HAK MOGOK: SEBUAH STUDI KASUS TENTANG JUSTIACItsILITY FIAK.HAK
EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA
Rita Oliuia Tambunan Abstract
The Following article discusses fhe issue of labor, in particular about the right to strike in lndonesio. The author arguing that the right fo sf rike is a justicicble right. The acknotuledgment of the existence of the right to strike has been clarit'ied in seueral international and regional conuentions on human rights. Euenthough Indonesio hos been ratified the ILO Conuen- fion No 98 - which explicitly acknowledge the right to strike os o jusf iciable right - in the reality the application of the ILO Conuention principals is uery bad. Since 25 March 2003, Act No. 13 of the year 2003 on matters pertain- ing on manpower has been put into t'orce. This act potentially triggers uio- lotions on seueral labor and labor union fundamental rights, which legally ond sysf ematically happenned. State, again. t'ace two dillematic concepts:
to giue priority on protecticn toward labor t'undamental righfs or to giue p r i o r i t y t o " e c o n o m i c d e u e l o p m e n t ' .
"Who built Thebes ot' the seuen gates?
In the books you will find the names ot' kings.
D i d t h e k i n g s h a u l u p t h e l u m p s o f t h e r o c k ? A n d B a b y l o n , m a n y t i m e s d e m o l i s h e d
W h o r a i s e d i t u p s o m a n y ti m e s ?
l n w h a t h o u s e s o f g o l d - g l i t t e r i n g L i m a d i d t h e b u i l d e r s l i u e ?
Where, the euening that the Wall ot' China was finished, did the masons go?
Great Rome is t'ull of triumphat arches. Who erected them?
O u e r w h o m d i d t h e C a e s a r t r i u m p h ?
Had Byzantium, much praised in song only palaces for its inhabitants?
Euen in t'abled Atlantis ''
The night the ocean engult'ed it
The drowning sttll bawled t'or their s/oues.
The young Alexander conquered lndia. Was he alone?
Caesar beat the Gauls. Did he not haue euen a cook with him?
Philip of Spain wept when his armada went down. Was he the only one to weep?
4 8
JURNAL HAM . Vol, 1 No. 1 Oktober 2003Hak Mogok: Sebuoh Stu
Frederick the Second won the Euery page of a uictorY' Who cooked the Jeast t'or the
Seuen Years War. Who else won it?
u i c t o r s ? Euery ten Years a great man.
Who paid the bill?
So mony rePorts.
S o m o n y q u e s t i o n s . "
'Questio
ns f rom a Worker who Reads' by Bertolt Brecht
Pendahuluan
I s u p e r b u r u h a n s e l a l u m e n j a d i i s u mengemuka di Indonesia selama beberapa waktu belakangan ini. Persoalan perburuh- an secara kuantitatif semakin meningkat dan kompleksitasnya pun semakin me- musingkan. Situasi ini memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kondisi sulitnya negara keluar dari situasi krisis ekonomi dan finansial yang menghantam Indone- sia sejak pertengahan tahun 1997. Na- mun, terlepas dari itu, kebanyakan per- soalan perburuhan dipicu atau diperparah oleh pengabaian dan pelanggaran hak-hak fundamental buruh. Perlakuan diskrimi- n a s i t i f t e r h a d a p k e l o m p o k m a s y a r a k a t tertentu : perempuan, penyandang cacat, mereka yang memiliki ras, agama, suku, pandangan politik dan ideologi berbeda dengan kebanyakan orang seringkali men- j a d i p e n y e b a b p e l a n g g a r a n h a k a s a s i manusia, baik untuk memperoleh peker- jaan, maupun pada saat menjadi buruh.
Berikut ini adalah beberapa dari se- kian persoalan perburuhan: pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terjaditerus menerus tanpa ada penanggulangan ber- arti pada akar permasalahan sesungguh- nya. Upah murah, yang selama beberapa dekade terakhir menjadi iklan andalan untuk menarik investasi asingl, menjauh- kan buruh dari kemampuan untuk mencu- kupi kebutuhan hidup minimum sehari-
h a r i . B u r u h p e r e m p u a n d i u p a h l e b i h rendah dari buruh lelaki untuk jenis dan beban pekerjaan yang sama karena diang- gap bukan pencari nafkah utama (main breadwinner) dalam keluarga' Paradigma patriakal menyebabkan juga seringkali di- p o s i s i k a n n y a b u r u h p e r e m p u a n l e b i h rendah dibanding rekan lelakinya.
P e r s o a l a l t - p e r s o a l a n s e m a c a m i n i terjadi ketika buruh tidak memiliki posisi t a w a r y a n g s e i m b a n g d e n g a n m a j i k a n sebagai pemegang kekuasaan atas modal, Serikat buruh, sebagai organisasi burufr yang ditujukan semata untuk perlindungan dan representasi kepentingan anggotanya, dapat menjadi sebuah alternatif jawaban untuk menyeimbangkan posisi tawar buruh guna meminta majikan lebih memperhati- kan kepentingan kesejahteraan buruh.2
, & t k
" , o l p e m e r i n t a h a n n y a , O r d e B o r u s u d o h menetapkon bahwo'perlu ada kebijokon yang ramah terhadop ntodal osing' dengon jalon mengiklonkon upoh buruh murah sebagai insentil bogi inuestosi osing d i I n d o n e s i a . T i d a k h e r a n j i k o U U p e r t o m a y o n g dikeluarkon oleh Orde Boru adolah UU No 7 tahun 1 9 6 7 t e n t a n g P e n o n a m a n M o d o l A s i n g D i s u s u l d e n g a n b e r b a g o i ' i k l o n ' s o o J b u r u h m u r a h , a n t o r o l a i n iklon Bodan Koordinasi Penanonton Modal (BKPM) di koron lnternationol Herald Tribune, AS, tonggol 3 Oktober 1988 yangberbunyi. "lnsentil menarik untuk inuestor osing di Indonesia odalah upoh muroh dan k e m a u o n k e r i a k o u m b u r u h , t e r u t a m a b u r u h p e r e m p u o n [ . . ] " L i h a t S u r y o T l o n d r a d a n J a l o r S u r y o m e n g g o l o ( e d s . ) , " M o k i n T e r a n g B a g i K a m i : B e l o j a r H u k u m P e r b u r u h o n , " ( J a k a r t a , 2 0 0 1 ) ' k h u s u s n y o h a l . 3 3 ' 3 5 , h o l . 1 6 4 ' 1 6 7 .
2 Pasal 70 Konuensi ILO No. 87 tahun 7948 tentang Kebebason Berserikot don Perlindungon akan Hak u n t u k B e r o r g o n i s o s i
R i t o O l i u i a T a m b u n a n
Karena itu, hak buruh untuk berserikat dan berorganisasi diakui sebagai salah satu dari hak fundamental buruh.
Pengakuan akan hak berserikat dan berorganisasi berarti juga mengakui hak buruh melakukan aktivitas serikat buruh, termasuk didalamnya hak untuk rnogok.3 Hak mogok dipahami sebagai alat perju- angan esensial untuk menyeimbangkan posisi tawar buruh terhadap majikan. De- ngan melakukan pemogokan, paling iidak, buruh dapat 'memaksa'
majikan duduk berunding bersama dan mendengarkan tuntutan-tuntutan buruh. Hak mogok, se- panjang sejarah dunia mencatat, telah memampukan kaum buruh meminta maji- kan memenuhi tuntutan-tuntutan kepen- tingan hak buruh.
Dilain pihak, sejarah dunia juga men- catat berbagai kasus pelanggaran hak mogok; larangan hukum pelaksanaan hak mogok, PHK karena melakukan pemo- gokan, dll. Pelanggaran hak mogok yang disebabkan oleh alasan-alaan t'orce majeur (misalnya larangan mogok di instansi- instansi vital), sedikit banyak dapat diterima khalayak umum. Namun pelanggaran hak mogok yang disebabkan oleh pilihan prio- ritas kebijakan (perburuhan) suatu negara, secara ilmiah, dapat diperdebatkan. Misal- nya, apakah kebilakan tersebut dibuat atas prinsip-prinsip universal penghormatan penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia, ataukah lahir karena pilihan politik negara yang bertentangan dengan mandat rakyatnya.
Disinilah pentingnya senantiasa me- ngingat bahwa konsep hak asasi manusia tak pernah dapat dipisahkan dari konsep perlindungan hak asasi manusia. Keduanya
3 Untrk trlison ini. hak mogok didelinisikan sebogoi h a k b u r u h u n t u k s e c a r o k o l e k t t f m e n g h e n t i k a n kegiaton kerit yvng semestinya dilakukon berdosarkan kontrak yong disepakati buruh dengon majikon. Untuk pen jeloson lebih lanjut lihat L.J Maclarlone, The Right to Strike (Middlesex, Penguin Books Ltd, 1981).
