72
COST OF ILLNESS PASIEN HEMOFILIA A
DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
Umi Nafisah
Program Studi Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta Jl. KH. Samanhudi 31, Mangkuyudan, Surakarta
Abstrak
Hemofilia merupakan salah satu penyakit katastropik, suatu penyakit yang berbiaya tinggi yang secara komplikasi dapat membahayakan jiwa serta membutuhkan rentang waktu pengobatan yang panjang. Dalam studi cost of illness dilakukan pengukuran beban ekonomi dari suatu penyakit pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya penyakit hemofilia berdasarkan perspektif rumah sakit dan mengetahui adanya pengaruh inhibitor terhadap biaya penyakit.Penelitian ini merupakan penelitian analitik noneksperimental. Data yang digunakan diambil secara retrospektif dari rekam medik pasien hemofilia selama periode September 2014 – Agustus 2015 dan dari bagian keuangan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Studi ini dilakukan berdasarkan perspektif rumah sakit dengan pendekatan prevalensi. Analisis deskriptif, digunakan untuk memaparkan besar total biaya penyakit hemofilia, komponen-komponen biaya yang menyusun dan memiliki kontribusi terbesar pada biaya penyakit hemofiliaEstimasi biaya rawat jalan selama satu tahun pada pasien hemofilia A tanpa inhibitor adalah Rp 213.033.935,85 ± 116.829.978,92, hemofilia A ringan dengan inhibitor 57,6 BU Rp. 443.233.667,00 , hemofilia A berat dengan inhibitor 23,36 BU Rp. 348.179.400,00. Biaya Penyakit Hemofilia A dengan inhibitor lebih tinggi dibandingkan tanpa inhibitor.
Kata Kunci : Cost of Illness, perspektif rumah sakit, hemofilia A, inhibitor.
I. PENDAHULUAN
Salah satu penyakit yang membutuhkan biaya yang tinggi dan membutuhkan rentang waktu pengobatan yang panjang serta secara komplikasi dapat membahayakan jiwa adalah hemofilia. Hemofilia merupakan penyakit kelainan pendarahan yang diturunkan, yaitu ketika pasien mengalami pendarahan maka akan sulit untuk dihentikan. Frekuensi angka kejadian hemofilia adalah sekitar 1 berbanding 10.000 angka kelahiran, dimana angka kejadian hemofilia A lebih banyak daripada hemofilia B, yaitu sekitar 80-85% dari total populasi hemofilia (Srivastava dkk., 2013). Menurut Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia jumlah penderita hemofilia di Indonesia telah mencapai dua puluh ribu orang, dengan rasio angka kejadian hemofilia 1:10.000 pada tahun 2012. Ada kemungkinan pasien telah meninggal sebelum terdiagnosis (Pusat Data dan Informasi - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
II. TINJAUAN PUSTAKA
Penderita hemofilia membutuhkan pengobatan sepanjang hidup dengan
menggunakan faktor pembekuan darah untuk mengelola frekuensi kejadian pendarahan dan menurunkan resiko kerusakan sendi (serta kerusakan organ potensial lainnya) yang
membutuhkan pembedahan dan atau
mengakibatkan mobilitas yang terbatas. Pencegahan pendarahan dengan menggunakan faktor konsentrat menjadi pedoman standar dalam pengobatan hemofilia (O’Mahony dkk., 2010).
Hemofilia merupakan penyakit yang berbiaya tinggi, tidak hanya dari sisi biaya langsungnya saja (biaya pengobatan) tetapi juga dari segi biaya tidak langsung (Zhou dkk., 2015).Biaya pertahun pada penderita hemofiia termasuk didalamnya adalah biaya konsentrat faktor dan fasilitas kesehatan yang digunakan, pada pasien hemofilia dengan inhibitor membutuhkan biaya paling tinggi dibandingkan dengan pasien hemofilia tanpa inhibitor(Armstrong dkk., 2014). Rata-rata biaya penderita hemofilia dengan inhibitor lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan penderita hemofilia tanpa inhibitor (Guh dkk., 2012).
Analisis biaya penyakit (cost of illness) merupakan suatu bentuk evaluasi beban
73 ekonomi dari suatu penyakit meliputi seluruh sumber daya pelayanan kesehatan yang dikonsumsi dan untuk menghitung berapa jumlah maksimum yang dapat dihemat ketika suatu penyakit dapat diatasi.Analisis biaya penyakit (cost of illness) dapat memberikan gambaran kepada pembuat keputusan pada suatu keadaan dimana pengeluaran tidak sesuai dengan biaya riil dan dapat digunakan untuk merencanakan kebijakan cost containment, karena studi ini memberikan gambaran kepada pembuat keputusan secara menyeluruh dan lebih penting lagi komponen biaya utama (Andayani, 2013; Segel, 2006).
III. METODEPENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik noneksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional. Data yang digunakan diambil secara retrospektif yang berasal dari rekam medik pasien hemofilia selama periode September 2014 – Agustus 2015 dan dari bagian keuangan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Cakupan biaya dalam studi yang dilakukan adalah biaya medik langsung. Studi ini dilakukan berdasarkan perspektif rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan, dengan menggunakan pendekatan prevalensi.
Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh populasi pasien hemofilia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode bulan September 2014 – Agustus 2015 yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.
Kriteria inklusi subyek penelitian meliputi :
1. Semua pasien rawat jalan hemofilia A 2. Pasien hemofilia dengan atau tanpa
inhibitor
3. Pasien hemofilia dengan data rekam medik dan data pembiayaan yang lengkap.
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :Pasien dengan penyakit HIV-AIDS. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medik pasien dan rincian biaya medik langsung selama pengobatan untuk mengetahui biaya perawatan pasien hemofilia di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta periode September 2014 – Agustus 2015.
2. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Lembar pengumpul data pasien hemofilia yang berisi karakteristik pasien, meliputi nomor rekam medis, jenis kelamin, umur, tipe hemofilia, adanya inhibitor, cara pembayaran, kelas perawatan, lama perawatan.
b. Lembar pengumpul data biaya pengobatan pasien hemofilia, meliputi biaya administrasi, biaya jasa pelayanan medik, biaya tindakan medik, biaya penunjang medik, biaya obat dan barang medik, biaya akomodasi (kelas dan lama rawat inap).
Variabel Penelitian
1. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah biaya medik langsung
2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur pasien, jenis kelamin, tipe hemofilia, tingkat keparahan dan adanya inhibitor pada hemofilia.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta pada pasien penderita hemofilia A dengan kode IC10 D-66mempunyai jumlah pasien yang memenuhi
kriteria inklusi sejumlah 22
pasien.Berdasarkan jenis kelamin, pasien penderita hemofilia adalah laki-laki (100%).
Pengelompokan penderita hemofilia berdasarkan umur pasien, didapatkan pasien penderita hemofilia A dengan usia < 15 tahun berjumlah 9 orang (40,91%), sedangkan usia > 15 tahun berjumlah 13 pasien (59,09).
Karakteristik pasien berdasarkan tingkat keparahan penyakit, pasien yang menderita hemofilia A ringan dengan kadar F VII antara 5 – 40 IU/dl berjumlah 2 orang (9,09%), hemofilia A sedang dengan kadar F VII antara 1 – 5 IU/dl berjumlah 12 orang (54,55%), dan hemofilia A berat dengan kadar F VII < 1 IU/dl berjumlah 8 orang (36,36%). Jumlah penderita hemofilia dengan inhibitor sebanyak 2 pasien (5,71%), yaitu dari kelompok pasien dengan hemofilia A ringan dan hemofilia A berat.
74 Tabel 1. Karakteristik Pasien Penderita
Hemofilia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode September 2014 –
Agustus 2015 Karakteristik Pasien Jumlah Pasien Persentase Total Pasien Jenis Kelamin Laki-laki 22 100 22 Perempuan 0 0 Umur Pasien < 15 tahun 9 40,91 22 > 15 tahun 13 59,09 Tingkat Keparahan Ringan 2 9,10 22 Sedang 12 54,54 Berat 8 36,36 Inhibitor Ringan 1 50 2 Sedang 0 0 Berat 1 50
Biaya Penyakit Hemofilia
Besaran direct medical cost pada cost of illness pasien hemofilia rawat jalan merupakan hasil perhitungan dari biaya administrasi, biaya pelayanan medik, biaya tindakan medik, biaya penunjang medik, serta biaya obat dan barang medik dari setiap episode perawatan untuk sekali rawat jalan pasien hemofilia selama satu tahun. Dalam penelitian ini, diasumsikan bahwa pasien hemofilia melakukan kontrol rutin penyakitnya setiap bulan, sehingga jika terdapat data pasien hemofilia yang tidak rutin melakukan kontrol maka data yang diperoleh akan dibagi dengan jumlah bulan pasien melakukan kontrol dan dikalikan dengan 12 bulan, kecuali untuk biaya penunjang medik (laboratorium) tidak dikalikan dengan 12 bulan.
