Ketua Kelti dan mempertimbangkan dukungan PSEKP terhadap program Kementerian Pertanian, ketersedian sumber daya peneliti, serta indikator kinerja utama (IKU), PSEKP merencanakan melakukan 12 kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian serta 10 analisis kebijakan responsif dan antisipatif isu-isu aktual pembangunan pertanian pada TA 2019. Target 12 kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian tersebut sama dengan target
jumlah kajian pada TA 2018. Judul akhir 12 kajian/penelitian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian pada TA 2018 dan judul proposal pada TA 2019 dapat dilihat pada Tabel 12 dan Tabel 13.
Tabel 12. Judul penelitian/kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian PSEKP, 2018
No. Judul penelitian/kajian
1. Kaji Ulang Kebijakan Perbenihan dan Subsidi Benih Padi dan Jagung 2. Desain dan Alternatif Kebijakan Mewujudkan Swasembada Kedelai 3. Desain Implementasi dan Respon Stakeholder TTI dalam Pengendalian
Harga Pangan Pokok dan Penting
4. Peningkatan Manfaat Infrastruktur Air untuk Pertanian Lahan Kering dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Pendapatan Petani 5. Strategi Pemanfaatan Sumber Kapital Desa dalam Peningkatan
Produksi Pertanian dan Pendapatan Petani
6. Strategi Antisipatif Pengelolaan Surplus Produksi Padi dan Jagung 7. Kebijakan Penyediaan Lahan Pertanian Melalui TORA dalam
Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
8. Pengembangan Model Proyeksi Permintaan dan Penawaran Komoditas Pangan Menuju 2045
9. Kajian Dampak dan Kebijakan Sektor Pertanian dalam Kinerja MEA 10. Kajian Potensi Dampak Perubahan Lingkungan Strategis Global
Terhadap Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian
11. Review Kinerja Program Pembangunan Pertanian 2015-2019 12. Panel Petani Nasional (Patanas) : Dinamika Indikator Pembangunan
Pertanian dan Perdesaan di Wilayah Agroeko-Sistem Lahan Kering Berbasis Komoditas Perkebunan.
Tabel 13. Judul proposal penelitian/kajian sosial ekonomi dan dinamika pembangunan pertanian PSEKP, 2019
No. Judul penelitian/kajian
1. Strategi Pengembangan Eksport Mendorong Pertumbuhan Subsektor Hortikultura dan Pendapatan Petani
2. Kinerja dan Strategi Pengembangan Buah Tropika Unggulan 3. Rancang Bangun dan Implementasi Pengembangan Kawasan
Komoditas Unggulan
4. Strategi Penanggulangan Kemiskinan di Pertanian dan Perdesaan 5. Kebijakan Kelembagaan Perbenihan Hortikultura Nasional 6. Rancang Bangun dan Implementasi Konsolidasi Usaha Tani 7. Kajian Pengembangan Pembiayaan Pertanian
8. Peningkatan Nilai Tambah Produk Pertanian Unggulan
9. Permasalahan, Tantangan dan Kebijakan Pembangunan Pertanian 2020- 2024
10. Evaluasi Program Asuransi Pertanian
11. Panel Petani Nasional (PATANAS) : Dinamika Indikator Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di Wilayah Agroekosistem Lahan Sawah 12. Strategi Pengembangan Eksport Mendorong Pertumbuhan Subsektor
Hortikultura dan Pendapatan Petani
Permasalahan yang Menonjol dalam Pelaksanaaan Kegiatan di Subbidang Program pada Tahun 2018
Selama kurun waktu 2018, permasalahan yang menonjol dalam pelaksanaan kegiatan di Subbidang Program adalah:
a. Sering terjadi perubahan kebijakan di tingkat atas, baik terkait waktu, alokasi anggaran, maupun fokus kegiatan. Kondisi tersebut menyebabkan persiapan dan pelaksanaan kegiatan terkesan kurang terencana dengan baik dan mengganggu keseluruhan proses perencanaan. Banyak kasus dijumpai bahwa sebuah kegiatan harus didesign dalam waktu yang sangat singkat, sementara kegiatan tersebut memerlukan koordinasi dan informasi dengan bagian atau bidang yang lain untuk memutuskannya.
b. Sistem anggaran untuk membiayai kegiatan belum sepenuhnya kompatibel dengan kebutuhan riel yang diperlukan, sehingga berakibat sebagian dana tidak terserap dengan baik atau harus melakukan revisi anggaran.
c. Terlalu seringnya terjadi perubahan software dan aplikasi dalam sistem penganggaran seringkali menyebabkan kekurang cermatan dalam perencanaan program.
