MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK
TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN
FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK
DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan oleh :
Ichsan Ambarul Munir
0713010251/FE/EA
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP
HARGA SAHAM PERUSAHAAN
FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK
DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Akuntansi
Diajukan Oleh :
Ichsan Ambarul Munir
0713010251/FE/EA
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SKRIPSI
Model Rasio Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham Perusahaan Food and Beverage yang Go Public di Bursa Efek Indonesia
Yang Diajukan Ichsan Ambarul Munir
0713010251/FE/EA
Disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
RINA MUSTIKA, SE, MM Tanggal : ……….……
Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karuniaNya yang tak terhingga sehingga saya berkesempatan menimba ilmu hingga jenjang Perguruan Tinggi. Berkat rahmatNya pula memungkinkan saya untuk menyelesaikan skripsi dengan judul “Model Rasio Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham Perusahaan
Food and Beverage yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”
Sebagaimana diketahui bahwa penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE). Walaupun dalam penulisan skripsi ini penulis telah mencurahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tetapi penulis yakin tanpa adanya saran dan bantuan maupun dorongan dari beberapa pihak maka skripsi ini tidak akan mungkin dapat tersusun sebagaimana mestinya.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1. Kedua orang tua yang telah memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan bantuannya secara moril maupun materiil yang telah diberikan selama ini sehingga mampu menghantarkan penulis menyelesaikan studinya
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak. Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya. 4. Bapak. Drs. Ec. R .A Suwaidi, MSi selaku Wakil Dekan Fakultas Ekonomi
5. Ibu Dr. Sri Trisnaningsih, MSi selaku Ketua Progdi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
6. Ibu Rina Mustika SE, MM selaku Dosen Pembimbing yang dengan kesabaran dan kerelaan telah membimbing dan memberi petunjuk yang sangat berguna sehingga terselesaikannya skripsi ini.
7. Para Dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjadi mahasiswa di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam penulisan skripsi ini, oleh karenanya penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran bagi perbaikan di masa mendatang. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca.
Surabaya, Juli 2011
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……… i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ……….. vii
DAFTAR GAMBAR ………. viii
DAFTAR LAMPIRAN ………. ix
ABSTRAK ……….. x
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Lata r Belakang ... 1
1.2. Peru musan Masalah……….... 9
1.3. Tuju an Penelitian ..………..………..………... 9
1.4. Man faat Penelitian ………. 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasi l Penelitian Terdahulu ……… 12
2.2. Lan dasan Teori ………..………..….. 14
2.2.1. Pasa r Modal……….……….……….. 14
2.2.1.1. Pen gertian Pasar Modal……….. 14
2.2.1.3. Mek anisme Pasar Modal………. 16
2.2.1.4. Pela
ku Pasar Modal………. 17
2.2.2. Saha
m……….. 21
2.2.2.1. Pen
gertian Saham……… 21
2.2.2.2. Jeni
s-jenis Saham………. 21
2.2.2.3. Kele
bihan dan Kelemahan Saham……… 23
2.2.3. Har
ga Saham……… 25
2.2.3.1. Pen
gertian Harga Saham……….. 25
2.2.3.2. Jeni
s-jenis Harga Saham……….. 26
2.2.3.3. Fact
or yang Mempengaruhi Harga Saham…… 27
2.2.4. Lap
oran Keuangan………. 28
2.2.4.1. Pen
gertian Laporan Keuangan………... 28
2.2.4.2. Tuju
an Laporan Keuangan……… 29
2.2.4.3. Jeni
s-jenis Laporan Keuangan……… 30
2.2.5. Rasi
2.2.5.1. Pen gertian Rasio Keuangan………. 31
2.2.5.2. Jeni
s-jenis Rasio Keuangan……… 32
2.2.6. Retu
rn On Assets (ROA)……… 33
2.2.6.1. Pen
gertian Return On Assets……….. 33
2.2.6.2. Pen
garuh ROA Terhadap Harga Saham……. 34
2.2.7. Debt
To Equity Ratio (DER)……….. 35
2.2.7.1. Pen
gertian Debt To Equity Ratio……… 35
2.2.7.2. Pen
garuh Debt To Equity Ratio Terhadap
harga saham……… 36
2.2.8. Risi
ko Sistematik……… 36
2.2.9. Beta
Sebagai Rasio Pengukur Saham………. 38
2.3. Kera
ngka Pikir……… 39
2.4. Hip
otesis………. 40
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Defi
nisi Operasional Dan Pengukuran Variabel………. 41
3.2. Tek
3.2.1. Pop
ulasi……… 44
3.2.2. Sam pel………. 45
3.3. Tek nik Pengumpulan Data……….. 47
3.3.1. Jeni s Data……… 47
3.3.2. Sum ber Data……… 47
3.3.3. Pen gumpulan Data……….. 48
3.4. Tek nik Analisis dan Uji Hipotesis……….. 48
3.4.1. Uji Normalitas………. 48
3.4.2. Uji Asumsi Klasik……… 49
3.4.3. Tek nik Analisis………. 52
3.4.4. Uji Hipotesis……… 53
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian………... 55
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian …...…………...…….. 66
4.3. Uji Kualitas Data ….……….………... 74
4.3.1 Uji Normalitas ……….……….. 74
4.4. Uji Asumsi Klasik ……….………. 81
4.4.1. Uji Multikolinearitas.……….……….….. 81
4.4.3. Uji Autokorelasi ………... 83
4.5. Analisis dan Pengujian Hipotesis ……… 84
4.5.1 Persamaan Regresi ….……… 84
4.5.2 Koefisien Determinasi (R Square) ……… 86
4.5.3 Hasil Pengujian Hipotesis ……….……… 86
4.5.3.1. Uji Kecocokan Model ..………...……….….. 86
4.5.3.2. Uji Parsial …...……….…...……….…... 87
4.6. Pembahasan Hasil Penelitian …………...……….. 89
4.7. Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu ...………. 93
4.8. Implikasi ...94
4.9. Keterbatasan Penelitian ………...……… 95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ……….…….……….…….. 98
5.2. Saran ……….…….………. 99
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel : 4.2.1. Deskripsi Variabel Return On Assetspada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ..…. 67
4.2.2. Deskripsi Variabel Debt Equity Ratio (DER) pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ..…. 69
4.2.3. Deskripsi Variabel Risiko Sistematikpada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ... 71
4.3.1. Hasil Uji Normalitas (1) ………..………...……. 74
4.3.2. Hasil Uji Outlier …...………..………. 75
4.3.3. Hasil Uji Normalitas (2) ………..……….... 80
4.4.1. Hasil Uji Multikolinearitas ………. 81
4.4.2. Hasil Uji Heteroskedastisitas….………. 82
4.4.3. Hasil Uji Autokorelasi ……….. 83
4.5.1. Koefisien Regresi ……… 84
4.5.2. Koefisien Determinasi ………. 85
4.5.3.1. Uji Kecocokan Model (Uji F) ………..….…… 87
4.5.3.2. Hasil Uji Parsial (Uji t) ………. 88
4.7. Perbedaan hasil penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu ………..… 89
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Return On Assets (X1)
Lampiran 2. Debt to Equity Ratio (X2)
Lampiran 3. Risiko Sistematik (X3)
Lampiran 4. Harga Saham (Y)
Lampiran 5. Uji Normalitas dan Uji Outlier Lampiran 6. Uji Asumsi Klasik
Lampiran 7. Persamaan Regresi dan Koefisien Regresi Lampiran 8. Uji Hipotesis
Lampiran 10. Tabel Entry Data
MODEL FUNDDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG GO
PUBLIK DI BERSA EFEK INDONESIA
Oleh:
Ichsan Ambarul Munir
Abstrak
Pasar modal menjadi alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan yang berasal dari investasi para investor. Sebelum berinvestasi, investor terlebih dahulu mengukur kinerja perusahaan berdasarkan tingkat harga saham. Fluktuasi harga saham dapat dikatakan sebagai cermin kinerja perusahaan dimana kekuatan pasar ditunjukkan dengan terjadinya transaksi perdagangan saham di pasar modal. Tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal sebagai faktor
fundamental yang berasal dari dalam perushaan dan faktor eksternal seperti faktor lingkungan, sosial, politik dan ekonomi. Faktor fundammental menggambarkan resiko dan return yang akan diterima oleh investor atas investasinya.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 14 perusahaan food and beverage yang go public di PT. Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006 sampai 2009. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif, sedangkan dilihat cara memperolehnya, data yang digunakan merupakan data sekunder yaitu data keuangan perusahaan yang berupa laporan keuangan mulai periode 2006 hingga 2009. Variabel yang dipakai dalam penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu Return On Assets (X1),
Debt to Equity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3), serta variabel terikat yaitu
Harga Saham (Y). Untuk teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan dalam pengujian hipotesis digunakan teknik analisis regresi linier berganda.
