• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Akuifer

Akuifer adalah lapisan batuan dibawah permukaan tanah yang mengandung air dan dapat dirembesi air. Akuifer adalah formasi geologi atau grup formasi yang mengandung air dan secara signifikan mampu mengalirkan air melalui kondisi alaminya. Batasan lain yang digunakan adalah reservoir airtanah, lapisan pembawa air. Todd (1955) menyatakan bahwa akuifer berasal dari Bahasa Latin yaitu aqui dari aqua yang berarti air dan ferre yang berarti membawa, jadi akuifer adalah lapisan pembawa air.

Airtanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat didalam ruang antar butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut akuifer. Lapisan yang mudah dilalui oleh airtanah disebut lapisan permeable, seperti lapisan yang terdapat pada pasir atau kerikil, sedangkan lapisan yang sulit dilalui airtanah disebut lapisan impermeable, seperti lapisan lempung atau geluh. Lapisan yang dapat menangkap dan meloloskan air disebut akuifer.

Gambar 2.1. Proses Terjadinya Akuifer (Sumber: http://faculty.kutztown.edu)

5

commit to user

(2)

Suatu akuifer mempunyai dua fungsi penting, yaitu sebagai penyimpan laksana sebuah waduk dan sebagai penyalur air seperti jaringan pipa. Kedua fungsi itu diemban oleh pori-pori atau rongga di dalam batuan akuifer itu. Dua sifat yang berhubungan dengan fungsinya sebagai penyimpan adalah porositas (porosity) dan hasil jenis (specific yield).

2. Akuifer Karst

Akuifer dapat diartikan sebagai suatu formasi geologi yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah dalam jumlah yang cukup pada kondisi hidraulik gradien tertentu (Acworth, 2001 dalam Haryono 2004:19). Cukup artinya adalah mampu mensuplai suatu sumur ataupun mata air pada suatu periode tertentu. Jika formasi karst dapat menyimpan dan mengalirkannya sehingga sebuah sumur atau mataair mempunyai debit air yang cukup signifikan, maka sah-sah saja jika formasi karst tersebut disebut sebagai suatu akuifer.

Dua hal ekstrim pada akuifer karst adalah adanya sistem conduit dan diffuse yang hampir tidak terdapat pada akuifer jenis lain (White, 1988 dalam Haryono, 2004:24). Ada kalanya suatu formasi karst didominasi oleh sistem conduit dan ada kalanya pula tidak terdapat lorong-lorong conduit tetapi lebih berkembang sistem diffuse, sehingga hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap sirkulasi airtanah karst. Tetapi, pada umumnya suatu daerah karst yang berkembang baik mempunyai kombinasi dua elemen tersebut.

Gambar 2.2. Sistem Aliran Diffuse dan Conduit di Akuifer Karst (White, 1988) commit to user

(3)

White (1988) membagi akuifer karst menjadi 3 model konseptual atas dasar sifat alirannya yaitu aliran:

a. Diiffuse-flow karst aquifer atau akuifer dengan sistem aliran dominan diffuse.

Akuifer ini tidak memiliki aktivitas pelarutan yang baik, sehingga dapat dikategorikan sebagai akuifer homogen dan sistem alirannya mendekati hukum Darcy (Gambar 2.2). Akuifer ini biasanya terdapat pada akuifer karbonat yang tidak mudah larut, misalnya dolomit. Air bergerak sepanjang rekahan-rekahan kecil yang hanya sedikit terpengaruh oleh aktivitas pelarutan. Jika terdapat goa, biasanya kecil dan tidak berhubungan satu sama lain. Output air biasanya juga hanya memiliki debit dalam jumlah yang kecil sebagai mataair atau rembesan. Muka airtanah dapat dengan mudah didefinisikan dan karena sebagian recharge adalah melalui fracture, fluktuasinya tidak terlalu besar dan kedudukan muka airtanah (water table) dapat sedikit diatas base level regional.

b. Free-flow karst aquifer.

Akuifer ini juga memiliki aliran tipe diffuse, tetapi lorong-lorong solusional lebih dominan dimana sebagian besar aliran adalah melalui lorong-lorong conduit yang ada. Airtanah karst pada akuifer ini sangat terkontrol oleh distribusi dan arah dari lorong-lorong tersebut. Gambar 2.2.

mengilustrasikan bahwa pendekatan hukum aliran yang digunakan adalah pipe flow karena sebagian besar air terdapat pada lorong-lorong conduit yang diibaratkan mempunyai bentuk seperti pipa dengan diameter tertentu.

Oleh karena itu, kecepatan aliran diidentikkan dengan kecepatan aliran saluran permukaan (misal:sungai). Sifat alirannya adalah turbulen dan bukan laminar. Pada akuifer ini, mataair dapat mempunyai respon yang sangat cepat terhadap recharge/hujan dan mungkin pula mempunyai karakteristik hidrograf aliran yang sama dengan sungai permukaan.

c. Confined-flow karst aquifer

Akuifer karst yang berada dibawah batuan yang mempunyai nilai permeabilitas yang sangat kecil. Sistem aliran akuifer ini sangat dikontrol commit to user

(4)

oleh lapisan diatasnya, walaupun memiliki lorong-lorong hasil proses solusional.

3. Imbuhan Akuifer

Andreo mendefinisikan pengertian imbuhan akuifer sebagai berikut:

Imbuhan akuifer adalah sejumlah air hujan yang masuk ke dalam sistem akuifer tersebut selama periode waktu tertentu, meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa imbuhan juga berasal dari permukaan (sungai, danau dll), atau transfer dari akuifer lain.

Andreo, dkk (2008:911)

Volume air yang masuk ke dalam akuifer biasanya dinyatakan dalam hm3/tahun dan biasanya disebut sebagai input air tahunan rata-rata atau dikatakan sebagai persentase hujan tahunan atau dapat juga dikatakan sebagai tingkat imbuhan atau infiltrasi efektif. Untuk periode yang cukup lama, dan air dari suatu akuifer tidak dipompa maka input rata-rata tahunannya sama dengan output tahunannya.