Upaya Mengatasi Permasalahan
Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan di Subbidang Program tersebut adalah:
a. Dokumentasi arsip-arsip perencanaan program dan perbaikan koordinasi kegiatan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan perubahan perencanaan yang bersifat segera/mendadak baik akibat kebijakan Kementan atau Kementerian Keuangan.
b. Peningkatan kemampuan staf baik terkait dengan operasionalisasi software, pemahaman dalam pembebanan mata anggaran dan peraturan-peraturan administratif lainnya, serta selalu melakukan monitoring untuk updating software dan informasi lainnya.
V. SINOPSIS PENELITIAN PSEKP TAHUN 2018
5.1. Panel Petani Nasional (PATANAS): Dinamika Indikator Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di Wilayah Agroekosistem Lahan Kering Berbasis Komoditas Perkebunan Kegiatan pembangunan ekonomi sektoral terutama pembangunan sektor pertanian dapat berdampak terhadap perubahan sosial dan ekonomi pertanian dan perdesaan. Dalam rangka melihat dampak pembangunan pertanian di perdesaan diperlukan pengumpulan data dan informasi yang dilakukan secara sistematis dalam rentang waktu yang cukup panjang. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumpulkan data dan informasi berbagai indikator pembangunan terkait dengan hal tersebut, namun umumnya masih bersifat agregat nasional atau provinsi. Disamping itu indikator makro tersebut juga belum mampu menggambarkan dinamika pembangunan perdesaan menurut tipe agroekosistem dengan basis komoditas pertanian yang berbeda.
Sejak tahun 1983 Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian telah melakukan penelitian Panel Petani Nasional (Patanas) untuk melengkapi informasi yang diterbitkan oleh BPS. Penelitian Patanas 2018 dirancang untuk melihat dampak pembangunan pertanian terhadap perubahan sosial ekonomi perdesaan di tingkat rumah tangga antar tiga titik waktu (2009, 2012, dan 2018), terutama yang berkaitan dengan isu-isu pembangunan yang berkembang di daerah perdesaan pada tipe agroekosistem yang berbeda. Tahun 2018 dilakukan penelitian untuk menganalisis dampak pembangunan pertanian terhadap perubahan sosial ekonomi perdesaan pada desa agroekosistem lahan kering berbasis komoditas perkebunan.
Distribusi penguasaan lahan semakin timpang dan telah terjadi fragmentasi penguasaan lahan terutama dipicu oleh sistem pewarisan, rumah tangga tidak memiliki tanah (landless) tetap tinggi dan proporsi penguasaan lahan di atas 3,0 ha (kasus karet) relatif tinggi, selanjutnya diikuti oleh polarisasi pemilikan lahan dan realatif kurang terjadi konsolidasi penguasaan lahan melalui sistem sewa-menyewa dan sistem bagi hasil kecuali di desa berbasis tebu.
Tingkat partisipasi angkatan kerja pada tahun 2009, 2012, dan 2018 relatif tinggi, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat dalam kurun waktu 2009-2012 (6,53%), pada tahun 2012-2018 menurun (-5,98%). Kesempatan kerja terus meningkat, namun proporsi ketersediaan kesempatan kerja tidak sebanding peningkatan angkatan kerja. Pengangguran terus menurun baik periode 2009-2012 dan
2012-2018. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian memasuki kesempatan kerja yang tersedia di luar desa.
Kinerja adopsi teknologi pada komoditas perkebunan berbeda antar komoditas: (a) secara umum penggunaan varietas unggul sudah digunakan secara meluas kecuali pada karet rakyat; (b) adopsi teknologi pemupukan pada komoditas karet lokal relatif rendah, namun pada tanaman karet unggul sudah cukup intensif; (c) adopsi teknologi pemupukan pada komoditas kakao rendah hingga moderat; (d) adopsi teknologi pada komoditas kelapa sawit moderat hingga tinggi; dan (e) adopsi teknologi pada komoditas tebu moderat hingga tinggi dan sudah relatif sesuai dengan paket teknologi anjuran.
Tingkat profitabilitas usaha tani komoditas karet, kelapa sawit dan tebu adalah layak untuk diusahakan, sedangkan pada usaha tani komoditas kakao meskipun masih menguntungkan namun mengarah kurang layak untuk diusahakan karena rendahnya produktivitas akibat terserang hama penggerek buah kakao.
