• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hotmelinsa Situmorang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hotmelinsa Situmorang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Hal: 344-349

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Ketua Koperasi Pada Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Sumatera Utara Menggunakan Metode

Promethee II

Hotmelinsa Situmorang

Program Studi Teknik Informatika, UniversitasBudi Darma, Medan, Sumatera Utara, Indonesia Abstrak

Ketua koperasi dipilih dari pegawai yang sudah masuk dalam anggota koperasi. Proses pemilihan ketua koperasi dilakukan dengan menginput data-data calon ketua koperasi, kemudian membandingkan kriteria-kriteria dari setiap alternatif. Pemilihan ketua koperasi tersebut dilakukan dengan menggunakan microsoft excel sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu Penulis menerapkan metode Promethee II dalam pemilihan ketua koperasi di Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara sehingga membantu dan mempercepat proses pemilihan ketua koperasi. Metode promethee II adalah metode untuk melakukan penentuan atau pengurutan dalam suatu analisis multikriteria secara efisien dan simple dalam menyelesaikan masalah, metode ini juga sangat mudah untuk diterapkan daripada metode lainnya. Dari pemilihan calon ketua koperasi di Kemenkumham maka akan menghasilkan ketua koperasi yang sessuai dengan kriteria sehingga mampu mengendalikan seluruh kegiatan koperasi, memimpin, mengoordinir dan mengontrol jalannya aktifitas koperasi dan bagian-bagian yang ada didalamnya.

Kata Kunci : Sistem Pendukung Keputusan, Promethee II, Ketua Koperasi

1. PENDAHULUAN

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau disingkat Kemenkumham adalah kementerian yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia.Kantor Wilayah (kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia merupakan instansi vertikal Kementerian Hukum dan Hak asasi Manusia yang berkedudukan di setiap provinsi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Ketua koperasi adalah orang-orang yang dipilih berdasarkan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan diangkat untuk mengelola koperasi. Koperasi Pengayoman Pegawai Departemen Kehakiman (KPPDK) unit Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara yang beralamat di Jl. Putri Hijau No.4 Medan, melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang merupakan agenda tahunan dalam koperasi sebagai media bagi pengurus dan pengawas dalam mempertangungjawabkan kinerjanya selama satu tahun buku serta bagi anggota untuk melakukan evaluasi dan pengambilan keputusan dalam usaha koperasi. Ketua koperasi memiliki tugas dan tanggung jawab baik didalam maupun diluar koperasi seperti mengendalikan seluruh kegitan koperasi, memimpin, mengkoordinir, dan mengontrol jalannya aktifitas koperasi dan bagian-bagian yang ada di dalamnya.

Ketua koperasi dipilih dari pegawai yang sudah masuk dalam anggota koperasi. Proses pemilihan ketua koperasi dilakukan dengan menginput data-data calon ketua koperasi, kemudian membandingkan kriteria- kriteria dari setiap alternatif. Kriteria-kriteria dalam pemilihan ketua koperasi yaitu: lama menjadi anggota, loyalitas, kemampuan manajerial, pengetahuan perkoperasian dan bertanggungjawab. Pemilihan ketua koperasi tersebut dilakukan dengan menggunakan microsoft excel sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Promethee II merupakan metode yang sederhana dengan proses perhitungan dan analisis yang jelas

sehingga diharapkan PrometheeII dapat memberikan solusi untuk permasalahan dalam memberi penilaian.

Promethee II adalah pengembangan dari metode PROMETHEE (Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation) dengan mempertimbangkan nilai netflow dalam proses perangkingan[1].Promethee merupakan salah satu metode Multi Criteria Decision Making (MCMD)yang berarti melakukan penentuan atau pengurutan dalam suatu analisis multikriteria.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan metode Promethee menunjukkan efektifitas yang baik dalam menyelesaikan masalah pendukung keputusan dengan multikriteria, metode ini juga sangat mudah untuk diterapkan daripada metode lainnya sehingga sangat efisien dan simple dalam menyelesaikan masalah.

