• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gaye Tuchmann menjelaskan terkait Newsroom Study dalam Oliver Boyd

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gaye Tuchmann menjelaskan terkait Newsroom Study dalam Oliver Boyd"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Newsroom Study

Gaye Tuchmann menjelaskan terkait Newsroom Study dalam Oliver Boyd bahwasanya studi mengenai jurnalisme didalam ruang redaksi, untuk menciptakan ruang publik dan menyeleksi terkait analisa berita yang harus memasuki ruang redaksi.

Adalah berita dengan potensi tinggi yang patut diberitakan secara universal kepada dunia, nasional ataupun lokal (Herlina, 2006). Newsroom mempunyai fungsi sebagai kontrol media yang mengatur para insan media agar dapat bekerja dengan maksimal serta berkualitas guna membuat dan mengemas produk media.

John Herbert telah menjelaskan dalam buku Journalism In The Digital Age, bahwasanya semua karyawan yang ada di newsroom sebaiknya bekerja untuk ruang redaksi ataupun manajer daripada harus menjadi karyawan disebuah perusahaan. Oleh karena itu, kode etik jurnalis, komitmen serta etika dibatas akhir atau deadlines selalu menjadi dasar dari manajemen newsroom. Semua pengelola wajib tersadar bahwa seperti itulah kerja dari jurnalis, serta cara yang selalu dikerjakan oleh jurnalis (Herbert, 2000).

Suatu hal pasti terdapat perbedaan didalamnya, tak terkecuali mengenai perbedaan pendapat beberapa awak media seperti wartawan dan reporter. Perbedaan tersebut membawa pengaruh terhadap manajemen newsroom serta kreatifitas orang-

(2)

orang didalamnya. Sebab itu merupakan tradisi bahwasanya selalu terjadi konflik antara bagian berita dan yang lainnya.

Sesuai dengan isi buku News Writing and Reporting for Today’s Media (Itule, 2012) menjelaskan bahwasanya mayoritas ruang redaksi pada media cetak yaitu koran akan mempunyai struktur yang selalu mirip. Jabatan paling atas yaitu redaktur yang kerjanya sellau berubah sesuai dengan ukuran besar kecil sebuah koran. Dalam koran yang komunitas redaktur bisa merangkap menjadi penerbit, reporter, fotografer, manager dari bisnis, atau tim periklanan. Dalam koran di ibukota yang biasanya besar, seorang redaktur terkadang tidak harus turun tangan pada proses editing harian, sebab seorang redaktur pelaksana harus yang melakukan pekerjaan tersebut.

Terkadang terdapat jabatan diatas seorang redaktur pelaksana yaitu redaktur eksekutif, tetapi tanggung jawabnya lebih besar daripada ruang redaksi. Jabatan selanjutnya yaitu para reporter pemula, dengan usaha lebih besar untuk memberikan kesan yang baik selama bekerja sambil berharap namanya muncul sebagai penulis berita. Anggota ruang redaksi yaitu terdapat reporter pemula sesuai tingkat perputaran koran serta anggaran dari koran tersebut.

Terdapat berbagai macam redaktur sebagai berikut; redaktur berita, redaktur area, redaktur foto, redaktur pelaksana, redaktur luar negeri dan nasional, redaktur grafis, redaktur metropolitan atau kota, redaktur keuangan, redaktur olahraga, serta redaktur gaya hidup. Dalam sehari para redaktur selalu berkumpul sekali untuk rapat redaksi. Ketika rapat tersebut terdapat beberapa bahan diskusi yang biasanya meliputi isu lokal, regional, nasional sampai internasional dengan disertai oleh foto pendukung.

(3)

Selanjutnya diakhir rapat memutuskan berita yang akan diterbitkan dan berita untuk cover depan sebagai berita utama.

Kontrol sosial yang ada di newsroom bertujuan untuk memperoleh berita yang menguasai ketidaksetujuann dari masing personal sebuah organisasi media itu sendiri, yang dimaksud kontrol sosial adalah sensor editorial. Mempunyai peranan penting didalam semua komponen berita, serta bisa mempengaruhi secara internal yang ada di newsroom untuk memilih mana berita yang harus disiarkan atau tidak sebelum disiarkan.

Sebagaimana di jaman yang serba modern, saat ini media sosial juga masuk kedalam kebijakan redaksi sebuah media televisi. Bahwasanya para awak media merasa media sosial juga dapat mengontrol kestabilan eksistensi perusahaan media itu sendiri. Seperti yang dikutip dalam jurnal berjudul ‘Facebook and Twitter in the Newsroom: How and Why Local Television News is Getting Social With Viewers?’

menyatakan “social media as a means of connecting with news consumers and raising their newsrooms’ profile in the community, and are encouraging their news staff members to have an individual social media presence. Stations also report their news staff are using social media as a newsgathering tool, but the value and reliability of information gathered through this means is up for debate” (Suzanne Lysak, 2012).

Dalam Newsroom Management yang ditulis oleh Ann Hollifield bahawasanya fokus yang kuat pada efek manajemen pada kualitas konten berita, selain profitabilitas organisasi, membedakan penelitian manajemen ruang berita dari penelitian manajemen di bidang bisnis. Tenaga kerja jurnalisme telah menjadi topik yang paling banyak

(4)

dipelajari dalam manajemen ruang berita, diikuti oleh pengambilan keputusan berita dan pengaruh struktur organisasi, persaingan pasar, dan teknologi pada konten berita (Hollifield, 2019).

Penggunaan media sosial memperkuat perubahan jurnalisme dari aktivitas saluran tunggal menjadi komunikasi multisaluran. Organisasi berita dan jurnalis harus belajar mengoperasikan beberapa saluran media sosial secara bersamaan. Selain itu, media sosial bersifat multi-fungsi dan dapat diterapkan di semua fase produksi dan distribusi berita. Tujuan utama studi ini adalah untuk mensistematisasikan berbagai penggunaan media sosial dalam jurnalisme dan mengeksplorasi strategi ruang berita terkait. Facebook dan Twitter melayani berbagai tujuan jurnalistik. Sebaliknya, blog dan YouTube adalah alat yang lebih terspesialisasi. Melakukan pendekatan strategis yang berbeda dalam mengatur penggunaan media sosial di ruang redaksi . Meskipun pola keseluruhan tetap stabil, redaksi berita yang lebih berpengalaman dan berorientasi pada strategi lebih sering menggunakan Twitter untuk berbagai tugas (Neuberger, 2018).