Tingkat pengeluaran rumah tangga secara nominal cenderung meningkat, namun tingkat pengeluaran riil di beberapa lokasi cenderung menurun, artinya peningkatan pengeluaran (proksi pendapatan) tidak seimbang dengan peningkatan inflasi (harga beras). Proporsi pengeluaran pangan pangan masih tetap tinggi di atas 60% (indikasi ketahanan pangan rendah), namun pangsa pengeluaran pangan cenderung menurun (kondisi kesejahteraan rumah tangga membaik). Peningkatan pendapatan berdampak pada daya beli meningkat dan menurunkan tingkat kemiskinan rumah tangga.
Tingkat konsumsi energi rata-rata meningkat, namun masih dibawah tingkat kecukupan standar nasional. Demikian juga konsumsi protein semakin meningkat dan mendekati tingkat kecukupan kecukupan nasional. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) semakin meningkat (kualitas semakin baik), kecuali di lokasi berbasis tebu cenderung menurun.
Peningkatan tingkat kemiskinan pada periode terakhir disebabkan masih tingginya rumah tangga tidak memiliki lahan (landless) dan lahan kecil, rata-rata umur tanaman yang sudah tua dan terserang OPT, adopsi teknologi usaha tani yang tetap rendah, harga jual hasil perkebunan yang rendah, serta akses kesempatan kerja di perdesaan tetap terbatas baik sektor pertanian maupun nonpertanian.
Keterbatasan modal merupakan salah satu masalah pokok yang dihadapi oleh petani dalam penerapan teknologi dan akses input produksi. Pada usaha tani tebu dapat diatasi melalui pola kemitraan
usaha antara kelompok petani tebu rakyat, Koperasi Unit Desa/Koperasi Tebu, dan Pabrik Gula (PG) yang melibatkan perbankan dalam mengakses pembiayaan melalui kredit difasilitasi oleh PG melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari lembaga perbankan negara di mana PG sebagai avalis. Sementara itu, pada usaha tani kakao petani cenderung menggunakan modal sendiri, meminjam sesama petani atau tetangga, lembaga keuangan nonformal, sedangkan sumber kredit dari lembaga keuangan formal masih terbatas.
Distribusi penguasaan lahan semakin timpang dan telah terjadi fragmentasi penguasaan lahan. Perbaikan distribusi lahan, terutama pada wilayah yang penguasaan lahan sangat timpang melalui program reforma agraria melalui sertifikasi lahan TORA (Tanah Obyek Reforma Agraria), baik melalui legalisasi aset tanah, redistribusi lahan, dan legalitas akses tanah terutama terhadap hutan produksi, pemberian akses HGU untuk tanah pesanggem dan OG (Onderneming Ground), serta sistem sewa lahan dan bagi hasil yang adil.
Pengembangan usaha tani komoditas basis perkebunan untuk peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (a) melakukan peremajaan dengan menggunakan bibit klon-klon unggul; (b) menggunakan dosis pemupukan secara lengkap dan berimbang sesuai rekomendasi dari dinas teknis dan atau perusahaan pengolahan; (c) tidak mengurangi jenis pupuk yang disubsidi dan besaran subsidinya khususnya untuk tebu, dan (d) sistem penjualan dan penimbangan hasil perkebunan secara transparan dan adil; (e) tersedianya alsintan untuk pengolahan tanah, pemangkas/pengeprasan dan mesin panen; dan (f) penyediaan sarana dan prasarana perkebunan terutama infrastruktur irigasi, panen dan pasca panen, dan tempat penampungan hasil.
Upaya mengatasi masalah permodalan petani maka perlu ada Program Kredit Lunak seperti Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan lembaga keuangan mikro yang mudah diakses petani dan dengan suku bunga rendah. Revitalisasi Program Kredit Usaha Rakyat dan Lembaga Ekonomi Masyrakat berbasis perkebunan menjadi kelembagaan berbadan hukum menjadi pilihan strategis.
Ke depan perlu dikembangkan pola pemasaran hasil pertanian alternatif, dapat melalui pola penjualan hasil perkebunan ke industri pengolahan swasta, industri rumah tangga, pemasaran hasil pertanian atau hasil olahan perkebunan dengan menggunakan Toko Tani
Indonesia (TTI), Rumah Pangan Kita (RPK), serta sistem online melalui kelembagaan kelompok pemuda tani dan kelompok wanita tani.
5.2. Kaji Ulang Kebijakan Perbenihan dan Subsidi Benih Padi dan Jagung
Benih merupakan input atau faktor produksi penting dan sangat menentukan bagi keberhasilan usaha tani. Penggunaan benih tertentu akan menentukan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkannya, pola budi daya, efisiensi faktor produksi lain, dan produktivitas. Meskipun dalam struktur biaya usaha tani pangsanya hanya sekitar 3-5%, namun benih memiliki peranan yang sangat esensial/pokok. Ketersediaan dan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat yang memenuhi aspek kualitas dan kuantitas diikuti dengan aplikasi teknologi budi daya lainnya seperti pupuk berimbang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, produksi dan mutu hasil produk tanaman pangan.
