• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian tentang kinerja sistem drainase yang berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat yang mengambil studi kasus di perumahan Josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanganyar, Adi Yusuf Muttaqien (2006) menyimpulkan bahwa partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam hal rehabilitasi saluran drainase. Selain itu faktor estimasi biaya, luas area layanan, tingkat kerusakan , dan debit saluran juga berpengaruh terhadap rehabilitasi saluran drainase.

Fery Suryanto (2011) melakukan penelitian analisis faktor yang mempengaruhi kinerja dan rehabilitasi sistem drainase mikro das jurug - bengawan solo berdasarkan pendekatan Analitical Hierarki Proces. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis prioritas berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam merehabilitasi saluran drainase mikro yang ada di DAS Jurug - Bengawan Solo.

Anom Mulyanto (2010) melakukan penelitian tentang kajian terhadap pengelolaam Subsistem drainase Pepe hilir sampai dengan kali Jenes Surakarta.

Dalam penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat disekitar saluran drainase sudah cukup berperan dalam pemeliharaan saluran drainase yang dibuktikan dengan kerja bakti membersihkan saluran setiap bulan sebagai wujud partisipasi.

Penelitian selanjutnya yaitu tentang analisis prioritas rehabilitasi drainase mikro Daerah Aliran Sungai (DAS) kali Boro Kota Surakarta yang dilakukan oleh Rizqi Fajar MH (2010). Menemukan bahwa yang mempengaruhi prioritas rehabilitasi

(2)

commit to user

antara lain tingkat partisipasi masyarakat yang paling tinggi, luas daerah layanan, serta kerusakan saluran yang paling besar.

Selain itu, penelitian tentang Prioritas Rehabilitasi Sistem Drainase Mikro DAS Kali Pepe Hulu Kota Surakarta (Habib Ismail, 2011) juga menyimpulkan bahwa partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam hal rehabilitasi saluran drainase.

2.2 Dasar Teori

2.2.1. Sistem Drainase

Berdasarkan Pasal 1 UU No. 7 Tahun 2004, Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan tertentu yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak - anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas di daratan.

Linsley (1980) menyebut DAS sebagai “A river of drainage basin in the entire area drained by a stream or system of connecting streams such that all stream flow originating in the area discharged through a single outlet”.

IFPRI (2002) menyebutkan bahwa “A watershed is a geographic area that drains to a common point, which makes it an attractive unit for technical efforts to conserve soil and maximize the utilization of surface and subsurface water for crop production, and a watershed is also an area with administrative and property regimes, and farmers whose actions may affect each other’s interests”.

Drainase dapat diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dalam salinitas. Jadi, drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah (Suripin, 2004).

(3)

commit to user

Sistem jaringan drainase merupakan salah satu dari infrastruktur pada suatu kawasan yang dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Dirunut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran drainase penerima (interseptor drain), saluran drainase pengumpul (colector drain), saluran drainase pembawa (conveyor drain), saluran drainase induk (main drain) dan badan air penerima (receiving waters).

Di sepanjang sistem drainase sering dijumpai bangunan lain, seperti gorong- gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun pompa. Pada sistem drainase yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima air diolah dahulu pada instalasi pengolah air limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memliki baku mutu tertentu yang dimasukkan ke dalam badan air penerima, biasanya sungai, sehingga tidak merusak lingkungan (Suripin, 2004).

Adapun fungsi dari drainase menurut R.J. Kodoatie adalah:

1. Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat pemukiman) dari genangan air, erosi, dan banjir.

2. Memperkecil resiko kesehatan lingkungan, yakni bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya karena drainase memperlancar aliran air, tidak ada air yang menggenang dan tersumbat.

3. Kegunaan tanah pemukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhindar dari kelembababan.

4. Mengoptimalkan tata guna lahan dan memperkecil kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunan lainnya.

Partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam kinerja suatu sistem drainase. Masyarakat disini meliputi warga yang berada di pedesaan, perkotaan, hulu mupun hilir sungai, kaya maupun miskin, akademis maupun non akademis, bahkan semua insan yang berhubungan dengan air (Sobriyah dan Wignyosukarto, 2001).