Sumber imbuhan akuifer berasal dari presipitasi yang langsung masuk ke dalam tanah melalui irigasi, kolam resapan buatan maupun dapat melalui aliran permukaan baik permanen ataupun berkala. Tingkat imbuhan dinyatakan dalam L/detik. Imbuhan bervariasi menurut waktu dan lokasi. Variasi temporal contohnya intensitas hujan yang kadang lama, kadang sebentar, atau varasi hujan jangka pendek. Variabilitas ini terjadi pada zona tak jenuh dangkal, imbuhan terjadi selama infiltrasi jangka pendek, sedangkan di zona tak jenuh dalam, imbuhan kemungkinan besar akan homogen selama beberapa tahun, akibatnya aliran pada zona jenuh dalam akan konstan dan aliran pada zona jenuh dangkal menjadi tidak menentu. Variasi spasial terjadi mengikuti iklim, topografi, tanah, geologi dan tutupan lahan. Contohnya adalah berkurangnya kemiringan lereng atau meningkatnya permeabilitas tanah memungkinkan infiltrasi yang lebih besar dan akibatnya imbuhan juga semakin besar (Suripin 2001 : 50).

Daerah imbuhan air (recharge area) merupakan daerah yang meresapkan air, kemudian mencapai zona jenuh air (saturated zone) di dalam commit to user

(5)

akuifer atau lebih (Blates and Jackson, 1980 dalam Lubis, 2006 : 33).

Kemampuan untuk meresapkan air akan berbeda-beda pada batuan gunungapi, sedimen ataupun metamorf. Hal itu terjadi karena fenomena geologi yang menyertainya, antara lain proses pengendapan/pembentukan batuan (perlapisan, foliasi, klastika, konglomeratik, vesikuler, dll), tingkat pelarutan batuan (rongga, goa, lobang, belahan), tingkat pelapukan batuan (rekahan, belahan, dll), terlipat dan tersesarkan (kekar, belahan, breksiasi, milonitasi) dan deformasi batuan (pelapukan, alterasi, kerusakan struktur batuan). Air hujan yang jatuh di permukaan akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi) sebagai airtanah atau hanya sebagai lengas tanah, sebagian lagi ada yang menjadi aliran permukaan (runoff) dan sebagian lagi mengalami pnguapan kembali (evapotranspirasi). Berikut ini adalah gambar bagaimana proses terjadinya imbuhan.

Gambar 2.3. Daerah Imbuhan dan Akuifer (Sumber: http://faculty.kutztown.edu)

commit to user

(6)

4. Klasifikasi Imbuhan Akuifer

Menurut Simmers (1988), imbuhan akuifer dibedakan menjadi:

imbuhan jangka pendek (short-term recharge), imbuhan musiman (seasonal recharge), imbuhan tahunan (perennial recharge) dan imbuhan historis (historical recharge).

a) Imbuhan Jangka Pendek (short-term recharge)

Imbuhan jenis ini hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, yaitu setelah terjadi hujan lebat. Ciri khas daerah yang memiliki imbuhan ini adalah adanya musim basah dan musim kering.

b) Imbuhan musiman (seasonal recharge)

Daerah yang beriklim sedang, akan memiliki imbuhan musiman pada awal periode salju mencair, sedangkan pada daerah yang beriklim basah dan kering, mengalami imbuhan musiman pada saat musim basah terjadi.

c) Imbuhan Tahunan (perennial recharge)

Imbuhan jenis ini kemungkinan terjadi pada daerah tropis lembab yang selalu terjadi hujan tiap tahun, atau aliran air yang turun. Biasanya contoh dari imbuhan ini pada kanal, waduk buatan manusia dan beberapa danau yang terdapat di daerah beriklim sedang. Selain itu dapat terjadi pada imbuhan buatan (lubang biopori).

d) Imbuhan Historis (historical recharge)

Imbuhan ini terjadi pada masa lampau dan mempunyai kontribusi pada masa sekarang. Imbuhan historis juga berhubungan dengan waktu diam airtanah (groundwater residence time), yaitu waktu yang telah berlalu antara interval waktu pada saat volume tertentu air meresap ke dalam tanah, dan interval di mana air tersebut mencapai muka airtanah (Campana dan Simpson, 1984 dalam Simmers, 1998). Waktu yang paling lama yaitu 350.000 tahun yaitu di Australia.

commit to user

(7)

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Imbuhan

Kusumayudha, (2004) mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi imbuhan. faktor-faktor yang mempengaruhi imbuhan antara lain yaitu iklim, topografi, tanah, geologi, vegetasi dan geomorfologi.

a. Iklim

Ikim merupakan faktor alam yang mempengaruhi imbuhan. Salah satu bagian iklim yang berpengaruh besar adalah curah hujan, hal itu disebabkan karena curah hujan menjadi masukan dari imbuhan (recharge input). Hujan memiliki pola, yaitu akan bertambah tinggi intensitasnya dan durasinya apabila mendekati garis equator dan akan berkurang secara signifikan jika dibandingkan dengan daerah yang berlintang lebih tinggi.

Distribusi hujan pada daerah yang memiliki suhu tinggi, maka tekanan udaranya akan rendah dan mengakibatkan intensitas hujan menjadi tinggi seperti di daerah subtropis maka curah hujannya akan lebih sedikit.

b. Topografi

Secara umum, daerah dengan topografi lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya akan memiliki peluang lebih besar menjadi daerah imbuhan karena air hujan yang jatuh di daerah tinggi akan ada yang meresap dan ada yang menjadi aliran permukaan, serta otomatis akan dialirkan ke daerah yang lebih rendah topografinya karena faktor gaya gravitasi. Secara teori semakin tinggi suatu tempat maka semakin dalam untuk menemukan keberadaan airtanah, dan semakin rendah ketinggian suatu tempat maka keberadaan airtanahnya akan semakin dangkal.

c. Tanah

Sifat-sifat fisik tanah seperti porositas dan permeabilitas merupakan salah satu faktor penentu jumlah air yang dapat meresap ke dalam air. Tipe tanah akan memudahkan untuk mengidentifikasi ukuran dan jumlah kapiler sebagai jalan masuk air ke dalam tanah. Pada tanah yang terbentuk dari batugamping dan marl, komaksi, tutupan, kerak dan keberadaan batuan berpengaruh terhadap tingkat infiltrasi. Pengaruh dari kompaksi, tutupan, dan kerak akan mengurangi infiltrasi, sedangkan commit to user

(8)

keberadaan batuan akan meningkatkan infiltrasi dan mengurangi aliran permukaan.

d. Geologi dan Geomorfologi

Batuan penyusun akuifer yang baik adalah batuan yang mampu meloloskan air dengan baik. Hal yang sama juga harus ditemukan di daerah resapan airtanah. Material lepas dari gunungapi dan batugamping yang terkarstifikasi adalah contoh material yang mempunyai kemampuan meresapkan air dengan baik. Selain ditentukan oleh jenis material batuan itu sendiri, struktur batuan (fracture, fissure, joint, patahan dan bidang perlapisan) yang membentuk porositas sekunder juga penting untuk jalan air meresap ke dalam akuifer.