1.2 Kebijakan Redaksi

Sebuah pondasi terkait pertimbangan dari satu perusahaan media guna menyiarkan atau memberitakan sebuah berita merupakan pengertian dari kebijakan redaksi, juga bisa dibilang sebagai sikap dari redaksi atau perusahaan media itu sendiri, khususnya media televisi terkait persoalan aktual yang saat ini telah berkembang. Pers khususnya seorang wartawan, tidak bisa lepas tanggungjawab moral serta etika. Seperti disebutkan diatas bahwa wartawan harus menjaga hubungan yang baik dengan

(5)

informan atau sumber dari berita tersebut dan biasanya juga wajib melindungi privasi informan tersebut (Fachruddin, 2012).

Kebijakan redaksi berguna sebagai sikap sebuah peristiwa di dunia jurnalis yang sangat penting, tidak hanya peristiwa tersebut. Jika suatu ketika media tak mempunyai sebuah kebijakan, bisa dipastikan berita yang disiarkan tidak akan konsisten. Apabila tidak bisa konsisten maka tak akan mendapatkan sebuah kredibilitas tinggi dari publik. Padahal pengaruh dari suatu media bukan hanya karena banyak pendengar atau jumlah oplah, tapi juga dikarenakan kredibilitas (Tebba, 2005).

Jika berbicara mengenai kebijakan redaksi, mereka yang mempengaruhi atau menghandle informasi biasa dinamakan dengan “Gatekeeper”, dan gatekeeper yang akan mengontrol dan memberi izin tersebarnya sebuah informasi atau berita. Pada tahun 1996, John R. Bittner telah menjelaskan mengenai gatekeeper adalah kelompok atau seseorang yang mengontrol masuknya sebuah informasi dalam saluran komunikasi. Orang-orang yang biasa disebut gatekeeper antara lain yang memiliki wewenang penting didalam lembaga media, yaitu televisi, surat kabar, radio, majalah, internet dan sebagainya. Biasanya para editor film dan berita, serta reporter juga turut menentukan berita mana yang akan dipublish (Nurudin, 2014).

Semua lembaga media(massa) pasti memiliki gatekeeper. Memiliki fungsi untuk menghapus, mengubah, menambah atau modifikasi berita yang akan disiarkan dan dapat mengontrol arus informasi serta tak membuka gerbang untuk jalan keluarnya sebuah informasi. Gatekeeper memiliki fungsi guna pengevaluasian dari isi media tersebut supaya sesuai dari kebutuhan publik serta berwewenang agar tak menampilkan

(6)

informasi meresahkan. Gatekeeping merupakan rutinitas yang penting, dengan berbagai pertanyaan, yaitu (Windahl, 1992):

1. Apa yang dibutuhkan penonton dari pesan yang diproduksi?

2. Apa yang penonton ingin ketahui?

3. Apa yang penonton sudah tahu?

4. Apa yang akan mereka mengerti?

5. Apa yang akan mereka menolak untuk menerima?

Seperti penggambaran konsep yang diutarakan Westley dan Maclean terkait proses dari “Gatekeeping” yaitu:

Gambar 2.1 Proses Gatekeeping (Sumber: Google)

(7)

Gambar 2.2 Penjelasan Elemen Proses Gatekeeping

Dalam hal diatas, X merupakan sumber informasi terkait sebuah kejadian atau pernyataan dari narasumber. Seperti contoh, X adalah peristiwa bersih desa disebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. A merupakan komunikator, dimana orang tersebut adalah presenter atau reporter yang bertugas mendeskripsikan peristiwa bersih desa dalam bentuk naskah berita. C yaitu gatekeeper biasanya adalah editor yang bertugas mengedit berita tersebut, dengan menambahkan deskripsi yang penting didalam tayangan berita tersebut dan menghilangkan yang tidak penting. Audience merupakan elemen B, penonton yang akan melihat tayangan berita bersih desa di media massa. Penonton memberikan timbal balik yang baik kepada editor atau reporter langsung terkait keakuratan berita itu atau bahkan sekedar berkomentar terkait berita tersebut. Disini, peran editor yang merupakan gatekeeper juga berhak memberi timbalbalik kepada reporter terkait berita yang telah ditulis didalam naskah oleh sang

(8)

reporter. Maka dari itu, gatekeeper yaitu termasuk dari golongan lembaga media massa yang kerjanya berdampak baik atau positif terhadap kualitas, nilai dari berita yang disampaikan pada khalayak umum (Elvinaro, 2007).

Di dunia media massa, terdapat dua sifat yaitu umum dan khusus, media massa ekonomi adalah media dengan sifat khusus yang sekedar menampilkan berita nuansa ekonomi dan beberapa hal yang bersangkutan persoalan ekonomi. Sedangkan media massa politik menyuguhkan berita berbau politik serta hal yang bersangkutan dengan persoalan politik dan lain-lain. Selanjutnya untuk media yang bersifat umum memiliki prinsip menyuguhkan berita menarik serta penting. Namun kejadian menarik yang memiliki banyak arti belum pasti dapat menyediakan segalanya, jadi harus menentukan syarat pertimbangannya guna menyiarkan berita atau tidak (Tebba, 2005).

Totok Djuroto membagi keredaksian menjadi tujuh, yaitu sebagai berikut:

1. Pemimpin Umum atau Manajer merupakan seseorang yang memiliki tanggung jawab terkait segala isi yang ada di perusahaan tersebut

2. Pemimpin redaksi merupakan seseorang yang memiliki tanggung jawab terkait segla isi dari berita pers, sesuai dengan UU Pers, serta tanggung jawab terkait segala tuntutan hukum yang dikarenakan kesalahan terhadap penulisan atau semua hal yang dirasa melanggar hukum.