(4)

commit to user

2.2.2 Konsep Sistem Jaringan Drainase yang Berkelanjutan

Berdasarkan pengertian drainase tersebut, maka sistem jaringan drainase dirancang untuk mencegah terjadinya genangan air di suatu wilayah. Konsep sistem jaringan drainase yang berkelanjutan adalah meningkatkan daya guna air, meminimalkan kerugian, serta memperbaiki lingkungan. Sehingga diperlukan usaha-usaha, baik yang bersfat struktural maupun non struktural untuk mencapai tujuan tersebut (Suripin, 2004).

2.2.3 Kerusakan Sistem Drainase

Sistem drainase mengalami kerusakan dikarenakan berbagai macam faktor seiring dengan berjalannya waktu. Rehabilitasi saluran drainase perlu dilakukan untuk mengembalikan fungsi drainase kembali seperti semula. Dalam rehabilitasi ini diperlukan suatu prioritas karena keterbatasan alokasi dana dari pihak pemerintah daerah. Kriteria yang menjadi dasar untuk dijadikan prioritas meliputi partisipasi masyarakat, kerusakan saluran, luas area layanan, dan estimasi dana rehabilitasi.

2.2.3.1 Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam setiap tahap pembangunan (sistem jaringan drainase) menurut Pranoto SA dalam Yusuf 2006. Dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Survey dan Investigasi : memberi informasi lokasi dan kondisi setempat.

2. Perencanaan : persetujuan, kesepakatan, penggunaan

3. Pembebasan tanah : member kemudahan, memperlancar proses

4. Pembangunan : membantu pengawasan dan terlibat dalam pelaksanaan

5. Operasi dan pemeliharaan : terlibat dalam pelaksanaan, ikut memelihara, dan melaporkan jika ada kerusakan

6. Monitoring dan evaluasi : memberikan data yang nyata di lapangan tentang dampak yang terjadi setelah pembangunan.

(5)

commit to user

Dari pengertian dan kriteria tentang partisipasi masyarakat tersebut maka dalam penelitian ini partisipasi masyarakat difokuskan pada :

1. Persentase pemahaman masyarakat tentang sistem jaringan drainase yang ada di lingkungannya

2. Persentase kepedulian masyarakat untuk bersama-sama pemerintah merehabilitasi kerusakan saluran.

2.2.3.2 Kerusakan Saluran

Kerusakan saluran merupakan kondisi fisik dari saluran itu sendiri. Pengamatan dilakukan ke semua bagian dari saluran tersebut. Kerusakan ini meliputi endapan atau sedimen dan runtuhnya dinding saluran.

2.2.3.3 Luas Area Layanan

Luas area layanan adalah luas daerah yang berada di sub sistem jaringan drainase yang pengelolaan dan pemeliharaannya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Dalam penelitian ini data luas area layanan diperoleh dari Masterplan Dan Drainase Kabupaten Karanganyar tentang pemetaan DAS di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

2.2.3.4 Estimasi Biaya Rehabilitasi

Estimasi dana rehabilitasi merupakan alokasi dana untuk merehabilitasi sistem drainase agar mampu berfungsi sesuai dengan perencanaan awal. Keterbatasan dana menjadikan rehabilitasi tidak bisa berjalan bersamaan di semua saluran. Oleh karena itu diperlukan prioritas dalam merehabilitasi saluran dalam sistem drainase. Perhitungan estimasi biaya rehabilitasi untuk memperbaiki kerusakan dinding saluran dan pembersihan sedimen didasarkan pada SNI dengan harga bahan bangunan serta upah tukang dan tenaga kerja disesuaikan dengan yang berlaku di Kabupaten Karanganyar.

(6)

commit to user 2.2.3.5 Debit Saluran

Definisi Debit Saluran adalah besaran yang menunjukan volume air yang mengalir melalui saluran dalam satuan waktu (detik). Untuk perhitungan debit dinyatakan sebagi perhitungan hasil kali antara kecepatan arus dengan luas penampang dan dirumuskan ;

Q = A . V

Keterangannya adalah A : Luas Penampang (m2) V : Kecepatan arus (m/s)

2.2.4 Analytical Hierarchy Process (AHP)

Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah salah satu bentuk model pengambilan keputusan yang memperhitungkan hal-hal kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Metode ini dominan digunakan pada pengambilan keputusan untuk banyak kriteria, perencanaan, alokasi sumber daya, analisis biaya, pemilihan investasi, dan penentuan prioritas. Intrumen utama dari model ini adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya adalah persepsi manusia yang dianggap expert. Kriteria expert yang dimaksud adalah mengacu pada orang yang memahami benar permasalahan yang diajukan, merasakan akibat atau mempunyai kepentingan terhadap masalah tersebut (I Gusti Ngurah Oka Suputra dan Anak Agung Wiranatha, 2009).