Kesimpulan dari hasil uji F menunjukkan bahwa secara simultan Return On Assets (X1), Debt toEquity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3) berpengaruh
signifikan terhadap Harga Saham (Y). Hasil uji t menunjukkan bahwa secara parsial
Return On Assets (X1) berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan Debt
to Equity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap
Harga Saham.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di negara-negara yang menganut sistem ekonomi pasar, pasar modal merupakan sumber dan alternatif pendanaan bagi perusahaan selain bank. Keunggulan pasar modal dari pada bank adalah perusahaan tidak perlu menyediakan anggunan seperti yang disyaratkan oleh bank, melainkan perusahaan harus menunjukkan prospek yang baik maka surat berharga perusahaan akan laku terjual di pasar modal. Ada beberapa instrumen pasar modal yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk mengumpulkan dana dari penerbitan surat-surat berharganya. Instrumen pasar modal yang umum adalah saham. Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaaan atau pemilikan individu maupun institusi yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yan berbentuk perseroan terbatas (Sunariyah, 2004: 127).
sebagainya, dan asset finansial atau keuangan yang merupakan dokumen-dokumen seperti saham dan obligasi.
Salah satu tujuan invetasi adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang. Seseorang akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang (Tandelilin, 2010: 8).
Keputusan investasi pada dasarnya menyangkut masalah pengelolaan dana pada suatu periode waktu tertentu, dimana para investor berharap akan memperoleh pendapatan atau keuntungan dari dana yang diinvestasikannya pada periode waktu tertentu. Dalam melakukan investasi para investor mengharapkan hasil maksimal dengan risiko tertentu atau hasil tertentu dengan risiko minimal pada investasi yang telah dilakukannya. Keuntungan investasi sangat bergantung banyak hal, tapi yang paling utama adalah kemampuan investor atau penanam modal dalam membaca keadaan pasar yang tidak menentu.
Pada dasarnya ada dua macam risiko, yaitu risiko tidak sistematik adalah risiko yang bisa dihilangkan dengan membentuk portofolio, dan risiko sistematik adalah bagian dari risiko sekuritas yang tidak bisa dihilangkan walaupun dengan membentuk portofolio/didiversifikasi. Risiko sistematik ini dimiliki/melekat pada semua perusahaan yang disebabkan oleh faktor makro ekonomi seperti inflasi. Risiko tidak sistematik tidak relevan dalam perhitungan risiko suatu saham karena dapat dihilangkan dengan menambah jumlah kepemilikan saham dari beberapa perusahaan.
Jika harga saham meningkat maka keuntungan yang didapat pemodal akan meningkat. Kenaikan harga saham merupakan daya tarik tersendiri bagi perusahaan untuk menerbitkan saham baru. Bila seorang penanam modal memutuskan untuk melakukan investasi di pasar modal (dengan membeli sekuritas yang diperdagangkan dibursa), maka ia harus percaya bahwa informasi yang diterima investor adalah informasi yang benar, dan tidak ada pihak manapun yang melakukan manipulasi informasi terhadap informasi dalam perdagangan tersebut.
saham-saham yang mereka miliki. Dengan memanfaatkan laporan keuangan perusahaan investor diharapkan dapat menganalisis kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan, karena itu investor harus selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat mempengaruhi perubahan harga saham di pasar modal yang dapat mengurangi keuntungan investor.
Informasi yang biasa digunakan oleh para investor dikelompokkan dalam dua hal yaitu informasi fundamental dan informasi yang bersifat teknikal. Informasi fundamental adalah informasi yang berhubungan dengan kondisi perusahaan yang umumnya ditunjukkan dalam laporan keuangan yang merupakan salah satu ukuran kinerja perusahaan dan risiko sistematik yang dapat mempengaruhi perusahaan tersebut. Informasi fundamental sering digunakan untuk memprediksi harga saham.
Harga saham merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan pengelolaan perusahaan, dimana kekuatan pasar di bursa saham ditunjukkan dengan adanya transaksi jual beli saham perusahaan tersebut di pasar modal. Terjadi syarat transaksi tersebut didasarkan pada pengamatan para investor terhadap prestasi perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Pemegang saham yang tidak puas terhadap kinerja manajemen dapat menjual saham yang dimiliki dan menginvestasikan uangnya ke perusahaan lain. Jika hal ini dilakukan akan menurunkan harga pasar saham suatu perusahaan. Dalam Zacky 2008, Weston & Copeland mengatakan bahwa nilai saham merupakan indeks yang baik untuk mengukur tingkat efektifitas prestasi perusahaan. Jadi pemegang saham yang tidak puas terhadap prestasi manajemen suatu perusahaan maka pemegang saham akan menarik sahamnya dari perusahaan tersebut. Jika hal ini dilakukan oleh para pemegang saham, maka ini merupakan kekuatan pasar yang akan menurunkan harga saham perusahaan.
Dengan mengetahui faktor-faktor fundamental yang dapat mempengaruhi harga saham suatu perusahaan, analisis fundamental juga sering disebut dengan analisis perusahaan karena menggunakan data laporan keuangan perusahaan dalam menghitung nilai intrinsik saham. Salah satu teknik dalam analisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan dengan menggunakan rasio keuangan dan resiko sistematik. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return On Asset yang mencerminkan kinerja manajemen dalam menghasilkan laba bersama dengan aset yang ada,
Debt Equity Ratio untuk mengetahui proporsi hutang terhadap modal
bisa dihilangkan walaupun dengan membentuk portofolio/didiversifikasi (Zaky 2008).
Salah satu jenis perusahaan yang menerbitkan sahamnya di bursa efek adalah perusahaan manufaktur khususnya perusahaan makanan dan minuman atau lebih dikenal dengan istilah food and baverage. Kita semua mengetahui bahwa pertumbuhan jumlah penduduk semakin bertambah seiring waktu. Tentunya kebutuhan manusia akan makanan dan minuman pun semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan makanan dan minuman akan diikuti pula oleh meningkatnya permintaan masyarakat akan produk makanan dan minuman. Sehingga kecenderungan perusahaan
Tabel 1.1.