3. Sekretaris Redaksi yang membantu pemimpin didalam pelayanan administrasi keredaksionalan. Dengan contoh, menerima surat yang terkait keredaksionalan, dan mengolah surat untuk pemimpin

(9)

4. Redaktur Pelaksana membantu menyelesaikan tugas keredaksionalannya

5. Redaktur merupakan seseorang dengan tanggung jawab terkait pemberitaan yang menerima bahan dari berita tersebut, berasal dari wartawan, press realese sebuah lembaga, kantor berita, koresponden, organisasi, perusahaan swasta dan pemerintah.

Selanjutnya menyeleksi dan memilih berita yang layak disiarkan ataupun berita yang tunda tayang

6. Wartawan / Reporter memiliki tugas meencari, pengumpulan berita serta mengolah informasi yang kemudian menjadi berita yang disiarkan di media

7. Koresponden atau wartawan pembantu. Yaitu seorang reporter yang tinggal di daerah tersebut, ditunjuk lembaga media untuk mencari berita di luar negeri ataupun luar daerah dan memberi laporan yang terperinci terkait sebuah pristiwa (Djuroto, 2004).

Menurut Andi Fachruddin, selain kode etik jurnalistik yang harus diperhatikan ada beberapa peraturan perundang-undangan tertulis serta aturan-aturan yang tidak tertulis harus menjadi panduan wajib bagi para pelaku di dunia penyiaran. Adapun rambu jurnalistik yang ada di Indonesia dan membatasi kebijakan redaksi stasiun televisi, yaitu;

1. Standart atau konvensi jurnalistik yang sifatnya universal, secara mendasar, wartawan harus memahami dan menerapkan standar kewartawanan dan konvensi jurnalistik yang telah disepakati secara universal

2. Undang-undang Pers No.40 Tahun 1999

3. Undang-undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS)

(10)

4. Delik Pers dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP), Undang-udang Informasi dan Transaksi Elektronik(ITE), dan aturan hokum lainnya

5. Norma masyarakat yang dianut oleh sebagian besar warga dan hati nurani para jurnalis (Fachruddin, 2012).

Hukum yang ada untuk pers harus tetap terjalankan sesuai yang ada di negara Indonesia dalam kebijakan redaksional. Dikarenakan, para pelaku media harus memberikan tanggungjawabnya kepada publik terkait yang disiarkan atau diberitakan.

Alasan utamanya adalah pers di Indonesia telah menganut kebebasan, tetapi harus tetap bertanggung jawab sebagai pelaku penyebar informasi secara objektif untuk jembatan aspirasi rakyat.

1.2.1 Urgensi Kebijakan Redaksi

Sudirman Tebba menjelaskan dalam buku yang berjudul Jurnalistik Baru, bahwasanya “Kebijakan redaksi itu penting untuk menyikapi suatu peristiwa karena dalam pemberitaan yang penting bukan saja peristiwa, tetapi juga sikap terhadap peristiwa itu sendiri. Kalau suatu media tidak memiliki kebijakan redaksi, maka dapat dipastikan beritanya tidak akan konsisten, karena ia tidak mempunyai pendirian dalam memberitakan suatu peristiwa, ia seperti keranjang sampah yang memuat saja” (Tebba, 2005).

Sebuah lembaga media yang memiliki berita tidak selalu konsisten maka tak akan mampu memiliki sebuah kredibel tinggi di pandangan publik. Pada dasarnya

(11)

pengaruh dari media massa itu tak hanya karena banyak penonton atau jumlah oplah melainkan soal kredibilitas juga diperhatikan (Tebba, 2005).

Dijelaskan pula terkait arti dari kebijakan redaksi, dimana kebijakan ini adalah kunci dari perjalanan dalam mengolah isi sebuah berita yang ada di media, akan memberikan pengaruh dan kontrol terkait persoalan yang diterbitkan media tersebut pada saat melakukan fungsi yang ada di publik. Semua itu telah diutus redaksional, seperti halnya redaktur atau pimpinan dari redaksi yang telah memiliki sebuah cara dalam penyeleksian berita hingga tahap publikasi yang sesuai visi-misi dari pemiliknya (Kusumaningrat, 2007).

Pimpinan redaksi bertugas menyelesaikan mekanisme dan seluruh kegiatan kerja keredaksian disetiap harinya. Serta bertugas untuk memutuskan dan mengawasi kebijakan dari semua aktivitas redaksional dan berlaku sebagai komandan agar memerintah para karyawan yang ada di bawahnya. Hal tersebut dikarenakan memiliki tanggung jawab apabila beritanya dituntut oleh pihak yang lain (Kusumaningrat, 2007).

Penentuan penyiaran berita yang layak atau tidak, yang pertama adalah menentukan sifat dari media tersebut. Dibagi menjadi dua, media massa bersifat umum dan khusus. Media massa ekonomi masuk kedalam media massa khusus, yang beritanya hanya persoalan ekonomi saja, jika media politik yang disiarkan adalah berita yang isinya terkait persoalan politik.

Sedangkan media yang bersifat umum, yaitu yang bisa menyiarkan berita menarik serta penting. Pada dasarnya setiap peristiwa itu menarik dan banyak, tetapi

(12)

belum tentu dapat disiarkan semuanya. Maka harus memiliki dan menentukan, kebijakan peristiwa mana yang akan disiarkan.

1.2.2 Tugas Redaksi

Redaksi bertugas dalam menjalankan sebuah visi dan misi atau yang biasa disebut dengan idealisme media. Sekelompok orang yang ada di organisasi media cetak, online maupun elektronik yang memiliki wewenang mengizinkan dan menolak penyiaran berita adalah tugas dari redaksi. Biasanya hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah Bahasa, fakta dan bentuk dari tulisan tersebut apakah berita atau bukan (Zenuddin, 2011).