Berdasarkan tabel 2, estimasi biaya administrasi yang merupakan biaya untuk keperluan administrasi pasien termasuk didalamnya biaya pendaftaran pasien. Estimasi biaya jasa pelayanan medik yang meliputi biaya konsultasi dan biaya pelayanan dokter. Estimasi biaya tindakan medik merupakan sejumlah biaya yang timbul dari tindakan tenaga medis dalam perawatan pasien, meliputi biaya tindakan operatif dan non operatif. Biaya tindakan medik yang timbul pada pasien hemofilia adalah
kemoterapi, perawatan luka kompleks, transfusi, bedah orthopedi, fisioterapi (rehabilitasi medik), injeksi, dan premedikasi.Estimasi biaya penunjang medik merupakan sejumlah biaya untuk keperluan penegakan diagnosa terhadap penyakit hemofilia yang meliputi pelayanan patologi klinik (pemeriksaan darah lengkap otomatis, pemeriksaan faktor VIII dan faktor IX, Ppt, Aptt), dan pelayanan radiodiagnostik.
Estimasi biaya obat dan barang medik merupakan biaya yang terkait dengan penggunaan obat, alat kesehatan dan barang medik.
Tabel 2. Estimasi Biaya Medik Langsung Penyakit Hemofilia Tipe A Rawat Jalan Selama
Satu Tahun di RSUP Dr. Sardjito Periode September 2014 – Agustus 2015 Komponen Biaya n Rata-rata (Rp) SD Persen tase (%) Hemofilia A Ringan Administrasi 1 316.800 0 0,22 Pelayanan medik 1 1.728.000 0 1,20 Tindakan medik 1 312.000 0 0,22 Penunjang medik 1 175.000 0 0,12
Obat dan barang medik
1 141.319.320 0 98,24
143.851.120 100
Hemofilia A Ringan dengan Inhibitor
Administrasi 1 528.000 0 0,12
Pelayanan medik 1 2.720.000 0 0,61
Tindakan medik 1 430.667 0 0,10
Penunjang medik 1 900.000 0 0,20
Obat dan barang medik 1 438.655.000 0 98,97 443.233.667 100 Hemofilia A Sedang Administrasi 1 2 264.801 64.268 0,14 Pelayanan medik 1 2 1.381.579 377.25 3 0,73 Tindakan medik 6 2.160.086 2.748.3 64 1,14 Penunjang medik 3 1.356.333 1.632.0 22 0,72
Obat dan barang medik 1 2 183.708.438 102.15 4.722 97,27 188.871.237 100 Hemofilia A Berat Administrasi 7 380.076 92.566 0,14 Pelayanan medik 7 1.903.275 492.28 5 0,70 Tindakan medik 4 6.329.977 6.674.0 91 2,34 Penunjang medik 5 1.107.700 962.46 1 0,41
Obat dan barang medik
7 261.151.862 138.16 1.435
96,41
270.872.890 100
Hemofilia A Berat dengan inhibitor
Administrasi 1 544.000 0 0,16
Pelayanan medik 1 2.600.000 0 0,75 Tindakan medik 1 13.822.000 0 3,97
Penunjang medik 1 175.000 0 0,05
Obat dan barang medik
1 331.038.400 0 95,07
75 Pada penyakit hemofilia, biaya obat dan barang medik merupakan biaya yang persentasenya paling tinggi dibandingkan dengan biaya yang lain, dimana biaya obat dan barang medik pada pasien penderita hemofilia berada pada 95,07% sampai dengan 98,97%. Hasil penelitian Kodra dkk (2014) menunjukkan bahwa obat yang merupakan direct health care costs mengambil persentase terbesar yaitu 98,14% pada pasien hemofilia. Pada pasien hemofilia A berat dan hemofilia B berat, biaya untuk faktor pembekuan darah lebih dari 90% dari total biaya pengobatan (Rocha dkk., 2015).
Tabel 3. Rata-rata Biaya Medik Langsung Penyakit Hemofilia A Dalam Satu Bulan Periode September 2014 – Agustus 2015 Tipe Hemofilia N Rata-rata (Rp) SD Ringan 1 12.008.010,00 0 Ringan dengan inhibitor 1 37.000.916,67 0 Sedang 12 15.825.795,35 8.361.372,22 Berat 7 22.389.994,05 11.320.039,75 Berat dengan Inhibitor 1 29.014.950,00 0
Tabel 4. Perbedaan Estimasi Biaya Selama Satu Tahun Penyakit Hemofilia A Tanpa
Inhibitor dan Hemofilia A Dengan Inhibitor Pasien Rawat Jalan Tipe Hemofilia N Rata-rata (Rp) SD Hemofilia A tanpa inhibitor 20 213.033.935,85 116.829.978 ,92 Hemofilia A dengan inhibitor 2 395.706.533,50 67.213.516, 77
Estimasi biaya pada pasien hemofilia A tanpa inhibitor dengan pasien hemofilia A dengan inhibitor (tabel 4) menunjukkan bahwa biaya penyakit pasien hemofilia A dengan inhibitor lebih tinggi dibandingkan dengan biaya penyakit pasien hemofilia A tanpa inhibitor. Biaya yang lebih tinggi pada pasien hemofilia A dengan inhibitor disebabkan karena kadar konsentrat faktor yang diperlukan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien hemofilia A tanpa inhibitor.