Data Perkembangan Harga Saham Perusahaan Food and Baverage
Periode 2006-2009
2006 2007 2008 2009
1 PT. Akasha Wira International Tbk 1,289.17 858.33 552.08 555.83 2 PT. Aqua Golden M issisipp i Tbk 88,833.33 125,166.67 124,875.00 195,241.67 3 PT. Cahay a Kalbar Tbk 513.33 632.50 1,051.67 1,143.33 4 PT. Davomas Abadi Tbk 418.33 388.75 183.83 68.00 5 PT. Delta Djakarta Tbk 30,175.00 22,241.67 19,416.67 40,216.67 6 PT. Fast Food Indonesia Tbk 1,435.83 2,187.50 2,800.00 3,404.17 7 PT. Indofood Sukses M akmur Tbk 1,094.17 1,937.92 2,085.42 2,104.17 8 PT. M ayora Indah Tbk 1,082.50 1,665.83 1,333.33 2,199.17 9 PT. M ulti Bintang Indonesia Tbk 51,716.67 53,141.67 57,991.67 108,004.17 10 PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk 87.50 83.00 77.42 101.67 11 PT. Sekar Laut Tbk 360.00 150.33 91.25 98.33 12 PT. Siantar Top Tbk 149.17 362.50 265.42 194.58 13 PT. Sierad Produce Tbk 41.25 69.17 51.08 51.00 14 PT. Sinar M as Agro Resources Tbk 2,949.17 4,241.67 5,667.08 2,921.25 15 PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 190.83 344.75 546.67 397.50 16 PT. Tunas Baru Lamp ung Tbk 203.75 502.08 458.75 292.92 17 PT. Ultra Jay a M ilk Tbk 318.75 535.00 641.25 645.00 No. Nama Perusahaan Harga Rata-rata Saham
s umber: www.idx.co.id
Berdasarkan tabel.1 di atas dapat dilihat bahwa harga saham selama periode 2006 hingga 2009 mengalami perubahan yang berfluktuasi. Fluktuasi harga saham di bursa efek tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Nirawati (2003), tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
bersama-sama akan membentuk kekuatan pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan mengalami berbagai kemungkinan yaitu kenaikan atau penurunan harga. Menurut Asbi Rachman (2008), tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam perusahaan meliputi kualitas dan reputasi manajemen, struktur hutang,tingkat laba yang dihasilkan perusahaan dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi diluar perusahaan seperti perkembangan sektor industri, pengaruh kebijakan moneter dan fiskal dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama akan membentuk kekuatan pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan mengalami berbagai kemungkinan yaitu kenaikan atau penurunan harga.
Menurut Usman (1990: 166), faktor-faktor tersebut yang secara garis besar digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu faktor fundamental, faktor teknis dan faktor lingkungan, sosial, politik dan ekonomi.
Dari ketiga faktor itu, faktor fundamental yang termasuk faktor internal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap harga saham. Karena faktor fundamental menggambarkan keadaan suatu perusahaan dan faktor-lain lain yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan (Usman, 1990: 166). Sehingga perlu dilakukan analisis fundamental.
terdapat faktor lain yang bersifat psikologis berpengaruh terhadap kekuatan pasar. Akan tetapi, faktor yang bersifat fundamental ini akan menjadi pedoman utama bagi pasar untuk menentukan harga saham perusahaan.
Atas dasar hal tersebut di atas maka timbul minat penulis untuk mengadakan penelitian di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) berkaitan faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham perusahaan Food and
Baverage dengan judul “ Model Fundamental dan Resiko Sistematik
Terhadap Harga Saham Perusahaan Food and Baverage yang Go Public
di Bursa Efek Indonesia”. 1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah apakah Retuen on
Asset (ROA), Debt to Equity Ratio (DER), risiko sistematik berpengaruh
terhadap harga saham pada perusahaan Food and Baverage yang Go Public di BEI?
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
a. Bagi Investor
Sebagai pedoman bagi para investor khususnya dan masyarakat umumnya alam memberikan informasi yang lebih lengkap, dan jelas mengenai pengaruh faktor fundamental dan risiko sistematik terhadap harga saham harga saham perusahaan Food and Baverage di BEI, sehingga dapat menambah informasi dan referensi tentang pasar modal guna mempermudah mengambil keputusan untuk investasi.
b. Bagi Peneliti
Dengan mengadakan penelitian secara langsung serta dihadapkan pada kenyataan yang ada, maka didapatkan pengetahuan mengenai pemecahan masalah yang sesungguhnya. Selain itu untuk menambah waawasan dan pandangan peneliti tentang faktor fundamental dan risiko sistematikdalammempelajari pergerakan harga saham perusahaan Food and Baverage di BEI serta variabel-variabel yang mempengaruhinya.
c. Bagi Perusahaan (Emiten)
pembuatan kebijakan yang tepat agar dapat melakukan penjualan sahamnya.
d. Bagi Universitas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sangat penting untuk
diungkapkan karena dapat dipakai sebagai sumber informasi dan bahan acuan
yang sangat berguna bagi penulis.
Almas Hijriah pada tahun 2007, telah melakukan penelitian tentang
Analisis Faktor Fundamental Keuangan dan Risiko Sistematik Terhadap Harga
Saham dengan sampel perusahaan Properti Yang Terdaftar di Bursa Efak
Jakarta. Dan menyimpulkan bahwa secara serempak faktor fundamental
keuangan seperti return on assets (ROA), return on equity (ROE), debt to
equity ratio (DER), price earning ratio (PER), earning per share (EPS), book
value (BV) dan beta saham sebagai risiko sistematik berpengaruh signifikan
terhadap harga saham perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
Sedangkan secara parsial, variable return on equity (ROE), price earning ratio
(PER), book value (BV) sebagai factor fundamental yang memiliki pengaruh
signifikan terhadap harga saham property di Bursa Efek Jakarta. Hal ini
menunjukkan bahwa faktor fundamental ROE, PER, BV berpengaruh secara
dominan terhadap harga saham.
Penelitian lain pernah dilakukan oleh Asbi Rachman Faried 2008.
Dengan judul “Analisis Pengaruh Faktor Fundamental dan Nilai Kapitalisasi
2006”. Dan menyimpulkan bahwa variable ROA, NPM, DER, PBV, dan
variable kapitalisasi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham
perusahaan di Bursa Efek Indonesia.
Yoko Tristiarto pada tahun 2006 melakukan penelitian tentang
“Pengaruh Faktor Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham di Bursa
Efek Jakarta”. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah
emiten yang akan meningkatkan harga sahamnya, dapat menempuh langkah
memperbaiki kinerja keuangan perusahaan salah satunya dengan meningkatkan
Earning Per Share (EPS). Selain itu, emiten harus menyampaikan keadaan
keuangannya secara periodic, transparan, dan bukan merupakan hasil
manipulasi kepada masyarakat agar harga saham dapat cepat bereaksi terhadap
informasi yang dipublikasikan tersebut dan tercapai perdagangan efek yang
likuid, efisien, fair, dan transparan. Investor yang akan melakukan investasi
atau memprediksi harga saham,perlu menjadikan EPS dan tingkat bunga
deposito sebagai acuan dalam pengambilan keputusan sebab variasi keputusan
harga saham ditentukan oleh perubahan kedua variabel tersebut. Disamping
itu, perlu juga memperhatikan faktor teknikal seperti harga saham masa lalu,
sebagai informasi tambahan dalam memprediksi harga saham agar validitas
prediksi lebih akurat.
