• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK DI BURSA EFEK INDONESIA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK DI BURSA EFEK INDONESIA."

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK

TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN

FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK

DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan oleh :

Ichsan Ambarul Munir

0713010251/FE/EA

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

MODEL FUNDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP

HARGA SAHAM PERUSAHAAN

FOOD AND BEVERAGE YANG GO PUBLIK

DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Akuntansi

Diajukan Oleh :

Ichsan Ambarul Munir

0713010251/FE/EA

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(3)

SKRIPSI

Model Rasio Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham Perusahaan Food and Beverage yang Go Public di Bursa Efek Indonesia

Yang Diajukan Ichsan Ambarul Munir

0713010251/FE/EA

Disetujui untuk Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

RINA MUSTIKA, SE, MM Tanggal : ……….……

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan karuniaNya yang tak terhingga sehingga saya berkesempatan menimba ilmu hingga jenjang Perguruan Tinggi. Berkat rahmatNya pula memungkinkan saya untuk menyelesaikan skripsi dengan judul “Model Rasio Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham Perusahaan

Food and Beverage yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”

Sebagaimana diketahui bahwa penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE). Walaupun dalam penulisan skripsi ini penulis telah mencurahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tetapi penulis yakin tanpa adanya saran dan bantuan maupun dorongan dari beberapa pihak maka skripsi ini tidak akan mungkin dapat tersusun sebagaimana mestinya.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:

1. Kedua orang tua yang telah memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan bantuannya secara moril maupun materiil yang telah diberikan selama ini sehingga mampu menghantarkan penulis menyelesaikan studinya

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak. Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya. 4. Bapak. Drs. Ec. R .A Suwaidi, MSi selaku Wakil Dekan Fakultas Ekonomi

(5)

5. Ibu Dr. Sri Trisnaningsih, MSi selaku Ketua Progdi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

6. Ibu Rina Mustika SE, MM selaku Dosen Pembimbing yang dengan kesabaran dan kerelaan telah membimbing dan memberi petunjuk yang sangat berguna sehingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Para Dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjadi mahasiswa di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam penulisan skripsi ini, oleh karenanya penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran bagi perbaikan di masa mendatang. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca.

Surabaya, Juli 2011

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……… i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ……….. vii

DAFTAR GAMBAR ………. viii

DAFTAR LAMPIRAN ………. ix

ABSTRAK ……….. x

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Lata r Belakang ... 1

1.2. Peru musan Masalah……….... 9

1.3. Tuju an Penelitian ..………..………..………... 9

1.4. Man faat Penelitian ………. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasi l Penelitian Terdahulu ……… 12

2.2. Lan dasan Teori ………..………..….. 14

2.2.1. Pasa r Modal……….……….……….. 14

2.2.1.1. Pen gertian Pasar Modal……….. 14

(7)

2.2.1.3. Mek anisme Pasar Modal………. 16

2.2.1.4. Pela

ku Pasar Modal………. 17

2.2.2. Saha

m……….. 21

2.2.2.1. Pen

gertian Saham……… 21

2.2.2.2. Jeni

s-jenis Saham………. 21

2.2.2.3. Kele

bihan dan Kelemahan Saham……… 23

2.2.3. Har

ga Saham……… 25

2.2.3.1. Pen

gertian Harga Saham……….. 25

2.2.3.2. Jeni

s-jenis Harga Saham……….. 26

2.2.3.3. Fact

or yang Mempengaruhi Harga Saham…… 27

2.2.4. Lap

oran Keuangan………. 28

2.2.4.1. Pen

gertian Laporan Keuangan………... 28

2.2.4.2. Tuju

an Laporan Keuangan……… 29

2.2.4.3. Jeni

s-jenis Laporan Keuangan……… 30

2.2.5. Rasi

(8)

2.2.5.1. Pen gertian Rasio Keuangan………. 31

2.2.5.2. Jeni

s-jenis Rasio Keuangan……… 32

2.2.6. Retu

rn On Assets (ROA)……… 33

2.2.6.1. Pen

gertian Return On Assets……….. 33

2.2.6.2. Pen

garuh ROA Terhadap Harga Saham……. 34

2.2.7. Debt

To Equity Ratio (DER)……….. 35

2.2.7.1. Pen

gertian Debt To Equity Ratio……… 35

2.2.7.2. Pen

garuh Debt To Equity Ratio Terhadap

harga saham……… 36

2.2.8. Risi

ko Sistematik……… 36

2.2.9. Beta

Sebagai Rasio Pengukur Saham………. 38

2.3. Kera

ngka Pikir……… 39

2.4. Hip

otesis………. 40

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Defi

nisi Operasional Dan Pengukuran Variabel………. 41

3.2. Tek

(9)

3.2.1. Pop

ulasi……… 44

3.2.2. Sam pel………. 45

3.3. Tek nik Pengumpulan Data……….. 47

3.3.1. Jeni s Data……… 47

3.3.2. Sum ber Data……… 47

3.3.3. Pen gumpulan Data……….. 48

3.4. Tek nik Analisis dan Uji Hipotesis……….. 48

3.4.1. Uji Normalitas………. 48

3.4.2. Uji Asumsi Klasik……… 49

3.4.3. Tek nik Analisis………. 52

3.4.4. Uji Hipotesis……… 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian………... 55

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian …...…………...…….. 66

4.3. Uji Kualitas Data ….……….………... 74

4.3.1 Uji Normalitas ……….……….. 74

4.4. Uji Asumsi Klasik ……….………. 81

4.4.1. Uji Multikolinearitas.……….……….….. 81

(10)

4.4.3. Uji Autokorelasi ………... 83

4.5. Analisis dan Pengujian Hipotesis ……… 84

4.5.1 Persamaan Regresi ….……… 84

4.5.2 Koefisien Determinasi (R Square) ……… 86

4.5.3 Hasil Pengujian Hipotesis ……….……… 86

4.5.3.1. Uji Kecocokan Model ..………...……….….. 86

4.5.3.2. Uji Parsial …...……….…...……….…... 87

4.6. Pembahasan Hasil Penelitian …………...……….. 89

4.7. Perbedaan Hasil Penelitian Terdahulu ...………. 93

4.8. Implikasi ...94

4.9. Keterbatasan Penelitian ………...……… 95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ……….…….……….…….. 98

5.2. Saran ……….…….………. 99

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN     DAFTAR TABEL Tabel : 4.2.1. Deskripsi Variabel Return On Assetspada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ..…. 67

4.2.2. Deskripsi Variabel Debt Equity Ratio (DER) pada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ..…. 69

4.2.3. Deskripsi Variabel Risiko Sistematikpada perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 ... 71

(11)

4.3.1. Hasil Uji Normalitas (1) ………..………...……. 74

4.3.2. Hasil Uji Outlier …...………..………. 75

4.3.3. Hasil Uji Normalitas (2) ………..……….... 80

4.4.1. Hasil Uji Multikolinearitas ………. 81

4.4.2. Hasil Uji Heteroskedastisitas….………. 82

4.4.3. Hasil Uji Autokorelasi ……….. 83

4.5.1. Koefisien Regresi ……… 84

4.5.2. Koefisien Determinasi ………. 85

4.5.3.1. Uji Kecocokan Model (Uji F) ………..….…… 87

4.5.3.2. Hasil Uji Parsial (Uji t) ………. 88

4.7. Perbedaan hasil penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu ………..…  89

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Return On Assets (X1)

Lampiran 2. Debt to Equity Ratio (X2)

Lampiran 3. Risiko Sistematik (X3)

Lampiran 4. Harga Saham (Y)

Lampiran 5. Uji Normalitas dan Uji Outlier Lampiran 6. Uji Asumsi Klasik

Lampiran 7. Persamaan Regresi dan Koefisien Regresi Lampiran 8. Uji Hipotesis

(13)

Lampiran 10. Tabel Entry Data

(14)

MODEL FUNDDAMENTAL DAN RISIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG GO