Penulis menerapkan metode Promethee II berdasarkan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muhammad Wafi, Rizal Setya Perdana dan Wijaya Kurniawan pada tahun 2017 dengan judul “Implementasi Metode Promethee II untuk Menentukan Pemenang Tender Proyek” sangat membantu perusahaan dalam melakukan seleksi untuk tender proyek sebuah perusahaan[1]. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Mesran, Imam Saputra dan Melinda Ariska pada tahun 2017 dengan judul“Penerapan Metode PrometheeII Pada Sistem Layanan Dan Rujukan Terpadu(SLRT)” sangat membantu pemerintah untuk mengindetifikasi kebutuhan masyarakat miskin[2]. Berdasarkan dari kedua penelitian tersebut penulis menyimpulkan bahwa metodePromethee II sangat cocok diterapkan dalam menentukan masalah pemilihan.

2. TEORITIS

A. Sistem Pendukung Keputusan

Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System)adalah suatu sistem yang memiliki kemampuan dalam pemecahan masalah / komunikasi untuk kondisi masalah yang terstruktur maupun tidak terstruktur yang mempunyai peran dalam membantu pemecahan masalah dan tidak satupun yang mengetahui bagaimana keputusan yang seharusnya dibuat[1].

(2)

Hal: 344-349 B. Koperasi

Koperasi adalah sebuah organisasi yang beranggotakan orang yang ingin membuat usaha dan perusahaan sendiri untuk menghasilkan barang dan jasa.

Koperasi sebagai suatu sistem sosial untuk peningkatan kualitas ekonomi rakyat demi kepentingan bersama[4].

C. Metode Promethee II.

Metode Promethee II merupakan metode Multi Criteria Decision Making (MCMD) untuk melakukan penentuan atau pengurutan dalam suatu analisis multikriteria secara efisien dan simple dalam menyelesaikan masalah, metode ini juga sanagat mudah untuk diterapkan daripada metode lainnya[5]. Adapun langkah-langkah prosedural dalam metode Promethee II adalah sebagai berikut[6]:

a. Menormalisasi matriks keputusan.

Rij=[Xij − 𝑚𝑖𝑛(𝑋𝑖𝑗]/ [max (𝑋𝑖𝑗 − min (𝑋𝑖𝑗)]... (1) Dimana Xij adalah ukuran kinerjanya sesuai dengan kriteria j yang ada dan untuk nilai yang tidak yang tidak menguntungkan adalah sebegai berikut:

Rij=[maxXij − (𝑋𝑖𝑗]/ [max (𝑋𝑖𝑗 − min (𝑋𝑖𝑗)]... (2) b. Hitung fungsi preferensi, Pj (i, i’).

Pj(i, i’)= 0 jika Rij ≤ Ri’j ...(3) Pj(i, i’)= (Rij – Ri’j) jika Rij > Rij...(4) Dalam aplikasi real time akan sulit untuk mengambil keputusan untuk menentukan fungi prefensi spesifik dan untuk menghindari maslah maka digunakan persamaan diatas.

c. Hitung fungsi preferensi agregat dengan mempertimbangkan bobot kriteria.

π(i, i) = [∑𝑚𝑗=1𝑊𝑗. 𝑃𝑗(𝑖, 𝑖)]/ ∑𝑚𝑗=1𝑊𝑗 ...(5) d. Tentukan arus keluar dan arus outranking.

Aliran positif untuk alternatif:

𝜑(i) = 1

𝑛−1[∑𝑛𝑖=1𝜋(𝑖, 𝑖′]/ (i≠ 𝑖) ... (6) Arus negatif untuk alternatif:

𝜑(i) = 1

𝑛−1[∑𝑛𝑖=1𝜋(𝑖, 𝑖′]/ (i≠ 𝑖) ...(7) Dimana n adalah jumlah alternatif yang akan menghadapi(n - 1). Promethee II dapat memberikanpreorder lengkap dengan menggunakan aliran bersih, meskipun kehilangan banyak informasi tentang hubungan preferensi.

e. Hitung arus outrangking bersih untuk setiap alternatif.

𝜑(i) = 𝜑+(i) - 𝜑(i) ...(8) f. Menentukan rangking semua alternatif yang dipertimbangkan tergantung pada nilai 𝜑 (i). Jika nilai 𝜑 (i) lebih tinggi maka akan semakin bagus alternatifnya. Dalam pengambilan keputusan multi kriteriamaka digunakan metode promethee II. Dalam metode ini, perbandingan dua alternatif dilakukan untuk menghitung fungsi preferensi untuk setiap keriteria.