Selain dengan menggunakan metode AHP, salah satu metode lain yang dapat digunakan dalam penelitian kerusakan drainase adalah metode langsung. Berbeda dengan metode AHP , metode langsung hanya menitikberatkan pada satu hal yakni pada kerusakan saluran tanpa mempertimbangkan segmen-segmen lain seperti partisipasi masyarakat, luas layanan dan estimasi biaya yang terdapat di metode AHP.

(7)

commit to user

Analitical Hierarchy Process (AHP) memungkinkan pengguna untuk menentukan nilai bobot realtif dari suati kriteria majemuk ( atau alternatif majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif, yaitu dengan melakukan perbandingan berpasangan.

Mengubah perbandingan berpasangan tersebut menjadi suatu himpunan bilangan yang mempresentasikan prioritas relatif dari setiap kriteria dan alternatif dengan cara yang konsiten (Thomas L Saaty dalam Marimin, 2004).

(Budi Wignyosukarto dalam Yusuf , 2007), AHP digunakan untuk pengukuran guna mendapatkan skala rasio dari perbandingan pasangan yang diskret maupun kontinyu. Ada beberapa prinsip dalam penyelesaian masalah menggunakan AHP, yakni : decomposition, comparatif judgement, syntetic of priority dan logical consitensy .

Memisah-misahkan (Decomposition), yaitu suatu proses memecahkan persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur-unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi.

Keputusan perbandingan (Comparatif Judgement), yaitu membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu, dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh terhadap elemen-elemen. Hasil dari penilaian ini akan lebih baik bila dalam bentuk matrik yang dinamakan matrik pairwise comparisions (perbandingan berpasangan).

Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma reciprocal, artinya jika elemen i dinilai 3 (tiga) kali lebih penting dibandingkan j , maka elemen j harus sama dengan 1/3 kali pentingnya dibandingkan i. Disamping itu perbandingan dua elemen yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya sama penting. Dua elemen yang berlainan dapat saja dinilai sama penting. Jumlah elemen yang digunakan sebanyak n elemen, maka akan diperoleh matrik pairwise comparisions berukuran n x n. Banyaknya penilaian yang diperoleh dalam

(8)

commit to user

menyusun matrik ini adalah n(n-1)/2, karena matriknya reciprocal dan elemen- elemen sama dengan 1.

Sintesa dari prioritas (Syntetic of Priority) , yaitu setiap matrik pairwise comparisions kemudian dicari eigen vector-nya untuk mendapatkan local priority.

Karena matrik pairwise comparisions terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global proirity harus dilakukan sintesa dintara local priority.

Prosedur melakukan sintesa berbeda menurut bentuk hierarki. Pengurutan elemen- elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesa dinamakan priority setting.

Konsistensi yang logis (Logical Consistensy), yaitu semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis.

Dengan demikian hasil yang didapat bersifat objektif, logis dan akurat.

Analytical Hierarchy Process (AHP) memiliki beberapa ide dasar yang digunakan dalam rehabilitasi subsistem Songgorunggi, yakni penyusunan hierarki, penilaian kriteria dan alternatif, dan pembobotan alternaif.

2.2.4.1 Penyusunan Hierarki

Dalam penyusunan hirearki ini diawali dengan menentukan tujuan atau goal, yaitu penetapan prioritas untuk level 1, dilanjutkan dengan kriteria untuk level 2 dan alternatif untuk level 3.