PUBLIK DI BERSA EFEK INDONESIA

Oleh:

Ichsan Ambarul Munir

Abstrak

Pasar modal menjadi alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan yang berasal dari investasi para investor. Sebelum berinvestasi, investor terlebih dahulu mengukur kinerja perusahaan berdasarkan tingkat harga saham.  Fluktuasi harga saham dapat dikatakan sebagai cermin kinerja perusahaan dimana kekuatan pasar ditunjukkan dengan terjadinya transaksi perdagangan saham di pasar modal. Tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal sebagai faktor

fundamental yang berasal dari dalam perushaan dan faktor eksternal seperti faktor lingkungan, sosial, politik dan ekonomi. Faktor fundammental menggambarkan resiko dan return yang akan diterima oleh investor atas investasinya.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 14 perusahaan food and beverage yang go public di PT. Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006 sampai 2009. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif, sedangkan dilihat cara memperolehnya, data yang digunakan merupakan data sekunder yaitu data keuangan perusahaan yang berupa laporan keuangan mulai periode 2006 hingga 2009. Variabel yang dipakai dalam penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu Return On Assets (X1),

Debt to Equity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3), serta variabel terikat yaitu

Harga Saham (Y). Untuk teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan dalam pengujian hipotesis digunakan teknik analisis regresi linier berganda.

Kesimpulan dari hasil uji F menunjukkan bahwa secara simultan Return On Assets (X1), Debt toEquity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3) berpengaruh

signifikan terhadap Harga Saham (Y). Hasil uji t menunjukkan bahwa secara parsial

Return On Assets (X1) berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan Debt

to Equity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap

Harga Saham.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di negara-negara yang menganut sistem ekonomi pasar, pasar modal merupakan sumber dan alternatif pendanaan bagi perusahaan selain bank. Keunggulan pasar modal dari pada bank adalah perusahaan tidak perlu menyediakan anggunan seperti yang disyaratkan oleh bank, melainkan perusahaan harus menunjukkan prospek yang baik maka surat berharga perusahaan akan laku terjual di pasar modal. Ada beberapa instrumen pasar modal yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk mengumpulkan dana dari penerbitan surat-surat berharganya. Instrumen pasar modal yang umum adalah saham. Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaaan atau pemilikan individu maupun institusi yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yan berbentuk perseroan terbatas (Sunariyah, 2004: 127).

(16)

sebagainya, dan asset finansial atau keuangan yang merupakan dokumen-dokumen seperti saham dan obligasi.

Salah satu tujuan invetasi adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang. Seseorang akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang (Tandelilin, 2010: 8).

Keputusan investasi pada dasarnya menyangkut masalah pengelolaan dana pada suatu periode waktu tertentu, dimana para investor berharap akan memperoleh pendapatan atau keuntungan dari dana yang diinvestasikannya pada periode waktu tertentu. Dalam melakukan investasi para investor mengharapkan hasil maksimal dengan risiko tertentu atau hasil tertentu dengan risiko minimal pada investasi yang telah dilakukannya. Keuntungan investasi sangat bergantung banyak hal, tapi yang paling utama adalah kemampuan investor atau penanam modal dalam membaca keadaan pasar yang tidak menentu.

(17)

Pada dasarnya ada dua macam risiko, yaitu risiko tidak sistematik adalah risiko yang bisa dihilangkan dengan membentuk portofolio, dan risiko sistematik adalah bagian dari risiko sekuritas yang tidak bisa dihilangkan walaupun dengan membentuk portofolio/didiversifikasi. Risiko sistematik ini dimiliki/melekat pada semua perusahaan yang disebabkan oleh faktor makro ekonomi seperti inflasi. Risiko tidak sistematik tidak relevan dalam perhitungan risiko suatu saham karena dapat dihilangkan dengan menambah jumlah kepemilikan saham dari beberapa perusahaan.

Jika harga saham meningkat maka keuntungan yang didapat pemodal akan meningkat. Kenaikan harga saham merupakan daya tarik tersendiri bagi perusahaan untuk menerbitkan saham baru. Bila seorang penanam modal memutuskan untuk melakukan investasi di pasar modal (dengan membeli sekuritas yang diperdagangkan dibursa), maka ia harus percaya bahwa informasi yang diterima investor adalah informasi yang benar, dan tidak ada pihak manapun yang melakukan manipulasi informasi terhadap informasi dalam perdagangan tersebut.

(18)

saham-saham yang mereka miliki. Dengan memanfaatkan laporan keuangan perusahaan investor diharapkan dapat menganalisis kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan, karena itu investor harus selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat mempengaruhi perubahan harga saham di pasar modal yang dapat mengurangi keuntungan investor.

Informasi yang biasa digunakan oleh para investor dikelompokkan dalam dua hal yaitu informasi fundamental dan informasi yang bersifat teknikal. Informasi fundamental adalah informasi yang berhubungan dengan kondisi perusahaan yang umumnya ditunjukkan dalam laporan keuangan yang merupakan salah satu ukuran kinerja perusahaan dan risiko sistematik yang dapat mempengaruhi perusahaan tersebut. Informasi fundamental sering digunakan untuk memprediksi harga saham.

(19)

Harga saham merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan pengelolaan perusahaan, dimana kekuatan pasar di bursa saham ditunjukkan dengan adanya transaksi jual beli saham perusahaan tersebut di pasar modal. Terjadi syarat transaksi tersebut didasarkan pada pengamatan para investor terhadap prestasi perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Pemegang saham yang tidak puas terhadap kinerja manajemen dapat menjual saham yang dimiliki dan menginvestasikan uangnya ke perusahaan lain. Jika hal ini dilakukan akan menurunkan harga pasar saham suatu perusahaan. Dalam Zacky 2008, Weston & Copeland mengatakan bahwa nilai saham merupakan indeks yang baik untuk mengukur tingkat efektifitas prestasi perusahaan. Jadi pemegang saham yang tidak puas terhadap prestasi manajemen suatu perusahaan maka pemegang saham akan menarik sahamnya dari perusahaan tersebut. Jika hal ini dilakukan oleh para pemegang saham, maka ini merupakan kekuatan pasar yang akan menurunkan harga saham perusahaan.

Dengan mengetahui faktor-faktor fundamental yang dapat mempengaruhi harga saham suatu perusahaan, analisis fundamental juga sering disebut dengan analisis perusahaan karena menggunakan data laporan keuangan perusahaan dalam menghitung nilai intrinsik saham. Salah satu teknik dalam analisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan dengan menggunakan rasio keuangan dan resiko sistematik. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return On Asset yang mencerminkan kinerja manajemen dalam menghasilkan laba bersama dengan aset yang ada,

Debt Equity Ratio untuk mengetahui proporsi hutang terhadap modal

(20)

bisa dihilangkan walaupun dengan membentuk portofolio/didiversifikasi (Zaky 2008).

Salah satu jenis perusahaan yang menerbitkan sahamnya di bursa efek adalah perusahaan manufaktur khususnya perusahaan makanan dan minuman atau lebih dikenal dengan istilah food and baverage. Kita semua mengetahui bahwa pertumbuhan jumlah penduduk semakin bertambah seiring waktu. Tentunya kebutuhan manusia akan makanan dan minuman pun semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan makanan dan minuman akan diikuti pula oleh meningkatnya permintaan masyarakat akan produk makanan dan minuman. Sehingga kecenderungan perusahaan

(21)

Tabel 1.1.

