BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI
4.1 Kondisi Geografis 4.1.1 Konteks Desa
Desa Cisarua merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Desa ini berbatasan dengan beberapa desa lain di sekitarnya yaitu, Desa Malasari di bagian selatan, Desa Curug Bitung di bagian barat, dan Desa Bantar Karet di bagian Utara dan Timur. Desa Cisarua berjarak sekitar 10 Km dari Ibu Kota Kecamatan Nanggung yang terletak di wilayah Desa Nanggung. Perjalanan ke Ibu Kota Kecamatan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi umum yang biasa beroperasi di daerah ini, yaitu angkutan kota (angkot). Angkot di daerah ini biasa beroperasi sejak pagi hari hingga sore (sekitar jam 5 sore). Sedangkan pada malam hari, angkutan yang dapat dipergunakan adalah ojek motor. Desa Cisarua berjarak relatif jauh dengan Ibu Kota Kabupaten Bogor yang terletak di Cibinong. Jarak Desa Cisarua ke Cibinong adalah sekitar 60-70 Km, atau sekitar 3.5 jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum.
Desa Cisarua memiliki luas wilayah sebesar 1.411 Ha, yang terdiri dari kawasan pemukiman, pertanian dan kebun, kawasan hutan (dulu Perhutani sekarang Taman Nasional), serta infrastruktur publik. Secara administratif Desa Cisarua terdiri dari 31 RT dan 6 RW. RT dan RW tersebut tersebar pada beberapa kampung yang terdapat di desa ini. Desa Cisarua secara keseluruhan memiliki 27 kampung, beberapa diantaranya adalah Ciiris, Pongkor Atas, Pongkor Bawah, Jangkar, Cimaja, Ciparay, Babakan, Muara, dan Pabangbon. Ciiris merupakan kampung pertama yang menjadi pintu masuk Desa Cisarua. Kampung ini
merupakan tempat pusat pemerintahan Desa Cisarua. Sedangkan kampung yang paling jauh adalah kampung Pongkor Atas yang berbatasan dengan wilayah Desa Bantar Karet. Jarak antar kampung relatif dekat dan sudah memiliki jalan penghubung antar kampung. Akses antar kampung dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.
Desa Cisarua memiliki topografi yang berbukit-bukit dengan ketinggian 700 di atas permukaan laut (dpl). Kawasan perbukitan dapat ditemukan di hampir setiap kampung yang ada di Desa Cisarua. Kawasan perbuktian pada umumnya menjadi konsentrasi dari pemukiman penduduk, baik di daerah datar maupun yang relatif miring (300-450). Kondisi topografi yang didominasi perbukitan memberikan pengaruh terhadap suhu udara di daerah ini. Suhu udara relatif sejuk dan atau dingin, terutama jika hari menjelang malam atau dini hari. Dinginnya suhu udara dapat juga diketahui dengan melihat kondisi rumah yang pada awalnya lebih banyak didominasi oleh bahan kayu pada bagian lantainya. Meskipun seiring perkembangan hal ini mulai banyak ditinggalkan dan mengganti lantai rumah dengan keramik.
Desa Cisarua merupakan salah satu desa yang menjadi kawasan penyangga eksplorasi emas yang dikelola oleh PT A. Status kawasan penyangga juga dimiliki oleh desa lain yang berbatasan dengan Desa Cisarua, yaitu Desa Malasari dan Bantarkaret. Status kawasan penyangga PT A bermakna bahwa ketiga desa tersebut di atas merupakan desa yang paling dekat posisinya dengan kawasan eksplorasi emas PT A. Atau ketiga desa tersebut di atas berada dalam zona inti kawasan eksplorasi PT A. Kondisi ini berimplikasi terhadap banyaknya konsentrasi program tanggungjawab sosial perusahaan di ketiga desa ini. Namun
di sisi lain, ketiga desa ini juga menjadi pusat para penambang emas liar (dikenal sebagai gurandil) yang banyak berdatangan dari luar desa, bahkan luar kabupaten dan propinsi yang mengadu nasib melakukan eksplorasi emas di dalam dan sekitar kawasan eksplorasi PT A. Atau dengan kata lain, ketiga desa ini menjadi tempat domisili para migrant dari luar desa atau luar daerah yang bekerja sebagai penambang emas liar.
Desa Cisarua memiliki sejumlah potensi sumberdaya alam lokal yang relatif besar. Potensi sumberdaya alam tersebut sebagian sudah dieksplorasi dan dimanfaatkan, namun sebagian yang lain masih belum dieksplorasi dan dimanfaatkan. Salah satu potensi sumberdaya alam yang menjadi perhatian di Desa Cisarua adalah potensi sumberdaya tambang emas yang terkenal hingga ke luar daerah. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, potensi sumberdaya tambang emas ini kemudian menyebabkan Desa Cisarua banyak kedatangan migrant dari luar yang bekerja sebagai penambang emas liar/gurandil. Penamaan PT A yang menjadi pengelola eksplorasi emas dengan nama PT A mengambil salah satu pegunungan yang terdapat di wilayah Desa Cisarua, yaitu Gunung Pongkor yang juga menjadi nama salah satu kampung di Desa ini. Hingga saat ini, eksplorasi emas di wilayah Desa Cisarua, baik yang dilakukan oleh penambang liar dari luar desa dan daerah serta PT A sudah dilakukan bertahun-tahun. PT A mulai beroperasi sejak tahun 1992 atau sekitar 17 tahun. Sementara itu, penamban emas liar sudah mulai masuk ke daerah Gunung Pongkor sejak tahun 19952-an atau sekitar 14 tahun.
2
Menurut keterangan salah satu informan (Pak AJ) yang merupakan salah satu tokoh masyarakat di kawasan kampung Pongkor Atas, gurandil atau penambang liar mulai berdatangan ke Desa Cisarua sejak tahun 1995. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya para pendatang di Desa ini dan mulai bermunculannya usaha gelundungan yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Pada saat
4.1.2 Konteks Kampung
Seperti dijelaskan sebelumnya, Kampung Pongkor merupakan salah satu kampung yang terdapat di Desa Cisarua. Kampung Pongkor berada di bagian paling ujung Desa Cisarua yang berbatasan langsung dengan kawasan Desa Bantar Karet. Kampung Pongkor berjarak sekitar 5-7 km dari Pusat Desa atau sekitar 15-20 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Sepeda motor (ojek motor) merupakan satu-satunya angkutan umum yang dapat dipergunakan untuk menjangkau kampung ini.
Kampung Pongkor dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kampung Pongkor Atas yang lokasinya berada di punggung Gunung Pongkor dan Kampung Pongkor Bawah yang berada di kaki Gunung Pongkor. Kampung Pongkor terbagi ke dalam tiga RT, yaitu RT 02, 03 dan RT 04. Jarak antar RT saling berdekatan satu dengan lainnya.
Kampung Pongkor berada pada lokasi yang topografinya termasuk dataran tinggi. Di Desa Cisarua Kampung Pongkor Atas merupakan kampung yang paling tinggi lokasinya dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya, Disusul kemudian oleh Kampung Pongkor Bawah. Karena posisinya yang tinggi, maka suhu di kampung ini relatif sejuk, bahkan pada malam hari bisa cukup dingin. Kondisi dingin di kampung ini semakin terasa ketika musim hujan tiba.
Kampung Pongkor juga merupakan kampung yang paling dekat posisinya dengan pusat eksplorasi emas PT A. Jarak ke pusat eksplorasi PT A hanya sekitar 4-5 km. Kondisi ini menyebabkan kampung ini menjadi salah satu pusat (selain Desa Bantar Karet) kedatangan dan tempat tinggal para penambang emas liar
yang sama sebagian masyarakat lokal juga menjadi bagian dari penambang emas liar, setelah sebelumnya mereka menjadi tenaga kerja harian dari PT A dalam proses pembangunan awal tambang.
yang berasal dari luar desa. Mereka biasanya tinggal dibilik-bilik warung yang banyak terdapat di wilayah Kampung Pongkor Atas atau tinggal di rumah-rumah warga setempat dengan menyewa secara kolektif (bersama-sama). Posisinya yang cukup strategis dan mudah untuk akses ke kawasan eksplorasi emas PT A menjadi daya tarik bagi para penambang liar untuk menjadikan kampung ini sebagai
basecamp mereka.
Potensi sumberdaya alam yang terdapat di kampung ini sebagian besar didominasi oleh kawasan pertanian, yaitu pertanian kebun (lahan kering) dan pertanian sawah. Kedua sistem pertanian menjadi mata pencaharian utama warga di kampung ini sebelum masuknya eksplorasi emas PT A. Sumberdaya alam lain yang potensial di kampung ini adalah bahan galian tambang, yaitu emas. Meskipun sebagian besar eksplorasi emas tidak dilakukan di wilayah kampung ini, namun terdapat sebagian warga dan penambang emas liar dari luar desa yang melakukan eksplorasi di kawasan Gunung Pongkor yang termasuk ke dalam wilayah Kampung Pongkor Atas. Mereka meyakini bahwa di Gunung Pongkor tersebut terdapat juga potensi emas yang menguntungkan untuk dieksplorasi dan relatif tidak berisiko tinggi daripada harus menambang di kawasan PT A.
4.2 Kondisi Agronomi 4.2.1 Konteks Desa
Topografi Desa Cisarua yang berbukit-bukit memberikan pengaruh terhadap kondisi agronomis3 yang ada di desa ini. Secara agronomis, Desa Cisarua yang dikelompokkan menjadi beberapa sistem pertanian, yaitu perikanan darat
3
Kondisi agronomis dalam konteks ini dimaknai sebagai keragaman sistem pertanian (dalam arti luas) beserta jenis tanaman atau komoditas yang terdapat dalam sistem pertanian yang
(air tawar), kebun atau pertanian lahan kering, pertanian padi sawah (hujan), dan pekarangan.