Sedangkan Njo Anastasia (Universitas Kristen Petra, 2003) melakukan
penalitian tentang “Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik
Terhadap Harga Saham Properti di BEJ”. Dan menyimpulkan bahwa secara
empiris terbukti bahwa faktor fundamental (ROA, ROE, BV,DER, r) dan
saham perusahaan properti secara bersama-sama. Secara empiris terbukti
bahwa hanya variabel Book Value yang mempunyai pengaruh yng signifikan
terhadap harga saham perusahaan properti secara parsial.
Adapun persamaan penelitian sekarang dengan penelitian sebelumnya
adalah sama-sama menggunakan factor-faktor yang berpengaruh terhadap
harga saham.
Perbedaannya terletak pada periode penelitian antara tahun 2006 sampai
2009 dan objek penelitian yaitu perusahaan food and beverage yang terdaftar
dan go publik di Bursa Efek Indonesia. Maka penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya diatas digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan yang
mendukung dalam penelitian ini.
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Pasar Modal
2.2.1.1. Pengertian Pasar Modal
Pasar modal bisa didefinisikan sebagai suatu sistem keuangan yang
terorganisasi, termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan semua
lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga
yang beredar (Sunariyah, 2004: 4).
Menurut Tandelilin (2010: 26) pasar modal adalah pertemuan antara
pihak yang memiliki dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan
cara memperjualbelikan sekuritas, seperti saham dan obligasi. Sedangkan
tempat di mana terjadinya jual-beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh
Dari pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pasar modal
adalah lembaga yang bergerak di sektor keuangan yang melengkapi dua
lembaga keuangan lainnya yaitu bank dan lembaga pembiayaan. Lembaga
pasar modal ini menjembatani antara pemilik dana sebagai investor dengan
pihak yang meminjam dana yang disebut dengan emiten, yaitu berupa
perusahaan yang go public akan menawarkan surat berharganya dipasar
modal dalam usaha memenuhi kebutuhan dananya untuk diinvestasikan pada
barang modal yang bersifat jangka panjang. Bagi perusahaan yang go public,
penambahan ini digunakan untuk menambah kemampuannya meningkatkan
keuntungan. Di pihak lain, investor mengharapkan hasil yang memadai
secara berkesinambungan dan harga pasar surat berharga yang diharapkan
selalu meningkat untuk memperoleh capital gain.
2.2.1.2. Manfaat Pasar Modal
Menurut Sutrisno dalam M Zainul Luthfi (2010), pasar modal
mempunyai beberapa fungsi atau manfaat, antara lain:
1. Sebagai sumber penghimpun dana
Salah satu sumber dana yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan
adalah pasar modal dimana perusahaan bisa menggalang dana yang
besarnya sesuai dengan yang diharapkan tanpa ada batasan besarnya
dana.
2. Sebagai sarana investasi
Dengan adanya surat berharga yang mudah diperjualbelikan, maka
modal lebih fleksibel, sebab setiap investor bisa dengan mudah
memindahkan dananya dari satu perusahaan satu ke perusahaan lainnya.
3. Pemerataan pendapatan
Dengan go public-nya perusahaan memberikan kesempatan kepada
masyarakat luas untuk memiliki perusahaan tersebut. Dengan demikian
akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati
keuntungan dari perusahaan, sehingga semula hanya dinikmati oleh
beberapa pemilik, akhirnya bisa dirasakan oleh masyarakat luar artinya
terjadi pemerataan pendapatan kepada masyarakat.
4. Sebagai pendorong investasi
Untuk mendorong agar pihak swasta dan asing mau melakukan
investasi baik secara langsung maupun tidak langsung, pemerintah harus
menciptakan iklim investasi yang kondusif adalah likuidnya pasar modal.
Semakin baik pasar modal maka semakin banyak perusahaan yang masuk
ke pasar modal dan semakin banyak investor baik nasional maupun asing
yang bersedia menginvestasikan dananya melalui pembelian surat
berharga di pasar modal.
2.2.1.3. Mekanisme Pasar Modal
Penujalan sekuritas umumnya dilakukan sesuai dengan jenis atau
bentuk mekanisme pasar modal dimana sekuritas tersebut diperjualbelikan.
Menurut Tandelilin (2010: 28), mekanisme pasar modal dibagi menjadi dua,
1. Pasar Perdana
Pasar perdana yaitu pasar yang terjadi pada saat perusahaan
emiten menjual sekuritasnya kepada investor umum untuk pertama
kalinya.
2. Pasar Sekunder
Pasar sekunder yaitu tempat perdagangan atau jual-beli sekuritas
oleh dan antar investor setelah sekuritas emiten dijual di pasar perdana.
2.2.1.4. Pelaku Pasar Modal
Menurut Tandelilin (2010: 62-72), kegiatan pasar modal dilakukan
oleh beberapa pihak atau pelaku. Beberapa pelaku atau pihak yang terkait
tersebut antara lain:
1. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Kekuangan
(Bapepam-LK)
Bapepam-LK adalah lembaga yang bertugas membina,
mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar modal serta
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang keuangan, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
menteri keuangan, dan berdasarkan peraturan perunsang-undangan
yang berlaku.
2. Emiten
Emiten merupakan sebutan bagi perusahaan yang menerbitkan
3. Bursa Efek
Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan
menyediakan sistem dan sarana untuk mempertemukan penawaran
jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan
efek antara mereka.
4. Self Regulatory Organizations (SRO)
Self Regulatory Organizations (SRO) adalah organisasi yang
mempunyai kewenangan untuk membuat peraturan yang berkaitan
dengan kegiatan usahanya. SRO terdiri dari tiga pihak, salah satunya
adalah bursa efek. Dua SRO lainnya adalah sebagai berikut:
a. Lembaga Kliring dan Penjamin (LKPI)
Lembaga Kliring dan Penjamin (LKPI) adalah pihak yang
menjalankan jasa kliring dan penjamin transaksi bursa agar
terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien.
b. Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian (LPP)
Lembaga Penyimpana dan Penyelesaian (LPP) adalah pihak
yang menyelenggarakan kustodian sentral bagi bank
kustodian, perusahaan efek, dan pihak lain
5. Perusaahan Efek
Perusahaaan efek atau disebut perusahaan sekuritas adalah
perusahaan yang memiliki satu atau gabungan tiga kegiatan berikut
a. Penjamin emisi efek
Penjamin emisi efek (underwriter) adalah salah satu aktivitas
pada perusahaan efek yang melakukan kontrak dengan emiten
untuk melaksanakn penawaran umum dengan atau tanpa
kewajiban untuk membeli sisa efek yang terjual.
b. Perantara pedagang efek
Perantara pedagang efek (broker dealer) atau perusahaa
pialang adalah salah satu aktivitas pada perusahaan efek yang
melakukan usah jual-beli efek untuk kepentingan sendiri atau
pihak lain.
c. Manajer investasi
Manajer investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya
melakukan kegiatan portofolio efek untuk para nasabah atau
mengelola Portofolio Investasi Kolektif untuk sekelompok
nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank
yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan
peundang-undangan yang berlaku.
6. Lembaga Penunjang Pasar Modal
Lima lembaga penunjang pasar modal berikut ini merupakan
lembaga yang menyediakan kegiatan yang membantu
a. Biro Administrasi Efek
Biro administrasi Efek adalah pihak yang berdasarkan kontrak
dengan emiten melaksanakan pencatatan pemilihan efek dan
pembagian hak yang berkaitan dengan efek.
b. Kustodian
Kustodian adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek
serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak
lain, menyelesaikan transakasi efek, dan mewakili pemegang
rekening yang menjadi nasabahnya.
c. Wali Amanat
Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan
pemegang efek bersifat utang.
d. Penasihat Investasi
Penasihat investasi adalah pihak yang memberi nasihat kepada
pihak lain mengenai pembelian dan penjualan efek.
e. Pemeringkat Efek
Perusahaan pemeringkat efek adalah lembaga yang dapat
menjembatani kesenjangan informasi antara emiten dan
investor dengan menyediakan informasi standar atas tingkat
risiko kredit suatu perusahaan.