Geomorfologi berhubungan dengan bentuklahan yang dicirikan oleh relief, tipe litologi dan genesis. Tiap bentuklahan akan mempunyai potensi sendiri-sendiri terkait dengan imbuhan airtanahnya. Proses geomorfologi yang mencerminkan genesisnya seperti pengangkatan dan lipatan menentukan ke mana air akan mengalir dan terkumpul yang kemudian akan menjadi imbuhan airtanah atau aliran permukaan, tergantung pada tipe litologinya. Perbedaan kemiringan lereng pada tiap bentuklahan akan mempengaruhi tingkat infiltrasi dan besarnya runoff. Lereng dengan kemiringan yang besar akan memiliki potensi yang besar untuk terjadinya runoff yang menyebabkan potensi terjadinya infiltrasi menjadi lebih kecil.

Daerah dengan kemiringan lereng kecil memiliki potensi yang besar untuk terjadi infiltrasi karena air yang menjadi runoff semakin sedikit.

e. Vegetasi

Daerah imbuhan umumnya terdapat pada daerah yang memiliki tutupan vegetasi yang lebat. Keberadaan vegetasi memberikan pengaruh utama pada struktur tanah dan akan berefek pada kemampuan lahan tanah untuk meresapkan air. Infiltrasi pada tanah yang terdapat vegetasi cenderung lebih besar dibandingkan dengan tanah yang tidak tertutup oleh vegetasi. Namun hal ini harus mengingat bahwa vegetasi yang menutupnya adalah vegetasi tanaman kayu dan bukan tanaman perdu. commit to user

(9)

6. Metode Penentuan Daerah Resapan

Penelitian yang dilakukan oleh Andreo dkk (2008) menggunakan metode APLIS (Altitude, Pendiente (slope), Litology, Infiltration zone, Soils).

Terdapat lima variabel yang digunakan untuk menentukan imbuhan akuifer karst berdasarkan faktor-faktor karakteristik geologi, hidrogeologi, dan geomorfologi. Rincian faktor-faktor di atas adalah lima variabel APLIS yaitu variabel ketinggian, kemiringan lereng, litologi, zona infiltrasi, dan jenis tanah.

Masing-masing kelima variabel diatas kemudian dikelaskan dan diberi skor berdasarkan besarnya pengaruh terhadap imbuhan. Skor masing-masing variabel mempunyai interval 1-10, skor 1 berarti pengaruhnya kecil terhadap imbuhan akuifer dan skor 10 berarti memiliki pengaruh yang paling besar terhadap imbuhan akuifer.

Berikut ini adalah tabel klasifikasi dan skor pada setiap variabel APLIS.

1) Klasifikasi dan Skor Variabel Ketinggian (Altitude)

Klasifikasi dan skor variabel ketinggian menurut Andreo, dkk (2008) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1. Klasifikasi dan Skor Variabel Ketinggian

No. Ketinggian (mdpal) Skor

1 0-300 1

2 300-600 2

3 600-900 3

4 900-1200 4

5 1200-1500 5

6 1500-1800 6

7 1800-2100 7

8 2100-2400 8

9 2400-2700 9

10 > 2700 10

Sumber: Andreo, dkk 2008

commit to user

(10)

2) Klasifikasi dan Skor Variabel Kemiringan lereng.

Tabel 2.2. Klasifikasi dan Skor Variabel Kemiringan Lereng.

No. Kemiringan Lereng

Skor

Persen (%) Derajat (0)

1 ≤ 3 ≤ 1,35 9

2 3 - 8 1,35 - 3,6 8

3 8 - 16 3,6 - 7,2 7

4 16 – 21 7,2 – 9,45 6

5 21- 31 9,45 – 13,95 5

6 31- 46 13,95 – 20,7 4

7 46 – 76 20,7 – 34,2 3

8 76 – 100 34,2 - 45 2

9 > 100 > 45 1

Sumber: Andreo, dkk., 2008

3) Klasifikasi dan Skor Variabel Litologi

Tabel 2.3. Klasifikasi dan Skor Variabel Litologi

No. Litologi / Batuan Skor

1 Batugamping dan dolomit terkarstifikasi 9 – 10 2 Marmer dengan rekahan, gamping dan dolomite

terkarstifikasi sedang

7 – 8

3 Batugamping dan dolomit bercelah 5 – 6

4 Pasir dan kerikil koluvial 4

5 Napal, breksi dan konglomerat 3

6 Batuan plutonik dan metamorf 2

7 Skis, Slate, dan Lempung 1

Sumber: Andreo, dkk., 2008

commit to user

(11)

4) Klasifikasi dan Skor Variabel Zona Infiltrasi

Tabel 2.4. Klasifikasi dan Skor Variabel Zona Infiltrasi

No. Preferensi zona Skor

1 Zona infiltrasi utama 10

2 Pasiran (sands) 9

3 Pasir debuan, pasir berlembung ( silty sand, loamy sands )

8

4 Geluh berpasir, geluh (sandy loam, loams) 7

5 Geluh debuan (silty loam) 6

6 Geluh lempung, geluh lempung debuan (clay loam, silty slay loam)

5

7 Debu (silt) 4

8 Lempung pasiran (sandy clay) 3

9 Lempung debuan (silty clay) 2

10 Lempung (clays) 1

Sumber: Zunker, 1930, dalam Asih 2012 dengan modifikasi 5) Klasifikasi dan Skor Variabel Tanah

Tabel 2.5. Klasifikasi dan Skor Variabel Tanah

No. Tanah Skor

1 Litosols 10

2 Albic Arenosols dan Calcic Xerosols 9

3 Rendzina, Calcareous Regosols, dan Fluvisols 8 4 Eutric dan Distric Regosols, dan Solonhacks 7

5 Calcic Cambisols 6

6 Eutric Cambisols 5

7 Eutric Histosols, Orthic, dan Calcic Luvisols 4

8 Chromic Luvisols 3

9 Planosols 2

10 Chromic Vertisols 1

Sumber: Andreo, dkk., 2008 commit to user

(12)

Kelima variabel dibuat dalam sebuah Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memungkinkan untuk melakukan tumpang susun (overlay) kelima variabel tersebut. Hasil tumpang susun tersebut adalah Peta Sebaran Tingkat Imbuhan dan nilai rata-ratanya dalam akuifer secara keseluruhan sehingga kita bisa membatasi sebaran imbuhan airtanah.