Data Perkembangan Harga Saham Perusahaan Food and Baverage

Periode 2006-2009

2006 2007 2008 2009

1 PT. Akasha Wira International Tbk 1,289.17 858.33 552.08 555.83 2 PT. Aqua Golden M issisipp i Tbk 88,833.33 125,166.67 124,875.00 195,241.67 3 PT. Cahay a Kalbar Tbk 513.33 632.50 1,051.67 1,143.33 4 PT. Davomas Abadi Tbk 418.33 388.75 183.83 68.00 5 PT. Delta Djakarta Tbk 30,175.00 22,241.67 19,416.67 40,216.67 6 PT. Fast Food Indonesia Tbk 1,435.83 2,187.50 2,800.00 3,404.17 7 PT. Indofood Sukses M akmur Tbk 1,094.17 1,937.92 2,085.42 2,104.17 8 PT. M ayora Indah Tbk 1,082.50 1,665.83 1,333.33 2,199.17 9 PT. M ulti Bintang Indonesia Tbk 51,716.67 53,141.67 57,991.67 108,004.17 10 PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk 87.50 83.00 77.42 101.67 11 PT. Sekar Laut Tbk 360.00 150.33 91.25 98.33 12 PT. Siantar Top Tbk 149.17 362.50 265.42 194.58 13 PT. Sierad Produce Tbk 41.25 69.17 51.08 51.00 14 PT. Sinar M as Agro Resources Tbk 2,949.17 4,241.67 5,667.08 2,921.25 15 PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 190.83 344.75 546.67 397.50 16 PT. Tunas Baru Lamp ung Tbk 203.75 502.08 458.75 292.92 17 PT. Ultra Jay a M ilk Tbk 318.75 535.00 641.25 645.00 No. Nama Perusahaan Harga Rata-rata Saham

s umber: www.idx.co.id

Berdasarkan tabel.1 di atas dapat dilihat bahwa harga saham selama periode 2006 hingga 2009 mengalami perubahan yang berfluktuasi. Fluktuasi harga saham di bursa efek tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Nirawati (2003), tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

(22)

bersama-sama akan membentuk kekuatan pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan mengalami berbagai kemungkinan yaitu kenaikan atau penurunan harga. Menurut Asbi Rachman (2008), tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam perusahaan meliputi kualitas dan reputasi manajemen, struktur hutang,tingkat laba yang dihasilkan perusahaan dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi diluar perusahaan seperti perkembangan sektor industri, pengaruh kebijakan moneter dan fiskal dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama akan membentuk kekuatan pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan mengalami berbagai kemungkinan yaitu kenaikan atau penurunan harga.

Menurut Usman (1990: 166), faktor-faktor tersebut yang secara garis besar digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu faktor fundamental, faktor teknis dan faktor lingkungan, sosial, politik dan ekonomi.

Dari ketiga faktor itu, faktor fundamental yang termasuk faktor internal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap harga saham. Karena faktor fundamental menggambarkan keadaan suatu perusahaan dan faktor-lain lain yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan (Usman, 1990: 166). Sehingga perlu dilakukan analisis fundamental.

(23)

terdapat faktor lain yang bersifat psikologis berpengaruh terhadap kekuatan pasar. Akan tetapi, faktor yang bersifat fundamental ini akan menjadi pedoman utama bagi pasar untuk menentukan harga saham perusahaan.

Atas dasar hal tersebut di atas maka timbul minat penulis untuk mengadakan penelitian di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) berkaitan faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham perusahaan Food and

Baverage dengan judul “ Model Fundamental dan Resiko Sistematik

Terhadap Harga Saham Perusahaan Food and Baverage yang Go Public

di Bursa Efek Indonesia”. 1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah apakah Retuen on

Asset (ROA), Debt to Equity Ratio (DER), risiko sistematik berpengaruh

terhadap harga saham pada perusahaan Food and Baverage yang Go Public di BEI?

1.3. Tujuan Penelitian

(24)

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

a. Bagi Investor

Sebagai pedoman bagi para investor khususnya dan masyarakat umumnya alam memberikan informasi yang lebih lengkap, dan jelas mengenai pengaruh faktor fundamental dan risiko sistematik terhadap harga saham harga saham perusahaan Food and Baverage di BEI, sehingga dapat menambah informasi dan referensi tentang pasar modal guna mempermudah mengambil keputusan untuk investasi.

b. Bagi Peneliti

Dengan mengadakan penelitian secara langsung serta dihadapkan pada kenyataan yang ada, maka didapatkan pengetahuan mengenai pemecahan masalah yang sesungguhnya. Selain itu untuk menambah waawasan dan pandangan peneliti tentang faktor fundamental dan risiko sistematikdalammempelajari pergerakan harga saham perusahaan Food and Baverage di BEI serta variabel-variabel yang mempengaruhinya.

c. Bagi Perusahaan (Emiten)

(25)

pembuatan kebijakan yang tepat agar dapat melakukan penjualan sahamnya.

d. Bagi Universitas

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sangat penting untuk

diungkapkan karena dapat dipakai sebagai sumber informasi dan bahan acuan

yang sangat berguna bagi penulis.

Almas Hijriah pada tahun 2007, telah melakukan penelitian tentang

Analisis Faktor Fundamental Keuangan dan Risiko Sistematik Terhadap Harga

Saham dengan sampel perusahaan Properti Yang Terdaftar di Bursa Efak

Jakarta. Dan menyimpulkan bahwa secara serempak faktor fundamental

keuangan seperti return on assets (ROA), return on equity (ROE), debt to

equity ratio (DER), price earning ratio (PER), earning per share (EPS), book

value (BV) dan beta saham sebagai risiko sistematik berpengaruh signifikan

terhadap harga saham perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Sedangkan secara parsial, variable return on equity (ROE), price earning ratio

(PER), book value (BV) sebagai factor fundamental yang memiliki pengaruh

signifikan terhadap harga saham property di Bursa Efek Jakarta. Hal ini

menunjukkan bahwa faktor fundamental ROE, PER, BV berpengaruh secara

dominan terhadap harga saham.

Penelitian lain pernah dilakukan oleh Asbi Rachman Faried 2008.

Dengan judul “Analisis Pengaruh Faktor Fundamental dan Nilai Kapitalisasi

(27)

2006”. Dan menyimpulkan bahwa variable ROA, NPM, DER, PBV, dan

variable kapitalisasi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham

perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

Yoko Tristiarto pada tahun 2006 melakukan penelitian tentang

“Pengaruh Faktor Fundamental dan Teknikal Terhadap Harga Saham di Bursa

Efek Jakarta”. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah

emiten yang akan meningkatkan harga sahamnya, dapat menempuh langkah

memperbaiki kinerja keuangan perusahaan salah satunya dengan meningkatkan

Earning Per Share (EPS). Selain itu, emiten harus menyampaikan keadaan

keuangannya secara periodic, transparan, dan bukan merupakan hasil

manipulasi kepada masyarakat agar harga saham dapat cepat bereaksi terhadap

informasi yang dipublikasikan tersebut dan tercapai perdagangan efek yang

likuid, efisien, fair, dan transparan. Investor yang akan melakukan investasi

atau memprediksi harga saham,perlu menjadikan EPS dan tingkat bunga

deposito sebagai acuan dalam pengambilan keputusan sebab variasi keputusan

harga saham ditentukan oleh perubahan kedua variabel tersebut. Disamping

itu, perlu juga memperhatikan faktor teknikal seperti harga saham masa lalu,

sebagai informasi tambahan dalam memprediksi harga saham agar validitas

prediksi lebih akurat.

Sedangkan Njo Anastasia (Universitas Kristen Petra, 2003) melakukan

penalitian tentang “Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik

Terhadap Harga Saham Properti di BEJ”. Dan menyimpulkan bahwa secara

empiris terbukti bahwa faktor fundamental (ROA, ROE, BV,DER, r) dan

(28)

saham perusahaan properti secara bersama-sama. Secara empiris terbukti

bahwa hanya variabel Book Value yang mempunyai pengaruh yng signifikan

terhadap harga saham perusahaan properti secara parsial.

Adapun persamaan penelitian sekarang dengan penelitian sebelumnya

adalah sama-sama menggunakan factor-faktor yang berpengaruh terhadap

harga saham.

Perbedaannya terletak pada periode penelitian antara tahun 2006 sampai

2009 dan objek penelitian yaitu perusahaan food and beverage yang terdaftar

dan go publik di Bursa Efek Indonesia. Maka penelitian yang pernah dilakukan

sebelumnya diatas digunakan sebagai bahan masukan dan pertimbangan yang

mendukung dalam penelitian ini.