7. Profesi Penunjang Pasar modal
Profesi penunjang pasar modal yang mempunyai tanggung
jawab dalam membantu emiten dalam proses emisinya, diantaranya
a. Akuntan publik
b. Notaris
c. Konsultan hukum
d. Perusahaan penilai
8. Investor
Investor atau sering disebut pemodal adalah pihak yang
menginvestasikan dana pada sekuritas.
2.2.2. Saham
2.2.2.1.Pengertian Saham
Menurut Sunariyah (2004: 127), definisi saham adalah surat berharga
sebagai bukti penyertaaan atau pemilikan individu maupun institusi yang
dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yan berbentuk perseroan terbatas (PT).
Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa
pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas
tersebut (Sunariyah, 2004: 48).
2.2.2.2.Jenis-Jenis Saham
Menurut Riyanto dalam Zaky (2008), jenis-jenis saham dibedakan ke
dalam 3 bentuk sebagai berikut:
1. Saham Biasa (common stock)
Pemegang saham biasa akan mendapat dividen pada akhir tahun
pembukuan, hanya kalau perusahaan tersebut mendapatkan
keuntungan. Apabila perusahan tersebut tidak mendapatkan
tidak akan mendapat dividen, dan mengenai ini ada ketentuan
hukumnya, yaitu bahwa suatu perusahaan yang menderita
kerugian, selama kerugian ini belum dapat ditutup, maka selama
ini perusahaan tidak diperbolehkan membayar dividen.
2. Saham Preferen (preferred stock)
Pemegang saham jenis ini mempunyai beberapa “preferensi”
tertentu di atas pemegang saham biasa, yaitu terutama dalam hal:
a. Pembagian dividen
Dividen dari saham preferen diambilkan lebih dahulu,
kemudian sisanya barulah disediakan untuk saham biasa
(common stock). Dividen saham preferen dinyatakan dalam
persentase tertentu dari nilai nominalnya.
b. Pembagian kekayaan
Apabila kekayaan di likuidasi, maka dalam pembagian
kekayaan, saham preferen didahulukan daripada saham biasa.
Tetapi kelemahannya, pemegang saham jenis ini tidak
mempunyai hak suara dalam rapat umum pemegang saham.
Kesamaannya adalah berhak menerima dividen apabila
perusahaan mendapatkan keuntungan.
3. Saham kumulatif preferen (cummulative preferred stock)
Saham jenis ini pada dasarnya adalah sama dengan saham
preferen. Perbedaannya hanya terletak pada adanya hak kumulatif
pada saham preferen kumulatif. Apabila tidak menerima dividen
atau karena adanya kerugian, pemegang jenis saham ini
dikemudian hari apabila perusahaan mendapatkan keuntungan
berhak menuntut dividen-dividen yang tidak dibayarkan di
waktu-waktu lampau.
Sedangkan menurut Sunariyah (2004: 47), secara garis besar saham
dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Saham biasa (Common Stock)
Saham biasa didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau
pemilikan seseorang atau badan dalam suatu paerusahaan. Setiap
pemilik memperoleh sertifikat sebagai tanda kepemilikan perusahaan.
b. Saham Preferen (Preferred Stock)
Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik
gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan
penghasilan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak
mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen
sama seperti saham biasa yaitu mempunyai hak-hak tertentu tersebut,
bagi saham preferen mempunyai hak istimewa dibandingkan dengan
pemegang saham biasa. Hak-hak istimewa tersebut tergantung pada
perjanjian kontrak dengan manajemen.
2.2.2.3.Kelebihan dan Kelemahan Saham
Kelemahan yang paling besar dari saham biasa adalah tidak stabilnya
pendapatan dan harga, serta bervariasinya laba. Kelemahan lain adalah
sulitnya memperkirakan pendapatan dan harga di masa yang akan datang.
biasa tidak disukai oleh para investor yang menginginkan kepastian atau
pendapatan yang stabil.
Keuntungan yang terdapat dalam saham biasa menjadikan
pertimbangan bagi investor dalam melakukan investasi di pasar modal karena
adanya potensi untuk menghasilkan laba lebih besar daripada
mengivestasikan dalam surat berharga lainnya. Karena dividend yang
diterima dalam satu periode mungkin rendah, tetapi potensi menghasilkan
capital gain tinggi. Saham biasa juga menawarkan keuntungan pajak, yaitu
pajak yang dikenakan terhadap capital gain tidak dibayarkan sampai
keuntungan diperoleh.
Menurut Fakhruddin dalam Zaky (2008), keuntungan bagi pemilik
saham meliputi:
1.Dividend yaitu bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada
pemilik saham
2.Capital Gain: selisih dari harga jual diatas harga beli atau selisih
kenaikan kurs yang lebih tinggi dibandingkan dengan kurs pada
waktu membelinya.
3.Hak suara: pemilik saham memiliki hak suara yang dapat
dipergunakan dalam rapat umum pemegang saham untuk turut
menentukan jalannya perusahaan.
Jika perusahaan dilikuidasi dan semua kewajiban perusahaan telah
terbayar masih terdapat saldo, maka jumlah tersebut akan dibagikan kepada
2.2.3. Harga Saham
2.2.3.1.Pengertian Harga Saham
Pasar modal atau bursa efek merupakan suatu tempat dimana terjadi
tawar menawar atas harga suatu efek atau saham suatu perusahaan, maka
harga yang terjadi di pasar modal tersebutlah yang disebut harga pasar saham
atau kurs saham. Menurut Halim (2003: 16), harga pasar saham adalah harga
yang terbentuk di pasar jual beli saham.
Menurut Sartono dalam Wengku Ragil Pambudi 2010, harga saham
yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku
pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang
bersangkutan di pasar modal. harga saham terbentuk di pasar modal dan di
tentukan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham atau earning per
share, rasio laba terhadap harga per lembar saham atau price earning ratio,
tingkat bunga bebas risiko yang diukur dari tingkat bunga deposito
pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa harga saham akan
terbentuk dari adanya transaksi yang terjadi di pasar modal yang ditentukan
oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dengan
dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Harga saham dapat dilihat dari nilai sertifikatnya. Dalam M Zainul
Luthfi (2010), Sunariayah menyatakan bahwa nilai sertifikat dibedakan
1. Nilai Nominal
Nilai nominal merupakan harga saham pertama yang tercantum pada
sertifikat badan usaha dan merupakan harga yang sudah disetujui oleh
RUPS.
2. Nilai Perdana
Nilai perdana merupakan harga saham ketika saham tersebut dijual
saat pertama kali di pasar modal yang harganya dijamin oleh
penjamin emisi dan emiten.
3. Nilai Pasar
Nilai pasar merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang
berlangsung di Bursa Efek.
2.2.3.2.Jenis-Jenis Harga Saham
Menurut Widiatmodjo, (2005: 46-47) menyatakan ada beberapa
definisi tentang harga yang berkaitan dengan saham, antara lain:
1. Harga Nominal
Yaitu nilai yang ditetapkan oleh perusahaan penerbit saham
(emiten) untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkannya,
besarnya harga nominal ini tergantung dari keinginan emiten.