3. ANALISA

Analisa sistem disini ada dua tahap yaitu analisa sistem yang sedang berjalan (yang lama) dan analisa sistem yang baru. Dimana pada analisa sistem yang lama dicari permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan proses pemilihan ketua koperasi termasuk akar permasalahannya. Penelitian ini mengidentifikasi solusi-

solusi yang dapat diterapkan dan memilih solusi yang paling tepat. Pada Analisa sistem yang baru ini akan dilakukan untuk penggalian kebutuhan bagi Kemenkumham agar dapat memenuhi solusi yang tepat untuk dipilih.

A. Kriteria

Dalam Proses metode Promethee II memerlukan kriteria-kriteria yang akan dijadikan bahan perhitungan dan pertimbangan untuk mencapai perangkingan dalam pemilihan ketua koperasidi Kemenkumham. Adapun kriteria-kriteria yang menjadi bahan perhitungan dan pertimbangan dapat dilihat pada tabel 1 :

Tabel 1 Kriteria

Kriteria Keterangan C1 Loyalitas

C2 Lama menjadi anggota koperasi C3 Kemampuan manajerial C4 Pengetahuan perkoperasian

B. Alternatif

Data alternatif berperan penting dalam proses pemililihan calon ketua koperasi. Alternatif yang dipilih merupakan alternatif yang direkomendasikan oleh pihak Kemenkumham kota medan agar data tersebut lebih akurat dan terpercaya. Beberapa alternatif-alternatif yang dimaksud dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Data alternatif

Alternatif (A) Keterangan A1 Indah Rahayu M.H A𝟐 Lilik Sujandi M.Si A𝟑 Hialmar Purba, S.H A4 Simson Bangun, S.H

A5 Erno, S.H

A6 Irfan Riandy, S.Sos

C. Penerapan Metode PROMETHEE 2

Metode PROMETHEE merupakan salah satu metode yang efesien dan sederhana dalam proses penyelesaiannya, sehingga mudah diterapkan dalam menyelesaikan pengambilan keputusan pemilihan ketua koperasi dengan multikriteria. Permasalahan dari kriteria dalam metode PROMETHEE adalah penggunaan nilai yang berkaitan dengan outrangking. Metode PROMETHEE II dapat mengakomodasi pemilihan kriteria dari kuantitatif hingga kulitatif. Penerapan metode PROMETHEE II dalam menyelesaikan masalah pemilihan ketua koperasi, sehingga dapat menghasilkan hasil akhir dari pengambilan keputusan secara tepat dan akurat.

Langkah-langkah penyelesaian menggunakan metode PROMETHEE II sebagai berikut:

a. Menentukan normalisasi matriks keputusan

b. Menghitung perbedaan evaluatif dari alternatif dengan alternatif lainnya.

c. Menghitung fungsi preferensi

d. Menghitung fungsi preferensi gabungan dengan bobot.

e. Menentukan Entering Flow dan Leaving Flow dari outranking.

f. Menghitung total seluruh outranking (leaving dan entering flow) alternatif.

g. Melakukan perangkingan alternatif berdasarkan nilai outranking

(3)

Hal: 344-349 Berdasarkan Kriteria diatas maka rating kecocokan

yang di peroleh adalah :

Tabel 3. Rating Kecocokan

A C1 C2 C3 C4

A1 70 80 70 90 A2 20 70 80 80 A3 60 90 62 83 A4 50 61 73 61 A5 65 62 80 30 A6 80 62 80 61 Max 80 90 80 90 Min 20 61 62 30

Berdasarkan tabel kecocokan alternatif dan kriteria, maka matriks keputusan yang diperoleh adalah:

[

70 80 70 90

20 70 80 80

60 90 62 83

50 61 73 61

65 62 80 30

80 62 80 61]

Penentuan bobot preferensi (standart nilai) yang merupakan nilai bobot ketentuan yang diberikan oleh Kantor Wilayah Kemenkumham Medan dapat dilihat pada tabel 4

Tabel 4. Bobot W

Keterangan Bobot (w)

Loyalitas 15%

Lama menjadi anggota koperasi 30%

Kemampuan manajerial 30%

Pengetahuan perkoperasian 25%

Bobot = ( 0,15, 0,30, 0,30, 0,25 = 1 ) n = 4

Langkah 1 : Menentukan normalisasi matriks keputusan 𝑅𝑖𝑗= 𝑋𝑖𝑗− min (𝑋𝑖𝑗)

max (𝑋𝑖𝑗) − min (𝑋𝑖𝑗) Normalisasi matriks kolom 1

𝑅11=70 − 20 80 − 20= 50

60= 0.833 𝑅21=20 − 20

80 − 20= 0 60= 0 𝑅31=60 − 20

80 − 20= 40

60= 0,666 𝑅41=50 − 20

80 − 20= 30 60= 0.5 𝑅51=65 − 20

80 − 20= 45 40= 0.75 𝑅61=80 − 20

80 − 20= 60 60= 1 Dst...