Sistem pertanian yang paling dominan di desa ini adalah sistem kebun atau pertanian lahan kering. Dominannya sistem kebun di desa ini disebabkan oleh jarangnya areal lahan yang berupa dataran rendah. Sebagian besar lahan merupakan dataran tinggi yang berbukit-bukit sehingga menyulitkan untuk membuat areal persawahan. Sistem kebun di Desa Cisarua dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sistem kebun yang letaknya berdekatan atau bahkan berada di sekitar pemukiman dan sistem kebun yang letaknya berjauhan dengan kawasan pemukiman. Sistem kebun pada umumnya dimanfaatkan oleh warga Desa Cisarua untuk melakukan penanaman tanaman keras sehingga kebun yang ada menjadi seperti hutan campuran. Jenis tanaman keras yang biasa ditanam antara lain “jenjeng” (sengon/albasia), kayu ambon, dan tanaman petai.
Selain tanaman keras, jenis tanaman lain yang biasa dibudidayakan oleh warga Desa Cisarua di kebun adalan jenis tanaman buah. Jenis tanaman buah yang dominan dibudidayakan adalah pisang. Menurut keterangan aparatur pemerintah setempat, pisang sempat menjadi komoditas unggulan Desa Cisarua yang diperjualbelikan ke luar desa. Kondisi seperti ini terjadi pada saat sebelum masuknya eksplorasi emas di kawasan Gunung Pongkor. Sekarang kondisi seperti ini sudah sangat sulit dijumpai, pisang sebagian besar justru didapatkan warga Desa Cisarua dari pasar di luar desa. Jenis tanaman lain yang juga dibudidayakan di areal kebun adalah palawija. Jenis palawija biasanya ditanam disela-sela tanaman keras atau tanaman buah. Jenis palawija yang biasa budidayakan oleh warga Desa Cisarua adalah jagung, ubi, singkong dan ketimun. Tanaman palawija
dimanfaatkan warga sebagian besar untuk kebutuhan sehari-hari rumahtangga mereka. Jika terdapat sisa, baru hasil budidaya palawija diperjual-belikan ke pasar terdekat dari Desa Cisarua.
Sistem agronomi lain yang cukup dominan di Desa Cisarua adalah sistem pertanian padi sawah. Pertanian padi sawah pada umumnya dilakukan pada lahan sawah tadah hujan yang banyak dijumpai di desa ini. Karena tadah hujan maka proses penanaman padi pada umunya hanya dilakukan sebanyak dua kali dalam 1 tahun. Menurut keterangan dari tokoh masyarakat (Pak AJ), selain melakukan penanaman padi di sawah tadah hujan, sebelumnya sebagian petani juga melakukan penanaman padi diareal lahan kering atau dikenal dengan sistem padi huma. Namun, sekarang ini hal tersebut sudah tidak dilakukan lagi karena debit air di desa ini yang semakin berkurang, apalagi dan pada musim kemarau dan adanya alternatif pekerjaan lain.
Areal persawahan terdapat hampir pada setiap kampung yang ada di Desa Cisarua. Areal persawahan berada di sekitar pusat pemukiman warga desa. Pada umumnya, areal persawahan berada pada lahan yang kontur tanahnya landai. Ada juga areal persawahan yang berada pada lahan yang kontur tanahnya miring, namun kemiringannya masih dimungkinkan untuk membuka lahan sawah (kemiringan sekitar 300-450). Areal persawahan biasanya dibuat berpetak-petak sesuai yang menjadi pembatas kepemilikan antar petani satu dengan petani lainnya. Di lahan dengan kontur tanah yang miring, luasan petakan menjadi semakin sempit dan banyak karena sistem terasering yang dibuat mengikuti kontur kemiringan tanah.
Perikanan darat di Desa Cisarua merupakan salah satu sistem pertanian yang juga dikembangkan oleh warga desa. Perikanan darat di desa ini memanfaatkan air dari aliran sungai yang terdapat pada beberapa lokasi. Jenis ikan yang dikembangkan biasanya adalah ikan mas, nila, dan gurami. Menurut keterangan aparatur desa, kondisi perikanan darat yang ada saat ini sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Saat ini warga yang mengusahakan perikanan darat jumlahnya sudah tidak terlalu banyak, kalaupun ada hanya di beberapa lokasi tertentu yang masih bisa dengan mudah mendapatkan aliran air dari sungai. Kondisi ini berbeda jauh dengan sebelumnya, di mana pada hampir setiap rumah warga desa memiliki kolam/empang untuk membudidayakan jenis ikan air tawar. Berkurangnya debit air yang berpengaruh terhadap semakin berkurangnya kegiatan perikanan darat di Desa Cisarua disinyalir disebabkan oleh masuknya eksplorasi emas di kawasan Gunung Pongkor, baik yang dikelola PT A maupun penambang liar.
Selain pertanian kebun, padi sawah, dan perikanan darat warga Desa Cisarua juga memanfaatkan pekarangan rumah untuk kegiatan budidaya tanaman atau pohon-pohonan. Jenis tanaman yang biasa dibudidayakan di pekarangan antara lain tanaman keras (jengjeng/albasia/sengon) dan jenis tanaman buah. Lahan pekarangan yang dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya luasanya relatif sempit. Hal ini disebabkan kegiatan pertanian dipekarangan merupakan sampingan selain kegiatan pertanian lain yang utama dan kegiatan di sector non-pertanian.
4.2.2 Konteks Kampung
Tidak berbeda jauh dengan kondisi desa, Kampung Pongkor memiliki kondisi agronomis dengan ciri sistem pertanian padi sawah (hujan), kebun atau pertanian lahan kering, perikanan darat (air tawar) dan pekarangan. Pertanian padi sawah terkonsentrasi di sekitar Kampung Pongkor Bawah (RT 01). Di kampung ini beberapa petak sawah terhampar secara terasering milik beberapa penduduk yang tinggal baik di Kampung Pongkor Bawah maupun Kampung Pongkor Atas. Pertanian padi sawah ini bersifat tadah hujan dan memiliki masa panen dua kali dalam setahun.
Pertanian lahan kering atau kebun terkonsentrasi di kampung Pongkor Atas yang kebanyakan berada di RT 04. Kondisi terasering atau berbukit-bukit juga ditemukan di sekitar kawasan kebun yang juga merupakan batas kepemilikan lahan penduduk. Jenis pertanian yang ditanam bervariasi mulai dari pisang, singkong, jagung, hingga kayu sengon.
Perikanan darat (air tawar) dapat dijumpai di Kampung Pongkor Atas khususnya di RT 02. Umumnya jenis ikan yang ditambak mulai dari mujair, ikan mas, hingga gurami. Belakangan tambak kurang mendapatkan perhatian dari pemiliknya akibat kurangnya pasokan air serta peluang kerja menjadi penambang liar dan pemilik mesin glundungan yang lebih menjanjikan.
4.3 Kondisi Demografi Desa dan Kampung
Tahun 2007, Desa Cisarua memiliki jumlah penduduk sebanyak 7.253 jiwa. Jumlah KK di tingkat desa dan jumlah KK di tingkat kampung lokasi penelitian. Jumlah Kepala Keluarga (KK) rata-rata per RT sebanyak 57 KK
tersebar ke dalam 27 kampung. Berdasarkan data bulanan desa, tidak ditemukan jumlah warga pendatang (imigrasi) yang tinggal di salah satu kampung di Desa Cisarua. Namun, apabila melihat fakta di lapangan khususnya di kampung penelitian, masih terdapat 1 hingga 2 orang yang menetap sementara di salah satu rumah penduduk. Kepentingannya adalah untuk mencari pekerjaan menjadi penambang liar. Kebanyakan dari pendatang ini berasal dari daerah Jampang, Sukabumi.
Tahun 2009 Kampung Pongkor memiliki penduduk sebanyak 1.614 jiwa, 820 jiwa diantaranya merupakan penduduk laki-laki dan 794 jiwa penduduk perempuan. Lebih besarnya jumlah penduduk laki-laki dibandingkan dengan perempuan di kampung ini disebabkan oleh banyaknya jumlah pendatang (migran) laki-laki dari luar desa yang menjadi penambang emas liar di sekitar kampung Pongkor. Banyaknya jumlah penduduk tidak dibarengi dengan banyaknya umpi rumah yang ada. Sebanyak 392 buah tersebar di tiga RT, 84 diantaranya berada di RT 03 RW 04 yang terletak di Kampung Pongkor Atas. Demikian juga dengan kepemilikan KK yang masih rendah. Jumlah KK di seluruh RT adalah sebanyak 408 KK dengan rincian RT 02 sebanyak 15 KK, RT 03 sebanyak 104 KK, dan RT 04 sebanyak 289 KK. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 88 (22%) KK yang memiliki kartu keluarga atau KK, 320 (78%) sisanya masih belum memiliki KK. Relatif besarnya jumlah rumahtangga yang masih belum memiliki KK disebabkan oleh rendahnya kesadaran administratif dari warga setempat untuk mengurus surat resmi sebagai kesatuan rumahtangga atau KK. Hal ini dapat dibuktikan dengan rendahnya pendaftaran KK yang dilakukan oleh warga yang sudah menjadi rumahtangga baru (menikah). Di sisi lain
banyaknya pendatang yang masih dan tinggal sementara di kampung Pongkor juga menjadi salah satu permasalahan banyaknya jumlah KK yang tidak terdaftar di kampung ini.