Secara grafis dapat digambarkan seperti di bawah ini :

(9)

commit to user

Gambar 2.1 Struktur Hierarki dalam Analytical Hierarchy Process

2.2.4.2 Penilaian Kriteria dan Alternatif

Kriteria dinilai dari perbandingan berpasangan. Untuk berbagai persoalan skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam megutarakan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kulitatif dari skala perbandingan dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 2.1 Skala perbandingan nilai kriteria

Nilai Keterangan

1 Kriteria / alternatif A sama penting dengan kriteria / alternatif B

3 Kriteria / alternatif A sedikit lebih penting dengan kriteria / alternatif B 5 Kriteria / alternatif A jelas lebih penting dengan kriteria / alternatif B PRIORITAS

REHABILITASI

Partisipasi Masyarakat

Tingkat Kerusakan

Saluran Luas Area

Layanan

Estimasi Biaya Debit Saluran

S.P. Gendeng Katon

S.P. Jumog ke Barat

S.P. Papahan ke Barat

S.P.Papahan ke Selatan

S.P. Depan SDN3 Jaten S.P. Perum Josroyo S.P. Depan SMPN 1 Jaten

(10)

commit to user

7 Kriteria / alternatif A sangat jelas lebih penting dengan kriteria / alternatif B

9 Kriteria / alternatif A mutlak lebih penting dengan kriteria / alternatif B 2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi dengan nilai perbandingan B dengan A. (Thomas L Saaty dalam Marimin,2004).

1. Pembobotan

Pada metode AHP digunakan metode matriks untuk membuat perbandingan antara elemen-elemen dari masalah yang dibicarakan. Dalam matriks ini perbandingan dilakukan mulai dari hirearki tingkat paling tinggi, dengan mengambil dasar berupa kriteria tertentu yang kemudian dibandingkan dengan elemen-elemen satu dan lainnya hingga diperoleh hasil yang diinginkan. Sebagai contoh dalam sebuah sistem terdiri dari n kriteria, matriks dengan perbandingan berpasangan ditulis sebagai berikut :

w1/w1 w1/w2 … w1/wn

w2/w1 w2/w2 … w2/wn

…. …. …. ….

wn/w1 wn/w2 … wn/wn

Gambar 2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan

Jika dua parameter memiliki derajat kepentingan yang sama, maka nilai perbandingannya adalah 1 (satu), ini berlaku untuk diagonal utama. Karena setiap kriteria dibandingkan dengan kriteria yang bersangkutan (Sumbangan, 2002).

a. Pembobotan untuk Partisipasi Masyarakat

Penilaian alternatif partisipasi masyarakat diperoleh dari pembobotan hasil kuesioner. Pembobotan dilakukan dengan memberikan nilai dari yang terkecil hingga yang terbesar dengan interval pembobotan sebagai berikut:

(11)

commit to user

Tabel 2.2 Pembobotan Hasil Kuisioner Partisipasi Masyarakat

No Hasil Kuisioner Bobot No Hasil Kuisioner Bobot

1 Kurang dari 2 1 6 Antara 12 sampai 14 6

2 Antara 2 sampai 5 2 7 Antara 14 sampai 16 7 3 Antara 5 sampai 8 3 8 Antara 16 sampai 18 8 4 Antara 8 sampai 10 4 9 Antara 18 sampai 20 9 5 Antara 10 sampai 12 5 10 Lebih dari 20 10

b. Pembobotan untuk kerusakan saluran

Pembobotan untuk tingkat kerusakan dapat dihitung prosentase kerusakan terhadap volume atau panjang saluran secara keseluruhan. Persentase dan bobot pada masing-masing tingkatan kerusakan dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Pembobotan Tingkat Kerusakan Saluran No Tingkat kerusakan

(%)

Bobot No Tingkat kerusakan (%)

Bobot

1 Kurang dari 0,5 1 6. Antara 2,5 sampai 3 6 2 Antara 0,5 sampai 1 2 7. Antara 3 sampai 3,5 7 3 Antara 1 sampai 1,5 3 8. Antara 3,5 sampai 4 8 4 Antara 1,5 sampai 2 4 9. Antara 4 sampai 4,5 9 5 Antara 2 sampai 2,5 5 10. Lebih dari 4,5 10

c. Pembobotan luas area layanan

Pembobotan luas area layanan mulai dari yang kecil hingga yang besar.

Sehingga daerah yang lebih luas mendapatkan bobot yang tinggi karena semakin luas daerah layanannya maka semakin besar pula debit air yang masuk ke saluran tersebut. Pembobotan dapat berdasarkan Tabel 2.4 berikut ini.