50
bagaidua sisimata uang. Berbicara tentang konsep hak asasi manusia berarti juga ber- bicara tentang implikasi dari kesempatan untuk menuntut 'perlindungan'
pada saat yang bersamaan. Perlindungan yang di- maksudkan di sini adalah adanya keter- sediaan sebuah proses hukum yang me- mampukarr subyek hukum untuk 'meng- gugat' terjaCinya pelanggaran hak asasi- nya. Karenanya, ketika hak mogok dibica- rakan, adalah sebuah keni,scayaan untuk j u g a membicarakan kemampuan dari buruh dan serikat buruh untuk meminta lembaga peradilan melindungi dan menja- min pelaksanaan hak mogok. Inilah saat d i m a n a i s u t e n t a n g j u s t i c i o b i l i t y 4 h a k mogok muncul ke permukaan.
Hak Mogok dalam Hukum Hak Asasi Manusia Internasional
Hak mogok diakui sebagai salah satu hak asasi manusia. Hak mogok memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan hak-hak asasi manusia lainnya.
Ketika ia diakui sebagai hak kolektif kaum buruh dan serikat buruh untuk melakukan perlawanan terhadap majikan, maka se- ringkali pelaksanaan hak mogok menuntut 'pengorbanan'
dari hak pihak lain (majikan) untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan (misalnya: membayar upah lebih tinggi). Dengan kata lain, hak mogok sebenarnya adalah sebuah cara yang sah dan legal untuk'memaksa' majik- an memenuhi tuntutan kaum buruh dan serikat buruh. Legitimasi pelakanaan hak untuk melakukan 'aksi paksa' ini adalah bahwa subordinasi buruh dalam relasi perburuhan meminta kemampuan kaum
s J*t*i"bitity didelinisikan sebagaikuo/itos Isebuoh isu/
untuk dopat diperiksa.oleh sebuah lemboga perodilan ("the quality ol being appropriote for reuiew by a court"), Bryan A. Garner, et.ol (ed), Block's Law Dic- tionory, (St. Paul, West Publishing Co., 1999), p. 870.
Untuk kepentingon okurasi terminologi, penulis tidak akon mencobo mencari padanan istiloh justiclability dalam bahasa lndonesia.
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
Hak Mogok S e b u o h S t u d i K o s u s t e n t a n g J u s t i c i o b i l i f y H o k - H o
buruh dan/atau serikat buruh untuk bertin- dak lebih koersif ketika berhadapan dengan ketidak seimbangan dan otoritas tunggal dari majikan.5
Pengakuan tentang keberadaan hak mogok telah ditegaskan dalam berbagai konveusi hak asasi manusia internasional m a u p u n r e g i o n a l . D e n g a n d e m i k i a n , dapatlah dikatakan bahwa hak mogok adalah hak yang legal dalam hukum hak asasi manusia internasional' Yang pertama untuk disebut adalah pasal 8 ayat (1d) Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang ber- bunyi, "Negara-negara peserta Kovenan ini berjanji untuk menjamin hak mogok' yang pelaksanaannya dilakukan sesuai d e n g a n h u k u m n e g a r a Y a n g b e r s a n g - kutan."
Walaupun hak mogok tidak disebut- kan secara eksplisit dalam Konstitusi ILO ( l n t e r n a t i o n a l L a b o u r O r g a n i z a t i o n - Orgar-risasi Perburuhan Internasional) atau- p u n b e r b a g a i k o n v e n s i n y a 6 , s e b a g a i lembaga khusus di bawah sistem PBB dalam isu perburuhan, ILO telah menetap- kan posisinya dalam isu ini. Komite Ahli ILO secara tegas menyatakan pendapat- n y a b a h w a , " h a k m o g o k a d a l a h h a i mendasar yang tak dapat dipisahkan dari hak (buruh danlatau serikat buruh) untuk m e n g o r g a n i s a s i y a n g d i l l n d u n g i o l e h Konvensi tllol No. 87."7 Dalam laporan- nya tahun 7987, ILO mendeskripsikan bahwa hak mogok bukan hanYa daPat
L . J . M a c f a r l o n e . s u p r a n . 2 , h o l . 1 8 4 .
Khususnyo Konuensi /LO No. 87 tahun 7948 tentang Kebebasan Berorgonisasi don Perlindungon okon Hak untuk Mengorgonisosi don Konuensi ILO No. 98 tahun 7 9 4 8 t e n t a n g H o k u n t u k M e n g o r g a n i s o s i d o n Berunding secora Kol ektil.
Terjemahan bebas dori "[. .] the right to strike is on infrinsic corollorg ol the right to orgonize protected b y C o n u e n t i o n N o . 8 7 . " D i k u t i p d o r i I n t e r n a t i o n a l Labour Organization, "Freedom ol Associotion and Collectiue Bargoining: General Suruey ol the Commit' tee ol Experts on the Applicotion ol Conuentions ond R e c o m m e n d o t i o n s " , ( G e n e u a , I n t e r n o t i o n a l L o b o u r Ollice, 1994), hal. 66'67.
dilaksanakan untuk mengajtrkan tuntutan buruh terhadap majikan ditingkatan pabrik semata, tetapi juga dilaksanakan sebagai bentuk partisipasi politik kaum bumh trntuk menuntut perubahan kebilakan-kebijakan ( n e g a r a ) y a n g b e r k a i t a n d e n g a n n a s i b buruh. Hal ini dilelaskan dalam pernyataan Komite Ahli ILO bahwa, "komite menya- dari bahwa hak mcgok adalah salah satu alat [perjuangan] penting bagi kaum buruh dan serikat buruh untuk memperjuangkali dan melindungi kepentingan-kepentingan sosial dan ekonomi mereka. Kepentingan- kepentingan ini bukan hanya yang ber- kaitan dengan perjuangan memperoleh kondisi kerja yang lebih baik dan tuntutan bersama dalam hubungan kerja [di perusa- h a a n l s a j a , t e t a p i j u g a y a n g b e r k a i t a n dengan usaha mencari solusi dalam per- soalan-persoalan lyang muncul daril kebi- jakan ekonomi dan sosial dan berbagai bentuk permasalahan perburuhan yang b e r k a i t a n d e n g a n k e p e n t i n g a n k a u m b u r u h . " 8
Komite Kebebasan Berorganisasi ILO (lLO Com mittee on Freedom of Associo-
tion)e juga berpendapat sama. Pada perte- muannya tahun 1952, Komite ini menge- luarkan pernyataan bahwa hak mogok adalah sebuah "elemen esensialdalam hak- hak serikat buruh" dan dalam hampir se- mua negara "lhak mogok] dikenal sebagai senjata yang sah bagi serikat-serikat buruh u n t u k m e m p e r j u a n g k a n k e p e n t i n g a n - kepentingan anggotanya. " Dalam berbagai
8 Teriemahan bebos dari "[...] the Committee considers thot the right to strike is one of the essential meons auailable to workers and their organizations lor the prontotion ond protection ol their economic ond so- cial interests. These interests not only haue to do with obtoining better working conditions and pursuing col- l e c t i u e d e m a n d s o l o n o c c u p a t i o n a l n a t u r e ' b u t a l s o with seeking solutions to economic and sociol policy questions ond to lobour problems ol any kind uuhich ore ol direct concern to workers." Dikutip dori lnter'
nationol Lobour Organizotion, "Freedom o/ Associo- tion and Collectiue Bargaining: General Suruey ol the Committee ol Experts on the Applicotion ol Conuen- tions and Recommendotions "' (Geneuo, lnternotional Labour Ot'lice. 7983), Report III (48), alinea 200'
R i t a O l i u i a T a m b u n o n
laporannya, Komite Kebebasan Berorga- nisasi ILO menyatakan bahwa "hak mogok adalah hak fundamental kaum buruh dan serikat buruh [...], sebagaimana ia dipergu- nakan sebagai alat untuk mempertahankan kepentingan ekonomi mereka. " lo
Hak mogok juga terdapat dalam bebe- rapa dokumen perjanjian regional tentang hak asasi manusia. Pasal 6 European So- cial Charter tahun 196I menyebutkan,
"Untuk nremastikan pelaksanaan yang efektif dari hak untuk melakukan perun- dingan kolektif, Negara-negara Peserta [...]
m e n g a k u i h a k k a u m b u r u h d a n p a r a m a j i k a n u n t u k m e l a k u k a n aksi secara kolektif dalam hal te4adi perbedaan kepen- t i n g a n , t e r m a s u k h a k mogok, dengan mengingat segala kewajiban yang muncul dari perjanjian bersama yang telah disepa- kati sebelumnya."ll Pasal 8 ayat (1b) dari
9 K o m i t e K e b e b o s o n B e r o r g o n i s o s i I L O a d a t o h diresmikan poda tohun 1950 berdosorkon kesepokaton ontaro ILO dan Dewan Ekonomi don Sosiol PBB.