Jumlah KK yang terdapat di Kampung Pongkor lebih besar dibandingkan dengan banyaknya rumah yang terdapat di kampung ini. Menurut keterangan salah satu aparatur desa di kampung ini, jumlah rumah yang terdapat dikampung ini adalah sebanyak 392 buah. Hal ini menunjukkan bahwa satu rumah yang terdapat dikampung ini bisa didiami oleh lebih dari satu rumahtangga atau KK. Keadaan ini merupakan hal biasa pada masyarakat pedesaan, di mana jenis keluarga yang banyak berkembang adalah keluarga luas, yaitu keluarga yang terdiri lebih dari satu rumahtangga atau KK.
4.4 Sarana dan Prasarana
Sarana transportasi yang terbilang sudah cukup baik didukung oleh sarana jalan yang sudah mengalami perbaikan. Jalan utama sudah mengalami pengaspalan dimulai ketika PT A Tbk. mulai masuk. Menurut salah seorang informan, perbaikan jalan menjadi aspal bukan semata-mata untuk kepentingan warga melainkan kepentingan PT A Tbk. untuk memudahkan mereka masuk ke dalam wilayah eksplorasi. Kondisi jalan yang relatif baik membuat akses untuk keluar masuk menjadi semakin terbuka. Pemodal yang ingin ikut berbisnis emas juga semakin diuntungkan akibat wilayah Desa Cisarua yang terbilang strategis. Bantuan kembali bergulir ketika salah seorang calon Bupati menjanjikan akan memperbaiki jalan utama Desa Cisarua saat Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2008. Pada Desember 2008 ketika peneliti melalukukan perjalanan sebagai
enumerator, jalanan mulai di aspal. Namun saat peneliti akan melakukan penelitian pada Mei 2009 jalan utama desa yang baru saja diaspal sudah mengalami kerusakan akibat beberapa faktor salah satunya akibat cuaca dan bobot kendaraan berat. Sarana air bersih diperoleh warga dari sumber mata air pegunungan dan sumur yang berdekatan dengan hunian rumah warga. Belakangan, semenjak tahun 2007 warga mengeluhkan kesulitan air. Kondisi ini dikeluhkan khususnya oleh warga yang tinggal di Kampung Pongkor dan sekitarnya. Menurut Pak AJ dan Pak YY, kekeringan air beriringan dengan dibentuknya wadah limbah emas dari PT A Tbk. (tellingdam). Solusi atas kesulitan air tersebut dilakukan PT A berupa pembuatan selang air yang berasal dari dari Desa Malasari. Hal ini dilakukan sebagai upaya tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat.
Sarana lain seperti pendidikan yang terdapat di Desa Cisarua hanya Sekolah Dasar (SD). Sedikitnya terdapat tiga gedung SD yang dibangun di Kampung yang berbeda. Kondisi SD relatif sudah cukup baik. Hanya SD yang terletak di Kampung Ciparay yang kondisinya perlu mendapat perbaikan. Sementara itu, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) belum tersedia di Desa ini. Sarana ibadah berupa masjid dan mushola sudah terlihat tersebar merata di hampir setiap kampung. Masjid yang cukup besar terdapat di Kampung Ciiris berdekatan dengan Kantor Desa. Tidak ditemukan sarana ibadah lain selain masjid karena mayoritas penduduk adalah beragama Islam. Sungai Cisarua yang memisahkan kampung Jangkar dan Kampung Babakan dapat dilewati dengan jembatan kokoh sebagai sarana yang dimiliki desa ini. Kampung Pongkor yang menjadi wilayah peneliti untuk melakukan kajian
harus melewati jembatan sebagai sarana pendukung desa. Selain itu, posyandu juga sudah tersedia di Desa ini salah satunya terletak di Kampung Ciparay.
4.5 Mata Pencaharian
Umumnya warga mengaku bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Faktanya tidak demikian, sebagian besar masyarakat khususnya Kampung Pongkor memiliki usaha mengolah emas dengan menggunakan mesin gelundungan. Hampir seluruh warga menggantungkan hidupnya untuk kebutuhan sehari-hari dari hasil olahan lumpur mengandung emas. Hal ini pula yang diakui oleh Sekretaris Desa, Dedi, Ia mengaku semenjak warga bekerja di sektor pertambangan baik sebagai pemilik gelundungan maupun mencari emas di gunung (PETI/gurandil) perekonomian warga menjadi lebih baik. Bahkan tidak sedikit bantuan yang datang dari para pencari emas. Pak Dedi mengaku jika dibandingkan dengan PT A Tbk. persentasi bantuan yang diberikan dibandingkan dengan warga yang bekerja di sektor pertambangan adalah sekitar 20 : 40.
4.6 Sejarah Kampung Pongkor
Pongkor berasal dari kata Pongpokna. Menurut salah satu sesepuh di Kampung Pongkor, Bapak JH, terdapat istilah Panca Warna yang artinya burung yang memiliki banyak warna serta tantra warna yang artinya kucing. Kedua makhluk ini dimiliki oleh Raden Surya Kencana. Raden Surya Kencana dipercaya masyarakat terdahulu sebagai seorang yang menguasai wilayah Pongkor. Menurut Bapak JH, Gunung Pongkor yang letaknya tepat di wilayah Kampung Pongkor sebenarnya adalah wilayah tutupan yang berarti wilayah yang disakralkan.
Pemaknaan demikian sebenarnya didasari atas wilayah Gunung yang merupakan daerah resapan air yang berguna untuk masyarakat sehari-harinya.
Pada saat penjajahan Belanda, Gunung Pongkor ikut menjadi jajahan kolonial Belanda. Saat itu mereka (penjajah) menanam tanaman teh yang tenaga kerjanya dilakukan oleh penduduk sekitar. Gunung Pongkor yang semula merupakan daerah tutupan kemudian dirambah oleh Belanda. Sistem pertanian yang diberlakukan oleh Belanda terhadap tenaga kerjanya adalah dengan cara kontrak. Mengutip keterangan Bapak AJ bahwa masyarakat sebagian besar dipekerjakan sebagai buruh pemetik teh dan buruh pabrik pengolahan teh.
Penjajahan Belanda kemudian berakhir dan digantikan oleh Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, perkebunan teh peninggalan Belanda masih tetap eksis dan masih dijadikan sebagai komoditas Kampung Pongkor. Sebelum masa kemerdekaan berlangsung, masyarakat menurut Bapak AJ sempat melakukan perlawanan bersama-sama dengan pejuang melawan tentara Jepang, Nipon. Menurut Bapak JH sebutan pejuang yang memihak masyarakat kala itu adalah gerombolan Proses ini terus berlanjut dan selesai pada masa kemerdekaan Indonesia. Lahan yang terlantar selepas penjajahan berakhir kemudian memancing masyarakat. Posisi sebagai buruh kontrak Belanda membuat masyarakat berani memasang patok/girik untuk mengklaim tanah yang mereka garap dahulu. Aturan kepemilikan lahan diukur dari berapa patok yang dikuasai. Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1960-an. Sementara itu, pada tahun 1965-1970-an masyarakat yang memiliki patok mulai mengurus kepemilikan lahan mereka secara resmi melalui surat pajak yaitu Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT).
BAB V
STRUKTUR AGRARIA LOKAL KAMPUNG PONGKOR
5.1 Sistem Kepemilikan dan Penguasaan Lahan (Tenurial System) 5.1.1 Status Kepemilikan dan Penguasaan Lahan
Proses status penguasaan lahan yang terdapat di Kampung Pongkor berawal dari wilayah Pongkor yang dahulunya merupakan lahan “bekas” Hak Guna Usaha (HGU) swasta Belanda. Setelah Belanda hengkang dari Kampung Pongkor akibat perang kemerdekaan, barulah masyarakat lokal mulai menguasai lahan yang dahulunya mereka garap sebagai kuli kontrak di perkebunan Belanda. Bukti kepemilikan lahan dimulai dalam bentuk “patok”, patok adalah sejenis bambu sebagai tanda batas kepemilikan lahan secara tradisional. Patok ini merupakan bukti kepemilikan secara turun-temurun mereka dapatkan dan sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial. Penandaan kepemilikan lahan kemudian berkembang menjadi surat girik yang dikeluarkan oleh desa. Kepemilikan surat girik didasarkan atas kepemilikan patok yang dimiliki masyarakat Kampung Pongkor secara turun temurun (warisan).
Rentang tahun 1965-1970 mulai diadakan pencatatan status tanah yang dikeluarkan oleh Kantor Pajak dan dilegitimasi oleh pihak desa dengan nama Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). SPPT dianggap oleh masyarakat sebagai bukti kepemilikan lahan yang sah karena dengan SPPT tersebut mereka sudah membayar kewajiban pajak atas lahan-lahan yang mereka miliki, baik lahan untuk pemukiman, kebun, maupun sawah.
Status hak atas tanah kembali disempurnakan pada tahun 1984 dengan melakukan sertifikasi lahan pada saat Proyek Nasional Agraria (PRONA). Bukti
kepemilikan lahan dalam bentuk sertifikat tanah hingga saat ini hanya dapat ditemukan pada tingkat desa, di mana jumlahnya masih sangat sedikit. Sertifikasi lahan pada umumnya hanya dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang termasuk ke dalam golongan kaya di desa. Hal ini berkaitan dengan relatif mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk mengurus sertifikasi lahan. Berdasarkan keterangan aparatur desa, hanya sedikit warga yang lahannya berhasil di sertifikasi. Hingga saat ini (tahun 2009) baru sekitar 5 persen dari total penduduk yang berada di Desa Cisarua yang lahannya memiliki sertifikat. Berbeda dengan kepemilikan atas SPPT, masyarakat yang hingga kini belum memiliki SPPT menyisakan sebesar 10 persen dari total jumlah penduduk. Masyarakat Kampung Pongkor sendiri seluruhnya sudah memiliki SPPT.