Tugas redaksi yaitu mengurus berita yang layak atau tidak untuk dipublikasikan. Terdapat delapan tahapan untuk menghasilkan berita, sebagai berikut;

rapat redaksi, reportase dan penulisan berita, editing dan koreksi, lay out, percetakan, posting, atau penyiaran, evaluasi, sirkulasi serta tahapan akhir yaitu timbal balik dari penonton berita tersebut.

1.2.3 Proses Produksi

Dalam proses produksi sebuah acara berita televisi, diperlukan beberapa langkah yang harus dilalui oleh tim redaksi, sebagaimana yang telah ditulis oleh Andi Fachruddin (Fachruddin, 2012):

 Praproduksi

1) Planning atau perencanaan

(13)

Dalam tahap ini proses pertama yaitu mencari berita dan mendata semua informasi yang datang dari semua sumber atau informan, mencari informasi sesuai fakta peristiwa, serta mencari narasumber yang kredibel.

2) Meeting atau rapat redaksi

Dilaksanakan rapat sebelum on air, guna membicarakan semua informasi yang telah dikumpulkan untuk dijadikan berita, membahas nilai atau value dari berita tersebut dan menentukan jenis berita.

3) Penugasan kru peliputan (program planning)

a. Memilih tim yang bertugas, cameramen dan presenter atau reporter

b. Memberi perintah kepada kepala redaktur untuk memantau pada saat proses dilapangan c. Setelah berita disiarkan, saatnya pengevaluasian, sebelum disiarkan juga harus

mengadakan evaluasi untuk mengetahui perkembangan berita yang perlu dipantau

 Produksi 1) Proses persiapan

Semua tim saling berkoordinasi, menyiapkan semua peralatan, transportasi dan memeriksa semua alat apakah ada yang error atau tidak, terkhusus microphone yang akan dipakai reporter dan kamera

2) Tahap produksi

(14)

Menjalankan liputan sesuai arahan ketika persiapan, seusai liputan cameramen dan reporter mereview ulang semua hasil video ketika dilapangan

 Pascaproduksi

1) Cameramen dan reporter menyerahkan data kepada editor 2) Editing

3) Pembuatan grafik 4) Pembuatan naskah 5) Dubbing

6) Naskah diserahkan kepada pimpinan

7) Naskah yang telah di cek diserahkan kepada editor berita.

1.3 Journalism PR

Dalam konteks dunia Public Relations , jurnalistik menjadi salah satu bidang atau keahlian yang harus di kuasai oleh seorang Public Relations. Kemampuan dalam bidang jurnalistik tidak dapat dipungkiri menjadi modal seseorang untuk menjadi seorang Public Relations yang handal.

Jurnalistik berasal dari kata journal atau du jour juga diurnal yang berarti

‘catatan harian’. Karena itu, jurnalistik berarti catatan atau laporan harian yang disajikan untuk khalayak atau massa. Dengan perkembangan selanjutnya, kegiatan jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, menyiapkan, menuliskan dan menyebarluaskan informasi melalui media massa. Sedangkan jurnalisme adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis,mengedit, dan menerbitkan berita (Hargreaves, 2005).

(15)

Journalism dan Public Relations pada hakekatnya memiliki hubungan “hack vs flaks”, maksudnya adalah journalis memiliki tugas untuk membongkar situs tertentu sedangkan Public Relations memiliki tugas menutup nutupi suatu kasus. Ini sungguh hubungan yang bertentangan tetapi pada saat ini jurnalis tergantung oleh Public Relations padahal sebenarnya pekerjaan mereka sangat bertentangan. Karena bagi jurnalis, “bad news is goos news”. Maka dari itu sekarang muncul istilah “lazy journalism” karena jurnalis lebih senang menerima press release dari Public Relations dan Public Relations yang akhirnya diuntungkan dalam hal ini. Karena release yang dikirim akan di muat dalam media yang wartawannya malas mencari berita (Hargreaves, 2005).

1.4 Periklanan / Advertorial

Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonkomersil tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail, reklame luar ruang, atau kendaraan umum. Dalam komunitas global baru, pesan-pesan dapat ditransmisikan melalui media baru, khususnya internet (Monle Lee, 2007).

Berikut terdapat beberapa fungsi-fungsi iklan, yaitu: (1.) Periklanan menjalankan sebuah fungsi informasi, ia menginformasikan informasi produk, ciri-ciri dan lokasi penjualan. Ia memberitahu konsumen tentang produk-produk baru, (2.) Periklanan menjalankan sebuah fungsi persuasive, ia mencoba membujuk para konsumen untuk membeli merek-merek mereka atau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tersebut, (3.) Periklanan menjalankan sebuah fungsi pengingat,

(16)

ia terus-menerus mengingatkan para konsumen tentang sebuah produk sehingga mereka akan tetap membeli produk yang diiklankan tanpa memperdulikan produk saingan (Monle Lee, 2007).

1.5 Televisi

1.5.1 Pengertian Televisi

Vladimir Zworkyn membuat Iconoscope atau yang bisa disebut dengan tabung kamera, teaptnya di Amerika Serikat pada tahun 1928. Tabung tersebut mampu menangkap serta mengirim gambar didalam kotak yang bernama Televisi, dan mengubah gambar optis menjadi sinyal eletronis yang kemudian diperkuat dan ditumpangkan pada gelombang sebuah radio (Morissan, 2008).

Pengertian kata televisi menurut Uchijana Effendy, diambil dari Bahasa inggris yaitu television. Terdiri dari 2 kata, yaitu berasal dari kata tele yang berarti jauh, serta visi dengan arti penglihatan (Effendy, 2003).

Televisi sangat berbeda dengan media cetak, karena televisi adalah media pandang, yang dimana orang dapat melihat gambar yang disajikan di layar kaca televisi, dan mampu mendengar / menelaah narasi yang ada di gambar (Badjuri, 2010).

Dari pengertian tersebut, bisa ditarik kesimpulan. Bahwasanya, TV adalah sebuah benda tabung yang menghasilkan suara dan gambar dari suatu tempat yang memiliki jarak jauh. Dimana, iconoscope yang merubah gambar optis ke elektronis. Di zaman canggih ini, televisi masih tetap eksis dalam kehidupan sehari-hari dan tetap dalam fungsinya yaitu penyampaian informasi. Semakin berkembangnya teknologi,

(17)

didalam televisi terdapat berbagai macam program televisi, diantaranya berita, musik, film, hiburan, dan masih banyak lagi yang dapat diakses ketika menggunakan televisi.