Maka normalisasi matriks keputusan yang diperoleh sebagai berikut:

𝑋 = [

0.833 0.655 0.444 1 0 0.310 0.666 0,833

0.666 1 0 0,883

0.5 0 0.611 0.516

0.75 0.034 1 0

1 0.034 1 0.516]

Langkah 2 : Menghitung perbedaan evaluatif dari alternatif dengan alternatif lainnya.

Langkah 3 : Menghitung fungsi preferensi, 𝑃𝑗(𝑖, 𝑖).

𝑃𝑖𝑗(𝑖, 𝑖) = 0 𝑖𝑓 𝑅𝑖𝑗≤ 𝑅𝑖𝑗

𝑃𝑗(𝑖, 𝑖) = (𝑅𝑖𝑗− 𝑅𝑖𝑗) 𝑖𝑓 𝑅𝑖𝑗> 𝑅𝑖𝑗

Untuk A1,A2 : 0,833 ≤ 0 → (0,833 − 0) = 0,833 0,655 ≤ 0.310 → (0,655 − 0,310) = 0,345 0,444 ≤ 0,666 = 0

1 ≤ 0,833 → (1 − 0,833) = 0,167

Untuk A1,A3 : 0,833 ≤ 0,666 → (0,833 − 0,666) = 0,1 0,655 ≤ 1 = 0

0,444 ≤ 0 → (0,444 − 0) = 0,444 1 ≤ 0,883 → (1 − 0,883) = 0,117

Untuk A1,A4 : 0,833 ≤ 0.5 → (0,833 − 0.5) = 0,333 0,655 ≤ 0 = (0,655 − 0) = 0,655

0,444 ≤ 0,611 = 0

1 ≤ 0.516 → (1 − 0.516) =0,484

Untuk A1,A5 : 0,833 ≤ 0,75 → (0,833 − 0.75) = 0,083 0,655 ≤ 0,034 → (0,655 − 0.03) = 0,625 0,444 ≤ 1 = 0

1 ≤ 0 = 1

Untuk A1,A6 : 0,833 ≤ 1 = 0

0,655 ≤ 0.034 → (0,655 − 0.034) = 0,621 0,444 ≤ 1 = 0

1 ≤ 0,516 → (1 − 0.516) = 0,484 Dst...

Tabel 5. Fungsi Preferensi Semua Pasangan Alternatif

Alternatif C1 C2 C3 C4

A1, A2 0,833 0,345 0 0,167 A1, A3 0,167 0 0,444 0,117 A1, A4 0,333 0,655 0 0,484 A1, A5 0,083 0,625 0 1 A1, A6 0 0,621 0 0,484

A2, A1 0 0 0,222 0

A2, A3 0 0 0,666 0

A2, A4 0 0,310 0,055 0,317

A2, A5 0 0,276 0 0

A2, A6 0 0,276 0 0,317

A3, A1 0 0,345 0 0

A3, A2 0,666 0,69 0 0,05 A3, A4 0,166 1 0 0,573

A3, A5 0 0,966 1 0

A3, A6 0 0,966 0 0,367

A4, A1 0 0 0,167 0

A4, A2 0,5 0 0 0

A4, A3 0 0 0,611 0

A4, A5 0 0 0 0,516

A4, A6 0 0 0 0

A5, A1 0 0 0,556 0

A5, A2 0,75 0 0,334 1

A5, A3 0,666 0 0 0

A5, A4 0,25 0,034 0,389 0

A5, A6 1 0 0 0

A6, A1 0,167 0 0,556 0

A6, A2 0 0 0,334 0

A6, A3 0,334 0 0 0

A6, A4 0,5 0,034 0,389 0 A6, A5 0,25 0 1 0,516

Langkah 4 : Menghitung fungsi preferensi gabungan dengan bobot

𝜋(𝑖, 𝑖) =[∑𝑚𝑗=1𝑤𝑗× 𝑃𝑗(𝑖, 𝑖)]