Menurut salah satu Ketua RT Kampung Pongkor, masyarakat pada dasarnya menyadari pentingnya sertifikat sebagai bukti kepemilikan lahan yang mereka miliki. Menurut pandangan mereka dengan memiliki sertifikat, maka kekuatan kepemilikan terhadap lahan-lahan yang mereka miliki menjadi semakin kuat secara hukum. Namun demikian, relatif mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan sertifikasi membuat masyarakat Kampung Pongkor belum juga melakukan proses tersebut.
5.1.2 Sistem Transfer Kepemilikan Lahan Pertanian
Status kepemilikan lahan di Kampung Pongkor sebagian mengalami peralihan kepada orang di luar kampung ini. Biasanya peralihan kepemilikan hanya terjadi antar kampung di Desa Cisarua. Hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus peralihan kepemilikan lahan terhadap orang luar desa, baik yang
menjadi pendatang di kampung ini maupun yang tidak berdomisili di kampung ini. Proses peralihan status kepemilikan lahan dari masyarakat Kampung Pongkor ke masyarakat lain di luar kampung ini pada umumnya didasarkan pada hubungan kekeluargaan di tingkat mereka.
Status kepemilikan lahan yang terdapat di Kampung Pongkor jika ditinjau dari proses mendapatkannya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) Kepemilikan lahan karena proses warisan keluarga, (2) Kepemilikan lahan karena proses jual-beli. Berikut ini data kepemilikan lahan ditinjau dari cara mendapatkannya.
Tabel 1. Distribusi Kepemilikan Lahan
Distribusi Kepemilikan Lahan Pertanian Di Kampung Pongkor Persentasi (%) Waris 65 Jual Beli 35 Total 100
Sumber: Data Primer 2009, diolah
5.1.2.1 Waris
Sebagian besar kepemilikan lahan di kampung ini didapatkan karena proses warisan dari keluarga yang secara turun temurun diturunkan kepada generasi berikutnya. Proses pewarisan lahan di Kampung Pongkor didasarkan pada nilai-nilai pewarisan dalam Agama Islam. Kondisi ini terbentuk disebabkan sebagian besar masyarakat di kampung ini memeluk Agama Islam. Sistem pewarisan dengan latar belakang tersebut dalam beberapa hal lebih menekankan dominannya pewarisan lahan kepada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini dapat dilihat dari lebih banyaknya penamaan kuasa terhadap lahan dalam SPPT yang menggunakan nama laki-laki atau keturunan laki-laki dibandingkan dengan
perempuan. Salah satu contoh kasus adalah Pak Yy, Ia mendapatkan lahan kosong dengan jatah lebih banyak (2 ha) daripada saudara perempuannya. Kasus ini terjadi juga ada perubahan nama kuasa lahan dalam SPPT dari satu generasi ke generasi berikutnya, di mana nama anak yang dicantumkan dalam perubahan nama tersebut biasanya adalah anak laki-laki.
Proses kepemilikan lahan dengan sistem warisan menyebabkan sejumlah luasan lahan yang terdapat di Kampung ini mengalami proses fragmentasi. Hal ini disebabkan sistem waris yang dianut masih didasarkan pada sistem waris dengan pembagian lahan kepada semua generasi yang berhak menerima warisan. Dalam proses pewarisan seperti ini, pertimbangan apakah lahan yang diwariskan akan dipertahankan penggunaannya atau tidak, bukan merupakan hal yang penting dipertimbangkan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya sejumlah peralihan penggunaan lahan dari sebelumnya. Yang banyak terjadi adalah peralihan lahan dari sebelumnya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian menjadi lahan untuk penggunaan non-pertanian, misalnya pemukiman.
Kepemilikan lahan yang didapatkan dari sistem waris di Kampung Pongkor tidak secara keseluruhan lokasinya berada di dalam kampung. Terdapat sebagian lahan yang diwariskan lokasinya berada di kampung lain di Desa Cisarua bahkan di luar desa. Berdasarkan informasi dari responden (Pak Yy: 50 tahun; Pak Rh: 50 tahun) beberapa kampung yang menjadi lokasi lahan waris masyarakat Kampung Pongkor antara lain: Kampung Pabangbon, Cimaja, dan Muara. Sedangkan lahan yang berada di luar desa, antara lain Desa Curug Bitung dan Malasari. Terpencarnya lokasi lahan waris yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Pongkor disebabkan oleh proses pembukaan lahan dan proses jual beli
yang dilakukan oleh para orang tua yang mewariskan lahan tersebut. Berdasarkan wawancara mendalam, umumnya besarnya lahan yang dimiliki berada di luasan satu hingga dua hektar. Lahan ini merupakan lahan girik (patok) hasil kontrak orang tua terdahulu dengan pihak Belanda yang sudah ditinggalkan. Menurut keterangan Pak Aj kepemilikan hasil warisan terbesar adalah seluas 5 ha. Akumulasi kapital di salah satu pihak sudah tercium saat pemasangan girik/patok. Diketahui bahwa lahan seluas 5 ha tersebut saat ini dimiliki oleh pejabat tinggi di dalam aparat desa. Pemrosesan terkait kepemilikan lahan baru dilaksanakan pada tahun 1965-1970-an kepemilikan secara turun temurun tersebut diproses dengan bukti Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Namun, seluruh responden yang ada masih belum memiliki surat/sertifikat lahan secara formal.
5.1.2.2 Jual Beli
Status lahan lain yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Pongkor adalah dengan jalan jual beli. Proses jual beli dilakukan masyarakat Kampung Pongkor dengan pihak lain yang berasal baik dari dalam desa maupun luar desa. Sangat jarang dilakukan dengan sesama kampung. Interaksi yang berkaitan dengan lahan banyak dilakukan oleh warga Kampung Pongkor dalam hal sewa lahan dan menjadi buruh garapan. Jual beli dilakukan warga dimulai sejak awal tahun 1970-an, hanya saja proses tersebut belum secara intens dilakukan. Alasan melakukan jual beli karena kebutuhan uang tunai yang mendesak untuk keperluan sehari-hari. Nominal harga yang diajukan oleh warga biasanya mengikuti harga lahan pada umumnya. Selain itu, seperti dijelaskan sebelumnya, pada tahun 1970 masyarakat Kampung Pongkor sudah memiliki SPPT yang setiap jenis lahannya
memiliki perbedaan pembayaran pajak. Terdapat tiga jenis ukuran dalam SPPT diantarannya tipe A seluas 10.000 m², tipe B seluas 3.500 m², dan tipe C seluas 2.000 m². Dari masing-masing tipe tersebut memiliki perbedaan harga, tipe A misalnya, jenis lahan berada di pinggir/dekat dengan jalan utama. Tipe SPPT tersebut nantinya akan mendasari proses jual beli. Harga lahan akan menjadi turun dan tidak sesuai dengan standar apabila pemilik lahan sangat terdesak membutuhkan dana tunai yang cepat.
5.1.3 Distribusi dan Penggunaan Lahan
Berdasarkan wawancara dengan aparat Desa Cisarua (Pak Dd) dan didukung oleh salah satu Ketua RT Kampung Pongkor (Pak Aj), diperoleh data dan informasi bahwa saat ini 80 persen penduduk memiliki tanah dan sisanya (20%) penduduk tidak memiliki lahan pertanian. Berikut ini tabel kepemilikan lahan di Kampung Pongkor.
Tabel 2 . Data Kepemilikan Lahan Pertanian di Kampung Pongkor
Data Kepemilikan Lahan Pertanian Di Kampung Pongkor Persentasi (%)
Memiliki lahan pertanian 80
Tidak memiliki lahan pertanian 20
Total 100
Sumber : Data Primer 2009 Diolah
Sementara itu, kepemilikan lahan berdasarkan kelas pemilikan lahan ditujukan dalam tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Distribusi rumah tangga (RT) menurut kelas pemilikan lahan di Kampung Pongkor
Sumber : Data Primer 2009 Diolah
Berdasarkan data di atas, petani yang memiliki lahan ≤ 0,5 ha adalah sebanyak tujuh orang atau 26,92 persen dan petani pemilik lahan 0,51 – 0,99 ha sebanyak delapan orang atau 30,77 persen. Hasil survei tersebut terlihat bahwa konsentrasi pemilik di lahan sempit dan hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sendiri lebih banyak daripada petani yang memiliki lahan ≥ 2 ha.
Bagi masyarakat Pongkor pemilikan lahan memiliki arti yang sangat penting terlebih ketika PT A belum melakukan eksplorasi. Penduduk tidak memiliki pilihan lain selain bertani. Untuk mendapatkan uang mereka harus menjual hasil taninya ke luar desa. Sama halnya dengan sawah, kebun pada masa sebelum PT A masuk terbatas pada komoditas palawija sehingga hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan sedikit kebutuhan sekunder. Baik sawah maupun kebun memiliki arti yang sama pentingnya yang membedakan adalah luasan lahan yang dimiliki tiap orang.