1.5.2 Perkembangan Televisi

Philo Farnsworth mengendarai traktor yang bergerak kedepan dan belakang sejalan dengan ladang yang ada di Idaho, AS. Pada saat itu juga Farnsworth membuat gambar elektronik sesuai dengan alur lading, dan di 1927 bersama dengan AT&T mensosialisasikan televisi didepan khalayak, semenjak saat itu televisi merupakan media massa (Mufid, 2005).

Dalam proses menemukan televisi, tidak ditemukan oleh satu orang tetapi hasil dari kerjasama dalam tim. Menurut Straubhaard, yang menyiarkan tentang televisi pertama kali oleh Charles Jenkins yang berasal dari AS, bekerjasama dengan John Logie Baird secara terpisah pada saat uji coba ditahun 1925. Uji coba yang dilakukan bertama bergantian ke beberapa rumah, yang merupakan eksekutif general electric pada 1928 dengan sebuah alat sederhana. Memasuki tahun 1936 uji coba penyiaran elektrik dilaksanakan British Broadcasting Corporation. Dan yang terakhir, tepat pada 11 Mei 1939 dilakukan uji coba di Jerman (Mufid, 2005).

Awalnya, masyarakat tidak terlalu excited terhadap penemuan televisi, terutama ketika perang kedua dimulai, televisi tidak terlalu mengalami perkembangan yang signfikan. Tetapi ternyata, ketika perang kedua beberapa ilmuwan telah memperbaiki teknologi yang ada, otomatis televisi juga mengalami perkembangan yang baik.

Delapan ribu televisi dan 8 media televisi di AS mulai beroperasi pada 1945.

(18)

Kemudian, di tahun 1955 jumlahnya semakin banyak, terdapat kurang lebih 100 perusahaan media televisi dan masyarakat yang memiliki televisi sebanyak 35juta atau 67persen dari total penduduk (Morissan, 2008).

Dalam melakukan pekerjaannya, pengisi acara program yang ada di televisi wajib selalu mengulang performance guna disiarkan ulang pada saat televisi sudah menemukan kaset untuk menyimpan gambar serta suara. Berbeda pada saat pertama kali disiarkan, semua program ditayangkan secara langsung di New York. Ampex Corporation berhasil mengupdate videotape menjadi sarana efisien yang murah agar dapat menyimpan data program yang telah disiarkan di tahun 1956. Masuklah pada 1960, dimana semua tayangan televisi dapat diedit dan disimpan di videotape. Sesuai perkembangan jaman, televisi berwarna mulai muncul pada tahun 1950, dan benar- benar beroperasi pada 1960-an pada stasiun NBC yang menyiarkan program televisi yang berwarna kurang lebih 3 jam disetiap hari (Morissan, 2008).

1.5.3 Perkembangan Televisi di Indonesia

Pada tahun 1953 departemen penerangan dibantu perusahaan yang ada di Jerman, AS, Jepang, dan Inggris berkompetisi untuk menjual perangkat kerasnya. Pada tahun 1962, disaat Asian Games ke-4 akan dilaksanakan maka televisi diperlukan untuk mempublikasikan rangkaian acaranya, agar mendapatkan reputasi dikelas internasional, karena Soekarno dan kabinet lainnya menganggap Indonesia jangan sampai kalah dengan negara lain, terutama Jepang yang telah mempunyai televisi di tahun 1950 (Mufid, 2005).

(19)

Koordinasi urusan proyek Asean Games Ke-4 yang mengordinasi proyek penyiaran media televisi. Kemudian menteri penerangan pada tanggal 25 bulan Juli tahun 1961 mengeluarkan surat keputusan No.20/SK/M/1961 mengenai pemilihan panitia yang disingkat P2T. Soekarno yang menjadi presiden kala itu, mengutus menteri penerangan Maladi agar menyiapkan proyek media televisi dengan agenda utama, yaitu membuat studio di eks AKPEN yang terletak di kota Snayan, kedua medirikan 2 pemancar sebesar 100watt dan 10Kw serta tower setinggi 80meter, terakhir mempersiapkan program dan tenaga kerja (Mufid, 2005).

Stasiun televisi yang bernama TVRI pertama kali menyiarkan beritanya secara langsung ditahun 1962 ketika upacara kemerdekaan RI 17 Agustus tahun 1962. Tetapi siaran tersebut dibilang hanya percobaan saja, resminya pada tanggal 24 Agustus 1962 tepat pukul 14.30 WIB di Gelora Bung Karno diadakan opening Asian Games IV, dengan isi berita terkait upacara pembukaan (Morissan, 2008).

Masyarakat Indonesia hanya bisa menonton 1 stasiun televisi yaitu TVRI selama kurang lebih 27 tahun. Kelompok Bimantara diizinkan membuka stasiun TV ditahun 1989 dengan nama RCTI yang merupakan TV pertama swasta, selanjutnya lahirlah beberapa stasiun televisi swasta lain seperti TPI, SCTV, ANTV dan Indosiar (Morissan, 2008).

Semakin kesini dunia semakin modern, tak ketinggalan dengan media massa yang semakin berkembang contohnya televisi. Maka dari itu, pada tahun 2000 banyak lahirnya televisi swasta seperti Global, Trans, Metro, Lativi, dan TV7 serta masih banyak lagi TV lokal di daerah yang ada di Indonesia, jumlah yang sangat membludak

(20)

hingga puluhan stasiun TV. Tak hanya itu, televisi berlangganan muncul memanjakan penonton dengan banyaknya program yang ada di luar negeri dan pastinya juga didalam negeri (Morissan, 2008).