Pemerintah mengalokasikan subsidi benih dalam rangka menyediakan benih varietas unggul bersertifikat dan meringankan beban petani membeli benih tanaman pangan. Kebijakan subsidi benih, khususnya untuk komoditas tanaman pangan, telah dilaksanakan sejak tahun 1986. Urgensi penerapan kebijakan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu: (1) peningkatan produktivitas tanaman pangan yang dipengaruhi oleh kualitas benih; (2) penggunaan benih bermutu oleh petani masih rendah; dan (3) sebagai salah satu upaya untuk meringankan beban petani. Pemerintah menunjuk PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani sebagai pelaksana program atau pemasok benih dalam melaksanakan kebijakan subsidi benih. Benih yang dihasilkan melalui program tersebut didistribusikan ke kios-kios, dan selanjutnya dibeli oleh kelompok tani.
Terkait permasalahan implementasi subsidi dan bantuan di lapangan, kadangkala kegiatan tersebut tidak bersinergi sehingga penyaluran benih sampai di petani tidak sesuai harapan. Hal yang juga perlu dipahami adalah karakteristik dan pola permintaan benih untuk padi dan jagung berbeda, sehingga skema distribusi benih untuk kedua komoditas tersebut juga akan berbeda. Sehubungan dengan itu, diperlukan kajian untuk memahami kebijakan perbenihan yang mencakup subsidi benih, bantuan benih dan program pengembangan kelembagaan perbenihan untuk benih padi dan jagung terutama dalam 10 tahun terakhir, mengetahui efektivitas subsidi dan bantuan program benih dalam implementasinya, pengaruh kebijakan subsidi dan bantuan program benih terhadap produksi padi dan jagung, serta
alternatif saran kebijakan perbenihan termasuk subsidi dan bantuan program benih yang lebih efektif dan efisien dalam implementasinya.
Subsidi benih perlu mempertimbangkan aspek dinamika pasar benih, aksesibilitas dan kebiasaan petani dalam penggunaan benih unggul berlabel. Subsidi benih juga dapat diarahkan pada jenis benih unggul baru atau untuk pengembangan areal lahan pertanian baru untuk memacu peningkatan produksi pertanian. Benih padi hibrida juga dapat terus dikembangkan pada wilayah-wilayah yang potensial pengembangannya.
Diperlukan penguatan kemampuan permodalan DMB untuk membeli benih dari anggota DMB dan dukungan pemasaran benih yang dihasilkannya. Pemerintah dapat mengambil peran sebagai penjamin atau ikut dalam memberikan fasilitasi dukungan permodalan melalui kredit perbankan. Dalam hal mendukung pemasaran hasil benih DMB, diperlukan dukungan pemerintah untuk fasilitasi kerja sama pemasaran antara pihak DMB dengan pihak lembaga pemasaran swasta.
Pemetaan wilayah antara Jawa dan luar Jawa untuk operasionalisasi penyaluran subsidi benih diperlukan dalam rangka meningkatkan efektivitas penyaluran subsidi dan bantuan benih. Selain itu, juga perlu memperhatikan tingkat penggunaan benih pada petani setempat serta kondisi pasar benih yang ada di wilayah tersebut. Upaya peningkatan usaha tani benih perlu ditingkatkan melalui: dukungan permodalan dan fasilitasi kemitraan dalam pemasaran benih yang dihasilkan oleh kelompok tani penangkar benih (DMB).
5.3. Desain dan Alternatif Kebijakan Mewujudkan Swasembada Kedelai
Perkembangan industri pangan berbahan baku kedelai, sejalan dengan pertumbuhan penduduk, telah menyebabkan permintaan kedelai terus meningkat. Defisit neraca kedelai yang harus dipenuhi dari impor terus meningkat. Upaya pencapaian swasembada kedelai saat ini dilakukan melalui program “Upaya Khusus” (Upsus).
Permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian swasembada kedelai adalah peningkatan luas tanam makin terbatas. Keterbatasan lahan juga semakin signifikan seiring alih fungsi lahan pertanian serta persaingan dalam memanfaatkan lahan terutama antara kedelai dengan jagung dan palawija lain yang lebih menguntungkan. Produktivitas dan harga kedelai lokal yang masih rendah dan tingginya biaya produksi