Kondisi ini berimplikasi pada status ekonomi penduduk yang pada masa itu juga ditentukan dari besaran luasan lahan. Status ekonomi sebelum PT A masuk ditujukan dengan berapa banyak aset (kekayaan) yang dimiliki berupa lahan pertanian. Pak Ab misalnya, Ia memiliki lahan ≥ 2 ha. Posisinya pada masa sebelum PT A masuk memiliki status sosial yang tinggi. Setelah PT A masuk disertai dengan pengetahuan-pengetahuan baru tentang komoditas pertanian,
Kelas luas lahan (Ha) Kampung Pongkor
Rumah Tangga (n=26) (%) ≤ 0,5 7 26,92 0,51 – 0,99 8 30,77 1– 1,50 5 19,23 1,51 – 1,99 4 15,38 ≥ 2 2 7,70 Total 26 100
status ekonomi penduduk mulai mengalami pergeseran. Tabel 3 di atas menunjukkan kondisi setelah PT A masuk. Masyarakat kemudian memiliki banyak pilihan untuk bekerja di luar sektor pertanian dan praktis sumber pemasukan serta pemenuhan kebutuhan pun tidak lagi ditopang oleh sektor pertanian. Kecuali bagi responden yang memiliki kebun. Pengetahuan tentang komoditas yang ditanam di kebun mulai mengalami diferensiasi. Penanaman sengon mulai menjadi favorit masyarakat karena dari segi ekonomi jauh lebih menguntungkan dari sawah. Sementara sawah sendiri justru mengalami penurunan “peran” di dalam rumahtangga. Hasil dari sawah terbatas pada pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten). Saat ini jika tetap berada di sektor pertanian, menanam sengon justru menempati posisi ekonomi yang lebih kuat daripada pemilik sawah seperti yang dilakukan Pak Ng. Kondisi ini dapat dilihat bahwa pemilikan lahan tidak lagi dapat menentukan status ekonomi penduduk lebih baik atau tidak.
Pemilik sawah tidak bisa diklaim lebih kaya jika tidak didukung dengan pekerjaan lain. Seperti kasus Pak Rh yang memiliki lahan antara 1,51 – 1,99 ha jauh lebih kaya daripada yang memiliki lahan ≥ 2 ha (Pak Ab). Penyebabnya adalah adanya akumulasi pekerjaan yang dilakukan oleh Pak Rh di luar sektor pertanian. Responden yang semula memiliki lahan sempit bisa saja naik ke lapisan pemilikan lahan di atasnya jiak mampu memperkaya pekerjaannya. Akumulasi pekerjaan kemudian dapat berkembang menjadi akumulasi pemilikan lahan. Seperti yang dilakukan Pak Yy. Ia bekerja di luar sektor pertanian yang hasilnya digunakan untuk membeli kebun dengan sengon sebagai tanamannya. Sedangkan responden yang hanya berkutat dengan sawah belum tentu status ekonominya
lebih baik. Pemilikan lahan di Kampung Pongkor bukan menjadi penentu kekayaan, namun tetap saja sekecil apapun lahannya tetap lebih dihargai paling tidak sebagai status sosial seseorang daripada yang tidak memiliki lahan sama sekali. Tanah masih menjadi asset yang harus dimiliki sebagai wadah investasi. Artinya, penghargaan terhadap pemilikan tidak dapat disamakan dengan besarnya kekayaan yang dimiliki. Hal ini terungkap dari wawancara mendalam dengan responden yang memiliki lahan sempit seperti yang diungkapkan Pak Sr:
“Lah, saya mah gak punya lahan neng (merendah),
kalopun punya itu mah kecil. Harus punya neng, status neng.”
Tipe tanah dan penggunaannya yang terdapat di Kampung Pongkor memiliki beberapa macam kategori. Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa responden memiliki jenis lahan yang bervariasi. Jenis lahan pertanian yang diusahakan oleh masyarakat dapat terbagi menjadi dua bagian yang mendominasi, kebun (50%) dan sawah (30%). Sawah tadah hujan merupakan jenis lahan yang banyak dimiliki. Sementara yang lain seperti sawah irigasi, sangat tidak memungkinkan dengan kondisi lahan yang berbukit. Tambak juga mengalami kendala beberapa tahun terakhir akibat kurangnya pasokan air baik dari gunung. Kategori lainnya seperti pekarangan hampir tidak termanfaatkan oleh warga sekalipun ada yang memilikinya.
Jenis pengusahaan lahan kebun didominasi oleh tanaman palawija diantaranya singkong, jagung, dan, pisang. Tanaman ini biasa dipanen sekitar 6 bulan dari masa tanam. Selain tanaman palawija, saat ini ikut mendominasi pula perkebunan yaitu kayu ambon dan sengon. Kedua komoditas ini lebih banyak diusahakan oleh masyarakat dibandingkan dengan padi. Kontur lahan yang
berbukit-bukit adalah salah satu penyebab mengapa masyarakat Kampung Pongkor lebih nyaman menanam palawija dan tanaman perkebunan. Alasan lain adalah mudahnya dalam pemeliharaan dan tidak membutuhkan waktu yang ekstra dibandingkan dengan menanam padi. Berikut ini tabel jumlah penduduk berdasarkan tipe tanah pertanian.
Tabel 4. Persentase Jumlah Penduduk Berdasarkan Tipe Tanah Pertanian yang Dimiliki di Kampung Pongkor
Jenis Tanah Pertanian Kepemilikan (%)
Sawah Irigasi 0
Sawah Tadah Hujan 30
Kebun 50
Tambak 10
Lainnya (pekarangan, tanah terlantar) 10
TOTAL 100
Sumber : Data Primer 2009 Diolah
5.2 Sistem Kelembagan (Tenancy System)
Kelembagaan dalam hubungan penggarapan lahan yang berlaku di Kampung Pongkor diantaranya adalah sistem bagi hasil dan gadai. Sistem sewa sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dilakukan warga. Sistem sewa dianggap janggal (tidak lumrah) di kampung ini. Menurut pengakuan salah seorang informan, Yy, menurutnya tidak ada calon penyewa lahan sekaligus pemilik lahan yang kurang percaya jika lahan disewakan.
5.2.1 Bagi Hasil
Sistem kelembagaan yang dilakukan dengan cara bagi hasil lazim dengan istilah yang digunakan di Kampung Pongkor adalah dengan sebutan maro. Istilah ini sudah berlaku sejak reclaim lahan pascapenjajahan Belanda. Lahan yang biasa digunakan adalah lahan persawahan dengan penggarap baik dari dalam maupun
luar desa. Penggarap merupakan petani yang sama sekali tidak memiliki lahan pertanian dan memiliki minat serta keahlian bekerja di sektor pertanian. Sedangkan untuk lahannya, sistem bagi hasil cenderung dilakukan untuk lahan sawah. Bagi hasil untuk tanaman pangan lain seperti palawija hampir tidak pernah dilakukan. Selain sulit menentukan besaran bagi hasil dalam tanaman palawija, salah seorang informan mengaku pengurusan lahan yang ditanami tanaman palawija relatif lebih mudah. Warga hanya menggunakan tenaga buruh tani untuk mengolah lahan kebunnya dan membersihkan kebun.
Secara teknis, pada masa sebelum revolusi hijau berlangsung, sistem maro dilakukan dengan cara, pemilik lahan menanggung pengadaan bibit padi dan menyiapkan faktor produksi lahan. Sementara petani penggarap bertugas sepenuhnya menangani lahan mulai dari awal hingga akhir panen. Hasil pada saat panen akan dikurangi biaya pengadaan bibit, setelah itu barulah dibagihasil berupa padi oleh petani pemilik.
Kondisi ini kemudian berubah setelah revolusi hijau berlangsung dimana pupuk dan pestisida diperkenalkan. Saat ini praktek bagi hasil dilakukan dengan cara pemilik lahan tetap bertugas untuk mempersiapkan faktor produksi berupa lahan sekaligus bibit. Sedangkan penggarap mempersiapkan kebutuhan lain seperti pupuk, biaya obat (pestisida), maupun alat bajak sawah berupa kerbau jika diperlukan. Terkadang pestisida yang akan digunakan didiskusikan terlebih dahulu dengan pemilik lahan setelah itu barulah penggarap membelinya. Hasil tani ini nantinya dibagi dua (50:50) setelah mengalami pengurangan modal dan bibit bagi pemilik dan faktor produksi lain yang disediakan oleh penggarap. Hasil yang dibagikan berbentuk padi. Apabila terjadi gagal panen, petani penggarap
tidak diwajibkan untuk mengganti rugi. Hanya saja untuk modal awal penggarap dalam menyiapkan pupuk dan faktor produksi lainnya tidak mendapat penggantian dari pemilik lahan.
5.2.2 Gadai
Sistem gadai menurut Pak Aj sudah dilakukan semenjak orangtuanya hidup atau sekitar tahun 1965-an. Gadai atau dikenal dengan istilah ngegade dan dilakukan dengan sawah sebagai bahan pergadaian. Sawah lebih sering digadaikan dibandingkan kebun dengan alasan mudah mengontrol pembeli lahan. Menurut Pak Aj warga Kampung Pongkor tidak ada yang menggadaikan kebun dengan alasan keamanan tanamannya yang khawatir akan ditebang dan dimanfaatkan secara berlebihan oleh pembeli gadai. Sedangkan sawah mau tidak mau pembeli gadai harus menggunakan lahannya untuk menanam padi.