Menurut Andreo dkk (2008) kelima variabel APLIS memiliki nilai dan bobot masing-masing. Adapun variabel yang memiliki bobot menurut Andreo dkk adalah:

a. Litologi

Variabel litologi memiliki bobot 3 (tiga) b. Zona Infiltrasi

Variabel ini memiliki bobot 2

Diantara kelima variabel APLIS, litologi dan zona infiltrasi memiliki bobot sendiri yaitu dikalikan tiga untuk litologi dan dikalikan dua untuk zona infiltrasi. Hal tersebut disebabkan karena kedua variabel tersebut paling menentukan dalam terjadinya imbuhan, terutama pada akuifer karbonat. Tingkat imbuhan yang dihasilkan merupakan persentase dari rata-rata hujan tahunan dan diklasifikasikan menurut nilai tersebut, sedangkan variabel ketinggian, kemiringan lereng, dan tanah memiliki bobot 1, sehingga rumus persamaan APLIS adalah sebagai berikut:

𝑅 = (A + P + 3. L + 2. I + S) 0,9

Sumber: Andreo, dkk (2008) Keterangan:

R = Recharge (imbuhan) A = Ketinggian

P = Kemiringan L = Litologi I = Zona infiltrasi

S = Tanah

x 100%

commit to user

(13)

Nilai 0,9 adalah asumsi bahwa persentase dari rata-rata hujan tahunan yang berpeluang menjadi imbuhan airtanah berkisar 8,8% sampai 88,8%

(porositas sekunder di daerah karst) (Andreo, dkk 2008 : 919).

Tumpangsusun kelima variabel menggunakan sistem informasi geografis kemudian diklasifikasikan menurut klasifikasi tingkat imbuhan airtanah yang dibuat oleh Andreo, dkk (2008) maka akan menghasilkan peta tingkat imbuhan (recharge area) airtanah.

Tabel 2.6. Klasifikasi Tingkat Imbuhan Airtanah.

Nilai R Kelas

≤ 20% Sangat Rendah

20 – 40% Rendah

40 – 60% Sedang

60 – 80% Tinggi

80 – 100% Sangat Tinggi

Sumber: Andreo, dkk (2008)

7. Pengaruh Variabel APLIS Terhadap Imbuhan a. Variabel Ketinggian (Altitude)

Nilai variabel ketinggian yang dipergunakan dalam metode APLIS merupakan nilai ketinggian absolut. Ketinggian absolut adalah ketinggian stuatu tempat atau wilayah, jika diukur dari titik ketinggian terendah (0 M) dari permukaan air laut. Dengan menggunakan ketinggian absolut maka dapat diketahui pula beda tinggi antar daerah atau wilayah, selain dapat mengetahui nilai ketinggiannya. Dari imbuhan (recharge), umumnya akan berbanding lurus dengan ketinggian tempat atau bisa dikatakan berada di daerah tinggi, sedangkan daerah luahan (discharge) berada di daerah dengan ketinggian rendah. Beda tinggi berkorelasi dengan gradient hidrolic, di mana semakin besar nilai beda tingginya maka akan berpengaruh pada kecepatan aliran, baik dalam akuifer maupun aliran permukaan. Skor yang diberikan masing-masing kelas ketinggian berdasarkan pengaruhnya terhadap imbuhan. Skor 3 diberikan pada daerah dengan ketinggian 600 – 900 mdpl, skor 2 diberikan pada daerah ketinggian 300 – 600 mdpl dan skor commit to user

(14)

1 untuk daerah dengan ketinggian ≤ 300 mdpl (Andreo, 2008). Hal tersebut dikarenakan daerah yang memiliki ketinggian atas biasanya mempunyai intensitas curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah di bawahnya, atau yang lebih sering disebut dengan hujan orografis.

b. Variabel Kemiringan (Slope / Pendiente)

Kemiringan lereng berpengaruh terhadap besarnya air yang akan menjadi aliran permukaan (runoff), atau yang meresap ke dalam tanah.

Semakin besar kemiringan lereng (semakin terjal), maka kemungkinan air hujan menjadi aliran permukaan akan menjadi semakin besar dan sebaliknya juga maka kecil kemungkinan air hujan tersebut meresap ke dalam tanah untuk menjadi imbuhan airtanah. Hal tersebut dapat terjadi karena semakin besar kemirigan lereng, kecepatan air menuruni lereng akan semakin cepat, sehingga air hujan tidak sempat menjadi genangan akibatnya kecil kemungkinan air hujan dapat meresap. Secara umum dapat dikatakan bahwa kemiringan lereng yang terjal akan memberikan kontribusi yang kecil terhadap imbuhan airtanah atau dengan kata lain kemiringan lereng berbanding terbalik dengan besarnya pengaruh terhadap daerah imbuhan airtanah.

c. Variabel Litologi

Sifat umum batugamping adalah kedap air, artinya batugamping tidak dapat berfungsi sebagai batuan pembentuk akuifer tetapi batugamping mudah sekali mengalami kerusakan jika terkena aktifitas patahan, rekahan, retakan, maupun yang lainnya. Batugamping yang telah mengalami aktifitas tersebut dan terkena air hujan, maka air tersebut akan mengalir melalui retakan, rekahan, ataupun yang lainnya dan masuk ke dalam batuan tersebut.