2. Harga Perdana
Yaitu harga sebelum saham tersebut dicatat dibursa efek atau
harga yang ditetapkan pada saat penawaran umum. Besarnya
harga perdana ini tergantung dari persetujuan emiten dan jaminan
3. Harga Pasar
Yaitu nilai jual dari investor yang satu ke investor yang lain.
Harga ini terjadi setelah harga tersebut tercatat dibursa. Besarnya
harga ini tergantung penawaran dan permintaan antara penjual
dan pembeli.
4. Harga Pembukaan
Yaitu harga yang diminta antara penjual dan pembeli pada saat
jam bursa dibuka.
5. Harga Penutupan
Yaitu harga yang diminta antara penjual dan pembeli pada saat
jam akhir bursa.
6. Harga Tertinggi
Yaitu harga paling tinggi yang terjadi pada saat transaksi jual beli
saham pada hari bursa.
7. Harga terendah
Yaitu harga paling rendah pada saat transaksi.
2.2.3.3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Usman dalam Zaky (2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi
harga saham adalah :
1. Faktor Fundamental
Faktor fundamental adalah faktor yang menggambarkan
keadaan suatu perusahaan dan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi kondisi perusahaan tersebut, antara lain: kemampuan
perkembangan teknologi, kemampuan menghasilkan keuntungan,
manfaat terhadap perekonomian sosial, kebijakan pemerintah, hak
investor.
2. Faktor Teknis
Faktor teknis adalah faktor yang menggambarkan pasaran
suatu efek baik secara individu maupun kelompok, antara lain:
perkembangan kurs, keadaan pasar, volume dan frekuensi transaksi,
kekuatan pasar.
3. Faktor-faktor Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Politik
Faktor ini adalah faktor diluar fundamental dan teknis
diantaranya adalah tingkat inflasi, kebijakan moneter, musim, neraca
pembayaran dan APBN, kondisi ekonomi, serta keadaan politik.
2.2.4. Laporan Keuangan
2.2.4.1.Definisi Laporan Keuangan
Menurut SAK (2009: 1-2), laporan keuangan merupakan bagian dari
proses pelaporan keuangan. Laporan kuangan yang lengkap biasanya
meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi kekuangan (yang
bisa disajikan dengan berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas atau
laoran arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Sedangkan menurut Kasmir (2008: 7), laporan keuangan adalah
laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses
pencatatan, yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi
keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.
(http://dahlanforum.wordpress.com) catatan informasi keuangan suatu
perusahaan pada suatu periode akuntansi dapat digunakan untuk
menggambarkan kinerja perusahaan tersebut.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang meliputi neraca,
laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan
lain serta materi penjelasan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan
pada suatu periode tertentu.
2.2.4.2.Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008 : 10 – 11) secara umum laporan keuangan
bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik
pada saat tertentu maupun pada periode tertentu atau memberikan informasi
kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap
perusahaan. salah satunya untuk mengetahui berapa jumlah aktiva, pasiva,
serta modal perusahaan yang dimiliki perusahaan dan memberikan informasi
tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
Menurut SAK (2009: 3), tujuan laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
2.2.4.3.Jenis-Jenis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2008: 58), jenis-jenis laporan keuangan
dikelompokkan menjadi lima laporan, antara lain sebagai berikut:
1. Neraca
Neraca adalah laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta),
kewajiban (utang), dan modal (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah laporan yang menunjukkan kondisi usaha dalam
suatu periode tertentu yang tergambar dari jumlah pendapatan yang
diterima dan biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat diketahui
apakah perusahaan dalam keadaan laba atau rugi.
3. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menggambarkan jumlah
modal yang dimiliki perusahaan saat ini serta sebab-sebab berubahnya
modal.
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan arus kas masuk
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan laporan kekuangan adalah laporan yang dibuat berkaitan dengan
laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan informasi
tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laoran keuangan yang ada
sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya.
2.2.5. Rasio Keuangan
2.2.5.1.Pengertian Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan alat untuk digunakan untuk
mengukur kinerja keuangan perusahaan. Menurut Kasmir (2008: 104), rasio
keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam
laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.
Melalui analisis rasio ini bisa diperoleh informasi dan gambaran
perkembangan finansial perusahaan dengan mengadakan interpretasi dari
laporan keuangan, yaitu dengan menghubungkan pos-pos yang ada (Sutrisno,
2003: 243).
Menurut Thian Hin dalam Kussuwantoro (2010), analisis rasio adalah
salah satu alat untuk membantu kita dalam menganalisis laporan keuangan
perusahaan. Analisis rasio menyediakan indicator bagi, antara lain tingkat
profitabilitas, likuiditas, pendafatan, pemanfaatan asset, dan kewajiban suatu
perusahaan. Analisis rasio memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain :
1) Terdapat kemungkinan rasio diantara perusahaan yang sama bidang
usahanya tidak menunjukkan hasil yang dapat dibandingkan karena
2) Sulit atau hampir tidak mungkin untuk membandingkan rasio antara
perusahaan yang berbeda bidang usahanya.
3) Analisis rasio akan menghasilkan hasil yang keliru jika informasi di
laporan keuangan perusahaan lebih baik disbanding kondisi sebenarnya.
Rasio dalam analisis laporan keuangan adalah angka yang
menunjukkan hubungan antara suatu unsur – unsur dengan unsur lainnya
dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur – unsur laporan keuangan
tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana. Secara
individual rasio itu kecil artinya, kecuali jika dibandingkan dengan suatu
rasio standar yang dipakai sebagai dasar pembanding, dari penafsiran rasio –
rasio suatu perusahaan. (Jumingan, 2006: 118).
2.2.5.2.Jenis Rasio Keuangan
Menurut Sutrisno (2003: 246-256) Rasio keuangan diperoleh dengan
cara menghubungkan elemen – elemen laporan keuangan, jenis rasio
menurut tujuan penggunaan rasio yang bersangkutan rasio – rasio ini dapat
dikelompokkan menjadi :
1.Rasio Likuiditas
Kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban –
kewajibannya yang segera harus dipenuhi. Kewajiban yang harus
dipenuhi adalah hutang jangka pendek.
2.Rasio Leverage
Rasio – rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh
3.Rasio Aktivitas
Rasio ini mengukur seberapa besar evektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan sumber dananya. Rasio aktivitas dinyatakan sebagai
perbandingan penjualan dengan berbagai elemen aktiva. Rasio
aktivitas meliiputi perputaran persediaan, perputaran piutang,
perputaran aktiva, dan perputaran aktiva tetap.
4.Rasio Keuntungan
Keuntungan merupaka hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh
manajemen. Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar
tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan. Semakin
besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen
dalam mengelola perusahaan.
5.Rasio Penilaian
Rasio penilaian merupakan suatu rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (investor) atau
pada para pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi
sebagai besar masyarakat menghargai perusahaan, sehingga mereka
mau memberi saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi
dibanding dengan nilai buku saham.
2.2.6. Return On Assets (ROA)
2.2.6.1.Pengertian Return On Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk
(2004: 139), ROA yaitu rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah
aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi
manajemen. Rasio ini menujukkan produktivitas dari seluruh dana
perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Return On Assets
merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan
semua aktiva yang dimilki. “Return On Total Asset (ROA) biasa juga disebut
dengan Return On Investment, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba berdasarkan tingkat aset yang tertentu. Rasio ini
bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
% 100 Asset
Total
Pajak Setelah Laba
ROA
(Kasmir, 2005:206)
2.2.6.2.Pengaruh Return On Assets Terhadap Harga Saham
Return On Assets (ROA) menujukkan pengukuran efektivitas
kegiatan operasional manajemen dalam mendayagunakan seluruh aktiva
perusahaan untuk menghasilkan laba (Sartono, 2001: 123). Return On Assets
merupakan indikator keberhasilan manajemen menjalankan kegiatan
operasionalnya. Semakin besar nilai ROA, maka semakin baik keadaan suatu
perusahaan.