Beberapa alasan yang berhasil ditemukan dalam menggadaikan lahan sawahnya adalah karena kebutuhan uang tunai yang mendesak. Selain itu, kondisi lahan yang terabaikan akibat pekerjaan lain yang lebih menguntungkan turut menjadi penyebabnya. Pembeli gadai adalah orang-orang terdekat yang dipercaya dapat mengurus lahan dengan baik, atau masih sesama petani yang masih berada di Desa Cisarua. Hal ini dilakukan demi keamanan lahan yang digadaikan. Tidak jarang penggadai juga menawarkan lahannya terlebih dahulu kepada sanak saudara yang berprofesi sebagai petani. Hal ini membuktikan bahwa faktor keamanan lahan disertai dengan kepercayaan (trust) lebih menjadi pertimbangan untuk menggadaikan lahan. Penggadai sangat hati-hati dan akan merasa lebih aman jika pembeli gadai berasal dari keluarga sendiri. Jika pembeli gadai bukan
berasal dari kerabat maka penggadai akan mencari petani setempat untuk membeli gadai. Ada dua hal yang mendasarkan penentuan harga tanah gadai. Pertama didasarkan atas luasan lahan dan harga tanah per meter persegi serta lokasi tanah penggadai. Kedua berdasarkan atas kebutuhan mendesak penggadai didukung kemampuan pembeli gadai. Biasanya harga gadai berada di kisaran satu hingga dua juta. Pertimbangan harga ini agar penggadai tidak terlalu berat untuk mengembalikan uang yang dipinjamkan. Meskipun untuk pembayaran lahan dilakukan tanpa batas waktu yang ditetapkan namun dengan rendahnya uang yang dipinjamkan penggadai dapat segera mendapatkan tanahnya kembali. Menurut Pak Ajm penentuan harga yang kedualah yang umum dijumpai.
5.3 Buruh Tani
Munculnya buruh tani lebih disebabkan adanya kebutuhan tenaga kerja khususnya bagi petani yang memiliki lahan cukup luas. Buruh tani dahulu pada tahun 1980-an diupah sebesar 1000/hari. Salah satu pengalaman petani penggarap sekaligus buruh tani adalah Bapak St (45 tahun). Pak St adalah buruh tani jauh sebelum PT A masuk. Ia mulai diupah Rp 15.000 hingga saat ini bertambah hingga Rp 50.000. Upah ini Ia dapatkan selama bekerja mulai dari pukul 07.00 -11.00 WIB. Menurutnya upah ini umum diberikan bagi buruh tani lainnya. Hal ini agar menjaga hubungan antara sesame petani pemilik tidak terjadi masalah. Pak St sempat memiliki tanah dengan ukuran 150 liter bibit padi4 atau setara dengan ± 3
¼ ha milik pribadi. Selain lahan milikinya yang dikerjakan sendiri, Ia juga
4 Di Kampung Pongkor penentuan luasan lahan lazim diukur dengan istilah liter bibit padi atau
diukur dari hasil padi dengan sebutan gedeng. Menurut salah seorang informan jika diukur ½ ha sawah dengan asumsi pengairan yang cukup maka setara dengan 20 liter bibit disebar dengan hasil 100 gedeng atau setara dengan 650 kg gabah.
berburuh sawah orang lain semenjak PT A belum masuk. Jumlah 150 liter yang Pak St miliki telah berkurang. Ia menjual lahannya untuk membiayai pemakaman istrinya dan membangun rumah. Saat wawancara dilakukan, sisa lahan yang Ia miliki tinggal seluas 40 liter bibit padi. Hingga saat ini, selain masih menjadi buruh di sawah orang lain, Ia juga menjadi petani penggarap 60 liter bibit (1,5 ha) padi milik orang lain yang hasilnya maro. Sementara itu, sisa sawah yang Ia miliki 40 liter bibit padi atau setara dengan 1 ha lahan, Ia juga memiliki lahan sekitar 5500 m kebun (daratan) yang ditanami kayu ambon, singkong, dan tanaman palawija lainnya.
5.4 Ikhtisar
Proses penguasaan lahan di Kampung Pongkor berawal dari selesainya penguasaan tanah perkebunan teh Belanda yang digantikan dengan pemasangan patok oleh kuli kontrak penduduk Pongkor. Pemasangan patok kemudian berganti dengan adanya surat girik yang dikeluarkan oleh Desa. Penguasaan lahan kembali disempurnakan dimana 100 persen warga Kampung Pongkor sudah mengantongi SPPT dan menyisakan 10 persen dari total penduduk di Desa Cisarua yang belum memiliki SPPT. Bertolak belakang dengan kepemilikan SPPT, penduduk Desa Cisarua yang memiliki sertifikat masih sangat rendah yaitu 5 persen dari total penduduk. Sistem transfer kepemilikan lahan pertanian sebagian besar (65%) didominasi oleh waris dan sisanya (35%) didapatkan warga dari hasil jual beli lahan. Terkait kepemilikan lahan di Kampung Pongkor, sebanyak 80 persen memiliki lahan pertanian sementara distribusi penggunaan lahannya 50 persen didominasi oleh kebun, 30 persen sawah tadah hujan, sisanya atau sebanyak 10
persen digunakan untuk tambak dan pekarangan. Kepemilikan menurut luasan lahan yang berada dikisaran 0,51 – 0,99 ha dan ≤ 5 ha lebih banyak dimiliki di Kampung Pongkor dan semakin sedikit persentasinya bagi masyarakat yang memiliki lahan 1,51 – 1,99 dan ≥ 2 ha. Kepemilikan lahan bukan menjadi penentu kekayaan namun sekecil apapun lahannya tetap lebih dihargai paling tidak sebagai status sosial seseorang. Artinya, penghargaan terhadap pemilikan tidak dapat disamakan dengan besarnya kekayaan yang dimiliki.
Ditinjau dari sistem kelembagaan (tenancy sistem), terdapat praktek bagi hasil dan gadai. Sistem bagi hasil dilakukan dengan cara maro dimana pemilik lahan selain mempersiapkan lahan produktif juga berhak menentukan bibit apa yang digunakan dan penggarap bertugas menggarap dan mengurus seluruh lahan pertanian. Hasilnya akan dikurangi terlebih dahulu dari biaya penggunaan bibit lemudian dibagi dua berupa padi atau gabah. Alasan menggadaikan tanah adalah kebutuhan uang tunai yang mendesak serta kondisi lahan yang terabaikan akibat pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Pembeli gadai lebih banyak dari keluarga terdekat karena alasa keamanan.
BAB VI
PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN KAMPUNG PONGKOR
6.1 Sejarah Masuknya Pertambangan Emas
Mengutip Wiradi (2009) bahwa tata hubungan dalam struktur agraria yang sudah mapan harus dipahami sebagai mapan dalam arti relatif dan tidak permanen sepanjang waktu. Tatanan struktur agraria dapat berubah akibat bekerjanya berbagai faktor yang bekerja dan mempengaruhinya. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut diantaranya perubahan struktur politik, perubahan orientasi politik perubahan kebijakan ekonomi, perubahan teknologi dan faktor-faktor lain sebagai turunan dari keempat faktor-faktor tersebut. Turunan ini yang yang salah satunya terjadi di Kampung Pongkor dimana dinamika agraria terjadi dipicu oleh masuknya pertambangan emas.
Momentum munculnya permasalahan ketimpangan sumberdaya yang sama dapat dilihat dari mulai masuknya pertambangan emas di wilayah Pongkor. Ditinjau dari kronologis waktu, survei oleh PT A dimulai dengan logam dasar (Pb dan Zn) di bagian utara Gunung Pongkor oleh geolog PT A mulai tahun 1974 hingga 1981. Bersamaan dengan kegiatan eksplorasi yang sama di Cikotok, antara tahun 1983 – 1988 survei di Gunung Pongkor dihentikan sejenak. PT A lebih memusatkan terlebih dahulu eksplorasinya di daerah Cikotok.
Melanjutkan proses awal masuknya PT A ke wilayah Kecamatan Nanggung, pada tahun 1988 - 1991 eksplorasi Pongkor dilanjutkan secara sistematis.5 Akhirnya PT A dalam hal ini adalah Unit Bisnis Pertambangan Emas
5
nn. Menyusuri Jejak Gurandil Di Tambang Emas Pongkor. 20 April 2004. http://www.djmbp.esdm.go.id/modules/news/index.php?act=detail&sub=news_minerbapabum &news_id=1063. diakses tanggal 7 April 2009
Pongkor (UBPEP) mendapatkan kuasa pertambangan (KP) sekaligus izin KP eksploitasi sejak 10 April 1992 untuk jangka 30 tahun. Kawasan KP ini semula seluas 4058 hektar kemudian diperluas menjadi 6047 hektar yang terdiri atas Taman Nasional Gunung Halimun, lahan Perhutani, dan lahan masyarakat. Bersamaan dengan perluasan itu pula pada tahun 2000, status PT A yang semula
cost center menjadi profit center (Zulkarnaen, 2009).
Proses masuknya PT A pertama kali juga ikut diceritakan oleh salah seorang informan, Pak Aj. Pihak PT A datang dan menginap di kediamannya untuk melakukan survei di Gunung Pongkor terkait adanya indikasi kandungan emas di dalam Gunung Pongkor. Menurutnya, nama Pongkor hanya dijadikan nama industri pertambangan tersebut (PT A) karena survei awal yang dilakukan pihak pertambangan adalah di Kampung Pongkor berdekatan dengan wilayah Gunung Pongkor. Nyatanya, PT A lebih memusatkan eksplorasinya di wilayah Desa Bantar Karet diantaranya Kampung Ciurug (tahun 1997), Ciguha, dan Kubang Kicau. Ketiga kampung tersebut adalah urat kuarsa yang mengandung emas dan perak.