Seiring berjalannya waktu dan proses yang berlangsung terus menerus, kenampakkan eksokarst dan endokarst-lah yang menjadi hasilnya. Secara umum proses karstifikasi adalah kegiatan air melarutkan batugamping melalui lubang hasil proses retakan, rekahan, maupun patahan yang membentuk lubang-lubang yang saling berhubungan, kemudian membentuk rongga-rongga dan akhirnya membentuk saluran bawah tanah dalam jangka commit to user

(15)

waktu yang lama. Selain membentuk saluran bawah tanah, karstifikasi juga mneyebabkan porositas sekunder, hal inilah yang menyebabkan air dapat tersimpan dalam batuan karbonat.

d. Variabel Zona Infiltrasi (Infiltration Zone)

Zona infiltrasi dibedakan menjadi dua kelas, yaitu zona infiltrasi utama dan zona infiltrasi lain. Zona infiltrasi utama merupakan area di mana penyerapan air hujan, maupun air permukaan berlangsung secara dominan, dengan kata lain air hujan yang jatuh langsung di kawasan tersebut maupun aliran permukaan yang masuk ke dalam kawasan tersebut hampir sebagian besar meresap ke dalam tanah. Zona ini hanya terdapat di kawasan karst.

Zona lain merupakan area di mana penyerapan air hujan maupun aliran permukaan tidak berlangsung secara dominan atau bisa juga dikatakan di mana daerah yang jika terjadi hujan maka kemungkinan terjadinya aliran permukaan besar. Umumnya zona ini adalah daerah-daerah yang non karst dengan ciri batuan penyusunnya bersifat lebih impermeabel dibanding dengan batuan terkarstifikasi yang menyusun daerah karst, atau bisa juga daerah karst yang tidak mampu meloloskan air dalam jumlah banyak.

e. Variabel Tanah (Soils)

Tanah merupakan tempat di mana terjadinya kontak pertama kali antara air hujan dengan permukaan bumi, kecuali pada singkapan batuan (outcrop). Ini berarti sifat dari jenis suatu tanah akan menentukan besar kecilnya air yang terinfiltrasi. Jenis tanah akan menunjukkan sifat dari tanah itu. Tanah dengan tekstur pasir memiliki kemampuan meresapkan air yang besar, dengan demikian akan memiliki pengaruh yang besar pula terhadap imbuhan airtanah. Kebalikan dari itu adalah tanah yang memiliki tekstur lempung. Kandungan lempung dapat dijadikan indikator tingkat perkembangan suatu tanah. Tanah muda seperti lithosols memiliki skor tertinggi karena mampu meresapkan air dalam jumlah yang banyak.

commit to user

(16)

8. Lahan

FAO (Food and Agriculture Organization) (1976) mendefinisikan pengertian lahan (land) sebagai berikut:

Lahan adalah lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, dan vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap potensi penggunaan lahan. Termasuk didalam lahan juga hasil kegiatan manusia di masa lalu dan sekarang seperti hasil reklamasi laut, pembersihan vegetasi dan juga hasil yang merugikan seperti tanah tersalinasi (Arsyad, 2010: 310).

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000, lahan merupakan suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya merangkum semua tanda pengenal biosfer, atmosfer, tanah, geologi, timbulan (relief), hidrologi, populasi tumbuhan, dan hewan serta hasil kegiatan manusia masa lalu dan masa kini, yang bersifat mantap atau mendaur. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa lahan adalah suatu lingkungan fisik yang mencakup sifat iklim, relief, tanah, air, vegetasi serta hasil campur tangan manusia, yang mana sifat itu melekat pada suatu lingkungan fisik yang membedakan dengan lingkungan fisik yang lain. Lahan mengandung pengertian ruang atau tempat yang digunakan oleh manusia untuk melakukan segala macam kegiatan.

9. Metode Konservasi Lahan

Daerah imbuhan sebaiknya dijadikan areal konservasi, baik konservasi secara mekanik maupun secara vegetatif. Konservasi secara mekanik didefinisikan sebagai berikut:

Konservasi mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanik yang diberikan terhadap tanah, dan pembuatan bangunan konservasi yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, serta meningkatkan kelas kemampuan lahan (Menteri Pertanian, 2006: iv).

Upaya konservasi secara vegetatif menurut menteri pertanian didefinisikan sebagai berikut:

Konservasi vegetatif adalah semua tindakan konservasi menggunakan tumbuh-tumbuhan (vegetasi), baik tanaman legum yang menjalar, commit to user

(17)

semak atau perdu, maupun pohon atau rumput-rumputan serta tumbuh-tumbuhan lain, yang ditujukan untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan (Menteri Pertanian, 2006: iv).

Upaya konservasi secara mekanik yang dapat dilakukan menurut Menteri Pertanian (2006) adalah sebagai berikut:

a. Teras Bangku

Teras bangku adalah teras yang dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga menjadi suatu bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usaha tani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah memperlambat aliran permukaan, menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak, meningkatkan laju infiltrasi, dan mempermudah pengolahan tanah.

Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal), miring ke dalam dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe teras bangku dapat dilihat dalam Gambar 2.4.

commit to user

(18)

Gambar 2.4. Sketsa Teras Bangku (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 21)

b. Teras Gulud

Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah.

commit to user

(19)

Gambar 2.5. Sketsa Teras Gulud (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 24) c. Teras individu

Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman, terutama tanaman tahunan. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan.

Gambar 2.6. Sketsa Teras Individu (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 25)

d. Teras kebun

Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanaman pekebunan dan buah-buahan. Teras dibuat dengan interval yang bervariasi menurut jarak tanam. Pembuatan teras bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penerapan teknik konservasi tanah, dan memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), di antaranya untuk fasilitas jalan kebun, dan penghematan tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun. commit to user

(20)

Gambar 2.7. Teras Kebun (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 26)

Upaya konservasi secara vegetatif yang dapat dilakukan menurut Menteri Pertanian (2006) adalah sebagai berikut:

a. Rorak

Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat di bidang olah atau saluran resapan (Gambar 14). Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan.

Gambar 2.8. Rorak dengan Teras Gulud (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 27)

commit to user

(21)

b. Budidaya lorong

Budidaya lorong (alley cropping) adalah sistem di mana tanaman semusim (pangan dan sayuran) ditanam di lorong antara barisan tanaman pagar. Pangkasan dari tanaman pagar digunakan sebagai mulsa yang dapat menyumbangkan hara, terutama nitrogen, bagi tanaman lorong.