𝑚𝑗=1𝑤𝑗 Untuk A1, A2 : (0,833 * 0,15) / 1 = 0,124

(0,345*0,30 ) / 1 = 0,103 (0 * 30) / 1 = 0

(0,167 * 0,25) / 1 = 0.25 Untuk A1, A3 : (0,167 * 0,15) / 1 = 0,250

(0 * 0,30) / 1 = 0

(0,444 * 0,30) / 1 = 0,1332 (0,117 * 0,25) / 1 = 0,029 Untuk A1, A4 : (0,333 * 0,15) / 1 = 0,049

(4)

Hal: 344-349 (0,655 * 0,30) / 1 = 0,196

(0 * 0,30) / 1 = 0

(0,484 * 0,25) / 1 = 0,121 Untuk A1, A5 : (0,083 * 0,15) / 1 = 0,012 (0,625 * 0,30) / 1 = 0,187 (0 * 0,30) / 1 = 0

(1* 0,25) / 1 = 0,25 Untuk A1, A6 : (0 * 0,15) / 1 = 0

(0,621 * 0,30) / 1 = 0,186 (0* 0,30) / 1 = 0

(0,484 * 0,25) / 1 = 0,121 dst...

Tabel 6. Fungsi Preferensi Gabungan

Tabel 7. Perhitungan Fungsi Preferensi Gabungan

Alternati

f A1 A2 A3 A4 A5 A6

Tota l

A1 - 0,47

7 0,41

2 0,33

6 0,44

9 0,30

7 1,981 A2

0,06

6 - 0,19

9 0,18

8 0,08

2 0,31

7 0,825 A3

0,10 3

0,31

8 - 0,46

7 0,58

9 0,38 1,857

A4 0,05 0,07

5 0,18

3 - 0,12

9 0 0,437

A5

0,16 6

0,46 2

0,09 9

0,16

3 - 0,15 1,04

A6

0,49

1 0,1 0,05 0,11

6 0,46

6 - 1,223

Total 0,87 6

1,42 3

0,94

3 1,27 1,71 5

1,15 4

Langkah 5 : Menentukan Entering Flow dan Leaving Flow dari outranking.

a. Leaving Flow (altenatif positif) = 𝜑+(𝑖) =

1

𝑛−1𝑛𝑖=1𝜋(𝑖, 𝑖) A1 = 6−11 × 1,981= 0,3962 A2 = 1

6−1 × 0,825= 0,165 A3 = 1

6−1 × 1,857= 0,3714

A4 = 1

6−1 × 0,437= 0,0874 A5 = 6−11 × 1,04= 0,208 A6 = 1

6−1 × 1,223= 0,2446

b. Entering Flow (alternatif negatif) = 𝜑(𝑖) =

1

𝑛−1𝑛𝑖=1𝜋(𝑖, 𝑖) A1 = 1

6−1 × 0,876= 0,1752 A2 = 1

6−1 × 1,423= 0,2846 A3 = 6−11 × 0,943= 0,1886 A4 = 6−11 × 1,27= 0,254 A5 = 1

6−1 × 1,715= 0,343 A6 = 1

6−1 × 1,154= 0,2308

Tabel 8. Hasil Leaving dan Entering Flow

Alternatif Leaving flow Entering Flow

A1 0,3962 0,1752

A2 0,165 0,2846

A3 0,3714 0,1886

A4 0,0874 0,254

A5 0,208 0,343

A6 0,2446 0,2308

Langkah 6 : Menghitung total seluruh outranking (leaving dan entering flow) alternatif.

𝜑(𝑖) = 𝜑+(𝑖) − 𝜑(𝑖)

A1 = 0,3962– 0,1752= 0,221 A2 = 0,165– 0,2846= -0,1196 A3 = 0,3714– 0,1886= 0,18276 A4 = 0,0874–0,254= -0,1666 A5 = 0,208– 0,343= -0,135 A6 = 0,2446– 0,2308= 0,0138

Langkah 7 : Melakukan perangkingan alternatif berdasarkan nilai outranking.