2.2. Landasan Teori 2.2.1. Pasar Modal

2.2.1.1. Pengertian Pasar Modal

Pasar modal bisa didefinisikan sebagai suatu sistem keuangan yang

terorganisasi, termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan semua

lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga

yang beredar (Sunariyah, 2004: 4).

Menurut Tandelilin (2010: 26) pasar modal adalah pertemuan antara

pihak yang memiliki dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan

cara memperjualbelikan sekuritas, seperti saham dan obligasi. Sedangkan

tempat di mana terjadinya jual-beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh

(29)

Dari pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pasar modal

adalah lembaga yang bergerak di sektor keuangan yang melengkapi dua

lembaga keuangan lainnya yaitu bank dan lembaga pembiayaan. Lembaga

pasar modal ini menjembatani antara pemilik dana sebagai investor dengan

pihak yang meminjam dana yang disebut dengan emiten, yaitu berupa

perusahaan yang go public akan menawarkan surat berharganya dipasar

modal dalam usaha memenuhi kebutuhan dananya untuk diinvestasikan pada

barang modal yang bersifat jangka panjang. Bagi perusahaan yang go public,

penambahan ini digunakan untuk menambah kemampuannya meningkatkan

keuntungan. Di pihak lain, investor mengharapkan hasil yang memadai

secara berkesinambungan dan harga pasar surat berharga yang diharapkan

selalu meningkat untuk memperoleh capital gain.

2.2.1.2. Manfaat Pasar Modal

Menurut Sutrisno dalam M Zainul Luthfi (2010), pasar modal

mempunyai beberapa fungsi atau manfaat, antara lain:

1. Sebagai sumber penghimpun dana

Salah satu sumber dana yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan

adalah pasar modal dimana perusahaan bisa menggalang dana yang

besarnya sesuai dengan yang diharapkan tanpa ada batasan besarnya

dana.

2. Sebagai sarana investasi

Dengan adanya surat berharga yang mudah diperjualbelikan, maka

(30)

modal lebih fleksibel, sebab setiap investor bisa dengan mudah

memindahkan dananya dari satu perusahaan satu ke perusahaan lainnya.

3. Pemerataan pendapatan

Dengan go public-nya perusahaan memberikan kesempatan kepada

masyarakat luas untuk memiliki perusahaan tersebut. Dengan demikian

akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati

keuntungan dari perusahaan, sehingga semula hanya dinikmati oleh

beberapa pemilik, akhirnya bisa dirasakan oleh masyarakat luar artinya

terjadi pemerataan pendapatan kepada masyarakat.

4. Sebagai pendorong investasi

Untuk mendorong agar pihak swasta dan asing mau melakukan

investasi baik secara langsung maupun tidak langsung, pemerintah harus

menciptakan iklim investasi yang kondusif adalah likuidnya pasar modal.

Semakin baik pasar modal maka semakin banyak perusahaan yang masuk

ke pasar modal dan semakin banyak investor baik nasional maupun asing

yang bersedia menginvestasikan dananya melalui pembelian surat

berharga di pasar modal.

2.2.1.3. Mekanisme Pasar Modal

Penujalan sekuritas umumnya dilakukan sesuai dengan jenis atau

bentuk mekanisme pasar modal dimana sekuritas tersebut diperjualbelikan.

Menurut Tandelilin (2010: 28), mekanisme pasar modal dibagi menjadi dua,

(31)

1. Pasar Perdana

Pasar perdana yaitu pasar yang terjadi pada saat perusahaan

emiten menjual sekuritasnya kepada investor umum untuk pertama

kalinya.

2. Pasar Sekunder

Pasar sekunder yaitu tempat perdagangan atau jual-beli sekuritas

oleh dan antar investor setelah sekuritas emiten dijual di pasar perdana.

2.2.1.4. Pelaku Pasar Modal

Menurut Tandelilin (2010: 62-72), kegiatan pasar modal dilakukan

oleh beberapa pihak atau pelaku. Beberapa pelaku atau pihak yang terkait

tersebut antara lain:

1. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Kekuangan

(Bapepam-LK)

Bapepam-LK adalah lembaga yang bertugas membina,

mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar modal serta

merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di

bidang keuangan, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh

menteri keuangan, dan berdasarkan peraturan perunsang-undangan

yang berlaku.

2. Emiten

Emiten merupakan sebutan bagi perusahaan yang menerbitkan

(32)

3. Bursa Efek

Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan

menyediakan sistem dan sarana untuk mempertemukan penawaran

jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan

efek antara mereka.

4. Self Regulatory Organizations (SRO)

Self Regulatory Organizations (SRO) adalah organisasi yang

mempunyai kewenangan untuk membuat peraturan yang berkaitan

dengan kegiatan usahanya. SRO terdiri dari tiga pihak, salah satunya

adalah bursa efek. Dua SRO lainnya adalah sebagai berikut:

a. Lembaga Kliring dan Penjamin (LKPI)

Lembaga Kliring dan Penjamin (LKPI) adalah pihak yang

menjalankan jasa kliring dan penjamin transaksi bursa agar

terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien.

b. Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian (LPP)

Lembaga Penyimpana dan Penyelesaian (LPP) adalah pihak

yang menyelenggarakan kustodian sentral bagi bank

kustodian, perusahaan efek, dan pihak lain

5. Perusaahan Efek

Perusahaaan efek atau disebut perusahaan sekuritas adalah

perusahaan yang memiliki satu atau gabungan tiga kegiatan berikut

(33)

a. Penjamin emisi efek

Penjamin emisi efek (underwriter) adalah salah satu aktivitas

pada perusahaan efek yang melakukan kontrak dengan emiten

untuk melaksanakn penawaran umum dengan atau tanpa

kewajiban untuk membeli sisa efek yang terjual.

b. Perantara pedagang efek

Perantara pedagang efek (broker dealer) atau perusahaa

pialang adalah salah satu aktivitas pada perusahaan efek yang

melakukan usah jual-beli efek untuk kepentingan sendiri atau

pihak lain.

c. Manajer investasi

Manajer investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya

melakukan kegiatan portofolio efek untuk para nasabah atau

mengelola Portofolio Investasi Kolektif untuk sekelompok

nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank

yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan

peundang-undangan yang berlaku.

6. Lembaga Penunjang Pasar Modal

Lima lembaga penunjang pasar modal berikut ini merupakan

lembaga yang menyediakan kegiatan yang membantu

(34)

a. Biro Administrasi Efek

Biro administrasi Efek adalah pihak yang berdasarkan kontrak

dengan emiten melaksanakan pencatatan pemilihan efek dan

pembagian hak yang berkaitan dengan efek.

b. Kustodian

Kustodian adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek

serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak

lain, menyelesaikan transakasi efek, dan mewakili pemegang

rekening yang menjadi nasabahnya.

c. Wali Amanat

Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan

pemegang efek bersifat utang.

d. Penasihat Investasi

Penasihat investasi adalah pihak yang memberi nasihat kepada

pihak lain mengenai pembelian dan penjualan efek.

e. Pemeringkat Efek

Perusahaan pemeringkat efek adalah lembaga yang dapat

menjembatani kesenjangan informasi antara emiten dan

investor dengan menyediakan informasi standar atas tingkat

risiko kredit suatu perusahaan.

7. Profesi Penunjang Pasar modal

Profesi penunjang pasar modal yang mempunyai tanggung

jawab dalam membantu emiten dalam proses emisinya, diantaranya

(35)

a. Akuntan publik

b. Notaris

c. Konsultan hukum

d. Perusahaan penilai

8. Investor

Investor atau sering disebut pemodal adalah pihak yang

menginvestasikan dana pada sekuritas.

