KARAKTERISTIK PENDERITA BRONKITIS YANG DIRAWAT JALAN PADA KELOMPOK UMUR ≥ 15 TAHUN DI RSU
Dr. FERDINAN LUMBAN TOBING SIBOLGA TAHUN 2010 – 2012
SKRIPSI
Oleh :
RINALDI TOGAP S NIM. 0810000101
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
KARAKTERISTIK PENDERITA BRONKITIS YANG DIRAWAT JALAN PADA KELOMPOK UMUR ≥ 15 TAHUN DI RSU
Dr. FERDINAN LUMBAN TOBING SIBOLGA TAHUN 2010 – 2012
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
RINALDI TOGAP S NIM. 081000101
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
ABSTRAK
Bronkitis (Inflamation bronchi) digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus. Hal ini ditandai dengan peradangan pada saluran bronkial dan dibedakan dalam bentuk akut dan kronis. Indonesia belum memiliki data yang akurat tentang angka morbiditas bronkitis akut maupun kronik. Bronkitis termasuk sepuluh penyakit terbesar rawat jalan di RSU Dr. Ferdinan L. Tobing. Total kasus Bronkitis dari tahun 2010-2012 ada sebanyak 442 kasus.
Untuk mengetahui karakteristik penderita Bronkitis rawat jalan di RSU Dr.
Ferdinan L.Tobing Tahun 2010-2012 dilakukan penelitian deskriptif dengan desain case series. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien Bronkitis yang dirawat jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga. Populasi 442 data dan sampel 206 data diperoleh dengan tabel random pada program C.Survey, analisis data dengan uji Chi- square.
Hasil penelitian menunjukkan proporsi tertinggi penderita Bronkitis pada kelompok umur 24 - 32 tahun 21,8% , jenis kelamin laki-laki pada kelompok umur 24-32 tahun 22,6%, jenis kelamin perempuan pada kelompok umur 42-50 tahun 25,6%, pekerjaan wiraswasta 19,4%, dengan status kawin 75,2%, tempat tinggal di dalam Kota Sibolga 63,6%, gejala klinis batuk 100%, jenis Bronkitis kronik 58,3%, riwayat merokok 61,7%, jumlah kunjungan ≤ 4 kali 76,7% dan sumber biaya umum 51,5%.
Hasil uji statistik menunjukkan ada proporsi perbedaan yang bermakna antara umur penderita berdasarkan jenis Bronkitis (p<0,05), jenis kelamin berdasarkan jenis Bronkitis (p<0,05), jenis kelamin berdasarkan riwayat merokok (p<0,05), dan riwayat merokok berdasarkan jenis bronkitis (p<0,05). Tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara jumlah kunjungan berdasarkan sumber pembiayaan (p>0,05).
Diharapkan penderita bronkitis meningkatkan daya tahan tubuh, kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan mengurangi merokok dan para dokter dan perawat Rumah Sakit Umum Dr Ferdinand L.Tobing Sibolga untuk memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarga mereka tentang penyakit bronkitis
Kata kunci : Bronkitis, Karakteristik Penderita, RSU Dr.Ferdinan L.Tobing
ABSTRACT
Bronchitis (Inflamation bronchi) is described as inflammation of the bronchial vessels. It is characterized by inflammation of the bronchial tubes and divided into acute and chronic forms. Indonesia does not have accurate data on morbidity of acute or chronic bronchitis. Bronchitis including ten biggest disease in the outpatient Dr. Ferdinan L. Tobing General Hospital. Total cases of bronchitis in 2010-2012 there were 442 cases.
To determine the characteristics of patients with bronchitis outpatient Dr.
Ferdinan L.Tobing General Hospital from 2010 until 2012 conducted a descriptive study design case series. Data were collected from medical records of patients Bronchitis who were treated the way bronchitis Dr. Ferdinan L.Tobing General Hospital Sibolga. The Populations in this study as much as 442 data and the samples in this study as much as 206 data obtained by sampling random tables C.Survey program, data analysis by using Chi-square test.
The results showed the highest proportion of people with bronchitis in the age group 24-32 years 21,8%, for male gender in the age group of 24-32 years 22,6%, for female gender in the age group of 42-50 years 25,6%, 19,4% self-employed jobs, with marital status 75,2%, residence in Sibolga 63,6%, 100% clinical symptoms of cough, chronic bronchitis type 58,3%, 61,7% smoking history, number of visits ≤ 4 times 78,2% and other general expenses 51,5%.
Statistical test results showed there is significant difference proportion between of patients aged by type of bronchitis (p <0,05), gender by type of bronchitis (p <0,05), and sex based on a history of smoking (p <0,05), and a history of smoking by type of bronchitis type (p<0,05). There is no significant difference proportion between of the number of visits by source of funding (p> 0.05).
Expected to bronchitis sufferers to increase body resistance, hygiene, environmental sanitation and reduce smoking and the doctors and nurses Dr.
Ferdinan L.Tobing General Hospital Sibolga to give understanding to patients and their families about the disease bronchitis.
Keyword : Bronchitis, Caractheristic of patient, Dr. Ferdinan L.Tobing General Hospital.
DAFTAR RIWAYAT HIDP
Nama : Rinaldi Togap Simanjuntak
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 10 September 1989
Agama : Kristen Protestan
Status Perkawinan : Belum Menikah
Anak ke : I (pertama) dari 4 bersaudara
Alamat Rumah : Jalan SM. Raja, G.Kasih, Lor.Porsea No.3B, Medan Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 06 Sibolga (1995-2001)
2. SMPN 2 Sibolga (2001-2004
3. SMA Swasta Tri-Ratna Sibolga (2004-2007)
4. FKM USU (2008-2013)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan karena atas berkat dan rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Karakteristik Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan Pada Kelompok Umur ≥ 15 Tahun Di RSU Dr.
Ferdinand Lumban Tobing Sibolga Tahun 2010 - 2012”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini penulis persembahkan kepada ayahanda Drs. Nelson Simanjuntak dan ibunda Berthauli Siagian yang telah membesrakan, membimbing dan mendidik penulis dengan kasih sayang serta memberikan dukungan dan doa yang tak pernah henti kepada penulis dalam meyelesaikan pendidikan.
Terima kasih kepada dosen pembimbing I Ibu drh.Rasmaliah,M.Kes dan dosen pembimbing II Bapak Drs. Jemadi,M.Kes serta dosen penguji I Bapak Prof.dr.Sori Muda Sarumpaet,MPH dan dosen penguji II Bapak dr.Makmur Sinaga,MS yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberi saran, kritikan, bimbingan serta masukan kepada penulis untuk penyempurnaan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama,MS selaku dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
2. Bapak dr.M.Makmur Sinaga,MS selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah setia membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu drh.Rasmaliah,M.Kes selaku Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Direktur, Kepala Bagian Rekam Medis dan Dokter Poliklinik Paru dan Saluran Napas RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga beserta staf yang telah memberikan izin penelitian dan telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian.
5. Seluruh Dosen serta Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
6. Kepada keluargaku tersayang : Risanti C., Sofia M., Febiola D., kalian telah memberikan arti dalam hidupku melalui dorongan semangat, kasih sayang dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Buat Kelompok Kecilku: Bang Erikson Marbu, SKM, Mandroy P, SKM Arnold Maruli, SKM, Johannes Sianturi, Henokh Sembiring terima kasih kalian sudah menjadi tempat penulis berkeluh kesah, memberi semangat dan doa selama menyelesaikan skripsi ini.