Gambar 2.9. Budidaya Lorong (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 31) c. Pagar Hidup

Pagar hidup adalah tanaman tahunan yang ditanam mengikuti batas pemilikan lahan. Tujuannya adalah untuk mengamankan lahan dari ternak, penahan angin, dan pengendali erosi. Pagar hidup berfungsi sebagai sumber pakan ternak, mulsa penyubur tanah, bahan organik, dan kayu bakar. Tanaman buah-buahan seperti nangka, alpukat, jengkol, dan petai sering digunakan sebagai tanaman pagar hidup.

d. Strip Rumput

Sistem ini hampir sama dengan sistem pertanaman lorong dan strip tumbuhan alami, namun tanaman pagarnya adalah rumput pakan ternak. Strip dibuat mengikuti kontur dengan lebar 50 cm atau lebih.

Makin lebar strip makin efektif dalam mengendalikan erosi dan makin terjamin pula kecukupan hijauan pakan ternak. Dalam keadaan tertentu,

commit to user

(22)

lebar strip dapat ditingkatkan, terutama jika ternak menjadi andalan usaha tani.

e. Silvipastura

Sistem silvipastura adalah perpaduan antara tanaman kayu- kayuan dan rumput pakan ternak seperti rumput gajah, setaria, rumput BD, dan rumput benggala. Sistem ini dikembangkan apabila ternak menjadi komponen penting dalam usaha pertanian. Tanaman pohon- pohonan selain dapat memberikan naungan bagi ternak, juga menjadi sumber hijauan pakan ternak (misalnya kayu Afrika), terutama pada musim kemarau selama produksi rumput menurun.

f. Tanaman Penutup Tanah

Tanaman penutup tanah pada umumnya adalah jenis legum menjalar yang ditanam di antara tanaman tahunan, secara bergilir dengan tanaman semusim atau tanaman tahunan dan sebagai tanaman pemula (pioneer) untuk rehabilitasi lahan kritis (Gambar 2.10). Fungsi tanaman penutup adalah untuk menutupi tanah dari terpaan langsung air hujan, rehabilitasi lahan kritis, menjaga kesuburan tanah, dan menyediakan bahan organik.Berbagai tanaman legum seperti stilo (Stylosanthes sp.), sentro (Centrosema sp.), kalopo (Calopogonium sp), puero atau kudzu (Pueraria sp), dan Arachis sp.

Gambar 2.10. Rorak dengan Teras Gulud (Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 30) commit to user

(23)

Pemilihan upaya konservasi pada setiap satuan lahan dilakukan berdasarkan matriks pemilihan teknik konservasi berdasarkan kondisi kemiringan lereng dan kedalaman solum. Teras bangku tidak dianjurkan pada tanah yang bersolum dangkal dan kemiringannya sangat terjal (>40%).

Pada tanah yang dangkal disarankan membuat teras gulud, budidaya lorong, atau pagar hidup. Pembuatan teras bangku relatif lebih mahal dan lebih sulit dibandingkan dengan teknik konservasi mekanik lainnya. Dengan mempertimbangkan faktor biaya dan tingkat kesulitan pembuatannya, disarankan untuk memilih teknik konservasi tanah selain teras bangku.

Semua jenis teras harus disertai dengan penanaman tanaman penguat teras, seperti rumput dan legum yang juga merupakan sumber pakan ternak.

Tanaman tahunan yang ada pada sistem pertanaman lorong dan pagar hidup dapat diperhitungkan sebagai bagian dari tanaman tahunan seperti pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7. Pedoman Pemilihan Konservasi Tanah Secara Mekanis dan Vegetatif.

Lereng (%) Kedalaman Solum (cm)

>90 40 – 90 <40

15 – 25

TB, BL, PH, SP, PT, RR, ST,

Proporsi tanaman semusim maksimal 50%, tanaman tahunan minimal 50%.

TP, TG, BL, PH, SP, PT, RR, ST,

Proporsi tanaman semusim maksimal 50%, tanaman

tahunan minimal 50%.

TG, BL, PH, SP, PT, RR, ST,

Proporsi tanaman semusim maksimal 50%, tanaman

tahunan minimal 50%.

Kode: A Kode: B Kode: C

25 – 40

TB, TG, BL, PH, PT, Proporsi tanaman semusim

maksimal 25%, tanaman tahunan minimal 75%.

TG, BL, PH, PT, Proporsi tanaman semusim

maksimal 25%, tanaman tahunan minimal 75%.

TG, BL, TI, RR, PH, PT, Proporsi tanaman semusim maksimal 25%, tanaman

tahunan minimal 75%.

Kode: D Kode: E Kode: F

>40

TI, TK, Proporsi tanaman tahunan

minimal 100%.

TI, TK, Proporsi tanaman tahunan

minimal 100%.

TI, TK, Proporsi tanaman tahunan

minimal 100%.

Kode: G

Keterangan: TB = Teras Bangku, BL = Budidaya Lorong, TG = Teras Gulud, TI = Teras Individu, RR = Rorak, TK = Teras Kebun, PH = Pagar Hidup, ST = Strip Rumput/ Tanaman Alami, SP = Silvipastura, PT = Tanaman Penutup Tanah.

Kode menunjukkan kode simbol konservasi pada Peta Arahan Konservasi.

Pada lahan yang memiliki kemiringan <15% tidak dilakukan konservasi.

(Sumber: Menteri Pertanian, 2006: 19, dengan modifikasi) commit to user

(24)

10. Satuan Lahan

Satuan lahan adalah pengelompokan lahan berdasarkan persamaan karakteristiknya. Dalam penelitian ini satuan lahan berperan sebagai satuan analisis. Satuan lahan diperoleh dengan menumpangsusunkan (overlay) Peta Ketinggian tempat, Peta Kemiringan Lereng, Peta Tanah, Peta Geologi, dan Peta Zona Infiltrasi. Setiap satuan lahan dilakukan pengenalan sifat morfologi tanah dan karakteristik lingkungan fisik dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data-data tersebut meliputi ketinggian tempat, kemiringan lereng, formasi batuan, zona infiltrasi, jenis tanah, solum tanah, tekstur, dan luas daerah pada setiap satuan lahan. Berikut ini merupakan contoh cara membaca satuan lahan.