Tabel 9. Perangkingan Alternatif

Alternatif Outrangking flow Peringkat

Indah Rahayu M.H 0,221 1

Lilik Sujandi M.Si 0,1196 4

Hialmar Purba, S.H 0,18276 2

Simson Bangun, S.H -0,1666 6

Erno, S.H -0,135 5

Irfan Riandy, S.Sos 0,0138 3

Berdasarkan perhitungan alternatif di atas, maka A1 terpilih menjadi alternatif terbaik.

4. IMPLEMENTASI

Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Implementasi sistem pendukung keputusan pemilihan kepala cabang melibatkan beberapa kebutuhan spesifikasi yakni meliputi perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan implementasi program.

A. Implementasi Program

Sebuah program untuk mempermudah pekerjan serta memahami sejauh mana sistem tersebut di bangun sehingga mampu menjalankan suatu permasalahan.

a. Form Menu Utama

Form menu utama adalah Form pertama yang di tampilkan menu pilihan pada sistem pendukung

Alternatif C1 C2 C3 C4

A1, A2 0,124 0,103 0 0,25 A1, A3 0,25 0 0,133 0,029 A1, A4 0,049 0,196 0 0,121 A1, A5 0,012 0,187 0 0,25 A1, A6 0 0,186 0 0,121

A2, A1 0 0 0,066 0

A2, A3 0 0 0,199 0

A2, A4 0 0,093 0,016 0,079

A2, A5 0 0,082 0 0

A2, A6 0,156 0,082 0 0,079

A3, A1 0 0,103 0 0

A3, A2 0,099 0,207 0 0,012 A3, A4 0,024 0,3 0 0,143 A3, A5 0 0,289 0,3 0 A3, A6 0 0,289 0 0,091

A4, A1 0 0 0,05 0

A4, A2 0,075 0 0 0

A4, A3 0 0 0,183 0

A4, A5 0 0 0 0,129

A4, A6 0 0 0 0

A5, A1 0 0 0,166 0

A5, A2 0,112 0 0,1 0,25

A5, A3 0,099 0 0 0

A5, A4 0,037 0,010 0,116 0

A5, A6 0,15 0 0 0

A6, A1 0,025 0,30 0,166 0

A6, A2 0 0 0,1 0

A6, A3 0,05 0 0 0

A6, A4 0,075 0,010 0,116 0 A6, A5 0,037 0 0,3 0,129

(5)

Hal: 344-349 keputusan. Form ini terdiri atas dua menu yaitu sub

menu file dan sub menu proses.

Gambar 1. Form Menu Utama b. Sub menu file

Sub menu file merupakan salah satu bentuk penyimpanan yang terdiri dari menu input data alternatif, dan input data kriteria. Menu input data alternatif, dan input data kriteria dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2. Sub Menu File c. Sub menu proses

Sub menu proses merupakan hasil dari keputusan dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Sub Menu Proses d. Form Input Alternatif

Form yang merupakan untuk memasukan data alternatif dan akan di simpan ke dalam sebuah database, dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4. Form Input Alternatif

e. Form input Kriteria

Form input kriteria merupakan form yang di gunakan dalam memasukan kriteria serta bobot dari kriteria tersebut yang akan di simpan kedalam database, dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5. Form Input Kriteria f. Form input Kriteria setiap Alternatif

Form input kriteria pada setiap alternatif merupakan form yang di gunakan untuk memasukan nilai kriteria yang dimiliki oleh setiap aternatif yang berupa data- data atau nilai kriteria tersebut yang akan di simpan kedalam database, dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 6. Form Input Kriteria setiap Alternatif g. Form Hasil Keputusan

Form hasil akan menampilkan hasil keputusan pada proses pemilihan kelayakan sebuah bangunan menjadi cagar budaya, dengan memberikan hasil pada masing-masing alternatif. Tampilan form hasil keputusan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 7. Form Hasil Keputusan 5. KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yang telah dilakukan diatas diantaranya adalah sebagai berikut:

(6)

Hal: 344-349 a. Metode Promethee II dapat melakukan penentuan atau

pengurutan dalam suatu analisis multikriteria secara efisien dan simple dalam menyelesaikan masalah untuk menentukan ketua koperasi di Kemenkumham.

b. Input-an yang dihasilkan dapat melalui tiga tahapan, yaitu fuzzyfikasi, inferensi dan defuzzifikasi sehingga menghasilkan nilai kelayakan.

c. Output yang dihasilkan adalah nilai tertinggi dari calon ketua koperasi akan menjadi ketua koperasi di Kemenkumham.