8. Buat teman-temanku seperjuangan peminatan epidemiologi stambuk 2008 terima kasih atas kebersamaan dan dukungan yang telah diberikan.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya.
“Berbuatlah Kebaikan Dengan Usahamu, Semampumu dan Pasrahkan Semuanya Kepada-Nya”
Medan, Juli 2013 Penulis
RINALDI TOGAP SIMANJUNTAK
DAFTAR ISI
Abstrak ... i
Abstract ... ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii
Kata Pengantar ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus ... 4
1.4 Manfaat ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... . 6
2.1. Defenisi Bronkitis ... 6
2.2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan ... 7
2.2.1. Anatomi Sistem Pernapasan ... . 7
a. Saluran pernapasan bagian atas ... . 7
a.1. Hidung (Naso) ... . 7
a.2. Tekak (Faring) ... . 8
a.3. Tenggorok (Laring) ... . 8
b. Saluran pernapasan bagian bawah ... . 8
b. 1. Batang Tenggorok (Trakea) ... . 8
b.2. Cabang batang tenggorok (Bronkus) ... . 8
b.3. Ranting-ranting tenggorok (Bronhiolus) ... . 9
b.4. Alveoli ... . 9
b.5. Paru-paru ... . 9
b.6. Pembuluh darah pada paru ... . 9
2.2.2. Fisiologi Pernapasan ... . 10
2.3. Etiologi ... 10
a. Bronkitis infeksiosa ... . 11
b. Bronkitis iritatif ... . 11
2.4. Patologi Bronkitis ... 11
2.5. Patofisiologi Bronkitis ... 12
2.6. Gejala Klinis... . 12
2.7. Jenis Bronkitis ... 13
2.7.1.Bronkitis infeksiosa ... . 13
2.7.2. Bronkitis iritatif ... . 13
2.8. Komplikasi Bronkitis ... . 14
2.9. Epidemiologi Bronkitis ... . 14
2.9.1. Distribusi dan Frekuensi ... . 14
2.9.2. Determinan ... . 15
2.10. Pencegahan Bronkitis ... 17
2.10.1. Pencegahan Primer ... . 17
2.10.2. Pencegahan Sekunder ... . 17
2.10.3. Pencegahan Tersier ... . 21
2.11. Kerangka Konsep ... . 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1. Jenis Penelitian ... 24
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 24
3.2.2. Waktu Penelitian ... 24
3.3. Populasi dan Sampel ... 24
3.3.1. Populasi ... 24
3.3.2. Sampel ... 24
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 26
3.5. Defenisi Operasional ... 26
3.6. Teknik Analisa Data ... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 30
4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 30
4.2. Analisa Deskriptif ... 31
4.2.1. Sosiodemografi Penderita Bronkitis ... 31
4.2.2. Gejala Klinis Penderita Bronkitis ... 34
4.2.3. Jenis Bronkitis Penderita Bronkitis ... 34
4.2.4. Riwayat Merokok Penderita Bronkitis ... 34
4.2.5. Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis ... 35
4.2.6. Sumber Pembiayaan Penderita Bronkitis ... 35
4.3. Analisa Statistik ... 36
4.3.1. Umur Berdasarkan Jenis Kelamin ... 36
4.3.2. Jenis Kelamin Berdasarkan Jenis Bronkitis ... 36
4.3.3. Jenis Bronkitis Berdasarkan Riwayat Merokok ... 37
4.3.5. Jumlah Kunjungan Berdasarkan Sumber Pembiayaan ... 38
BAB V PEMBAHASAN ... 39
5.1. Sosiodemografi Penderita Bronkitis ... 39
5.1.1. Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin ... 39
5.1.2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 41
5.1.3. Berdasarkan Pekerjaan ... 41
5.1.4. Berdasarkan Status Perkawinan ... 43
5.1.5. Berdasarkan Tempat Tinggal ... 44
5.2. Gejala Klinis Penderita Bronkitis... 45
5.3. Jenis Bronkitis Penderita Bronkitis ... 45
5.4. Riwayat Merokok Penderita Bronkitis... 46
5.5. Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis ... 47
5.6. Sumber Pembiayaan Penderita Bronkitis... 48
5.7. Analisa Statistik ... 50
5.7.1. Umur berdasarkan Jenis Kelamin ... 50
5.7.2. Jenis Kelamin Berdasarkan Jenis Bronkitis ... 51
5.7.3. Riwayat Merokok berdasarkan Jenis Bronkitis... 52
5.7.5. Jumlah Kunjungan Berdasarkan Sumber Pembiayaan ... 53
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... . 54
6.1. Kesimpulan ... 54
6.2. Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 4.1 Distribusi Proporsi Umur dan Jenis Kelamin Penderita
Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing
Sibolga Tahun 2010 - 2012 ... 32 Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Sosiodemografi Penderita Bronkitis Yang
Dirawat Jalan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010 - 2012... 33 Tabel 4.3 Distribusi Prporsi Gejala Klinis Penderita Bronkitis Yang
Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010 - 2012... 34 Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Jenis Bronkitis Penderita Bronkitis Yang
Dirawat Jalan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010 - 2012... 34 Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Riwayat Merokok Penderita Bronkitis
Yang Dirawat Jalan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga
Tahun 2010 - 2012 ... 34 Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis
Yang Dirawat Jalan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga
Tahun 2010 - 2012 ... 35 Tabel 4.7 Distribusi Proporsi Sumber Pembiayaan Penderita Bronkitis
Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga
Tahun 2010 - 2012 ... 35 Tabel 4.8 Distribusi Proporsi Umur pada Penderita Bronkitis
Berdasarkan Jenis Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr.
Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 - 2012 ... 36 Tabel 4.9 Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Penderita Bronkitis
Berdasarkan Jenis Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU
Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 - 2012 ... 36 Tabel 4.10 Distribusi Proporsi Orang Riwayat Merokok pada Penderita
Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis Yang Dirawat Jalan di
RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 - 2012 ... 37
Tabel 4.11 Distribusi Proporsi Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis Berdasarkan Sumber Pembiayaan Yang Dirawat Jalan di
RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 - 2012 ... 38
LAMPIRAN
Lampiran I Master Data Lampiran II Frequency Table Lampiran III Crosstab
Lampiran IV Surat Izin Penelitian
Lampiran V Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Anatomi Bronkus yang normal dan Bronkitis ... 7 Gambar 5.1 Diagram Piramida Populasi Penderita Bronkitis
Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di RSU Dr.Ferdinan
L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 39 Gambar 5.2 Diagram Bar Penderita Bronkitis Berdasarkan Pekerjaan
di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 41 Gambar 5.3 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Perkawinan
di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 43 Gambar 5.4 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Tempat
Tinggal di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010-2012 ... 44 Gambar 5.5 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Jenis
Bronkitis di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010-2012 ... 45 Gambar 5.6 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Riwayat
Merokok di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010-2012 ... 47 Gambar 5.7 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Jumlah
Kunjungan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010-2012 ... 48 Gambar 5.8 Diagram Pie Penderita Bronkitis Berdasarkan Sumber
Pembiayaan di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun
2010-2012 ... 49 Gambar 5.9 Diagram Bar Perbedaan Proporsi Umur Penderita
Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis di RSU Dr.Ferdinan
L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 50 Gambar 5.10 Diagram Bar Perbedaan Proporsi Jenis Kelamin Penderita
Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis di RSU Dr.Ferdinan
L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 51
Gambar 5.11 Diagram Bar Perbedaan Proporsi Jenis Bronkitis Berdasarkan Riwayat Merokok di RSU Dr.Ferdinan
L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 52 Gambar 5.12 Diagram Bar Perbedaan Proporsi Jumlah Kunjungan
Berdasarkan Sumber Pembiayaan di RSU Dr. Ferdinan
L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 ... 53
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari pembangunan sumber daya manusia dalam mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin.1 Berbagai transisi yang ada, baik transisi demografik, sosio- ekonomi maupun epidemiologi telah menimbulkan pergeseran – pergeseran, termasuk bidang kesehatan. Angka kematian menurun dan usia harapan hidup secara umum makin panjang, pola penyakit dan penyebab kematian telah berubah. Penyakit menular yang selalu menjadi penyebab kesakitan dan kematian utma mulai bergeser dan digantikan oleh penyakit tidak menular, salah satunya adalah penyakit pada saluran pernapasan yaitu bronchitis.2
Penyakit dan gangguan saluran napas masih merupakan masalah terbesar di Indonesia pada saat ini. Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberculosis, asma dan bronkitis masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi merupakan penyebab yang tersering.