2.2.2. Saham

2.2.2.1.Pengertian Saham

Menurut Sunariyah (2004: 127), definisi saham adalah surat berharga

sebagai bukti penyertaaan atau pemilikan individu maupun institusi yang

dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yan berbentuk perseroan terbatas (PT).

Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa

pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas

tersebut (Sunariyah, 2004: 48).

2.2.2.2.Jenis-Jenis Saham

Menurut Riyanto dalam Zaky (2008), jenis-jenis saham dibedakan ke

dalam 3 bentuk sebagai berikut:

1. Saham Biasa (common stock)

Pemegang saham biasa akan mendapat dividen pada akhir tahun

pembukuan, hanya kalau perusahaan tersebut mendapatkan

keuntungan. Apabila perusahan tersebut tidak mendapatkan

(36)

tidak akan mendapat dividen, dan mengenai ini ada ketentuan

hukumnya, yaitu bahwa suatu perusahaan yang menderita

kerugian, selama kerugian ini belum dapat ditutup, maka selama

ini perusahaan tidak diperbolehkan membayar dividen.

2. Saham Preferen (preferred stock)

Pemegang saham jenis ini mempunyai beberapa “preferensi

tertentu di atas pemegang saham biasa, yaitu terutama dalam hal:

a. Pembagian dividen

Dividen dari saham preferen diambilkan lebih dahulu,

kemudian sisanya barulah disediakan untuk saham biasa

(common stock). Dividen saham preferen dinyatakan dalam

persentase tertentu dari nilai nominalnya.

b. Pembagian kekayaan

Apabila kekayaan di likuidasi, maka dalam pembagian

kekayaan, saham preferen didahulukan daripada saham biasa.

Tetapi kelemahannya, pemegang saham jenis ini tidak

mempunyai hak suara dalam rapat umum pemegang saham.

Kesamaannya adalah berhak menerima dividen apabila

perusahaan mendapatkan keuntungan.

3. Saham kumulatif preferen (cummulative preferred stock)

Saham jenis ini pada dasarnya adalah sama dengan saham

preferen. Perbedaannya hanya terletak pada adanya hak kumulatif

pada saham preferen kumulatif. Apabila tidak menerima dividen

(37)

atau karena adanya kerugian, pemegang jenis saham ini

dikemudian hari apabila perusahaan mendapatkan keuntungan

berhak menuntut dividen-dividen yang tidak dibayarkan di

waktu-waktu lampau.

Sedangkan menurut Sunariyah (2004: 47), secara garis besar saham

dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Saham biasa (Common Stock)

Saham biasa didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau

pemilikan seseorang atau badan dalam suatu paerusahaan. Setiap

pemilik memperoleh sertifikat sebagai tanda kepemilikan perusahaan.

b. Saham Preferen (Preferred Stock)

Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik

gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan

penghasilan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak

mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor. Saham preferen

sama seperti saham biasa yaitu mempunyai hak-hak tertentu tersebut,

bagi saham preferen mempunyai hak istimewa dibandingkan dengan

pemegang saham biasa. Hak-hak istimewa tersebut tergantung pada

perjanjian kontrak dengan manajemen.

2.2.2.3.Kelebihan dan Kelemahan Saham

Kelemahan yang paling besar dari saham biasa adalah tidak stabilnya

pendapatan dan harga, serta bervariasinya laba. Kelemahan lain adalah

sulitnya memperkirakan pendapatan dan harga di masa yang akan datang.

(38)

biasa tidak disukai oleh para investor yang menginginkan kepastian atau

pendapatan yang stabil.

Keuntungan yang terdapat dalam saham biasa menjadikan

pertimbangan bagi investor dalam melakukan investasi di pasar modal karena

adanya potensi untuk menghasilkan laba lebih besar daripada

mengivestasikan dalam surat berharga lainnya. Karena dividend yang

diterima dalam satu periode mungkin rendah, tetapi potensi menghasilkan

capital gain tinggi. Saham biasa juga menawarkan keuntungan pajak, yaitu

pajak yang dikenakan terhadap capital gain tidak dibayarkan sampai

keuntungan diperoleh.

Menurut Fakhruddin dalam Zaky (2008), keuntungan bagi pemilik

saham meliputi:

1.Dividend yaitu bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada

pemilik saham

2.Capital Gain: selisih dari harga jual diatas harga beli atau selisih

kenaikan kurs yang lebih tinggi dibandingkan dengan kurs pada

waktu membelinya.

3.Hak suara: pemilik saham memiliki hak suara yang dapat

dipergunakan dalam rapat umum pemegang saham untuk turut

menentukan jalannya perusahaan.

Jika perusahaan dilikuidasi dan semua kewajiban perusahaan telah

terbayar masih terdapat saldo, maka jumlah tersebut akan dibagikan kepada

(39)

2.2.3. Harga Saham

2.2.3.1.Pengertian Harga Saham

Pasar modal atau bursa efek merupakan suatu tempat dimana terjadi

tawar menawar atas harga suatu efek atau saham suatu perusahaan, maka

harga yang terjadi di pasar modal tersebutlah yang disebut harga pasar saham

atau kurs saham. Menurut Halim (2003: 16), harga pasar saham adalah harga

yang terbentuk di pasar jual beli saham.

Menurut Sartono dalam Wengku Ragil Pambudi 2010, harga saham

yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku

pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang

bersangkutan di pasar modal. harga saham terbentuk di pasar modal dan di

tentukan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham atau earning per

share, rasio laba terhadap harga per lembar saham atau price earning ratio,

tingkat bunga bebas risiko yang diukur dari tingkat bunga deposito

pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa harga saham akan

terbentuk dari adanya transaksi yang terjadi di pasar modal yang ditentukan

oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dengan

dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Harga saham dapat dilihat dari nilai sertifikatnya. Dalam M Zainul

Luthfi (2010), Sunariayah menyatakan bahwa nilai sertifikat dibedakan

(40)

1. Nilai Nominal

Nilai nominal merupakan harga saham pertama yang tercantum pada

sertifikat badan usaha dan merupakan harga yang sudah disetujui oleh

RUPS.

2. Nilai Perdana

Nilai perdana merupakan harga saham ketika saham tersebut dijual

saat pertama kali di pasar modal yang harganya dijamin oleh

penjamin emisi dan emiten.

3. Nilai Pasar

Nilai pasar merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang

berlangsung di Bursa Efek.

2.2.3.2.Jenis-Jenis Harga Saham

Menurut Widiatmodjo, (2005: 46-47) menyatakan ada beberapa

definisi tentang harga yang berkaitan dengan saham, antara lain:

1. Harga Nominal

Yaitu nilai yang ditetapkan oleh perusahaan penerbit saham

(emiten) untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkannya,

besarnya harga nominal ini tergantung dari keinginan emiten.

2. Harga Perdana

Yaitu harga sebelum saham tersebut dicatat dibursa efek atau

harga yang ditetapkan pada saat penawaran umum. Besarnya

harga perdana ini tergantung dari persetujuan emiten dan jaminan

(41)

3. Harga Pasar

Yaitu nilai jual dari investor yang satu ke investor yang lain.

Harga ini terjadi setelah harga tersebut tercatat dibursa. Besarnya

harga ini tergantung penawaran dan permintaan antara penjual

dan pembeli.

4. Harga Pembukaan

Yaitu harga yang diminta antara penjual dan pembeli pada saat

jam bursa dibuka.

5. Harga Penutupan

Yaitu harga yang diminta antara penjual dan pembeli pada saat

jam akhir bursa.

6. Harga Tertinggi

Yaitu harga paling tinggi yang terjadi pada saat transaksi jual beli

saham pada hari bursa.

7. Harga terendah

Yaitu harga paling rendah pada saat transaksi.

2.2.3.3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham

Menurut Usman dalam Zaky (2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi

harga saham adalah :

1. Faktor Fundamental

Faktor fundamental adalah faktor yang menggambarkan

keadaan suatu perusahaan dan faktor-faktor lain yang dapat

mempengaruhi kondisi perusahaan tersebut, antara lain: kemampuan

(42)

perkembangan teknologi, kemampuan menghasilkan keuntungan,

manfaat terhadap perekonomian sosial, kebijakan pemerintah, hak

investor.