Tanah : Litosol

Zona infiltrasi : Utama

Batuan : Qvjb

Kelas : IV

Kelas Ketinggian : 2

Gambar 2.11. Cara Membaca Satuan Lahan

11. Penelitian yang Relevan

Asih Purnami Widiastuti (2012) dengan judul “Zonasi Kerentanan Airtanah Bebas Terhadap Pencemaran Dengan Metode APLIS Di Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul”. Penelitian ini bertujuan : (1) mengetahui nilai dan distribusi masing – masing parameter kerentanan airtanah terhadap pencemaran dengan metode APLIS, yaitu A (Altitude), P (Slope), L (Litology), I (Infiltration Zone), dan S (Soils) di daerah penelitian, (2) mengetahui zonasi tingkat kerentanan airtanah terhadap pencemaran di daerah penelitian. Metode 2 – IV – Qvjb – U - Li

commit to user

(25)

yang digunakan adalah penilaian dan pembobotan parameter APLIS, meliputi variabel ketinggian tempat (A), kemiringan lereng (P), litologi (L), zona infiltrasi (I), dan kondisitanah (S). Penjumlahan hasil kali parameter APLIS menghasilkan satu nilai sebagai indeks kerentanan airtanah terhadap pencemaran. Hasil akhir dari penelitian ini berupa peta zonasi tingkat kerentanan airtanah di Kecamatan Wonosari. Tingkat kerentanan airtanah di daerah penelitian meliputi tingkat rendah hingga sedang. Setiap parameter APLIS memiliki kontribusi masing – masing terhadap tingkat kerentanan airtanah. Parameter yang memiliki kontribusi tinggi terhadap tingkat kerentanan adalah zona infiltrasi dan kondisi tanah.

Iwan Agus Wijayanto (2010) dengan judul “Penentuan Sebaran Daerah Imbuhan (Recharge Area) Airtanah Dengan Metode APLIS (Studi Kasus Beberapa Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta). Penelitian ini bertujuan : (1) Menerapkan metode APLIS untuk menentukan kawasan imbuhan airtanah (recharge area) di kabupaten Gunungkidul. (2) Mengetahui variabel yang memiliki kontribusi paling besar dalam penentuan daerah imbuhan airtanah (recharge area) di Kabupaten Gunungkidul. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa di daerah penelitian memiiki tingkat imbuhan yang beragam. Tingkat imbuhan tersebut dapat dikategorikan ke dalam empat kelas, yaitu ≤ 20% (sangat rendah), 20- 40% (rendah), 40-60% (sedang), dan 60-80% (tinggi) untuk 80-100% (sangat tinggi) tidak ditemukan. Variabel yang paling berpengaruh adalah zona infiltrasi dan batuan.

Intan Fatmasari (2010) melakukan penelitian dengan judul Tingkat Risiko Longsor dan Arahan Konservasi Lahan DAS Grindulu Hulu Kabupaten Pacitan dan Ponorogo Tahun 2009. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui Tingkat Bahaya Longsor (TBL) dan karakteristik tipe longsor di DAS Grindulu hulu, mengetahui tingkat kerentanan dan risiko longsor di DAS Grindulu Hulu dan arahan konservasi lahan di DAS Grindulu Hulu.

commit to user

(26)

Metode yang digunakan adalah deskriptif spasial. Populasinya adalah seluruh satuan lahan yang ada di DAS Grindulu Hulu tersusun dari peta tanah, peta lereng, peta geologi, dan peta penggunaan lahan dengan jumlah 44 satuan lahan, sampel diambil dengan teknik sampel wilayah (area sampling). Teknik pengumpulan data diperoleh dengan observasi lapangan, dokumentasi, dan uji laboratorium. Teknik analisis data dengan cara scoring parameter penentu Tingkat Bahaya Longsor yang menghasilkan peta Tingkat Bahaya Longsor, tipe longsor dengan data dari lapangan dan melihat material longsor, kerentanan dengan data kepadatan penduduk yang dipetakan menjadi peta Kepadatan Penduduk kemudian di overlay dengan Tingkat Bahaya Longsor sehingga menghasilkan peta Tingkat Kerentanan Longsor, risiko dengan dengan mengkorelasikan antara hasil TBL dan Tingkat Kerentanan Longsor yaitu overlay peta Tingkat Bahaya Longsor dan peta Tingkat Kerentanan Longsor sehingga menghasilkan peta Tingkat Risiko Longsor, dan konservasi lahan dengan metode konservasi secara teknik dan vegetatif.

Hasil yang diperoleh adalah: 1) Tipe longsorlahan Nendatan berada pada morfologi bergelombang, yang terdapat pada kelas TBL rendah hingga sedang dan tersebar di 8 desa dengan luas keseluruhan 5617,8 Ha. Tipe Longsoran Runtuhan Material Campuran berada pada morfologi bergelombang hingga berbukit, yang terdapat pada kelas TBL tinggi dan tersebar di 8 desa dengan luas keseluruhan 2877,4 Ha. Tipe Longsoran Jatuhan Batu berada pada morfologi bergunung, yang terdapat pada kelas TBL sangat tinggi dan tersebar di 2 desa dengan luas keseluruhan 35,2 Ha. 2) Tingkat kerentanan tertinggi/sangat rentan berada di Desa Gemaharjo dengan luas 492,3 Ha (30,1%) dan Tingkat kerentanan terendah/tidak rentan berada di Desa Ploso dengan luas 839,9 Ha (18,3%). Sementara itu untuk tingkat risiko tertinggi berada Desa Gemaharjo dengan luas 699,5 Ha (40,9%) dan tingkat risiko terendah berada di Desa Ploso dengan luas 1378,6 Ha (33,9%). 3) Di DAS Grindulu Hulu terdapat 32 arahan konservasi lahan dengan 4 prioritas

penanganan. commit to user

(27)

Dwi Setiawan (2013) melakukan penelitian dengan judul Pemanfaatan Metode Aplis untuk Membatasi Daerah Imbuhan (Recharge Area) Airtanah dan Arahan Konservasi Lahan Di Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri Tahun 2013. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui batas daerah imbuhan (recharge area) airtanah di Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri dengan memanfaatkan metode APLIS, dan untuk menentukan upaya konservasi lahan yang sesuai pada daerah imbuhan (recharge area) airtanah di Kecamatan Pracimantoro.

Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh satuan lahan yang ada di Kecamatan Pracimantoro, satuan lahan disusun dari peta ketinggian, peta kemiringan lereng, peta geologi, dan peta macam tanah dengan jumlah 15 satuan lahan.