Kemajuan dalam bidang diagnostik dan pengobatan menyebabkan turunnya insidens penyakit saluran napas akibat infeksi. Di lain pihak kemajuan dalam bidang industri dan transportasi menimbulkan masalah baru dalam bidang kesehatan yaitu polusi udara. Bertambahnya umur rata-rata penduduk, banyaknya jumlah penduduk yang merokok serta adanya polusi udara meningkatkan jumlah penderita.3
Bronkitis adalah salah satu kondisi teratas yang pasien mencari perawatan medis. Hal ini ditandai dengan peradangan pada saluran bronkial (atau bronkus),
saluran udara yang membentang dari trakea ke dalam saluran udara kecil dan alveoli.
Bronkitis ada 2 macam menurut terminologi lamanya penyakit berdiam didalam tubuh penderita yaitu bronkitis akut dan bronkitis kronik. Penelitian yang sering dilakukan juga banyak mengacu ke pembagian bronkitis tersebut. Penelitian yang membahas tentang bronkitis tidak mempunyai data – data yang lengkap yang bisa digunakan dalam penelitian – penelitian ilmiah.4
Suatu penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2005 didapat angka Insidens rate dari bronkitis akut berkisar 4,6 per 100. Di Amerika Serikat, bronkitis akut adalah penyakit yang paling umum kesembilan diantara pasien rawat jalan atau sekitar 4,60% atau 12,5 juta orang di Amerika Serikat. Sebuah data Insiden ekstrapolasi di Amerika Serikat untuk bronkitis akut: 12.511.999 per tahun, 1.042.666 per bulan, 240.615 per minggu, 34.279 per hari, 1.428 per jam, dan 23 per menit.5
Sedangkan peneltian pada tahun 2006 di kota London, Inggris bronkitis akut mempengaruhi 44 dari setiap 1000 orang dewasa > 16 tahun, dengan sebagian besar episode yaitu sekitar 82% episode terjadi pada musim gugur atau musim dingin. Di Australia, bronkitis akut ditemukan menjadi alasan yang paling umum kelima untuk berkonsultasi dengan dokter umum.6
Di Amerika Serikat prevalensi rate untuk bronkitis kronik adalah berkisar 4,45% atau 12,1 juta jiwa dari populasi perkiraan yang digunakan 293 juta jiwa.
Sedangkan ekstrapolasi tingkat prevalensi bronkitis kronik di Mongolia berkisar 122.393 orang dari populasi perkiraan yang digunakan adalah berkisar 2.751.314 juta jiwa. Untuk daerah ASEAN, negara Thailand salah satu negara yang merupakan angka ekstrapolasi tingkat prevalensi bronkitis kronik yang paling tinggi yaitu
berkisar 2.885.561 jiwa dari populasi perkiraan yang digunakan sebesar 64.865.523 jiwa, untuk negara Malaysia berada di sekitar 1.064.404 dari populasi perkiraan yang digunakan sebesar 23.552.482 jiwa.7 SKRT 2001, asma, bronkitis kronik dan emfisema menduduki peringkat ke-3 (PMR 12,7%) sebagai penyebab angka kesakitan umum di Indonesia setelah sistem sirkulasi, infeksi, dan parasit.8 Indonesia belum memiliki data yang akurat tentang angka morbiditas bronkitis akut maupun bronkitis kronik. Data mengenai bronkitis akut dapat kita peroleh dari rumah sakit yang menyediakan bagian penyakit respiratory ataupun rumah sakit sentra pendidikan. Penelitian untuk membahas tentang bronkitis kronik jarang dilakukan, data angka kesakitan dapat diperoleh dari rumah sakit – rumah sakit sentra pendidikan.9
Di Rumah Sakit H.Adam Malik Medan (2004) jumlah pasien bronkitis kronik yang dirawat inap ada sebanyak 89 kasus dengan proporsi 1,43% yang terbagi atas laki-laki 76 orang dan perempuan 13 orang dan usia paling banyak adalah usia 45 tahun sebanyak 64 orang. Sedangkan untuk rawat jalan tahun 2002 kasus bronkitis kronik ada 97 kasus dengan proporsi 0,12% dan pada tahun 2003 terdapat 156 kasus dengan proporsi 0,2% dan pada tahun 2004 terdapat 232 kasus dengan proporsi 0,28% dan terlihat ada peningkatan kasus setiap tahunnya.10
Berdasarkan survei pendahuluan yang penulis lakukan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga, bahwa terdapat pasien yang rawat jalan pada kelompok umur ≥ 15 tahun yang menderita bronkitis terdapat 135 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011 terdapat 149 orang dan pada tahun 2012 terdapat 153 orang. Dari uraian pada latar belakang di atas maka perlu dilakukan tentang karakteristik penderita bronkitis yang
rawat jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga dari bulan Januari 2010 – Desember 2102.
1.2. Rumusan Masalah
Belum diketahui karakteristik penderita bronkitis yang rawat jalan pada kelompok umur ≥ 15 tahun di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 – 2012.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui karakteristik penderita bronkitis yang rawat jalan pada kelompok umur ≥ 15 tahun di RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010 – 2012.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan sosiodemografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan dan tempat tinggal).
b. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan gejala klinis.
c. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan jenis bronkitis.
d. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan riwayat merokok.
e. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan jumlah kunjungan.
f. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis berdasarkan sumber pembiayaan.
g. Mengetahui distribusi proporsi umur penderita bronkitis berdasarkan jenis bronkitis.
h. Mengetahui distribusi proporsi jenis kelamin penderita bronkitis berdasarkan jenis bronkitis.
i. Mengetahui distribusi proporsi penderita bronkitis riwayat merokok berdasarkan jenis bronkitis
j. Mengetahui distribusi proporsi jumlah kunjungan penderita bronkitis berdasarkan sumber pembiayaan.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi pihak Rumah Sakit Umum Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga.
1.4.2. Sebagai bahan masukan/informasi bagi peneliti lain yang ingin melakukan/melanjutkan penelitian tentang penderita bronkitis.