UU Penyiaran dinyatakan sah ditahun 2002 yang disertai munculnya televisi baru, terlebih di berbagai daerah. Terdapat 4 kategori, televisi komunitas dan berlangganan, swasta dan publik. Sekitar dua puluh lima juta masyarakat Indonesia mempunyai pesawat televisi pada Juli 2002, makin kesini penonton disuguhkan berbagai pilihan program yang menarik dari setiap stasiun televisi yang berbeda (Morissan, 2008).

Industri media massa yang menghasilkan banyak uang yaitu televisi, karena para pemasang ikan di Indonesia tentunya memilih televisi sebagai salah satu media untuk dijadikan tempat berbisnis. Teknologi serta SDM yang mumpuni juga terdapat dalam industry televisi. Teapi biasanya lembaga televisi dibangun tanpa adanya pengetahuan mendalam mengenai pertelevisian. Diharapkan televisi tetap menjadi media massa paling kompeten dalam menyajikan informasi sesuai kode etik yang ada.

1.5.4 Televisi Lokal

Sesuai dengan UU Penyiaran yaitu televisi lokal bisa bisa berdiri di sebuah tempat yang ada di Indonesia tetapi jangkauannya hanya sebatas wilayah itu. Karena, TV lokal adalah media massa yang penyiarannya terbatas dan hanya bisa meliputi satu kabupaten ataupun kota. Televisi lokal disarankan untuk tidak membeli iklan kepada media yang lebih besar karena akan menguras kantong. Terdapat ketentuan penyiaran stasiun TV lokal yaitu jangakauannya terbatas dan lokasinya telah ditetapkan. Semua

(21)

perusahaan yang cakupannya lokal lebih baik mengiklankan produknya kepada stasiun TV lokal agar sasarannya tepat (Morissan, 2008).

Arti lain dari televisi lokal menurut Pareno yaitu sebuah stasiun televisi yang memiliki karakteristik primodialisme, menggelitik sentimen kedaerahan sehingga acara-acara yang ditayangkan selalu berdasarkan sesuai minat dan selera serta perhatian dari para penonton (Pareno, 2005). Bahwasanya memang televisi lokal sangatlah detail dan segmentasinya lebih tertuju kepada masyarakat daerah setempat, tetapi hal ini akan sangat menarik jika semua hal yang ada di daerah dijadikan potensi sumber informasi untuk disajikan didalam berita.

Menurut data dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) menyatakan di tahun 2003 sampai bulan Agustus banyaknya stasiun televisi lokal yang ada di Republik Indonesia mencapai lima puluh media, yang disebar di seluruh penjuru wilayah. Artinya TV lokal perkembangannza sangat signifikan, dipantau dari rentang kelahiran yang sangat singkat, dimulai sejak tahun 1997. Televisi lokal mengindikasikan tiga kelompok TV yang beda, terdapat TV komersial lokal, TV komunitas, serta TV publik. Persentase paling besar yaitu stasiun TV yang seperti televisi swasta lokal sebesar 24 persen, kemudian publik daerah sebesar 18 persen serta komunitas 7 persen. Jumlah yang sebenarnya sangat besar, terkait dengan banyaknya stasiun televisi yang belum teridentifikasi (Sudibyo, 2004).

Tahun 2002 di 28 November, televisi lokal mampu menggapai klimaks pada saat undang-undang dinyatakah sah. Oleh karena itu, pengakuan hukum diberikan sebagai tanda eksisnya media televisi lokal yaitu komunitas, tv publik serta swasta. Pada pasal

(22)

nomer 30 terkait pembatasan penyiaran TV swasta nasional mewajibkan agar bekerjasama dengan media lokal yang ada di daerah (Sudibyo, 2004).

 Jenis-Jenis Televisi

Terdapat 4 kelompk uang telah ditetapkan sesuai dengan UU penyiaran, media televisi swasta, publik, tv komunitas serta berlangganan (Morissan, 2008):

Tabel 2.1 Jenis Televisi

 Potensi Televisi Lokal

Sesuai dengan data Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) menyatakan di tahun 2003 sampai bulan Agustus banyaknya stasiun televisi lokal yang Penyiaran Swasta Stasiun Berlangganan Penyiaran Komunitas Stasiun Publik Ketentuan dalam

Undang-Undang

Penyiaran menyatakan bahwasanya stasiun penyiaran swasta adalah lembaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia yang bidang

usahanya hanya

menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi

Ketentuan terkait stasiun berlangganan telah diatur didalam UU No. 32/2002 serta peraturan pelaksanaanya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 2005 (PP

52/2005) yang

menyatakan stasiun penyiaran berlangganan hrus berbentuk badan hukun Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan yang memancarluaskan materi siarannya secara

khusus kepada

pelanggan melalui radio, televise, multimedia serta informasi lain

Penyiaran komunitas harus berbentuk badan hokum Indonesia, yang didirikan oleh komunitas tertentu, yang bersifat independen atau mandiri dan tidak komersial dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayahnya terbatas serta untuk melayani kepentingan komunitasnya

Penyiaran publik berbentuk badan hukum yang didirikan Negara bersifat mandiri atau independen, netral, tidak komersial dan berfungsi memberi

layanan untuk

kepentingan rakyat.

(23)

ada di Republik Indonesia mencapai lima puluh media, yang disebar di seluruh penjuru wilayah. Artinya TV lokal perkembangannya sangat signifikan, dipantau dari rentang kelahiran yang sangat singkat, dimulai sejak tahun 1997. Televisi lokal mengindikasikan tiga kelompok TV yang beda, terdapat TV komersial lokal, TV komunitas, serta TV publik. Persentase paling besar yaitu stasiun TV yang seperti televisi swasta lokal sebesar 24 persen, kemudian publik daerah sebesar 18 persen serta komunitas 7 persen (Sudibyo, 2004).

Kesimpulan dari data diatas dapat dikatakan bahwa sesungguhnya stasiun televisi lokal berjumlah lebih banyak dibanding TV nasional, dengan demikian bisa dikatakan pula bahwa televisi lokal mampu menjadi media yang bisa memenuhi kepentingan serta kebutuhan masyarakat dalam hal mencari informasi mengenai informasi lokal. Jika para insan media televisi lokal mampu meningkatkan serta lebih bisa menyajikan lokalitas daerah yang ada dimasing-masing, pastinya TV lokal dapat menjadi sebuah media massa yang lebih berpotensial tinggi dibanding dengan televisi nasional. Karena, pada hakikatnya televisi lokal sangatlah detail dan beragam dalam menyajikan berita mengenai daerah masing-masing.