Komite ini diadokon untuk mengakomodasi kebutuhan akan odanya prosedur keluhan khusus untuk tujuan perlindungan hak-hak serikat buruh, khususnyo yong berkaitan dengan hok otos kebebosan berorgonisosi berdosorkon Konvensi /LO No. 87 dan Konuensi ILO No. 98 Komite ini juga bertugas untuk memerikso d a n m e n g e l u o r k o n ' p u t u s o n ' d o l a m b e n t u k r e k o m e n - dasi terhadap keluhon-keluhan yang dialukon oleh serikat buruh atau pun organisasi majikan berkaiton dengon pelanggaran prinsip-prinsip penghormatan kebebasan berorgonisosi Konuensi /LO No. 87 dotam n e g a r a - n e g a r a p e r o t i l i k o s i t e r s e b u t . U n t u k l e b i h jelasnya. dopat dilihat dalam Lee Swepton, "Humon Rights Complaint Procedures ol the Internationol Labour Orgonization," in Hannum Hurst (ed.), Guide to International Human Rights Proctice, (Philadelphia.
U n i u e r s i t y o l P e n n s g l u a n i o , 1 9 9 2 ) , h a l . 9 9 - 1 1 6 . 10 Terjemahan bebss dari "1. .l the right to strike [is a]
f u n d a m e n t a l r i g h t o l w o r k e r s o n d o l t h e i r organisotions, /.../ os il is utilised os o means ol de- lending their economic inferests. " Dikutip dori Inter- national Labour Organisation, "Freedom ol Associo.
tion. Digest ol Decisions ol the Freedom ol Associo- tion of the Gouerning Body ol the lLO". (Geneua, ln- ternationol Lobour Office, 1990), pora. 364, hal. 74 ll Terjemohon bebos dari "With a uiew to ensuring the
effectiue exercise ol the right to borgain collectiuely, the Controcting Parties [...] recognise the right ol work.
ers and employers to collectiue action in cases ol con- f lict ol interest, including the right to strike, subject to obligations thot might arise out of collectiue agree.
ments preuiously entered into."
5 2
Protokol Tambahan Konvensi Amerika tentang Hak Asasi Manusia dalam Wilayah Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang dikenal sebagai Protocol Sar Salva- dor juga secara eksplisit menyebutkan pengakuan akan hak mogok.
Perkembangan Isu Just iciability Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Ketika berbicara tentang justiciabil- ify hak mogok, seperti halnya saat berbi- cara tentang jusficiability dari hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, maka perde- batan'klasik' tentang justiciability sebuah hak dalam hukum hak asasi manusia inter- nasionalakan segera muncul ke permuka- an. Hak mogok, seperti halnya hak-hak ekonomi, sosial, dan -budaya, dinyatakan oleh sebagian ahli bukanlah hak yang jus- ticiable. Ia dikelompokkan sebagai hak sosial ekonomi karena'hanya' disebutkan secara eksplisit dalam Kovenan Interna- sional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Pendapat ini didasarkan pada argumen bahwa hak-hak yang dicantum- kan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya sejatinya bukanlah hak-hak asasiyang uni- versal. Hak-hak dalam Kovenan Interna- sional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya dianggap hanya dapat digo- l o n g k a n s e b a g a i s e k e d a r p e r n y a t a a n negara akan aspirasiatau tujuannya untuli kesejahteraan warganya. 12 Pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya di- n y a t a k a n m e n u n t u t tindakan-tindakan positif dari negara yang tersusun dalam program kerja nasional (yang harus di- setujui oleh lembaga legislatif negara dan membutuhkan kemampuan administratif yang baik untuk melaksanakannya). Selain
Tl OidE""thom, "Whot Future lor Economic ond So- cial Rights?" dalam 43 Politicalstudies Speciol Issues
1 9 9 5 , h a l . 4 1 - 6 0 .
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
H o k M o g o k : S e b u o h S t u d i K o s u s t e n t a n g J u s t i c i a b i l r t - y H a l * H a k E k o n o m i , S o s i o / d a n B u d a g a
itu, pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya diklaim membutuhkan biaya besar sehingga selalu bergantung pada kemampuan finansial negara untuk mem- biayainya. Ini dianggap berbeda dengan hak-hak sipil dan politik dimana negara 'hanya' dituntut bertindak secara 'pasif' nremastikan dan menjamin pemenuhan hak-hak sipildan politik dengan tidak men- campuri pelaksanaan hak-hak tersebut.
Karenanya, pelaksanaan hak-hak sipil dan politik dianggap lebih bergantung pada komitmen politili negara dan tidak me- merlukan biaya besar.
Argumen-argumen di atas memiliki implikasi besar terhadap jaminan peme- nuhan dan perlindungan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya seperti hak mogok, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, atau pun hak atas perumahan. Limitasi yang disebabkan oleh argurnen-argumen di atas, pada faktanya justru dapat menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak tersebut.
Pertama, hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya dianggap tidak justiciable, isu penegakannya ataupun kasus pelang- garannya tidak dapat dibawa ke dalam s e b u a h p r o s e s h u k u m . K e t e r s e d i a a n prosedur (legal) penyampaian keluhan ataupun 'gugatan'
tidak dirasakan urgen- sinya. Dalam konteks internasional, hanya korban pelanggaran hak-hak yang tercan- tum dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik yang dimung- kinkan untuk menyampaikan keluhannya secara individual. Prosedur ini dimuat dalam Protokol Tambahan Pertama dari Kovenan tersebut. Tidak ada prosedur serupa yang tersedia bagi mereka korban pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial, budaya yang tercantum dalam Kovenan lnternasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.13 Ini menyebabkan jaminan pemenuhan dan pelaksanaan hak- hak ekonomi, sosial, dan budaya, dalam konteks internasional, sepenuh-penuhnya
terletak pada kebijakan dan komitmen (politik) negara.
K e d u a , a r g u m e n - a r g u m e n t e n t a n g kebutuhan mutlak tindakan positif negara dalam usaha pemenuhan hak-hak eko- nomi, sosial,dan budaya seringkali mem- beri peluang penerapan berbagai aturan hukum (domestik) yang justrtr membatasi b a h k a n m e l a n g g a r h a k - h a k e k o n o r n i , sosial, dan budaya, Misalnya, swastanisasi l e m b a g a - l e m b a g a p e n d i d i k a n n a s i o n a l dengan alasan kesulitan finansial negara m e n y e b a b k a n t e r l a n g g a r n y a h a k a t a s pendidikan bagi rakyat. Demi pertimbang- an keamanan investasi asing di dalam n e g e r i , n e g a r a m e l a n g g a r h a k m o g o k d e n g a n m e m p e r k e n a l k a n i s t i l a h - i s t i l a h
"mogok ilegaldan tidak sah" yang diser-tai a n c a m a n s a n k s i h u k u m b a g i p e l a k u
"mogok ilegal dan tidak sah."
Untungnya telah terjadi perubahan dalam diskusi isu jusficiability hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam per- kembangan kini, argumen yang menyata- kan bahwa pemenuhan hak-hak ekonomi, s o s i a l , d a n b u d a y a l e b i h m e m b e r i k a n beban besar pada negara dikritik sebagai upaya untuk mensimplifikasi persoalan semata. 1a Dalam praktiknya, pelaksanaan hak-hak sipildan politik, juga memerlukan
B S"A""or"ya terdapot berbogai usoho signi/i kon untuk menyusun protokol tombohon Kouenon lnternasional tentang Hak-hak Ekonomt, Sosiol don Budayo yang memungkinkan korban pelanggoran menyompoikan keluhannya. Pada tahun 1990, Komite tentang Hck' hak Ekonomi, Sosiol, dan Budaya telah mengadopsi s e b u o h d r o l t p r o t o k o l t a m b a h o n y o n g t e r u s didiskusikon hinggo kini. Pertemuan para ahli dolam The Netherlonds Insfif ute ol Human Righls (SIM) Ex- p e r t M e e t i n g d i U t r e c h t t o h u n 1 9 9 5 j u g a t e l o h m e n y a m p o i k a n o l t e r n a t i f l a i n d a r i d r a f t p r o t o k o l tambahon. Lihot: Kitty Arombulo, Strengthening the S u p e r u i s i o n o l t h e I n t e r n o t i o n o l C o u e n a n t o n E c o ' n o m i c , S o c i o l , a n d C u l t u r a l R i g h t s ; T h e o r i t i c a l a n d P r o c e d u r o l A s p e c t s , ( A n t w e r p e n , I n t e r s e n t i a ' H a r t ,
1999), hal. 199 202.
14 Virginio Leary, "Justiciobility and Beyond; Complaint Procedures and the Right to Heolth", The Reuiew, In'
ternationol Commissions o/ Jurists, No. 55, Decem' b e r 1 9 9 5 , h o l . 1 0 5 - 1 2 2 , p a d a h a l . L 1 1 ' 1 1 2 .
R i t a O l i u i a T o m b u n a n
tahapan kerla yang terprogram secara baik d i s e r t a i k e t e r s e d i a a n d a n a y a n g t i d a k s e d i k i t . M i s a l n i l a , u t r t u k r r r e n g a d a k a n sistem peradilan yang adil, bersih, dan obyektif, diperlukan program kerja negara yang rapih dan biaya besar. Di sisi lain, ada pula hak-hak ekonomi, sosiai, dan bu- daya, misalnya jaminan hukum atas kebe- basan setiap orang untuk mendirikan dan bergabung dalam serikat buruh, yang ha- nya memerlukan komitmen poiitik negara.