Rasio ini sering dipergunakan dalam mengukur efisiensi usaha suatu
perusahaan. ROA meupakan unsur penting yang dapat berpengaruh terhadap
harga saham karena ROA mewakili efektifitas “earning power” perusahan
yang mencerminkan kinerja manajemen dalam mengasilkan laba bersamaan
Pada tahun 2003 Anastasia melakukan penelitian tentang Analisis
Faktor Fundamental Keuangan dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham
Properti Yang Terdaftar di Bursa Efak Jakarta. Didalam penelitian tersebut
salah satu variabel yang dipakai untuk menguji pengaruhnya terhadap harga
saham adalah Return On Assets (ROA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh secara signifikan
terhadapharga saham perusahaan properti di Bursa Efek Jakarta.
Berdasarkan uraian teori dan hasil riset terdahulu maka muncul
pemikiran bahwa Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap harga
saham.
2.2.7. Debt To Equity Ratio (DER)
2.2.7.1.Pengertian Debt To Equity Ratio (DER)
Debt Eqity Ratio yaitu semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka panjang maka semakin besar risiko yang
dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keungtungan yang semakin
tinggi. Rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang
rendah untuk membiayai aktiva.
Dalam penelitian ini rumus yang dipergunakan adalah :
Debt to Equity Ratio = 100%
Sendiri Modal
Total
Hutang Total
x
2.2.7.2.Pengaruh Debt ti Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham
Debt ti Equity Ratio (DER) menggambarkan mengenai struktur modal
yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tak
tertagihnya suatu utang, semakin kecil rasio ini semakin besar jumlah aktiva
yang didanai oleh pemilik perusahaan, dan semakin besar penyangga risiko
kreditor. (Prastowo, 2005 : 89)
Semakin tinggi DER menunjukkan tingginya ketergantungan
permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan
semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hak pemegang saham
(dalam bentuk dividen), hal ini menyebabkan berkurangnya minat investor
terhadap saham perusahaan karena tingkat pengembaliannya semakin kecil.
Dengan kata lain, DER berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Kinerja perusahaan tentunya juga berpengaruh pada daya tarik saham
yang ditawarkan di Pasar Modal. Semakin baik kinerja perusahaan, maka
daya tarik saham perusahaan tersebut semakin tinggi, karena saham tersebut
memberikan prospek yang menjanjikan keuntungan. Jika permintaan investor
terhadap saham perusahaan cukup besar, maka dapat berpengaruh terhadap
peningkatan harga saham. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa DER
berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan.
2.2.8. Risiko Sistematik
Dalam setiap pengambilan keputusan penanaman modal, risiko
merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan. Pertimbangan ini
berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima oleh investor dimasa
mendatang. Jika risiko atas investasi saham semakin tinggi, sedangkan
pendapatan saham tersebut tetap maka hal ini akan menimbulkan penurunan
terhadap harga saham yang dimiliki investor.
Risiko sekuritas dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan menurut
Hartono dalam Wengku Ragil Pambudi (2010), yaitu:
1. Risiko yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio atau
disebut risiko yang dapat didiversifikasi atau risiko perusahaan atau
risiko tidak sistematis. Risiko yang sifatnya khusus yang hanya
mempengaruhi suatu perusahaan tertentu yang penyebabnya ada di
dalam perusahaan. Misalnya pemogokan tenaga kerja. Kesalahan
manajemen risiko ini dapat dieliminasi pada nilai saham dengan usaha
diversifikasi investasi saham.
2. Risiko yang tidak dapat didiversifikasi oleh portofolio atau disebut
risiko pasar atau risiko sistematik. Risiko ini bagian risiko total yang
disebabkan oleh faktor yang secara serentak mempengaruhi semua
perusahaan yang beroperasi dan khususnya harga saham di pasar
modal. Oleh karena dipengaruhi secara simultan pada semua saham
maka risiko ini tidak dapat dieliminasi dengan usaha diversifikasi.
Karena ada sebagian risiko yang bisa dihilangkan dengan diversifikasi
(yaitu risiko tidak sistematis), maka dalam suatu portofolio ukuran risiko
yang dipakai adalah bukan devisiasi standar (risiko total), tapi tentulah hanya
risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi (yang disebut risiko
menginvestasikan semua dananya pada satu saham, mereka melakukan
diversifikasi, mereka hanya akan berminat terhadap pengaruh masing-masing
saham pada risiko portofolio mereka. Keadaan ini berarti bahwa, risiko dari
portofolio yang di diversifikasikan secara baik tergantung pada risiko pasar
dari masing-masing saham yang dimasukkan dalam portofolio tersebut.
2.2.9. Beta Sebagai Pengukur Risiko Saham
Menurut Hartono dalam Wengku Ragil Pambudi 2010, beta (β)
merupakan pengukur risiko sistematis dari saham atau portofolio terhadap
risiko pasar. Untuk mengetahui kontribusi suatu saham terhadap risiko dari
sekelompok saham dengan didiversifikasi yang baik maka diperlukan
pengukuran risiko pasar untuk mengetahui sensifitas atau kepekaan
pendapatan investasi terhadap pergerakan pasar dan kepekaan tingkat
keuntungan terhadap perubahan pasar dengan menggunakan beta pasar
dengan model.
Dalam penelitian ini hanya variabel β (beta) yang dimasukkan
kedalam model analisis untuk mengambarkan risiko sistemstik.
Keterangan : Β = Risiko suatu saham
n = Jumlah periode yang diteliti
Y = Indeks harga saham individu
X = Indeks harga saham gabungan (IHSG)
2.3. Kerangka Pikir
Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu yang telah dijelaskan diatas
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat premis-premis sebagai berikut :
Premis 1 : ROA, ROE, DER, PER, EPS, BV dan beta saham sebagai risiko
sistematik berpengaruh signifikan terhadap harga saham
perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. (Almas
Hijriah,2007)
Premis 2 : Harga saham sebagai indikator nilai perusahaan akan di pengaruhi
oleh berbagai variabel fundamental dan teknikal, dimana
variabel-variabel tersebut secara bersama-sama akan membentuk kekuatan
pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham, sehingga harga
saham akan mengalami berbagai kemungkinan kenaikan harga
(Usman, 2000:174).
Premis 3 : Secara empiris terbukti bahwa faktor fundamental (ROA, ROE,
BV, DER, r) dan risiko sistematik (beta) mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap harga saham perusahaan properti secara
bersama-sama. (Anastasia, 2003)
Berdasarkan premis yang ada diatas maka dapat digambar bagan kerangka
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Uji Regresi Linier Berganda
2.4. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan landasan teori
yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diajukan hipotesis bahwa
Return On Assets (ROA), Debt To Equity Ratio (DER), dan Risiko Sistematik (β)
secara simultan maupun parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Return On Asset
(X )
Harga Saham
(Y) Debt To Equity Ratio
(X )
Risiko Sistematik
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional adalah suatu variabel yang diberikan kepada suatu
variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi
kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk
mengukur variabel tersebut (Nazir, 2005: 126).
Berdasarkan uraian diatas, maka variabel yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y)
antara lain sebagai berikut:
1. Variabel Bebas
a.Return On Assets (XІ)
Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.