2. Faktor Teknis

Faktor teknis adalah faktor yang menggambarkan pasaran

suatu efek baik secara individu maupun kelompok, antara lain:

perkembangan kurs, keadaan pasar, volume dan frekuensi transaksi,

kekuatan pasar.

3. Faktor-faktor Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Politik

Faktor ini adalah faktor diluar fundamental dan teknis

diantaranya adalah tingkat inflasi, kebijakan moneter, musim, neraca

pembayaran dan APBN, kondisi ekonomi, serta keadaan politik.

2.2.4. Laporan Keuangan

2.2.4.1.Definisi Laporan Keuangan

Menurut SAK (2009: 1-2), laporan keuangan merupakan bagian dari

proses pelaporan keuangan. Laporan kuangan yang lengkap biasanya

meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi kekuangan (yang

bisa disajikan dengan berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas atau

laoran arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang

merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Sedangkan menurut Kasmir (2008: 7), laporan keuangan adalah

laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau

(43)

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses

pencatatan, yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi

keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

(http://dahlanforum.wordpress.com) catatan informasi keuangan suatu

perusahaan pada suatu periode akuntansi dapat digunakan untuk

menggambarkan kinerja perusahaan tersebut.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan

merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang meliputi neraca,

laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan

lain serta materi penjelasan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan

pada suatu periode tertentu.

2.2.4.2.Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2008 : 10 – 11) secara umum laporan keuangan

bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik

pada saat tertentu maupun pada periode tertentu atau memberikan informasi

kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap

perusahaan. salah satunya untuk mengetahui berapa jumlah aktiva, pasiva,

serta modal perusahaan yang dimiliki perusahaan dan memberikan informasi

tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

Menurut SAK (2009: 3), tujuan laporan keuangan adalah

menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta

perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah

(44)

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang

menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu

perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam

pengambilan keputusan ekonomi.

2.2.4.3.Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2008: 58), jenis-jenis laporan keuangan

dikelompokkan menjadi lima laporan, antara lain sebagai berikut:

1. Neraca

Neraca adalah laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta),

kewajiban (utang), dan modal (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

2. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi adalah laporan yang menunjukkan kondisi usaha dalam

suatu periode tertentu yang tergambar dari jumlah pendapatan yang

diterima dan biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat diketahui

apakah perusahaan dalam keadaan laba atau rugi.

3. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menggambarkan jumlah

modal yang dimiliki perusahaan saat ini serta sebab-sebab berubahnya

modal.

4. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan arus kas masuk

(45)

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan laporan kekuangan adalah laporan yang dibuat berkaitan dengan

laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan informasi

tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laoran keuangan yang ada

sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya.

2.2.5. Rasio Keuangan

2.2.5.1.Pengertian Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan merupakan alat untuk digunakan untuk

mengukur kinerja keuangan perusahaan. Menurut Kasmir (2008: 104), rasio

keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam

laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.

Melalui analisis rasio ini bisa diperoleh informasi dan gambaran

perkembangan finansial perusahaan dengan mengadakan interpretasi dari

laporan keuangan, yaitu dengan menghubungkan pos-pos yang ada (Sutrisno,

2003: 243).

Menurut Thian Hin dalam Kussuwantoro (2010), analisis rasio adalah

salah satu alat untuk membantu kita dalam menganalisis laporan keuangan

perusahaan. Analisis rasio menyediakan indicator bagi, antara lain tingkat

profitabilitas, likuiditas, pendafatan, pemanfaatan asset, dan kewajiban suatu

perusahaan. Analisis rasio memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain :

1) Terdapat kemungkinan rasio diantara perusahaan yang sama bidang

usahanya tidak menunjukkan hasil yang dapat dibandingkan karena

(46)

2) Sulit atau hampir tidak mungkin untuk membandingkan rasio antara

perusahaan yang berbeda bidang usahanya.

3) Analisis rasio akan menghasilkan hasil yang keliru jika informasi di

laporan keuangan perusahaan lebih baik disbanding kondisi sebenarnya.

Rasio dalam analisis laporan keuangan adalah angka yang

menunjukkan hubungan antara suatu unsur – unsur dengan unsur lainnya

dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur – unsur laporan keuangan

tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana. Secara

individual rasio itu kecil artinya, kecuali jika dibandingkan dengan suatu

rasio standar yang dipakai sebagai dasar pembanding, dari penafsiran rasio –

rasio suatu perusahaan. (Jumingan, 2006: 118).

2.2.5.2.Jenis Rasio Keuangan

Menurut Sutrisno (2003: 246-256) Rasio keuangan diperoleh dengan

cara menghubungkan elemen – elemen laporan keuangan, jenis rasio

menurut tujuan penggunaan rasio yang bersangkutan rasio – rasio ini dapat

dikelompokkan menjadi :

1.Rasio Likuiditas

Kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban –

kewajibannya yang segera harus dipenuhi. Kewajiban yang harus

dipenuhi adalah hutang jangka pendek.

2.Rasio Leverage

Rasio – rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh

(47)

3.Rasio Aktivitas

Rasio ini mengukur seberapa besar evektivitas perusahaan dalam

memanfaatkan sumber dananya. Rasio aktivitas dinyatakan sebagai

perbandingan penjualan dengan berbagai elemen aktiva. Rasio

aktivitas meliiputi perputaran persediaan, perputaran piutang,

perputaran aktiva, dan perputaran aktiva tetap.

4.Rasio Keuntungan

Keuntungan merupaka hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh

manajemen. Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar

tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan. Semakin

besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen

dalam mengelola perusahaan.

5.Rasio Penilaian

Rasio penilaian merupakan suatu rasio untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (investor) atau

pada para pemegang saham. Rasio ini memberikan informasi

sebagai besar masyarakat menghargai perusahaan, sehingga mereka

mau memberi saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi

dibanding dengan nilai buku saham.

2.2.6. Return On Assets (ROA)

2.2.6.1.Pengertian Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk

(48)

(2004: 139), ROA yaitu rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah

aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi

manajemen. Rasio ini menujukkan produktivitas dari seluruh dana

perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Return On Assets

merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan

semua aktiva yang dimilki. “Return On Total Asset (ROA) biasa juga disebut

dengan Return On Investment, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan laba berdasarkan tingkat aset yang tertentu. Rasio ini

bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

% 100 Asset

Total

Pajak Setelah Laba

ROA  

(Kasmir, 2005:206)

2.2.6.2.Pengaruh Return On Assets Terhadap Harga Saham

Return On Assets (ROA) menujukkan pengukuran efektivitas

kegiatan operasional manajemen dalam mendayagunakan seluruh aktiva

perusahaan untuk menghasilkan laba (Sartono, 2001: 123). Return On Assets

merupakan indikator keberhasilan manajemen menjalankan kegiatan

operasionalnya. Semakin besar nilai ROA, maka semakin baik keadaan suatu

perusahaan.

Rasio ini sering dipergunakan dalam mengukur efisiensi usaha suatu

perusahaan. ROA meupakan unsur penting yang dapat berpengaruh terhadap

harga saham karena ROA mewakili efektifitas “earning power” perusahan

yang mencerminkan kinerja manajemen dalam mengasilkan laba bersamaan

(49)

Pada tahun 2003 Anastasia melakukan penelitian tentang Analisis

Faktor Fundamental Keuangan dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham

Properti Yang Terdaftar di Bursa Efak Jakarta. Didalam penelitian tersebut

salah satu variabel yang dipakai untuk menguji pengaruhnya terhadap harga

saham adalah Return On Assets (ROA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa

Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh secara signifikan

terhadapharga saham perusahaan properti di Bursa Efek Jakarta.

Berdasarkan uraian teori dan hasil riset terdahulu maka muncul

pemikiran bahwa Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap harga

saham.