Konsep bahwa hanya hak-hak sipil dan politik yang memilikijusf iciobilify, dengan fakta di atas, mulai terpatahkan.
Hak Mogok, Hak yang Justi' ciable
Hak mogok, seperti banyak hak-hak ekonomi, sosial. dan budaya lainnya, dapat dibuktikan secara teoritis sebagai hak yang justiciable. Isu perlindungan dan penegak- an hak mogok memiliki kualitas legal untuk d i b a w a k e m u k a l e m b a g a p e r a d i l a n (domestik, regional, ntaupun internasional) u n t u k d i p e r i k s a d a n d i p u t u s o l e h n y a . Berdasarkan sebuah riset singkat, paling tidak ada dua cara untuk membuktikan jus- ticiability hak mogok: Pertama, adalah yang disebut sebagai pengakuan langsung (direct recognition) atas justiciability hak m o g o k d e n g a n m e n e t a p k a n ' h u b u n g a n ' antara hak mogok dengan hak atas kebe- basan berorganisasi. Kedua, pengakuan tidak langsung (indirect recognif ion) atas justiciability hak mogok dengan penga- dopsian norma-norma internasional ke dalam aturan hukum domestik.
a. Pengakuan Langsung atas Justici- ability Hak Mogok: Hak Mogok dalam Lingkup Wilayah Hak atas Kebebasan Berorganisasi
Hak mogok memiliki relasi langsung dengan hak atas kebebasan berorganisasi yang dapat dibuktikan dengan cara sebagai berikut: (a) hak mogok adalah hak yang
5 4
berada dalam lingkup wiiayah hak atas k e b e b a s a n b e r o r g a n i s a s i d a n ( b ) h a k mogok adalah salah satu dari sekian hak s e r i k a t b u r u h . J i k a h a k m o g o k d i a k t r i sebagai bagian dari hak atas kebebasan berorganisasi, maka ia harus dinyatakan
justiciable sebagaimana halnya hak atas kebebasan berorganisasi dinyatakan jLrsf i- ciable karena dianggap sebagaibagian dari hak-hak sipil dan politik dalam berbagai dokumen hukum hak asasi manusia.
Hak mogok merupakan bagian dari hak atas kebebasan berorganisasi dalam konteks organisasi serikat buruh. Sebagai bagian dari hak atas kebebasan berorga- nisasi, selain sebagai hak sosio-ekonomi, hak mogok memiliki karakter hak sipil.
H a k a t a s k e b e b a s a n b e r s e r i k a t d a l a m konteks serikat buruh hanya bisa terpenuhi apabila buruh rnemiliki kebebasan untuk mendirikan dan bergabung serta berak- tivitas dalam organisasiseril<at buruh yang dipilihnya. Kebebasan beraktivitas serikat buruh, antara lain adalah kebebasan untuk menggunakan hak mogok. Inilah karakter hak sipil pada hak mogok. Disisi lain, hak mogok dipergunakan oleh kaurn buruh dan s e r i k a t b u r u h u n t u k m e m p e r j u a n g k a n nasibnya. Inilah saatnya hak mogok ber- fungsi sebagai hak sosio-ekonomi ketika ia dipakai sebagai alat perjuangan demi mencapai standar kehidupan buruh yang lebih baik.ls Pendapat inilah yang dinyata- kan oleh 5 (lima) orang hakim dalam dis-
s e n t i n g o p i n i o n 1 6 p e r k a r a J . B e t a l v . CanadalT di Komite Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa hak mogok adalah hak yang juga berada dalam lingkup wilayah hak atas kebebasan berorganisasi yang berlaku khusus serikat buruh.
Ada dua cara untuk menyatakan hak mogok adalah bagian dari hak atas kebe- basan berorganisasi,l8 Pertama, dengan menyatakan bahwa hak mogok adalah bagian tak terpisahkan darihak-hak serikat buruh. Serikat buruh, sebagai salah satu
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
Hok Mogok Sebuoh Srudi Kosu s tentong Justiciability Hak'Hok Ekonomi, Sosiol dan Budaya
)entuk dari organisasi kemasyarakatan, nemiliki hak-hak untuk melakukan akti- Itas keserikat buruhan seperti hak untuk nelakukan perundingan kolektif dengan najikan demi mengadakan sebuah perjan- ian kerja bersama di lingkungan perusa- : l a a n , h a k u n t u k m e n g o r g a n i s a s i d a n nengajak kawan buruh untuk bergabung Jalam serikat buruh, dan jtrga hak mogok' Hak untuk melakukan perundingan kolektif rnemerlukan kekuatan kolektif dari anggota 'erikat buruh untuk menaikkan posisitawar ketika berhadapan dengan majikan dalam menuntut kondisi kerja yang lebih baik di tingkat perusahaan. Dalam semangat yang sama, hak mogok juga dilakanakan untuk memampukan kaum buruh dan serikat buruh secara bersama menghentikan kerja
15 Lihot lrlonlred Nowck. United Notions Couenont on C i u i l a n d P o l i t i c o l R i g h t s C C P R C o r n m e n t a r y , ( K e h l am Rhein. N.P Engel Publishers, 1993). hal. 386 y'ang menyotakon bohwa "pasal 22 [Kouenan lnternosionol tentong Hak'hok Sipi/don Politikl luga meniamin hak ekonomi yong signifikon: kebebosan serikat buruh [ u n t u k b e r a k t i u i t a s ] . W o l o u k e b e b o s o n u n t u k mendirikon dan bergabung dengon serikat buruh lebih l u o s d o n k o m p r e h e n s i l d i a t u r d o l a m p o s a l 8 K o u e n o n Internasionol tentong Hok'hak Ekonomi. Sosiol. don Budoya. nomun ia iuga diiamin dalom pasal 22 guna m e n e k o n k a n b a h w a i a b u k a n h o n y o s e b u o h h o k e k o n o m i t e t a p i j u g a h o k s i P i l . "
1 6 P e n d a p o t h a k i m m i n o r i l o s y a n g b e r b e d o d e n g o n p e n d a p a t y o n g m e n i a d i o r g u m e n d o l a m s e b u o h putuson lemboga peradilan. Dolom berbogai puluson lembaga yudisial maupun quocyyudisial internasional, d i s s e n t i n g o p i n i o n s e l a l u d i c o n t u m k a n u n t u k d i l i h o t argumen dan dasor pemikironnyo. Berbogoi lembago p e r a d i l a n d i b o n y o k n e g o r o i u g a m u l o i s e n o n t i o s o m e n c a n t u m k o n d i s s e n t i n g o p i n i o n d o l a m p u t u s o n - putusonnyo demi kepentingon peniaminan terlaksono' nya proses peradilon yang bersih. iujur, dan adil.
17 Perkara ini diojukon oleh Serikat Buruh Propinsi Alberta. Konada melawan Negoro Konado berkenaan dengon adonya pelorangan mogok bogi buruh sektor publik berdasarkan UU tentang Hubungan Perburuhan Sektor Publik Alberto tahun 7977. Dolam putusonnyo t o n g g a l 1 8 J u l i 1 9 8 6 . K o m i t e H o k A s o s i M o n u s i o m e n y a t a k o n t i d a k b e r w e n o n g u n t u k m e m e r i k s o perkoro ini karena hak mogok tidak disebutkon secaro eksplisit dalam pasol 22 oyot (7) Kouenan Internasional tentong Hak'hak Sipil don Politik. Dengan demikian, hok mogok tidak dopat dinyatakan sebogoi komponen implisit dari hok untuk membentuk dan bergobung dengan serikat buruh.
t8 lJntuk penjeloson lebih detoil. lihat Sheldon Leoder, Freedom ol Association, o Study in Labour Law, (New Houen and London. Yole Uniuersitv Press. 1992).
untuk'memaksa' majikan mendengarkan tuntutan mereka. Disinilah hak mogok, seperti halnya hak-hak serikat buruh lain- nya, hanya dapat dipenuhijika ada penga- kuan dan penghormatan akan hak atas kebebasan berorganisasi dalam sebuah relasi perburuhan.