1.5.5 Penggunaan Bahasa dalam Berita Televisi

Menurut Dewabrata, bahasa yang digunakan ketika menulis berita memiliki cara khusus, yaitu kalimat pupuler, jernih, tidak ruwet, runtut ada penalaran, serta jelas.

(24)

Tidak ada batasan usia, pekerjaan, dan kelamin. Karena, semua bisa menonton acara yang ada di televisi tidak perlu menggunakan ekstra pikiran tak seperti saat membaca koran yang perlu berpikir terlebih dahulu (Dewabrata, 2004).

Bahasa jurnalistik atau pers yang biasa digunakan para wartawan yaitu bersifat padat, jelas, menarik singkat, sederhana, dan lugas. Bahasa yang digunakan berdasar Bahasa baku yang tak menganggap sepi kaidah Bahasa, selalu melihatkan ejaan yang baik serta dalam kosa kata sesuai dengan jaman yang terus berkembang dalam keseharian (Anwar, 2004).

Bahasa televisi berbeda dengan media cetak yang dimana menggunakan bahasa tutur yang sudah dituangkan kedalam tulisan guna dibacakan oleh newscater, kemudian penonton dapat mendengar dan menyimak dengan baik. Penulisan berita televisi sama dengan penulisan berita yang ada di radio karena pembuatan berita yang baik yaitu menulis untuk didengarkan. Harus dicatat pula, bahwa bahasa tutur tak melihat ruang tetapi melihat waktu (Oramahi, 2015).

Walaupun untuk siaran berita yang sifatnya serius, bahasa yang digunakan tetap yang ringan dan lebih mudah dimengerti oleh audience. Karena, tidak semua penonton pengetahuan dan ilmu sastranya tinggi, maka sebaiknya tidak menggunakan bahasa yang terlalu kaku untuk berita televisi. Lebih membutuhkan “Bahasa komunikatif”

supaya para pemirsa bisa mengerti dengan cepat.

1.6 Berita sebagai Sumber Informasi dalam Televisi

(25)

1.6.1 Berita

M. V. Charmley dalam buku Oramahi mengartikan bahwa berita merupakan laporan ontime sebuah kebeneran maupun pernyataan yang memikat minat / penting, atau justru dua-duanya untuk beberapa khalayak. Tetapi, berita televisi merupakan sebuah peristiwa yang dibuat dalam bentuk audio dan visual (suara dan gambar), berikutnya memancarkan gelombang elektromagnetik yang ditangkap penonton di rumah dengan pesawat yang disebut television receiver unit (Oramahi, 2015).

Kehidupan manusia tak dapat dipisah dengan berita karena berita begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Di pagi hari semua media cetak atau koran memuat peristiwa kemarin. Sedangkan media massa televisi serta radio menyuguhkan berita tak hanya kemarin tapi juga bisa berita hari ini. Internet pun saat ini mempercepat penyebaran informasi atau berita.

Andi Fachruddin juga menjelaskan kesimpulan bahwa laporan mengenai kebeneran dari sebuah peristiwa atau opini yang terdapar didalam sebuah naskah, foto, audiovisual, peta grafis, gambar yang disimpan dalam bentuk rekaman atau siaran langsung yang menarik dan actual serta bermanfaat untuk disiarkan dalam media massa yang periodic, seperti halnya majalah, televisi, koran dan radio (Fachruddin, 2012).

Terdapat berbagai jenis berita yang ada di media massa, yaitu politik, sosial, hukum, ekonomi, budaya, olahraga, dan masih banyak lagi. Pada faktanya disetiap hari pasti terdapat berbagai macam peristiwa terjadi. Akan tetapi, muncul-lah pertanyaan peristiwa atau kejadian seperti apa yang layak disebut berita? Maka, dapat

(26)

dipertimbangkan beberapa hal berikut, manusia menggigit anjing, bukan anjing menggigit manusia dan suatu hal yang tak terjadi sebelumnya, bencana atau hal yang menyenangkan, dan suatu hal menarik bernilai tinggi yang dianggap reporter dan redaktur bahwa hal tersebut adalah berita (Junaedi, 2013).

1.6.2 Karakteristik Televisi

Media massa yang berjalan dengan cara linear communication merupakan pengertian dari karakteristik televisi. Konten yang bertajuk informasi, pendidikan, berita dan hiburan yang tergolong jelas, singkat, santun dan padat secara “audio dan visual” hanya diberikan secara linier, yang dalam artian feedback-nya tidak bisa didapat langsung dengan cara timbal balik. Akan tetapi di jaman modern saat ini, yang dimana telah ada program interaksi dalam stasiun televisi, dimana pemirsa langsung berkomunikasi melalui telepon. Hanya saja, tidak semua program dapat menerapkan interaksi tersebut, hanya program tertentu saja (Oramahi, 2015).

1.6.3 Sumber Berita

Bahan berita berasal dari sumber berita di luar studio termasuk yang berasal dari berbagai sumber, yaitu reporter, kantor berita, pemantauan, jumpa pers, terbitan, kunjungan media, dan liputan seremoni. Adapun penjelasan mengenai sumber tersebut:

1. Reporter, merupakan panggilan untuk salah satu profesi dalam bisnis media massa, panggilan yang khusus digunakan oleh peliput berita untuk radio dan televisi saja.

2. Kantor berita, pada awalnya kantor berita hanya memasok berita tertulis saja, sejalan dengan jaman kantor berita telah mampu memasok berita dalam bentuk audio visual.

(27)

3. Pemantauan, memantau siaran diantar stasiun televise juga merupakan cara mendapatkan sumber berita. Tetapi, harus sesuai dengan kaidah dan norma kerjasama yang mengikat antar stasiun televisi.