Teknik pengumpulan data diperoleh dengan observasi lapangan, dokumentasi, dan uji laboratorium. Teknik analisis data dengan cara scoring dan pembobotan parameter penentu tingkat imbuhan airtanah yang menghasilkan peta Tingkat Imbuhan Airtanah sehingga dapat dihasilkan Peta Batas Daerah Imbuhan (Recharge Area) Airtanah di Kecamatan Pracimantoro, kemudian daerah dengan tingkat imbuhan airtanah yang tinggi diberikan arahan konservasi lahan, penentuan arahan konservasi lahan didasarkan pada tingkat kemiringan lereng dan kedalaman solum.

Penelitian ini memiliki kemiripan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Iwan Agus Wijayanto (2010) dengan judul Penentuan Sebaran Daerah Imbuhan (Recharge Area) Airtanah Dengan Metode APLIS (Studi Kasus Beberapa Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta), yaitu pada teknik penghitungan tingkat imbuhan airtanah yang sama-sama menggunakan metode APLIS. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian oleh Iwan Agus Wijayanto yaitu penelitian ini menggunakan satuan lahan sebagai unit analisis sehingga didapatkan karakteristik yang detil pada suatu lahan, selain itu dalam penelitian ini penulis memberikan arahan konservasi lahan terhadap daerah imbuhan sehingga diharapkan dengan perlakuan konservasi lahan sehingga diharapkan daerah imbuhan airtanah commit to user

(28)

dapat terjaga kelestariannya dan ketersediaan air di Kecamatan Pracimantoro dan sekitarnya dapat tersedia sepanjang tahun.

commit to user

(29)

commit to user

(30)

commit to user

(31)

B. Kerangka Berpikir

Kekeringan yang terjadi tiap tahunnya di Kecamatan Pracimantoro menyebabkan telaga-telaga yang ada di daerah tersebut menjadi kering.

Keringnya telaga-telaga tersebut dipengaruhi oleh intensitas hujan, lama penyinaran, faktor geologi dan kondisi daerah imbuhan. Kondisi daerah imbuhan yang kurang baik dapat mempengaruhi penyimpanan air sehingga saat memasuki musim kemarau menyebabkan daerah imbuhan tidak memiliki cadangan air yang menyebabkan keringnya telaga di musim kemarau.

Pentingnya telaga bagi kelangsungan hidup masyarakat membuat upaya konservasi untuk menjaga agar air di telaga selalu tersedia sepanjang tahun menjadi sangat perlu dilakukan. Upaya konservasi tersebut dapat ditempuh dengan mengidentifikasi daerah imbuhan dengan metode APLIS. Setelah daerah imbuhan teridentifikasi dengan baik maka perlu dianalisis bagaimana arahan perlakuan konservasi lahan yang baik dan tepat sasaran. Pentingnya analisis tersebut dilakukan agar sesuai dengan pertimbangan faktor biaya dan tingkat kesulitan pelaksanaannya.

Daerah imbuhan dapat diidentifikasi dengan melakukan tumpangsusun variabel APLIS yang meliputi Altitude (ketinggian), Slope (kemiringan lereng), Lithology (batuan), Infiltration zone (zona infiltrasi) dan Soils (tanah). Tiap variabel tersebut memiliki bobot sendiri-sendiri dan tidak sama, litologi memiliki bobot 3 (tiga), infiltrasi memiliki bobot 2 (dua), dan yang lain memiliki bobot 1 (satu). Selain memiliki bobot yang berbeda-beda, tiap variabel juga memiliki kelas yang berbeda-beda pula. Altitude (ketinggian) memiliki 10 kelas, slope (kemiringan lereng) memiliki 9 kelas, litologi (batuan) memiliki 7 kelas, infiltrasi memiliki 2 kelas dan tanah memiliki 10 kelas.

Pemilihan upaya konservasi pada setiap satuan lahan dilakukan berdasarkan matriks pemilihan upaya konservasi berdasarkan kondisi kemiringan lereng dan kedalaman solum yang tersaji pada tabel 2.7. Bagan kerangka berpikir disajikan pada Gambar 2.12. berikut.

commit to user

(32)

Gambar 2.12. Diagaram Kerangka Berpikir Kekeringan

Kerusakan Daerah Imbuhan

Penentuan Batas Daerah Imbuhan dengan Metode APLIS - Ketinggian

- Kemiringan lereng - Litologi

- Zona Infiltrasi - Tanah

Peta Satuan Lahan

Arahan Konservasi Lahan

Batas Daerah Imbuhan (Recharge Area) Airtanah

Skoring dan Pembobotan

Kedalaman Solum dan Kemiringan Lereng

commit to user

Gambar

Gambar 2.1. Proses Terjadinya Akuifer  (Sumber: http://faculty.kutztown.edu)
Gambar 2.2. Sistem Aliran Diffuse dan Conduit di Akuifer Karst (White, 1988)  commit to user
Gambar 2.3. Daerah Imbuhan dan Akuifer  (Sumber: http://faculty.kutztown.edu)
Tabel 2.1. Klasifikasi dan Skor Variabel Ketinggian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Infark miokard adalah kematian jaringan otot jantung yang ditandai adanya sakit Infark miokard adalah kematian jaringan otot jantung yang ditandai adanya sakit dada yang khas: lama

Namun perbaikan perekonomian terus dilakukan oleh pemerintah juga koperasi intako yang menaungi mayoritas dari pengusaha industri tas dan koper (Intako)

Demikian juga pembagian al-Qur’an ke dalam surat dan ayat yang tidak sama panjang dan pendeknya, surat-surat yang paling pendek sekalipun seperti surat al-Kawtsar yang hanya

informasi publik ini dibatasi dengan hak individual dan privacy seseorang terkait dengan data kesehatan yang bersifat rahasia (rahasia medis). Jadi dalam hal ini dapat dianalisis

Pengertian tari Hasyem Meulangkah yang sebenarnya tidak dilakukan oleh masyarakat Aceh, akan tetapi pengertian tari Hasyem Meulangkah dalam upacara Manoe Pucok

Diagnosa keperawatan yang muncul pada saat intra operatif adalah resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan tindakan operatif ditandai dengan pasien

Kebiasaan-kebiasaan pulang bersama itu pada akhirnya mengubah aku, kami, mereka, yang awalnya tak begitu akrab menjadi teman satu geng.. Di awal pulang bersama, aku

SISTEM2 MEKANISME DAN PROSEDUR '.$.. JAMINAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN PELA)ANAN DALAM *ENTUK  KOMITMEN UNTUK MEM*ERIKAN RASA AMAN2 *E*AS DARI *AHA)A2 DAN RISIKO