Berkaitan dengan pembebasan lahan, menurut Pak Dd masyarakat tidak mengalami permasalahan dengan PT A. Hal ini karena PT A, dalam usaha melebarkan eksplorasinya telah membeli lahan dengan masyarakat secara langsung. Lahan yang dibeli oleh PT A adalah lahan yang letaknya bersebelahan dengan Desa Bantar Karet seperti Sorongan. Seperti penuturan Pak H. Aj yang menjual tanahnya:
“Saya dulu punya lahan seluas 3 hektar 600 akre di dekat Sorongan. Tetapi pas ANTAM masuk, mereka mau beli lahan saya seluas 2 hektar 400 akre. Katanya mereka mau dibikin buat jalan.”
6.2 Respon Masyarakat Tani
Masuknya pertambangan emas memunculkan respon yang berbeda dari masyarakat tani. Perbedaan ini dapat dilihat dari cakupan bidang tambang emas yang digeluti masing-masing responden berbeda. Dalam hal beraktivitas di bidang pertambangan, petani dapat dibagi dua yakni petani yang bekerja secara resmi dengan PT A atau petani yang bekerja secara sembunyi-sembunyi untuk ikut menekuni pertambangan mulai dari aktif langsung masuk ke lubang-lubang tambang hingga ke pemrosesan batuan hasil tambang. Dalam perkembangannya, pertambangan mewarnai dinamika agraria Kampung Pongkor.
Tahun-tahun pertama saat PT A masuk beberapa masyarakat bekerja sebagai buruh di PT A atau melakukan kerja sama dengan PT A dalam pengadaan barang yang mereka (responden) katakan dengan membuka CV seperti yang dilakoni oleh Pak Aj pada masa sebelum krisis moneter. Tidak hanya membuka CV, menurut Pak Sp, kebanyakan dari warga di Kampung Pongkor khususnya laki-laki ikut bekerja sebagai buruh pikul di PT A. Biasanya warga bekerja dengan sistem borongan, sistem ini merupakan sistem borongan diketuai oleh salah seorang warga (salah satunya Pak Aj) yang membuka CV dan bekerja secara kontrak dengan PT A
Bidang pekerjaan lain yang berhubungan dengan PT A adalah petugas keamanan (security) seperti yang dilakukan oleh Pak Yy. Ia memilih pekerjaan sebagai petugas keamanan (security) di PT A yang dibayar sejumlah Rp. 600.000 per bulan. Ada pula yang bekerja sebagai karyawan tetap di kantor PT A seperti yang dilakukan oleh Pak Iy dan Pak As bekerja hingga sekarang.
Di penghujung tahun 1994-1995 mulai banyak warga pendatang masuk ke wilayah Kampung Pongkor. Mereka kebanyakan datang dari Cikotok, Sukabumi dan sekitarnya, bahkan hingga Kalimantan. Kondisi masyarakat Kampung Pongkor lambat laun mengalami pergeseran dalam tata cara pemenuhan kebutuhan hidup. Pergeseran kebutuhan untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik berimplikasi pada pekerjaan dengan hasil yang lebih banyak. Warga pendatang yang menginap di rumah-rumah penduduk serta komunikasi yang intens berkaitan dengan pekerjaan tambang membuat sejumlah petani merespon positif pekerjaan yang dilakoni para pendatang. Tidak sedikit dari petani yang memutuskan untuk berhenti bekerja secara resmi di PT A. Berikut ini tabel bidang yang dilakukan oleh petani akibat masuknya pertambangan.
Tabel 5. Kepemilikan Lahan dan Pilihan Menambang
No. Responden Kepemilikan Lahan Saat ini
Menekuni Tambang Luasan Lahan (ha) Persentase Responden yang Mengikuti Tambang menurut Luasan Lahan Ya Tidak 1 Yy 80 liter sawah dan 40x80 m kebun √ ≥ 2 50% 2 Ab > 2 ha sawah dan kebun √ 3 Aj 1 ha 200 acre kebun √ 1,51 – 1,99 75% 4 Rh 60 gedeng sawah dan 1 ha kebun √ 5 Wn 1,51 – 1,99 ha sawah dan kebun √ 6 Ng 1,51 – 1,99 ha kebun √ 7 Ajm 1 – 1,5 ha sawah dan kebun √ 1 – 1,50 60% 8 St 40 liter sawah dan 5500 m kebun √ 9 Jh 2 gedeng sawah dan 1 ha kebun √ 10 Iy 200 gedeng √
sawah 11 Pr 1 ha sawah dan kebun √ 12 Sf 0,51 – 0,99 ha sawah √ 0,51 – 0,99 37,5% 13 As 0,51 – 0,99 ha sawah √ 14 Iys 0,51 – 0,99 ha sawah √ 15 Tt 0,51 – 0,99 ha kebun √ 16 Hm 0,51 – 0,99 ha sawah √ 17 Ajm 0,51 – 0,99 ha √ 18 Aw 0,51 – 0,99 ha sawah √ 19 Jj 0,51 – 0,99 ha sawah √ 20 Uj ≤ 5 ha kebun √ ≤ 5 71,4% 21 Am ≤ 5 ha sawah √ 22 Jy ≤ 5 ha sawah √ 23 Ed ≤ 5 ha sawah √ 24 Nc ≤ 5 ha kebun √ 25 Uc ≤ 5 ha sawah √ 26 Sr ≤ 5 ha kebun √ TOTAL 15 11 % 57,70 42,30
Sumber: Data Primer 2009, diolah
Pada Tabel 6 jumlah responden (26 orang) sudah dipisahkan menjadi 15 orang responden. Pada Tabel 6 jumlah responden (26 orang) sudah dipisahkan menjadi 15 orang responden.
Tabel 6. Responden dan Bidang Tambang6 yang Dilakukan
No Responden
Bidang Tambang Gurandil Pemilik Mesin
Glundungan Gebos Emas Pemodal
1 Yy √ √ √ 2 Aj √ √ 3 Rh √ √ √ √ 4 Wn √ √ 5 Ajm √ 6 Iy √ 7 Pr √ √ √ 8 Tt √ √ 9 Hm √ √ 10 Aw √ √ 11 Uj √ 12 Am √ 13 Jy √ √ 6
Bidang tambang yang dilakukan tidak berhubungan (dan cenderung tidak harmonis) dengan PT A. sebuah pekerjaan yang tidak resmi dari PT A.
14 Nc √
15 Uc √
TOTAL 8 15 1 4
% 53,33 100 6,66 26,64
Sumber: Data Primer 2009, diolah
Tabel 6 menunjukkan bidang tambang yang digeluti oleh responden yang memilih ikut di sektor pertambangan memperlihatkan 53,33 persen adalah responden yang bekerja sebagai gurandil (penambang emas liar/ Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) menurut versi hukum formal). Responden yang memilih sebagai pemodal sebesar 26.64 persen dilanjutkan dengan persentase terkecil yaitu 6,66 persen responden yang bekerja sebagai gebos, yaitu usaha mengolah emas menjadi emas murni dengan cara tradisional.
Persentase terbesar adalah dari responden yang menekuni pertambangan adalah di bidang pengolahan emas menggunakan mesin gelundungan. Seluruh responden berjumlah 15 orang yang menekuni pertambangan menjawab memiliki mesin gelundungan di rumahnya. Mesin ini sangat berguna karena lumpur/pasta yang dihasilkan dari olahan batu masih dapat diambil emasnya hingga setahun lamanya dengan beberapa kali proses atau sampai kandungan emas dari pasta yang dihasilkan semakin habis. Pertimbangan tersebut paling tidak responden masih tetap dapat menghasilkan uang setiap harinya.
Menurut Pak Jy, setiap harinya Ia dapat mengantongi uang sebesar Rp 40.000 hingga Rp 100.000 dari hasil menggelundung emas, penghasilan ini didapat dari sisa lumpur emas. Pendapatan lebih besar lagi apabila dihasilkan dari proses pertama. Para pemilik mesin gelundungan mendapatkan uang sekitar Rp 300.000 per gram emas. Mesin ini tidak hanya dipakai sendiri tetapi juga disewakan. Pembayaran dihitung dari lama waktu yang sudah digunakan dan pemilik mesin mendapatkan uang sewa tersebut.
6.3 Faktor yang Mempengaruhi Respon Petani
6.3.1 Faktor Eksternal yang Mendorong Petani Memilih Pertambangan 6.3.1.1 Letak Geografis
Berdasarkan keterangan Pak Ajm, PT A pertama kali melakukan survey demi menemukan batuan berkandungan dilakukan di Kampung Pongkor, tepat di tempat Pak Ajm tinggal saat ini untuk dijadikan tempat bermalam bagi geolog PT A. Belakangan, PT A memusatkan eksplorasi terkait penambangan emas di Desa Bantar Karet. Wilayah eksplorasinya sendiri berdekatan dengan Kampung Pongkor yang dipisahkan oleh sungai Cikaniki. Peneliti sempat melakukan perjalanan mengikuti jalan yang biasa dilakukan gurandil dan buruh angkut untuk melakukan kegiatan penambangan. Jika diukur, jarak antara Kampung Pongkor dan Gunung Butak tempat eksplorasi PT A hanya berjarak 1 km yang dapat dilalui dengan berjalan kaki selama ± 30 menit. Kondisi serta letak yang mendukung dilakukannya perjalanan menggurandil ini sangat mendukung bagi para gurandil dan buruh angkut melakukan aktivitasnya sehari-hari.