2.2.7. Debt To Equity Ratio (DER)

2.2.7.1.Pengertian Debt To Equity Ratio (DER)

Debt Eqity Ratio yaitu semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban jangka panjang maka semakin besar risiko yang

dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keungtungan yang semakin

tinggi. Rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang

rendah untuk membiayai aktiva.

Dalam penelitian ini rumus yang dipergunakan adalah :

Debt to Equity Ratio = 100%

Sendiri Modal

Total

Hutang Total

x

(50)

2.2.7.2.Pengaruh Debt ti Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham

Debt ti Equity Ratio (DER) menggambarkan mengenai struktur modal

yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tak

tertagihnya suatu utang, semakin kecil rasio ini semakin besar jumlah aktiva

yang didanai oleh pemilik perusahaan, dan semakin besar penyangga risiko

kreditor. (Prastowo, 2005 : 89)

Semakin tinggi DER menunjukkan tingginya ketergantungan

permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan

semakin berat. Tentunya hal ini akan mengurangi hak pemegang saham

(dalam bentuk dividen), hal ini menyebabkan berkurangnya minat investor

terhadap saham perusahaan karena tingkat pengembaliannya semakin kecil.

Dengan kata lain, DER berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Kinerja perusahaan tentunya juga berpengaruh pada daya tarik saham

yang ditawarkan di Pasar Modal. Semakin baik kinerja perusahaan, maka

daya tarik saham perusahaan tersebut semakin tinggi, karena saham tersebut

memberikan prospek yang menjanjikan keuntungan. Jika permintaan investor

terhadap saham perusahaan cukup besar, maka dapat berpengaruh terhadap

peningkatan harga saham. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa DER

berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan.

2.2.8. Risiko Sistematik

Dalam setiap pengambilan keputusan penanaman modal, risiko

merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan. Pertimbangan ini

(51)

berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima oleh investor dimasa

mendatang. Jika risiko atas investasi saham semakin tinggi, sedangkan

pendapatan saham tersebut tetap maka hal ini akan menimbulkan penurunan

terhadap harga saham yang dimiliki investor.

Risiko sekuritas dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan menurut

Hartono dalam Wengku Ragil Pambudi (2010), yaitu:

1. Risiko yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio atau

disebut risiko yang dapat didiversifikasi atau risiko perusahaan atau

risiko tidak sistematis. Risiko yang sifatnya khusus yang hanya

mempengaruhi suatu perusahaan tertentu yang penyebabnya ada di

dalam perusahaan. Misalnya pemogokan tenaga kerja. Kesalahan

manajemen risiko ini dapat dieliminasi pada nilai saham dengan usaha

diversifikasi investasi saham.

2. Risiko yang tidak dapat didiversifikasi oleh portofolio atau disebut

risiko pasar atau risiko sistematik. Risiko ini bagian risiko total yang

disebabkan oleh faktor yang secara serentak mempengaruhi semua

perusahaan yang beroperasi dan khususnya harga saham di pasar

modal. Oleh karena dipengaruhi secara simultan pada semua saham

maka risiko ini tidak dapat dieliminasi dengan usaha diversifikasi.

Karena ada sebagian risiko yang bisa dihilangkan dengan diversifikasi

(yaitu risiko tidak sistematis), maka dalam suatu portofolio ukuran risiko

yang dipakai adalah bukan devisiasi standar (risiko total), tapi tentulah hanya

risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi (yang disebut risiko

(52)

menginvestasikan semua dananya pada satu saham, mereka melakukan

diversifikasi, mereka hanya akan berminat terhadap pengaruh masing-masing

saham pada risiko portofolio mereka. Keadaan ini berarti bahwa, risiko dari

portofolio yang di diversifikasikan secara baik tergantung pada risiko pasar

dari masing-masing saham yang dimasukkan dalam portofolio tersebut.

2.2.9. Beta Sebagai Pengukur Risiko Saham

Menurut Hartono dalam Wengku Ragil Pambudi 2010, beta (β)

merupakan pengukur risiko sistematis dari saham atau portofolio terhadap

risiko pasar. Untuk mengetahui kontribusi suatu saham terhadap risiko dari

sekelompok saham dengan didiversifikasi yang baik maka diperlukan

pengukuran risiko pasar untuk mengetahui sensifitas atau kepekaan

pendapatan investasi terhadap pergerakan pasar dan kepekaan tingkat

keuntungan terhadap perubahan pasar dengan menggunakan beta pasar

dengan model.

Dalam penelitian ini hanya variabel β (beta) yang dimasukkan

kedalam model analisis untuk mengambarkan risiko sistemstik.

Keterangan : Β = Risiko suatu saham

n = Jumlah periode yang diteliti

Y = Indeks harga saham individu

X = Indeks harga saham gabungan (IHSG)

(53)

2.3. Kerangka Pikir

Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu yang telah dijelaskan diatas

maka dapat disimpulkan bahwa terdapat premis-premis sebagai berikut :

Premis 1 : ROA, ROE, DER, PER, EPS, BV dan beta saham sebagai risiko

sistematik berpengaruh signifikan terhadap harga saham

perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. (Almas

Hijriah,2007)

Premis 2 : Harga saham sebagai indikator nilai perusahaan akan di pengaruhi

oleh berbagai variabel fundamental dan teknikal, dimana

variabel-variabel tersebut secara bersama-sama akan membentuk kekuatan

pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham, sehingga harga

saham akan mengalami berbagai kemungkinan kenaikan harga

(Usman, 2000:174).

Premis 3 : Secara empiris terbukti bahwa faktor fundamental (ROA, ROE,

BV, DER, r) dan risiko sistematik (beta) mempunyai pengaruh

yang signifikan terhadap harga saham perusahaan properti secara

bersama-sama. (Anastasia, 2003)

Berdasarkan premis yang ada diatas maka dapat digambar bagan kerangka

(54)

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Uji Regresi Linier Berganda

2.4. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan landasan teori

yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diajukan hipotesis bahwa

Return On Assets (ROA), Debt To Equity Ratio (DER), dan Risiko Sistematik (β)

secara simultan maupun parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Return On Asset

(X )

Harga Saham

(Y) Debt To Equity Ratio

(X )

Risiko Sistematik

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional adalah suatu variabel yang diberikan kepada suatu

variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi

kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk

mengukur variabel tersebut (Nazir, 2005: 126).

Berdasarkan uraian diatas, maka variabel yang digunakan dalam

penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y)

antara lain sebagai berikut:

1. Variabel Bebas

a.Return On Assets (XІ)

Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan

untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

Return On Assets merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimilki.

Skala pengukuran data adalah rasio dan satuan pengukuran

yang digunakan adalah persen (%). Rumus penghitungan ROA yaitu

(56)

% 100 Asset

Total

Pajak Setelah Laba

ROA  

(Kasmir, 2005:206)

b.Debt Equity Ratio (X2)

Debt Eqity Ratio yaitu semakin tinggi kemampuan perusahaan

dalam memenuhi kewajiban jangka panjang maka semakin besar

risiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat

keungtungan yang semakin tinggi. Rasio yang tinggi juga

menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai

aktiva. Dalam penelitian ini rumus yang dipergunakan adalah

sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio = 100%

Sendiri Modal

Total

Hutang Total

x

(Kasmir, 2005:190)

Variabel ini diukur dengan skala ratio dalam satuan prosentase (%).

c.Risiko Sistematik (X3)

Merupakan risiko yang berpengaruh terhadap semua investasi

dana dan tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dengan cara

diversifikasi. Diversifikasi adalah penyebaran, penempatan dana

investasi ke dalam berbagai jenis instrumen investasi atau berbagai

(57)

Resiko sistematik dicerminkan oleh indeks beta. Beta

merupakan bentuk perhitungan yang menyatakan resiko sistematis

dari saham secara keseluruhan. Beta dapat di hitung dengan teknik

regresi menggunkan model CAPM (Capital Assets Pricing Model)

sebagaimana dirumuskan sebagai berikut:

Ri = Rf + I ( Rm-Rf )

Dimana:

Ri = tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh sekuritas i,

Rf = tingkat keuntungan dari investasi bebas resiko yang biasanya

ditunjukkan oleh bunga obligasi pemerintah,

I = beta (ukuran risiko)

Rm = tingkat keuntungan portofolio pasar

Dari pendekatan CAPM tersebut, beta dapat dicari dengan cara:

 =

2

2

 

X X

n

Y X XY

n

Dimana : β = Resiko suatu saham

n = Jumlah periode yang diteliti

Y = Tingkat keuntungan yang disyaratkan sekuritas (Ri)

X = Tingkat keuntungan portofolio pasar (Rm)

(58)

Rm = 1 1    t t t IHSG IHSG IHSG Ri = 1 1    t t t Pi Pi Pi (Zaky,2008)

2. Variabel Terikat (Y)

Harga Saham (Y)

Harga Saham adalah harga saham yang terbentuk dari mekanisme

antara penjual dan pembeli atau harga yang berlaku dalam pasar bursa saat

terjadi transakasi saham.