REFERENCES

[1] M. Wafi, R. S. Perdana, and W. Kurniawan, “Implementasi Metode Promethee II untuk Menentukan Pemenang Tender Proyek ( Studi Kasus : Dinas Perhubungan dan LLAJ Provinsi Jawa Timur ),” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol.

1, no. 11, pp. 1224–1231, 2017.

[2] I. Saputra and M. Ariska, “PENERAPAN METODE PROMETHEE II PADA SISTEM LAYANAN DAN RUJUKAN TERPADU ( SLRT ) ( STUDI KASUS : DINAS SOSIAL KABUPATEN DELI SERDANG ),” vol. I, pp. 276–285, 2017.

[3] Kusrini, Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan.

Andi Offset, 2007.

[4] R. Ginting, Sistem Pendukung Keputusan. Medan: Graha Ilmu, 2014.

[5] I. Fahmi, Manajemen Pengambilan Keputusan Teori dan Aplikasi. Bandung: PT. Alfabeta, 2016.

[6] A.-B. Bin Ladjamudin, Analisis dan Desain Sistem Informasi.

Tangerang: Graha Ilmu, 2005.

[7] P. P. Widodo, Menggunakan UML untuk Memodelkan Analisis

& Desain Sistem Berorientasi. Bandung: Informatika, 2011.

[8] R. A. S and M. Shalahuddin, Rekayasa Perangkat Lunak (Terstruktur dan Berorientasi Objek). Bandung: Informatika, 2014.

[9] P. Hidayatullah, Visual Basic Net. Bandung: Informatika, 2014.

[10] Wahana Komputer dan Andi Offset, Membuat Aplikasi Client Server dengan Visual Basic 2008. Semarang: Andi Offset, 2010.

[11] F. Pratiwi, F. T. Waruwu, D. P. Utomo and R. Syahputra,

"Penerapan Metode Aras Dalam Pemilihan Asisten Perkebunan Terbaik Pada PTPN V," Seminar Nasional Teknologi Komputer

& Sains (SAINTEKS), vol. 1, no. 1, pp. 651-662, 2019.

[12] S. W. Pasribu, D. P. Utomo and M. Mesran, "Sistem Pendukung Keputusan Penerimaan Account Officer Menerapkan Metode EXPROM II (Studi Kasus: Bank Sumut)," Journal of Information System Research (JOSH, vol. 1, no. 3, pp. 175-188, 2020.

[13] Mesran, K. Ulfa, D. P. Utomo and I. R. Nasution, "Penerapan Metode VlseKriterijumska Optimizacija I Kompromisno Resenje (VIKOR) dalam Pemilihan Air Conditioner Terbaik,"

LGORITMA: JURNAL ILMU KOMPUTER DAN

INFORMATIKA, vol. 4, no. 1, pp. 24-35, 2020.

[14] M. Mesran, S. Suginam and D. P. Utomo, "Implementation of AHP and WASPAS (Weighted Aggregated Sum Product Assessment) Methods in Ranking Teacher Performance,"

IJISTECH (International Journal of Information System &

Technology), vol. 3, no. 2, pp. 173-182, 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Wadah informasi seni budaya merupakan suatu wadah yang menampung suatu kegiatan yang bersifat mfonnasi tentang budaya maupun seni budaya, didalam upaya untuk memperkenalkan,

Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri tersebut untuk

Kardinal Schönborn mengajukan pertanyaan: ”Adakah bukti kos- mologis ekistensi Allah?” Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan: ”Apa- kah Sang Pencipta kelihatan dalam

Propeller coating bukanlah konsep baru, beberapa percobaan telah terjadi sejak awal Perang Dunia II namun tidak ada tindak lanjut yang dibuat pada percobaan.Akibatnya,

kualitas pembelajaran mata kuliah di Prodi D-IV Keperawatan Banda Aceh Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Aceh yang dapat digunakan sebagai sarana yang menunja

Untuk itu, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyelenggarakan “Program Bantuan Kerja Sama Kurikulum dan Implementasi

Konsep ini akan diaplikasikan pada posisi teks yang berlawanan serta berisikan peraturan pemerintah yang melarang kegiatan mengemis, memberikan sesuatu pada