6.3.1.2 Warga Pendatang dan Oknum Aparat
Letak geografis yang mendukung untuk mengakses bahan tambang juga berlaku bagi warga pendatang yang memanfaatkan Kampung Pongkor sebagai wilayah yang strategis untuk dijadikan tempat tinggal. Intensitas mobilisasi warga pendatang cukup sering ke wilayah Pongkor yang dijadikan warga pendatang termasuk daerah “aman”7 untuk tempat persinggahan. Profesi yang dilakukan
7
Seperti yang telah dijelaskan pada Bab IV bahwa Desa Cisarua merupakan daerah lalu lintas yang cukup aman bagi para pelaku penambangan tanpa harus khawatir diketahui pihak PT A. Kampung Pongkor menjadi salah satu tempat persinggahan mereka.
warga pendatang berbeda-beda menurut keahliannya. Pekerjaan tersebut diantaranya sebagai gurandil, jawara8, dan buruh angkut.
Pendatang yang datang dari tahun ke tahun semakin ramai mengunjungi, bahkan menginap di salah satu rumah penduduk. Tak jarang mereka menjadi buruh dari warga asli Pongkor yang menekuni tambang tetapi memilih tidak terjun langsung. Masyarakat Pongkor kemudian menjadi pemodal bagi warga pendatang. Seperti yang dilakukan Pak Yy dan Pak Rh, mereka menjadi pemodal bagi warga pendatang yang menumpang di rumahnya. Sebagai pemodal, Pak Yy memodali warga pendatang sejumlah uang untuk perbekalan sebesar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 selain itu Pak Yy juga menanggung buruh upah angkut beban9 sebesar Rp 100.000. Beban berupa batuan diproses di mesin gelundungan milik Pak Yy dan para pemodal lain. Hasil yang didapatkan kemudian dibagi dua dengan warga pendatang. Jika beruntung dalam 1 beban Pak Yy dapat mengantongi uang Rp 500.000. Pak Yy mengaku selain mengandalkan hasil
beban dari diproses pertama, Pak Yy juga masih dapat memproses lumpur
tersebut hingga beberapa kali sampai batuan tidak lagi mengandung emas.
Jawara dalam hal ini berperan besar dalam menjaga “stabilitas” dan “keamanan” para gurandil yang sedang mengambil emas di tiap lubang tambang. Selain jawara, hadir pula oknum aparat keamanan yang dibayar oleh para gurandil untuk menjaga lubang galian agar tidak diketahui oleh petugas dari PT A. Warga pendatang dengan berbagai profesi serta ”tersedianya” oknum polisi untuk mengamankan lubang galian ini pula yang menjadi pemicu keberanian dan rasa aman bagi para masyarakat tani untuk ikut menambang emas.
8
Jawara merupakan istilah yang dipakai masyarakat Pongkor kepada orang yang menguasai dan menjaga lubang galian.
9
6.3.1.3 Pasar
Pasar dimaknai sebagai adanya kemudahan dalam melakukan transaksi di kegiatan menambang. Atmosfir di Kampung Pongkor cukup mendukung bagi berjalannya pasar tambang. Beberapa keadaan yang mendukung seperti mudahnya menukarkan hasil olahan emas ke penadah emas. Pak Rh misalnya, Ia merupakan salah satu orang yang terkenal dalam hal membeli emas. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan, tidak hanya bagi masyarakat asli yang datang menemui Pak Rh ingin menukarkan batuan emas miliknya dengan sejumlah uang tetapi juga warga pendatang yang ingin membeli emas dan perak darinya.
Selain penadah yang mudah dijumpai di Kampung Pongkor, mesin gelundungan sebagai alat pemrosesan juga mudah didapatkan. Jika tak ingin terlalu jauh, Leuwiliang yang termasuk ke dalam sentra pembuatan mesin gelundungan menjadi alternatif masyarakat petani Kampung ini untuk membeli mesin tersebut. Pola jual beli yang semakin mudah dengan jarak yang terjangkau karena masih di daerah yang sama membuat bisnis di bidang pertambangan semakin lebih mudah dilakukan.
6.3.1.4 Dukungan Aparat Desa
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan aparat desa setempat, aparat desa termasuk ke dalam orang yang mendukung hadirnya gurandil dan pelaku penambang lain yang hadir di Desa Cisarua. Didapatkan informasi bahwa menurutnya, kondisi yang semakin membaik di wilayah Pongkor dan Desa Cisarua secara umum salah satunya akibat peran dari gurandil dan para pelaku yang menekuni pertambangan. Dalam hal pendidikan, para pelaku yang aktif di
pertambangan setidaknya dapat menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang menengah akhir (SMA), bahkan ada yang hingga bangku kuliah. Dilihat dari pendapatan juga jauh berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya bekerja di sektor pertanian. Pendapatan yang semakin baik itu pula yang merubah kondisi tiap rumah yang dihuni oleh para penekun tambang. Tahun 1990-1992 rumah-rumah di sekitar Desa dan Kampung Pongkor masih beratapkan daun kiray, namun seiring masuknya tambang dan peralihan profesi lambat laun keadaan ekonomi termasuk kondisi rumah semakin membaik. Berikut ini penuturan salah satu aparat desa Cisarua (Pak Dd):
“Memang jika dilihat dari segi lingkungan gurandil juga ikut
mencemarkan lingkungan tetapi gurandil juga memiliki andil besar di wilayah ini (Desa Cisarua). Mensejahterakan Desa tidak mungkin bisa mengandalkan daripemerintah saja, gurandil tidak jelek semua. Mereka juga ikut mensejahterakan lewat pendidikan (untuk anak-anaknya).”
Selain perbaikan ekonomi, menurut Pak Dd, gurandil juga berperan dalam perbaikan jalan, Ia membuat perbandingan kasar atas peran yang dilakukan para gurandil dan PT A.
“Kalau dari segi sosial bisa dibandingkan peran guradil dan PT A itu
perbandingannya 40:20. Guradil lebih banyak berperan daripada PT A di sini.”
6.3.2 Faktor Internal yang Mendorong Petani Memilih Pertambangan
Sektor pertambangan setidaknya sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat Kampung Pongkor khususnya masyarakat yang awalnya bekerja di ranah pertanian. Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat ditambah sektor pertambangan emas yang menggiurkan secara ekonomi adalah latar belakang responden beralih ke sektor pertambangan emas. Saat ini, paling tidak setiap harinya dari hasil menggelundung emas responden dapat mengantongi uang
sedikitnya Rp 40.000 per hari. Pilihan ini sudah dilakukan sejak mulai masuknya warga pendatang yang sudah terlebih dahulu menekuni pertambangan serta harga emas yang tinggi saat sebelum krisis moneter tahun 1998. Pertimbangan dan dorongan ekonomi menjadi pemicu responden ikut untuk menekuni pertambangan.
Faktor umur juga menjadi faktor internal masyarakat tani memilih pertambangan. Berdasarkan pengamatan peneliti, kecenderungan masyarakat tani yang ikut memilih pertambangan berada pada umur muda atau produktif. Memilih ikut menekuni pertambangan tidak hanya berasal dari responden yang dipilih peneliti melainkan juga di luar responden. Kaum muda menganggap pekerjaan tambang adalah pilihan mata pencaharian dibandingkan harus mengurus sawah milik orang tua mereka.
6.3.3 Faktor Eksternal yang Mendorong Petani Tetap Memilih Pertanian Beberapa faktor eksternal faktor alam yang tidak stabil, resiko disergap
oleh patroli PT A dan pencemaran lingkungan. Meskipun dari responden, hanya
satu orang yang mengatakan bahwa kegiatan penambangan berikut proses pengolahan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Alasan ini diungkapkan menyikapi semakin banyaknya masyarakat, tidak hanya masyarakat tani, yang memproses emas secara amalgamasi menggunakan kuik atau air raksa (Hg). Salah seorang guru SD menyebutkan air yang diminum warga Desa Cisarua memiliki kemungkinan yang besar telah terjadi pencemaran. Terlebih jika penduduk menggunakan air tanah (sumur) untuk minum sehari-hari sementara sumur
tersebut bersebelahan dengan proses mendapatkan batuan emas dengan mesin penggelundung.
Faktor alam yang tidak stabil ini ditandai dengan sering terjadinya longsor di lubang-lubang galian di Gunung Butak tempat penambangan. Resiko kematian menjadi taruhannya jika tetap ingin menggali emas dengan resiko longsor dan kehabisan napas. Faktor lain adalah kekhawatiran adanya pemeriksaan yang dilakukan petugas dari PT A yang kerap berpatroli di sekitar lubang-lubang galian. Apabila kedapatan oleh petugas PT A bukan uang yang didapatkan melainkan para gurandil ini seringkali harus menebus uang sebesar Rp 1- 2 juta per orangnya. Beberapa faktor eksternal inilah yang menjadi pertimbangan masyarakat petani untuk tidak ikut terjun ke pertambangan emas.
6.3.4 Faktor Internal yang Mendorong Petani Tetap Memilih Pertanian Responden yang tetap setia dengan sektor pertanian karena faktor internal memiliki beberapa alasan salah satunya tidak mahir dalam bertambang
(gurandil). Hanya satu orang responden yang mengatakan bahwa sektor
pertambangan tidak lebih berkelanjutan (sustain) daripada pertanian yang cenderung konstan. Berdasarkan wawancara mendalam dan didukung data kuantitatif pada Tabel 8, beberapa latar belakang (yang menarik), responden yang tidak menekuni pertambangan dimulai dari responden yang memiliki lahan ≥ 2 hektar. Pak Ab termasuk sesepuh di kampung ini dan sudah berusia lanjut oleh karenanya tidak menekuni tambang. Pak Ng yang berada di kepemilikan lahan seluas 1,51 – 1,99 hektar memilih tetap di pertanian selain karena ketidakmahirannya menekuni tambang juga karena kecintaannya terhadap