Return On Assets merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimilki.
Skala pengukuran data adalah rasio dan satuan pengukuran
yang digunakan adalah persen (%). Rumus penghitungan ROA yaitu
% 100 Asset
Total
Pajak Setelah Laba
ROA
(Kasmir, 2005:206)
b.Debt Equity Ratio (X2)
Debt Eqity Ratio yaitu semakin tinggi kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka panjang maka semakin besar
risiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat
keungtungan yang semakin tinggi. Rasio yang tinggi juga
menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai
aktiva. Dalam penelitian ini rumus yang dipergunakan adalah
sebagai berikut:
Debt to Equity Ratio = 100%
Sendiri Modal
Total
Hutang Total
x
(Kasmir, 2005:190)
Variabel ini diukur dengan skala ratio dalam satuan prosentase (%).
c.Risiko Sistematik (X3)
Merupakan risiko yang berpengaruh terhadap semua investasi
dana dan tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dengan cara
diversifikasi. Diversifikasi adalah penyebaran, penempatan dana
investasi ke dalam berbagai jenis instrumen investasi atau berbagai
Resiko sistematik dicerminkan oleh indeks beta. Beta
merupakan bentuk perhitungan yang menyatakan resiko sistematis
dari saham secara keseluruhan. Beta dapat di hitung dengan teknik
regresi menggunkan model CAPM (Capital Assets Pricing Model)
sebagaimana dirumuskan sebagai berikut:
Ri = Rf + I ( Rm-Rf )
Dimana:
Ri = tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh sekuritas i,
Rf = tingkat keuntungan dari investasi bebas resiko yang biasanya
ditunjukkan oleh bunga obligasi pemerintah,
I = beta (ukuran risiko)
Rm = tingkat keuntungan portofolio pasar
Dari pendekatan CAPM tersebut, beta dapat dicari dengan cara:
=
22
X X
n
Y X XY
n
Dimana : β = Resiko suatu saham
n = Jumlah periode yang diteliti
Y = Tingkat keuntungan yang disyaratkan sekuritas (Ri)
X = Tingkat keuntungan portofolio pasar (Rm)
Rm = 1 1 t t t IHSG IHSG IHSG Ri = 1 1 t t t Pi Pi Pi (Zaky,2008)
2. Variabel Terikat (Y)
Harga Saham (Y)
Harga Saham adalah harga saham yang terbentuk dari mekanisme
antara penjual dan pembeli atau harga yang berlaku dalam pasar bursa saat
terjadi transakasi saham.
Dalam penelitian ini, harga saham yang digunakan adalah harga
saham penutupan (closing price) rata-rata bulanan. Variabel ini diukur
dengan menggunakan skala rasio dan dalam satuan rupiah. Rumus yang
digunakan:
(Rachmawati, 2009)
3.2.Teknik Penentuan Sampel
Populasi merupakan kelompok subyek/obyek yang memiliki ciri-ciri
atau karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok subyek/obyek lain,
dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian
(Sumarsono, 2004: 44).
Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah data laporan
keuangan perusahaan food and baverage yang telah go publik dan terdaftar
pada PT. Bursa Efek Indonesia pada periode 2006 hingga 2009 sebanyak 17
perusahaan dengan jumlah 68 data yang berupa laporan keuangan,
perusahaan tersebut antara lain:
1. PT. Akasha Wira International Tbk
2. PT. Aqua Golden Missisippi Tbk
3. PT. Cahaya Kalbar Tbk
4. PT. Delta Djakarta Tbk
5. PT. Davomas Abadi Tbk
6. PT. Fast Food Indonesia Tbk
7. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
8. PT. Mayora Indah Tbk
9. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
10.PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk
11.PT. Sekar Laut Tbk
12.PT. Siantar Top Tbk
13.PT. Sierad Produce Tbk
14.PT. Sinar Mas Agro Resources Tbk
16.PT. Tunas Baru Lampung Tbk
17.PT. Ultra Jaya Milk Tbk
3.2.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari sebuah populasi, yang mempunyai ciri dan
karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itu sebuah sampel
harus merupakan representative dari sebuah populasi (Sumarsono,2004:44).
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan metode “purposive sampling”. Menurut
Sugiyono (2005:61) metode Purposive sampling adalah teknik penentuan
sampel yang dilakukan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan atas
tujuan tertentu.
Berikut ini adalah kriteria-kriteria perusahaan yang dijadikan sampel
dalam penelitian ini :
1. Perusahaan food and baverage yang sahamnya selalu terdaftar dan go
publik di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009.
2. Perusahaan food and baverage yang masih aktif dalam melakukan
perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009.
3. Perusahaan food and baverage yang menerbitkan laporan keuangan dari
tahun 2006-2009.
4. Perusahaan food and baverage yang selalu laba dari tahun 2006-2009.
Berdasarkan kriteria diatas, maka jumlah sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah 14 perusahan manufaktur dari 17 perusahaan food
yang diambil sebagai sampel diperoleh 56 data yang berupa laporan
keuangan perusahaan tahun 2006-2009. Berikut ini adalah nama-nama
perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini:
1. PT. Aqua Golden Missisippi Tbk
2. PT. Cahaya Kalbar Tbk
3. PT. Delta Djakarta Tbk
4. PT. Fast Food Indonesia Tbk
5. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
6. PT. Mayora Indah Tbk
7. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
8. PT. Sekar Laut Tbk
9. PT. Siantar Top Tbk
10.PT. Sierad Produce Tbk
11.PT. Sinar Mas Agro Resources Tbk
12.PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
13.PT. Tunas Baru Lampung Tbk
14.PT. Ultra Jaya Milk Tbk
3.3.Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif
diserahkan ke Bursa Efek Indonesia dan download dari situs resmi Bursa
Efek Indonesia. Data tersebut berupa laporan keuangan.
Data kuantitatif dinyatakan dalam bentuk angka-angka dan disajikan
dalam bentuk table atas peghitungan-penghitungan matematis maupun
statistik.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dan
dikumpulkan melalui situs resmi BEI di www.idx.co.id berupa laporan
keuangan perusahaan Food and Baverage yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama periode 2006-2009.
3.3.3. Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi
dengan cara melihat, mempelajari, dan mengutip catatan-catatan yang
diperoleh dari dokumen Bursa efek Indonesia berupa laporan keuangan
perusahaan, indeks saham individual dan indeks saham gabungan periode
tahun 2006-2009.
3.4.Teknik Analisis dan Uji Hipotesis
Uji outlayer merupakan salah satu alat uji yang dapat digunakan
untuk menormalkan data. Kriteria dari uji outlayer adalah nilai Zscore yang
dihasilkan dari uji outlayer tidah boleh melebihi ±1,96. Jika setelah diuji nilai
Zscore data melebihi selang tersebut maka data tersebut harus dibuang.
3.4.2. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data
mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data
tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan metode
Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan program SPSS (Sumarsono,
2004: 40).
Pedoman dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi data
mengikuti distribusi normal adalah :
Jika nilai signifikan (nilai profitabilitasnya) lebih kecil dari 5%, maka
distribusi adalah tidak normal.
Jika nilai signifikasi (nilai profitabilitasnya) lebih besar dari nilai 5%,
maka distribusi adalah normal.
3.4.3. Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi diatas tersebut harus bersifat BLUE (Best Linear
Unbiased Estimator) artinya pengambilan keputusan uji F dan uji t tidak
boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus dipenuhi
tiga asumsi klasik yaitu:
1. Non Autokorelasi (tidak boleh ada autokorelasi)
Ada