(12)

commit to user Tabel 2.4 Pembobotan Luas Area Layanan

No Luas area layanan (Ha)

Bobot No Luas area layanan (Ha)

Bobot

1 Kurang dari 5 1 6. Antara 25 sampai 30 6 2 Antara 5 sampai 10 2 7. Antara 30 sampai 35 7 3 Antara 10 sampai 15 3 8. Antara 35 sampai 40 8 4 Antara 15 sampai 20 4 9. Antara 40 sampai 45 9 5 Antara 20 sampai 25 5 10. Lebih dari 45 10

d. Pembobotan estimasi biaya rehabilitasi

Pembobotan untuk biaya rehabilitasi berkebalikan dengan tingkat kerusakan yang ada. Semakin kecil biaya yang dibutuhkan untuk merehabilitasi saluran yang rusak maka memiliki bobot yang tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di Tabel 2.5 berikut ini.

Tabel 2.5 Pembobotan Estimasi Biaya Rehabilitasi

No RAB ( juta rupiah ) Bobot No RAB ( juta rupiah ) Bobot 1 Kurang dari 0,5 1 6. Antara 2,5 sampai 3 6 2 Antara 0,5 sampai 1 2 7. Antara 3 sampai 3,5 7 3 Antara 1 sampai 1,5 3 8. Antara 3,5 sampai 4 8 4 Antara 1,5 sampai 2 4 9. Antara 4 sampai 4,5 9 5 Antara 2 sampai 2,5 5 10. Lebih dari 4,5 10

e. Pembobotan Debit Saluran

Pembobotan Debit Saluran dimulai dari yang kecil hingga yang besar.

Sehingga debit saluran yang besar mendapatkan bobot yang tinggi karena semakin besar debit saluran yang masuk maka semakin besar pula luas area layanan yang dialiri air tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di Tabel 2.6 berikut ini.

(13)

commit to user Tabel 2.6 Pembobotan Debit Saluran

No Debit Saluran (m3/dtk)

Bobot No Debit Saluran (m3/dtk)

Bobot

1 Kurang dari 0,5 1 6. Antara 2,5 sampai 3 6 2 Antara 0,5 sampai 1 2 7. Antara 3 sampai 3,5 7 3 Antara 1 sampai 1,5 3 8. Antara 3,5 sampai 4 8 4 Antara 1,5 sampai 2 4 9. Antara 4 sampai 4,5 9 5 Antara 2 sampai 2,5 5 10. Lebih dari 4,5 10

2. Penentuan Prioritas Alternatif

Penentuan prioritas pilihan (alternatif ) dalam AHP dilakukan dengan menghitung eigenvector dan eigenvalue melalui operasi matrik. Eigenvector adalah menentukan rangking dari alternatif yang dipilih, sedangkan eigenvalue adalah memberikan ukuran konsitensi dari proses perbandingan.

Rangking pada dasarnya diwakili oleh vektor prioritas, sebagai hasil normalisasi eigenvector utama, ini akan didapat dari penghitungan vektor kolom ( Vj ) dengan persamaan berikut :

Vj = Kij X Wi………( 2.1. ) Dimana Kij adalah matrik dengan bentuk sebagai berikut :

w11 w12 … w1p

w21 w22 … w2p

…. …. .... ….

Wn1 wn1 … w2

Dengan tujuan ( objective ) I = ( 1, 2, 3, …, n ) alternatif j = ( 1, 2, 3,…, p ) dan w11 adalah bobot alternatif 1 untuk tujuan 1, p mewakili jumlah alternatif dan n adalah jumlah tujuan. Vektor kolom Vj menyatakan rangking akhir dari sekian alternatif yang diuji dalam analisis (Sumbangan , 2002).

(14)

commit to user 3. Konsistensi

Untuk mengetahui konsistensi dari suatu matriks didasarkan pada eigenvalue maksimum ( λmaks ), makin dekat λmaks dengan n, makin konsiten hasil yang dicapai.

CI adalah ukuran simpangan suatu deviasi yang dinyatakan sebagai berikut : CI = ( λmaks – n ) / ( n – 1 )………...( 2.2. ) Dengan : CI = indeks konsisten.

λmaks = eigenvalue maksimum

n = banyaknya parameter yang digunakan.

Eigenvalue maksimum suatu matrik tidak akan lebih kecil dari nilai n sehingga tidak mungkin ada nilai CI yang negatif.