1.4.3. Sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di FKM USU.
1.4.4. Salah satu persyaratan bagi penulis dalam menyelesaikan studi pada FKM USU.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Defenisi Bronkitis
Paru – paru merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan manusia yang berfungsi pada sistem pernapasan manusia. Bertugas sebagai tempat pertukaran oksigen yang dibutuhkan manusia dan mengeluarkan karbondiksida yang merupakan hasil sisa proses pernapasan yang harus dikeluarkan dari tubuh, sehingga kebutuhan tubuh akan oksigen terpenuhi. Udara sangat penting bagi manusia, tidak menghirup oksigen selama beberapa menit dapat menyebabkan kematian. Itulah peranan penting paru – paru. Cabang trakea yang berada dalam paru – paru dinamakan bronkus, yang terdiri dari 2 yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Organ yang terletak di bawah tulang rusuk ini memang mempunyai tugas yang berat, belum lagi semakin tercemarnya udara yang kita hirup serta berbagai bibit penyakit yang berkeliaran di udara. Ini semua dapat menimbulkan berbagai penyakit paru – paru. Salah satunya adalah penyakit yang terletak di bronkus yang dinamakan bronchitis.11 Bronkitis (Bronkitis inflamasi-Inflamation bronchi) digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus. Inflamasi menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inflamasi.12
Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya
bronkus kecil (medium size), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Hal ini dapat memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya.13
Gambar 2.1. Menunjukkan perbedaan bronkus normal dan bronkitis Sumber: http//www.medicastore.com/penyakit/14/bronkitis.html
2.2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan 2.2.1 Anatomi Sistem Pernapasan14
a. Saluran pernapasan bagian atas a.1. Hidung (Naso)
Merupakan saluran utama dan yang pertama yang dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir disekresikan secara terus menerus oleh sel-sel boblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring
oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai penyaring kotoran, melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru.
a.2. Tekak (Faring)
Faring adalah struktur yang menghubungkan hidung dengan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region : nasofaring, orofaring, dan lariofaring.
Fungsi utamanya adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorium dan digestif.
a.3 Tenggorok (Laring)
Laring adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakhea. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan terjadinya lokalisasi. Laring juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Laring juga merupakan saluran udara dan bertindak sebegai pembentuk suara.
b. Saluran Pernapasan bagian bawah b.1. Batang Tenggorok (Trakea)
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 s/d 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk huruf C, sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia.
b.2 Cabang tenggorok (Bronkus)
Merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus ada 2 yaitu: Bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus kanan lebih pendek, lebih besar dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kanan lebih pendek, lebih besar dan mempunyai 3 cabang.
Bronkus kiri lebih panjang, lebih ramping dan mempunyai 2 cabang.
b.3. Ranting-ranting tenggorok (Bronchiolus)
Merupakan cabang yang lebih kecil dari bronkus. Pada ujung bronhiolus terdapat gelembung atau alveoli.
b.4. Alveoli
Alveoli adalah kantung udara, didalam alveoli darah hampir langsung bersentuhan dengan udara dan didalam alveoli ada jaringan pembuluh darah kapiler, didalam alveoli inilah terjadi pertukaran gas. Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli. Terdapat tiga jenis sel – sel alveolar, sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding alveolar. Sel alveolar tipe II sel-sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfactan, suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar tipe III adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagositosis yang besar memakan benda asing dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan penting.
b.5. Paru – paru
Paru-paru ada dua, yaitu paru kanan dan paru kiri. Paru kanan terdiri dari 3 lobus, dan paru kiri terdiri dari 2 lobus.
b.6. Pembuluh darah pada paru
Arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen (O2) dari ventrikel kanan jantung ke paru-paru.
Pembuluh darah yang dilukiskan sebagai arteri bronchialis membawa darah yang berisi oksigen (O2) langsung dari aorta torasika ke paru-paru untuk menghantarkan oksigen (O2) ke dalam jaringan paru-paru.
2.2.2. Fisiologi Pernapasan15
Pernapasan mencakup 2 proses, yaitu:
a. Pernapasan luar yaitu proses penyerapan oksigen (O2) dan penegluaran karbondiosida (CO2) secara keseluruhan.
b. Pernapasan dalam yaitu proses pertukaran gas anatar sel jaringan dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel). Proses fisiologi pernapasan dalam menjalankan fungsinya mencakup 3 proses, yaitu:
b.1. Ventilasi yaitu proses keluar masuknya udara dari atmosfir ke alveoli paru.
b.2 Difusi yaitu proses perpindahan/pertukaran gas dari alveoli ke dalam kapiler paru.
b.3. Transper yaitu proses perpindahan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.
2.3. Etiologi
Secara umum penyebab bronkitis dibagi berdasarkan faktor lingkungan dan faktor host/penderita. Penyebab bronkitis berdasarkan faktor lingkungan meliputi polusi udara, merokok dan infeksi. Infeksi sendiri terbagi menjadi infeksi bakteri (Staphylococcus, Pertusis, Tuberculosis, mikroplasma), infeksi virus (RSV, Parainfluenza, Influenza, Adeno) dan infeksi fungi (monilia). Faktor polusi udara meliputi polusi asap rokok atau uap/gas yang memicu terjadinya bronkitis. Sedangkan faktor penderita meliputi usia, jenis kelamin, kondisi alergi dan riwayat penyakit paru yang sudah ada.16
a. Bronkitis infeksiosa
Brokitis infeksiosa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, terutama Mycoplasamapneumoniae dan Chlamydia. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari :
a.1. Sinusitis kronik a.2. Bronkiektasis a.3. Alergi
a.4. Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak b. Bronkitis iritatif
Bronkitis iritatif adalah bronkitis yang disebabkan alergi terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah bronkus. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida, dan bromine, polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida, tembakau dan rokok lainnya. Faktor etiologi utama adalah zat polutan.17
2.4. Patologi Bronkitis
Kelainan utama pada bronkus adalah hipertensi kelenjar mukus dan menyebabkan penyempitan pada saluran bronkus, yang mengakibatkan diameter bronkus menebal lebih dari 30-40% dari tebalnya didinding bronkus normal, dan akan terjadi sekresi mukus yang berlebihan dan kental. Sekresi mukus menutupi cilia, karena lapisan dahak menutupi cilia, sehingga cilia tidak mampu lagi mendorong
dahak keatas, satu-satunya cara mengeluarkan dahak dari bronki adalah dengan batuk.18
2.5. Patofisiologi Bronkitis
Temuan utama pada bronkitis adalah hipertropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltasi sel-sel radang dan edema pada mukosa sel bronkus. Pembentukan mukosa yang terus menerus mengakibatkan melemahnya aktifitas silia dan faktor fagositosis dan melemahkan mekanisme pertahananya sendiri. Pada penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam saluran napas.17
2.6. Gejala Klinis
Gejala umum bronkitis akut maupun bronkitis kronik adalah:
2.6.1. Batuk dan produksi sputum adalah gejala yang paling umum biasanya terjadi setiap hari. Intensitas batuk, jumlah dan frekuensi produksi sputum bervariasi dari pasien ke pasien. Dahak berwarna yang bening, putih atau hijau- kekuningan.
2.6.2. Dyspnea (sesak napas) secara bertahap meningkat dengan tingkat keparahan penyakit. Biasanya, orang dengan bronkitis kronik mendapatkan sesak napas dengan aktivitas dan mulai batuk.