Kedua, dengan rrrenyatakan bahwa hak mogok memiliki karakter yang sama seperti karakter hak atas kebebasan beror- ganisasi yaitu karakter hak asasi subyektif dari individu.le Setiap individu memiliki h a k d a n k e b e b a s a n u n t u k m e n d i r i k a n sebuah organisasi ataupun memilih untuk bergabung pada suatu organisasi. Pada saat yang bersamaan, organisasi tersebut memiliki hak kolektif untuk melakukan aktivitas keorganisasiannya berdasarkan aspirasi dan kepentingan bersama dari anggotanya. Karakter yang sama dimiliki juga oleh hak mogok. Ia adalah hak fun- d a m e n t a l d a r i i n d i v i d u b u r u h m a u p u n o r g a n i s a s i s e r i k a t b u r u h . H a k m o g o k adalah hak individual yang dilaksanakan secara kolektif. Tidak pernah terjadi se- buah pemogokan jika pelaku mogok hanya satu-dua orang buruh saja. Hak mogok memampukan buruh untuk mengajukan t u n t u t a n - t u n t u t a n in d i v i d u a l n y a s e c a r a bersama.
b. Pengakuan tak L-angsung dari Jus' ticiqbility Hak Mogok: Pengadop- sian dalam Perangkat Hukum Do- mestik
Hak mogok adalah hak yang justi' c i a b l e m e l a l u i p e n g a d o p s i a n k e d a l a m aturan-aturan hukum domestik. Pada saat hak mogok dinyatakan sebagai hak legal dalam sistem hukum nasionalsuatu negara,
ETinot lor-ulosi posol 22 Kouenan lnternasional Hak' hok Sipil don Politik: "eueryone shall haue the right t o l r e e d o m o l a s s o c i o t i o n . . . " a t a u p o d a p a s a l 7 7 Konuensi Hok Asosf Manusio Eropa, "eueryone has the right to [...] t'reedom of associotion with others..."
Penjelasan lebih loniut lihot Manlred Nowok, supro n . 1 6 . h a l 3 8 7
R i t o O / i u i a T a m b u n q n
timbul pula kewajiban hukum negara yang bersangkutan untuk menghormati inte- g r i t a s k e b e b a s a n i n d i v i d u a l w a r g a n y a (=buruh) untuk menggunakan hak mogok.
Kewajiban hukum negara tersebut juga meliputi kewajiban untuk mencegah pe- langgaran terhadap hak mogok dan mem- b e r i k a n k o m p e n s a s i h u k u m t e r h a d a p setiap kasus pelanggarannya. Dengan kata lain, ketika suatu negara mengakui jusf i- ciability hak mogok dalam instrumen hu- kum domestiknya, maka hak mogok men- jadi justiciable dalam ranah hukum hak asasimanusia internasional. Inilah yang di- sebut sebagai pengakuan tidak langsung akan justiciabi/ity hak mogok dalam hu- kum internasional melalui aturan hukum domestik.
Penjelasan hipotetiknya adalah seba- gai berikut: Negara X adalah negara ang- gota ILO darr peratifikasi Konvensi ILO No. 87 dan No. 98. Dalam sebuah pasal aturan hukum nasional suatu Negara X.
hak mogok dinyatakan hak fundamental dari buruh dan serikat buruh. Pengakuan bahwa hak mogok sebagai hak legaldalam sistem hukum nasional Negara X itu me- n i m b u l k a n k o n s e k u e n s i l o g i s b a h w a Negara X wajib menjamin kebebasan kaum buruh dan serikat buruh di wilayahnya untuk menggunakan hak mogoknya itu.
Negara X juga wajib untuk memampukan kaum buruh dan serikat buruh untuk me- ngajukan keluhan atau menggugat kasus- kasus pelanggaran hak mogok melalui mekanisme sistem peradilan nasionalnya.
Dalam hal mekanisme hukum nasional tidak lagi mampu menangani perkara pe- l a n g g a r a n h a k m o g o k secara adil dan benar, maka kaum buruh dan/atau serikat buruh korban pelanggarannya dapat me- ngajukan kasusnya ke Komite tentang K e b e b a s a n B e r o r g a n i s a s i ILO. Dalam konteks ini, hak mogok harus diakui seba- gai hak yang justiciable walaupun tidak secara eksplisit disebutkan dalam Konvensi I L O N o . 8 7 d a n N o . 98.
5 6
Rasio pembenaran akan argurnen di atas didasarkan pada dua hal' Pertama, prinsip dasar dari hukum internasional dimana setiap negara memiliki kewajiban (hukum) internasional yang dilandaskan pada kedaulatan negara (state souereign- fy), Sebagai anggota masyarakat inter- nasional, suatu negara tentu diminta untuk m e i a k s a n a k a n k e w a j i b a n - k e w a j i b a n i n t e r n a s i o n a l n y a d e n g a n i t i k a d b a i k . Negara tidak boleli menolak melaksanakan kewajiban yartg timbuldari aktivitas hukum internasionalnya, misalnya meratifikasi konvensi internasional hak asasi manusia, dengan alasan ada aturan hukum domestik y a n g bertentangan dengan kewajiban internasionalnya itu.20 Sebaliknya, hukum internasional meletakkan juga meletakkan kedaulatan negara (state souereignty) se- bagai salah satu tolak ukur pelaksanaan kewajiban-kewajiban internasional suatu negara.
Prinsip ini jugalah yang dipakai oleh Komite tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, Budaya PBBzr sebagai cara untuk menyia- s a t i i s u j u s t i c i a b i l i f y h a k - h a k ekonomi, sosial, budaya dalam sistem hukum do- mestik. dalam General Commenf-nya No.
3 tahun 1990 tentang Kewajiban (Hukuni) N e g a r a - n e g a r a A n g g o t a [ P e r a t i f i k a s i Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi.
n Pasot 27 Konuensi Wina tentong Hukum Perjanjion Internasional, "Negora anggota tidak dapat menga- j u k a n o t u r o n h u k u m n a s i o n a l n y a s e b o g o i o l o s o n p e m b e n a r o n k e g o g a l a n n y a m e l a k s a n o k a n s e b u a h perjonjion internosionol [yang diratilikasinya]. "
21 lni adaloh komite yang terdiri dari paro pakor inde- penden yang didirikan berdosarkon Resolusi Dewon Ekonomi don Sosiol PBB 1985/17 pada tahun 7985.
Kegiotan utomo Komite ini adalah (l)mengklarilikasi n o r m a - n o r m o y a n g t e r d o p a t d o l a m K o u e n a n Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosiol, dan Budoya;
(2) menyebarkan inlormasi yong releuan dengan kerjo- ker ja Komite; dan (3) menyusun sistem yang efektil untuk melakukan monibring implementasi hak-hak ekonomi, sosiol, don budayo di negora"negara onggota.
Untuk |ebih jelas, lihat artikel Philip Alston, "The Committee on Economic, Sociol, and Cultural Rights, "
dalam Philip Alston (ed.), The United Notions ond H u m o n R i g h t s , a C r i t i c a l A p p r a l s a l , ( O x t ' o r d , C l o r e n d o n P r e s s , 1 9 9 6 . h a l . 4 7 3 - 5 0 8 .
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
Hak Mogok
Sostal, dan Budayal' Komite menekankan kewajiban dari setiap negara angggta untuk mengakui justicicbi lify hak-hak ekonomi' s o s i q l , d a n b u d a y a m e l a l u i i n s t r u m e n - i n s t r u m e n h u k u m d o m e s t i k m a s i n g - masing. Komite dalam hal ini menggaris bawahi pasal 2 ayat (1) dari l(ovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi' S o s i a l , d a n B u d a y a , " [ . ..lto takesfeps ["']
in all appropriate means, including parti' cularly the adoption of legislative mea' sures. " Komite menekankan bahwa pelak- sanaan prinsip justiciobilify hak-hak eko- nomi, sosial, dan budaya, membutuhkan ketersediaan prosedur dan sanksi hukum d o m e s t i k y a n g e f e k t i f . S i s t e m h u k u m domestik diharapkan dapat mengakomo- dasi individu atau kelompok-kelompok or- ang yang mengajukan keluhan atau pun guluiun di muka lembaga peradilan ber- [nttuun dengan pelanggaran hak-hak itu' Komite secara khusus menyebutkan prin- sip anti dislrriminasi (pasal 3), hak atas upah yang layak tanpa diskriminasi (pasal 7a-i), hak mogok (pasal 8), hak anak (pasal f O.S), hak atas pendidikan (pasal 13'2a)' dan hak atas penelitian ilmiah, untuk dapat s e g e r a d i a d o p s i d a l a m s i s t e m h u k u m d o m e s t i k m a s i n g - m a s i n g n e g a r a a n g - gota.2z Dengan demikian, jelas bahwa Komite nrewajibkan setiap negara anggota menjadikan hak mogok sebagai hak yang justiciob/e dalam hukum domestiknya'
Prinsip yang sama juga secara konsis- ten disuarakan oleh Komite tentang Ke- bebasan Berorganisasi ILO' Komite ini secara konsisten menekankan pentingnya pengakuan atas hak mogok dalam sistem hukum nasional negara-negara anggota' Dalam berbagai rekomendasi yang dikelu- arkan atas kasus-kasus yang diperiksanya' Komite menyatakan bahwa pengakuan
V, tir<l^'* nak-hok Ekonomi' Sosiol, dan Budoya' Gen' eral Comment No. 9 tahun 7998 tentang Aplikosi Ko ue n on [ln te r n osio nal Ho k-ho k Ek o n omi' Sos io l' do n
Budayol dalam Hukum Domestik' poro 70
atas hak mogok dalam hukum nasional berartip.ngukuun terhadap halt atas kebe- basan berorganisasi yang terdapat dalam Konvensi ILO No. 87 dan No' 98; sebalik- nya, larangan mogok berarti sebagat pe- lunggurun (kewajiban internasional) terha- J"ri r.aua konvensi tersebut'23 Dengan demikian Komite ini menunjukkan posisi- nya bahwa adalah menjadi kewajiban setiap negara anggota mengakui jusfici-
ability hak mogok melalui pengaciopsian p r i n s i p - p r i n s i p p e n g h o r m a t a n n y a k e dalam sistem hukum domestik masing- masing.