Hasil penelitian Rocha dkk (2015), terdapat perbedaan yang signifikan (p-value = 0,03) pada total biaya antara pasien hemofilia dengan inhibitor dan pasien hemofilia tanpa inhibitor. Biaya pada pasien dengan inhibitor lebih tinggi (€134,032) dibandingkan dengan pasien tanpa inhibitor (€40,138). Hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa konsumsi obat-obat anti hemofilia pada pasien dengan inhibitor secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa inhibitor (p-value = 0,02), dimana konsumsi obat-obatan untuk pasien dengan inhibitor adalah 3,110 ± 1,997 euros/kg/tahun dan konsumsi obat-obatan untuk pasien tanpa inhibitor adalah 1,626 ± 1,684 euros/kg/tahun (Nerich dkk., 2008).
V. PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Hemofilia merupakan penyakit yang mempunyai beban biaya tinggi. Rata-rata biaya hemofilia A tanpa inhibitor rawat jalan dalam satu tahun adalah Rp. 213.033.935,85 ± 116.829.978,92, hemofilia A ringan dengan inhibitor 57,6 BU Rp. 443.233.667,00, hemofilia A berat dengan inhibitor 23,36 BU Rp.348.179.400,00.Biaya penyakit hemofilia dengan inhibitor lebih tinggi daripada hemofilia tanpa inhibitor. Rata-rata biaya pada pasien hemofilia A dengan inhibitor adalah Rp. 395.706.533,50 ± 67.213.516,77 dan hemofilia A tanpa inhibitor adalah Rp. 213.033.935,85 ± 116.829.978,92.
Saran
Bagi rumah sakit perlu dilakukan evaluasi mengenai pelayanan terhadap pasien hemofilia terutama pada pemberian obat-obatan hemofilia (konsentrat faktor). Pengambilan konsentrat faktor yang berulang perlu dipertanyakan kepada pasien penderita hemofilia. Hal ini disebabkan karena pasien benar-benar membutuhkan konsentrat faktor, karena aktivitas fisik pasien penderita hemofilia, karena penyimpanan obat yang tidak tepat sehingga konsentrat faktor rusak, atau disebabkan oleh faktor yang lain. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai biaya penyakit hemofilia di rumah sakit lain, untuk dapat dilakukan perbandingan dengan di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.
76 DAFTAR PUSTAKA
Andayani, T.M., 2013. Farmakoekonomi Prinsip Dan Metodologi. Bursa Ilmu, Yogyakarta.
Guh, S., Grosse, S.D., McALISTER, S., Kessler, C.M., dan Soucie, J.M., 2012. Healthcare expenditures for males with haemophilia and employer-sponsored insurance in the United States, 2008. Haemophilia, 18: 268–275.
Kodra, Y., Cavazza, M., Schieppati, A., Santis, M.D., Armeni, P., Arcieri, R., dkk., 2014. The Social Burden and Quality of Life of Patients with Haemophilia in Italy. Blood Transfus, 12: .
Nerich, V., Tissot, E., Faradji, A., Demesmey, K., Bertrand, M.A., dan Lorenzini, J.L., 2008. Cots-of-illness study of severe haemophilia A and B in five French haemophilia treatment centres. Pharm World Sci, 30: 287–292.
O’Mahony, B., Noone, D., dan Tolley, K., 2010. An Introduction To Key Concepts In Health Economics For Hemophilia Organizations. World Federation Of Hemophilia, , Hemophilia Organization Development 11: .
Pusat Data dan Informasi - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia', , 2015. URL:
http://www.pusdatin.kemkes.go.id/article /view/15042000001/hari-hemofilia-sedunia.html (diakses tanggal 14/9/2015). Rocha, P., Carvalho, M., Lopes, M., dan
Araújo, F., 2015. Costs and utilization of treatment in patients with hemophilia. BMC Health Services Research, 15: Srivastava, A., Brewer, A.K.,
Mauser-Bunschoten, E.P., Key, N.S., Kitchen, S., Llinas, A., dkk., 2013. Guidelines for the
management of hemophilia.
Haemophilia, 19: e1–e47.
Zhou, Z.-Y., Koerper, M.A., Johnson, K.A., Riske, B., Baker, J.R., Ullman, M., dkk., 2015. Burden of illness: direct and indirect costs among persons with hemophilia A in the United States. Journal of Medical Economics, 18: 457– 465.