2.6.3. Gejala kelelaha, sakit tenggorokan , nyeri otot, hidung tersumbat, dan sakit kepala dapat menyertai gejala utama.
2.6.4. Demam dapat mengindikasikan infeksi paru-paru sekunder virus atau bakteri.19
Pada bronkitis akut, batuk terjadi selama beberapa minggu. Sesorang didiagnosis bronkitis kronik ketika mengalami batuk berdahak selama paling sedikit tiga bulan selama dua tahun berturut-turut. Pada bronkitis kronik mungkin saja seorang penderita mengalami bronkitis akut diantara episode kroniknya, dan batu mungkin saja hilang namun akan muncul kembali.20
2.7. Jenis Bronkitis 2.7.1. Bronkitis akut
Adalah batuk yang tiba-tiba terjadi karena infeksi virus yang melibatkan jalan napas yang besar. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan.21
2.7.2. Bronkitis kronik
Bronkitis kronik merupakan penyakit saluran napas yang sering didapat di masyarakat. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan oleh karena sifatnya yang kronik, persisten dan progresif. Infeksi saluran napas merupakan masalah klinis yang sering dijumpai pada penderita bronkitis kronik yang dapat memperberat penyakitnya. Eksaserbasi infeksi akut akan bronkitis kronik yang dapat memperberat penyakitnya. Eksaserbasi infeksi akut akan mempercepat kerusakan yang telah terjadi, disamping itu kuman yang menyebabkan eksaserbasi juga berpengaruh terhadap morbiditas penyakit ini. Penyakit ini berlangsung lebih lama dibandingkan bronkitis akut, yaitu berlangsung selama 1 tahun dengan frekuensi batu produktif 3 bulan selam 2 tahun berturut-turut.22
2.8. Komplikasi Bronkitis
Komplikasi dari bronkitis tidak terlalu besar, yaitu antara lain:
2.8.1. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik.
2.8.2. Pada orang yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat terjadi Othitis Media, Sinusitis dan Pneumonia.
2.8.3. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi.
2.8.4. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasis atau Bronkietaksis.23 2.9. Epidemiologi Bronkitis
2.9.1. Distribusi dan Frekuensi a. Orang
Hasil penelitian mengenai penyakit bronkitis di India, data yang diperoleh untuk usia penderita ( ≥ 60 tahun) sekitar 7,5%, untuk yang berusia (≥ 30-40 tahun) sekitar 5,7% dan untuk yang berusia (≥ 15-20 tahun) sekitar 3,6%. Selain itu penderita bronkitis ini juga cenderung kasusnya lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, hal ini dipicu dengan keaktivitasan merokok yang lebih cenderung banyak dilakukan oleh kaum laki-laki.24
b. Tempat dan Waktu
Penduduk di kota sebagian besar sudah terpajan dengan berbagai zat-zat polutan di udara, seperti asap pabrik, asap kendaraan bermotor, asap pembakaran dan asap rokok, hal ini dapat memberikan dampak terhadap terjadinya bronchitis.25
Bronkitis lebih sering terjadi di musim dingin pada daerah yang beriklim tropis ataupun musim hujan pada daerah yang memiliki dua musim yaitu daerah tropis.26
2.9.2. Determinan a. Host
a.1. Umur
Suatu penelitian yang dilakukan di Brasil pada tahun 2010 diperoleh kemungkinan relatif bronkitis kronik terlihat pada laki-laki (OR= 2,17, 95% CI 1,50- 3,13), pendapatan keluarga yang rendah (OR = 2,60, 95% CI 1,47-4,47 untuk kuartil terendah) rendah sekolah (OR=4,65, 95% CI 2,36-9,18 bagi merka dengan tidak sekolah).7
a.2. Merokok
Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronkitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume eksipirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamusepitel saluran pernapasan juga dapat menyebabkan bronkitis akut.27 Penelitian di Brazil pada tahun 2010 mendapatkan hasil peneltian dengan kebiasaan merokok (OR = 6,92, 95% CI 4,22-11,36 unruk perokok dari 20 atau lebih rokok per hari).7
a.3. Infeksi
Eksaserbasi bronkitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan Streptococus pneumonie. Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan (terutama) organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia).28
a.4. Polusi
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat-zat kimia dapat juga menyebabkan bronkitis adalah zat-zat pereduksi seperti O2, zat-zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, dan ozon.28
a.5. Keturunan
Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa-1-antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.29
a.6. Faktor sosial ekonomi
Kematian pada bronkitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek29. b. Agent
Bronkitis dapat disebabkan oleh virus (virus influenza, respiratory syncytical virus), bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia).4
c. Environment
Pencemaran udara merupakan masalah paling serius di daerah perkotaan.
Urbanisasi mengakibatkan meningkatnya aktivitas manusia dan kepadatan penduduk.
Peningkatan penduduk akan diikuti oleh semakin meningkatnya kebutuhan di bidang transportasi, Kegiatan industri juga mengakibatkan meningkatnya pencemaran dan
akan berdampak terhadap menurunnya kualitas lingkungan. Hal ini akan berpengaruh terhadap meningkatnya berbagai kasus penyakit, termasuk bronchitis.25
2.10. Pencegahan Bronkitis 2.10.1. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat agar tidak sakit.30 Menurut Soegito (2007), untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah parah.
a. Membatasi aktifitas/kegiatan yang memerlukan tenaga yang banyak
b. Tidak tidur di kamar yang ber AC dan menggunakan baju hangat kalau bisa hingga sampe leher
c. Hindari makanan yang merangsang batuk seperti: gorengan, minuman dingin (es), dll.
d. Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan memandikan anak dengan air hangat
e. Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan f. Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi
2.10.2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan upaya untuk membantu orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan.30 Pencegahan ini dapat dilakukan dengan:
a. Diagnosis32
Diagnosis dari bronkitis dapat ditegakkan bila pada anamnesa pasien mempunyai gejala batuk yang timbul tiba-tiba dengan atau tanpa sputum dan tanpa adanya bukti pasien menderita pneumonia, common cold, asma akut dan eksaserbasi akut. Pada pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya tidak khas. Dapat ditemukan adanya demam, gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring hiperemis. Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk, pada auskultasi dapat terdengar ronki, wheezing, ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah.
Dalam suatu penelitian terdapat metode untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia pada pasien dengan batuk disertai dengan produksi sputum yang dicurigai menderita bronkitis, yang antara lain bila tidak ditemukan keadaan sebagai berikut:
a.1. Denyut jantung > 100 kali per menit a.2. Frekuensi napas > 24 kali per menit a.3. Suhu badan > 380 C
a.4. Pada pemeriksaan fisik paru tidak terdapat focal konsolidasi dan peningkatan suara napas.
b. Pemeriksaan fisik33
b.1. Keadaan umum baik: tidak tampak sakit berat dan kemungkinan ada nasofaringitis.
b.2. Keadaan paru : ronki basah kasar yang tidak tetap (dapat hilang atau pindah setelah batuk, wheezing dan krepitasi)
c. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan dahak dan rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. Bila penyebabnya bakteri, sputumnya akan seperti nanah.29 Untuk pasien anak yang diopname, dilakukan dengan tes C-reactive protein, kultur pernapasan, kultur darah, kultur sputum, dan tes serum aglutinin untuk membantu mengklasifikasikan penyebab infeksi apakah dari bakteri atau virus. Jumlah leukositnya berada > 17.500 dan pemeriksaan lainnya dilakukan dengan cara tes fungsi paru-paru dan gas darah arteri.32
d. Pengobatan34 d.1. Antibiotika d.1.1. Penisilin
Mekanisme kerja antibiotik golongan penisilin adalah dengan perlekatan pada protein pengikat penisilin yang spesifik (PBPs) yang berlaku sebagai reseptor pada bakteri, penghambat sintesis dinding sel dengan menghambat transpeptidasi dari peptidoglikan, dan pengaktifan enzim autolitik di dalam dinding sel, yang menghasilkan kerusakan sehingga akibatnya bakteri mati. Antibiotik golongan penisilin yang biasa digunakan adalah amoksisilin.