Kedua, aPabila hak mogok adalah hak yang justicioble dalam ranah hukum do-
*"rtik maka ia harus dikenal sebagai hak yang justicioble dalam ranah hukum hak asasi manusia internasional karena pene- rapan prinsip non-diskriminasi' Prinsip ini mendorong penlenuhan hak atas kesama- an dan perlindungan di muka hukum tanpa diskriminasi. Prinsip ini secara mutlal"
dibutuhkan untuk mengukuhkan usaha penegakan justiciobility hak mogok (dan jugu fiuk-hak ekonomi, sosial, dan budaya iuinnyu). Karenanya, dalam situasi hak rnogok tidak secara eksplisit diartikulasikan dalam konvensi hak asasi manusia interna- sional tertentu, pada saat sebuah negara mengakui jusf iciobilif y hak mogok dalam hukum domestiknya, maka prinsip itu harus diberlakukan tanpa diskriminasi . dalam bentuk dan alasan apa Pun'
Konsideran pemikiran ini bisa diper- oleh dari sebuah putusan Komite Hak Asasi Manusia (Human Rights Commit-
tee)dalam kasus Broeks v' Netherlands'24 Komite menyatakan bahwa pada dasarnya kasus ini adalah berkenaan dengan hak sosial dan bukan hak-hak sipil dan politik yang menjadi yurisdiksi dari Komite' Na- -un demikian, ketika negara dalam kapa- sitas kedaulatannya telah mengakui jusf i-
nTilnotionol Lobour Orgonisotion, supro n' 77' paro 4 1 6 - 4 1 7 , h o l . 8 1 '
R i t a O l i u i o T a m b u n a n
ciability suatu hak (ekonomi, sosial, dan budaya), maka prinsip itu harus dilaksana- kan dengan penghormatan akan prinsip universal bahwa adalah menjadi hak setiap orang untuk memperoleh kesamaan dan perlindungan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasidalam bentuk dan alasan apa pun. Komite kemudian menyatakan bahwa korban pelanggaran berhak atas sejumlah kompensasi yang harus disedia- kan oleh Pemerintah Beianda.
Alur nalar pemikiran putusan Komite Hak-hak Asasi Manusia ini kiranya amat relevan untuk diladikan sebuah pembenar- an tentang keberadaan jusficiobility hak mogok (dan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya lainnya).
Hak Mogok dalam Hukum Indo- nesia dan Problematikanya
a. Kondisi Sebelum Berlakunya UU No. 13 tahun 2003
Indonesia telah meratifikasi Konvensi iLO No. 98 dengan UU No. 18 tahun
1956. Selanjutnya pada awal era refor- masi, Presiden BJ Habibie meratifikasi KonvensilLO No. 87 dengan Keppres No.
83 tahun 1998. Saat ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu dari sedikit negara di Asia negara yang telah meratifikasi 8 Kon- vensi Fundamental ILO tentang Hak Asasi
2 4 K a s u s d i a l u k o n o l e h s e o r a n g p e r e m p u o n y o n g mengatakon Pemerintah Belando telah melokukan d i s k r i m i n o s i b e r d o s a r k a n j e n i s k e l o m i n k a r e n a memberlakukan UU Jominon Sosiol yang mengharus.
kon perempuon membuktikan bahwa ia pencari nalkah utoma dolam keluarga jiko ingin mendopatkon iaminon sosial. Persyoraton ini tidak dikenakon poda leloki berkeluarga yong meminto jaminan sosio/ yong somo.
'Penggugot'
mengntakon bahwo hak lominan sosiolnyo terdiskriminasi secoro seksuol berdasorkan pasal 26 K o u e n a n l n t e r n a s i o n a l H o k - h a k S i p i l d o n P o l i t i k (persomaon don perlindungon yang samo di muko hukum tonpa diskriminosi dalam bentuk opa pun).
Kosus ini dioiukan di Komite Hok-hok Asosi Monusio k o r e n a B e l o n d a t e l a h m e r o t i f i k a s i K o u e n a n d o n Tambahan Protokol Pertomo-nya.
Sumber, Broeks u. Netherlonds 1198712 Selected De- cisions HRC 196.
5 8
Manusia.25
Namun realita aplikasi prinsip-prinsip KonvensilLO dalam praktek hukum pertu- ruhan nasional, secara umum, amatlah b u r u k . S e b e n a r n y a t e r h i t u n g s a m p a i dengan tanggal 25 Maret 2003, di atas k e r t a s , n e g a r a m e m b e r i k a n j a m i n a n perlindungan hukum bagi hak-hak funda- mentalburuh dan serikat buruh di Indone- sia. Berbagai instrumen hukum perburuh- an memberikan jaminan eksplisit tentang perlindungan kesejahteraan buruh di tempat kerja26, perlindungan upahz7, larangan tegas tindakan diskriminatif terhadap buruh perempudo28, jaminan perlindungan hak-hak buruh perempuan2e, dan larangan melakukan PHK secara se- wenang-wenang3o.
25 Kedelopan konuensi itu adclah: Konuensi ILO No. 87, Konvensi ILO No. 98, Konuenst ILO No. 100 tentang Upah yang Somo bogi Buruh Lelaki don Perempucn unluk Niloi Kerla yong Sama (UU No. 80 tahun 7957), Konuensl /LO No. 705 tentong Penghapusan Buruh Pokso (UU No. l9 tohun i999), Konuensi ILO No. 29 tentang Buruh Pokso (Staotblod No. 261 tahun 1933), Konuensi ILO No. 771 tentong Larangon Diskriminosi di Tempat Kerja (UU No. 21 tahun 7999), dan Kon uensi ILO No. 182 tentong Larongan dan Tindakan Segera untuk Penghapusan Bentuk-bentuk Terburuk dari Pekerja Anok (UU No.I tohun 2000).
26 UU Kerja No. 72 tahun 7948 tentang izm keria 40 izny'minggu, cuti tahunan 72 hori/tahun termasuk cuti selomo 3 bulon dengan pembayaron upah penuh jika teloh bekerjo terus menerus selamo 6 tohun. UU No.
3 tahun 7992 tentang Jaminon Sosiol Tbnoga Kerja yang mewojibkan majikan memberikan tunjongan kesehoton, tun jongan kecelakaan kerit, tunjongan hori tva, don tunjangan kematian.
27 PP No. 8 tohun 1981 tentang Perlindungon Upah, termosuk penghitungon upoh lembur.
28 IJIJ No. 80 tohun 7957 dengon tegos melorang diskri- minosi upoh buruh lelaki don Wrempuan don konsis- ten menegoskon prinsip equal pay lor work ol equal uolue. Juga UU No. 7 tohun 7984 tentang Roii/ikosi Konuensi Internasionol tentang Penghapuson Sego/o Bentuk Diskriminosi terhadap Perempuan (CEDAW), sebagoi bentuk pengakuan negoro terhadop hak-hak legal (buruh) perempuan.
29 UU Kerjo No. 72 tahun 1.948 memberl jaminan cutl haid seloma 2 hari dan cuti melahirkan selamo 3 bulan dengan upoh yang musti dibayarkan penuh.
30 UU No. 22 tahun 7957 tentang Penyelesaian Perseli- sihan Perburuhan dan UU No. 72 tahun 1964 tentang PHK di Perusahaan Suosto, secera tegas menyatakon bahwa PHK baruloh soh don legol jtko dtlakukdn atas ijin dari lembogo quacy-judicial P4 (Panitia Penye- lesoion Perselisthan Perburuhoil.
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
Hak Mogok: Sebuoh Studi Kosus tentang Justiciobility Hak-Hok Ekonomi' Sosial dan Budaya
Negara juga mengakui hak-hak serikat bunrh sebagai hakyang legal, seperti misal- nya hak untuk melakukan perirndingan kolektif3l, hak untuk melakukan pembela- an bagianggota serikat buruh yang sedang -nngilu*i perselisihan dengan majikan3z, dan luga hak mogok33. Dengan demikian, secara teoritis, negara mengakui justici-
abiltty hak-hak tersebut sekaligus menun- dukkan diri pada kewajiban hukum untuk memastikan perlindungan dan penegakan hak-hak tersebut.