4. Jumpa pers, pihak yang mengadakan jumpa pers ialah pemerintah, institusi dan swasta guna menjelaskan kepada public mengenai kebijakan yang diambil / mengenalkan produk/barang baru. Karena pada dasarnya, jumpa pers dirasa sangat efektif untuk berkomunikasi dengan public atau audience.

5. Terbitan,.yaitu berbentuk selebaran, warkat berita, brosur dan in-house magazine juga dapat dijadikan sumber sebuah berita, akan tetapi sekedar kebutuhan referensi.

6. Kunjungan media yang dimana sebuah institusi mendatangkan para jurnalis agar dapat mendatangi tempat yang masih baru dibuka guna kepentingan usaha agar memperoleh gambaran dan informasi langsung tentang produk terbaru.

7. Liputan seremoni juga biasa dikerjakan lembaga media pemerintah. Liputan ini memiliki nilai jurnalistik yang sangat rendah, atau paling tidak hanya digunakan sebagai stock shot (Oramahi, 2015).

1.6.4 Menyunting Naskah Berita

Serangkaian proses mendapatkan berita telah dilalui, saatnya reporter menulis berita yang akan ditayangkan. Naskah yang akan melewati proses voice over, sebelumnya harus melalui proses peng-koreksian oleh editor naskah yaitu produser berita yang bertugas, istilah lainnya mengedit naskah atau menyunting naskah berita.

Setelah proses penyuntingan oleh produser berita, saatnya reporter melakukan voice over atau dubbing bersama editor gambar, seusai gambar telah melewati proses editing

(28)

juga. Catatan untuk reporter ketika sedang proses menyunting tidak boleh meninggalkan newsroom karena jika ada berita yang salah, maka harus menjelaskan demi kesempurnaan hasil siaran.

Diawal pembuatan naskah seorang reporter seharusnya menjadikan Bahasa sederhana yang mengandung 5W+1H sebagai kekuatan penulisan naskah guna menghindari kesalahan yang harus disunting. Unsur tersebut harus memenuhi syarat yaitu; menarik, melibatkan nama besar, penting, melibatkan kebutuhan orang-orang, human interest, proximity, mampu ditanggungjawabkan, dan cover both side (Fachruddin, 2012).

1.6.5 Jenis dan Bentuk Berita Televisi

Berita televisi dapat dikategorikan dalam dua jenis berita, yaitu sebagai berikut:

1. Hardnews / Straight News

Hardnews dapat diartikan sebagai berita yang terikat waktu atau bersifat timely dan bergantung kepada aktualitas waktu guna menimalisir berita yang basi. Contoh kejadian : pertandingan keolahragaan, banjir, tsunami, tanah longsor, kecelakaan dan wafatnya beberapa tokoh, itulah beberapa kejadian yang harus disiarkan secepatnya karena sangat terikat oleh waktu.

2. Softnews / Features

Softnews dapat diartikan sebagai berita yang tidak terikat waktu atau timeless. Berita dari sofnews ini bisa selalu diliha, dengar dan baca sampai kapanpun tanpa ada batas waktunya. Contoh: penemuan ilmiah, dan isah sukses, kisah tragis (Junaedi, 2013).

(29)

Adapun bentuk berita televisi, sebagai berikut:

1) Paket (PKG)

Berita televisi berbentuk paket memiliki karakteristik yaitu”

 Berita yang berisi naskah dan sudah melalui proses rekaman atau voice over, suara alami dan soundbite.

 Seharusnya dipakai ketika berita tersebut relative kuat dengan soundbite dan suara

alami yang membantu.

2) Sound On Tape / SOT

Berita televisi berbentuk SOT memiliki spesifikasi yaitu:

 Cukup tentang hasil wawancara bersama informan

 Cukup digunakan ketika dirasa cuplikan suara dari informan penting

 Tak ada visual baik / tak ada sama sekali (Oramahi, 2015).

1.7 Fokus Penelitian

Dalam penelitian, peneliti harus mengetahui dan mencantumkan fokus penelitian agar terdapat patokan dan tidak keluar jalur. Fokus tersebut berisi tentang penjelasan dimensi terkait pusat dan dasar penelitian yang dikupas tuntas dan dalam.

Karena pada dasarnya fokus penelitian ini menjadi pusat konsentrasii terkait maksud penelitian yang diteliti (Bungin, 2005).

Fokus penelitian merupakan penjelasan oleh peneliti terhadap apa yang sedang dikerjakan. Dalam hal ini peneliti memilih kebijakan redaksi program momenta TV Lokal untuk diteliti, diharapkan dapat mengetahui dan memahami kebijakan oleh tim redaksi JTV biro Malang yang diterapkan dalam salah satu program berita, yaitu

(30)

Momenta. Serta, dapat mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam menyajikan berita yang ada di Momenta tersebut.

Gambar

Gambar 2.1 Proses Gatekeeping (Sumber: Google)
Gambar 2.2 Penjelasan Elemen Proses Gatekeeping
Tabel 2.1 Jenis Televisi

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dengan meggunakan metode-metode dalam pendekatan kuantitatif yang selanjutnya disebut penelitian kuantitatif, adalah suatu bentuk penelitian ilmiah yang

Bertolak dari tugas pokok Humas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura diatas, pada penelitian ini juga ada hubungan Hubungan Masyarakat dengan publik

Berdasarkan hasil penjelasan dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hakim menolak praperadilan pemohon yaitu: Pertama, Penetapan tersangka baru menjadi objek

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

populcr di masyarakat awam. Permainan debus pada akhirnya tidak hapya mcrujuk pada sumber tarekat yang ada, tetapi dari tradisi lokal yang telah lama populer

Buku Statistik Sumber Daya Alam di Lampung Tahun 2009 yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung merupakan publikasi lanjutan dari buku statistik Balai

Walaupun asumsi yang digunakan dalam mengestimasi nilai pakai aset yang tercermin dalam Laporan Keuangan Konsolidasian dianggap telah sesuai dan wajar, namun

 Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer  Tujuan: mengetahui kepekatan urine.  Alat