Dalam penelitian ini, harga saham yang digunakan adalah harga

saham penutupan (closing price) rata-rata bulanan. Variabel ini diukur

dengan menggunakan skala rasio dan dalam satuan rupiah. Rumus yang

digunakan:

(Rachmawati, 2009)

3.2.Teknik Penentuan Sampel

(59)

Populasi merupakan kelompok subyek/obyek yang memiliki ciri-ciri

atau karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok subyek/obyek lain,

dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian

(Sumarsono, 2004: 44).

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah data laporan

keuangan perusahaan food and baverage yang telah go publik dan terdaftar

pada PT. Bursa Efek Indonesia pada periode 2006 hingga 2009 sebanyak 17

perusahaan dengan jumlah 68 data yang berupa laporan keuangan,

perusahaan tersebut antara lain:

1. PT. Akasha Wira International Tbk

2. PT. Aqua Golden Missisippi Tbk

3. PT. Cahaya Kalbar Tbk

4. PT. Delta Djakarta Tbk

5. PT. Davomas Abadi Tbk

6. PT. Fast Food Indonesia Tbk

7. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk

8. PT. Mayora Indah Tbk

9. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk

10.PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk

11.PT. Sekar Laut Tbk

12.PT. Siantar Top Tbk

13.PT. Sierad Produce Tbk

14.PT. Sinar Mas Agro Resources Tbk

(60)

16.PT. Tunas Baru Lampung Tbk

17.PT. Ultra Jaya Milk Tbk

3.2.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari sebuah populasi, yang mempunyai ciri dan

karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itu sebuah sampel

harus merupakan representative dari sebuah populasi (Sumarsono,2004:44).

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah dengan menggunakan metode “purposive sampling”. Menurut

Sugiyono (2005:61) metode Purposive sampling adalah teknik penentuan

sampel yang dilakukan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan atas

tujuan tertentu.

Berikut ini adalah kriteria-kriteria perusahaan yang dijadikan sampel

dalam penelitian ini :

1. Perusahaan food and baverage yang sahamnya selalu terdaftar dan go

publik di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009.

2. Perusahaan food and baverage yang masih aktif dalam melakukan

perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2006-2009.

3. Perusahaan food and baverage yang menerbitkan laporan keuangan dari

tahun 2006-2009.

4. Perusahaan food and baverage yang selalu laba dari tahun 2006-2009.

Berdasarkan kriteria diatas, maka jumlah sampel yang digunakan

dalam penelitian ini adalah 14 perusahan manufaktur dari 17 perusahaan food

(61)

yang diambil sebagai sampel diperoleh 56 data yang berupa laporan

keuangan perusahaan tahun 2006-2009. Berikut ini adalah nama-nama

perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini:

1. PT. Aqua Golden Missisippi Tbk

2. PT. Cahaya Kalbar Tbk

3. PT. Delta Djakarta Tbk

4. PT. Fast Food Indonesia Tbk

5. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk

6. PT. Mayora Indah Tbk

7. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk

8. PT. Sekar Laut Tbk

9. PT. Siantar Top Tbk

10.PT. Sierad Produce Tbk

11.PT. Sinar Mas Agro Resources Tbk

12.PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk

13.PT. Tunas Baru Lampung Tbk

14.PT. Ultra Jaya Milk Tbk

3.3.Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif

(62)

diserahkan ke Bursa Efek Indonesia dan download dari situs resmi Bursa

Efek Indonesia. Data tersebut berupa laporan keuangan.

Data kuantitatif dinyatakan dalam bentuk angka-angka dan disajikan

dalam bentuk table atas peghitungan-penghitungan matematis maupun

statistik.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dan

dikumpulkan melalui situs resmi BEI di www.idx.co.id berupa laporan

keuangan perusahaan Food and Baverage yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2006-2009.

3.3.3. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi

dengan cara melihat, mempelajari, dan mengutip catatan-catatan yang

diperoleh dari dokumen Bursa efek Indonesia berupa laporan keuangan

perusahaan, indeks saham individual dan indeks saham gabungan periode

tahun 2006-2009.

3.4.Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

(63)

Uji outlayer merupakan salah satu alat uji yang dapat digunakan

untuk menormalkan data. Kriteria dari uji outlayer adalah nilai Zscore yang

dihasilkan dari uji outlayer tidah boleh melebihi ±1,96. Jika setelah diuji nilai

Zscore data melebihi selang tersebut maka data tersebut harus dibuang.

3.4.2. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data

mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data

tersebut mengikuti sebaran normal dapat dilakukan dengan metode

Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan program SPSS (Sumarsono,

2004: 40).

Pedoman dalam mengambil keputusan apakah sebuah distribusi data

mengikuti distribusi normal adalah :

 Jika nilai signifikan (nilai profitabilitasnya) lebih kecil dari 5%, maka

distribusi adalah tidak normal.

 Jika nilai signifikasi (nilai profitabilitasnya) lebih besar dari nilai 5%,

maka distribusi adalah normal.

3.4.3. Uji Asumsi Klasik

Persamaan regresi diatas tersebut harus bersifat BLUE (Best Linear

Unbiased Estimator) artinya pengambilan keputusan uji F dan uji t tidak

boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan yang BLUE maka harus dipenuhi

tiga asumsi klasik yaitu:

1. Non Autokorelasi (tidak boleh ada autokorelasi)

(64)

Ada

Autoko

Gambar

Tabel : 4.2.1. Deskripsi Variabel Return On Assets pada perusahaan Food and
Gambar 2.1.   Kerangka Pikir ………………………………………………… 40
Tabel 1.1.
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pasar modal mempunyai peranan penting baik bagi badan usaha, investor maupun pemerintah. Dalam pasar modal, investor memaninkan peranan sentralnya yaitu dengan membeli dan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis regresi linier berganda adalah Return On Assets (X1), Debt Equity Ratio (X2) dan Risiko Sistematik (X3) tidak berpengaruh

Dari hasil uji t pada Tabel 4.10, secara parsial faktor fundamental return on equity (ROE) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham properti dan koefisien

Konsep penilaian harga saham dengan analisis fundamental keuangan dan resiko sistematik akan menghasilkan informasi tentang apakah saham tertentu layak dibeli atau tidak layak,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental yang diukur dengan Return On Asset (ROA), Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR) dan Risiko

Pasar modal mempunyai peranan penting baik bagi badan usaha, investor maupun pemerintah. Dalam pasar modal, investor memaninkan peranan sentralnya yaitu dengan membeli dan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis regresi linier berganda adalah Return On Assets (X 1 ), Debt Equity Ratio (X 2 ) dan Risiko Sistematik (X 3 ) tidak

Diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Nirohito (2009) yang meneliti analisis faktor- faktor fundamental dan risiko sistematik terhadap harga saham pada