d.1.2. Quinolon
Golongan quinolon merupakan antimikrobial oral memberikan pengaruh yang dramatis dalam terapi infeksi. Dari prototipe awal yaitu asam nalidiksat berkembang menjadi asam pipemidat, asam oksolinat, cinoksacin, norfloksacin. Generasi awal mempunyai peran dalam terapi gram-negatif infeksi saluran kencing. Generasi
berikutnya yaitu generasi kedua terdiri dari pefloksasin, enoksasin, ciprofloksasin, sparfloksasin, lemofloksasin, fleroksasin dengan spektrum aktifitas yang lebih luas untuk terapi infeksi community-acquired maupun infeksi nosokomial. Lebih jauh lagi ciprofloksasin, ofloksasin, peflokasin tersedia sebagai preparatparenteral yang memungkinkan penggunaanya secara luas baik tunggal maupun kombinasi dengan agen lain.
d.2. Mukolitik dan Ekspektoran
Bronkitis dapat menyebabkan produksi mukus berlebih. Kondisi ini menyebabkan peningkatan penebalan mukus. Perubahan dan banyaknya mukus sukar dikeluarkan secara alamiah, sehingga diperlukan obat yang dapat memudahkan pengeluaran mukus.
Mukus mengandung glikoprotein, polisakarida, debris sel, dan cairan/eksudat infeksi. Mukolitik bekerja dengan cara memecah glikoprotein menjadi molekul- molekul yang lebih kecil sehingga menjadi encer. Mukus yang encer akan mendesak dikeluarkan pada saat batuk, contoh mukolitik adalah asetilsistein.
d.2.1. Ekspektoran
Ekspektoran bekerja dengan cara mengencerkan muku dalam bronkus sehingga mudah dikeluarkan, salah satu contoh ekspektoran adalah guaifenesin.
Guaifenesin bekerja dengan cara mengurangi viskositas dan adhesivitas sputum sehingga meningkatkan efektivitas mukociliar dalam mengeluarkan sputum dari saluran pernapasan.
2.10.3. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan penderita bronkitis dengan terapi-terapi yang dapat membantu pernapasan.30 Pencegahan tersier untuk penderita bronkitis dapat ditolong dengan terapi farmakologi dan terapi non- farmakologi yaitu:
a. Terapi Farmakologi35 a.1. Bronkodilatori
Bronkodilator mempunyai aksi merelaksasi otot-otot polos pada saluran pernapasan. Ada tiga jenis bronkodilator yaitu : Simpatomimetika, metilsantin, dan antikolinergik.
a.1.1. Beta-2 agonis (Simpatomimetika)
Obat-obat simpatomimetika merupakan obat yang mempunyai aksi serupa dengan aktifitas simpatis. Sistem saraf simaptis memgang peranan penting dalam menentukan ukuran diameter bronkus. Ujung saraf simpatis yang menghasilkan norephinepherin, epinefrin dan isoproterenol disebut adrenergik (Dipiro, et al., 2008).
Adrenergik memiliki dua reseptor yaitu alfa dan beta. Reseptor beta terdiri beta 1 dan beta 2. Beta 1 adrenergik terdapat pada jantung, beta 2 adrenergik terdapat pada kelenjar dan otot halus bronkus. Adrenergik menstimulasi reseptor beta 2 sehingga terjadi bronkodilatasi.35
a.1.2. Metilxantin
Teofilin merupakan golongan metil santin yang banyak digunakan, disamping kafein dan dyphylline. Kafein dan dyphylline kurang paten dibandingkan dengan teofilin.35
Obat golongan ini menghambat produksi fosfodiesterase. Dengan penghambatan ini penguraian cAMP menjadi AMP tidak terjadi sehingga kadat cAMP seluler meningkat. Peningkatan ini menyebabkan bronkodilatasi. Obat-obat metilsantin antara lain aminofilin dan teofilin.35
b. Terapi Non-farmakologi.35
Terapi non-farmakologi dapat dilakukan dengan cara : b.1. Pasien harus berhenti merokok
b.2. Kalau timbul kesulitan dalam pernapasan atau dadanya bagian tengah sangat sesak, biarlah dai menghirup uap air tiga kali sehari.
b.3. Taruhlah kompres uap di atas dada pasien dua kali sehari, dan taruhlah kompres lembab di atas dada sepanjang malam sambil menjaga tubuhnya jangan sampai kedinginan.
b.4. Rehabilitasi paru-paru secara komprehensif dengan olahraga dan latihan pernapasan sesuai yang diajarkan tenaga medis.
b.5. Istirahat yang cukup.
2.11. Kerangka Konsep
Karakteristik Penderita Bronkitis 1. Sosiodemografi
Umur
Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan
Status Perkawinan Tempat Tinggal 2. Gejala Klinis 3. Jenis Bronkitis 4. Riwayat Merokok 5. Jumlah Kunjungan 6. Sumber Pembiayaan
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan menggunakan desain case series.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga dengan pertimbangan bahwa rumah sakit ini merupakan rumah sakit pusat rujukan, berbagai lapisan masyarakat datang untuk berobat ke rumah sakit ini, serta memiliki data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
3.2.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai dari bulan November 2012 - Juli 2013.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua data penderita penyakit bronkitis berumur ≥ 15 tahun yang dirawat jalan di RSU Dr.Ferdinan Lumban Tobing Sibolga tahun 2010-2012 yang sebanyak 442 kasus.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi atau penderita bronkitis berumur ≥ 15 tahun yang dirawat jalan di RSU Dr.Ferdinan Lumban Tobing Sibolga tahun 2010- 2012 yang diteliti.
a. Besar Sampel
Besar sampel minimal yang dibutuhkan diperoleh dengan rumus36:
𝑛 =
𝑡2𝑃𝑄 𝑑2 1 + 1
𝑁 ( 𝑡2𝑃𝑄
𝑑2 − 1) 𝑛 =
1,962 0,5 (0,5) 0,052 1 + 1
442(1,962 0,5 (0,5) 0,052 − 1) 𝑛 = 205,7785
𝑛 ≈ 206 data/kasus Keterangan:
n = Jumlah sampel minimal
N = jumlah populasi yaitu 442 kasus
t = tingkat kepercayaan (digunakan 0,95 sehingga nilai t = 1,96) d = taraf kekeliruan (digunakan 0,05)
p = proporsi dari karakteristik tertentu (golongan) / proporsi penyakit bronkitis pada penelitian sebelumnya yaitu 0,5
q = 1-p (proporsi bukan penyakit bronkitis) 1= bilangan Konstan
Maka besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini setelah menggunakan persamaan rumus diatas sebesar 206 kasus.
b. Cara Pengambilan Sampel.
Pengambilan sampel dari daftar populasi yang telah disiapkan dilakukan secara acak sederhana (Simpel Random Sampling) dengan menggunakan tabel random pada program C.Survey. Penderita bronkitis yang menjadi populasi peneltian mempunyai peluang yang sma untuk menjadi sampel.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dati data sekunder yang diperoleh dari kartu status penderita bronkitis pada kelompok ≥ 15 tahun yang bersumber dari Rekam Medik RSU Dr.Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012. Kartu status dengan kasus bronkitis yang terpilih sebagai sampel dikumpulkan lalu dilakukan pencatatan variabel-variabel yang diteliti kemudian dilakukan tabulasi data.