Namun fakta jaminan Pelaksanaan hak-hak buruh dan serikat buruh di atas tidaklah sebaik apa yang tertulis di atas kertas. Berbagai kasus pelanggaran ter- hadap hak mogok terus terjadi berulang- ulang. PHK massal diberlakukan terhadap anggota serikat buruh yang menjalankan aktivitas serikat buruh' ,Aktivis dan pemim- pin serikat buruh selalu menjadi sasaran enrpuk kekerasan bahkan tidak jarang menjadi korban tindakan viktimisasi dan kriminalisasi perburuhan. Sekitar 800 o- rang buruh Hotelshangri-La Jakarta yang adalah anggota SPMS (Serikat Pekerja Mandiri Shangrila), menjadi korban PHK massal karena menghentikan kerja untuk menyatakan dukungan solidaritas mereka terhadap ketua SPMS yang di-PHK mana- jemen hotel tanpa alasan jelas pada bulan D e s e m b e r 2 0 0 0 . 7 o r a n g P e m i m P i n SPMS digugat dan dihukum PN Jakarta Selatan membaYar US$ 20 juta (atau sekitar Rp 20,,7 trilyun) karena memimpin aksi Ngadinah, dan 20 orang aktivis SPMS sempat mendekam diPolres Jakarta Pusat dengan tuduhan memimpin aksi tidak sah' Ngadinah, pemimpin serikat buruh sebuah perusahaan sub-kontraktor sepatu merk
o Uf,tfV" f 8 rchun 1956' posol 4 ovat (2o) IJ|J No' 21 tahun 2000 tentong Serikot Pekeriatserikat Buruh 32 Posal 1 avat (1c) UU No' 22 tahun 1957' UU No' 21
tahun 2000.
33 Posol 6 UU No. 22 tohun 1957 ' pasol 4 oyat (2e)UU No. 21 tahun 2000, lihot jugo pasol 737 UU No 13 tahun 2003 tentong Ketenagokerjaan'
terkenal "Adidas," terpaksa mendekam beberapa minggu Ci LP Tangerang dan menjadipesakitan di kursi terdakwa pidana di Pengadilan Negeri Tangerang karena memimpin aksi mogok anggotanya me- minta kenaikan upah sesuaidengan keten- tuan UMP (Upah Minimum Provinsial) baru, bulan April 2001' Imam Sutrisno dan T ata Zoelkarnaen, pemimpin serikat buruh Bank Panin, bulan September 2001 di- hukum 2 (dua)bulan penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena memimpin protes tindakan manajemen yang mengin- iimidasi anggota serikat buruhnya'34
Terdapat juga korban kekerasan fisik oleh aparat keamanan atau preman yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa ketika buruh dan serikat buruh melakukan pemo- gokan menuntut pemenuhan. hak-hak [e4anya. Bulan April 2001, sekitar 400 orang buruh PT Kadera melakukan aksi -ogoL rnenuntut pembayaran upah sesuai UMP yang berlaku dan perbaikan kondisi kerja.
-lt4"nlnlung
dini hari, tiba-tiba mereka diserang ratusan orang berpakaian preman yang mlmbawa pisau, senjata api' bahkan 6o-. Dua orang buruh PT Kadera, Kimun Effendi dan Rachmat HidaYat, tewas karena luka-luka. Sekitar 10 orang buruh lainnya mengalami luka berat' Terdapat indikasi kuat bahwa penyerangan tersebut dilakukan atas suruhan manajemen PT Kadera dan terdapat keterlibatan aparat militer di dalam insiden tersebut'3s Tidak ada kejelasan pengusutan kasus inisampai sekarang.
Di lain pihak, belum ada hasil mema- dai dari usaha pengajuan kasus-kasus pelanggaran hak mogok di lembaga pera- dilan. LBH Jakarta, sebuah ornop yang bergerak di bidang advokasi hukum dan hak asasimanusia, mencatat bahwa sepan- jang tahun 2000 - 2002 tidak ada satu
uTn"t <arrln Akhir Tohun LBH Jokarto 2001, Rokyot dalom Rezim Ketidakamonan Global, Desember 2007 ' 35 Lihat siaran pers Komite Aksi Sotu Mei, April 2007'
R i t a O l i u i a T a m b u n a n
kasus pelanggaran hak mogok pun yang dapat dibawa ke muka peradilan.3o Serikat buruh terbentur dengan birokrasi penyi- dikan (kepolisian maupun penyidik pega- wai negeri sipil Depnakertrans RI) yang bolak-balik menyatakan tidak dapat me- ngusut kasus karena "tidak ada petunjuk teknis pelaksanaan penyidikan."
Kasus-kasus di atas juga merupakan raport merah Indonesia di mata komunitas internasional. Kasus yang dialami oleh anggota SPM Shangri-La Hotei, misalnya, telah menjadi sebuah isu internasional ketika dibawa ke Komite Kebebasan Beror- ganisasi ILO. Bulan Nopember 200L, dalam rekomendasi antaranya, Komite menyatakan tidak ada sebuah alasan pun yang dapat mensahkan tindakan Peme- rintah menyetujui PHK massal buruh Shangri-La Hotel yang sedang melakukan pemogokan. "[...] Komite mengingatkan Pemerintah findonesia] pada prinsip bahwa melakukan PHK karena buruh melakukan pemogokan, yang merupakan kegiatan sah dari serikat buruh, merupakan [tindak- anl diskriminasi yang serius dalam relasi perburuhan dan merupakan pelanggaran terhadap Konvensi ILO No. 98. Ketika para anggota dan pemimpin serikat buruh di-PHK karena menggunakan hak mogok- nya, Komite menyatakan bahwa buruh telah dihukum karena kegiatan serikat buruhnya dan telah mengalami tindakan diskriminatif. "3T Komite juga menyatakan bahwa Pemerintah lndonesia telah mela- kukan pelanggaran serius terhadap Kon- vensi ILO No. 98 karena melakukan pe- nangkapan dan penahanan terhaoap ang- gota SPMS yang melakukan aksi protes di depan Shangri-La Hoteltanggal 25 Agus- tus 2001 dan membiarkan PN Jakarta
36 Lihat Catatan Akhir Tohun LBH Jakarta 2002. Hukum d a l o m C e n g k e r a m o n K o u m M e r k a n t i l , N o p e m b e r 2002.
3 7 Rekomendasl antora Komite tentang Kebebasan Berorgonisosi ILO dolam Perkara No. 2116, paro. 357 - 358, Nopember 2001.
60
Selatan menghukum 7 orang aktivis SPMS untuk membayar sekitar Rp 20, 7 trilyun.
Tindakan ini dianggap sebagai sebuah bentuk pelanggaran hak-hak serikat buruh yang dilakukan secara sistematis oleh negara.38
Catatan buruk track-record Indone- sia akibat kasus-kasus pelanggaran hak mogok tersebut di atas juga dinyatakan oleh berbagai serikat buruh internasional maupun lembaga-lembaga perburuhan internaslonal.3e Indonesia dinilai bukan hanya melanggar aturan-aturan hukum domestiknya sendiri, tetapi lebih dari itu juga telah melakukan pelanggaran terha- dap komitmen internasionalnya menghor- mati, menjamin, dan menegakkan hak-hak fundamental serikat buruh, termasuk hak mogok, ketika meratifikasi Konvensi ILO No. 87 dan No. 98.
b. Kondisi Kini: Pelanggaran Siste- matis melalui Aturan Hukum Terhitung sejak tanggal 25 Maret 2003, telah berlaku UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. UU ini menghapus 15 UU dan Ordonansi perbu- ruhan. UU lni merupakan bagian dari Paket 3 UU Perburuhan (bersama-sma dengan UU No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Peker'1a/Serikat Buruh dan RUU Penyelesaian Perselisihan Hubungan In- dustrial yang direncanakan segera disahkan akhir tahun 2003). Krisis finansial yang menghantam Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah menyebabkan negeri ini
38 Rekomendasi Komlte tentang Kefuboson Eerorgonlsosi ILO dolam perkaro No. 2116, pra 364 - 368, Juni 2002.
39 Lihot antaro lain, tekanan IUF (lnternational lJnion of Food, Agricultural, Hotel, Restaurant, Caterlng, T o b o c c o , o n d A l l i e d W o r k e r s ' A s s o c i o t i o n ) don a f i l i a s i n y o d a l a m k o s u s b u r u h H o t e l S h a n g r i - L o sepanizng tahun 2007 - 2003, WRC (Workers Righfs Consortium) dolom kosus Ngodinoh 2001, dan laporon ICFTU (lnternotional Cont'ederotion ol Free Trade Unions) yang disampaikon pado Dewan Umum WTO tentang Kebllakan Perdagangan dt Jenewa, Juni 2003.