Tabel 2.7 Nilai Indek Random

Sumber : Kadarsyah dan Ramadhani dalam Yusuf (2006) Ukuran matrik Indek random (inkonsistensi)

1,2 0,00

3 0,58

4 0,90

5 1,12

6 1,24

7 1,32

8 1,41

9 1,45

10 1,49

11 1,51

12 1,48

13 1,56

14 1,57

15 1,59

(15)

commit to user

CR = ………...( 2.3. )

Dengan : CR = rasio konsistensi.

CI = indeks konsistensi.

RI = indeks random.

Marimin ( 2004 ), matriks perbandingan dapat diterima jika nilai rasio konsistensi

< 0,1. Batasan diterima tidaknya konsitensi suatu matrik sebenarnya tidak ada yang baku, hanya menurut beberapa eksperimen dan pengalaman, tingkat inkonsitensi sebesar 10 % kebawah adalah tingkat inkonsitensi yang masih bisa diterima. Lebih dari itu harus ada revisi penilaian kerena tingkat inkonsistensi yang terlalu besar dapat menjurus kepada kesalahan.

2.2.5 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto (1998), “ Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untulk dipelajari dan kemudaian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2005:90).

2. Sampel

Pengertian sampel menurut Suharsimi Arikunto (1998) adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Menurut Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992) sebaiknya sampel yang digunakan berkisar antara 30 sampai dengan 500 sampel.

Sampel partisipasi masyarakat dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar saluran yang ditinjau, yakni subsistem Songgorunggi dan berjumlah 30 orang responden.

(16)

commit to user

Untuk kuisioner partisipasi masyarakat diukur dengan meggunakan skala likert.

Dimana responden diberi pilihan untuk menjawab ya atau tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan (J. Supranto,2000).

Untuk membuat skala likert, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Kumpulkan sejumlah pertanyaan yang sesuai dengan sikap yang akan diukur dan dapat diidentifikasikan dengan jelas (positif atau tidak positif).

2. Berikan pernyataan-pernyataan diatas kepada sekelompok responden untuk diisi dengan benar.

3. Responden dari tiap pernyataan dengan cara menjumlahkan angka-angka dari setiap pernyataan sedemikian rupa sehingga respon yang berada pada posisi sama akan menerima secara konsisten nilai angka yang selalu sama.

4. Mencari pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dipakai dalam penelitian, patokannya adalah :

a. Pernyataan yang tidak diisi lengkap oleh responden.

b. Pernyataan yang secara total responden tidak menunjukkan yang substansial dengan nilai totalnya.

5. Pernyataan-pernyataan hasil saringan akhir akan membentuk skala likert yang dapat dipakai untuk mengukur skala sikap serta menjadi kuisioner baru untuk pengumpulan data berikutnya.

Kuisioner dalam penelitian ini, apabila butir kuisioner bernilai positif maka ketentuannya adalah :

a. Jawaban Ya diberi bobot 1 b. Jawaban Tidak diberi bobot 0

Sedangkan apabila butir kuisioner bernilai negatif maka ketentuannya adalah : a. Jawaban ya diberi bobot 0

b. Jawaban Tidak diberi bobot 1

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari Penelitian ini adalah Memberikan metode alternatif yang lebih baik dalam kendali kapal dengan memperhitungkan faktor gangguan dari lingkungan.. Selain itu dapat

[r]

Senang Kharisma Textile mewujudkannya dalam bentuk pemberian upah, jaminan sosial, dan fasilitas kesejahteraan yang baik.. Perusahaan ini merupakan salah satu dari

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2017 TENTANG BATAS DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS PROVINSI SUMATERA SELATAN DENGAN KABUPATEN LEBONG PROVINSI

- 1 (satu) orang Asissten Tenaga Ahli/konsultan Asing yang mempunyai pengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang hukum penanaman modal internasional; menangani

Target penerimaan perpajakan pada APBN tahun 2013 ditetapkan sebesar Rp1.193,0 triliun, terdiri atas pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp1.134,3 triliun

Syariah Rupiah Managed Fund adalah dana investasi jangka menengah dan panjang yang bertujuan untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal melalui penempatan dana dalam mata uang

Dalam proses pendampingan ini petani yang diharapkan adalah petani. peneliti yang mampu mengamati secara mendalam