3.5. Defenisi Operasional
3.5.1. Penderita bronkitis adalah penderita yang dirawat jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga dan dinyatakan berdasarkan diagnosa dokter yang dicatat pada kartu status penderita yang ada di rekam medis.
3.5.2. Sosiodemografi dibedakan atas:
a. Umur adalah lamanya hidup penderita bronkitis yang dihitung berdasarkan tahun sejak lahir sampai ulang tahun terakhir, yang dikategorikan berdasarkan rumus Sturgest. Penggolongan umur sebagai berikut :
1. 15-23 tahun 2. 24-32 tahun 3. 33-41 tahun 4. 42-50 tahun 5. 51-59 tahun 6. 60-68 tahun 7. 69-77 tahun 8. 78-86 tahun
Untuk analisa statistik, kelompok umur dikategorikan atas:
1. 15-36 tahun 2. 37-58 tahun 3. 59-80 tahun
b. Jenis kelamin adalah ciri khas organ reproduksi yang dimiliki oleh penderita bronkitis yang tercatat di kartu status, yang dikategorikan atas :
1. Laki-laki 2. Perempuan
c. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang pernah ditempuh atau yang sedang dijalani oleh penderita bronkitis sesuai dengan yang tertulis di kartu status, dikategorikan atas:
1. Belum sekolah 2. SD
3. SLTP 4. SLTP
5. Akademi/Perguruan Tinggi
d. Pekerjaan adalah kegiatan utama yang dilakukan penderita bronkitis yang tercatat di kartu status, yang dikategorikan atas:
1. Nelayan
2. PNS/TNI/POLRI 3. Pegawai Swasta 4. Wiraswasta
5. Ibu Rumah Tangga (IRT) 6. Pelajar/mahasiswa
7. Tidak bekerja 8. Tidak tercatat
e. Status perkawinan adalah keterangan yang menunjukkan riwayat pernikahan penderita Bronkitis sesuai dengan yang tertulis di kartu status, dikategorikan atas:
1. Kawin 2. Belum kawin
f. Tempat tinggal adalah daerah dimana penderita bronkitis tinggal menetap sesuai dengan yang tertulis di kartu status, dikategorikan atas :
1. Kota Sibolga 2. Luar Kota Sibolga 3. Tidak tercatat
3.5.3. Gejala klinis adalah keluhan utama yang dirasakan penderita bronkitis pada saat datang berobat ke rumah sakit, yang dikategorikan atas :
1. Batuk 2. Sesak nafas
3.5.4. Jenis bronkitis adalah jenis bronkitis berdasarkan jenis patogen penyebab bronkitis, yang dikategorikan atas:
1. Bronkitis akut 2. Bronkitis kronik
3.5.5. Riwayat merokok adalah kebiasaan merokok penderita bronkitis yang tercatat pada kartu status penderita yang dikategorikan atas:
1. Merokok 2. Tidak merokok
3.5.6. Jumlah kunjungan adalah jumlah kunjungan penderita bronkitis yang tercatat pada kartu status penderita dikategorikan atas:
1. ≤ 4 kali 2. > 4 kali
3.5.7. Sumber biaya adalah jenis sumber biaya yang digunakan oleh penderita bronkitis selama dirawat di rumah sakit sesuai yang tercatat di kartu status, yang dikategorikan atas:
1. Umum
2. Asuransi Kesehatan (Askes) 3. Jamkesmas
4. Jamkesda 5. Jamsostek 6. SKTM
Untuk analisa statistik, sumber biaya dikategorikan atas:
1. Biaya sendiri
2. Bukan biaya sendiri (terdiri dari: Askes, Jamkesmas, Jamkesda, Jamsostek dan SKTM)
3.6. Teknik Analisis Data
Data dikumpulkan, diolah, dan dianalisa secara statistik deskriptif dengan menggunakan uji Chi-Square. Data disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi proporsi, diagram pie dan diagram bar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga
RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing adalah nama rumah sakit berasal dari nama seorang pahlawan kemerdekaan yang juga pernah menjadi pimpinan Rumah Sakit Sibolga Dr. Ferdinan Lumban Tobing yang mengabadikan dirinya di RS Sibolga pada tahun 1937 – 1944.
Perubahan status kepemilikan rumah sakit terjadi pada tanggal 1 April 1992.
Kepemilikan RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga diserahkan dari Pemerintah Tk.II Tapanuli Tengah ke Pemerintah Kota Madya Tk.II Sibolga berdasarkan Surat Keputusan Bersama Bupati Kepala Daerah Tk. II Tapanuli Tengah dan Walikota Madya Sibolga No. 445/11a/1992 dan No. 445/91/1992 karena RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga terletak di daerah Kota Madya Sibolga. Hingga sekarang RSU sudah lulus akreditasi 5 pelayanan (Administrasi, Rekam Medik, Pelayanan, Keperawatan dan IGD) dan mendapat predikat RSU Kelas B Non Pendidikan. Saat ini rumah sakit Dr. Ferdinan L. Tobing sedang mempersiapkan diri untuk menjadi RS BLUD (Badan Layanan Umum Daerah).
4.1.1. Visi
Mengacu pada visi Kota Sibolga, maka RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga menetapkan visinya adalah : ” Menjadi Rujukan Pelayanan Kesehatan di Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara“.
4.1.2. Misi
Misi RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga :
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan mandiri 2. Meningkatkan mutu dan profesionalisme sumber daya tenaga rumah sakit 3. Menyelenggarakan pengelolaan manajemen yang tertib administrasi 4. Meningkatkan kemitraan dengan pihak ketiga
5. Meningkatkan kesejahteraan karyawan 4.1.3. Motto
Motto RSU Dr. Ferdinan Lumban Tobing Sibolga :
“Kesembuhan Anda, Kebahagiaan Kami“.
Adapun fasilitas kesehatan yang tersedia di RSU Dr. Ferdinan L. Tobing Sibolga yaitu instalasi rawat jalan terdiri dari poliklinik bedah, anak, penyakit dalam, obgyn, THT neurologi, paru, kesehatan jiwa, mata, umum, gigi dan mulut, kulit kelamin, VCT, DM. Instalasi rawat inap terdiri dari kelas III, II, I, VIP, perinatologi, paru, isolasi dan VK. Instalasi penunjang antara lain IGD, farmasi, radiologi, bedah sentral, pengendalian askes, gizi, patologi klinik, ICU dan fisioterapi.
4.2. Analisa Deskriptif
4.2.1. Sosiodemografi Penderita Bronkitis
Proporsi penderita Bronkitis berdasarkan karakteristik sosiodemografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan tempat tinggal) yang dirawat jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1. Proporsi Umur dan Jenis Kelamin Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
No. Umur (Tahun)
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan
f % f % f %
1 15 – 23 24 19,4 17 20,3 41 19,9
2 24 – 32 28 22,6 17 20,7 45 21,8
3 33 – 41 19 15,3 10 12,2 29 14,1
4 42 – 50 18 14,5 21 25,6 39 18,9
5 51 – 59 16 12,9 8 9,9 24 11,7
6 60 – 68 15 12,1 6 7,3 21 10,2
7 69 – 77 4 3,23 2 2,4 6 2,9
8 78 – 86 0 0 1 1,6 1 0,5
Jumlah 124 100 82 100 206 100
Dari tabel 4.1. dapat dilihat bahwa proporsi penderita Bronkitis berdasarkan umur, kelompok umur tertinggi berada pada kelompok umur 24 – 32 tahun yaitu sebanyak 45 orang (21,8%), sedangkan penderita bronkitis berdasarkan jenis kelamin, pada jenis kelamin laki-laki jumlah penderitanya yaitu sebanyak 124 orang (60,2%) dengan kelompok tertingginya pada kelompok umur 24 – 32 tahun sebanyak 28 orang (22,6%) dan pada jenis kelamin perempuan jumlah penderitanya ada sebanyak 82 orang (39,8%) dengan kelompok tertinggi pada kelompok umur 42–50 tahun ada sebanyak 21 orang (25,6%).