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003
Hok Mogok, Sebuoh Studi Kosu s tentang Justiciabilitg Hak'Hok Ekonomi, Sosiol don Budaya
terjebak dalam lingkaran setan utang pada IMF dan Bank Dunia. Sebuah pernyataan resmi Bank Dunia tentang ketidaksetuju- annya soal kebijakan perburuhan nasio- nal40, memaksa negara segera merubah seluruh kebijakan perburuhan demi menga- komodir tuntutan ekonomi pasar bebas yang menghendaki adanya fleksibilitas tenaga kerja (labour flexibility). Inilah kon- sepsi dasar Paket 3 UU Perburuhan: eli- minasi proteksi h'.rkum (=negara) terhadap kaum buruh demi mengakomodasi akti- vitas pelipatgandaan modal (asing) dalam konsepsi neo-liberalisme. Paket 3 UU Perburuhan ini nampaknya akan segera beriaku, dengan dukungan kreditor inter- nasional Indonesia dan juga ILO,/USA, terlepas dari tentangan keras kaum buruh dan serikat buruh Indonesia.al
UU No. 13 tahun 2003 tentang Kete- nagakerjaan ini amat potensiai menricu pelanggaran berbagai hak fundamental buruh dan serikat buruh yang terjadisecara sistematis dan 'sah'.42 Inilah beberapa con- tohnya: UU ini melegitimasi sistem kerja outsourcing (pasal 64 - 66), sebuah sistem kerja yang menempatkan buruh berada dalam ketidak pastian tentang majikan mana (pemberi kerja atau lobo ur supplier) y a n g m e n g g e n g g a m t a n g g u n g j a w a b pemberian hak-hak buruh. Sistem kerja ini menyebabkan buruh berada dalam posisi yang amat rentan ketika diperhadapkan pada persoalan perlindungan kerja dan pemenuhan hak-hak kerjanya. Sistem kerja ini dulunya tidak dikenal dalam hukum
40 Lihot Jakarto Post, "World Bonk Urges RI to Reuiew Labor Regulofions, " 4 April 1996.
41 (Jntuk penjelasan lebih detoil lihot Rito O. Tambunan' Surya Tjandro. ond Jalor Suryomenggolo, "A Reuiew of lndonesian Lobour Low," in Asio Monitor Resource Center (AMRC), Asia Pocilic Labour Law Reuiew:
Workers'Rights lor the New Century, (Hong Kong, AMRC Ltd.. 2009, hol. 163' 172
42 Untuk onoliso detoil tentang UU No. 13 tahun 2003' l i h a t " P e r n y o l o o n S i k o p L B H J o k a r t o t e n t a n g U U Ketenagaker joon No. 13 tahun 2003," yang disompai- kan kepoda Menteri Tenaga Kerja don lronsmigrosi Rl poda tanggal 12 Mei 2003.
perburuhan di Indonesia.
Pasal 137 - 145 dan pasal 186 mem- berikan batasan berlebihan bagi pelaksa- naan hak mogok. Mogok hanya bisa dilak- sanakan dengan alasan gagalnya perun- dingan dengan majikan, harus dilaksana- kan setelah ada pernberitahuan 7 hari sebelumnya yang disertai detail alasan, tempat, waktu, dan lamanya pemogokan.
Pemberitahuan juga harus menyebutkan nama-nama'penanggLlng jawab' pemo- gokan. Pelanggaran atas ketentuan ini menyebabkan mogok dikatakan ilegal dan tidak sah dan dapat menyebabkan para p e m o g o k d i d a k w a m e l a k u k a n t i n d a k pidana kejahatan dengan ancaman pidana penjara max. 4 tahun penjara dan,/atau denda max. Rp 400 juta.
UU No. 13 tahun 2003 ini mewajib- kan setiap perusahaan yang mempekerja- kan 50 orang buruh atau lebih untuk men- dirikan'Lembaga Kerjasama Bipartit' yang terdiri dari unsur majikan dan buruh guna berfungsi sebagai "forum komunikasi dan konsultasi" di perusahaan (pasal 106). UU ini juga memberikan persyaratan yang disproporsional untuk serikat buruh dapat melakukan perundingan koiektif membuat sebuah Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
UU inimensyaratkan bahwa hanya serikat buruh yang memiliki anggota lebih dari
500/o dari jumlah seluruh buruh di perusa- haan yang dapat melakukan perundingan kolektif (pasal I20t. Keanggotaan serikat buruh tersebut harus dibuktikan derlgan adanya kartu tanda anggota (pasal I27).
Ketentuan-ketentuan hukum di atas, selain
merupakan bentuk-bentuk pelanggaran
terhadap prinsip hak atas kebebasan ber-
organisasi yang ditetapkan oleh Konvensi
ILO No. 87 dan prinsip penghormatan
akan hak serikat buruh mengadakan pe-
rundingan kolektif sesuai dengan Konvensi
ILO No. 98, merupakan pelanggaran
terhadap amanat konstitusi UUD 1945,
khususnya pasal 27 dan 28.
R i t a O l i u i o T o m b u n a n
Jika pada era sebelum berlakunya UU No. 13 tahun 2003 pelanggaran hak-hak buruh dan serikat buruh disebabkan oleh penyimpangan dan pelanggaran aturan- aturan hukum, maka kini hukum justru melegitimasi adanya pelanggaran hak-hak asasiburuh dan serikat buruh. Hukum tidak l a g i m e n g i n g a t k h l t a h k e b e r a d a a n n y a : m e m b e r i k a n p e r l i n d u n g a n b a g i buruh sebagai pihak l/ang iebih lemah dalam relasi subordinatif perburuhan. Inilah yang kemudian mendorong 21 serikat buruh dan organisasi buruh tingkat regional mau- pun nasional mengajukan J udicial Reuiew ke Mahkamah Konstitusi RI meminta pem- b a t a l a n U U N o . 1 3 t a h u n 2003 pada tanggal 18 Juni 2003 yang lalu.as
Catatan Penutup
D a l a m p e r k e m b a n g a n h u k u m hak asasi manusia internasionai saat ini, argu- men tentang isu justiciabiitfy hak-hak eko- n o m i , s o s i a l , d a n b u d a y a semakin me- n g u a t . H a k - h a k e k o n o m i , s o s i a l , d a n budaya tidak lagi dapat dikatakan sebagai
"hak kelas dua," namun adalah hak-hak yang dapat diajukan ke muka lembaga p e r a d i l a n dan korban pelanggarannya dapat memperoleh kompensasi hukum.
D a l a m r a n a h h u k u m domestik, hal ini d a p a t d i l a k u k a n d e n g a n i m p l e m e n t a s i prinsip-prinsip universalitas hak-hak itu ke d a l a m s i s t e m h u k u m domestik. Dalam ranah hukum internasional, ada harapan b e s a r k e t i k a d u n i a s e c a r a serius men- diskusikan upaya untuk mengadakan se- buah prosedur keluhan yang diharapkan dapat menjadi sebuah protokol tambahan p a d a Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Perkem- bangan ini menunjukkan komunitas inter- nasionalsedang menuju ke arah persama- an persepsi tentang prinsip keutuhan dan
43 Lihat Sioron Pers LBH Jakorta tentang Permohonan Hok U1i MaterilUU No. 73 tohun 2003. 18 Juni 2003.
6 2
saling ketergantungan hak-hak asasi rna- n u s i a (t h e p r i n c i p l e o t ' i n t e r - r e l a t e d and interdependable of human rights), sesuai dengan Resolusi Majelis Umum PBB No.
3 2 t a n g g a l 1 6 D e s e m b e r 1 9 7 7 .
Penegakan jusf iciobility hak mogok juga menjadi bagian dari harapan tersebut di atas. Secara teoritis, seperti telah diurai- kan di atas. jusf iciability hak mogok tidak diragukan lagi. Ia adalah sebuah kenisca- yaan yang dengan erat bertautan dengan j u s t i c i a b i l i t y dari hak-hak fundamental buruh dan serikat buruh lainnya, hak-hak sipil maupun hak-hak ekonomi dan sosial.
Namun fakta aplikasinya di lapangan tidak pernah selugas teori di atas kertas.
Dalam konteks Indonesia, seperti banyak terjadi di banyak negara lainnya, 'sema- ngat' globalisasi ekonomi menjadi hambat- a n t e r b e s a r d a l a r n p e n e g a k a n h a k - h a k a s a s i b u r u h d a n s e r i k a t b u r u h . N e g a r a melulu diperhadapkan pada dilema dua konsep yang saling bertentangan; men- dahulukan perlindungan hak-hak funda- mental buruh atau mendahulukan'pertum- buhan ekonomi.' Situasi ini memang sama sekali tidak mudah dan tentu saja mem- butuhkan konsep visi misi yang konkrit disertai political rui// yang kuat dari pengu- asa tentang peran negara dalam penghor- matan, penegakan, dan perlindungan hak a s a s i m a n u s i a . P e r l u a d a u s a h a t e r u s menerus untuk menjaga ini. Hanya saja, pertanyaannya, apakah Indonesia mampu melawan arus globalisasi ekonomi ketika utang luar negeribegitu mencekik. Sejauh ini, jawaban yang diberikan oleh perkem- bangan perubahan kebilakan perburuhan nasional nampaknya tidak cukup memberi- kan harapan; hukum perburuhan memilih untuk melemahkan proteksi kepentingan hak-hak buruh demi menghamba pada kepentingan globalisasi ekonomi.Q
JURNAL HAM . Vol. 1 No. 1 Oktober 2003