Tabel 4.2. Distribusi Proporsi Sosiodemografi Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
No. Sosiodemografi f %
1. Pekerjaan Nelayan
PNS/TNI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta
Ibu Rumah Tangga (IRT) Pelajar/Mahasiswa Tidak Bekerja Tidak tercatat
9 27 24 40 31 28 27 20
4,4 13,1 11,7 19,4 15,1 13,6 13,1 9,6
Jumlah 206 100
2. Status Perkawinan Kawin
Belum Kawin
155 51
75,2 24,8
Jumlah 206 100
3. Tempat Tinggal Kota Sibolga Luar Kota Sibolga Tidak Tercatat
131 69 6
63,6 33,5 2,9
Jumlah 206 100
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa proporsi penderita Bronkitis berdasarkan pekerjaan tertinggi yaitu Wiraswasta sebanyak 40 orang (19,4%) dan terendah adalah Nelayan sebanyak 9 orang (4,4%) serta terdapat yang tidak tercatat pada kartu status sebanyak 20 orang (9,6%), berdasarkan status perkawinan tertinggi yaitu kawin sebanyak 155 orang (75,2%) dan berdasarkan tempat tinggal umumnya berasal dari Kota Sibolga sebanyak 131 orang (63,6%) dan tidak tercatat sebanyak 6 orang (2,9%).
4.2.2. Proporsi Gejala Klinis Penderita Bronkitis
Tabel 4.3. Distribusi Proporsi Gejala Klinis Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Gejala Klinis f %
Batuk 206 100
Sesak napas 116 58,3
Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa proporsi gejala klinis pada penderita Bronkitis menunjukkan bahwa gejala klinis Bronkitis pada umumnya adalah batuk sebanyak 206 orang (100%).
4.2.3. Proporsi Jenis Bronkitis Penderita Bronkitis
Tabel 4.4. Distribusi Proporsi Jenis Bronkitis Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Jenis Bronkitis f %
Bronkitis akut 90 44
Bronkitis Kronik 116 56
Jumlah 206 100
Dari tabel 4.4. dapat dilihat bahwa proporsi jenis Bronkitis penderita Bronkitis, menunjukkan jenis yang tertinggi adalah Bronkitis kronik yaitu sebanyak 116 orang (56%) .
4.2.4. Proporsi Riwayat Merokok Penderita Bronkitis
Tabel 4.5. Distribusi Proporsi Riwayat Merokok Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Riwayat Merokok f %
Merokok 127 61,7
Tidak Merokok 79 38,3
Jumlah 206 100
Dari tabel 4.5. dapat dilihat bahwa proporsi riwayat merokok penderita Bronkitis, menunjukkan bahwa penderita Bronkitis yang mempunyai kebiasaan merokok yang tertinggi yaitu sebanyak 127 orang (61,7%).
4.2.5. Proporsi Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis
Tabel 4.6. Distribusi Proporsi Jumlah Kunjungan Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Jumlah Kunjungan f %
≤ 4 kali 158 76,7
>4 kali 48 23,3
Jumlah 206 100
Dari tabel 4.6. dapat dilihat bahwa proporsi jumlah kunjungan penderita Bronkitis, menunjukkan penderita Bronkitis melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang tertinggi adalah dengan kunjungan ≤ 4 kali yaitu sebanyak 158 orang (76,7%) .
4.2.6. Proporsi Sumber Pembiayaan Penderita Bronkitis
Tabel 4.7. Distribusi Proporsi Sumber Pembiayaan Penderita Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Sumber Pembiayaan f %
Biaya Sendiri 106 51,5
Bukan Biaya Sendiri 100 48,5
Jumlah 206 100
Dari tabel 4.7. dapat dilihat bahwa proporsi sumber pembiayaan penderita Bronkitis, menunjukkan penderita menggunakan biaya sendiri untuk melakukan pengobatan yaitu sebanyak 106 orang (51,5%) .
4.3. Analisia Statistik
4.3.1. Umur Berdasarkan Jenis Bronkitis
Tabel 4.8. Distribusi Proporsi Umur Penderita Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Jenis Bronkitis
Umur (tahun) Jumlah
15 – 36 37 -58 59 – 80
f % f % f % f %
Bronkitis akut
63 70 21 23,3 6 6,7 90 100
Bronkitis kronik
40 34,5 53 45,7 23 19,8 116 100
X2= 26,073 df = 2 p = 0,000
Dari tabel 4.8. diatas dapat dilihat bahwa dari 116 orang penderita Bronkitis jenis Bronkitis kronik yang tertinggi berada pada kelompok umur 37 – 58 tahun sebanyak 53 orang (45,7%) dan yang terendah berada pada kelompok umur 59 – 80 tahun yaitu sebanyak 23 orang (19,8%).
Analisis statistik dengan uji chi-square diperoleh p<0,05 berarti secara statistik ada perbedaan proporsi yang bermakna antara umur penderita berdasarkan jenis Bronkitis.
4.3.2. Jenis Kelamin Berdasarkan Jenis Bronkitis
Tabel 4.9. Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Penderita Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis Yang Dirawat Jalan di RSU Dr.
Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012 Jenis
Bronkitis
Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan
f % f % f %
Bronkitis akut 35 38,9 55 61,1 90 100
Bronkitis kronik
89 76,7 27 23,3 116 100
X2= 30,278 df = 1 p = 0,000
Dari tabel 4.9. diatas dapat dilihat bahwa dari 116 orang penderita Bronkitis jenis bronkits tertinggi pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 89 orang (76,7%) dan yang terendah pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 27 orang (23,3%).
Analsis statistik dengan uji chi-square diperoleh p<0,05 berarti secara statistik ada perbedaan proporsi yang bermakna antara jenis kelamin penderita berdasarkan jenis Bronkitis.
4.3.3. Riwayat Merokok Berdasarkan Jenis Bronkitis
Tabel 4.10. Distribusi Proporsi Riwayat Merokok Penderita Bronkitis Berdasarkan Jenis Bronkitis Riwayat Merokok Yang Dirawat Jalan di RSU Dr. Ferdinan L.Tobing Sibolga Tahun 2010-2012
Jenis Bronkitis Riwayat Merokok Jumlah
Merokok Tidak Merokok
f % f % f %
Bronkitis Akut 31 34,4 59 34,5 90 100
Bronkitis Kronik 96 82,8 20 17,2 116 100
X2= 50,036 df = 1 p = 0,000
Dari tabel 4.10. diatas dapat dilihat bahwa dari 116 orang penderita bronkitis kronik yang mempunyai kebiasaan merokok sebanyak 96 orang (82,8%) dan yang tidak merokok sebanyak 20 orang (17,2%).
Analsis statistik dengan uji chi-square diperoleh p<0,05 berarti secara statistik ada perbedaan proporsi yang bermakna antara riwayat merokok penderita Bronkitis berdasarkan jenis bronkitis.